Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

VEKTOR

Di Susun Oleh :
Kelas : X MIPA III
Kelompok : V
Adisti Amelia J.M.L
PEMERINTAHAN KABUPATEN BOGOR
SMAN 1 PAMIJAHAN
2017

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
saya ucapkan puja dan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini saya susun untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran matimatika
dengan judul makalah operasi vektor. Sistematika makalah ini dimulai dari
pengantar yang merupakan apersepsi atas materi yang telah dan akan dibahas
dalam bab tersebut yang dirangkai dengan peta konsep. Selanjutnya, pembaca
akan masuk pada inti pembahasan dan diakhiri dengan penutup berupa
kesimpulan dan saran
Saya juga berterima kasih atas dukungan guru dan teman, sehingga makalah ini
dapat saya buat berdasarkan pembelajaran yang sudah saya lewati. Semoga
makalah ini dapat disimpan dengan baik, agar dapat terus dipelajari, dan dapat
memberikan wawasan baru bagi yang membacanya.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun bahasanya. Oleh karena itu, saya
mengharapkan kritik dan saran atau penilaian tentang makalah ini.

Terima Kasih
Bogor, Mei 2017

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..........................................................................................................i


Daftar Isi ...................................................................................................................ii

BAB I
PENDAHULUAN.....................................................................................................1
A. Latar belakang .....................................................................................................1
B. Rumusan masalah.................................................................................................2
C.Tujuan.....................................................................................................................2

BAB II
PEMBAHASAN .......................................................................................................3
Pengertian Vektor.......................................................................................................3
Sifat SifatVektor.......................................................................................................4
Penjumlahan Vektor...................................................................................................4
Pengurangan Vektor...................................................................................................6
Perkalian Vektor.........................................................................................................7
Vektor pada bidang (Dimensi 2.................................................................................7
Vektor Pada Ruang(Dimensi 3...................................................................................8

BAB III
PENUTUP .................................................................................................................10
Kesimpulan ...............................................................................................................10
Saran..........................................................................................................................10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Memasuki abad 20, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sangatlah
pesat. Berbagai piranti sederhana maupun elektronik telah berhasil dibuatuntuk
memudahkan pekerjaan manusia. Keberhasilan demi keberhasilan yang diraih
manusia, tidak lepas atau bahkan sangat bergantung dari keberadaan suatu ilmu,
yakni ilmu Fisika.
Fisika memiliki kaitan erat dengan matematika. Hal ini karena matematika
mampu menyediakan kerangka logika di mana hukum-hukum fisika dapat
diformulasikan secara tepat. Definisi, teori, dan model fisika selalu dinyatakan
menggunakan hubungan matematis.
Sebagai ilmu dasar, fisika memiliki pengaruh pada banyak ilmu sains lainnya.
Salah satu contohnya pada ilmu kimia. Fisika banyak mempelajari partikel renik
semacam elektron. Bahasan tersebut ternyata juga dipelajari dan dimanfaatkan
pada ilmu kimia. Bahkan topik mekanika kuantum yang diterapkan pada ilmu
kimia telah melahirkan bidang baru yang dinamakan kimia kuantum (quantum
chemistry).
Selain itu, ilmu fisika yang diterapkan pada bidang ilmu lain ikut berperan dalam
melahirkan bidang studi baru yang menarik. Di antaranya adalah biofisika (fisika
pada ilmu biologi), geofisika (fisika pada ilmu bumi), fisika medis (fisika pada
ilmu kedokteran), dan yang lebih baru adalah ekonofisika (fisika pada ilmu
ekonomi).
Fisika adalah ilmu yang mempelajari keteraturan alam semesta dan sebisa
mungkin memanfaatkan keteraturan ini untuk dua hal, yaitu menemukan
keteraturan lainnya di alam semesta yang belum ditemukan dan memanfaatkan
keteraturan yang telah ditemukan untuk menjadi bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Tanpa ada penemuan tentang keteraturan lensa, maka tidak mungkin di
temukan planet-planet, tanpa ditemukannya planet-planet, tidak mungkin
ditemukan Hukum-hukum Kepler, tanpa ditemukan Hukum Kepler, maka tidak
mungkin ditemukan hal-hal penting lainnya di tata surya, dan hal-hal ini masih
terus berlanjut, keteraturan yang telah ditemukan akan menjadi dasar untuk
menemukan keteraturan-keteraturan lainnya.
Dengan demikian, Vektor merupakan pengetahuan yang sangat penting. Hal itulah
yang melatar belakangi kami untuk menyusun makalah ini, agar nantinya dapat
memahami dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat1dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah perbedaan dari besaran skalar dan besaran vektor?
2. Apakah perbedaan dari vektor komponen dan vektor satuan?
3. Bagaimana menentukan vektor resultan?
4. Bagaimana menentukan arah vektor?
5. Bagaimana pengaplikasian vektor dalam kehidupan sehari hari?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan dari besaran skalar dan besaran vektor.
2. Untuk mengetahui perbedaan dari vektor satuan dan vektor komponen.
3. Untuk mengetahui cara menentukan vektor resultan.
4. Untuk mengetahui caramenentukan arah vektor.
5. Untuk mengetahui pengaplikasian vektor dalam kehidupan sehari hari.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Vektor
Secara sederhana pengertian vektor adalah besaran yang mempunyai nilai dan
arah. Contoh dari besaran ini misalnya perpindahan, kecepatan, percepatan, gaya,
dan sebagainya. Untuk menggambarkan vektor digunakan garis berarah yang
bertitik pangkal. Panjang garis sebagai nilai vektor dah anak panah menunjukkan
arahnya. Simbol vektor menggunakan huruf kapital yang dicetak tebal (bold) atau
miring dengan tanda panah di atasnya seperti gambar berikut:

Menggambar sebuah Vektor


Vektor pada bidang datar mempunyai 2 komponen yaitu pada sumbu x dan sumbu
y. Khusus untuk vektor yang segaris dengan sumbu x atau y berarti hanya
mempunyai 1 komponen. Komponen vektor adalah vektor yang bekerja
menuyusun suatu vektor hasil (resultan vektor). Oleh karenanya vektor bisa
dipindahkan titik pangkalnya asalkan tidak berubah besar dan arahnya.
Secara matematis vektor dapat dituliskan A = Ax+Ay dimana A adalah resultan dari
komponen-komponenya berupa Ax dan Ay.

3
B. Sifat-sifat vektor
a. Komutatif
a+b=b+a
b. Assosiatif
a + ( b + c) = (a + b) + c
c. Memiliki elemen satuan atau elemen identitas
a+0=0+a=a
d. Memiliki elemen inverse
a + (-a) = (-a) + a = 0
e. Distributive dengan perkalian skalar
K(a + b) = ka + kb , dengan k= skalar

C. Penjumlahan Vektor

Inti dari operasi penjumlahan vektor ialah mencari sebuah vektor yang komponen-
komponennya adalah jumlah dari kedua komponen-komponen vektor
pembentuknya atau secara sederhana berarti mencari resultan dari 2 vektor. Aga
susah memang dipahami dari definisi tertulis. Kita coba memahaminya dengan
contoh

Untuk vektor segaris, resultannya

R = A + B + C + n dst

untuk penjumlahan vektor yang tidak segaris misalnya seperti gambar di bawah
ini
rumus penjumlahan vektor bisa didapat dari persamaan berikut

Menurut aturan cosinus dalam segitiga,

(OR)2 = (OP)2 + (PR)2 2(OP)(PR) cos (180o )


(OR)2 = (OP)2 + (PR)2 2(OP)(PR) cos (-cos )
(OR)2 = (OP)2 + (PR)2 2(OP)(PR) cos
Jika OP = A, PR = B, dan Resultan R = OR

maka didapat persamaan


R2 = A2 + B2 2AB cos
Rumus menghitung resultan vektornya

Dalam penjumlahan vektor sobat hitung bisa menggunakan 2 cara

1. Penjumlahan Vektor dengan cara Jajar Genjang (Pararelogram)


yaitu seprti yang dijelaskan di atas. Metode yang digunakan adalah dengan
mencari diagonal jajar genjang yang terbentuk dari 2 vektor dan tidak ada
pemindahan titik tangkap vektor.

