Anda di halaman 1dari 9

Menentukan dan Menggunakan Materialitas, dan

Diskusi Tim Audit

Tugas Mata Kuliah


Auditing 1

Oleh:
Nama: Triana Novitasari
Nim: 150810301044

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Jember
2017
PENDAHULUAN:

Pemeriksaan laporan keuangan pada dasarnya untuk mengukur resiko salah saji
dalam laporan keuangan. Salah saji ini sifatnya bisa diabaikan maupun tidak,
tergantung pada seberapa material salah saji tersebut. Oleh karena itu, auditor perlu
melakukan pengukuran untuk mengukur tingkat meterial suatu salah saji. Materialitas
perlu dicari karena salah saji dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi pendapat
atau keputusan para pengguna laporan keuangan.
Dalam menentukan materialitas suatu laporan keuangan, auditor memiliki
langkah-langkah tersendiri sehinga dapat menjadi pertimbangan auditor dalam
menetapkan materialitas secara menyeluruh. Selain itu, materialitas juga digunakan
auditor untuk beberapa hal, salah satunya yakni sebagai dasar penentuan opini audit.
Proses audit tidak dilakukan seorang diri, melainkan melibatkan kesatuan tim
yang harus bekerja bersama-sama. Dengan demikian, unsur penting dalam sukses
penugasan audit manapun, adalah komunikasi yang baik antara anggota tim audit.
Komunikasi yang baik dapat meningkatkan produktivitas dan efektivitas audit, serta
mampu mengembangkan staf. Untuk menumbuhkan komunikasi berkelanjutan yang
efektif, diperlukan keterlibatan penuh dari partner penugasan dan anggota inti lainnya.
Topik ini menarik untuk dibahas agar diketahui lebih lanjut mengenai bagaimana
tahapan dalam menentukan materialitas suatu laporan keuangan, dan bagaimana
menggunakannya untuk kepentingan proses audit. Selain itu, mengingat proses audit
yang tak bisa dilakukan seorang diri, maka dalam suatu tim audit perlu diciptakan
suasana komunikasi yang baik. Oleh karena itu, akan menarik apabila dibahas lebih
lanjut tentang bagaimana membentuk diskusi tim audit yang baik agar tercipta
lingkungan diskusi yang nyaman.
PEMBAHASAN:

A. MENENTUKAN DAN MENGGUNAKAN MATERIALITAS


Materialitas adalah dasar untuk penilaian risiko (risk assessment) dan penentu
luasnya prosedur audit. Materialitas didasarkan pada persepsi auditor mengenai
kebutuhan informasi keuangan secara umum dari pemakai laporan keuangan sebagai
satu kelompok. Materialitas digunakan selama audit berlangsung untuk perencanaan
audit, penilaian resiko, dan pelaporan.

Overall Materiality dan Specific Materiality


Materialitas ditetapkan pada tingkat laporan keuangan dan pada ingkat jenis transaksi,
saldo akun, dan pengungkapan (disclosures). Overall materiality didasarkan pada
persepsi auditor mengenai kebutuhan informasi keuangan secara umum dari pemakai
laporan keuangan sebagai satu kelompok. Oleh karena itu, dampak salah saji untuk
seorang pemakai tertentu (spesific individual users), yang kebutuhannya bisa berbeda,
tidak menjadi pertimbangan auditor dalam menetapkan materialitas secara menyeluruh
(overall materiality). Specific materiality merupakan materialitas pada tingkat jenis
transaksi tertentu, atau saldo akun tertentu, atau pengungkapan tertentu.

Sifat Salah Saji


Disamping ukuran atau besarnya salah saji, auditor juga mempertimbangkan sifat dari
potensi salah saji dari situasi khusus mengenai terjadinya salah saji itu, ketika ia
mengevaluasi dampak salah saji itu terhadap lapotan keuangan. Situasi yang terkait
dengan salah saji, dapat menyebabkan auitor mengevaluasi salah saji itu sebagai
material sekalipun besarnya di bawah angka materialitas.

Performance Materiality
Performance materiality digunakan auditor unruk menekan risiko sampai ke titik rendah
yang dapat diterima (appropriately low level). Performance materiality sengaja
ditetapkan pada angka atau jumlah yang lebih rendah dari overall materiality atau
specific materiality. Tujuannya ialah melaksanakan lebih banyak pekerjaan audit untuk:
a. Memastikan salah saji yang lebih kecil dari overall materiality atau spesific
materiality dapat dideteksi; dan
b. Menyediakan suatu margin atau penyangga (buffer) untuk salah saji yang tidak
terdeteksi..
Bagaimana Menetukan Materialitas
Pembahasan berikut menjelaskan bagaimana menentukan besarnya overall materiality
dan specific materiality, dan cara menggunakannya.
a. Overall Materiality
Didasarkan atas persepsi auditor mengenai kebutuhan pemakai laporan
keuangan. Auditor dapat mengasumsikan hal-hal berikut mengenai pemakai
laporan keuangan:
Mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai bisnis, kegiatan ekonomis,
dan akuntansi
Mempunyai keinginan untuk mempelajari informasi dalam laporan keuangan
dengan cukup cermat
Memahami bahwa laporan keuangan dibuat dan diaudit pada tingkat
materialitas ( dan mengabaikan yang tidak materil)
Menerima ketidakpastian yang inheren dalam penggunaan estimasi,
judgment, dan pertimbangan mengenai peristiwa di kemudian hari
Membuat keputusan ekonomis yang wajar (reasonable economic decisions)
atas dasar informasi dalam laporan keuangan
b. Performance Materiality
Overall materiality dan specific materiality ditetapkan dalam hubungan dengan
kebutuhan pemakai laporan keuangan. Performance materiality ditetapkan dalam
jumlah yang lebih rendah. Akibatnya, auditor melaksanakan lebih banyak
pekerjaan audit (salah saji yang lebih kecil akan teridentifikasi) dan risiko audit
ditekan ke tingkat rendah yang dapat diterima. Performance materiality
dirancang untuk:
Memastikan salah saji yang lebih kecil dari overall materiality atau specific
materiality dapat terdeteksi; dan
Menyediakan suatu margin atau penyangga (buffer) untuk salah saji yang
tidak terdeteksi.

Materialitas dalam Perencanaan dan Penilaian Risiko


Menentukan berbagai materialitas merupakan unsur kunci dalam proses
perencanaan. Penentuan tingkat materialitas bukanlah suatu tahap yang berdiri sendiri
atau terpisah dari tahap-tahap lain, melainkan proises yang berkesinambungan dari
satu tahao ke tahap berikutnya sampai akhir audit. Istilah bahasa inggrisnya is it not a
discrete phase of an audit, but rather a continual and iterative process.
Istilah iterative process bermakna, suau prosedur menghasilkan temuan, dan
temuan ini memicu suatu tanggapan dalam prosedur sudit selanjutnya. Proses yang
iteratif ini ditunjukkan dalam perencanaan auditnya.
Materialitas dalam Pelaksanaan prosedur Audit
Auditor harus menggunakan materialitas ketika menentukan sifat, waktu, pelaksanaan,
dan luasnya prosedur audit. Gunakan materialitas unuk:
Megidentifikasi prosedur audit selanjutnya (further audit procedures)
Menentukan item mana yang harus dipilih untuk sampling atau testing, dan
apakah harus menggunakan teknik sampling.
Membantu menentukan banyaknya sampel.
Mengevaluasi Representative Sampling Errors (RSE) untuk mementukan salah
saji yang mungkin ada.
Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan (aggregate of total errors) paa tingkat
akun sampai ke tingkat laporan keuangan.
Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan, termasuk dampak neto dari salah
saji yang tidak dikoreksi (uncorrected misstatements) yang ada dalam saldo awal
retained earnings.
Menilai hasil prosedur audit

