Anda di halaman 1dari 6

ALAT TANGKAP IKAN

KAB. BATANGHARI

Disusun Oleh :

Ade Zakaria E1E014006

Aliza Izet Hidayat E1E014029

Guntur Pratama E1E014030

Utari Oktavianis E1E014039

Pramesti Nur Cahyani E1E014040

Gefri Oktaliana Ginting E1E014046

PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2016
ALAT TANGKAP KAB. BATANGHARI

Berikut alat tangkap yang biasa digunakan oleh warga Kab. Batanghari sebagai berikut :

1. Pengilar

Deskripsi tentang alat tangkap ini adalah alat ini berbentuk empat persegi dan kadang
belakangnya berbentuk silinder. Bambu untuk pengilar bambu (biasa juga disebut pengilar udang), kawat
strimin atau berlubang untuk pengilar kawat dan juga ada juga menggunakan tali yang tersususun seperti
jaring dengan bambu sebagai tiang utama (pengilar riau), juga terdapat injab di bagian depan dan sejajar
dengan dinding bagian depan dan panjangnya sama dengan tinggi pengilar.

Spesies ikan yang tertangkap dalam pengilar diantaranya adalah ikan sepat siam (Trichogaster
pectroralis), ikan sepat mata merah, selincah, sepatung, betok, lele lokal, belut dan udang (untuk pengilar
udang).

2. Tangkul (Lie Net)


Tangkul berbentuk segi empat dengan ukuran 150 cm. terbuat dari senar yang dirajut menyerupai jaring
dengan mess size 1 cm. Pada ke-empat sudutnya masing-masing dihubungkan dengan jerigi yang terbuat
dari bambu yang di belah tipis dan berukuran 150 cm. Ke-empat jerigi disatukan menggunakan paralon
atau bambu yang berfungsi sebagai poros. Poros diikatkan dengan bambu dengan panjang 250 cm sebagai
angkatan tangkul (satang).

Tangkul banyak digunakan di tepi sungai dan rawa, terutama pada bagian muara aliran air. Pada bagian
ini banyak ikan kecil berkumpul, karena sifat ikan yang suka menentang arah arus air. Ikan yang biasa
didapat menggunakan tangkul adalah ikan-ikan kecil seperti ikan seluang (Rasbora Sp), sepengkah
(Parambasis wolffii).

3. Tajur

Tajur termasuk kedalam line fishing. Tajur terbuat dari bambu kecil atau masyarakat lebih mengenal
dengan istilah prumpung. Alat ini menyerupai pancing dengan ukuran pendek, panjang tajur sekitar 1
meter dan diameter 0,5-1 cm. Tali yang digunakan adalah nilon, dan mata pancing ukuran 10-12. Nilon
diikatkan pada ujung untuk alat tajur di rawa. Sedangkan pada tajur sungai diikatkan pada bagian tengah
batang bambu.

Cara pengoperasian tajur, adalah dipasang di tepi rawa, sawah lebak dan tepi sungai. Umpan yang
digunakan adalah hewan yang diusahakan masih hidup seperti katak sawah, dan ikan sepat mata merah.
Pada pemasangan di daerah rawa tajur hanya cukup diletakan pada semak rumput yang diperkirakan
terdapat air dan sarang ikan. Sedangkan pada daerah pinggir sungai, tajur ditancapkan pada bagian
ujungnya pada daerah pinggir sungai. Jenis ikan yang tertangkap antara lain adalah ikan gabus (Channa
striata), dan lele lokal (Clarias sp).

4. Bubu Haruan

Bubu haruan termasuk kedalam alat tangkap jenis perangkap. Haruan berasal dari nama ikan gabus
(Channa striata) di daerah perairan kalimantan. Bubu ini terbuat dari bilah-bilah bambu yang di serut
halus, rotan atau resam, dan plastik ball. Bubu haruan memiliki panjang 144 cm, dengan bentuk bagian
depan besar (diameter 16,5 cm) dan bagian belakang lebih kecil (7 cm). bubu ini memiliki dua injab,
injab penggiring dan injab pengurung. Bagian pintu belakang ditutup dengan sandal bekas ataupun botol
obat dan pupuk.

Cara pengoperasian bubu ini adalah dipasang di pinggir sungai atau rawa dengan posisi bagian depan
terbenam ke dalam air dan searah arus air pada bagian muara. Jenis ikan yang tertangkap adalah sepat
siam (Trichogaster pectroralis), sepat mata merah (Trichogaster leen), selincah (Polychantus haselti), dan
gabus (Channa striata).

5. Jala

Jala lempar merupakan alat tangkap yang sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar
dalam pembuatan. Bahannya terbuat dari nilon multifilamen atau dari monofilamen, diameternya berkisar
3 - 5 m. Alat ini banyak dioperasikan di perairan seperti ; sungai, waduk dan danau serta perairan pantai
berkedalaman berkisar 0,5 10 m. Bagian kaki jaring diberikan pemberat terbuat dari timah.

Jala termasuk alat penangkap yang umum dikenal karena hampir setiap nelayan dapat
membuatnya sendiri. Alat tangkap ini di samping dapat digunakan sebagai usaha sampingan dapat juga
merupakan usaha kecil-kecilan. Pada prinsipnya penangkapan dengan jala ialah mengurung ikan, udang
dengan jalan menebarkan alat tersebut demikian rupa sehingga menelungkup atau penutup sasaran yang
dikehendaki.

B. Pengoperasian Alat

Menjelang penangkapan kedudukan jala diatur demikian rupa sehingga sebagian jaring berada
(dimasukkan) di dalam air dalam keadaan tergantung (berkembang) dan sebagian lagi berada di atas dek
perahu. Dua utas tali panjang (tali tank pinggir) yang masing-masing ujungnya telah diikatkan pada
tengah-tengah mulut jaring (jala) kemudian dilakukan pada cincin yang selanjutnya dipegang oleh dua
orang yang berada di bagian depan dan belakang perahu. Sementara itu seseorang lagi memegang tali jala
(tali tarik tengah) yang kadang-kadang dilakukan dulu pada katrol yang terdapat pada bagian ujung dan
pada tiang perahu.

Sedangkan seorang lagi mengatur kedudukan perahu agar selalu berada di depan rumpon dan
memegang rumpon tersebut melalui pelampungnya. Orang ini selalu menggerak-gerakkan rumpon agar
ikan-ikan yang berkerumun di sekitar rumpon mendekati mulut jala. Dalam keadaan bila segala
sesuatunya telah siap kemudian dilakkan penurunan jaring. Kedua orang yang berada di bagian depan
dan belakang perahu melepaskan tali eretan (tali tank) sementara bagian jaring yang berada di atas perahu
diturunkan ke dalam air.

Demikian juga orang yang berada di tengah sambil memegang tali jala mengikuti jalannya
pelepasan tali eretan dan melemparkan jaring yang ada di bagian tengah-tengah. Pekerjaan menurunkan
jaring dilakukan secara serempak dan seirama. Karena adanya arus air jaring tadi dengan sendirinya akan
terbuka dengan baik. Penurunan jaring dapat juga dilakukan dengan menggunakan galah bambu yang
ujungnya bercagak, yaitu dengan mendorong bagian tengah-tengah jaring yang terendam di dalam air.
Dengan melakukan hal yang demikian rupa bagian-bagian jaring lainnya yang masih berada di atas
peraliu akan jatuh, meluncur dengan sendirinya karena adanya beban berupa rantai pemberat.
Pengangkatan jaring dilakukan dengan menarik tali tank tengah hingga semua bagian-bagian jaring
terangkat ke atas perahu. Penarikan jaring tersebut kadang dilakukan melalui katrol yang berada di ujung
tiang perahu.

6. Serkap

Serkap alat tangkap yang biasa di gunakan pada perairan dangkal, pinggiran sungai, sawah lebak
dan rawa-rawa dangkal. Serkap berbentuk hampir menyerupai kerucut dengan ujung terbelah dan terbuka,
dan rongga bawah berbentuk lingkaran dan runcing. Alat ini terbuat dari bahan bambu tua yang di potong
dibelah kecil-kecil dan dihaluskan. Kemudian diikatkan pada dua bingkai besi sebagai kerangka pada
bagian atas dan bawah menggunakan rotan dan kawat. Tinggi alat mencapai 65 cm, diameter lubang
bawah 35 cm dan lubang tas 15 cm.

Pengoperasian serkap yaitu diselungkupkan pada tempat yang diperkirakan terdapat ikan
bersembunyi. Ini dapat diketahui dengan cara mengamati gerakan ikan pada air dangkal yang bergerak.
Setelah ikan diserkap maka ikan akan terkurung di bagian dasar, dan hasil tangkapan dapat diambil
dengan cara memasukan tangan dari lubang bagian atas dan di ambil satu persatu. Jenis ikan yang
tertangkap menggunakan alat tangkap serkap adalah gabus (Channa Striata), Betok (Anabas testudienus),
dan Sepat siam (Trichogaster pectroralis).