Anda di halaman 1dari 14

EKONOMI POLITIK ASIA TENGGARA

Free Trade kawasan ASEAN dengan China, Jepang, Korea (ASEAN+3)

MALSYA GHASSANI

143112350750039

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HUBUNGAN INTERNASIONAL

UNIVERSITAS NASIONAL

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Globalisasi merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dibendung lagi. Di
mana sudah tidak ada lagi kendala untuk melakukan mobilisasi baik dalam bentuk
produk, jasa, buruh maupun modal. Trend globalisasi ini menghasilkan sebuah
fenomena free trade yang lebih massive lagi. Di mana negara-negara semakin
memiliki keleluasaan dalam menjalin kerjasama perdagangan dalam rangka
meningkatkan pertumbuhan ekonominya.
Kerjasama yang melibatkan banyak negara (multilateral) menjadi sarana setiap
negara untuk memperkokoh stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan domestik
maupun regional. Namun demikian, tidak jarang terdapat dinamika yang unik dari
kerjasama tersebut, mengingat adanya permasalahan diantara negara-negara yang
terlibat, tak terkecuali dalam format kerjasama ASEAN Plus Three (APT).
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau lebih populer dengan sebutan
Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi geo-
politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di
Bangkok, 8 Agustus1967 melalui Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-
negara anggotanya, serta memajukan perdamaian di tingkat regionalnya. Negara-
negara anggota ASEAN mengadakan rapat umum pada setiap bulan November.
Tujuan terbentuknya ASEAN tercantum dalam naskah Deklarasi Bangkok,
antara lain sebagai berikut.
1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta
pengembangan kebudayaan di kawasan
2. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas
3. Meningkatkan kerja sama yang aktif serta saling membantu satu dengan
yang lain
4. Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana pelatihan dan penelitian
dalam bidang pendidikan, profesional, teknik, dan administrasi.
5. Meningkatkan kerja sama yang lebih efektif
6. Memelihara kerja sama yang lebih erat dan bergabung dengan organisasi
internasional dan regional lainnya

ASEAN Plus Three atau Kerja sama ASEAN Plus Three adalah kerjasama
antara lain paling menonjol di bidang keuangan terdiri dari 10 anggota ASEAN plus
China, Jepang dan Republik Korea. sejak tahun 1997 pada saat kawasan Asia sedang
dilanda krisis ekonomi. Dalam periode 10 (sepuluh) tahun pertama 1997-2007
mekanisme dan pelaksanaan kerja sama APT didasarkan kepada Joint Statement on
East Asia Cooperation. KTT APT pertama berlangsung pada Desember 1997 di Kuala
Lumpur1.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Perdagangan Bebas di ASEAN (AFTA)

Istilah perdagangan bebas identik dengan adanya hubungan dagang antar


negara anggota maupun negara non-anggota. Dalam implementasinya perdagangan

1 http://bola-q.um-bengkulu.web.id/id4/2759-2653/Asean-3_41628_unfari_bola-q-
um-bengkulu.html
bebas harusmemperhatikan beberapa aspek yang mempengaruhi yaitu mulai dengan
meneliti mekanisme perdagangan, prinsip sentral dari keuntungan komparatif
(comparative advantage),serta pro dan kontra di bidang tarif dan kuota, serta melihat
bagaimana berbagai jenis mata uang (atau valuta asing) diperdagangkan berdasarkan
kurs tukar valuta asing. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah kawasan
perdagangan bebas ASEAN dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%)
maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN, melalui skema
CEPT-AFTA. Sebagai contoh dari keanggotaan AFTA adalah sebagai berikut,
Vietnam menjual sepatu ke Thailand, Thailand menjual radio ke Indonesia, dan
Indonesia melengkapi lingkaran tersebut dengan menjual kulit ke Vietnam.Melalui
spesialisasi bidang usaha, tiap bangsa akan mengkonsumsi lebih banyak
dibandingyang dapat diproduksinya sendiri. Namun dalam konsep perdagang tersebut
tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non-tarif bagi negara
negaraASEAN melalui skema CEPT-AFTA. Common Effective Preferential Tarif
Scheme (CEPT) adalah program tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan
non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN. Maka dalam
melakukan pedagangan sesama anggota biaya operasional mampu ditekan sehingga
akan menguntungkan.

Pada pelaksanaan perdagangan bebas khususnya di Asia Tenggara yang


tergabung dalam AFTA proses perdagangan tersebut tersistem pada skema CEPT-
AFTA. Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program tahapan
penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh
negara-negara ASEAN. Dalam skema CEPT-AFTA barang barang yang termasuk
dalam tariff scheme adalah semua produk manufaktur, termasuk barang modal dan
produk pertanian olahan, serta produk-produk yang tidak termasuk dalam definisi
produk pertanian. (Produk-produk pertanian sensitive dan highly sensitive
dikecualikan dari skema CEPT). Dalam skema CEPT, pembatasan kwantitatif
dihapuskan segera setelah suatu produk menikmati konsesi CEPT, sedangkan
hambatan non-tarif dihapuskan dalam jangka waktu 5 tahun setelah suatu produk
menikmati konsensi CEPT.

2.2 ASEAN+3
ASEAN Plus Three (APT) berdiri setelah terjadinya krisis ekonomi Asia pada
tahun 1997 dan 1998. Krisis yang terjadi tersebut memunculkan sebuah inisiasi baru
untuk membuat sebuah pertemuan regional dalam level pemerintahan dengan
melibatkan China, Jepang, dan Korea Selatan.2

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APT pertama kali diselenggarakan pada


bulan Desember 1997 di Kuala Lumpur pada saat kawasan Asia sedang dilanda krisis
ekonomi. Ada tiga hal keuntungan dari pembentukan APT yaitu kerjasama finansial
dan moneter yang lebih besar di Asia Timur yang segaris dengan kerjasama ekonomi
yang lebih besar pada umumnya, inisiasi pembentukan APT Free Trade Area (FTA)
membuat Amerika Serikat untuk fokus memberikan perhatian lebih dalam kerjasama
ekonomi di Asia Tenggara, dan dengan integrasi yang lebih besar, setiap negara akan
membutuhkan tempat bersosialisasi berdasarkan kelebihan yang bertautan dengan
sendirinya.3

Pembentukan APT menjadi sebuah pengaruh awal bagi pembentukan forum-


forum yang lain seperti ASEAN Regional Forum (ARF), East Asia Summit (EAS)
pada tahun 2005, dan China-ASEAN Special Relationship. 4 Ini membuat sebuah
integrasi baru Asia, terutama di kawasan Asia Timur yang mana belum ada
pembentukan organisasi regional untuk kawasan tersebut. Faktor yang mengakibatkan
belum terbentuknya organisasi regional di Asia Timur karena adanya permasalahan
antara China-Jepang, China-Korea Selatan, dan Jepang-Korea Selatan yang belum
terselesaikan, kehadiran AS melalui pangkalan militernya di Jepang dan Korea
Selatan5, serta China dan Jepang yang sama-sama berkeinginan sebagai pemimpin di
Asia Timur6.

Selain itu, China sebagai sponsor terhadap pembentukan APT menjadi bukti
perwujudan integrasi baru di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur pasca krisis

2 Qing, The Future of ASEAN+3 FTA, hal. 7

3 Direktorat Jendral Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia,
2011, ASEAN Selayang Pandang, Jakarta, hal. 196.

4 Friedrichs, 2012, East Asian Regional Security, Asian Survey, vol. 52, no. 4, hal. 756-757

5 Ibid.
ekonomi 1997-1998 di mana APEC yang tidak dapat membantu dan menyebabkan
trauma bagi kawasan-kawasan yang terkena efeknya. 7 Penulis menganalisis dengan
pembentukan APT di tangannya, China telah menunjukkan bagaimana Asia Tenggara
dan Asia Timur pun dapat berdiri sebuah cikal bakal organisasi regional tanpa harus
melibatkan AS. Di sisi lain, ini adalah kelemahan bagi cikal bakal organisasi regional
ini juga karena adalah hal yang hampir mustahil organisasi regional yang masih
berada dalam kawasan Asia Pasifik tidak meninjau sejauh apa pengaruh AS bagi
kawasan tersebut.

