Anda di halaman 1dari 20

PENDELEGASIAN DAN SUPERVISI

DISUSUN OLEH:
Christine Sihombing (032014008)
Dermawati Simanjuntak (032014009)
Erni Cahyani Putri Gea (032014013)
Febriani (032014016)
Ira Riska Mei Yanti (032014033)
Jainal Lumbantoruan (032014035)
Mawarta Br. Tarigan (032014043)
Sr. Ansfrida Sinaga (A.12.021)
Stefani Priscilla Sipayung (032014069)

PROGRAM STUDI NERS TAHAP AKADEMIK


STIKes SANTA ELISABETH MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan

berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul

Pendelegasian dan Supervisi. Penulisan ini di lakukan dalam rangka memenuhi salah satu

tugas dalam blok Manajemen Keperawatan. Dalam penyusunan makalah ini penyusun banyak

mendapat bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis

mengucapkan terimakasih kepada Bapak Indra Hizkia Perangin-angin, S.Kep., Ns., M.Kep,

CWCCA selaku dosen pembimbing.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan mengingat

keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran yang membangun

sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah ini.

Medan, 14 Maret 2017

Penulis

ii
Visi Dan Misi STIKes Santa Elisabeth Medan

VISI

Menghasilkan tenaga kesehatan yang unggul dalam pelayanan kegawatdaruratan berdasarkan


daya kasih Kristus yang menyembuhkan sebagai tanda kehadiran Allah di Indonesia tahun
2022.

MISI

1. Melaksanakan metode pembelajaran yang up to date.


2. Melaksanakan penelitian di bidang kegawatdaruratan berdasarkan evidence based
practice.
3. Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan kompetensi
mahasiswa dan kebutuhan masyarakat.
4. Meningkatkan kerjasama dengan institusi pemerintah dan swasta dalam bidang
kegawatdaruratan.
5. Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung penanganan
terutama bidang kegawatdaruratan.
6. Meningkatkan soft skill di bidang pelayanan berdasarkan daya kasih Kristus yang
menyembuhkan sebagai tanda kehadiran Allah.

MOTTO
KETIKA AKU SAKIT KAMU MELAWAT AKU
(MAT 25:36)

iii
Visi dan Misi Program Studi Ners

VISI

Menghasilkan perawat profesional yang unggul dalam pelayanan kegawatdaruratan jantung


dan trauma fisik berdasarkan semangat daya kasih Kristus yang menyembuhkan sebagai tanda
kehadiran Allah di Indonesia tahun 2022.

MISI
1. Melaksanakan metode pembelajaran berfokus pada kegawatdaruratan jantung dan
trauma fisik yang up to date.
2. Melaksanakan penelitian berdasarkan evidence based practice berfokus pada
kegawatdaruratan jantung dan trauma fisik.
3. Melaksanakan pengabdian masyarakat berfokus pada kegawatdaruratan dalam
komunitas meliputi bencana alam dan kejadian luar biasa.
4. Meningkatkan soft skill dibidang pelayanan keperawatan berdasarkan semangat daya
kasih Kristus yang menyembuhkan sebagai tanda kehadiran Allah.
5. Menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah dan swasta yang terkait dengan
kegawatdaruratan jantung dan trauma fisik.

iv
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
Visi Dan Misi STIKes Santa Elisabeth Medan.............................................................iii
Visi dan Misi Program Studi Ners............................................................................. iv
DAFTAR ISI......................................................................................................... v
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2. Tujuan......................................................................................................... 2
1.2.1. Tujuan umum............................................................................................ 2
1.2.2. Tujuan Khusus........................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................3
2.1. Pendelegasian.................................................................................................. 3
2.1.1. Definisi....................................................................................................... 3
2.1.2. Ketidakefektifan dalam Pendelegasian.............................................................3
2.1.3. Konsep Dasar Pendelegasian yang Efektif.........................................................4
2.1.4. Pedoman Pelimpahan Wewenang yang Efektif...................................................5
2.1.5. Cara Pendelegasian...................................................................................... 5
2.1.6. Tempat dan Waktu Pendelegasian...................................................................6
2.1.7. Kegiatan yang Tidak Boleh Didelegasikan.........................................................7
2.1.8. Keberhasilan Pendelegasian...........................................................................7
2.2. Supervisi......................................................................................................... 8
2.2.1. Pengertian Supervisi..................................................................................... 8
2.2.2.Tujuan Supervisi........................................................................................... 8
2.2.3. Peran dan Fungsi Supervisior.........................................................................9
2.2.4. Fungsi Supervisi......................................................................................... 10
2.2.5. Cara Supervisi........................................................................................... 10
2.2.6. Kegiatan Supervisor................................................................................... 11
2.3. Proses Supervisi Dan Delegasi...........................................................................12
BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................................14
3.1. Kesimpulan................................................................................................ 14
3.2. Saran........................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 15

