Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN ISOLASI DAN IDENTIFIKASI

1.1 LATAR BELAKANG


Mikroba dapat kita jumpai pada seluruh lingkungan normal maupun ekstrim. Setiap
mikroba membutuhkan kondisi lingkungan tertentu terkait dengan karakter morfologi dan
biokimia (metabolisme) yang dimilikinya. Mikroba yang hidup di alam terdapat dalam
bentuk populasi campuran. dan dijumpai sebagai spesies yang tunggal. Dengan demikian,
agar mikroba tersebut dapat diidentifikasikan, sehingga mudah dipelajari sifat pertumbuhan,
morfologis, dan fisiologis masing-masing mikroba maka langkah pertama yang harus
dilakukan yaitu spesies tersebut dipisahkan dari organisme lain yang umum dijumpai dalam
habitatnya, kemudian ditumbuhkan menjadi biakan murni yaitu suatu biakan yang terdiri dari
sel-sel dari satu spesies.
Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari
lingkungan, sehingga diperoleh kultur murni atau biakkan murni. Kultur murni ialah kultur
yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Beberapa cara yang
dilakukan untuk mengisolasi mikrooraganisme antara cara goresan (streak plate), cara
taburan/tuang (pour plate), cara sebar (spread plate), cara pengenceran ( dilution plate) serta
micromanipulator (Pleczar, 1986).
Ada beberapa metode dalam mengisolasi mikroba bakteri (mikroorganisme) yaitu dengan
menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran dan agar
miring. Metode-metode ini berdasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan
organisme sedemikian rupa sehingga tiap individu spesies dapat dipisahkan dengan lainnya.
Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah dalam perhitungan jumlah koloni mikroba
yang utmbuh, baik warna maupun karakteristik lainnya.
1.2

2.1 Pengertian Isolasi dan Identifikasi

Prinsip dari isolasi mikroba adalah mamisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lain
yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan
menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat sel-sel mikroba akan
membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Sutedjo, 1996).

Isolasi adalah proses pemisahan mikroorganisme yang diinginkan dari


populasi campuran ke media biakan (buatan) untuk mendapatkan kultur
murni. Inokulasi merupakan perpindahan inokulum dari sumbernya ke dalam
tanaman inang. Dengan dilakukannya inokulasi, berarti patogen memiliki
peluang yang besar untuk menyerang inangnya dan menimbulkan penyakit.
Hal ini dapat menjelaskan pengaruhinokulasi yang nyata terhadap intensitas
dan luas serangan penyakit hawar daun.Sedangkan identifikasi adalah
membandingkan gejala yang ada atau yang ditemukandengan yang terdapat
di dalam buku/pustaka (Perhutani, 1999).

Proses identifikasi dapat dilakukan berdasarkan bentuk morfologis dan


aktivitas mikrobaatau menggunakan buku identifikasi. Berdasarkan bentuk
morfologis, identifikasi mikroba dapat dilakukanterhadap bentuk sel
mikroba, bentuk koloni atau tampak samping maupun tampakatas dari koloni
mikroba. Berdasarkan aktivitas mikroba, identifikasi dapatdilakukan
berdasarkan pergerakan mikroba, reaksi spesifik dan produk metabolityang
dihasilkan. Identifikasi merupakan proses dalam suatu penelitian atau
pengamatan untuk menemtukan identitas suatu objek dengan cara
membanding-bandingkan antara objek yang di amati dengan litelatur yang
sudah ada sebelumnya.
Dalam mengidentifikasi mikroba dapat dilakukan dengan berbagai cara
metode, diantaranya sebagai berikut :
a) Morfologi Makroskopi
Dilakukan dengan mengamati karakteristik dari pola pertumbuhan
mikroorganisme pada media buatan yang diamati dengan mata telanjang
(tanpa alat bantu).
b) Morfologi Mikroskopi
Dilakukan dengan mengamati ukuran, bentuk, isi sel, organel sel, dan
susunan sel ketika diamati dengan mikroskop pada perbesaran tertentu.
c) Karakteristik Zat Warna (Pewarnaan)
Kemampuan mikroorganisme untuk biasanya digunakan dengan
pemeriksaan secara mikroskopi sebagai bagian dari identifikasi bakteri.
d) Persyaratan Lingkungan
Kemampuan mikroorganisme untuk hidup pada berbagai suhu,
menggunakan oksigen atau gas lain, pada berbagai tingkat pH, atau pun
keberadaan ion dan garam lainnya seperti NaCl.
e) Persyaratan Nutrisi
Kemampuan mikroorganisme untuk menggunakan berbagai macam
sumber karbon dan nitrogen sebagai substrat bernutrisi ketika tumbuh pada
keadaan lingkungan tertentu.
2.2 Jenis Mikroba (pengertian, ciri dll)
2.2.1 Kapang

