Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Melihat perkembangan dinia industri saat ini ,kebutuhan akan produk dan komponen
sanagat lah beragam, sesuai dengan jenis kegunaan kerakteristik ,maupun sifatnya ,seperti
yang sama sama kita ketahuai ,logam yang mrmiliki kekerasan yang ting tinggi,umumnya
memiliki sifat yang getar dan pada logam yang lunak memiliki sifat yang ulet ,terkadang
pada kondisi kita membutuhkan kedua sifat tersebut ada pada suatu material,untuk itu kita
dapat proses perlakuan panas.
a. Kopentensi
Setelah mengikuti kegiatan praktikum perlakuan panas (heat teatment),diharapkan
praktikum dapat memehami konsep dan tujuan perlakuan panas serta melihat
fenomena yang tarjadi selama proses perlakuan panas yang berlangsung.
b. Sub Kompetensi
Setelah mengikuti praktikum ini, diharapkan praktikum dapat membuktikan dan
membandingkan dengan uji kekerasan, bahwa sifat mekanik dari logam yang diberi
perlakuan panas bervariasi sesuai dengan media pendingin.
1.2 Tujuan Pratikum
1. Menentukan pengaruh proses pemanasan terhadap pemanasan.
2. Menentukan kekerasan dari suatu material yang sesuai dengan kebutuhan.
3. Mendapatkan sifat mekanik material yang diinginkan.
4. Mengetahui pengaruh pendinginan dengan berbagai perlakuan media air,air
garam,dan oli.
5. Mengetahui manfaat proses heat treatment.
1.3 Manfaat Pratikum
1. Mengetahui langkah-langkah pengujian panas untuk mendapatkan sifat yang di
inginkan.
2. Mengetahui media pendingin yang cepat untuk menperoleh kekerasan.
3. Memudahkan untuk mengetahui proses mana yang sesuai digunakan untuk suatu
produk pengujian.
4. Mengetahui kecepatan pendingin yang ditentukan (pengaruh sifat pendinginan
media).
BAB II
TINJUAN PUSATAKA
2.1 Teori Metalurgi
Material adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang.
a Atom.
Merupakan suatu unsur terkenal dari material yanan carag tidak dapat di bagi lagi
dengan cara kimia biasa.
b Sel Satuan.
Susunan dari beberapa atom yang teratur dan menpunyai pola berulang.
Macam-macam sel satuan :
1. Cubic (kubus)
Sel satuan kubus terdiri atas Body Centered Cubic (BCC) dan Face Centered
Cubic (FCC).
a. BCC (Body Centered Cubic)
Yaitu pemusatan satu buah atom di tengah kubus. Contoh material yang memiliki sel
satuan BCC adalah baja, kromium.

Gambar 2.1.1 Struktur Atom BCC


b. FCC (Fasa Body Centered)
Yaitu permusatan satu atom atau setiap sisi kubus, contoh material yang memiliki sel
satuan fcc adalah aluminium, emas dan tembaga.

Gambar 2.1.2 Struktur Atom BCC


BCC memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari pada FCC karena BCC cela-cela sangat
sedikit dibandingkan dengan FCC yang memiliki cela-cela lebih besar. Sehingga apa bila
diberi pembebanan FCC muda terdepormasi di bandingkan dengan BCC.
2. Hexagonal Close Package (HCP)
Contoh material yang memiliki sel satuan HCP adalah Kobalt, Kadmium, Magnesium,
Titanium dan Zinc.

Gambar 2.1.3 Struktur Atom HCP


c. Butir, yaitu Merupakan kumpulan sel satuan yang memiliki arah dan orientasi gerak
yang sama dalam 2 dimensi

Gambar 2.1.4 Struktur mikro baja karbon sedang


d. Kristal, yaitu Merupakan kumpulan sel satuan yang memiliki arah dan orientasi
gerak yang sama dalam 3 dimensi.

