Anda di halaman 1dari 20

SAINS ARSITEKTUR

PENEDUH

disusun oleh:

Kelompok 6

1.

2.

3.

4.

5.

JURUSAN ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya
untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan


mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih


ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Banda Aceh, 5 April 2017

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Orbit bumi berbentuk elips dan apabila dilihat dari letak kutub utara dan selatan
bumi, posisi bumi terhadap matahari tidaklah tegak lurus, melainkan bergeser sebesar
23,5. Akibat dari pergeseran inilah terjadinya perubahan musim (Lechner 2001).
Secara astronomis Indonesia terletak diantara 6 LU dan 11 LS. Berdasarkan
letak astronomis tersebut, Indonesia termasuk kedalam daerah tropis yaitu berada
dekat dengan equator dimana selalau terkena sinar matahari sepanjang tahun.
Pencahayaan alami adalah pemanfaatan cahaya yang berasal dari benda
penerang alam seperti matahari, bulan, dan bintang sebagai penerang ruang. Karena
berasal dari alam, cahaya alami bersifat tidak menentu, tergantung pada iklim,
musim, dan cuaca. Diantara seluruh sumber cahaya alami, matahari memiliki kuat
sinar yang paling besar sehingga keberadaanya sangat bermanfaat dalam penerangan
dalam ruang. Cahaya matahari yang digunakan untuk penerangan interior disebut
dengan daylight.( Dora dan Nilasari, Surabaya, 2011)
Daylight memiliki fungsi yang sangat penting dalam karya arsitektur dan
interior. Distribusi cahaya alami yang baik dalam ruang berkaitan langsung dengan
konfigurasi arsitektural bangunan, orientasi bangunan, kedalaman, dan volume ruang.
Oleh sebab itu daylight harus disebarkan merata dalam ruangan. Menurut Sir John
Soane, daylight dapat memberikan suasana ruang dalam yang lebih hangat. Sir John
berhasil membuktikan bahwa daylight apabila dikelola dengan baik akan
menimbulkan dampak suasana yang menyenangkan (Honggowidjaja, 2003: 13)
Namun matahari tidak hanya memberikan efek berupa pencahayaan
melainkan juga menimbulkan efek panas. Pada beberapa Negara yang memiliki sinar
matahri melimpah seperti Indonesia, panas dari sinar matahari haruslah di manipulasi
agar tidak menyebabkan ketidaknyaman termal. Salah satu cara pasif untuk
menghalau panas berlebih tersebut adalah dengan menggunakan peneduh pada
bangunan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud peneduh?
2. Bagaimana orientasi bangunan yang baik?
3. Bagaimana cara merancang peneduh pada bangunan?
4. Apa sajakah perangkat-perangkat peneduh bangunan?

C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Mengetahui definisi peneduh.
2. Memahami orientasi bangunan yang efektif terhadap kenyamanan thermal.
3. Memahami cara merancang peneduh dan perangkat-perangkatnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI PENEDUH
Menurut Handayani (2010), bukaan merupakan suatu elemen yang tidak
terpisahkan dalam banguna , khususnya terkait dengan pencahayaan dan penghawaan
alami. Pada area tropis seperti Indonesia, letak dan ukuran dari suatu bukaan harus
direncanakan dengan baik. Bukaan yang terlalu besar dapat menimbulkan efek silau
dan pemanasan ruang ruang akibat radiasi matahari secara langsung. Untuk
mengatasi hal tersebut, penggunaan sun shading pada bukaan diperlukan.

Menurut Lechner (2001), Sun shading merupakan salah satu strategi dan langkah
pertama untuk mencapai kenyamanan thermal didalam bangunan, akan tetapi untuk
mencapai kenyamanan thermal terdapat aspek lain yang harus diperhitungkan.
To use sunlight as a source of ambient illumination, the opening must be shaded

to contol glare and heat gain.(Olgyay, NJ, 1957.).

Untuk menggunakan sinar matahari sebagai sumber pencahayaan, bukaan harus

di beri penagkal untuk mengontrol silau dan panas.

Sun shade design can be regarded as combined solution from architecture and

daylight situation.(wei, Generative Sun Shade Design, Germany, 2009.)

Mendesain sun shading merupakan sebuah solusi gabungan dari arsitektur dan

situasi siang hari (daylight).


B. JENIS PENEDUH
Secara garis besar, peneduh dibedakan menjadi peneduh eksternal dan peneduh
internal. Keduanya memiliki fungsi untuk menghalau panas dan silau matahari
berlebih namun memiliki beberapa perbedaan.
a. Peneduh Eksternal

Peneduh eksternal lebih efektif dalam mengurangi perolehan panas matahari


dibandingkan dengan peneduh internal karena dapat menghalangi radiasi matahari
sebelum mencapai selubung bangunan. Peneduh eksternal perlu dirancang secara
hati-hati agar tidak hanya untuk mengurangi beban pendinginan tetapi juga untuk
menciptakan arsitektur yang estetis, dengan tetap memperhitungkan kinerja
pencahayaan alami.
Geometri perangkat peneduh harus dirancang sesuai dengan jalur pergerakan
matahari, yang meyebabkan rancangan bentuk dan ukuran yang berbeda untuk
orientasi yang berbeda. Secara umum, perangkat peneduh horisontal lebih sesuai
untuk jendela dengan orientasi selatan dan utara di mana sudut datang sinar
matahari relatif tinggi. Sirip vertikal dapat efektif menghalau radiasi matahari
dengan sudut datang rendah pada jendela yang berorientasi ke arah timur dan
barat. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, diagram jalur matahari (sun
path diagram) sebaiknya digunakan untuk pengembangan rancangan perangkat
peneduh.
Contoh Aplikasi Sirip Vertikal
(kiri atas), Peneduh Horisontal
(kanan atas)

Peneduh Horizontal

Perangkat Horizontal memberikan keteduhan berdasarkan sudut ketinggian matahari.


Paling sering terlihat dalam bentuk overhang, khususnya efektif untuk shading
bangunan yang memiliki elevasi utara dan selatan. Perangkat Horizontal membiarkan
rendah sudut sinar matahari dan memblokir tinggi-sudut sinar matahari,
efektivitasnya bervariasi tergantung dengan perubahan ketinggian matahari. (Olgyay,
NJ, 1957)

Gambar Horizontal Sun Shading (2013)


Sumber: Google Images
Gambar Jenis Peneduh
Eksternal Generik: Overhang.
(sumber: PANDUAN
PENGGUNA BANGUNAN
GEDUNG HIJAU
JAKARTA)

Peneduh Vertical

Perangkat vertikal memberikan keteduhan berdasarkan sudut bantalan dari matahari.


Efektivitas mereka bervariasi, saat matahari bergerak mengelilingi cakrawala.
Perangkat vertikal memiliki kemampuan untuk memblokir rendah sudut matahari,
dan akibatnya mereka sering digunakan untuk bukaan menghadap ke timur atau
barat. Memblokir rendah sudut matahari juga menghalangi pandangan, dan karena
perubahan bantalan matahari sekitar 15 derajat per jam, sejumlah pandangangan
dapat diblokir. Perangkat vertikal dapat menjadi responsif disesuaikan terhadap
perubahan sudut matahari. (Olgyay, NJ, 1957)

Gambar Vertical Sun Shading (2013)


Sumber: Google Images

Gambar simulasi peneduh vertical


(Sumber PANDUAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG HIJAU JAKARTA)

Egg-crate

Perangkat shading peti telur menggabungkan karakteristik perangkat vertikal dan


horizontal untuk meningkatkan cakupan shading. (Olgyay, NJ, 1957)

Gambar Eggcrate Sun Shading (2013)


Sumber: Google Images

Seperti digambarkan oleh hasil simulasi di atas, perangkat peneduh eksternal sangat
efektif mengurangi beban pendinginan dari jendela, di mana sekitar 14%
penghematan energi bisa didapatkan melalui penggunaan eggcrate. Efektivitas
peneduh bervariasi tergantung pada WWR, orientasi dan pemilihan material kaca.
Secara umum, penghematan energi yang lebih tinggi melalui peneduh dapat dicapai
untuk kasus bangunan yang memiliki WWR dan SHGC yang tinggi. Oleh karena itu,
perancangan sistem fenestrasi atau jendela harus dilakukan secara komprehensif
untuk mencakup semua kemungkinan strategi agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Contoh-contoh peneduh eksternal

Sun Shading Temporer

Sun Shading Permanen


Sun Shading Otomatis
(+) Lebih Praktis
(+) Tidak memerlukan banyak tenaga
(-) Harganya mahal
(-) Perawatannya mahal
(-) Membutuhkan tenaga listrik/ baterai

Sun Shading Manual


(+) Harganya murah
(+) Gampang perawatannya
(-) Pemasangannya sulit/ ribet

b. Peneduh Internal

Peneduh internal (tirai, gorden) menahan radiasi matahari setelah melewati


jendela kaca dan mencegah terjadinya radiasi matahari yang langsung mengenai
penghuni dan bagian interior yang lebih dalam. Namun, peneduh internal tidak
seefektif peneduh eksternal dalam mengurangi beban pendinginan. Hal ini
disebabkan radiasi panas tersebut sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan
melalui kaca jendela serta diradiasikan dan dikonveksikan di dalam ruang, yang
akhirnya menjadi beban pendinginan bagi sistem HVAC. Warna terang dari
peneduh internal dengan lapisan reflektif lebih efektif daripada warna gelap
karena lebih banyak panas dipantulkan kembali keluar melalui kaca jendela.
Peneduh internal pada umumnya bisa diatur sepenuhnya untuk memenuhi
kebutuhan individual dari penghuni dan tersedia dengan berbagai desain dan
warna sehingga dapat dipadupadankan dengan rancangan elemen interior lainnya.
Dari segi desain, peneduh internal dapat dibedakan sebagai peneduh rol (roller
shades), tirai horisontal (horizontal blinds), tirai vertikal (vertical blinds) dan
gorden

