Anda di halaman 1dari 15

KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS

Tenggara pada awal abad XVI kadang-kadang dipandang sebagai titik penentu
yang paling penting dalam sejarah kawasan ini. Pada abad XV bangsa Portugis
merupakan salah satu bangsa yang mencapai kemajuan-kemajuan di bidang
teknologi. Bangsa Portugis telah dapat membuat kapal-kapal yang lebih layak dan
canggih di bandingkan dengan kapal-kapal sebelumnya memungkinkan mereka
melakukan sebuah pelayaran dan melebarkan kekuasaaan ke seberang lautan.
Dengan alasan untuk menguasai impor rempah-rempah di kawasan Eropa, bangsa
Portugis mencari daerah kawasan penghasil rempah-rempah terbaik. Rempah-
rempah di kawasan Eropa merupakan kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim
dingin di Eropa, tidak ada salah satu cara pun yang dapat di jalankan untuk
mempertahankan agar semua hewan-hewan ternak dapat tetap hidup. Kerena itu
banyak hewan ternak yang disembelih dan dagingnya kemudian harus di awetkan.
Untuk itulah diperlukan sekali banyak garam dan rempah-rempah.

Cengkih dari Indonesia Timur adalah yang paling berharga. Indonesia juga
menghasilkan lada, buah pala, dan bunga pala. Kekayaan alam Indonesia yang
begitu melimpah termasuk dalam tanaman rempah-rempah menjadi alasan Portugis
ingin menguasai daerah Indonesia sekaligus menguasai pasaran Eropa.

A. AWAL PROSES KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS KE


INDONESIA

Tahun 1487, Bartolomeus Dias mengitari Tanjung Harapan dan memasuki perairan
Samudra Hindia. Selanjutnya pada tahun 1498, Vasco da Gama sampai di India.
Namun, orang-orang Portugis ini segera mengetahui bahwa barang-barang
dagangan yang hendak mereka jual tidak dapat bersaing di pasaran India yang
canggih dengan barang-barang yang mengalir melalui jaringan perdagangan Asia.
Karena itu, mereka sadar harus melakukan peperangan di laut untuk mengukuhkan
diri.

Gambar: Bartolomeus Diaz


Alfonso de Albuquerque merupakan panglima angkatan laut terbesar pada masa itu.
Pada tahun 1503 Albuquerque berangkat menuju India, dan pada tahun 1510, dia
menaklukan Goa di Pantai Barat yang kemudian menjadi pangkalan tetap Portugis.
Pada waktu itu telah dibangun pangkalan-pangkalan di tempat-tempat yang agak ke
barat, yaitu di Ormuzdan Sokotra. Rencananya ialah untuk mendominasi
perdagangan laut di Asia dengan cara membangun pangkalan tetap di tempat-
tempat krusial yang dapat digunakan untuk mengarahkan teknologi militer Portugis
yang tinggi. Pada tahun 1510, setelah mengalami banyak pertempuran, penderitaan,
dan kekacauan internal, tampaknya Portugis hampir mencapai tujuannya. Sasaran
yang paling penting adalah menyerang ujung timur perdagangan Asia di Maluku.

Gambar: Vasco da Gama

Setelah mendengar laporan-laporan pertama dari para pedagang Asia mengenai


kekayaan Malaka yang sangat besar, Raja Portugis mengutus Diogo Lopez de
Sequiera untuk menekan Malaka, menjalin hubungan persahabatan dengan
penguasanya, dan menetap disana sebagai wakil Portugis di sebelah timur India.
Tugas Sequiera tersebut tidak mungkin terlaksana seluruhnya saat dia tiba di
Maluku pada tahun 1509. Pada mulanya dia disambut dengan baik oleh Sultan
Mahmud Syah (1488-1528), tetapi kemudian komunitas dagang internasional yang
ada di kota itu meyakinkan Mahmud bahwa Portugis merupakan ancaman besar
baginya. Akhirnya, Sultan Mahmud melawan Sequiera, menawan beberapa orang
anak buahnya, dan membunuh beberapa yang lain. Ia juga mencoba menyerang
empat kapal Portugis, tetapi keempat kapal tersebut berhasil berlayar ke laut lepas.
Seperti yang telah terjadi di tempat-tempat yang lebih ke barat, tampak jelas bahwa
penaklukan adalah satu-satunya cara yang tersedia bagi Portugis untuk
memperkokoh diri.
Gambar: Alfonso de Albuquerque