Gambar 2.1.5 Struktur Kristal baja karbon sedang


Pengertian metalurgi
Ilmu seni dan teknologi yang menjadi proses pengolahan rekayasa material dan
logam.yang metalurgi meliputi penolahan mineral,destraksi logam dan konsentrat
mineral(metalurgi).
Klasifikasi proses ekstraksi metalurgi:
1. fero metalurgi.
Pengambilan logam dari umurnya yang paling tua proses ini berhubungan dengan
temperatur tinggi dan sebagian berlangsung sampai terjadi peleburan ,sifat dari
proses ini cepat.
2. Hidro metalurgi.
Proses ekstraksi logam biasanya berlngsutro metang pada temperatur kamar dan
menimbulkan reaksi cair.proses hidro metalurgi ini lebih mampu untuk mengolah
biji-biji berkadar rendah proses yang terjadi biasanya pelarutan sifat dari proses ini
lambat.
3. Elektro metalurgi.
Yaitu proses ekstraksi dan pemurnian yang melibatkan energi listrik sebagai dasar
ekstraksinya.prinsip yang digunakan adalah elektrokimia.
Suatu proses ekstraksi metalurgi di dasarkan keilmuan sebagai berikut:
a. Thermo dinamika.
b. Kiematika.
c. Perpindahan panas dan perpindahan massa.
d. Teknologi proses.
Industri industri logam yang telah berkembang saat ini telah mampu menghasilkan
berbagai jenis baja yang perutukannya khusus sesuai dengan fungsi dan tujuan
pengunaannya.baja karbon ini dibagi menjadi tiga kelompok besar berdasarkan besar nya
jumlah kandungan unsur karbon( c ) didalamnya.yaitu baja karbon tinggi,baja karbon
sedang, baja karbon rendah.yang ketiganya memilki karateristik dan kegunaan yang
berbeda-beda.banyaknya komponen mesin atau alat mengalami perlakuan berat akibat
adanya gesekan,puntiran dan tegangan tinggi.contoh alat : roda gigi, poros engkol,baut,
ragum.
Merupakan contoh lain yang menggalami perlakuan berat seperti diatas dapat
mengalami keretakan,distorsi,luka gesekan atau keausan.padahal baja merupakan bahan
baku yang keras dan solid.
Adanya perbaikan struktur mikrodan peningkatan sifat mekanis merupakan solusi tepat
guna menghasilkan produk baja karbon yang mampu kerusakan-kerusakan dari komponen
mesin atau peralatan akibat perlakuan berat.
Perlakuan panas adalah proses untuk menperbaiki sift-sifat dari logam dengan cara
memanaskan logam sampai temperatur tertentu yang cocok kemudian dibiarkan beberapa
waktu kemudian di dinginkan ke temperatur yang lebih rendah dengan kecepatan
pendinginan yang sesuai melalui proses perlakuan panas ini mak sifat-sifat mekanis pada
baja dapat ditingkatkan sesuai dengan tujuan pengunaannya.
Temperatur dalam proses pelakuan panas akan menentukan teradap tingkat
ketahanandan kekuatan bahan.Apabila dengan pemanasan sampai suhu daerah atau di atas
daerah atau diatas daerah kritis akan terbentuk austenite yang merupakan larutan solid dari
karbon dalam baja. Struktur austenite ini akan berubah menjadi martensit saat benda di
dinginkan.
Holding time atau penahanan dilakukan untuk mendapatkan kekerasan maksimum dari
suatu bahan pada proses perlakuan panas dengan menahan pada temperatur pengerasan
untuk menperoleh pemanasan yang homogen
2.2 Teori Dasar
Perlakuan panas adalah satu metode yang digunakan untuk mengubah sifat mekanik
dari suatu meterial. Aplikasi yang paling umum adalah untuk meterial logam walaupun
