Anda di halaman 1dari 4

Bagaimana Cara Mengukur Tekanan Darah pada Anak?

Tekanan darah biasanya dilakukan pada lengan atas kanan untuk menghindarkan
kesalahan akibat koarktasio aorta sebelah proksimal dari arteri subklavia kiri yang menyebabkan
tekanan darah di lengan kanan tinggi dan di tempat lain rendah. (Herry Garna, 2015)

Tekanan darah sebaiknya diukur dengan menggunakan spigmomanometer air raksa,


sedangkan spigmomanometer aneroid memiliki kelemahan yaitu memerlukan kalibrasi secara
berkala. Osilometrik otomatis merupakan alat pengukur tekanan darah yang sangat baik untuk
bayi dan anak kecil, karena saat istirahat teknik auskultasi sulit dilakukan pada kelompok usia
ini. Sayangnya alat ini harganya mahal dan memerlukan pemeliharaan serta kalibrasi berkalaa.
Panjang cuff manset harus melingkupi minimal 80% lingkar lengan atas, sedangkan lebar
cuff harus lebih dari 40% lingkar lengan atas (jarak antara akromion dan olekranon, (lihat
Gambar 1 dan 2). Suatu klinik pediatrik sebaiknya menyediakan manset dengan ukuran 3,5,7,
12,dan18cm untuk mengakomodasi beragamnya ukuran pasien anak. Ukuran cuff yang terlalu
besar akan menghasilkan nilai tekanan darah yang lebih rendah, sedangkan ukuran cuff yang
terlalu kecil akan menghasilkan nilai tekanan darah yang lebih tinggi.
Pada pengukuran tekanan darah di tungkai, stetoskop diletakkan pada arteri popliteal.
Biasanya tekanan darah yang didapatkan dari tungkai rata-rata lebih tinggi 10 mmHg bila
dibandingkan dengan pengukuran tekanan darah di lengan.
Gambar 1. Lingkaran Lengan Atas Harus Diukur Tengah-tengah Antara Olekranon dan
Akromion

Gambar 2. Cuff Pengukur Tekanan Darah


Tekanan darah sebaiknya diukur setelah istirahat selama 3-5 menit, suasana sekitarnya
dalam keadaan tenang. Anak diukur dalam posisi duduk dengan lengan kanan diletakkan sejajar
jantung, sedangkan bayi diukur dalam keadaan telentang. Jika tekanan darah menunjukkan angka
di atas persentil ke-90, tekanan darah harus diulang dua kali pada kunjungan yang sama untuk
menguji kesahihan hasil pengukuran
Teknik pengukuran tekanan darah dengan Ambulatory Blood Pressure Monitoring
(ABPM) menggunakan alat monitor portabel yang dapat mencatat nilai tekanan darah selama
selang waktu tertentu. ABPM biasanya digunakan pada keadaan hipertensi episodik, gagal ginjal
kronik, anak remaja dengan hipertensi yang meragukan, serta menentukan dugaan adanya
kerusakan organ target karena hipertensi.
Tekanan darah sistolik ditentukan saat mulai terdengarnya bunyi Korotkoff ke-1. Tekanan
darah diastolik sesungguhnya terletak antara mulai mengecil sampai menghilangnya bunyi
Korotkoff. Teknik palpasi berguna untuk mengukur tekanan darah sistolik secara cepat,
meskipun nilai tekanan darah palpasi biasanya sekitar 10 mmHg lebih rendah dibandingkan
dengan auskultasi.
Tekanan darah dipengaruhi dan berhubungan erat dengan usia, tinggi badan serta berat
badan anak. Peningkatan tekanan darah yang signifikan terjadi pada masa remaja. Aktivitas fisik,
batuk, menangis, dan bila anak memberontak saat diperiksa dapat meningkatkan tekanan darah
sistol sebanyak 40-50 mmHg lebih tinggi dibandingkan tekanan darah yang sesungguhnya.
Bervariasinya tekanan darah pada anak dengan usia dan ukuran tubuh yang sama harus
diperhitungkan, dan pengukuran berkala harus selalu dilakukan ketika mengevaluasi pasien anak
dengan hipertensi.
Daftar Pustaka

Garna, Herry. 2015. Pemeriksaan Fisis Pada Anak. Bandung: Departemen/SMF Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin.

Sekarwana, Nanan, et al. 2011. Tatalaksana Hipertensi Pada Anak. Bandung: Unit Kerja
Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Bernstein, Daniel. 2015. Evaluation of Cardiovascular System. Philadelphia: Elsevier, Inc.