Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH SELEKTA KAPITA HEWAN

HUMAN GROWTH HORMON (HORMON PERTUMBUHAN MANUSIA)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kapita Selekta Hewan

Dosen pengampu:

P. Widiyaningrum

Dr. drh. R. Susanti, M. P.

Disusun oleh :

Nila Nadiyya Lathifah (0402516017)

PENDIDIKAN IPA KONSENTRASI BIOLOGI

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSISTAS NEGERI SEMARANG

2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN
Tubuh manusia merupakan suatu sistem yang bekerja dan
menimbulkan usaha. Organ-organ tubuh merupakan komponen-
komponen yang saling mempengaruhi dan bekerja secara terpadu.
Apabila terdapat salah satu komponen yang tidak bekerja dengan
baik, maka keseluruhan sistem akan merasakan dampaknya. Selain
itu, reaksi dalam tubuh manusia juga tidak lepas dari pengaruh
lingkungan luar. Untuk dapat melakukan kegiatan dan dapat
memberikan reaksi terhadap perubahan-perubahan eksternal
maupun internal, diperlukan adanya koordinasi yang tepat di antara
kegiatan organ-organ tubuh. Dalam hal ini sistem endokrin yang
terdiri dari kelenjar-kelenjar endokrin bekerjasama dengan sistem
saraf, mempunyai peranan penting dalam mengendalikan kegiatan
organ-organ dalam tubuh (Poedjiadi dkk, 1994).
Informasi perubahan lingkungan disampaikan oleh sistem
saraf tepi ke otak sebagai pusat informasi dan otak akan
menyebarkan informasi tersebut agar mendapat tanggapan. Sistem
ini berjalan cepat melalui sistem saraf, hanya beberapa detik, maka
akan terjadi perubahan dalam tubuh manusia. Sebaliknya, sistem
endokrin yang menghasilkan substansi kimia bernama hormon,
akan bekerja lebih lambat dari sistem saraf sebagai jawaban atas
informasi perubahan lingkungan, memakan waktu beberapa menit
sampai hari dan bertahan lama. Namun dalam beberapa hal
tertentu, sistem saraf dan endokrin saling mempengaruhi dalam
aktivitasnya. Sistem ini dikenal sebagai sistem neuroendokrin
(Mardiati, 2000).
Sistem endokrin menghasilkan senyawa yang disebut dengan
hormon. Hormon berperan penting untuk mengatur berbagai
aktivitas dalam tubuh makhluk hidup, antara lain yaitu aktivitas
pertumbuhan, reproduksi, osmoregulasi, pencernaan, dan integrasi
serta koordinasi tubuh (Isnaeni, 2006). Semua hormon memiliki
peran yang penting dalam tubuh makhluk hidup, salah satunya
yaitu Human Growth Hormon (hormon pertumbuhan mannusia).
Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan Manusia) merupakan
salah satu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yaitu
pituitary lobus anterior. Hormon ini memiliki pengaruh yang luas
dalam metabolism tubuh, namun yang paling utama adalah
mengatur pertumbuhan. Dalam makalah ini akan dibahas lebih
lanjut mengenai Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan
Manusia).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan sistem endokrin?
2. Apa yang dimaksud dengan Human Growth Hormon (Hormon
Pertumbuhan Manusia)?
3. Apa dampak bagi tubuh jika terjadi hiposekresi ataupun
hipersekresi Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan
Manusia)?

C. TUJUAN
1. Mengetahui sistem endokrin, meliputi definisi, kelenjar
pembentuk sistem endokrin, prinsip kerja sistem endokrin, ciri-
ciri hormon serta pembagian hormon.
2. Mengetahui Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan
Manusia) meliputi definisi, fungsi, pengaruh terhadap
metabolism, mekanisme hGH dengan sel target, dan pengaturan
sekresi hGH .
4. Mengetahui dampak bagi tubuh jika terjadi hiposekresi ataupun
hipersekresi Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan
Manusia).
BAB II

PEMBAHASAN

A. SISTEM ENDOKRIN
1. Pengertian sistem endokrin
Sistem endokrin terdiri dari suatu sistem dalam tubuh
manusia yang meliputi sejumlah penghasil kelenjar zat yang
dinamakan hormon. Kelenjar ini dinamakan endokrin. Dinamakan
endokrin karena kelenjar ini tidak memiliki saluran keluar untuk
zat yang dihasilkannya (Wiarto, 2014). Kelenjar endokrin
menyekresikan hormon secara langsung ke dalam cairan sekitar.
Dengan demikian, kelenjar endokrin berlawanan dengan kelenjar
eksokrin, misalnya kelenjar ludah, yang memiliki saluran
pengangkut zat-zat hasil sekresi ke permukaan tubuh atau ke
dalam rongga tubuh. Perbedaan ini tercermin dari namanya yang
berasal dari bahasa Yunani endo (di dalam) dan ekso (di
luar), mencerminkan sekresi ke dalam atau ke luar cairan tubuh,
sementara crine artinya memisahkan yaitu mencerminkan
pergerakan menjauhi sel penyekresi.
Hormon yang disekresi ke dalam cairan ekstraselular oleh sel-
sel endokrin mencapai sel target melalui aliran darah. Walaupun
sistem sirkulasi memungkinkan hormon mencapai semua sel-sel
di dalam tubuh, hanya sel-sel target yang memiliki reseptor yang
mampu memberi respons (Campbell dkk, 2008).
Gambar 1. Hormon disekresi dalam sistem sirkulasi untuk menuju
sel target
2. Kelenjar pembentuk sistem endokrin
Sistem endokrin dalam tubuh manusia yang terdiri dari
sejumlah kelenjar penghasil zat yang dinamakan hormon.
Beberapa organ endokrin menghasilkan satu hormon tunggal,
sedangkan yang lain menghasilkan dua atau beberapa jenis
hormon (Pearce, 2009).