perlakuan panas juga digunakan dalam pembuatan berbagai meterial lain. Seperti kaca,
biasanya dalam suhu ekstren, untuk mencapai hasil yang diinginkan seperti pengerasan
atau perlukan meterial. Yang termasuk teknik perlakuan panas adalah annealing, case
hardening, precipitation strenghening, tempering dan Quenching. Perlu dicatat bahwa
walaupun perlakuan panas sengaja dilakukan untuk tujuan mengubah sifat secara khusus,
dimana permanasan dan pendinginan dilakukan untuk tujuan mengubah sifat, permanasan
dan pendinginan sering terjadi secara kebetulan selama proses manufaktur lain seperti
pembentukan panas (Hot forming ) atau pengelasan.
Proses
Meterial logam itu terdiri dari struktur mikro berupa kristal-kristal kecil yang disebut
butir atau kristalit. Sifat butir (yaitu ukuran butir dan komposisi) adalah salah satu faktor
paling penting yang dapat menentukan sifat mekanik logam secara keseluruhan. Perlakuan
panas menyediakan cara yang efisien untuk memanipulasi sifat dari logam dengan
mengendalikan laju difusi, dan tingkat pendinginan dalam struktur mikro tersebut.
Proses perlakuan panas yang kompleks sering dijadwalkan oleh ahli logam
(metallurgists) untuk mengoptimalkan sifat mekanis dari logam panduan. Dalam industri
antariksa (aerospace), logam panduan super (superalloy) mungkin mengalami lebih dari
lima macam panas temperatur yang berbeda untuk mengembangkan sifat yang diinginkan.
Hal ini dapat mengakibatkan masalah kualitas tergantung pada akurasi control suhu tungku
dan penanda waktu (timer).
Untuk memenuhi tuntutan fungsi seperti harus keras, tahan gesekan atau beban kerja
yang berat, maka baja harus dikeraskan melalui proses pengerasan.
Teori head treatmend
Heat treatment(perlakuan panas) adalah proses untuk mengubah struktur logam dengan
cara memanaskan specimen pada temperature rekritalisasi pada tungku pembakaran seama
waktu yang telah di tentukan kemudian di dinginkan pada media pendinin seperti air,air
garan, dan oli dan masing-masing kecepatan pendingin yang di tentukan.
sifat mekanik sangat di pengaruhi oleh struktur mikro di samping komposisi kimianya
contohnya baja paduan akan berbeda struktur mikronya di ubah dengan adanya pemanasan
atau pendinginan denan percepatan tertentu maka bahan-bahan logam dan paduan
menperlihatkan perubahan strukturnya.
Perlakuan panas adalah proses kombinasi antara proses pemanasan dan pendinginan
dari suatu logam dalam keadaanpadat untuk mendapatkan bahan-bahan tertntu untuk
mendapatkan hal ini maka kecepatan pendinginan dan temperatur sangat menentukan.
2.3 Teori kekerasan
Pengujian kekerasan bahan bertujuan untuk mengetahui angka kekerasan logam
tersebut. Dengan kata lain pengujian kekerasan ini bukan untuk mlihat apakah bahan itu
keras atau tidak melainkan untuk mengetahui seberapa besar tingkatan logam
tersebut.tingkat kekerasan logam berdasarkan pada standar satuan yang baku.karena itu
,prosedur pengujian kekerasan pun di akui oleh standar industri dunia sebagai satuan yang
baku.Satuan yang baku itu disepakati melalui tiga metode pengujian kekerasan yaitu:
a. Penekanan
b. Goresan
c. Dinamik
Berikut ini merupakan uraian terperinci mengenai masing masing metode pengujian