Jepang dan China akan menjadi pusat perhatian perekonomian dunia setelah
pembentukan APT. Tidak dapat dipungkiri lagi dominasi perekonomian dunia saat ini
dipegang oleh China dan Jepang. Perhitungan Gross Domestic Product (GDP) yang
dilakukan oleh World Bank, China dan Jepang menempati posisi kedua dan ketiga
pada perhitungan yang dilakukan tahun 2011.8 Ini membuktikan bagaimana China dan
Jepang bisa menjadi kekuatan yang baru dalam perekonomian dunia. Apabila ini
terbukti, perekonomian Asia Pasifik pun adalah bukan hal yang mustahil apabila
dikendalikan oleh China dan Jepang. Yang terjadi saat ini adalah bagaimana AS
sebagai hegemoni yang kuat untuk mempertahankan dirinya sebagai pemegang GDP
nomor satu dengan bayang-bayang China dan Jepang.

Dengan pembentukan APT, ASEAN pun bisa merasa diperhitungkan. APT


menjadi titik awal bagi ASEAN pasca krisis moneter 1997-1998 untuk membuktikan
bagaimana negara-negara tersebut dapat memulihkan diri. Melalui beberapa program
yang dijalankan dari APT, ASEAN semakin menunjukkan dirinya sebagai sebuah
integritas regional yang wajib diperhitungkan. Integrasi ekonomi yang sedang
diupayakan oleh APT akan semakin membantu ASEAN sebagai sebuah organisasi
regional yang tidak dapat dipandang sebelah mata di Asia Pasifik.

6 The Jakarta Globe, 2012, Leadership Change in East Asia Offer New Start, 21
Desember, diakses pada 4 April 2013,
<http://www.thejakartaglobe.com/international/leadership-change-in-east-asia-
offers-new-start/562992>

7 Friedrichs, op. cit., hal. 758

8 World Bank, GDP (current US$), diakses pada 6 April 2013,


<http://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.CD/countries/1W-US?display=default>
APT juga menjadi bukti kekuatan baru untuk China dan ASEAN di mana
kerjasama antara keduanya semakin ditingkatkan. Ini dibuktikan dengan pembentukan
China-ASEAN Special Relationship dan FTA yang telah berjalan. Namun, keberadaan
APT di Asia Pasifik juga dapat melemahkan negara-negara anggota akibat
permasalahan Laut China Selatan dan faktor sejarah antara Jepang dan China yang
masih memanas.9 Apabila ini tidak dapat dikendalikan, pengaruh APT di Asia Pasifik
tidak akan memberikan sebuah gebrakan baru, terutama untuk China dan Jepang.

2.2Perdagangan bebas SEAN-China (ACFTA)

ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) adalah sebuah persetujuan


kerjasama ekonomi regional yang mencakup perdagangan bebas antara ASEAN
(Assosiation of South East Asian Nation) dengan China. Persetujuan ini telah disetujui
dan ditandatangani oleh negara-negara ASEAN dan China pada tanggal 29 November
2004. Dalam kerjasama ini, hambatan-hambatan tarif dan non-tarif dihilangkan atau
dikurangi dalam rangka mewujudkan perdagangan bebas dalam kawasan regional
ASEAN dan China.

ACFTA memiliki beberapa bertujuan, sebagai berikut:

Memperkuat dan meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan, dan


investasi antaranegara-negara anggota.
Meliberalisasi secara progresif dan meningkatkan perdagangan barang dan
jasaserta menciptakan suatu sistem yang transparan dan untuk
mempermudah investasi.
Menggali bidang-bidang kerjasama yang baru dan mengembangkan
kebijaksanaanyang tepat dalam rangka kerjasama ekonomi antara negara-
negara anggota.
Memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dari para anggota
ASEAN baru (Cambodia, Laos, Myanmar, dan Vietnam/CLMV) dan
menjembatani kesenjangan pembangunan ekonomi diantara negara-negara
anggota.

