Anda di halaman 1dari 62

JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Konsep Penataan Ruang Wilayah


Dalam kerangka perencanaan wilayah, yang dimaksud dengan ruang wilayah

adalah ruang pada permukaan bumi di mana manusia dan makhluk lainnya dapat

hidup dan beraktivitas. Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Pedesaan Direktorat

Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum (PU) (1996) mendefinisikan

ruang sebagai berikut :

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,

termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia

dan mahluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan

hidupnya

Dalam arti fisik keruangan wilayah dan daerah mempunyai pengertian yang

sama sebagai terjemahan dari region, suatu hamparan luas sebagai kumpulan dari

lokasi-lokasi (sites) atau areal-areal (areas), baik mencakup ciri-ciri perkotaan

maupun pedesaaan. Perencanaan ruang wilayah adalah perencanaan

penggunaan/pemanfaatan ruang wilayah, yang intinya adalah perencanaan

penggunaan lahan (land use planning) dan perencanaan pergerakan pada ruang

tersebut.
Dalam perencanaan wilayah, sangat perlu untuk menetapkan suatu tempat

permukiman atau tempat berbagai kegiatan sebagai kota atau bukan. Kota adalah

sesuatu wadah yang memiliki batasan administrasi wilayah seperti kotamadya &

kota administratif. Kota juga berarti suatu lingkungan kehidupan perkotaan yang

10
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

mempunyai ciri non agraris. Kawasan perkotaan merupakan kawasan strategis,

yang dapat berupa kawasan strategis nasional, kawasan strategis provinsi, atau

kawasan strategis kabupaten. Hal ini di atur dalam pasal 64 ayat (1) Peraturan

Pemerintah No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, yakni

:
1) Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari wilayah kabupaten;
2) Kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota

pada satu atau lebih provinsi.


Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,

pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penataan ruang juga

dapat diartikan sebagai wujud struktur ruang dan pola ruang disusun secara

nasional, regional dan lokal.


Prinsip-prinsip dasar dari penataan ruang adalah :
1) Pengambilan keputusan untuk menentukan pilihan;
2) Suatu penetapan pengalihan sumber daya (resources allocation);
3) Suatu penetapan dan usaha pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan

(setting up goals and objectives);


4) Suatu pencapaian keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang, yaitu :
a. Dapat membuat perkiraan yang baik dan menjabarkannya dalam suatu

penjadwalan yang berurutan (sequential) sesuai dengan kebutuhan dan

sumber daya yang mendukungnya;


b. Pelaksanaan pentahapan untuk mencapai tujuan masa mendatang

disusun dalam urutan kegiatan yang logis, rasional dan tertata secara

bertahap, berurutan.
Dalam penataan ruang kota ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan sebagai

guidelines dalam menata ruang, antara lain adalah:


1. Rencana Tata Ruang

11
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Rencana Tata Ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan massa

depan yang diharapkan, bertitik tolak dari data, informasi ilmu pengetahuan,

dan teknologi yang dapat digunakan. Serta memperhatikan keragaman

wawasan kegiatan di setiap sektornya. Perkembangan masyarakat dan

lingkungan hidup berlangsung secara dinamis, serta ilmu pengetahuan dan

teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu,

agar rencana tata ruang yang telah disusun agar tetap sesuai dengan tuntutan

pembangunan dan perkembangan keadaan, maka rencana tata ruang dapat

ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala.


Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang ditempuh langkah-

langkah sebagai berikut :


a. Menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi

ekonomi, sosia budaya, daya dukung dan daya tampung lingkungan serta

tidak melupakan fungsi-fungsi pertahanan-keamanan.


b. Mengidentifikasi berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam

suatu wilayah perencanaan.


c. Perumusan rencana tata ruang.
d. Penetapan rencana tata ruang.
2. Pemanfaatan Ruang
Pemanfaatan Ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan

pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang

ditetapkan di dalam rencana tata ruang. Pemanfaatan ruang diselenggarakan

secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan

pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan

12
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

oleh pemerintah dan masyarakat, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-

sama sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.


3. Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang

dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban

pemanfaatan ruang. Pengawasan yang dimaksud yakni usaha untuk menjaga

kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam

rencana tata ruang.


Dalam penataan ruang harus berdasarkan pada pola Tata Ruang

Wilayah Nasional dan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang

berlaku.Salah satunya yaitu tertuang dalam Undang-Undang No. 26 Tahun

2007 tentang Penataan Ruang yang menetapkan penyusunan Rencana Tata

Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Hierarkis pusat kota dalam RTRWN

adalah :
a. PKN (Pusat Kegiatan Nasional), kegiatan yang diemban oleh kawasan ini

berfungsi sebagai :
1) Potensi sebagai gerbang ke kawasan internasional;
2) Pusat pelayanan keuangan nasional/beberapa provinsi;
3) Pusat pengolahan/pengumpulan barang secara nasional/beberapa

provinsi;
4) Simpul transportasi nasional/beberapa provinsi;
5) Jasa pemerintahan nasional/beberapa provinsi;
6) Jasa publik lainnya untuk nasional/beberapa provinsi.
b. PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), kegiatan yang diemban oleh kawasan ini

berfungsi sebagai :
1) Pusat pelayanan keuangan beberapa kabupaten/kota;
2) Pusat pengolahan/pengumpulan barang beberapa kabupaten kota;
3) Simpul transportasi beberapa kabupaten;
4) Jasa pemerintahan beberapa kabupaten;
5) Jasa publik lainnya untuk beberapa kabupaten.

13
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

c. PKL (Pusat Kegiatan Lokal), kegiatan yang diemban oleh kawasan ini

berfungsi sebagai :
1) Pusat pelayanan keruangan beberapa kecamatan;
2) Pusat pengolahan/pengumpulan barang beberapa kecamatan;
3) Simpul transportasi beberapa kecamatan;
4) Jasa pemerintahan beberapa kecamatan.

RTRWN merupakan pedoman untuk penyusunan Rencana Pembangunan

Jangka Panjang (RPJP) Nasional, penyusunan Rencana Pembangunan Jangka

Menengah (RPJM) Nasional, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan

ruang di wilayah nasional, mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan

keseimbangan perkembangan antar wilayah provinsi, serta keserasian antar

sektor, penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi, penataan ruang

kawasan strategis nasional, dan penatan ruang wilayah provinsi dan

kabupaten/kota. RTRWN merupakan dasar penyusunan RTRW provinsi.

B. Landasan Hukum Penataan Ruang di Indonesia


Di Indonesia, sistem penataan ruang di atur dalam Undang-Undang maupun

Peraturan Pemerintah. Salah satunya yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun

1992, namun karena sudah tidak sesuai dengan kebutuhan pengaturan penataan

ruang sehingga perlu diganti dengan undang - undang penataan ruang yang baru

yaitu Undang-Undang No. 26 Tahun 2007. Undangundang ini menjadi landasan

utama bagi selur uh pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan penataan

ruang di Indonesia.
1. Undang-Undang Pasal 33 ayat (3) UUD Tahun 1945
Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh

negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

14
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 khususnya pada pasal 7 ayat (3)

Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi

kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu.


3. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan

hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat

dalam Penataan Ruang. PP ini menindaklanjuti Pasal 6 dan Pasal 12 ayat (2)

UU Nomor 24 Tahun 1992.


4. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan

Tanah. PP ini merupakan tindak lanjut sebagian dari Pasal 16 ayat (2) UU

Nomor 24 Tahun 1992, yaitu mengenai pola pengelolaan tata guna tanah.
5. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
6. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah Nasional


7. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 2029.

C. Teori Perencanaan Wilayah


Perencanaan Wilayah adalah suatu proses perencanaan pembangunan yang

dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih

baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah, dan lingkungannya dalam

wilayah tertentu, dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber

daya yang ada, dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap,

tetap berpegang pada azas prioritas (Riyadi dan Bratakusumah, 50:2003).


Dalam upaya pembangunan wilayah, masalah yang terpenting yang menjadi

perhatian para ahli ekonomi dan perencanaan wilayah adalah menyangkut proses

pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Perbedaan teori

15
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

pertumbuhan ekonomi wilayah dan teori pertumbuhan ekonomi nasional terletak

pada sifat keterbukaan dalam proses input-output barang dan jasa maupun orang.

Dalam sistem wilayah keluar masuk orang atau barang dan jasa relatif bersifat

lebih terbuka, sedangkan pada skala nasional bersifat lebih tertutup (Sirojuzilam,

109:2007) atau pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada

tingkatan yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan

aspek fisik, sosial, ekonomi dan aspek lingkungan lainnya dengan cara:
1) Secara terus menerus menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan

daerah;
2) Merumuskan tujuan dan kebijakan pembangunan daerah;
3) Menyusun konsep strategi bagi pemecahan masalah (solusi), dan
4) Melaksanakannya dengan menggunakan sumber daya yang tersedia sehingga

peluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah dapat

ditangkap secara berkelanjutan (Solihin, D, 2005).


Menurut Archibugi (2008) berdasarkan penerapan teori perencanaan wilayah

dapat dibagi atas empat komponen yaitu :


1. Physical Planning (Perencanaan fisik)
Perencanan yang perlu dilakukan untukmerencanakan secara fisik

pengembangan wilayah. Muatan perencanaan inilebih diarahkan kepada

pengaturan tentang bentuk fisik kota dengan jaringan infrastruktur kota

menghubungkan antara beberapa titik simpul aktivitas. Teori perencanaan ini

telah membahas tentang kota dan sub bagian kota secara komprehensif.

Dalam perkembangannya teori ini telah memasukkan kajian tentang aspek

lingkungan. Bentuk produk dari perencanaan ini adalah perencanaan wilayah

16
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Medan dalam bentuk master plan

(tata ruang, lokasi tempat tinggal, aglomerasi, dan penggunaan lahan).


2. Macro-Economic Planning (Perencanaan Ekonomi Makro)
Dalam perencanaan ini berkaitan perencanaan ekonomi wilayah.

Mengingat ekonomi wilayah menggunakan teori yang digunakan sama

dengan teori ekonomi makro yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi,

pertumbuhan ekonomi, pendapatan, distribusi pendapatan, tenaga kerja,

produktivitas, perdagangan, konsumsi dan investasi. Perencanaan ekonomi

makro wilayah adalah dengan membuat kebijakan ekonomi wilayah guna

merangsang pertumbuhan ekonomi wilayah. Bentuk produk dari perencanaan

ini adalah kebijakan bidang aksesibilitas lembaga keuangan, kesempatan

kerja, tabungan).

3. Social Planning (Perencanaan Sosial)


Perencanaan sosial membahas tentang pendidikan, kesehatan,

integritas sosial, kondisi tempat tinggal dan tempat kerja, wanita, anak-anak

dan masalah kriminal. Perencanaan sosial diarahkan untuk membuat

perencanaan yang menjadi dasar program pembangunan sosial di daerah.

Bentuk produk dari perencanaan ini adalah kebijakan demografis.


4. Development Planning (Perencanaan Pembangunan)
Perencanaan ini berkaitan dengan perencanaan program pembangunan

secara komprehensif guna mencapai pengembangan wilayah.


Fianstein dan Norman (1991) tipologi perencanaan dibagi atas empat macam

yang didasarkan pada pemikiran teoritis. Empat macam perencanaan tersebut

dapat dijelaskan sebagai berikut:


1. Traditional planning (perencanaan tradisional)

17
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Pada jenis perencanaan ini perencana menetapkan maksud dan tujuan

untuk merubah sebuah sistem kota yang telah rusak. Biasanya pada konsep

perencanaan ini membuat kebijakan-kebijakan untuk melakukan perbaikan

pada sistem kota. Pada perencanaan tradisional memiliki program inovatif

terhadap perbaikan lingkungan perkotaan dengan menggunakan standar dan

metode yang professional.


2. User-Oriented Planning (Perencanaan yang berorientasi pada pengguna)
Konsep perencanaan ini adalah membuat perencanaan yang bertujuan

untuk mengakomodasi pengguna dari produk perencaan tersebut, dalam hal

ini masyarakat Kota. Masyarakat yang menentukan produk perencanaan harus

dilibatkan dalam setiap proses perencanaan.


3. Advocacy Planning (Perencanaan Advokasi)
Pada perencanaan ini berisikan program pembelaan terhadap

masyarakat yang termarjinalkan dalam proses pembangunan kota dalam hal

ini adalah masyarakat miskin kota. Pada perencanaan advokasi akan

memberikan perhatian khusus terhadap melalui program khusus guna

meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin.


4. Incremental Planning (Perencanaan dukungan)
Pada perencanaan yang bersifat dukungan terhadap sebuah proses

pengambilan keputusan terhadap permasalahanpermasalahan perkotaan.

