Anda di halaman 1dari 3

Permasalahan yang sering terjadi belakangan ini di Indonesia yang sangat popular adalah banjir

dan genangan. Peristiwa ini sering terjadi dan semakin bertambah tinggi setiap tahunnya, salah satu
penyebabnya adalah karena berkurangnya daerah-daerah tangkapan hujan yang disertai dengan
menurunnya laju infiltrasi. Untuk menanggulangi masalah tersebut salah satu alternatif
penyelesaiannya adalah dengan melalui penyerapan air hujan kedalam tanah dengan memperbesar
laju resapan atau laju infiltrasi kedalam tanah. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh kondisi kejenuhan air
tanah yang ada sebelum terjadinya hujan dan jenis karakteristik dari tanah di atas permukaan air
tanah.Untuk mengetahui besar laju infiltrasi kedalam tanah berdasarkan jenis dari karakteristik tanah
diatas permukaan air tanah, diperlukan suatu penelitian yang mengkaji laju infiltrasi.Pada era
modernisasi ini, penelitian tentang laju infiltrasi dapat di laksanakan di laboratorium dengan bantuan
alat simulasi groundwater flow.. Keuntungan yang paling mendasar terhadad laju infiltras di
laboratorium adalah dimungkinkannya dilakukan pengamatan secara detail terhadap mekanisme dan
proses terjadinya infiltrasi.Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas, penulis memandang
bahwa perlu untuk membahasnya kedalam suatu rencana penulisan dengan judul :Laju Infiltrasi
Pada Karateristik Tanah Terganggu Di Laboratorium Hidraulika
Infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan) masuk ke dalam tanah.
Perkolasi merupakan proses kelanjutan aliran air tersebut ke tanah yang lebih dalam. Dengan kata
lain, infiltrasi adalah aliran air masuk kedalam tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air kearah
lateral) dan gravitasi (gerakan air ke arah vertical).
Proses infiltrasi sangat ditentukan oleh waktu. Jumlah air yang masuk kedalam tanah dalam suatu
periode waktu disebut laju infiltrasi. Laju infiltrasi pada suatu tempat akan semakin kecil seiring
kejenuhan tanah oleh air. Pada saat tertentu laju infiltrasi menjadi tetap. Nilai laju inilah yang
kemudian disebut laju perkolasi (Chay Asdak, 2004 : 229).
Ketika air hujan jatuh diatas permukaan tanah, tergantung pada kondisi biofisik permukaan tanah,
sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir masuk kedalam tanah melalui pori-pori
permukaan tanah. Proses mengalirnya air hujan kedalam tanah disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi
dan gaya kapiler tanah. Di bawah pengaruh gaya gravitasi air hujan mengalir vertikal kedalam tanah,
sedangkan pada gaya kapiler bersifat mengalirkan air tersebut tegak lurus keatas, kebawah, dan
kearah horizontal (lateral). Gaya kapiler bekerja nyata pada tanah dengan pori-pori yang relative kecil.
A. Faktor yang Mempengaruhi Infiltrasi
1. Kedalaman genangan dan tebal lapisan tanah jenuh
air yang tergenang di atas permukaan tanah terinfiltrasi ke dalam tanah, yang menyebabkan suatu
lapisan di bawah permukaan tanah menjadi jenuh air.
2. Kelembaban tanah
Jumlah air tanah mempengaruhi kapasitas infiltrasi. Ketika air jatuh pada tanah kering, permukaan
atas dari tanah tersebut menjadi basah, sedang bagian bawahnya relatif masih kering. Dengan
demikian terdapat perbedaan yang besar dari gaya kapiler antara permukaan atas tanah dan yang ada
di bawahnya. Karena adanya perbedaan tersebut, maka terjadi gaya kapiler yang bekerja sama dengan
gaya berat, sehingga air bergerak ke bawah (infiltrasi) dengan cepat.
