Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Infiltrasi
Infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan) masuk

ke dalam tanah. Perkolasi merupakan proses kelanjutan aliran air tersebut ke tanah

yang lebih dalam. Dengan kata lain, infiltrasi adalah aliran air masuk kedalam

tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air kearah lateral) dan gravitasi

(gerakan air ke arah vertical). Setelah lapisan tanah bagian atas jenuh, kelebihan

air tersebut mengalir ketanah yang lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi bumi

dan dikenal sebagai proses perkolasi.


Laju maksimal gerakan air masuk ke dalam tanah dinamakan kapasitas

infiltrasi. Kapasitas infiltrasi terjadi ketika intensitas hujan melebihi kemampuan

tanah dalam menyerap kelembaban tanah. Sebaliknya, apabila intensitas hujan

lebih kecil daripada kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sama dengan laju

curah hujan. Laju infiltrasi umumnya dinyatakan dalam satuan yang sama dengan

satuan intensitas curah hujan, yaitu millimeter per jam (mm/jam). Air infiltrasi

yang tidak kembali lagi ke atmosfer melalui proses evapotranspirasi akan menjadi

air tanah untuk seterusnya mengalir ke sungai sekitar (Chay Asdak, 2004 : 229).
Pada tahun 1856, Darcy memperkenalkan suatu persamaan sederhana yang

digunakan untuk menghitung kecepatan aliran air yang mengalir dalam tanah

jenuh, dinyatakan dengan persamaan berikut


V=ki (2.1)
Dengan, V adalah kecepatan aliran air yang mengalir dalam suatu satuan

penampang melintang tanah yang tegak lurus arah aliran (mm/s), k adalah

5
koefisien rembesan (mm/s), dan i adalah gradien hidrolik. Dimana untuk

mendapatkan nilai gradient hidrolik digunakan rumus:


h
i= L (2.2)

Dengan, h adalah perbedaan tinggi energi (mm) dan L adalah jarak antar

titik (mm).
Selain itu juga digunakan rumus untuk menghitung debit infiltrasi air yang

melalui sampel tanah, rumus yang digunakan yaitu :


Q=VA (2.3)
3
Dimana, Q adalah debit infiltrasi air (mm /s), V adalah kecepatan infiltrasi

(mm/s), dan A adalah luas penampang (mm2).


Berikut ini adalah diagram Hukum Darcy:

Gambar 2.1. Diagram hukum darcy


(Sumber : Job Sheet Ground Water Simulator hal.2)

Darcy direferensikan untuk campuran sistem unit. Sebuah medium dengan

permeabilitas 1 Darcy memungkinkan aliran 1 cm / s dari cairan dengan

viskositas 1 cP (1 MPa s) di bawah gradien tekanan 1 atm / cm bekerja di seluruh

luas 1 cm . Sebuah millidarcy (mD) sama dengan 0,001 Darcy .

B. Proses Terjadinya Infiltrasi


Proses infiltrasi sangat ditentukan oleh waktu. Jumlah air yang masuk

kedalam tanah dalam suatu periode waktu disebut laju infiltrasi. Laju infiltrasi

pada suatu tempat akan semakin kecil seiring kejenuhan tanah oleh air. Pada saat

6
tertentu laju infiltrasi menjadi tetap. Nilai laju inilah yang kemudian disebut laju

perkolasi (Chay Asdak, 2004 : 229).


Ketika air hujan jatuh diatas permukaan tanah, tergantung pada kondisi

biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir

masuk kedalam tanah melalui pori-pori permukaan tanah. Proses mengalirnya air

hujan kedalam tanah disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi dan gaya kapiler

tanah. Di bawah pengaruh gaya gravitasi air hujan mengalir vertikal kedalam

tanah, sedangkan pada gaya kapiler bersifat mengalirkan air tersebut tegak lurus

keatas, kebawah, dan kearah horizontal (lateral). Gaya kapiler bekerja nyata pada

tanah dengan pori-pori yang relative kecil.


Mekanisme infiltrasi melibatkan 3 proses yang tidak saling mempengaruhi :
a. proses masuknya air hujan melalui pori-pori permukaan tanah
b. tertampungnya air hujan tersebut didalam tanah
c. proses mengalirnya air tersebut ketempat lain (bawah, samping, atas)
(Chay Asdak, 2004 : 230).
C. Faktor yang Mempengaruhi Infiltrasi
Laju infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kedalaman genangan

tebal lapis jenuh, kelembaban tanah, pemadatan oleh air, tanaman penutup,

intensitas hujan atau jumlah air yang diterima lapisan tanah, dan sifat-sifat fisik

tanah.
1. Kedalaman genangan dan tebal lapisan tanah jenuh
Seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2.2. air yang tergenang di atas

permukaan tanah terinfiltrasi ke dalam tanah, yang menyebabkan suatu

lapisan di bawah permukaan tanah menjadi jenuh air. Apabila tebal dari

lapisan jenuh air adalah L, dapat dianggap bahwa air mengalir ke bawah

melalui sejumlah tabung kecil. Aliran melalui lapisan tersebut serupa

dengan aliran melalui pipa. Kedalaman genangan di atas permukaan tanah

7
(D) memberikan tinggi tekanan pada ujung atas tabung, sehingga tinggi

tekanan total yang menyebabkan aliran adalah D+L.


