Anda di halaman 1dari 8

DISOLUSI PARTIKULAT

I. TUJUAN
Mempelajari pengaruh keadaan bahan (baku) obat (polimorfi, hidrat,
solvat) terhadap kecepatan disolusi partikulatnya sebagai preformulasi untuk
bentuk sediannya.

II. PRINSIP
Berdasarkan pengaruh keadaan antara senyawa Teofilin anhidrat dengan
Teofilin monohidrat dan kloramfenikol dengan kloramfenikol metanol.

III. TEORI
Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau
senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu. Laju disolusi
suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk padat menjadi terlarut dalam
medianya setiap waktu tertentu (Mulyono, 2008).
Kecepatan disolusi atau kelarutan sangat diperlukan untuk membantunya
memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat.
Pelarutan suatu zat aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat
sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh (Martin, 2008).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara
oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-
partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus.
Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam
atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung
dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel,
1985).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran
cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau
tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi
menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi
partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung
secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut
diberikan (Martin, 1993).

1
Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana suatu zat padat masuk ke
dalam pelarut menghasilkan suatu larutan secara sederhana. Disolusi merupakan
proses dimana zat padat melarut secara prinsip dikendalikan oleh afinitas antara
zat padat dan pelarut.
Karakteristik fisik sediaan, proses pembasahan sediaan kemampuan
penetrasi media disolusi ke dalam sediaan, proses pengembangan, proses
integrasi dan degadrasi. Sediaan merupakan sebagian dari faktor yang
mempengaruhi karakteristik disolusi obat dari sediaan.
Setelah pemberian secara insitu dapat timbul endapan zat aktif yang
biasanya berbentuk amorf sebagai akibat perubahan pH dan endapan tersebut
selanjutnya akan melarut lagi. Dengan demikian, pemberian sediaan larutan
tidak selalu dapat mengakibatkan penyerapan yang segera (Alache, 1998).
Sebagian besar metode pelarutan berhubungan dengan produk obat,
kadarnya suatu obat baru dapat diuji untuk pelarut tanpa pengaruh dari bahan
tambahan atau dari proses fabrikasi. Pelarutan dari suatu serbuk obat dengan
mempatahkan suatu luas permukaan yang tetap disebut pelarutan intrinsic.
Pelarutan intrinsik biasanya dinyatakan dalam mg/cm2menit. Dalam salah satu
metode basket disesuaikan untuk uji kelarutan serbuk dengan menempatkan
serbuk dalam suatu cakram yang dicetakkan dengan menjepit ke dasar
keranjang.
Pengujian disolusi sangat bermanfaat karena merupakan faktor pembatas
dalam absorbsi obat. Pengujian disolusi digunakan untuk membuktikan
kesesuaian dengan spesifikasi kampendial dan dapat merupakan persyaratan
dalam registrasi obat. Disolusi digunakan pula selama pengembangan produk
dan pengujian stabilitas sebagai bagian dari spesifikasi produk.
Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif biasanaya
ditetapkan oleh kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya. Pelepasan
zat aktif dari bentuk sediaan biasanya ditentukan oleh kecepatan melarutnya
dalam media sekelilingnya.
Disolusi adalah suatu jenis khusus dari suatu reaksi heterogen yang
menghasilkan transfer massa karena adanya pelepasan dan pemindahan
menyeluruh ke pelarut dari permukaan padat.
Kecepatan disolusi merupakan kecepatan zat aktif larut dari suatu bentuk
sediaan utuh/ pecahan/ partikel yang berasal dari bentuk sediaan itu sendiri.

2
Kecepatan disolusi zat aktif dari keadaan polar atau dari sediaannya
didefinisikan sebagai jumlah zat aktif yang terdisolusi per unit waktu di bawah
kondisi antar permukaan padat-cair, suhu dan kompisisi media yang
dibakukan. Kecepatan pelarutan memberikan informasi tentang profil proses
pelarutan persatuan waktu. Hukum yang mendasarinya telah ditemukan oleh
Noyes dan Whitney sejak tahun 1897 dan diformulasikan secara matematik.
Pada peristiwa melarut sebuah zat padat disekelilingnya terbentuk lapisan
tipis larutan jenuhnya, darinya berlangsung suatu difusi suatu ke dalam bagian
sisa dari larutan di sekelilingnya. Untuk peristiwa melarut di bawah pengamatan
kelambatan difusi ini dapat menjadi persamaan dengan menggunakan hukum
difusi. Dengan mensubtitusikan hukum difusi pertama Ficks ke dalam
persamaan Hernsi Brunner dan Bogoski, dapat memberikan kemungkinan
perbaikan kecepatan pelarutan secara konkret.
Kecepatan pelarutan berbanding lurus dengan luas permukaan bahan
padat, koefisien difusi, serta berbanding lurus dengan turunnya konsentrasi pada
waktu t. Kecepatan pelarutan ini juga berbanding terbalik dengan tebal lapisan
difusi. Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif ditetapkan oleh
kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaan, dimana pelepasan zat aktif
ditentukan oleh kecepatan melarutnya dalam media sekelilingnya.
Lapisan difusi adalah lapisan molekul-molekul air yang tidak bergerak
oleh adanya kekuatan adhesi dengan lapisan padatan. Lapisan ini juga dikenal
sebagai lapisan yang tidak teraduk atau lapisan stagnasi. Tebal lapisan ini
bervariasi dan sulit untuk ditentukan, namun umumnya 0,005 cm (50 mikron)
atau kurang.
Uji hancur pada suatu tablet didasarkan pada kenyataan bahwa, tablet itu
pecah menjadi partikel-partikel kecil, sehingga daerah permukaan media pelarut
menjadi lebih luas, dan akan berhubungan dengan tersedianya obat dalam cairan
tubuh. Namun, sebenarnya uji hancur hanya menyatakan waktu yang diperlukan
tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan. Uji ini tidak memberikan
jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat dalam larutan
dengan kecepatan yang seharusnya. Oleh sebab itu, uji disolusi dan ketentuan uji
dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet. Laju absorpsi dari obat-obat

3
bersifat asam yang diabsorpsi dengan mudah dalam saluran pencernaan sering
ditetapkan dengan laju larut obat dalam tablet.
Agar diperoleh kadar obat yang tinggi di dalam darah, maka kecepatan
obat dan tablet melarut menjadi sangat menentukan. Karena itu, laju larut dapat
berhubungan langsung dengan efikasi (kemanjuran) dan perbedaan bioavaibilitas
dari berbagai formula. Karena itu, dilakukannya evaluasi mengenai apakah suatu
tablet melepas kandungan zat aktifnya atau tidak bila berada di saluran cerna,
menjadi minat utama dari para ahli farmasi.
Diperkirakan bahwa pelepasan paling langsung obat dari formula tablet
diperoleh dengan mengukur bioavaibilitas in vivo. Ada berbagai alasan mengapa
penggunaan in vivo menjadi sangat terbatas, yaitu lamanya waktu yang
diperlukan untuk merencanakan, melakukan, dan mengitepretasi; tingginya
keterampilan yang diperlukan bagi pengkajian pada manusia.; ketepatan yang
rendah serta besarnya penyimpangan pengukuran; besarnya biaya yang
diperlukan; pemakaian manusia sebagai obyek bagi penelitian yang
nonesensial; dan keharusan menganggap adanya hubungan yang sempurna
antara manusia yang sehat dan tidak sehat yang digunakan dalam uji. Dengan
demikian, uji disolusi secara in vitro dipakai dan dikembangkan secara luas, dan
secara tidak langsung dipakai untuk mengukur bioavabilitas obat, terutama pada
penentuan pendahuluan dari faktor-faktor formulasi dan berbagai metoda
pembuatan yang tampaknya akan mempengaruhi bioavaibilitas. Seperti pada
setiap uji in vitro, sangat penting untuk menghubungkan uji disolusi dengan tes
bioavaibilitas in vitro. Ada dua sasaran dalam mengembangkan uji disolusi in
vitro yaitu untuk menunjukkan :
A. Penglepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100%
B. Laju penglepasan obat seragam pada setiap batch dan harus sama dengan
laju penglepasan dari batch yang telah dibuktikan bioavaibilitas dan efektif
secara klinis.
Tes kecepatan melarut telah didesain untuk mengukur berapa kecepatan
zat aktif dari satu tablet atau kapsul melarut ke dalam larutan. Hal ini perlu
diketahui sebagai indikator kualitas dan dapat memberikan informasi sangat
berharga tentang konsistensi dari batch satu ke batch lainnya. Tes disolusi
ini didesain untuk membandingkan kecepatan melarutnya suatu obat, yang ada

4
di dalam suatu sediaan pada kondisi dan ketentuan yang sama dan dapat
diulangi.
Kecepatan disolusi sediaan sangat berpengaruh terhadap respon klinis dari
kelayakan sistem penghantaran obat. Disolusi menjadi sifat sangat penting pada
zat aktif yang dikandung oleh sediaan obat tertentu, dimana berpengaruh
terhadap kecepatan dan besarnya ketersediaan zat aktif dalam tubuh. Jika
disolusi makin cepat, maka absorbsi makin cepat. Zat aktif dari sediaan padat
(tablet, kapsul, serbuk, suppositoria), sediaan system terdispersi (suspensi dan
emulsi), atau sediaan-sediaan semisolid (salep,krim,pasta) mengalami disolusi
dalam media/cairan biologis kemudian diikuti absorbsi zat aktif ke dalam
sirkulasi sistemik.
Kecepatan disolusi dalam berbagai keadaan dapat menjadi tahap
pembatasan kecepatan zat aktif ke dalam cairan tubuh. Apabila zat padat ada
dalam saluran cerna, mama terdapat dua kemungkinan tahap pembatasan
kecepatan zat aktif tersebut, yaitu :
A. Zat aktif mula-mula harus larut
B. Zat aktif harus dapat melewati membrane saluran cerna
Analisis kecepatan disolusi zat aktif dari sediaannya merupakan analisis
yang penting dalam pengujian mutu untuk sediaan-sediaan obat. Analisis
disolusi telah masuk persyaratan wajib USP untuk persyaratan tablet dan kapsul,
sejak tahun 1960. Berbagai studi telah berhasil dalam korelasi disolusi invivo
dengan disolusi invitro. Namun, disolusi bukan merupakan suatu peramal
koefisien terapi, tetapi disolusi lebih merupakan parameter mutu yang dapat
memberikan informasi berharga tentang ketersediaan hayati dari suatu produk.
Pengembangan dan penggunaan uji disolusi invitro untuk mengevaluasi
dan menggambarkan disolusi dan absorbsi invitro bertujuan :
A. Untuk mengetahui kepentingan bahwa sifat-sifat fisikokimia yang ada
dalam model disolusi dapat berarti atau berpengaruh dalam proses invivo
apabila dikembangkan suatu model yang berhasil meniru situasi invivo.
B. Untuk menyaring zat aktif penting dikaitkan dengan formulasinya dengan
sifat disolusi dan absorbsinya sesuai.
C. Sistem uji disolusi invitro dapat digunakan sebagai prosedur pengendalian
mutu untuk produk akhir.
D. Menjamin kesetaraan hayati (bioekivalen) dari batch yang berbeda dari
bentuk sediaan solid apabila korelasi antara sifat disolusi dan ketersdiaan
hayati telah ditetapkan.

5
E. Metode yang baik sekali dan handal untuk memantau proses formulasi dan
manufaktur.
F. Penetapan kecepatan disolusi intrinsik berguna untuk mengetahui sifat
disolusi zat aktif yang baru.
G. Agar sistem disolusi invitro bernilai maka system harus meniru secara
dekat sistem invivo sampai tingkat invitro-invivo yang konsisten tercapai.
Oleh karena itu keuntungan dalam biaya, tenaga kerja, kemudahan dapat
diberikan dengan penggunaan sistem.
Disolusi dapat terjadi langsung pada permukaan tablet, dari granul-granul
bilamana tablet telah pecah atau dari partikel-partikel halus bilamana granul-
granul telah pecah. Pada tablet yang tidak berdesintegrasi, kecepatan disolusinya
ditentukan oleh proses disolusi dan difusi. Namun demikian, bagi tablet yang
berdesintegrasi, profil disolusinya dapat menjadi sangat berbeda tergantung dari
apakah desintegrasi atau disolusinya yang menjadi penentu kecepatan.

IV. ALAT DAN BAHAN


IV.1 ALAT
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alat disolusi,
erlemeyer, beker glas, gelas ukur, pipet volume, vial, termometer,
spektrofotometer.
IV.2 BAHAN
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Aqua destilata, dapar
fosfat pH 6.8, Kloramfenikol dalam metanol, Kloramfenikol tanpa
metanol, Teofilin anhidrat, Teofilin monohidrat.

V. PROSEDUR
Perlakuan pertama adalah dicari panjang gelombang serapan maksimum
untuk baku pembanding kloramfenikol dan teofilin. Langkah selanjutnya
adalah bahan obat dimasukkan ke dalam tabung medium disolusi kemudian
dimasukkan sebanyak 500mL dapar fosfat, suhu dipertahankan pada 37o C,
motor diatur pada kecepatan konstan 50 rpm. Diambil sampel hasil disolusi
tiap selang waktu 5, 10, 15, 20 dan 30 menit dan cairan yang diambil segera
diganti medium disolusi dengan volume yang sama. Kemudian diencerkan 1
mL dari setiap cuplikan menjadi 10 mL dengan medium dan tentukan
absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang didapat pada

6
percobaan. Untuk menentukan kadar obat maka digunakan alat
spektrofotometri dengan mengukur tingkat absorbansinya.

VI. DATA PERCOBAAN

VII. DISKUSI DAN PEMBAHASAN


VIII. Kesimpulan
1. Kloramphenicol methanol (solvat) memiliki % disolusi yang tinggi
dibandingkan dengan kloramphenicol biasa.
2. Dengan mengetahui pengaruh keadaan bahan ( keberadaan kristal air )
dapat dibedakan kecepatan disolusi antara teophyllin monohidrat dan
teophyllin anhidrat , dikarenakan terdapat Kristal air didalam gugusnya
akan semakin cepat untuk melarut tanpa harus menyerap air terlebih
dahulu dan langsung pecah menjadi bentuk yang lebih kecil lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Martin, Alfred et al. 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid I . Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia

7
Martin, Alfred et al. 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid II . Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia
Prasetya, Jemmy Anton dkk. 2012. Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika. Jimbaran :
Udayana University Press

Anda mungkin juga menyukai