Anda di halaman 1dari 13

Peranan Komunikasi Dalam Kepemimpinan

Abstract

Man must communicate in this life, it means that he needs other people and require groups
or communities for interation. This is the essence of the human person that most of the
individual human is formed from the integration with other social and community groups. In
the group or organization, there is a form of leadership that become an important thing for
the running of life group, it is consisted of superiors and unsuperiors. Between the two sides
there should be a two way communication (two-way communication) or reciprocal
communication to achieve the goals and ideals of the group or organization. Deal with the
leadership, so the good communication is very important because it is owned by a leader. It
is deal with to his duty to influence, guide, direct, encourage members to perform certain
activities in order to achieve the stated goals and effectiveness in leadership.

Pendahuluan

Komunikasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menjalankan proses
administrasi dan interaksi antar elemen pada suatu organisasi atau lembaga,baik internal
maupun eksternal. Tanpa adanya jalinan komunikasi yang baik dan benar besar
kemungkinan semua proses di dalam organisasi/lembaga tersebut tidak akan dapat berjalan
dengan maksimal dan sesuai dengan yang telah direncanakan. .Kemampuan komunikasi
yang baik akan sangat membantu semua proses yang ada dalam suatu organisasi/lembaga.

Agar dapat menjalankan kepemimpinannya, seoorang pimpinan setidaknya harus


memiliki kompetensi dasar, yakni 1) mengdiagnosis, 2) mengadaptasi, dan 3)
mengkomunikasikan. Kemampuan diagnosis merupakan kemampuan kognitif yang dapat
memahami stuasi saat sekarang dan apa yang di harapkan pada masa yang akan datang.
Kompetensi mengadaptasi adalah kemampuan seseorang menyesuaikan prilakunya dengan
lingkungannya. Sedangkan kompetensi mengkomunikasikan terkait dengan kemampuan
seseorang dalam menyampaikan pesan-pesannya agar dapat dipahami orang lain dengan baik
dan jelas.

Terkait dengan kepemimpinan maka komunikasi yang baik sangatlah penting dimiliki
oleh seorang pemimpin karena berkaitan dengan tugasnya untuk mempengaruhi,
membimbing, mengarahkan, mendorong anggota untuk melakukan aktivitas tertentu guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta mencapai efektifitas dalam kepemimpinan,
perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan ,manejemen konflik serta proses-proses
organisasi lainnya. Lalu bagaimana mungkin komunikasi bisa berjalan dengan baik jika
seorang pemimpin tidak memberikan kenyamanan, malahan yang ada adalah ketakutan bagi
bawahannya dalam menyampaikan informasi kepadanya.

Untuk menjawab masalah diatas maka penulis akan membahas beberapa aspek
antara lan tentang peran komunikasi dalam kepemimpinan. Pembahasan ini akan mencakup
beberapa aspek antara lain Bagaiman konsep kepemimpinan yang baik ?, Apa saja fungsi
komunikasi kepemimpinan ?, Apa hambatan hambatan yang terjadi dalam komunikasi
kepemimpinan dan Apa urgensi komunikasi organisasi bagi pemimpin?.

Konsep Komunikasi Kepemimpinan


Pengertian komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin communis atau dalam
bahasa inggrisnya common berarti sama. Apabila kita berkomunikasi berarti kita dalam
keadaan berusaha untuk menimbulkan suatu persamaan dalam hal sikap dengan seseorang.
Jadi pengertian komunikasi secara harfiah adalah proses menghubungi atau mengadakan
perhubungan.

Ahli komunikasi mengatakan bahwa communication is the process of sending and reciving
symbols with attach meaning. Artinya bahwa komunikasi sebagian kegiatan penyampaian
informasi dan pengertian dengan menggunakan tanda-tanda yang sama. Communication is
the evoking of a shered or common meaning in another person. (Nelson & Quick, 2006 :
250). Komunikasi adalah untuk membangkitkan pengertian bersama kepada orang lain.

Demikian juga Jennifer M. George (2006 : 437) mendefinisikan bahwa komunikasi adalah
membagi informasi antara dua orang atau lebih atau kelompok untuk mencapai pemahaman
bersama, (Comunication the shering of information between two or more individuals or
group to reach a common understanding).

Bermkomunikasi merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Dengan berkomunikasi


manusia akan dapat berhubungan antara satu dengan yang lain, sehingga kehidupan manusia
akan bermakna. Disisi lain ada sejumlah kebutuhan dalam diri manusia itu hanya dapat
dipenuhi melalau komunikasi dengan sesama. Makin banyak manusia itu melakukan
aktivitas komunikasi antara satu dengan yang lainnya, akan semakin banyak informasi yang
didapatnya dan semakin besar peluang keberhasilan seseorang itu dalam kehidupannya.

Dalam komunikasi diperlukan sedikitnya tiga unsur yaitu sumber (source), berita atau pesan
(message), dan sasaran (destination). Sumber dapat berupa individu atau organisasi
komunikasi. Berita atau pesan dapat berupa tulisan, gelombang suara atau komunikasi arus
listrik, lambaian tangan, bendera berkibar, atau benda lain yangmempunyai arti. Sasaran
dapat berupa seorang pendengar, penonton, pembaca,anggota dari kelompok diskusi,
mahasiswa, dan lain-lain.

Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di


antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.
Komunikasi organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan,
memelihara, dan mengubah organisasi. Struktur organisasi cenderung mempengaruhi
komunikasi, dengan demikian komunikasi dari bawahan kepada pimpinan sangat berbeda
dengan komunikasi antar sesamanya

Di dalam sebuah organisasi pemimpin adalah sebagai komunikator. Pemimpin yang efektif
pada umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang efektif, sehingga sedikit banyak
akan mampu merangsang partisipasi orang-orang yang dipimpinnya. Dia juga harus piawai
dalam melakukan komunikasi baik komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi
verbal yang baik dapat dilakukan dengan menggunakan tutur kata yang ramah, sopan,dan
lembut. Komunikasi non verbal dapat dilakukan dengan mengkomunikasikan konsep-konsep
yang abstrak misalnya kebenaran, keadilan, etika, dan agama secara non verbal misal
menggunakan bahasa tubuh.

Fungsi Komunikasi Kepemimpinan


Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun sosial, komunikasi dalam
organisasi atau lembaga tersebut akan melibatkan empat fungsi, yaitu:

1. Fungsi informatif

Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-


processing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat
memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat
memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih
pasti, informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan
kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan
informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang
terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi tentang
jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan sebagainya.

2. Fungsi Regulatif

Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu
organisasi. Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap
fungsi regulatif ini, yaitu:

Atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang
memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan.
Disamping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberikan instruksi atau
perintah, sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada
lapis atas (position of authority) supaya perintah-perintahnya dilaksanakan
sebagaimana semestinya.

Berkaitan dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya


berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan-
peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

3. Fungsi Persuasif

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa
hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang
lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan
yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih
besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

4. Fungsi Integratif

Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat


dilaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi formal seperti
penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, buletin) dan laporan kemajuan
oraganisasi; juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan antarpribadi selama masa
istirahat kerja, pertandingan olahraga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas
ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan
terhadap organisasi.
Bagaimana perilaku orang-orang dalam suatu organisasi ketika mereka melaksanakan tindak
berbagi informasi dan gagasan. Untuk itu kita perlu memahami style atau gaya seseorang
ketika ia berkomunikasi. Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sebagai
seperangkat perilaku antarpribadi yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi
tertentu (a specialized set of interpersonal behaviors that are used in a given situation).
Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yang dipakai
untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dalam situasi yang tertentu pula.
Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, bergantung pada maksud dari
pengirim (sender) dan harapan dari penerima (receiver).

Gaya Komunikasi Kepemimpinan

Gaya komunikasi mengendalikan (dalam bahasa Inggris: The Controlling Style) ditandai
dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur
perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya
komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications.
Gaya komunikasi ini dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain :

1. The Controlling style

Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, ditandai dengan adanya satu kehendak
atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang
lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama
komunikator satu arah atau one-way communications.

Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha menjual gagasan
agar dibicarakan bersama namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang
dilakukannya. The controlling style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi
orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk
kritik. Namun demkian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang
bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang
negatif pula.

2. The Equalitarian style

Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style
of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara
lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way traffic of communication).

Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap
anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang
rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota
organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.

Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah
orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina
hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup
hubungan kerja. The equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam
organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam
situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya
komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindakan share/berbagi informasi di
antara para anggota dalam suatu organisasi.

3. The Structuring Style

Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis
maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan
pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada
keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan
organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.

Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University,
menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur
Inisiasi atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan bahwa pemrakarsa
(initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu merencanakan pesan-pesan
verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

4. The Dynamic Style

Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan
atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-
oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye
ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen).

Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah mestimulasi atau merangsang
pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya komunikasi ini
cukup efektif digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun
dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup
untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut.

5. The Relinguishing Style

Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat
ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim
pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.

Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender
sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti
serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang
dibebankannya.

6. The Withdrawal Style

Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya
tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan
orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh
orang-orang tersebut.
Dalam deskripsi yang kongkrit adalah ketika seseorang mengatakan: Saya tidak ingin
dilibatkan dalam persoalan ini. Pernyataan ini bermakna bahwa ia mencoba melepaskan
diri dari tanggung jawab, tetapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari
berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, gaya ini tidak layak dipakai dalam
konteks komunikasi organisasi.

Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of
communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi
lainnya: structuring, dynamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategis untuk
menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya komunikasi terakhir:
controlling dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya
interaksi yang bermanfaat.

Hambatan Dalam Komunikasi Kepemimpinan

Pada sebuah proses komunikasi yang terjadi terkadang kita juga akan mengalami banyak
hambatan dalam berkomunikasi. Beberapa Hambatan Komunikasi adalah :

1. Hambatan sematik

Komunikasi yg disebabkan oleh fakor bahasa yg digunakan oleh para pelaku komunikasi.

2. Hambatan mekanik.

Komunikasi yang disebabkan oleh factor elektrik, mesin atau media lainnya.

3. Hambatan antropologis

Hambatan yg disebabkan oleh perbedaan pada diri manusia.

4. Hambatan psikologis

Hambatan yg disebabkan oleh factor kejiwaan .

Menurut Leonard R.S. dan George Strauss dalam Stoner james, A.F dan Charles Wankel
sebagaimana yang dikutip oleh Herujito (2001), ada beberapa hambatan terhadap komunikasi
yang efektif, yaitu :

1. Mendengar, biasanya kita mendengar apa yang ingin kita dengar. Banyak hal atau
informasi yang ada di sekeliling kita, namun tidak semua yang kita dengar dan
tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita, itulah yang ingin kita dengar.

2. Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui.

3. Menilai sumber. Kita cenderung menilai siapa yang memberikan informasi. Jika ada
anak kecil yang memberikan informasi tentang suatu hal, kita cenderung
mengabaikannya.
4. Persepsi yang berbeda. Komunikasi tidak akan berjalan efektif, jika persepsi si
pengirim pesan tidak sama dengan si penerima pesan. Perbedaan ini bahkan bisa
menimbulkan pertengkaran, diantara pengirim dan penerima pesan.

5. Kata yang berarti lain bagi orang yang berbeda. Kita sering mendengar kata yang
artinya tidak sesuai dengan pemahaman kita. Seseorang menyebut akan datang
sebentar lagi, mempunyai arti yang berbeda bagi orang yang menanggapinya.
Sebentar lagi bisa berarti satu menit, lima menit, setengah jam atau satu jam
kemudian.

6. Sinyal nonverbal yang tidak konsisten. Gerak-gerik kita ketika berkomunikasi


tidak melihat kepada lawan bicara, tetap dengan aktivitas kita pada saat ada yang
berkomunikasi dengan kita-, mampengaruhi porses komunikasi yang berlangsung.

7. Pengaruh emosi. Pada keadaan marah, seseorang akan kesulitan untuk menerima
informasi. apapun berita atau informasi yang diberikan, tidak akan diterima dan
ditanggapinya.

Urgensi Komunikasi Bagi Pemimpin

Permasalahan bisa terjadi akibat kita salah mengkomunikasikan pesan kepada komunikan.
Kadang hal ini terlupakan, padahal, manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi,
artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling
berinteraksi.

Dalam berkomunikasi sering kali kita menjumpai banyak perbedaan. Perbedaan gaya
berkomunikasi seringkali menjadi suatu permasalahan. Perdebadaan tersebut seringkali
memicu fenomena etnosentrisme. Sehingga tak heran seringkali konflik diantara suku
dibangsa ini disebabkan adanya salah menginterpretasikan perkataan ataupun maksud dari
ucapan seseorang atau kelompok tertentu.

Selain itu juga dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi yang baik sangat penting untuk
berinteraksi antar individu maupun antar masyarakat agar terjadi keserasian dan dapat
mencegah konflik. Di sisi lain, komunikasi juga dibutuhkan oleh setiap Negara untuk saling
berhubungan dengan Negara lain (hubungan bilateral).

Komunikasi dengan kepemimpinan sangat erat hubungannya. Seorang pemimpin harus


memiliki wawasan yang luas, jujur, bertanggung jawab , berani dalam mengambil keputusan,
dan ia juga harus mempunyai keahlian berkomunikasi yang sangat baik. Karena komunikasi
dapat menentukan berhasil atau tidaknya seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya.
Setiap pemimpin pasti memiliki bawahannya dimana bawahannya tersebut akan
mengeluarkan gagasan/ide yang akan dipaparkan. Sehingga seorang pemimpin tersebut dapat
mengambil keputusan berdasarkan gagasan/ide tersebut.

Kepemimpinan yang berhasil mempengaruhi orang lain sangat ditentukan oleh keterampilan
dan kemampuan menjalankan fungi komunikasi secara baik karenanya komunikasi yang baik
dan menjadi efektif akan ditentukan pula oleh kepercayaan dan keyakinan seorang pemimpin
dalam memimpin untuk mempengaruhi bawahan. Keyakinan dan kepercayaan hanya dapat
terbentuk apabila pemimpin menyadari suatu lingkungan yang harmonis antara pimpinan
dengan para bawahannya yang dapat benar-benar berkomunikasi dengan baik yang sejalan
dengan makna fungsi komunikasi.

Dalam sebuah organisasi setiap orang yang terlibat di dalamnya ketika melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya, baik selaku pimpinan maupun para staf , agar semua pekerjaan dapat
terlaksana dengan lancar dan harmonis untuk mencapai tujuan bersama yang disepakati dan
ditetapkan, maka unsur kerjasama harus senantiasa tercipta dengan baik. Dengan terjadinya
proses kerjasama maka unsur komunikasi pun dengan sendirinya akan tercipta, karena apa
pun bentuk instruksi, informasi dari pimpinan , masukan, laporan dari bawahan ke pimpinan,
antara sesama bawahan senantiasa dilakukan melalui proses komunikasi.

Peran pimpinan dalam peningkatan komunikasi pada sebuah organisasi membutuhkan tiga
hal: Pertama, pemimpin dan semua anggotanya harus memiliki kemampuan yang tepat dan
mengerti komunikasi yang baik. Komunikasi bukanlah proses yang indah dan banyak orang
membutuhkan pengertian yang mendalam mengenai issue komunikasi. Kedua, komunikasi
organisasi yang efektif membutuhkan iklim atau budaya yang mendukung komunikasi yang
efektif. Lebih spesifik iklim ini akan membutuhkan kejujuran, keterbukaan, praktik
komunikasi yang baik dan tanggung jawab untuk membuat komunikasi lebih efektif. Ketiga,
komunikasi yang efektif membutuhkan perhatian. Hal ini bukanlah sesuatu yang langsung
terjadi tetapi dikembangkan sebagai hasil usaha staf dan jajaran manajemen.

Kesimpulan

Komunikasi dalam sebuah kepemimpinan merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam
mencapai keberhasilan tujuan yang akan diraih oleh suatu organisasi. Oleh karena itu
seorang pemimpin hendaklah piawai dalam berkomunikasi baik itu verbal maupun non
verbal. Komunikasi yang baik akan akan mampu meningkatkan motivasi, sehingga informasi
yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan hal ini akan mampu meningkatkan kinerja
serta control kerja juga akan terlaksana dengan baik.

Di dalam sebuah organisasi pemimpin adalah sebagai komunikator. Pemimpin yang efektif
pada umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang efektif, sehingga sedikit banyak
akan mampu merangsang partisipasi orang-orang yang dipimpinnya. Dalam suatu organisasi
baik yang berorientasi komersial maupun sosial, komunikasi dalam organisasi atau lembaga
tersebut akan melibatkan empat fungsi antara lain fungsi informative, Regulatif,Integratif dan
Persuasive . Proses komunikasi ini akan mengalami banyak hambatan. Beberapa Hambatan
Komunikasi dapat berupa Hambatan Sematik, Hambatan Mekanik, Hambatan antropologis
dan Hambatan psikologis.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka pemimpin harus meningkatkan kemampuan


komunikasi yang efektif yang mencakup pemahaman komunikasi yang baik, iklim budaya
pendukung organisasi, dan perhatian yang baik.

Teori Komunikasi dan Kepemimpinan dalam Organisasi

Definisi Komunikasi

Menurut Keith Davis komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi dan pengertian
dari satu orang ke orang yang lain. Menurut Chester I Barnard komunikasi adalah suatu alat
di mana orang-orang yang bersangkutan saling berhubungan satu sama lain dalam suatu
organisasi untuk mencapai tujuan umum. Menurut Koontz ODonnell komunikasi adalah
sebagai suatu pemindahan informasi dari satu orang ke orang yang lain.

Unsur dalam Komunikasi

Unsur-unsur dalam komunikasi adalah :

1. Ada pemberi informasi (sender)

2. Ada penerima informasi (receiver)

3. Ada informasi yang akan disampaikan.

Tahapan Penyampaian Ide

Untuk menyalurkan ide melalui komunikasi harus melalui tahapan-tahapan berikut :

1. Pemberi informasi memiliki idea atau suatu gagasan

2. Setelah itu pemberi informasi merumuskan ide tersebut ke dalam kata-kata, maupun
gambar.

3. Menyalurkan informasi tersebut.

4. Informasi diterima oleh penerima informasi.

5. Penerima informasi menerima ide yang disampaikan oleh pemberi informasi.

6. Penerima informasi melakukan tindakan berdasarkan ide si pemberi informasi.

Hambatan Komunikasi

Hambatan-hambatan dalam komunikasi, yaitu :

1. Si pemberi informasi tidak dapat menyampaikan informasi secara jelas.

2. Adanya konflik antara pemberi informasi dan penerima informasi.

3. Jika komunikasi dilakukan secara tidak langsung, kerusakan pada media penyampaian
informasi dapat menghambat komunikasi.

4. Adanya perbedaan kemampuan atau keahlian antara pemberi informasi dan penerima
informasi, sehingga si penerima informasi tidak mengerti dengan informasi yang
disampaikan.

Komunikasi dalam Organisasi


Klasifikasi komunikasi dalam organisasi :

1. Komunikasi langsung

Komunikasi yang dilakukan tanpa melalui media perantara. Contoh : seorang manajer
memberikan instruksi kepada pegawainya saat rapat.

2. Komunikasi tidak langsung

Komunikasi yang dilakukan melalui media perantara. Contoh : penyiaran berita melalui
media televise atau radio.

3. Komunikasi horizontal

Komunikasi ini terjadi apabila pesan, berita laporan maupun informasi yang disampaikan
bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan sesama karyawan maupun bertujuan untuk
melakukan koordinasi dalam bekerja sama. Contoh : seorang karyawan memberikan
informasi mengenai pekerjaan kepada karyawan baru.

4. Komunikasi formal

Komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia baku. Contoh : seorang
karyawan ingin menyampaikan laporan kepada atasannya.

5. Komunikasi informal

Komunikasi yang dilakukan dengan tidak menggunakan bahasa Indonesia baku, melainkan
bahasa pergaulan sehari-hari. Contoh : komunikasi antar teman/sahabat.

Faktor Perubahan Organisasi

1. Faktor Intern

Terhambatnya komunikasi antara anggota organisasi

Adanya konflik antar anggota sehingga menghambat kerja sama.

Adanya masalah keuangan

2. Faktor Ekstern

Perubahan lingkungan seperti perkembangan teknologi

Perubahan minat masyarakat.


Tahapan Perubahan dalam Organisasi

Proses terjadinya suatu perubahan di dalam organisasi meliputi enam tahap, hal ini
diungkapkan oleh L.C. Megginson, Donald C.M. dan Paul H.P.,Jr. seperti dikutip oleh T.Hani
Handoko. Adapun tahap-tahap tersebuat adalah sebagai berikut:

1) Tekanan dan Desakan.

Pada tahap ini manajemen tingkat atas mulai merasakan adanya masalah, tekanan, desakan
dan kebutuhan akan suatu perubahan. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan
produktivitas, volume penjualan dan laba, perputaran tenaga kerja tinggi dan kalahnya
persaingan produk dipasaran, dan sebagainya.

2) Intervensi dan Reorientasi.

Setelah merasakan adanya tekanan dan desakan, para manajer mulai mencoba berusaha
menyelesaikannya dengan mencari dan menentukan serta merumuskan permasalahan, untuk
itu mereka biasanya menyewa seseorang atau beberapa konsultan atau bisa juga pihak
internal (karyawan perusahaan) sebagai pengantar perubahan.

3) Diagnosa dan Pengenalan Masalah.

Pada tahap ini pengantar perubahan mulai mengumpulkan berbagai informasi (data),
kemudian menganalisanya. Masalah yang paling penting dikenali dan diperhatikan untuk
dipecahkan.

4) Penemuan dan Komitmen penyelesaian

Pada tahap ke empat ini, pengantar perubahan dan merangsang pemikiran, kretivitas serta
mulai meninggalkan metode-metode kerja lama, menggantinya dengan mtode-metode baru
yang lebih afektif. Begitu juga untuk penyesuaian dibuatlah rencana program-program
latihan, keterampilan, peningkatan wawasan, dll.

5) Percobaan dan Pencarian Hasil

Setelah alternatif terbaik untuk penyelesaian ditemukan dan dikembangkan, selanjutnya


diadakan percobaan penerapannya untuk diketahui hasilnya.

6) Penguatan dan Penerimaan

Pada tahap ini, setelah penerapan program-program kegiatan dalam rangka penyesuaian
dengan perubahan ataupun pengembangannya telah berhasil dan sesuai dengan keinginan,
maka kegiatan untuk perubahan tersebut diusahakan harus diterima oleh para karyawan dan
menjadi penguat yang dapat mengikat semua karyawan pada perubahan.
Pengembangan Organisasi

Pengembangan organisasi yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Merupakan strategi terencana dalam mewujudkan perubahan organisasional, yang


memiliki sasaran jelas berdasarkan diagnosa yang tepat tentang permasalahan yang
dihadapi oleh organisasi.

2. Merupakan kolaborasi antara berbagai pihak yang akan terkena dampak perubahan
yang akan terjadi.

3. Menekankan cara-cara baru yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja seluruh


organisasi dan semua satuan kerja dalam organisasi.

4. Mengandung nilai humanistik dimana pengembangan potensi manusia menjadi


bagian terpenting.

5. Menggunakan pendekatan komitmen sehingga selalu memperhitungkan pentingnya


interaksi, interaksi dan interdependensi antara berbagai satuan kerja sebagai bagian
integral di suasana yang utuh.

6. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam upaya meningkatkan efektivitas organisasi.

Peningkatan Kemampuan Berkomunikasi

Ada berbagai teknik yang dirancang para ahli, dengan tujuan meningkatkan kemampuan
berkomunikasi serta bekerja secara efektif, antar-individu maupun antar-kelompok dalam
organisasi. Beberapa teknik yang sering digunakan berikut ini.

1. Sensitivity training, merupakan teknik OD yang pertama diperkenalkan dan yang


dahulu paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group. Dalam
kelompok kelomok T (singkatan training) yang masing masing terdiri atas 6 10
peserta, pemimpin kelompok (terlatih) membimbing peserta meningkatkan kepekaan
(sensitivity) terhadap orang lain, serta ketrampilan dalam hubunga antar-pribadi.

2. Team Building, adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektivitas serta


kepuasaan tiap individu dalam kelompok kerjanya atau tim. Teknik team building
sangat membantu meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek dan
organisasinya bersifat matriks.

3. Survey feedback. Dalam teknik sruvey feedback. Tiap peserta diminta menjawab
kuesioner yang dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya
persepsi tentang kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil surveini
diumpan balikkan pada setiap peserta, termasuk pada para penyelia dan manajer yang
terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kuliah atau lokakarya yang
mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan perbaikan konstruktif.

4. Transcational Analysis (TA). TA berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar-


individu. TA mengajarkan cara menyampaikan pesan yang jelas dan bertanggung
jawab, serta cara menjawab yang wajar dan menyenangkan. TA dimaksudkan untuk
mengurangi kebiasaan komunikasi yang buruk dan menyesatkan.

5. Intergroup activities. Fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan


hubungan baik antar-kelompok.Ketergantungan antar kelompok , yang membentuk
kesatuan organisasi, menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Intergroup
activities dirancang untuk meningkatkan kerjasama atau memecahkan konflik yang
mungkin timbul akibat saling ketergantungan tersebut.

6. Proses Consultation. Dalam Process consultation, konsultan OD mengamati


komunikasi , pola pengambilan keputusan , gaya kepemimpinan, metode kerjasama,
dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Konsultan kemudian memberikan
umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya ,
serta menganjurkan tindakan koreksi.

7. Grip OD. Pendekatan grip pada pengembangan organisasi di dasarkan pada konsep
managerial grip yang diperkenalkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Konsep ini
mengevaluasi gaya kepemimpinan mereka yang kurang efektif menjadi gaya
kepemimpinan yang ideal, yang berorientasi maksimum pada aspek manusia maupun
aspek produksi.

8. Third-party peacemaking. Dalam menerapkan teknik ini, konsultan OD berperan


sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta
berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar-individu
dan kelompok.