Tahanan terhadap aliran yang diberikan oleh tanah adalah sebanding

dengan tebal lapis jenuh air L. Pada awal hujan, dimana L adalah kecil

dibanding D, tinggi tekanan adalah besar dibanding tahanan terhadap

aliran, sehingga air masuk ke dalam tanah dengan cepat. Sejalan dengan

waktu, L bertambah panjang sampai melebihi D, sehingga tahanan

terhadap aliran semakin besar. Pada kondisi tersebut kecepatan infiltrasi

berkurang. Apabila L sangat lebih besar daripada D, perubahan L

mempunyai pengaruh yang hampir sama dengan gaya tekanan dan

hambatan, sehingga laju infiltrasi hampir konstan (Bambang Triatmodjo,

2010 : 92).

Gambar 2.2. Genangan pada permukaan tanah


(Sumber : Hidrologi Terapan, Bambang Triatmodjo hal.93)
2. Kelembaban tanah
Jumlah air tanah mempengaruhi kapasitas infiltrasi. Ketika air jatuh pada

tanah kering, permukaan atas dari tanah tersebut menjadi basah, sedang

bagian bawahnya relatif masih kering. Dengan demikian terdapat

perbedaan yang besar dari gaya kapiler antara permukaan atas tanah dan

yang ada di bawahnya. Karena adanya perbedaan tersebut, maka terjadi

8
gaya kapiler yang bekerja sama dengan gaya berat, sehingga air bergerak

ke bawah (infiltrasi) dengan cepat.


Dengan bertambahnya waktu, permukaan bawah tanah menjadi basah,

sehingga perbedaan daya kapiler berkurang, sehingga infiltrasi berkurang.

Selain itu, ketika tanah menjadi basah koloid yang terdapat dalam tanah

akan mengembang dan menutupi pori-pori tanah, sehingga mengurangi

kapasitas infiltrasi pada periode awal hujan (Bambang Triatmodjo, 2010 :

93).
3. Pemadatan oleh air hujan
Ketika hujan jatuh di atas tanah, butir tanah mengalami pemadatan oleh

butiran air hujan. Pemadatan tersebut mengurangi pori-pori tanah yang

berbutir halus (seperti lempung), sehingga dapat mengurangi kapasitas

infiltrasi. Untuk tanah pasir, pengaruh tersebut sangat kecil.


4. Penyumbatan oleh butiran halus
Ketika tanah sangat kering, permukaannya sering terdapat butiran halus.

Ketika hujan turun dan infiltrasi terjadi, butiran halus tersebut terbawa

masuk ke dalam tanah, dan mengisi pori-pori tanah, sehingga mengurangi

kapasitas infiltrasi. (Bambang Triatmodjo, 2010 : 94)


5. Tanaman penutup
Banyaknya tanaman yang menutupi permukaan tanah, seperti rumput atau

hutan, dapat menaikkan kapasitas infiltrasi tanah tersebut. Dengan adanya

tanaman penutup, air hujan tidak dapat memampatkan tanah, dan juga

akan terbentuk lapisan humus yang dapat menjadi sarang/tempat hidup

serangga. Apabila terjadi hujan lapisan humus mengembang dan lobang-

lobang (sarang) yang dibuat serangga akan menjadi sangat permeabel.

Kapasitas infiltrasi bisa jauh lebih besar daripada tanah yang tanpa

penutup tanaman.

9
6. Topografi
Kondisi topografi juga mempengaruhi infiltrasi. Pada lahan dengan

kemiringan besar, aliran permukaan mempunyai kecepatan besar sehingga

air kekurangan waktu infiltrasi. Akibatnya sebagian besar air hujan

menjadi aliran permukaan. Sebaliknya, pada lahan yang datar air

menggenang sehingga mempunyai waktu cukup banyak untuk infiltrasi.


7. Intensitas hujan
Intensitas hujan juga berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi. Jika

intensitas hujan I lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi

aktual adalah sama dengan intensitas hujan. Apabila intensitas hujan lebih

besar dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual sama dengan

kapasitas infiltrasi. (Bambang Triatmodjo, 2010 : 94).

