Anda di halaman 1dari 35

CRITICAL REVIEW JURNAL BUDGETING

Oleh :
Utami Naufa Aulia Rukmana (A1C114086)

JURUSAN S-1 AKUNTANSI REGULER SORE


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MATARAM
2017
CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL BERJUDUL:
Pengaruh Partisipasi Penganggaran Dan Komitmen Organisasi Pada Kinerja
Manajerial Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening

VOLUME : Vol. 10, No.1

TAHUN : 2015

PENELITI :Dewa Ayu Made Harlista Sukmantari & I Wayan Pradnyantha Wirasedana

REVIEWER : Utami Naufa Aulia Rukmana (A1C114086)

TANGGAL : 15 April 2017

1) Judul

Jurnal berjudul Pengaruh Partisipasi Penganggaran Dan Komitmen Organisasi Pada


Kinerja Manajerial Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening sudah sangat
spesifik, dan dapat menggambarkan permasalahan umum dalam jurnal.

2) Abstrak

Dalam adstrak menjelaskan permasalhan mengenai pengaruh partisipasi


penganggaran dan komitmen organisasi pada kinerja manajerial dengan kepuasan kerja
sebagai variabel intervening, studi kasus pada perusahaan Daerah Parkir Kota Denpasar.
Tujuan penelitian untuk melihat pengaruh partisipasi penganggaran pada kepuasan kerja,
komitmen organissi pada kepuasan kerja, partisipasi penganggaran pada kinerja
manajerial, dan kepuasan kerja pada kinerja manajerial. Data didapatkan melalui metode
survey memakai kuesioner. Sampel sebanyak 32 kuesioner, dan terakhir penulis
menjelaskan mengenai hasil studi yang menunjukan bahwa adanya pengaruh langsung
maupun tidak langsung antara partisipasi penganggran pada kepuasan kerja, komitemen
organisasi pada kepuasan kerja, partisipasi penganggran pada kinerja manajerial,
komitmen organisasi pada kinerja social, dan kepuasan kerja pada kinerja manajerial.
Penulis juga menuliskan kata kunci pada asbtrak yaitu : partisipasi penganggaran,
komitmen organinasi, kepuasan kerja, kinerja manajerial.
3) Latar Belakang

Pada latar belakang penulis mencantumkan fenomena rill yang terdapat pada halaman 4
yang dijelaskan pada bagian penelitian terdahulu oleh Sri Indah (2005) bahwan adanya
pengaruh posirif antara pastisipaso penganggaran dengan kepuasan kerja dan Brownell
dalam Leach (2002) yang menemukan bahwa partisipasi tidak berperan mempengaruhi
kepuasan kerja.

Pada halaman 3 penulis menjelaskan variabel Y kepuasan kerja, yaitu :

Kepuasan kerja adalah ungkapan perasaan yang menyenangkan dari individu sebagai
apresiasi individu terhadap pekerjaannya (Locke, 1976).

Selain itu peulis menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pada
halaman 2 yaitu partisipasi penganggaran (X1) dan komitmen organisasi (X3) :

Hoque dan Peter (2007) mengemukakan bahwa partisipasi penganggaran adalah


proses dimana bawahan ikut berpartisipasi dalam memutusan anggaran akhir dan
memiliki pengaruh pada anggaran akhir tersebut. Keterlibatan karyawan dalam
penyusunan anggaran akan menimbulkan dorongan dari dalam diri mereka untuk ikut
menyumbangkan pendapat dan informasi yang dimiliki serta meningkatkan rasa memiliki
perusahaan sehingga kerjasama diantara anggota organisasi akan ikut meningkat (Siegel
dan Marconi, 1989).
Nurfaizzah dan Mildawati (2007) berpendapat komitmen organisasi merupakan
suatu rasa kepercayaan yang kuat terhadap organisasi yang menimbulkan rasa
ketersediaan untuk berusaha melakukan yang terbaik demi kemajuan organisasi. Individu
yang memiliki ikatan emosional terhadap organisasi akan memicu tumbuhnya komitmen
organisasional sehingga individu akan berusaha mencapai tujuan perusahaan dan
mengesampingkan kepentingan pribadi (Latuheru, 2006).
Penulis menjelaskan pengaruh X1 ( partisipasi penganggaran) dan X2 (Komintemen
organiasi) terhadap variabel Y (kepuasan kerja) dan variabel Z (kinerja manajerial) yaitu
pada halaman 3 paragraf 3 kalimat ke 3 :

Menurut Porter et al. (1979) dalam Veronica dkk. (2009) menyatakan komitmen
yang tinggi menyebabkan individu akan cenderung lebih memperhatikan kelangsungan
organis asi serta berusaha mengarahkan organisasi menjadi lebih baik dimasa
mendatang sehingga dengan adanya komitmen organisasi yang tinggi akan meningkatkan
kepuasan kerja dan kinerja manajerial perusahaan. Sebaliknya, apabila individu memiliki
tingkat komitmen organisasi yang rendah serta mementingkan diri sendiri, individu tidak
akan memiliki niat untuk memajukan organisasi sehingga memungkinkan tidak
tercapainya kepuasan kerja dan peningkatan kinerja manajerial perusahaan.

Penulis mencantumkan penelitian terdahulu pada halaman 4 yaitu:

- Penelitian yang dilakukan Sri Indah (2005) dan Sinuraya (2009) menemukan
adanya pengaruh positif antara partisipasi penganggaran dengan kepuasan kerja
berbeda dengan penelitian Brownell dalam Leach (2002) yang menemukan
bahwa partisipasi tidak berperan mempengaruhi kepuasan kerja.
- Penelitian yang dilakukan Sinuraya (2009) dan Pradipta (2013) menemukan
komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja. Studi yang
dilakukan Nasir (2009) dan Haryanti (2012) menemukkan pengaruh nyata yang
signifikan diantara partisipasi penganggaran dengan kinerja manajerial berbeda
dengan studi Poerwati (2002) yang menyimpulkan bahwa partisipasi
penganggaran tidak memiliki pengaruh pada kinerja manajerial dan Nursidin
(2008) menyimpulkan adanya pengaruh negatif yang signifikan diantara
partisipasi penganggaran dengan kinerja manajerial.
- Studi yang dilakukan Hariyanti dan Nasir (2002) dan Yunita (2008)
menyimpulkan adanya pengaruh positif antara komitmen organisasi dengan
kinerja manajerial dan Yuleova (2013) yang mengemukakan adanya pengaruh
positif antara komitmen organisasi dengan kinerja melalui kepuasan kerja.
- Studi berbeda yang dilakukan Nouri (1994) dalam Supriyono (2004), dinyatakan
bahwa terjadi relasi yang negative dan signifikan antara komitmen organisasi
pada kinerja manajerial.
- Studi yang dilakukan Mutiara C (2010) dan Tunti (2013) menyimpulkan
kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Sugioko
(2010),mengemukakan hubungan negatif partisipasi penganggaran dengan
kinerja manajerial mampu dimediasi oleh kepuasan kerja dan Cherrington dan
Cherrington dalam Leach (2002) yang menyatakan terdapat hubungan negatif
antara partisipasi dan kinerja dengan struktur reward yang berperan sebagai
variabel intervening.

Penulis tidak mencantumkan rumusan masalah dan tujuan penelitian dalam jurnal,
seharusnya penulis mencantumkan hal tersebut, sebagai berikut :

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah :
1. Apakah pengaruh partisipasi penganggaran pada kepuasan kerja?
2. Apakah pengaruh komitmen organissi pada kepuasan kerja?
3. Apakah pengaruh partisipasi penganggaran pada kinerja manajerial?
4. Apakah pengaruh kepuasan kerja pada kinerja manajerial?

Tujuan dan Manfaat Penelitian


Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh partisipasi penganggaran pada kepuasan kerja?
2. Mengetahui pengaruh komitmen organissi pada kepuasan kerja?
3. Mengetahui pengaruh partisipasi penganggaran pada kinerja manajerial?
4. Mengetahui pengaruh kepuasan kerja pada kinerja manajerial?

4) Tinjauan Pustaka
Tidak terdapat tinjauan pustaka pada jurnal, penulis langsung menjelaskan mengenai
metodeogi penelitian, seharusnya penulis mencantumkan hal tersebut dan menjelaskan
gran teori, sebagai berikut ini :

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Teori Agensi dan Pendekatan kontijensi

1. Teori Agensi (agency theory)

Hansen dan Mowen (2000) mengungkapkan didalam anggaran partisipatif dapat


pula timbul permasalahan, antara lain:

1). Atasan atau bawahan akan menetapkan standar anggaran yang terlalu
tinggi ataupun terlalu rendah,

2). Bawahan akan membuat budgetary slack dengan cara mengalokasikan


sumber dari yang dibutuhkan, dan

3). Terdapat partisipasi semu.

Masalah yang sering muncul dari adanya keterlibatan manajer tingkat


bawah/menengah dalam menyusun anggaran (partisipasi anggaran) adalah penciptaan
senjangan aggaran. Para peneliti akuntansi menemukan bahwa senjangan anggaran
dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk diantaranya partisipasi bawahan dalam
penyusunan anggaran (Yuwono,1999). Schiff dan Lewin (1970) menyatakan bahwa
bawahan menciptakan senjangan anggaran karena dipengaruhi oleh keinginan dan
kepentingan pribadi sehingga akan memudahkan pencapaian target anggaran, terutama
jika penilaian prestasi manajer ditentukan berdasarkan pencapaian anggaran.

Agency theory menjelaskan fenomena yang terjadi bilamana atasan


mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan untuk melakukan suatu tuga atau
otoritas untuk membuat keputusan (Anthony dan Govindarajan,1988). Baiman
(1982) di dalam penelitiannya menyatakan jika bawahan (agent) yang terlibat dalam
partisipasi anggaran mempunyai formasi khusus tentang kondisi lokal, akan
memungkinkan bagi mereka untuk melaporkan informasi tersebut kepada atasan
(principal). Kesimpulan yang didapat ialah partisipasi anggaran akan menyebabkan
bawahan memberikan informasi yang dimilikinya untuk membantu organisasi.

2. Pendekatan Kontijensi (contingency approach)

Beberapa penelitian dalam bidang akuntansi manajemen melalui pendekatan


kontijensi bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel-variabel kontekstual
dengan desain sistem akuntansi dan untuk mengevaluasi berbagai hubungan anatara
dua variabel (misalnya: hubungan anatara partisipasi anggaran dengan senjangan
anggaran) dengan menggunakan variabel kontekstual sebagai variabel moderating.
Govindarajan (1986) di dalam penelitiannya memungkinkan dilakukan pendekatan
kontijensi (contigency approach) untuk mengevaluasi ketidakpastian faktor
kondisional yang dapat mempengaruhi efektivitas penyusunan anggaran terhadap
senjangan anggaran. Secara umum teori ini tergantung dari karakter organisasi dan
kondisi lingkungan dimana sistem tersebut akan ditetapkan (Fisher 1995 dalam
Romasi Lumban Gaol 2004). .

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa partisipasi anggaran


berhubungan dengan beberapa faktor konsektual seperti ketidakpastian lingkungan
(Gordon dan Narayanan, 1984), komitmen organisasi (Govindarajan 1986). Teori
kontijensi dibutuhkan dalam mengevaluasi faktor-faktor konsektual tersebut
sehingga partisipasi anggaran akan menjadi lebih efektif.

B. Anggaran

1) Definisi Anggaran

Hansen dan Mowen (2000:350) mendefinisikan anggaran atau budget sebagai


perencanaan keuangan untuk masa depan yang memuat tujuan serta tindakan-tindakan
yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu tersebut. Suatu anggaran biasanya
meliputi waktu satu tahun dan menyatakan pendapatan dan beban yang direncanakan
untuk tahun ini.

Mulyadi (2001:488) mendefinisikan anggaran sebagai berikut :

Anggaran merupakan suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif, yang
diukur dalam satuan moneter standar satuan ukur yang lain, mencakup jangka
waktu satu tahun. Anggaran merupakan suatu rencana jangka pendek yang disusun
berdasarkan rencana kegiatan jangka panjang yang ditetapkan dalam proses
penyusunan.

2) Tujuan Anggaran

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti memiliki tujuan, demikian pula


halnya dengan anggaran. Secara umum anggaran bertujuan memberikan pedoman
bagi perusahaan dalam menjalankan operasi dan aktifitas sehari-hari. Dengan adanya
anggaran maka perusahaan cendrung memenuhi target-target yang telah ditetapkan
sehingga produktifitas tercapai dan pemborosan dapat diminimalisir.

Menurut Nafarin (2004:15) secara spesifik, tujuan disusunnya anggaran


adalah antara lain :

a. Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dan


investasi dana.

b. Memberikan batasan atas jumlah dana yang dicari dan digunakan.

c. Merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana,
sehingga dapat memudahkan pengawasan.

d. Merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasil


yang maksimal.

e. Menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan anggaran


lebih jelas dan nyata terlihat.

f. Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang


berkaitan dengan keuangan.

Hansens dan Mowen (2000:352) mengemukakan tujuan penganggaran oleh


perusahaan sebagai berikut:

a. Memaksa manajer untuk membuat rencana.

b. Memberikan informasi sumber daya yang dapat meningkatkan kualitas


pengembilan keputusan.

c. Sebagai standar bagi evaluasi kerja.

d. Meningkatkan komunikasi dan koordinasi.

3) Fungsi Anggaran
Anggaran memiliki fungsi yang sama dengan manajemen yang
meliputi fungsi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Hal ini
disebabkan karena anggaran berfungsi sebagai alat manajemen dalam
melaksanakan perannya.

Menurut Nafarin (2004:20) fungsi anggaran antara lain :

a. Fungsi Perencanaan

Anggaran merupakan alat perencanaan tertulis yang menuntut pemikiran


teliti, karena anggaran memberikan gambaran yang lebih jelas/nyata
dalam unit dan uang.

b. Fungsi pelaksanaan

Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan,


sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam mencapai
tujuan. Apabila salah satu bagian atau departemen tidak
melaksanakan tugas sesuai dengan yang direncanakan, maka bagian lain
juga tidak dapat melaksanakan tugas secara selaras, terarah, terkoordinasi
sesuai dengan yang direncanakan atau yang telah ditetapkan dalam
anggaran.

c. Fungsi pengawasan

Anggaran merupakan alat pengendalian/pengawasan. Pengawasan berarti


melakukan evaluasi (menilai) atas pelaksanaan pekerjaan, dengan cara :

1. Membandingkan realisasi dengan rencana.

2. Melakukan tindakan perbaikan apabila dipandang perlu atau jika ada


penyimpangan yang merugikan.

Anggaran memiliki beberapa fungsi utama ( Hendriksen,2001) yaitu :

a. Sebagai Alat Perencanaan.


Anggaran merupakan alat untuk mencapai visi dan misi organisasi.anggaran
digunakan untuk merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai
dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Kemudian untuk merencanakan
berbagai program dan kegiatan serta merencanakan alternatif sumber
pembiayaan.

b. Alat Pengendalian

Anggaran digunakan untuk mengendalikan (membatasi kekuasaan) eksekutif,


mengawasi kondisi keuangan dan pelaksanaan operasional program karena
anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan (penerimaan) dan
pengeluaran pemerintah sehingga pembelanjaan yang dilakukan dapat
diketahui dan dipertanggungjawabkan kepada publik.

c. Alat Kebijakan Fiksal

Anggaran digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong


pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran dapat diketahui arah kebijakan fiskal
pemerintah. Anggaran juga digunakan untuk mendorong, dan
mengkoordinasikan kegiatan ekonomi masyarakat sehingga dapat
mempercepat pertumbuhan ekonomi.

d. Alat Politik

Anggaran merupakan dokumen publik sebagai komitmen eksekutif dan


kesepakatn legeslatif atas penggunaan dana publik.

e. Alat Koordinasi Dan Komunikasi

Penyusun anggaran memerlukan koordinasi dan komunikasi dari seluruh unit


kerja sehingga apabila terjadi inkonsistensi suatu unit kerja dapat dideteksi
secara cepat.

f. Alat Penilaian Kinerja

Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan


efesiensi pelaksanan anggaran.

g. Alat Motivasi
Anggaran hendaknya bersifat menantang tetapi dapat dicapai atau menuntut
tetapi dapat diwujudkan sebagai motivasi bagi seluruh pegawai agar dapat
bekerja secara ekonomis, efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan
organisasi.

Anggaran dapat berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian. Anggaran


berfungsi sebagai alat perencanaan artinya bahwa anggaran disusun sebelum aktifitas
perusahaan dilakukan. Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian artinya bahwa
anggaran digunakan sebagai pedoman dan pengendali aktivitas perusahaan. Jika
aktivitas perusahaan jauh dari yang dianggarkan, maka akan dilakukan perbaikan-
perbaikan sehingga dapat meminimalisir pemborosan yang ada.

Menurut Mulyadi (2001:467) ada beberapa syarat yang harus dipenuhi


agar anggaran dapat berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian, yaitu:

1. Partisipasi para manajer pusat pertanggungjawaban dalam proses


penyusunan anggaran.

2. Adanya organisasi anggaran.

3. Penggunaan informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai alat pengirim


pesan dalam penyusunan anggaran dan sebagai pengukur kinerja manajer
dalam pelaksanaan anggaran.

4) Klasifikasi Anggaran

Nafarin (2004:22) mengelompokkan anggaran dalam sudut pandang


antara lain sebagai berikut:

1. Menurut dasar penyusunannya, terdiri dari:

a. Anggaran variabel, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan interval


(kisar) kapasitas (aktivitas) tertentu dan pada intinya merupakan seri
anggaran yang dapat disesuaikan pada tingkat aktivitas yang
berbeda-beda.
b. Anggaran tetap, yaitu anggaran yang berdasarkan suatu tingkat
aktivitas tertentu.

2.Menurut cara penyusunannya, terdiri dari:

a. Anggaran periodik, yaitu anggaran yang disusun untuk suatu


periode tertentu (umumnya satu tahun) yang disusun pada setiap
akhir periode anggaran.

b. Anggaran kontiniu, yaitu anggaran yang dibuat untuk


memperbaiki anggaran yang telah dibuat.

3. Menurut jangka waktunya, terdiri dari:

a. Anggaran jangka pendek (anggaran taktis), yaitu anggaran yang


dibuat dengan jangka waktu paling lama satu tahun.

b. Anggaran jangka panjang (anggaran strategis), yaitu anggaran


yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun.

4. Menurut bidangnya, terdiri dari:

a. Anggaran operasional, yaitu anggaran untuk menyusun anggaran


laporan laba rugi.

b. Anggaran keuangan, yaitu anggaran untuk menyusun anggaran


neraca.

5. Menurut kemampuan menyusun, terdiri dari:

a. Anggaran komprehensif, yaitu rangkaian dari berbagai macam


anggaran yang disusun secara lengkap.

b. Anggaran parsial, yaitu anggaran yang disusun secara tidak


lengkap, hanya bagian tertentu saja.

6. Menurut fungsinya, terdiri dari:

a. Anggaran aproprisasi, yaitu anggaran yang dibentuk bagi tujuan


tertentu dan tidak boleh digunakan bagi tujuan lain.
b. Anggaran kinerja, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan
fungsi kegiatan yang dilakukan dalam organisasi (perusahaan).

5) Manfaat Anggaran

Menurut Nafarin (2004:15) manfaat anggaran adalah :

a. Segala kegiatan dapat terarah pada pencapaian tujuan bersama.

b. Dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kelebihan dan


kekurangan pegawai.

c. Dapat memotivasi pegawai.

d. Menimbulkan rasa tanggungjawab pada pegawai.

e. Menghindari pemborosan, dan pembayaran yang kurang perlu.

f. Sumberdaya, seperti tenaga kerja, peralatan, dan dapat dimanfaatkan


seefisien mungkin.

g. Alat pengendali para manajer.

C. Partisipasi Anggaran

1. Pengertian Partisipasi Anggaran

Pada dasarnya, anggaran berbeda dengan penganggaran. Anggaran merupakan


alat sedangkan penganggaran merupakan kegiatan menyusun dan merumuskan
anggaran itu sendiri. Menurut Alim (2003) penganggaran terbagi menjadi dua yaitu
penganggaran bottom-up (partisipatif) dan penganggaran top- down. Pada
penganggaran partisipatif, proses penyusunan anggaran mengizinkan para manajer
dengan level yang lebih rendah berpartisipasi secara signifikan dalam
pembentukan anggaran. Sedangkan dalam penganggaran top-down proses penyusunan
anggaran tidak melibatkan bawahan secara signifikan.

Menurut Milani dalam Gozali (2002) partisipasi anggaran adalah tingkat


pengaruh dan keterlibatan yang dirasakan individu dalam proses perancangan
anggaran. Menurut kenis (1979) dalam Darlis (2001) mendefinisikan partisipasi
anggaran sebagai sejauh mana manajer berpartisipasi dalam menyiapkan anggaran
dan mempengaruhi sasaran anggaran dari masing-masing pusat pertanggungjawaban.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa partisipasi anggsaran atau


penganggaran partisipatif adalah tingkat pengaruh dan keterlibatan manajer- manajer
pusat pertanggungjawaban dalam menyiapkan dan mempengaruhi sasaran
anggaran dibagiannya masing-masing.

2. Dampak Positif Partisipasi Anggaran

Menurut Bedford (2000:490) menyatakan partisipatif bawahan dalam


penentuan anggaran mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi
manajerial,Karena anggaran yang disusun dengan partisipasi bawahan akan
menghasilkan pertukaran informasi yang selektif.

Welseh, Hilton dan Gordon (2001:98) menyatakan ada dua dampak positif
partisipasi manajer tingkat menengah dan tingakat bawah dalam proses
penyusunan anggaran, yaitu: Pertama, proses partisipasi mengurangi asimetri
informasi dalam organisasi. Dengan demikian, memungkinkan manajemen tingkat
atas mempunyai pengertian dalam masalah lingkungan dan teknologi manajer
tingkat bawah yang mempunyai pengetahuan yang lebih khusus. Kedua, proses
partisipasi bias menghasilkan komitmen yang lebih besar oleh manajemen tingkat
bawah untuk melaksanakan rencanan anggaran dan memenuhi anggaran.