Pada bulan April 1511, Albuquerque melakukan pelayaran dari Goa menuju Malaka
dengan kekuatan kira-kira 1200 orang dan 17 buah kapal. Peperangan pecah
segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis sepanjang
bulan Juli hingga awal Agustus. Pihak Malaka terhambat oleh pertikaian antara
Sultan Mahmud dan putranya, Sultan Ahmad yang baru saja diserahi kekuasaan
atas negara namun dibunuh atas perintah ayahnya.

Malaka akhirnya berhasil ditaklukan oleh Portugis. Albuquerque menetap di Malaka


sampai bulan November 1511, dan selama itu dia mempersiapkan pertahanan
Malaka untuk menahan setiap serangan balasan orang-orang Melayu. Dia juga
memerintahkan kapal-kapal yang pertama untuk mencari Kepulauan Rempah.
Sesudah itu dia berangkat ke India dengan kapal besar, dia berhasil meloloskan diri
ketika kapal itu karam di lepas pantai Sumatera beserta semua barang rampasan
yang dijarah di Malaka.

Setelah satu kapal layar lagi tenggelam, sisa armada itu tiba di Ternate pada tahun
itu juga. Dengan susah payah, ekspedisi pertama itu tiba di Ternate dan berhasil
mengadakan hubungan dengan Sultan Aby Lais. Sultan Ternate itu berjanji akan
menyediakan cengkeh bagi Portugis setiap tahun dengan syarat dibangunnya
sebuah benteng di pulau Ternate.

Hubungan dagang yang tetap dirintis oleh Antonio de Abrito. Hubungannya dengan
Sultan Ternate yang masih anak-anak, Kacili Abu Hayat, dan pengasuhnya yaitu
Kacili Darwis berlangsung sangat baik. Pihak Ternate tanpa ragu mengizinkan De
Brito membangun benteng pertama Portugis di Pulau Ternate (Sao Joao Bautista
atau Nossa Seighora de Rossario) pada tahun 1522. Penduduk Ternate
menggunakan istilah Kastela untuk benteng itu, bahkan kemudian benteng itu lebih
dikenal dengan nama benteng Gamalama. Sejak tahun 1522 hingga tahun 1570
terjalin suatu hubungan dagang (cengkih) antara Portugis dan Ternate.

Portugis yang sedang menguasai Malaka, terbukti bahwa mereka tidak menguasai
perdagangan Asia yang berpusat disana. Portugis tidak pernah dapat mencukupi
kebutuhannya sendiri dan sangat tergantung kepada para pemasok bahan makanan
dari Asia seperti halnya para penguasa Melayu sebelum mereka di Malaka. Mereka
kekurangan dana dan sumber daya manusia. Organisasi mereka ditandai dengan
perintah-perintah yang saling tumpang tindih dan membingungkan, ketidakefisienan,
dan korupsi. Bahkan gubernur-gubernur mereka di Malaka turut berdagang demi
keuntungan pribadi di pelabuhan Malaya, Johor, pajak dan harga barang-barangnya
lebih rendah, dan hal tersebut telah merusak monopoli yang seharusnya mereka
jaga. Para pedagang Asia mengalihkan sebagian besar perdagangan mereka ke
pelabuhan-pelabuhan lain dan menghindari monopoli Portugis yang mudah.

Gambar: Selat Malaka

Begitu cepat Portugis tidak lagi menjadi suatu kekuatan yang revolusioner.
Keunggulan teknologi mereka yang terdiri atas teknik-teknik pelayaran dan militer
berhasil dipelajari dengan cepat oleh saingan-saingan mereka dari Indonesia.
Seperti meriam Portugis yang dengan cepat berhasil direbut oleh orang-orang
Indonesia. Portugis menjadi suatu bagian dari jaringan konflik di selat Malaka,
dimana Johor dan Aceh berlomba-lomba untuk saling mengalahkan Portugis agar
bisa menguasai Malaka.

