Anda di halaman 1dari 29

MASALAH KESEHATAN YANG SERING TERJADI PADA LANSIA

DAN PERUBAHAN-PERUBAHAN PADA LANSIA

OLEH

KELOMPOK 1

1. ELFRIDA RAJAGUKGUK
2. LOICE BAEHA
3. MAWAR TARIGAN
4. NORAMAGDALENA
5. NIA NOVA SITANGGANG
6. PEVATRIANI

STIKES SANTA ELISABETH


MEDAN
2016
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Proses menua (aging) adalah proses alami yang dihadapi setiap manusia. Dalam
proses ini, tahap yang paling krusial adalah tahap lansia (lanjut usia). Dalam tahap ini, pada
diri manusia secara alami terjadi penurunan atau perubahan kondisi fisik, psikologis maupun
sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi
menimbulkan masalah kesehatan secara umum (fisik) maupun kesehatan jiwa secara khusus
pada individu lansia, (Nugroho,2008).
Menurut Erikson (dalam Schaie dan Willis, 2000) bahwa lansia merupakan suatu
tahap kehidupan dimana seseorang harus mencapai integritas, sedangkan kegagalan dalam
mencapai integritas akan menyebabkan kondisi keputusasaan, (Nugroho,2008).
Penduduk lanjut usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota
masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan
hidup (BPS, 2000 dalam Setiawan 2009). Jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun
2006 sebesar 19 juta jiwa dengan usia harapan hidup 66,2 tahun. Pada tahun 2010,
diprediksi jumlah lansia sebesar 23,9 juta jiwa dengan usia harapan hidup 67,4 tahun.
Sedangkan pada tahun 2020 diprediksi jumlah lansia sebesar 28,8 juta jiwa dengan usia
harapan hidup 71,1 tahun (Effendi, 2009).
Usia individu tidak dapat dielakkan terus bertambah dan berlangsung konstan dari
lahir sampai mati, sedangkan penuaan dalam masyarakat tidak seperti itu, proporsi populasi
lansia relatif meningkat dibandingkan populasi usia muda (Clement, 1985 dalam Stanley
2006). Pada hakikatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu : masa anak, masa dewasa, dan masa tua. Tiga tahap
ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami
kemunduran secara fisik maupun psikis. Penurunan kondisi psikis pada lansia disebabkan
karena demensia di mana lansia mengalami kemunduran daya ingat dan hal ini dapat
mempengaruhi ADL (Activity of Daily Living) yaitu kemampuan seseorang untuk mengurus
dirinya sendiri, dimulai dari bangun tidur, mandi, berpakaian dan seterusnya (Mubarak,
2009).
Studi penelitian yang dilakukan Lembaga Demografi Universitas Indonesia pada
tahun 1998 menemukan bahwa sekitar 74 persen lansia dinyatakan mengidap penyakit kronis.
Tekanan darah tinggi adalah penyakit kronis yang banyak diderita lanjut usia, sehingga
mereka tidak dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari (Wirakartakusumah, 2000
dalam Setiawan 2009). Penurunan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis.
Dengan berubahnya penampilan, menurunnya fungsi panca indera menyebabkan lanjut usia
merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi (Setiawan, 2009).
Praktik hygiene (perawatan diri) lansia dapat berubah dikarenakan situasi kehidupan.
Selain keterbatasan dalam kemampuan perawatan diri (self care), lansia juga memiliki
gambaran diri yang berubah terhadap dirinya sendiri dan perubahan pada konsep dirinya.
Konsep diri terdiri dari beberapa komponen yaitu : identitas, citra tubuh, harga diri, ideal diri
dan peran. Perubahan dalam penampilan, struktur atau fungsi bagian tubuh akan
membutuhkan perubahan dalam gambaran diri (citra diri). Persepsi seseorang tentang
perubahan tubuh dapat dipengaruhi oleh perubahan tersebut terjadi (Potter & Perry, 2005).
Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran terutama di bidang
kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan sosialnya. Hal ini
mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga
dapat meningkatkan bantuan orang lain (Nugroho, 2000). Seiring dengan bertambahnya usia
populasi kita, perawat perlu untuk memeriksa kebutuhan lansia, untuk mempengaruhi
kebijakan kesehatan dan untuk mengevaluasi standar praktik keperawatan gerontik, dan
untuk membuat perencanaan di masa yang akan datang (Stanley, 2006).
Berdasarkan literature review tersebut, muncul masalah berupa sejauh mana tingkat
kemampuan perawatan diri lansia dan perubahan konsep diri apa saja yang terjadi pada
lansia. Dari data yang diperoleh sebelumnya, terdapat sekitar 160 orang lansia di UPT
Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah Binjai dan Medan dengan tingkat
kemampuan perawatan diri yang berbeda yaitu ada yang minimal care, partial care, dan total
care (ketergantungan ringan, sedang, berat dan total). Oleh karena itu, perlu dilakukan
penelitian tentang hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan
perubahan konsep diri lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita wilayah
Binjai dan Medan yang bertujuan agar perawat mengetahui batas kemampuan perawatan diri
lansia sehingga dapat mengimplikasikan intervensi keperawatan yang sesuai untuk memenuhi
kebutuhan hidup lansia serta mengetahui perubahan konsep diri lansia sehingga perawat
dapat memotivasi lansia dalam menjalani kehidupannya, (Stanley, 2006).

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS
2.1 Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia

2.1.1 Masalah Yang Sering Dihadapi Oleh Lansia

1. Mudah Jatuh

Jatuh pada lanjut usia merupakan masalah yang sering terjadi. Penyebab multifaktor.
Banyak yang berperan didalam nya baik intrinsik maupun dari dalam diri lanjut usia misalnya
gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ektremitas bawah, kekakuan sendi dan sinkope atau
pusing. Untuk faktor ekstrinsik, misalnya lantai yang licin dan tidak rata, tersandung benda,
penglihatan yang kurang karna cahaya yang kurang terang. Memang tidak dapat di bantah
bahwa bila seseorang bertambah tua kemampuan fisik ataupun mental nya perlahan pasti
menurun. Akibatnya, aktivitas hidupnya terpengaruh, pada akhirnya akan dapat mengurangi
ketegapan dan kesigapan seseorang, (Nugroho, 2008).

Sekitar 30-50% dari populasi lansia, mengalami jatuh setiap tahunnya. Perempuan
lebih sering jatuh dibandingkan lanjut usia laki-laki. Berdasarkan data yang ditemukan di
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bakti RIA Pembangunan antara tahun 2001 samapai
november 2002, dari 89 lansia terdapat 25 orang yang menagalami jatuh dengan kejadian
sebesar 28% yang dirinci sebagai berikut:

1. Berdasarkan jenis kelamin, lansia perempuan sebesar 80% sedangkan lansia laki-laki
sebesar 20%.
2. Berdasarkan usia, 70-79 tahun sebesar 52%, 80-89 tahun sebesar 44%, usia 90-99
tahun sebesar 4%.
3. Berdasarkan faktor resiko, yang disebabkan oleh faktor intrinsik sebesar 60% dan
faktor ektrinsik sebesar 32%.
4. Berdasarkan frekuensi berulangnya jatuh, lansia yang jatuh sebanyak 1 kali sebesar
60%, jatuh 2 kali sebesar 12%, jatuh 3 kali sebesar 16%, jatuh 4 kali 8%, jayuh 5 kali
sebesar 4%.
5. Dari 25 lanjut usia yang mengalami jatuh diperoleh data bahwa sebesar 52%, dari
hasil pemeriksaan BMD dilakukan pada tanggal 24 agustus 2002, mengalami
osteoporosis.
6. Dari lanjut usia yang sehat mempunyai resiko lebih tinggi dibandingkan lanjut usia
yang lemah atau cacat untuk terjadinya fraktur dan perlukaan jatuh, (Nugroho, 2008).

