Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Panas Bumi


Energi panas bumi adalah energi panas yang terdapat dan terbentuk di dalam
kerak bumi. Temperatur di bawah kerak bumi bertambah seiring bertambahnya
kedalaman. Suhu di pusat bumi diperkirakan mencapai 5400 C. Menurut Pasal 1 UU
No.27 tahun 2003 tentang Panas Bumi, Panas Bumi adalah sumber energi panas
yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan
gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem
Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.
Energi panas bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi
sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap
oleh permukaan bumi. Selain itu sumber energi panas bumi ini diduga berasal dari
beberapa fenomena:
Peluruhan elemen radioaktif di bawah permukaan bumi.
Panas yang dilepaskan oleh logam-logam berat karena tenggelam ke dalam
pusat bumi.
Efek elektromagnetik yang dipengaruhi oleh medan magnet bumi.
Energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika musim dingin
atau air) sejak peradaban Romawi, namun sekarang lebih populer untuk
menghasilkan energi listrik. Sekitar 10 Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas
bumi telah dipasang di seluruh dunia pada tahun 2007, dan menyumbang sekitar
0.3% total energi listrik dunia.
Energi panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya
pada dekat area perbatasan lapisan tektonik.

Pangeran Piero Ginori Conti mencoba generator panas bumi pertama pada 4
July 1904 di area panas bumi Larderello di Italia. Grup area sumber panas bumi

1
terbesar di dunia, disebut The Geyser, berada di Islandia, kutub utara. Pada tahun
2004, lima negara (El Salvador, Kenya, Filipina, Islandia, dan Kostarika) telah
menggunakan panas bumi untuk menghasilkan lebih dari 15% kebutuhan listriknya.
Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar lempeng
tektonik di mana temperatur tinggi dari sumber panas bumi tersedia di dekat
permukaan. Pengembangan dan penyempurnaan dalam teknologi pengeboran dan
ekstraksi telah memperluas jangkauan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas
bumi dari lempeng tektonik terdekat. Efisiensi termal dari pembangkit listrik tenaga
panas umi cenderung rendah karena fluida panas bumi berada pada temperatur yang
lebih rendah dibandingkan dengan uap atau air mendidih. Berdasarkan hukum
termodinamika, rendahnya temperatur membatasi efisiensi dari mesin kalor dalam
mengambil energi selama menghasilkan listrik. Sisa panas terbuang, kecuali jika bisa
dimanfaatkan secara lokal dan langsung, misalnya untuk pemanas ruangan. Efisiensi
sistem tidak memengaruhi biaya operasional seperti pembangkit listrik tenaga bahan
bakar fosil.

1.2 Energi Panas Bumi Indonesia

Gambar 1.1 Peta Distribusi Lokasi dan Wilayah Pertambangan Panas Bumi

2
Di Indonesia usaha pencarian sumber energi panasbumi pertama kali dilakukan
di daerah Kawah Kamojang pada tahun 1918. Pada tahun 1926 hingga tahun 1929
lima sumur eksplorasi dibor dimana sampai saat ini salah satu dari sumur tersebut,
yaitu sumur KMJ3 masih memproduksikan uap panas kering atau dry steam.
Pecahnya perang dunia dan perang kemerdekaan Indonesia mungkin merupakan salah
satu alasan dihentikannya kegiatan eksplorasi di daerah tersebut.
Kegiatan eksplorasi panasbumi di Indonesia baru dilakukan secara luas pada
tahun 1972. Direktorat Vulkanologi dan Pertamina, dengan bantuan Pemerintah
Perancis dan New Zealand melakukan survey pendahuluan di seluruh wilayah
Indonesia. Dari hasil survey dilaporkan bahwa di Indonesia terdapat 217 prospek
panasbumi, yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat Sumatera, terus
ke Pulau Jawa, Bali, Nusatenggara dan kemudian membelok ke arah utara melalui
Maluku dan Sulawesi. Survey yang dilakukan selanjutnya telah berhasil menemukan
beberapa daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 256 prospek,
yaitu 84 prospek di Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di Sulawesi, 21
prospek di Nusatenggara, 3 prospek di Irian, 15 prospek di Maluku dan 5 prospek di
Kalimantan. Sistim panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistim
hidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa
diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (150 - 225oC).
Terjadinya sumber energi panasbumi di Indonesia serta karakteristiknya
dijelaskan oleh Budihardi (1998) sebagai berikut. Ada tiga lempengan yang
berinteraksi di Indonesia, yaitu lempeng Pasifik, lempeng IndiaAustralia dan
lempeng Eurasia. Tumbukan yang terjadi antara ketiga lempeng tektonik tersebut
telah memberikan peranan yang sangat penting bagi terbentuknya sumber energy
panas bumi di Indonesia.
Tumbukan antara lempeng IndiaAustralia di sebelah selatan dan lempeng
Eurasia di sebelah utara mengasilkan zona penunjaman (subduksi) di kedalaman 160
210 km di bawah Pulau Jawa - Nusatenggara dan di kedalaman sekitar 100 km
(Rocks et. al, 1982) di bawah Pulau Sumatera. Hal ini menyebabkan proses
magmatisasi di bawah Pulau Sumatera lebih dangkal dibandingkan dengan di bawah

3
Pulau Jawa atau Nusatenggara. Karena perbedaan kedalaman jenis magma yang
dihasilkannya berbeda. Pada kedalaman yang lebih besar jenis magma yang
dihasilkan akan lebih bersifat basa dan lebih cair dengan kandungan gas magmatic
yang lebih tinggi sehingga menghasilkan erupsi gunung api yang lebih kuat yang
pada akhirnya akan menghasilkan endapan vulkanik yang lebih tebal dan terhampar
luas. Oleh karena itu, reservoir panas bumi di Pulau Jawa umumnya lebih dalam dan
menempati batuan volkanik, sedangkan reservoir panas bumi di Sumatera terdapat di
dalam batuan sedimen dan ditemukan pada kedalaman yang lebih dangkal.
Sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya berkaitan dengan kegiatan
gunung api andesitis - riolitis yang disebabkan oleh sumber magma yang bersifat
lebih asam dan lebih kental, sedangkan di Pulau Jawa, Nusatenggara dan Sulawesi
umumnya berasosiasi dengan kegiatan vulkanik bersifat andesitisbasaltis dengan
sumber magma yang lebih cair. Karakteristik geologi untuk daerah panas bumi di
ujung utara Pulau Sulawesi memperlihatkan kesamaan karakteristik dengan di Pulau
Jawa.
Akibat dari sistim penunjaman yang berbeda, tekanan atau kompresi yang
dihasilkan oleh tumbukan miring (oblique) antara lempeng IndiaAustralia dan
lempeng Eurasia menghasilkan sesar regional yang memanjang sepanjang Pulau
Sumatera yang merupakan sarana bagi kemunculan sumbersumber panas bumi yang
berkaitan dengan gununggunung api muda. Lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa
sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya lebih dikontrol oleh sistim patahan
regional yang terkait dengan sistim sesar Sumatera, sedangkan di Jawa sampai
Sulawesi, sistim panas buminya lebih dikontrol oleh sistim pensesaran yang bersifat
lokal dan oleh sistim depresi kaldera yang terbentuk karena pemindahan masa batuan
bawah permukaan pada saat letusan gunung api yang intensif dan ekstensif. Reservoir
panas bumi di Sumatera umumnya menempati batuan sedimen yang telah mengalami
beberapa kali deformasi tektonik atau pensesaran setidaktidaknya sejak Tersier
sampai Resen. Hal ini menyebabkan terbentuknya porositas atau permeabilitas
sekunder pada batuan sedimen yang dominan yang pada akhirnya menghasilkan
permeabilitas reservoir panas bumi yang besar, lebih besar dibandingkan dengan

4
permeabilitas reservoir pada lapanganlapangan panas bumi di Pulau Jawa ataupun di
Sulawesi.
1.3 Potensi Panas Bumi Sumatera Utara
Berdasarkan data tahun 2013 telah diketahui sedikitnya 265 lokasi sumber
energi panas bumi di seluruh Indonesia dengan potensi 28,1 GWe (Kasbani), untuk
daerah di Sumatera Utara terdapat potensi panas bumi di enam kabupaten yakni Karo,
Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Utara (Taput), Padang Lawas (Palas), dan
Mandailing Natal (Madina) dengan total energi panas bumi sebesar 4.025 MegaWatt.
Tabel 1.1 Lokasi status, dan cadangan potensi panas bumi di Sumatera Utara

No. Lokasi Status Cadangan


1. Gunung Sibayak, Tiga Panah, Karo Eksplorasi 124 MW
2. * Silangkitang, Pahaejae, Taput Eksplorasi 1110 MW
* Namorailangit, Pahae Julu, Taput Eksplorasi 2110 MW
3. Sipirok, Tapanuli Selatan Eksplorasi 1.130 MW
4. Desa Simbolon, Samosir Siap Dilelang 110 MW

5. Dolok Marawa, Silau Kahean, Survey 38 MW


Simalungun
6. Padang Lawas (Palas) Survey
7. Puncak Sorik Marapi, Madina Survey 80 MW

Tabel 1.2 Total Potensi

TOTAL POTENSI
Sumber Daya Spekulatif 1.500 MW
Sumber Daya Hipotetik 170 MW
Cadangan Terduga 1.857 MW
Cadangan Terbukti 840 MW
Kapasitas Terpasang 12 W

5
1.4 Lapangan Panas Bumi Sibayak

Gambar 2.1 Lokasi Lapangan Panas Bumi Sibayak


Lapangan panas bumi Sibayak terletak alam wilayah Kabupaten Karo, Deli
Serdangan Langkat, Sumatera Utara yang merupakan Wilayah Kerja Pertambangan
(WKP) Sibayak seluas 149.710 ha milik Pertamina.
Dari hasil estimasi terakhir (Pokja Sibayak, 2000) didapatkan luas area terduga
2,5 km2 ( 35 MWe) dan terbukti adalah 2 3 km 2 ( 35 MWe). Area 1.5 km2
terindikasi zona asam diperkirakan 17 MWe, sedangkan out flow zone 3 4 km2
sebesar 17 MWe. Data sumur eksplorasi menunjukan puncak sumur reservoir Sibayak
terdapat pada elevasi +225 m, dengan temperature 225 240o C dengan
permeablilitas vertical. Hasil kajian menyimpulkan bahwa potensi reservoir Sibayak
adalah 18 MWE untuk 30 tahun produksi. Fluida reservoir Sibayak didominasi air
panas (20% uap) dengan salinity 0.19% berat dan kadar gas 0.72% berat. Cadangan
uap di kepala sumur Sibayak setara dengan > 15 MW.

6
BAB II

LAPANGAN PANAS BUMI SIBAYAK

2.1 Data Geologi

Gambar 2.1 Peta Geologi Lapangan Geothermal Daerah Sibayak

Lapangan geothermal daerah Sibayak adalah wilayah vulkano aktif yang


dikelilingi oleh gunung-gunung antara lain Gunumg Pintau di utara, Gunung
Praktektekan dan Gunung Simpulanangin di timur serta Gunung Singkut diselatan.
Derah ini merupakan lokasi kawasan utara Great Sumatra Fault Zone (GSFZ)
(Hamilton, 1979), 65 km sampai barat daya Medan, ibu kota Provinsi Sumatra Utara.
Lapangan ini berhubungan dengan Kuarter yang komplek pada kaldera Singkut
sepanjang ~170 km2.

2.1.1 Morfologi

7
Bentuk morfologi G.Sibayak (+ 2.094 mdpl), merupakan gunungapi kembar
dengan G.Pintau (+ 2212 mdpl) berbentuk kerucut dengan lebar kawah 900 m, terdiri
dari lava padat (Newman van Padang, 1951. Menurut Santoso dkk (19.) membagi
morfologi daerah ini menjadi beberapa bagian yaitu puncak-puncak teringgi G.Pintau,
G.Sibayak dan G.Pertetekan, sedangkan yang membentuk tapal kuda ( caldera ring)
adalah G.Sempulenangin (+ 1437 m), bukit (+1490 mdpl), G.Singkut (+ 1680 m),
G.Uncim (+ 1840 mdpl) dan Bukit Pintau (+1882 mdpl).

Gunung Sibayak yang tampak sekarang terletak dalam kaldera tua dan
merupakan Sibayak Muda. Gunung Sibayak Muda mempunyai beberapa kawah yang
terdiri dari lapangan solfatara dan fumarola. Pada bagian tengah kaldera tua terdapat
gunung Pertetekan. Luas kaldera diperkirakan 900 meter persegi dengan dinding
utara ditutupi oleh piroklastik produk gunung Pinto (2.212 m dpl), dinding bagian
barat terdiri dari aliran lava yang cukup tebal. Satuan morfologi komplek G.Sibayak
terdiri dari beberapa kerucut vulkanik, masing-masing menjadi pusat erupsi. Kerucut
vulkanik ini disusun oleh aliran lava dan Kubah lava. Kerucut G.Pintau dan dua buah
kubah lava di sebelah selatan dihasilkan oleh aktivitas terakhir. Hasil erupsinya
banyak mengeluarkan batu apung (pumice). Analisa petrografi lava Sibayak yang
pernah dilakukan adalah batuan Andesit Horblende mengandung biotit.

2.1.2 Stratigrafi

Stratigrafi daerah Sibayak merupakan komposisi dari pembentukan formasi


vulkanik Kuarter di bagian atas dan pembentukan formasi sedimen zaman pra-Tersier
sampai Tersier di bagian bawah. Pembentukan lapisan tanah sedimen untuk wilayah
barat dan timur daerah ini ditemukan di pada lubang yang dalam, sebagian besar
menunjukkan sandstone yang berasal dari shale dan limestone (bt.gamping). Data
pengeboran menunjukkan bahwa pembentukan sedimen yang umum ditemukan di
bawah permukaan pada kedalaman 1150 m. Daerah permeable ditemukan dari lubang
pada kedalaman yang berhubungan dengan litologi sandstone dan limestone. Satuan
batuan sedimen untuk reservoir geothermal terbatas dalam area pengeboran (Daud,
2000).

8
2.1.3 Struktur Geologi
Struktur geologi di daerah Sibayak sebagian besar dikontrol dari proses
vulkanik dan tektonik. Sesudah erupsi vulkanik Gunung Singkut (0.1 Ma) maka
tejadi perpanjangan struktur kaldera untuk arah NW-SE (barat laut-tenggara).
Beberapa struktur patahan dengan mengorientasikan kaldera untuk arah NW-SE
sejajar dengan Great Sumatera Fault Zone (GSFZ), dan meluas ke pusat Gunung
Sibayak dan Gunung Pintau, dimana gunung tersebut memotong arah NE-SW
struktur patahan (F5). Struktur patahan dengan arah NW-SE juga memotong garis
arah NE-SW (F6) yang merupakan pertemuan antara Gunung Sibayak dan Gunung
Praktektekan. Kontrol permeable rekahan yang kuat berasal dari kedalaman dangkal
sirkulasi yang hilang selama pengeboran. Sirkulasi yang hilang beberapa lama selama
pengeboran juga ditemukan dalam sumur Sby-1, Sby-6, and Sby-7 sampai bertemu
antara formasi vulkanik dan sedimen. 6-10 sumur pengeboran di lapangan geothermal
Sibayak merupakan sumur produktif (Daud, 2000).
2.1.4 Manifestasi Panas Bumi
Manifestasi termal pada daerah ini terdiri dari solfatara dan fumarole yang
berada di sekeliling elevasi tinggi di sekitar puncak Gunung Sibayak, dan chloride
springs dengan silica sinter juga ditemukan pada elevasi rendah di selatan dan timur
laut garis kaldera. Sejarah vulkanik komplek di dalam daerah tersebut berhubungan
dengan pusat erupsi yang lebih berkembang dengan waktu yang lebih dari Kuarter.
Manifestasi panas permukaan pada lapangan geothermal daerah ini terbagi dalam
tiga kelompok yang tersebar sepanjang 7-14 km. Kelompok pertama tersebar
disekeliling elevasi yang tinggi pada daerah penelitian terdiri atas solfatara, fumarole
dan mata air panas dengan komposisi sulfate- bicarbonate water dan air sulfate.
Chloride springs dengan silica sinter juga ditemukan pada elevasi rendah di
selatan dan timur laut batas kaldera. Dua kelompok dapat ditemukan di selatan
Gunung Sinabung dengan mata air panas tipe bicarbonate-sulfate. Tiga kelompok
yang tersebar untuk sekeliling utara-timur laut Gunung Barus (Negeri Suoh)
ditemukannya mata air panas dengan komposisi bicarbonate-sulfate yang diperkaya
dengan bicarbonat.
2.2 Data Geokimia

9
Hasil analisis kimia air panas di daerah penelitian dapat diketahui bahwa lapangan
geothermal daerah ini dan sekitarnya didominasi oleh :
a. Acid sulphate water
Tipe air ini terbentuk akibat pemanasan air permukaan oleh steam yang
mengindikasikan bahwa pada awalnya air bertipe chloride water dengan pH
netral namun kemudian terjadi perubahan hidrologi yang mengakibatkan tipe air
berubah menjadi steam heated water dengan pH asam pada kondisi saat ini.
Pergerakan gas secara vertikal disebabkan karena perbedaan tekanan yang
melewati rekahan. Daerah ini mengindikasikan sebagai daerah upflow dengan
tekanan gas dan temperatur tinggi yang dapat ditemukan dibagian pusat Singkut
kaldera dibawah daerah penelitian, juga diantara dearah penelitian dan Gunung
Praktektekan dengan manifestasi fumarole yang besar dan banyak asam sulfat
sehingga mata air panas terjadi di daerah ini.
Fluida tidak terisi pada sumur yang hampir netral (pH = 6.2 ~ 8.2). Analisa
kimia untuk indikasi pemisahan air yang mengandung silika dari 975 sampai
1714 ppm dan klorida sampai 1800 ppm pada sumur daerah selatan (sumur SBY-
1, SBY-2 dan SBY-9). Distribusi indikasi yang mengandung klorida
konsentrasinya relatif tinggi dekat Gunung Mulia yang terlihat dalam sumur
SBY-3 (1800 ppm), SBY-5 (1600 ppm) dan SBY-6 (1400 ppm). Tetapi,
kandungan klorida berkurang untuk daerah selatan yang terlihat dalam sumur
SBY-1 (170 ppm) dan SBY-4 (32 ppm). Analisa sebuah gas dari bagian uap panas
selama tes produksi terindikasi oleh sumur sebesar 2.7 5.4 wt % dari total gas
yang tidak terkondensasi: 1.95 5.2 wt % CO 2 dan 0.12 0.3 wt % H2S (Daud,
2000).

b. Bicarbonate sulphate water


Biasanya terdapat di dekat permukaan dimana terjadi percampuran dengan

uap yang mengandung CO (terkadang juga HS), namun kandungan HCO dan

SO nya relatif seimbang. Dengan manifestasi di sekeliling utara-timur laut


Gunung Barus (Negeri Suoh) ditemukannya mata air panas dengan komposisi
bicarbonate-sulfate yang diperkaya dengan bicarbonat.dan ditemukan di selatan
Gunung Sinabung dengan mata air panas tipe bicarbonate-sulfat. Hal ini

10
mengindikasi daerah outflow di utara dan timur laut daerah penelitian dimana
beberapa mata air panas ditemukan diluar timur laut lingkaran kaldera. Aliran
fluida geothermal muncul dipermukaan sesudah berhubungan dengan batuan
alterasi (Daud, 2000).

2.3 Data Geofisika


2.3.1 Model dan Interpretasi Data Magnetotelurik

Gambar 2.2 Lintasan-lintasan MT yang diambil untuk pengolahan data (sumber: Daud, 2000)

a. Penampang Lintasan 1 6 (2 Dimensi)

11
b. Model Penampang MT Secara 3-Dimensi
Model penampang MT 3-Dimensi dibuat berdasarkan penampang 2- Dimensi
MT. Pada model Gambar 2.3 hanya memperlihatkan tampilan secara keseluruhan.
Secara umum pada bagian depan terlihat homogen karena tidak ada data MT. Pada
Gambar 2.4 terlihat zona reservoir dengan resistivitas 20-100 ohm-m yang pada
bagian atasnya terdapat lapisan clay yang memiliki resistivitas rendah 20 ohm-m
dan pada bagian bawah reservoir terdapat anomali resistivitas tinggi yang bernilai
lebih dari 100 ohm-m yang diindikasikan sebagai hot rock. Slice penampang MT
diperlihatkan pada Gambar 2.5 dan Gambar 2.6. Dan Gambar 2.7 menunjukkan
penampang berdasarkan elevasi yang dapat diketahui bahwa semakin dalam semakin
anomali resistivitas tinggi semakin luas. Lintasan- 1 yang dimodelkan secara 3-
Dimensi ditunjukkan pada Gambar 2.8.

12
Gambar 2.3 Model Penampang MT 3-Dimensi

Gambar 2.5 Model2.4


Gambar Penampang MT 3-Dimensi
Model Penampang (arah utara)
MT 3-Dimensi

13
Gambar
Gambar2.7
2.6Model
ModelPenampang
PenampangMT
MT3-Dimensi
3-Dimensi(berdasarkan
(arah timur) elevasi)

14
15
2.3.1 Model dan Interpretasi Data Gravitasi

Gambar 2.8 Kontur Anomali Bouguer

16
Gambar 2.9 Kontur Anomali Regional

Gambar 2.10 Kontur Anomali Residual

17

Gambar 2.11 Penampang Model 2-Dimensi


2.3.1.1 Interpretasi Data Gravitasi
Interpretasi kualitatif dijabarkan berdasarkan pola kontur anomali bouguer dan
anomali sisa. Gambaran pola kontur ini dapat menjelaskan gambaran bawah
permukaan secara tidak langsung (kualitatif). Jika anomali gravitasi rendah,
umumnya menggambarkan struktur tinggi atau lapisan dengan densitas tinggi.
Sedangkan anomali gradien gravitasi menandakan zona patahan dan batas kaldera.
Gambar 2.8 memperlihatkan peta anomali Bouguer untuk densitas 2.1 g/cm3. Kontur
anomali gravitasi bernilai antara -42 mgal sampai 10 mgal. Anomali gravitasi rendah
berada di tengah-tengah daerah penelitian yang dekat dengan manifestasi termal
permukaan berupa mata air panas dan fumarol. Sehingga diduga anomali gravitasi
rendah tersebut merupakan struktur kaldera yang terdapat banyak patahan di
dalamnya, maka menjadi tempat terkumpulnya fluida sehingga berpotensi sebagai
reservoir geothermal.

18
Gambar 2.9 memperlihatkan peta anomali regional. Kontur anomaly gravitasi
bernilai antara -26 mgal sampai 11 mgal. Arah pola regional ini sesuai dengan arah
struktur besar Sumatera dan daerah geothermal ini berada di salah satu zona struktur
Sumatera.
Gambar 2.10 memperlihatkan peta anomali residual. Kontur anomaly gravitasi
dengan nilai yang lebih bervariasi, antara -18 mgal sampai 6 mgal. Secara umum pola
kontur ini hampir sama dengan penampang anomali Bouguer, yaitu adanya anomali
gravitasi rendah (negatif) yang berada di tengah-tengah daerah penelitian yang
umumnya berhubungan dengan adanya struktur kaldera. Kesamaan ini dapat
mengindikasikan bahwa anomali rendah disebabkan oleh struktur yang terletak cukup
dalam pada daerah tersebut.
Berdasarkan hasil pemodelan gravitasi 2-Dimensi (Gambar 2.11) dapat
diinterpretasikan bahwa struktur kaldera yang berarah barat laut-selatan mempunyai
perbedaan kedalaman. Kaldera ini membentuk seperti graben dengan banyak patahan
di dalamnya. Di dalam kaldera terdapat lapisan batuan yang mengalami alterasi
dengan densitas 2.4 gr/cc yang diduga sebagai clay dan di bawah lapisan clay
terdapat lapisan batuan yang mempunyai densitas 2.6 gr/cc yang merupakan batuan
alterasi prophilitic dan terdapat mineral deposit dengan densitas 2.75 gr/cc. Mineral
deposit ini terjadi karena adanya pencampuran antara air panas dengan air dingin di
dalam rekahan-rekahan yang telah terisi endapan silika dan karbonat sehingga terjadi
scaling pada silika dan karbonat yang menyebabkan densitasnya menjadi besar
disebut juga densification. Lapisan basemen mempunyai densitas 2.67 gr/cc yang
merupakan batuan sedimen. Di permukaan terdapat lapisan yang memiliki densitas
2.1 gr/cc. Batas kaldera pada arah selatan di permukaan terdapat lapisan yang
mempunyai densitas 2.5 gr/cc dan 2.8 gr/cc merupakan batuan lava dasit-andesit.
Lapisan alterasi yang muncul di dalam kaldera maupun yang dekat dengan
permukaan disebabkan oleh aliran fluida hidrotermal yang mengalir melalui patahan-
patahan yang banyak terdapat di sekitar struktur kaldera.
2.4 Data Sumur

Dari tahun 1997, 10 sumur eksplorasi telah dibor pada Lapangan Geothermal
Sibayak dan dibuat penampang stratigrafinya pada Gambar 4.2. Ada 3 lokasi sumur

19
cluster (cluster A, B dan C) untuk daerah selatan-timur laut Gunung Mulia. Sumur SBY-
1, SBY-2, SBY-6, SBY-7 dan SBY-8 (+ 1384 m.a.s.l.) pada lokasi cluster A, beberapa
sumur SBY-3, SBY-4, SBY-5 dan SBY- 10 (+ 1468 m.a.s.l.) pada lokasi cluster B. Hanya
sumur SBY-9 (+ 1337 m.a.s.l) merupakan lokasi cluster C (Daud, 2000).
Berdasarkan hasil analisis core dan cutting batuan dari sepuluh sumur eksplorasi di
atas dapat diketahui litologi bawah permukaan dari masing-masing sumur yang derdiri
dari formasi batuan vulkanik Kuarter dan formasi batuan sedimen pra-Tersier ke Tersier.
Formasi batuan vulkanik terdiri dari batu tufa, tufa breksi, lava andesit dan andesit breksi
yang ditemukan pada bagian atas, sedangkan formasi batuan sedimen ditemukan pada
daerah dalam hingga mencapai kedalaman 1150 m dibawah permukaan yang didominasi
oleh sandstone, shale dan limestone.
Bukti yang diperoleh selama pengeboran dan dari percobaan mengindikasikan
adanya daerah permeable pada vulkanik Kuarter yang sangat rendah. Urat dan struktur
batuan vulkanik tertutup dengan kalsit hidrotermal, pirit, kuarsa dan juga mineral
hidrotermal yang mengurangi bentuk permeable dengan satuan vulkanik, sehingga batuan
vulkanik mempunyai permeabilitas sangat rendah sedangkan batuan sedimen yang
letaknya lebih dalam mempunyai permeabilitas yang lebih besar. Karena adanya
rekahanrekahan pada batuan vulkanik tersebut mengakibatkan terjadinya zona sirkulasi
hilang. Zona sirkulasi hilang dapat ditemukan pada setiap sumur dengan kedalaman yang
berbeda-beda. Zona sirkulasi hilang didistribusi pada arah timur dan timur laut sumur
bagian selatan daerah studi hanya didalam dan diluar lingkaran kaldera Singkut disekitar
sumur SBY-2. Distribusi tinggi daerah sirkulasi hilang juga ditemukan pada Gunung
Praktektekan yang diindikasikan pada sumur SBY-7 dan SBY-9 (Daud, 2000).
Pada sumur SBY-3 antara kedalaman 515 518 m adanya sirkulasi yang hilang
dan bertemu dengan satuan batuan vulkanik hal ini dimungkinkan karena adanya kontak
litologi. Indikasi adanya zona sirkulasi yang hilang dalam sumur bagian rendah secara
tidak langsung mungkin terjadi sebuah transfer aliran panas konveksi.
Produksi uap dari 10 sumur di lapangan geothermal Sibayak bervariasi dari 15
sampai lebih dari 50 ton/jam. Keluaran uap sumur terbagi dalam 3 kategori: tinggi (30~
lebih dari 50 ton/jam), sedang (20-30 ton/jam) dan rendah (kurang dari 20 ton/jam).
Keluaran uap sumur yang tinggi mencakup SBY-5, SBY-6 dan SBY-8, beberapa lama

20
kemudian dapat ditemukan dalam sumur SBY- 3, SBY-4 dan SBY-7. Sumur yang lain
dikategorikan keluaran produksi rendah (sumur SBY-1, SBY-2, SBY-9 dan SBY-10)
(Daud, 2000).

Gambar 2.12 Stratigrafi dan Indikasi Daerah Sirkulasi Hilang Pada Lapangan
Geothermal Sibayak

BAB III

MODEL KONSEPTUAL SISTEM GEOTHERMAL SIBAYAK

21
Untuk memperoleh model konseptual sistem geothermal daerah Sibayak
(Gambar 3.1) maka interpretasi data MT dan data gravitasi serta di dukung oleh data
penunjang berupa data geologi, geokimia dan data sumur di gabungkan. Sehingga
dari model konseptual yang diperoleh, dapat ditentukan daerah sumur produksi dan
sumur reinjeksi. Dari data MT menunjukkan keberadaan clay cap yang mempunyai
nilai resistifitas rendah yaitu 20 ohm-m. Clay yang terbentuk di dalam struktur
kaldera kemungkinan berasal dari alterasi hidrotermal yang dipengaruhi oleh
keberadaan reservoir sedangkan clay yang terbentuk di luar kaldera mungkin berasal
dari alterasi batuan sedimen. Formasi batuan di daerah penelitian secara umum terdiri

22
dari formasi batuan vulkanik Kuarter yang berada pada bagian atas dan formasi
batuan sedimen Tersier yang berada pada bagian bawah. Jika dibandingkan dengan
batuan vulkanik, batuan sedimen memiliki resistivitas yang rendah. Daerah
permeable yang lebih besar merupakan dasar untuk menentukan urutan sedimen.

Daerah produksi perekaman dalam beberapa sumur yang terjadi dengan batuan
yaitu dengan batu gamping dan batu pasir yang muncul pada bagian yang permeable,
dan demikian bagian yang rendah pada sumur harus menjadi perhatian dalam
reservoir. Permeable yang utama dalam semua sumur ternyata dikontrol secara
horizontal dari statigrafi dan tipe batuan. Pada sumur SBY-3 antara kedalaman 515
518 m adanya sirkulasi yang hilang dan bertemu dengan satuan batuan vulkanik hal
ini dimungkinkan karena adanya kontak litologi. Produksi fluida dipertimbangkan
dari batu pasir yang permeable serta rekahan batugamping yang besar di sepanjang
pertemuan aliran lava dan piroklastik dengan bagian sedimen.

Reservoir yang ada di Lapangan Geothermal Daerah Sibayak sebagian besar di


kontrol oleh struktur geologi (daerah patahan) yang berarah barat lauttenggara yang
terdapat di sebelah selatan Gunung Sibayak. Lokasi daerah patahan diidentifikasi oleh
adanya pertemuan zona sirkulasi yang hilang dan banyak terjadi di kedalaman dimana
terdapat formasi batuan sedimen. Sehingga diperkirakan daerah reservoir pada
lapangan Sibayak ini berada di kedalaman yang mana terdapat formasi batauan
sedimen. Reservoir diduga berada di sekitar elevasi 400 m dengan kedalaman 1600 m
dan temperatur tinggi (>280C) di bawah Gunung Sibayak.

Indikasi daerah upflow dari inversi data MT dapat ditemukan dibagian pusat
kaldera Singkut dibawah Gunung Sibayak, juga diantara Gunung Sibayak dan
Gunung Praktektekan, dengan terbentuknya clay cap sebagai anomaly konduktif. Hal
ini juga didukung oleh data geologi yang menunjukkan adanya batuan ubahan yang
muncul ke permukaan serta adanya manifestasi fumarole yang besar dan banyak asam
sulfat sehingga mata air panas terjadi di daerah ini serta adanya konsentrasi klorida
yang sangat tinggi (1800 ppm). Perkiraan daerah upflow yang berada di sekitar
selatan kaki Gunung Sibayak juga dikarenakan daerah tersebut merupakan daerah

23
pertemuan beberapa patahan yang dimungkinkan dapat memperbesar permeabilitas
batuan sehingga batuan pada daerah tersebut dapat berfungsi sebagai reservoir
dengan temperatur tinggi (>280C).

Indikasi daerah outflow berada di utara dan timur laut Gunung Sibayak dengan
adanya manifestasi termal berupa beberapa mata air panas ditemukan diluar timur
laut lingkaran kaldera. Kemenerusan aliran fluida geothermal ditemukan
dipermukaan sesudah berhubungan dengan batuan alterasi. Indikasi daerah outflow
yang lain ditemukan di selatan dan tenggara Gunung Sibayak, dimana mata air
klorida dengan silica sinter ditemukan pada elevasi rendah di selatan dan tenggara
batas kaldera.

24
BAB IV

SUMUR PRODUKSI, SUMUR INJEKSI DAN AREA PROSPEK


GEOTHERMAL SIBAYAK

4.1 Sumur Produksi dan Sumur Injeksi

Sumur produksi direkomendasikan di sekitar daerah Gunung Sibayak yang


diperkirakan sebagai daerah upflow. Dari berbagai data berupa data MT, data geologi,
data sumur dan manifestasi permukaan yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu pada
daerah tersebut memiliki permeabilitas tinggi dimana fluida geothermal naik ke
permukaan yang ditemukan pada pertemuan antar patahan. Hal ini diindikasikan dari
produksi uap yang tinggi (30-50 ton/jam) pada sumur SBY-5, SBY-6 dan SBY-8 serta
temperatur lebih dari 280C, sehingga memperkuat dugaan bahwa pada daerah
tersebut berpotensi sebagai daerah upflow reservoir geothermal.
Sumur reinjeksi direkomendasikan di sekitar tenggara (lintasan- 1) karena tidak
terlalu dekat dengan reservoir tetapi daerahnya permeable dan berhubungan dengan
reservoir. Daerah tersebut mempunyai topografi yang lebih tinggi dibandingkan
daerah Gunung Sibayak sehingga mampu berfungsi sebagai daerah resapan air ke
reservoir, sebab biasanya aliran hidrologi di suatu daerah mengikutitopografi. Dan
juga di sebelah tenggara banyak terdapat patahan yang berarah tenggara-barat laut
yang terhubung dengan daerah upflow, patahan-patahan tersebut bertemu di sekitar
Gunung Sibayak yang merupakan lokasi reservoir, sehingga air yang masuk ke dalam
tanah dapat lebih mudah mengalir ke reservoir.
4.2 Area Prospek
Berdasarkan dari hasil pemodelan magnetotellurik area prospek berada di
sekitar Gunung Sibayak yang mengindikasikan adanya anomali resistivitas rendah 5-
10 ohm-m yang diinterpretasikan sebagai clay dan pada lapisan bawahnya terdapat
zona reservoir diindikasikan dengan harga resistivitas 20-100 ohm-m yang berada
pada kedalaman sekitar 1600m, serta hot rock yang mempunyai resistivitas tinggi
yaitu lebih dari 100 ohm-m yang berbentuk updome. Pusat reservoir terdapat pada
daerah yang meliputi Gunung Sibayak dan Gunung Praktektekan dengan luas yang

25
diperkirakan sekitar 4 km. Daerah ini didindikasikan sebagai daerah upflow yang
diperkuat dengan adanya manifestasi berupa fumarol dan mata air panas.

Gambar 4.1 Batas Reservoir Lapangan Geothermal Daerah Sibayak


PLTP Sibayak terletak di Gunung Sibayak Gunung Sinabung, Provinsi
Sumatera Utara. Pembangkit yang mampu menghasilkan listrik sebesar 12 MW ini
terdiri atas tiga unit yaitu PLTP Sibayak Unit 1, PLTP Sibayak Unit 2, dan PLTP
Sibayak Unit 3.

Gambar 4.2 Area Produksi Geothermal Sibayak

BAB V

26
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan data utama (data resistivitas magnetotelurik dan data
gravitasi) yang diintegrasikan dengan data pendukung lainnya, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:

1. Reinterpretasi data MT di lapangan geothermal Sibayak pada enam lintasan


dengan menggunakan inversi 2-Dimensi memberikan hasil yang konklusif yaitu
ditemukan adanya struktur resistivitas bawah permukaan yaitu clay cap yang
memiliki resistivitas rendah < 10 m, reservoir yang memilki resistivitas 20-100
m dan resistivitas tinggi > 100 m yang diinterpretasikan sebagai batuan
panas.
2. Daerah pertemuan antar patahan yang berada diantara Gunung Sibayak dan
Gunung Praktektekan merupakan pusat updome yang mengindikasikan sebagai
daerah upflow yang memiliki permeablilitas tinggi dan merupakan daerah yang
paling baik untuk dilakukan pemboran dan direkomendasikan sebagai sumur
produksi didukung dengan data sumur (T > 280C)
3. Daerah aliran outflow mengikuti struktur patahan yang berarah timur laut-barat
daya yang menuju ke timur laut batas kaldera dan menuju arah selatan batas
kaldera yang ditunjukkan dengan model konseptual sistem geothermal daerah
Sibayak
4. Model konseptual tersebut didukung dengan pemodelan data gravitasi yang
menggambarkan struktur bawah permukaan khususnya struktur kaldera dan
basement.

27
DAFTAR PUSTAKA

Oktobiyanti Riri, 2009, PEMODELAN SISTEM GEOTHERMAL DAERAH SIBAYAK


MENGGUNAKAN DATA MAGNETOTELLURIK DAN GRAVITASI, FMIPA
UI

28