Materialitas dalam Pelaporan


Pada International Standards on Auditing (ISA) 450.11, dinyatakan bahwa auditor
wajib menentukan apakah salah saji yang tidak dikorensi adalah material, sendiri-
sendiri atau jika dihubungkan. Dalam menentukan hal ini, auditor wajib
mempertimbangkan:
Besar dan sifat salah saji, dalam hubungannya engan jenis transaksi, saldo akun
atau pengungkapan tertentu, maupun dalam hubungan dengan laporan
keuangan secara keseluruhan, serta situasi di mana salah saji yang terjadi; dan
Dampak salah saji yang tidak dikoreksi dalam hubungannya dengan jenis
transaksi, saldo akun, atau pengungkapan terkait, serta laporan keuangan
secara keseluruhan tahun lalu.

Lebih lanjut ISA 450. 12 menjabarkan bahwa auditor wajib mengomunikasikan


dengan Those Charged With Governance (TCWG) mengenai salah saji yang tidak
dikoreksi dan dampaknya, sendiri-sendiri atau jika digabungkan. Terhadap pendapat
auditor, kecuali jika dilarang oleh ketentuan perundang-undangan. Komunikasi auditor
wajib mengidentifikasi masing-masing salah sajimaterial yang tidak dikoreksi. Auditor
wajib meminta salah saji yang belum dikoreksi, agar dikoreksi.
Sebelum menerbitkan opini, auditor harus:
Menegaskan kembali materialitas yang ditetapkan untuk laporan
keuangansecara keseluruhan
Mengevaluasi sifat dan jumlah agregat salah saji yang tidak dikoreksi yang
ditemukan auditor; dan
Membuat penilaian menyeluruh mengenai apakah laporan keuangan
disalahsajikan secara material

Auditor menggunakan materialitas untuk:


Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan pada tingkat akun sampai ke tingkat
laporan keuangan
Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan;
Menentukan apakah prosedur audit tambahan harus dilaksanaka ketika
gabungan salah saji mendekati overall materiality atau specific materiality
Meminta manajemen mengoreksi semua salah saji yang ditemukan.
Mempertimbangkan untuk memeriksa kembali area dengan salah saji terbanyak;
Memberikan pandangan mengenai sifat dan sensitivitas salah saji yang
ditemukan, dan juga besarannya;
Menentukan apakah laporan auditor harus dimodifikasi.

Salah saji gabungan atau agregat (aggregate of misstatements) terdiri atas:


Salah saji yang secara spesifik ditemukan auditor yang merupakan hasil dari
prosedur pengujiannya; dan
Taksiran saji lainnya yang ditaksir atau diperkirakan.

Hal-hal Lain
dalam bagian ini ada tiga hal yang akan dibahas, yaitu:
1. Komunikasi dengan Manajemen Dan TCWG
Ketika auditor menemukan salah sjai dalam atau selama auditnya, langkah
pertama yang harus dilakuaknya ialah meminta kepada manajemen untuk
memperbaiki semua uncorrected misstatements (salah saji yang belum
dikoreksi) jika manajemen memutuskan untuk tidak mengoreksi beberapa atau
seluruh salah saji tersebut, auditor wajib berkomunikasi dengan TCWG
mengenai:
Rincian dari uncorrected misstatements dan dampaknya, terpisah atau
secara agregat, terhadap opini dalam laporan auditor;
Salah saji yang tidak dikoreksi dan berjumlah material, satu demi satu; dan
Dampak salah saji yang tidak dikoreksi terhadap jenis transaksi, saldo akun,
atau pengungkapan periode lalu, dan laporan keuangan secara keseluruhan.
2. Pemutakhiran Materialitas
Penilaian awal mengenai overall materiality dan specific materiality dapat
berubah dari perencanaaan audit pada awal mulanya, sampai saat mengevaluasi
hasil dari prosedur audit. Hal ini dapat terjadi karena perubahan situasi atau
perubahan mengenai apa yang diketahui auditor setelah melaksanakan prosedur
audit.
3. Penurunan Tingkat Materialitas dari Periode Atau Tahun yang Lalu.
Ketika situasi berubah dari suatu periode ke periode berikutnya, auditor perlu
mempertimbangkan dampak salah saji pada ekuitas awal periode.
4. Pendokumentasian
Dokumentasikan penentuan mengenai hal-hal berikut dan pertimbangkan
mengenai faktor-faktor yang dipergunakan dalam penentuan tersebut, antara
lain:
Overall materiality
Tingkat spesific materiality untuk jenis transaksi, saldo akun, atau
pengungkapan tertentu;
Performance materiality; dan
Setiap revisi atau perubahan terhadap faktor-faktor di atas selama audit
berlangsung