3. Komite Anggaran

Pada umumnya penyusunan anggaran didelegasikan kepada komite anggaran


yang langsung melaporkan hasilnya kepada manajemen tingkat atas atau direktur
utama. Komite anggaran dikepalai oleh Direktur Anggaran. Anggotanya terdiri dari
manajer berbagai departemen fungsional. Komite ini bertugas menyusun pedoman
anggaran, instruksi, pengumpulan data, realisasi dan laporan anggaran.

Menurut Hansen dan Mowen (2000:353) komite anggaran bertugas memeriksa


anggaran yang dibuat, memberikan tuntunan dan kebijakan tujuan anggaran,
menyelesaikan perselisihan yang timbul pada saat anggaran dibuat, menyetujui
anggaran final, dan memonitor atau memantau kinerja actual organisasi
selama tahun berjalan.

Adapun fungsi pokok dari komite anggaran menurut Supriyono (2002:20)


antara lain sebagai berikut:

a. Memutuskan kebijaksanaan umum anggaran.


b. Menanyakan, menerima dan memeriksa kembali data anggaran dari
berbagai bagian dalam perusahaan baik anggaran jangka panjang maupun
jangka pendek.
c. Menyarankan revisi-revisi yang diperlukan atas data anggaran yang
diterima dari setiap bagian.
d. Menyetujui data anggaran dan revisi-revisi yang diperlukan terhadap data
tersebut.
e. Merakit (menggabungkan) data anggaran sesuai dengan rencana induk
perusahaan.
f. Mengevaluasi dan merevisi anggaran yang sudah dirakit sebelum disusun
dan disahkan menjadi anggaran yang final.
g. Mengeluarkan laporan periodik yang memperlihatkan analisa antara
anggaran dan realisasinya, serta merekomendasikan tindakan yang diperlukan
untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna.
Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja adalah ungkapan perasaan yang menyenangkan dari individu sebagai
apresiasi individu terhadap pekerjaannya (Locke, 1976).

Komitmen Organisasi
Nurfaizzah dan Mildawati (2007) berpendapat komitmen organisasi merupakan suatu
rasa kepercayaan yang kuat terhadap organisasi yang menimbulkan rasa ketersediaan
untuk berusaha melakukan yang terbaik demi kemajuan organisasi. Individu yang
memiliki ikatan emosional terhadap organisasi akan memicu tumbuhnya komitmen
organisasional sehingga individu akan berusaha mencapai tujuan perusahaan dan
mengesampingkan kepentingan pribadi (Latuheru, 2006)\

Penulis juga tidak mencantumkan penelitian terdahulu. Seharusnya penulis


mencantumkan hal tersebut :
- Penelitian yang dilakukan Sri Indah (2005) dan Sinuraya (2009) menemukan
adanya pengaruh positif antara partisipasi penganggaran dengan kepuasan kerja
berbeda dengan penelitian Brownell dalam Leach (2002) yang menemukan
bahwa partisipasi tidak berperan mempengaruhi kepuasan kerja.
- Penelitian yang dilakukan Sinuraya (2009) dan Pradipta (2013) menemukan
komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja. Studi yang
dilakukan Nasir (2009) dan Haryanti (2012) menemukkan pengaruh nyata yang
signifikan diantara partisipasi penganggaran dengan kinerja manajerial berbeda
dengan studi Poerwati (2002) yang menyimpulkan bahwa partisipasi
penganggaran tidak memiliki pengaruh pada kinerja manajerial dan Nursidin
(2008) menyimpulkan adanya pengaruh negatif yang signifikan diantara
partisipasi penganggaran dengan kinerja manajerial.
- Studi yang dilakukan Hariyanti dan Nasir (2002) dan Yunita (2008)
menyimpulkan adanya pengaruh positif antara komitmen organisasi dengan
kinerja manajerial dan Yuleova (2013) yang mengemukakan adanya pengaruh
positif antara komitmen organisasi dengan kinerja melalui kepuasan kerja.
- Studi berbeda yang dilakukan Nouri (1994) dalam Supriyono (2004), dinyatakan
bahwa terjadi relasi yang negative dan signifikan antara komitmen organisasi
pada kinerja manajerial.
- Studi yang dilakukan Mutiara C (2010) dan Tunti (2013) menyimpulkan
kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Sugioko
(2010),mengemukakan hubungan negatif partisipasi penganggaran dengan
kinerja manajerial mampu dimediasi oleh kepuasan kerja dan Cherrington dan
Cherrington dalam Leach (2002) yang menyatakan terdapat hubungan negatif
antara partisipasi dan kinerja dengan struktur reward yang berperan sebagai
variabel intervening.

5) Pengembangan Hipotesis
Penulis mencantumkan hipotesis pada halaman, tetapi tidak mencantumkan logika
berpikir X berpengaruh terhadap Y.

H1:Partisipasi penganggaran berpengaruh pada kepuasan kerja pada Perusahaan


Daerah Parkir Kota Denpasar.
H2:Komitmen organisasi berpengaruh pada kepuasan kerja pada Perusahaan Daerah
Parkir Kota Denpasar.
H3:Partisipasi penganggaran berpengaruh pada kinerja manajerial pada Perusahaan
Daerah Parkir Kota Denpasar.
H4:Komitmen organisasi berpengaruh pada kinerja manajerial pada Perusahaan
Daerah Parkir Kota Denpasar.
H5:Kepuasan kerja berpengaruh pada kinerja manajerial pada Perusahaan Daerah
Parkir Kota Denpasar

seharusnya penulis mencantumkan hal tersebut sebagai berikut :

Hubungan Partisipasi Penganggaran Pada Kepuasan Kerja

Penelitian yang menguji kepuasan kerja berpengaruh positif maupun negatif terhadap
hubungan
antar penyusunan anggaran dan kinerja aparat pemerintah telah banyak dilakukan. Hasil
enelitian yang dilakukan Sardjito (2007) menyatakan bahwa kepuasan kerja mempunyai
pengaruh positif
terhadap penyusunan anggaran. Sedangkan menurut Sudaryono (1994) menunujukkan bahwa
kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap partisipasi penyusunan anggaran terhadap
kinerja manajerial. Secara singkat ditentukan bahwa kepuasan kerja mempunyai pengaruh
terhadap partisipasi penyusunan anggaran dalam meningkatkan kinerja aparat
pemerintah.Semakin tinggi kepuasan kerja maka semakin kuat pengaruh partisipasi terhadap
kinerja.
H1:Partisipasi penganggaran berpengaruh pada kepuasan kerja pada Perusahaan Daerah
Parkir Kota Denpasar.

Hubungan Partisipasi Penganggaran Pada Kepuasan Kerja

Anggaran yang telah disusun memiliki peranan sebagai perencanaan dan sebagai
kriteria kinerja, yaitu anggaran dipakai sebagai suatu sistem pengendalian untuk
mengukur kinerja manajer. Untuk mencegah dampak fungsional atau disfungsionalnya,
sikap dan perilaku anggota organisasi dalam penyusunan anggaran, perlu melibatkan
manajemen pada level yang lebih rendah sehingga anggaran partisipatif dapat dinilai
sebagai pendekatan manajerial yang dapat meningkatkan kinerja setiap anggota organisasi (
Bambang Sardjito dan Osmad Muthaher, 2007).

