Anda di halaman 1dari 6

Kajian Potensi Vegetasi dalam Konservasi Air dan Tanah di Daerah

Aliran Sungai (DAS): Studi Kasus di 3 Sub DAS Bengawan Solo


(Keduang, Dengkeng, dan Samin)

DAS merupakan suatu megasistem kompleks yang dibangun oleh sistem fisik, biologis, dan
manusia.Peran tiap komponen dan hubungan antar komponen sangat menentukan kualitas
DAS. Tiap-tiap komponen memiliki sifat yang khas dan keberadaannya tidak berdiri sendiri
melainkan berhubungan dengan komponen lainnya membentuk kesatuan sistem ekologis.
Komponen ekosistem DAS yang saling berhubungan tersebut akan menjaga kualitas DAS.
Salah satu komponen penting yang menentukan kualitas DAS adalah keragaman vegetasi.
Vegetasi memiliki peran penting sebagai komponen penyangga erosi dan mencegah
kekeringan. Kondisi vegetasi di sekitar DAS menentukan kualitas DAS secara keseluruhan.

Sub DAS Keduang mengalami degradasi yang cukup parah. Besar sedimentasi dari sub DAS
Keduang yang mencapai 1.218.580 m3/tahun (Ouchi, 2007). Penyebab tingginya
sedimentasi adalah kegiatan pertanian yang tidak ramah lingkungan di sub DAS Keduang.
Hal ini diperparah dengan penggundulan hutan dan alih fungsi lahan menjadi daerah
pertanian (Maridi et.al., 2012). Sub DAS Dengkeng merupakan satu dari 8 DAS di provinsi
Jawa Tengah yang masuk dalam kategori kritis (Dinas PSDA Provinsi Jawa Tengah, 2009).
Kerusakan Sub DAS Dengkeng ditandai dengan munculnya batuan induk, erosi parit, dan
sedimentasi. Erosi yang terjadi di Sub DAS Dengkeng sebesar 195,84 ton/Ha/tahun. Tebing-
tebing di sekitar DAS Degkeng merupakan tebing denganstabilitas rendah dan sangat rawan
longsor (Maridi et.al., 2014). Sub DAS Samin masuk dalam kondisi kritis. Hal ini ditandai
dengan banyak terjadinya alih fungsi lahan hutan menjadi areal perkebunan dan pertanian.
Menimbulkan konsekuensi wilayah sub DAS Samin mengalami erosi dan sedimentasi
sehingga menimbulkan ancaman bencana banjir dan tanah longsor.

Pelaksanaan model vegetatif sebagai strategi konservasi air dan tanah di DAS dapat
dilakukan dengan penanaman rumput. Vegetasi rumput dan tanaman penutup tanah lainnya
dapat menahan erosi dan sedimen. Vegetasi rumput berdasarkan hasil penelitian Maridi
(2012) mampu menahan sedimen rata-rata 1,2 m3/hektar. Arrijani (2006) yang juga
menyatakan bahwa vegetasi dan rumput tebal merupakan tipe vegetasi yang efektif dalam
menahan erosi jika dibandingkan dengan tanaman tumpang gilir, tanaman kapas, dan
tanaman jagung. Akar tumbuhan dapat meningkatkan stabilitas tanah secara signifikan dan
berperan sebagai anti erosi. Potensi tanaman semak dan rumput dalam konservasi tanah dan
air di DAS diperkuat dengan hasil penelitian Maridi et al. (2014) di DAS Samin bahwa
keberadaan semak dan rumput seperti Mimosapudica, Ageratum conyzoides, Tridax
procumbens, dan berbagai jenis tanaman rumput lainnya di daerah tengah dan hilir
merupakan potensi yang penting dalam konservasi DAS Samin. Tanaman semak dan rumput
memiliki potensi untuk dikembangkan dalam usaha konservasi air dan tanah. Sancayaningsih
dan Alanindra (2013) vegetasi rumput dapat menahan limpasan dan memperbesar infiltrasi.
Rata-rata retensi tumbuhan untuk menahan air hujan pada penelitian ini antara lain untuk
tanah (tanpa tumbuhan) 33%, rumput dan herba 77%, dan semak 81%. Persentase tertinggi
adalah pada tumbuhan semak, yaitu 81%. Hal ini berarti tumbuhan semak dapat menahan air
sebesar 81% dari debit air yang disiramkan. Tumbuhan semak merupakan tumbuhan penutup
lantai yang berkayu dan memiliki sistem perakaran yang bagus, serta penutupan tanahnya
tinggi. Jika dibandingkan dengan tanah terbuka (tanpa tumbuhan) terdapat perbedaan yang
jauh dalam menahan retensi air hujan. Tanah terbuka hanya mampu menahan retensi air hujan
rata-rata sebesar 33%.

Sumber : Maridi et al., Kajian Potensi Vegetasi dalam Konservasi Air dan Tanah di DAS

Prediksi Erosi dan Perencanaan Konservasi Tanah dan Air


pada Daerah Aliran Sungai Saba

Kerusakan DAS dipercepat oleh peningkatan pemanfaatan sumber daya alam sebagai akibat
dari pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi, kebijakan yang belum berpihak
kepada pelestarian sumber daya alam, serta masih kurangnya kesadaran dan partisipasi
masyarakat dalam konteks pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam (Saeful, 2009
dalam Sonapasma, 2010), hal ini berdampak DAS lambat laun mencapai tingkat kritis hingga
sangat kritis. Permasalahan aktual pada DAS Saba yaitu masih dimanfaatkannya lahan
dengan kemiringan lereng agak curam sampai dengan curam untuk penggunaan kebun
campuran tanpa tindakan konservasi serta kondisi penutupan lahan yang buruk. Kondisi
pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air ini
menyebabkan DAS Saba rentan akan ancaman erosi.

Metode yang digunakan dalam penelitian in adalah metode survei/observasi di lapangan dan
dilanjutkan dengan analisis tanah di Labotarium Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Udayana. Penelitian diawali menentukan unit lahan dengan menumpangtindihkan peta digital
jenis tanah, kelas lereng dan penggunaan lahan menggunakan software ArcView GIS 3.3.
Metode yang digunakan pada pendugaan erosi adalah metode USLE (Universal Soil Loss
Equation) yang dikembangkan oleh Wishchmeier dan Smith dengan persamaan sebagai
berikut : A = R*K*LS*C*P.

Prediksi erosi menunjukkan bahwa pada kondisi erosi sangat ringan (unit lahan 1, 2, 9, 13,
15, 21, 22, 23, 24, 25, 27, 28 dan 29) dengan penggunaan lahannya dominan hutan alami dan
sawah serta erosi ringan (unit lahan 12) dengan kondisi penggunaan lahan untuk kebun
campuran yang memiliki nilai LS rendah nilai erosi aktualnya lebih kecil daripada nilai erosi
yang diperbolehkan sehingga tidak perlu dilakukan perencanaan konservasi melainkan
kondisi awalnya tetap dipertahankan/dilestarikan agar erosi yang terjadi tidak meningkat.
Pada unit lahan 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 30 memiliki penggunaan lahan kebun campuran dengan
tanaman dominan kopi serta kondisi penutupan lahannya yang buruk karena minimnya
tanaman penutup tanah, perencanaan konservasi yang dilakukan yaitu dengan melakukan
penanaman tanaman penutup tanah pada perkebunan kopi, kerapatan sedang dengan teras
guludan serta alternatif kedua yaitu kebun campuran, tajuk bertingkat, kerapatan sedang,
penutup tanah bervariasi dengan teras guludan. Pada unit lahan 10, 11, 14, 17, 18 dan 19
dengan penggunaan lahan kebun campuran memiliki nilai CP dan LS yang relatif tinggi
sehingga erosi aktualnya meningkat, alternatif konservasi yang disarankan yaitu kebun
campuran, tajuk bertingkat, kerapatan sedang, penutup tanah bervariasi dengan teras guludan.
Pada unit lahan 16 dengan penggunaan lahan sebagai tegalan (tanaman dominan mangga)
memiliki nilai CP yang tinggi serta kondisi penutupan lahannya yang buruk sehingga erosi
aktualnya melampaui erosi yang diperbolehkan, alternatif konservasi yang disarankan untuk
menekan erosi aktualnya yaitu kebun campuran, tajuk bertingkat, kerapatan tinggi, penutup
tanah bervariasi dengan teras tradisional. Pada unit lahan 20 dengan penggunaan lahan
sebagai kebun campuran (tanaman dominan kakao) kondisi penutupan lahannya buruk serta
nilai LS tinggi dengan kemiringan lereng 40 % menyebabkan nilai erosi aktual meningkat,
alternatif konservasi yang disarankan yaitu penanaman tanaman penutup tanah pada
perkebunan kakao, kerapatan tinggi dengan teras guludan serta alternatif kedua yaitu kebun
campuran, tajuk bertingkat, kerapatan sedang, penutup tanah bervariasi dengan teras guludan.

Sumber : I Gusti Ayu Surya Utami Dewi I Gusti Ayu Surya Utami Dewi, Ni Made Trigunasih,
Tatiek Kusmawati, E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika Issn: 2301-6515 Vol. 1,
No. 1, Juli 2012

KONSERVASI TANAH DAN AIR DI INDONESIA


KENYATAAN DAN HARAPAN

Masalah konservasi tanah dan air di Indonesia merupakan tugas berat bagi Bangsa Indonesia
mengingat luasnya lahan kritis dan menuju kritis, yang bahkan bertambah setiap tahun, dan
tingkat kesulitan penanganan yang tinggi termasuk dalam upaya perbaikan kehidupan tani di
wilayah tersebut. Tanah sebagai komponen utama usaha tani yang harus dipelihara,
dimodifikasi bila perlu, sangat mempengaruhi produksi dan penampilan tanaman. Usaha
konservasi tanah dan air dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu :
1. Metode vegetatif, menggunakan tanaman sebagai sarana
2. Metode mekanik, menggunakan tanah, batu dan lain-lain sebagai sarana.
Konservasi tanah dan air harus dilaksanakan secara terpadu dengan koordinator yang jelas
demi menjamin kelestarian sumber daya alam, terutama dalam upaya konservasi tanah dan
air bagi kesejahteraan rakyat. Kelembagaan yang menangani konservasi tanah dan air tidak
lagi relevan dibentuk secara adhoc saja, akan tetapi harus dilekatkan pada fungsi, tugas dan
wewenang pada para pelaksanannya di lapangan yang terkait secara struktural dengan
instansi yang kompeten. Ketegasan lembaga yang menangani pelaksanaan kosnervasi tanah
dan air sangat diharapkan pada semua tingaktan untuk memberikan sanksi kepada pelaksana
yang tidaks erius bekerja mulai dari tahapan prasurvei, rekonessan, semidetail, detail dan
intensif. Peningkatan spesialisasi, profesionalisasi dan koordinasi para individu
pelaksana/instansi yang diberi tanggungjawab menangani konservasi tanah dan air, masih
perlu ditingkatkan dibarengi dengan kepedulian tinggi. Pelaksanaan sanksi hukum yang tegas
bagi para pelanggar ketentuan dari konvensi tanah dan air. Meskipun Bank Dunia dapat
mesuply pendanaan, namun input kirit bagi kerjsama berikutnya bukanlah uang.Yang
diperlukan dalam hal ini adalah proposal bagi perubahan kebijakan, peraturan dan petunjuk
yang akan menghapus faktor penghalang atas keefektivan impelementasi tingkat lapangan.
Meningkatkan kreativitas petani dan dukungan para ahli adalah penting bagi keberhasilan
program penghijauan dan reboisasi sebagai bentuk partisipasi dari para petani dan komunitas
pedesaan.

Sumber : Inon Beydha. 2012. Konservasi Tanah Dan Air di Indonesia Kenyataan Dan
Harapan. Sumatera Utara. USU Digital Library
KONSERVASI TANAH DAN AIR: PEMANFAATAN LIMBAH HUTAN DALAM
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TERDEGRADASI

