Anda di halaman 1dari 16

SISTEM PANAS BUMI

DIENG (INDONESIA) dan BACON-MANITO


(FILIPINA)
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
Muhammad Bobi Ermanda / 1614TP050
Mohamad Dayu Alfatih / 1614TP044
Henri Tanwey / 1614TP032
Febriansa Ian Talaut / 1614TP023
Surya Adjie Galuh Pangestu / 1614TP066

DOSEN :
Dr. Ir. Achmad Djumarma W. , Dipl. Seis

KELAS PRD Ic

T E K N I K PRODUKSI MINYAK DAN GAS

STEM Akamigas

2016
Daftar Isi

Bab 1. Panas Bumi Dieng .....


A. Pendahuluan .
B. Manifestasi Panas Bumi Dieng.
C. Sistem Panas Bumi Dieng ..

Bab 2. Panas Bumi Bacon-Manito ..


A. Pendahuluan ..
B. Manifestasi Panas Bumi Bacon-Manito...
C. Sistem Panas Bumi Bacon-Manito ....
BAB 1. PANAS BUMI DIENG
A. Pendahuluan

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa
Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten
Banjarnegara dan Kabupaten
Wonosobo. Letaknya berada di
sebelah barat kompleks Gunung
Sindoro dan Gunung Sumbing.
Wilayah ini berada pada
ketinggian antara 1.500 sampai
Gambar 1.1 Gunung dengan 2.095 meter di atas
Prau
permukaan laut (m dpl) dengan kemiringan lebih dari antara 15-40% dan beberapa wilayah
>40%, dengan jenis tanah andosol. Curah hujan di dataran tinggi ini termasuk tinggi, yaitu
3.917 mm/tahun (Priatna,2015). Koordinat Lokasi Dieng adalah 712LS dan 10954BT.
Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) merupakan sebuah komplek gunung berapi,
berbentuk dataran luas dengan panjang kurang lebih 14 km, lebar 6 km, dan memanjang
dari arah barat daya sampai tenggara.
Dieng plateau berasal gunung api tua (Gunung Prau) yang mengalami penurunan
drastis (dislokasi) oleh patahan barat laut dan tenggara. Pada bagian yang amblas, muncul
gunung-gunung kecil yaitu : Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan,
Gunung Pangonan, Gunung Gajahmungkur, dan Gunung Pakuwaja.

B. Manifestasi Panas Bumi Dieng


Terdapat berbagai manifestasi permukaan kegiatan hidrotermal di Dieng yang
sangat luas, seperti danau, fumarol / solfatara, kolam lumpur, dan mata air panas. Daerah
ini juga dikenal dengan letupan gas maut.
Macam-macam manifestasi permukaan yang muncul di Kawasan Gunung Dieng:
1. Mata air panas Bitingan
2. Mata air panas Siglagah
3. Mata air panas Pulosari
4. Mata air panas Jojogan
5. Kawah Pakuwaja
6. Kawah Sileri
7. Kawah Sikidang
8. Kawah Sibanteng
9. Kawah Sinila
10. Kawah Candradimuka
11. Kawah Timbang
Daerah panas bumi berpusat di kaldera tua Dieng yang ditemukan di tepi timur
kawasan Dieng. Daerah panas bumi Dieng dibatasi oleh NW-SE berorientasi pusat
vulkanik dari Gunung Sipandu untuk Pakuwaja di sisi barat dan dengan yang lebih tua
Gunung Prahu ke Patakbanteng di sisi timur.

Gambar 2.1 Mud pools di Kawah Sikidang, Gunung


Dieng
Gambar 2.3 Peta
Persebaran
Manifestasi Panas
Bumi Dieng

C. Sistem
Panas
Bumi
Dieng

Kajian
Geologi

Kawasan Dieng
Gambar 2.2 Aliran air Panas,
Gunung Dieng
Kegiatan gunung api pada kompleks Gunung Dieng dari yang tua hingga yang
termuda dapat dibagi dalam tiga episoda yang didasarkan pada umur relatif, sisa
morfologi, tingkat erosi, hubungan stratigrafi dan tingkat pelapukan :
1. Episoda pertama (Formasi Pra Kaldera) : Membentuk struktur kaldera dan
menghasilkan endapan piroklastik dan lava andesit basaltis.
2. Episoda kedua (Formasi Pre Kaldera) : Kegiatan saat ini ditandai oleh lava
berkomposisi biotit andesit berasosiasi dengan jatuhan piroklastik. Aktivitas
terakhir ditandai oleh erupsi-erupsi preatik.
3. Episode ketiga : Aktivitas gunung api pada episoda ini, menghasilkan lava andesit
biotit, jatuhan piroklastik dan aktivitas hidrothermal.