Kota Malaka mulai sekarat sebagai pelabuhan dagang selama berada dibawah
cengkeraman Portugis. Mereka tidak pernah berhasil memonopoli perdagangan
Asia. Portugis hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kebudayaan orang-
orang Indonesia yang tinggal di nusantara bagian barat, dan segera menjadi bagian
yang aneh di dalam lingkungan Indonesia. Portugis telah mengacaukan secara
mendasar organisasi sistem perdagangan Asia. Tidak ada lagi satu pelabuhan pusat
dimana kekayaan Asia dapat saling dipertukarkan, tidak ada lagi negara Malaya
yang menjaga ketertiban selat Malaka dan membuatnya aman bagi lalu lintas
perdagangan. Sebaliknya komunitas dagang telah menyebar ke beberapa
pelabuhan dan pertempuran sengit meletus di Selat.

Segera setelah Malaka ditaklukan, dikirimlah misi penyelidikan yang pertama ke


arah timur dibawah pimpinan Francisco Serrao. Pada tahun 1512, kapalnya
mengalami kerusakan, tetapi dia berhasil mencapai Hitu (Ambon sebelah utara).
Disana dia mempertunjukkan keterampilan perang melawan suatu pasukan
penyerang yang membuat dirinya disukai oleh penguasa setempat. Hal ini
mendorong kedua penguasa setempat yang bersaing (Ternate dan Tidore) untuk
menjajaki kemungkinan memperoleh bantuan Portugis. Portugis disambut baik di
daerah itu karena mereka juga dapat membawa bahan pangan dan membeli
rempah-rempah. Akan tetapi perdagangan Asia segera bangkit kembali, sehingga
Portugis tidak pernah dapat melakukan suatu monopoli yang efektif dalam
perdagangan rempah-rempah.

Sultan Ternate, Abu Lais (1522) membujuk orang Portugis untuk mendukungnya dan
pada tahun 1522, mereka mulai membangun sebuah benteng disana. Sultan Mansur
dari Tidore mengambil keuntungan dari kedatangan sisa-sisa ekspedisi pelayaran
keliling dunia Magellan di tahun 1521 untuk membentuk suatu persekutuan dengan
bangsa Spanyol yang tidak memberikan banyak hasil dalam periode ini.

Hubungan Ternate dan Portugis berubah menjadi tegang karena upaya yang lemah
Portugis melakukan kristenisasi dan karena perilaku orang-orang Portugis yang tidak
sopan. Pada tahun 1535, orang-orang Portugis di Ternate menurunkan Raja Tabariji
(1523-1535) dari singgasananya dan mengirimnya ke Goa yang dikuasai Portugis.
Disana dia masuk Kristen dan memakai nama Dom Manuel, dan setelah dinyatakan
tidak terbukti melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya, dia dikirim kembali ke
Ternate untuk menduduki singgasananya lagi. Akan tetapi dalam perjalanannya dia
wafat di Malaka pada tahun 1545. Namun sebelum wafat, dia menyerahkan Pulau
Ambon kepada orang Portugis yang menjadi ayah baptisnya, Jordao de Freitas.

Akhirnya orang-orang Portugis yang membunuh Sultan Ternate, Hairun (1535-1570)


pada tahun 1570, diusir dari Ternate pada tahun 1575 setelah terjadi pengepungan
selama 5 tahun. Mereka kemudian pindah ke Tidore dan membangun benteng baru
pada tahun 1578. Akan tetapi Ambon-lah yang kemudian menjadi pusat utama
kegiatan-kegiatan Portugis di Maluku sesudah itu. Ternate sementara itu menjadi
sebuah negara yang gigih menganut Islam dan anti Portugis dibawah pemerintahan
Sultan Baabullah (1570-1583) dan putranya Sultan Said ad-Din Berkat Syah (1584-
1606).

Pada waktu itu juga Portugis terlibat perang di Solor. Pada tahun 1562, para pendeta
Dominik membangun benteng dari batang kelapa disana. Pada tahun berikutnnya
dibakar para penyerang beragama Islam dari Jawa. Namun orang-orang Dominik
tetap bertahan dan segera membangun ulang benteng dari bahan yang lebih kuat
dan mulai melakukan kristenisasi pada penduduk lokal.