Gambar 2 . Macam kelenjar endokrin pembentuk sistem


endokrin

Kelenjar-kelenjar yang terdapat pada sistem endokrin yaitu:


a. Hipofisis (Pituitari)

Kelenjar ini terletak pada dasar otak besar dan


dihubungkan dengan hipotalamus oleh tangkai pituaria, atau
infundibulum hipotalami (Setiadi, 2007). Kelenjar ini
menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur
kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis
disebut master gland.

Secara fisiologis hipofisis dibagi dalam dua bagian, yaitu:

1) Hipofisis anterior (adehipofisis)

Sekresi hipofisis anterior diatur oleh hormone yang


dinamakan "releasing" dan "inhibitory hormones ("factor")
hipotalamus" yang disekresi dalam hipotalamus sendiri dan
kemudian dihantarkan ke hipofisis anterior melalui pembuluh
darah kecil yang dinamakan pembuluh portal hipotalamik-
hipofisial. Hipofisis anterior terdiri dari:

a) Kortokotropin, melepaskan glikokortikoid dan steroid lain


dari korteks adrenal.

b) Hormon penstimulasi folikel, memacu spermatogenesis


pada pria dan maturasi folikel ovarium pada wanita.

c) Hormon luteinisasi, memacu sintesis testosteron pada


pria dan menyebabkan rupturnya folikel ovarium serta
ovulasi pada wanita.

d) Prolaktin, memacu laktasi dan mungkin memiliki peran


imunomodulasi pada wanita yang tidak menyusui dan
pada pria.

e) Tirotropin, memacu produksi dan pelepasan hormone


tiroid dari kelenjar tiroid.
f) Hormon pertumbuhan, memacu pertumbuhan otot dan
skelet.

2) Hipofisis bagian posterior (neurohipofisis)

Sekresinya diatur oleh serabut saraf yang berasal dari


hipotalamus dan berakhir pada hipofisis posterior. Hormon-
hormon pada hipofisis yaitu:

a) Oksitosin, menyebabkan keluarnya air susu dan kontraksi


uterus saat persalinan

b) Vasopressin, memacu reabsorpsi air dari tubulus ginjal


(Greenstein, 2010).

Gambar 3. Kelenjar Pituitari (hifofisis)


Gambar 4. Macam hormon yang dihasilkan kelenjar pituitari
(hipofisis) anteriordan posterior

b. Tiroid (Kelenjar Gondok).

Tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk cuping


kembar dan di antara keduanya dapat daerah yang
menggenting. Kelenjar ini terdapat di bawah jakun di depan
trakea. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin yang
mempengaruhi metabolisme sel tubuh dan pengaturan suhu
tubuh. Kelenjar ini juga menyekresi kalsitonin, suatu hormon
yang penting untuk metabolisme kalsium (Setiadi, 2007) .

Gambar 5. Kelenjar tiroid

c. Paratiroid (Kelenjar Anak Gondok).

Di setiap sisi kelenjar tiroid terdapat dua kelenjar kecil,


yaitu kelenjar paratiroid. Sekresi paratiroid yaitu hormon
paratiroid yang berfungsi mengatur metabolism zat kapur dan
mengendalikan jumlah zat kapur di dalam darah dan tulang
(Pearce, 2008)
Gambar 6. Kelenjar paratiroid

d. Kelenjar Adrenalin (Anak Ginjal)

Kelenjar adrenal atau kelenjar suprarenalis terletak di atas


kutub sebelah atas setiap ginjal. Kelenjar adrenal terdiri atas
bagian luar yang berwarna kekuning-kuningan yang disebut
korteks dan yang menghasilkan kortisol, dengan rumus yanh
mendekatikortison, dan atas bagian medulla di sebelah dalam
yang menghasilkan adrenaln (epinefrin) dan noradrenalin
(norepifrin) (Pearce, 2008).

Gambar 7. Kelenjar adrenal

e. Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar yang berfungsi ganda.
Pankreas menghasilkan enzim pencernaan di dalam sel yang
disebut asini, tapi juga mempunyai fungsi endokrin. Dinatara
jaringan asini terdapat sekitar satu juta kumpulan sel yang
disebut pulau Langerhans. Pulau Langerhans berfungsi sebagai
kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin. Hormon
ini berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam darah.
Kelebihan glukosa akan dibawa ke sel hati dan selanjutnya
akan dirombak menjadi glikogen untuk disimpan. Kekurangan
hormon ini akan menyebabkan penyakit diabetes. Selain
menghasilkan insulin, pankreas juga menghasilkan hormon
glukagon yang bekerja antagonis dengan hormon insulin
(Parker, 2009) .