Secara geologi regional daerah Komplek Gunungapi Dieng ditutupi oleh endapan
berumur Kuarter berupa aliran lava, piroklastik, endapan phreatik, endapan lahar, endapan
permukaan, dan hasil erupsi Gunung Sundoro. Menurut R Sukhyar (1986), endapan
tersebut dapat dibagi menjadi 5 endapan berdasarkan sumber erupsinya dengan urutan
muda ke tua terdiri dari:
a. Endapan Permukaan,
b. Endapan Dieng Muda,
c. Endapan Dieng Dewasa,
d. Endapan Dieng Tua,
e. Hasil Erupsi Gunungapi Sundoro.
Tabel 3.1 Sejarah Letusan Gunung Dieng.
Produk
Tahun Nama Gunung/Kawah Aktivitas letusan
Letusan/korban
1450 Pakuwojo Letusan normal Abu/Pasir
1825/1826 Pakuwojo Letusan normal Abu/Pasir
Peningkatan
1883 Kw.Sikidang/Banteng Lumpur kawah
kegiatan
1884 Kw.Sikidang Letusan normal -
1895 Siglagak Pembentukan celah Uap belerang
1928 Batur Letusan Normal Lumpur dan batu
Uap dan Lumpur,5
1939 Batur Letusan normal
orang meninggal
Lumpur/59
Gempa bumi dan
1944 Kw.Sileri meninggal, 38 luka-
letusan
luka, 55 orang hilang
1964 Kw.Sileri Letusan normal lumpur
Hembusan
Kw.Condrodimuko/Telaga
1965 fumarola, lumpur Uap air dominan
Dringo
(?)
Gas CO2, CO , CH4,
Hembusan gas
1979 Kw.Sinila Korban 149
racun
meninggal
1990s Kw. Dieng Kulon Letusan freatik lumpur

Gambar 3.1 Peta Geologi Dataran Tinggi Dieng (Sukhyar, 1994)

Model Sistem Panas Bumi Dieng


Gambar 3.2 Sistem Panas Bumi Dataran Dieng

Pada gambar di atas, sistem geotermal pada lingkungan panas bumi di Dataran
Dieng berkarakteristik ubahan asam sulfat, memperlihatkan sumber panas (heat source)
magma mengandung gas yang kaya akan sulfur; gas-gas ini terkondensasi dan teroksidasi
untuk membentuk fluida-fluida asam yang menyebabkan pelindian (leaching) dan ubahan
argilik pada batuan di sekitar gunung api dan permukaan.
Kajian Geokimia dan Geofisika Kawasan Dieng
Lapangan panas bumi Dieng memiliki 3 daerah reservoir yaitu Sileri, Sikidang dan
Pakuwaja. Namun saat sumur-sumur produksi berada pada reservoir Sileri sedangkan
sumur-sumur injeksi berada pada daerah reservoir Sikidang. Temperatur di reservoir Sileri
kurang lebih 3250C. Reservoir Sileri bersifat netral dengan kandungan chloride (Cl -) yang
tinggi sehingga lapangan Dieng memiliki sistem panas bumi dominasi air. Sistem dominasi
air merupakan system dimana reservoirnya mempunyai kandungan air yang sangat
dominan dan menghasilkan fluida dua fasa (uap-air). Air chloride umumnya mengandung
SiO2 cukup tinggi yang mana kandungan SiO 2 ini menjadi salah satu penyebab masalah
produksi yang sering terjadi di lapangan Dieng. Kandungan SiO 2 ini akan terlarut pada
temperatur yang tinggi di reservoir sedangkan kelarutannya akan turun seiring dengan
turunnya tekanan dan temperatur di permukaan sehingga dapat mengendap pada pipa-pipa
air di permukaan. Selain itu pada uap yang terproduksi biasanya memiliki kandungan gas
H2S, CO2 dan Non Condensible Gas (NCG) yang juga menjadi salah satu penyebab
masalah produksi di Dieng.
Berdasarkan diagram segitiga dapat diketahui bahwa air kawah Sileri, Sikidang dan
Candradimuka tersusun oleh anion utama SO4, sehingga dapat dikatagorikan sebagai tipe
air panas sulfat. Lapangan panas bumi di Dieng ini menghasilkan fluida dua fasa (uap-air).
Keberadaan kelompok mineral alunit (natroalunit, alunit dan jarosit) pada batuan
terubah hidrotermal (argilik lanjut) di sekitar Kawah kawah Sikidang, Sileri dan
Candradimuka, menguatkan indikasi bahwa telah terjadi interaksi batuan dengan air asam
sulfat. Penelitian yang pernah dilakukan bahwa air kawah yang mengandung sulfat dengan
menambahkan batu kapur (CaCO3) dapat menghasilkan gipsum sintetis. Reaksinya
adalah : CaCO3 + air kawah -- CaSO4.2H2O (Budhy Agung S, 2000)
Pada bulan April 2008, Penelitian bahan galian pada lapangan panas bumi di Dieng
yang dilakukan Kelompok Program Penelitian Konservasi, Pusat Sumber Daya Geologi,
Badan Geologi, diantaranya dengan melakukan analisis kandungan logam pada lumpur
silika hasil endapan fluida berasal dari PLTP, didapatkan kadar yang signifikan beberapa
unsur logam. Analisis terhadap tujuh sampel,diperoleh kadar rata-rata: Au 0,477 ppm,
perak 3,14 ppm, Hg 1,982ppm, As 69,14 ppm, Sb 46,14 ppm, Pb 115,43 dan As 199 ppm.
Analisis contoh yang telah dilakukan oleh PT Geo Dipa Energi pada brine dan
limbah padatan brine (slurry), diketahui brine mengandung mineral besi terlarut (Fe),
mangan terlarut (Mn), seng, merkuri, timbal, arsen, dan sianida. Sementara slurry
mengandung mineral arsen, barium, boron, cadmium, kromium, tembaga, timbal, air raksa,
selenium, perak, seng dan silika.
Hasil analisis umumnya menunjukan kandungan Cu, Pb, Zn, Ag, Cd, As, Sb, Au,
Hg pada batuan tidak memperlihatkan nilai yang signifikan kecuali Cu mencapai 564 part
per million (ppm) dan Hg lebih dari 2350 part per billion (ppb).
Yang menarik adalah kandungan emas (Au) pada limbah padatan (slurry) dari
Sumur 7C, menunjukan kandungan sebesar 1273 ppb. Sementara kandungan emas dari
conto slurry dan slurry gel dari sumur lainnya bervariasi antara 99 ppb 678 ppb.
Dataran tinggi di bagian tengah Pulau Jawa ini ini sejak zaman Belanda dikenal
sebagai penghasil sulfur. Menurut Soetarjo Sigit dan kawan-kawan (1969), dari eksplorasi
pada tahun 1921 dan 1923 diketahui ada cadangan 36 ribu ton material lumpur yang 41%
di antaranya mengandung sulfur. Menurut hasil penelitian ahli Sovyet dan Indonesia,
cadangan terbukti sulfur ini sebesar 52.763 ton.
Gambar 3.3 Peta lokasi pemercontohan air panas danau kawah mata air panas dan sumber produksi panas
bumi wilayah Dieng.

