Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

DETERMINAN DAN PENYELESAIAN SPL


DENGAN ATURAN CRAMER

KELOMPOK 3
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER UNSIQ
TEKNIK INFORMATIKA-1 2015

Oleh :
1. Fatkhurrohman
2. Nala Fisnia
3. Hasogi Candra S.
4. Faisal Hafiz Varian
5. Fajar
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan dengan persoalan yang
apabila kita telusuri ternyata merupakan masalah matematika. Dengan mengubahnya
kedalam bahasa atau persamaan matematika maka persoalan tersebut lebih mudah
diselesaikan. Tetapi terkadang suatu persoalan sering kali memuat lebih dari dua
persamaan dan beberapa variabel, sehingga kita mengalami kesulitan untuk mencari
hubungan antara variabel-variabelnya. Bahkan dinegara maju sering ditemukan
model ekonomi yang harus memecahkan suatu sistem persamaan dengan puluhan
atau ratusan variabel yang nilainya harus ditentukan.
Kita sering mencari solusi dari 2 persamaan dan 2 bilangan tak diketahui atau
dari 3 persamaan dan 3 bilangan tak diketahui. Misal kita punya persamaan x1 + 2x2
= 6 dan -3x1 +4x2 = 4. Biasanya kita menggunakan Metode Eliminasi atau Metode
Substitusi. Tapi kami akan mencoba dengan cara yang sedikit berbeda yaitu dengan
memanfaatkan Determinan Matriks, metode ini dinamakann Aturan Cramer. Metode
ini untuk menyelesaikan persamaan seperti diatas atau lebih umum mencari solusi
dari n persamaan dan n bilangan tak diketahui.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas kami menemukan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana operasi penyelesaian determinan?
2. Bagaimana operasi penyelesaian SPL dengan aturan cramer?

1.3. Tujuan Pembahasan


Berdasarkan uraian di atas kami menemukan permasalahan sebagai berikut:
1. Menjelaskan tentang bagaimana penyelesaian determinan
2. Menjelaskan tentang bagaimana penyelesaian Sistem Persamaan Linear dengan
aturan cramer
BAB II
PEMBAHASAN

Determinan matriks hanya dimiliki oleh matriks persegi. Determinan matriks


digunakan ketika mencari invers matriks dan ketika menyelesaikan sistem persamaan
linear dengan menggunakan aturan cramer. Bagaimanakah mencari determinan matriks
berordo 2x2 dan matriks berordo 3x3? Mari kita simak pembahasannya berikut ini.

Notasi Determinan
Determinan dari matriks A dapat ditulis sebagai det(A) atau |A|. Jika diketahui
komponen matriksnya, bisa juga ditulis dalam bentuk susunan persegi panjang komponen
matriks tersebut tetapi tidak diapit oleh tanda kurung atau kurung siku, melainkan diapit
oleh tanda |...|.
Perhatikan contoh penulisan notasi dari matriks A berikut ini:

A= [ ]
a b
c d

Determinan dari matriks A dapat dinyatakan sebagai berikut:

det ( A )= A [ ]
a b
c d

Determinan Matriks Berordo 2x2


Determinan dari matriks berordo 2x2 adalah sebagai berikut:

[ ]
A= a b det (A )=ad bc
c d

Contoh :

[ ]
A= 1 2 det( A)=1.3 2.4
4 3

Determinan Matriks Berordo 3x3

[ ]
a b c
A= d e f det ( A)=aei+ bfg+ cdhcegbdiafh
g h i

Contoh :
[ ]
3 2 3
A= 1 3 4 det ( A )=3.3 .1+2.4 .5+3.1 .43.3.52.1.12.4 .4
5 4 1

det (A )=9+ 40+1245232

6111

50

Sifat-Sifat Determinan
Untuk menyelesaikan masalah determinan tidak selalu harus diselesaikan dengan
menggunakan rumus determinan di atas. Ada beberapa sifat yang dapat membantu
menyelesaikan permasalahan determinan agar penyelesaian permasalahan determinan
matriks menjadi lebih mudah. Berikut ini adalah sifat-sifat dari determinan matriks.
1. Jika A adalah sebarang matriks kuadrat yang mengandung sebaris bilangan nol,
maka det(A) = 0.
Contoh :
misal matriks A =

dengan menggunakan Aturan Kofaktor, maka


det(A) =

a31 M 31a 32 M 32+a 33 M 33

[ ] [ ] [ ]
0 2 3 0 1 3 +0 1 2
0 1 1 1 1 0

0(2.13.0)0(1.11.3)+0 (1.01.2)

2. Jika A adalah matriks segitiga n x n, maka det(A) adalah hasil kali entri-entri pada
diagonal utama, yakni det (A )=a 11 a22 a nn
Contoh :

[ ]
2 1 3
det ( A )= 0 3 1
0 0 3
a31 M 31a 32 M 32+a 33 M 33

[ ] [ ] [ ]
0 1 3 0 2 3 +3 2 1
3 1 0 1 0 3

0(1.13.3)0(2.10.3)+3 (2.30.1)

00+3.2.3

18

Hasil ini sama dengan perkalian entri pada diagonal utama yaitu 2 x 3 x 3 = 18
3. Misalkan A adalah matriks yang dihasilkan bila baris tunggal A dikalikan oleh
konstanta k, maka det(A) = k det(A)
Contoh :

[ ] [ ]
2 1 3 4 2 6
misal K=2 dan A= 0 3 1 maka KA= 0 3 1
0 0 3 0 0 3

[ ]
4 2 6
det ( A )= 0 3 1
0 0 3

Berdasarkan sifat 3 maka det(KA) = det(A) = 4.3.3 = 36


Karena det(A) = 18 dan K = 2 maka K.det(A) = 2.18 = 36
Jadi, det(A) = K.det(A)
4. Misalkan A adalah matriks yang dihasilkan bila dua baris A dipertukarkan, maka
det(A) = -det(A)
Contoh :

[ ] [ ]
2 1 3 4 2 6
misal K=2 dan A= 0 3 1 maka KA= 0 3 1 dan baris 1
0 0 3 0 0 3

[ ]
0 3 1
ditukar dengan baris dua sehingga diperoleh A '= 2 1 3
0 0 3

[ ]
0 3 1
det ( A ' )= 2 1 3
0 0 3

a31 M 31a 32 M 32+a 33 M 33


[ ] [ ] [ ]
0 3 1 0 0 1 +3 0 3
1 3 2 3 2 1

0(3.31.1)0(0.32.1)+3 (0.12.3)

00+3.(2).3

18

Jadi, det ( A ' )=det (A )

5. Misalkan A adalah matriks yang dihasilkan bila kelipatan satu baris A


ditambahkan pada baris lain, maka det(A) = det(A)
Contoh :

[ ]
2 1 3
misal A= 0 3 1 kemudian bilakukan Operasi Baris Elementer
0 0 3

[ ]
2 1 3
padabaris kedua yaitu B 2+2 B 1 sehingga diperoleh A = 4 5 7
0 0 3

| |
2 1 3
det ( A ' )= 4 5 7
0 0 3

a31 M 31 a32 M 32 +a33 M 33

| | | | | |
0 1 3 0 2 3 + 3 2 1
5 7 4 7 4 5

0(1.7 5.3) 0 (2.7 3.4)+3(2.5 4.1)

0 0+3.(6)
18

6. Jika A adalah sebarang matriks kuadrat, maka det(A) = det(At)


Contoh:

[ ] [ ]
2 1 3 2 0 0
t
Misal A= 0 3 1 maka A = 1 3 0
0 0 3 3 1 3
t
det ( A )=a31 M 31 a32 M 32+ a33 M 33

| | | | | |
0 1 3 0 2 0 +3 2 0
3 1 3 1 1 3

0(1.1 3.3) 0(2.1 3.0)+3( 2.3 1.0)


0 0+3.2 .3
18

Jadi , det ( A )=det ( At )

7. Misalkan A, A dan A adalah matriks n x n yang hanya berbeda dalam baris


tunggal, katakanlah baris ke-r, dan anggap bahwa baris ke r dari A dapat
diperoleh dengan menambahkan entri-entri yang bersesuaian dalam baris ke-r dari
A dan dalam baris ke-r dari A, maka det(A) = det(A) + det(A) [hasil yang
serupa juga berlaku untuk kolom]
Contoh:

[ ]
A= 1 2 maka det ( A )=( 1.34.2)=5
4 3

A '= [ ]4 3
1 2
maka det ( A ' )=(4.21.3)=5

[ ][ ][ ]
dan A = A+ A = 1 2 + 4 3 = 5 5
4 3 1 2 5 5

maka det( A ' ' )=(5.5 5.5)=0

jadi det ( A )=det (A )+ det ( A )=5+5=0

8. Jika A dan B adalah matriks kuadrat yang ukurannya sama, maka det(AB) =
det(A) det(B)
Contoh:
Dari contoh pada sifat 7 dengan det (A )=5 dan det( A ' )=det (B)=5
maka det( AB )=(5)(5)=25

[ ][ ]
AB= 1 2 4 3
4 3 1 2

[ ]
1.4+ 2.1 1.3+ 2.2
4.4 +3.1 4.3+3.2
[
6 7
19 18 ]
det ( AB)=6.1819.7
108133
25

Jadi det (A . B)=det ( A). det(B)=(5)(5)=25

9. Sebuah matriks kuadrat dapat dibalik jika dan hanya jika det(A) 0
Contoh:
misal A= [ ]
1 2
4 3
dengan det ( A)=5

A1= [1 d b
det (A ) c a ]
[ ]
1 3 2
5 4 1

[ ]
3 2
5 5
4 1
5 5

Karena det ( A) 0, jadi matriks A memiliki invers yaitu

[ ]
3 2
A = 5
1 5
4 1
5 5

1
det ( A 1 )=
10. Jika A dapat dibalik, maka det( A)

[ ]
3 2
1 5 5
Contoh: det (A )= 4 1
maka
5 5

3 1 4 2
det ( A 1 )=( . )( . )
5 5 5 5
3 8

25 25
5

25
1

5

1 1 1
karena det ( A )=5 makaberlaku det ( A )= =
det( A) 5

Aturan Cramer
Metode untuk memperoleh nilai variabel dari sebuah persamaan dengan
menggunakan determinan dari sebuah matriks.
A X B

[ ][ ][ ]
a11 a 12 a 1 n x1 b1
Ax=B= a21 a 22 a 2 n x2 b2
Dengan |A| 0
an 1 an 2 ann x n bn

det( A 1) det (A 2) det ( A n)


x 1= , x 2= , x n=
det (A ) det ( A) det (A )

A1, A2, ... An diperoleh dengan mengganti entitas pada kolom ke j matriks A dengan
matriks B.
Contoh :

{
2 x+3 y z=5
x +2 z=4
x +4 yz=6

[ ] [ ] [ ] [ ]
2 3 1 5 3 1 2 5 1 2 3 5
A= 1 0 2 , A 1= 4 0 2 , A 2 = 1 4 2 , A 3 = 1 0 4
1 4 1 6 4 1 1 6 1 1 4 6
det ( A )=2.0 .1+3.2 .1+(1) .1.4 (1).0 .13.1.12.2 .4

0640+316

23

det ( A 1 )=5.0 .1+3.2 .6+(1).4.4 (1).0 .63.4.15.2 .4

0+361601240

32

det ( A 2 )=2.4.1+5 .2 .1+(1).1 .6 (1).4 .15 .1 .12.2. 6

8106+ 4+524

23

det (A 3 )=2.0 .6+3.4.1+5.1 .4 5.0 .13.1 .62.4.4

0+12+20018+ 32

46

det( A 1) 32 32
x= =
det ( A) 23 23

det ( A2 ) 23 23
y= = =0
det( A) 23 23

det( A 3) 46
z= =2
det ( A) 23

BAB III
Penutup
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang menjadi
bahasan dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan karena
terbatasnya pengetahuan, kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh
hubungannya dengan makalah ini.
Kami berharap kepada para pembaca yang memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada kami demi sempurnyanya makalah ini. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kami dan para pembaca. Amin..
Daftar Pustaka
Anton, H,. 1992, Aljabar Linier Elementer, Erlangga, Jakarta.
http://uyuhan.com/matematika/matriks/determinan-matriks.php
http://www.uniksharianja.com/2015/03/penyelesaian-sistem-persamaan-linear.html
https://aimprof08.wordpress.com/2012/11/17/mencari-solusi-persamaan-
menggunakan-aturan-cramer
https://www.google.co.id/search?q=determinan+matriks
https://www.google.co.id/search?q=penyelesaian+spl+dengan+metode+cramer