1. Pengujian sistem brinell

Gambar 2.3 metode pengujian sistem brinell

Pengujian kekerasan dengan metode brinell bertujuan untuk menentukan kekerasan


suatu mataerial dalam bentuk daya bahan material terhadap bola baja (identor) yang
ditekankan pada permukaan material uji (specimen).

2. Pengujian system vickers

Gambar 2.2 Metode pengujian system vickers

Metode vickers ini berdasarkan pada penekanan oleh suatu gaya tekan tertentuoleh
sebuah identor berupa piramid diamond terbalik dengan sudut puncak 136 kepermukaan
logam yang akan diuji kekerasannya dimana permukaan logam yang diuji ini harus rata
dan bersih untuk menperoleh nilai vickers.
3. Pengujian System Rockwell

Tingkatan skala kekerasan menurut metode rockwell dapat dikelompokan menurut jenis
indentor yang digunakan pada masing-masing skala. Dalam metoderockwell ini terdapat
dua macam identor yang ukurannya berpariasi, yaitu:
a Kerucut intan dengan besar sudut 120 dan disebut sebagairockwell cone.
b bola baja denhgan berbagai ukuran dengan di sebut sebagiai rockwell ball.

Untuk cara pamakaian skala ini ,kita terlebih dahulu menentukan dan ketentuan angka
kekerasan maksimum yang boleh digunakan skala tertenu ,jaka pada skala tertentu tidak
tercapai angka kekerasan yang akrat maka kita dapat menentukan skala lain yang
menunjukan skala lain yang dapat menunjukan angka kekesan yang jelas
Prinsip dari full hardening adalah memanaskan baja sampai temperatur austenit
kemudian didinginkan secara mendadak guenching dengan kecepatan pendinginan diatas
kecepatan pendinginan kritis agar terjadi pembentukan martensit dan diperoleh kekerasan
yang tinggi.
Berdasarkan temperatur permanasan austenite tergantung dari jenis baja, dan biasanya
tiap-tiap produksen sudah mengerluarkan diagram suhunya masing-masing. Untuk
mencapai suhu + 9000 0Charus dilakukan pemanasan bertahap.

Gambar 2.1 Digram Fasa Besi/Besi karbida(Fe/Fe3C)

Misalnya untuk special K (bohler)


Suhu hardening 950-980 0C untuk mencapai kekerasan 63-65 RC media guenching oli
atau udara untuk mencapai suhu 950 0C harus dipanaskan bertahap yaitu:
1. Suhu 450 ditahan selama 10 menit/10 mm tebal material.
2. Lalu dipanaskan logika 750C selama 10 menit/ mm tebat material.
3. Lalu panaskan kembali samapai suhu 950C-980C .
4. Ditahan sebentar lalu dikeluarkan dan dicelupkan kedalam oli quenching sambil
digoyang goyang supaya gelombang asap cepat terlepas dari permukaan baja
sehingga pendinginanya dapat merata.
5. Jika bentuk material yang dikeraskan berpenampang kompleks atau benda tersebut
berpenampang tipis, temperature pengerasan harus memakai atas bawah, sedangkan
jika material besar dan tebal atau berbentuk sederhana memakai temperatur
pengerasan batas atas.
Media dari guenching ada bermacam-macam menurut jenis baja yang dikeraskan:
a. Air
Biasa air ini diberi garam dapur sebanyak 10% atau bahan kimia lainnya seperti
osmanil mencegah terjadinya gelembung asap yang berlebihan yang dapat
mengakibatkan terjadinya flet hitam pada permukaan material yang dikeraskan
Air sebagai media guenching harus bersuhu 10-40 0C
b. Oli
c. Larutan
d. Udara
e. Di dalam dapur listrik
Dibnawah ini ada beberapa penyebab kegagalan proses hardening
1. Suhu pengerasan terlalu rendah sehingga suhu belum mencapai pada tempera
turaustenit sehingga kekerasan tidak tercapai seperti di harapkan.
2. Pemanasan terlalu cepat sehingga temperatur inti dari benda kerja belum sama
dengan temperatur kulit luar pada baja.
3. Tidak adanya proses pemanasan terhadap dan tidak adanya waktu penahanan
pada proses pemanasan sehingga pada waktu di quenching benda kerjaakan
mengalami retak.
4. Timbulnya nyala api yang mengakibatkan terlepasnya karbon pada permukaan
benda kerja, sehingga permukaan benda kerja kurang keras.
5. Kesalahan pemilihan media quenching, misalnya baja keras oli di quenching
dengan air.
Gamabar 2.2 Diagram Isotermal Transformasion

Dalam prateknya ada tiga heat treatment dalam pembuatan baja.


Pelunakan (Annealing) permanasan produk setengah jadi pada suhu 850-9500 C dala
waktu yang tertentu, lalu didinginkan secara perlahan (seperti garis a diagram). Proses ini
berlansung didapur (furnace). Butiran yang dihasilkan umumnya besar atau kasar.
Normalizing yaitu pemanasan produk setengah jadi pada suhu875-980oC
disusul dengan pendinginan udara terbuka(seperti garis b diagram)butiran yang dihasilkan
umumnya berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan pengilingan kondisi panas (rolling)

Quenching sistem pendinginan produk baja secara cepat dengan cara


penyemprotan air pada pencelupan serta perendaman produk yang masih panas kedalam
media air atau oli. Sistem pendinginan ini seperti garis c diagram.

Selain dari ketiga system heat treatmen di atas ada juga heat treatmen tahap kedua pada
rentang suhui dibawah austenite yang dinamakan tempering. Pemanasan ulang produk baja
ini biasa dilakukan untuk produk yang sebelumnya di guenching setelah di temper, maka
diharapkan produk tersebut akan lebih ulet danm liat.