D. Pengertian Tanah
Dalam pengertian teknik secara umum, tanah didefinisikan sebagai material

yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi

(terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah

melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi

ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut. Tanah berguna

sebagai bahan bangunan pada berbagai macam pekerjaan teknik sipil, disamping

itu tanah berfungsi juga sebagai pendukung pondasi dari bangunan (Braja M. Das,

1993 : 1).
Ukuran partikel tanah sangat beragam dengan variasi yang cukup banyak.

Tanah umumnya dapat disebut sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (slit),

atau lempung (clay), tergantung pada ukuran partikel yang paling dominan pada

tanah tersebut. Untuk menjelaskan tentang tanah berdasarkan ukuran-ukuran

10
partikelnya, beberapa organisasi telah mengembangkan batasan-batasan ukuran

golongan jenis tanah (Braja M. Das, 1993 : 7).


Tabel 2.1 Batasan ukuran jenis tanah menurut beberapa organisasi

Ukuran Butiran ( mm )
Nama Golongan
Kerikil Pasir Lanau Lempung
Massachusetts Institute of >2 2 - 0,06 0,06 - 0,002 <0,002
technology (MIT)
U.S. Department of >2 2 - 0,05 0,05 - 0,002 <0,002
Agriculture (USDA)
American Association of
0,075 -
State Highway and 76,2 -2 2 - 0,075 <0,002
0,002
Transportation Officials
(AASHTO)
Unified Soil Classification
System (U.S. Army Corps Halus (yaitu lanau dan
76,2 - 4,75 4,75 - 0,075
of Engineers, U.S. Bureau lempung) <0,0075
of Reclamation)
(Sumber : Mekanika Tanah, Braja M. Das hal.7)
E. Groundwater Flow
Secara umum S11 Groundwater Flow/Well Abstraction beserta

perlengkapannya terdiri dari 1 (satu) buah sand tank (tangki pasir) dengan jalan

masuk air dikedua ujungnya, 2 (dua) saluran untuk tiruan sumur pemisah (well

abstraction) yang disadap pada bagian bawahnya ke manometer yang banyak

untuk menyajikan data yang dapat terlihat sebagai indikasi ketinggian air di

seluruh tanki.
1. Sand tank (tanki pasir) : Tanki ini dibuat dari kaca yang diperkuat dengan

platik agar tahan lama, Ukuran bagian dalam tanki pasir ini adalah :

Panjang = 990 mm, Lebar = 490 mm dan Kedalaman = 235 mm


2. Steel frame (rangka baja) = Sand tank (tanki pasir) bertiang rangka baja

ringan (2), yang mana dicat untuk melindungi dari korosi. 4 (empat) tiang

yang dapat diatur (3) untuk menentukan ketinggian perlengkapn. Rangka

11
baja dirancang untuk dapat berdiri sesuai dengan bangku agar pembacaan

tinggi muka air dapat terbaca di tabung manomenter yang banyak.


3. Water inlet port (jalan masuk air) = Ada 2 (dua) jalan masuk air (4) yang

terletak disetiap sudut tank.


Secara umum bahan yang digunakan untuk percoaan adalah air yang

disediakan terus menerus, dan pasir kasar dengan diameter ukuran butirnya adalah

0.6 2.0 mm (Ground Water Simulator, 2012 : 7).


Ada beberapa pengamatan yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat

groundwater flow, salah satunya adalah mengamati proses aliran air kedalam

tanah (infiltrasi). Prinsip dasar dari alat ini adalah untuk mengetahui aliran air

tanah. Alat groundwater flow bisa mendemonstrasikan, dalam skala kecil tentang

prinsip-prinsip yang ada dalam bidang hidrologi, juga memiliki kegunaan yang

sangat besar yang berhubungan dengan hidrolika teknik (Ground Water Flow and

Well Abstraction Unit, 2011 : 2).

9
6

1
6

12
Gambar 2.3. Rangkaian alat groundwater flow
(Sumber : Ground Water Flow and Well Abstraction Unit hal.3)
Keterangan :
1. Sand Tank (Tangki Pasir)
2. Mild Steel Frame (Rangka Baja Ringan)
3. Four Adjustable Feet
4. Two Independent Water Inlet Ports
5. Flow Control Valve (Katup pengatur aliran)
6. Two Wells (Sumur)
7. Multi Tube Manometer (Tabung Manometer)
8. Manometer
9. Rectangular and Cylindrical Rings (Cincin Persegi dan Silinder)
Letak dari lubang manometer juga beragam berdasarkan sandar yang telah

disediakan oleh perusahan pembuat. Jarak antara manometer dapat dilihat dari

gambar dibawah.

13
Gambar 2.4. Tapping piezzometer sumur
(Sumber : Ground Water Flow and Well Abstraction Unit hal.13)

14