Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

IFRS 1 (FIRST TIME ADOPTION OF IFRS)

OLEH

LOLY SEPSIODARMA

1511060068

FAKULTAS EKONOMI

PERBANAS INSTITUTE

2017
I. PENDAHULUAN

IFRS merupakan suatu standar dasar dalam pelaporan keuangan internasional.


Penerapan IFRS secara global diharapkan mampu untuk memberikan kualitas laporan
keuangan yang lebih baik. Di Indonesia, IFRS dijadikan referensi utama
pengembangan standar akuntansi keuangan. Standar yang dibentuk sebagai bagian
dari IFRS tersebut dikenal dengan nama terdahulu Internasional Accounting
Standards (IAS). IAS dikeluarkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh Badan Komite
Standar Akuntansi Internasional (Internasional Accounting Standards Commitee
(IASC)). Standar dari Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB) menjadi wajib
atas konversi baru kepada Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) untuk
memenuhi kondisi tertentu yang ditetapkan di dalam IFRS 1 tentang Adopsi Pertama
Kali Standar Pelaporan Keuangan Internasional. Semua pengadopsi pertama kali dari
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) harus lulus uji IFRS 1 sebelum
laporan keuangannya dapat menyandang label disusun sesuai dengan Standar
Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS).

Tujuan IFRS adalah untuk memastikan bahwa laporan keuangan suatu entitas untuk
periode periode yang dimaksud dalam laporan keuangan tahunan, mengandung
informasi yang berkualitas tinggi seperti :

- Transparan bagi pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang


disajikan

- Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan IFRS.

- Biaya yang dikeluarkan lebih ekonomis tapi tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna.

Ada 3 tahapan melakukan konvergensi IFRS di Indonesia :

1. Tahap Adopsi (2008 2011)

Meliputi aktivitas dimana seluruh IFRS diadopsi ke PSAK, adanya persiapan


infrastruktur yang diperlukan, dan evaluasi terhadap PSAK yang berlaku.
2. Tahap Persiapan Akhir (2011)

Pada tahap ini, dilakukan penyelesaian terhadap persiapan infrastruktur yang


diperlukan untuk selanjutnya dilakukan penerapan PSAK berbasis IFRS secara
bertahap.

3. Tahap Implementasi (2012)

Setelah penerapan PSAK berbasis IFRS secara bertahap, kemudian dilakukan


evaluasi tehadap dampak penerapan PSAK secara komprehensif.

Terdapat tiga perbedaan mendasar PSAK yang di konvergensi ke IFRS, yaitu :

1. PSAK yang semula Historical Cost mengubah paradigmanya menjadi Fair Value
based.

Ini berarti akan ada kewajiban dalam pencatatan pembukuan untuk menilai
kembali keakuratan berdasarkan nilai kini suatu aset, liabilitas, dan ekuitas. Fair
Value based mendominasi dalam perubahan perubahan di PSAK untuk
konvergensi ke IFRS. Contoh : perlunya dilakukan penilaian kembali suatu aset,
apakah terdapat penurunan nilai atas suatu aset pada saat tanggal pelaporan yang
akan mempengaruhi keakuratan suatu laporan keuangan.

2. PSAK semula lebih berdasarkan Rule Based (sebagaimana USGAAP) berubah


menjadi Principle Based.

Rule based merupakan saat segala sesuatu menjadi jelas, ada batasan
batasannya. Misal ditentukan materialitas diatas 75% dianggap material dan
ketentuan lainnya.

Principle based merupakan prinsip prinsip yang dapat dijadikan bahan


pertimbangan Akuntan / Management perusahaan yang dapat dijadikan sebagai
acuan untuk kebijakan akuntansi perusahaan.

3. Update PSAK untuk memunculkan transparansi dimana laporan yang dikeluarkan


untuk eksternal harus cukup memiliki kedekatan fakta dengan laporan internal.
Dari pihak perusahana harus melakukan pengungkapan (disclosures) penting dan
signifikan sehingga para pembaca laporan yang dikeluarkan ke eksternal benar
benar dapat menganalisa perusahaan dengan fakta yang lebih baik.