3.4 Teori pengerasan(quenching)


Proses quenching atau pengerasan baja adalah suatu proses pemanasan logam sehingga
mencpai batas proses austenite y ang hoogen.untuk mendapatkan homogeny ini maka
austenite perlu pemanasan yang cukup selanjut nya secara cepat baja tersebut dicelupkan
kedalam media pendingin tergantung pada kecepatan yang di inginkan untuk mencapai
kekerasan baja
Pada proses pendinginan yang cepat fasa austenite tidak sempat menjadi perlit atau ferit
karena tidak ada kesempatan bagi atom-atom karbon yang telah larut atom kostenik untuk
mengadakan pergerakan difusi bentuk.
3.5 Metode pendinginan
Air garam:10% asumsi
Air garam memiliki fiskositas yang rendah sehingga nilai ketentuanya dan
kelenturannya caranya kurang sehingga laju pendinginan cepat dan massa
jenisnya lebih cepat dibandingkan dengan media pendingin lainnya
Air
Air memiliki massa jenis yang besar tapi lebih rendah dari air garam laju
pendinginan lebih lanbat dari pada air garam.
Oli
Oli memiliki nilai viskositas atau kekentalan yng tinggi dibandingkan media
pendingin lainnya dan massa jenis rendah sehingga laju pendinginannya lebih
lambat
BAB III
METODOLOGI PENGUJIAN

3.1 Alat dan Bahan


1. Bahan
a. tungku furnace

Berfungsi sebagai pemanas logam/spesimen sampai temperature 900 0C

Gambar 3.1.a Tungku furnace


di Workshop T.Mesin ITP

b. Thermogun

Berfungsi sebagai alat pengukur temperature logam/specimen.

Gambar 3.1.b Thermogun


c. Alat Penjempit
Karena logamnya sangat panas (900 0C), maka digunakan penjempit logam untuk
memindahkan logam yang panas dari tempat pemanas ke media pendinginnya.
Gambar 3.1.c Alat Penjempit

d. Media Pendingin
Media pendingin yang digunakan untuk proses quenching adalah air garam, air biasa, oli.

a b c
Gambar 3.1.d Media Pendingin : a) air garam, b) air, c) oli
e. Stopwatch

Berfungsi sebagai alat penghitung waktu lama pemanasan dan waktu lama pendinginan
logam.

Gambar 3.1.e Stopwatch


f. Amplas

Berfungsi sebagai menghaluskan /meratakan permukaan specimen untuk di uji dengan


Mesin Rockweel.

Gambar 3.1.f Amplas

g. Alat Uji Kekerasan (Mesin Rockweel)


Berfungsi sebagai alat penguji kekerasan pada logam/spesimen

Gambar 3.1.g Mesin Rockweel

2. Bahan/specimen yang yang digunakan


Empat buah logam berbentuk silinder dengan ketebalan 10mm, logam tersebut digunakan
sebagai bahan specimen.
Gambar 3.1.2.1 Spesimen dengan Gambar 3.1.2.2 Spesimen dengan
Perlakuan Panas 900 0C Perlakuan Panas 900 0C
(Media Pendinginnya Air Biasa) (Media Pendinginnya Air Garam)

Gambar 3.1.2.3 Spesimen dengan Ganbar 3.1.2.4 Spesimen Tanpa


Perlakuan Panas 900 0C Perlakuan Panas
(Media Pendinginnya Oli)

3.2 Langkah Kerja


Perlakuan Panas
1. Masukkan air biasa, air garam dan oli ke dalam wadah yang berbeda-beda
yang telah disiapkan.
2. Beri tanda/nomor di tiap-tiap logam.
3. Siapkan tungku pembakaran.
4. Panaskan logam pertama sampai temperature 900 0C (diukur dengan
thermogun).
5. Hitung lamanya proses heat treatment dari awal sampai temperature 900 0C.
6. Setelah mencapai 900 0C, lakukan proses quenching.
7. Logam pertama, untuk pendinginan lakukan proses quenching ke dalam air
biasa dan tahan selama 10 menit, kemudian angkat logam tersebut.
8. Logam kedua, lakukan prosedur (d-f), untuk pendinginan lakukan proses
quenching kedalam oli dan tahan selama 10 menit kemudian angkat logam
tersebut.
9. Lakukan prosedur (d-f) untuk logam ketiga, tetapi media quenching oli
diganti dengan larutan garam, tahan 10 menit dan angkat.

