Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) adalah perdarahan saluran cerna proksimal
diatas ligamentum Treitz. Untuk keperluan klinik, dibedakan perdarahan varises esofagus dan
non varises. Manifestasi klinis perdarahan saluran cerna bagian atas bisa beragam tergantung
lama, kecepatan, banyak sedikitnya darah yang hilang. Pasien kemungkinan datang dengan 1)
anemia defisiensi besi akibat perdarahan tersembunyi yang berlangsung lama, 2) hematemesis
dan atau melena disertai atau tanpa anemia, dengan atau tanpa gangguan hemodinamik; derajat
hipovolemi menentukan tingkat kegawatan pasien.5
Hematemesis (muntah darah) merupakan keadaan yang diakibatkan oleh perdarahan
saluran cerna bagian atas (upper gastroinstestinal tract). Kebanyakan kasus hematemesis adalah
keadaan gawat di rumah sakit yang menimbulkan 8-14% kematian di rumah sakit. Faktor utama
yang berperan dalam tingginya angka kematian adalah kegagalan untuk menilai masalah ini
sebagai keadaan klinis yang gawat dan kesalahan diagnostik dalam menentukan sumber
perdarahan. Perdarahan karena ulkus peptikum menempati urutan terbanyak di negara barat
sedangkan di Indonesia perdarahan karena ruptura varises esofagus merupakan penyebab
tersering yaitu sekitar 50% - 60%, gastritis erosifa hemoragikasekitar 25% - 30%, ulkus
peptikum sekitar 10% - 15% dan karena sebab lainnya < 5%. Untuk memeriksa perdarahan
saluran cerna atas dilakukan pemeriksaan endoskopi untuk menegakkan diagnosa tentang
penyebab yang dapat menimbulkan perdarahan saluran cerna bagian atas. Tatalaksana pasien
bertujuan untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik, menghentikan perdarahan, dan
mencegah perdarahan ulang.1,5
Mortalitas secara keseluruhan masih tinggi yaitu sekitar 25%, kematian pada penderita
ruptur varises bisa mencapai 60% sedangkan kematian pada perdarahan non varises sekitar 9% -
12%. Angka kematian di berbagai belahan dunia menunjukkan jumlah yang cukup tinggi,
terutama di Indonesia yang wajib menjadi perhatian khusus. Berdasarkan hasil penelitian di
Jakarta didapati bahwa jumlah kematian akibat perdarahan saluran cerna atas berkisar 26%.
Angka kematian meningkat pada usia yang lebih tua (>60 tahun) pada pria dan wanita 1,4
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. N
Usia : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Rupe, beleke
Suku : Sasak
Agama : Islam
Status : Sudah Menikah
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani
MRS : 14 April 2017
Tgl Periksa : 14 April 2017

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama: Pusing

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang dengan keluhan pusing, pusing dirasakan sejak 5 hari yang lalu, pusing
dirasakan hilang timbul dan semakin memberat, pusing berputar dan pusing disertai
pandangan kabur disangkal oleh pasien pasien, pusing disertai dengan sakit dan berat
didaerah tengkuk juga disangkal oleh pasien. Selain keluhan pusing pasien juga mengeluhkan
muntah keluar darah warna hitam menggumpal sebanyak 3 kali, satu hari sebelum masuk
rumah sakit, namun menurut pengakuan pasien muntah kurang lebih gelas air mineral.
Pasien juga mengaku badannya selalu lemas, dan tidak kuat beraktivitas selama 1 minggu
terakhir dan merasa diri lebih pucat dan cepat lelah dari sebelum-sebelumnya. Nyeri ulu hati
juga dikeluhkan oleh pasien, nyeri ulu hati seperti ditusuk-tusuk, dan terasa perih, nyeri
hilang timbul dirasakan kurang lebih 1 bulan belakangan, selain itu pasien juga mengeluhkan
nyeri-nyeri pada lutut dan pinggang, nyeri dada, demam, batuk dan pilek disangkal oleh
pasien, BAB hitam dan keluar darah disangkal oleh pasien, pasien mengaku BAB ferekuensi
dan warna normal, BAK frekuensi 3-4x/ hari, warna kuning, normal.
Riwayat Penyakit Dahulu:

Pasien mengaku tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya, Pasien memiliki
riwayat maag sejak 2 tahun lalu. Riwayat hipertensi disangkal, diabetes mellitus disangkal,
penyakit jantung disangkal, penyakit hati disangkal, penyakit ginjal dan asma disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien. Riwayat hipertensi (-),
diabetes mellitus (-), penyakit jantung (-), penyakit paru (-), penyakit hati (-), penyakit ginjal
(-) dan asmha (-)

Riwayat Alergi:
Alergi terhadap obat (-), makanan (-), cuaca (-)

Riwayat Pengobatan:
Pasien sebelumnya berobat ke klinik swasta terlebih dahulu sebelum di rujuk ke RSUD
Praya, pasien diberikan obat ranitidin, omeprazole, IVFD RL

Riwayat sosial dan Kebiasaan:


Pasien adalah seorang petani, dan sering bekerja berat setiap hari, oleh karena pekerjaan yang
berat tersebut pasien sering minum minuman bersoda dan berenergi, riwayat merokok sejak
20 tahun yang lalu hingga sekarang. Pasien merokok bisa satu bungkus sehari dan pasien
juga mengkonsumsi kopi dan sering mengkonsumsi makanan bersantan, serta pasien sering
mengkonsumsi obat-obatan yang dibeli di warung untuk mengobati nyeri-nyeri pada lutut
dan pinggang.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
a. Keadaan umum : sedang
b. Kesadaran/GCS : Compos Mentis/ E4V5M6
c. Tanda vital
- Tekanan darah : 130/70mmHg
- Nadi radialis : 72 kali/menit
- Pernapasan : 20 kali/menit
- Temperatur axila : 36,6C
Kepala
- Bentuk dan ukuran : normal
- Rambut : normal
- Edema : (-)
- Parese N. VII : (-)
- Hiperpigmentasi : (-)
- Nyeri tekan kepala : (-)
Mata
- Simetris
- Alis normal
- Exopthalmus : (-/-)
- Retraksi kelopak mata: (-/-)
- Lid Lag : (-/-)
- Ptosis : (-/-)
- Nystagmus : (-/-)
- Strabismus : (-/-)
- Edema palpebra : (-/-)
- Konjungtiva : anemis (+/+), hiperemia (-/-)
- Sclera : ikterus (-/-), hiperemia (-/-), pterygium (-/-).
- Pupil : Refleks pupil +/+, isokor, bentuk bulat, 3 mm, miosis (-/-),
- Kornea : normal
- Lensa : normal, katarak (-/-)
- Pergerakan bola mata : normal ke segala arah
Telinga
- Bentuk : normal, simetris antara kiri dan kanan.
- Liang telinga (MAE) : normal, sekret (-/-), serumen (-/-).
- Nyeri tekan tragus : (-/-)
- Peradangan : (-/-)
- Pendengaran : kesan normal
Hidung
- Simetris
- Deviasi septum : (-/-)
- Napas cuping hidung : (-)
- Perdarahan : (-/-)
- Sekret : (-/-)
- Penciuman : kesan normal
Mulut
- Simetris
- Bibir : sianosis (-), pucat (-), stomatitis angularis (-).
- Gusi : hiperemia (-), perdarahan (-).
- Lidah :glositis (-), atropi papil lidah (-), lidah berselaput (-), kemerahan
di pinggir (-), tremor (-), lidah kotor (-).
- Gigi geligi : dalam batas normal
- Mukosa : normal

Leher
- Simetris
- Deviasi trakea : (-)
- Kaku kuduk : (-)
- Pembesaran KGB : (-)
- JVP : normal (5+2) cm
- Otot SCM : aktif (-), hipertrofi (-)
- Pembesaran tiroid : (-)
Thorax
- Inspeksi :
1) Bentuk dan ukuran dada normal simetris
2) Pergerakan dinding dada simetris normal
3) Permukaan dinding dada: scar (-), massa (-), spider naevi (-), ictus cordis tidak
tampak.
4) Penggunaan otot bantu napas: SCM aktif (-), hipertrofi SCM (-), otot bantu napas
abdomen aktif (-).
5) Tulang iga dan sela iga: pelebaran ICS (-), penyempitan ICS (-), arah tulang iga
normal.
6) Fossa supraklavikula dan infraklavikula cekung simetris, fossa jugularis: deviasi
trakea (-).
7) Tipe pernapasan torako-abdominal dengan frekuensi napas 20 kali/menit.
- Palpasi :
1) Posisi mediastinum: deviasi trakea (-), ictus cordis teraba di ICS V linea aksilaris
media sinistra, thrill (-).
2) Nyeri tekan (-), benjolan (-), krepitasi (-)
3) Pergerakan dinding dada simetris
4) Vocal fremitus normal
N N
N N
N N
- Perkusi :
1) Sonor pada kedua lapang paru
Sono Sono
r r
Sono Sono
r r
Sono Sono
r r
2) Batas paru-jantung : Dextra ICS II linea parasternalis dekstra
Sinistra ICS V linea midklavikular sinistra
3) Batas paru-hepar :
- Inspirasi ICS V
- Ekspirasi ICS IV Ekskursi : 1 ICS
- Auskultasi :
1) Cor : S1S2 tunggal regular, gallop (-), murmur (-)
2) Pulmo :
- Vesikuler :
+ +
+ +
+ +

- Rhonki basah :
- -
- -
- -

- Wheezing :
- -
- -
- -
3) Tes bisik: dbn
4) Tes percakapan: dbn

Abdomen
- Inspeksi :
1) Distensi (-)
2) Umbilikus masuk merata
3) Permukaan kulit: tanda-tanda inflamasi (-), scar (-), massa (-), vena
kolateral (-), caput medusa (-).
- Auskultasi :
1) Bising usus (+) normal
2) Metalic sound (-)
3) Bising aorta (-)
- Perkusi :
1) Timpani (+) pada seluruh lapang abdomen
2) Nyeri ketok (-/-)
3) Shifting dullness (-)
- Palpasi :
1) Nyeri tekan
- + -
- - -
- - -
2) Massa (-)
3) Hepar tidak teraba
4) Lien/Ren tidak teraba
Ekstremitas
Ekstremitas Atas
Akral hangat : +/+
Deformitas : -/-
Edema : -/-
Sianosis : -/-
Petekie : -/-
Clubbing finger : -/-

Koilonikia : -/-
Sendi : dbn
CRT : < 2 detik

Ekstremitas Bawah
Akral hangat : +/+
Deformitas : -/-
Edema : -/-
Sianosis : -/-
Petekie : -/-
Clubbing finger : -/-
Koilonikia : -/-
Sendi : dbn
Ulkus : -/-

Pemeriksaan Penunjang

Darah Lengkap

Darah lengkap (14/04/2017) Batas Normal


HB: 5,8 g/dl HB: 14.0-18.0 g/dl
RBC: 2,18 x 106/L RBC: 4.5-6 x 106 /L
HCT: 17,2% HCT: 40-54 %
MCV: 79 fl MCV: 80-100 fl
MCH: 26,6 pg MCH: 27-34 pg
MCHC: 33,6 g/dl MCHC: 32-36 g/dl
WBC: 11,1x 103/L WBC: 4-10 x 103/L
PLT: 124 x 103/L PLT: 150-450 103/L

Pemeriksaan Kimia Klinik


Pemeriksaaan pada 14/04/2017 Nilai Normal
GDS: 154 mgl/dl GDS: <160
Kreatinin: 0,74 mgl/dl Kreatinin:0,6-1,1
Ureum: 28,7 mgl/dl Ureum: 10-50
SGOT: 42,3 mgl/dl SGOT: <40
SGPT: 17,8 mgl/dl SGPT: <41

IV. Resume
Pasien datang mengeluhkan pusing, pusing semakin memberat serta mengeluhkan
muntah darah berwarna kehitaman sejak 1 hari yang lalu, dengan volume gelas
mineral dengan frekuensi 3 kali dalam 1 hari. Keluhan ini diawali dengan rasa mual dan
nyeri ulu hati, serta pasien juga mengeluhkan lebih pucat dan cepat lelah. Pasien
memiliki riwayat penyakit maag 2 tahun dan sering mengkonsumi obat maag dan juga
sering mengkonsumsi obat-obatan untuk meredakan nyeri pada lutut dan pingang yang
di beli di warung. BAB normal warna kuning dan konsistensi dan warna normal. BAK
normal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang, tekanan darah 130/70
mmHg, konjungtiva anemis dan nyeri tekan epigastrium. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan Hb 5,8 mg/dL dengan MCV 79 dan MCH 26,6 dan MCHC 33,6 dan SGOT :
42,3 SGPT : 17.8.
V. Asessment

Anemia mikrositik hipokromik e.c hematemesis suspec gastritis erosif

VI. Planning

5.1 Diagnostik

Endoskopi
Elektrolit
Pasang NGT
Fungsi pembekuan darah
V.2 Terapi
Non Medikamentosa
Rencana transfusi PRC 2 kolf
Tirah baring

Medikamentosa

IVFD RL 30 Tpm
Inj Transamin 500 mg/ 8 jam IV
Inj Vit K 1 ampul/8 jam IV
Inj Ondansentron 4mg/12 jam IV
Inj Omeprazole 40 mg/ hari
Sucralfat sirup 3x1 CI

VII. Prognosis

Quo ad vitam : Dubia ad bonam


Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi
Perdarahan saluran cerna bagian atas adalah perdarahan yang terjadi pada bagian
proksimal dari ligamentum Treitz. Perdarahan saluran cerna dapat berupa hematemesis,
melena, hematokezia. Hematemesis adalah muntah darah berwarna kehitaman.1
II. Epidemiologi
Kasus perdarahan saluran cerna bagian atas di Indonesia terbanyak disebabkan oleh
ruptur varises esofagus. Selanjutnya sekitar 25- 30% disebabkan oleh gastritis erosif, dan
10-15% karena ulkus peptikum.2
III. Etiologi
Secara umum penyebab dari perdarahan saluran cerna bagian atas ialah1,3:

- Ulkus peptikum
Disebkan oleh infeksi bakteri H. Pylori, penggunaan NSAID, merokok, dan alkohol.
Gambaran klinik adalah adanya nyeri ulu hati kronik.Gambaran klinik serta
karakteristik ulkus pada pemeriksaan endoskopi memberikan informasi mengenai
prognostik.
- Varises esophagus
Pasien dengan perdarahan varises mempunyai prognosis kurang baik dibandingkan
yang lainnya.
- Mallory-Weiss tears
Muntah, usaha untuk terjadinya muntah, atau merupakan riwayat klasik mendahului
hematemesis, terutama pada pasien alkoholik. Perdarahan Mallory Weiss biasanya
terjadi pada bagian gaster dari gastroesophageal junction.
- Gastritis erosif dan gastritis hemoragik
Sering disebut gastritis yang menunjukkan secara endoskopi adanya perdarahan
subepitelial dan erosi. Terjadi lesi pada mukosa, sehingga tidak menyebabkan
perdarahan yang banyak. Keadaan ini terjadi pada beberapa kasus, misalnya
penggunaan NSAID, alkohol, dan stress.
- Esofagitis
GERD merupakan penyebab tersering sehingga menyababkan terjadinya inflamasi
dan ulserasi yang melukai permukaan mukosa esophagus.
- Benign tumor dan kanker
Terjadi akibat perjalanan kronis dari suatu penyakit, yang menyebabkan proliferasi sel
yang abnormal.
IV. Patofisiologi
Untuk mencari penyebab perdarahan saluran cerna dapat dikembalikan pada faktor-faktor
penyebab perdarahan, yaitu (1):
1. Faktor pembuluh darah (vasculopathy) seperti pada tukak peptik, pecahnya varises
esophagus
2. Faktor trombosit (trombopathy) seperti pada Idiopathic Thrombocytopenia Purpura (ITP)
3. Faktor kekurangan zat pembekuan darah (coagulopathy) seperti pada hemophilia, sirosis hati,
dan lain-lain
Pada sirosis kemungkinan terjadi ketiga hal di atas :vasculopathy (pecahnya varises
esophagus); trombopathy (pengurangan trombosit di tekanan perifer akibat hipersplenisme);
coagulopathy (kegagalan sel-sel hati)(1).
Khusus pada pecahnya varises esophagus ada 2 teori(1) :
1. Teori erosi : pecahnya pembuluh darah karena erosi dari makanan kasar (berserat tinggi
dan kasar) atau konsumsi NSAID
2. Teori erupsi: karena tekanan vena porta terlalu tinggi, atau peningkatan tekanan
intraabdomen yang tiba-tiba karena mengedan, mengangkat barang berat, dan lain-lain

V. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis yang muncul bisa berbeda-beda, tergantung pada(6) :
1. Letak sumber perdarahan dan kecepatan gerak usus
2. Kecepatan perdarahan
3. Penyakit penyebab perdarahan
4. Keadaan penderita sebelum perdarahan
Pada hematemesis, warna darah yang dimuntahkan tergantung dari asam hidroklorida
dalam lambung dan campurannya dengan darah. Jika vomitus terjadi segera setelah
perdarahan, muntahan akan tampak berwarna merah dan baru beberapa waktu kemudian
penampakannya menjadi merah gelap, coklat atau hitam. Bekuan darah yang mengendap
pada muntahan akan tampak seperti ampas kopi yang khas. Hematemesis biasanya
menunjukkan perdarahan di sebelah proksimal ligamentum Treitz karena darah yang
memasuki traktus gastrointestinal di bawah duodenum jarang masuk ke dalam lambung2
VI. Diagnosis
Anamnesis
Riwayat penyakit dahulu perlu digali untuk mencari penyakit dasar, misalnya
nyeri epigastrium yang kronik, penyakit jantung, penyakit paru, penyakt hati. Selain itu,
riwayat obat- obatan yang dikonsumsi juga dapat mengarahkan diagnosis, misalnya
konsumsi aspirin. Riwayat konsumsi alkohol dapat juga berhubungan dengan gastritis
erosif atau sirosis hepatik.1,2
Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan yang utama dilakukan adalah menilai status hemodinamik dengan
pengukuran tekanan darah dan denyut jantung. Perdarahan yang nyata secara klinis dapat
mengakibatkan perubahan tekanan darah dan laju denyut jantung dengan perubahan
posisi, takikardia, dan hipotensi. Tanda klinis yang dapat mendukung perdarahan saluran
cerna adalah bising usus yang meningkat. Bising usus yang hiperaktif menunjukkan
adanya darah yang melewati usus. 1
Spasme otot rektus abdominalis dan nyeri tekan epigastrium dapat berhubungan
dengan ulkus peptikum. Pada kasus keganasan lambung, dapat teraba massa dan
pembesaran kelenjar getah bening. Splenomegali dapat disebabkan hipertensi portal.
Ikterus, spider navy, jari dupuytren menunjukkan kemungkinan adanya penyakit hati.
Pemeriksaan rektum secara digital harus segera dilakukan jika terdapat syok hipovolemik
tanpa perdarahan yang nyata. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan derajat perdarahan.
Adanya feses yang kehitaman atau merah marun menujukkan perdarahan yang berat,
sedangkan feses normal menunjukkan perdarahan minimal.
Aspirat nasogastrik tanpa darah dapat terlihat pada 16% pasien dengan perdarahan
SCBA. Pada pasien yang mengalami melena, intubasi nasogastrik dapat dilakukan untuk
membantu menentukan lokasi perdarahan.1

Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium penunjang awal ditujukan untuk menilai kadar
hemoglobin, fungsi hemostasis, fungsi hati dan kimia dasar yang berhubungan dengan
status haemodinamik. Pemeriksaan kadar haemoglobin dan hematokrit dilakukan secara
serial (setiap 6-8 jam) agar dapat dilakukan antisipasi transfusi secara lebih tepat serta
untuk memantau lajunya proses perdarahan. Kadar hemoglobin tidak langsung menurun
pada perdarahan akut karena proporsi volume plasma dan sel darah merah yang hilang
setara. Pada perdarahan gastrointestinal yang kronik, kadar hemoglobin dapat sangat
rendah walaupun tekanan darah dan denyut nadi normal1,5
Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi merupakan gold standard. Endoskopi merupakan
pemeriksaan pilihan utama untuk diagnosis, dengan akurasi diagnosis > 90%Tindakan
endoskopi selain untuk diagnostik dapat dipakai pula untuk terapi. Prosedur ini tidak
perlu dilakukan segera( bukan prosedur emergensi), dapat dilakukan dalam kurun waktu
12 - 24 jam setelah pasien masuk dan keadaan hemodinamik stabil.5
Pasien dengan perdarahan yang terus berlangsung, gagal dihentikan dengan terapi
suportif membutuhkan pemeriksaan endoskopi dini (urgent endoscopy) untuk diagnosis
dan terapi melalui teknik endoskopi. Tujuan pemeriksaan endoskopi selain menemukan
penyebab serta asal perdarahan, juga untuk menentukan aktivitas perdarahan. Forest
membuat klasifikasi perdarahan ulkus peptikum atas dasar penemuan endoskopi yang
bermanfaat untuk menentukan tindakan selanjutnya5

Tabel 1. Klasifikasi Aktivitas Perdarahan Ulkus Peptikum Menurut Forest

Aktivitas Perdarahan Kriteria Endoskopi


Forest Ia Perdarahan aktif Perdarahan arteri menyembur
Forest Ib Perdarahan aktif Perdarahan merembes
Forest II Perdarahan berhenti dan masih Gumpalan darah pada dasar tukak atau
terdapat sisa perdarahan terlihat pembuluh darah
Forest III Perdarahan berhenti tanpa sisa Lesi tanpa tanda sisa perdarahan
perdarahan

Arteriografi selektif

Arteriografi selektif melalui aksis seliak, arteri mesenterika superior, arteri mesenterika
inferior dan cabangnya dapat digunakan untuk diagnosis, sekaligus dapat untuk
terapeutik. Pemeriksaan ini membutuhkan laju perdarahan minimal 0,5-1,0 mililiter
permenit.5

Radiografi barium kontras

Teknik pemeriksaan ini kurang direkomendasikan. Selain sulit untuk menentukan sumber
perdarahan, juga adanya zat kontras akan mempersulit pemeriksaan endoskopi maupun
arteriografi.5

VII. Tata Laksana

Tindakan umum terhadap pasien diutamakan airway-breathing-circulation (ABC).


Terhadap pasien yang stabil setelah pemeriksaan memadai,segera dirawat untuk terapi lanjutan
atau persiapan endoskopi.Untuk pasien risiko tinggi perlu tindakan lebih agresif seperti:
- Pemasangan iv-line minimal 2 dengan jarum (kateter) besar minimal no18. Ini
penting untuk transfuse, dianjurkan pemasangan CVP
- Oksigen sungkup/ kanula. Bila gangguan airway-breathing perlu ETT
- Mencatat intake- output, harus dipasang kateter urine
- Monitor tekanan darah, nadi, saturasi O2, keadaan lain sesuai komorbide.
- Melakukan bilas lambung agar mempermudah tindakan endoskopi
Bila sudah dalam keadaan hemodinamik tidak stabil atau dalam keadaan renjatan, maka
proses resusitasi cairan (cairan kristaloid atau koloid) harus segera dimulai tanpa menunggu data
pendukung lainnya. Pilihan akses, jenis cairan resusitasi, kebutuhan transfuse darah, tergantung
derajat perdarahan dan kondisi klinis pasien. Cairan kristaloid dengan akses perifer dapat
diberikan pada perdarahan ringan sampai sedang tanpa gangguan hemodinamik.1
Cairan koloid diberikan jika terjadi perdarahan yang berat sebelum transfuse darah bisa
diberikan. Pada keadaan syok dan perlu monitoring ketat pemberian cairan, diperlukan akses
sentral. Target resusitasi adalah hemodinamik stabil, produksi urin cukup (>30 cc/jam), tekanan
vena sentral 5-10 cm H2O, kadar Hb tercapai (8-10 gr%)1

Terapi Farmakologis
Antifibrinolitik dapat diberikan, misalnya asam traneksamat. Penggunaan asam
traneksamat akan menurunkan kejadian perdarahan ulang sebesar 20-30%. PPI (Proton Pump
inhibitor) merupakan pilihan utama dalam pengobatan perdarahan SCBA non variseal. Beberapa
studi melaporkan efektifitas PPI dalam menghentikan perdarahan karena ulkus peptikum dan
mencegah perdarahan berulang. PPI memiliki dua mekanisme kerja yaitu menghambat H+
/K+ATPase dan enzim karbonik anhidrase mukosa lambung manusia. Hambatan pada H +
/K+ATPase menyebabkan sekresi asam lambung dihambat dan pH lambung
meningkat.Hambatan pada pada enzim karbonik anhidrase terjadi perbaikan vaskuler,
peningkatan mikrosirkulasi lambung, dan meningkatkan aliran darah mukosa lambung.1,5
PPI yang tersedia di Indonesia antara lain omeprazol, lansoprazole, pantoprazole,
rabeprazole, dan esomeprazole. PPI intravena mampu mensupresi asam lebih kuat dan lama
tanpa mempunyai efek samping toleransi. Studi Randomized Controlled Trial (RCT)
menunjukkan PPI efektif jika diberikan dengan dosis tinggi intravena selama 72 jam setelah
terapi endoskopi pada perdarahan pada ulkus dengan stigmata endoskopi risiko tinggi misalnya,
lesi tampak pembuluh darah dengan atau tanpa perdarahan akut. Dosis rekomendasi omeprazol
untuk stigmata resiko tinggi pada pemeriksaan endoskopi adalah 80 mg bolus diikuti dengan 8
mg/jam infuse selama 72 jam dilanjutkan dengan terapi oral. Pada pasien dengan stigmata
endoskopi risiko rendah PPI oral dosis tinggi direkomendasikan. PPI oral diberikan selama 6-8
minggu setelah pemberian intravena, atau bisa lebih lama diberikan jika ada infeksi Helicobacter
pylori atau penggunaan regular aspirin, OAINS dan obat antiplatelet. 1,5

VIII. Prognosis dan Komplikasi


Komplikasi yang mungkin terjadi adalah syok hipovolemik dan anemia karena
perdarahan. Penilaian resiko kematian pada pasien dengan perdarahan saluran cerna sangat
diperlukan dalam pengelolaan pasien. Rockall et all berhasil mengidentifikasi beberapa faktor
resiko yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat mortalitas. Total skor kurang dari 3
memiliki prognosis yang baik, sedangkan skor lebih dari 8 mencerminkan resiko kematian yang
tinggi1
Tabel 2. Sistem scoring Rockall
Variabel Skor 0 Skor 1 Skor 2 Skor 3
Usia tahun <60 60-79 >80
Syok Tidak ada Sistolik >100 Sistolik
mmHg, nadi <100mmHg
>100 mmHg nadi>100 mmHg
Komorbiditas Tidak ada Gagal jantung, Gagal ginjal,
penyakit jantung kerusakan hepar,
iskemik neoplasma yang
telah
bermetastasis
Diagnosis Mallory Weiss Diagnosis lain Keganasan
saluran cerna
atas
Stigmata Tidak ada Darah pada
perdarahan saluran cerna
mayor atas, adherent
clot, visible/
spurting vessel

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien datang mengeluhkan pusing serta muntah darah berwarna hitam bergumpal dan
juga merasa lemah dan pucat ini merupakan hematemesis atau muntah darah warna hitam.
Hematemesis merupakan perdarahan dari saluran cerna bagian atas, dibagian proksimal
ligamentum Treitz. Darah bisa dalam bentuk segar (bekuan/ gumpalan/ cairan warna merah
cerah) atau berubah karena enzim dan asam lambung menjadi kecoklatan dan berbentuk seperti
butiran kopi. Ketika berbicara tentang muntah darah kita harus mengetahui apakah muntah
darahnya merupakan akibat varises atau non varises. Ini dapat dilihat dari inspeksi pada esofagus
dan menganalisa penyakit mendasar yang dapat menimbulkan varises seperti penyakit hati
(sirosis hepatis). Namun pada pasien ini tidak didapatkan tanda-tanda sirosis hepatis pada
pemeriksaan fisik. Untuk mengetahui apakah terdapat kelainan pada hati dapat dilakukan
pemeriksaan fungsi hati seperti SGPT, SGOT dan apabila diperlukan dapat dilakukan USG hati.

Pasien juga mengaku nyeri ulu hati, yang dirasakan beberapa bulan terakhir dan hilang
timbul. Sakit dirasakan seperti menusuk-nusuk dan terasa perih. Berdasarkan keterangan ini
disimpulkan bahwa pasien pernah menderita gastritis. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa
lambung. Gastritis terjadi karena terjadi gangguan keseimbangan faktor agresif dan defensif.
Gastritis akut dapat disebabkan oleh NSAIDs, alkohol, gangguan mikrosirkulasi mukosa
lambung maupun stress. Gastritis kronik disebabkan oleh Helicobacter pylori.

Kemungkinan terjadi gastritis akut pada pasien ini karena terdapat riwayat pemakaian
obat-obatan untuk mengobati nyeri-nyeri pada lutut dan pinggangnya. Umumnya obat-obatan
tersebut mengandung bahan-bahan yang dapat mengakibatkan perangsangan asam lambung yang
berlebihan ataupun menghambat serta mengganggu dari fungsi perlindungan mukosa lambung
terhadap asam lambung sehingga dapat mengakibatkan terjadinya perdarahan lambung. Namun
untuk menegakkan diagnosis secara pasti harus dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi.
Secara endoskopi akan dijumpai kongesti mukosa, eresi-erosi kecil, dan kadang-kadang disertai
dengan perdarahan kecil-kecil.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosa sementara yaitu


Hematemesis et causa gastritis erosif. Terdapat tanda-tanda fisis pada pasien yang mengarahkan
diagnosa pada Hematemesis et causa gastritis erosif yaitu muntah darah yang berwarna
kehitaman dan menggumpal, mual dan muntah, nyeri tekan epigastrium, pernah mengalami
riwayat gastritis sebelumnya, serta terdapat riwayat pemakaian obat-obatan untuk mengobati
nyeri pada lutut dan pinggangnya serta ada riwayat merokok yang sudah bertahun-tahun.

Saat ini pasien mengeluhkan pusing, lemas, letih dan lesu serta . Ini dapat merupakan
gejala anemia atau hipoglikemia. Tetapi, jika keluhan ini dihubungkan dengan keadaan yang
dialami pasien saat ini, hampir dipastikan pasien mengalami anemia. Dari pemeriksaan fisik
hanya didapatkan konjungtiva yang anemis dan nyeri tekan pada epigastrium. Dari pemeriksaan
penunjang didapatkan Hb 5,8 mg/dL dengan MCV 79 dan MCH 26,6 dan MCHC 33,6 sehingga
disimpulkan pasien mengalami anemia hipokromik mikrositer. Anemia hipokromik mikrositer
dapat disebabkan adanya anemia defisiensi besi, anemia sideroblastik atau thalasemia. Hal ini
sesuai dengan keadaan yang dialami pasien, sehingga dapat disimpulkan bahwa anemianya
bersumber dari muntah darahnya.
Berdasarkan data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, didapatkan
diagnosis pasien adalah anemia hipokromik mikrositer et causa hematemesis et causa suspek
gastritis erosif. Pasien dipasang infus dengan RL 20 tpm untuk mengakses intravena, pemberian
cairan, transfusi dan pemberian obat injeksi karena pasien muntah. Untuk mencegah kerusakan
lambung lebih lanjut, diberikan obat yang dapat memblok pompa proton pada lambung yaitu
PPI, injeksi omeprazole dengan dosis 40 mg/24 jam dan sukralfat 3x1 untuk melindungi mukosa
gaster. Dalam pedoman tatalaksana apabila belum mengetahui secara pasti penyebab pendarahan
harus diberikan terapi empiris berupa tambahan vitamin K 3x1 mg/mL. Pemberian vitamin K
pada kasus-kasus perdarahan saluran cerna bagian atas diperbolahkan, dengan peetimbangan
pemberian tersebut tidak merugikan dan relatif murah. Vitamin K bermanfaat dalam proses
pembekuan darah dan dapat mengembalikan masa protrombin menjadi normal. Faktor
pembekuan darah yang bergantung pada vitamin K adalah faktor II, VII, IX, dan X dan juga
ditransfusi darah sebanyak 2 kolf karena dari hasil Hb pasien 5.8.

BAB V
KESIMPULAN

1. Perdarahan saluran cerna atas (SCBA) yaitu perdarahan dari lumen saluran cerna di atas
ligamentum Treitz mengakibatkan hematemesis.
2. Hematemesis adalah muntah darah dalam bentuk segar atau berubah karena enzim dan asam
lambung menjadi kecoklatan berbentuk butiran kopi.
3. Etiologi perdarahan SCBA antara lain :
a. Kelainan esophagus : pecah varises esophagus, Ca esophagus, sindrom Mallory-Weiss,
esofagogastritis korosiva, esofagitis & tukak esofagus
b. Kelainan lambung : gastritis erosif hemoragika, tukak lambung, Ca lambung
c. Kelainan di duodenum : tukak duodeni, Ca papilla vaterii
4. Manifestasi klinis perdarahan SCBA tergantung dari : a) letak sumber perdarahan &
kecepatan gerak usus; b) kecepatan perdarahan; c) penyakit penyebab perdarahan; d) keadaan
sebelum perdarahan.
5. Diagnosis perdarahan SCBA yaitu :
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan fisik : penentuan status hemodinamik, evaluasi jumlah perdarahan, tanda
fisik lain
c. Pemeriksaan penunjang : tes darah, faal hemostasis, elektrolit, faal hati, EKG, endoskopi
(gold standar)
6. Penatalaksaan secara umum dan khusus.
7. Keadaan memperburuk prognosis : gagal jantung kongestif/ infark miokard, PPOK, sirosis,
gagal ginjal, keganasan, >60 tahun, gangguan pembekuan.
8. Komplikasinya yaitu : syok hipovolemik, aspirasi pneumonia, gagal ginjal akut, sindrom
hepatorenal koma hepatikum, anemia karena perdarahan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Setyohadi, B. dkk. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas dalam EIMED


PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Perhimpunan Dokter Spesialis
Penyakit Dalam Indonesia. 2012
2. Hadi, S. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas : dalam Gastroenterologi. Bandung
:PT Alumni. 2013
3. Djumhana, A.Perdarahan Akut Saluran Cerna Bagian
Atas :pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2011/03/pendarahan_akut_saluran_cerna_bagian_atas.pdf .2011
4. Davey, P.Hematemesis & Melena : dalam At a Glance Medicine Jakarta :Erlangga.
2006
5. Adi, P.Pengelolaan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas : Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I Jakarta : FKUI. 2009