Anda di halaman 1dari 9

Usulan Perawatan Mesin Compressor Unit C Dengan Metode

Reliability Centered Maintenance (RCM) Di PT.XYZ

Yanuar Hafid Nuraidin1, Faula Arina2, Putro Ferro Ferdinant 3


1, 2, 3
Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
yanuarhafid90@yahoo.com1, faula_arina@ft-untirta.ac.id2, putro.ferro@untirta.ac.id3

ABSTRAK

PT. XYZ adalah suatu perusahaan yang memproduksi coil untuk memproduksi coil tersebut dibutuhkan
beberapa tenaga pendukung salah satunya tenaga udara untuk mendukung produksinya coil tersebut. Udara
tersebut dihasilkan dari mesin compressor yang harus selalu beroperasi selama 24 jam penuh selama satu
hari sehingga bila tidak dilakukannnya kegiatan perawatan atau pencegahan kerusakan pada mesin akan
mengakibatkan terhambatnya proses produksi coil. Mesin compressor yang sering mangalami kerusakan
adalah mesin compressor unit C. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan
kinerja mesin compressor unit C dengan mencari penyebab terjadinya kegagalan fungsi pada mesin yang
diakibatkan oleh komponen kritis dan sub komponennya, mencari nilai availabilitas serta perbaikan program
perawatan pada komponen kritis untuk meminimasi kegagalan pada mesin. Upaya yang dilakukan untuk
memperbaikinya yaitu dengan menggunakan metode Reliability Centered Maintenance (RCM) yang
mengaplikasikan Grey FMEA dalam menentukan prioritas perbaikan. RCM sebagai suatu proses yang
digunakan untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menjamin suatu sistem dapat berjalan
dengan baik sesuai dengan fungsi yang diinginkan oleh pengguna, Setelah dilakukannya penerapan metode
RCM pada mesin diperoleh kegagalan fungsi yang terjadi pada mesin compressor unit C yaitu pada
komponen pompa LP & HP dan sub komponennya yaitu bearing. Dengan mengetahui komponen serta sub
komponen yang kritis bisa memfokuskan dalam perawatannya, sedangkan nilai availabilitas mesin dalam
satu tahun didapat nilai sebesar 98,9% dan program perawatan untuk meminimasi kegagalan pada
komponen bearing pada mesin yaitu diperoleh Schedule On Condition Task..

Kata kunci: Ketersediaan,Grey FMEA,Perawatan,Reliability Centered Maintenance

ABSTRACT

PT. XYZ is a company that produces coil to produce the coil support personnel needed some air force one of
them to support the output coil. The air generated from the engine compressor must always operate for 24
hours during the day so if you do not care or prevention activities dilakukannnya damage to the engine will
result in delays in the production process coil. Compressor engines often mangalami damage the engine
compressor unit is C. Therefore, the purpose of this study was to optimize the performance of the engine
compressor unit C by finding the cause of the malfunction of the machine caused by the critical components
and sub-components, find the value of the availability and improvement program maintenance on critical
components to minimize the failure on the machine. Efforts are being made to fix it is by using the methods of
Reliability Centered Maintenance (RCM), which apply Grey FMEA in determining repair priorities. RCM as
a process used to determine what should be done to ensure the system can run well in accordance with the
functions desired by users, Following the application of the RCM method on the machine derived malfunction
occurred in the engine compressor unit C is the LP pump components & HP and sub-components, namely
bearings. By knowing the components and sub-components that are critical to focus on treatment, while the
value of the availability of the machine in one year obtained a value of 98.9% and a maintenance program to
minimize the failure of the bearing components on the machine that is derived Schedule Task On Condition

