Anda di halaman 1dari 6

ISSN 2085-5761 (Print) Jurnal POROS TEKNIK, Volume 8, No.

1, Juni 2016 : 1-54


ISSN 2442-7764 (Online)

SLOPE STABILITY ANALYSIS BASED ON ROCK MASS


CHARACTERIZATION IN OPEN PIT MINE METHOD
Eko Santoso1), Romla Noor Hakim1), Adip Mustofa1)
eko@unlam.ac.id

(1) Staf Pengajar Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas
Lambung Mangkurat
Ringkasan
Kegiatan analisis kestabilan lereng berhadapan dengan beberapa permasalahan,
diantaranya adalah permasalahan pada penentuan input properties serta pendekatan model
yang akan digunakan.Oleh sebab itu, proses evaluasi performa suatu lereng menjadi susah
untuk diprediksi secara pasti. Analisis kestabilan lereng pada umumnya menggunakan konsep
nilai faktor keamanan (FK) dengan menggunakan inut propetis batuan utuh. Maka pada
penelitian ini menawarkan sebuah metode analisis kestabilan lereng pada tambang terbuka
berdasarkan karakterisasi massa batuan serta permodelan menggunakan input properties
massa batuan dari pendekatan kriteria runtuh Generalized Hoek & Brown seperti yang
diusulkan oleh Hoek, Kaiser dan Bawden (1995). Penelitian ini diawali dengan proses
pengklasifikasian massa batuan dengan menggunakan sistem klasifikasi massa batuan RMR
( Rock Mass Rating) dan GSI (Geological Strength Index). Proses selanjutnya adalah estimasi
kekuatan massa batuan (rock mass strength) pada lereng tambang terbuka (Hoek, Carranza-
Torres & Corkum, 2002). Dari hasil analisis stabilitas lereng baik menggunakan metode
kesetimbangan batas maupun metode elemen hingga pada daerah penelitian, keduanya
memperlihatkan nilai rata-rata FK < 1, hal ini mengindikasikan lokasi tersebut relatif tidak stabil
dan kemungkinan besar terjadi keruntuhan. Penelitian ini menunjukan bahwa analisis
kestabilan lereng dengan menggunakan pendekatan karakterisasi massa batuan layak untuk
dipertimbangkan, mengingat kondisi lereng yang dilakukan analisis saat ini telah mengalami
kelongsoran mendekati hasil analisisnya.
Kata Kunci: Analisis, Kestabilan Lereng, Karakterisasi Massa Batuan, RMR, GSI
Kriteria Runtuh Generalized Hoek & Brown

1. PENDAHULUAN tambang terbuka secara garis besar dibagi


menjadi tiga. Model kelongsoran yang
Metode penambangan open pit dicirikan pertama dikontrol oleh keberadaan struktur
dengan bentuk tambang berupa corong geologi sebagai bidang lemah dan ini banyak
(kerucut terbalik), hal ini terjadi sebagai akibat dijumpai pada skala single slope. Yang kedua
dari aktivitas pengupasan dan penggalian adalah model longsor yang dikontrol oleh
untuk mendapatkan bijih yang dilakukan kombinasi dari adanya keberadaan strusktur
dengan membuat jenjang-jenjang geologi dan juga kondisi massa batuan yang
penambangan. Karenanya permasalahan lemah. Selanjutnya yang terakhir adalah
kestabilan lereng memerlukan perhatian yang model kelongsoran yang sepenuhnya
mendalam guna mengoptimalkan dikontrol oleh kondisi massa batuan yang
penambangan pada metode ini. Analisis lemah. Model longsoran yang kedua dan yang
kestabilan lereng tambang merupakan suatu ketiga bisa terjadi pada skala inter-ramp
kegiatan untuk mengevaluasi kondisi hingga overall slope. Untuk model longsoran
kestabilan serta unjuk kerja atau performa yang dikontrol oleh kondisi massa batuan
suatu lereng. Metode yang secara umum yang lemah diperlukan suatu pendekatan
banyak digunakan adalah pendekatan konsep berdasarkan kekuatan massa batuan dalam
nilai faktor keamanan (FK) dengan analisisnya (Mah, C.W & Willie, D.C. 2004).
menggunakan inut propetis batuan utuh, Lokasi penelitian dilakukan pada lereng
mengingat dari segi keekonomisan dan tambang terbuka dengan sekala inter-ramp
kepraktisan pengaplikasiannya. Namun slope (multi-bench) mencakup area bench 90
metode ini juga belum mampu memprediksi mRL hingga -120 mRL seperti terlihat pada
performa suatu lereng secara pasti. Gambar 1, yang mengindikasikan adanya
Menurut A. Karzulovic dan J. Read (2009), ketidakstabilan lereng dengan ditandai
model kelongsoran pada lereng batuan kemunculan dan perkembangan tension crack