Kapang adalah sekelompok mikroba yang tergolong dalam fungi dengan ciri khas
memiliki filamen (miselium). Kapang termasuk mikroba ynag penting dalam mikrobiologi
pangan karena selain berpeeran penting dalam industry makanan, kapang juga banyak menjadi
penyebab kerusakan pangan ( )
Kapang atau moulds merupakan fungi multiseluler berbentuk koloni dari suatu
filamen atau benang. Koloni tersebut dibangun oleh suatu struktur dasar berupa tubulus
berbentuk silinder yang bercabang-cabang dengan diameter bervariasi anatar 2 sampai 10 m
dan disebut. Lebar hifa dari suatu species biasanya relatif konstan selama pertumbuhannya.
Koloni dari hifa-hifa ini biasanya kan tumbuh bersama-sama diatas permukaan suatu media
dan membentuk suatu lempengan yang secara kolektif d k,isebut miselium, yang dapat
dilihat secara mudah tanpa mikroskop. Perkembangan miselium terjadi karena
pertumbuhan dari masing-masing hifa dengan cara perpanjangan ujung-ujung hifa dan
percabangan dari hifa tersebut. Hifa merupakan suatu tubulus yang mengandung nucleus
(inti) dengan jumlah lebih dari satu (bahkan dapat berjumlah ratusan), yang dilingkupi
sitoplasma. Biasanya sitoplasma dalam suatu hifa dapat saling bertukar. Beberapa hifa dapat
terbagi menjadi beberapa sel oleh adanya septa atau dinding pemisah pada tempat-tempat
tertentu sepanjang hifa.

2.2.2 Khamir

Khamir merupakan fungi uniseluler dan kebanyakan dari mereka termasuk dalam divisio
Ascomycotina. Sel khamir dapat berbentuk bola, oval atau silindris dengan ukuran
diameter bervariasi antara 3-5 m. Sel khamir dapat sangat bervariasi baik dalam hal bentuk
atau ukurannya. Hal ini bergantung dari umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi
flagel atau organ-organ penggerak lainnya. Sel khamir jauh lebih besar dari bakteri dan
dapat dibedakan dari sel bakteri selain karena perbedaan ukuran juga dari keberadaan
struktur-struktur internalnya. Contoh khamir yang paling populer adalah dari genus
Saccharomyces. Kebanyakan sel khamir memperbanyak diri dengan cara membentuk
tunas (budding) . Meskipun demikian ada sebagian kecil sel khamir yang dapat
memperbanyak diri dengan membelah diri sama besar (binary fission). Dalam proses
pertunasan, mula-mula diawali dengan lisisnya dinding sel pada daerah tertentu. Dengan tidak
adanya dinding sel pada daerah tersebut, menyebabkan terjadinya tekanan dari isi sel
keluar membentuk struktur seperti balon yang dikelilingi dinding sel induknya (Nagma
2006: 240). Identifikasi khamir dapat dilakukan secara konvensional
dilakukan berdasarkan karakter morfologi, fisiologi, dan biokimia (Barnett
dkk. 2000: 15).

