Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

IAS 16 (A)
PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN
(PROPERTY, PLANT & EQUIPMENT)

OLEH

LOLY SEPSIODARMA
1511060068

FAKULTAS EKONOMI
PERBANAS INSTITUTE
2017
I. PENDAHULUAN

IAS 16 menetapkan ketentuan untuk pengakuan dan pengukuran properti,


pabrik dan peralatan (property, plant, and equitment) dan menjelaskan ketentuan
pengungkapan laporan keuangan. Hal ini membantu pengguna laporan keuangan
untuk melakukan penilaian informasi mengenai suatu investasi entitas pada properti,
pabrik dan peralatan serta perubahan di dalam investasi tersebut.

Tujuan dari standar ini adalah untuk menentukan perlakuan akuntansi untuk
aset tetap seingga pengguna laporan keuangan dapat melihat informasi mengenai
investasi entitas pada aset tetap dan perubahan pada investasi ini. Pokok bahasan
dalam akuntansi untuk aset tetap adalah pengakuan aset, penentuan nilai tercatat dan
pembebanan depresiasi dan kerugian penurunan nilai berkenaan dengan aset tersebut.

Aset Tetap adalah aset berwujud yang :

a. dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk
direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan

b. diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika :

a. besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset

tersebut akan mengalir ke entitas; dan

b. biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

Pengukuran pada saat pengakuan : suatu item yang memenuhi kualifikasi untuk
diakui sebagai aset harus diukur sebesar biaya perolehannya. Biaya perolehan suatu
aset adalah setara dengan nilai tunainya pada saat terjadinya. Jika pembayaran aset
ditangguhkan hingga melampaui jangka waktu kredit normal, perbedaan antara nilai
tunai dengan total pembayaran diakui sebagai beban bunga selama periode kredit
kecuali dikapitalisasi.
Biaya Perolehan aset tetap meliputi :

a. harga perolehannya, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak dapat

dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan-potongan lain;

b. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke

lokasi dan kondisi yang dibutuhkan untuk dapat beroperasi sesuai dengan
keinginan manajemen;

c. estimasi awal atas biaya pemindahan dan pembongkaran aset tetap dan restorasi
lokasi aset tersebut. Kewajiban tersebut muncul ketika aset tersebut diperoleh atau
sebagai konsekuensi atas penggunaan aset tersebut selama periode tertentu untuk
tujuan selain menghasilkan persediaan.

Pengukuran setelah pengakuan : Entitas harus memilih antara model biaya atau model
revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap
seluruh aset tetap pada kelompok yang sama.

Model biaya : setelah pengakuan sebagai aset, aset tetap akan tetap akan tetap dicatat
sebesar harga perolehannya dikurangi akumulasi depresiasi dan akumulasi kerugian
penurunan nilai.

Model revaluasi : setelah pengakuan sebagai aset, aset tetap yang nilai wajarnya dapat
diukur secara andal akan dicatat pada nilai revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal
revaluasi setelah dikurangi akumulasi depresiasi dan akumulasi kerugian penurunan
nilai aset. Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup guna
meyakinkan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang
ditentukan dengan nilai wajar pada tanggal neraca.

Jika nilai tercatat aset meningkat sebagai akibat revaluasi, maka kenaikan nilai
tersebut akan diakui pada pendapatan komprehensif lain dan diakumulasikan ke
ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun, peningkatan nilai tersebut akan diakui
pada laporan laba rugi hingga sebesar penurunan nilai aset akibat revaluasi yang
pernah diakui sebelumnya pada laporan laba rugi. Jika nilai tercatat aset menurun
sebagai akibat revaluasi, maka penurunan nilai tersebut akan diakui dalam laporan
laba rugi. Namun, penurunan tersebut akan diakui pada pendapatan komprehensif lain
sampai selama tidak melebihi kenaikan nilai akibat revaluasi yang telah diakui untuk
aset tersebut.
Depresiasi adalah alokasi sistematis dari jumlah yang dapat disusutkan atas suatu aset
selama masa manfaatnya. Jumlah yang dapat disusutkan adalah biaya perolehan aset
atau jumlah lain yang dapat menggantikan biaya perolehan, dikurangi nilai residunya.
Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan yang signifikan terhadap
biaya total aset tersebut harus didepresiasi secara terpisah. Beban penyusutan untuk
setiap periode diakui dalam laporan laba rugi, kecuali jika beban tersebut diakui
sebagai jumlah tercatat aset lain. Metode penyusutan yang digunakan harus
mencerminkan pola manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan untuk
dikonsumsi dari aset tersebut oleh entitas.

Nilai residu adalah jumlah yang yang diperkirakan akan diperoleh entitas saat ini dari
pelepasan aset, setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan aset, jika aset telah
mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya.

Jumlah tercatat aset tetap akan dihentikan pengakuannya jika :

(a) dilepaskan

(b) tidak ada manfaat ekonomi masa depan yagn diharapkan dari penggunaan atau

pelepasannya.

II. RUANG LINGKUP

IAS 16 menguraikan perlakuan akuntansi untuk properti, pabrik, dan peralatan jika
tidak ada standar lain mensyaratkan atau mengizinkan suatu perlakuan akuntansi yang
berbeda. Standar ini tidak berlaku kepada :

1. Properti, pabrik dan peralatan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual
menurut IFRS 5 tentang Aset Tidak Lancar yang dimiliki untuk dijual dan Operasi
Yang Dihentikan.

2. Aset biologi yang terkait dengan aktivitas pertanian.

3. Pengakuan dan pengukuran dari eksplorasi dan penilaian aset

4. Hak atas mineral dan cadangan mineral seperti minyak bumi, gas alam, dan sumber
daya alam yang tidak dapat diperbaharui
III. PENGAKUAN

Harga perolehan dari suatu pos propeti, pabrik dan peralatan akan diakui
sebagai suatu aset jika aset tersebut memiliki manfaat ekonomis di masa depan yang
berkaitan dengan pos tersebut dapat diukur secara andal. IAS 16 berlaku ketika kedua
kriteria pengakuan dasar ini untuk menentukan apakah pengeluaran memenuhi syarat
sebagai aset dan tidak mempertimbangkan kriteria peningkatan utilitas atau masa
manfaat. Selama kegiatan operasionalnya, suatu entitas akan memperoleh pos-pos
tersebut yang memiliki nilai yang tidak signifikan secara individu, tapi akan
memenuhi syarat sebagai aset berdasarkan kedua kriteria pengakuan dasar ini. Karena
sangat sulit bagi entitas untuk mencatat setiap pos tersebut secara individu, standar ini
memperbolehkan secara agregrat asalkan aset ini memiliki sifat yang sama. Tapi
dalam praktiknya, entitas mengadopsi kebijakan akuntansi untuk unit pengukur dan
pengakuan dari pengeluaran sebagai suatu beban atau suatu aset.

Walaupun kedua kriteria dasar ini dapat diterapkan untuk suku cadang dan
peralatan servis, yang biasanya dicatat sebagai persediaan dan diakui di dalam laporan
laba rugi pada saat dikonsumsi. Tapi, item suku cadang yang besar dan suku cadang
dan peralatan servis yang dapat digunakan hanya berhubungan dengan pos properti,
pabrik dan peralatan, diperlakukan sebagai properti, pabrik dan peralatan.

Suatu entitas mungkin ada pengeluaran yang akan meningkatkan manfaat


ekonomis masa depan secara langsung dari setiap aset tertentu, dan pada waktu yang
bersamaan, memastikan arus manfaat ekonomis yang berkaitan dengan properti,
pabik, dan peralatan tersebut. Contoh, instalasi sistem pencegahan polusi udara yang
berkaitan dengan peraturan lingkungan hidup untuk mendirikan dan menjalankan
pabrik pengolahan semen. Pos dari pengeluaran ini memenuhi syarat sebagai aset
karena sistem pencegahan polusi udara ini adalah persyaratan penting untuk
menjalankan pabrik.

Suatu entitas mungkin mengeluarkan biaya inspeksi dan pertukaran atas pos
properti, pabrik dan peralatan. Contoh dari biaya inspeksi adalah pengeluaran yang
diperlukan secara periodik untuk inspeksi kapal laut dan pesawat terbang untuk
melakukan sertifikasi kelayakan terbang dan berlayar. Pengeluaran seperti ini
dianggap sebagai aset menurut standar ini.
IV. PENGUKURAN PADA SAAT PENGAKUAN

ELEMEN HARGA PEROLEHAN

- Harga pembeliannya, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak dapat
direstitusi, setelah dikurangi potongan pembelian dan rabat yang diberikan oleh
pemasok.

- Biaya biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke
lokasi dan kondisi yang diinginkan, agar aset tersebut siap digunakan untuk tujuan
yang dimaksudkan oleh entitas tersebut. Contoh : biaya transportasi aset ke lokasi,
biaya persiapan lokasi, biaya instalasi dan biaya perakitan, renumerasi, tunjangan
dan imbalan yang dibayarkan kepada karyawan terkait dengan operasi aset, dan
biaya pinjaman. Biaya biaya yang tidak secara langsung diatribusikan, seperti
biaya iklan dan biaya pelatihan, harus dibebankan sebagai beban pada periode
terjadinya.

Jika suatu aset dibangun sendiri, maka prinsip tersebut yang berlaku pada aset
yang dibeli yang akan diterapkan, apabila suatu entitas memproduksi barang yang
serupa dijual, maka biaya pembangunan aset tersebut dimasukkan sebagai
properti, pabrik dan peralatan yang ditentukan dengan cara yang sama sebagai
barang yang dijual, kecuali elemen laba dieliminasi.

Contoh :

Excellen Inc., melakukan instalasi pabrik yang baru pada fasilitas produksinya dan
mengeluarkan biaya biaya sebagai berikut :

1. Biaya pabrik (biaya per faktur pemasok ditambah pajak)


$10.500.000

2. Penyerahan awal dan biaya penanganan


$500.000

3. Biaya penyiapan lahan pabrik


$500.000

4. Konsultan untuk saran atas akuisisi pabrik


$650.000
5. Beban bunga yang dibayarkan kepada pemasok pabrik
untuk $300.000

penangguhan kredit

6. Estimasi biaya pelepasan yang terjadi setelah enam


tahun $1.000.000

7. Kerugian operasional sebelum produksi komersial


$1.000.000

Biaya biaya manakah yang dapat dikapitalisasi sebagai bagian dari properti,
pabrik dan peralatan sesuai dengan IAS 16?

Jawab :

Biaya biaya yang dapat dikapitalisasi sebagai biaya yang diatribusikan secara
langsung :

1. Biaya pabrik $10.600.000

2. Penyerahan awal dan biaya penanganan $500.000

3. Biaya penyiapan lahan pabrik


$500.000

4. Biaya konsultan $650.000

5. Estimasi biaya pelepasan yang terjadi setelah 6 tahun $1.000.000

$13.150.000

V. PENGUKURAN HARGA PEROLEHAN

Harga perolehan suatu pos dari properti, pabrik dan peralatan diukur pada tanggal
akuisisinya menurut harga setara kas. Jika pembayaran atas aset ditangguhkan
melampaui syarat kredit normal, maka selisih setara harga kas dengan total
pembayaran yang dilakukan harus diakui sebagai biaya pembiayaan (finance cost).
Biaya pembiayaan harus dibukukan sebagai beban selama periode kredit kecuali
bunga mempunyai kualifikasi untuk dikapitalisasi sesuai dengan IAS 23 tentang biaya
pinjaman.
Jika suatu aset dibeli dengan cara tukar menukar dengan aset lain, maka aset yang
dibeli harus diukur menurut nilai wajarnya, kecuali transaksi penukaran lemah dalam
substansi komersialnya atau nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal. Jika hal
ini terjadi, maka aset yang dibeli harus diukur menurut nilai tercatatnya yang telah
ditukar dalam transaksi tukar menukar tersebut. Nilai tercatat dari aset berarti harga
perolehan dikurang dengan akumulasi penyusutan dan rugi karena penurunan nilai
(impairment loss). Transaksi tukar menukar akan mempunyai substansi komersial jika
ada kenaikan di dalam arus kas atau peningkatan nilai operasi entitas, yang
disebabkan oleh aset yang diterima dari transaksi tukar menukar tersebut.

Jika suatu entitas menerima hibah atau bantuan untuk perolehan suatu aset, maka
nilai tercatatnya harus dikurangi.

VI. PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN

IAS 16 memberikan suatu opsi kebijakan akuntansi kepada entitas yang


menggunakan model harga perolehan atau model revaluasi. Entitas tersebut harus
menerapkan kebijakan tersebut bagi seluruh kelompok dari properti, pabrik, dan
peralatan. Contoh dari kelompok properti, pabrik dan peralatan : tanah, tanah berikut
bangunannya, pabrik, dan mesin-mesin, kendaraan bermotor, peralatan kantor, dan
perabot kantor.

Contoh :

ABC Inc., memiliki lima buah kapal dalam bisnisnya yang digunakan sebagai
properti, pabrik dan peralatan. Dapatkah entitas mencatat tiga buah kapal menurut
model harga perolehan (cost model) dan sisanya dua buah kapal menurut model
revaluasi?

Pada IAS 16 mengizinkan suatu entitas untuk memilih antara model harga
perolehan (cost model) atau model revaluasi. IAS 16 tidak mengizinkan suatu entitas
untuk menerapkan dua model yang berbeda untuk kelompok properti, pabrik dan
peralatan yang sama. Karena itu, ABC Inc., tidak diijinkan untuk mencatat tiga buah
kapal menurut model harga perolehan (cost model) dan mencatat dua buah kapal
lainnya menurut model revaluasi, karena melanggar standar yang berlaku.

AKUISISI DAN PENILAIAN PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN


Sebagian banyak perusahaan menggunakan biaya historis sebagai dasar untuk
menilai properti, pabrik, dan peralatan. Biaya historis (historical cost) diukur oeh kas
atau harga ekuivalen kas untuk memperoleh aktiva dan membawanya ke lokasi serta
kondisi yang diperlukan untuk tujuan penggunaannya. Yang biasanya termasuk dalam
biaya aktiva adalah, harga beli, ongkos angkut, pajak penjualan, biaya instalasi aktiva
produktif. Selain biaya tersebut juga sering ditambahkan setiap biaya terkait yang
muncul setelah akuisisi aktiva seperti penambahan, perbaikan , atau penggantian, jika
hal itu memberikan jasa potensial di masa depan. Jika tidak, maka biaya-biaya
tersebut dianggap sebagai beban.

Alasan utama digunakannya biaya historis dalam perhitungan akuisisi aktiva tetap
adalah:

1. Pada tanggal akuisisi, biaya merefleksikan nilai wajar.

2. Biaya historis melibatkan biaya actual, bukan transaksi hipotetis, sehingga

merupakan hal yang paling dapat diandalkan .

3. Keuntungan serta kerugian sebaiknya tidak diantisipasi tetapi harus diakui ketika

aktiva dijual.

a. Biaya tanah

Adalah sema pengeluaran untuk mendapatkan tanah dan membuatnya siap


digunakan. Biaya tanah mencakup :

- Harga beli

- Biaya penutupan, seperti sertifiat hak milik, honor pengacara dan honor
pencatatan.

- Biaya yang dikeluarkan untuk mempersiapkan tanah hingga siap


digunakan, seperti meratakan , menimbun, mengosongkan dan
membersihkan.

- Asumsi mengenai hak gadai beban atau hipotik.

- Setiap perbaikan tanah lainnya yang memiliki umur tidak terbatas.

b. Biaya Bangunan
Biaya bangunan harus melibatkan semua pengeluaran yang berhubungan langsung
dengan akuisisi dan konstruksinya. Biaya bangunan meliputi:

- Biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead yang terjadi selama konstruksi .

- Honor professional serta ijin mendirikan bangunan.

Jika tanah bibeli beserta bangunan lama diatasnya, maka biaya penghancuran
bangunan tersebut dikurangi dengan nilai sisanya merupakan biaya penyiapan
agar dapat digunakan sesuai tujuan dan berkaitan dengan tanah ketimbang
bangunan.

c. Biaya peralatan

Istilah peralatan dalam akuntansi meliputi peralatan pengiriman, peralatan kantor,


mesin-mesin ,perabotan dan perkakas, perlengkapan tetap, peralan pabrik, dan
aktiva sejenis lainnya.biaya aktiva seperti ini meliputi:

- Harga beli.

- Biaya pengangkutan dan penanganan.

- Asuransi peralatan ketika masih dalam perjalanan.

- Biaya fondasi khusus jika diperlukan

- Biaya pemasangan dan perakitan.

- Biaya untuk menjalankan uji coba.

d. Aktiva yang dibuat sendiri (self constructed assets)

Perusahaan dapat menangani biaya tidak langsung dngan salah satu dari dua cara
berikut:

- Tidak membebankan overhead tetap ke pembuatan aktiva. Argumentasi


utama atas perlakuan ini adalah bahwa overhead tidak langsung biasanya
bersifat tetap dan tidak meningkat akibat pembangunan suatu abrik atau
peralatan.

- Membebankan bagian dari total overhead ke proses konstruksi .


pendekatan ini disebut pendekatan biaya penuh (full costing approach),
akan sesuai jika pengusaha percaya bahwa biaya melekat pada semua
produk dan aktiva yang dibuat.

e. Biaya bunga selama konstruksi .

Tiga pendekatan yang diusulkan untuk memperlakukan bunga yang muncul dalam
pembiayaan konstruksiproperti, pabrik, dan peralatan:

- Tidak mengkapitalisasi beban bunga selama periode konstuksi. Menurut


pendekatan ini, bunga dianggap biaya pembiayaan dan bukan sebagai
biaya konstruksi. Jadi dapat disimpulkan bahwa jika perusahaan
menggunakan pembiayaan dengan saham alih-alih dengan hutang, maka
biaya bunga tidak akan muncul.

- Membebankan biaya konstruksi atas semua biaya dana yang digunakan,


baik yang dapat diidentifikasi maupun yang tidak. Metode ini menyatakan
bahwa konstruksiharus menyertakan biaya pembiayaan,apakah berupa kas,
utang, atau saham. Suatu aktiva harus dibebankan dengan semua biaya
yang diperlukan untuk membuat aktiva tersebut siap digunakan. Bunga,
baik actual maupun terkait (imputed), merupakan biaya bangunan, seperti
halnya dengan biaya tenaga kerja dan bahan.

- Hanya mengkapitalisasi biaya bunga aktual yang terjadi selama konstruksi.


Pendekatan ini sebagian sesuai dengan logika yang dipakai dalam
pendekatan kedua bahwa bunga merupakan biaya, tidak ubahnya seperti
tenaga kerja dan bahan baku. Namun pendekatan ini hanya
mengkapitalisasi biaya bunga yang muncul melalui pembiayaan dengan
hutang. (Yang berarti bahwa pendekatan ini tidak mencoba menentukan
biaya pembiayaan dengan saham). Menerburut pendekataan ini.
Perusahaan yang menggunakan pembiayaan dengan hutang akan memiliki
aktiva berbiaya lebih tinggi dari pada perusahaan lainnya yang
menggunakan pembiayaan dengan saham. Hasil yang diperoleh dari
pendekatan ini akan dianggap tidak memuaskan karena biaya aktiva harus
sama tanpa bergantung apakah yang digunakan adalah pembiayaan dengan
kas, hutang atau saham.

Pengkapitalisasian bunga aktual (dengan modifikasi) adalah pendekatan yang


disarankan dalam prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum (GAAP).
Metode ini sesuai dengan konsep bahwa biaya historis perolehan aktiva
melibatkan semua biaya (termasuk bunga) yang dikeluarkan untuk membuat
aktiva tersebut berada dalam kondisi serta lokasi yang diperlukan untuk
digunakan.

Untuk menerapkan pendekatan umum ini, tiga item harus dipertimbangkan :

1. Aktiva yang memenuhi kualifikasi.

2. Periode kapitalisasi.

3. Jumlah yang dikapitalisasi.

Aktiva yang Memenuhi Kualifikasi. Untuk memenuhi kualifikasi sebagian


kapitalisasi bunga, aktiva harus memiliki periode waktu untuk menyiapkannya
agar dapat digunakan. Pengkapitalisasian biaya bunga dimulai dari pengeluaran
pertama yang berhubungan dengan aktiva. Kapitalisasi ini akan terus berlanjut
hingga aktiva selesai dan siap digunakan.

Aktiva yang memenuhi kualifikasi sebagai kapitalisasi biaya bunga mencakup


aktiva yang dibuat untuk digunakan sendiri (seperti bangunan, pabrik, dan mesin-
mesin besar) serta aktiva yang ditujukan untuk dijual atau dilease yang dibuat atau
diproduksi sebagai proyek diskrit (misalnya,kapal laut atau pengembang real
estat).

Contoh aktiva yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai kapitalisasi bunga


adalah (1) aktiva yang sedang digunakan atau siap digunakan, dan (2) aktiva yang
digunakan dalam aktivas perusahaan untuk menghasilkan laba dan tidak
digunakan dalam aktivas yang diperlukan untuk membuatnya siap digunakan
(seperti tanah yang tidak dikembangkan dan aktiva yang tidak digunakan karena
usang, kelebihan kapasitas, atau perlu direparasi).

Periode Kapitalisasi (capitalization period) adalah periode waktu dimana


bunga harus dikapitalisasi. Yang dimulai apabila ketiga komdisi berikut terjadi :

a) Pengeluaran untuk aktiva telah dilakukan.

b) Aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapakan aktiva agar dapat


digunakan sedang berjalan.

c) Biaya bunga telah terjadi.


Kapitalisasi bunga akan terus berlangsung selama ketiga kondisi tersebut ada,
sementara periode kapitalisasi akan berakhir apabila aktiva telah selesai dan siap
untuk digunakan

Jumlah yang Harus Dikapitalisasi

Jumlah bunga yang akan dikapitalisasi dibatasi hingga biaya bunga aktual
terendah yang terjadi selama periode berjalan atau bunga yang dapat dihindarkan.
Bunga yang dapat dihindarkan (avoidable interest) adalah jumlah biaya bunga
selama periode berjalan yang secara teoritis dapat dihindarkan jika pengeluaran
untuk membeli aktiva tidak dilakukan. Dalam situasi apapun , biaya bunga tidak
boleh mencakup biaya modal yang dibebankan ke ekuitas pemegang saham.

Untuk menerapkan konsep bunga yang dapat dihindarkan , sebuah perusahaan


menentukan jumlah bunga potensial yang dapat dikapitalisasi selama periode
akuntansi dengan mengalikan suku bunga dengan akumulasi pengeluaran rata-
ratatertimbang dari aktiva (weighted-average accumulated expenditures).yang
memenuhi kualifikasi selama periode berjalan.

Dalam menghitung akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang, sebuah


perusahaan menimbang pengeluaran konstruksi dengan jumlah waktu (bagian dari
tahun atau periode akuntansi) dimana terdapat biaya bunga dari pengeluaran
tersebut.

Suku bunga

Prinsip yang digunakan dalam memilih suku bunga yang tepat untuk
diaplikasikan pada akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang adalah:

Untuk bagian akumulasi pengeluaran rata-rata tertimbang yang kurang dari


atau sama dengan jumlah yang secara khusus dipinjam untuk membiayai
pembuatan aktiva, gunakan suku bunga yang terjadi atas pinjaman khusus
tersebut.

Untuk bagian pengeluaran rata-rata tertimbang yang lebih besar dari


hutang yang dipinjam khusus untuk membiayai pembuatan aktiva ,
gunakan suku bunga rata-rata tertimbang yang terjadi atas semua hutang
lainnya yang beredar selama periode berjalan.
Dua masalah yang berhubungan denag kapitlisasi bunga yang memerlukan
perhatian khusus adalah:

1. Pengeluaran untuk tanah.ketika sebuah perusahaan membeli tanah untuk


tujuan mengembangkannya untuk kegunaan tertentu, maka biaya bunga yang
berhubungan dengan pengeluaran tersebut dapat dikualifikasi sebagai
kapitalisasi bunga.jika tanh dibeli untuk dijadikan lokasi suatu bangunan
(seperti lokasi pabrik), maka maka biaya bunga yang dikapitalisasi selama
periode konstruksi merupakan bagian dari biaya pabrik, bukan tanah.
Sebaliknya apabila tanah dikembangkan untuk dijual maka setiap biaya bunga
yang dikapitalisasi harus menjadi biaya akuisisi tanah yang sedang
dikembangkan itu. Tetapi jika pembelian tanah itu untuk spekulasi, maka
biaya bunga tidak perlu dikapitalisasi, karena aktiva tersebut telah siap untuk
digunakan.

2. Pendapatan bunga. Perusahaan sering kali meminjam uang untuk membiayai


pembuatan aktiva. Perusahaan secara temporer meginvestasikan kelebihan
dana pinjaman dalam sekuritas berbunga hingga dana tersebut dibutuhkan
untuk dana konstruksi. Selama tahap awal konstruksi, pendapatan bunga yang
dihasilkan dapat melebihi biaya bunga atas dana pinjaman.

f. Observasi

Persyaratan kapitalisasi bunga, meski telah deberlakukan secara meluas di seluruh


dunia, sekarang masih diperdebatkan. Dari sudut pandang konseptual, banyak
yang meyakini bahwa, karena alasan-alasan yang disebutkan sebelumnya,
perusahaan seharusnya tidak mengkapitalisasi biaya bunga atau seluruh biaya
bunga, aktual atau tertangguh.

PENILAIAN

Seperti aktiva lainnya, perusahaan sebaiknya mencatat properti, pabrik, dan


bangunan pada nilai pasar wajar yang diberikan pada saat akuisisi atau nilai wajar
aktiva yang diterima, bergantung pada mana yang memiliki bukti lebih jelas.

Diskon Tunai

Terdapat dua sudut pandang dalam hal ini. Menurut pendekatan pertama, diskon-
baik diambil atau tidak dianggap sebagai pengurang biaya aktiva. Alasannya adalah
bahwa biaya riil dari aktiva merupakan kas atau harga ekuivalenkas aktiva.
Disamping itu, beberapa pihak berpendapat bahwa syarat diskon tunai ini sangat
menarik sehingga kegagalan untuk mengambilnya menunjukan kesalahan manajemen
atau inefisiensi.

Pendukung pendekatan lainnya berpendapat bahwa diskon tunai tidak selalu


harus dianggap sebagai kerugian karena syaratnya mungkin tidak menguntungkan
atau tidak mungkin tidak bijaksana bagi perusahaan untuk mengambil diskon itu.saat
ini metode masih digunakan, dalam prakteknya, yang lebih disukai adalah metode
pertama.

Kontrak Pembayaran yang ditangguhkan

Aktiva tetap sering kali dibeli atas dasar kontrak kredit jangka panjang dengan
menggunakan wesel, hipotik, obligasi, atau kewajiban peralatan. Agar merefleksikan
biaya secara tepat, aktiva yang dibeli dengan kontrak kredit jangka panjang harus
diperhitungkan pada nilai sekarang dari pertimbangan yang dipertukarkan antara
pihak-pihak yang melakukan kontrak pada tanggal transaksi.

Pembelian lump sum

Permasalahan khusus dalam penentuan harga aktiva tetap muncul ketika


perusahaan membeli sekelompok aktiva tetap pada harga lump sum (lump sum
price)tunggal. Apabila situasi semacam ini terjadi,perusahaan mengalokasikan total
biaya diantara berbagai aktiva berdasarkan nilai pasar wajar relatifnya. Asumsinya
adalah bahwa biaya-biaya ini akan bervariasi dalam proporsi langsung terhadap nilai
wajar. Prinsip yang sama juga diaplikasian untuk mengalokasikan biaya lump sum di
antara pos-pos persediaan yang berbeda.

Contoh ;

Perusahaan ABC memutuskan untuk membeli beberapa aktiva yaitu beberapa


aktiva berupa, tanah bangunan , mobil dari PT CDE seharga Rp500.000.000,00.
PT CDE sedang dalam proses likuidasi dan aktiva yang dijual adalah:

Harga Buku Harga Pasar


Tanah Rp 200.000.000,- Rp 250.000.000,00

Bangunan Hotel Rp 200.000.000,- Rp 210.000.000,00

Mobil Rp100.000.000,- Rp 90.000.000,00

Rp 500.000.000,- RP 550.000.000,00

Harga beli sebesar Rp 500.000.000,00 akan dialokasikan Perusahaan ABC atas


dasar nilai pasar wajar relative( Dengan asumsi identifikasi khusus terhadap biaya
adalah tidak praktis)

Penerbitan Saham

Apabila property di peroleh perusahaan melalui penerbitan sekuritas seperti saham


biasa, maka biaya property itu tidak dapat diukur secara tepat dengan nilai pari atau
nilai ditetapkan saham tersebut.Jika saham itu sedang diperdangangkan secara aktif,
maka nilai pasar saham yang diterbitkan merupakan indikasi yang wajar atas biaya
property yang diperoleh. Saham merupakan ukuran yang baik atas harga ekuivalen
kas berjalan.

Pertukaran Aktiva Non Moneter ( Nonmonetary assets)

Akuntansi yang biasa untuk pertukaran aktiva nonmoneter harus didasarkan atas
nilai wajar aktiva yang diberikan atau nilai wajar aktiva yang diterima, mana yang
memiliki bukti lebih jelas. Jadi, semua keuntungan atau kerugian dari pertukaran
harus diakui. Dasar pemikiran untuk pengakuan segera ini adalah bahwa sebagian
transaksi menpunyai substansi komersial, dan karena itu, suatu keuntungan atau
kerugian harus segera diakui.

Pertukaran-Situasi Kerugian. Apabila aktiva nonmoneter yang sama dipertukarkan


dan menghasilkan kerugian, maka kerugian itu harus diakui dengan segera.
Pemikiran yang mendasarinya : Perusahaan seharusnya tidak menilai aktiva lebih
daripada harga kasnya yang setara : jika kerugian ditangguhkan, aktiva akan dinilai
terlalu tinggi daripada yang seharusnya (overstate). Oleh karena itu, perusahaaan
mengakui kerugian dengan segera terlepas apakah pertukaran itu mempunyai
substansi komersial atau tidak.

Pertukaran-situasi Keuntungan. Mempunyai substansi komersial. Sekarang


pertimbangkan dimana pertukaran nonmoneter mempunyai substansi komersial dan
keuntungan diperoleh. Dalam hal ini, perusahaan mencatat biaya aktiva nonmoneter
yang diterima untuk ditukar dengan aktiva nonmoneter yang lain pada nilai wajar dari
aktiva yang diberikan, dan dengan segera mengakui keuntungan. Perusahaan dapat
memakai nilai wajar dari aktiva yang diterima hanya jika nilai wajar itu terbukti lebih
jelas daripada nilai wajar yang diberikan. (belum selesai )

Akuntansi untuk Kontribusi

Perusahaan kadang-kadang dapat menjadi penerima atau pembeli kontribusi


(donasi atau hadiah ). Kontribusi semacam itu disebut sebagai transfer tanpa timbal
balik atau ( nonreciprocal transfers) karena mereka menstransfer aktiva pada satu
arah. Kontribusi ini selain dapat berubah berbagai jenis aktiva (seperti kas, sekuritas,
tanah, bangunan, atau penggunaan fasilitas), tetapi juga dapat berupa penghapusan
hutang.

Metode Penilaian Aktiva Lainnya

Pengecualian dari prinsip biaya historis untuk akuisisi aktiva tetap melalui donasi
adalah didasarkan atas nilai wajar. Pengecualian lainnya adalah konsep biaya
penghematan ( prudent cost). Konsep ini menyatakan bahwa jika karena beberapa
alasan perusahaan mengabaikan harga tertentu dan pada awalnya membayar terlalu
banyak untuk suatu aktiva, maka secra teoritis membebankan suatu kerugian

BIAYA SETELAH AKUISISI

Secara umum, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh manfaat masa depan
yang lebih besar harus dikapitalisasi, sementara pengeluaran yang hanya ditujukan
untuk mempertahankan tingkat pelayanan tertentu harus dianggap sebagai beban.
Agar biaya-biaya ini dapat dikapitalisasi, tiga kondisi berikut harus dipenuhi :

1. Umur manfaat aktiva harus meningkat.

2. Kuantitas unit yang diproduksi oleh aktiva harus meningkat.

3. Kualitas unit yang diproduksi harus ditingkatkan.

Jenis-jenis pengeluaran utama :

1. Penambahan

Penambahan ( additions) umumnya tidak menimbulkan masalah akuntansi yang


besar. Menurut definisi setiap penambahan pada aktiva tetap akan
dikapitalisasikan karena aktiva baru telah diciptakan. Sebagai contoh,
penambahan suatu bangunan sayap pada rumah sakit, atau penambahan system
pendingin pada sebuah kantor, akan meningkatkan potensi pelayanan dari fasilitas
tersebut. Pengeluaran semacam itu harus dikapitalisasi dan ditandingkan dengan
pendapatan yang akan dihasilkan di periode masa depan.

2. Perbaikan dan Penggantian

Perusahaan mengganti aktiva ke aktiva lainnya melelui perbaikan dan pergantian.


Perbaikan (betterment) adalah penggantian aktiva yang yang sekarang sedang
digunakan dengan aktiva lain yang lebih baik. Penggantian adalah(replacement)
adalah subtitusi yang lama dengan aktiva yang sama.

Untuk mengetahui apakah aktiva yang baru itu meningkatkan potensi atau hanya
meningkatkan pelayanan saja maka kita bisa melihat melalui pendekatan.

a. Menggunakan pendekatan substitusi

Pendekatan substitusi merupakan prosedur yang benar jika jumlah tercatat dari
aktiva lama tersedia. Jika nilai tercatat lama tidak diketahui cukup dengan
menghapus biaya aktiva lama dengan aktiva baru.

b. Mengapitalisasi biaya baru

Mengkapitulasi perbaiakn dan mencatat jumlah aktiva lama ke dalam buku.

c. Embebankan ke akumulasi penyusutan

Sewakttu-waktu kuntitas atau kualitas aktiva itu tidak bisa ditingkatkan tetapi
dapat diperpanjang usianya dalm hal ini perusahaan dapat mendebet
pengeluaran ke akumulasi penyusustan dan bukan keakun aktiva.

3. Penyusanan Kembali dan Pemasangan kembali

Biaya penyusunan kembali dan pemasangan kembali merupakan pengeluaran


yang ditujukan untuk memberikan manfaat diperiode masa depan.

4. Reparasi

a. Reparasi biasa

Adalah pengeluaran biaya untuk mempertahankan aktiva tetap agar aktiva


tetap dalam kondisi siap operasi
b. Reparasi besar

Jika terjadi reparasi besar maka beberapa periode akan menerima manfaat dan
biaya itu harus diperlukan sebagai penambahan perbaikan atau penggantian

Ikhtisar Biaya Setelah Akuisisi

Mengkapitulasi biaya penambahan ke akun aktiva.

a) Nilai tercetak diketahui : hilangkan biaya dan akumulasi penyusutan aktiva


lama, dengan mengakui setiap keuntungan dan kerugian. Kapitalisasi biaya
perbaikan/penggantian.

b) Nilai tercatat tidak diketahui :

- Jika umur manfaat aktiva diperpanjang maka debet akumulasi


penyusutan untuk biaya perbaikan/penggantian.

- Jika kuantitas atau kualitas aktiva ditingkatkan maka kapitulasi biaya


perbaikan/penggantian ke akun aktiva.

- Jika biaya penyusunan awal diketahui perlakuan biaya penyusunan


kembali/pemasangan kembali sebagai penggantian(nilai tercatat
diketahui)

- Jika biaya pemasangan awal tidak diketahui dan biaya penyususnan


kembali/pemasanhgan kembali berjumlah material dan bermanfaat
pada peride masa depan maka kapitulasi sebagai aktiva.

- Jika biaya pemasangan awaql tidak diketahui dan biaya


penyusunan/pemasangan kembali tidak material jumlah atau manfaat
periode masa depan diragukan maka bebankan biaya jika terjadi.

a) Biasa : bebankan biaya reparasi ketika terjadi

b) Besar : jika layak perlakukan sebagai penambahan, perbaikan atau


penggantian

DISPOISISI AKTIVA TETAP

Sebuah perusahaan mungkin dapat menarik aktiva tetap atau melepas sebagai
penjualan, pertukaran,konvensi terpaksa atau pembuangan. Tanpa memperhatikan
waktu pelepasan, penyusutan harus dihitung hingga tanggal dispoisisi. Kemudian
semua akun yang berhubungan dengan aktiva yang ditarik itu harus dihilangkan.
Umumnya nilai buku aktiva tetap tertentutidak sama dengan nilai pelepasannya.
Akibatnya timbul keuntungan atau kerugian. Penyebabnya adalah penyusutan
merupakan estimasi atas alokasi biaya bukan proses penilaian keuntungan atau
kerugian merupakan koreksi laba bersih untuk tahun-tahun selama aktiva tetap
digunakan.

1. Penjualan Aktiva Tetap

Penyusutan harus dicatat selama periode waktu antara tanggal ayat jurnal
penyusutan terakhir dibuat dan tanggal penjualan. Dalam hal ini akan terjadi
penjurnalan sebagai berikut

Bebab Penyusutan XXX

Akumulasai penyusutan XXX

Ayat jurnal untuk penjualan aktiva

Kas XXX

Akumulasi penyusutan XXX

Mesin XXX

Keuntungan atas pelepasan XXX

2. Konversi Terpaksa

Kadang-kadang pelayanan suatu aktiva berakhir karena konversi terpaksa


dengan jenis seperti kebakaran,kebanjiran,pencurian atau pembebasan. Selisih
yang dipulihkan dan nilai buku aktiva tersebut jika ada dilaporkan sebagai
keuntungan atau kerugian. Keuntungan atau kerugian akan diperlakukan
dengan cara yang tidak berbeda dengan jenis dispoisisi lainnya. Dalam
beberapa kasus, keuntungan atau kerugian sering kali dilaporkan dalam bagian
pos luarbiasa pada laporan laba-rugi.

3. Masalah Lainnya

Jika suatu aktiva dibuang tanpa ada pemulihan kas, maka kerugian harus
diakui dalam jumlah yang sama dengan nilai buku aktiva. Jika terdapat nilai
sisa maka keuntungan atau kerugian yang terjadi merupakan selisish antara
nilai sisa dan nilai bukunya.jika aktiva masih dapat digunakan namun telah
disusutkan secara penuh maka aktiva tersebut dapat dicatat dalam pembukuan
pada biaya historis dikurangi penyusutan.

VII. PENGHENTIAN PENGAKUAN

Jika tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan penggunaannya
atau dihentikan, maka harus dihentikan pengakuannya. Keuntungan atau
kerugian yang timbul akibat penghentian pengakuan dari suatu pos properti,
pabrik, dan peralatan harus dimasukkan di dalam laba rugi jika pos tersebut
dihentikan pengakuannya dan tidak diklasifikasikan sebagai pendapatan.

VIII. PENGUNGKAPAN

Terdiri dari :

Dasar pengukuran untuk penentuan jumlah tercatat kotor

Metode penyusutan

Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan

Jumlah yang tercatat kotor dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode

Penambahan

Aset yang diklasifikasikan sebagai yang tersedia untuk dijual

Akuisisi melalui kombinasi bisnis

Penyusutan

Perubahan lainnya

Eksistensi dan jumlah pembatasan atas hak kepemilikan

Aset dalam konstruksi

Komitmen kontraktual atas akuisisi properti, pabrik dan peralatan

Kompensasi atas aset yang mengalami penurunan nilai, hilang, atau dihentikan

Apabila properti, pabrik, dan peralatan dinyatakan atas dasar jumlah yang direvaluasi,
maka item yang harus diungkapkan :

- Tanggal efektif penilaian


- Apakah penilai independen telah dilibatkan

- Metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam penilaian nilai wajar

- Penjelasan nilai wajar yang diukur secara langsung berdasarkan harga yang dapat
diamati dalam suatu pasar aktif, transaksi pasar terakhir yang wajar, atau diestimasi
dengan teknik lainnya

- Untuk setiap kelompok aset tetap yang direvaluasi, jumlah tercatat aset yang telah
diakui jika kelompok aset tidak direvaluasi

- Surplus revaluasi yang menunjukkan perubahan selama periode dan setiap


pembatasan atas distribusi kepada pemegang saham.

Anda mungkin juga menyukai