Pada tahun sesudahnya, muncul serangan-serangan dari Jawa. Masyarakat Solor


sendiri pun tidak secara keseluruhan senang terhadap orang-orang Portugis dan
agama mereka, sehingga seringkali muncul perlawanan. Pada tahun 1598-1599,
pemberontakan besar-besaran dari orang Solor memaksa pihak Portugis
mengirimkan sebuah armada yang terdiri dari 90 kapal untuk menundukkan para
pemberontak itu. Namun Portugis tetap menduduki benteng-benteng mereka di
Solor sampai diusir oleh Belanda pada tahun 1613 dan setelah itu Portugis
melakukan pendudukan kembali pada tahun 1636.

Diantara para petualang Portugis tersebut ada seorang Eropa yang tugasnya
memprakarsai suatu perubahan yang tetap di Indonesia Timur. Orang ini bernama
Francis Xavier (1506-1552) dan Santo Ignaius Loyola yang mendirikan orde Jesuit.
Pada tahun 1546-1547, Xavier bekerja di tengah-tengah orang Ambon, Ternate, dan
Moro untuk meletakkan dasar-dasar bagi suatu misi yang tetap disana. Pada tahun
1560-an terdapat sekitar 10.000 orang katolik di wilayah itu dan pada tahun 1590-an
terdapat 50.000-an orang. Orang-orang Dominik juga cukup sukses mengkristenkan
Solor. Pada tahun 1590-an orang-orang Portugis dan penduduk lokal yang
beragama Kristen di sana diperkirakan mencapai 25.000 orang.

B. PENGARUH BANGSA PORTUGIS DI INDONESIA

Selama berada di Maluku, orang-orang Portugis meninggalkan beberapa pengaruh


kebudayaan mereka seperti balada-balada keroncong romantis yang dinyanyikan
dengan iringan gitar berasal dari kebudayaan Portugis. Kosa kata Bahasa Indonesia
juga ada yang berasal dari bahasa Portugis yaitu pesta, sabun, bendera, meja,
Minggu, dll. Hal ini mencerminkan peranan bahasa Portugis disamping bahasa
Melayu sebagai lingua franca di seluruh pelosok nusantara sampai awal abad XIX.
Bahkan di Ambon masih banyak ditemukan nama-nama keluarga yang berasal dari
Portugis seperti da Costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendoza, Rodriguez, da
Silva, dll. Pengaruh besar lain dari orang-orang Portugis di Indonesia yaitu
penanaman agama Katolik di beberapa daerah timur di Indonesia.

KEDATANGAN BANGSA BELANDA


Pada mulanya, pedagang-pedagang Belanda yang berpusat di Rotterdam membeli
rempah-rempah dari Lisabon (Lisboa), Portugis. Ketika itu, Belanda masih dalam
penjajahan Spanyol. Kemudian terjadilah Perang 80 Tahun, yaitu perang
kemerdekaan Belanda terhadap Spanyol. Perang tersebut berhasil melepaskan
Belanda dari kekuasaan Spanyol dan menjadikan William van Orange sebagai
pahlawan kemerdekaan Belanda.

Pada tahun 1580, Raja Phillip dari Spanyol naik tahta. Beliau berhasil
mempersatukan Spanyil dan Portugis. Akibatnya, Belanda tidak dapat lagi
mengambil rempah-rempah dari Lisabon yang sedang dikuasai Spanyol. Hal itulah
yang mendorong Belanda mulai mengadakan penjelajahan samudera untuk
mendapatkan daerah-daerah asal rempah-rempah.

A. Perjalanan Bangsa Belanda ke Indonesia


Cornelis de Houtman, memimpin pelayaran dari Belanda ke
Nusantara. Pada 1596 Cornelis de Houtman tiba di Banten.

Pada bulan April 1595, Cornelis de Houtman dan de Keyzer memimpin pelayaran
menuju Nusantara dengan 4 buah kapal. Pelayaran tersebut menempuh rute
Belanda - Pantai Barat Afrika - Tanjung Harapan - Samudra Hindia - Selat Sunda -
Banten. Selama dalam pelayaran, mereka selalu berusaha menjauhi jalan pelayaran
Portugis sehingga pelayaran tidak singgah di India dan Malaka yang sudah dahulu
diduduki Portugis. Pada bulan Juni 1596, pelayaran Houtman tiba di Banten.