2. Penjumlahan Vektor dengan Cara Segitiga

pada metode ini dilakukan pemindahan titik tangka vektor 1 ke ujung vektor yang
lain kemudian menghubungkan titi tangkap atau titik pangkal vektor pertama
dengn titik ujung vektor ke dua. Lihat ilustrasi gambar di bawah ini.

Untuk vektor yang lebih dari 2, sama saja. Lakukan satu demi satu hingga ketemu
resultan akhirnya. Dari gambar di atas, V = A + B dan R = V + C atau R = A + B
+C

D. Pengurangan Vektor
Pengurangan Vektor pada prinsipnya sama dengan penjumlahan, cuma yang
membedakan adalah ada salah satu vektor yang mempunyai arah yang
berlawanan. Misalnya vektor A bergerak ke arah timur dan B bergerak ke arah
barat maka resultannya

R = A + (-B) = A B

Rumus Cepat Vektor

berikut rumus cepat panduan mengerjakan soal vektor fisika

Jika = 0o maka R = V1 + V2

Jika = 90o maka R = (V12 + V22)

Jika = 180o maka R = | V1 + V2 | > nilai mutlak

Jika = 120o dan V1 = V2 = V maka R = V

Contoh Soal

Dua buah vektor sebidang erturut-turut besarnya 8 satuan dan 6 satuan, bertitik
tangkap sama dan mengapit sudut 30 o Tentukan besar dan arah resultan vektor
tersebut tersebut!

Jawaban :

R = 82 + 62 + 2.6.8.cos 30
R = 64 + 36 + 96 0,5 3
R = 100 + 483
Perkalian Vektor dengan Skalar

Perkalian antara vektor dan skalar adalah hasil kali suatu skalar k dengan sebuah
vektor A, sehingga dapat dituliskan kA dan didefinisikan sebagai sebuah vektor
baru yang besarnya adalah besar k dikalikan dengan besar A. Arah vektor yang
baru ini sama dengan arah vektor A jika k positif dan berlawanan arah dengan
vektor A jika k negatif.+

Perkalian Titik (Dot Product)

Perkalian titik diantara dua vektor A dan B dapat ditulis A B. Perkalian skalar
dua vektor dapat dikitang sebagai perkalian antara besar salah satu vektor dengan
komponen vektor lain dalam arah vektor yang pertama tadi. Maka pada perkalian
vektor ini ada ketentuan, yaitu :

Perkalian komponen vektor yang sejenis (searah) akan menghasilkan nilai


1, seperti : i i = j j = k k = 1
Perkalian komponen vektor yang tidak sejenis (saling tegak liris) akan
menghasilkan nilai 0, seperti : i j = j k = k i = 0
Perkalian Silang (Cross Product)

Perkalian silang diantara dua vektor A dan B dapat ditulis A X B dan hasilnya
adalah sebuah vektor lain C. Arah dari C sebagai hasil perkalian vektor A dan B
didefinisikan tegak lurus pada bidang yang dibentuk oleh A dan B. Pada perkalian
vektor ini ada ketentuan sebagai berikut :
i x i = 0 i x j = k j x i = -k
j x j = 0 j x k = i k x j = -i
k x k = 0 k x i =6j i x k = -i

B. Vektor pada Bidang Datar R2 (Dimensi Dua)


Di dalam bidang datar (R2) suatu vektor yang titik pangkalnya di A (x 1, y1) dan
titik ujungnya di B (x2, y2) dapat dituliskan dalam bentuk komponen :
x 2 x1

AB y 2 y1

Dilukiskan sebagai :
y

B (x2, y2)

A (x1, y1)
x

Vektor dalam bidang datar juga dapat dinyatakan dalam bentuk :


a
- Kombinasi linear vektor satuan i, j , misalnya vektor = xi + yj.
a
- Koordinat kartesius, yaitu : = (a1, a2).

a ( x 2 x1 ) 2 ( y 2 y1 ) 2
- Koordinat kutub, yaitu : = r dengan r =

y 2 y1
x 2 x1
dan tg = .

F.Vektor Pada Ruang ( Dimensi 3)


Vektor di ruang 3 adalah vektor yang mempunyai 3 buah sumbu yaitu x , y , z
yang saling tegak lurus dan perpotongan ketiga sumbu sebagai pangkal
perhitungan.
Vektor p pada bangun ruang dapat dituliskan dalam bentuk :

7
koordinat kartesius p = (x, y, z)

vektor kolom p = atau, vector baris p=(x,y,z)


kombinasi linear vektor satuan i, j, k yaitu : p = xi + yj + zk

dengan i = ,j = , dan k =
i = vektor satuan dalam arah OX
j = vektor satuan dalam arah OY
k = vektor satuan dalam arah OZ
Modulus Vektor
Modulus vektor yaitu besar atau panjang suatu vektor. Jika suatu vektor dengan
koordinat titik A (x1 , y1 ,z1) dan B (x2 , y2 , z2) maka modulus (besar) atau panjang
vektor dapat dinyatakan sebagai jarak antara titik A dan B yaitu :

Dan jika suatu vektor a disajikan dalam bentuk linear a = a1i + a2j + a3k , maka
modulus vektor a adalah :
8

Vektor Posisi

Vektor posisi titik P adalah vektor yaitu vektor yang berpangkal di titik O (0 , 0 ,
0) dan berujung di titik P (x , y , z), bila ditulis

9
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Vektor adalah besaran yang mempunyai nilai dan arah. Untuk menyatakan suatu
vektor dapat dilakukan pada bidang datar atau bidang koordinat Cartesius XOY
dengan menggambar ruas garis dengan anak panah di salah satu ujungnya.
Panjang ruas garis mewakili besar (panjang) vektor dan anak panah mewakili arah
vektor. Vektor disimbolkan dengan huruf tebal atau dengan huruf yang digaris
bawahi.
Jika untuk setiap nilai skalar u dikaitkan dengan suatu vektor A, maka A
dinamakan suatu fungsi u yang dilambangkan dengan A (u). Dalam tiga dimensi
ditulis A(u) = A1(u)i + A2(u)j + A3(u)k . Contoh fungsi vektor, misalnya persamaan
dari gerakan bebas suatu partikel dalam ruang. Jika setiap titik dalam suatu ruang
(R3) dikaitkan dengan suatu vektor, maka ruang tersebut disebut medan vektor.
Contoh medan vektor, misalnya aliran fluida (gas, panas, air dan sebagainya)
dalam suatu ruangan.
Fungsi vektor dalam dalam duniawi, berkaitan dengan masalah transportasi,
navigasi, komputerisasi, dsb. Sedangkan dalam urusan keagamaan, vektor
berperan untuk menunjukkan kemuliaan Allah SWT. serta menjadikan kita
manusia yang lebih baik lagi.

Saran
Pembahasan tentang fungsi vektor ini bukan pembahasan singkat yang akan
selesai dalam sekali duduk. Masih ada banyak lagi yang belum dibicarakan disini.
Untuk itu, diharapkan kita mau mencari sumber-sumber lain diluar sana untuk
menambah pengetahuan kita tentang Fungsi vektor dalam segala aspeknya yang
belum terjelaskan dalam karya ilmiah ini.

10