Pengertian partisipasi dalam proses penyusunan anggaran lebih rinci


dijelaskan oleh French et al, (1960) dalam Krisler Bornadi Omposunggu dan Icuk Rangga
Bawono (2006) sebagai suatu proses kerjasama dalam pembuatan keputusan yang
melibatkan dua kelompok atau lebih yang berpengaruh pada pembuatan keputusan di
masa yang akan datang. Disini partisipasi merupakan salah satu unsur yang sangat penting
yang menekankan pada proses kerjasama dari berbagai pihak, baik bawahan maupun
manajer level atas. Dengan kata lain bahwa anggaran yang disusun tidak semata-mata
ditentukan oleh atasan saja, melainkan juga keterlibatan atau keikutsertaan bawahan,
karena para pekerja atau manajer tingkat bawah merupakan bagian organisasi yang
memiliki hak suara untuk memilih tindakan secara benar dalam proses manajemen.

Sebagian besar studi menunjukkan bahwa partisipasi anggaran lebih banyak


membawa manfaat pada organisasi. Beberapa manfaat partisipasi dalam proses
penyusunan anggaran antara lain (Siegel dan Marconi, 1989) dalam Krisler Bornadi
Omposunggu dan Icuk Rangga Bawono (2006) :

1. Seseorang yang terlibat dalam proses penyusunan anggaran tidak saja task
involved melainkan juga ego involved dalam kerjasama.

2. Keterlibatan seseorang akan meningkatkan rasa kebersamaan dalam


kelompok, karena dapat meningkatkan kerjasama antara anggota kelompok
di dalam penetapan sasaran, serta dapat mengurangi rasa tertekan.

3. Keterlibatan seseorang akan mengurangi rasa keperbedaan di dalam


mengalokasikan sumber daya di antara unit-unit yang ada di organisasi.

Bukti empiris yang dijelaskan oleh Govindarajan (1986) menunjukkan bahwa


partisipasi anggaran secara khusus memberi manfaat bagi operasi pusat
pertanggungjawaban ketika organisasi dihadapkan pada ketidakpastian lingkungan.
Diikutsertakannya manajer pusat pertanggungjawaban dalam proses penyusunan
anggaran merupakan bagian terpenting, karena mereka yang paling mengetahui
informasi tentang variabel yang dapat mempengaruhi pendapatan dan biaya.

Disamping manfaat yang melekat pada partisipasi, tentu saja ada


keterbatasannya (Supriono, 2006) menemukan bahwa bilamana terdapat kecacatan
dalam penentuan tujuan (goal setting), maka partisipasi dapat merusak motivasi
pegawai dan menurunkan usaha pencapaian tujuan organisasi. Beberapa studi
menunjukkan bahwa partisipasi dalam pengambilan keputusan menunjukkan bahwa
tidak selamanya partisipasi dapat berhasil. Berbagai faktor yang dapat menentukan
ketidakberhasilan tergantung pada kedalaman, scope, dan bobot partisipasi.
Kedalaman partisipasi disini ditunjukkan oleh siapa yang seharusnya berpartisipasi.
Sedangkan scope partisipasi ditunjukkan oleh variabilitas keputusan, sementara bobot
partisipasi ditunjukkan oleh derajat kekuatan partisipan dalam penentuan keputusan
akhir.

Proses partisipasi dalam memberikan kekuatan, jika para manajer diberikan


kesempatan untuk menentukan atau menetapkan isi anggaran mereka, sebaliknya
akan menjadi lemah ketika mereka tidak diberikan kesempatan untuk menentukan
dan menetapkan isi anggaran. Hal ini dapat menimbulkan konsekuensi dysfungtional
behavior, sebagai contoh adanya partisipasi semu (pseudo participation), yakni
tampak berpartisipasi, tetapi dalam kenyataannya tidak. Artinya para manajer ini
(sebagai bawahan) ikut berpartisipasi, tetapi tidak diberi wewenang atau pendapat
untuk menentukan dan menetapkan isi anggaran (Chong, 2002) dalam Krisler
Bornadi Omposunggu dan Icuk Rangga Bawono (2006). Padahal para manajer bawah
ini sebenarnya memiliki informasi yang lebih baik dibandingkan yang dipunyai
manajer atas. Pada sebagian besar organisasi, para manajer di tingkat menengah
kebawah ini lebih banyak memiliki informasi yang akurat dibandingkan dengan
atasannya. Sementara pada sisi lain, manajemen tingkat atas yang lebih dominan
dalam posisinya akan merasa lebih mampu menyusun anggaran. Karena adanya
perbedaan status ini memunculkan kendala partisipasi.

Hubungan Partisipasi Penganggaran Pada Kinerja Manajerial

Untuk menghilangkan atau meminimisasi terjadi perbedaan persepsi pada kedua


tingkatan manajer ini, serta memaksimalkan partisipasi agar menjadi efektif, maka para
manajer bawah di tingkat organisasi harus diberi kesempatan untuk memberikan pendapat
dalam proses penyusunan anggaran dengan mengungkapkan informasi yang dimiliki terkait
pekerjaan sebagai konstribusi dalam penetapan jumlah anggaran. Hasil penelitian
Yusfaningrum (2005) menunjukkan bahwa partisipasi penyusunan anggaran dapat
meningkatkan kinerja manajerial.Sedangkan Indriantoro (1993) dalam Bambang Sardjito
dan Osmad Muthaher (2007) pada sampel di Indonesia menunjukkan bahwa partisipasi
anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Dari beberapa bukti empiris
yang dikemukakan di atas, maka hipotesis yang dikemukakan disini adalah :
H3 : partisipasi partisipasi anggaran berpengaruh pada kinerja manajeria
pada Perusahaan daerah Parkir Kota Denpasar

Hubungan Komitmen Organisasi Pada Kinerja Manajerial

Nouri dan Parker, 1998 (dikutip dalam Ahmad dan Fatima, 2008) menganalisis komitmen
organisasi dalam pengaruhnya pada hubungan partisipasi anggaran dan kinerja. Hasil
penelitiannya menyatakan bahwa komitmen organisasi dan kinerja memiliki hubungan positif
da
n signifikan. Semakin tinggi komitmen terhadap organisasi, manajer merasa memiliki
organisasi tempatnya bekerja sehingga membuat manajer akan memberikan hasil upaya dan
kinerja yang lebih baik. Hipotesis hubungan antara komitmen organisasi dan kinerja adalah
sebagai berikut:

H4 : terdapat hubungan positif dan signifikan antara komitmen organisasi dan kinerja
manajerial

6) Metodelogi Penelitian
Sampel yang diambil sebanyak 32 kusioner yang disebar kepada direktur utama
beserta staf yang terlinat dalam proses penyusunan anggaran. Dalam jurnal tidak
dijelaskan teknik pengambilam sampel apakah pusposive sampling atau sampel jenuh.
Seharusnya penulis menjelaskan teknik pengambilan sampel dengan teknik sampel jenuh,
karna penentuan sampel dengan semua anggota pupulasi digunakan sebagai sampel.

Penulis tidak mencantumkan persamaan matematis pada jurnal tersebut, seharusnya


penulis mencantumkan hal tersebut sebgai berikut :

Y = P1X1+P2X2+ e1..................................................(1)
Z=P3X1+P4X2+P5Y + e2...........................................(2)

Y = kepuasan kerja
Z = Kinerja manajerial
X1 = Partisipasi Penganggaran
X1 = Komitmen Organisas
e = error

Penulis tidak mencantumkan penjelasan mengenai penggunaan alat anailisis. Seharusnya


penulis menjelaskan sebagai berikut :

Tehnik Analisis Data

1 Uji Non- Response Bias

Uji Non- Response Bias dilakukan untuk melihat karakteristik jawaban responden
yang memberikan jawaban dan tidak memberikan jawaban (non responden). Uji
dilakukan dengan cara mengelompokkan data menjadi dua kelompok penting. Kelompok
pertama disebut dengan kelompok awal (early response) yaitu kelompok yang memberikan
jawaban sampai dalam batas waktu optimal yaitu waktu yang diperkirakan responden
memberikan jawaban sampai pada batas tanggal pengembalian. Kelompok kedua disebut
sebagai kelompok akhir (late response) yaitu kelompok reponden yang yang memberikan
jawaban melewati batas waktu optimal sampai dengan waktu terakhir yang ditentukan.
Kemudian hasil rata-rata skor jawaban dari kedua kelompok dilakukan pengujian, ada
tidaknya yang signifikan antara kedua kelompok responden tersebut dengan t-test. Apabila
pengujian menunjukkan hasil yang tidak signifikan (p-value > 0.05) berarti tidak ada
perbedaan antara dua kelompok responden dan sebaliknya.

2 Uji Asumsi Klasik

- Uji Heterokedastisitas.

Uji asumsi ini bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika
varians dari residual satu pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas,
dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas.

Kebanyakan data cross section mengandung situasi heterokedastisitas, karena


data tersebut menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang, dan
besar). Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas,
akan tetapi dalam penelitian ini menggunakan metode grafik plot dan uji Glejser.
Metode grafik plot dilakukan dengan mendiagnosa diagram plot residual. Plot
residual dibandingkan dengan nilai prediksi. Dalam hal ini, jika tidak adapola yang
jelas, serta titik-titik menyebar di atas atau dif bawah angka nol pada sumbu Y, maka
tidak terjadi heterokedastisitas (Imam Ghozali, 2002).

Sedangkan uji Glejser adalah untuk meregres nilai absolut residual terhadap
variabel independen, dan jika variabel independennya signifikan secara statistik
mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi heterokedastisitas, dan
sebaliknya jika tidak ada variabel independen yang signifikan secara statistik
mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heterokedastisitas
(Imam Ghozali, 2002.)

2). Uji Normalitas.

Uji asumsi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah dalam model regresi,
variabel dependen dan variabel independen keduanya berdistribusi normal atau tidak
(Imam Ghozali, 2002). Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data yang
normal atau mendekati normal. Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas
residual adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data
observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal.

Namun demikian hanya dengan melihat histogram hal ini dapat menyesatkan
khususnya pada sampel yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat
normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi
normal. Distribusi normal akan membentuk garis lurus diagonal dan ploting data
residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual
normal maka garis yang menggambarkan data yang sesungguhnya akan mengikuti
garis diagonalnya.

Kerangka konseptual pada jurnal :


7) Pembahasan
Pembahasan menjawab permasalahan yang ada yaitu :
a) Pengaruh partisipasi penganggaran (X1) pada kepuasan kerja (Y) Berdasarkan
hasil perhitungan pada pengaruh partisipasi

penganggaran (X1) pada kepuasan kerja (Y) diperoleh taraf signifikansi


0,018 < 0,05 dengan koefisien beta sebesar 0,314 sehingga
pernyataanhipotesis partisipasi penganggaran berpengaruh pada kepuasan
kerja terbukti.

b) Pengaruh komitmen organisasi (X2) pada kepuasan kerja (Y)

Berdasarkan hasil perhitungan pada pengaruh komitmen organisasi (X2)


pada kepuasan kerja (Y) diperoleh taraf signifikansi 0,000 < 0,05 dengan
koefisien beta sebesar 0,608 sehingga hipotesis yang menyatakan komitmen
organisasi berpengaruh pada kepuasan kerja terbukti.

c) Pengaruh partisipasi penganggaran (X1) pada kinerja manajerial (Z)


Berdasarkan hasil perhitungan pada pengaruh partisipasi

penganggaran (X1) pada kinerja manajerial (Z) diperoleh taraf signifikansi


0,046 < 0,05 dengan koefisien beta sebesar 0,172, sehingga pernyataan
hipotesis yang partisipasi penganggaran berpengaruh pada kinerja manajerial
terbukti.

Berdasarkan hasil perhitungan pada pengaruh partisipasi penganggaran


(X1) pada kinerja manajerial (Z) melalui kepuasan kerja (Y) diperoleh taraf
signifikansi 0,046 < 0,05 dengan koefisien beta sebesar 0,201. Angka
tersebut membuktikan partisipasi penganggaran berpengaruh pada kinerja
manajerial melalui kepuasan kerja. Berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa variabel partisipasi penganggaran dapat berpengaruh pada
kinerja manajerial baik secara langsung maupun tidak langsung.

d) Pengaruh komitmen organisasi (X2) pada kinerja manajerial (Z) Berdasarkan


hasil perhitungan pada pengaruh komitmen organisasi

(X2) pada kinerja manajerial (Z) diperoleh taraf signifikansi 0,032 < 0,05
dengan koefisien beta sebesar 0,227, sehingga hipotesis yang menyatakan
komitmen organisasi berpengaruh pada kinerja manajerial terbukti.

Berdasarkan hasil perhitungan pada pengaruh komitmen organisasi


(X2) pada kinerja manajerial (Z) melalui kepuasan kerja (Y) diperoleh taraf
signifikansi 0,032 < 0,05 dengan koefisien beta sebesar 0,389. Angka tersebut
membuktikan komitmen organisasi berpengaruh pada kinerja manajerial
melalui kepuasan kerja. Berdasarkan angka tersebut dapat dinyatakan
komitmen organisasi dapat mempengaruhi kinerja manajerial baik langsung
maupun tidak langsung.

e) Pengaruh kepuasan kerja (Y) pada kinerja manajerial (Z)

Berdasarkan hasil perhitungan pada pengaruh kepuasan kerja (Y) pada


kinerja manajerial (Z) diperoleh taraf signifikansi 0,000 < 0,05 dengan
koefisien beta besar 0,639, sehingga hipotesis yang menyatakan
kepuasan kerja berpengaruh pada kinerja manajerial terbukti.

8) Kesimpulan
Kesimpulan mampu menjawab permasalahan yang ada yaitu :
Partisipasi penganggaran mempengaruhi kepuasan kerja secara signifikan.
Komitmen organisasi mempengaruhi kepuasan kerja secara signifikan. Partisipasi
penganggaran mempengaruhi kinerja manajerial secara signifikan. Komitmen organisasi
mempengaruhi kinerja manajerial secara signifikan. kepuasan kerja mempengaruhi kinerja
manajerial secara signifikan.

Terkait dengan variabel partisipasi penganggaran, para pimpinan dalam perusahaan


perlu meningkatkan partisipasi pegawai dalam proses penyusunan anggaran agar
memberikan dampak pada penetapan angka final dari wilayah pertanggungjawabannya
dalam menentukan rencana kerja yang akan dikerjakan para pegawai.Terkait
dengan variabel komitmen organisasi, para pimpinan perlu meningkatkan komitmen dari
bawahannya, antara lain dengan memberikan dorongan terhadap pegawai agar ikut merasa
memiliki organisasi. Dengan demikian, bawahan akan beranggapan segala kerugian yang
dialami organisasi adalah kerugian bagi diri mereka sendiri. Terkait dengan variabel
kepuasan kerja, organsasi hendaknya memperhatikan kepuasan kerja pegawainya. Perlu
adanya peningkatan pemberian penghargaan dari organisasi terhadap para pegawai sehingga
akan memicu mereka untuk memberikan dampak positif terhadap perusahaan.

9) Saran

Tidak dicantumkan keterbatasan pada saran. Seharusnya penulis mencantumkan saran


sebagai berikut :

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak memiliki keterbatasan. Diantara
keterbatasan tersebut adalah tidak dilakukannya metode wawancara dalam penelitian.
Respondenmeminta agar kusioner ditinggalkan, sehingga peneliti tidak bisa
mengendalikanjawaban responden. Oleh karena itu, jawaban yang diberikan oleh responden
belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya. Jumlah populasi penelitian yang tidak
begitu besar kemungkinan mempengaruhi kemampuan hasil penelitian. Data yang dianlasis
dalam penelitian ini menggunakan instrument berdasarkan jawaban responden.

Penulis menyarankan penambahan variabel intervening tetapi tidak direkomendasikan


variabel apa. Seharusnya penulis merekomendasikan secara lengkap, sebagai berikut :
Pada penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan penambahan variabel
intervening lainnya sehingga dapat menghasilkan hasil penelitian yang lebih beragam. Yaitu
pelimpahan wewenang, gaya kepemimpinan, struktur organisasi, locus of control dan lain-
lain.
CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL BERJUDUL:
PARTICIPATIVE BUDGETING AND MANAGERIAL PERFORMANCE IN THE
NIGERIAN FOOD PRODUCTS SECTOR

VOLUME : Vol. 1, No.3

TAHUN : 2015

PENELITI : Matthew A. Abata

REVIEWER : Utami Naufa Aulia Rukmana (A1C114086)

TANGGAL : 15 April 2017

1) Judul

Jurnal berjudul Participative Budgeting and Managerial Performance in the Nigerian Food
Products Sector sudah sangat spesifik, dan dapat menggambarkan permasalahan umum
dalam jurnal.

2) Abstrak

Abstrak membahas mengenai tujuan penelitian yaitu untuk megukur pengaruh partisipasi
anggran pada performa manajerial. Riset dilakkan dengan survey penelitian dan desain
kusioner. Terdapat tiga hipotesis dalam jurnal yang diuji dengan menggunakan pendekatan
statistik regresi. Terakhir dijelaskan penulis menyarankan antara lain bahwa semua orang-
orang terlibat dalam pelaksanaan anggaran harus dididik pada tujuan dan sasaran dari
kontrol anggaran dan manajer tingkat bawah yang terlibat langsung dalam pelaksanaan
anggaran harus terkooptasi ke dalam proses setelan anggaran.

3) Latar Belakang

Penulis mencantumkan fenomena rill pada halaman 2 paragraf 3 yaitu sistem dikelola
dengan partisipasi anggaran dan keterlibatan manajemen operasi dalam persiapan dan
pembentukan anggaran, setuju bahwa tingkat performa telah ditemukan memiliki efek yang
positif dan memotivasi.
Penulis mencantumkan penelitian terdahulu pada halaman 2 pargraf ke 3 :

- Studi sebelumnya (Chalos dan Haka, 2007; Chenhall dan Brownell 2011; Chong,
Eggleton dan Leong, 2006 ) melaporkan bahwa sebuah sistem dikelola dengan
anggaran partisipasi dan keterlibatan manajemen operasi dalam persiapan dan
pembentukan anggaran, setuju bahwa tingkat performa telah ditemukan memiliki
efek yang positif dan memotivasi. Dengan itu, penerimaan partisipasi anggaran oleh
sebuah organisasi dalam mempersiapkan anggaran yang kemungkinan besar akan
membuat tingkat performa manajeral tinggi. Ini adalah sebuah pengakuan atas fakta
bahwa partisipasi anggaran akan memastikan hanya dapat tercapai standar yang
menyetel dan mengejar.
- Pada sisi lain, studi-studi lain (Noor dan Othman, 2012; Suharman, 2011) melaporkan
asosiasi negatif antara partisipasi anggaran dan kinerja sektor publik. Tidak konsisten
ini menemukan menyediakan dasar untuk studi ini karena fokus pada menentukan
seberapa besar pengaruh partisipasi anggaran pada performa manajerial. Dalam proses
anggaran yang partisipatif, kedua-dua orang atasan dan bawahan yang terlibat. Sebuah
pendekatan-bawah adalah partisipatif sejak ia melibatkan karyawan pada tingkat yang
lebih rendah. Bagian atas manajemen mungkin memprakarsai proses anggaran dan
memberikan panduan umum tetapi ia adalah karyawan pada tingkat yang lebih rendah
yang mengembangkan anggaran untuk unit mereka sendiri .karyawan biasanya terdiri
dari perwakilan dari setiap unit segmen atau yang mampu memberikan pandangan
berharga pada segmen mereka kegiatan" atau operasi. Terakhir,Alokasi sumber daya
adalah berdasarkan masukan dan justeru itu adalah kritikal bahawa mereka yang
terlibat di seluruh proses setelan anggaran.

Penulis tidak mencantumkan rumusan masalah dalam jurnal, seharusnya penulis


mencantumkan hal tersebut, sebagai berikut :
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah :
1. hubungan antara partisipasi anggaran dan performa manajerial
penulis mencantumkan tujuan penelitian pada jurnal yaitu untuk mengetahui
hubungan antara partisipasi anggaran dan performa manajerial

4) Tinjaun Pustaka
Penulis tidak menvantumkan grand teori pada jurnal, seharusnya penulis
mencantumkan hal tersebut, sebagai berikut :

A. Teori Agensi dan Pendekatan kontijensi

1. Teori Agensi (agency theory)

Hansen dan Mowen (2000) mengungkapkan didalam anggaran partisipatif dapat


pula timbul permasalahan, antara lain:

1). Atasan atau bawahan akan menetapkan standar anggaran yang terlalu
tinggi ataupun terlalu rendah,

2). Bawahan akan membuat budgetary slack dengan cara mengalokasikan


sumber dari yang dibutuhkan, dan

3). Terdapat partisipasi semu.

Masalah yang sering muncul dari adanya keterlibatan manajer tingkat


bawah/menengah dalam menyusun anggaran (partisipasi anggaran) adalah penciptaan
senjangan aggaran. Para peneliti akuntansi menemukan bahwa senjangan anggaran
dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk diantaranya partisipasi bawahan dalam
penyusunan anggaran (Yuwono,1999). Schiff dan Lewin (1970) menyatakan bahwa
bawahan menciptakan senjangan anggaran karena dipengaruhi oleh keinginan dan
kepentingan pribadi sehingga akan memudahkan pencapaian target anggaran, terutama
jika penilaian prestasi manajer ditentukan berdasarkan pencapaian anggaran.

Agency theory menjelaskan fenomena yang terjadi bilamana atasan


mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan untuk melakukan suatu tugas
atau otoritas untuk membuat keputusan (Anthony dan Govindarajan,1988).
Baiman (1982) di dalam penelitiannya menyatakan jika bawahan (agent) yang terlibat
dalam partisipasi anggaran mempunyai formasi khusus tentang kondisi lokal, akan
memungkinkan bagi mereka untuk melaporkan informasi tersebut kepada atasan
(principal). Kesimpulan yang didapat ialah partisipasi anggaran akan menyebabkan
bawahan memberikan informasi yang dimilikinya untuk membantu organisasi.
2. Pendekatan Kontijensi (contingency approach)

Beberapa penelitian dalam bidang akuntansi manajemen melalui pendekatan


kontijensi bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel-variabel kontekstual
dengan desain sistem akuntansi dan untuk mengevaluasi berbagai hubungan anatara
dua variabel (misalnya: hubungan anatara partisipasi anggaran dengan senjangan
anggaran) dengan menggunakan variabel kontekstual sebagai variabel moderating.
Govindarajan (1986) di dalam penelitiannya memungkinkan dilakukan pendekatan
kontijensi (contigency approach) untuk mengevaluasi ketidakpastian faktor
kondisional yang dapat mempengaruhi efektivitas penyusunan anggaran terhadap
senjangan anggaran. Secara umum teori ini tergantung dari karakter organisasi dan
kondisi lingkungan dimana sistem tersebut akan ditetapkan (Fisher 1995 dalam
Romasi Lumban Gaol 2004). .

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa partisipasi anggaran


berhubungan dengan beberapa faktor konsektual seperti ketidakpastian lingkungan
(Gordon dan Narayanan, 1984), komitmen organisasi (Govindarajan 1986). Teori
kontijensi dibutuhkan dalam mengevaluasi faktor-faktor konsektual tersebut
sehingga partisipasi anggaran akan menjadi lebih efektif.

5) Pengembangan Hipotesis
Penulis mencantumkan hipotesis pada halaman 11,yaitu:
H1: Tidak ada hubungan positif yang penting antara partisipasi anggaran dan
performa manajerial.
H2: Tidak ada derajat hubungan antara partisipasi anggaran dan performa
manajerial.
H3: sejauh mana partisipasi anggaran berkaitan dengan performa manajerial
tidak dapat dibenarkan.

6) Metodologi Penelitian
Penulis menggunakan survey deskriptif dan kuisioner sebagai alat analisi.
Teknik pengambilan sampel dengan sampling judgmental. Teknik sampling ini telah
diambil untuk memilih otoritas yang dapat lebih mewakili sampel yang dapat
membawa hasil yang lebih akurat.
Data yang diperoleh dari kuesioner ini dianalisis dan ditafsirkan
menggunakan statistik deskriptif dan analisis regresi melalui perangkat lunak SPSS.

7) Pembahasan
Pembahasan mampu menjawab permasalahan pada jurnal yaitu :

Tabel 2:
Correlations

Partisipasi anggaran Korelasi Pearson .026


40 40

.351* 1
.026
Performa manajerial Korelasi Pearson
40 40
*. Adalah penting di korelasi tingkat
0,05 (2-kanakan). Sumber: Survei Field,
2012

Dalam menentukan derajat hubungan antara dua atau lebih variabel, korelasi-
koefisien ditandai sebagai R akan digunakan. Dari tabel R diberikan sebagai 0.351
yang berarti bahwa hubungan yang lemah ada antara partisipasi anggaran dan
performa manajerial karena nilai cenderung di bawah 0.50. Ini berarti bahwa sejauh
mana partisipasi anggaran adalah mengadopsi dalam organisasi tersebut rendah dan
akun ini akan terus-menerus untuk 35,1% performa manajerial secara keseluruhan.
Hasil ini menguji hipotesis pertama yang ada hubungan antara partisipasi anggaran
dan performa manajerial. Oleh sebab itu dapat menyimpulkan bahwa derajat
hubungan antara performa (Y) dan cakupan proyek (X1) adalah hubungan negatif
yang kuat.
Gambar 1:

Sumber: Survei Field, tahun 2013.

Dari grafik linear, ia dapat menetapkan bahwa hubungan antara performa


manajerial dan partisipasi anggaran positif sebagai garis linear menggambarkan
pasokan curve (pasokan curve positif mengalirkan). Ini juga membenarkan jawaban
dalam tabel di atas bahwa suatu korelasi hubungan positif ada antara performa
manajerial dan partisipasi anggaran. Ini berarti lebih adopsi amalan partisipasi
anggaran, semakin banyak hasil yang akan dicapai oleh organisasi"s manajer (lebih-
performa manajerial).

Tabel 3: Ringkasan
Model

Std. Dari
.
A. Prediktor: () terus-menerus, Partisipasi anggaran
351s
Sumber: Survei Field, 2013

Dalam mengukur sejauh mana variabel ini berkaitan dengan variabel lain, besarnya

koefisien penetapan (R2) digunakan. Ini akan digunakan untuk menguji hipotesis
ketiga untuk mendirikan sejauh mana hubungan antara partisipasi anggaran dan
performa manajerial. Dari tabel ringkasan model, besarnya koefisien penentuan
performa manajerial dan partisipasi anggaran adalah 0.123. Ini berarti bahwa 12.3%
dari berlawanan yang terjadi dalam variabel dependen (performa manajerial) boleh
dijejaki ke variabel independen (partisipasi anggaran) iaitu 12.3% variasi dalam
performa manajerial telah dijelaskan oleh partisipasi anggaran.

Tabel 4:

ANOVAb

1 Pengunduran
11.34 38 .298
0
12.93 39
A. Prediktor: () terus-menerus, Partisipasi
5 anggaran

B. Variabel dependen: Performa Manajerial

Sumber: Survei Field, 2012.

Tabel ini membantu untuk memastikan kepentingan hubungan antara


partisipasi anggaran dan performa manajerial. Dari tabel, F-nilai yang diberikan
sebagai 5.346 dan sejak signifikans Asymptotic diberikan sebagai 0,26 dan sejak
adalah kurang dari keputusan kriteria nilai 0.50, ini berarti ada hubungan antara
partisipasi anggaran dan performa manajerial.
Tabel 5:
Beberapa

Koefisiensebu
ah

B Std. Beta
Kesalahan
saat

1 terus-menerus () .522 .226 .351 2.31 .026


2
A. Variabel dependen: Performa Manajerial

Sumber: Survei Field, 2012

Tabel ini menetapkan menguji penting dari variabel independen (partisipasi


anggaran) dan model menghubungkan tergantung dan variabel independen.

Ho: parameter = 0, untuk variabel independen. Ini diberikan sebagai kesalahan


standar adalah kurang baik daripada B/2 Untuk partisipasi anggaran, 0.811 < 1.862

0.811 < 0.931 (yang berarti variabel; partisipasi anggaran adalah penting untuk
performa manajerial). Ini juga dapat dibenarkan oleh masing-masing asymptotic
penting karena memberikan nilai dari 0.026 yang kurang dari keputusan kriteria
dari 0.050. Dengan itu, koneksi linear Y= a + bX diberikan sebagai Y= 1.862 +
0.522X (Performa Manajerial = 1.862 +0.522Partisipasi anggaran).
Dari hasil analisis data, bahwa ada hubungan antara performa manajerial dan
partisipasi anggaran. Derajat hubungan antara mereka adalah lemah dan positif
sejauh mana hubungan mereka antara adalah 12.3%. Sejauh Partisipasi anggaran
yang mampu menjelaskan variasi dalam performa manajerial adalah 12.3%.

8) Kesimpulan
Kesimpulan tidak menjawab permasalahan dalam jurnal. Seharusnya dalam kesimpulan
dicabtumkan hasil penelitian, sebagai berikut :

Adanya hubungan antara performa manajerial dan partisipasi anggaran.


Derajat hubungan antara mereka adalah lemah dan positif 12.3%. Partisipasi
anggaran yang mampu menjelaskan variasi dalam performa manajerial adalah
12.3%.

9) Saran
Tidak dicantumkan keterbatasan pada saran. Seharusnya penulis mencantumkan
saran sebagai berikut :
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak memiliki keterbatasan. Diantara
keterbatasan tersebut adalah tidak dilakukannya metode wawancara dalam penelitian.
Respondenmeminta agar kusioner ditinggalkan, sehingga peneliti tidak bisa
mengendalikanjawaban responden. Oleh karena itu, jawaban yang diberikan oleh
responden belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya. Jumlah populasi
penelitian yang tidak begitu besar kemungkinan mempengaruhi kemampuan hasil
penelitian. Data yang dianlasis dalam penelitian ini menggunakan instrument
berdasarkan jawaban responden.

Anda mungkin juga menyukai