Pada mulanya, kedatangan Belanda mendapat sambutan hangat dari masyarakat


Banten. Kedatangan Belanda diharapkan dapat memajukan perdagangan dan dapat
membantu usaha Banten menyerang Palembang. Akan tetapi, kemudian timbul
ketegangan antara masyarakat Banten dengan Cornelis de Houtman. Hal itu
disebabkan oleh sikap de Houtman hanya mau membeli rempah-rempah jika musim
panen tiba. Akibatnya, beliau diusir dari Banten dengan mendapat sedikit rempahh-
rempah.Meskipun demikian, de Houtman disambut dengan gegap gempita oleh
masyarakat Belanda. Beliau dianggap sebagai pelopor pelayaran menemukan jalan
laut ke Indonesia.

Pada tanggal 20 November 1598, rombongan baru dari Belanda dipimpin


oleh Jacob van Neck dan W ybrecht can Waerwyck dengan 8 buah kapal tiba di
Banten. Pada saat itu, hubungan Banten dengan Portugis sedang memburuk
sehingga kedatangan Belanda diterima baik. Karena sikap van Neck yang sangat
hati-hati dan pandai mengambil hati para petinggi Banten, tiga buah kapalnya penuh
dengan muatan dan dikirim kembali ke negeri Belanda. Lima buah kapal yang lain
menuju ke Maluku. Di Maluku, Belanda juga diterima dengan baik oleh rakyat
Maluku karena dianggap sebagai musuh Portugis yang juga sedang bermusuhan
dengan rakyat Maluku.

B. Terbentuknya VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie)

Uang cetakan VOC.


Keberhasilan ekspedisi Belanda melakukan perdagangan rempah-rempah
mendorong pengusaha-pengusaha Belanda yang lain untuk berdagang di Indonesia.
Akibatnya, terjadilah persaingan di antara pedagang-pedagang Belanda sendiri. Di
samping itu, mereka harus menghadapi persaingan dengan Portugis, Spanyol dan
juga Inggris.

Atas prakarsa dari dua tokoh Belanda, yaitu Pangeran Maurits dan Johan van
Olden Barnevelt, pada tahun 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda bersatu padu
menjadi kongsi dagang yang lebih besar dan diberi nama VOC (Vereenigde Oost
Indische Compagnie) atauPersekutuan Maskapai Perdagangan Hindia Timur.
Pengurus pusar VOC terdiri dari 17 orang. Pada tahun 1602, VOC membuka kantor
pertamanya di Banten yang dikepalai olehFrancois Wittert. Adapun tujuan
dibentuknya VOC adalah sebagai berikut.

1. Menghindari persaingan tidak sehat di antara sesama pedagang Belanda


sehingga keuntungan maksimal dapat diperoleh.
2. Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dengan bangsa-
bangsa Eropa lainnya maupun dalam bangsa-bangsa Asia.
3. Membantu dana pemerintah Belanda yang sedang berujung menghadapi Spanyol
yang masih menduduki Belanda.

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan leluasa, VOC diberi hak-hak istimewa
oleh pemerintah Belanda, yang dikenal dengan Hak Octroi meliputi hal-hal berikut
ini.
1. Monopoli perdagangan.
2. Mencetak uang dan mengedarkan uang.
3. Mengangkat dan memberhentikan pejabat.
4. Mengadakan perjanjian dengan raja-raja lokal.
5. Memiliki tentara untuk mempertahankan diri.
6. Mendirikan benteng dan pusat pertahanan.
7. Menyatakan perang dan damai.
8. Mengangkat dan memberhentikan penguasa-penguasa setempat.

Dengan kekuasaan yang istimewa tersebut, pada tahun 1605 VOC berhasil
merampas benteng Portugis di Ambon. Pada tahun 1609, VOC berhasil
mendirikan loji (pangkal dagang) di Banten. Setahun kemudian, VOC untuk pertama
kalinya mengangkat seorang gubernur jenderal, yaitu Pieter Both (1610-1614) yang
berkedudukan di Ambon. Namun, VOC beranggapan bahwa Ambon letaknya terlalu
jauh dari Selat Malaka sehingga kurang strategis dijadikan pangkalan dagang yang
kuat. Oleh karena itu, perhatian VOC tertuju ke Jayakarta untuk dijadikan pangkalan
dagang utamanya.

Jayakarta yang dipimpin oleh Wijayakrama ketika itu sedang berselisih dengan
negeri induknya, yaitu Banten yang dipimpin oleh Ranamanggala. Pertentangan
tersebut dimanfaatkan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sehingga
berhasil merebut Jayakarta. Orang-orang Banten yang berada di Jayakarta diusir
dan Kota Jayakarta dibakar. Pada tanggal 30 Mei 1619, J.P. Coen mengganti nama
Jayakarta menjadi Batavia, sesuai dengan nama nenek moyang orang Belanda,
yaitu bangsa Bataaf. Batavia kemudian dijadikan markas besar VOC.

I.) Politik Ekonomi VOC

Perahu kora-kora, yang digunakan oleh VOC untuk mengawasi


kegiatan monopoli dalam pelayaran hongi.

Keberadaan markas besar VOC. Pusat-pusat perdagangan yang berhasil dikuasai


oleh VOC antara lain Malaka (1641); Padang (1662); Makassar (1667); dan Banten
(1684). VOC juga menguasai daerah pedalaman Banten dan Mataram yang banyak
menghasilkan beras dan lada.
Guna mendapat keuntungan yang besar, VOC menerapkan monopoli perdagangan.
Bahkan, pelaksanaan monopoli VOC di Maluku lebih keras daripada pelaksanaan
monopoli bangsa Portugis. Peraturan-peraturan yang ditetapkan VOC dalam
melaksanakan monopoli perdagangan antara lain sebagai berikut.

1. Verplichte Leverantie, yaitu penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yang telah
ditetapkan VOC. Peraturan ini juga melarang rakyat menjual hasil buminya selain
kepada VOC.
2. Contingenten, yaitu kewajiban bagi rakyat untuk membayar pajak berupa hasil
bumi.
3. Peraturan tentang ketentuan areal dan jumlah tanaman rempah-rempah yang
boleh ditanam.
3. Ekstiparsi, yaitu hak VOC untuk menebang tanaman rempah-rempah agar tidak
terjadi kelebihan produksi yang dapat menyebabkan harganya merosot.
5. Pelayaran Hongi, yaitu pelayaran dengan perahu kora-kora (perahu perang) untuk
mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan VOC dan menindak keras
pelanggarnya.

II.) Sistem Birokrasi VOC

Untuk memerintah wilayah-wilayah di Indonesia yang telah dikuasai, VOC


mengangkat seorang Gubernur Jenderal yang dibantu oleh empat anggota yang
disebut Raad van Indie(Dewan India). Di bawah gubernur jenderal diangkat
beberapa Gubernur yang memimpin suatu daerah. Di bawah gubernur terdapat pula
beberapa Residen/Karesidenan yang dibantu oleh Asisten Residen. Pemerintahan di
bawahnya lagi diserahkan kepada pemerintahan tradisional, yaitu Raja dan Bupati.

Beberapa gubernur jenderal VOC yang dianggap berhasil mengembangkan usaha


dagang dan kolonialisasi VOC di Indonesia, antara lain berikut ini.
1. Jan Pieterszoon Coen (1619-1629)

Jan Pieterszoon Coen, pendiri Kota Batavia atau yang sekarang


dikenal sebagai Jakarta.

Beliau dikenal sebagai pendiri Kota Batavia dan peletak dasar imperialisme Belanda
di Indonesia. Beliau dikenal pula dengan rencana kolonialisasinya dengan
memindahkan orang-orang Belanda bersama keluarganya ke Indonesia. Hal itu
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja Belanda di Indonesia.

II. Antonio van Diemen (1636-1645)

Beliau berhasil memperluas kekuasaan VOC ke Malaka pada tahun 1641. Beliau
juga mengirimkan misi pelayaran yang dipimpin oleh Abel Tasman ke Australia,
Tasmania, dan Selandia Baru.

III. Joan Maetsycker (1653-1678)

BeliauberhasilmemperluaswilayahkekuasaanVOCkeSemarang,Padang,dan
Manado.

IV. Cornelis Speelman (1681-1684)

Beliau berhasil menghadapi perlawanan Sultan Hasanuddin dari Makassar,


memadamkan pemberontakan Trunojoyo di Mataram, dan mengalahkan Sultan
Ageng Tirtayasa dari Banten.

