Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH BIOFAR KLINIK

PERJALANAN OBAT DALAM TUBUH PADA PASIEN


EPILEPSI

APOTEKER ANGKATAN XXXIII

Disusun Oleh :

WAHYU 16340139

NINING SRIWAHYUNI 16340145

WIDYA ANDINI 16341164

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami selaku penyusun makalah kepada Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

makalah ini dengan judul Perjalanan Obat Dalam Tubuh Pada Pasien Epilepsi Tidak lupa

shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada baginda Rasulullah SAW, juga

kepada keluarga-Nya, sahabat-Nya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umat-

Nya. Amin. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu

dalam penyususnan makalah ini.

Semoga bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Penyusun

juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, saran dan kritik yang

membangun dari semua pihak sangat diharapkan. Dan penyusun mohon maaf apabila

terdapat kesalahan dan kekurangan pada makalah ini. Penyusun berharap semoga makalah ini

dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Jakarta, 27 Maret 2017

Tim Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul i

Prakata ii

Daftar Isi v

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1

C. Tujuan 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Epilepsi 2

2.2 Patofisiologi Epilepsi 2

2.3 Etiologi Epilepsi 3

2.4 Klasifikasi Epilepsi 3

2.5 Penyebab Spesifik Epilepsi 5

2.6 Penatalaksanaan Epilepsi 5

2.7 Tanda dan Gejala Epilepsi 6

2.8 Pemeriksaan Diagnostik 6

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Epilepsi 7

3.2 Klasifikasi Bangkitan Epilepsi 7

3.3 Tabel Obat epilepsi 9

3.4 Algoritma untuk pengobatan epilepsi 12

3.5 Data farmakokinetik obat anti Epilepsi 12

3.6 Dosis Obat Anti epilepsi dan Jarak Target konsetrasi Serum 13

3.7 Monitoring efek samping obat anti epilepsi 15

3
3.8 Jalur eliminasi obat antiepilepsi dan efek mayor pada enzim hati 18
3.9 Penerapan klinis obat-obat antiepilepsi 19
BAB IVKESIMPULAN DAN SARAN 28

DAFTAR PUSTAKA 29

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Epilepsi atau penyakit ayan merupakan manifestasi klinis berupa muatan
listrik yang berlebihan di sel-sel neuron otak berupa serangan kejang berulang.
Lepasnya muatan listrik yang berlebihan dan mendadak, sehingga penerimaan serta
pengiriman impuls dalam/dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuh terganggu.
Secara umum masyarakat di indonesia salah mengartikan penyakit epilepsi.
Akibatnya, penderita epilepsi sering dikucilkan. Padahal, epilepsi bukan termasuk
penyakit menular, bukan penyakit jiwa, bukan penyakit yang diakibatkan ilmu
klenik, dan bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Umumnya ayan mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam proses
kelahiran, luka kepala, pitam otak (stroke), tumor otak, alkohol. Kadang-kadang, ayan
mungkin juga karena genetika, tapi ayan bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab
pastinya tetap belum diketahui.
Semua orang beresiko mendapat epilepsi. Bahkan, setiap orang beresiko satu
di dalam 50 untuk mendapat epilepsi. Pengguna narkotik dan peminum alkohol punya
resiko lebih tinggi. Pengguna narkotik mungkin mendapat seizure pertama karena
menggunakan narkotik, tapi selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure
walaupun sudah lepas dari narkotik.
Pengetahuan masyarakat yang kurang tentang penyakit epilepsi atau ayan,
melatarbelakangi penulis menyusun makalah ini. Makalah ini membahas hal-hal
mengenai penyakit epilepsi, penyebab, klasifikasi penyakit epilepsi, mekanisme
terjadinya epilepsi dan pengobatannya.

1.2 Rumusan masalah


Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa itu penyakit epilepsi?
2. Bagaimana perjalanan obat epilepsi didalam tubuh ?
.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penyakit epilepsi
2. Untuk mengetahui perjalanan obat epilepsi di dalam tubuh

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Epilepsi


Epilepsi menurut JH Jackson (1951) didefinisikan sebagai suatu gejala akibat
cetusan pada jaringan saraf yang berlebihan dan tidak beraturan. Cetusan tersebut dapat
melibatkan sebagian kecil otak (serangan parsial atau fokal) atau yang lebih luas pada
kedua hemisfer otak (serangan umum). Epilepsi merupakan gejala klinis yang kompleks
yang disebabkan berbagai proses patologis di otak. Epilepsi ditandai dengan cetusan
neuron yang berlebihan dan dapat dideteksi dari gejala klinis, rekaman
elektroensefalografi (EEG), atau keduanya. Epilepsi adalah suatu kelainan di otak yang
ditandai adanya bangkitan epileptik yang berulang (lebih dari satu episode).
International League Against Epilepsy (ILAE) dan International Bureau for Epilepsy
(IBE) atau epilepsi adalah Suatu serangan berulang secara periodik dengan dan tanpa
kejang. Serangan tersebut disebabkan kelebihan neuron kortikal dan ditandai dengan
perubahan aktivitas listrik seperti yang diukur dengan elektro enselofogram (EEG).
Kejang menyatakan keparahan kontraksi otot polos yang tidak terkendali (ISO
FARMAKOTERAPI).
2.2 Patofisiologi
Dasar serangan epilepsi ialah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi
pada sinaps. Tiap sel hidup, termasuk neuron-neuron otak mempunyai kegiatan listrik
yang disebabkan oleh adanya potensial membrane sel. Potensial membrane neuron
bergantung pada permeabilitas selektif membrane neuron, yakni membrane sel mudah
dilalui oleh ion K dari ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali oleh ion Ca,
Na dan Cl, sehingga di dalam sel terdapat kosentrasi tinggi ion K dan kosentrasi rendah
ion Ca, Na, dan Cl, sedangkan keadaan sebaliknya terdapat diruang ekstraseluler.
Perbedaan konsentrasi ion-ion inilah yang menimbulkan potensial membran.
Ujung terminal neuron-neuron berhubungan dengan dendrite-dendrit dan badan-
badan neuron yang lain, membentuk sinaps dan merubah polarisasi membran neuron
berikutnya. Ada dua jenis neurotransmitter, yakni neurotransmitter eksitasi yang
memudahkan depolarisasi atau lepas muatan listrik dan neurotransmitter inhibisi yang
menimbulkan hiperpolarisasi sehingga sel neuron lebih stabil dan tidak mudah
melepaskan listrik. Diantara neurotransmitter-neurotransmitter eksitasi dapat disebut

6
glutamate,aspartat dan asetilkolin sedangkan neurotransmitter inhibisi yang terkenal
ialah gamma amino butyric acid (GABA) dan glisin. Jika hasil pengaruh kedua jenis
lepas muatan listrik dan terjadi transmisi impuls atau rangsang. Hal ini misalnya terjadi
dalam keadaan fisiologik apabila potensial aksi tiba di neuron. Dalam keadaan istirahat,
membrane neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan berada dalam keadaan
polarisasi. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membrane neuron dan seluruh
sel akan melepas muatan listrik.
Oleh berbagai factor, diantaranya keadaan patologik, dapat merubah atau
mengganggu fungsi membaran neuron sehingga membrane mudah dilampaui oleh ion Ca
dan Na dari ruangan ekstra ke intra seluler. Influks Ca akan mencetuskan letupan
depolarisasi membrane dan lepas muatan listrik berlebihan, tidak teratur dan terkendali.
Lepas muatan listrik demikian oleh sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan
dasar suatu serangan epilepsy. Suatu sifat khas serangan epilepsy ialah bahwa beberapa
saat serangan berhenti akibat pengaruh proses inhibisi. Di duga inhibisi ini adalah
pengaruh neuron-neuron sekitar sarang epileptic. Selain itu juga system-sistem inhibisi
pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron-neuron tidak terus-menerus
berlepasmuatan memegang peranan. Keadaan lain yang dapat menyebabkan suatu
serangan epilepsy terhenti ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang
penting untuk fungsi otak.
2.3 Etiologi
Ditinjau dari penyebab epilepsi dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
1. epilepsi primer atau epilepsi idiopatik yang hingga kini tidak ditemukan penyebabnya
Pada epilepsi primer tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak. Diduga terdapat
kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dalam sel-sel saraf pada area
jaringan otak yang abnormal.
2. epilepsi sekunder yaitu yang penyebabnya diketahui.
Epilepsi sekunder berarti bahwa gejala yang timbul ialah sekunder, atau akibat dari
adanya kelainan pada jaringan otak.Kelainan ini dapat disebabkan karena dibawa
sejak lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat kerusakan otak pada waktu lahir
atau pada masa perkembangan anak.

7
.4 Klasifikasi
Terapi epilepsi tidak hanya didasarkan atas diagnosa yag tepat. Lebih dari itu, jenis
serangan juga harus ditentukan. Menurut Gidal dkk (2005) klasifikasi epilepsi
berdasarkan tanda-tanda klinik dan data EEG, dibagi menjadi:
1) Kejang umum (generalized seizure)
Jika aktivasi terjadi pada kedua hemisfere otak secara bersama-sama. Kejang umum
terbagi atas:
a) Absense (Petit mal)
Jenis yang jarang dijumpai ini umumnya hanya terjadi pada masa
anak-anak atau awal remaja. Kesadaran hilang beberapa detik, ditandai
dengan terhentinya percakapan untuk sesaat. Penderita tiba-tiba melotot atau
matanya berkedip-kedip dengan kepala
terkulai.
b) Tonik-klonik (grand mal)
Merupakan bentuk kejang yang paling banyak terjadi, biasanya
didahului oleh suatu aura. Pasien tiba-tiba jatuh, kejang, nafas terengah-
engah, dan keluar air liur. Bisa terjadi juga sianosis, ngompol, atau menggigit
lidah. Serangan ini terjadi beberapa menit, kemudian diikuti lemah,
kebingungan, sakit kepala atau tidur.
c) Mioklonik
Serangan ini biasanya terjadi pada pagi hari, setelah bangun tidur
pasien mengalami sentakan yang tiba-tiba.
d) Atonik
Serangan tipe Atonik ini jarang terjadi. Pasien tiba-tiba kehilangan
kekuatan otot yang mengakibatkan pasien terjatuh, namun dapat segera pulih
kembali.
2) Kejang parsial
Serangan parsial merupakan perubahan-perubahan klinis dan
elektroensefalografik yang menunjukan aktivitas sistem neuron yang berbatas di
salah satu bagian otak (Harsono, 1999). Kejang parsial ini terbagi menjadi:
a) Simple partial seizure
Pasien tidak mengalami kehilangan kesadaran. Terjadi sentakansentakan
pada bagian tertentu dari tubuh.
b) Complex partial seizure

8
Pasien mengalami penurunan kesadaran. Pada penderita dengan
penurunan kesadaran maka dapat terjadi perubahan tingkah laku misalnya
automatisme.
3) Kejang tak terklasifikasikan
Serangan kejang ini merupakan jenis serangan yang tidak didukung oleh data
yang cukup atau lengkap. Jenis ini termasuk serangan epilepsi pada neonatus
misalnya gerakan mata ritmis, dan gerakan mengunyah serta berenang.
.5 Penyebab spesifik dari epilepsi
1. kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti ibu menelan
obat-obat tertentu yang dapat merusak otak janin, menglami infeksi, minum alcohol,
atau mengalami cidera.
2. kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang mengalir ke
otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan.
3. cidera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak
4. tumor otak merupakan penyebab epilepsy yang tidak umum terutama pada anak-anak.
5. penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak
6. radang atau infeksi pada otak dan selaput otak
7. penyakit keturunan seperti fenilketonuria (FKU), sclerosis tuberose dan
neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang yang berulang.
8. kecerendungan timbulnya epilepsy yang diturunkan. Hal ini disebabkan karena
ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari normal diturunkan pada anak.
2.6 penatalaksanaan
a. Non farmakologi :
1) Amati faktor pemicu
2) Menghindari faktor pemicu (jika ada), misalnya: stress, OR, konsumsi kopi atau
alkohol, perubahan jadwal tidur, terlambat makan, dll.
b. Farmakologi Menggunakan obat-obat antiepilepsi yaitu :
1) Obat-obat yang meningkatkan inaktivasi kanal Na+: Inaktivasi kanal Na,
menurunkan kemampuan syaraf untuk menghantarkan muatan listrik. Contoh:
fenitoin, karbamazepin, lamotrigin, okskarbazepin, valproat.
2) Obat-obat yang meningkatkan transmisi inhibitori GABAergik: Agonis reseptor
GABA, meningkatkan transmisi inhibitori dg mengaktifkan kerja reseptor GABA,
contoh: benzodiazepin, barbiturat. Menghambat GABA transaminase, konsentrasi
GABA meningkat, contoh: Vigabatrin. Menghambat GABA transporter,

9
memperlama aksi GABA, contoh: Tiagabin. Meningkatkan konsentrasi GABA pada
cairan cerebrospinal pasien mungkin dg menstimulasi pelepasan GABA dari non-
vesikularpoolcontoh: Gabapentin.
2.7 Tanda dan gejala epilepsi
1. Kejang kaku bersama kejutan-kejutan ritmis dari anggota badan dan hilangnya
kesadaran untuk sementara. Penderita kadang-kadang mengigit lidahnya sendiri dan
juga dapat terjadi inkontensia urin atau feses
2. Serangan yang singkat seperti pada petitmal, biasanya anatara bebrapa sampai
setengah menit dengan penurunan kesadaran ringan tanpa kejang-kejang. Gejalanya
berupa keadaan termangu-mangu (pikiran kosong, kehilanganrespon sesaat), muka
pucat, pembicaraan terpotong-potong atau mendadak berhenti mendadak.
3. Pada serangan persial, kesadaran dapat menurun hanya untuk sebagaimana tanpa
diikuti hilangnya ingatan. Penderita memperlihatkan kelakuan tidak sengaja tertentu
seperti gerakan menelan atau berjalan dalam lingkaran.
2.8 pemeriksaan diagnostik
a) CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi lesi pada otak,
fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral. Epilepsi
simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT
scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas
tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit neurologik
yang jelas
b) Elektroensefalogram(EEG) untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
c) Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.
d) mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah
menilai fungsi hati dan ginjal
menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan
adanya infeksi).
Pungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak

BAB III

PEMBAHASAN

10
3.1 Pengertian penyakit Epilepsi
Epilepsi didefinisikan sebagai kumpulan gejala dan tanda-tanda klinis yang muncul
disebabkan gangguan fungsi otak secara intermiten, yang terjadi akibat lepas
muatanlistrik abnormal atau berlebihan dari neuron-neuron secara paroksismaldengan
berbagai macam etiologi.
Sedangkan serangan atau bangkitan epilepsi yangdikenal dengan namaepileptic
seizure adalah manifestasi klinis yang serupa dan berulang secara paroksismal, yang
disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak yang spontan dan
bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut

3.2 Klasifikasi internasional bangkitan epilepsi (1981) adalah


Bangkitan parsial
1. Bangkitan parsial sederhana (tanpa gangguan kesadaran)
a. Dengan gejala motorik
b. Dengan gejala sensorik
c. Dengan gejala otonomik
d. Dengan gejala psikik
2. Bangkitan parsial kompleks (dengan gangguan kesadaran)
a. Awalnya parsial sederhana, kemudian diikuti gangguan kesadaran
Bangkitan parsial sederhana, diikuti gangguan kesadaran
Dengan automatisme
b. Dengan gangguan kesadaran sejak awal bangkitan
Dengan gangguan kesadaran saja
Dengan automatisme
3. Bangkitan umum sekunder (tonik-klonik, tonik atau klonik)
a. Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi bangkitan umum
b. Bangkitan parsial kompleks berkembang menjadi bangkitan umum
c. Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi parsial kompleks, dan
berkembang menjadi bangkitan umum
Bangkitan Umum (Konvulsi atau Non-Konvulsi)
1. Bangkitan lena

11
Lena ( absence ), sering di sebut petitmal. Serangan terjadi secara tiba-tiba, tanpa
di dahului aura. Kesadaran hilangselama beberapa detik, di tandai dengan
terhentinya percakapan untuk sesaat, pandangan kosong, atau mata berkedip
dengan cepat. Hampir selalu pada anak-anak, mungkin menghilang waktu remaja
atau diganti dengan serangan tonik-klonik.
2. Bangkitan mioklonik
Mioklonik, serangan-serangan ini terdiri atas kontraksi otot yang singkat dan tiba-
tiba, bisa simetris dan asimetris, sinkronis taua asinkronis. Biasanay tidak ada
kehilangan kesadaran selama serangan.
3. Bangkitan tonik
Tonik, seranagan ini terdiri atas tonus otot dengan tiba-tiba meningkat dari otot
ekstremitas, sehingga terbentuk sejumlah sikap yang khas. Biasanya kesadaran
hilang hanya beberapa menit terjadi pada anak 1-7 tahun.
4. Bangkitan atonik
Atonik, serangan atonik terdiri atas kehilangan tonus tubuh. Keadaan ini bisa di
menifestasikan oleh kepala yang terangguk-angguk, lutut lemas, atau kehilangan
total dari tonus otot dan Px bisa jatuh serta mendapatkan luka-luka.
5. Bangkitan klonik
Klonik, serangan di mulai dengan kehilangan kesadaran yang di sebebkan aoleh
hipotonia yang tiba-tiba atau spasme tonik yng singkat. Keadaan ini di ikuti
sentakan bilateralyang lamanya 1 menit samapai beberapa menit yang sering
asimetris dan bisa predominasi pada satu anggota tubh. Seranagan ini bisa
berfariasi lamanya, seringnya dan bagian dari sentakan ini satu saat ke satu saat
lain.
6. Bangkitan tonik-klonik
Tonik-Klonik, biasa di sebut grandmal. Merupakan jenis seranag klasik epilepsi
seranagn ini di tandai oleh suatu sensasi penglihatan taua pendengaran selama
beberapa saat yang di ikuti oleh kehilangan kesadaran secara cepat.

3.3 Tabel Obat Epilepsi

12
Tabel 53.2 obat pilihan untuk gangguan kejang tertentu

Tipe Kejang Pengobatan pertama Alternatif obat Keterangan


Pedoman US Dewasa dan Remaja Disetujui FDA
Carbamezapine Carbamezapine
Gabapentin Lacosamide
Oxcarbazepine Phenobarbital
Phenobarbital Phenytoin
Phenytoin Topiramate
Topiramate Valproic Acid
Valproic Acid
Pedoman UK Carbamezapine Levitiracetam
Lamotrigine Oxcarbazepine
Valproic Acid

Pedoman ILAE Dewasa Dewasa


Carbamazepine Gabapentin
Phenytoin Lamotrigine
Valproic Acid Oxcarbazepine
Phenobarbital
Topiramate
Anak anak Anak anak
Oxcarbezepine Phenobarbital
Phenytoin
Topiramate
Valproic Acid
Lansia Lansia
Gabapentin Carbamazepine
Lamotrigine
Para Ahli US 2005 Carbamazepine Levetiracetam
Lamotrigine
Oxcarbazepine
Kejang partial
( Monoterapi
Tahan Panas )
Pedoman US Disetujui FDA
Lamotrigine Carbamazepine
Oxcarbazepine Lamotrigine
Topiramate Oxcarbazepine
Phenobarbital
Phenytoin
Topiramate
Valproic Acid

Kejang parsial
( tambahan tahan

13
panas )
Pedoman US Dewasa Disetujui FDA
Gabapentin Carbazmazepine
Lamotrigine Gabapentine
Levetiracetam Lamotrigine
Oxcarbazepine Levetiracetam
Tiagabine Oxcarbazepine
Topiramate Phenobarbital
Zonisamide Phenytoin
Anak anak Pregabalin
Gabapentine Tiagabine
Lamotrigine Valproic Acid
Oxcarbazepine Vigabatrin
Topiramate Zonisamide
Pedoman UK Carbamazepine Lacosamide
Clobazam Phenobarbital
Gabapentin Phenytoin
Lamotrigine Pregabalin
Levetiracetam Tiagabine
Oxcarbazepine Vigabatrin
Valproic Acid Zonisamide
Topiramate
Kejang umum
( Diagnosis baru )
Pedoaman US Disetujui FDA
Lamotrigine Ethosuximide
Valproic Acid
Pedoman UK Ethosuximide Clobazapam
Lamotrigine Clonazepam
Valproic Acid Levetiracetam
Topiramate
Zonisamide
Pedoman ILAE Ethosuximide
Lamotrigine
Valproic Acid
Para Ahli US 2005 Ethosuximide Lamotrigine
Valproic Acid
Umum primer
( tonik klonik )
Pedoman US Disetujui FDA
Topiramate Lamotrigine
Levetiracetam
Topiramate

Pedoman UK Diurutkan sebagai


berikut
Valproic Acid Clobazapam
Lamotrigine Levetiracetam

14
Carbamazepine Topiramate
Oxcarbazepine
Pedoman ILAE Dewasa
Carbamazepine
Lamotrigine
Oxcarbazepine
Phenobarbital
Phenytoin
Topiramate
Valproic Acid
Anak anak
Carbamazepine
Phenobarbital
Phenytoin
Topiramate
Valproic Acid
Para Ahli US 2005 Valproic Acid Lamotrigine
Topiramate

Epilepsi
mioklonik remaja
Disetujui FDA
Levetiracetam
( Kejang mioklonik )
Pedoman UK Ethosuximide Clobazapam
Lamotrigine Clonazepam
Valproic Acid Levetiracetam
Topiramate
Zonisamide
ILAE Clonazepam
Lamotrigine
Levetiracetam
Topiramate
Zonisamide
Valproic Acid
Para Ahli US Valproic Acid Levetiracetam
2005
Topiramate
Zonisamide

Algoritma untuk pengobatan epilepsi. (AED, obat antiepilepsi; QOL, kualitas hidup)

15
3.4 Data Farmakokinetik Obat Antiepilepsi
AED t Waktu untuk Tidak Vp (L/Kg) Metabolit Protein
(jam) mencapai berubah klinik Bindin
steady state (%) penting g (%)
( hari )
Carbamaz 15M; 21-28 untuk <1 1-2 10,11- 40-90
epine 5-14 menyelesaik epoxide
CO an
autoinduksi
Clobazam 36-42 7-14 3 1.4 N-desmethyl 80-90
clobazam
Ethosuxi A60;C 6-12 10-20 0.67 No 0
mide 30
Ezogabine 7-11 3-4 36% 2-3 n- 80
acetylmetabo
lite
Felbamate 16-22 5-7 50 0.73-0.82 No ~25
Gabapenti 5-40 1-2 100 0.65-1.04 No 0
n
Lacosami 13 3 40 0.6 No <15

16
de
Lamotrigi 25.4 M 3-15 0 1.28 No 40-50
ne
Levetirace 7-10 2 0.7 No <10
tam
Oxcarbaze 3-13 2 0.7 10-Hydroxy- 40
pine carbazepine
Phenobarb A46- 14-21 20-40 0.6 No 50
ital 136;C3
7-73
Phenytoin A10- 7-28 <5 0.6-8.0 No 90
34;C5-
14
Pregabalin A6-7 1-2 90 0.5 No 0
e
Primidone A3.3- 1-4 40 0.43-1.1 PB 80
19;C4.
5-11
Rufinamid 6-10 2 4 0.8-1.2 No 26-35
e
Tiagabine 5-13 Negligi No 95
ble
Topimarat 18-21 4-5 50-70 0.55- No 15
e 0.8(lakilaki)0.
23-0.4
(wanita)
Valproic A8- 1-3 <5 0.1-0.5 Bisa menjadi 90-95
Acid 20;C7- racun bindin
14 g jenuh
Vigabatrin 5-8 N/A <2 0.8 No 0
Zonisamid 24-60 5-15 0.8-1.6 No 40-60
e

3.5 Dosis Obat Atiepilepsi dan Jarak Target konsetrasi Serum


Obat Nama Brand Mulai atau Jarak biasa atau Keterangan
dosis awal dosis jarak target
maksimum konsetrasi
serum
Barbiturates
Phenobarbital Various 1-3 mg/kg/hari 180-300 mg 10-40 mcg/ml
( 10-20 mg/kg ( 43-
LD ) 172mol/L)
Primidone Mysoline 100-125 750-2000 mg 5-10mcg/ml
mg/hari (23-
46mol/L)
Benzodiazepine
s
Clobazam Onfi <30kg <30kg-20mg; 0.03-03
5mg/hari; >30kg-40 mg ng/mL ( 0.1-1

17
>30kg nmol/L)
10mg/hari
Clonazepam Klonopin 1.5 mg/hari 20 mg 20-70 ng/mL
( 0.06-
0.22mol/L)
Diazepam Valium PO : 4-40 mg PO : 4-40 mg 100-1000
IV : 5-10 mg IV : 5-30 mg ng/mL (0.4-
3.5 mol/L)
Lorazepam Ativan PO : 2-6 mg PO : 10 mg 10-30 ng/mL
IV : 0.05 mg/kg IV : 0.05 mg/kg ( 31-93
IM : 0.05 mol/L )
mg/kg
Hydantoin
Phenytoin Dilantin PO : 3-5 mg/kg PO : 500-600 Total : 10-20
( 200mg- mg mcg/mL (40-
400mg)(15-20 79mol/L);
mg/kg LD) tidak terikat :
0.5-3mcg/mL
(2-12mol/L)
Succinimide
Ethosuximide Zarontin 500 mg/hari 500-2000 mg 40-100
mcg/ml (282-
708 mol/L)
Lainnya
Carbamazeepine Tegretol 400 mg/Hari 400-2400 mg 4-12 mcg/ml
( 17-51
mol/L )
Ezogabine Potiga 300mg/Hari 1200 mg Tidak biasa

Felbamate Felbatol 1200mg/hari 3600 mg 30-60 mcg/ml


(126-252
mol/L)
Gabapentin Neurontin 300-900 4800 mg 2-20 mcg/ml
mg/hari (12-
117mol/L)
Lacosamide Vimpat 100 mg/hari 400 mg Tidak biasa
Lamotrigine Lamictal 25 mg dilain 100-150 mg 4-20 mcg/ml
hari jika pada jika pada VPA; (16-78
VPA; 25-50 300-500 mg mol/L)
mg/hari jika jika bukan VPA
bukan VPA
Levetiracetam Keppra 500-1000 3000-4000 mg 12-46 mcg/ml
Keppra XR mg/hari (70-270
mol/L)
Oxcarbazepine Trileptal 300-600 2400-3000 mg 3-35 mcg/ml
mg/hari (MHD)(12-
139 mol/L)
Pregabalin Lyrica 150 mg/hari 600 mg Tidak biasa
Rufinamide Banzel 400-800 3200 mg Tidak biasa

18
mg/hari
Tiagabine Gabitril 4-8 mg/hari 80 mg 0.02-0.2
mcg/ml
(0.05-05
mol/L)
Topiramate Topamax 25-50 mg/hari 200-1000 mg 5-20 mcg/ml
(15-59
mol/L)
Valproic Acid Depakene 15 mg/kg (500- 60 mg/kg 50-100
Depakene SE 1000 mg) (3000-5000 mcg/ml (347-
Depakote mg) 693 mol/L)
Depakote ER
Depacon
Vigabatrin Sabril 1000mg/hari 3000 mg 0.8-36
mcg/ml (6-
279 mol/L)
Zonisamide Zonegran 100-200 600 mg 10-40 mcg/ml
mg/hari (47-188
mol/L)

3.6 Monitoring dan Efek samping Obat Anti epilepsi


Reaksi Obat yang Merugikan Efek Samping Akut
Obat Konsentrasi Bantuan Istimewa Efek Samping
kronik
Carbamazepine Diplopia Diskaria darah Hiponaterimea
Pusing Bintik merah pada Metabolik penyakit
Kantuk kulit ( HLA antigen tulang
Mual relevan untuk dicoba
Gemetar menghindari stevens
Lesu johnson atau racun
nekrolisis epidermal
Clobazam Efek tidur Mengeluarkan air
liur
Sedasi Agresi
Pireksia Lekas marah
Ataxia Konstipaasi
Ethosuximide Ataxia Diskaria darah Perubahan tingkah
laku
Kantuk Bintik merah pada Sakit kepala
Kesulitan kulit
penceranaan
Gemetar
Kesulitan
Ezogabine Pusing Retensi urin Belum Diketahui
Efek tidur Perpanjangan QT
(didasarkan EKG
dan lama
pengobatan)
Kelelehan Euforia

19
Kebingungan
Vertigo
Tremor
Penglihatan kabur
Felbamate Anoreksia Anemia aplastik Belum diketahui
(didasarkan CBC)
Mual Kegagalan hati akut
Muntah ( didasarkan enzim
Sakit Kepala hati )
Insomnia
Gabapentin Pusing Pedal edema Berat badan
Kelelehan
Efek tidur
Ataxia
Lacosamide Pusing Elevasi enzim hati Belum diketahui
Vertigo
Sakit kepala
Mual
Muntah
Menaikan jarak
waktu PR
(didasarkan pada
EKG & lama
pengobatan)
Lamotrigine Diplopia Bintik merah pada Belum diketahui
Pusing kulit ( titrasi dosis
Bingung lambat mungkin
Sakit kepala mengurangi kejadian
perubahan )
Levetiracetam Sedasi Psychois ( gila atau Belum diketahui
Gangguan tingkah lebih umum pada
laku orang tua atau
dengan penyakit
mental )

Oxcarbazepine Sedasi Bintik merah pada Hyponatremia


Pusing kulit
Ataxia
Mual
Phenobarbital Ataxia Diskrasi darah Perubahan tingkah
laku
Hiperaktif Bintik merah pada Gangguan jaringan
kulit ikat
Sakit kepala Tumpul intelektual
Bingung Penyakit tulang
metabolit
Sedasi Perubahan mood
Mual Sedasi
Phenytoin Ataxia Diskaria darah Perubahan tingkah

20
laku
Nistagmus Bintik merah pada Sindrom sereblar
kulit ( HLA antigen ( terjadi ditingkat
relevan untuk dicoba serum tinggi )
menghindari stevens
johnson atau racun
nekrolisis epidermal
Perubahan tingkah Reaksi imunologi Perubahan jaringan
laku kognitif
Pusing Penebalan kulit
Sakit kepala Defisiensi folat
Tidak terkoordinasi Hiperplasia gingiva
Sedasi Hirsutisme
Lesu Pengasaran dari fitur
wajah
Lelah Gangguan kognitif
Penglihatan kabur Jerawat
Gangguan kognitif Penyakit metabolit
tulang

Pregabalin Pusing Edema pedal Berat badan


Efek tidur Penurunan trombosit
Tidak terkoordinasi Elevasi kreatini
Penglihatan kabur kinase
Mulut kering
Primidone Perubahan tingkah Dikrasia darah Perubahan tingkah
laku laku
Sakit kepala Bintik merah pada Perubahan jaringan
kulit kognitif
Mual Gangguan kognitif
Sedasi Sedasi
Bingung
Rufinamide Pusing Hipersensitif organ Belum diketahui
ganda
Mual Status epilepsi
Efek tidur Leukopenia
Muntah Memperpendek QT
Tiagabine Pusing Spike- gelombang Belum diketahui
Lelah pingsan
Sulit berkonsentrasi
Tegang
Tremor
Penglihatan kabur
Depresi
Lemah
Topiramate Sulit konsetrasi Asaidosis metabolik Batu ginjal
Lambat fisikomotor Sudut glaukuma Turun berat badan
akut
Masalah bahasa atau Oligohidrosis

21
cara bicara
Efek tidur, lelah
Pusing
Sakit kepala
Valproic acid Gangguan Gagal hati akut Sindrom ovarium
pencernaan polikistik (menaikan
insidensi pada
wanita < 20 tahun
atau berat badan
berlebih )
Penenang Pankreas akut Berat badan
Bingung Alopecia Hiperamonemia
Tremor Siklus menstruasi
Trombocitopenia tidak teratur

Vigabatrin Hilang penglihatan Perubahan sinyal Hilang penglihatan


permanen otak pada MRI yang permanen (frekuensi
abnormal ( bayi lebih besar dewasa
dengan kejang ) dengan anak anak
Lelah Neuropati perifer dengan bayi)
Efek tidur Anemia
Berat badan
Tremor
Penglihatn kabur
Zonisamide Sedasi Bintik merah pada Batu ginjal
kulit
Pusing Asidosis metabolit Kurang berat badan
Gangguan kognitif Oligohidrosis
Mual

3.7 Jalur eliminasi obat antiepilepsi dan efek mayor pada enzim hati
Obat antieplepsi Enzim hati mayor Eliminasi Induksi Hambat
ginjal
Carbamazepine CYP3A4;CYP1A <1 CYP1A2;CYP2C; NONE
2; CYP2C8 CYP3A;GT
Clobazam CYP3A4;CYP2C1 0 CYP3A4 (LEMAH) CYP206
9; CYP2B6
Ethosuximide CYP3A4 12--20 NONE NONE
Ezogabine GT; asetilasi 85 NONE NONE
Felbamate CYP3A4;CYP2E1 50 CYP3A4 CYP2C
; lainnya 19;
oksidasi
Gabapentin NONE Selalu NONE NONE
komplit
Lacosamide CYP2C19 70 NONE NONE
Lamotrigine GT 10 GT NONE
Leviteracetam NONE 66 NONE NONE
(mengalami

22
hidrolisis
nonhepatik)
Oxcarbazepine Sistem sitosolik 1 CYP3A4; CYP3A5; CYP2C
( MHD GT 19
merupakan
metabolit aktif
oxcarbazepine )
27
( seperti
MHD)
Phenobarbital CYP2C9; lainnya 25 CYP3A; CYP2C; GT NONE
Phenytoin CYP2C9; 5 CYP3A; CYP2C; GT NONE
CYP2C19
Pregabline NONE 100 NONE NONE
Rufinamide Hidrolisis 2 CYP3A4 (lemah) CYP2E1
(lemah)

Tiagabine CYP3A4 2 NONE NONE


Topiramate Tidak diketahui 70 CYP3A (dosis CYP2C
berkurang) 19
Valproate GT; oksidasi 2 NONE CYP2C
9;GT
hidrolisi
s
epoxide
Vigabatrine NONE Selalu CYP2C9 NONE
komplit
Zonisamide CYP3A4 35 NONE NONE

3.8 Penerapan klinis


1. Carbamazepine
Makanan dapat meningkatkan bioavailabilitas carbamazepine.
Kontrol dan berkelanjutan-pelepasan persiapan dosis setiap 12 jam adalah
bioekuivalen untuk persiapan segerapelepasan dosis setiap 6 jam. Dalamterus
meneruspelepasan kapsul dapat dibuka dan ditaburkan di makanan.
Hiponatremia terjadi lebih jarang dari dengan oxcarbazepine, tapi serum periodik
konsentrasi natrium dianjurkan, terutama pada orang tua.
Leukopenia adalah yang paling umum efek samping hematologi (hingga 10%),
tetapi biasanya bersifat sementara. Mungkin persisten 2% dari pasien.
Carbamazepine dapat dilanjutkan kecuali jika jumlah sel darah putih turun
menjadi kurang dari 2500 / mm3 (2,5 109 / L) dan jumlah neutrofil absolut
turun menjadi kurang dari 1000 / mm3 (1 109 / L).

23
Ruam dapat terjadi pada 10% pasien. Efek samping lain termasuk mual, hepatitis,
osteomalacia, defek konduksi jantung, dan reaksi lupus-seperti.
Karbamazepin dapat berinteraksi dengan obat lain dengan menginduksi
metabolisme mereka. asam valproik meningkatkan konsentrasi metabolit 10,11-
epoksida tanpa mempengaruhi konsentrasi carbamazepine. Interaksi eritromisin
dan klaritromisin (CYP3A4 penghambatan) dengan carbamazepine sangat
signifikan.
Memuat dosis yang digunakan hanya pada pasien sakit kritis.
Meskipun sebagian pasien, khususnya pada monoterapi, dapat dipertahankan
pada dua kali sehari dosis, sebagian besar pasien, terutama anak-anak, akan
membutuhkan dosis 2-4 kali sehari. dosis yang lebih besar dapat diberikan pada
waktu tidur. Dosis meningkat dapat dilakukan setiap 2 sampai 3 minggu.
1. Clobazam
penghentian mendadak dapat menyebabkan sindrom penarikan (misalnya,
gangguan perilaku, tremor, gelisah, dysphoria, insomnia, kejang, psikosis).
Sebagai inducer dari CYP3A4, clobazam dapat menurunkan kadar serum
beberapa kontrasepsi oral. Dalam metabolisme lansia danrendahnya CYP2C19,
memulai dosis seperti pada pasien dengan berat kurang dari 30 kg. Banyak pasien
mengembangkan beberapa toleransi
Hal ini lebih efektif daripada clonazepam untuk sindrom Lennox-Gastaut tetapi
kurang efektif dibandingkan clonazepam untuk brengsek mioklonik dan adanya
kejang. Ini terapi tambahan untuk kejang sindrom Lennox-Gastaut.
2. Ethosuximide
Tidak ada dosis yang dibutuhkan; titrasi selama 1 sampai 2 minggu untuk dosis
pemeliharaan 20 mg / kg / hari biasanya menghasilkan konsentrasi serum terapi.
Hal ini biasanya diberikan dalam dua dosis yang sama setiap hari.
Ada beberapa bukti untuk metabolisme nonlinear pada konsentrasi serum yang
lebih tinggi
Asam valproat dapat menghambat metabolisme ethosuximide, tetapi hanya jika
metabolisme ethosuximide berdekatanjenuh.
3. Ezogabine
Hal ini dapat menyebabkan retensi urin dan perpanjangan QT.

24
Alkohol dapat meningkatkan keterpaparan sistemik untuk ezogabine dengan
peningkatan efek samping.
Hal itu dapat menyebabkan hasil keliruditinggikan pada urine dan serum tes
laboratorium bilirubin.
Ini harus diminum tiga kali sehari.
4. Felbamate
felbamate disetujui untuk kejang lemah pada pasien dengan sindrom Lennox-
Gastaut
dan berlaku efektif untuk kejang parsial juga. Karena laporan anemia aplastik (1
di 3000 pasien) dan hepatitis (1 dari 10.000 pasien), felbamate direkomendasikan
hanya untuk pasien sukar disembuhkan dengan AED lainnya. Faktor risiko
anemia aplastik mungkin termasuk riwayat sitopenia, alergi AED atau toksisitas,
infeksi virus, dan / atau masalah imunologi
5. Gabapentin
Gabapentin adalah agen lini kedua untuk pasien dengan kejang parsial yang telah
gagal
pengobatan awal. Hal ini juga mungkin memiliki peran pada pasien dengan
gangguan kejang lebih ringan, seperti baru-onset epilepsi parsial, terutama pada
pasien usia lanjut.
Bioavailabilitas menurun dengan meningkatnya dosis (yaitu, adalah proses
saturable). Ini dihilangkan khususmelalui diekskresi, dan penyesuaian dosis
diperlukan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
Dosis dimulai pada 300 mg pada waktu tidur dan meningkat menjadi 300 mg dua
kali sehari pada hari kedua dan 300 mg tiga kali sehari pada hari ketiga. titrasi
lanjut kemudian dibuat. produsen merekomendasikan dosis pemeliharaan
biasanya 1800-2400 mg / hari.
6. Lacosamide
Lacosamide adalah zat mengontrol jadwal V.Ada hubungan linear antara dosis
harian dan konsentrasi serum sampai 800 mg / hari. hati sedang dan gangguan
ginjal baik peningkatan sistemik paparan obat hingga 40%.
Lacosamide dapat menyebabkan peningkatan kecil dalam interval PR median.

25
Dosis awal adalah 100 mg / hari dalam dua dosis terbagi, dengan peningkatan
dosis 100 mg / hari setiap minggu sampai dosis harian 200 mg sampai 400 mg
telah tercapai.
7. Lamotrigine
Lamotrigin berguna karena keduanya terapi tambahan untuk kejang parsial dan
sebagai monoterapi. Hal ini juga dapat menjadi alternatif yang berguna untuk
kejang umum primer, seperti tidak adanya dan sebagai terapi tambahan untuk
kejang GTC utama.
Ruam biasanya umum, eritematosa, dan morbiliformis, namun reaksi Stevens
Johnson juga telah terjadi. Insiden ruam yang lebih serius tampaknya meningkat
pada pasien yang juga menerima asam valproik dan yang memiliki titrasi dosis
yang cepat. asam valproik substansial menghambat metabolisme lamotrigin dan
alter dosis (lihat Tabel 53-4)
8. Levetiracetam
penghapusan ginjal simpanan obat tidak berubah selama 66% dari levetiracetam
clearance, dan dosis harus disesuaikan dengan gangguan fungsi ginjal. Ini
memiliki farmakokinetik linear dan dimetabolisme dalam darah oleh hidrolisis
enzimatik nonhepatic.
Hal ini efektif dalam pengobatan adjunctive kejang parsial pada orang dewasa
yang telah gagal terapi awal.
Efek samping termasuk sedasi, kelelahan, kesulitan koordinasi, agitasi,
iritabilitas,
dan kelesuan. Sebuah penurunan dalam sel darah merah dan putih tercatat dalam
uji klinis.
Dosis awal yang dianjurkan adalah 500 mg secara oral dua kali sehari. Pada
beberapa pasien kejang keras, dosis oral yang telah kadarnya cepat selama 3 hari
sampai 3000 mg / hari (1500 mg dua kali sehari).
9. Oxcarbazepine
Pasien dengan gangguan ginjal yang signifikan mungkin memerlukan
penyesuaian dosis. Hubungan antara dosis dan konsentrasi serum linear. Itu tidak
autoinduce nya metabolisme sendiri.
Hal ini diindikasikan untuk digunakan sebagai monoterapi atau terapi tambahan
untuk kejang parsial pada orang dewasa dan anak-anak berumur 4 tahun. Ini juga

26
merupakan obat lini pertama yang potensial untuk pasien dengan primer, kejang
kejang umum.
Hal ini biasanya memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan fenitoin,
asam valproat, atau carbamazepine. Hiponatremia dilaporkan dalam hingga 25%
dari pasien dan lebih mungkin pada orang tua. Sekitar 25% sampai 30% dari
pasien yang memiliki ruam dengan carbamazepine akan memiliki reaksi yang
sama dengan oxcarbazepine.
di gunakan bersama oxcarbazepine dengan etinil estradiol dan
levonorgestrelcontaining kontrasepsi dapat membuat agen ini kurang efektif.
Oxcarbazepine dapat meningkatkan konsentrasi serum fenitoin dan penurunan
konsentrasi serum lamotrigin (induksi uridin difosfat glusuronosiltransferase).
Pada pasien dikonversi dari carbamazepine, dosis perawatantipikal oxcarbazepine
adalah 1,5 kali carbamazepine dosis atau kurang jika pasien berada di dosis
karbamazepin yang lebih besar. Lihat rekomendasi produsen untuk dosis berat.
10. Phenobarbital
enzim penginduksi kuat, berinteraksi dengan banyak obat. Diuretik dan
alkalinizers kemih meningkatkan jumlah fenobarbital diekskresikan melalui
ginjal.
Fenobarbital mengganggu kinerja kognitif. Pada anak-anak, hiperaktif paradoks
dapat terjadi.
Etanol meningkatkan metabolisme fenobarbital, tetapi asam valproik, cimetidine,
dan kloramfenikol menghambat metabolismenya.
Fenobarbital biasanya dapat ditakar sekali sehari, dan menjelang tidurpemberian
dosis dapat meminimalkan penenang siang
11. Phenytoin
Penyerapan mungkin saturable pada dosis yang lebih tinggi. Jangan mengubah
merek tanpa pengawasan yang cermat. Makanan dapat memperlambat
penyerapan. Dalam intramuscular rute sebaiknya dihindari, karena penyerapan
yang tidak menentu. Fosphenytoin aman dapat diberikan IV dan intramuskular,
dan memerintahkan dengansetara fenitoin. Persamaan yang tersedia untuk
menormalkan konsentrasi fenitoin pada pasien dengan hipoalbuminemia atau
gagal ginjal.

27
kinetika Nol-order terjadi dalam rentang terapeutik biasa, sehingga setiap
perubahan dosis dapat menghasilkan perubahan proporsional dalam konsentrasi
serum.
Dalam situasi nonacute, fenitoin dapat dimulai pada orang dewasa pada dosis oral
5 mg / kg / hari dan kadarnya ke atas. penyesuaian dosis berikutnya harus
dilakukan dengan hati-hati karena non-linear dalam eliminasi. Kebanyakan pasien
dewasa dapat dipertahankan pada dosis tunggal sehari, tetapi anak-anak sering
membutuhkan lebih sering pemberian. Hanya persiapan extended-release harus
digunakan untuk dosis tunggal harian.
Satu penulis menyarankan bahwa jika konsentrasi serum kurang dari 7 mcg /
mL (28 umol / L), dosis harian harus ditingkatkan oleh 100 mg; jika konsentrasi
adalah 7 sampai 12 mcg / mL (28-48 umol / L), dosis harian dapat ditingkatkan
dengan 50 mg; dan jika konsentrasi lebih besar dari 12 mcg / mL (48 umol / L),
dosis harian dapat ditingkatkan dengan 30 mg atau kurang.
Pada konsentrasi yang lebih besar dari 50 mcg / mL (200 umol / L), dapat
memperburuk kejang.
Fenitoin rentan terhadap banyak interaksi obat. Jika interaksi protein-binding
dicurigai, bebas daripada konsentrasi total serum adalah panduan terapi yang
lebih baik.
Fenitoin menurunkan penyerapan asam folat, tetapi pengganti asam folat
meningkatkan
clearance dan dapat mengakibatkan hilangnya khasiat. tablet fenitoin dan
suspensi
mengandung asam , sedangkan kapsul dan solusi parenteral yang
phenytoinsodium. Seratus mg asam sama dengan 92 mg fenitoin natrium.
Perhatian: Ada dua kekuatan yang berbeda dari suspensi dan kapsul.
12. Pregabalin
Pregabalin, zat jadwal V mengontrol, adalah agen lini kedua untuk pasien dengan
kejang parsial yang telah gagal pengobatan awal.
Ini dihilangkan tidak berubah terutama oleh ekskresi ginjal; penyesuaian dosis
diperlukan pada pasien dengan disfungsi ginjal yang signifikan.
Interaksi obat tidak mungkin.
13. Rufinamide

28
Rufinamide adalah agen ajuvan digunakan untuk sindrom Lennox-Gastaut pada
pasien
yang telah gagal asam valproik, topiramate, dan lamotrigin.
Anak-anak mungkin memiliki izin lebih tinggi dari rufinamide daripada orang
dewasa.
Ini dosis dua kali sehari karena penyerapan lambat dan waktu paruh pendek.
hipersensitivitas multiorgan terjadi dalam waktu 4 minggu inisiasi dosis pada
anak-anak lebih muda dari 12 tahun.
14. Tiagabine
Tiagabin dianggap terapi lini kedua untuk pasien dengan kejang parsial yang telah
gagal terapi awal.
Efek samping biasanya sementara dan dapat berkurang dengan mengambil
dengan makanan.
Tiagabin dipindahkan dari protein oleh naproxen, salisilat, dan valproate.
Minimal tingkat pemberian dosis dewasa yang efektif adalah 30 mg / hari.
15. Topiramate
Topiramate adalah lini pertama AED untuk pasien dengan kejang parsial sebagai
tambahan atau untuk monoterapi. Hal ini juga disetujui untuk kejang tonik-klonik
pada epilepsi umum primer.
Sekitar 50% dari dosis diekskresikan melalui ginjal, dan tubular reabsorpsi
mungkin secara jelas terlibat.
Nefrolitiasis terjadi pada 1,5% pasien. Hal ini juga dikaitkan dengan glaucoma
akut sempit sudut, kesulitan menemukan kata, oligohidrosis, dan asidosis
metabolik.
induser enzim dapat menurunkan kadar topiramate serum. Hal ini meningkatkan
pembersihan etinil estradiol.
bertahap Dosis dapat terjadi setiap 1 atau 2 minggu. Untuk pasien pada AED lain,
dosis lebih besar dari 600 mg / hari tidak muncul untuk menyebabkan
peningkatan efektivitas dan dapat meningkatkan efek samping
16. Valproic Acid and Divalproex Sodium
Fraksi bebas dapat meningkat karena total kenaikan konsentrasi serum, dan
pemantauan konsentrasi bebas mungkin lebih berguna daripada konsentrasi total,

29
terutama pada konsentrasi serum yang lebih tinggi dan pada pasien dengan
hipoalbuminemia.
Setidaknya 10 metabolit telah diidentifikasi, dan beberapa mungkin aktif. Satu
dapat menjelaskan hepatotoksisitas (asam 4-ene-valproik), dan meningkat dengan
enzymeinducing obat. Sebagian besar kematian hepatotoksisitas berada di anak-
anak cacat mental yang lebih muda dari 2 tahun yang menerima terapi obat
ganda.
Ini terapi lini pertama untuk kejang umum primer, seperti tidak adanya,
mioklonik, dan kejang lemah, dan disetujui untuk terapi tambahan dan
monoterapi kejang parsial. Hal ini juga dapat berguna dalam gangguan kejang
campuran
keluhan GI dapat diminimalkan dengan formulasi enterik berlapis atau dengan
memberikan dengan makanan. Trombositopenia adalah umum tetapi responsif
terhadap penurunan dosis. Pankreatitis jarang ditemukan.
Meskipun pemberian karnitin dapat sebagian memperbaiki hiperamonemia, itu
mahal dan hanya data yang terbatas mendukung suplementasi rutin pada pasien
yang memakai asam valproik.
Asam valproat merupakan inhibitor enzim yang meningkatkan konsentrasi serum
fenobarbital secara bersamaan diberikan, carbamazepine 10,11-epoksida (tanpa
mempengaruhi konsentrasi obat induk), dan lamotrigin. Carbapenems dan
kontrasepsi oral kombinasi dapat menurunkan kadar serum asam valproik
pemberian dosis dua kali sehari adalah wajar, tetapi anak-anak dan pasien yang
memakai induser enzim mungkin memerlukan tiga atau empat kali sehari
pemberian dosis.
Dalam enterik berlapis tablet divalproex natrium menyebabkan lebih sedikit efek
samping GI. Ini dimetabolisme di usus menjadi asam valproik. Ketika beralih dari
Depakote untuk Depakote-ER, dosis harus meningkat sebesar 14% menjadi 20%.
Depakote ER dapat diberikan sekali sehari.
17. Vigabatrin
Vigabatrin adalah lini pertama untuk kejang infantil dan ketiga-line bahan
tambahan untuk epilepsi parsial bahan tahan api.
Ini diekskresikan tidak berubah dalam urin; penyesuaian dosis diperlukan pada
pasien mengalami penurunan ginjal.

30
Hal ini dapat menyebabkan bilateral konsentris penyempitan bidang penglihatan
permanen dan mengurangi ketajaman visual. Visi harus diperiksa pada awal dan
setiap 3 bulan hingga 6 bulan setelah penghentian. Ini dapat memperburuk
mioklonik dan tidak adanya kejang.
Vigabatrin menginduksi CYP2C dan mengurangi tingkat plasma oleh ~ 20%.
18. Zonisamide
zonisamide, spektrum luas sulfonamide AED, disetujui sebagai terapi tambahan
untuk kejang parsial, tetapi berpotensi efektif dalam berbagai jenis kejang umum
parsial dan primer.
kesulitan Kata-temuan dapat terjadi. batu ginjal gejala dapat terjadi pada 2,6%
pasien. Sebagai reaksi hipersensitivitas dapat terjadi pada 0,02% pasien,
menggunakannya dengan hati-hati (jika sama sekali) pada pasien dengan riwayat
alergi sulfonamide. Pemantauan fungsi ginjal mungkin dianjurkan pada beberapa
pasien.
Mulai dosis pada orang dewasa pada 100 mg / hari dan meningkat 100 mg / hari
setiap 2 minggu sampai respon yang terlihat. Sangat cocok untuk dosis sekali-
atau dua kali sehari, tetapi dosis sekali sehari dapat menyebabkan efek samping
yang lebih.

31
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Penggunaan dan pemilihan obat anti epilepsi harus berdasarkan pengawasan dokter.
Pemilihan obat anti epilepsi tidak sama pada masing-masing orang, karena pemilihan
didasarkan pada jenis kejang atau bangkitan epilepsinya, frekuensi kejang, penyebab
kejang, efek samping serta respon obat pada masing-masing individu.

4.2 Saran
Memperbaiki lingkungan tempat tinggal seperti pembuatan jendela dengan ventilasi
udara yang baik, selalu berperilaku sehat seperti rutin berolahraga dan segera meminta
pertolongan kepada petugas kesehatan atau dokter setempat apabila terjadi tanda-
tanda penyakit Epilepsi.

32
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Epilepsi. diakses 17 April 2011


Baiquni, mulki.2010. Patofisiologi Epilepsi.

Oktaviana, Fitri. 2008. Epilepsi. Medicinus Scientific Journal of Pharmaceutical


Development and Medical applicationVol. 2,No.4 Edisi November
Desember 2008.

33