Keywords: Availability,Grey FMEA,Maintenance,Reliability Centered Maintenance


PENDAHULUAN perawatan yang lebih optimal dan dari data yang
diperoleh mesin compressor yang paling banyak
Seiring berkembangnya industri yang ada sekarang mangalami breakown dan downtime terbesar yaitu
membuat persaingan semakin ketat. Hal ini membuat mesin compressor unit C, sehingga mesin compreesor
setiap industri harus selalu meningkatkan hasil unit C menjadi perhatian utama dalam penelitian ini
produksinya, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. dan nantinya dapat menjaga kinerja mesin tetap baik
Peningkatan kualitas maupun kuantitas akan terwujud dan meminimalkan terjadinya breakdown dan
jika dalam proses produksi tidak terdapat masalah- downtime pada mesin tersebut. Jika ada mesin
masalah, dalam hal ini untuk mewujudkan eksistensi compressor mengalami kerusakan atau gagalnya
suatu pencapaian perusahaan yang telah dirancang beroperasi saat terjadinya proses produksi baja
dalam perencanaan strategi dan perencanaan teknis lembaran dingin dalam keadaan beban tinggi maka
atau operasional bisnisnya, khususnya untuk akan menghambat proses produksi. Oleh karena itu
perusahaan yang bersangkutan dengan permesinan untuk mengurangi terjadinya kegagalan serta untuk
dalam proses produksinya, akan bergantung pada mengukur keandalan (reliability) dan ketersediaan
tingkat efektifitas mesin tersebut dalam proses (availabiitas) compressor perlu melakukan perawatan
produksi. Investasi mesin dan sarana yang besar di mesin.
banyak negara, saat ini kurang dapat memenuhi Metode Reliability Centered Maintenance (RCM)
harapan mereka akan produksi akibat kurangnya merupakan suatu proses yang digunakan untuk
maintenance. Kelancaran proses produksi didukung menentukan apa yang harus dilakukan agar setiap asset
dengan keandalan dari mesin-mesin yang digunakan. fisik dapat terus melakukan apa yang diinginkan oleh
Oleh karena itu perlu adanya perencanaan maintenance penggunanya dalam konteks operasionalnya (Moubray,
yang sesuai untuk mesin dan mampu meminimasi 1997). Keuntungan metode RCM adalah meminimasi
pengeluaran biaya. Rusaknya mesin dapat menghambat peluang kegagalan mesin secara mendadak,
kelancaran untuk mendukung proses produksi terlebih memfokuskan kegiatan perawatan pada komponen
jika hal ini terjadi secara mendadak karena akan komponen kritis, dan meningkatkan reliability
menghambat rencana proses produksi yang komponen. Menurut Frampton, persentase downtime
sebelumnya sudah direncanakan. Dalam menangani mesin yang ideal adalah dibawah 3% (Frampton,2001)
mesin yang rusak secara mendadak perlu melakukan sedangkan metode Grey FMEA digunakan untuk
perawatan mesin (preventive maintenance). Rencana menganalisis jenis kegagalan yang menjadi prioritas
ini bisa berupa pengecekkan mesin-mesin setiap hari utama yang terjadi pada sub komponen mesin, karena
ataupun dapat berupa penggantian komponen apabila dalam penerapannya grey theory dalam FMEA mampu
sudah habis umur pakai komponen. Dalam penggantian menentukan bobot yang berbeda untuk masing-masing
komponen hendaknya dapat direncanakan agar faktor dan tidak memerlukan fungsi utilitas apapun.
mengurangi kerusakan mesin mendadak (failure Selain itu juga grey FMEA dapat digunakan untuk
maintenance). Namun masih banyaknya penerapan menganalisis kegagalan dengan sumber data yang tidak
penggantian komponen setelah rusak yang dapat lengkap. Penelitian ini menggunakan metode RCM
menyebabkan downtime yang manghambat kelancaran yang mengaplikasikan Grey FMEA. Metode RCM
proses produksi. Hal ini disebabkan karena berbedanya digunakan untuk meningkatkan kehandalan mesin dan
kebijakan masing-masing perusahaan yang memiliki menentukan interval perawatan mesin. Dengan
konsep yang berbeda pula. menggunakan metode RCM, diharapkan dapat
PT. XYZ merupakan perusahaan industri baja terbesar mengurangi waktu downtime pada mesin compressor
di Asia Tenggara yang memproduksi Besi Spons, Slab yang terjadi pada PT. XYZ. Dengan adanya penelitian
Baja, Baja Lembaran Panas, Baja Lembaran Dingin, ini maka diharapkan membantu perusahaan dalam
dan Baja Batang kawat. Pada PT. XYZ terdapat divisi pencegahan kerusakan dan juga memberikan informasi
yang memproduksi baja lembaran dingin yaitu divisi terhadap penyebab kerugian mesin sehingga
Cold Rolling Mill (CRM), pada divisi ini untuk proses perusahaan dapat meningkatkan keandalan mesin saat
dan produksinya masih ada mesin yang menggunakan ini dan sebagai upaya peningkatan produktivitas mesin
tenaga angin (pneumatik) sebagai sumber energi yang terutama pada mesin compressor unit C di masa yang
dihasilkan dari plant air compressor. Seperti mesin akan datang.
table untuk naik turunnya roll coil, mesin benning Adapun tujuan dari penelitian ini terdiri dari 3 yaitu
untuk pengepakan, instrumen mesin yang hanya menentukan komponen dan sub komponen kritis pada
beroperasi menggunakan udara, sistem pneumatik mesin compressor unit C, mengetahui tingkat
produksi, pembakaran untuk boiler, proses pembuatan availabilitas mesin compressor unit C, dan membuat
gas, pengolahan limbah dan masih banyak lainnya. usulan perawatan pada komponen kritis untuk
Pada plant air compressor yang ada pada divisi Cold meminimasi kegagalan berdasarkan RCM II decision
Rolling Mill terdapat enam unit mesin compressor work sheet.
yaitu mesin compressor tipe Atlas Corpo unit A,B,C,D,
dan E kemudian mesin tipe compressor Centak unit F METODE PENELITIAN
yang mendukung proses produksinya baja lembaran
dingin. Untuk itu perlu adanya perawatan yang Tahap pertama, Studi Lapangan penulis melakukan
dilakukan pada mesin sehingga dapat mencegah mesin analisa terlebih dahulu pada data yang didapat,
mengalami kerusakan saat beroperasi, metode kemudian data diolah agar data yang didapat benar-
Reliability Centered Maintenance (RCM) yang benar mewakili. Tahap berikutnya, Studi Literatur,
mengaplikasikan Grey FMEA dalam menentukan penulis melakukan beberapa pencarian referensi dan
prioritas perbaikan dapat memperoleh perencanaan sumber aktual yang menjadi panduan dalam penelitian.
Tahap berikutnya, Perumusan Masalah, agar penelitian Structure (SWBS). Dalam SWBS, kita menjabarkan
ini dapat lebih terarah. Dalam hal ini, perumusan komponen-komponen utama yang berhubungan dengan
masalah juga merumuskan data apa saja yang dapat fungsi sistem.
diolah maupun dianalisa. Tahap berikutnya, Tujuan
Penelitian, penulis menjabarkan tujuan dari pembuatan Tabel 1. Batasan Sistem
Penelitian ini Yaitu memberikan metode penyelesaian
terhadap perumusan masalah yang telah dirumuskan. Batasan Fisik Primer
Komponen
Tahap berikutnya, Pengumpulan Data, data yang telah Star With Terminate With
didapat, akan dikelompokan menjadi pengumpulan
Hasil putaran shaft
data sesuai dengan metode yang digunakan. Pompa LP Coupling shaft membuat gear bergerak
Tahap berikutnya, Pengolahan Data, data yang & HP bergerak dan blade pompa
diperoleh dapat diolah sesuai dengan metode penelitian berputar
yang digunakan, kemudian hasil yang diperoleh dapat
Contactor penghubung
menjelaskan tentang permasalahan yang ada. koneksi kabel
Switch on dinyalakan
Pengolahan data pertama yaitu penentuan komponen Control dan arus litrik mengair
dan sub komponen kritis dengan menggunakan metode Panel ke contactor dan Selenoid valve
RCM selanjutnya menghitung selang waktu antar selenoid valve menghubungkan koneksi
kabel
kerusakan yang terjadi pada komponen serta sub
komponen selanjutnya menghitung distribusi sesuai Oli mendinginkan mesin
Oil Box Pompa oli beroperasi
index of fit terbesar atau pemilihan distribusi kemudian Transmisi daya motor
pengujian kesesuaian distribusi digunakan untuk lebih Hasil trasmisi motor
di transmisikan
akuratnya dalam uji kesesuaian distribusi selanjutnya Motor menggerakan pompa Lp
menggunakan karet
& hp
perhitungan parameter MTTR dan MTBF untuk coupling
perhitungan penentuan avaiabilitas mesin dan usulan
perbaikan.
Tabel 2. System Work Breakdown Structure

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kode Komponen Kode Sub Komponen
Relialibility Centered Maintenance Pompa LP A.1 Bearing
A
& HP
Beberapa langkah dalam tahapan Relialibility Centered A.2 Paking pompa
Maintenance, yaitu : Control B.1 Contactor
B
Panel
B.2 Selenoid Valve
1.Seleksi sistem dan pengumpulan informasi
Berdasarkan hasil pengumpulan data, maka sistem C.1 Paking Oil Box
C Oil Box
yang dipilih adalah sistem yang memiliki kriteria total
C.2 Pipa
frekuensi kerusakan dan downtime terbesar yang
ditunjukkan pada Gambar 1. D.1 Bearing
D Motor D.2 Lilitan Tembaga

D.3 Coupling

4. Fungsi sistem dan kegagalan fungsi

Berdasarkan SWBS untuk setiap subsistem dapat


dikembangkan uraian fungsi dan kemungkinan
kegagalan fungsi dari setiap subsistem compressor.
Tabel 3. Fungsi Sistem dan Kegagalan Fungsi

No.
No.
Kegagalan Uraian Fungsi atau Kegagalan Fungsi
Fungsi
Fungsi
Gambar 1. Diagram kerusakan mesin PT. XYZ
Bearing pompa miss aligment atau aus
A.1 A.1.1 menyebabkan tidak berfungsinya putaran
2. Pendefinisian Batasan Sistem pompa dengan baik
Definisi batasan sistem terdiri dari komponen mesin
compressor unit C. Batasan sistem komponen terdiri A.2 A.1.2 Terjadinya kebocoran pada pompa
dari star with dan terminate with dapat dilihat pada
tabel 1. Ketika swith dihidupkan pada contol panel Contactor terbakar dan trip
motor mulai berfungsi mengakibatkan terjadinya B.1.1 mengakibatkan tidak berfungsinya
perputaran shaft dan memindahkan daya ke pompa pemindahan mesin
pada saat itu juga pompa oli berfungsi. B.1
Contactor trip mengakibatkan tidak
3. Deskripsi Sistem B.1.2 berfungsinya pemindahan daya dan
Berdasarkan penjabaran sistem ke dalam subsistem pompa
maka dapat dibentuk suatu System Work Breakdown
Dari pembobotan FMEA diatas maka dapat dijadikan
sebagai input dalam perhitungan grey FMEA,
Tabel 4. Fungsi Sistem dan Kegagalan Fungsi perhitungan dilakukan dengan beberapa langkah yaitu
sebagai berikut:
No.
No.
Kegagalan Uraian Fungsi atau Kegagalan Fungsi
Fungsi 1) Membangun seri perbandingan
Fungsi
Pada tahap ini adalah memasukkan nilai severity,
Selenoid valve terbakar mengakibatkan occurrence, dan detection pada masing-masing
B.2.1 pompa tidak bisa menambah kecepatan
putaran tipe kecacatan
B.2
9 4 4
Selenoid valve terbakar mengakibatkan
B.2.1 pompa tidak bisa menambah kecepatan 6 3 4
putaran 7 6 2
6 2 3
Paking oil box sobek mengakibatkan 6 7 2
C.1 C.1.1 kebocoran dan mengurangi pendingan XT = 6 7 3
pada mesin 7 4 4
6 2 6
C.2 C.1.2 Tidak terkirimnya oli untuk pendinginan 9 3 2
D.1 D.1.2 Tidak berputarnya poros shaft 10 3 2
D.2 D.2.1 6 2 2
Tidak berputarnya berfungsinya motor
Tidak bisa mentransimikan daya yang
D.3 D.3.1
diberikan motor
2) Menetapkan seri standar
Standar yang ditetapkan adalah nilai terkecil yang
5.Grey Failure Mode and Effect Analysis terdapat pada severity, occurance, dan detection
Setelah mendapatkan sub komponen kritis dengan yaitu 2.
diagram pareto , maka langkah selanjutnya membuat X0 = (2 2 2)
Failure Mode Effects And Analysis (FMEA) yaitu
membuat pembobotan pada Severity (tingkat bahaya),
3) Mencari perbedaan antara seri standar dan seri
Occurrence (tingkat kejadian) dan Detectability
perbandingan
(tingkat deteksi) didapatkan adalah menghitung
Pada tahap ini dilakukan dengan mengurangi nilai
besarnya nilai Risk Priority Number (RPN)
dari seri perbandingan dengan seri standar. Maka
.RPN merupakan produk matematis dari keseriusan
hasilnya adalah:
effect (severity), kemungkinan terjadinya cause akan
menimbulkan kegagalan yang berhubungan dengan
effect (occurrence), dan kemampuan untuk mendeteksi 01 (1) = 7 01 (2) = 2 01 (3) = 2
kegagalan sebelum terjadi (detection). yang digunakan 02 (1) = 4 02 (2) = 1 02 (3) = 2
sebagai input perhitungan grey FMEA. 03 (1) = 5 03 (2) = 4 03 (3) = 0
04 (1) = 4 04 (2) = 0 04 (3) = 1
Tabel 5. Diagram FMEA Sub Komponen Compressor Unit C
05 (1) = 4 05 (2) = 5 05 (3) = 0
Komponen Bobot 06 (1) = 4 06 (2) = 5 06 (3) = 1
Sub Komponen Jenis Kegagalan RPN
Utama Sec Occ Det 07 (1) = 5 07 (2) = 2 07 (3) = 2

Bearing Pompa Miss Aligment 08 (1) = 4 08 (2) = 0 08 (3) = 4


Bearing 9 4 4 144
Pompa LP &HP dan Aus 09 (1) = 7 09 (2) = 1 09 (3) = 0

Paking Paking Air Condensat Sobek 6 3 4 72 10 (1) = 8 10 (2) = 1 10 (3) = 0


11 (1) = 4 11 (2) = 0 11 (3) = 0
Contactor Terbakar 7 6 2 84
Contactor
Contactor LP Stage Trip 6 2 3 36 4) Menghitung koefisien relasional grey dan derajat
Cotrol Panel
Selenoid Valve Bocor 6 7 2 84 hubungan grey
Selenoid Valve Pada langkah keempat ini yang dilakukan adalah
Selenoid Valve Terbakar 6 7 3 126
mencari koefisien grey, Nilai pada max
Paking Paking Oil Box Sobek 7 4 4 112
Oil Box diperoleh dari bobot terbesar yaitu 8 dan nilai
Pipa Pipa Oil Box Bocor 6 2 6 72 pada min diperoleh dari bobot terkecil yaitu 0,
Bearing Motor Aus dan Miss adalah berupa identifikasi, hanya mempengaruhi
Bearing 9 3 2 54
Aligment nilai relatif dari resiko tanpa mengubah prioritas.
Motor Lilitan Tembaga Motor Nilai yang biasanya digunakan adalah 0,5. Maka
Lilitan Tembaga 10 3 2 60 diperoleh hasil sebagai berikut :
Terbakar
Coupling Karet Kopling Sobek 6 2 2 24
01 (1) = 0,364 01 (2) = 0,667 01 (3) = 0,667
02 (1) = 0,500 02 (2) = 0,800 02 (3) = 0,714
6) Pemilihan Tindakan
Pemilihan tindakan merupakan tahap terakhir dari
03 (1) = 0,444 03 (2) = 0,500 03 (3) = 0,714 proses RCM. Dari tiap mode kerusakan dibuat
04 (1) = 0,500 04 (2) = 1,000 04 (3) = 0,333 daftar tindakan yang mungkin untuk dilakukan
05 (1) = 0,500 05 (2) = 0,444 05 (3) = 0,714 dan selanjutnya memilih tindakan yang paling
efektif. Berdasarkan langkah langkah
06 (1) = 0,500 06 (2) = 0,444 06 (3) = 0,714
sebelumnya yang telah dilakukan, maka diperoleh
07 (1) = 0,444 07 (2) = 0,667 07 (3) = 0,556 komponen yang paling kritis yang tergolong time
08 (1) = 0,500 08 (2) = 1,000 08 (3) = 0,385 directed maintenance atau kegiatan perawatan
yang dilakukan berdasarkan variabel waktu.
09 (1) = 0,364 09 (2) = 0,800 09 (3) = 0,556
Komponen yang tergolong time directed adalah
10 (1) = 0,333 10 (2) = 0,800 10 (3) = 1,000 Pompa LP & HP serta sub komponennya yaitu
11 (1) = 0,500 11 (2) = 1,000 11 (3) = 1,000 bearing.

5) Menghitung derajat hubungan grey Perhitungan Tingkat Availabilitas


Langkah kelima dilakukan untuk mengetahui nilai Perhitungan nilai availabilitas mesin compressor unit C
prioritas untuk masing masing komponen : terdiri dari beberapa langkah, yaitu sebagai berikut:
1) Pemilihan distribusi Probabilitas
01 = 0,566 07 = 0,593 Pada perhitungan ini dilakukan secara manual dan
menggunakan software minitab 16. Langkah awal
02 = 0,656 08 = 0,667 yang dilakukan yaitu menentukan pola distribusi
03 = 0,648 09 = 0,721 kegagalan sub komponen compressor dengan
melakukan pengujian terhadap distribusi normal,
04 = 0,767 10 = 0,711 distribusi lognormal, distribusi exponensial dan
distribusi weibull. Pemilihan distribusi dilakukan
05 = 0,648 11 = 0,833
dengana memilih distribusi yang memiliki nilai
06 = 0,581 index of fit tertinggi. Index of fit digunakan untuk
mengetahui distribusi yang saling sesuai dimana
Mengurutkan tingkat resiko berdasarkan prioritas. nilai koefisien korelasinya mendekati +1.
Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan
Tabel 6. Nilai Index of fit
maka didapat perbandingan mulai dari hasil
terkecil dari ke-11 faktor penyebab tersebut
Distribusi Manual Minitab 16
adalah sebagai berikut :
Normal 0,729 0,729
Nilai
Derajat Exponensial 0,904 *
Derajat
Ranking
Hubungan Hubungan Weiibul 0,940 0,940
Log Normal 0,984 0,984
0,566 01 1

0,581 06 2 Berdasarkan Tabel 5 diatas dapat diketahui bahwa


distribusi Lognormal memiliki nilai index of fit
0,593 07 3
terbesar sehingga didapat bahwa data kegagalan
0,648 03 4 mesin compressor unit C berdistribusi
Lognormal. Dalam analisis reliabilitas, distribusi
0,648 05 5 lognormal sering digunakan untuk memodelkan
0,656 02 6
waktu untuk memperbaiki sebuah sistem yang
dapat dirawat.
0,667 08 7
2) Pengujian Hipotesa
0,711 10 8
Berdasarkan perhitungan Index Of Fit (Uji
0,721 09 9 Kebaikan Suai) didapatkan nilai terbesar adalah
dengan menggunakan distribusi Lognormal.
0,767 04 10 Namun selanjutnya agar uji yang dihasilkan lebih
0,833 11 11 akurat maka uji kesesuaian distribusi (Goodness
Of Fit test) dilakukan dengan menggunakan
Maka didapat prioritas pertama merupakan software Minitab 16. Pengujian dikatakan sesuai
prioritas dengan derajat hubungan terkecil yaitu dan mengikuti suatu distribusi tertentu jika
01 karena memiliki koefisien terkecil sebesar mengahasilkan P-value nilainya lebih besar dari
0,566 dimana yang menjadi prioritas resiko utama nilai , ataupun menghasilkan nilai Anderson-
adalah gangguan pada Bearing pompa mengalami Darling terkecil
kerusakan karena bearing aus atau kurangnya
pelumasan, miss aligment. karena adanya vibrasi
tinggi atau faktor usia komponen bearing.
Probability Plot for ti
n