Produk perencanaan ini bersifat analisis yang mendalam terhadap

permasalahan dengan mempertimbangkan dampak positif dan dampak negatif

sebuah kebijakan.
Menurut Glasson dalam buku Tarigan (2005) menyebutkan tipe-tipe

perencanaan terdiri dari; physical planning and economic planning, allocative

18
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

and innovative planning, multi or single objective planning dan indicative or

imperative planning. Selanjutnya menurut Tarigan (2005) di Indonesia juga

dikenal jenis topdown and bottom-up planning, vertical and horizontal planning,

dan perencanaan yang melibatkan masyarakat secara langsung dan yang tidak

melibatkan masyarakat sama sekali. Uraian di atas masing-masing jenis itu

dikemukakan sebagai berikut:


1. Perencanaan Fisik Versus Perencanan Ekonomi
Pada dasarnya pembedaan ini didasarkan atas isi atau master dari

perencanaan. Namun demikian, orang awam terkadang tidak bisa melihat

perbedaan antara perencanaan fisik dengan perencanaan ekonomi.

Perencanaan fisik (physical planning) adalah perencanaan untuk mengubah

atau memanfaatkan struktur fisik suatu wilayah misalnya perencanaan tata

ruang atau tata guna, perencanaan jalur transportasi/komunikasi, penyediaan

fasilitas untuk umum, dan lain-lain. Perencanaan ekonomi (economic

planning) berkenaan dengan perubahan struktur ekonomi suatu wilayah dan

langkah-langkah untuk memperbaiki tingkat kemakmuran suatu wilayah.


Perencanaan ekonomi didasarkan atas mekanisme pasar daripada perencanaan

fisik yang lebih didasarkan atas kelayakan teknis. Perlu dicatat bahwa apabila

perencanaan itu bersifat terpadu, perencanaan fisik berfungsi untuk

mewujudkan berbagai sasaran yang ditetapkan di dalam perencanaan

ekonomi. Akan tetapi, ada juga keadaan di mana hasil perencanan fisik harus

dipertimbangkan perencanaan ekonomi, misalnya dalam hal tata ruang.


2. Perencanaan Alokatif Versus Perencanaan Inovatif

19
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Pembedaan ini didasarkan atas perbedaan visi dari perencanaan

tersebut, yaitu antara perencanaan model alokatif dan perencanaan yang

bersifat inovatif. Perencanaan alokatif (alocative planning) berkenaan dengan

menyukseskan rencana umum yang telah disusun pada level yang lebih tinggi

atau telah menjadi kesepakatan bersama. Jadi, inti kegiatannya berupa

koordinasi dan sinkronisasi agar sistem kerja untuk mencapai tujuan itu dapat

berjalan secara efektif dan efesien sepanjang waktu. Karena sifatnya, model

perencanaan ini kadang-kadang disebut regulatory planning (mengatur

pelaksanaan ). Dalam perencanaan inovatif (innovative planning), para

perencana lebih memiliki kebebasan, baik dalam menetapkan target maupun

cara yang ditempuh untuk mencapai target tersebut. Artinya, mereka dapat

menetapkan prosedur atau cara-cara, yang penting target itu dapat dicapai atau

dilampaui. Perencanaan inovatif juga berlaku apabila ada kegiatan baru yang

perlu dibuat prosedur atau sistem kerjanya, yang selama ini belum ada.
3. Perencanaan Bertujuan Jamak versus Perencanaan Bertujuan Tunggal
Pembedaan ini didasarkan atas luas pandang (skop) yang tercakup,

yaitu antara perencanaan bertujuan jamak dan perencanaan tunggal.

Perencanaan dapat mempunyai dan sasaran tunggal atau jamak. Perencanaan

bertujuan tunggal apabila sasaran yang hendak dicapai adalah sesuatu yang

dinyatakan dengan tegas dalam perencanaan itu dan bersifat tunggal.

Misalnya, rencana pemerintah untuk membangun 100 unit rumah di suatu

lokasi tertentu. Perencanaan bertujuan ini tidak mengaitkan pembangunan

rumah dengan manfaat lain yang mungkin ditimbulkannya karena tidak

20
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

menjadi fokus perhatian utama. Perencanaan bertujuan jamak adalah

perencanaan yang memiliki beberapa tujuan sekaligus. Misalnya, rencana

pelebaran dan peningkatkan kualitas jalan penghubung yang ditujukan untuk

memberikan berbagai manfaat sekaligus, yaitu agar perhubungan di daerah

semakin lancar, dapat menarik berdirinya permukiman baru dan mendorong

bertambahnya aktivitas pasar di daerah tersebut. Terkadang ada juga sasaran

lain dengan dibukanya jalan baru yang bisa saja tidak dinyatakan secara tegas

dalam rencana itu sendiri. Misalnya, makin lancarnya komunikasi sehingga

masyarakat setempat makin terbuka untuk pembaruan dan makin lancarnya

perdagangan. Perencanaan ekonomi umumnya bertujuan jamak sedangkan

perencanaan fisik ada yang bertujuan tunggal tetapi ada juga yang bertujuan

jamak.
4. Perencanaan Bertujuan Jelas Versus Perencanaan Bertujuan Laten
Pembedaan ini didasarkan atas konkret atau tidak konkretnya isi

rencana tersebut. Perencanaan bertujuan jelas adalah perencanaan yang

dengan tegas menyebutkan tujuan dan sasaran dari perencanaan tersebut, yang

sasarannya dapat diukur keberhasilannya. Dalam perencanaan, tujuan selalu

dibuat lebih bersifat umum dibandingkan dengan sasaran. Tujuan belum tentu

dapat diukur walaupun bisa dirasakan, sedangkan sasaran biasanya dinyatakan

dalam angka konkret sehingga bisa diukur dengan tingkat pencapaiannya.

Misalnya, tujuan perencanaan adalah menaikkan taraf hidup rakyat,

sasarannya adalah menaikkan pendapatan per kapita dari $ 400 menjadi $ 500

per tahun, dalam jangka waktu tiga tahun yang akan datang. Perencanaan

21
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

bertujuan laten adalah perencanaan yang tidak menyebutkan sasaran dan

bahkan tujuannya pun kurang jelas sehingga sulit untuk dijabarkan. Tujuan

perencanaan laten sering dikejar secara tidak sadar, misalnya ingin hidup lebih

bahagia, kehidupan dalam masyarakat yang aman, nyaman, dan penuh dengan

rasa kekeluargaan.
5. Perencanaan Indikatif Versus Perencanaan Imperatif
Pembedaan ini didasarkan atas ketegasan dari isi perencanaan dan

tingkat kewenangan dari institusi pelaksana. Perencanaan indikatif adalah

perencanaan di mana tujuan yang hendak dicapai hanya dinyatakan dalam

bentuk indikasi, artinya tidak dipatok dengan tegas. Tujuan bisa juga

dinyatakan dalam bentuk indicator tertentu, namun indikator ini sendiri bisa

konkret dan bisa hanya perkiraan (indikasi). Tidak diatur bagaimana cara

untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak diatur prosedur ataupun langkah-

langkah untuk mencapai tujuan tersebut, yang penting indikator yang

dicantumkan dapat tercapai. Dalam perencanaan itu mungkin terdapat

petunjuk atau pedoman, yaitu semacam nasehat bagaimana sebaiknya rencana

itu dijalankan, tetapi pedoman itu sendiri tidak terlalu mengikat. Pelaksana di

lapangan masih dapat melakukan perubahan sepanjang tujuan ingin dicapai

dapat dicapai atau dilampaui dengan besaran biaya tidak melampaui yang

ditentukan. Perencana imperatif adalah perencanaan yang mengatur baik

sasaran, prosedur, pelaksana, waktu pelaksanaan, bahan-bahan, serta alat-alat

yang dapat dipakai untuk menjalankan rencana tersebut. Itulah sebabnya

mengapa perencanaan ini disebut perencanaan komando. Pelaksana di

22
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

lapangan tidak berhak mengubah apa yang tertera dalam rencana. Hampir

mirip dengan tipe perencanaan di atas adalah yang menggunakan bentuk

kombinasi lain, yaitu induced planning versus imperative planning.

Pembedaan dalam kombinasi terakhir ini lebih didasarkan atas kewenangan

dari institusi terlibat. Induced planning adalah perencanaan dengan sistem

rangsangan. Perencanaan dengan sistem rangsangan, yaitu apabila pemerintah

pada level yang lebih tingg member rangsangan kepada pemerintah yang lebih

rendah. Hal ini terjadi jika pemerintah pada level yang lebih rendah mau

melaksanakan program yang diinginkan oleh pemerintah pada level yang

lebih tinggi.
6. Top Down Versus Bottom Up Planning
Pembedaan perencanaan jenis ini didasarkan atas kewenangan dari

institusi yang terlibat. Perencanaan model updown dan bottom-up hanya

berlaku apabila terdapat beberapa tingkat atau lapisan pemerintahan atau

beberapa jenjang jabatan di perusahaan yang masing-masing tingkatan diberi

wewenang untuk melakukan perencanaan. Perencanaan model top-down

adalah apabila kewenangan utama dalam perencanaan itu berada pada institusi

yang lebih tinggi di mana institusi perencana pada level yang lebih rendah

harus menerima rencana atau arahan dari institusi yang lebih tinggi. Rencana

dari institusi yang lebih tinggi tersebut harus dijadikan bagian rencana

institusi yang lebih rendah. Umumnya terjadi adalah kombinasi antara kedua

model tersebut. Akan tetapi dari rencana yang dihasilkan oleh kedua level

institusi perencanaan tersebut, dapat ditentukan model mana yang lebih

23
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

dominan. Apabila yang dominan adalah top-down maka perencanaan itu

disebut sentralistik, sedangkan apabila yang dominan adalah bottom-up maka

perencanaan itu disebut desentralistik.


7. Vertical Versus Horizontal Planning
Pembedaan ini juga didasarkan atas perbedaan kewenangan antar

institusi walaupun lebih ditekankan pada perbedaan jalur koordinasi yang

diutamakan perencana. Vertical planning adalah perencanaan yang lebih

mengutamakan koordinasi antar berbagai jenjang pada sektor yang sama.

Model ini mengutamakan keberhasilan sektoral, jadi menekankan pentingnya

koordinasi antar berbagai jenjang pada instansi yang sama. Tidak diutamakan

keterkaitan antar sektor atau apa yang direncanakan oleh sektor lainnya,

melainkan lebih melihat kepada kepentingan sektor itu sendiri itu bagaimana

hal ini dapat dilaksanakan oleh berbagai jenjang pada instansi yang sama di

berbagai daerah secara baik dan terkoordinasi untuk mencapai sasaran

sektoral. Horizontal planning menekankan keterkaitan antar berbagai sector

sehingga berbagai sektor itu dapat berkembang secara bersinergi. Horizontal

planning melihat pentingnya koordinasi antar berbagai instansi pada level

yang sama, ketika masing-masing instansi menangani kegiatan atau sektor

yang berbeda. Horizontal planning menekankan keterpaduan program antar

berbagai sektor pada level yang sama. Antara kedua model perencanaan itu

harus terdapat arus bolak-balik sehingga dihasilkan rencana yang baik.

8. Perencanaan Yang Melibatkan Masyarakat Secara Langsung Versus

yang Tidak Melibatkan Masyarakat

24
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Pembedaan ini juga didasarkan atas kewenangan yang diberikan

kepada institusi perencanaan yang sering kali terkait dengan luas bidang yang

direncanakan. Perencanaan yang melibatkan masyarakat secara langsung

adalah apabila sejak awal masyarakat telah diberitahu dan diajak ikut serta

dalam menyusun rencana tersebut. Perencanaan yang tidak melibatkan

masyarakat adalah apabila masyarakat tidak dilibatkan sama sekali dan

palingpaling hanya dimintakan persetujuan dari DPRD untuk persetujuan

akhir. Perencanaan yang tidak melibatkan masyarakat misalnya apabila

perencanaan itu bersifat teknis pelaksanaan, bersifat internal, menyangkut

bidang yang sempit, dan tidak secara langsung bersangkut paut dengan

kepentingan orang banyak. Persetujuan DPRD pun umumnya tidak

dimintakan untuk perencanaan seperti itu. Perencanaan yang bersangkut paut

dengan kepentingan orang banyak mestinya melibatkan masyarakat tetapi

dalam prakteknya masyarakat hanya diwakili oleh orang-orang yang

dikategorikan sebagai tokoh masyarakat. Dalam praktik, kedua pembagian di

atas tidaklah mutlak. Artinya, perencanaan sering mengambil bentuk diantara

keduanya. Perencanaan yang melibatkan masyarakat luas hanya mungkin

untuk wilayah yang kecil, misalnya lingkungan, desa atau kelurahan, dan

kecamatan. Un tuk wilayah yang lebih luas, biasanya hany a mungkin dengan

cara mengundang tokoh-tokoh masyarakat atau pimpinan organisasi

kemasyarakatan. Seringkali tokoh masyarakat atau organisasi kemasyarakatan

hanya dilibatkan pada diskusi awal untuk m emberikan masukan dan pada

25
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

diskusi akhir untuk melihat bahwa aspir asi mereka sudah tertampung.