Dengan adanya konvergensi IFRS, terdapat perbedaan komponen laporan keuangan :

- Sebelum Konvergensi IFRS

1. Neraca

2. Laporan Laba Rugi

3. Laporan Perubahan Modal

4. Laporan Arus Kas

5. Catatan Atas Laporan Keuangan.

- Setelah IFRS

1. Laporan Posisi Keuangan

2. Laporan Laba Rugi Komprehensif

3. Laporan Perubahan Ekuitas

4. Laporan Arus Kas

5. Catatan Atas Laporan Keuangan.

II. RUANG LINGKUP

IFRS 1 diterapkan pada semua entitas yang menyajikan laporan keuangannnya untuk
pertama kali menurut Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS). Dengan
diterapkannya IFRS, maka suatu entitas harus sepenuhnya patuh kepada Standar
Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS). Apabila entitas telah mematuhi
sepenuhnya kepada Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS), maka sesuai
dengan IFRS 1, pada tahun entitas berpindah sepenuhnya ke Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS) adalah tahun dimana entitas menyajikan laporan
keuangan IFRS yang pertama kali.
Menurut IFRS 1, laporan keuangan yang disajikan oleh suatu entitas di tahun pertama
kali dimana dia mengadopsi IFRS, jika misalkan entitas tersebut menyajikan laporan
keuangan sebelumnya paling terakhir.

Laporan keuangan entitas memenuhi kualifikasi sebagai laporan keuangan Standar


Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) 1 apabila :

- Entitas telah menyusun laporan keuangan periode sebelumnya menurut IFRS,


akan tetapi laporan keuangan dimaksudkan untuk penggunaan internal saja.

- Entitas menyusun suatu paket pelaporan periode sebelumnya menurut IFRS untuk
tujuan konsolidasi akan tetapi mengabaikan seperangkat laporan keuangan
lengkap sebagaimana diwajibkan oleh IAS 1

- Entitas tidak menyajikan laporan keuangan periode periode sebelumnya

III. PENGECUALIAN TERHADAP ATURAN ADOPSI PERTAMA KALI

Jika suatu entitas menyajikan laporan keuangan periode sebelumnya dan telah
mengandung pernyataan patuh yang eksplisit dan tanpa syarat sesuai dengan IFRS,
akan tetapi tidak sepenuhnya patuh dengan segala aspek dari Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS), maka entitas tersebut tidak akan dianggap sebagai
pengadopsi pertama kali dalam rangka memenuhi tujuan IFRS.

IFRS mengidentifikasi 3 contoh pengecualian dimana menurut standar, ini tidak


diterapkan :

- Jika suatu entitas menyajikan laporan keuangan dalam tahun sebelumnya yang
mengandung pernyataan eksplisit dan tanpa syarat pada IFRS dan auditor atau
pemeriksa melakukan kualifikasi atas laporan keuangan tersebut.

- Jika suatu entitas pada periode sebelumnya menyajikan laporan keuangannya


menurut Prinsip Akuntansi Yang Diterima Umum secara nasional dan sepanjang
perangkat laporan keuangan lainnya telah mematuhi Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS),akan tetapi di tahun berjalan tidak meneruskan
atau menghentikan penyajian laporan keuangannya berdasarkan prinsip akuntansi
yang berlaku.
- Jika suatu entitas dalam tahun lalu telah menyajikan laporan keuangannya
menurut prinsip akuntansi yang berlaku secara nasional dan laporan keuangan
tersebut telah memenuhi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS).

Meskipun suatu entitas sudah menyajikan laporan keuangan dan perangkat laporan
keuangannya dan mematuhi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) pada
periode sebelumnya, jika entitas tersebut tidak mematuhi segala aspek, maka entitas
tidak akan dianggap sebagai pengadopsi pertama kali untuk memenuhi Standar
Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS).

IV. LAPORAN POSISI KEUANGAN AWAL MENURUT STANDAR


PELAPORAN

KEUANGAN INTERNASIONAL

Entitas yang akan mengadopsi pertama kali Standar Pelaporan Keuangan


Internasional ini diharuskan untuk menyusun suatu laporan posisi keuangan
permulaan pada tanggal transisi kepada Standar Pelaporan Keuangan Internasional
(IFRS). Tanggal transisi Standar Pelaporan Keuangan (IFRS) merujuk pada
permulaan atau awal dari periode terawal, untuk suatu entitas tersebut menyajikan
informasi komparatif lengkap menurut Standar Pelaporan Keuangan Internasional
pada laporan keuangan menurut Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS)
pertamanya.

Maka, tanggal transisi terhadap Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS)


ditentukan oleh faktor faktor sebagai berikut :

- Tanggal adopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS)

- Angka tahun serta informasi komparatif yang menunjukkan bahwa entitas telah
menetapkan untuk menyajikan informasi keuangan sepanjang tahun adopsi.

V. PENYESUAIAN YANG DIPERLUKAN DALAM MENYUSUN LAPORAN


POSISI KEUANGAN AWAL MENURUT STANDAR PELAPORAN
KEUANGAN INTERNASIONAL (IFRS)
Untuk menyusun laporan posisi keuangan awal menurut Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (IFRS), suatu entitas harus menerapkan 4 prinsip, yaitu :

- Mengakui semua aset dan liabilitas yang memiliki pengakuan yang diharuskan
menurut Standar Pelaporan Keuangan Internasional, tapi tidak diakui menurut
Prinsip Akuntansi yang Diterima Umum (GAAP) sebelumnya.