Dalam melaksanakan pemerintahan, VOC menerapkan sistem pemerintahan tidak


langsung (indirect rule) dengan memanfaatkan Sistem Feudalisme yang telah
berkembang di Indonesia. Ciri khas feudalisme adalah kekuasaan mutlak dari
bawahan kepada atasannya. Di dalam susunan piramida masyarakat feudal, Raja
berada pada posisi teratas, kemudian di bawahnya terdapat Bangsawan Tinggi
Kerajaan (Kaum Aristokrat). Di bawah Raja juga terdapat bupati yang berkuasa di
suatu daerah, kemudian kepala-kepala rakyatm dan yang paling bawah adalah
rakyat.

Sistem semacam itu dipertahankan sehingga VOC dapat melaksanakan monopoli


perdagangannya dan menarik pajak melalui Raja dan Bupati. Oleh karena itulah,
VOC selalu turut campur tentang masalah pergantian Raja dan Bupati. Dalam
melaksanakan tugas-tugas dari VOC, Raja dan Bupati selali diawasi oleh Residen
dan Asisten Residen. Dalam birokrasi seperti itulah desa-desa sert rakyatnya
menanggung beban paling berat atas tindakan-tindakan Bupati dan Rajanya.

III.) Kemunduran VOC

Gedung markas VOC di Batavia yang sekarang disebut Museum


Fatahilah Jakarta. Pada tahun 1799 VOC resmi dibubarkan, dan
hutang serta kekayaannya diambil alih pemerintah Kerajaan Belanda.

Kemunduran dan kebangkrutan VOC terjadi sejak awal abad ke-18 yang disebabkan
oleh hal-hal seperti berikut.
1. Banyak korupsi yang dilakukan oleh pengawas-pengawas VOC.
2. Anggaran pegawai terlalu besar sebagai akibat semakin luasnya wilayah
kekuasaan VOC.
3. Biaya perang untuk memadamkan perlawanan rakyat sangat besar.
4. Persaingan dengan kongsi dagang bangsa lain, seperti kongsi dagang Portugis
(Compagnie des Indies) dan kongsi dagang Inggris (East Indian Trading Company).
5. Hutan VOC yang sangat besar.
6. Pemberian deviden kepada para pemegang saham walaupun usahanya
mengalami kemunduran.
7. Berkembangnya paham liberalisme sehingga monopoli perdagangan yang
diterapkan VOC tidak sesuai lagi untuk diteruskan.
8. Pendudukan Prancis terhadap negeri Belanda pada tahun 1795. Prancis memiliki
musuh utama Inggris yang berada di India dan meluaskan jajahannya ke Asia
Tenggara. Badan seperti VOC tidak dapat diharpakan terlalu banyak dalam
menghadapi Inggris sehingga VOC harus dibubarkan.

Pada tahun 1795 dibentuk panita pembubaran VOC. Pada tahun itu pula hak-hak
istimewa VOC (octroi) dihapuskan. VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember
1799 dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta gulden. Selanjutnya, semua hutang
dan kekayaan VOC diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda.

C.PemerintahanHindiaBelanda

Van Hogendorp. Salah satu tokoh liberal dari Belanda. Beliau


menganjurkan agar segala permasalahan ekonomi dipisahkan dengan
urusan pemerintahan.

Perubahan yang terjadi di Eropa pada akhir abad ke-18 besar pengaruhnya
terhadap Indonesia yang sedang dijajah Belanda. Pada tahun 1795, Partai Patriot
Belanda yang Anti-Raja, atas bantuan Perancis, berhasil merebut kekuasaan dan
membentuk pemerintahan baru yang disebut Republik Bataaf (Bataafsche
Republiek). Republik ini menjadi bawahan Perancis yang sedang dipimpin
oleh Napoleon Bonaparte,. Raja Belanda, Willem V,melarikan diri dan membentuk
pemerintahan peralihan di Inggris yang ketika itu menjadi musuh Perancis.

Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799, tanah jajahan yang dahulu dikuasai oleh
VOC diurus oleh suatu badan yang disebut Aziatische Raad (Dewan Asia).
Kekuasaan pemerintahan Belanda di Indonesia dipegang oleh Gubernur Jenderal
Johannes Siberg(1801-1804).