Pada Sejak Agustus 2001, pengelolaan Panas Bumi di daerah ini telah diusahakan
oleh PT Geo Dipa Energi, perusahaan joint venture antara PLN dan Pertamina untuk
pembangkit tenaga listrik, dengan kapasitas 1 x 60 Mwe telah terintegrasi dalam sistem
jaringan interkoneksi Jawa - Madura - Bali.
Geo Dipa Unit Dieng memiliki beberapa lokasi pengeboran panas bumi. Kompleks
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng Unit 1 terletak di dua kecamatan,
yaitu Kecamatan Batur (kabupaten Banjarnegara) dan kecamatan Kejajar (kabupaten
Wonosobo), yang meliputi areal seluas 107.351,995 hektar. Saat ini kegiatan yang sedang
dilakukan untuk memenuhi target melalui peningkatan kemampuan dan pengembangan
proyek Dieng Unit 2 dan 3, masing-masing dengan kapasitas 60 MWe. Total energi
potensial dalam lapangan panas bumi Dieng diperkirakan 300 MWe.
Gambar 3.4 PLTP Geo Dipa Unit Dieng
BAB II. PANAS BUMI BACON-
MANITO

A. Pendahuluan

Lapangan panas bumi Bacon-


Manito berada di Luzon bagian selatan,
provinsi Bicol, Republik Filipina. Yang
menjadi subjek eksplorasi oleh
geosaintifik dan penelitian pemboran
sejak 1977.
Pada tahun 1982, sebuah target
area yang berpotensial dalam produksi
Gambar 1.1 Bacon-Manito Field fluida temperatur tinggi geotermal untuk
pembangkit listrik telah teridentifikasi di daerah Palayang-Bayan.
7 dari 11 rencana pemboran eksplorasi dan sumur deliniasi di daerah Palayang-
Bayan telah dilakukan. Penyelidikan diteruskan, tapi sumber daya yang cukup telah
terbukti untuk membenarkan pembangunan tahap pertama, mungkin pada 110 Mwe
awalnya.
Gambar 1.2 Peta Lokasi Lapangan Panas Bumi Bacon-Manito, Filipina
B. Manifestasi Panas Bumi Bacon-Manito

Terdapat berbagai manifestasi permukaan kegiatan hidrotermal di Bacon-Manito


yang sangat luas, seperti warm spring, hot spring, steaming ground, bubbling pools, dan
mud pool.
Macam-macam manifestasi permukaan yang muncul di Kawasan Bacon-Manito
seperti yang diperlihatkan tabel 3.1 dibawah ini :
Spring Physical Temperature pH Deposits/
manifestation Alterations
Buang Warm spring 43C 6-8 No deposits/
alterations
Inang Steaming 97C 5-8 No deposits/
Maharang grounds, heavily altered
bubbling clays are
pools widespread across
and mud pools the thermal area
Naghaso Hot spring 87-96C 3-6 No deposits/
alterations
Parong Bubbling pool 59-104C 5-7 No deposits/
Alterations
Pawa Hot spring 51-92C 6-8 Yellow-orange
deposits/ no
alterations
Gambar 2.1 Peta Persebaran Manifestasi Geotermal Bacon-Manito

Gambar. 2.1 Inang-Maharang Bubbling Pools

C. Sistem Panas Bumi Bacon-Manito


Model sistem geotermal pada lingkungan panas bumi Bacon-Manito di atas
berkarakteristik dengan fluida-fluida alkali klorida sebagai penyebab terbentuknya ubahan
adularia-serisit pada lingkungan vulkanik (Henley dan Ellis, 1983; Heald drr., 1987).
Kajian Geologi Kawasan Bacon-Manito
Beberapa kedalaman dari lubang pemboran di tengah area Bacon-Manito
ditemukan batuan intrusif, dengan rentang lebar komposisi dari gabro ke diorit kuarsa.
Banyak struktur geologi telah diidentifikasi di daerah tersebut, terutama oleh
interpretasi foto-udara, seperti pelapukan yang cepat, vegetasi yang lebat, dan overlay
hingga 20 m dari piroklastika membuat singkapan permukaan yang langka.
Alterasi hidrotermal di gunung api Pocdol umumnya membentuk urutan prograde
dengan mendalam, indikasi dari alterasi oleh air garam klorida netral. Perbandingan
perubahan mineralogi, inklusi fluida suhu pengukuran, dan temperatur di diukur
menunjukkan bahwa beberapa mineral sekunder tidak dalam kesetimbangan dengan suhu
sekarang.
Dalam beberapa sumur maju argillic perubahan kumpulan ditemui di zona lokal,
pada lebih khas perubahan mineralogi. Ini ditafsirkan untuk menunjukkan alterasi dengan
cairan asam sulfat. Zonasi alterasi hidrotermal menunjukkan kondisi suhu tertinggi di
sumur Palayang timur.
Gambar 3.1 Peta Geologi Kawasan Bacon-Manito

Kajian Geokimia dan Geofisika Kawasan Bacon-Manito


Enam sumur bor di Bacon-Manito Tengah, dan satu dari sumurnya (MO-2) di
Lowlands mengeluarkan cairan klorida netral yang sangat seragam dengan kandungan gas
moderat, sama seperti sistem panas bumi di Filipina lainnya, dan jenis reservoirnya yatu
single-phase (satu fasa).
Satu sumur lainnya, CN 2-D, menghasilkan lebih rendah klorida, cairan asam sulfat
yang tinggi dengan kandungan gas yang tinggi, diperkirakan untuk mewakili campuran
fluida reservoir netral dan kondensat.
Mata air sulfat panas & dingin dan mata air bikarbonat terdapat di dataran rendah,
tapi mata air dengan klorida tinggi hanya terdapat di dekat sea-level (Pawa) dan beberapa
daerah pasang-surut.
Gambar 4.1 Peta Kontur Ketinggian Zona Saturasi Klorida Netral Bacon-
Manito

Gambar 4.2 PLTP Bacon-Manito, Filipina

Daftar Pustaka
Clinton Sihombing. Makalah Lapangan Geothermal Dieng.
https://www.academia.edu/24139770/Makalah_Lapangan_Geothermal_Dieng

Hamzah, Amir. 2014. Paper Panas Bumi Wilayah Dieng Jawa Tengah.
https://id.scribd.com/doc/301378610/Paper-Panas-Bumi-Wilayah-Dieng-Jawa-Tengah

Lawless, J.V dkk.1983. Bacon-Manito Geothermal Field : A Geoscientific Exploration


Model. Metro Manila Philippines.

Priatna. 2015. Gejolak Dieng. Badan Geologi : Jakarta.

The University of Auckland Geothermal Institute. 1983. Procedeedings of 5th New


Zealand Geothermal Workshop. The Ceentee for Cotinuing Education : Auckland.