Uji Kekerasan
a. Lakukan uji kekerasan menggunakan alat uji kekerasan kepada semua logam yang
di heat treatment maupun yang tidak di heat treatment.
Contoh:

3.3 Flow chat


BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel data pengujian
a. Tabel pengujian heat treatment setelah perlakuan
Nama Waktu pemanasan Media Holding Perlakuan
No
logam sampai temperatur 900oC pendingin time setelah dingin
1 A 17.8 menit Air garam 2 menit 31.5
2 B 17.8 menit Oli 2 menit 31.5
3 C 17.8 menit Air biasa 2 menit 31.5

b. Table heat treatment sebelum perlakuan


No Logam tampa perlakuan 1 2 3 Rata-rata
36.
1 HQ 709 36 35.5 35.9
2

c. Tabel uji kekerasan

Nama Media Titik pengujian


No Rata-rata
logam Quenching 1 2 3
1 A Air garam 57 56.9 55 58.3
2 B Oli 54 56 53 54.3
3 C Air biasa 57.5 58 58.2 57.9

jumla h nilai kekerasan


Pembahasan rata-rata ialah:
jumla h titik pengujian
36+36.2+35.5
1.Tampa perlakuan= =35.9 HRC
3
57 +56.9+55
2. Air garam= =56.3 HRC
3
57.3+58+58.2
3. Air biasa= =57.9 HRC
3
54+56+53
4. Oli= =54.3 HRC
3

4.2 Grafik hasil pengukuran heat treatment


Grafik heat treatment
60

55

50
tampa perlakuan Air garam Oli Air biasa
Kekerasan(HRC)
45

40

35

Titik pengujian

Gambar:4.2.1 grafik kekerasan HRC pada pengujian heat treatment

RATA-RATA KEKERASAN
70
60
50
40
30
20
10 Kekerasan(HRC)
Kekerasan (HRC) 0

Media pendingin

Gambar:4.2.2 grafik kekerasan terhadap media pendingin

4.3 Analisa Data dan Pembahasan


Setelah dilakukan pada percobaan baja HQ 709 dengan atau tampa perlakuan berbagai
media pendingin seperti oli,air garam,air biasa didapat nilai kekerasan tiap material
tersebut maka dapat di buat analisa
1. Dari penjelasan diatas media pendingin diatas sangat menpengaruhi kekuatan
material bahwa hasil pendinginan media air garam lebih cepat panas media lainnya.
Diurutkan kekerasan air garam lebih besar dari media pendingin air biasa dan lebih
besar dari media pendingin oli dan tanpa perlakuan.
2. Dari hasil percobaan di dapat hasil teoritis berbeda berbeda dengan hail pengujian
dalam hasil teoritis pendinginan dengan air garam menghasilkan tingkat kekerasan
yang paling tinggi,akan tetapi setelah melakukan pengujian media pendingin dengn
air biasa yang menpunyai tingkat kekerasan yang paling tinggi.hal ini mungkin
disebatkan oleh pembakaran specimen oleh pembakaran specimen yang di lakukan
dua kali degan waktu berbeda,pembakaran pertama specimen tidak mencapai
temperatur 900oC yang disebatkan habis nya bahan pembakar(batu bara),lalu
specimen di keluarkan dari tungku pembakaran,di biarkan di udara lingkungan,maka
pembakaran yang di lakukan di udara termasuk prlakuan dingin dan strukturnya
termasuk normalizing.waktu yang dilakukan pada pembakaran pertama adalah 57
menit 18 detik,pada pembakaran yang kedua specimen dimasukan kedalam tungku
furnace dan mencapai suhu 900o C dengan waktu pembakaran 17 menit 38 detik
setelah itu baru dicelupkan ke media pendingin untuk mendapatkan martensit .