ln t (7)
2
Goodness of F it Test i
Normal - 95% C I Exponential - 95% C I i 1
99 Normal
s
90 A D = 3,326
n
P er cent
90
50
P-V alue < 0,005
s 2 0,74279

P er cent
Exponential
50
A D = 3,709 s2
10
P-V alue < 0,003
2 (8)
10
Weibull
MTTR = t med e
1 1 A D = 0,534
-100000 0
ti
100000 200000 100 1000 10000
ti
100000 P-V alue = 0,173
MTTR = 259,496 menit => 4,3 Jam
Lognormal
Weibull - 95% C I Lognormal - 95% C I A D = 0,263

90
99 P-V alue = 0,663
6) Availabilitas Mesin
90
50
P er cent

P er cent MTBF
10
50
Ainh (9)
10 MTBF MTTR
1 1
1 100 1000 10000 100000 1000000
10 10
0 00 00
0 00 00
0
10 10 00 00 ti 25450,9
10 10
Ainh 0,989
25450,9 259,496
ti

Gambar 2. Goodness Of Fit


Dapat diketahui nilai availabilitas mesin C yaitu
Dari hasil perhitungan Goodness Of Fit dengan 0,989 atau 98,9%. Artinya mesin memiliki
menggunakan software Minitab 16, didapatkan P- kemampuan untuk menjalankan fungsinya sebesar
value terbesar dan nilai Anderson-Darling terkecil 98,9 %.
adalah menggunakan distribusi Lognormal ( P- Fungsi Distribusi
value = 0,663 ; AD = 0,263 ). Serta menghasilkan Suatu proses kerusakan digambarkan oleh variabel
nilai P-value yang lebih besar dari nilai = 0,05. acak T (time to failure), yang dikelompokan secara
Maka selanjutnya untuk perhitungan parameter unik melalui empat fungsi, yaitu (Ebeling, p23-34)
dan MTBF compressor unit C menggunakan Berdasarkan pola distribusi dan parameter yang di
distribusi Lognormal. dapat yaitu ditribusi lognormal, maka dapat ditentukan
persamaan dan grafik fungsi konsep Reliabilitas dari
3) Parameter Distribusi Lognormal komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai
Berdasarkan pengujian distribusi yang telah berikut:
dilakukan dapat diketahui bahwa probabilitas 1) Penentuan fungsi kepadatan f(t)
kegagalan sub komponen berdistribusi lognormal, 2
1 1 t
Parameternya sebagai berikut : f (t ) exp ln (10)
n s.t 2 2s 2 t med
ln t i
ti
i 1 n (1)
8,97295 f(1) = 1,247 x 10-6
f(2) = 1,224 x 10-6
Dan seterusnya sampai f(20)
t med e (2)
tmed = 7886,814 2) Fungsi distribusi kumulatif F(t)
1 t
n F (t ) ln (11)
ln t i
2

s i 1
(3) s t med
n F(1)= -0,414
s 1,522 F(2)=-0,407
Dan seterusnya sampai F(20)
4) Mean Time Between Failure ( MTBF) 3) Fungsi keandalan R(t)
Mean Time Between Failure (MTBF) yaitu nilai
1 t
rata-rata dari selang waktu antar kerusakan atau R(t) = 1- ln (12)
s t
merupakan jarak rata-rata antar kerusakan. med
MTBF
TBF (4) R(1) = 1,414
N R(2) = 1,407
MTBF= 25450,9 menit = 17,67 hari Dan seterusnya sampai R(20)

