Anda di halaman 1dari 4

Malsya Ghassani

143112350750039
Ekonomi Politik Internasional
Tugas Pengertian EPI

Dilihat dalam bahasan yang berbeda, dimana Ekonomi berkaitan dengan uang, pasar,
perdagangan, kekayaan, harga dan lain sebagainya. Sedangkan politik membicarakan tentang
kekuasaan, power, kepemerintahan, kedaulatan nasional, dan lain sebagainya. Ekonomi dan
politik menjadi suatu yang paling dominan bagi negara. Dan juga menentukan bagi jalannya
suatu negara tersebut, apakah stabil atau cenderung labil.

Ilmu ekonomi diimplementasikan dalam pasar, dan tujuan dari pasar sendiri adalah untuk
mencapai kesejahteraan. Sedangkan politik merupakan sebuah instrument yang sangat
melekat dengan pemerintahan sebuah negara, yang memiliki tujuan utama untuk mencapai
kekuatan. Walaupun kedua hal ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan, namun
keduanya saling terkait satu sama lain. secara khusus ekonomi politik menjelaskan hubungan
antara negara dengan pasar. Hal ini merupakan hubungan yang kompleks dalam konteks
internasional antara politik dan ekonomi, antara negara dan pasar, yang merupakan inti dari
EPI (Jackson & Sorenson,2009:228).

Pentingnya studi Ekonomi Politik Internasional awal 1970-an dimana terjadinya kemerosotan
ekonomi AS yang secara global berdampak pada kemampuan politiknya. Setelah pasca PD 2
bermunculan negara baru yang merupakan mayoritas negara miskin, tingkat pertembuhan
ekonominya rendah, dsb. Dimana terjadinya krisis perekonomian akibat perang yang secara
terus menerus terjadi di berbagai belahan negara. Krisis ekonomi ini membuat masyarakat
internasional mulai memperhatikan bahwasanya ada keterkaitan antara politik dan ekonomi.
Sedangkan dalam buku Yanuar Ikbar "Ekonomi Politik Internasional" Bahwa studi EPI
dimulainya diskusi-diskusi ketidakadilan dalam sistem internasional terutama dalam tata
ekonomi dunia yang dikuasai oleh negara-negara besar industri yang maju, ketidakadilan
tersebut secara garis besar dapat dibagi dalam tiga pola:

a. Tidak meratanya pembagian kekayaan di dunia diantara negara-negara kaya yang maju dan
negara-negara dunia ketiga yang miskin,

b. Tidak meratanya angka-angka pertumbuhan ekonomi dalam sistem,

c. Tidak meratanya pembagian kekayaan materiil di sebagian negara-negara ketiga itu sendiri.

Fokus kajian EPI dimana setiap manusia berkepentingan dengan kelangsungan hidupnya.
Setiap manusia ingin memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu, salah satu alasan orang
bernegara guna terpenuhi kebutuhannya dengan baik. Dan tugas negara dalam hal ini adalah
mensejahterakan rakyatnya. Politik dapat diartikan sebagai kajian bagaimana kehidupan
bernegara tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan orang. Maka Kajian EPI dilihat dari
bagaimana sebuah negara dalam berinteraksi dengan negara lain tidak hanya berusaha untuk
mencapai kekuatan, tetapi juga mencapai kesejahteraan bagi negaranya, kekuatan negara dan
kesejahteraan ini didapatkan melalui keuntungan-keuntungan dari terlaksananya kerjasama
atau hubungan timbal-balik antara ekonomi dan politik.

Liberalisme

Asumsi dasar pendekatan liberalisme ekonomi. Secara teori, sesuai yang


diutarakan oleh Scott Burchill (2008) dalam bukunya Theories of International Relations,
liberalisme pada dasarnya memuat asumsi dasar nilai-nilai sebagai berikut, yaitu:
mengunggulkan paham kebebasan individual, kebutuhan membentuk institusi untuk
mengakomodasi beragam kepentingan individual supaya tidak saling berkonflik,
individual mesti bebas dari intervensi pemerintah, mendukung opsi pasar kapitalisme
sebagai cara terbaik untuk mencapai kesejahteraan. Liberalisme ekonomi merupkan suatu
sistem ekonomi dimana kekayaan produktif terutama dimiliki secara pribadi dan
produksi. Tujuan dari kepemilikan pribadi adalah untuk mendapatkan keuntungan dan
efisiensi dari penggunaan kekayaan yang produktif.
Nilai liberalisme dalam perekononomian adalah perdagangan bebas, tanpa adanya
campur tangan pemerintah. Namun, itu hanyalah teori. Pada kenyataannya tidak ada satu
negarapun di dunia yang secara murni menerapkan perdagangan bebas.Liberalisme
ekonomi menilai bahwa campur tangan pemerintah hanya akan menyebabkan terjadinya
distorsi pasar yang pada akhirnya mengakibatkan alokasi sumber daya menjadi tidak
efisien. Adanya intervensi pemerintah paling tidak akan merugikan kepentingan slah satu
diantara dua pihak yang terlibat dalam aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, keadilan dalam
kehidupan ekonomi sangant ditentukan oleh hilangnya campur tangan pemerintah secara
total.
Lembaga sosial atau identik dengan institusi yang paling diutamakan adalah pasar.
Yang terpenting dalam ekonomi liberal adalah mekanisme pasar. Karena itu, mereka yang
memiliki modal dan melibatkan diri dalam kegiatan pasar akan menentukan apa yang
akan terjadi dlam proses ekonomi.Sementara itu ekonomi liberal memandang peran
negara adalah untuk melindungi hak milik dan menciptakan lingkungan yang mendukung
bekerjanya pasar. Ideologi yang mendasari ilmu ekonomi liberal memiliki asusmsi khas
tentang hakekat manusia. Yaitu manusia dipandang semata-mata sebagai makhluk
ekonomi yang tentu saja selalu ingin memaksimalkan keuntungan.Teori yang
dikembangkan oleh Adam Smith sangat dipengaruhi oleh paham individualisme yang
menjadi salah satu pilar dari liberalisme. Dalam bukunya yang berjudul The Wealth of
Nations, Adam Smith memandang manusia sebagai makhluk yang rakus, egois, dan selalu
ingin mementingkan dirinya sendiri. Berdasarkan keyakinin ini, liberalisme menganggap
bahwa kebutuhan dan keinginan manusia itu bersifat tidak terbatas dan tidak akan pernah
puas.