Gambar 8. Pankreas

f. Kelenjar Timus

Kelenjar timus terletak di dalam toraks, kira-kira pada


ketinggian bifurkasi trakea. Warnanya kemerah-merahan dan
terdiri atas dua lobus. Pada bayi yang baru lahir sangat kecil
dan beratnya kira-kira 10 gram atau lebih sedikit. Ukurannya
bertambah, pada masa remaja beratnya dari 30 sampai 40
gram, dan kemudian mengerut lagi (Pearce, 2008).
Gambar 9. Kelenjar timus

g. Kelenjar Kelamin

Pada kelenjar kelamin terbagi menjadi dua yaitu,


ovarium yang merupakan organ reproduksi pada wanita dan
testis yang merupakan organ reproduksi pada pria.

1) Ovarium

Ovarium merupakan kelenjar kelamin wanita. Ovarium


menghasilkan dua hormon yaitu estrogen dan progesteron.

2) Testis.

Testis merupakan kelenjar kelamin pria. Kelenjar testis


terletak di alat kelamin pria atau disebut dengan buah pelir.
Sel-sel interstitial dari testis menghasilkan hormone
testosterone. Hormon ini mendorong perkembangan organ
dan ciri-ciri kelamin sekunder (Wiarto, 2014).
Gambar 10. Kelenjar kelamin terdiri dari ovarium (wanita)
dan testis (pria)

3. Klasifikasi hormon

a. Berdasarkan hakikat kimianya

Berdasarkan hakikat kimianya, hormon dapat


diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu hormon poliperptida dan
protein, hormon steroid, dan turunan tirosin.

Polipeptida dan protein


Steroid Turunan tirosin
besar
Peptida Protein
besar

Testosterone Hormon Hormon Katekolamin,


hipotalamu pertumbuh meliputi
Estrogen
s an
Noradrenalin
Progesterone
Angiotensi Prolaktin
Adrenalin
n
Kortikosteroid
LH
Hormone tiroid,
Somatostat
FSH meliputi tiroksin
in
dan triidotironin.
TSH
Gastrin
Sekretin

Glucagon

Kalsitonin

Insulin

Parathormo
n

(Isnaeni, 2006)
b. Berdasarkan kelarutan
Hormon-hormon bervariasi dalam kelarutannya pada
lingkungan-lingkungan yang berair dan kaya lipid. Polipeptida
dan kebanyakan hormon amin bersifat larut dalam air. Karena
tidak terlarut dalam lipid, hormon-hormon ini tidak dapat
melintas melalui membran plasma sel. Sebaliknya, hormon-
hormon steroid serta hormon-hormon lain yang sebagian
besar non polar, misalnya tiroksin, bersifat larut lipid dan
dapat melintasi membran sel dengan mudah (Campbell dkk,
2008)
1) Mekanisme kompleks reseptor dan hormon yang larut lipid
Hormon yang larut lipid misalnya yaitu hormon steroid.
Reseptor hormon steroid terletak di dalam sitosol sebelum
pengikatan dengan hormon. Ketika hormon steroid
berikatan dengan reseptor sitoliknya, kompleks hormon-
reseptor terbentuk, yang bergerak ke dalam nukleus. Di
dalam nukleus, bagian reseptor dari kompleks berinteraksi
dengan DNA atau dengan protein pengikat DNA,
merangsang transkripsi gen-gen spesifik.
Gambar 11. Mekanisme kompleks reseptor-hormon steroid
Tiroksin, vitamin D, dan hormone-hormon terlarut lipid
lainnya yang bukan merupakan hormon steroid memiliki
reseptor yang biasanya terletak di dalam nukleus.
Reseptor-reseptor ini mengikat molekul-molekul hormon
yang berdifusi dari aliran darah melintasi membran plasma
dan membran inti. Begitu terikat oleh hormon, reseptor
berikatan ke situs spesifik dalam DNA sel dan merangsang
transkripsi gen-gen spesifik (Campbell dkk, 2008).
2) Mekanisme kompleks reseptor dan hormon larut air
Hormon yang larut air tidak dapat melewati membran
lipid bilayer, sehingga letak reseptornya berada di
permukaan membran sel target. misalnya yaitu hormon
peptida dan katekolamin. Pengikatan hormon terlarut air
dengan protein reseptor sinyal memicu peristiwa-peristiwa
pada membran plasma yang menghasilkan respons selular.
Respons ini dapat berupa aktivasi suatu enzim, perubahan
dalam pengambilan atau sekresi molekul-molekul spesifik,
atau penyusunan kembali sitoskeleton. Selain itu, beberapa
reseptor permukaan sel menyebabkan protein-protein di
dalam sitoplasma bergerak ke dalam nukleus dan
mengubah transkripsi gen-gen spesifik.
Ketika hormon larut air berikatan dengan reseptor
membran menyebabkan perubahan ATP menjadi AMP siklik
yang dipengaruhi oleh enzim adenil siklase yang banyak
terdapat di membran plasma. AMP siklik kemudian
berdifusi ke dalam sel dan bergabung dengan reseptor
intrasel dan bertindak sebagai messenger kedua.
Messenger kedua inilah yang akhirnya akan mengubah
fungsi sel sesuai dengan pesan khusus yang dimisikan oleh
hormon tersebut (Campbell dkk, 2008) (Wulangi, 1993)
(Mardiati, 2000).