Keberhasilan penerapan teknik konservasi tanah dan air dalam rehabilitasi hutan dan lahan
terdegradasi sangat tergantung pada kesesuaian dan kemampuan lahan, murah, dan
berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sejalan dengan prinsip-prinsip
social forestry. Salah satu alternatif teknik konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan
adalah teknik mulsa vertikal. Teknik ini yaitu dengan membuat saluran di dekat pohon utama
dan memasukkan limbah atau serasah yang ada di sekitarnya ke dalam saluran tersebut. Di
bidang kehutanan, teknik ini belum diterapkan, padahal dalam hutan dan lahan terdegradasi,
banyak dijumpai limbah hutan, yang dapat dikelola untuk percepatan pertumbuhan tanaman.
Limbah hutan merupakan bagian-bagian pohon atau tumbuhan sebagai hasil dari sistem
pemanenan hutan. Limbah ini sebagian masih layak dimanfaatkan seperti untuk arang
maupun produk-produk olahan yang lain (balok, papan, dan sebagainya). Sedangkan ranting-
ranting kecil maupun serasah seringkali diabaikan pemanfaatannya. Padahal bagian-bagian
ini masih dapat dimanfaatkan khususnya dalam upaya konservasi tanah dan air. Penerapan
teknik konservasi tanah dan air dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dengan
memanfaatkan limbah hutan dengan teknik mulsa vertikal diharapkan dapat membantu dalam
upaya pengendalian erosi, aliran permukaan, dan kehilangan unsur hara. Tanah akan terhindar
dari kerusakan oleh erosi dan air hujan yang mengalir di permukaan tanah. Air ini akan
masuk ke dalam saluran yang berisi mulsa (limbah hutan), kemudian meresap ke dalam profil
tanah. Bahan organik yang berupa mulsa ini merupakan media yang dapat menyerap dan
memegang massa air dalam jumlah besar, sehingga penyimpanan air dalam tanah dapat
berjalan efisien. Secara teknis, teknik konservasi tanah dan air dengan memanfaatkan limbah
hutan ataupun serasah dengan teknik mulsa vertikal diharapkan dapat diterapkan dalam upaya
pengelolaan lahan terdegradasi. Namun pengalaman menunjukkan rakitan teknologi
konservasi tanah dan air yang terpilih yang diterapkan di lapangan dengan skala lapangan
(luas) telah ditemukan beberapa kelemahan, sehingga teknologi tersebut tidak berkembang.
Teknik konservasi tanah dan air dengan teknik mulsa vertikal dengan memanfaatkan limbah
hutan ditinjau dari segi pembuatannya yang merupakan gabungan dari saluran dan guludan
diharapkan dapat mengurangi/memperkecil kelemahan seperti yang ditemukan pada rakitan
teknologi konservasi tanah dan air yang lain seperti teras bangku.

Sumber: Pratiwi. 2007. Konservasi Tanah Dan Air: Pemanfaatan Limbah Hutan Dalam
Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Terdegradasi. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian

APLIKASI TEKNIK KONSERVASI TANAH DENGAN SISTEM RORAK PADA


TANAMAN GMELINA (Gmelina arborea Roxb.) DI KHDTK CARITA, BANTEN
(Application of Silt Pit Soil Conservation System on Gmelina (Gmelina arborea Roxb.)
Planting in Forest Area in Special Purposes Carita, Banten)*

Curah hujan yang tinggi dan pengolahan lahan tanpa menerapkan teknik-teknik konservasi
tanah menyebabkan tingginya aliran permukaan dan erosi yang menghanyutkan top soil yang
kaya unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang besarnya
pengaruh aplikasi teknik konservasi tanah dan air (rorak) terhadap pertumbuhan tanaman
Gmelina arborea Roxb. Lokasi penelitian adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus
(KHDTK) Carita. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan
tiga perlakuan, yaitu P5 = G. arborea + rorak jarak 5 m; P = G. arborea + rorak jarak 10 m;
dan P0 10 = G. arborea + tanpa rorak (kontrol). Analisis data tinggi dan diameter tanaman
menggunakan ANOVA, dan untuk parameter lain dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan pertumbuhan terbaik tanaman G. arborea dicapai pada P dengan rata-rata
tinggi dan diameter masingmasing 10,07 m dan 13,21 cm. Pada saat tanaman mencapai umur
3 tahun, pada perlakuan P5 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman
sedangkan pertumbuhan diameter hanya dipengaruhi oleh P5. Perlakuan P juga mampu
menekan aliran permukaan dan erosi sebesar 2,07% dan 13,56% dari plot kontrol.
Kehilangan unsur hara melalui erosi lebih besar jika dibandingkan melalui aliran permukaan,
dan P5 5 mengalami kehilangan unsur hara paling kecil jika dibandingkan P. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa adanya pemberian rorak mampu mengurangi laju aliran permukaan dan
erosi. Pemberian rorak dengan jarak lima meter (P) memberikan laju aliran permukaan dan
erosi terkecil jika dibandingkan dengan pemberian rorak dengan jarak 10 meter (P5) dan
tanpa pemberian rorak (P0 10). Hal ini karena dengan adanya saluran (rorak) menyebabkan
air tertampung dan menurun kecepatan alirannya sehingga laju infiltrasinya meningkat.
Peningkatan laju infiltrasi juga disebabkan permukaan resapan meningkat, oleh karena
dinding saluran juga merupakan tempat resapan. Jika aliran permukaan dan erosi lebih
rendah, maka infiltrasi air yang masuk ke dalam tanah lebih tinggi dibanding tanpa rorak.

Sumber : Pratiwi dan Andi Gustiani Salim Jurnal Vol. 10 No. 3, Desember 2013 : 273-282
RESUME JURNAL

(Tugas Mata Kuliah Teknik Konservasi Tanah dan Air)

Oleh
Retno Ayu Kusuma Wardani

1414071079

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017

Anda mungkin juga menyukai