Perencanaan yang menyangkut kepentingan masyarakat ba nyak biasanya

harus mendapat persetujuan DPRD sebagai perwakilan dari kepentingan

masyarakat.

D. Teori Pengembangan Wilayah


1. Teori Konsentris
Teori ini dikemukakan oleh E.W. Burgess Tahun 1925, atas dasar studi

kasusnya mengenai morfologi kota Chicago, menurut ya sesuatu kota akan

terdiri dari zona zona yang konsentris dan masing masing zone ini

sekaligus mencerminkan tipe penggunaan lahan yang berbeda.


Gambar 2.1 Teori Konsentris Burgess

Penjelasan :
Daerah pusat kegiatan (Central Business District)
Zona Peralihan (Transition Zone)
Zona perumahan para pekerja (Zone of Working Mens Homes )
Zona permukiman yang lebih baik (Zone of Better Residences)
Zona para penglaju (Zone of Commuters)
Seperti terlihat pada model di atas, daerah perkotaan terdiri atas 5 zona

melingkar berlapis lapis yang terdiri dari : Daerah pusat kegiatan, zona

peralihan, zona permukiman pekerja, zona permukiman yang lebih baik, dan

zona penglaju. Teori yang dikemukakan oleh Burgesst didukung oleh Herbert

(1973) yang mengatakan apabila landscape-nya datar dengan aksesibiltas

26
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

menunjuk ke segala penjuru maka penggunaan lahan suatu kota cenderung

konsentris dan berlapis-lapis mengelilingi pusatnya. Secara berurutan, tata

ruang kota yang ada pada suatu kota yang mengikuti suatu pola konsentris ini

adalah sebagai berikut:


a. Daerah Pusat atau Kawasan Pusat Bisnis (KPB)
Daerah pusat kegiatan ini sering disebut sebagai pusat kota. Dalam daerah

ini terdapat bangunan-bangunan utama untuk melakukan kegiatan baik

sosial, ekonomi, poitik dan budaya. Contohnya Daerah pertokoan,

perkantoran, gedung kesenian, bank dan lainnya.

b. Daerah Peralihan
Daerah ini kebanyakan dihuni oleh golongan penduduk kurang mampu

dalam kehidupan sosial-ekonominya.Penduduk ini sebagian besar terdiri

dari pendatang yang tidak stabil (musiman), terutama ditinjau dari tempat

tinggalnya.Di beberapa tempat pada daerah ini terdapat kegiatan industri

ringan, sebagai perluasan dari KPB.


c. Daerah Pabrik dan Perumahan Pekerja
Daerah ini dihuni oleh pekerja pabrik yang ada di daerah ini.Kondisi

perumahannya sedikit lebih buruk daripada daerah peralihan, Hal ini

disebabkan karena kebanyakan pekerja yang tinggal di sini adalah dari

golongan pekerja kelas rendah.


d. Daerah Perumahan yang Lebih Baik
Daerah ini dihuni oleh penduduk yang lebih stabil keadaannya

dibandingkan dengan penduduk yang menghuni daerah yang disebut

sebelumnya.
e. Daerah Penglaju

27
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Daerah ini mempunyai tipe kehidupan yang dipengaruhi oleh pola hidup

daerah pedesaan disekitarnya. Sebagian menunjukkan ciri-ciri kehidupan

perkotaan dan sebagian yang lain menunjukkan ciri-ciri kehidupan

pedesaan, kebanyakan penduduknya mempunyai lapangan pekerjaan

nonagraris dan merupakan pekerja penglaju yang bekerja di dalam kota,

sebagian penduduk yang lain adalah penduduk yang bekerja di bidang

pertanian.
2. Teori Sektor
Teori sektor ini dikemukakan oleh Homer Hoyt (1939), dinyatakan

bahwa perkembangan baru yang terjadi di dalam suatu kota, berangsur-angsur

menghasilkan kembali karakter yang dimiliki oleh sektor yang sama

terdahulu.
Gambar 2.2 Model Teori Sektor Hoyt

Penjelasan :
Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau
Zone of wholesale light manufacturing
Zona permukiman kelas rendah
Zona permukiman kelas menengah
Zona permukiman kelas tinggi
Dalam teori ini terjadi penyaringan daripada penduduk yang tinggal pada

sektor-sektor yang ada dan filtering process sendiri hanya berjalan dengan

baik bila private housing market berperanan besar dalam proses pengadaan

28
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

rumah bagi warga kota. Secara garis besar zona yang ada dalam teori sektor

dapat dijelask an sebagai berikut :


a. Zona 1 : Central Business District
Sama dengan zona 1 dalam teori konsentris. Seperti halnya teori

keonsentris CBD, merupakan pusat kota yang relatif terletak di tengah

kota yang berbentuk bundar.


b. Zona 2 : Zone wholesale light manufacturing
Zona kedua membentuk pola seperti taji dan menjari ke arah luar

lingkaran.Jelas sekali peranan transportasi dan komunikasi yang

menghubungkan CBD dengan daerah luarnya mengontrol persebaran

zona 2.
c. Zona 3 : Zona permukiman kelas rendah
Zona 3 adalah suatu zona yang dihuni oleh penduduk yang mempunyai

kemampuan ekonomi lemah.Sebagian zona 3 ini membentuk persebaran

yang memanjang radial centrifugal di mana biasanya bentuk seperti itu

sangat dipengaruhi oleh adanya rute transportasi dan komunikasi.


d. Zona 4 : Zona permukiman kelas menengah
Zona 4 ini agak menyimpang khususnya dalam pembentukan sektornya.

Daerah rumanya relatif lebih besar dibanding zona 3 dengan kondisi

lingkungan yang lebih baik.Golongan ini dalam taraf kondisi kemampuan

ekonomi yang menanjak dan semakin mapan.Akibatnya memang

kemudian nampak adanya perasaan tidak puas terhadap lingkungan

sebelumnya.
e. Zona 5 : Zona permukiman kelas tingggi
Daerah ini menjanjikan kepuasan, kenyamanan bertempat tinggal.

Penduduk dengan penghasilan tinggi mampu membangun tempat hunian

yang sangat mahal sampai luxurious.

29
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

3. Teori Poros
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Babcock (1932) sebagai

suatu ide penyempurna dari teori konsentris. Babcock mengemukakan faktor

utama yang mempengaruhi mobilitas fungsi dan penduduk yang dipengaruhi

oleh faktor utama yaitu poros transportasi yang menghubungkan CBD dengan

daerah bagian luarnya


Gambar 2.3 Teori Poros Babcock

Keterangan :
a. Zona 1 : Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau central business distric
(CBD).
b. Zona 2 : zona peralihan
c. Zona 3 : perumahan dengan pendapatan rendah atau kelas menengah
bawah
d. Zona 4 : perumahan dengan pendapatan menengah
e. === = : jalan utama
f. ------ : rel kereta api
Perkembangan zona zona yang ada pada daerah sepan jang poros

transportasi akan terlihat lebih besar dibanding dengan daerah-daerah yang

terletak di antaranya.
4. Teori Pusat Kegiatan Banyak
Teori ini dikemukakan oleh C.D Harris dan F.L. Ullmann (1945). Teori

ini menyatakan bahwa kebanyakan kota kota besar tidak tumbuh dalam

ekspresi ke ruangan yang sederhana, yang hanya ditandai oleh satu pusat

kegiatan saja namun terbentuk sebagai suatu produk perkembangan dan

integrasi yang berlanjut terus menerus dari sejumlah pusat-pusat kegiatan

30
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

yang terpisah satu sama lain dalam suatu sistem perkotaan. Ada beberapa

faktor yang menghasilkan pola-pola keruangan yang khas yaitu :

Gambar 2.4 Teori Pusat Banyak

Keterangan :

CBD

Whole Sale Light manufacturing

Low-class residental

Medium class resindetial

High cla ss residential

Heavy m anufacturing

Outlying business district (OBD)

Residenti al sub-urb

Industrial sub urb

Zona zona keruangan seperti terlihat pada gambar dapat dijelaskan sebagai

berikut :
a. Zona 1 : Central business district

31
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Zona ini merupakan zona pusat kota yang menampung besar kegiatan

kota.Zona ini berupa pusat fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat

distrik spesialisasi pelayanan.


b. Zona 2 : wholesale light manufacturing
Zona ini tidak berada disekeliling zona 1 tetapi hanya berdekatan saja.

Sebagaimana wholesale,light manufacturing juga membutuhkan

persyaratan yang sama dengan wholesaling yaitu : transportasi yang

baik, ruang yang memadai, dekat dengan pasar dan tenaga kerja.
c. Zona 3 : daaerah permukiman kelas rendah
Zona ini mencerminkan daerah yang kurang baik untuk permukiman

sehingga penghuninya umumnya dari golongan rendah dan

permukimannya juga relatif lebih jelek dari zona 4. Zona ini dekat dengan

pabrik-pabrik, jalan kereta api dan drainasenya jelek.


d. Zona 4 : daerah permukiman kelas menengah
Zona ini tergolong lebih baik daripada zona 3 baik dari segi fisik maupun

penyebaran fasilitas kehidupannya. Penduduk yang tinggal di sini pada

umumnya mempunyai penghasilan yang lebih tinggi dari penduduk pada

zona 3.
e. Zona 5 : daerah permukiman kelas tinggi
Zona ini mempunyai kondisi paling baik untuk permukiman dalam artian

fisik maupun penyediaan fasilitas. Lokasinya relatif jauh dari CBD,

industri berat dan ringan, namun untuk memenuhi keutuhannya sehari-

hari di dekatnya dibangun business.


f. Zona 6 : Heavy Manufacturing
Zona ini merupakan konsentrasi pabrik-pabrik besar. Berdekatan dengan

zona ini biasanya mengalami berbagai permasalahan lingkungan seperti

pencemaran, kebisingan kesemrawutan lalu lintas dan sebagainya.

32
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

g. Zona 7 : Business District lainnya


Zona ini muncul untuk memenuhi kebutuhan penduduk zona 4 dan 5 dan

sekaligus akan menarik fungsi-fungsi lain untuk berada di dekatnya.


h. Zona 8 : zona tempat tinggal di daerah pinggiran
Zona ini membentuk komunitas tersendiri dalam artian lokasinya.

Penduduk di sini sebagian besar bekerja di pusat-pusat kota dan zona ini

semata-mata digunakan untuk tempat tinggal.


i. Zona 9 : zona indsutri di daerah pinggiran
Sebagaimana perkembangan industri-industri lainnya unsur transportasi

selalu menjadi prasyarat untuk hidupnya fungsi ini. Walaupun terletak di

daerah piggiran zona ini dijangkau jalur transportasi yang memadai.


5. Teori Historis
Dalam teori ini Alonso mendasarkan analisisnya pada kenyataan

historis yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal di dalam kota.

Ternyata, perubahan tempat tinggal ini menunjukkan karakteristik yang

menarik dikaitkan dengan ageing structures, sequent occupancy, population

growth and avalilabe land dan zona zona konsentris pada sesuatu kota.
Gambar 2.5 Struktur Kota menurut Teori Historis

Keterangan :
a. Zona 1 : Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central Business District
b. Zona 2 : Daerah peralihan (zone of transition)
c. Zona 3 : Daerah kelas rendah (zone of low status)
d. Zona 4 : Daerah kelas menengah (zone of middle status)
e. Zona 5 : Daerah kelas tinggi (zone of high status)

33
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Menurut Alonso, oleh karena adanya perubahan teknologi yang cepat di

bidang transportasi dan komunikasi telah mendorong tejadinya perpindahan

penduduk ke luar kota.


6. Teori Glasson
Menurut Glasson (1974) ada dua cara pandang yang berbeda

tentang wilyah, yaitu subjektif dan objektif. Cara pandang subjektif, yaitu

wilayah adalah alat untuk mengidentifikasi suatu lokasi yang di dasarkan atas

kriteria tertentu atau tujuan tertentu. Dengan demikian, banyaknya wilayah

tergantung kepada kriteria tertentu atau tujuan tertentu dengan demikian

banyaknya wilayah tergantung kepada kriteria yang di gunakan.