Johannes Siberg seharusnya mencerminkan sifat dari Republik Bataaf yang liberal.
Akan tetapi, sebelum resmi berkuasa di Indonesia, beliau mengirimkan dua
komisaris ke Indonesia, yaitu Nederburg dan van Hogendrop. Keduanya memiliki
pandangan berbeda tentang politik kolonial yang akan diterapkan. Hal itu terjadi
karena berkembangnya paham-paham baru di Eropa sebagai dampak Revolusi
Perancis dan Revolusi Industri. Pandangan kedua komisaris tersebut sebagai
berikut.
1. Nederburg berpandangan konservatif. Ia menganjurkan agar sistem
perekonomian yang telah diterapkan VOC tetap dipertahankan.

2. Van Hogendrop berpendirian sangat liberal. Ia menganjurkan agar masalah


pemerintahan dipisahkan dengan masalah ekonomi.

Perbedaan pandangan antara dua tokoh tersebut diselesaikan melalui Charter 1904,
yang merupakan kompromi dari dua pendirian tersebut. Isi pokok charter tersebut
adalah kebijakan-kebijakan lama yang masih dipandang baik perlu dipertahankan
dan bila perlu diadakan perubahan-perubahan

Kedatangan Bangsa Spanyol di Indonesia

Columbus
Tahun 1492, Columbus memulai misi penjelajahan untuk menemukan Kepulauan
Hindia yang dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Ketika mendarat di
sebuah daerah (yang kini dikenal sebagai Kepulauan Bahama di Benua Amerika),
Columbus mengira telah mencapai Kepulauan Hindia. Daerah tersebut selanjutnya
dianggap sebagai daerah jajahan Spanyol. Misi pun diteruskan sampai Meksiko.

Tahun 1512, armada Spanyol di bawah pimpinan Sebastian Del Cano mendarat di
Maluku dan banyak membeli rempah-rempah. Rempah-rempah itu dibawa ke
Spanyol dengan kapal Victoria. Berita keberhasilan Sebastian Del Cano menemukan
sumber rempah-rempah menjadi perbincangan luas di spanyol. Sejak saat itu, kapal-
kapal Spanyol berduyun-duyun datang ke Maluku.

Selain misi ekonomi, penjelajahan bangsa Spanyol juga membawa misi untuk
menyebarkan agama Katolik. Seorang pastor bernama Franciscus Xaverius
menyebarkan agama Katolik di Ambon, Ternate dan Moratai. Namun keberadaan
Spanyol di Maluku tidak berlangsung lama karena Portugis terlebih dahulu
menguasai Kepulauan Maluku.

2. Kedatangan Bangsa Portugis di Indonesia


Pelayaran bangsa Portugis dipimpin oleh Bartholomeus Diaz, berhasil mencapai
Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung selatan Benua Afrika.

Pelayaran berikutnya dipimpin oleh Vasco da Gama yang mendarat di Calicut, India
tahun 1498. Dari India, Portugis mengirim misi ekspedisi pelayaran ke timur tahun
1510 dibawah pimpinan Alfonso de Albuequerque.

Ketika tiba di Goa, ia mendapat kabar dari pedagang Gujarat dan Arab tentang
kekayaan Malaka. Mendengar berita tersebut, Alfonso de Albuequerque pun
menyerang Malaka dan berhasil menguasainya tahun 1511. Portugis meneruskan
perjalanan ke timur di bawah pimpinan Francisco Serro. Akhirnya bangsa Portugis
sampai di Ternate, Maluku tahun 1512.

Setelah menguasai Malaka dan Maluku, Portugis melebarkan sayapnya ke pulau


Sumatra yang kaya lada. Namun upaya tersebut kurang berhasil karena terhalang
oleh Kerajaan Aceh yang mendominasi jalur perdagangan lada di Sumatra. Portugis
juga ingin melebarkan sayap perdagangannya ke Pulau Jawa. Mereka berhasil
menjalin hubungan dagang dengan Blambangan, Pasuruan dan sekitarnya.

Deni solihul ikhsan


Alvian vandi hasad
Arif farudinh
Uci tri rahmadani
Iskandar winata