Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

HARGA DIRI RENDAH

Oleh :

Mahasiswa Program Ners STIKes Tengku Maharatu Pekanbaru

PROGRAM PROFESI NERS

STIKes TENGKU MAHARATU PEKANBARU

2015-2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Hari/tanggal : Rabu, 31 Agustus 2016

Pokok Bahasan : Peran serta keluarga pada klien dengan harga diri rendah

Pukul : 09.00-09.30 WIB

Sasaran : Keluarga Pasien di Ruang Poli RSJ Tampan Provinsi


Riau

Alokasi Waktu : 30 menit

Tempat : Ruang Poli RSJ Tampan Provinsi Riau

A. Latar Belakang
Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi sehat, emosional, psikologis, dan

sosiologis yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan

koping yang efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosional. Kesehatan

jiwa memiliki banyak komponen dan di pengaruhi oleh berbagai faktor (Johnson,

1997).
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang

diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan

dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998).


Harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tenang dirinya

sendiri. Penghargaan diri juga kadang dinamakan martabat diri atau gambaran

diri. Misalnya, anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya

memandang dirinya sebagai seseorang, tetapi juga sebagai seseorang yang baik.
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah

diri berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan

diri.Harga diri merupakan evaluasi diri negatif yang berkepanjangan/perasaan

tentang diri atau kemampuan diri (Herdman,2012).


Harga diri rendah berkepanjangan termasuk kondisi tidak sehat mental

karena dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain, terutama kesehatan

jiwa.
Dampak yang dapat ditimbulkan oleh pasien yang mengalami harga diri

rendah adalah kehilangan kontrol dirinya. Pasien akan mengalami panik dan

perilakunya. Pada situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri (suicide),

membunuh orang lain (homicide),bahkan merusak lingkungan Untuk memperkecil

dampak yang ditimbulkan harga diri rendah, dibutuhkan penanganan yang tepat.
Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau merupakan Rumah Sakit Jiwa

satu-satunya yang ada di Provinsi Riau. Berdasarkan data akuntabilitas 2014 di

Rumah Sakit Jiwa Tampan pasien gangguan jiwa yang menderita Skizofrenia

Paranoid (F20.0) 3.890 kasus (39,06%), Skizofrenia Residual (F20.5) 2.105 kasus

(21,14%). Berdasarkan data akuntabilitas Rumah Sakit Jiwa Tampan Januari-

September 2015, penderita skizofrenia Paranoid (f.20.0) 4.400 kasus (66,3%),

sedangkan skizofrenia Residual (F20.5) 2.230 kasus (33,6%).


.
Keluarga sebagai orang terdekat dengan klien merupakan sistem

pendukung utama dalam memberikan pelayanan langsung pada saat klien berada

dirumah. Oleh karena itu,keluarga memiliki peran penting didalam upaya merawat

anggota keluarga dengan harga diri rendah. Melihat fenomena diatas, maka keluarga

perlu mempunyai pemahaman mengenai cara perawatan anggota keluarga yang

mengalami gangguan jiwakhususnya harga diri rendah ini. Salah satu upaya yang

dilakukan adalah perawat dapat melaksanakan penyuluhan guna memberikan

pendidikan kesehatan kepada keluarga.


Oleh karena itu dalam praktek Keperawatan Jiwa Program Ners STIKes

Tengku Maharatu, kami akan melakukan penyuluhan mengenai peran keluarga

dalam merawat anggota keluarga dengan harga diri rendah.

B. Tujuan
Umum: Pada akhir proses penyuluhan, peserta penyuluhan dapat mengetahui

tentang peran serta keluarga pada klien dengan harga diri rendah.
Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan pengunjung di Ruang Jiwa RSJ

Tampan Provinsi Riau dapat :


1. Menjelaskan tentang pengertianharga diri rendah.
2. Menjelaskan tentang tanda dan gejala harga diri rendah.
3. Menjelaskan tentang penyebab harga diri rendah.
4. Menjelaskan tentang cara meningkatkan harga diri.
5. Menjelaskan tentang peran keluarga dalam meningkatkan harga diri.
C. Materi
Terlampir
D. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi / tanya jawab
E. Media
1. Leaflet
2. Laptop
3. Power point
4. LCD

F. Jadwal Pelaksanaan

KEGIATAN KEGIATAN
NO TAHAP WAKTU
PENYULUHAN PESERTA
1 Pembukaan 5 menit Mengucapkan salam Menjawab salam dan
Memperkenalkan diri
mendengarkan
Menjelaskan tujuan
dari penyuluhan
Melakukan kontrak
waktu
Menyebutkan materi
penyuluhan yang akan
diberikan
2 Pelaksanaan 15 menit Menjelaskan tentang Mendengarkan dan
pengertianharga diri memperhatikan
Bertanya tentang
rendah.
Menjelaskan tentang materi yang kurang
tanda dan gejala harga jelas
diri rendah.
Menjelaskan tentang
penyebab harga diri
rendah.
Menjelaskan tentang
cara meningkatkan
harga diri.
Menjelaskan tentang
peran keluarga dalam
meningkatkan harga
diri.

3 Evaluasi 5 menit Menanyakan pada Menjawab dan


keluarga pasien menjelaskan
tentang materi yang pertanyaan
diberikan dan
reinforcement kepada
keluarga pasien bila
dapat menjawab dan
menjelaskan kembali
pertanyaan / materi.
4 Penutup 5 menit Mengucapkan terima Menjawab salam
kasih
Mengucapkan salam

G. Pengorganisasian

Penyaji : Saharudin, S.Kep


Tugas : Memberi penyuluhan tentang harga diri rendah
Fasilitator : 1. Deni Irawan, S.Kep
2. Idham Kholid, S.Kep
3. Edi Rismanto, S.Kep
4. Restu Sulistyo, S.Kep
5. Yuldeni, S.Kep
Tugas : Memfasilitasi keluarga klien di saat melakukan pendidikan kesehatan
harga diri rendah

Moderator : Dede Hendriansyah, S.Kep


Tugas : Memandu jalannya penyuluhan
Observer : Yori Primasari, S.Kep
Tugas : Mengobservasi jalannya pendidikan kesehatan tentang harga diri rendah

H. SETTING TEMPAT

Keterangan:

: Leader
: Co leader
: Observer

: Fasilitator
: Klien

I. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Poli RSJ Tampan

Provinsi Riau.
b. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.
2. Evaluasi Proses
a. Keluargamemperhatikan terhadap materi penyuluhan.
b. Keluarga bertanya tentang materi penyuluhan.
c. Keluarga mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
3. Evaluasi Hasil
Diharapkan 80% Peserta mampu :
a. Menyebutkan pengertian HDR dengan bahasanya sendiri dengan benar.
b. Menyebutkan bagaimana proses terjadinya HDR dengan bahasanya

sendiri dengan benar.


c. Menyebutkan tanda dan gejala HDR dengan bahasanya sendiri dengan

benar.
d. Menjelaskan cara merawat anggota keluarga HDR dengan bahasanya

sendiri dengan benar.


G. Penutup
1. Kesimpulan
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan

rendah diri berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan

kemampuan diri. Harga diri berkepanjangan termasuk kondisi tidak sehat

mental karena dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain, terutama

kesehatan jiwa.
2. Saran
Diharapkan setelah melakukan penyulahan keluarga mampu

membina pasien harga diri rendah

LEMBAR PERSETUJUAN
Di setujui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

( ) ( )

Materi Penyuluhan

Harga Diri Randah


A. Pengertian HDR
Harga diri rendah adalah perasaan tidah berharga, tidak berarti, dan rendah

diri berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan
diri.Harga diri kronik merupakan evaluasi diri negatif yang berkepanjanga/perasaan

tentang diri atau kemampuan diri (Keliat, 2005)


Harga diri rendah muncul akibat dari penilaian internal individu maupun

penilaian eksternal yang negatif. Penilaian internal adalah penilaian yang berasal

dari diri individu itu sendiri, sedangkan penilaian eksternal merupakan penilaian dari

luar dir individu (misal: lingkungan) yang mempengaruhi penilaian individu

tersebut.
B. Penyebab HDR
Harga diri dan konsep diri tidak bisa dipisahkan dari memandang diri sendiri.

Harga diri merupakan penilaian seseorang terhadap diri sendiri, baik bersidat positif

maupun negatif. Sementara konsep diri merupakan penilaian yang berasal dari

dalam diri sendiri.Seseorang yang memilki harga diri rendah maka akan membatasi

pergaulannya, kurang percaya diri, kurang aktif, dan tidak bisa bertanggung jawab

terhadap dirinya sendiri.


Faktor yang menyebabkan seseorang mengalami harga diri rendah, yakni:
a. Pola Asuh Keluarga
Pola asuh yang diterapkan di keluarga sangat berpengaruh terhadap

bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Pola asuh yang permisif

cenderung kurang terkontrol sehingga seseorang menjadi tidak bisa membedakan

mana yang baik dan mana yang tidak bisa diterima masyarakat. Sebaliknya, pola

asuh otoriter kadang menyebabkan masalah maladaptif dalam menilai diri.


b. Tekanan/Trauma
Banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya trauma, misalnya

kekerasan fisik, seksual, dan peristiwa lain yang bisa mengancam seseorang

hingga tidak bisa lepas dari bayang-bayang kejadian yang tidak menyenangkan

tersebut.
c. Keadaan Fisik
Harga diri seseorang juga dipengaruhi oleh kondisi fisik. Kondisi fisik

yang mempunyai kekurangan atau cacat akan membuat seseorang merasa

minder. Akibatnya mereka cenderung menarik diri untuk menyembunyikan

kekurangannya.
d. Ketidakberfungsian Secara Sosial
Ketidakberfungsian secara sosial disini adalah tidak mampunya seorang

individu menempatkan dirinya dalam fungsi sosial. Misalnya seorang kepala

rumah tangga yang menganggur, akan merasa rendah diri dalam kehidupan

sosialnya.
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala HDR dapat di lihat dari ungkapan pasien yang menunjukan

penilaian negatif tentang dirinya dan di dukung dengan data hasil wawancara dan

observasi.
1. Data subjektif

Pasien mengungkapan tentang :

a. Hal negatif diri sendiri atau orang lain


b. Perasaan tidak mampu
c. Pandangan hidup yang pesimis
d. Penolakan terhadap kemampuan diri
2. Data objektif
a. Penurunan produktifitas
b. Tidak berani menatap lawan bicara
c. Libik banyak menundukkan kepala saat berinteraksi
d. Bicara lambat dengan nada suara lemah
D. Akibat Lanjut HDR
Klien yang mengalami harga diri rendah bisa mengakibatkan gangguan

interaksi sosial: menarik diri, memicu munculnya perilaku kekerasan yang berisiko

mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Isolasi social merupakan keadaan

dimana individu dan kelompok mengalami kebutuhan meningkat keterlibatan

dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk melakukan kontak.


E. Cara Merawat Keluarga Dengan HDR
Tindakan keluarga dengan pasein saat melakukan pelayanan di rumah,

perawat menemui keluarga (pelaku rawat) terlebih dahulu sebelum menemui pasien.

Bersama keluarga perawat mengidentifikasi masalah yang di alami pasien dan

keluarga. Tindakan keperawatan untuk pasien dan keluarga dilakukan pada setiap

pertemuan, minimal 4x pertemuan dan dilanjutkan hingga pasien mampu mengatasi

harga diri rendah dan keluarga mampu merawat harga diri rendah.

1. Meningkatkan harga diri klien

Menjalin Hubungan saling percaya

Memberi kegiatan ssesuai kemampuan klien

Meningkatkan kontrak dengan orang lain

2. Menggali kekuatan klien

Dorong mengungkapkan pikiran dan perasaannya

Bantu melihat kebolehan dan kemampuan klien

Bantu mengenal harapan.

3. Mengevaluasi diri

Membantu klien mengungkapkan upaya yang biasa digunakan dalam

menghadapi masalah baik yang positif maupun yang agresif

4. Menetapkan tujuan yang nyata

Membantu klien mengungkapkan beberapa rencana menyelesaikan masalah

Membantu memilih cara yang sesuai untuk klien

5. Mengambil keputusan
Membantu klien untuk mengubah perilaku negatif dan mempertahankan

perilaku positif

6. Sikap keluarga: empati, mengontrol klien, memberi pujian pada klien.

DAFTAR PUSTAKA

Keliat budi, ana. 2005. Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa.
EGC.

Modul keperawatan jiwa