Gambar simulasi peneduh internal


(Sumber PANDUAN PENGGUNA BANGUNAN GEDUNG HIJAU JAKARTA)

Di antara semua itu, tirai horisontal memiliki kinerja yang lebih baik dengan
memantulkan cahaya matahari ke langit-langit untuk meningkatkan kinerja
pencahayaan alami ke bagian interior yang letaknya jauh dari jendela.
Masalah utama dengan peneduh internal yang dioperasikan secara manual
adalah bahwa pengguna jarang mengatur bukaan tirai sesuai dengan pergerakan
matahari (misalnya membuka kembali tirai ketika tidak silau atau panas). Karena tirai
yang ditutup juga mengurangi kinerja pencahayaan alami, hal ini dapat menyebabkan
konsumsi energi yang jauh lebih tinggi untuk sistem pencahayaan.
Untuk menghindari masalah tersebut, penghuni bangunan perlu diberi
pengertian untuk menutup dan membuka tirai sesuai dengan kebutuhan penghuni
serta intensitas radiasi matahari.
Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan tirai otomatis yang dapat
beroperasi sesuai dengan intensitas cahaya dan radiasi matahari. Pengoperasiannya,
dapat diatur dengan sensor atau kendali jarak jauh

Contoh-Contoh Peneduh Internal


a) Curtain

Merupakan shading device yang paling sederhana. Biasa digunakan pada rumah
tinggal dan digunakan sebagai item dekorasi.

b) Venetian Blinds
Tirai atau juga krey yang berbahan dasar alumunium berbentuk horizontal yang
berfungsi sebagai penutup jendela. Venetian blind sangat cocok digunakan untuk
rumah maupun kantor. Penggunaan venetian memberikan kesan mewah pada ruangan

c) Vertical Louvre Blinds

Tirai yang berbentuk vertical. Biasa digunakan pada bangunan kantor dan bangunan
lainnya yang perlu untuk mengatur banyaknya cahaya dan juga panas matahari yang
masuk ke bangunan.
d) Roller Blinds

Roller blinds tirai gulung yang sifatnya praktis, fleksibel, dan modern. Berfungsi
sebagai pelindung atau penutup dari paparan cahaya, pandangan atau sebagai
pembatas ruang. Serta berperan penting sebagai dekorasi ruangan.

Pleated Blinds

Berbahan dasar kain yang dilipat-lipat, ketika dibuka, pleated blinds akan
menghalangi cahaya sepenuhnya. Bentuknya memberikan tekstur tambahan pada
ruangan.

e) Blackout Blinds
Menahan cahaya matahari yang masuk kedalam ruangan sepenuhnya, menggunakan
bahan kain yang sangat rapat sehingga dapan menahan cahaya yang masuk sebai
mungkin.
c. Peneduh Bergerak
C. ORIENTASI BANGUNAN
Karena pergerakan harian dan tahunan dari matahari, radiasi matahari yang
diterima selubung bangunan bervariasi untuk setiap orientasi. Untuk Jakarta dan
lokasi lainnya pada lintang yang sama, dinding vertikal pada arah Barat menerima
radiasi matahari rata-rata sebesar 303 W/m2 perhari, sedangkan timur, utara dan
selatan masing-masing menerima radiasi matahai rata-rata sebesar 268 W/m2, 207
W/m2, dan 165 W/m2 per hari. Permukaan horisontal (atap) menerima radiasi
matahari rata-rata sebesar 527 W/m2 per hari.
Untuk menghindari perolehan panas radiasi matahari yang berlebihan,
permukaan utama selubung bangunan dengan jendela sedapat mungkin diorientasikan
ke utara dan selatan. Ini memungkinkan jendela mendapatkan pencahayaan alami dari
kubah langit dengan tetap meminimalkan perolehan panas dari radiasi matahari
secara langsung. Ruang-ruang servis dan tangga dengan dinding masif dapat
diletakkan di sisi Barat dan Timur, sehingga dapat berfungsi sebagai thermal buffer
zones.
D. STRATEGI KHUSUS PENEDUH
Kubah Geodesik yang dirancang oleh Buckminster Fuller untuk Paviliun
Amerika Serikat, Expo 67. Setiap struktur heksagonal berkilap memiliki
enam peneduh berbentuk segitiga yang digerakan oleh servomotor.
Richard Foster, rumah
berputar 360 untuk
mendapatkan
pemandangan panoramic
(keliling) dan pemanasan
sinar matahari pasif.
Selagi bangunan
berputar, area luas dari
lempengan lantai beton
mengkilap membiarkan sinar matahari pasif memanaskan bangunan secara
seragam bahkan pada saat hari terdingin.