E. Teori Pembangunan Wilayah


Pembangunan wilayah (regional development) merupakan upaya untuk

memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antarwilayah,

dan menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah. Kebijakan

pengembangan wilayah sangat diperlukan karena kondisi fisik geografis, sosial,

ekonomi dan budaya masyarakat yang sangat berbeda antara suatu wilayah

dengan wilayah lainnya sehingga penerapan kebijakan pengembangan wilayah itu

sendiri harus disesuaikan dengan kondisi, potensi, dan isu permasalahan di

wilayah bersangkutan.
Istilah pembangunan ekonomi digunakan secara bergantian dengan istilah

seperti pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan ekonomi, kemajuan ekonomi, dan

perubahan jangka panjang. Pembangunan ekonomi mengacu pada masalah

negara/masyarakat yang sedang membangun, sedangkan pertumbuhan mengacu

34
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

pada masalah negara-negara maju. Pembangunan, menurut Schumpeter, adalah

perubahan spontan dan terputusputus dalam keadaaan stasioner yang senantiasa

mengubah dan mengganti situasi keseimbangan yang ada sebelumnya. Sedangkan

pertumbuhan adalah perubahan jangka panjang secara perlahan dan mantap yang

terjadi melalui kenaikan tabungan dan penduduk. Menurut Boner, pembangunan

memerlukan d an melibatkan semacam pengarahan, pengaturan, dan pedoman

dalam rangka menciptakan kekuatan-kekuatan bagi perluasan dan pemeliharaan,

sedang cirri pertumbuhan spontan merupakan ciri perekonomian maju dengan

kebebasan usaha (Sjafrizal, 2008).


Menurut Todaro (2006) bahwa pembangunan harus berlangsung pada satu

tingkat perubahan secara menyeluruh sehingga suatu sistem sosial yang telah

diselaraskan dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan dasar pribadi dan

kelompok yang beraneka ragam dalam sistem tersebut akan bergerak menjauhi

kondisi hidup yang secara umum dianggap kurang memuaskan dan mengarah ke

situasi atau kondisi hidup yang secara material dianggap lebih baik.
Pencapaian tujuan pembangunan masyarakat tersebut, unsur penting dan

strategis sebagai fasilitator adalah pemerintah, yang diharapkan mampu

memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berperan serta dalam

perekonomian dan pembangunan untuk mewujudkan perubahan pada kondisi

yang lebih menguntungkan. Pemerintah pada dasarnya merupakan alat bagi

masyarakat untuk dapat melakukan secara bersama hal-hal yang tidak dapat

dilakukan secara individu.

35
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Kebutuhan yang semakin meningkat terhadap fasilitas dan pelayanan

pembangunan umum dalam masyarakat menuntut adanya institusi-institusi daerah

yang cekatan (Sarundajang, 1997). Pembangunan secara umum dapat diartikan

sebagai usaha yang memajukan kehidupan masyarakat dari kondisi yang tidak

baik menjadi kondisi yang lebih baik. Siagian (1983) mendefinisikan bahwa

pembangunan itu adalah sebagai usaha atau rangkaian usaha yang pertumbuhan

dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa,

negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa

(nation building).
Pembangunan ekonomi didefinisikan dalam tiga pengertian sebagai berikut:
1) Pembangunan ekonomi harus diukur dalam arti kenaikan pendapatan nasional

riil dalam suatu jangka waktu yang panjang. Definisi ini tidak memuaskan,

karena tidak mempertimbangkan berbagai perubahan misalnya pertumbuhan

penduduk. Jika suatu kenaikan dalam pendapatan nasional riil dibarengi

dengan pertumbuhan penduduk yang lebih cepat, maka yang terjadi bukan

kemajuan tetapi adalah sebaliknya yaitu kemunduran.


2) Meier dalam Siagian (1983) bahwa pembangunan ekonomi sebagai proses

kenaikan pendapatan riil per kapita dalam suatu jangka waktu yang panjang.

Baran dalam Siagian (1983) membenarkan pertumbuhan (pembangunan)

ekonomi adalah kenaikan output perkapita barang-barang material dalam

suatu jangka waktu. Definisi di atas menekankan bahwa pembangunan

ekonomi dicerminkan oleh tingkat kenaikan pendapatan riil lebih tinggi

dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk. Definisi tersebut mengabaikan

36
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

masalah yang bertalian dengan struktur masyarakat, struktur penduduk,

lembaga dan budaya masyarakat, dan bahkan distribusi output di antara

anggota masyarakat.
3) Ada kecenderungan untuk mendefinisikan pembangunan ekonomi dilihat dari

tingkat kesejahteraan ekonomi. Misalnya pendapatan nasional riil per kapita

naik dibarengi dengan penurunan kesenjangan pendapatan dan pemenuhan

kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Definisi ini mempunyai beberapa

keterbatasan,
a. kenaikan pendapatan nasional atau per kapita riil, si kaya bertambah kaya

dan si miskin bertambah miskin, berarti kesenjangan bertambah lebar;


b. Dalam mengukur kesejahteraan ekonomi harus hati-hati, output dapat

dinilai dengan kenaikan pendapatan nasional riil. dan,


c. harus dipertimbangkan tidak saja barang apa yang diproduksi, tetapi juga

bagaimana barang tersebut diproduksi.


Pembangunan nasional didukung oleh pembangunan yang terjadi di wilayah.

Untuk itu diperlukan pendekatan yang penting didalami adalah teori yang

berkaitan dengan pengembangan wilayah, dan adapun teori tersebut adalah

sebagai berikut:
1. Teori Lokasi dan Aglomerasi
Teori Lokasi memberikan kerangka analisa yang baik dan sistematis

mengenai pemilihan lokasi kegiatan ekonomi dan sosial, serta analisa

interaksi antar wilayah. Teori Lokasi menjadi penting dalam analisa ekonomi

karena pemilihan lokasi yang baik akan dapat memberikan penghematan yang

sangat besar untuk ongkos angkut sehingga mendorong terjadinya efisiensi

baik dalam bidang produksi maupun pemasaran. Sedangkan interaksi antar

37
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

wilayah akan dapat pula mempengaruhi perkembangan bisnis yang pada

gilirannya akan dapat pula mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah

(Sjafrizal, 2008).
Untuk menganalis pembangunan kota dan wilayah, kita harus

memahami sepenuhnya mengenai kekuatan-kekuatan aglomerasi dan

deaglomerasi. Kekuatankekuatan tersebut dapat menjelaskan terjadinya

konsentrasi dan dekonsentrasi atau dispersi kegiatan industri dan kegiatan-

kegiatan lainnya. Manfaat-manfaat yang ditinbulkan oleh kegietan-kegiatan di

atas dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, antara lain:


a. penghematan skala (scale economies), penghematan lokasi (localization

economies). dan penghematan urbanisasi (urbanization economies).


b. Penghematan skala (scale economies). Terdapat penghematan dalam

produksi secara internal bila skala produksinya ditingkatkan. Biaya tetap

yang besar sebagai akibat investasi dalam bentuk pabrik dan peralatan,

yang memungkinkan dilaksanakan pemanfaatan pabrik dan peralatan

tersebut dalam skala besar dapat membagi-bagi beban biaya-biaya tetap

pada berbagai unit terdapat dalam system produksi. Sebagai

konsekuensinya, unit biaya produksi menjadi lebih rendah sehingga dapat

bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain. Produksi pada skala besar

dimaksudkan untuk menghundari unit biaya operasi yang eksesif. Hal ini

dapat dipertanggungjawabkan hanya pada lokasi-lokasi yang melayani

penduduk dalam jumlah besar, atau dengan perkataan lain mempunyai

suatu pasar yang luas. Jadi dapat disimpulkan bahwa terjadinya

38
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

penghematan skala internal memberikan manfaat pada konsentrasi

penduduk dalam jumlah besar daripada jumlah penduduk yang sedikit,

industri dan kegiatan-kegiatan lainnya.


c. Penghematan lokalisasi (lokalization economies). Jenis kedua, kekuatan

yang terpenting konsentrasi industri diasosiasikan dengan penghematan

yang dinikmati oleh semua perusahaan dalam suatu industri yang sejenis

pada suatu lokasi tertentu. Hal ini disebabkan karena bertambahnya

jumlah keluaran (total output) industri tersebut. Sebagai ilustrasi dapat

dikemukakan mengenai pabrik tekstil. Kasus disuatu wilayah yang belum

berkembang, dimana terdapat kelayakan untuk mendirikan pabrik-pabrik

modern ukuran kecil yang tidak membutuhkan investasi modal yang

eksesif dan dapat beroperasi tanpa dilayani oleh tenaga kerja yang

memiliki keterampilan yang tinggi dan spesialistis. Berkelompok dan

terkonsentrasinya pabrik-pabrik sejenis pada suatu daerah geografis

tertentu, misalnya di daerah-daerah perkotaan, akan menciptakan

penghematan lokalisasi dan akan meningkatkan pertumbuhan kota-kota

tersebut.
d. Penghematan urbanisasi (urbanization economies). Penghematan

urbanisasi diasosiasikan dengan pertambahan jumlah total (penduduk,

hasil industri, pendapatan, dan kemakmuran) di suatu lokasi untuk semua

kegiatan yang dilakukan bersama-sama. Penghematan ini terkait pada

kegiatan-kegiatan industri-industri dan sektor-sektor secara agregatif.

39
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Keuntungan aglomerasi baru dapat muncul bilamana terdapat keterkaitan

yang erat antara kegiatan ekonomi yang ada pada konsentrasi tersebut baik

dalam bentuk keterkaitan dengan input (Backward Linkages) atau keterkaitan

output (Forward Linkages). Dengan adanya keterkaitan ini akan menimbulkan

berbagaibentuk keuntungan eksternal bagi para pengusaha, baik dalam bentuk

penghematan biaya produksi, ongkos angkut bahan baku, dan hasil produksi

serta penghematan biaya penggunaan fasilitas karena beban dapat ditanggung

bersama. Penghematan tersebut selanjutnya akan dapat menurunkan biaya

yang harus dikeluarkan oleh para pengusaha sehingga daya saingnya menjadi

semakin meningkat. Penurunan biaya inilah yang selanjutnya mendorong

terjadinya peningkatan efisiensi dan pertumbuhan ekonomi yang berada

dalam kawasan pusat pertumbuhan tersebut.


2. Teori Tempat Sentral (Central Place Theory)
Teori tempat sentral menjelaskan pola geografis dan struktur herarkis

pusatpusat kota atau wilayah-wilayah nodal, tetapi tidak menjelaskan

bagaimana pola georafis tersebut terjadi secara gradual dan bagaimana pola

tersebut mengalami perubahan-perubahan pada masa depan, atau dapat

dikatakan tidak menjelaskan gejala-gejala (fenomena) pembangunan. Dengan

demikian teori tersebut dapat dikatakan bersifat statis. Agar teori tempat

sentral mampu menjelaskan gejala gejala dinamis, maka perlu ditunjang oleh

teori-teori pertumbuhan wilayah. Salah satu diantaranya adalah teori Perroux

(kutub pertumbuhan) yang membahas perubahan-perubahan struktural pada

40
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

tata ruang geografis. Atau dapat dikatakan teori tempat sentral merupakan

dasar dari teori kutub pertumbuhan.


Teori tempat sentral sebagian brsifat positif karena berusaha

menjelaskan pola aktual arus pelayanan jasa, dan sebagian lagi bersifat

normatif karena berusaha menentukan pola optimal distribusi tempat-tempat

sentral.
Teori tempat sentral mempunyai kontribusi pada pemahaman

interrelasi spasial dan kota-kota sebagai sistem di dalam sistem perkotaan.

Teori tempat sentral tidak memberikan pejelasan secara lengkap mengenai

pertumbuhan kota karena teori tersebut diformulasikan berdasarkan

pembangunan daerah pertanian yang tersusun secara herarkis dan

berpenduduk merata. Dengan tumbuhnya kota-kota maka muncullah jasa-jasa

yang tidak berkanaan dengan pasar wilayah belakang. Sebagai contoh

kehidupan kota metropolitan dapat mencipakan kebutuhan-kebutuhan sendiri

(internal), misalnya peningkatan penyediaan fasilitas penyediaan air minum,

listrik, angkutan umum, demikian pula kebutuhan fasilitas parkir. Persoalan-

persoalan yang dihadapai dalam pertumbuhan kota ternyata tidak sesederhana

seperti persoalan pemasaran barang-barangdan jasa-jasa yang dihasilkan oleh

tempat sentral. Analisis tempat sentral menekankan pada peranan sector

perdagangan dan kegiatan-kegiatan jasa daripada kegiatan-kegiatan

manufaktur. Kegiatan manufaktur dianggap sebagai kegiatan produktif non

tempat sentral. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak kota-kota besar

dan kota-kota lainnya sering kali mengalami perluasan dalam hal lokasi

41
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

manufaktur karena kota-kota yang bersangkutan merupakan pasar tenaga

kerja yang luas dan pada umumnya memberikan keuntungan-keuntungan

aglomerasi, dimana perusahaan-perusahaan manufaktur lebih banyak

melayani pasar nasional daripada pasar-pasar regional. Model tempat sentral

ternyata tidak berhasil menjelaskan timbulnya kecendrungan yang kuat dalam

masyarakat mengenai pengelompokkan perusahaan-perusahaan karena

pertimbangan keuntungan-keuntungan aglomerasi dan ketergantungan.


3. Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole Theory)
Sebagaimana diketahui bahwa potensi dan kemampuan masing-

masing wilayah berbeda-beda satu sama lainnya, demikian pula masalah

pokok yang dihadapinya tidak sama. Sehingga usaha-usaha pembangunan

sektoral yang akan dilaksanakan harus disinkronisasikan dengan usaha-usaha

pembangunan regional. Hirschman mengatakan bahwa untuk mencapai

tingkat pendapatan yang lebih tinggi, terdapat keharusan untuk membangun

sebuah atau beberapa buah pusat kekuatan ekonomi dalam wilayah suatu

negara, atau yang disebut sebagai pusat-pusat pertumbuhan (growth point atau

growth pole).
Terdapat elemen yang sangat menentukan dalam konsep kutub

pertumbuhan, yaitu pengaruh yang tidak dapat dielakkan dari suatu unit

ekonomi terhadap unit-unit ekonomi lainnya. Pengaruh tersebut semata adalah

dominasi ekonomi yang terlepas dari pengaruh tata ruang geografis dan

dimensi ekonomi yang terlepas dari pengaruh tata ruang geografis dan

dimensi tata ruang (geographic space and space dimension. Proses

42
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

pertumbuhan adalah konsisten dengan teori tata ruang ekonomi (economic

space theory), dimana industri pendorong (propulsive industries atau

industries motrice) dianggap sebagai titik awal dan merupakan elemen

esensial untuk pembangunan selanjutnya. Nampaknya Perroux lebih

menekankan pada aspek pemusatan pertumbuhan (Adisasmita, 2005).

Hirschman berdalil bahwa pertumbuhan awalnya terbatas pada wilayah-

wilayah yang disukai, meskipun ketimpangan menyebar berdasarkan letak

geografis, meliputi terpencil dan pertumbuhan ini terjadi melalui dampak

hubungan dengan kutub-kutub pertumbuhan.


Teori kutub pertumbuhan menyajikan dua fungsi baik fungsi idiologi

maupun fungsi politik. Di dalam suatu arti idiologis dan pada suatu tingkat

teoritis yang tidak dapat diambil melalui pertanyaan-pertanyaan social yang

lebih mendalam. Teori kutub pertumbuhan bersandar terhadap mekanisme

harga sebagai faktor penengah dan retribusi sumberdaya. Perroux menetapkan

bahwa sektor-sektor pertumbuhan didefinisikan dengan hubungan-hubungan

ekonomi dengan unit-unit lain di dalam ekonomi. Asumsi Perroux adalah

tujuan sosial dari perkembangan wilayah yang dimanfaatkan oleh agen-agen

yang ingin memperoleh keuntungan pribadi. Mengikuti pendapat Perroux,

Boudeville mendefenisikan kutub pertumbuhan wilayah sebagai seperangkat

industri sedang berkembang yangberlokasi di suatu daerah perkotaan dan

mendorong lebih lanjut perkembangan ekonomi melalui wilayah pengaruhnya

(localized development pole).

43
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Teori Boudeville dapat dianggap sebagai pelengkap terhadap teori

tempat sentral yang diformulasikan oleh Chirstaller dan kemudian diperluas

oleh Losch. Boudeville mengemukakan aspek kutub fungsional dan

memberikan pula perhatian pada aspek geografis (Piche, 1982).


4. Teori Konvergen (Convergence Theory)
Bila proses pembangunan terus berlanjut, dengan semakin baiknya

prasarana dan fasilitas komunikasi, maka mobilitas modal dan tenaga kerja

tersebut akan semakin lancar. Teori Konvergen dapat terjadi jika negara yang

bersangkutan telah maju, maka ketimpangan pembangunan regional akan

berkurang (Convergence).
Dari pandangan neo-klasik, ketimpangan wilayah dapat dihubungan

dengan faktor ketidaksempurnaan pasar dan sifat kelambanan proses

pembangunan. Menyamaratakan faktor harga antara wilayah dalam suatu

wilayah melalui integrasi akan meningkatkan faktor mobilitas sehingga

dengan demikian akan ada pencapaian keseimbangan atau pola pertumbuhan

wilayah konvergen. Hal tersebut juga ditanggapi rendahnya pendapatan

wilayah akan meningkatkan para pekerja melalui migrasi, sehingga menarik

investor dengan biaya pekerja yang rendah. Teori konvergen akan terus

berlanjut sampai para pekerja dan penghasilan seimbang. Karena wilayah

yang produktivitas dan tingkat pendapatan per kapita yang lebih tinggi

kedepannya akan lebih sulit menghitung hasil pengurangnya. Akibatnya,

untuk dapat menyeimbangkan perekonomian dapat dilakukan jika

perekonomian berada pada posisi yang lemah.

44
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Teori harga Factor Price Equalization (FPE) sudah menjadi dasar

pemikiran yang kuat dalam perdagangan bebas internasional sejak Heckscher

berpendapat bahwa pada kondisi tertentu membuka perdagangan yang akan

menyamakan hasil- terhadap kesamaan faktor-faktor pada negara-negara lain,

dan Ohlin pada awal abad ini, dan disempurnakan oleh Paul Samuelson

menyempurnakan secara matematis.


Dalam analisa integrasi perekonomian dunia, beberapa ahli seperti

Porter dan Krugman mulai melihat pentingnya jarak geografis. Bertil Ohlin

membuat asumsi bahwa dua faktor produksi merupakan hal yang penting di

setiap negara, yang sebahagian faktor tersebut merupakan hal yang tidak

penting pada beberapa negara. Komoditas bergerak dengan baik di

perdagangan internasional, tanpa didukung pajak atau biaya transportasi.


Dari pandangannya, perdagangan bebas telah cukup mampu

menggantikan mobilitas internasional sehingga pergerakan terhadap

perdagangan bebas akan menyebabkan harga pada negara negara menjadi

sama. Dan jika kedua negara melanjutkan untuk menghasilkan barang-barang

pada perdagangan bebas, faktor harganya sebenarnya akan menjadi sama

tanpa pergerakkan. Kesamaan faktor harga ini (FPE) dibuktikan secara

matematis oleh Samuelson. Teori konvergen masih digunakan sebagai model

dalam literatur teori pertumbuhan, yang menyatakan bahwa liberalisasi dalam

asas dasar dapat meningkatkan proses konvergen melalui wilayah (Hwang,

1996).
5. Teori Divergen (Divergence theory)

45
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Divergence terjadi pada saat modal dan tenaga kerja ahli cenderung

terkonsentrasi di daerah yang lebih maju sehingga ketimpangan pembangunan

regional cenderung melebar. Ketimpangan wilayah yang tinggi menyebabkan

pengangguran atau tingkat pendapatan yang cenderung menurun pada

sebahagian masyarakat. Untuk mengatasi ini diperlukan campur tangan

pemerintah untuk membuat kebijakan yang akan mengurangi ketimpangan

wilayah (Jeong, 1995). Bila wilayah miskin mampu untuk menaikkan

pendapatan per kapita masyarakat secara terus menerus, maka ketimpangan

wilayah dapat dipersempit secara perlahan (Dapeng, 1998). Ada tiga strategi

dasar dimana para pembuat kebijakan bisa membantu variasi basis ekonomi

wilayah. Masing-masing strategi ini memiliki tingkat risiko berbeda, antara

lain:
a. Jangkauan industri melibatkan perluasan hubungan ke depan dan ke

belakang untuk menambah rangkaian nilai wilayah;


b. Pengaruh industri melibatkankan kolaborasi industri dengan sektor

perindustrian lain di mana ada kemungkinan besar sinergi bisnis

berdasarkan potensi pengembangan wilayah di wilayah yang belum

pernah di sentuh (white space); serta


c. Jangkauan dan pengaruh industri melibatkan kombinasi satu industri atau

lebih dalam penambahan nilai dan pengembangan wilayah yang belum

pernah disentuh (white space development).


6. Pendapatan
Secara lengkap terdapat empat pelaku ekonomi yakni sektor rumah

tangga, sektor perusahaan (swasta), sektor pemerintah (publik), dan sektor

46
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

luar negeri Aliran tersebut menggambarkan aliran pendapatan dari sektor

perusahaan kearah sektor rumah tangga sebagai akibat dari penggunaan

faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.

Aliran itu meliputi;


a. gaji dan upah, yang merupakan pendapatan tenaga kerja,
b. sewa yang merupakan pendapatan dari tanah dan bangunan,
c. bunga, yang merupakan pendapatan dari modal dan
d. keuntungan yang merupakan pendapatan pemilik perusahaan. Sebagian

dari pendapatan ini tidak diterima oleh rumah tangga. Keuntungan

perusahaan harus membayar pajak keuntungan, sedangkan pendapatan

rumah tangga yang lain harus membayar pajak perseorangan. Setelah

dikurangi pajak, pendapatan rumah tangga akan digunakan untuk

membiayai beberapa kegiatan pembelanjaan aatau ditabung. Yang paling

penting untuk membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya.

Sisa pendapatan rumah tangga, yaitu setelah dikurangi pajak, pengeluaran

untuk konsumsi dan pengeluaran untuk membeli barang impor akan

ditabung di lembaga keuangan, yang kemudian lembaga keuangan akan

meminjamkan dana yang didapat dari tabungan rumah tangga kepada

penanam modal.
Menurut Sukirno (2007) untuk menghitung nilai barang-barang dan

jasa-jasa yang diciptakan oleh sesuatu perekonomian tiga cara penghitungan

dapat digunakan, yaitu:


a. Cara pengeluaran. Dengan cara ini pendapatan nasional dihitung dengan

menjumlahkan nilai pengeluaran/perbelanjaan ke atas barang-barang dan

jasa yang diproduksikan di dalam negara tersebut.

47
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

b. Cara produksi atau produk neto. Dengan cara ini pendapatan nasional

dihitung dengan menjumlahkan nilai produksi barang dan jasa yang

diwujudkan oleh berbagai sektor (lapangan usaha) dalam perekonomian.


c. Cara pendapatan. Dalam penghitungan ini pendapatan nasional

diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh

faktor-faktor produksi yang digunakan untuk mewujudkan pendapatan

nasional.
Di dalam penghitungan pendapatan nasional digunakan istilah

pendapatan, yang dimaksud adalah pendapatan pribadi dan pendapatan

disposebel. Pendapatan pribadi dapat diartikan sebagai semua jenis

pendapatan, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan sesuatu

kegiatan apa pun, yang diterima oleh penduduk sesuatu negara. Pendapatan

disposebel adalah pendapatan pribadi dikurangi oleh pajak yang harus dibayar

oleh para penerima pendapatan. Dengan demikian hakikatnya pendapatan

disposebel adalah pendapatan yang dapat digunakan oleh para penerimanya,

yaitu rumah tangga yang ada dalam perekonomian, untuk membeli barang-

barang dan jasa-jasa yang mereka ingini.


Tetapi biasanya tidak semua pendapatan disposebel itu digunakan

untuk tujuan konsumsi, sebagian darinya ditabung dan sebagian lainnya

digunakan untuk membayar bunga, untuk pinjaman yang digunakan untuk

membeli barang-barang secara menyicil. Untuk memudahkan mengingat

hubungan di antara (i) pendapatan disposebel (Yd) dan pendapatan pribadi

48
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

(Yp), dan (ii) pendapatan disposebel (Yd) dengan konsumsi dan tabungan, di

bawah ini dinyatakan formula (rumus) dari hubungan tersebut :


(i) Yd = Yp - T
(ii) Yd = C + S
Pendapatan Nasional merupakan gabungan dari pendapatan wilayah

wilayayang ada dilingkup perekonomian naisional. Peningkatan

perekonomian wilayah berimplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi Nasional.

Untuk itu diperlukan pembangunan disetiap wilayah guna menunjang

perekonomian nasional.

F. Metode Proyeksi Penduduk


Penduduk adalah faktor yang sangat penting untuk diperhatikan dalam

perencanaan wilayah. Di Indonesia sumber data tentang penduduk yang paling

dipercaya adalah hasil sensus yang dilakukan setiap 10 tahun sekali yang

dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Selain itu, BPS juga melakukan

perhitungan jumlah penduduk pada pertengahan antara dua sensus. Jumlah

penduduk misalnya, adalah faktor utama untuk menentukan banyaknya kebutuhan

sarana dan prasarana yang perlu dibangun di suatu wilayah. Di dalam konteks

wilayah maka perencanaan adalah melihat ke depan untuk suatu kurun waktu

tertentu, misalnya 1 Tahun, 5 Tahun, 10 Tahun atau 20 Tahun ke depan.


Metode proyeksi penduduk dapat dibagi atas proyeksi secara global, proyeksi

secara kategori, dan proyeksi menurut lokasi (distribusi menurut lokasi). Proyeksi

secara global tidak membuat kategori atas penduduk yang diproyeksikan. Jadi,

semua penduduk dianggap memiliki karakteristik yang sama. Dalam hal ini yang

diproyeksikan hanya jumlahnya saja. Proyeksi secara kategori adalah membagi

49
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

penduduk atas berbagai kategori atau cohort atau gabungan dari keduanya.