Marxisme

Dalam EPI, marxisme menganggap bahwa semua interaksi politik, termasuk juga perang
merupakan manisfestasi sistem ekonomi (Barry, 2001). Sehingga kaum Marxis menempatkan
ekonomi dalam kedudukan pertama dan politik berada di urutan kedua.
Kerangka kerja Marxis bagi studi EPI, yang pertama meliputi negara tidak otonom dan ia
digerakkan oleh kepentingan kaum borjuis. Hal ini berarti perjuangan antara negara,
termasuk peperangan seharusnya dilihat dalam konteks persaingan ekonomi di antara kelas
kapitalis dari negara yang berbeda.

Yang kedua, sebagai suatu sistem ekonomi, kapitalis bersifat ekspansif yang selalu mencari
pasar baru dan lebih menguntungkan. Konflik tersebut meluas ke seluruh dunia dalam
gelombang kapitalisme. Perluasan pertama, mengambil bentuk imperialisme dan
kolonialisme, sedangkan fase kedua mengambil bentuk globalisasi ekonomi yang dipimpin
oleh multinational corporation (Jackson and Sorensen, 2002).

Dalam perekonomian kapitalis, masyarakat dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas borjuis
sebagai pemilik alat-alat produksi, dan kelas proletar yang hanya mempunyai kekuatan kerja
yang harus dijual kepada kaum borjuis. Dengan demikian, asumsi dasar yang mendominasi
perspektif ekonomi Marxis adalah perbedaan kelas. Sehingga sifat hubungan ekonomi
menurut Marx adalah zero sum game, dimana perekonomiam menjadi tempat eksploitasi
manusia dan perbedaan kelas (Jackson and Sorensen, 2002).

Melengkapi teori ekonomi Marxis, Lenin (1946) mengutarakan fokus utama terjadinya
eksploitasi pekerja adalah akbiat monopoli kapitalisme dalam sistem internasional. Lenin
mengistilahkannya imperialisme. Ia melihat kapitalisme sebagai perkembangan terakhir
imperialisme (Barry, 2001)

Nasionalisme

Nasionalisme atau sering disebut merkantilisme, secara esensial merupakan filosofi ekonomi
yang percaya bahwa manajemen ekonomi seharusnya menjadi bagian dari tujuan negara
dalam memenuhi kepentingan nasionalnya dalam kaitan dengan kekayaan, kekuatan, dan
gengsi (Griffiths et.al., 2002). Merkantilismen tidak melihat kerjasama dengan negara-negara
lain sebagai hal yang menguntungkan. Merkantilisme memiliki tujuan utama yaitu harus
memaksimalkan kekayaan. Merkantilisme melihat ekonomi sebagai faktor utama untuk
mencapai tujuannya tersebut. Pendek kata, Merkantilisme melihat ekonomi sebagai alat
utama untuk mencapai kepentingan politik suatu negara. Merkantilisme melihat
perekonomian sebagai arena yang sangat konfliktual dengan berbagai tabrakan kepentingan
sehingga memilih tidak bekerjasama dalam kondisi demikian. Dan lebih memfokuskan
kegiatan perekonomian untuk kepentingan diri sendiri (Isaak, 1995).

Kaum Merkantilis juga tidak mengenal istilah interdependensi atau saling ketergantungan
sebagaimana kaum liberalisme, tetapi Merkantilisme mengenal self-determination atau
menentukan nasib sendiri. Dalam kamus Merkantilis, tidak ada istilah kerjasama yang
menguntungkan yang ada adalah kompetisi yang saling menjatuhkan. Kaum merkantilis
menyatakan bahwa ekonomi harus tunduk pada tujuan peningkatan kekuatan negara sehingga
politik mesti diposisikan di atas ekonomi (Jackson and Sorensen, 1998, p. 233). Yang
membedakan Merkantilisme dengan ideologi ekomi lain terletak pada posisi politik yang
lebih penting dan negara di atas ekonomi. Ekonomi semata-mata digunakan sebagai alat
untuk meningkatkan chances of survivalnya dan mencapai kepentingan nasionalnya.
Merkantilisme tidak mengenal keuntungan yang mutualisme, artinya keadaan perekonomian
yang tercipta selalu zero-sum dan kompetisi yang konfliktual karena berbagai kepentingan
yang bertentangan satu sama lain