Perjanjian ACFTA ini telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia


dengan KEPPRES Nomor 48 Tahun 2004 dan mulai diberlakukan pada tanggal

9 Friedrichs, op. cit., hal. 759.


1 januari 2010. Namun yang jadi kendala utama pelaksanaan berlakunya
perjanjian ACFTA di Indonesia, bahwa ternyata banyak pihak yang meminta
agar waktu berlakunya perjanjian ini agar direnegoisasi kembali oleh
pemerintah, yang menurut prediksi para pelaku bisnis dan pemerhati ekonomi
Indonesia akan dapat merontokkan ketahanan ekonomi nasional dari serbuan
produk China yang masuk ke Indonesia.

Di dalam perjalannya, Indonesia sebagai anggota ACFTA medapatkan sisi


positif dan sisi negatifnya. Adapun sisi positifnya adalah:

ACFTA akan membuat peluang kita untuk menarik investasi. Hasil dari
investasi tersebut dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke
negara yang tidak menjadi peserta ACFTA;
Dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan voume perdagangan. Hal ini
dimotivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga
produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan
yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi;

Adapun sisi negatifnya adalah:

Penurunan jumlah industry dalam negeri. Kehadiran produk impor dari


China telah menimbulkan dampak negative terhadap lima sector industry
yaitu logam, permesinan, tekstil, elektronika, dan furniture. Hal ini berakibat
pada sejumlah pelaku usaha di lima industry tersebut terpaksa melakukan
efisiensi melalui pengurangan tenaga kerja. Pemberlakukan ACFTA lebih
banyak menguntungkan China daripada Indonesia.
Serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran
sektor-sektor ekonomi yang diserbu.
Pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga
yangsangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah
usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau
pedagang saja.
Karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan
lemah.Segalanya bergantung pada asing.
Peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar
nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan
lapangankerja semakin menurun.
2.3 Perdagangan bebas ASEAN Korea Selatan

ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA) merupakan salah satu perjanjian


perdagangan internasional yang melibatkan negara-negara ASEAN (termasuk
Indonesia) dan Korea Selatan. Preferential treatment diberikan bagi negara-negara
yang menjadi anggota perjanjian tersebut di tiga sektor : sektor barang, jasa, dan
investasi, dengan tujuan dapat memacu percepatan aliran barang, jasa, dan investasi di
antara negara-negara anggota sehingga dapat terbentuk suatu kawasan perdagangan
bebas. Proses perundingan awal AKFTA dimulai pada awal tahun 2005 dan pada
tanggal 13 Desember 2005 Kerangka Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Menyeluruh
(Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation) AKFTA dapat
ditandatangani oleh para kepala negara ASEAN dan Korea Selatan di Kuala Lumpur,
Malaysia. Sejak saat itu, proses perundingan teknis di tiga sektor tersebut dimulai di
mana perjanjian untuk ketiga sektor dapat diselesaikan dalam tahapan yang berbeda-
beda. Kesepakatan perdagangan barang dapat diselesaikan paling awal dengan
ditandatanganinya perjanjian perdagangan barang AKFTA tanggal 24 Agustus 2006 di
Kuala Lumpur, Malaysia. Sedangkan dua kesepakatan lain di sektor perdagangan jasa
dan sektor investasi baru dapat diselesaikan masing-masing pada tahun 2007 dan
2009. Kesepakatan perdagangan jasa ditandatangani oleh para menteri ekonomi saat
KTT ASEAN tahun 2007 di Singapura, sedangkan perjanjian investasi AKFTA
ditandatangani pada saat berlangsungnya KTT ASEAN-Korea bulan Juni 2009 di
Pulau Jeju, Korea Selatan.

Pada perjanjian perdagangan barang AKFTA, negara-negara ASEAN dan


Korea Selatan menyepakati upaya penghapusan ataupun pengurangan hambatan-
hambatan tarif maupun non tarif. Pada skema penghapusan atau pengurangan tarif
tersebut diatur secara detil program penurunan dan atau penghapusan tarif secara
progresif, yang dibagi atas kategori Normal Track, Sensitive List, dan Highly
Sensitive List. Khusus untuk kategori Normal Track yang mencakup sebagian besar
jenis produk, penurunan dilakukan secara bertahap sejak perjanjian perdagangan
barang efektif berlaku hingga batas waktu seluruh pos tarif menjadi 0% paling lambat
1 Januari 2010 untuk Korea Selatan dan 1 Januari 2012 untuk ASEAN 6. Negara-
negara ASEAN lain di luar ASEAN 6, atau yang bisa disebut CLMV (Cambodia, Lao
PDR, Myanmar, Viet Nam) diberikan fleksibilitas berupa tambahan waktu yang
sifatnya bervariasi.
Dalam neraca perdagangan antara Indonesia dan Korea Selatan pada tahun
2010, Indonesia dapat mencatat surplus sebesar US$ 4,8 miliar. Jumlah ini meningkat
43,1% dibandingkan surplus perdagangan tahun 2009 yang sebesar US$ 3,4 miliar.
Total perdagangan kedua negara telah mencapai angka US$ 20,3 miliar dengan nilai
ekspor sebesar US$ 12,5 miliar dan impor sebesar US$ 7,7 miliar. Angka tersebut
merupakan kenaikan sebesar 57,36% dibanding total perdagangan pada tahun 2009
sebesar US$ 12,8 miliar. Sedangkan pada periode Januari-September 2011, total
perdagangan kedua negara telah berjumlah US$ 21,2 miliar atau naik 47,47%
dibanding periode yang sama pada tahun 2010 sebesar US$ 14,4 miliar. Perdagangan
antar kedua negara menunjukkan kecenderungan positif, di mana rata-rata
pertumbuhannya selama 5 (lima) tahun terakhir (2006-2010) tercatat sebesar 15,97%.
Setelah perjanjian AKFTA ini berlangsung hampir lima tahun, perlu dilakukan
evaluasi dengan melakukan analisis kuantitatif terhadap kontribusi dari perjanjian
tersebut terhadap perekonomian Indonesia. Perjanjian perdagangan barang AKFTA
merupakan salah satu sektor penting dari perjanjian AKFTA yang perlu dilakukan
evaluasi atau impact assessment. Dalam hal ini, penilaian dampak suatu FTA perlu
dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan suatu FTA dapat dipenuhi (Plummer
2010).

Pendapatan nasional merupakan salah satu dari tiga indikator untuk


menghitung dampak dari suatu FTA terhadap suatu negara dari aktivitasnya dalam
perdagangan internasional (Llyoid dan Mclaren 2004: 451). Dalam model Keynesian
empat sektor, salah satu komponen pendapatan nasional adalah kontribusi ekspor.
Adanya perubahan positif kontribusi ekspor terhadap pendapatan nasional Indonesia
dan Korea Selatan dalam hubungannya dengan perdagangan Indonesia-Korea Selatan
mengindikasikan dampak positif dari AKFTA terhadap kedua negara.

2.4 Perkembangan ASEAN+3

Terdapat dua hal penting yang menjadi tujuan ASEAN+3, yakni economic
recovery dan economic growth dalam bidang trade dan finance. Economic recovery
dapat diartikan sebagai a result of increased confidence brought by the initial
economic adjustment and counter-cyclical macroeconomic policy and by the various
measures of structural reforms, particularly, financial and corporate restructuring.10

Resep pertama yang digunakan pada awal pembentukan ialah restrukturasi


institusi financial dan system ekonomi domestic tiap negara ASEAN+3. Untuk
menguatkannya, dibentuk Chiang Mai Initiative (CMI) sebagai dasar untuk
membentuk stabilitas keuangan di Asia untuk mengatasi krisis finansial Asia.
Kemudian dibentuk Asian Bond Market Initiative (ABMI) dan ASEAN+3 Research
Group yang akan memberikan rekomendasi policy serta memantau capital flow yang
berjalan di antara negara anggota. Perlu menjadi catatan bahwa, IMF tidak
diikutsertakan dalam setiap perumusan kesepakatan dalam ASEAN+3. Sementara itu,
Asian Development Bank (ADB) memiliki beberapa peran sentral terkait report atas
perkembangan ekonomi setiap negara anggota.