v
vi
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pengelolaan pelayanan keperawatan membutuhkan sistem manajerial keperawatan
yang tepat untuk mengarahkan seluruh sumber daya keperawatan dalam menghasilkan
pelayanan keperawatan yang prima dan berkualitas. Manajemen keperawatan merupakan
koordinasi dan integrasi dari sumbersumber keperawatan dengan menerapkan proses
manajemen untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan. Hal ini tentu perlu didukung oleh
seorang manajer yang mempunyai kemampuan manajerial yang handal untuk melaksanakan
fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian aktivitas-aktivitas
keperawatan (Marquis & Huston, 2010)

Pendelegasian merupakan elemen yang esensial pada fase pengarahan dalam proses
manajemen karena sebagian besar tugas yang diselesaikan oleh manajer (tingkat bawah,
menengah dan atas) bukan hanya hasil usaha mereka sendiri, tetapi juga hasil usaha pegawai.
Bagi manajer, pendelegasian bukan merupakan pilihan tetapi suatu keharusan. Kadang kala
manajer harus mendelegasikan tugas rutin sehingga mereka dapat menangani masalah yang
lebih kompleks atau yang membutuhkan keahlian dengan tingkat yang lebih tinggi. Manajer
dapat mendelegasikan tugas jika seseorang telah dipersiapkan dengan lebih baik atau
memiliki keahlian yang tinggi atau lebih cakap tentang cara menyelesaikan masalah.
Pendelegasian juga dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran atau pemberian
kesempatan kepada pegawai. Pegawai yang tidak didelegasikan tanggung jawab yang sesuai
dapat menjadi bosan, tidak produktif, dan tidak efektif (Marquis & Huston, 2010).

Supervisi keperawatan merupakan suatu proses pemberian sumber-sumber yang


dibutuhkan perawat untuk menyelesaikan tugas dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan. Supervisi memungkinkan seorang manajer keperawatan dapat menemukan
berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di ruang yang
bersangkutan melalui analisis secara komprehensif bersama-sama dengan anggota perawat
secara efektif dan efisien (Arwani, 2005).

Pelaksana supervisi keperawatan dalam tatanan pelayanan rumah sakit salah satunya
adalah kepala ruangan. Kron (1987, dalam Putro, 2013) menyatakan kepala ruangan sebagai
ujung tombak tercapainya tujuan pelayanan di Rumah Sakit harus mempunyai kemampuan

1
supervisi untuk mengelola asuhan keperawatan. Supervisi yang dilakukan kepala ruangan
berperan untuk mempertahankan segala kegiatan yang telah dijadwalkan dapat dilaksanakan
sesuai standar. Supervisi memerlukan peran aktif semua perawat yang terlibat dalam kegiatan
pelayanan keperawatan sebagai mitra kerja yang memiliki ide, pendapat dan pengalaman
yang perlu didengar, dihargai, dan diikutsertakan dalam proses perbaikan pemberian asuhan
keperawatan dan pendokumentasian asuhan keperawatan.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan umum


Agar mahasiswa/i mampu memahami konsep pendelegasian dan supervisi

1.2.2. Tujuan Khusus


1. Agar mahasiswa/i mampu memahami konsep pendelegasian
2. Agar mahasiswa/i mampu memahami konsep supervisi

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pendelegasian
2.1.1. Definisi
Pendelegasian dapat diartikan sebagai penyelesaian suatu pekerjaan melalui orang lain
atau dapat juga diartikan sebagai pelimpahan suatu tugas kepada seseorang atau kelompok
dalam menyelesaikan tujuan organisasi. Pendelegasian/pelimpahan asuhan keperawatan
kepada pasien oleh perawat tidak mudah dilakukan karena menyangnkut pemberian suatu
perintah kepada orang lain untuk menyelesaikan tugas yang diemban (Nursalam,2013).

2.1.2. Ketidakefektifan dalam Pendelegasian


Pendelegasian dalam praktik keperawatan profesional sering ditemukan mengalami
masalah, dimana proses pendelegasian tidak dilaksanakan secara efektif. Ketidakefektifan atau
kesalahan yang sering ditemukan adalah :
1. Pendelegasian yang terlalu sedikit (Under-delegation)
Manajer keperawatan sering beramsumsi bahwa jika mereka melakukan sendiri, maka
akan menjadi lebih baik dan lebih cepat dari pada didelegasikan kepada orang lain.
Misalnya, menejer sering berpikir saya bisa mengerjakan ini lebih baik, bila staf yang
akan mengeerjakan maka akan perlu waktu yang lama. Masalah lain adalah kekhawaatiran
seorang bahwa mereka tidak mampu melakukan seperti apa yang dilakukan staff/ orang
yang didelegasikan. Karena tanggung jawab yang diberikan hanya sedikit dan sering
merasa bosan, malas, dan tidak efektif. Pendelegasian yang tepat akan dapat meningkatkan
kepuasan kerja dan meningkatkan hubungan yang kondusif antara manajer dan staf
(Nursalam,2013).
2. Pendelegasian yang berlebihan (Over-delegation)
Pendelegasian yang berlebihan kepada staf, akan berdampak terhadap penggunaan
waktu yang sia-sia. Hal ini disebabkan keterbatasan manajer untuk memonitor dan
menghabiskan waktu dalam tugas organisasi. Staf akan merasa terbebani dan sering
ditemukan penyalahgunaan wewenang yang diberikan. Misalnya, sering bertannya says
tidak tahu apa yang manajer harapkan atau : saya lebih senang bantuan supervisi dari
manajer terus menerus (Nursalam,2013).
3. Pendelegasian yang tidak tepat (Improper-delegation)
Pendelegasian menjadi tidak efektif bila diberikan kepada orang yang tidak tepat
karena alasaan faktor suka/tidak suka. Pendelegasian tersebut tidak akan memperoleh hasil
yangn baik karena adanya keenderungan manajer menilai pekerjaan staf berdasarkan unsur
subjektifitas (Nursalam,2013).
3
2.1.3. Konsep Dasar Pendelegasian yang Efektif
Menurut Nursalam (2013) lima konsep yang mendasari efektivitas dalam pendelegasian :
1) Pendelegasian buakan suatu sistem untuk mengurangi tanggung jawab. Tetapi suatu
cara untuk membuat tanaggung jawab menjadi bermakna. Manajer keperawatan sering
mendelegasikan tanggung jawabnya kepada staf dalam melaksanakan asuhan terhadap
pasien. Misalnya dalam penerapanmodel asuhan keperawatan profesional primer,
seorang perawat primer (PP) melimpahkan tanggungjawabnya dalam memeberikan
asuhan keperawatan kepada perawat pendamping/ associate (PA). Perawat primer
memberikan tanggungjawab yang penuh dalam merawat pasien yang didelegasikan.
2) Tanggung jawab dan otoritas harus didelegasikan secara seimbang. Peraawat primer
menyusun tujuan tindakan keperawatan. Tanggung jawab untuk melaksanakan
tujuan/rencana didelegasikan kepada staf yang sesuai atau menguasai kasus yang
dilimpahkan.
Proses tersebut meliputi :
- Pengkajian kebutuhan klien
- Indentifikasi tugas yang dapat dilaksanakan dengan bantuan orang lain
- Mendidik dan memberikan pelatihan supaya tugas dapat dilaksanakan dengan
aman dan kompeten
- Proses menentukan kompetensi dalam membantu seseorang
- Ketersedian supervisi yang cukup oleh PP ( Perawat Primer )
- Proses evaluasi yang terus-menerus dalam membantu seseorang
- Proses komunikasi tentang keadaan klien antara PP (Perawat Primer) dan PA
(Perawat Pendamping/associate)
3) Proses pelimpahan membuat seseorang melaksanakan tanggung jawabnya,
mengembangkan wewenang yang dililmpahkan, dan mengembangkan kemampuan
dalam mencapai tujuan organisasi. Keberhasilan kelimpahan ditentukan oleh :
- Intervensi keperawatan yang diperlukan
- Siapa yang siap dan sesuai dalam melaksanakan tugas tersebut
- Bantuan apa yang diperlukan
- Hasil apa yang diharapkan
4) Konsep tentang dukungan perlu diberikan kepada semua anggota. Dukungan yang
penting adalah menciptakan suasana yang aseratif. Setelah PA (perawat pendamping)
melaksanakan tugas yang dilimpahkan, maka PP (perawat pelaksana) harus
meninjukan rasa percaya kepada PA (perawat pendamping) untuk melakukan asuhan
keperaawatan secara mandiri
5) Seorang delegasi harus terlibat aktif. Ia harus dapat menganalisis otonomi yang
dilimpahkan untuk dapatbterlibat aktif. Keterbukaan akan mempermudah komunikasi
antara PP (perawat primer) dan PA (perawat pendamping)

4
2.1.4. Pedoman Pelimpahan Wewenang yang Efektif
Proses pendelegasian harus didahului dengan informasi yang jelas . Pendelegasian
yang jelas harus mengandung informsi mengenai tujuan yang spesifik , target waktu dan
pelaksanaan tindakan keperawatan.
1. Tujuan spesifik
Tujuan yang spesifik dan jelas baik secara fisik maupun psikis harus jelas sebagai
parameter kepada siapa pendelegasian itu diberikan
2. Target waktu
Seorang PP harus memberikan target waktu dalam memberikan pendelegasian kepada
PA. Pada perencanaan keperawatan kepada klien, PP harus menuliskan target waktu
yang jelas sebagai indikator keberhasilan asuhan keperawatan
3. Pelaksanaan tindakan keperawatan
PP (perawat primer) harus mengidentifikasi dan memberikan petunjuk intervensi
keperawatan yang sesuai terhadap kebutuhan klien. Tahap pengkajian dan pengambilan
keputusan harus didiskusikan sebelum tindakan dilaksanakan

2.1.5. Cara Pendelegasian


Cara pendelegasian menurut Nursalam (2013):
1) Seleksi dan susun tugas
Sediakan waktu yang cukup untuk menyusun daftar tugas-tugas yang harus
dilimpahkan secara rasional dan dapat dilaksanakan oleh staf. Tahap berikutnya yang
harus dikerjakan secara otomatis adalah menyiapkan laporan yang kontiniu, menjawab
setiap pertanyaan, menyiapkan jadwal berurutan, memesan alat-alat presentasi pada
komisi yang bertanggung jawab, dan melaksanakan asuhan keperawatan dan tugas
teknis yang lainnya.
2) Seleksi orang yang tepat
Pilih orang yang sesuai untuk melaksanakan tugas tersebut berdasarkan kemampuan
dan persyaratan lainnya. Tepat tidaknya memiliki staf bergantung dari kemampuan
manajer mengenal kinerja staf, kelebihan, kelemahan, dan perilakunya.
3) Berikan arahan dan motivasi kepada staf
Salah satu kesalahan dalam pendelegasian adalah ketiadaan arahan yang jelas. Lebih
baik pendelegasian dilakukan secara tertulis, dan ajarkan bagaimana melaksanakan
tugas tersebut. Jika anda sudah siap untuk memberikan pendelegasian, maka anada
harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
- Apakah saya sudah menjelaskan alasan pendelegasian dan mengapa tugas ini
penting dilakukan ?
- Apakah semua tugas sudah jelas dalam ingatan kita ? haruskah saya menuliskan
secara rinci?
4) Lakukan supervisi yang tepat

5
Supervisi merupakan hal yang penting dan pelaksanaannya bergantung pada
bagaimana staf melihatnya.
- Overcontrol
Kontrol yang berlebihan akan merusak pendelegasian yang diberikan. Staf tidak
akan dapat memikul tanggung jawabnya dengan baik dan hanya akan berfokus
terhadap hal-hal yang tidak didelegasikan (Nursalam,2013).
- Undercontrol
Kontrol yang kurang juga akan berdampak buruk terhadap pendelegasian, dimana
staf menjadi tidak produktif dalam melaksanakan tugas dan berdampak secara
signifikan terhadap hasil yang diharapkan (Nursalam,2013).

2.1.6. Tempat dan Waktu Pendelegasian


Dibawah ini merupakan tempat dan waktu pendelegasian dapat dilaksanakan
(Nursalam, 2013):
a) Tugas rutin
Seperti wawancara lamaran pekerjaan, tanggung jawab terhadap masalah-masalah
yang kecil, dan menyeleksi surat merupakan tugas biasa danj dapat didelegasikan
kepada staf
b) Tugas yang tidak mencukupi waktunya
Pendelegasian dapat dilaksanakan pada tugas-tugas tertentu karena manajer tidak
mempunyai cukup waktu untuk mengerjakannya
c) Penyelesaian masalah
Pendelegasian diberikan dengan tujuan memberikan pengalaman/tantangan kepada staf
yang menyelesaikannya
d) Peningkatan kemampuan
Pendelegasian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan staf dan tim. Dengan
pengelolaan yang sesuai, pendelegasian akan menjadikan suatu latihan bagi staf untuk
belajar
e) Kapan pendelegasian tidak diperlukan
- Tugas yang terlalu teknis, misalnya jadwal staf dan anggaran yang merupakan
tugas ritin manajer, tetapi terlalu teknis dan perlu keterampilan khusus untuk
dilaksanakan staf.
- Tugas yang berhubungan dengan kepercayaan dan kerahasiaan, misalnya
kerahasiaan suatu informasi dari institusi berhubungan dengan terjadinya
perselingkuhan staf

Pendelegasian dapat mengakibatkan masalah jika tugas yang didelegasikan tidak


dilaksanakan sesuai harapan. Untuk menghindari kesalahan tersebut, maka manajer
mempunyai tanggung jawab sebagai berikut :
- Disiplin dalam pemberian wewenang
6
- Bertangung jawab terhadap pembinaan moral staf
- Perlunya suatu kontrol
- Hindari kesalahan dalam penyampaian pendelegasian

2.1.7. Kegiatan yang Tidak Boleh Didelegasikan


1) Aktivitas yang memberikan pengkajian dan keputusan selama pelaksanaan
2) Pengkajian fisik, psikologis, sosial yang memerlukan keputusan, rujukan dan
intervensi atau tidak lanjut
3) Penyusunan dan evaluasi rencana keperawatan
(Nursalam, 2014)

2.1.8. Keberhasilan Pendelegasian


Keberhasilan pendelegasian akan ditentukan oleh faktor-faktor berikut (Nursalam, 2014):
1) Komunikasi yang jelas dan lengkap
Kejelaassan komunikasi ditentukan oleh kelengkapan informasi yang disampaikan,
akurasi terhadap pesan, dan penggunaan istilah/kata-kata yang mudah dipahami oleh
penerima pesan.
2) Ketersediaan sumber dan sarana
Jika PP mengkehendaki perkembangan pasien dari PA, maka PP harus berada
ditempat. Jika PP untuk jangka waktu yang lama tidak berada ditempat, maka laporan
harus dilimpahkan kepada staf lainnya.
3) Monitoring
Perawat Primer haraus memberikan kebebasan kepada Perawat pendamping untuk
berpikir dan menganalisis tugas yang diberikan.
4) Pelaporan kemajuan tugas limpah
Sebagai perawat yang bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan salam praktik
keperawatan profesional kepada pasien, maka Perawat Primer harus selalu meminta
laporan dari Perawat pendamping tentang kemajuan klien.

2.2. Supervisi

2.2.1. Pengertian Supervisi


Supervisi adalah memberikan bantuan, bimbingan/ pengajaran, dukungan pada
seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya sesuai kebijakan dan
prosedur,mengembangkan keteerampilan baru,pemahaman yang lebih luas tentang
pekerjaannya sehingga dapat melakukannya dengan baik. Supervisi merupakan proses
formal dari belajar dan dukungan profesional yang memungkinkan perawat praktisi untuk
mengembangkan pengetahuan,dan kompetensi, menerima tanggung jawab dalam praktiknya
dan meningkatkan perlindungan terhadap pasien dan pelayanan keperawatan yang aman
dalam situasi yang kompleks. Bonn dan Holland menggambarkan supervisi klinik adalah
memfasilitasi perawat praktisi pada perawat klinik secara teratur untuk mencapai, menopang
7
dan mengembangkan secara kreatif praktik yang berkualitas tinggi melalui pokus dukungan
dan pengembangan (Sitorus, 2011)

2.2.2. Tujuan Supervisi

Menurut Sitorus (2011) tujuan dari supervisi adalah:


1) Mengorientasikan,melatih membimbing staf sesuai kebutuhan dan mengarahkan untuk
menggunakan kemampuan dan mengembangkan keterampilan baru.
2) Memfasilitasi staf untuk mengembangkan dirinya.
3) Menolong dan mengarahkan staf untuk meningkatkan minat, sikap dan kebiasaan yang
baik dalam bekerja.
4) Memberikan bimbingan langsung kepada staf dalam melaksanakan asuhan
keperawatan.
5) Mendorong dan meningkatkan perkembangan profesional secara terus menerus dan
menjamin standar asuhan.

2.2.3. Peran dan Fungsi Supervisior

Adapun peran dan fungsi supervisor adalah sebagai berikut (Sitorus, 2011):

1) Supervisior sebagai mentor


Supervisior sebagai mentor berperan sebagai model peran yang secara aktif mengejar,
melatih, mengembangkan, dan memberikan bimbingan dan fasilitasi untuk
peningkatan karir staf. Proses mentoring dapat formal dan non formal. Supervisior
yang berperan sebagai mentor memiliki karakteristik khusus yaitu keahlian klinis,
pengetahuan, pengalaman, keinginan untuk mengasuh, dan komitmen untuk
profesinya.
2) Supervisior sebagai pemegang kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan untuk merubah perilaku seseorang sesuai perilaku yang
diharapkan. Supervisior yang berhasil, akan menggunakan semua sumber yang
dimilikinya dalam merubah perilaku stafnya.
Elemen kekuasaan supervisior menurut stevens 1985 dalam Rocchiccioli & Tilbuny,
(1998) adalah:
a. Pengetahuan dan kekuasaan keahlian dan keperawatan, manajemen, teknologi,
dan kecenderungan dalam praktik keperawatan.
b. Hubungan kerjasama dengan jaringan informal di dalam ataupun di luar
organisasi.
c. Kontrol sumber pengetahuan tentang sumber-sumber dan kekuasaaan.
d. Pengembalian keputusan ataupun kemampuan pemecahan masalah dengan
wewenang sesuai posisi.
8
e. Visi dan kepemimpinan, kemampuan untuk mengidentifikasi, kounikasi dan m
encapai tujuan.

3) Supervisior dan kerjasama

Kerja sama dan membangun kerja sama adalah fungsi penting dalam supervisi.
Membangun hubungan yang positif dengan kelompok, organisasi dan institusi adalah
penting dalam merubah lingkungan kerja. Kerjasama dapat dibangun dengan formal
maupun informal. Supervisior yang efektif mengenal penggunaan yang bermanfaat
terhadap pemaksaan, tujuan, individual, strategi formal sebagai pendekatan dalam
tugas. Mengidentifikasi dan memperkuat kekuatan/ kelebihan staf dapat membantu
supervisior untuk mencapai tujuan.

2.2.4. Fungsi Supervisi

Menurut Sitorus (2011) fungsi supervisi yaitu:

1) Perencanaan dan pengorganisasian


Perencanaan, merupakan salah satu fungsi dasar dari manajemen yang merupakan
proses untuk mencapai tujuan dan misi organisasi, falsafah keperawatan, tujuan unit,
sasaran, kebijakan dan prosedur. Supervisior merencanakan untuk menurunkan lama
hari rawat pasien atau mengembangkan prosedur untuk perawatan pasien.
2) Pengorganisasian
Proses supervisi menunjukkan koordinasi terhadap sumber-sumber untuk mencapai
tujuan secara efektif dan efesien. Supervisior harus dapat menguasai/ memahami fungsi
pengorganisasian untuk merestrukturisasi dan mereformulasikan antara perubahan
manusia dan sumber-sumber material pada waktu yang pendek.
3) Pengawasan dan Evaluasi
Supervisi bertanggung jawab untuk mengawasi lingkungan dan mengukur hasil dari
proses kerja. Fungsi pengawasan meliputi perhatian terhadap alur kerja, sistem
informasi, model pemberian asuhan pasien, liburan staf, upah staf, dan promosi.
4) Pengawasan, dan evalusai terhadap standar organisasi
Standar menggambarkan harapan terhadap ukuran penampilan / kinerja dalam wilayah
yang spesifik. Standar menunjukkan nilai organisasi, dimana nilai- nilai dan standar
tersebut merupakan pedoman dari struktur organisasi, praktik keperawatan , sistem
keperawatan dan pengembangan SDM keperawatan.

9
2.2.5. Cara Supervisi
Untuk dapat menjalankan supervisi yang baik ada beberapa teknik yang dilakukan
(Sitorus, 2011):

a. Langsung
Supervisi dilakukan langsung pada kegiatan yang sedang berlangsung. Pada supervisi
modern diharapkan supervisor terlibat dalam kegiatan agar pembimbingan dan
pengarahan serta pemberian petunjuk tidak dirasakan sebagai perintah. Cara
memberikan bimbingan dan pengarahan yang efektif adalah :
Pengarahan diberikan dengan lengkap
Mudah dipahami
Menggunakan kata-kata yang tepat
Berbicara dengan jelas dan tidak terlalu cepat
Berikan arahan yang logis
Hindari memberikan banyak arahan pada satu saat
Pastikan bahwa arahan yang di berikan dipahami
Yakinkan bahwa arahan yang diberikan dilaksanakn atau perlu tindak lanjut
b. Tidak langsung
Supervisi dilakukan melalui laporan tertulis maupun lisan. Supervisor tidak melihat
kejadian di lapangan sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat
diberikan secara tertulis.

2.2.6. Kegiatan Supervisor


a. Perencanaan
1) Membuat tujuan unit mengacu pada visi dan misi keperawatan
2) Membuat standar ketenagaan di ruangan
3) Membuat rencana pengembangan staf
4) Menyusun SOP dan SAK
5) Menetapkan lama hari rawat di unit yang disupervisi
6) Membuat jadwal kerja sesuai area dan personil yang disupervisi
7) Membuat standar evaluasi kinerja staf /personil yang disupervisi
b. Pengorganisasian
1) Menetapkan sistem pemberian asuhan keperawatan pasien
2) Mengatur pekerjaan personil
3) Koordinasi sumber-sumber untuk mencapai tujuan pelayanan secara efektif dan
efesien
c. Membimbing dan mengarahkan
1) Menjadi role model dalam pemberian asuhan keperawatan kepada pasien dan
keluarga
2) Membangun hubungan yang positif dengan staf melalui komunikasi yang efektif
3) Mengindentifikasi kelebihan dan kelemahan staf
4) Mengajar/membimbing, mengarah, melatih mengembangkan staf untuk
memberikan askep (tindakan dan dokumentasi askep) sesuai kebutuhan
5) Memberi bimbingan untuk meningkatkan keterampilan staf
6) Melatih staf untuk pengambilan keptusan klinis
10
7) Membantu staf dalam menyelesaikan pekerjaan
8) Mendelegasikan tugas kepada staf sesuai kemampuan yang dimiliki
9) Menfasilitasi staf dalam menyelasikan pekerjaan
10) Memberikan bantuan atau hal-hal lain terkait dengan pelayanan sesuai kebutuhan
d. Pengawasan dan evaluasi
1) Mengontrol jadwal kerja dan kehadiran staf
2) Menganalisa keseimbangan staf dan pekerjaan
3) Mengontrol tersedianya fasilitas / peralatan / sarana untuk hari ini
4) Mengotrol lingkungan area supervisi
5) Mengindentifikasikan kendala / masalah yang muncul
6) Mengotrol dan mengevaluasi pekerjaaan staf dan kemajuan staf dalam
melaksanakan pekerjaaan
7) Mengawasi dan evaluasi kualitas asuhan keperawatan pasien.
e. Pencatatan dan pelaporan
1) Mencatat permasalahan yang muncul
2) Membuat daftar masalah yang belum dapat diatasi dan berusaha untuk
menyelasikan pada keesokkan harinya
3) Mencatat dan melaporkan fasilitas / alat/ srana sesuai kondisi
4) Mencatat dan melaporkan secara rutin proses dan hasil supervisi
5) Mengevaluasi tugas supervisi yang dilakukan setiap hari dan melakukan tindak
lanjut sesuai kebutuhan
6) Membuat jadwal kerja untuk keesokkan harinya
7) Memelihara administasi keperawatan pasien
(Sitorus, 2011)

2.3. Proses Supervisi Dan Delegasi


Komponen penting dari proses supervissi adalah delegasi, dan delegasi mulai dari
tingkat manajemen puncak, supervisor mendelegasikan tugas kepada staf agar segera dapat
dilaksanakan. Komponen pendelegasikan adalah partisipasi melaksanakan tugas dalam
organisasi dan menyelasikan tugas dan tanggung jawab terhadap apsien sesuai dengan
wewenang yang diberikan. (Kurniadi, 2013)

Delegasi adalah penting agar manajer atau supervisor dapat melakukan tugas-tugas
manajerial yang lain. Delegasi juga dapat memberdayakan staf, menimbulkan komitmen
yang lebih besar, mmebantu pertumbuhan dan perkembangan profesional, kebanggaaan,
serta merupakan mekanisme untuk melatih staf menerima tanggung jawab lebih besar
(Kurniadi, 2013)

Delegasi yang efektif memerlukan pengetahuan dari supervisor tentang kemampuan,


kekuatan, dan kelemahan staf penerima delegasi. Selain itu, supervisor juga harus
mempercayai keputusan yang dibuat staf, serta mengikuti perkembangan staf agar lebih
meningkat dalam keterampilan dan pengambilan keputusan. Karena itu, supervisor harus

11
mempersiapkan staf dengan memberikan bimbingan dan pengarahan sesuai kebutuhan staf
dalam melaksanakan tugas yang di delegasikan (Kurniadi, 2013)

Supervisi dan aktifitas delegasi memerlukan pengambilan keputusan, dimana


kompetensi pengambilan keputusan merupakan faktor intrinsik dalam fungsi-fungsi
manajemen, perencanaan , pengorganisasian, pengawasan, dan evaluasi proses kerja
(Kurniadi, 2013)

BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

Pendelegasian dapat diartikan sebagai penyelesaian suatu pekerjaan melalui orang lain
atau dapat juga diartikan sebagai pelimpahan suatu tugas kepada seseorang atau kelompok
dalam menyelesaikan tujuan organisasi. Pendelegasian/pelimpahan asuhan keperawatan
kepada pasien oleh perawat tidak mudah dilakukan karena menyangnkut pemberian suatu
12
perintah kepada orang lain untuk menyelesaikan tugas yang diemban. Supervisi adalah
memberikan bantuan, bimbingan/ pengajaran, dukungan pada seseorang untuk menyelesaikan
pekerjaannya sesuai kebijakan dan prosedur,mengembangkan keteerampilan baru,pemahaman
yang lebih luas tentang pekerjaannya sehingga dapat melakukannya dengan baik. Delegasi
yang efektif memerlukan pengetahuan dari supervisor tentang kemampuan, kekuatan, dan
kelemahan staf penerima delegasi. Selain itu, supervisor juga harus mempercayai keputusan
yang dibuat staf, serta mengikuti perkembangan staf agar lebih meningkat dalam keterampilan
dan pengambilan keputusan. Karena itu, supervisor harus mempersiapkan staf dengan
memberikan bimbingan dan pengarahan sesuai kebutuhan staf dalam melaksanakan tugas
yang di delegasikan

3.2. Saran

1) Bagi institusi pendidikan


Diharapkan kepada institusi pendidikan agar lebih meningkatkan mahasiswa untuk
belajar tentang manajemen keperawatan secara mandiri agar mahasiswa lebih
profesional jika suatu saat terjun ke rumah sakit dalam manajemen keperawatan
khususnya delegasi dan supervisi.
2) Bagi mahasiswa/i
Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang
manajemen keperawatan khusunya tentang delegasi dan supervisi.

DAFTAR PUSTAKA

Arwani & Suprapto. 2005. Manajemen Bangsal Keperawatan. Jakarta: EGC

Kurniadi A. 2013. Manajemen Keperawatan dan Prospektifnya. Edisi ke 1.


Jakarta: FKUI

Marquis & Huston. 2010. Kepemimpinan Dan Manajemen Keperawatan


Teori &
Aplikasi. Edisi 4. Jakarta: EGC.
13
Nursalam. 2013. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional.Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional


Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika

Putro. 2013. Efektifitas pelatihan supervisi klinik kepala ruangan terhadap kinerja perawat
pelaksana di RSUD dr.H.Yuliddin Away Tapaktuan. Tesis Magister Keperawatan
Universitas Sumatera Utara. Diakses tanggal 15 Maret 2017.
Simamora, Roymond H. 2012. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Jakarta: EGC.

Suarli, S, Yanyan Bahtiar. 2009. Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis.


Jakarta:Erlangga.

14