Anda di halaman 1dari 1

Uji Gliserol (Uji Akrolein)

Salah satu karakteristik minyak lemak adalah mengandung gliserol. Untuk membuktikan
adanya senyawa gliserol pada minyak lemak maka dilakukan uji gliserol atau uji akrolein. Tiga
komponen diuji untuk melihat kadungan gliserol di dalamnya, yaitu gliserol, minyak kelapa dan
amilum.

Prinsip percobaan uji akrolein adalah terbentuknya aldehid akrilat atau akrolein sebagai
hasil dehidrasi dari gliserol dalam bentuk bebas atau yang terdapat pada lemak dan minyak
(Bintang, 2010). Uji akrolein digunakan untuk menguji keberadaan gliserin atau lemak. Fungsi
dari penambahan KHSO4 adalah sebagai pedehidrasi yang akan menarik air, sehingga gliserol
akan terdehidrasi dalam bentuk aldehid tidak jenuh (akrolein). Pemanasan yang dilakukan
berfungsi untuk mempercepat pendehidrasian gliserol. Bau menyengat seperti ban terbakar
timbul karena gliserolnya terdehidrasi membentuk akrolein yang ditandai dengan terbentuknya
asap putih (Ketaren, 2008). Bedasarkan pengamatan yang dilakukan, hasil uji akrolein dapat
dilihat dalam tabel berikut.

Bahan yang diuji Mengandung gliserol Keterangan


Berasap, larutan keruh dan bau
Gliserol Positif
menyengat cepat
Terdapat endapan putih, bau
Minyak Kelapa Positif
menyengat lambat
Amilum Negatif Tidak berbau menyengat
Tabel 4.1. Hasil pengamatan uji akrolein pada tiga bahan.

Tabung reaksi 1 berisi gliserol dan tabung reaksi 2 berisi minyak kelapa. Hasil yang
diperoleh adalah hasil reaksi gliserol ditambah dengan KHSO 4 lebih menyengat daripada
minyak kelapa yang direaksikan dengan KHSO4. Hal ini dikarenakan gliserol lebih cepat tengik
daripada minyak kelapa, sebab minyak kelapa harus dihidrolisis terlebih dahulu hingga
membenruk gliserol dan asam lemak, lalu gliserol menjadi akrolein yang menyebabkan
timbulnya bau. KHSO4 merupakan pereaksi yang bersifat hidroskopis yang mempercepat
terjadinya aldehid. Bau yang timbul merupakan hasil dari oksidasi lemak. Asam lemak tidak
jenuh akan menghasilkan bau dan rasa yang tidak enak . Minyak kelapa tidak lebih tengik dari
gliserol sebab tidak semua asam lemaknya berubah menjadi akrolein, harus mengalami hidrolisis
terlebih dulu menjadi asam lemak dan gliserol sebelum mengalami dehidrasi membentuk
akrolein. Pada tabung reaksi 3, reaksi amilum yang ditambah KHSO 4 tidak menimbulkan bau
menyengat. Hal ini dikarenakan amilum tidak mengandung gliserol.

Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta: Penerbit Erlangga.


Ketaren S. 1986. Minyak dan Pangan. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
(sry gak isi halaman)

Anda mungkin juga menyukai