Anda di halaman 1dari 2

RSUD KABUPATEN

PELAYANAN PASIEN GAWAT DARURAT


KEPULAUAN MERANTI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

00 1/1

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Kepulauan Meranti

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

drg. RUSWITA
Nip: 19660115 199010 2 001
PENGERTIAN 1. Penanganan pasien gawat darurat: Upaya mengatasi keadaan
gawat darurat agar pasien tidak meninggal, memburuk keadaannya,
atau mencegah/mengurangi kecacatan.
2. Pasien gawat darurat: Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan
gawat atau menjadi gawat dan terancam jiwanya atau anggota
badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan
secepatnya.
3. Pasien gawat tidak darurat: Pasien berada dalam keadaan gawat
tetapi tidak memerlukan tindakan segera, misalnya: kanker stadium
lanjut.
4. Pasien darurat tidak gawat: Pasien akibat musibah yang datang
tiba-tiba, tetapi tidak mengancam jiwa atau anggota badannya.
5. Kecelakaan: Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai
faktor sosial yang datangnya mendadak, tidak dikehendaki sehingga
menimbulkan cedera (fisik, mental, sosial).
TUJUAN 1. Memberikan pelayanan segera, tepat dan cepat setiap saat
kepada pasien gawat-darurat, menderita penyakit akut, atau
mengalami kecelakaan.
2. Menghindarkan pasien dari kematian, kecacatan, dan
membebaskan dari penderitaan akut.
KEBIJAKAN 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan.
3. Kebijakan RS tentang Pelayanan Gawat Darurat, No.
PROSEDUR 1. Pasien datang di Instalasi Gawat Darurat RS.
2. Setelah dokter jaga melakukan Triase, dengan hasil Triase adalah
pasien Gawat Darurat maka: Pasien dibawa ke ruang resusitasi.
Dikelola sesuai Protap Resusitasi Jantung Paru bila disertai henti
jantung dan/atau Paru.
Pasien Gawat tidak darurat perlu dipantau kegawatannya sesuai
Prosedur Tetap Pemantauan Kegawatan Pasien.
3. Dokter melakukan anamnesa (Auto/Allo Anamnese) dan
pemeriksaan pada pasien serta melakukan tindakan/pengobatan pada
pasien dengan dibantu oleh perawat IGD.
4. Bila pasien memerlukan pemeriksaan penunjang, dilakukan
pemeriksaan penunjang.
5. Bila dokter jaga IGD tidak mampu menangani pasien sedangkan
pasien memerlukan penangan segera, maka dokter jaga IGD segera
memanggil/menghubungi dokter jaga konsulen (dokter ahli) terkait
sesuai dengan Prosedur Tetap Memanggil Dokter Jaga Konsulen di
IGD RS.
6. Rekam Medik pasien diisi oleh petugas IGD dan dokter jaga IGD.
7. Pasien dengan permohonan Visum Et Repertum dilakukan sesuai
dengan Prosedur Tetap melakukan Visum Et Repertum.
8. Dokter memberikan informasi kepada pasien mengenai:
a. Penyakit pasien
b. Tindakan medik yang akan dilakukan
c. Kemungkinan penyulit tindakan tersebut
d. Alternatif terapi lainnya
e. Prognosanya
UNIT TERKAIT 1. Pendaftaran.
2. Instalasi Laboratorium.
3. Instalasi Radiologi.
4. Instalasi Rawat Inap.
5. Instalasi Farmasi.
6. Instalasi Kamar Operasi.
7. Dokter Konsulen.
8. Kamar Jenasah.