Kategorinya, misalnya berupa jenis kelamin, status perkawinan, suku, tingkat

pendapatan, dan lainnya. Chorot (teman sebaya) berupa kelompok umur.

Sedangkan proyesi secara lokasi adalah mendistribusikan angka proyeksi total

kepada berbagai sub-wilayah/lokasi. Ada beberapa metode proyeksi penduduk,

yaitu:

1. Metode Ekstrapolasi/Trend
Metode ekstrapolasi adalah melihat kecenderungan pertumbuhan

penduduk di masa lalu dan melanjutkan kecenderungan tersebut untuk masa

yang akan datang sebagai proyeksi. Metode ekstrapolasi mengasumsikan laju

pertumbuhan penduduk masa lalu akan berlanjut di masa yang akan datang.

Metode ini dapat dibagi dua, yaitu teknik grafik dan metode trend.
Metode yang paling mudah dalam ekstrapolasi adalah dengan teknik grafik.

Teknik grafik, perkembangan penduduk di masa lampau digambarkan dalam

suatu grafik susunan koordinat salib. Jumlah penduduk untuk setiap kurun

waktu (misalnya per tahun) dinyatakan dalam sebuah titik pada bidang

koordinat salib. Susunan titik-titik tersebut dapat dipandang sebagai suatu

garis (lurus atau lengkung) dan arah garis tersebut diteruskan ke masa yang

akan datang sebagai poyeksi. Teknik grafik ini sebetulnya tidak untuk

meramalkan jumlah penduduk melainkan hanya melihat arah

kecenderungannya saja.
Walaupun kelihatan rumit tetapi dengan bantuan kalkulator hal ini

mudah dihitung. Untuk menghilangkan r masa lalu, Pt, Po, dan n adalah

50
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

diketahui, yang tidak diketahui hanya r. langkahnya adalah dihitung Pt/Po,

kemudian dicari log-nya. Hasil bagi log dibagi dengan n, kemudian

diantilogkan dan hasilnya dikurangi dengan satu.


Hal yang yang perlu diperhatikan dalam penggunaan rumus Pn=Po(1

+ r)n adalah bahwa besarnya r hanya ditentukan oleh angka awal dan angka

akhir jauh menyimpang dari tahun t ahun lainnya, perlu diadakan

penyesuaian atau angka ekstrem itu tidak dipakai. Apabila angka awal dan

atau angka akhir ekstrem dan tidak ada penyesuaian, hasil penggunaan rumus

ini akan menyesatkan.


2. Metode Regresi
Dalam metode regresi, jumlah penduduk dianggap variabel dependen

yang dikaitkan dengan Variabel independen lain berdasarkan pengalaman

empiris. Variabel independen hanya terdiri dari satu variabel (simple

regression) atau lebih dari satu variabel (multiple regression). Bentuk garis

regresi dapat berupa linear (garisu lurus) dan kurva linear (garis lengkung).

Kurva linear yang umum dipakai dapat berbentuk eksponential, gompertz, dan

logistik.
Gambar 2.6 Kurva linear dalam metode regresi

a. Metode Regresi Linear


Metode regresi linear adalah penghalusan dari metode ekstrapolasi garis

lurus. Metode regresi linear pada prinsipnya adalah suatu metode untuk

memprediksi/meramalkan suatu keadaan variabel respon berdasarkan

51
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

beberapa variabel bebas yang mempengaruhinya. Dalam metode regresi

kita mencari garis lurus yang jaraknya paling minimum dari titik-titik

yang ada pada bidang koordinat.


Di dalam pengolahan regresi kedua variabel (variabel x dan variabel y)

harus memiliki hubungan/berkolerasi. Dua kejadian yang berhubungan,

apabila diukur kuat tidaknya hubungan tersebut, maka kejadiaan tersebut

harus dinyatakan dalam nilai variabel. Koefisien determinasi biasanya

disimbolkan dengan R2, dan biasanya digunakan untuk ukuran kecocokan

dari hasil analisa penelitan. Makin besar nilai R2 maka semakin tepat

suatu garis linier dipergunakan sebagai suatu pendekatan. Apabila nilai R2

sama dengan 1 (satu) maka pendekatan itu betul be tul tepat (sempurna).
Hubungan x dan y dikatakan positif kalau pada umumnya kenaikan

(penurunan) x mengakibatkan kenaikan (penurunan) y. hubungan x dan y

dikatakan negatif kalau pada umumnya kenaikan (penurunan) x

mengakibatkan penurunan (kenaikan) y. hubungan x dan y lemah sekali

atau tak ada hubungan kalau kenaikan x tidak diikuti oleh kenaikan atau

penurunan y.
Untuk mempermudah perhitungan, tahun dasar ditetapkan tahun yang

berada di tengah dan diberi angka nol, sedangkan untuk pengamatan yang

genap maka ada dua pengamatan yang berada di tengah yang masing-

masing diberi nilai -1/2 dan 1/2 apa bila jumlah pengamatan ganjil dan

tahun yang tengah dijadikan 0 berarti tahun dasar adalah pertengahan

tahun yang bersangkutan, apabila pengamatan genap dan tahun yang

52
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

ditengah diberikan nilai nilai -1 2dan 1 2 maka tahun dasar adalah berada

pada akhir tahun atau awal tahun berikutnya.


b. Metode Regresi Kurva Linear Sederhana
Metode ini membuat asumsi bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti

persamaan sebagai berikut :


Artinya, pertumbuhan penduduk mengikuti suatu garis lengkung,

mengingat variabel yang dilibatkannya hanya dua, nama lengkap metode

ini adalah simple curva linier regression.


Agar persamaan ini dapat menggunakan metode least squares maka

persamaan itu diubah menjadi garis lurus dengan menggunakan log atau

Ln.
Maka persamaan di atas akan menjadi Y = a + bX, yaitu persamaan regresi

linear sehingga rumus untuk menghitung a dan b dalam regresi linier dapat

diterapkan. Tujuan menggunakan log tersebut adalah agar dalam grafik

(scatter diagram), hubungan itu kelihatan linear. Di dalam rumus

pertumbuhan penduduk, biasanya tahun (variabel X) sudah bersifat linear

sehingga tida perlu dilogkan, hanya variabel Y (jumlah penduduk) yang y

dilogkan/diLnkan. Kalau garisnya sangat lengkung digunakan log, kalau

tidak terlalu lengkung digunakan Ln.


Penggunaan metode multiple regression apabila variabel independennya

lebih dari satu, misalnya pertambahan penduduk dikaitkan dengan

banyaknya lapangan kerja yang tersedia dan kapasitas dari berbagai

fasilitas pelayanan. Dalam proyeksi, variabel independennya

diproyeksikan terlebih dahulu, kemudian jumlah penduduk diproyeksikan

dengan memasukkan angka proyeksi variabel independen ke dalam rumus.

53
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

G. Standar Pelayanan Minimum


1. Sarana Perkantoran
Analisis kebutuhan sarana pelayanan umum guna pelayanan kepada

masyarakat secara makro, seperti kantor administrasi, kantor pos, telepon

umum, balai pertemuan, MCK dan parkir umum. Sesuai dengan fungsi kota

dan kebutuhan perkembangan penduduk kota, maka sarana yang dibutuhkan

diasumsikan memenuhi standarisasi penyediaan sarana pemerintahan dan

pelayanan umum seperti pada Tabel 2.1 berikut :


Tabel 2.1 Standar Pelayanan Minimun Sarana Perkantoran
Jumlah
Sarana Pemerintahan Dan
No. Penduduk Luas Lahan
Pelayanan Umum
Pendukung
1 Parkiran Umum + MCK 2.500 jiwa 200 m2
2 Balai Pertanian 2.500 jiwa 600 m2
3 Kantor Camat - 2.000 m2
4 Kantor Lurah - 1.000 m2
5 Kantor Pos Pembantu - 200 m2
6 Pos Polisi - 400 m2
7 Kantor Koramil - 400 m2
Sumber : Kepmen Kimpraswil No.534/KPTS/M/2005

2. Sarana Pendidikan
Pendidikan formal mempunyai beberapa tingkatan/jenjang yaitu TK, SD,

SMP, dan SMA. Rencana kebutuhan fasilitas pendidikan maupun fasilitas sosial

ekonomi lainnya didasarkan pada standar perencanaan kebutuhan sarana kota,

dengan standar luasan yang berpedoman pada standar-standar seperti pada Tabel

2.2 berikut :
Tabel 2.2 Standar Pelayanan Minimun Sarana Pendidikan

54
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Sarana Penduduk Luas


No Daya Tampung
Pendidikan Pendukung Lahan
2 ruang kelas (jumlah murid)
1 TK 1.000 250 m2 kelas adalah 40 jiwa)
6 ruang kelas (jumlah murid
2 SD 1.600 2000 m tiap kelas adalah 40
2

murid/kelas)
Pengalokasian dikelompokkan
2 dengan taman dan lapangan
3 SMP 4.800 9000 m olahraga. Standar jumlah
murid adalah 40 murid/kelas.
30 murid/ruang kelas dengan
pengembangan sesuai kondisi
4 SMA 4.800 12.500 m alam dan ketersediaan lahan
2

ditambah taman dan lapagan


olahraga.
Sumber : Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2005

3. Sarana Kesehatan
Kualitas sumberdaya manusia juga akan ditentukan oleh tingkat

kesehatan penduduk yang harus ditunjang dengan penyediaan sarana

kesehatan untuk pelayanan pada penduduk. Oleh karena itu penyediaan sarana

kesehatan di kawasan perencanaan perlu mendapat prioritas tersendiri

mengingat betapa pentingnya ketersediaan infrastuktur ini. Adapun

standarisasi jenis-jenis sarana kesehatan dari segi jumlah penduduk dan luas

lahan yakni dapat dilihat pada Tabel 2.3 sebagai berikut :


Tabel 2.3 Standar Pelayanan Minimun Sarana Kesehatan
Penduduk
Sarana Radius
No. Pendukung Luas Lahan
Kesehatan Pencapaian
(Jiwa)
1 Pustu 6.000 50 m2 1.500 m2
Tempat Praktek
2 5.000 500 m2 1.500 m2
Dokter
3 Posyandu 750 1.500 m2 2.000 m2
4 Balai Pengobatan 3.000 300 m2 -
5 BKIA/RS Bersalin 10.000 6.500 m2 2.000 m2

55
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

6 Puskesmas 30.000 6.500 m2 2.000 m2


7 Rumah Sakit 240.000 84.400 m2 -
8 Apotek 10.000 - 1.500 m2
Sumber : Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2005
4. Sarana Peribadatan
Kebutuhan sarana peribadatan di kawasan perencanaan disesuaikan

dengan jumlah penduduk pemeluk agama yang ada. Berdasarkan data jumlah

penduduk menurut agama di kawasan perencanaan menunjukkan bahwa

sekitar 98,6 % memeluk agama Islam dan selebihnya beragama Kristen dan

Hindu (1,4 %). Hal ini berarti penyediaan sarana peribadatan bagi pemeluk

agama islam lebih diprioritaskan, yang berupa masjid dan mushollah dengan

standar pada Tabel 2.4 berikut :

Tabel 2.4 Standar Pelayanan Minimun Sarana Peribadatan


No Sarana peribadatan Jumlah penduduk pendukung Luas lahan
1 Mesjid 5.000 jiwa 3.500 m2
2 Musollah/langgar 2.500 jiwa 600m2
Sumber : Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2005
5. Sarana Perdagangan
Dalam prospek perencanaan, perkembangan suatu kota ditentukan

oleh tingkat pertumbuhan ekonomi kota dan tingkat perkembangan ekonomi

itu sendiri dapat diketahui dengan melihat ketersediaan sarana ekonomi untuk

melayani kebutuhan penduduk sebagai pelaku kegiatan ekonomi. Fasilitas

perekonomian yang dimaksud disini adalah fasilitas pelayanan kegiatan

perbelanjaan seharihari. Dalam kaitannya dengan kawasan perencanaan pada

masa datang, dapat dialokasikan jenis-jenis fasilitas perdagangan berdasarkan

56
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

kriteria standar menurut pengelompokan distribusi penduduk. Untuk lebih

jelasnya standar pelayanan minimun dapat dilihat pada Tabel 2.5 berikut :
Tabel 2.5 Standar Pelayanan Minimun Sarana Perdagangan
No Sarana perdagangan Jumlah penduduk pendukung Luas lahan
2
1 Pertokoan 2.5000 jiwa 2.400 m
2 Warung/kios 250 -
Sumber : Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2005
6. Sarana Olahraga dan Ruang Terbuka
Sarana olahraga dan ruang terbuka adalah semua bangunan dan taman

yang digunakan untuk kegiatan olah raga dan rekreasi, sarana ini merupakan

sarana yang cukup penting mengingat fungsinya dalam 12 mengurangi

kepadatan kawasan permukiman. Sarana ini terdiri dari lapangan olah raga,

tempat bermain dan jalur hijau. Lokasi sarana ini umumnya terletak di tengah-

tengah lingkungan permukiman terutama untuk taman. Menurut standar

perencanaan lingkungan permukiman kota, kebutuhan sarana olah raga dan

ruang terbuka kawasan perencanaan dapat dilihat pada Tabel 2.6 berikut :
Tabel 2.6 Standar Pelayanan Minimun Sarana Olahraga dan Ruang Terbuka
No Sarana olahraga dan RTH Jumlah penduduk Luas lahan
1 Taman 250 jiwa 500 m2
2 Taman tempat bermain 2.500 jiwa 2.500 m2
3 Lapangan olahraga - 18.000 m2
Sumber : Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2005
7. Prasarana Jalan
Berdasarkan UU No.13 Tahun 1980 tentang jalan, jaringan jalan di

dalam lingkup sistem kegiatan kota mempunyai peranan untuk mengikat dan

menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam

57
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

pengaruh pelayanannya di dalam suatu hubungan hierarki (UU No.13 Tahun

1980, Pasal 2 Ayat 3).