Dengan bertambahnya waktu, permukaan bawah tanah menjadi basah, sehingga perbedaan daya
kapiler berkurang, sehingga infiltrasi berkurang. Selain itu, ketika tanah menjadi basah koloid yang
terdapat dalam tanah akan mengembang dan menutupi pori-pori tanah, sehingga mengurangi
kapasitas infiltrasi pada periode awal hujan (Bambang Triatmodjo, 2010 : 93).
3. Pemadatan oleh air hujan
Ketika hujan jatuh di atas tanah, butir tanah mengalami pemadatan oleh butiran air hujan. Pemadatan
tersebut mengurangi pori-pori tanah yang berbutir halus (seperti lempung), sehingga dapat
mengurangi kapasitas infiltrasi. Untuk tanah pasir, pengaruh tersebut sangat kecil.
4. Penyumbatan oleh butiran halus
Ketika tanah sangat kering, permukaannya sering terdapat butiran halus. Ketika hujan turun dan
infiltrasi terjadi, butiran halus tersebut terbawa masuk ke dalam tanah, dan mengisi pori-pori tanah,
sehingga mengurangi kapasitas infiltrasi. (Bambang Triatmodjo, 2010 : 94)
5. Tanaman penutup
Banyaknya tanaman yang menutupi permukaan tanah, seperti rumput atau hutan, dapat menaikkan
kapasitas infiltrasi tanah tersebut. Dengan adanya tanaman penutup, air hujan tidak dapat
memampatkan tanah, dan juga akan terbentuk lapisan humus yang dapat menjadi sarang/tempat hidup
serangga. Apabila terjadi hujan lapisan humus mengembang dan lobang-lobang (sarang) yang dibuat
serangga akan menjadi sangat permeabel. Kapasitas infiltrasi bisa jauh lebih besar daripada tanah
yang tanpa penutup tanaman.
6. Topografi
Kondisi topografi juga mempengaruhi infiltrasi. Pada lahan dengan kemiringan besar, aliran
permukaan mempunyai kecepatan besar sehingga air kekurangan waktu infiltrasi. Akibatnya sebagian
besar air hujan menjadi aliran permukaan. Sebaliknya, pada lahan yang datar air menggenang
sehingga mempunyai waktu cukup banyak untuk infiltrasi.
7. Intensitas hujan
Intensitas hujan juga berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi. Jika intensitas hujan I lebih kecil dari
kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual adalah sama dengan intensitas hujan. Apabila intensitas
hujan lebih besar dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual sama dengan kapasitas infiltrasi.
(Bambang Triatmodjo, 2010 : 94).
B. Pengertian Tanah
Dalam pengertian teknik secara umum, tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat
(butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari
bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas
yang mengisi ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut. Tanah berguna sebagai
bahan bangunan pada berbagai macam pekerjaan teknik sipil, disamping itu tanah berfungsi juga
sebagai pendukung pondasi dari bangunan (Braja M. Das, 1993 : 1).
Ukuran partikel tanah sangat beragam dengan variasi yang cukup banyak. Tanah umumnya dapat
disebut sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (slit), atau lempung (clay), tergantung pada ukuran
partikel yang paling dominan pada tanah tersebut.
C. Groundwater Flow
Secara umum S11 Groundwater Flow/Well Abstraction beserta perlengkapannya terdiri dari 1 (satu)
buah sand tank (tangki pasir) dengan jalan masuk air dikedua ujungnya, 2 (dua) saluran untuk tiruan
sumur pemisah (well abstraction) yang disadap pada bagian bawahnya ke manometer yang banyak
untuk menyajikan data yang dapat terlihat sebagai indikasi ketinggian air di seluruh tanki.
1. Sand tank (tanki pasir) : Tanki ini dibuat dari kaca yang diperkuat dengan platik agar tahan lama,
Ukuran bagian dalam tanki pasir ini adalah : Panjang = 990 mm, Lebar = 490 mm dan Kedalaman =
235 mm
2. Steel frame (rangka baja) = Sand tank (tanki pasir) bertiang rangka baja ringan (2), yang mana dicat
untuk melindungi dari korosi. 4 (empat) tiang yang dapat diatur (3) untuk menentukan ketinggian
perlengkapn. Rangka baja dirancang untuk dapat berdiri sesuai dengan bangku agar pembacaan tinggi
muka air dapat terbaca di tabung manomenter yang banyak.
3. Water inlet port (jalan masuk air) = Ada 2 (dua) jalan masuk air (4) yang terletak disetiap sudut tank.
Secara umum bahan yang digunakan untuk percoaan adalah air yang disediakan terus menerus, dan
pasir kasar dengan diameter ukuran butirnya adalah 0.6 2.0 mm (Ground Water Simulator, 2012 :
7).
Ada beberapa pengamatan yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat groundwater flow, salah
satunya adalah mengamati proses aliran air kedalam tanah (infiltrasi). Prinsip dasar dari alat ini adalah
untuk mengetahui aliran air tanah. Alat groundwater flow bisa mendemonstrasikan, dalam skala kecil
tentang prinsip-prinsip yang ada dalam bidang hidrologi, juga memiliki kegunaan yang sangat besar
yang berhubungan dengan hidrolika teknik (Ground Water Flow and Well Abstraction Unit, 2011 : 2).
- Analisa saringan untuk mengetahui gradasi pasir /tanah yang akan dipakai
- Permeabilitas untuk mendapatakan nilai koefisien rembesan dari pasir / tanah, dimana
koefisien itu akan digunakan untuk menghitung laju infiltrasi
-
Evaporasi Yaitu penguapan yang berasal dari air laut/abiotik.
2. Transpirasi Yaitu penguapan yang berasal dari tumbuhan/abiotik.
3. Kondensasi Yaitu pengembunan/ terbentuknya titik-titik air.
4. Presipitasi Yaitu turunnya titik-titik air ke bumi.
5. Inviltrasi Yaitu meresapnya air hujan kedalam tanah.\

2. Tanah Lempung
Lempung terdiri dari butiran yang sangat kecil dan menunjukkan sifat-sifat plastisitas dan cohesive.
Plastisitas adalah sifat yang memungkinkan bentuk bahan itu berubah-ubah tanpa perubahan isi atau
tanpa kembali ke bentuk aslinya, dan tanpa terjadi retak-retak atau pecah-pecah, sedangkan cohesive
menunjukkan kenyataan bahwa bagian-bagian itu melekat satu sama lainnya. Tanah lempung ini
termasuk kedalam tanah berbutir halus. Tanah lempung dalam mendukung beban pondasi sangat
bergantung pada sejarah geologi, kadar air dan kandungan mineralnya. Tanah lempung dinyatakan
sebagai lunak, sedang, atau kaku, tergantung dari kadar air seperti yang dinyatakan dalam konsistensi.
Pada waktu kering, tanah ini dapat sangat keras dan menyusut yang disertai retakan. Waktu basah,
kuat geser akan turun dan lempung menjadi mengembang.

3. Tanah Lanau
Lanau adalah bahan yang merupakan peralihan antara lempung dan pasir halus. Kurang plastis dan
lebih mudah ditembus air daripada lempung dan memperlihatkan sifat dilatansi yang tidak terdapat
pada lempung. Dilatansi adalah sifat yang menunjukkan gejala perubahan isi apabila lanau itu dirubah
bentuknya. Lanau adalah material yang butiran-butirannya lolos saringan no.200. Tanah jenis lanau
ini menjadi 2 kategori, yaitu lanau yang dikarakteristikan sebagai tepung batu yang tidak berkohesi
dan tidak plastis, dan lanau yang bersifat plastis. Sifat-sifat teknis lanau tepung batu lebih mendekati
sifat pasir halus. Lanau yang merupakan butiran halus mempunyai sifat-sifat yang tidak
menguntungkan, seperti: