Anda di halaman 1dari 6

LANDASAN TEORI

1. Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan faktor psikologis yang mempunyai peranan
penting dalam mempengaruhi perilaku seseorang. Untuk mendapatkan
pemahaman yang jelas ada beberapa pengertian dan konsep persepsi
yang akan dijelaskan lebih lanjut.
Pengertian persepsi dalam kamus Indonesia (1998) adalah
proses mental yang menghasilkan bayangan pada diri individu sehingga
mengenal objek dengan dengan jalan asosiasi pada satu ingatan tertentu,
baik secara Indera penglihatan, peraba dan indera yang lainnya sehingga
bayangan itu dapat disadari.
Pengertian persepsi secara formal menurut Siegel dan Marconi
(1989), yaitu suatu proses dimana suatu individu menyeleksi,
mengorganisir dan menginterprestasikan rangsangan (stimuli) ke dalam
suatu gambaran yang bermakna dan kohen dengan dunia.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas, dapat disimpulkan
bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti kepada stimulus
untuk menaksirkan dan memahami dunia sekitarnya dengan jalan
menyeleksi dan mengorganisir masukan serta menginterprestasikannya.
Karena setiap orang memberi arti kepada stimulus, maka individu yang
berbeda akan melihat hal yang sama secara berbeda pula.
Persepsi seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh masa lalu,
tetapi selain itu persepsi secara bersama adalah bersifat bawaan
(Encyclopedia Of Science and Technology, 1984, hal. 1268). Sebab
walaupun persepsi seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh
pengalaman dan pengetahuannya, namun masih ada faktor-faktor lain
yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang yaitu motivasi dan nilai
yang dimiliki pengharapan dan gaya kognifit (Morris, 1976, hal. 47). Teori
atribusi mengenal persepsi memperkuat pendapat tersebut. Teori atribusi
menyatakan bahwa persepsi seseorang tergantung pada faktor-faktor
individu dan faktor-faktor lingkungan. Teori atribusi menekankan pada
prinsip kausalitas yang menyatakan bahwa persepsi seseorang
tergantung pada faktor pribadi atau faktor lingkungan ataupun kombinasi
keduanya dalam Suhardjo, 2000.

2. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah


Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disebut DPRD
adalah Badan Legislatif Daerah (Pasal 1 UU No. 22 Tahun 1999)
Tugas dan Wewenangnya (Pasal 18 UU No. 22 Tahun 1999):
a. Memilih Gubernur/wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan
walikota/Wakil Walikota.
b. Memilih anggota MPR utusan daerah
c. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil
Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota.
d. Bersama dengan Gubernur, Bupati atau Walikota membentuk
Peraturan daerah.
e. Bersama dengan Gubernur, Bupati atau Walikota menetapkan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
f. Melaksanakan pengawasan terhadap:
1) Pelaksanaan Peraturan Daerah dan Peraturan PerUndang-Undangan
lainnya.
2) Pelaksanaan Keputusan Gubernur, Bupati dan Walikota.
3) Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
4) Kebijakan Pemerintah Daerah.
5) Pelaksanaan kerja sama internasional di daerah.
g. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah terhadap
rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan
daerah.
h. Menampung dan menindaklanjuti aspirasi daerah dan masyarakat.

3. Pengertian Kinerja
Istilah Kinerja/prestasi sebenarnya adalah pengalihbahasaan
dari kata Inggris performance. Kamus The New Webster Dictionary
memberikan tiga arti bagi kata performance, yaitu :
a. Adalah prestasi yang digunakan dalam konteks atau kalimat misalnya
mobil yang sangat cepat (high performance car)
b. Adalah petunjuk yang biasanya digunakan dalam kalimat Folk Dance
Performance atau Pertunjukan Tari-tarian Rakyat).
c. Adalah pelaksanaan tugas, misalnya dalam kalimat in performance
his/her duties (Ruky, 2002;15)
(Bernardin dan Russel dalam ruky, 2002: 15) memberikan
definisi tentang performance sebagai berikut:
performance is defined as the record of aoutcomes produced
on a specified job fuction or activity during a specified time period
(prestasi adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-
fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu
tertentu).
Dengan hal tersebut memberikan penekanan pengertian
prestasi sebagai hasil atau apa yang keluar (Outcomes) dari
sebuah pekerjaan dan kontribusi mereka pada organisasi.
Sedang menurut Mustopadidjaja (1999:3) kinerja adalah
gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan,
misi dan visi organisasi.
Dengan pengertian diatas (Sianipar dan Entang, 2001:51)
memberikan pengertian bahwa kinerja organisasi adalah hasil yang
dapat dicapai atas pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawab
organisasi melalui hasil kerja seseorang dan sekelompok orang dalam
suatu organisasi dalam kurun waktu tertentu dengan cara yang benar.
Berdasarkan konsep dari teori diatas maka dapat disimpulkan
bahwa kinerja kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
adalah hasil yang dapat dicapai atas pelaksanaan tugas yang menjadi
tanggung jawabnya yakni perencanaan pembangunan.