Gambar 12. Mekanisme kompleks reseptor-hormon terlarut air


c. Berdasarkan tipe lokasi sel-sel yang terlibat
1) Persinyalan endokrin, molekul-molekul hasil sekresi
berdifusi ke dalam aliran darah dan memicu respons dalam
sel-sel target di manapun di dalam tubuh.
2) Persinyalan parakrin, molekul-molekul hasil sekresi
berdifusi secara local dan memicu respons dalam sel-sel
tetangga.
3) Persinyalan autokrin, molekul-molekul hasil sekresi
berdifusi secara local dan memicu respons di dalam sel-sel
yang menyekresikannya.
4) Petsinyalan sinaptik, neurotransmitter berdifusi melintasi
sinapsis dan memicu respons di dalam sel-sel jaringan
target (neuron, otot, atau keringat)
5) Persinyalan neuroendokrin, neurohormon (hormone yang
dihasilkan dari persinyalan sistem saraf) berdifusi ke dalam
aliran darah dan memicu respons di dalam sel-sel target di
manapun di dalam tubuh. (Campbell dkk, 2008)
Gambar 13. Macam hormon berdasarkan tipe
persinyalan
d. Klasifikasi hormon berdasarkan dasar fungsi
Pengaruh hormon terhadap sel target sangat bervariasi
sehingga tidak mudah untuk menyusunnya secara umum.
Namun, pengelompokan pengaruh hormon terhadap sel target
dibagi menjadi 4 macam pengaruh yaitu pengaruh kinetik,
pengaruh metabolik, pengaruh morfogenetik, dan pengaruh
perilaku.

N Kelompok Pengaruh hormon Nama hormon


o hormone terhadap sel target
1 Kinetik a. Kontraksi otot a. Epinefrin
b. Pengumpulan b. Melatonin
dan pengeluaran
pigmen c. Sekretin, gastrin
c. Sekresi kelenjar
d. ACTH, TSH, LH
eksokrin
d. Sekresi kelenjar
endokrin
2 Metabolik a. Pengaturan a. Tiroksin
kecepatan
respirasi b. Insulin, GH,
b. Keseimbangan
glukagon
karbohidrat dan
c. ADH,
protein
c. Keseimbangan aldosterone
elektrolit dan air
d. Paratormon,
d. Keseimbangan
kalsitonin
kalsium dan
fosfor

3 Morfogenetik a. GH
a. Pertumbuhan
b. Tiroksin,
b. Molting
c. Metamorfosis kortikosteroid
d. Regenerasi c. Tiroksin
e. Pemasakan d. GH
e. FSH
gonad
f. LH
f. Pelepasan gamet
g. Androgen
g. Deferensiasi
h. Estrogen,
saluran genital
Androgen
h. Perkembangan
ciri seks
sekunder

4 tingkah laku a. Pengaruh tropik a. Estrogen,


terhadap sistem progesteron
b. Androgen,
saraf
b. Sensitasi prolaktin
terhadap
rangsang khusus

(Wulangi, 1993 )
4. Ciri-ciri hormon
Hormon memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Diproduksi dan disekresi ke dala darah oleh sel kelenjar
endokrin dalam jumlah sangat kecil.
b. Diangkut oleh darah menuju sel/jaringan target.
c. Mengadakan interaksi dengan reseptor khusus yang terdapat
dalam sel target.
d. Mempunyai pengaruh mengaktifkan enzim khusus.
e. Mempunyai pengaruh tidak hanya terhadap satu sel target,
tetapi dapat juga mempengaruhi beberapa sel target yang
berlainan (Wiarto, 2014).
5. Mekanisme pengaturan hormon
Hormon merupakan komponen biologik aktif yang
mempengaruhi fungsi banyak sel dan metabolisme. Supaya kerja
hormon sesuai dengan fungsinya, maka harus ada pengaturan
sekresi optimal dan pengawasan yang baik. Karena apabila
terjadi kekurangan maupun kelebihan sekresi hormon dapat
menimbulkan suatu penyakit tertentu. Terdapat dua cara untuk
melakukan mekanisme kontrol, yaitu melalui sistem endokrin dan
kedua menggunakan pengaruh sistem saraf. Sekresi hormon
secara umum diatur atas dasar kontrol umpan balik.
Setiap sistem kontrol, baik fisik atau biologik, terdiri atas
masukan dan keluaran. Jika sistem bekerja dengan pengaturan
otonom, maka keluarlah yang mempunyai pengaruh
menghentikan masukan. Keadaan ini disebut umpan balik. Jika
hubungan kerja ini berjalan baik, maka peningkatan keluaran
akan menurunkan pemasukan, disebut umpan balik negatif.
Jika hubungan kerja ini langsung, maka peningkatan keluaran
akan menyebabkan peningkatan masukan, inilah yang dikenal
sebagai umpan balik positif. (Mardiati, 2000) (Wulangi, 1993).
Gambar 14. Prinsip kerja hormon: sistem umpan balik positif dan
negatif

B. HUMAN GROWTH HORMON (HORMON PERTUMBUHAN


MANUSIA)
1. Pengertian Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan
Manusia)
Hormon pertumbuhan (GH) juga dinamakan
somatotropik hormon (SH) atau somatotropin. Somatotropin
merupakan molekul protein kecil yang mengandung 191 asam
amino dalam satu rantai dan mempunyai berat molekul 22.005
(Guyton, 1990).

Gambar 15. Struktur primer hormon pertumbuhan manusia

Gambar 16. Struktur sekunder GH

GH diproduksi oleh pituitari lobus anterior, tepatnya oleh


sel somatotropik. Sintesa hormon ini tergantung pada hormon
tiroid. Pengaruh peningkatan pertumbuhan yang diperlihatkan
oleh hormon pertumbuhan dan hormon tiroid sulit dipisahkan
satu sama lain. Hal ini karena pengaruh hormon yang satu tidak
terjadi tanpa kehadiran hormon yang lain (Wulangi, 1993)
(Suryono, 2009).
GH dari satu spesies ke spesies lain cukup bervariasi. GH
golongan babi dan monyet hanya menimbulkan efek sementara
pada marmot. Pada monyet dan manusia, GH sapi dan babi
bahkan tidak menimbulkan efek pertumbuhan yang berarti
(Ganong, 2008).
2. Pengaruh Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan
Manusia)
GH memiliki banyak pengaruh pada kebanyakan sel, tetapi
sasaran utamanya berupa otot, tulang, dan hati. Kerja GH dapat
dibagi dalam dua kategori besar, yaitu membuat pertumbuhan
jaringan padat (misal tulang) dan lunak (misal otot) dalam tubuh
serta mempengaruhi metabolisme (Mardiati, 2000) (Suryono,
2009). Pengaruh yang diperlihatkan oleh hormon pertumbuhan
terutama pada pertumbuhan jaringan, khususnya proliferasi
tulang rawan dan pertumbuhan tulang. Pengaruh hormon
pertumbuhan dilakukan dengan cara memperbanyak sel. Namun
demikian pengaruh hormon pertumbuhan tidak secara langsung
pada sel tetapi pada hati. Bila terangsang oleh hormon
pertumbuhan, hati atau mungkin ginjal mensekresi hormon lain
yang disebut somatomedin. Somatomedin inilah yang
berpengaruh langsung terhadap sel sehingga sel memperbanyak
diri. Somatomedin dibutuhkan untuk pembentukan kondroitin
sulfat dan kolagen, kedua zat ini dibutuhkan untuk pertumbuhan
tulang rawan dan tulang (Suryono, 2009 ) (Guyton, 1990).
Somatomedin memiliki struktur molekul yang mirip dengan
insulin. Somatomedin utama (mungki satu-satunya pada
manusia) yang terdapat dalam darah adalah insulin-like growth
factor I (IGF-I, somatomedin C) dan insulin-like growth factor II
(IGF-II). Somatomedin ini serupa dengan insulin, kecuali pada
faktor rantai C yang tidak terpisah dan terdapat perluasan rantai
A yang disebut domain, reseptor permukaan sel untuk IGF sama
seperti reseptor insulin. Sekresi IGF-I sebelum lahir tidak
tergantung pada hormone pertumbuhan tetapi setelah lahir
dirangsang oleh hormon pertumbuhan. Konsentrasinya dalam
plasma meningkat selama masa kanak-kanak dan memuncak
saat pubertas, kemudian turun ke kadar yang rendah pada usia
lanjut. IGF-II umumnya tak bergantung pada pengaruh hormon
pertumbuhan dan berperan pada pertuumbuhan janin sebelum
lahir. (Mardiati, 2000) (Ganong, 2008) (Guyton,1990) (Burton,
1990).