- Tidak mengakui pos sebagai aset maupun liabilitas seandainya Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS) tidak mengizinkan pengakuan semacam itu.

- Pengklasifikasian kembali pos yang diakui menurut Prinsip Akuntansi yang


Diterima Umum (GAAP) sebelumnya sebagai salah satu jenis aset, liabilitas,
maupun komponen ekuitas yang berbeda menurut Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (IFRS)

- Pengukuran semua aset dan liabilitas yang diakui menurut Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS).

VI. KEBIJAKAN AKUNTANSI

IFRS 1 mengharuskan bahwa didalam penyusunan suatu laporan posisi keuangan


awal menurut IFRS, entitas pengadopsi pertama kali harus menggunakan kebijakan
akuntansi yang sama sesuai dengan yang digunakan pada seluruh periode yang
disajikan di dalam laporan keuangan berbasis IFRS yang pertama. Pengadopsi pada
saat pertama kali harus konsisten dalam menerapkan kebijakan akuntansi yang sama
pada setiap periode yang akan disajikan di dalam laporan yang pertama kali menurut
IFRS dan kebijakan akuntansi tersebut berdasarkan pada versi terakhir dari Standar
Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) secara efektif pada tanggal pelaporan.

VII. PERIODE PELAPORAN

Periode pelaporan laporan keuangan suatu entitas yang pertama kali menurut Standar
Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) berdasarkan pada akhir periode yang
dicakup oleh :

- Laporan keuangan tahunan


- Laporan keuangan interim jika ada, yang menunjukkan entitas menyajikan sesuai
IAS 34 untuk laporan keuangan yang disajikan pertama kali menurut Standar
Pelaporan Keuangan Internasional.

VIII.PENGECUALIAN OPSIONAL DARI STANDAR PELAPORAN KEUANGAN


INTERNASIONAL LAINNYA

Pengecualian dari prinsip pengukuran dan prinsip pernyataan menurut IFRS 1 bagi
pengadopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) adalah sebagai berikut :

- Kombinasi bisnis (yang terjadi sebelum tanggal transisi terhadap IFRS)

IFRS 1 mengizinkan suatu pengecualian kepada pengadopsi pertama kali dari


penerapan berlaku surut dalam hal kombinasi bisnis yang terjadi sebelum tanggal
transisi terhadap IFRS

- Nilai wajar atau revaluasi yang dianggap sebagai harga perolehan (misal properti,
pabrik, peralatan, aset tidak berwujud dan sebagainya yang diukur atas dasar nilai
revaluasi menurut Prinsip Akuntansi Yang Diterima Umum sebelumnya)

Suatu pengadopsi pertama kali dapat memilih untuk menggunakan revaluasi Prinsip
Akuntansi yang Diterima Umum (GAAP) dari suatu pos properti, pabrik dan
peralatan pada atau sebelum tanggal transisi terhadap IFRS sebagai yang dianggap
sebagai harga perolehan pada tanggal revaluasi dapat diperbandingkan secara luas
dengan nilai wajarnya atau biaya perolehannya.

- Imbalan karyawan

Pada IAS 19, suatu entitas tidak dapat mengakui laba atau rugi aktuarial jika telah
menggunakan pendekatan koridor. IFRS 1 mengizinkan suatu pengadopsi pertama
kali untuk memilih dan mengakui semua keuntungan dan kerugian aktuarial
kumulatif pada tanggal transisi kepada IFRS.

- Selisih translasi kumulatif

IAS 21 mengharuskan suatu entitas untuk mengklasifikasi selisih translasi tertentu


sebagai suatu komponen ekuitas yang terpisah dan atas penghentian operasi luar
negri untuk mentransfer selisih translasi kumulatif yang terkait dengan operasi luar
negeri kepada laporan pendapatan komprehensif sebagai bagian dari keuntungan
atau kerugian karena penghentian.

- Instrumen keuangan majemuk

- Investasi pada entitas anak, entitas yang dikendalikan bersama-sama, dan entitas
asosiasi

- Aset dan liabilitas dari entitas anak,entitas asosiasi dan entitas ventura bersama (joint
venture)

- Penetapan instrumen keuangan yang diakui sebelumnya

- Transaksi pembayaran berbasis saham

- Kontrak asuransi

- Liabilitas yang dihentikan termasuk di dalam harga perolehan dari properti, pabrik,
dan peralatan.

- Sewa (guna usaha)

- Pengukuran niai wajar dari aset keuangan atau liabilitas keuangan atas dasar
pengakuan awal

- Aset keuangan atau aset tidak berwujud yang dicatat sesuai dengan IFRIC 12,
tentang Perjanjian Konsesi Jasa

- Biaya Pinjaman

IX. PENGECUALIAN MANDATORI TERHADAP PENERAPAN BERLAKU SURUT


STANDAR PELAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL LAINNYA

IFRS 1 paragraf 26 melarang penerapan berlaku surut dari beberapa aspek daripada
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) lainnya yang terkait oleh :

- Tidak diakuinya aset keuangan dan liabilitas keuangan

- Akuntansi Lindung Nilai

Pengadopsi pertama kali dibutuhkan pada tanggal transisi kepada Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS), untuk mengukur semua derivatif atas dasar nilai
wajar dan mengeliminasi penangguhan kerugian dan keuntungan atas derivatif yang
telah dilaporkan menurut Prinsip Akuntansi Yang Diterima Umum (GAAP)
sebelumnya.

- Estimasi estimasi

Estimasi estimasi suatu entitas menurut IFRS pada tanggal transisi harus konsisten
dengan estimasi yang dibuat pada tanggal yang sama menurut Prinsip Akuntansi
yang Diterima Umum (GAAP) sebelumnya, kecuali ada bukti bahwa tujuan estimasi
yang dilakukan adalah salah.

- Aset yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang
dihentikan.

- Beberapa aspek akuntansi untuk kepentingan non-pengendali.

Entitas yang diperbolehkan menerapkan ketentuan tertentu dari IAS 27 secara


propektif dari tanggal transisi kepada IFRS, kecuali entitas harus memilih
menerapkan IFRS 3 dan IAS 21 secara berlaku surut, dalam hal IAS 27 juga harus
diterapkan secara berlaku surut.

X. PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN

Pengadopsi pertama kali harus menyajikan sekurang-kurangnya untuk satu tahun informasi
komparatif. Disamping itu pengadopsi juga harus menjelaskan bagaimana transisi kepada
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) mempengaruhi posisi keuangan yang
dilaporkan, kinerja keuangan, dan arus kas. Untuk itu, rekonsiliasi ekuitas dan laba serta rugi
sebagaimana yang dilaporkan menurut Prinsip Akuntansi yang Diterima Umum (GAAP)
sebelumnya terhadap IFRS dimasukkan di dalam laporan keuangan sesuai Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS) yang pertama dari entitas.

XI. CONTOH PERUSAHAAN YANG MENGGUNAKAN IFRS DAN APA SAJA YANG
HARUS DILAKUKAN SAAT PERUSAHAAN PERTAMA KALI MENGADOPSI IFRS

Salah satu perusahaan yang sudah mengadopsi IFRS adalah UNILEVER. Unilever
mengadopsi IFRS sejak 1 Januari 2005. Termasuk penerapan awal IAS 19 (revisi 2004) tentang
imbalan kerja. Tanggal transisi Unilever adalah 1 Januari 2004 dimana tanggal itu merupakan
tanggal awal periode paling awal yang akan menyajikan informasi komparatif berbasis IFRS.
Pada Laporan Tahunan tahun 2005 laporan keuangan interim telah disusun sesuai dengan IAS 34.
Informasi keuangan disusun berdasarkan harga perolehan kecuali yang terkait dengan
penilaian kembali aset biologis, aset keuangan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk
dijual dan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dan derivatif.

IFRS diterapkan secara retrospektif, yang berarti bahwa neraca pembukuan 1 Januari 2004
disajikan kembali seolah-olah kebijakan akuntansi yang sudah berlaku. Pengecualian yaitu :
Rekonsiliasi dari GAAP ke IFRS dari neraca per 26 Juni 2004 dan laporan laba rugi untuk kuartal
dan periode enam bulan berakhir pada tanggal tersebut. 1 Januari 2005 Unilever menerapkan
perubahan tambahan dalam pada kebijakan akuntansi. Perubahan tersebut diterapkan secara
prospektif mulai 1 Januari 2005.

Unilever telah menerapkan IAS 32 dan IAS 39. Berdasarkan IAS 32, Unilever harus
menyajikan modal saham preferensi NV sebagai kewajiban dan bukan sebagai bagian dari
ekuitas. Dividen yang dibayarkan pada saham preferen diakui dalam laporan laba rugi sebagai
beban bunga. IAS 39 mensyaratkan aset keuangan non-derivatif yang akan diadakan pada nilai
wajar dengan gerakan gerakan yang belum direalisasi dalam nilai wajar diakui langsung dalam
ekuitas. Kewajiban keuangan non derivatif terus diukur pada biaya perolehan diamortisasi,
kecuali merupakan bagian dari nilai lindung hubungan akuntansi nilai wajar dari risiko lindung
nilai.

Anda mungkin juga menyukai