Untuk lebih dapat memahami faktor resiko jatuh, harus di mengerti bahwa stabilitas
tubuh ditentukan atau dibentuk oleh :
1. Sistem sensori. Pada sistem ini, yang berperan adalah penglihatan dan pendengaran.
Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menimbulkan ganggaun
penglihatan. Begitu pula, semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan
pendengaran.
2. Sistem saraf pusat. Penyakit SSP seperti stroke dan parkinson, hidrosefalus tekanan
normal sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga
berespon tidak baik terhadap input sensori.
3. Kognitif. Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya
resiko jatuh.
4. Muskuloskeletal. Faktor ini berperan besar pada terjadinya jatuh lansia. Gangguan
muskolskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan dan hal ini berhubungan
dengan proses menua yang fisiologis, misalnya : Kekakuan jaringan penyambung,
berkurangnya massa otot, perlambatan konduksi saraf, penurunan visus, (Nugroho,
2008).

Semua itu menyebabkan penurunan ROM sendi, penurunan kekuatan otot


terutama ektremitas, perpanjangan waktu reaksi, goyangan badan.

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan bergerak, langkah yang


pendek, penurunan irama, kaki tidak dapat menapak dengan kuat, dan cenderung gampang
goyah, susah atau terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan, seperti terpeleset,
tersandung, kejadian tiba-tiba sehingga mudah jatuh.

Faktor resiko jatubnpada lansia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor intrinsik
dan faktor ektrinsik.

Faktor intrinsik misalnya :

1. Gangguan jantung.
2. Gangguan susunan saraf.
3. Gangguan anggota gerak.
4. Gangguan penglihatan dan pengdengaran.
5. Gangguan psikologis.
6. Ganggaun gaya berjalan.

Faktor ektrinsik misalnya :

1. Cahaya ruangan yang kurang terang.


2. Lingkungan yang asing bagi lansia.
3. Lantai yang licin.
4. Obat-obatan yang di minum.

Penyebab jatuh pada lansia biasanya merupakan gabungan dari beberapa faktor,
antara lain karna :

1. Kecelakaan 30-50%.
2. Murni kecelakaan (misalnya terpeleset, tersandung).
3. Gabungan misalnya lingkungan yang jelek dan kelainan akibat proses menua
misalnya mata kuras awas.
4. Neyri kepala atau vertigo.
5. Hipotensi ortostatik.
6. Hipovolemia.
7. Disfusi otonom.
8. Terlalu lama berbaring.
9. Pengaruh obat hipotensi.
10. Obat-obatan.
11. Diuretik.
12. Sedatif.
13. Anti psikotik.
14. Alkohol.
15. Proses penyakit yang spesifik misalnya kardiovaskular, stroke, serangan kejang dan
parkinson.
16. Idiopatik.
17. Sinkope, misalnya:
a) Serangan roboh.
b) Penurunan aliran darah ke otak tiba-tiba.
c) Kelengar matahari.
d) Infark miokard, (Nugroho, 2008).

2. Mudah Lelah
Hal ini dapat disebabkan oleh :
1. Faktor psikologis (perasaan bosan, keletihan, atau depresi).
2. Gangguan organis, misalnya :
a. Anemia.
b. Kekurangan vitamin.
c. Perubahan pada tulang.
d. Gangguan pencernaan.
e. Kelainan metabolisme.
f. Gangguan ginjal atau uremia.
g. Gangguan faal hati.
h. Gangguan sistem peredaran darah dan jantung.
3. Pengaruh obat misalnya obat penenang, obat jantung dan obat yang melelahkan
daya kerja otot, (Nugroho, 2008).

3. Kardiovaskular
Nyeri dada
Nyeri dada dapat disebabkan oleh :
1. Penyakit jatung koroner yang dapat menyebabkan iskemia jantung.
2. Aneurisme aorta.
3. Radang selaput jantung.
4. Gangguan pada sistem pada pernapasan misalnya pleuropneumonia/emboli
paru dan gangguan pada saluran pencernaan bagian atas.
Sesak napas pada kerja fisik.
Sesak napas pada kerja fisik disebabkan oleh kelemahan jantung, gangguan sistem
pernapasan, berat badan berlebihan dan anemia.

Palpitasi
palpitasi dapat disebabkan oleh :
1. Gangguan irama jantung.
2. Keadaan umum badan yang lemah karna penyakit kronis.
3. Faktor psikologis.
Edema kaki.
Edema kaki disebabkan oleh :
1. Kaki yang lama digantung.
2. Gagal jantung.
3. Bendungan pada vena bagian bawah.
4. Kekurangan vitamin B.
5. Gangguan penyakit hati.
6. Penyakit ginjal.
7. Kelumpuhan pada kaki, (Nugroho, 2008).

4. Nyeri atau Ketidaknyamanan


Nyeri pinggang atau punggung.
Nyeri di bagian ini disebabkan oleh :
1. Gangguan sendi atau susunan sendi pada susunan tulang belakang.
2. Gangguan pankreas.
3. Kelainan ginjal.
4. Ganguan pada rahim.
5. Gangguan pada kelenjar prostat.
6. Gangguan pada otot badan.
7. HNP.
Nyeri sendi pinggul.
1. Gangguan sendi pinggul, misalnya radang sendi, sendi tulang yang keropos.
2. Kelainan tulang sendi misalnya patah tulang (fraktur), dislokasi.
3. Akibat kelainan pada saraf punggung pada bagian bawah yang terjepit.
Keluhan pusing.
Keluhan pusing disebabkan oleh :
1. Gangguan lokal, misalnya faskular, migrain, mata, kepala, sinusitis, sakit gigi.
2. Penyakit sistemis yang menimbulkan hipoglikemia.
3. Psikologis (perasaan cemas, depresi, kekurangan tidur, dan kekacauan
pikiran).
Kesemutan pada anggota badan.
Keluhan ini disebabkan oleh :
1. Gangguan sirkulasi darah lokal.
2. Gangguan persarafan umum.
3. Gangguan persarafan lokal pada bagian anggota badan, (Nugroho, 2008).

5. Berat Badan Menurun

Berat badan menurun disebabkan oleh :

1. Pada umumnya, nafsu makan menurun karna kurang adanya gairah hidup atau
kelesuan.
2. Adanya penyakit kronis.
3. Gangguan pada saluran percernaan sehingga penyerapan makanan tergangg.
4. Faktor sosio ekonomis, (Nugroho, 2008).

6. Gangguan eliminasi

Inkontinensia atau ngompol

Sering ngompol yang tampak disadari (inkontinensia urine) merupakan salah satu
keluhan utama pada orang lansia. Inkontinensia adalah pengeluaran urine atau feses tanpa
disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup, sehingga mengakibatkan masalah gangguan
kesehatan atau sosial. Inkontinensia merupakan faktor tunggal yang menyebabkan seorang
lansia dirawat karna masalah tidak teratasi baik oleh diri lansia mauypun orang yang
merawatnya. Namun hasil penelitian pada populasi lansia di masyarakat didaptkan 7% pria
dan 12% wanita mengalami inkontinensia urine. Menurut whitehead, hal ini cenderung tidak
dilaporkan karna lansia merasa malu dan juga menganggap tidak ada yang dapat dilakukan
untuk menolongnya.

Penyebab inkontinensia :

1. Melemahnya otot dasar panggul yang menyangga kandung kemih dan memperkuat
sfingter uretra.
2. Kontraksi abnormal pada kandung kemih.
3. Obat diuretik yang mengakibatkan sering berkemih dan obat penenang terlalu banyak.
4. Radang kandung kemih.
5. Radang saluran kemih.
6. Kelainan kontrol pada kandung kemih.
7. Kelainan persarafan pada kandung kemih.
8. Akibat adanya hipertrofi prostat.
9. Faktor psikologis.
Inkontinensia urine dapat terjadi karna adanya faktor pencentus yang mengiringi
perubahan pada organ berkemih akibat faktor proses menua misalnya infeksi saluran kemih,
obat-obatan, kesulitan bergerak, kepikunan.

Penyebab inkontinensia urine ada dua, yakni peneyebab akut dan penyebab kronis.
Peneyebab akut biasanya dapat dsiatasisehingga inkontinenisa urine dapat dihilangkan atau
disembuhkan. Yang termasuk dalam penyebab akut antara lain :

1. Delirium.
2. Mobilitas terbatas.
3. Infeksi pada saluran kemih.
4. Farmaseutikal (obat-obatan misalnya direutika, antidepresan).

Semua yang membatasi mobilitas dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urine


fungsional atau memperburuk inkontinensia persisten. Kondisi tersebut antara lain fraktur
femoris, stroke, penyakit parkinson, dan artitis. Semua kondisi yang menyebabkan poliuria
dapat mencetuskan inkontinensia urine.

Penyebab kronis inkontinensia urine tidap dapat dihilangkan secara tuntas, tetapi
dapat dikurangi dan dikontrol dengan beberapa modalitas nonfarmakologis dan terapi
farmakologis. Penyebab kronis tersebut antara lain kelemahan otot dasar panggul atau
instabilitas otot kandung kemih yang sudah berat. Selain itu, adanya gangguan neurologis
seperti stroke, penyakit parkinson, dan demensia dapat juga menyebabkan kesulitan dalam
upaya menanggulangi inkontinensia urine, sehingga dapat dikategorikan sebagai penyebab
kronis, (Nugroho, 2008).

Tipe-tipe inkontinensia urine :

1. Inkontinensia urine akut. Inkontinensia urine bersifat akut bila terjadi mendadak,
sementara, dan ini dapat disembuhkan.
2. Inkontinensia urine kronis. Inkontinensia urine kronis bersifat menetap, tidak dapat
disembuhkan, tetapi gejala dapat dikurangi, dan dapat diklasifikasikan menjadi
inkontinensia fungsional, urgensi, stress, overflow dan campuran.
Inkontinensia alvi
Inkontinensia alvi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius
pada pasien geriatrik. Inkontinensia alvi didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang
dalam menahan dan mengelurkan tinja pada waktu dan tempat yang tepat. Keadaan ini sangat
menggangu pasien lansia sehingga lansia harus diupayakan mencari penyebab dan asuhan
nya dengan baik.

Penyebab inkontinensia alvi :

1. Obat pencahar perut.


2. Gangguan saraf, misalnya demensia dan stroke.
3. Keadaan diare.
4. Kelainan pada usus besar.
5. Kelainan pada ujung saluran pencernaan.
6. Neurodiabetik, (Nugroho, 2008).

7. Gangguan ketajaman penglihatan

Gangguan ini disebabkan oleh :

1. Presbiopi.
2. Kelainan lensa mata.
3. Kekeruhan pada lensa.
4. Iris : mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami
degpigmentasi, tampak adanya bercak muda sampai putih.
5. Pupil kontriksi, refleks direk lemah.
6. Tekana dalam mata (intra-okuler) meninggi, lepang pandang menyempit, yang
sering disebut dengan glaukoma.

7. Retina terjadi degenerasi, gambaran fundus mata awalnya merah jingga


cemerlang, menjadi suram dan jalur-jaluir berpigmen, terkesan kulit harimau.
7. Radang saraf mata, (Nugroho, 2008).

8. Ganguan pendengaran

Gangguan pendengaran pada lansia merupakan keadaan yang menyertai proses


menua. Gangguan pendengaran yang utama adalah hilangnya pendengaran terhadap nada
murni berfrekuensi tinggi , yang merupakan suatu fenimena yang berhubungan dengan lansia,
bersifat simetris, dengan perjalanan yang progrsif lambat.

Ada beberapa tipe presbiakusis, yakni :


1. Presbiakusis sensorik. Patologinya berkaitan erat dengan hilangnya sel rambut di
membran basalis klokea sehingga terjadi pendengaran frekuensi nada tinggi.
Penurunan fungsi pendengaran biasanya usia pertengahan dan berlangsung terus
secara perlahan progresif.
2. Presbiakusis neural. Patologi berupa hilangnya sel neural di gangglion spiralis. Letak
dan jumlah kehilangan sel neuronal menentukan gangguan pendengaran yang timbul
(berupa gangguan frekuensi pembicaraan, adanya inkoordinasi, kehilangan memori,
dan gangguan pusat pendengaran).
3. Presbiakusis metabolik. Patologi yang terjadi adalah abnormal vraskularis strial
berupa atropi daerah apikal dan tengah dari koklea. Presbiakusis jenis ini biasanya
terjadi pada usia yang lebih muda.
4. Presbiakusis mekanik. Pada presbiakusis jenis ini diduga diakibatkan oleh terjadinya
perubahan mekanis pada membran basalis koklea sebagai akibat proses menua.
Secara audiogram, ditandai dengan penurunan progresif sensitifitas diseluruh daerah
test. Dapat disebabkan :
a. Kelainan degeneratif
b. Ketulian pada lansia sering kali dapat menyebabkan kekacauan mental
c. Tinitus (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah).
d. Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang atau berputar),
(Nugroho, 2008).

9. Gangguan Tidur

Ierwin feinberg mengungkapkan bahwa sejak meninggalkan masa remaja, kebutuhan


tidur seseorang menjadi relatif tetap. Luce dan segal mengungkapkan faktor usia merupakan
faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Keluhan kualitas tidur seiring
dengan bertambahnya usia, (Nugroho, 2008).