Untuk restrukturisasi, pemerintah menjadi stake holder penting dalam


mengatur asset negara melalui akuisisi bank dan assetnya. Pemerintah Indonesia
memiliki 70 persen asset perbankan, sedangkan pemerintah Korea Selatan, Thailand,
dan Malaysia hanya memiliki 60 persen, 30 persen, dan 20 persen. Pemerintah juga
melakukan reprivatisasi atas asset-asset negara

Resep-resep di atas pada kenyataannya telah membawa dampak positif bagi


economic recovery tiap anggota ASEAN+3. Tercatat Korea Selatan mengalami
pertumbuhan 11 persen pada 1999 and 9 persen pada 2000, sedangkan Indonesia dari
0,48 persen pada 1999 menjadi 4 persen pada 2000. Dalam hal ini, IMF memiliki
peran dalam memberikan pinjaman kepada negara-negara terpuruk di Asia. Meski
begitu, peran serta IMF ialah dalam konteks langsung kepada beberapa negara sebagai
anggota IMF bukan anggota ASEAN+3.

Sementara itu dalam upaya penunjang economic growth, terdapat beberapa


kesepakatan dalam hal liberalisasi perdagangan dan keuangan. Dalam proses
liberalisasi perdagangan, anggota ASEAN+3 berupaya membuka perdagangan dan
FDI berdasarkan ASEAN Comprehensive Investment Area, penguatan perdagangan
intra regional, mendukung inisasi proses integrasi (AEC 2015) dan free trade area

10 Daiwa Institute of Research, 2006, A Report on Institutional Arrangements


Regulations Surrounding Cross-Border Capital Flows in ASEAN+# Economies,
<http://www.aseansec.org/RG%202005-2006%20final%20reports/Topic%20B
%20final%20reports/Liberalization%20of%20Cross%20border-DIR.pdf> , hal.
(AFTA, ASEAN-China, dll).11 CMI juga mendukung adanya integrasi system
keuangan dan mengusulkan adanya mata uang bersama, disebut dengan Asia
Currency Unit (ACU), diilhami dari Uni Eropa yang menggunakan Euro.

Pertemuan terakhir ASEAN+3 (Februari 2009 di Thailand) menyepakati


beberapa poin penting terkait hal-hal di atas, seperti (1) Meningkatkan Chiang Mai
Initiative (CMIM) dari US $ 80 miliar menjadi US $ 120 miliar; (2) Mengembangkan
mekanisme pengawasan yang efektif untuk mendukung pengoperasian CMIM. Pada
rapat ASEAN+3 ke-12 Menteri Keuangan, Mei 2009 di Bali, tercapai kesepakatan
pada semua komponen utama dari CMIM, termasuk sumbangan negara individu,
akses terhadap pinjaman, dan mekanisme pengawasan. Para Menteri sepakat untuk
melaksanakan hasil kesepakatan mengenai CMIM ini sebelum akhir tahun 2009.

Menteri Keuangan dalam pertemuan ASEAN+3 ke-12 mendukung


pembentukan Credit Guarantee Investment Mechanism (CGIM) sebagai amanat dari
Asian Development Bank (ADB) dengan modal awal sebesar US$ 500 juta yang dapat
ditingkatkan setelah permintaan terpenuhi sepenuhnya. Tujuan CGIM adalah untuk
mendukung obligasi korporasi penerbitan mata uang lokal. Dalam rangka
memperkuat kerjasama regional, Thailand sebagai Ketua ASEAN dan koordinator
ASEAN+3 mengeluarkan pernyataan pers bersama mengenai Kerjasama ASEAN+3
sebagai respon terhadap krisis keuangan dan ekonomi global. Total ekspor ASEAN ke
negara-negara plus Three meningkat dari US $ 192.5 miliar pada 2007 menjadi US $
225.4 milyar pada tahun 2008. Total perdagangan dengan ASEAN plus three tetap
kuat meskipun kondisi ekonomi global melemah. Perdagangan dengan negara-negara
ini mencapai US $ 480.1 milyar pada tahun 2008, naik 18,4% dibandingkan dengan
tahun 2007. Di sisi lain, ada penurunan dalam foreign direct invesment (FDIs) dari
negara-negara Plus Three, dari US $ 12.7 miliar pada tahun 2007 menjadi US $ 10,3
milyar pada tahun 2008.