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan pratikum heat treatment ini kita akan diperolh data sebagai berikut:
A. Tabel rata-rata kekerasan pada specimen
No Media quenching Rata-rata
1 Tampa perlakuan 35.9
2 Air garam 56.3
3 Oli 54.3
4 Air biasa 57.9
Dari data yang didapatkan nilai rata-rata kekerasan yang paling tinggi ialah pada
specimen yang mengunakan media pendingin air biasa,kemudian air garam,dan yang
paling rendah adalah mengunakan oli.
Dari data yang dapat di lihat perbandingan kekerasan meningkat pada specimen yang di
beri perlakuan panas ,dibandingkan specimen yang tidak di bei perlakuan panas,bahwa
specimen yang di bri perlakuan panas kekerasan nya meningkat dua kali lipat dari pada
yang tidak di beri perlakuan panas.
5.2 Saran
Dalam pelaksanaan pratikum ini diharapkan kita memahami dan mengerti tahap-tahap
dan langkah kerja dalam pelaksanaan pratikum ini.diharapkan dalam pelaksanaan pratikum
dengan serius agar tidak terjadi kesalahan yang menyebatkan kerugian.

DAFTAR PUSTAKA
http://IQ.Wikipedia.Org/Wiki/diagram-alir
http://sejawan longerindi.Blogspot.co.id/2011/12/heat-treatment.html
winshu 10018134.blogspot.co.id/2011/06/pengertian-suhu-atau-tempetarur.html
TUGAS
1. Jelaskan proses yang terjada selama proses heat treatment?
Jawab:
Fenomena yan terjadi pada saat proses ialah sebagai berikut:
a. Fenomena saat pemanasan
Pada saat pemanasan specimen di mulai dari temperature 400 oC dimana pada
temperatur ini baja akan berubah warna menjdi agak kecoklatan pada saat inijika
dilihat peda diagram fasa daja berada pada fasa perlit dan ferit kemudian pemanasan
dilanjutkan sampai temperatur 750C yang berarti sebagian pada permukaan akan
cendrung berubah menjadi kuning kemerahan.kemudian logam dipanaskan hingga
temperatur 900C yang erarti seluruh bagian logam telah mengalami pergerakan
atom-atom kemudian dlakukan pendinginan cepat kepada media quenching
b. Feomena pada saat pendinginan
Pada saat pendinginan suh berubah secara drastic, kecepatan suhu pendingin
tergantung pada media pendingin yang digunakan dan sangat menpengaruhi
kekerasan specimen uji.pada pendinginan air biasamengalami quenching paling cepat
sehingga kekerasan akan menuju fasa martensit dengan waktu yang cepat sehingga
struktur mikro berubah bentuk jarum-jarumyang melibatkan kekerasan pada
specimen yang mengunakan air garam.pendinginan merambar dari fasa austenite
menuju perlit dan bainite.
2. Logam manakah yang memilki kekerasan palin tinggi?
Jawab:
Setelah perlakuan di dapat bahwa yang paling tinggi tingkat kekerasannya adalah air
biasa disebatkan oleh temperatur media air biasa lebih rendah atau dingin yang
menyebatkan pendinginan menjadi cepat sehingga struktur mkro langsung berubah bentuk
menjadi lebih kuat kerena atomyang berbentuk Kristal menjadi pembangun material
tersebut menjadi tidak berurutan dan cendrung seperti jarum sehingga kekerasan menjadi
tinggi.
3. Tentuan nama material yang digunakan untuk heat treatment?
Jawab:
Nama material yang digunakan ialah baja asap (HQ709)

4. Perbedaan suhu dan temperatur


Jawab:
Suhu adalah besaran yang menyatakan besaran kuantitatif terhadap temperatur panas
dan dingin sesuatu yang di ukur dengan temperatur.
Temperatur adalah panas dingin badan dan hawa.
5. Perbedaan baja karbon rendah,sedang,dan tinggi
Jawab:
Baja karbon rendah mengandung karbon 0,008%-0,3%,biasanya baja ini memiliki sifat
yang lunak dan let yang tinggi.
Baja karbon sedang mengandung karbon 0,3-0,6% baja ini hanya digunakan pada
perkakas mesin.
Baja karbon tinggi mengandung karbon antara 0.6-1,7% biasanya baja ini bersifat kuat
dan juga getas hanya digunakan untuk pembuatan poros.