5) Mean time to Repaire (MTTR) 4) Fungsi laju kerusakan (t)


f (t )
Merupakan waktu rata-rata yang dibutuhkan (t ) (13)
untuk reparasi. 1 t
n 1 ln
ln t i (5) s t med
t 1 (1) = 8,819 x 10-7
5,283 (2) = 8,695 x 10-7
Dan seterusnya sampai (20)
tmed = e (6)
tmed = e 5,283 = 197,036
RCM II Decision Worksheet kegagalan fungsi, Proactive task & Default Action
merupakan tindakan atau kondisi yang diambil dalam
Setelah di ketahui kegagalan pada mesin dapat dilihat mencegah terjadinya failure mode, Proposed Task
di tabel 4. maka selanjutnya akan direncanakan yaitu kolom yang digunakan untuk mencatat tindakan
perawatan menggunakan RCM II Decision Worksheet, yang dilakukan sebelum terjadinya kegagalan, Initial
yaitu merupakan dokumen lembar kerja kedua dalam Interval digunakan untuk mencatat interval
pengerjaan RCM. Dalam membantu proses perawatan yang optimal, Can be done by dipakai
pengambilan keputusan, RCM menggunakan dua untuk mencatat data siapa yang diberikan wewenang
dokumen utama, yakni lembar informasi RCM dan dalam melaksanakan aktifitas perawatan tersebut.
lembar keputusan RCM
Tabel 8. Decision Worksheet
1) Information Worksheet
Information Worksheet atau lembar informasi RCM Unit or
RCM II Facilitator:Date: Sheet No:
Item No:
merupakan dokumen yang berisi informasi rinci DECISION
COMPRESSOR UNIT C
WORKSHE Unit or
tentang fungsi dan kinerja standar, kegagalan ET Compon Auditor: Date: of
fungsional, model kegagalan, dan dampak kegagalan. ent No:
Consequen H1 H2 H3
Tabel 7. Information Worksheet Informatio Default
ce S1 S2 S3 Initial Can be
n reference action Proposed Task
evaluation O1 O2 O3 interval done by
COMPRESSOR UNIT C Facilitator: Date: F FF FM H S E O N1 N2 N3 H4 H5 S4
RCM II INFORMATION Compr
Auditor: Scheduled on
WORKSHEET COMPREEOR essor condition task
UNIT C Mekanik Date: Setiap
UNIT C PT.XYZ Unit C Melakukan Teknisi
dan Elektrik 1 A 1 Y N Y Y Y Beroperasinya
Mekanik
Pengontrolan
Mesin
FUNCTIONAL FAILURE FAILURE MODE FAILURE EFFECT Kondisi Mesin, dan
FUNCTION pelumasan oli
(Loss of Function) (Cause of Failure) (What happens when it fails)
Scheduled on
Sebagai bantalan poros putar Bearing miss Aligment Vibrasi Tinggi dan condition task Teknisi
1 A 1 Compressor Stop Setiap
shaft pompa dan aus reaksi panas 2 A 1 Y N Y Y Y Melakukan Inspeksi Beroperasinya Mekanik
rutin kondisi dan
Untuk mencegah terjadinya Paking air condensat Mesin
pompa apa ada Operator
2 A 1 Umur material Compressor Stop
kebocoran oli gear pompa sobek kebocoran

Reaksi Panas dan Scheduled on


A Contactor terbakar 1 Compressor Stop condition task Teknisi
Untuk mentrasfer aliran listrik ke adanya kotoran 3 A 1 Y N Y Y Y 2 Minggu
Melakukan Inspeksi Elektrik
3 mesin dan merubah kecepatan rutin
motor Contactor LP Stage Reaksi Panas dan Scheduled on
B 1 Compressor Stop
Trip adanya kotoran condition task Teknisi
3 B 1 Y N Y Y Y 2 Minggu
Melakukan Inspeksi Elektrik
Umur material dan Tidak berfungsinya valve rutin
untuk membuka tutup valve A Selenoid valve bocor 1 reaksi panas oli otomatis Scheduled on
4 control hidrolik dan pneumatik condition task Teknisi
Selenoid Valve Lilitan termbaga Tidak berfungsinya valve 4 A 1 Y N Y Y Y 2 Minggu
secara otomatis Melakukan inspeksi Elektrik
B 1
Terbakar terbakar oli otomatis rutin
Scheduled on
Untuk perapat sambungan dan condition task Teknisi
Mesin panas dan 4 B 1 Y N Y Y Y 2 Minggu
5 mencegah terjadinya kebocoran A Paking oil box sobek 1 umur material Melakukan inspeksi Elektrik
compressor Stop
oli gear pompa rutin
Scheduled on Teknisi
Untuk perapat sambungan dari Mesin panas dan condition task Setiap
6 A Pipa oil box bocor 1 High pressure oil Mekanik
line satu ke line lainnya compressor Stop 5 A 1 Y N Y Y Y Beroperasinya
Pengecekan rutin dan
Mesin
kebocoran oli Operator
Untuk bantalan putar poros Bearing Motor miss
7 A 1 Miss aligment Compressor Stop Scheduled on Teknisi
shaft motor Aligment dan aus Setiap
condition task Mekanik
6 A 1 Y N Y Y Y Beroperasinya
Untuk merubah naik dan Lilitan tembaga motor Umur material dan Pengecekan rutin dan
8 A 1 Compressor Stop Mesin
kebocoran oli Operator
turunnya tegangan pada motor terbakar rekasi panas
Scheduled on
condition task
Untuk menghubungkan 2 shaft Umur material dan
9 A Karet coupling sobek 1 Hub Coupling putus Melakukan Setiap Teknisi
guna menyalurkan suatu gerak vibrasi tinggi 7 A 1 Y N Y Y Y Pengontrolan Beroperasinya Mekanik
Kondisi vibrasi Mesin dan Elektik
motor dan
2) Decision Worksheet pelumasan greas

