Anda di halaman 1dari 9

PENGERTIAN DAN CARA PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA

Ada beberapa pengertian terhadap pemerolehan bahasa kedua yaitu:

a. Menurut Chaer A. dan Agusitina,2004. Pemerolehan bahasa kedua atau bilingualisme adalah
rentangan bertahap yang dimulai dari menguasai bahasa pertama (B1) ditambah mengetahui
sedikit bahasa kedua (B2), lalu penguasaan B2 meningkat secara bertahap, sampai akhirnya
menguasai B2 sama baiknya dengan B1.

b. Menurut Akhadiah, S., dkk dalam (1997:2.2) pemerolehan bahasa kedua adalah proses saat
seseorang memperoleh sebuah bahasa lain setelah lebih dahulu ia menguasai sampai batas
tertentu bahasa pertamanya.

Beberapa pakar teori belajar bahasa kedua beranggapan bahwa anak-anak memperoleh bahasa,
sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Akan tetapi hipotesis pemerolehan-
belajar menuntut orang-orang dewasa juga memperoleh, bahwa kemampuan memungut bahasa
tidaklah hilang pada masa puber. Hipotesa diatas dapat menjelaskan perbedaan pemerolehan dan
belajar bahasa, Krashen dan Terrel (1983, dalam Akhadiah, dkk,1997:2.3) menegaskan
perbedaan keduanya dalam lima hal:

1. Pemerolehan memiliki ciri-ciri yang sama dengan pemerolehan bahasa pertama seorang anak
penutur asli sedangkan belajar bahasa adalah pengetahuan secara formal.

2. Pemerolehan dilakukan secara bawah sadar sedangkan pembelajaran adalah proses sadar dan
disengaja.
3. Pemerolehan seorang anak atau pelajar bahasa kedua belajar seperti memungut bahasa kedua
sedangkan dalam pembelajaran seorang pelajar bahasa kedua mengetahui bahasa kedua.
4. Dalam pemerolehan pengetahuan didapat secara implisit sedangkan dalam pembelajaran
pengetahuan didapat secara eksplisit

5. Pemerolehan pengajaran secara formal tidak membantu kemampuan anak sedangkan dalam
pembelajaran pengajaran secara formal hal itu menolong sekali.

FAKTOR USIA DALAM PEMEROLEHAN B2

1. Usia Anak-anak (0-11 tahun)

Dalam usia ini merupakan The Critical Period Hypothesis yaitu periode dimana penguasaan
bahasa terjadi secara alami dan dilakukan tanpa sengaja. Penfield dan Roberts (1959)
berpendapat bahwa usia maksimum untuk penguasaan bahasa yang efektif biasanya berkisar
antara dua sampai sebelas tahun.

Penfield dan Roberts (1959) ahli neurologi yang berargumentasi bahwa kemempuan anak
lebih besar untuk belajar bahasa dapat dijelaskan dengan plastisitas yang lebih besar dari otak
anak tersebut. Plastisitas otak ditemukan berkurang manakala usia bertambah. (Hamied:82).
Menurut Panfield dan Roberts (1959) menampilkan bukti bahwa anak-anak mempunyai
kapasitas menonjol untuk mempelajari kembali ketrampilan bahasa setelah kecelakaan atau
penyakit yang merusak bidang ujaran dalam hemisfer serebral dominan biasanya hemisfer
sebelah kiri.

2. Usia anak-anak (0-11 tahun)

Dalam usia ini merupakan The Critical Period Hypothesis yaitu periode dimana penguasaan
bahasa terjadi secara alami dan dilakukan tanpa sengaja. Pada proses ini anak menemukan
bunyi atau kalimat yang didengarnya tanpa ada perasaan takut salah. Penfield dan Roberts
(1959) berpendapat bahwa usia maksimum untuk penguasaan bahasa yang efektif biasanya
berkisar antara dua sampai sebelas tahun. Selama periode ini otak masih lentur, tetapi bila
sudah memasuki masa pubertas, maka elastisitas ini akan berangsur-angsur hilang. Hal ini
bisa terjadi, disebabkan oleh lateralisasi fungsi bahasa di otak sebelah kiri yaitu kapasitas
neurology dalam memahami dan memproduksi bahasa yang biasanya melibatkan otak bagian
kiri dan kanan.

3. Usia remaja (12-18 tahun)

Dalam usia ini seseorang telah memasuki masa pubertas. Saat masuk masa pubertas, maka
kinerja otak menurun karena dengan bertambahnya usia maka berkurang pula elastisitas otak.
Hal ini diperkuat dengan Hamied:82 yaitu plastisitas otak ditemukan berkurang manakala
usia bertambah. Pada masa pubertas literalisasi fungsi bahasa ke otak dominan telah selesai.
Hal ini mengakibatkan hilangnya plastisitas bagian otak yang diperlukan dalam belajar
bahasa secara ilmiah. Oleh karena itu setelah pubertas bahasa harus diajarkan melalui usaha
sadar namun tetap diusahakan sealamiah mungkin dan pada saat itu pengaruh aksen bahasa
pertama anak sering tidak dapat diatasi dengan mudah.

4. Usia dewasa (+19 tahun)

Sebagian besar masyarakat umum meyakini bahwa anak-anak lebih cepat daripada orang
dewasa dalam pemerolehan bahasa kedua, terutama hubungannya dengan pencapaian hasil
akhir. Belajar bahasa kedua ketika telah dewasa akan terasa lebih sulit. Tetapi beberapa
penelitian yang dilakukan mengenai hal ini menunjukkan bahwa dalam beberapa hal justru
pebelajar dewasa yang lebih berhasil ketimbang anak-anak. Mereka yang belajar bahasa
kedua setelah dewasa tetap dapat mencapai tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.
Penelitian mengenai hal ini menunjukkan bahwa hanya masalah aksen yang mereka tidak
mampu merubah aksen mereka seperti penutur asli.

Dalam memperoleh bahasa kedua dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a. Pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin

Di dalam pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin berarti pemerolehan bahasa kedua yang
diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Ciri-ciri pemerolehan
bahasa kedua secara terpimpin,(1) materi tergantung kriteria yang ditentukan oleh guru,
(2)Strategi yang dipakai oleh seorang guru juga sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok
untuk siswanya. Dalam pemerolehan bahasa secara terpimpin, apabila penyajian materi dan
metode yang digunakan dalam belajar teppat dan efekktif maka ini akan berhasil dan
menguntungkan pelajar dalam pemerolehan bahasa keduanya. Namun, sering ada ketidakwajaran
dalam penyajian materi terpimpin ini, misalnya penghafalan pola-pola kalimat tanpa pemberian
latihan-latihan bagaimana penerapan itu dalam komunikasi.

b. Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah

Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau secara spontan adalah pemeroleh bahasa kedua
yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan guru.
Pemerolehan bahasa seperti ini tidak ada keseragaman karena setiap individu memperoleh
bahasa kedua dengan caranya sendiri. Yang paling penting dalam cara ini adalah interaksi dan
komunikasi yang mendorong pemerolehan bahasa kedua. Ciri-ciri pemerolehan bahasa kedua
secara alamiah adalah (1) yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari,(2) bebas dari pimpinan
sistematis yang disenggaja.

TEORI PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA


Telah banyak dilakukan penelitian tentang pemeolehan B2. Ellis(1986) telah
mengidentifikasi tujuh teori pemerolehan B2 telah mengidentifikasi tujuh teori pemerolehan
B2, yang terdiri dari beberapa model, yaitu :

1. Model Akulturasi
Akulturasi adalah proses adaptasi atau penyesuaian dengan kebudayaan baru. Akulturasi
ditentukan oleh jarak sosial dan jarak psikologis antara pembelajar(B1) dengan budaya
bahasa sasaran(B2).
Faktor-faktor yang menentukan jarak sosial antara kelompok B1 dan B2 adalah :
a. Kesamaan derajat sosial
b. Timbulnuya keinginan asimilasi
c. Saling terlibatnya antar dua kelompok
d. Kelompok belajar B2 kecil dan kohesif
e. Kesesuaian budaya
f. Saling memiliki sikap positif
g. Lama tidaknya berasimilasi antara kelompok B1 da B2
2. Teori Akomodasi
Teori akomodasi menyatakan bahwa hubungan masyarakat B1 dengan B2 dalam
berinteraksi sangat menentukan pemerolehan B2. Faktor-faktor berikut akan
mempermudah dan mempengaruhi keberhasilan pembelajar dalam mempelajari B2.
a. Anggapan pembelajar B2 nahwa dirinya merupakan anggota dari masyarakat B2
b. Tidak memandang rendah masyarakat B2
c. Persepsi pembelajar tentang pentingnya etnolinguistik
d. Terbuka dan ketat dalam mempersepsikan batas kelompok B1 dengan B2
e. Pembelajar B1 mengidentifikasi diri sama kuat dan memuaskannya dengan kelompok
sosial lainnya
3. Teori Wacana
Teori wacana menekankan pentingnya pembelajar B2 menemukabn makna bahasa melalui
keterlibatannya dalam berkomunikasi.
Teori wacana mempunyai sejumlah prinsip utama berikut.
a. Pemerolehan B2 mengikuti urutan alamiah dalam perkembangan sintaksis
b. Penutur asli akan menyesuaikan tuturannya untuk mencapai makna yang disepakati
bersama penutur nonasli
c. Strategi percakapan yang ditempuh untuk mencapai makna yang disepakati dan
masukan mempengaruhi kecepatan dn urutan pemerolehan data terbaik bagi pembelajar

4. Model Monitor
Teori ini menyatakan bahwa tampilan berbahasa pembelajar(B2) ditentukan oleh cara
mereka menggunakan monitor. Penggunaan bahasa yang berlebihanakan menghambat
penguasaan bahasa pembelajar.
5. Model Kompetensi Variable
Teori ini menyatakan bahwa cara seseorang mempelajari bahasa akan mencerminkan cara
orang itu menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Produk penggunaan bahasa terdiri atas
berbagai macam produk bahasa(wacana) dari yang tidak terencana sampai yang
terencana.
6. Hipotesis Universal
Hipotesis universal menyatakan bahwa anak menemukan kaidah-kaidah bahasa dengan
bentuk gramatika universal, yakni gramatika inti.
Hipotesis ini menyatakan bahwa terdapat kesemestaan bahasa yang menentukan proses
pemerolehan B2 seperti berikut ini.
a. Kesemestaan bahasa membantu mengatasi hambatan yang berpotensi muncul dalam
bahasa antara(interlangue)
b. Pembelajar akan merasa lebih mudah memperoleh pola-pola yang sesuai dengan
kesemestaan bahasa daripada yang tidak sesuai
c. Apabila B1 menerapkan kesemestaan bahasa maka B1 cenderung akan membantu
perkembangan penguasaan bahasa antara melalui transfer
7. Teori Neurofungsional
Teori ini menyatakan adanya hubungan antara bahasa dengan anatomi syaraf.Dua daerah
otak. Dua daerah dalam otak, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri, menentukan
pemerolehan B2.
Pemerolehan B2 dapat diterangkan menurut fungsi syaraf dengan memperhatikan dua hal.
Pertama, fungsi syaraf yang mana yang digunakan untuk berkomunukasi. Kedua, tingatan
mana dalam system syaraf tersebut yang dilibatkan.

Teori Pemerolehan Bahasa


A. Pengertian Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa menurut Maksan (1993:20)
adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar,
implisit, dan informal. Lyons (1981:252) menyatakan suatu bahasa yang digunakan tanpa
kualifikasi untuk proses yang menghasilkan pengetahuan bahasa pada penutur bahasa disebut
pemerolehan bahasa. Artinya, seorang penutur bahasa yang dipakainya tanpa terlebih dahulu
mempelajari bahasa tersebut.
Dardjowidjodjo (2003:225) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses
penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural waktu dia belajar bahasa ibunya.
Stork dan Widdowson (1974:134) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa dan akuisisi
bahasa adalah suatu proses anak-anak mencapai kelancaran dalam bahasa ibunya.
Huda (1987:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses alami di dalam diri
seseorang menguasai bahasa. Pemerolehan bahasa biasanya didapatkan hasil kontak verbal
dengan penutur asli lingkungan bahasa itu. Dengan demikian, istilah pemerolehan bahasa
mengacu ada penguasaan bahasa secara tidak disadari dan tidak terpegaruh oleh pengajaran
bahasa tentang sistem kaidah dalam bahasa yang dipelajari.
Jadi pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika
dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa berbeda dengan
pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada
waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa
pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan
pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.

B. Teori Pemerolehan Bahasa


1. Teori Behaviorisme
Perkembangan bahasa adalah bentukan atau hasil dari pengaruh lingkungan. Artinya,
pengetahuan merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui pengkondisian
stimulus yang menimbulkan respons.
Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan tidak membawa apa-apa,
sehingga memerlukan proses bealajar. Proses belajar ini melalui imitasi, modeling, atau
belajar reinforcement(Hetherington, 1998; Mussen dkk,1984; Monks dkk, 2001).
Skinner memakai teori stimulus-respon dalam menerangkan perkembangan bahasa, yaitu
bahwa bila anak mulai belajar berbicara yang merupakan bukti berkembangnya bahasa anak,
maka orang yang berada disekelilingnya memberikan repons yang positif sebagai penguat
(reinforcement). Dengan adanya respon positif tersebut maka anak cenderung mengulang kata
tersebut atau tertarik mencoba kata lain. Dalam teori ini, Skinner menekankan agar para pendidik
PAUD untuk senantiasa menghadirkan suasana kelas dengan latihan yang diberikan kepada anak
harus dalam bentuk pertanyaan (stimulus) dan jawaban (respons) yang dikenalkan melalui
berbagai tahapan, mulai dari yang sederhana sampai yang lebih rumit, contohnya sistem
pembelajaran drilling. Pada awalnya, anak akan memberikan respons pada setiap pembelajaran
dan dapat segera memberi repons. Pendidik perlu memberikan penguatan terhadap hasil kerja
anak yang baik dengan pujian atau hadiah.
Ahli lain, Albert Bandura mencoba menerangkan dari sudut teori belajar sosial. Dia
berpendapat anak belajar bahasa karena menirukan suatu model. Tingkah laku imitasi ini tidak
mesti harus menerima reinforcement sebab belajar model dalam prinsipnya lepas
dari reinforcement dari luar.
2. Teori Nativisme (Nativistic Approach)
Pelopor teori ini adalah Chomsky, seorang ahli linguistik. Ia berpendapat bahwa bahasa
sudah ada dalam diri anak, merupakan bawaan lahir, telah ditentukan secara biologis, bersifat
alamiah. Pada saat seorang anak lahir, ia telah memiliki seperangkat kemampuan berbahasa yang
disebut Tata Bahasa Umum atau Universal Grammar. Jadi dalam diri manusia sudah ada innate
mechanism, yaitu bahwa bahasa seseorang itu ditentukan oleh sesuatu yang ada di dalam tubuh
manusia atau sudah diprogram secara genetik. Meskipun pengetahuan yang ada di dalam diri
anak tidak banyak mendapat rangsangan, anak tetap dapat mempelajarinya. Anak tidak sekedar
meniru bahasa yang didengarkannya, tetapi juga mampu menarik kesimpulan dari pola yang
ada.
Selama pemerolehan bahasa pertama, Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang
terjadi ketika seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud
adalah proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang
berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan
semantik) secara tidak disadari. Kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun
dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki
performansi dalam berbahasa. Performansi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk
berkomunikasi. Performansi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses
penerbitan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau
mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar, sedangkan proses penerbitan melibatkan
kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat sendiri (Chaer 2003:167).
Sejak lahir anak manusia sudah dilengkapi dengan alat yang disebut dengan alat
penguasaan/pemerolehan bahasa (language acquisation device/LAD), dan hanya manusia yang
mempunyai LAD. LAD ini mendapatkan inputnya dari data bahasa dari lingkungan. LAD ini
dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk mengolah masukan (input) dan
menentukan apa yang dikuasai lebih dahulu seperti bunyi, kata, frasa, kalimat, dan seterusnya.
Meskipun kita tidak tahu persis tepatnya dimana LAD itu berada karena sifatnya yang abstrak
(invisible). Dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga secara mental telah
mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini. Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat
menguasai bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga
memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.
Chomsky mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhnya telah dipasang tombol
serta kabel listrik, mana yang dipencet itulah yang akan menyebabkan bola lampu tertentu
menyala. Jadi, bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input dari
sekitarnya,antara Nurture dan Nature sama-sama saling mendukung. Nature diperlukan karena
tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin anak dapat berbahasa dan nurture diperlukan karena
tanpa input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud (Dardjowidjojo, 2003).
Teori ini berpengaruh pada pembelajaran bahasa, di mana anak perlu mendapatkan
model pembelajaran bahasa sejak dini. Anak belajar bahasa dengan cepat sebelum usia 10 tahun,
apalagi menyangkut bahasa kedua (second language). Usia lebih dari 10 tahun, anak kesulitan
dalam mempelajari bahasa.
3. Teori Kognitivisme
Munculnya teori ini dipelopori oleh Jean Piaget (1954) yang mengatakan bahwa bahasa
itu salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Jadi
perkembangan bahasa itu ditentukan oleh urutan-urutan perkembangan kognitif.
Perkembangan bahasa tergantung pada kemampuan kognitif tertentu, kemampuan
pengolahan informasi, dan motivasi. Piaget (Mussen dkk., 1984) dan pengikutnya menyatakan
bahwa perkembangan kognitif mengarahkan kemampuan berbahasa, dan perkembangan bahasa
tergantung pada perkembangan kognitif. Menurut Piaget struktur yang kompleks itu bukan
pemberian alam dan bukan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu timbul
secara tak terelakkan sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi
kognisi anak dengan lingkungan kebahasaannya.
Menurut kaum kognitivisme bahwa kemampuan pembelajar sudah terprogram secara
biologis untuk memiliki kemampuan kognitif dan proses belajar terjadi dengan cara memetakan
kategori linguistik ke dalam kategori kognitif, serta apa yang dipelajari adalah tata bahasa sebuah
bahasa. Jadi, sebetulnya kaum kognitivisme berusaha menggabungkan peran lingkungan dan
faktor bawaan, namun lebih besar ditekankan pada aspek berpikir logis (the power of logical
thinking). Urutan pemerolehan bahasa: menuranikan struktur aksi representasi kecerdasan
membentuk struktur linguistik. (Lebih jelas lihat Chaer, 2003; hal, 178-179).
Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif,
barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18
bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui inderanya. Anak hanya
mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat
mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk
mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang
menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.
4. Teori Interaksionisme
Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi
antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu
berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan input dan kemampuan internal yang
dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan
yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis.
Sebenarnya, faktor intern dan ekstern dalam pemerolehan bahasa pertama oleh sang anak
sangat mempengaruhi. Benar jika ada teori yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa anak
telah ada sejak lahir (telah ada LAD). Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti
yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah
dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan
berbahasa (Campbel, dkk., 2006: 2-3).

C. Tahap Pemerolehan Bahasa


Aitchison mengemukakan beberapa tahap pemerolehan bahasa anak:
1. Tahap Satu: Mendengkur
Tahap ini mulai berlangsung pada anak usia sekitar enam minggu. Bunyi yang dihasilkan mirip
dengan vokal tetapi tidak sama dengan bunyi vokal orang dewasa.
2. Tahap Dua: Meraban
Tahap ini berlangsung ketika usia anak mendekati enam bulan. Tahap meraban merupakan
pelatihan bagi alat-alat ucap. Vokal dan konsonan dihasilkan secara serentak.
3. Tahap Tiga: Pola intonasi
Anak mulai menirukan pola-pola intonasi. Tuturan yang dihasilkan mirip dengan yang diucapkan
ibunya.
4. Tahap Empat: Tuturan satu kata
Pada umur satu tahun sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata.
Pada usia ini anak memperoleh sekitar lima belas kata meliputi nama orang, binatang, dan lain-
lain.
5. Tahap Lima: Tuturan dua kata
Umumnya pada usia dua setengah tahun anak sudah menguasai beberapa ratus kata. Tuturan
hanya terdiri atas dua kata.
6. Tahap Enam: Infleksi kata
Kata-kata yang dianggap remeh dan infleksi mulai digunakan. Dalam bahasa Indonesia yang
tidak mengenal istilah infleksi, mungkin berwujud pemerolehan bentuk-bentuk derivasi,
misalnya kata kerja yang mengandung awalan atau akhiran.
7. Tahap Tujuh: Bentuk tanya dan bentuk ingkar
Anak mulai memperoleh kalimat tanya dengan kata tanya seperti apa, siapa, kapan, dan
sebagainya. Di samping itu anak juga sudah mengenal bentuk ingkar.
8. Tahap Delapan: Konstruksi yang jarang atau kompleks
Anak sudah mulai berusaha menafsirkan meskipun penafsirannya dilakukan secara keliru. Anak
juga memperoleh kalimat dengan struktur yang rumit, seperti pemerolehan kalimat majemuk.
9. Tahap Sembilan: Tuturan yang matang
Pada tahap ini anak sudah dapat menghasilkan kalimat-kalimat seperti orang dewasa.

DAFTAR PUSTAKA
Jannah, Lily Alifiyatul.(2013).Kesalahan-kesalahan GURU PAUD yang Sering Dianggap Sepele.
Yogyakarta : Diva Press.
Aimankhoirul.(2013). Teori Pemerolehan Bahasa.[Online]. Tersedia : http://aiman-
khairul.blogspot.com/2010/03/pada-dasarnya-seluruh-manusia-belajar.html. [8 April 2014].
Asbahar. (2008).Teori Pemerolehan Bahasa Pertama.[Online].Tersedia :
http://asbaharticles.blogspot.com/2008/11/teori-pemerolehan-bahasa-pertama.html. [8 April
2014].
Efitasari, Eka Nur.(2014). Perkembangan III: Masa Awal Kehidupan I (1-4 Tahun).
[Online].Tersedia:http://m.kompasiana.com/post/read/644300/3/perkembangan-iii-masa-awal-
kehidupan-i-1-4-tahun.html. [8 April 2014].