4. Pengertian Perencanaan Pembangunan.


Albert Waterston dalam (Tjokroamidjoyo, 1991:12)
menyebutkan perencanaan pembangunan adalah melihat kedepan
dengan mengambil pilihan berbagai alternative dari kegiatan untuk
mencapai tujuan masa depan tersebut dengan terus mengikuti agar
supaya pelaksanaannya tidak menyimpang dari tujuan.
Perencanaan pembangunan adalah suatu pengarahan
penggunaan sumber-sumber pembangunan (termasuk sumber-sumber
ekonomi) yang terbatas adanya, untuk mencapai tujuan-tujuan keadaan
social ekonomi yang lebih baik secara lebih efisien dan efektif.
Tjokroamidjoyo (1991:49) berpendapat bahwa tidak semua
perencanaan merupakan perencanaan pembangunan. Lebih lanjut
Tjokroamidjoyo (1991:57) seringkali terdapat kesalahpahaman seakan-
akan perencanaan berarti kegiatan penyusunan rencana saja. Sedangkan
perencanaan adalah suatu proses kegiatan usaha yang terus menerus
dan menyeluruh dari penyusunan suatu rencana, penyusunan program,
pelaksanaan serta pengawasan dan evaluasi pelaksanaannya.
Menurut Tjokroamidjoyo (1991:180) salah satu kegiatan penting
dalam perencanaan pembangunan adalah perencanaan program-program
dan proyek-proyek. Perencanaan proyek-proyek merupakan batu bata
daripada seluruh tembok rencana. Baik atau buruknya suatu rencana
tergantung sekali daripada perencanaan proyek-proyeknya.

5. Tingkat Pendidikan (Variabel Moderasi)


Menurut Andrew E. Sikula dalam Mangkunegara (2003:50)
tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang
menggunakan prosedur sistematis dan teorganisir, yang mana tenaga
kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk
tujuan-tujuan umum. Dengan demikian Hariandja (2002:169) menyatakan
bahwa tingkat pendidikan seorang karyawan deapat meningkatkan daya
saing perusahaan dan memperbaiki kinerja perusahaan.
Menurut UU SISDIKNAS No. 20 (2003), indicator tingkat
pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian jurusan. Jenjang
pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan
tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan
kemampuan yang dikembangkan.

6. Komitmen untuk Berubah (Variabel Interverning)


Komitmen adalah kemampuan dan kemauan untuk
menyelaraskan perilaku pribadi dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan
organisasi. Hal ini mencakup cara-cara mengembangkan tujuan atau
memenuhi kebutuhan organisasi yang intinya mendahulukan misi
organisasi daripada kepentingan pribadi (Soekidjan:2009). Menurut Meyer
dan Allen (1991, dalam Soekidjan, 2009), komitmen dapat juga berarti
penerimaan yang kuat individu terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi,
dan individu berupaya serta berkarya dan memiliki hasrat yang kuat
untuk tetap bertahan diorganisasi tersebut.
Menurut Quest (1995, dalam Soekidjan, 2009) komitmen
merupakan nilai sentral dalam mewujudkan solidaritas organisasi. Hasil
penelitian Quest (1995, dalam Soekidjan, 2009) tentang komitmen
organisasi mendapatkan hasil :
a. Komitmen tinggi dari anggota organisasi berkorelasi positif dengan
tingginya motivasi dan meningkatnya kinerja.
b. Komitmen tinggi berkorelasi positif dengan kemandirian dan self
control
c. Komitmen tinggi berkorelasi positif dengan kesetiaan terhadap
organisasi
d. Komitmen tinggi berkorelasi dengan tidak terlibatnya anggota dengan
aktifitas kolektif yang mengurangi kualitas dan kuantitas kontribusinya.
Lebih lanjut Soekidjan (2009) menjelaskan bahwa secara umum
komitmen kuat terhadap organisasi terbukti, meningkatkan kepuasan
kerja, mengurangi absensi dan meningkatkan kinerja.
KERANGKA TEORI

Komitmen Untuk Berubah

H H3 H3
a

H
Persepsi DPRD Kinerja Bappeda

Tingkat Pendidikan

HIPOTESIS

1. H1 : Pengaruh Persepsi DPRD terhadap Kinerja Bappeda


2. H2 : Pengaruh Persepsi DPRD terhadap Komitmen untuk Berubah
3. H3a : Pengaruh Persepsi DPRD, Komitmen Untuk Berubah terhadap Kinerja
Bappeda
4. H3b : Komitmen Untuk Berubah memediasi hubungan antara Persepsi DPRD
dan Kinerja Bappeda
5. H4 : Persepsi DPRD berpengaruh terhadap Kinerja Bappeda dengan Tingkat
Pendidikan sebagai Variabel Moderasi.
Dari kerangka diatas dapat dijelaskan bahwa persepsi dprd dapat berpengaruh
langsung terhadap kinerja Bappeda