10
Jurnal POROS TEKNIK Volume 8, No. 1, Juni 2016 :1-54 ISSN 2085-5761 (Print)
ISSN 2442-7764 (Online)

pada bench 90 mRL. Munculnya Karakterisasi massa batuan adalah proses


ketidakstabilan terdeteksi pula dari data pengklaisifikasian massa batuan dengan cara
monitoring lereng yang menunjukan adanya melakukan observasi yang berhubungan
pergerakan sebesar 0.6 mm/hari pada area dengan geometri dan kondisi bidang
tersebut. Berdasarkan hasil karakterisasi diskontinu ( Saptono, 2012). Pada penelitian
massa batuan diketahui jika pada lokasi ini klasifikasi massa batuan yang digunakan
penelitian memiliki kelas massa batuan yang adalah klasifikasi Rock Mass Rating atau RMR
lemah (Nilai RMR < 40) dan memungkinkan (Bieniawsky, 1989) dan Geological Strength
terjadinya longsoran massa batuan (Hoek et Index atau GSI ( Hoek, 1994). Lokasi
al, 2000). penelitian berada pada satuan batuan vulkanik
Berdasarkan hipotesa-hipotesa yang telah dan berdasarkan RMR blok model (Gambar 2)
disebutkan di atas dan menimbang kondisi diketahui memiliki tiga kelas massa batuan
aktual dilapangan. Oleh sebab itu, maka pada yang berbeda, yaitu: kelas massa batuan
penelitian ini kegiatan analisis kestabilan sedang (RMR=40), Kelas massa batuan buruk
lereng dilakukan dengan suatu metode (RMR=30) dan kelas massa batuan sangat
pendekatan karakterisasi massa batuan serta buruk (RMR=20). Secara garis besar daerah
permodelan menggunakan input properties tersebut menandakan berada pada kelas
massa batuan. Proses estimasi kekuatan massa batuan lemah dan sangat terkekarkan.
massa batuan menggunakan pendekatan
seperti yang diusulkan oleh Hoek, Kaiser dan
Bawden (1995) serta Hoek, Carranza-Torres
& Corkum (2002), yaitu melalui kriteria runtuh
Generalized Hoek & Brown untuk massa
batuan yang terkekarkan. Kajian pendekatan
karakterisasi massa bataun dalam proses
analisis kestabilan lereng ini diharapkan
mampu menjawab permasalahan-
permasalahan geoteknik serta menambah
pemahaman seputar mekanisme kelongsoran
lereng pada tambang terbuka

Gambar 2. RMR blok model lokasi penelitian

Estimasi Propertis Massa Batuan


Lokasi penelitian yang berada pada kelas
massa batuan yang sedang hingga sangat
buruk mengindikasikan bahwa kondisi
massa batuan sangat terkekarkan dan
memungkinkan terjadinya keruntuhan massa
batuan (Mah, C.W and Willie, D. C.,2004).
Maka dari itu penelitian ini menggunakan
pendekatan estimasi kekuatan massa batuan
seperti yang diusulkan oleh Hoek, Kaiser dan
Bawden (1995) dengan menggunakan
persamaan kriteria runtuh Generalized Hoek &
Brown:

a
3
Gambar 1. Lokasi ketidakstabilan dinding 1 = 3 + c [mb + s]
1
utara pit
Keterangan :
2. METODE PENELITIAN 1 = tegangan efektif prinsipal mayor saat runtuh (MPa)
3 = tegangan efektif prinsipal mayor saat runtuh (MPa)
Karakterisasi Massa Batuan ci = kuat tekan uniaksila batuan utuh (MPa)
mb= konstanta massa batuan Gen Hoek & Brown

11
ISSN 2085-5761 (Print) Jurnal POROS TEKNIK, Volume 8, No. 1, Juni 2016 : 1-54
ISSN 2442-7764 (Online)

s dan a = konstanta
Gen Hoek & Brown

Nilai konstanta mb, s dan a dapat dihitung


sebagai fungsi GSI (Geological Strength
Index) dan faktor ketergantungan akibat
peledakan (D) dapat dilihat pada Hoek (1998),
Hoek & Karzulovic (2000) serta Hoek,
Carranza-Torres & Corkum (2002).
Ekuivalensi parameter Mohr-Coulomb, yaitu
parameter kohesi dan sudut gesek dalam
massa batuan menggunakan persamaan
seperti yang diberikan oleh Hoek, Carranza-
Torres & Corkum (2002) adalah sebagai
berikut

c [(1 + 2a)s + (1 a)mb3n ](s + mb 3n )a1 Gambar 3. Cross section A-A' dengan litologi
c = kelas massa batuan
(1 + a)(2 + a)1 + (6amb (s + mb 3n )a1)/(1 + a)(2 + a)

6amb (s + mb 3n )a1
= 1 [ ] 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
2(1 + )(2 + ) + 6amb (s + mb 3n )a1

Hasil Estimasi Properties Massa Batuan


dimana berlaku untuk lereng dengan Penggunaan kriteria runtuh Generalized
ketinggian (H) adalah sebagai berikut Hoek & Brown untuk mengestimasi propertis
0.91
massa batuan membutuhkan kombinasi input
3max 3max cm
3n = ; dimana berlaku = 0.72 ( ) parameter batuan utuh hasil uji lab (parameter
ci cm H
bobot isi, kuat tekan batuan utuh serta
konstanta mi hasil uji triaksial) dengan
mb parameter massa batuan (parameter RMR
(mb + 4s a(mb 8s))( + s)a1
cm = ci 4 atau GSI). Hasil karakterisasi terhadap
2(1 + a)(2 + a)
parameter propertis batuan vulkanik utuh hasil
Modulus deformasi massa batuan diberikan uji laboratorium adalah sebagai berikut
didalam persamaan sebagai berikut
Tabel 1. Hasil karakterisai parameter batuan
10 vulkanik intact
= (1 ) 10( 40 )
2 100

Pendekatan Model Longsoran


Pada tinjauan lapangan sebelum terjadinya
longsoran terindikasi terdapat fault pada
belakang dan kanan kiri longsoran dan Hasil karakterisasi parameter konstanta mi
diketahui juga jika lokasi penelitian berada batuan vulkanik tuff didapatkan nilai mean
pada kelas massa batuan lemah. Sehingga 13.15 dan standar deviasinya sebesar 3.98,
bisa dikatakan jika mekanisme longsoran yang nilai tersebut mendekati nilai yang diberikan
terjadi pada lokasi penelitian adalah sebuah oleh Hoek (2000) sebesar (135). Input
mekanisme yang kompleks yang mungkin parameter massa batuan RMR atau GSI pada
terjadi akibat kombinasi dua mekanisme kriteria runtuh Generalized Hoek & Brown
longsoran sekaligus, yaitu dikontrol oleh menggunakan hubungan seperti yang
struktur geologi dan sekaligus oleh massa diusulkan oleh Hoek, Kaiser dan Bawden
batuan yang lemah. Model longsoran seperti (1995) yaitu GSI = RMR89-5, dengan faktor
ini menurut Hoek et al (2000) dan Sarma penyesuaian orientasi kekar = 0 dan dengan
(1979) dapat didekati dengan menggunakan pendekatan kondisi kering ( nilai RMR MAT =
input propertis massa batuan dan model 15). Nilai GSI diasumsikan berdistribusi
longsoran non-circular pada metode normal pada taraf nyata sebesar 90% pada
kesetimbangan batas. Model lereng diambil nilai GSI sebesar = 255 (Hoek.1998).
pada potongan melintang (cross section) A-A' Distribusi nilai GSI pada lokasi penelitian
pada topografi RMR blok model,seperti terlihat dengan tiga kelas massa batuan yang
pada Gambar. 3 berbeda adalah sebagai berikut:

12
Jurnal POROS TEKNIK Volume 8, No. 1, Juni 2016 :1-54 ISSN 2085-5761 (Print)
ISSN 2442-7764 (Online)

aplikasinya, selain itu metode ini juga


Tabel 2. Distribusi statistik nilai GSI menggunakan konsep nilai Faktor Keamanan
(FK) dalam mengevalusi performa suatu
lereng yang mudah untuk dipahami. Metode
elemen hingga merupakan metode numeris
yang menggunakan konsep differensial yang
mempertimbangkan adanya hubungan
tegangan-regangan di dalam material.
Evaluasi performa lereng pada metode
Perhitungan propertis massa batuan
elemen hingga menggunakan konsep
digunakan persamaan 2 sampai dengan
Strength Reduction Factor (SRF) yang
persamaan 6, dan hasilnya adalah sebagai
pertama kali dikembangkan oleh Zienkiewicz
berikut:
(1975). Baik metode LEM maupun metode
FEM, didalam penelitian ini menggunakan
Tabel 3.Hasil karakterisasi estimasi propertis
pendekatan karakterisasi massa batuan yaitu
massa bataun
menggunakan litologi massa batuan dan
penggunaan pendekatan input parameter
kekuatan massa batuan dalam
permodelannya.
Hasil analisis kestabilan lereng
metode kesetimbangan batas (LEM)
didapatkan nilai rata-rata faktor keamanan
(FK) sebesar 0.92 sedangkan metode elemen
hingga (FEM) didapatkan nilai rata-rata SRF
Hasil Analisis Kestabilan Lereng sebesar 0.77. Kedua metode tersebut
Analisis kestabilan lereng pada didapatkan nilai rata-rata < 1, yang berarti
penelitian ini menggunakan dua pendekatan, bahwa kondisi lereng penelitian
yaitu metode kesetimbangan batas atau Limit mengindikasikan ketidakstabilan dan
Equilibrium Method (LEM) dan metode elemen berpotensi besar mengalami kelongsoran.
hingga atau Finite Elemen Method (FEM). Kondisi lereng aktual penelitian seperti terlihat
Metode kesetimbangan batas dipilih karena pada Gambar. 4 saat ini telah mengalami
kemudahan dan kepraktisan dalam kelongsoran.

Gambar 4.(a) Sebelum terjadi longsoran (b) Sesudah terjadi longsoran pada lokasi penelitian

13
ISSN 2085-5761 (Print) Jurnal POROS TEKNIK, Volume 8, No. 1, Juni 2016 : 1-54
ISSN 2442-7764 (Online)

Terdapat perbedaan nilai hasil analaisis dimana semua parameter tersebut tidak
kestabilan lereng antara metode FEM (SLIDE- terdapat pada SLIDE dan dapat
FK) dan LEM (Phase2-SRF), dimana menyumbang terhadap ketidakpastian nilai
keduanya memiliki selisih sebesar 0.15. probabilitas kelongsoran.
Perbedaan antara keduanya menurut 2. Terdapat perbedaan geometri dan
Chiwaye dan Stacey (2010) adalah mekanisme longsoran pada kedua metode
disebabkan oleh: analisis kestabilan lereng (Gambar 5), dan
1. Pada permodelan Phase2 mempertim- hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya
bangkan parameter t, rasio k, E dan , perbedaan nilai probabilitas kelongsoran.

Gambar 5. Perbandingan geometri longsoran antara SLIDE dan Phase 2

4. KESIMPULAN [2] Baecher, G.B., And Christian, J.T. 2003.


Reliability and Statistics in Geotechnical
a. Hasil analisis kestabilan lereng dengan Engineering. Wiley, Chichester, UK.
menggunakan pendekatan karakterisasi
massa batuan, baik metode [3] Hoek, E., Kaiser, P.K., and Bawden, W.F.
kesetimbangan batas (LEM) maupun 1995.Support of Underground
metode elemen hingga (FEM) keduanya Excavations in Hard Rock. Rotterdam,
didapatkan nilai rata-rata < 1, yang berarti Balkema.
lereng tidak stabil dan kondisi aktual
lereng telah mengalami kelongsoran. [4] Hoek, E. 1998. Faktor of Safety and
b. Pendekatan input propertis massa Probability of Failure (Chapter 8).
batuan dan longsoran non-circular pada Course notes, internet edition.
metode kesetimbangan batas bisa
dipertimbangkan pada analisis kestabilan [5] Hoek, E. 1998. Reliability of Hoek-Brown
lereng dengan kondisi massa batuan Estimate of Rock Mass Properties and
yang lemah their Impact on Design.Int. J. Rock Mech.
Min Sci.
5. DAFTAR PUSTAKA
[6] Hoek, E., Karzulovic, A. 2000.Rock
[1] Ang, H.S., Tang, W.H. 1975. Probability Mass Properties for Surface Mines.
Concepts in Engineering Planning and Society for Mining, Metallurgical an
Design. Wiley, New York. Exploration (SME), Littleton, Colorado.

14
Jurnal POROS TEKNIK Volume 8, No. 1, Juni 2016 :1-54 ISSN 2085-5761 (Print)
ISSN 2442-7764 (Online)

[7] Hoek et al. 2000.Rock Slope in Civil and


Mining Engineering. International
Conference on Geotechnical and
Geological Engineering, Melbourne.

[8] Hoek, E., Carranza-Torres, C. And


Corkum, B.2002.Hoek-Brown Failure
Criterion-2002 edition. Proc.North Am.
Rock Mech. Soc. Meeting, Toronto,
Canada.

[9] Hammah, R.E. and Yacoub, T.E. 2009.


Probabilistic Slope Analysis with the
Finite Element Method. American Rock
Mechanics Association.

[10] Mah, C.W and Willie, D. C. 2004. Rock


Slope Engineering 4th ed.Spoon Press,
New York.

[11] Tapia, A., Contreras, L.F., Jefferies.


M.G., and Steffen, O.2007.Risk
Evaluation of Slope Failure at
ChuquicamataMine. Proc. Int. Symp.
Rock Slope Stability in Open Pit Mining
and Civil Engineering, Perth. Australia.

15