2.2.3 Bakteri (Gram Posetif dan Negatif)

Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan


zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri
gram positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap
setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram negatif
tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal
(counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat
semua bakteri gram negatif menjadi berwarna merah atau merah
muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe
bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka
(Dwidjoseputro, 1998)

Menurut Hadioetomo (1988), dinding sel yang lebih tebal


pada bakteri gram positif menyusut o0leh perlakuan alkohol
karena terjadinya dehidrasi, menyebabkan pori-pori dindeing sel
menutup sehingga mencegah larutnya kompleks ungu kristal-
iodium pada langkah pemucatan. Sedangkan sel-sel gram negatif
mempunyai kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding selnya
dan lipid pada umumnya larut dalam alkohol dan aseton. Larutan
lipid oleh pemucat yang digunakan dalam pewarnaan gram
diduga memperbesar pori-pori dinding sel dan inilah yang
menyebabkan proses pemucatan pada sel-sel gram negatif
berlangsung lebih cepat.

2.3 Uji Katalase

Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji.
Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat memecah H 2O2 menjadi H2O dan
O2. Enzim katalase diduga penting untuk pertumbuhan aerobik karena H 2O2 yang dibentuk
dengan pertolongan berbagai enzim pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Beberapa
bakteri yang termasuk katalase negatif adalah Streptococcus, Leuconostoc, Lactobacillus, dan
Clostridium.

Keberadaan H2O2 pertama kali dideteksi pada kultur Pneumococcus, sebuah


organismeyang tidak memproduksi katalase dan sedikit sensitif terhadap peroksida. Organisme
yang tidak memproduksi katalase dilindungi oleh penanaman dengan jaringan hewan atau
tumbuhan atau organisme lain yang mempunyai kemampuan memproduksi enzim. Katalase
diproduksi oleh beberapa bakteri. Beberapa bakteri diantaranya memproduksi katalase lebih
banyak daripada yang lain. Ini ditunjukkan dengan jumlah yang banyak pada bakteri aerob.
Sedangkan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan
enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim
tersebut.

Bakteri katalase positif seperti S. Aureus bisa menghasilkan gelembung-gelembung oksigen


karena adanya pemecahan H2O2 (hidrogen peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh
bakteri itu sendiri. Komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri,
misalnya S. aureus, dimana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan
bakteri karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen ini harus
dipecah agar tidak bersifat toksik lagi.

Bakteri katalase negatif tidak menghasilkan gelembung-gelembung. Hal ini berarti H2O2
yang diberikan tidak dipecah oleh bakteri katalase negatif, misalnya, L.casei sehingga tidak
menghasilkan oksigen. Bakteri katalase negatif tidak memiliki enzim katalase yang menguraikan
H2O2.

Mekanisme enzim katalase memecah H2O2 yaitu saat melakukan respirasi, bakteri
menghasilkan berbagai macam komponen salah satunya H2O2. Bakteri yang memiliki
kemampuan memecah H2O2 dengan enzim katalase maka segera membentuk suatu sistem
pertahanan dari toksik H2O2 yang dihasilkannya sendiri. Bakteri katalase positif akan memecah
H2O2 menjadi H2O dan O2 dimana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase
tersebut adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti pada percobaan yang telah
dilakukan. Dengan enzim katalase, H2O2 diurai dengan reaksi sebagai berikut.

2H2O2 2H2O + O2

2.4 Pewarnaan Gram

Pewarnaan garam adalah suatu metode empiris untuk


membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yaitu
gram positif dan gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik
dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan
penemunya, ilmuan Denmark Hans Cristian Gram (1853-1938)
yang mengembangkan tehnik ini pada tahun 1884 untuk
membedakan antara pneumokokus dan bakteri klebsiella
pneumoniae. Pewarnaan Gram adalah pewarnaan diferensial yang
sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam laboratorium
mikrobiologi, karena merupakan tahapan penting dalam langkah
awal identifikasi. Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau
tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak
sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri. Jenis bakteri
berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram
positif dan gram negatif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel
yang tebal dan membran sel selapis. Sedangkan baktri gram
negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua
lapis membran sel (Waluyo,2008).

Menurut Hadieotomo (1988), pewarnaan ini merupakan salah satu


yang amat penting dan paling banyak digunakan dalam klasifikasi
bakteri. Dengan metode ini, bakteri dapat dipisahkan secara
umum menjadi dua kelompok besar, yaitu :

1) organisme yang dapat menajahan kompleks pewarna primer


ungu kristal iodium sampai pada akhir prosedur (sel-sel tampak
biru gelap atau ungu), disebut gram positive;

2) organisme yang kehilangan kompleks warna ungu kristal pada


waktu pembilasan dengan alkohol namun kemudian terwarnai
oleh pewarna tandingan, safranin (sel-sel tampak merah muda),
disebut gram negative.Menurut Volk (1992), pewarnaan mungkin
merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan
dalam klasifikasi bakteri. Ada 5 macam pewarnaan, yaitu :
1)Pewarnaan sederhana, memungkinkan untuk melihat bakteri
dengan jelas, tetapi tidak dapat membedakan jenis-jenis bakteri
yang berbeda dalam morfologi yang sama,
2)Pewarnaan tahan asam, untuk pewarnaan bakteri yang
mengandung sejumlah besar besar zat lipoid (berlemak) didalam
dinding selnya yang menyebabkan tidak permeabel terhadap zat
warna yang umum,

3)Pewarnaan spora, untuk pewarnaan bakteri yang membentuk


endospora yang tahan terhadap kondisi ekstrim sehingga
dibutuhkan perlakuan yang keras, 4)Pewarnaan kapsul,

5)Pewarnaa negative, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri


tetapi mewarnai latar belakangnya hitam gelap.

5.2

Goresan agar miring

Goresan agar miring tidak berbeda dengan goresan kuadran, hanya media
yang digunakan berbentuk miring dan ditempatkan pada tabung. Pada
goresan agar miring hanya menggunakan media yang telah tumbuh pada
penggoresan agar kuadran. Goresan agar miring pada sampel tempe
bentuknya sempurna sesuai dengan goresan yang dibentuk. Goresan agar
miring pad sapel yoghurt emilki bentu yn hapr sempurna namun goresn pda
akhir media tdk ditubuhi mikroba. Menurut nuniek (2001), agar irin diunakan
untuk menumbukan biakan murni atu kultur murni. Keberhasilan goresan
pada media dipengaruhi oleh tingkat keterampilan praktikan dalam
menggores serta tingkat penekanan jarum ose pada media, apabila jarum
terlalu menekan media maka media akan rusak sehingga mikroba tidak akan
tumbuh sedangkan apabila jarum terlalu diangkat, kemungkinan mikroba
tidak akan tergores pada media sehingga bentuknya tidak kuadran. Selain
itu, penggoresan juga dipengaruhi oleh jumlah mikroba yang diambil, apabila
terlalu sedikit kemungkinan mikroba akan mati dan media tidak akan
ditumbuhi oleh mikroba (Nuniek, 2001).

5.2.3 identifikasi mikroorganisme

A.niger

Berdasarkan pengamatan dibawah mikroskop A. niger mempunyai kepala


pembawa konidia yang besar yang dipak secara padat, bulat dan berwarna
hitam, coklat hitam atau ungu coklat. Konidianya kasar dan mengandung
pigmen. Menurut Dewi et al (2015), Berdasarkan identifikasi yang telah
dilakukan terdapat 3 spesies yang memiliki karakteristik yang sama, dengan
ciri-ciri hifa berwarna coklat tua hingga coklat kehitaman, miselium
berseptat, konidia berwarna coklat atau hitam, berbentuk bulat, memiliki
duri-duri yang tidak beraturan dan konidiofor berdinding halus, berwarna
hialin, karakteristik ini adalah Aspergillus niger.

Menurut Miskiyah et al.(2006), Aspergillus niger mempunyai hifa bersepta, koloninya


berwarna putih pada PDA 25oC dan berubah menjadi hitam ketika konidia dibentuk. Kepala
konidia dari Aspergillus niger berwarna hitam, bulat, cenderung memisah menjadi bagian-
bagian yang lebih longgar seiring dengan bertambahnya umur. Selain itu, Aspergillus niger
memiliki warna dasar berwarna putih atau kuning dengan lapisan konidiospora tebal
berwarna coklat gelap sampai hitam. Secara makroskopis, permukaan terlihat berwarna
kehitaman, ketika diposisi terbalik (berlawanan) terlihat berwarna putih kekuningan.

T.viride

S.cerevsiae

R.oligosporhus

Berdasarkan pengamatan dibawah mikroskop R.oligosporhus hifa tidak bersepta,


bulat berwarna hitam daan ukuran bultannya agak kecil. Menurtu walluyo (2007),
Ciri-ciri spesifik Rhizopus adalah:
a. Hifa nonseptat
b. Mempunyai stolon dan rhizoid yang warnanya gelap jika sudah tua
c. Sporangiofora tumbuh pada noda dimana terbentuk juga rhizoid
d. Sporangia biasanya besar dan berwarna hitam
e. Kolumela agak bulat dan apofisis berbentuk seperti cangkir
f. Tidak mempunyai sporangiola
g. Membentuk hifa vegetative yang melakukan penetrasi pada substrat dan hifa
fertil yang memproduksi sporangia pada ujung sporangiofora
h. Pertumbuhannya cepat membentuk miselium seperti kapas

Pratiwi, D. A. Maryati, Sri, Srikini, Suharno, Bambang, S. 2006. Biologi Jilid 1. Erlangga.
Jakarta.

5.2.4 uji katalase

Katalase adalah enzim yang mengkatalisasikan penguraian


hydrogen peroksida (H2O2) menjadi air dan O2. (Djide dan Sartini
(2006). Uji katalaase paa pratku ini engunkan dua bakteri uji yatu
bcllus subtillis dan lacto. Berdasarn hasl pengtn, Bacllus subtlls
menghasilan gelebun gs yn menunjukkan bahw bakteri tersebut
erupakan bakteri katalase postfi. Hal ni sesuai dengan pernyataan
Cowan 2007 bacilus erupakab bakteri katalase postif. Bakteri hasil
isolasi yohurt menunjukkan adanya reaksi sehinga menghasilkan
gelembung gas juga yang menunjukkan bahwa bakteri uji adalah
bakteri katalase postif. Menurut pato 2008 bkteri asam laktat
seperti lacto sn strepto merupaka bakteri atlase negtf sehngg
bakteri uji tidak sesuai denga hpotesis praktikan. dungkinan
bahwa bakteri uji hasil isolasi yoghurt dalam bakteri kontamnan
yang berasal dari praktian seperti staphylococcus yang bakteri
tersebut berada dikulit manusia, stphylococcus menurut
hadieotomo 2009 merupakan bakteri katalase postf. Namun tdak
menutup kemungkinan bahwa bakteri yang hadir pada isolasi
yoghurt adalah bakteri lain yang berda di udra selain
stphylococcus yng bersft katalse postfi.

5.2.5 pewarnaan gram

Pewarnaan rm merupkan salah satu metode utnuk menentukan


jenis bakter ram postf dan ram neaatif. Berdasarkan hasil
praktkum, bakter uj yna diunakan aalah bkateri. An
memperolh hsil bhw seua bakter uj erupakan bakter gram postfi
semua. Hal ini dibuktian enan hasil akhr pewarnaan gram, bakteri
memperthnkan warna biru. Bter gr protfi memiliki petdoglikan yng
lebh tebal ibanding gram negatf. Enururt Zubdh 2006, mekanise
penyerpn wrn disajan dalam tabel berkut.

PEMBAHASAN

5.1 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan (isolasi,identifikasi, uji katalase dan
pewarnaan bram)

5.1.1 isolasi dan inokulasi

Pada praktikum ini sampel yang digunakan adalah . Hal pertama


yang dilakukan adalah persiapan sampel yang digunakan, sampel
dimasukkan kedalam media yang berada didalam cawan petri selanjutnya
dimasukkan kedalam inkubasi sselama 24 jam. Setelah dilakukan inkubasi 24
jam dilakukan penggoresan pada media yang berada di agar
5.1.2 isolasi nata dan yoghurt

Pada praktikum isolasi pada nata dan yoghurt adalah untuk


memperoleh kultur murni yang digunakan dalam pembuatan nata dan
yoghurt. Media yang digunakan yaitu media NA dan MRSA. Media Nutrient
Agar (NA) untuk nata dan deMann Rogosa Sharpe Agar (MRSA) untuk
yoghurt. Hal pertama yang dilakukan adalah pengukuran suspense yang
akan digunakan sebanyak 1 ml. selanjutnya suspense dimasukkan kedalam
cawan petri. Metode yang digunakan untuk nata dan yoghurtyaitu
menggunakan metode agar sebar yaitu Setelah dimasukkan ke cawan petri
ditambahkan dengan media yang digunakan sesuai dengan suspensinya.
Menggunakan metode agar sebar karena sifat mikroorganisme pada nata
dan yoghurt bersifat anaerob yang berarti mikroorganisme tersebut tidak
membutuhkan oksigen dalam pertumbuhannya. Setelah penambahan media,
cawan petri digerakkan membentuk angka delapan agar media yang
dituangkan rata setelah itu dilakukan pendiaman hingga memadat. Setelah
memadat cawan petri diinkubasi dengan suhu 37 C

5.1.3 Isolasi temped an tape

Pada praktikum isolasi pada tempe dan tape adalah untuk memperoleh
kultur murni yang digunakan dalam pembuatan tempe dan tape. Media yang
digunakan adalah PDA untuk tempe dan MEA untuk tape. Hal pertama yang
dilakukan adalah penuangan media pada cawan petri. Setelah dituangkan
cawan petri digerakkan dengan bentuk angka 8 agar media merata dan
ditunggu hingga memadat. Metode yang digunakan pada isolasi tempe dan
tape adalah metode agar tuang. Hal ini dikarenakan sifat mikroorganisme
dari tempe dan tape hanya dapat tumbuh pada kondisi aerobic yaitu
membutuhkan oksigen dalam pertumbuhannya. selanjutnya yaitu
ditambahkan dengan 1 gram kultur sampel pada media. Proses penambahan
sampel harus dalam kondisi yang aseptis agar tidak terjadi kontaminasi.
Kemudian diinkubasi pada suhu 30 C selama 48 jam yang bertujuan untuk
menumbuhkan biakan pada media. Menggunakan suhu 30 C karena
merupakan suhu yang optimal untuk pertumbuhan mikroba pada tempe dan
tape.

5.1.4 uji Katalase

Pada praktikum ini dilakukan uji katalase yang bertujuan untuk


mengetahui jenis mikroba yang tumbuh apakah termasuk katalase positif
atau katalase negative. Hal ini dapat dilihat dari ada tidaknya gelembung
yang dihasilkan setelah ditetesi dengan H2O2 3%. langkah pertama yang
dilakukan adalah mengambil 1 ose biakan yang diletakkan pada kaca objek.
Kemudian ditetesi dengan larutan h2o2 3%. Apabila terdapat gelembung
maka termasuk bakteri katalase positif dan apabila tidak terdapat
gelembung maka termasuk bakteri katalase negative. H2o2 berfungsi
sebagai indicator untuk mengetahui apakah suatu bakteri memproduksi
enzim katalase atau tidak. Apabila bakteri mampu memproduksi enzim
kalase maka h202 akan terpecah menjadi air dan oksiden.

5.1.5 pewarnaan Gram

Pada praktikum pewarnaan gram bahan yang digunakan adalah kristak


violet, mordan, alcohol 95%, safranin dan minyak imersi. Langkah pertama
yang dilakukan adalah

5.2 Analisa Data