B. DISKUSI TIM AUDIT


Unsur penting dalam sukses penugasan audit manapun, adalah komunikasi yang
baik antara anggota tim audit. Komunikasi yang baik dapat meningkatkan produktivitas
dan efektivitas audit, serta mampu mengembangkan staf. Untuk menumbuhkan
komunikasi berkelanjutan yang efektif, diperlukan keterlibatan penuh dari partner
penugasan dan anggota inti lainnya, serta kesediaan personel senior untuk mendengar
personel yang lebih junior

Pertemuan Perencanaan Tim Audit


Dalam penugasan yang lebih besar, pertemuan mengenai perencanaan dijadwalkan
jauh sebelum dimulainya pekerjaan lapangan. Tiga hal yang dibahas selanutnya yaitu
sebagai berikut:
Berbagi insight tentang entitas
Bertukar pikiran (brainstorm)
Perencanaan audit.

Berbagi Insight Tentang Entitas


Pertemuan tim audit memeberikan kesempatan kepada partner penugasan dan
anggota tim untuk berbagi insight mengenai entitas, misalnya tentang manusia,
kegiatan, dan tujuan entitas. Tujuan pertemuan tim audit ialah untuk membahas secara
terbuka hal-hal berikut:
Entitas
Manajemen
Faktor risiko yang diketahui

Bertukar Pikiran
Pertemuan penugasan dalam hal ini adalah bertukar pikiran (brainstorming) mengenai
gagasan-gagasan dan pendekatan audit yang mungkin diterapkan sebagai berikut:
Potensi untuk kesalahan (error) dan kecurangan (fraud)
Tanggaoan terhadap risiko
Perencanaan audit

Komunikasi Selama dan pada Akhir Audit


Diskusi tim janganlah dibatasi dalam pertemuan-pertemuan mengenai perencanaan
audit. Tim audit perlu didorong untuk berkomunikasi dan berbagi informasi yang
mereka peroleh, dengan berbagai relevansinya, khususnya ketika informasi itu
berdampak pada penilaian risiko dan prosedur audit yang direncanakan.
KESIMPULAN:
Salah saji dalam laporan keuangan bisa diabaikan maupun tidak, tergantung
pada seberapa material salah saji tersebut. Karenya auditor perlu mempertimbangkan
seberapa meterial salah saji tersebut. Materialitas perlu dicari karena salah saji dalam
laporan keuangan dapat mempengaruhi pendapat atau keputusan para pengguna
laporan keuangan.
Proses audit melibatkan banyak orang, dalam hal ini suatu tim audit. Dengan
demikian, unsur penting dalam sukses penugasan audit manapun, adalah komunikasi
yang baik antara anggota tim audit. Komunikasi yang baik dapat meningkatkan
produktivitas dan efektivitas audit, serta mampu mengembangkan staf.

REFERENSI:
Tuanakotta, T. M. 2016. Audit Kontemporer. Salemba Empat, Jakarta.

Beri Nilai