Negara-negara Anggota ASEAN melakukan negosiasi FTA atau


Comprehensive Economic Partnership (CEP) dengan semua Plus Three negara.
Semua FTA / CEP mencakup perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, dan
kerjasama ekonomi bidang lainnya. ASEAN dan Jepang selesai menandatangani

11 Rillo, Aladdin D. , 2009, East Asia Beyond the Crisis : Prospects and Challenges of Recovery,
<http://ec.europa.eu/economy_finance/bef2009/pdf/BEF2009_Rillo.pdf>
ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) pada bulan April
2008. AJCEP akan memperkuat hubungan ekonomi antara ASEAN dan Jepang dan
akan menciptakan pasar yang lebih besar dan lebih efisien dengan peluang yang lebih
besar di wilayah tersebut. Laos, Myanmar, Singapura, Vietnam dan Jepang telah
menerapkan perjanjian tersebut sejak 1 Desember 2008, Brunei Darussalam
menerapkannya sejak tanggal 1 Januari 2009 dan Malaysia menyusul sebulan
setelahnya, pada 1 Februari 2009.

Menteri Energi ASEAN+3 menyerukan kerjasama dan integrasi yang lebih


besar untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh daerah. Negara-negara
ASEAN+3 menekankan pentingnya tindakan yang tepat untuk membangun daerah
yang aman, stabil bagi masa depan energi yang berkelanjutan. Tumbuh di tengah-
tengah tantangan, kerjasama ASEAN+3 di sektor energi telah diperkuat di lima sub-
bidang dalam keamanan energi seperti pasar minyak, penimbunan minyak, gas alam,
kemudian dilanjutkan dengan konservasi energi terbarukan dan efisiensi energi.

Negara-negara anggota ASEAN+3 setuju untuk lebih memperkuat ketahanan


pangan di bawah kerjasama ASEAN+3. Ketahanan pangan dipandang sebagai faktor
kunci bagi pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan di masing-masing
negara. Hal tersebut dilakukan bersamaan dengan usaha-usaha untuk memaksimalkan
penggunaan sumber-sumber potensi sendiri dan mencapai produksi pertanian yang
lebih besar. Menteri ASEAN+3 untuk bidang kerjasama Pertanian dan Pangan setuju
untuk memperkuat dan mempercepat pelaksanaan kegiatan East Asian Emergency
Rice Reservation (EAERR) Pilot Project, yang dirancang untuk merespon kebutuhan
kemanusiaan untuk keadaan darurat seperti karena bencana. Selain itu, para menteri
juga setuju untuk memperpanjang waktu pelaksanaan EAERR Pilot Project untuk satu
tahun hingga 28 Februari 2010

BAB III

KESIMPULAN

Pembentukan APT merupakan sebuah inisiasi untuk integrasi kawasan di Asia


Timur dengan China sebagai sponsor utama. Selain itu, APT juga berfungsi sebagai
penunjuk bahwa APEC telah gagal untuk mengatasi krisis ekonomi Asia pada tahun
1997-1998. APT memberikan pengaruh yang dominan terhadap pembentukan forum-
forum yang lebih luas lagi dan membuktikan bagaimana Amerika Serikat tidak harus
terlibat di dalamnya. Namun, ini menjadi sebuah kekurangan juga karena adanya
kekuatan Amerika Serikat yang masih dominan di Asia Pasifik. Pembentukan APT
juga memberikan pengaruh lain terhadap ASEAN sebagai sebuah organisasi regional
yang patut diperhitungkan setelah Uni Eropa.

Sebagai penutup, kerjasama antar negara dalam satu kawasan secara potensial
mampu menciptakan dampak positif terkait masalah keamanan wilayah, ekonomi,
investasi, perdagangan, hingga sosial-budaya; meskipun tidak bisa dipungkiri adanya
dinamika atau gejolak yang ikut berpengaruh terhadap pola kerjasama tersebut