Pada kelompok lansia (60 tahun), hanya ditemukan 70% kasus yang mengeluh
mengenai masalah tidur (hanya dapat tidur tidak lebih 5 jam sehari). Hal yang sama
ditemukan pada 22% kasus pada kelompok usia 70 tahun. Demikian pula, kelompok lansia
lebih banyak mengeluh terbangun lebih awal dari pukul 05.00. Selain itu, terdapat 30%
kelompok usia 70 tahun yang lebih banyak terbangun malam hari. Angka ini ternyata 7 kali
lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia 20 tahun.

Gangguan tidur tidak saja menunjukkan indikasi adanya kelainan jiwa dini, tetapi
merupakan keluhan hampir 30% penderita yang berobat ke dokter. Dapat disebabkan oleh :
1. Faktor ektrinsik (luar), misalnya lingkungan yang kurang tenang.
2. Faktor intrinsik, baik organik maupun psikogenik. Organik berupa nyeri, gatal,
kram betis, sakit gigi, sindrom tungkai bergerak, dan penyakit tertentu yang
membuat gelisah. Psikogenik misalnya depresi, kecemasan, stress, iritabilitas, dan
marah yang tidak tersalurkan, (Nugroho, 2008).

10. Mudah gatal

Hal ini sering disebabkan oleh :

1. Kelainan kulit : kering, degeneratif.


2. Penyakit sistemik (diabetes melitus, gagal ginjal, penyakit hati, alergi), (Nugroho,
2008).

2.1.2 Faktor yang mempengaruhi penuaan


Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi penuaan (Wibowo, 2003), yaitu :
1. Faktor lingkungan
a) Pencemaran linkungan yang berwujud bahan-bahan polutan dan kimia sebagai
hasil pembakaran pabrik, otomotif, dan rumah tangga) akan mempercepat
penuaan.
b) Pencemaran lingkungan berwujud suara bising. Dari berbagai penelitian ternyata
suara bising akan mampu meningkatkan kadar hormon prolaktin dan mampu
menyebabkan apoptosisdi berbagai jaringan tubuh.
c) Kondisi lingkungan hidup kumuh serta kurangnya penyediaan air bersih akan
meningkatkan pemakaian energi tubuh untuk meningkatkan kekebalan.
d) Pemakaian obat-obat/jamu yang tidak terkontrol pemakaiannnya sehingga
menyebabkan turunnya hormon tubuh secara langsung atau tidak langsung
melalui mekanisme umpan balik (hormonal feedback mechanism).
e) Sinar matahari secara langsung yang dapat mempercepat penuaan kulitdengan
hilangnya elastisitas dan rusaknya kolagen kulit.
2. Faktor diet/makanan.
Jumlah nutrisi yang cukup, jenis, dan kualitas makanan yang tidak menggunakan
pengawet, pewarna, perasa dari bahan kimia terlarang. Zat beracun dalam
makanan dapat menimbulkan kerusakan berbagai organ tubuh, antara lain organ
hati.
3. Faktor genetik.
Genetik seseorang sangat ditentukan oleh genetik orang tuanya. Tetapi faktor
genetik ternyata dapat berubah karena infeksi virus, radiasi, dan zat racun dalam
makanan/minuman/kulit yang diserap oleh tubuh.
4. Faktor psikik.
Faktor stres ini ternyata mampu memacu proses apoptosis di berbagai
organ/jaringan tubuh.
5. Faktor organik.
Secara umum, faktor organik adalah : rendahnya kebugaran/fitness, pola makan
kurang sehat, penurunan GH dan IGF-I, penurunan testosteron, penurunan
melatonin secara konstan setelah usia 30 tahun dan menyebabkan gangguan
circandian clock (ritme harian) selanjutnya kulit dan rambut akan berkurang
pigmentasinya dan terjadi pula gangguan tidur, peningkatan prolaktin yang sejalan
dengan perubahan emosi dan stress, perubahan Follicle Stimulating Hormone
(FSH) dan Luteinizing Hormon (LH), (padila,2013).

2.1.3 Penyakit Umum Pada Lanjut Usia

Ada empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses menua (stieglitz,
1954), yakni:

1. Gangguan sirkulasi darah, misalnya hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan


pembuluh darah di otak (koroner), ginjal, dan lain-lain.
2. Gangguan metabolisme hormonal, misalnya diabetes melitus, klimakterium, dan
ketidakseimbangan tiroid.
3. Gangguan pada persendian, misalnya, osteoartritis, gout artritis, ataupun penyakit
kolagen lainnya.
4. Berbagai macam neoplasma.
Menurut The National old peoples welpare council di inggris, penyakit atau
gangguan umum pada lansia ada dua belas macam, yakni:

a) Depresi mental.
b) Ganguan pendengaran.
c) Bronkitis kronis.
d) Gangguan pada tungkai atau sikap berjalan.
e) Gangguan pada koksa atau sendi panggul.
f) Anemia.
g) Dimensia.
h) Gangguan penglihatan.
i) Ansietas atau kecemasan.
j) Dekompensasi kordis.
k) Diabetes melitus, osteomalasia dan hipotiroidisme.
l) Gangguan defekasi, (padila,2013).

Penyakit lansia meliputi:

1. Penyakit sistem pernafasan.


2. Penyakit kardiovaskuler dan pembuluh darah.
3. Penyakit pencernaan makanan.
4. Penyakit sistem urogenital.
5. Penyakit gangguan metabolik atau endokrin.
6. Penyakit pada persendian dan tulang.
7. Penyakit yang disebapkan oleh proses keganasan, (padila,2013).

Timbulnya penyakit tersebut dapat dipercepat atau diperberat oleh faktor luar,
misalnya makanan, kebiasaan hidup yang salah, dan infeksi, trauma. Sifat penyakit dapat
mulai secara perlahan, seringkali tanpa tanda-tanda atau keluhannya ringan, dan baru
diketahui sesudah keadaannya parah. Hal ini perlu sekali untuk dikenali agar tidak salah atau
terlambat menegakkan diagnosis sehingga terapi dan tindakan keperawatan segera dapat
dilaksanakan,(padila,2013).
Lansia juga dapat mengalami beberapa penyakit secara bersamaan (multipatologis),
megenai multiorgan atau multisistem. Sifat penyakit lansia biasanya progresif dan
menimbulkan kecacatan sampai penderitanya mengalami kematian. Lansia pun biasanya
rentan terkena penyakit lain karena daya tahannya menurun, (padila,2013).

Di negara maju, penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian
utama, sedangkan di negara yang sedang berkembang, angka kematian terutama karena
penyakit infeksi. Menurut survei kesehatan rumah tangga (SKRT) Tahun 1992, ditemukan
urutan sebagai berikut TBC, penyakit yang tidak jelas, trauma, penyakit infeksi lainnnya
serta bronkitis , enfisema, dan asma. penyakit infeksi juga masih menonjol pada pola
penyakit lansia di indonesia , tetapi terdapat perbedaan dengan negeri belanda. Misalnya,
TBC yang ternyata pada urutan teratas indonesia ,tidak terdapat di negeri belanda. Hal
tersebut dapat diasumsikan berkaitan dengan status sosial ekonomi , lingkungan fisik,
biologis, hygiene personal, (padila,2013).

Pola penyakit juga bergantung pada tempat pengambilan data. Jumlah populasi yang
datang kerumah sakit terbatas hanya mereka yang datang dengan keluhan krena dirujuk. Dari
berbagai penelitian yang telah dilakukan dirumah sakit dan di masyarakat ternyata pola
panyakit lansia dirumah sakit sedikit berbeda dengan apa yang ditemukan masyarakat
(seperti yang dilakukan Boedi Darmojo et al, 1991: Kartini,1993: dan Kamso et al 1993).

Perjalanan dan penampilan serta sifat penyakit pada lansia berbeda dengan yang
terdapat pada populasi lain.secara singkat dapat disimpulkan bahwa penyakit pada lansia :

1. Penyakit bersifat multi patologis/penyakit lebih dari satu.


2. Bersifat degeneratif, saling terkait, dan silent.
3. Mengenai multi organ/multi sistem.
4. Gejala penyakit yang muncul tidak jelas.
5. Penyakit bersifat kronis dan cenderung menimbulkan kecacatan lama sebelum
meninggal.
6. Sering terdapat polifarmasi dan iatrogenik.
7. Biasanya juga mengandung komponen psikologis dan sosisal.
8. Lansia lebih sensitif terhadap pada penyakit akut.

Penyakit Pada Sistem Pernapasan dan Kardiovaskuler

1. Paru

Fungsi paru mengalami kemunduran dengan datang nya usia tua yang disebabkan
elastisitas jaringan paru dan dinding dada semakin berkurang dalam usia yang lebih lanjut,
kekuatan kontraksi otot pernapasan dapat bekurang sehingga sulit bernapas. Fungsi paru
menentukan komsumsi oksigen seseorang, yakni jumlah oksigen yang diikat oleh darah
dalam paru untuk digunakan tubuh. Jadi, komsusmsi oksigen sangat erat hubungannya
dengan arus darah ke paru. Dengan demikian mudah dimengerti bahwa komsumsi oksigen
akan menurun pada orang lansia berkurangnya fungsi paru juga disebabkan oleh
berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti fungsi ventilasi paru.

Infeksi yang sering diderita lansia adalah pneumonia yang merupakan penyerta
penyakit lain, misalnya diabetes melitus, payah jantung kronik, dan penyakit vaskuler
(mangunegoro,1992). Tuberkulosis pada lansia ternyata masih cukup tinggi
(rahmattullah,1994). Di rumah sakit DR.Karyadi semarang, ditemukan kasus tuberkulosis
sebesar 25,2% . Secara patofisiologis, lansia tanpa penyakit saja sudah mengalami penurunan
fungsi parunya, ditambah penderita tuberkulosis paru sehingga menambah dan memperburuk
keadaan. Banyak ditemukan lansia dengan penyakit TBC paru yang sudah dalam keadaan
parah, banyak ditemukan pula bronkitis kronis dan tidak sedikit kematian terjadi akibat
radang paru. Kanker paru sering ditemukan terutama pada lansia perokok berat .
Mangunegoro (1992) menyatakan terdapat kecenderungan peningkatan frekuensi kanker
paru.

2. Jantung dan pembuluh darah

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian terbesar dan disabilitas pada


lanjut usia, terutama usia 65 tahun keatas dan 50% terdapat di negara industri maju (kannel,
1992). Lanjut usia umumnya mengalami pembesaran jantung. Rongga bilik kiri juga
mengalami penurunan, akibat semakin berkurangnya aktivitas. Yang juga mengalami
penurunan adalah besarnya sel otot jantung hingga menyababkan menurunnya kekuatan otot
jantung. Setelah berusia 20 tahun, kekuatan otot jantung seseorang berkurang sesuai dengan
bertambahnya usia. Dengan bertambahnya usia, denyut jantung maksimum dan fungsi lain
jantung juga berangsur menurun. Pada lanjut usia tekanan darah akan naik secara bertahap,
elastisitas jantung pada orang berusia 70 tahun menurun sekitar 50% dibandingkan dengan
orang muda berusia 20tahun. Oleh karena itu, tekanan darah pada wanita lanjut usia
mencapai 170/90mmHg dan pria lanjut usia mencapai 160/100mmHg, masih dianggap
normal.
Derajat kerja jantung dapat dinilai dari besarnya curah jantung, yaitu jumlah darah
yang dikeluarkan oleh bilik jantung atau ventrikel per menit. Pada usia 90 tahun curah
jantung menurun dan sudah tentu menimbulkan efek pada fungsi alat lain seperti otot, paru,
dan ginjal karena berkurangnya arus darah ke organ tubuh. Sebaliknya, tekanan darah saat
istirahat akan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia walupun tidak begitu besar.
Dengan adanya aktivitas fisik, tekanan darah sesorang akan meningkat, terutama tekanan
sistoliknya. Pada lanjut usia , peningkatan tekanan darah saat melakukan aktivitas fisik ini
meningkat lebih cepat dibanding orang muda.

Denyut jantung nadi juga meningkat pada waktu seseorang melakukan aktivitas fisik.
Pada saat bekerja maksimal, denyut nadi akan mencapai angka maksimalnya. Namun, denyut
nadi maksimal pada lansia ternyata menurun karena jantung tidak dapat mencapai frekuensi
seperti saat masih muda. Rumus untuk mempikirkan denyut nadi maksimal seseorang adalah
200-usia.
Perubahan yang jauh lebih bermakna dalam kehidupan lanjut usia terjadi pada
pembuluh darah. Proses yang disebut sebagai arteriosklerosis atau pengapuran dinding
pembuluh darah dapat terjadi dibanyak lokasi.

Pada tahap awal, gangguan pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan
elastisitasnya berkurang akan memacu jantung bekerja lebih keras karena terjadi hipertensi.
Selanjutnya, bila terjadi sumbatan jaringan yang dialiri zat asam oleh pembuluh darah ini
akan rusa/mati hal inilah yag disebut infark. Bila kejadian ini terjadi di otak, akan terjadi
stroke, sedangkan bila terjadi di jantung, dapat saja menyebabkan infark jantung atau infark
miokard, tau bila masih ringan, dapat terjadi angina pektoris atau gangguan koroner lainnya.
Di indonesia, saat ini penyakit jantug iskemik sudah menjadi pembunuh ketiga diantara
penyakit lain. Penderitanya berusia diatas 45tahun sampai lanjut usia.

Perubahan yang dapat ditemukan pada penderita iskemik jantung adalah perubahan
pembuluh darah jantung akibat artiroskelosis yang belum diketahui dengan pasti. Jenis
penyakit jantung lain yang juga ditemukan pada lansia adalah penyakit jantung akibat paru
menahan, penyakit jantung akibat darah tinggi, dan penyakit jantung akibat gangguan irama
jantung. Penyakit jantung kororner merupakan penyakit jantung yang paling sering
ditemukan pada lansia, 20% pria dan 12 % wanita yang berusia 65tahun keatas, dan juga
merupakan penyebab gagal jantung. Wanita biasanya menderita penyakit jantung koroner
(infark miokard) banayk ditemukan di indonesia, terdiri atas :

1. Angina pektoris : suasana sindrom klinis, trejadi sakit dada yang khas, yaitu seperti
dada ditekan atau terasa berat yang sering kali menjalar ke lengan kiri. Sakit dada
biasanya timbul waktu melakukan aktivitas dan segera menghilang bila pasien
beristirahat.
2. Angina pektoris yang tidak stabil, yaitu keadaan angina oksigen tidak jelas
bertambah.
3. Angina prinzmetal: serangan angina pektoris yang timbul pada waktu istirahat.
4. Infark miokard akut (IMA) : nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung
terganggu lebih dari 20 menit, akut, episode sinkope, hemiplegia, gagal ginjal,
muntah, dan kelemahan hebat.

Bila ditemukan penderita seperti ini, sebaiknya mereka dirujuk ke rumah sakit.
Penyakit jantung pulmonik dan penyakit jantung lainnya disebabkan oleh penyakit paru
primer (bronkitis kronis, emfisema pulmonum, bronkiektasis, dll). Pada umumnya penderita
jarang mencapai usia lanjut dan lebih banyak terjadi pada pria perokok.
3. Hipertensi

Dari banyak penelitian epidemiologi, didapat bahwa dengan meningkatnya umur dan
tekanan darah meninggi, hipertensi menjadi masalah pada lanjut usia karena sering
ditemukan dan menjadi faktor utama payah jantung dan penyakit jantung koroner. Lebih dari
separuh kematian diatas usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrovaskular.

Secara nyata kematian akibat stroke dan morbiditas penyakit kardiovaskuler menurun
dengan pengobatan hipertensi. Saat ini, penelitian longitudinal telah membuktikan hal ini
pada pengobatan hipertensi diastolik. Hipertensi pada lanjut usia dibedakan atas:

1. Hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan/atau
tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi: tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekana
diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

Pada hipertensi sistolik, masih kontroversial mengenai target tekanan darah yang
dianjurkan penurunanya bertahap sampai sekitar sistolik 140-160 mmHg
(R.P.Sidabutar,1974).

4. Penyakit Sistem Pencernaan

Produksi saliva menurun sehingga memengaruhi proses perubahan kompleks


karbohidrat menjadi disakarida. Fungsi ludah sebagai pelicin makanan berkurang sehingga
proses menelan lebih sukar. Keluhan seperti kembung, perasaan tidak enak diperut, dan
sebagainya, sering kali disebabkan makanan yang kurang bisa dicerna akibat menurunnya
funsi kelenjar pencernaaan. Juga dapat disebabkan berkurangnya toleransi terhadap makanan,
terutama yang mengandung lemak. Keluhan lain yang sering ditemukan ialah sembelit
(konstipasi), yang disebabkan kurangnya kadar selulosa, nafsu makan yang biasa disebabkan
oleh banyaknya gigi sudah lepas (ompong). Dengan proses menuai, mungkin terjadi
gangguan motilitas otot polos esofagus, mungkin juga terjadi reflux disease (terjadi akibat
refluks isi lambung ke esofagus). Insiden ini mencapai puncak pada usia 60-70 tahun. Lanjut
usia sudah mengalami kelemahan otot polos sehingga proses menelan sering mengalami
kesulitan. Kelemahan otot esofagus sering menyebabkan proses patologis yang disebut hernia
heatus.

Penyakit dan gangguan pada lambung meliputi :


1. Terjadi atrofi mukosa, atrofi sel kelenjar, yang menyebabkan sekresi asam
lambung, dan pepsin dari faktor intrinsik kurang.
2. Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa
lambung.Insiden gastritis meningkat dengan lanjutnya proses menua. Namun,
sering kali asimtomatik atau hanya dianggap sebagai akibat normal proses menua.
3. Ulkus peptikum yang bisa terjadi di esofagus, lambung, dan duodenum walaupun
kadar asam lambung pada lanjut usia sudah menurun, insiden ulkus dilambung
masih lebih banyak dibanding ulkus duodenum.

Gejalanya :

1. Biasanya tidak spesifik.


2. Penurunan berat badan.
3. Mual.
4. Perut rasa tidak enak.

Pemeriksaan dengan endoskopi dan radiografi dengan kontras barium. Tingkat


komplikasi pada lanjut usia cukup tinggi, kurang lebih 50% perforasi dan biasanya terjadi
pada usia diatas 70 tahun.

5. Penyakit Sistem Urogenital

Peradangan dalam sistem urogenital, terutama ditemukan pada wanita lanjut usia
berupa peradangan kandung kemih sampai peradangan ginjal, akibat sisa urine dalam vesika
urinaria (kandung kemih). Keadaan ini disebabkan berkurangnya tonus kandung kemih dan
adanya tumor yang menyumbat saluran saluran kemih.

Pada pria berusia lebih dari 50 tahun, sisa urine dalam kandung kemih dapat
disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat (hipertrofi prostat). Hipertrofi prostat
menyebabkan gangguan berkemih. Bahkan,kadang kadang urine secara mendadak tidak
dapat dikeluarkan sehingga untuk mengeluarkannya harus dipasang kateter. Pada lanjut usia,
banyak ditemukan kanker pada lelenjar prostat.

6.Penyakit Gangguan Endokrin (Metabolisme)

Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu dalam tubuh manusia yang memproduksi
hormon, seperti kelenjar pankreas yang memproduksi insulin dan sangat penting dalam
pengaturan gula darah, kelenjar tiroid/gondok yang ikut serta dalam metabolisme tubuh,
kelenjar adrenal/anak ginjal yng memproduksikan adrenalin, kelenjar yang berkenaan dengan
hormon pria atau wanita. Hampir semua proses produksi dan pengeluaran hormon
dipengaruhi oleh enzim dan enzim ini dipengaruhi oleh proses menua. Sama dengan sel lain,
kelenjar endokrin dapat mengalami kerusakan yang bersifat age related cell loss, fibrosis,
infiltrasi limfosit, dan sebagainya. Perubahan karena proses menua pada reseptor hormon,
kerusakan permeabilitas sel, dan sebagainya dapat menyebabkan perubahan respons inti sel
terhadap kompleks hormon reseptor.

Semua jenis penyakit hormonal dapat terjadi pada lanjut usia, tetapi bentuk fungsi ini
tidak khas seperti pada orang muda. Salah satu kelenjar endokrin dalam tubuh mengatur agar
arus darah ke organ tertentu berjalan dengan baik melalui vasokonstriksi pembuluh darah
bersangkutan disebut adrenal/kelenjar anak ginjal. Ada pula yang merupakan stres hormon,
yaitu hormon yang diproduksi dalam jumlah besar dalam keadaan stres. Oleh karena itu,
dengan mundurnya produksi hormon, lanjut usia kurang mampu menghadapi stres.

Tidak jarang, pada lanjut usia juga ditemukan kemunduran fungsi kelenjar tiroid
sehingga lansia tersebut tampak lesu dan kurang bergairah. Kemunduran fungsi kelenjar
endokrin lainnya, seperti adanya klimakterium/menopouse pada wanita yang mendahului
proses tua yang mengakibatkan sindrom dalam bentuk yang beragam. Pada pria, terjadi
penurunan sekresi kelenjar testis pada usia tertentu. Penyakit metabolik pada lanjut usia
terutama disebabkan menurunnya produksi hormon, antara lain terlihat pada wanita yang
mendekati usia 50 tahun, yang ditandai mulainya menstruasi yang tidak sampai berhenti sama
sekali (menopause), prosesnya merupakan proses alamiah. Penyakit metabolik yang banyak
ditemukan ialah diabetes melitus osteoporosis (berkurangnya zat kapur dan bahan mineral
sehingga tulang lebih mudah rapuh dan menipis).

Diabetes melitus sering ditemukan pada lanjut usia yang berumur 70 tahun ke atas.
Akibatnya, terjadi degenerasi pembuluh darah dengan komplikasi pembuluh darah koroner,
perubahan darah otak yang berakibat terjadinya penyakit serebrovaskular. Perubahan pada
pembuluh darah otak ini dapat menyebabkan stroke yang bisa menyebabakan kelumpuhan
separuh badan.

7.Penyakit Pada Persendian dan Tulang

Penyakit pada sendi ini adalah akibat degenerasi atau kerusakan pad permukaan sendi
tulang yang banyak ditemukan pada lanjut usia, terutama yang gemuk. Hampir 8% orang
yang berusia 50 tahun keatas mempunyai keluhan pada sendinya, misalnyalinu, pegal, dan
kadang kadang terasa seperti nyeri. Bagian yang terkena biasanya ialah persendian pada jari
jari, tulang punggung, sendi penahan berat tubuh (lutut dan panggul).

Biasanya nyeri akut pada persendian itu disebabkan oleh gout. Hal ini disebabkan
gangguan metabolisme asam urat dalam tubuh. Terjadinya osteoporosis ini menyebabkan
tulang lanjut usia mudah patah dan sulit sembuh. Biasanya, patah tulang terjadi karena
kekuatan otot dan koordinasi kekuatan anggota badan secara keseluruhan berkurang,
mendadak pusing, penglihatan yang kurang baik, adanya penyakit jantung yang diiringi
gangguan pada irama jantung, cahaya ruangan kurang terang, dan lantai yang licin. Karena
adanya patah tulang tersebut dapat terjadi komplikasi sehingga harus istirahat total dalam
waktu yang lama, misalnya karena harus operasi untuk menyambung patah tulang tersebut.
Tirah baring yang lam dapat mempercepat terjadinya osteoporosis dan radang paru.

8.Proses Keganasan

Penyebab terjadinya kanker sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Hanya
tampak semakin tua seseorang, semakin mudah dihinggapi penyakit kanker. Pada wanita,
kanker banyak ditemukan pada rahim, payudara, dan saluran pencernaan, dan kelenjar
prostat. Pada lanjut usia, harus dilakukan pemeriksaan secara saksama. Riwayat penyakit
perlu ditanyakan, baik yang pernah dideritanya maupun yang ada dalam keluarga.

Bahkan karsinogen, misalnya tembakau rokok, sinar ultraviolet, sinar radioaktif, sinar
X yang berlebihan dapat juga menimbulkan keganasan. Karena proses keganasan ini dapat
menjalar ke organ lain (metastasis), harus diusahakan dicari sumber primer keganasan
tersebut.

2.1.4 Perubahan Kondisi Fisik


Menjadi tua atau menua membawa pengaruh serta perubahan menyeluruh baik fisik,
sosial, mental dan moral spiritual, yang keseluruhannya saling kait mengait antara satu bagian
dengan bagian lainya. Dan perlu kita ingat bahwa tiap-tiap perubahan memerlukan
penyusaian diri, padahal dalam kenyataan semakin menua usia kita kebanyakan semakin
kurang fleksible untuk menyusaikan terhadap berbagai perubahan yang terjadi dan disinilah
terjadi berbagai gejolak yang harus dihadapi setiap kita yang mulai menjadi manula. Gejolak-
gejolak itu antara lain perubahan fisik dan sosial.
Menurut badan kesehatan dunia atau WHO, 2000 penggolongan dewasa lanjut atau
lansia dibagi menjadi tiga kelompok yakni, 59 tahun, lanjut usia (middle age) ialah kelompok
usia (elderly) antara 60 dan 74 tahun, lanjut usia tua (old) antara 75 dan 90 tahun, dan usia
sangat tua (very old) sistem integumentary, sistem rangka, sistem otot, sistem saraf, sistem
endocrine, sistem cardivascular, sistem imunitas, sistem pernapasan, pencernaan,
perkemihan, dan sistem reproduksi wanita dan pria.

Secara umum, menjadi tua ditandai oleh kemunduran biologis yang terlihat sebagian
gejala-gejala kemunduran fisik, antara lain :

1. Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang menetap.
2. Rambut kepala mulai memutih atau beruban.
3. Gigi mulai lepas atau ompong.
4. Penglihatan dan pendengaran berkurang.
5. Mudah lelah dan mudah jatuh.
6. Mudah terserang penyakit.
7. Nafsu makan menurun.
8. Penciuman mulai berkurang.
9. Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah.
10. Pola tidur berubah.

1. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut pada sistem kardiovaskular :


Elastis dinding aorta menurun.
Perubahan miokara; atrofi menurun.
Lemak sub endoicard menurun ; fibrosis menebal, sclerosis.
Katub-katub jantung mulai fibrosis dan klasifikasi (kaku).
Peningkatan jaringan ikat pada SA node.
Penurunan denyut jantung maksimal pada latihan.
Cardiac output menurun.
Penurunan jumlah sel pada pacemaker.
Jaringan kolagen bertambah dan jaringan elastis berkurang pada otot jantung.
Penurunan elastis pada dinding vena.
Respon baro reseptor menurun.

2. Perubahan dan konsekuensi fisiologis atau usia lanjut system gastrointestinal :


Terjadi atrofi mukosa.
Atrofi dari sel kelenjar, sel parietal dan sel chief akan menyebabkan sekresi asam
lambung, pepsin dan faktor intrinsic berkurang.
Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil sehingga daya tampung makanan
menjadi lebih berkurang.
Proses perubahan protein menjadi pepton terganggu. Karena sekresi asam
lambung berkurang dan rasa lapar juga berkurang.
3. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut system respiratori :
Perubahan seperti hilangnya silia dan menurunnya refleks batuk dan muntah
mengubah keterbatasan fisiologis dan kemampuan perlindungan pada sistem
pulmonal.
Perubahan anatomis seperti penurunan komplian paru dan dinding dada turut
berperan dalam peningkatan kerja pernapasan sekitar 20% pada usia 60 tahun.
Atrofi otot-otot pernapasan dan perubahan kekuatan otot pernapasan dapat
meningkatkan resiko berkembangnya keletihan otot-otot pernapasan pada lansia.
Perubahan fisiologis yang ditemukan pada lansia yaitu alveoli menjadi kurang
elastik dan lebih berserabut serta berisi kapiler-kapiler yang kurang fungsi
sehingga kapasitas pengguna menurun karena kapasitas difungsi paru-paru untuk
oksigen tidak dapat memenuhi permintaan tubuh.

4. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut sistem muskuloskeletal :


Penurunan kekuatan otot yang disebabkan oleh penurunan massa otot (atrofi otot).
Ukuran otot mengecil dan penurunan massa otot lebih banyak terjadi pada
ekstremitas bawah.
Sel otot yang mati digantikan oleh jaringan ikat yang lemah.
Kekuatan atau jumlah daya yang dihasilkan oleh otot menurun dengan
bertambahnya usia.
Kekuatan otot ekstremitas bawah berkurang sebesar 40% antara usia 30-80 tahun.

5. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut sistem endokrin :


Sistem endokrin mempunyai fungsi yaitu sebagai sistem yang utama dalam
mengontrol seluruh sistem tubuh melalui sistem endokrin, menstimulasi seperti proses
yang berkesinambungan dalam tubuh sebagai pertumbuhan dan perkembangan,
metabolisme dalam tubuh, reproduksi, dan pertahanan tubuh terhadap berbagai
serangan-serangan penyakit atau virus.
Hormon-hormon yang terdapat dalam sistem endokrin yaitu kelenjar pituitary,
tyroid, paratyroid, adrenal, pankreatic islet, kelenjar pineal, timus, dan gonad.
Hormon-hormon tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda disetiap tubuh manusia.
Perubahan perubahan yang terjadi pada sistem endokrin yang dialami oleh dewasa
lanjut atau lanjut usia yanitu produksi hormon hampir semua menurun, fungsi
paratyroid dan sekresinya tak berubah, pertumbuhan hormon pituitary ada tetapi lebih
rendah dan hanya ada pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH,
FSH,dan LH. Menurunnya produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon gonad,
progesteron, esterogen, dan testosteronik,dan defisiensi hormonal dapat menyebabkan
hipotyroidisme.
6. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut sistem integumen :
Perubahan pada sistem integumentary yang terjadi pada dewasa lanjut yaitu
kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan berkurang dan
keelastisannya karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adipose, kelenjar-
kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap
panas dengn temperatur yang tinggi, kulit pucat dan terdapat bintik-bintik hitam
akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel-sel yang memproduksi pigmen,
menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka yang
kurang baik, kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh dan temperatur
tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.

7. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut sistem neurologi :


Perubahan perubahan yang terjadi pada sistem saraf pada dewasa lanjut atau
lansia yaitu berat otak menurun, hubungan persarafan cepat menurun,lambat dalam
respon dan waktu untuk berpikir, berkurangnya penglihatan, hilangnya
pendengaran,mengecilnya saraf pencium dan perasa lebih sensitif terhadap perubahan
suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin, kurang sensitif terhadap sentuhan,
cepatnya menurunkan hubungan persarafan, refleks tubuh akan semakin berkurang
serta terjadi kurang koordinasi tubuh, dan membuat dewasa lanjut menjadi cepat
pikun dalam mengingat sesuatu.
8. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut genetourinari
Dengan bertambahnya usia, ginjal akan berkurang efisien dalam
memindahkan kotoran dari saluran darah. Kondisi kronik, seperti diabetes atau
tekanan darah tinggi, dan beberapa pengobatan dapat merusak ginjal. Dewasa lanjut
yang berusia 65 tahun akan mengalami kelemahan dalam kontrol kandung kemih
(urinary incontinence). Incontinence dapat disebabkan oleh beragam masalah
kesehatan, seperti obesitas, konstipasi dan batuk kronik.
Perubahan ini terjadi pada sistem perkemihan pada dewasa lanjut yaitu otot-
otot pengatur fungsi saluran kencing menjadi lemah, frekuensi buang air kecil
meningkat, terkadang terjadi ngompol dan aliran darah ke ginjal menurun sampai
50%. Fungsi tubuh berkurang akibatnya kurang kemampuan mengkonsentrasi urine.

9. Perubahan dan konsekuensi fisiologis usia lanjut sistem sensoris (Panca Indera) :
Perubahan pada panca indera pada hakekatnya panca indera merupakan suatu
organ yang tersusun dari jaringan, sedangkan jaringan sendiri merupakan kumpulan
sel yang mempunyai fungsi yang sama. Karena mengalami proses penuaan (aging) sel
telah mengalami perubahan bentuk maupun komposisi sel tidak normal. Maka secara
otomatis fungsi inderapun akan mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat pada
orangtua yang secara berangsur-angsur mengalami penurunan kemampuan
pendengarannya dan mata kurang kesanggupan melihat secara fokus objek yang dekat
bahkan ada yang menjadi rabun, demikian juga indera pengecap, perasa, penciuman
berkurang sensitifitasnya.

2.1.5 Perubahan aspek psikologis

Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga


membawa lansia kearah kerusakan/kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek
psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis dan sebagai nya. Hal itu
biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya
kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, terpaksa berurusan dengan
penegak hukum, atau trauma psikis. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap
kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para
lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang
dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai
berikut:

a) Penurunan Kondisi Fisik.


b) Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual.
c) Perubahan Aspek Psikososial
d) Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
e) Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
f) Penurunan Kondisi Fisik

Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik
yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi
menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum
kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara
berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik,
psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain.
Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu
menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial,
sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir
fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan,
tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.

Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :


a) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
b) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi
dan budaya.
c) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
d) Pasangan hidup telah meninggal.

Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya
misalnya cemas, depresi, pikun dan sebagainya.

2.1.6 Perubahan Aspek sosial

Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman,
pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi
makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan
dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa
lansia menjadi kurang cekatan.

Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan
aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan
tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:

a) Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak


banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
b) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan
mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan
kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
c) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat
dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka
pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka
pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit
dari kedukaannya.
d) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki
lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-
kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi
ekonominya menjadi morat-marit.
e) Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya
terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung
membuat susah dirinya.

Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan pada umumnya perubahan ini diawali
ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati
hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena
pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran,
kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung
dari model kepribadiannya (Kuntjoro, 2007)
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia?
Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun.
Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang
memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah).
Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing
individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan
dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak
positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-
kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak
dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi
dan terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment
untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif. Untuk
merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan
yang sifatnya memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta,
cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya. Model pelatihan
hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya sehingga menumbuhkan keyakinan
pada lansia bahwa disamping pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain
yang cukup menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak membayangkan
bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan berkurang
dan sebagainya.
Perubahan dalam peran sosial di masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera
pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau
bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat
berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan.
Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang
bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika
keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan
kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri,
mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu
orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil. (Kuntjoro, 2007).

Melihat masalah masalah yang telah dikemukakan sudah sewajarnya bahwa


kelompok lansia perlu mendapat pembinaan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu
kehidupan untuk mencapai masa tuayang bahagia dan berfuna bagi kehidupan keluarga dan
masyarakat sesuai denganeksistensinya dalam strata kemasyarakatan.Direktorat Binkes
Keluarga mengeluarkan beberapa acuan untuk pembinaan usia lanjut (Depkes 1992).
Permasalah psikologis pada lanjut usia cenderung menjadi beban kehidupan yang menjadi
hambatan dalam aktifitas sehari hari dan aktifitas social. Pengkajian dini dan penanganan
yang tepat terhadap permasalahan psikologis ini akan sangat berguna (Keltner dan
Schwecke,1995).
DAFTAR PUSTAKA

Nugroho Wahjudi, 2008. Keperawatan Gerontik % Geriatrik. Jakarta : EGC

Padila, 2013. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika