Anda di halaman 1dari 18

A.

Latar Belakang

Penerimaan pendapatan suatu negara mencerminkan bagaimana negara tersebut untuk


maju. Pemerintah Republik Indonesia sejak Tax Reform pada tahun 1983 telah menetapkan
bahwa pajak merupakan tulang punggung dalam membiayai pembangunan negara sesuai
dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Reformasi perpajakan diharapkan dapat
mendorong Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk meningkatkan dan mengoptimalkan
penerimaan pajak dengan cara menyempurnakan kebijakan perpajakan dan sistem
perpajakan. Reformasi ini juga dilakukan agar kualitas pelayanan perpajakan meningkat
sehingga menambah kepercayaan masyarakat terhadap Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang
kemudian dapat meningkatkan kepatuhan membayar pajak dan sekaligus meningkatkan
penerimaan negara (Nafia dan Sunandar, 2016).
Pajak menjadi salah satu sumber penerimaan negara yang sangat penting untuk
membangun dan memperbaiki infrastruktur maupun meningkatkan perekonomian negara.
Setiap tahun pemerintah berusaha untuk memaksimalkan penerimaan pajak guna membiayai
pengeluaran negara karena semakin tinggi tingkat penerimaan pajak maka semakin tinggi
kemampuan negara membiayai pembangunan dan sebaliknya jika semakin kecil penerimaan
pajak maka semakin rendah kemampuan negara dalam hal mewujudkan pembangunan negara
(Mukhlis & Simanjuntak, 2011).
Salah satu jenis sumber pajak yang berpengaruh dalam penerimaan negara adalah
pajak penghasilan. Menurut Wahyuni (2011) menyatakan bahwa pemerintah sangat berharap
pajak penghasilan bertambah besar setiap tahunnya baik dari segi jumlah penerimaan maupun
dari segi pembayarannya. Penerimaan pajak penghasilan yang didapat dari pemungutan PPh
mempunyai peranan yang sangat penting karena semakin besar pajak penghasilan terutang
semakin besar pula penerimaan negara dan dapat diartikan pula bahwa terjadinya
peningkatan yang positif terhadap penghasilan masyarakat.
Peningkatan yang positif terhadap penghasilan masyarakat harus didukung dengan
sistem kepatuhan perpajakan di Indonesia. Mukhlis & Simanjuntak (2011) mengemukakan
bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak berperan sangat penting dalam meningkatkan
penerimaan negara dari sumber yang ada. Dalam hal ini sumber penerimaan pajak dibagi
menjadi 2, yaitu penerimaan pajak untuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pajak
yang dikumpulkan pemerintah pusat maupun daerah dapat digunakan untuk pembiayaan
pengeluaran APBD yang diharapkan dapat mendorong kesejahteraan hidup masyarakat.

1
Selain kepatuhan wajib pajak , Ramli (2006) menyatakan bahwa peningkatan
penghasilan tidak kena pajak (PTKP) berpengaruh penting terhadap penerimaan pajak
penghasilan melalui potensi pajak, naiknya PTKP akan mempengaruhi penurunan jumlah
pembayar pajak dan jumlah pajak yang harus dibayar. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
adalah komponen pengurang dalam pengitungan PPh pasal 21 , yaitu sebagai komponen
pengurang dalam pemotongan pajak penghasilan yang dapat dikenakan tarif pajak yang
terutang. Semakin besar batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) akan semakin kecil
pajak yang terutang yang disetor oleh wajib pajak orang pribadi atau badan (Michel dan Lili
2012).
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) merupakan salah satu fasilitas yang diberikan
Direktorat Jenderal Pajak. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang ditetapkan sejak
reformasi perpajakan tidak memiliki nilai yang tetap, dari tahun 1983 sampai dengan akhir
tahun 2013 batasan penghasilan tersebut terus mengalami perubahan. Penetapan besarnya
PTKP tersebut telah disesuaikan denganperkembangan ekonomi dan moneter serta harga
kebutuhan pokok yang setiap waktu semakin meningkat. Ditengah perlambatan ekonomi
global kebijakan tersebut diambil,agar daya beli masyarakat meningkat. PTKP identik dengan
standar biaya hidup, berkurangnya pajak penghasilan diharapkan membuat masyarakat bisa
menikmati lebih banyak penghasilannya dalam bentuk konsumsi maupun saving/ tabungan.
Dengan begitu pemasukan dari jenis pajak yang lain seperti PPN (Pajak pertambahan Nilai)
dan pajak atas bunga dari saving/tabungan akan meningkat. Apabila terjadi kenaikan
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) maka hal ini akan dinikmati oleh masyarakat yang
berkerja sebagai karyawan/pegawai, dan buruh maupun Wajib Pajak Orang Pribadi(WPOP)
yang memiliki pekerjaan bebas dan/atau wiraswasta.
PTKP dapat dikatakan sebagai keringanan yang diberikan oleh pemerintah kepada
penduduk berpenghasilan rendah (redistribusi pendapatan). Namun keringanan ini (kebijakan
penaikan PTKP) harus dipertimbangkan dengan baik, karena menopang kehidupan
masyarakat khususnya kelas menengah kebawah. Dengan adanya penyesuaian batasan
Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP), harapan pemerintah yaitu dapat menaikkan
permintaan domestik dengan tetap terus mendorong daya beli masyarakat. Pemerintah
menyadari bahwa saat ini tidak bisa mengandalkan sisi eksternal (perdagangan internasional)
untuk mendorong kinerja ekonomi sehingga diperlukan usaha untuk mendorong permintaan
domestik melalui investasi maupun konsumsi masyarakat (Piter Handoko, 2015).

2
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, terdapat rumusan masalah yang menarik untuk diteliti
yaitu :
1. Apakah dengan kenaikan PTKP, menurunkan besarnya PPh terutang bagi WP
Orang Pribadi?
2. Apakah dengan kenaikan PTKP, menurunkan besarnya PPh terutang bagi
penerimaan negara?
C. Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh kenaikan PTKP terhadap PPH terutag untuk wajib pajak
orang pribadi dan penerimaan negara.
D. Landasan Teori

PTKP adalah komponen pengurang dalam penghitungan PPh pasal 21, yaitu sebagai
komponen pengurang dalam pemotongan penghasilan yang dapat dikenakan tarif pajak yang
terutang. Semakin kecil pajak terutang yang disetor oleh wajib pajak orang pribadi.
Besarnya PTKP Untuk Tahun Pajak 2014 :
Besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) untuk tahun pajak 2014 sebagai berikut :
PTKP Pria/ Wanita PTKP Suami Istri
PTKP PriaKawin
Lajang Digabung
TK/
Rp. 24.300.000,00 K/0 Rp. 26.325.000,00 K/I/0 Rp. 50.625.000,00
0
TK/
Rp. 26.325.000,00 K/1 Rp. 28.350.000,00 K/I/1 Rp. 52.650.000,00
1
TK/
Rp. 28.350.000,00 K/2 Rp. 30.375.000,00 K/I/2 Rp. 54.675.000,00
2
TK/
Rp. 30.375.000,00 K/3 Rp. 32.400.000,00 K/I/3 Rp. 56.700.000,00
3

Dasar tariff PTKP tahun 2014 adalah Peraturan Menteri KeuanganRepublik Indonesia
Nomor: 162/PMK.011/2012 efektifberlaku tariff PTKP tahun 2014 per tanggal 1 Januari
2013.

3
Besarnya PTKP Untuk Tahun Pajak 2015 :
Besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) untuk tahun pajak 2015 sebagai berikut :
PTKP Pria/ Wanita PTKP Suami Istri
PTKP Pria Kawin
Lajang Digabung
TK/
Rp. 36.000.000,00 K/0 Rp. 39.000.000,00 K/I/0 Rp. 75.000.000,00
0
TK/
Rp. 39.000.000,00 K/1 Rp. 42.000.000,00 K/I/1 Rp. 78.000.000,00
1
TK/
Rp. 42.000.000,00 K/2 Rp. 45.000.000,00 K/I/2 Rp. 81.000.000,00
2
TK/
Rp. 45.000.000,00 K/3 Rp. 48.000.000,00 K/I/3 Rp. 84.000.000,00
3

Dasar tariff PTKP tahun 2015 adalah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor: 122/PMK.010/2015 efektifberlaku tariff PTKP tahun 2016 per tanggal 1 Januari
2015.
Besarnya PTKP Untuk Tahun Pajak 2016 :
Besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) untuk tahun pajak 2016 sebagai berikut :
PTKP Pria/ PTKP
PTKP PriaKawin
WanitaLajang SuamiIstriDigabung
TK/
Rp. 54.000.000,00 K/0 Rp. 58.500.000,00 K/I/0 Rp. 112.500.000,00
0
TK/
Rp. 58.500.000,00 K/1 Rp. 63.000.000,00 K/I/1 Rp. 117.000.000,00
1
TK/
Rp. 63.000.000,00 K/2 Rp. 67.500.000,00 K/I/2 Rp. 121.500.000,00
2
TK/
Rp. 67.500.000,00 K/3 Rp. 72.000.000,00 K/I/3 Rp. 126.000.000,00
3

Dasar tarif PTKP tahun 2016 adalah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor: 101/PMK.010/2016 efektifberlaku tariff PTKP tahun 2016 per tanggal 1 Januari
2016.

4
Pajak penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap Subjek Pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam suatu tahun pajak.
Pajak yang Terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa
Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Besarnya pajak yang terutang bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dalam
bagian tahun pajak, dihitung sebanyak jumlah hari dalam bagian tahun pajak tersebut dibagi
360 (tiga ratus enam puluh) dikalikan dengan pajak yang terutang untuk 1 (satu) tahun pajak.
Tiap bulan yang penuh dihitung 30 (tiga puluh) hari.
Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) dapat dikatakan patuh apabila memenuhi kriteria
yang disampaikan dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000 yang isinya:
1 Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir WPOP harus tepat dalam hal pelaporan SPT,
ini berlaku untuk semua jenis pajak.

2 Telah lunas dalam membayar pajak tanpa adanya tunggakan terkecuali adanya surat
izin dalam pengangsuran pajak tersebut.

3 Bersih dari catatan hitam atas tindak pidana dibidang perpajakan dalam kurun
waktu 10 tahun terakhir.

4 Adanya history perihal pemeriksaan pajak. Presentase untuk koreksi pemeriksaan


pajak atas terutang maksimal 5%.

Tarif PPh Menurut UU No 36 Th 2008 (yang berlakuTahun 2009)


Tarif PPh pribadi (berlaku bagi yang ber NPWP)
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000 5%
Di atas Rp 50.000.000 Rp 250.000.000 15%
Di atas Rp 250.000.000 Rp 500.000.000 25%
Di atas Rp 500.000.000 30%

Untuk wajib pajak yang tidak memiliki NPWP, dikenakan tarif 20% lebih tinggi dari
yang memiliki NPWP.
PPh Pasal 21 adalah Wajib Pajak orang pribadi atau badan termasuk Bentuk Usaha
Tetap yang mempunyai kewajiban melakukan pemotongan pajak atas penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan.

5
Pajak Penghasilan Pasal 25 merupakan angsuran PPh yang harus dibayar sendiri oleh
Wajib Pajak untuk setiap bulan dalam tahun pajak berjalan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 25 UU No. 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan
nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen.
Pajak penghasilan bersifat final artinya pajak penghasilan yang pengenaannya sudah
final (berakhir) sehingga tidak dapat dikreditkan (dikurangkan) dari total pajak penghasilan
terutang pada akhir tahun pajak.
Penghasilan yang dikenakan PPh bersifat final yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2) meliputi:
1 Penghasilan bunga deposito/tabungan yang ditempatkan di dalam negeri dan yang
ditempatkan di luar negeri, diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan jasa giro.

2 Transaksi penjualan saham pendiri dan bukan saham pendiri.

3 Bunga/diskonto obligasi dan surat berharga saham.

4 Hadiah undian.

5 Persewaan tanah dan/ atau bangunan.

6 Jasa konstruksi, meliputi perencanaan konstruksi, pelaksanaan konstruksi dan


pengawasan konstruksi.

7 Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau
bangunan.

8 Bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota Wajib Pajak orang
pribadi.

9 Dividen yang diterima/diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.

6
Multiplier Effect adalah dimana peningkatan pengeluaran nasional mempengaruhi
pendapatan dan konsumsi menjadi lebih tinggi dibandingkan jumlah sebelumnya. Multiplier
Effect yang populer adalah pengadaan pajak, pengadaan investasi dan pengadaan belanja
negara.

E. Pembahasan

Sejak zaman orde baru berakhir, sumber utama penerimaan negara beralih dari
sumber daya alam menjadi penerimaan pajak .Dengan pajak menjadi sumber utama
penerimaan negara, pemerintah berusaha memaksimalkan penerimaan pajak dari berbagai
aspek dengan memperbaharui peraturan-peraturan yang ada. Pajak merupakan sumber
potensial bagi upaya pemulihan ekonomi suatu negara. Meskipun himbauan dan sosialisasi
dari pemerintah sering di sebarluaskan akan tetapit ingkat kesadaran dan kepatuhan wajib
pajak dalam melaksanakan kewajibannya belum optimal. Prosentase Wajib Pajak yang
terdaftar sangatlah kecil sedangkan Wajib Pajak yang berpotensi untuk membayar pajak
sangat besar. Oleh karena itu, pemerintah membuat keputusan untuk mengganti Penghasilan
Tidak Kena Pajak (PTKP) lama menjadi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) baru. Hal ini
dengan harapan untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak maupun menambah
jumlah Wajib Pajak (WP).
Menurut Hanantijo (2013) mengenai teori konsumsi menyatakan bahwa faktor
pengeluaran konsumsi dipengaruhi oleh faktor ekonomi, yaitu pendapatan rumah tangga. Jika
pendapatan rumah tangga amat besar pengaruh pada tingkat konsumsi, maka biasanya
semakin baik tingkat pendapatan mengakibatkan tingkat konsumsi semakin tinggi, karena
ketika pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan
menjadi semakin konsumtif. Sedangkan menurut Teori Ekonomi bahwa perubahan dalam
perpajakan (termasuk tarif dan PTKP) akan memotivasi orang untuk bekerja, belanja dan
menabung yang akan meningkatkan investasi. Meningkatnya investasi akan meningkatkan
sektor riil yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berarti akan meningkat pula
penerimaan negara dari sektor pajak.
Secara matematis kenaikan PTKP akan berpengaruh negative terhadap penerimaan
PPh Pasal 21, karena jumlah Wajib Pajak yang penghasilannya dipotong PPh Pasal 21
berkurang. Di sisi lain, kenaikan PTKP akan memberikan pengaruh positif terhadap
penerimaan PPN maupun pajak lainnya (misalnya PPh Pasal 4 ayat (2)) karena adanya
peningkatan daya beli, daya investasi dan daya simpan (tabung) masyarakat.

7
F. Analisa Kasus

1 Dampak Terhadap PPhTerutang WPOP

Tahun 2014 2015 2016


Penghasilan Neto Rp. 130.000.000 Rp. 130.000.000 Rp. 130.000.000
PTKP Rp. 32.400.000 Rp. 48.000.000 Rp. 72.000.000
Pengahsilan Kena
Rp. 97.600.000 Rp. 82.000.000 Rp. 58.000.000
Pajak
pph Terutang (5%) Rp. 2.500.000 Rp. 2.500.000 Rp. 2.500.000
pph Terutang (15%) Rp. 7.140.000 Rp. 4.800.000 Rp. 1.200.000
Total pph Terutang Rp. 9.640.000 Rp. 7.300.000 Rp. 3.700.000
Take Home Pay Rp. 120.360.000 Rp. 122.700.000 Rp. 126.300.000

Note : Tabel diatas merupakan ilustrasi penghasilan netto Rp. 130,000,000 per tahun,
dengan status WPOP K/3.
Pada tahun 2014, dengan penghasilan netto sebesarRp. 130.000.000 diperoleh hasil
perhitungan PPh terutang sebesar Rp. 9.640.000. Pada tahun 2015, dengan penghasilan netto
sebesarRp. 130.000.000 diperoleh hasil perhitungan PPh terutang sebesar. Rp. 7.300.000.
Dan pada tahun 2016, dengan penghasilan netto sebesar Rp 130.000.000 diperoleh hasil
perhitungan PPh terutang sebesar Rp. 3.700.000.
Berdasarkan tabel diatas, maka dengan adanya kenaikan PTKP menyebabkan
menurunnya total PPh terutang WPOP dari perubahan tarif PTKP. Hal tersebut telihat
perbedaan penurunan pada tiap perubahan tariff PTKP. Pengaruhnya terhadap penghasilan
yang diterima WPOP mengalami kenaikan. Dari kenaikan penghasilan yang diterima, maka
dapat memunculkan daya beli masyarakat yang akan berdampak pada meningkatnya pula
penerimaan pajak sektor lain.

8
2 Dampak Terhadap Penerimaan Negara

Kenaikan PTKP di sisi yang lain akan mengakibatkan kenaikan daya beli, daya
investasi dan daya tabung masyarakat. Selisih kenaikan PTKP yang dikalikan dengan tariff
pajak mencerminkan kenaikan daya-daya tersebut. Misalnya karyawan A, dengan PTKP
TK/0 memiliki kenaikan daya beli, daya investasi, maupun daya tabung sebesar
Rp11.700.000 x tariff pajak setahun atau sejumlah PPh Pasal 21 yang seharusnya dipotong.
Apabila A memutuskan untuk menggunakan uang tersebut dalam rangka konsumsi, maka
akan ada potensi PPN yang akan diterima negara. Apabila A memutuskan untuk
menginvestasikan uang tersebut (misalnya dalam rangka membangun rumah), akan ada
potensi PPN atau PPN Kegiatan Membangun Sendiri. Sementara apabila A memilih untuk
menabung, juga akan terdapat potensi PPh Pasal 4 ayat (2) atas bunga tabungan/deposito.
Meskipun akan ada banyak catatan atas potensi-potensi tersebut. Potensi-potensi pajak
tersebut tidak dapat kita hitung mengingat pertumbuhan ekonomi memiliki multiplier effect
salah satunya terhadap penerimaan pajak.
Kenaikan batas PTKP mengakibatkan penurunan Pendapatan Kena Pajak (PKP) yang
ada. Pada simulasi tersebut, mengambil contoh satu wajib pajak dengan status kawin tanpa
tanggungan, dengan tanpa perubahan pendapatan bruto (disetahunkan).
Peningkatan-peningkatan yang terjadi setelah penerapan PTKP tahun sebelumnya,
tentu saja disebabkan oleh berbagai hal. Hal yang paling mempengaruhi peningkatan-
peningkatan tersebut adalah jumlah wajib pajak. Sebab dengan kuantitas yang banyak, namun
dengan penerimaan yang sedikit maka hal tersebut dapat menopang penurunan yang
seharusnya terjadi.
Dengan pembayaran pajak yang lebih sedikit, orang menjadi tidak ragu untuk
membayar pajak. Kenaikan PTKP ini tentu saja berdampak tidak saja pada penerimaan pajak
itu. Dari sisi penerimaan pajak, naiknya PTKP berarti akan menurunkan Penghasilan Kena
Pajak (PKP) sehingga konsekuensinya adalah berpotensi menurunkan penerimaan PPh orang
pribadi dibandingkan proyeksi penerimaan yang seharusnya dapat diperoleh apabila tidak
dilakukan penyesuaian.
Namun demikian, pemerintah memandang perlu untuk memberikan stimulus ekonomi
guna mendorong membesarnya tax base dari PPN sehingga pada gilirannya berdampak pada
kenaikan penerimaan PPN. Berdasarkan data historis, kenaikan besaran PTKP tidak
mempengaruhi terjadinya penurunan penerimaan secara nominal dibandingkan tahun
sebelumnya. Namun demikian, peningkatan PTKP tersebut mempengaruhi perlambatan

9
pertumbuhan penerimaan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi, yang bersifat
sementara.
Dengan memperhatikan penjelasan diatas bisa digaris bawahi bahwa pemerintah telah
berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung pertumbuhan laju ekonomi masyarakat
terutama masyarakat golongan bawah meskipun dari tingkat pendapatan Negara mengalami
penurunan. Pemerintah perlu upaya lebih keras lagi dalam meningkatkan pendapatan Negara
sehingga pajak bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi andalan pemerintah sebagai
sumber pendapatan yang potensial. Realisasi penerimaan per jenis pajak dari tahun 2014
sampai dengan2016 adalah sebagai berikut:

Realisasi Penerimaan Per JenisPajak Tahun 2014 2016 (DalamMiliar Rupiah)


Realisasi Realisasi Realisasi
NO Uraian
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016
A PPh Non Migas 458.692,28 552.313,84 630.124,87
Pendapatan PPh Pasal 21 105.642,15 113.853,42 109.153,00
Pendapatan PPh Pasal 22 7.245,46 8.418,13 11.324,21
Pendapatan PPh Pasal 22 Impor 39.456,01 40.334,92 37.980,23
Pendapatan PPh Pasal 23 25.513,43 27.741,65 28.982,91
Pendapatan PPh Pasal 25/29
4.427,82 8.248,21 5.275,17
Pribadi
Pendapatan PPh Pasal 25/29
149.280,83 184.600,91 172.011,62
Badan
Pendapatan PPh Pasal 26 39.446,58 49.396,99 43.262,00
Pendapatan PPh Final dan Fiskal 87.293,80 119.556,87 117.455,84
Pendapatan PPh Nonmigas
89,20 162,64 104.679,89
Lainnya
B Ppn dan PPn Bm 408.995,74 423.945,27 412.274,68
Ppn Dalam Negeri 240.960,73 279.819,98 273.467,49
Ppn Impor 152.303,69 130.601,77 122.679,02
Ppn Bm Dalam Negeri 10.240,45 9.258,35 11.546,14
PPn Bm Import 5.335,90 3.988,53 4.296,02
PPn/ Ppn BmL ainnya 154,97 276,65 286,01
C PBB 23.475,71 29.252,87 19.444,91
D Pajak Lainnya 6.293,13 5.604,56 8.104,24
E Pph Migas 87.446,35 50.145,55 35.864,01
Total A + B + C + D 897.456,86 1.011.116,53 1.069.948,70
Total A + B + C + D + E 984.903,21 1.061.262,08 1.105.812,70
Sumber : Menu Publikasi Laporan Akuntabilitas Kemenkeu diaksespadatanggal 9 Mei
2017 pkl 01.45 WIB

10
Pada makalah ini analisa penerimaan Negara dilakukan pada empat jenis pajak yang
secara signifikan terpengaruh atas perubahan PTKP, keempat jenis pajak tersebut yaitu; PPh
Pasal 21, PPh Pasal 25/29 Pribadi, PPn Dalam Negeri, dan PPh Final dan Fiskal.

a PPH 21

Gambar 3.1 Trend PPH 21 (2014-2016)


116,000.00
114,000.00
112,000.00
110,000.00
108,000.00
106,000.00
104,000.00
102,000.00
100,000.00
PPH 21
2014 2015 2016

Berdasarkan Gambar 3.1,realisasi penerimaan per jenis pajak tahun 2014 sampai
dengan 2016 (dalam miliar rupiah) terdapat kenaikan realisasi pendapatan pada PPh Ps. 21
pada tahun 2014 sebesar Rp. 105.642,15 menjadi Rp. 113.853,42 pada tahun 2015 dan
menurun pada tahun 2016 menjadi sebesar Rp. 109.153,00.

11
b PPH 25/29

Gambar 3.2 Trend PPH 25/29 (2014-2016)

Chart Title
9,000.00
8,000.00
7,000.00
6,000.00
5,000.00
4,000.00
3,000.00
2,000.00
1,000.00
0.00
PPH 25/29

2014 2015 2016

Berdasarkan Gambar 3.2, realisasi pada penerimaan jenis pajak PPh Ps. 25/29 Orang
Pribadi mengalami kenaikan dari tahun 2014 Rp. 4.427,82 menjadi Rp. 8.248,21 pada tahun
2015 dan mengalami penurunan penerimaan pada tahun 2016 menjad iRp. 5.275,17.

c PPN

Gambar 3.3 Trend Penerimaan PPN (2014-2016)


290,000.00

280,000.00

270,000.00

260,000.00

250,000.00

240,000.00

230,000.00

220,000.00
PPN

2014 2015 2016

12
Berdasarkan Gambar 3.3, pada tahun 2015 mengalami kenaikan penerimaan pada
jenis pajak PPn Dalam Negeri pada tahun 2014 sebesar Rp. 240.960,73 menjadi Rp.
279.819,98 pada tahun 2015, sedangkan pada tahun 2016 mengalami penurunan dari tahun
sebelumnya sebesar 273.467,49.

d PPH Final

Gambar 3.4 Trend Penerimaan PPH Final


140,000.00

120,000.00

100,000.00

80,000.00

60,000.00

40,000.00

20,000.00

0.00
PPH Final

2014 2015 2016

Berdasarkan Gambar 3.4, PPh Final mengalami kenaikan dari tahun 2014 sebesar Rp.
87.293,80 menjadi Rp. 119.556,87 di tahun 2015, sedangkan pada tahun 2016 mengalami
penurunan dari tahun sebelumnya sebesar Rp.117.455,84.
Berdasarkan gambar 3.1 dan 3.2 di atas, keduanya mengalami peningkatan realisasi
penerimaan pada tahun 2015 hal tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan PTKP pada tahun
2015 tidak mempengaruhi penerimaan pada jenis pajak PPh Ps. 21 dan PPh Ps. 25/29 Orang
Pribadi, namun demikian kenaikan penerimaan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor yang
tidak dianalisa dalam makalah ini, yaitu meningkatnya jumlah wajib pajak baru orang
pribadi, sehingga memberikan kontribusi peningkatan penerimaan pajak pada PPh Ps. 21 dan
PPh Ps. 25/29 Orang Pribadi. Sedangkan penerimaan pajak pada tahun 2016 kedua jenis
pajak tersebut mengalami penurunan dari tahun 2015, hal tersebut menegaskan bahwa
kenaikan PTKP mengakibatkan penurunan penerimaan pada PPh Ps. 21 dan PPh Ps. 25/29
Orang Pribadi.

13
Berdasarkan gambar 3.3 dan 3.4 di atas, kenaikan penerimaan kedua jenis pajak
tersebut sejalan bahwa kenaikan PTKP mampu mendorong daya beli masyarakat dan
meningkatnya potensi penerimaan PPh Final. Namun demikian pada tahun 2016 mengalami
penurunan penerimaan yang dapat diasumsikan bahwa daya beli masyarakat dan PPh Final
mengalami penurunan. Menurut penulis penurunan penerimaan pajaktersebut di sebabkan
oleh melemahnya perekonomian duniapa datahun 2016 yang berdampak pada pertumbuhan
ekonomi dalam negeri.
G. Kesimpulan dan Saran

Hasil analisa dampak perubahan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) terhadap
besarnya pajak penghasilan (PPh) terutang bagi wajib pajak orang pribadi dan penerimaan
Negara adalah sebagai berikut:
Kesimpulan:
1 Kenaikan PTKP menyebabkan penurunan besarnya PPh terutang bagi Wajib Pajak
Orang Pribadi, namun mampu meningkatkan daya beli, daya investasi, dan daya
simpan (tabung) masyarakat.

2 Kenaikan PTKP menyebabkan meningkatnya penerimaan Negara pada jenis pajak


PPn Dalam Negeri dan PPh Final, dapat pula meningkatkan kesadaran masyarakat
mengenai pembayaran pajak sehingga meningkatkan jumlah wajib pajak baru orang
pribadi.

Saran:
1 Kenaikan PTKP harus ditingkat yang sewajarnya, karena banyaknya dampak yang
muncul dan dirasakan oleh wajib pajak khususnya wajib pajak yang berpenghasilan
tinggi yang memberikan dampak yang kecil.

2 Perubahan PTKP harus seimbang dengan kenaikan upah karyawan atau buruh dengan
begitu akan ada dampak positif dari perubahan PTKP tersebut pada masyarakat
menegah kebawah.

3 Perubahan PTKP harus lebih disosialisasikan terhadap masyarakat, dengan


memberikan arahan tentang pentingnya membayar pajak guna mensejahterakan
masyarakat, agar jumlah wajib pajak bertambah dengan begitu dapat meningkatan
penerimaan pajak.

14
DAFTAR PUSTAKA

Hanantijo, Djoko.2013. Teori-Teori Konsumsi. Jurnal Vol 6 Nomor 13. Universitas Surakarta

Islamia, Faras Daras. Efektivitas Dampak Perubahan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
Terhadap Penerimaan Pajak Penghasilan Orang Pribadi Pada KPP Pratama Jakarta
Cakung Satu (Periode 2012 2014)
Laporan kinerja kementerian keuangan tahun 2014 sampai dengan 2016.
www.kemenkeu.go.id. 9 Mei 2017. www.kemenkeu.go.id. (diakses Mei 9, 2017).
Michel, Salim dan Syafitri, Lili. 2012. Analisis Pengaruh Kenaikan PTKP Terhadap
Penerimaan Pajak Penghasilan Pada KPP Palembang.

Mukhlis, Imam & Timbul Hamonangan Simanjuntak (2011). Pentingnya Kepatuhan Pajak
Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Hidup Masyarakat. Maksi, 2011
Nafia, Dina & Sunandar (2016). Analisis Perbedaan Penerimaan Pajak Penghasilan Sebelum
Dan Sesudah Kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Pada Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Tegal. Seminar Nasional IPTEK Terapan. 2016

Nota Keuangan TA 2017. www.kemenkeu.go.id. 9 Mei 2017. www.kemenkeu.go.id. (diakses


Mei 9, 2017)
Piter Handoko. 2015. PTKP 2015 Berlaku Surut Dari Januari 2015. Melalui :
http://pemeriksaanpajak.com/2015/07/13/ptkp-2015-berlaku-surut-dari-januari-2015/

PTKP tahun 2011 sampai dengan 2016. www.pajakbro.com. 9 Mei 2017. www.pajakbro.com.
(diakses Mei 9, 2017)
Ramli. (2006). Analisis Perubahan PTKP Terhadap Penerimaan PPH 21 Dan Ekonomi.
Jurnal Wawasan, 11(3), hal.34.

Resmi,Siti. 2015. Perpajakan Teori dan Kasus. Salemba Empat. Jakarta

Wahyuni, Made Arie. (2011). Tax Evasion : Dampak Dari Self Assesment System. Jurnal
Ilmiah Akuntansi dan Humanika, 1(1), hal.3.

15
DAFTAR LAMPIRAN

16
17
18