Decision Worksheet atau lembar keputusan RCM Scheduled on


condition task Setiap Teknisi
digunakan untuk menentukan keputusan akhir 8 A 1 Y N Y Y Y Beroperasinya Elektrik dan
Pengontrolan bunyi
tentang kegiatan maintenance yang harus dilakukan pada motor dan bau
Mesin Mekanik

untuk tiap kegagalan. Pada kolom Information Scheduled on


Reference mengacu pada informasi yang diperoleh condition task Teknisi
9 A 1 Y N Y Y Y 2 Minggu
dari FMEA atau RCM II Information Worksheet, Melakukan inspeksi Mekanik
kolom Consequence Evaluation merupakan rutin

konsekuensi yang ditimbulkan karena terjadinya


KESIMPULAN Rio, P,L. 2013. Analisis Penerapan Metode RCM dan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka MVSM Untuk Meningkatkan Keandalan Pada
didapatkan kesimpulan yaitu komponen kritis mesin Sistem Maintenance (Studi Kasus PG.X),
compressor unit C yaitu pompa LP & HP sedangkan Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Universitas
sub komponen kritis compressor unit C yaitu bearing UB, Malang.
pompa LP & HP yang diakibatkan terjadinya misss
aligment atau aus dengan Tingkat availabilitas atau Wibert, 2013. Penerapan Preventive Maintenance
ketersediaan mesin compressor unit C selama periode Dengan Menggunakan MetodeReliability
Januari sampai Desember 2013 yaitu 0,989 atau 98,9 % Centered Maintenance Dengan
dan Usulan perbaikan program perawatan untuk Mengaplikasikan Grey FMEA Pada PT.
meminimasi kegagalan berdasarkan RCM II decision WXY. Skripsi. Jurusan Teknik Industri,
work sheet yang menyebabkan downtime mesin Universitas Sumatra Utara, Medan.
compressor unit C pada komponen kritis pompa LP &
HP diperoleh Schedule On Condition Task sebagai Veronica, 2013. Reliability Centered Maintenance
tindakan perawatannya. Menggunakan Pendekatan Fuzzy Logic. Skripsi.
Jurusan Teknik Industri,Universitas Sumatra
DAFTAR PUSTAKA Utara, Medan.

Dian, M, S. 2011. Pendekatan Reliability Centered


Maintenance (RCM) Untuk Merencanakan
Kegiatan Perawatan Mesin di PT. Smart Tbk,
Skripsi. Jurusan Teknik Industri, Universitas
Sumatra Utara, Medan.

Difana, M. 2008. Analisis Reliability Centered


Maintenance dan Reliability Centered Spares
(RCS) Pada Unit Rawmill Pabrik Indarung IV
PT Semen Padang, Skripsi. Jurusan Teknik
Industri. Universitas Andalas, Padang.

Dyah, I,R. 2012. Perencanaan Kegiatan Maintenance


Pada Sistem Pipe Making Line Dengan
Pendekatan Relialibility Centered
Maintenance II (Studi) Kasus PT.Indonesia
Steel Tube Works Semarang), Skripsi. Jurusan
Teknik Industri, Universitas Diponogoro,
Semarang.

Ebelling, C.E.1997. An Introduction to Reliability and


Maintainability Engineering, New York: The
Mc. Graw Hill Companier Inc.

Jeffrynardo, P. 2013. Implementasi Studi Preventive


Maintenance Fasilitas Produksi Dengan
Metode Reliability Centered Maintenance
Pada PT. XYZ. Skripsi. Jurusan Teknik
Industri, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Moubray, John. 1997. Reliability Centered


Maintenance II 2nd Edition. Butterworth,
Heineman, Oxford.

Muhammad, S. 2013. Evaluasi Manajemen Perawatan


Mesin Dengan Menggunkan Metode
Reliability Centered Maintenance Pada PT.Z,
Skripsi. Jurusan Teknik Industri, Universitas
Malikussaleh, Aceh.

Novira, E. 2010. Perencanaan Pemeliharaan Papar


Machine Dengan Basis RCM (Reliability
Centered Maintetnance) di PT.PDM
Indonesia. Skripsi. Jurusan Teknik Industri,
Universitas Sumatra Utara, Medan.