a. Jaringan Jalan Kolektor
Karakter dari jaringan jalan kolektor adalah jalan yang berfungsi

sebagai pengumpul lalu lintas dari jaringan jalan lokal untuk disalurkan ke

jaringan jalan arteri. Dengan kata lain jaringan jalan ini akan merupakan

penghubung jalan arteri dengan jalan lokal.Selain itu jalan yang

memotong jaringan jalan ini sedapat mungkin dibatasi oleh kendaraan

yang melintasinya.Jalan ini direkomendasikan berkecepatan lebih rendah

dari kecepatan kendaraan pada jalan arteri.

b. Jaringan Jalan Lokal


Jaringan jalan lokal adalah jalan yang berfungsi menampung lalu lintas

dari jalan tertentu yang terlayani oleh jalan lingkungan,dan selanjutnya

akan disalurkan ke jaringan jalan kolektor. Adapun karakter dari jalan

lokal adalah jarak perjalanannya atau identik dengan panjang jalan ini

relatif pendek dan jalan memotongnya (dapat saja berupa gank/lorong)

tidak dibatasi. selain itu direkomendasikan lebih mudah dari ketentuan

yang diberlakukan pada jaringan jalan kolektor maupun arteri.


Untuk hierarki jaringan jalan dapat diklasifikasikan berdasarkan pada

kecepatan kendaraan, lebar jalan dan garis sempadan jalan, yang dapat dilihat

pada Tabel berikut ini :


Tabel 2.5 Standar Pelayanan Minimum Prasarana Jalan
Standar Pelayanan Minimum Batas Tahun
No. Jenis Pelayanan Dasar
Indikator Nilai Pencapaian

58
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

1 Jalan Jaringan Aksesibilitas Tersedianya jalan yang


menghubungkan pusat-
100% 2014
pusat kegiatan dalam
wilayahkabupaten/kota
Mobilitas Tersedianya jalan yang
memudahkan masyarakat
100% 2014
perindividu melakukan
perjalanan.
Keselamatan Tersedianya jalan yang
menjamin pengguna jalan
60% 2014
berkendara dengan
selamat.
Ruas Kondisi Tersedianya jalan yang
Jalan menjamin kendaraan
60% 2014
dapat berjalan dengan
selamat dan nyaman
Kecepatan Tersedianya jalan yang
menjamin perjalanan
dapat dilakukan sesuai 60% 2014
dengan kecepatan
rencana.
Sumber : Permen Pu No.14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimum
(SPM) Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Tabel 2.6 Jalan Berdasarkan Kecepatan Kendaraan, Lebar dan GSJ


Kecepatan Lebar Badan GSJ terhadap
No Hierarki Jalan
Kendaraan Jalan bangunan
1. Arteri Primer 60 km/jam 8m 22 m

2. Arteri sekunder 30 km/jam 8m 20 m


3. Kolektor Primer 40 km/jam 7m 17 m
4. Kolektor Sekunder 20 km/jam 7m 7m
5. Lokal Primer 20 km/jam 6m 12 m
6. Lokal Sekunder 10 km/jam 6m 4m
Sumber : Standar Nasional Indonesia Tahun 2004
Tabel 2.7 Konsep Besaran Ruang Jalan Sesuai Klasifikasinya

59
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Garis Sempadan
No. Jenis Jalan Row
Perumahan Komersil
1. Kolektor Primer 25 m 10,5 m 17,5 m
2. Kolektor Sekunder 20 m 10,5 m 15,5 m
3. Lokal Primer 15 m 8m 10 m
4. Lokal Sekunder 8m 4m 6m
Sumber: Kamus Tata Ruang oleh Dr.Ir,.Sujana Royal

8. Prasarana Air Bersih


Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Perkantoran dan Industri. Pengertian air bersih adalah air yang digunakan

untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan

air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan

dapat diminum apabila dimasak. Kriteria yang umum digunakan untuk

menghitung kebutuhan jumlah pipa adalah :


a. Pipa Primer 4-5 m/sambungan
b. Pipa Sekunder 6-8 m/sambungan
c. Pipa Tersier 9-12 m/sambungan
Standar hidrant dan sarana pemadam kebakaran pada umumnya dalam

satu kilometer pipa distribusi terdapat 4-5 buah hidrant. Ketentuan dalam

penempatan hidrant yaitu:


1) satu kran umum disediakan untuk jumlah pemakai 250 jiwa;
2) radius pelayanan maksimum 100 meter;
3) kapasitas minimum untuk kran umum adalah 30 liter/orang/hari;
4) Penyediaan hidran kebakaran
5) untuk daerah komersial jarak antara kran kebakaran 100 meter;
6) untuk daerah perumahan jarak antara kran maksimum 200 meter;

60
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

7) jarak dengan tepi jalan minimum 3.00 meter;


8) Sebaiknya hidrant diletakkan pada jarak 60-180 cm dari tepi jalan
9) Hidrant diletakkan 1 meter dari bangunan permanen

Tabel 2.8 Standar Pelayanan Minimal Air Minum


Standar Pelayanan Batas
No. Jenis Pelayanan Dasar Minimum Tahun
Indikator Nilai Pencapaian
1. Air Clutser Tersedianya akses air
Pelayanan minum yang aman 40%
Minum
Sangat Buruk melalui Sistem
Penyediaan Air Minum
Buruk dengan jaringan 50%
perpipaan dan bukan 2014
Sedang jaringan perpipaan 70%
dengan kebutuhan pokok
Baik 80%
minimal 60
Sangat Baik liter/orang/hari 100%
Sumber : Permen Pu No.14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimum
(SPM) Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Tabel 2.9
Standar Pelayanan Air Bersih
Distribusi Setiap Jenis Kota
Uraian Satuan
Kecil Sedang Besar Metro
Kepadatan Jiwa/Ha 100 200 300 400
Sisa Tekan Minimal di pel m 8 8 10 10
Kebocoran air % 20 20 20 20
Pelayanan domestik % 90 85 80 70
Rasio pelayanan SL % 90 90 90 90
Rasio Pelayanan HU/TA % 10 10 10 10
Pelayanan Per SL Jiwa/SL 5 5 6 6
Konsumsi SL Ltr/jiwa 100 125 150 200
Pelayanan Per HU/TA Jiwa/Hu 50 50 50 50
Konsumsi Hidrant Umum Ltr/jiwa 30 30 30 30
Pelayanan Non Domestik % 10 10 10 10
Konsumsi Non Domestik Ltr/unit 2000 2000 2000 2000
Kemiringan Lahan - Datar Datar Datar Datar
Sumber : Standar Nasional Indonesia Tahun 2004

61
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Air bersih memegang peranan penting sebagai kebutuhan pokok dan

utama penghidupan dan kehidupan penduduk di kawasan perencanaan.

Beberapa sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh penduduk kawasan

perencanaan bersumber dari air permukaan (sungai) dan dari mata air

pegunungan yang dikelola oleh PDAM dan masyarakat. Sasaran rencana

kebutuhan air bersih dikategorikan berdasarkan jumlah kebutuhan penduduk

pendukung dan kebutuhan aktivitas perkotaan. Standarisasi kebutuhan air

bersih berdasarkan petunjuk pedoman tersebut di atas termasuk sasaran

penggunaanya, antara lain dapat dilihat pada Tabel 2.10 berikut :


Tabel 2.10 Standar Kebutuhan Air Bersih
No Fasilitas Kebutuhan
1 Perumahan 60 liter/orang/hari
2 Pendidikan STK 10 liter/orang/hari
SD 10 liter/orang/hari
SLTP 10 liter/orang/hari
SLTA 10 liter/orang/hari
3 Kesehatan Toko Obat 30 liter/orang/hari
Tempat Praktek Dokter 300 liter/orang/hari
Posyandu membutuhkan 1.250 liter/unit/hari
Puskesmas membutuhkan 10.000/liter/unit/hari
4 Olahraga dan Masing masing membutuhkan 1000liter/Ha/Hari
Ruang Terbuka
5 Perekonomian Pasar membutuhkan 10000 liter/unit/hari
Warung membutuhkan 250 liter/unit/hari
Pertokoan membutuhkan 1.000 liter/unit/hari
4 Pelayanan Umum (kantor lingkungan, kantor pos, parkir umum
ditambah
MCK) 1000 liter/orang/hari
5 Peribadatan Mesjid 3.500 liter/orang/hari
Mushallah 2.000 liter/orang/hari
Sumber: Standar Nasional Indonesia Tahun 2004

9. Prasarana Drainase

62
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Berdasarkan status pengalirannya, sistem drainase dapat dirinci sebagai

berikut :
a. Drainase primer adalah drainase utama yang berfungsi sebagai daerah

tumpahan Drainase sekunder adalah wadah pengaliran dari drainase tersier

sebelum ke drainase primer berupa anak-anak sungai dari drainase primer.


b. Drainase tersier adalah wadah yang umumnya merupakan saluran

pembuangan limbah rumah tangga yang berada di lingkungan pemukiman

maupun perkotaan.
Jaringan primer dan sekunder drainase harus mempunyai kapasitas

tampung yang cukup untuk menampung air yang mengalir dari area Kasiba

dan kawasan sekitarnya.


Saluran pembuangan air hujan dapat dibangun secara terbuka dengan

ketentuan sebagai berikut :


a. Dasar saluran terbuka lingkaran dengan diameter minimum 20 cm atau

berbentuk bulat telur ukuran minimum 20/30 cm;


b. Bahan saluran terbuat dari tanah liat, beton, pasangan batu bata dan atau

bahan lain;
c. Kemiringan saluran minimum 2 %;
d. Tidak boleh melebihi peil banjir di daerah tersebut;
e. Kedalaman saluran minimum 30 cm;
f. Apabila saluran dibuat tertutup, maka pada tiap perubahan arah harus

dilengkapi dengan lubang kontrol dan pada bagian saluran yang lurus

lubang kontrol harus ditempatkan pada jarak maksimum 50 (lima puluh)

meter;
g. Saluran tertutup dapat terbuat dari PVC, beton, tanah liat dan bahan-bahan

lain;

63
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

h. Untuk mengatasi terhambatnya saluran air karena endapan pasir/tanah

pada drainase terbuka dan tertutup perlu bak kontrol dengan jarak kurang

lebih 50 m dengan dimensi (0,40x 0,40x 0,40) m3;


i. Setiap kasiba perlu melestarikan dan menyediakan kolam-kolam retensi

dan sumur resapan pada titik-titik terendah;


j. Penggunaan pompa drainase merupakan upaya tambahan apabila ditemui

kesulitan untuk mengalirkan air secara gravitasi dan dapat juga digunakan

untuk membantu agar pengaliran air dalam saluran mengalir lebih cepat.
Adapun tahapan perencanaan jaringan primer dan sekunder drainase

meliputi :
a. Pengumpulan data topografi dan pemetaan yang terdiri dari pemetaan

topografi dan pemotretan dari udara atau satelit; membuat peta tematik

dengan ketelitian skala 1: 5000 yang mencakup kontur interval 5 meter

untuk perencanaan jaringan; membuat peta tematik dengan ketelitian skala

1:1.000 untuk perencanaan detail; membuat level ikat topografi

(benchmark) yaitu elevasi dasar kota yang dikaitkan dengan elevasi muka

air laut pasang atau pada sungai besar; menentukan garis kontur dengan

penyesuaian terhadap titik ikat elevasi berdasarkan elevasi sungai yang

ada guna perencanaan drainase perumahan;


b. Pengumpulan data hidrologi yang terdiri dari data yang mencakup

kedudukan muka air banjir terhadap elevasi lahan, serta data curah hujan

harian, bulanan dan tahunan;


c. Pengumpulan data geologi yang terdiri dari penyelidikan tanah untuk

mengetahui kemungkinan penurunan pondasi saluran dan kekuatan /

64
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

kondisi tanah dasar untuk mengetahui daya dukung lapisan tanah

tersebut.;
d. Pengumpulan data kualitas dan kuantitas genangan, luas, lama, tinggi dan

frekuensi genangan dalam setahun;


e. Pengumpulan data tentang kerugian dan kerusakan akibat genangan.
Dalam sistem penyediaan prasarana drainase perlu dibuat kolam retensi,

yaitu bangunan resapan buatan atau bangunan resapan alam yang berfungsi

untuk menampung air hujan dan kemudian meresap kedalam tanah atau

mengalir ke saluran drainase.


Dalam sistem penyediaan prasarana drainase perlu dibuat peil banjir

sebagai acuan bagi perencana dan pelaksana dalam pembangunan fisik agar

terbebas atau terhindar dari banjir dalam periode ulang tertentu.


Pada periode perencanaan sistem drainase perlu memperhatikan daerah

tangkapan air (catchment area) agar tidak terjadi kegagalan pada fungsi sistem

drainase.
Periode ulang desain yang harus direncanakan untuk Kasiba adalah seperti

tercantum pada Tabel Periode. Disain Makro dan Tabel Periode Disain Mikro

yang disajikan pada Lampiran 17 Peraturan Menteri Negara Perumahan

Rakyat ini.Pembangunan jaringan primer dan sekunder drainase harus

memperhatikan aspek hidrolis dan aspek struktur.


Aspek Hidrolis sebagaimana disebutkan pada ayat (1) mencakup

kecepatan maksimum dan minimum aliran dalam saluran, bentuk saluran, dan

bangunan pelengkap yang diperlukan.Aspek Struktur sebagaimana disebutkan

pada ayat (1) mencakup jenis dan mutu saluran, serta kekuatan dan kestabilan

bangunan.

65
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan drainase sesuai

ketentuan dan persyaratan yang diatur dalam peraturan/ perundangan yang

telah berlaku misalnya SNI 02-2406-1991 tentang tata cara perencanaan

umum drainase perkotaan yang memuat bagian dari jaringan drainase adalah:
Tabel 2.11 Standar Perencanaan Prasarana Drainase
Kerapatan Saluran (m/100 Ha)
Kemiringan Ket
No
Lahan Primer Sekunder Tersier Total
1 0-2 % 800 5100 14100 20000
Vmin 0,6 m/dt
2 2-5 % 600 4080 11280 15960
3 5-15 % 480 3060 8460 12000
Vmak 2.5m/dt
4 15-40 % 320 2040 5640 8000
Sumber : Standar Nasional Indonesia Tahun 2004
Tabel 2.12 Bagian Prasarana Drainase
Sarana Prasarana
Badan Sumber air di permukaan tanah (laut, sungai, danau)
Penerima Air Sumber air di bawah permukaan tanah (air tanah akifer)
Gorong-gorong
Pertemuan saluran
Bangunan terjunan
Jembatan
Street inlet
Pompa
Bangunan Bangunan pelengkap
Pelengkap Pintu air
Sumber :SNI 02-2406-1991, Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan

Tabel 2.13 Standar Pelayanan Minimal Jaringan Drainase


Standar Pelayanan Kualitas
Bidang
No.
Pelayanan Cakupan Tingkat Pelayanan

66
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

1. Drainase
Saluran primer/makro Tidak terjadi lagi
drainase untuk kawasan genangan banjir bila
strategis seperti terjadi genangan; tinggi
perdagangan, industri, genangan rata rata<30
permukiman, untuk cm, lama genangan <
penanganan>10 ha, 2jam.

Saluran sekunder untuk


penanganan genangan >10
Ha Frekwensi kejadian banjir <
Saluran Tersier, 2 kalisetahun
untukpenanganan
genangan <10 Ha.
Sumber : Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang
Penataan Ruang, Perumahan Dan Permukiman Dan Pekerjaan Umum
10. Prasarana Persampahan
Sampah mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu kota dengan

kota lainnya, tergantung dari sumber, tingkat sosial ekonomi penduduk dan

iklim (Suryanto, 1988).


Untuk untuk mengkuantitaskan jumlah sampah yang dihasilkan sangat sulit

maka digunakan standar umum yakni 2,9 liter/orang/hari. Sedangkan untuk

fasiltas perdagangan 10% dari jumlah timbunan sampah rumah tangga, dan

untuk pendidikan yaitu 1,15 liter perhari untuk tiap siswa, perkantoran yaitu

10% dari jumlah timbunan sampah pendidikan serta untuk sampah jalan yaitu

0,825 x panjang jalan.


Kuantitas sampah yang dihasilkan akan dikumpulkan ataupun dikelola

dengan menggunakan sarana dan prasarana, berupa penyediaan;


a. Gerobak 1 M2 untuk 200 KK.
b. Tempat pembuangan sementara (TPS) untuk 150 KK.
c. Kontainer sampah dengan volume 6 8 M 2 2.000 KK.
Tabel 2.14 Sistem Penanganan Persampahan
No. Jenis Fasilitas Kebutuhan Jumlah Standar Keterangan
Persampahan Min Max Penduduk Kebutuhan

67
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

1. Produksi 19,878 29,817 2 ltr/org/hr


Sampah
2. Gerobak 15 25 1 1 Unit = 1 m3
Sampah 9,939
3. Kontainer 3 6 1 1 Unit = 3 m3
4. Truk Sampah 1 2 3 1 Unit = 1 : 3
kontainer
Sumber : Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Tahun

Tabel 2.15 Standar Pelayanan Minimal Jaringan Persampahan


Bidang Standar Pelayanan Kualitas
No.
Pelayanan Cakupan Tingkat Pelayanan
timbulan sampah perorang
Rumah
1. yaitu 2,9 liter/hari atau 11,6 1 unit tong sampah
Tangga
liter/KK, melayani 40liter/150KK
timbulan sampah yaitu 1,15 1 unit gerobak sampah
2. Pendidikan
liter/hari/siswa melayani 1000liter/200
30% dari jumlah timbulan KK
3. Perdagangan sampah rumah tangga unit kontainer melayani
10% dari jumlah timbulan 8000liter/1000KK
4. Perkantoran sampah rumah tangga
Sumber : Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan
Ruang, Perumahan Dan Permukiman Dan Pekerjaan Umum
11. Prasarana Listrik
Sistem distribusi Prasarana kabel listrik dengan menggunakan tiang yang

terbuat dari pipa beton yang penempatannya pada jalan dengan jarak satu

dengan yang lainnya adalah lebih kurang 50 meter dan dibeberapa tempat

ditempatkan gardu listrik yang sekaligus berfungsi sebagai pengontrol

gangguan listrik yang akan terjadi.


Tabel 2.16 Kebutuhan Jaringan Listrik
Jumlah
Daya Jumlah
No. Jenis Sambungan Pelanggan
(KVA) (KVA/Watt)
(Unit)
1 Rumah Type A 199 1,300 258,414
2 Rumah Type B 596 900 536,706
3 Rumah Type C 1,193 450 536,706
4 Pendidikan 4 1,500 6,000

68
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

5 Peribadatan 20 1,500 30,000


6 Kesehatan 8 1,500 12,000
7 Pelayanan Umum 4 1,500 6,000
8 Perdagangan 4 1,500 6,000
9 Olah Raga 3 1,500 4,500
Penerangan Lampu Jalan = 10%
10 dari total kebutuhan 139,633
Jumlah 2,031 1,535,959
Sumber : Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Tahun 2005
Tabel 2.17 Kebutuhan Listrik Untuk Perumahan
Ukuran Petak
Jenis Luas bangunan Kebutuhan Jumlah rumah yang
rata-rata
rumah rata-rata (m2) (watt) dilayani gardu (unit)
(m2)
Kecil 100 70 900 1400
Sedang 200 240 900 420
Besar 400 600 1300 100
Sumber : Standar Nasional Indonesia Tahun 2004
Keseluruhan kebutuhan energi listrik di kawasan perencanaan berdasarkan

standar perencanaan lingkungan perkotaan kebutuhan listrik adalah pada

Tabel 2.18 di bawah ini.


Tabel 2.18 Standar Pelayanan Minimal Jaringan Listrik
Bidang Standar Pelayanan Kualitas
No.
Pelayanan Cakupan Tingkat Pelayanan
Type besar membutuhkan Energi listrik sebesar
energi listrik sebesar 1.300 900 watt/unit
1. Permukiman watt/unit Type kecil dan sedang
membutuhkan energi listrik
sebesar 900 watt/unit
Membutuhkan 50% dari 50% dari kebutuhan
2. Bangunan Sosial
kebutuhan permukiman permukiman
Bangunan Membutuhkan 25% dari 25% dari kebutuhan
3.
Ekonomi kebutuhan permukiman permukiman
Penerangan Membutuhkan 10 % dari 10 % dari kebutuhan
4.
Jalan kebutuhan permukiman permukiman
Kehilangan Diperkirakan 30 % dari total
5.
energi energi listrik yang dibutuhkan
Sumber :Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan
Ruang, Perumahan Dan Permukiman Dan Pekerjaan Umum
12. Prasarana Telekomunikasi

69
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

a. Jenis Elemen Perencanaan


Jenis prasarana dan utilitas jaringan telepon yang harus disediakan

pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah:


1) Kebutuhan sambungan telepon; dan
2) Jaringan telepon.
b. Penyediaan jaringan telepon
1) Tiap lingkungan rumah perlu dilayani jaringan telepon lingkungan dan

jaringa telepon ke hunian


2) Jaringan telepon ini dapat diintegrasikan dengan jaringan pergerakan

(jalan) dan jaringan prasarana / utilitas lain;


3) Tiang listrik yang ditempatkan pada area Damija (daerah milik jalan,
4) Stasiun telepon otomatis (STO) untuk setiap 3.000 10.000

sambungan dengan radius pelayanan 3 5 km dihitung dari copper

center, yang berfungsi sebagai pusat pengendali jaringan dan tempat

pengaduan pelanggan.
Salah satu sarana untuk berinteraksi dan berkomunikasi yang saat ini

tersedia di kawasan perencanaan adalah berupa saluran telepon dengan sistem

DRS ( digital radio system) dengan skala pelayanan yang terbatas. Oleh

karena itu, untuk memenuhi kebutuhan jaringan telepon di kawasan

perumahan/perkantoran diupayakan dapat terpenuhi dan tentunya dengan

skala prioritas kebutuhan dengan perluasan sistem jaringan yang ada. Standar

rasio tingkat layanan kebutuhan telepon baik pribadi maupun umum adalah

masing masing 1 : 14 dan 1 : 25

Tabel 2.19 Standar Pelayanan Minimal Jaringan Telekomunikasi


Bidang Standar Pelayanan Kualitas
No.
Pelayanan Cakupan Tingkat Pelayanan

70
JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

1. Telepon tiap lingkungan rumah perlu tiap lingkungan rumah perlu


dilayani sambungan dilayani sambungan telepon
telepon rumah dan telepon rumah dan telepon umum
umum sejumlah 0,13 sejumlah 0,13 sambungan
sambungan telepon rumah telepon rumah per jiwa atau
per jiwa atau dengan dengan menggunakan asumsi
menggunakan asumsi berdasarkan tipe rumah sebagai
berdasarkan tipe rumah berikut:
sebagai berikut: R-1, rumah tangga
R-1, rumah tangga berpenghasilan tinggi : 2-3
berpenghasilan tinggi : sambungan/rumah- R-2
2-3 sambungan/rumah rumah tangga berpenghasilan
R-2, rumah tangga menengah : 1-2
berpenghasilan sambungan/rumah
menengah :1-2 R-3, rumah tangga
sambungan/rumah berpenghasilan rendah : 0-1
R-3, rumah tangga sambungan/rumah
berpenghasilan rendah: dibutuhkan sekurang-kurangnya 1
0-1 sambungan/rumah sambungan
Dibutuhkan sekurang-
kurangnya 1 sambungan
telepon umum
untuk setiap 250 jiwa untuk setiap 250 jiwa penduduk
penduduk (unit RT) yang (unit RT) yang ditempatkan pada
ditempatkan pada pusat- pusat-pusat kegiatan lingkungan
pusat kegiatan lingkungan R tersebut
RT tersebut
Sumber :Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan
Ruang, Perumahan Dan Permukiman Dan Pekerjaan Umum

Tabel 2.20 Kebutuhan Jaringan Telepon


Jumlah
No. Jenis Fasilitas Persentase (%)
Sambungan
1. Permukiman 1,988 99.00
2. Pelayanan Umum 4 0.20
3. Pendidikan 4 0.20
4. Kesehatan 8 0.40
5. Perekonomian 4 0.20
Jumlah 2,008 100.00
Sumber : Keputusan Menteri Permukiman & Prasarana Wilayah Tahun 2002

71