Gambar 17. Mekanisme hGH menuju sel target, dengan


kehadiran IGF-I
3. Pengaruh Human Growth Hormon (Hormon Pertumbuhan
Manusia) terhadap Metabolisme
a. Pengaruh Human Growth Hormon (Hormon
Pertumbuhan Manusia) terhadap Metabolisme protein
1) Peningkatan transport asam amino melalui membran sel
Hormon pertumbuhan meningkatkan transport beberapa
ataupun sebagian besar asam amino melalui membran sel
ke bagian dalam sel. Hal ini meningkatkan konsentrasi
asam amino dalam sel sehingga berpengaruh pada
peningkatan sintesis protein.
2) Peningkatan sintesis protein oleh ribosom
Walaupun asam amino tidak bertambah di dalam sel,
hormone pertumbuhan tetap menyebabkan jumlah protein
yang disintesis dalam sel menjadi meningkat. Hal ini
dianggap sebagian oleh efek langsung pada ribosom,
membuat ribosom menghasilkan banyak molekul protein.
3) Peningkatan pembentukan RNA
Dalam waktu yang lebih lama, hormon pertumbuhan
juga merangsang proses transkripsi pada nucleus,
menyebabkn pembentukan RNA meningkat, hal ini
selanjutnya meningkatkan sintesis protein.
4) Pengurangan katabolisme protein dan asam amino
Selain meningkatkan sistesis protein, terdapat
penurunan pemecahan protein serta penggunaan protein
dan asam amino untuk energi. Alasan ini karena hormon
pertumbuhan juga memobilisasi asam lemak bebas dalam
jumlah besar dari jaringan adipose, dan asam lemak bebas
selanjutnya digunakan untuk suplai sebagian besar energi
bagi sel-sel tubuh (Guyton.
b. Pengaruh Human Growth Hormon (Hormon
Pertumbuhan Manusia) terhadap Metabolisme lemak
Hormon pertumbuhan dikenal bersifat ketogenik. Hal ini
karena hormon tersebut meningkatkan kadar asam lemak
bebas yang berasal dari jaringan adiposa dalam plasma.
Selain itu dalam jaringan, hormon pertumbuhan meningkatkan
perubahan asam lemak menjadi asetil KoA dan penggunaan
selanjutnya zat ini untuk energi. Oleh karena itu, dibawah
pengaruh hormon pertumbuhan lebih disukai penggunaan
lemak untuk energi daripada karbohidrat dan protein (Ganong,
2008) (Guyton, 1990).
c. Pengaruh Human Growth Hormon (Hormon
Pertumbuhan Manusia) terhadap Metabolisme
karbohidrat
Hormon pertumbuhan mempunyai tiga efek utama pada
metabolisme glukosa. Efek tersebut adalah pengurangan
glukosa untuk energi, peningkatan nyata pengendapan
glikogen dalam sel dan pengurangan ambilan glukosa oleh sel.
Karena efek inilah, hormon pertumbuhan sering disebut
memiliki efek diabetogenik (Guyton, 1990)
4. Pengaturan sekresi Human Growth Hormon (Hormon
Pertumbuhan Manusia)
Sekresi hormon pertumbuhan mengalami fluktuasi spontan
yang nyata dan cepat pada anak dan orang dewasa sebelum
menurun pada usia tua. Pada masa pubertas, hormon
pertumbuhan terus disekresi dengan kecepatan sebesar atau
hampir sama besar seperti kecepatan saat masa kanak-kanak.
Selanjutnya kecepatan sekresi hormon pertumbuhan meningkat
dan menurun dalam beberapa menit dalam hubungannya
dengan keadaan gizi atau stress seseorang, seperti kelaparan,
hipoglikemia, gerak badan, kegelisahan, dan trauma. Pada usia
lanjut, hormon pertumbuhan masih terus disekresi, hal ini untuk
mendukung fungsinya yaitu untuk memperbaiki kerusakan sel,
meningkatkan prolifersi sel, memeliharan fungsi optimal dari
organ sasaran serta memperbaiki jaringan yang mengalami
proses penuaan.
Hormon pertumbuhan dimetabolisme dengan cepat, sebagian
mungkin dimetabolisme di hati. Pada manusia, waktu paruh
hormon pertumbuhan dalam darah adalah 6-20 menit.
Konsentrasi normal hormon pertumbuhan dalam plasma pada
orang dewasa sekitar 3 nanogram per militer dan pada anak-
anak sekitar 5 nanogram per milliliter, kadar hormon
pertumbuhan ini diukur dengan Radioimmunoassay. Akan tetapi,
nilai-nilai tersebut sering berubah disebabkan beberapa sebab
berikut:

Rangsangan yang meningkatkan Rangsangan yang mengurangi


sekresi sekresi
a. Defisiensi substrat energi : a. Tidur REM
Hipoglikemia b. Glukosa
2-Deoksiglukosa c. Kortisol
Olahraga d. Asam lemak bebas
Puasa e. Mesroksiprogesteron
b. Peningkatan kadar asam amino
tertentu dalam darah
Protein makanan
Pemberian infus arginine dan
asam amino lain
c. Glucagon
d. Rangsangan stress
e. Berangkat tidur (tidur non REM)
f. Apomorfn dan agonis reseptor
dopamin
g. Estrogen dan androgen
(Ganong, 2008), (Poli, 2010) (Stevenson dkk, 1993).

Gambar 18. Perbandingan konsentrasi hGH berdasarkan usia

Gambar 19. Sekresi hormon pertumbuhan dipengaruhi oleh tidur


REM. Ketika tidur REM, sekresi berkurang. Sekresi terjadi pada
saat tidur non REM (5-10 menit pertama setelah berangkat tidur).
Pengaturan sekresi hormon pertumbuhan dikendalikan oleh 2
faktor dalam hipotalamus:
1. Faktor pembebas hormon pertumbuhan (Growth Hormone-
Releasing Factor = GRF), GRF menyebabkan pituitari anterior
menyekresikan hormone pertumbuhan. Nukleus hipotalamus
yang menyebabkan sekresi hormone pertumbuhan adalah
nucleus ventromedialis.
2. Faktor penghambat pembebasan hormon pertumbuhan (Growth
Hormone Release Inhibiting Factor = GRIF), GRIF menyebabkan
pituitari anterior menghambat sekresi hormone pertumbuhan
((Guyton, 1990) (Scratcherd,1990).
Interaksi kerja kedua hormon inilah yang merupakan ciri
umum kerja sistem endokrin, yaitu melalui lengkung umpan balik.
Lengkung umpan balik menghubungkan respons terhadap
rangsangan awal, sedangkan umpan balik negatif merupakan suatu
lengkung dengan respons yang mengurangi rangsangan awal.
Melalui pengurangan atau penghilangan persinyalan hormon,
regulasi umpan-balik negatif mencegah aktivitas jalur yang
berlebihan. Lengkung umpan-balik negative merupakan bagian dari
berbagai jalut hormone yang penting, terutama jalur-jalur yang
terlibat dalam pemeliharaan homeostatis (Campbell dkk, 2008).
5. Mekanisme kerja Human Growth Hormon (Hormon
Pertumbuhan Manusia) dengan sel target
Hormon prtumbuhan merupakan hormon peptida atau hormon
protein yang termasuk dalam hormon larut air, sehingga hormon
ini tidak dapat melewati membrane lipid bilayer sel target. Untuk
dapat melewatinya, hormon ini dibantu oleh keberadaan reseptor
yang berada di permukaan membran.
Ketika hormon pertumbuhan diikat oleh molekul reseptor
spesifiknya di permukaan membrane sel target, kejadian ini
menyebabkan meningkatnya kadar AMP siklik atau ion calcium
yang disebut sebagai second messenger, dan hormon
pertumbuhan dikenal sebagai messenger pertama. AMP siklik
dibentuk dari ATP melalui kerja adenilat-siklase, suatu enzim
membrane plasma yang diaktifkan oleh ikatan reseptor hormone.
AMP siklik diikat pada protein kinase, yang pada gilirannya
membentuk protein nonaktif menjadi enzim aktif dengan cara
fosforilasi yang juga membentuk ATP. Second messenger inilah
yang kemudian memediasi aksi hormone pada hampir semua
aspek kehidupan sel, seperti metabolism, pertumbuhan dan
diferenisasi (Mardiati, 2000) (Poli, 2010).
Reseptor hormon pertumbuhan adalah suatu protein asam
amino-620 dengan sebuah bagian ekstrasel yang besar, sebuah
ranah transmembran, dan sebuah bagian yang besar dalam
sitoplasma. Reseptor ini merupakan anggota super family
reseptor sitokin. Reseptor hormon pertumbuhan adalah reseptor
kinase dengan melalui pengaktifan jalur JAK2-STAT. JAK2 adalah
anggota dari famili tirosin kinase sitoplasmik Janus. STAT (untuk
sinyal transducers and activators of transcription) adalah suatu
famili transkripsi sitoplamik inaktif, yang apabila mengalami
fosforilasi oleh JAK kinase akan bermigrasi ke inti sel dan
mengaktifkan berbagai gen (Poli, 2010) (Ganong, 2008).
Activator transkripsi dan transduser sinyal (STAT) adalah
anggota keluarga dari tujuh faktor transkripsi yang memediasi
sinyal intrasel. Ringkasnya, reseptor permukaan sel untuk sitokin
menerima molekul sinyal, dan meneruskannya ke nucleus.
Terdapat sejulah besar molekul sinyal polipeptida ekstrasel,
berinteraksi dengan reseptor permukaan sel untuk sitoin, yang
kemudian memicuaktivasi faktor transkripsi sitoplasma. STAT
mengalami fosforilasi oleh Janus tyrosine kiase (JAK) pada residu
tyrosine. Setelah fosforilasi, terjadi dimerisasi bolak balik pada
SH2. Pasca fosforilasi, STAT akan masuk ke nukleus untuk
meregulasi transkripsi pada gen yang berbeda-beda (Poli, 2010).

Gambar 20. Mekanisme kompleks hormon pertumbuhan dengan


reseptornya yang melalui jalur JAK2-STAT
C. HIPERSEKRESI DAN HIPOSEKRESI HUMAN GROWTH HORMON
(HORMON PERTUMBUHAN MANUSIA)
Hormon merupakan molekul kimiawi yang memiliki banyak
fungsi dalam tubuh, sehingga pengaturan keseimbangannya sangat
penting sekali. Apabila terjadi kelebihan sekresi (hipersekresi)
maupun kekurangan sekresi (hiposekresi) dapat menimbulkan suatu
penyakit tertentu, termasuk pada hormon pertumbuhan manusia.
kelainan sekresi ini bisa disebabkan oleh berbagai macam sebab,
salah satunya karena terjadi disfungsi hipotalamus. Terdapat
beberapa penyebab disfungsi hipotalamus, antara lain tumor SSP,
infeksi, trauma, operasi, stress, dan obat-obatan (Burton, 1990).
1. Hipersekresi hormone pertumbuhan manusia
a. Gigantisme
Gigantisme merupakan kelainan yang ditimbulkan
akibat terlalu banyak sekresi hormone pertumbuhan yang
terjadi pada masa sebelum pubertas. Kelainan ini
menyebabkan semua jaringan tubuh tumbuh cepat, termasuk
tulang, dan bila epifisis tulang panjang belum bersatu dengan
batang tulang, maka tinggi badan akan bertambah sehingga
menyebabkan orang tersebut menjadi seperti raksasa dengan
tinggi bisa mencapai 2,4 m.

Gambar 21. Penderita Gigantisme


b. Akromegali
Akromegali merupakan kelainan yang ditimbulkan
akibat terlalu banyak sekresi hormone pertumbuhan yang
terjadi pada masa sesudah pubertas. Kelebihan produksi GH
pada masa dewasa merangsnag pertumbuhan tulang dalam
segelimtir jaringan yang masih responsive terhadap hormone
tersebut. Sel-sel target yang masih tersisa terutama di bagian
wajah, tangan dan kaki (Campbell dkk, 2008). Akromegali
menyebabkan penderita mengalami pembesaran tulang
rahnag pada wajah, kulit bertambah tebal, diikuti dengan
gangguan akibat penekanan saraf oleh massa tulang yang
bertambah (Wiarto, 2014).
Gambar 22. Penderita akromegali
2. Hiposekresi hormone pertumbuhan manusia
Hiposekresi hormon pertumbuhan manusia menyebabkan
kelainan yang disebut dengan dwarfisme syndrome (cebol).
Hiposekresi pada masa kanak-kanak memperlambat
pertumbuhan tulang panjang dan dapat mrnyebabkan kekerdilan
pituitari. Sebagian besar individu dengan kelainan ini memiliki
proporsi yang sesuai namun umumnya hanya mencapai tinggi
1,2 m. Jika didiagnosis sebelum pubertas, kekerdilan pituitary
dapat sukses ditangani dengan GH manusia. sejak tahun 1980-
an, para saintis telah menghasilkan GH manusia dari bakteri
yang deprogram dengan DNA yang mengkodekan hormone
tersebut (Campbell dkk, 2008) (Ganong, 2008).
Pada umumnya penderita dwarfisme mengalami
perkembangan satu sama lain yang sesuai, namun kecepatan
perkembangan sangat berkurang. Misalnya anak yang telah
mencapai usia 10 tahun dapat mempunyai perkembangan badan
anak usia 4 sampai 5 tahun, sedangkan orang yang sama yang
telah mencapai usia 20 tahun dapat mempunyai perkembangan
badan anak 7 sampai 1 tahun. Penderita dwarfisme tidak pernah
melewati pubertas dan tidak pernah menyekresi hormone
gonadotropin dalam jumlah cukup untuk perkembangan fungsi
seksual dewasa. Akan tetapi, pada satu pertiga dwarfisme,
individu mempunyai seksual matang dan kadang-kadang
mempunyai anak (Guyton, 1990).
Selain karena adanya hiposekresi GH, dwarfisme juga dapat
disebabkan oleh defisiensi GRH atau karena reseptor hormone
pertumbuhan yang tidak responsive akibat terjadinya mutasi
loss-of-function di gen untuk reseptor-reseptor tersebut. Keadaan
ini dikenal sebagai sindrom insentivitas hormone pertumbuhan
atau Laron dwarfisme (Ganong, 2008).

Gambar 23. Penderita Dwarfisme


3. Solusi penanganan hipersekresi ataupun hiposekresi
hormone pertumbuhan
a. Menggunakan terapi GHD (GH manusia dari bakteri yang
diprogram dengan DNA yang mengkode hormon tsb)
Terapi GHD bisa dilakukan pada penderita akromegali
yang didiagnosis sebelum pubertas, kekerdilan pituitari dapat
sukses ditangani dengan GH manusia. sejak tahun 1980-an,
para saintis telah menghasilkan GH manusia dari bakteri yang
deprogram dengan DNA yang mengkodekan hormone
tersebut (Campbell dkk, 2008).
b. Radioterapi
Radioterapi dilakukan jika hipotalamus terkena kanker,
sehingga berdampak pada sekresi hormone pertumbuhan.
c. Surgery (operasi)
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Sistem endokrin bersama dengan sistem saraf bertanggung jawab
pada homeostatis tubuh.
2. Sistem endokrin dibentuk oleh berbagai macam kelenjar endokrin
yang menghasilkan hormon. Hormon disekresikan oleh kelenjar
endokrin dalam darah untuk mengatur fungsi sel atau organ target
yang letaknya jauh.
3. Hormon dibagi menjadi beberapa macam.
a. Berdasarkan hakikat kimianya: steroid, protein dan peptide,
turunan tirosin/amin
b. Berdasarkan persinyalan: endokrin, parakin, autokrin,
neuroendokrin
c. Berdasarkan kelarutan: hormone larut lemak dan hormone larut
air
d. Berdasarkan fungsinya: hormone metabolik, kinetik,
morfogenetik, dan tingkah laku
4. Human Growth Hormon (hormone pertumbuhan manusia) adalah
hormone yang dihasilkan oleh pituitary anterior, yang sekresinya
diatur oleh 2 hormon hipotalamus yaitu GRH dan GIH.
5. Kelainan sekresi pada manusia dapat menyebabkan gigantisme,
akromegali (hipersekresi) dan dwarfisme atau cebol (hiposekresi).
DAFTAR PUSTAKA

Burton. 1990. Segi Praktis Ilmu Penyakit Dalam Alih Bahasa oleh Lyndon
Saputra. Jakarta: Binarupa Aksara
Campbell, Reece dkk. 2008. Biologi Edisi 8 Jilid 3 Alih Bahasa oleh
Damaringtyas

Wulandari. Jakarta: Erlangga

Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisioloi Kedokteran Alih Bahasa Oleh
Andita Novianti.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Greenstein, Been dan Diana Wood. 2010. At a Glance Sistem Endokrin


Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Guyton, Arthur. 1990. Fisiologi Manusia dan MEK Manusia Alih Bahasa oleh
Petrus

Andrianto. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Isnaeni, wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius

Mardiati, Ratna. 2000. Buku Kuliah Faal Endokrin. Jakarta: Infomedika

Parker, Steve. 2009. Ensiklopedia Tubuh Manusia. Jakarta: Erlangga


Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:
Gramedia Pustaka

Utama

Poedjiadi, Anna dkk. 1994. Dasar-DasarBiokimia. Jakarta: UI-Press

Poli, Paul S. 2010. Komunikasi sel dalam Biologi Molekular : Jalur Sinyal
dan Implikasi

Klinis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Scratcherd, T. 1990. Segi Praktis Ilmu Faal Alih Bahasa Djauhari


Widjajakusumah. Jakarta: Binarupa Aksara
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu

Stevenson, John C. 1993. Segi Praktis Endrokrinologi. Jakarta: Binarupa


Aksara
Suryono. 2009. Biokimia Hormon. Yogyakarta: Nuha Medika

Wiarto, Giri. 2014. Mengenal Fungsi Tubuh Manusia. Yogyakarta: Pustaka


Baru

Wulangi, S. Kartolo. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Bandung:


Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan