Anda di halaman 1dari 4

Infeksi Sistem Muskuloskeletal

Evaluasi dan terapi infeksi muskuloskeletal pada pediatri melibatkan pendekatan


multidisiplin. Penyakit ini sering memerlukan keterlibatan departemen pediatri, ortopedi,
penyakit infeksi, kedokteran emergensi, perawatan intensif, radiologi, laboratorium, dan
patologi. Di bawah pengawasan berbagai departemen, diagnosis yang meyakinkan dapat
diperoleh melalui evaluasi menyeluruh terhadap anamnesis, pemeriksaan fisis, tes
laboratorium, dan pencitraan. Ketika informasi yang adekuat diperoleh dari proses evaluasi,
keputusan mengenai terapi yang diambil tepat, dan anak-anak memilik prognosis yang lebih
baik setelah mendapat terapi antibiotik yang sesuai, dan jika terdapat indikasi, intervensi
bedah.
Radiologi
Evaluasi anak yang datang dengan tanda dan gejala klinis mengarah ke infeksi
muskuloskeletal diawali dengan anamnesis mendetail dan pemeriksaan fisis. Jika dicurigai
bahwa seorang anak memiliki infeksi yang dalam, maka penunjang pencitraan dan
laboratorium sebaiknya dilakukan.
1. Foto Polos
2. Ultrasonografi
3. Fluoroskopi
4. Pencitraan nuklir
5. Computed Tomography
6. Magnetic Resonance Imaging
Pemeriksaan Laboratorium
1. Hitung jenis sel (Complete Blood Count)
2. Laju endap darah
3. C-Reactive Protein
4. Interleukin-6
Kultur Jaringan dan Darah (Mikrobiologi)
Jika dimungkinkan, isolasi organisme kausatif infeksi membantu dalam menentukan terapi
antibiotik spesifik. Beberapa organisme yang diketahui menyebabkan infeksi
muskuloskeletal:
1. Staphylococcus aureus
2. Streptococcus pyogenes
3. Kingella kingae
4. Streptococcus pneumoniae
5. Neisseria meningitidis
6. Neisseria gonorrhoeae
7. Borrelia burgdorferi
8. Mycobacterium tuberculosis
9. Nontuberculous Mycobacteria
10. Treponema pallidum
11. Brucella melitensis
12. Bartonella henselae
13. Organisme mikotik
14. Coccidioides immitis
15. Blastomyces dermatitidis
16. Actinomyces israelii
17. Sporothrix schenckii
Manifestasi Penyakit
Infeksi sistem muskuloskeletal menunjukkan spektrum luas kondisi dengan beragam
manivestasi, derajat, dan respon terhadap terapi. Hal ini termasuk osteomielitis (infeksi
tulang), artritis septik (infeksi sendi), piomiositis (infeksi otot), dan infeksi jaringan lunak
dalam lainnya seperti bursitis septik, fasciitis nekrotikan, abses, dan PF
Osteomielitis kronik rekuren multifokal (Chronic Recurrent Multifocal Osteomyelitis
CRMO)
Epidemiologi
CRMO pertama kali dideskripsikan oleh Giedion dan kawan-kawan pada tahun 1972, dan
lebih dari 448 kasus setelahnya dilaporkan dalam literatur kedokteran hingga 40 tahun
kemudian. 31, 66, 147, 188, 194, 281 Kondisi ini terutama mengenai anak-anak dan remaja, dengan
onset puncak usia 10 tahun dan perbandingan perempuan terhadap laki-laki bervariasi antara
1.7 : 1 hingga 4 : 1. 194,362 CRMO dikarakteristikkan sebagai inflamasi rekuren pada beberapa
lokasi skelet, yang paling sering terlibat adalah tibia, femur, klavikula, kaki, atau corpus
vertebra dan jarang pada pelvis dan costa. Distribusi multifokal telah ditemukan pada 93%
jasus, dengan median tiga lesi per anak ditemukan dalam sebuah laporan. 362 Meskipun lesi
skelet mungkin merupakan manifestasi yang paling menonjol dari kondisi ini, hal ini sering
berkaitan dengan gangguan inflamasi lainnya, termasuk pustulosis palmoplantar, pioderma
gangrenosum, sindrom Sweet, dan acne berat. 194, 362 Faktor reumatoid telah dideteksi pada 8%
pasien, dan HLA-B27 pada 11% pasien. 362 Gejala dan tanda klinis CRMO termasuk episode
multipel kemerahan lokal, nyeri, bengkak dengan onset yang tidak diketahui dan regresi
spontan. Secara keseluruhan, anak-anak memperlihatkan gangguan fungsi minimal selama
episode tersebut.
Patofisiologi
Patogenesis dari kondisi ini masih belum dapat dijelaskan hingga saat ini. Teori termasuk
proses autoimun atau infeksi dari agen kausatif yang belum dikenali seperti Mycoplasma,
Chlamydia, mycobacterium tipikal, atau virus. Namun, kebanyakan seri melaporkan kultur
negatif pada hampir semua pasien. 140, 168 Propionibacterium acnes telah diisolasi pada
beberapa kasus yang berhubungan dengan gejala seperti sinovitis, acne, pustulosis,
hiperostosis, dan osteitis (sindrom SAPHO) tetapi tidak spesifik pada CRMO. 343 Satu anak di
Rumah Sakit Royal Children di Melbourne, Australia, memberikan hasil kultur positif dari S.
Aureus dan berespon terhadap flukloksasilin, tetapi penulis setelahnya dari institusi yang
sama membubarkan kasus tersebut sebagai diagnosis yang salah dari CRMO. 64,122 Sebuah
tinjauan pustaka pada tahun 1997 menemukan kultur positif dilaporkan pada 13 dari 184
kasus, dimana semuanya dipertimbangkan sebagai kontaminan. 362 Sebuah komponen genetik
terhadap kerentanan penyakit telah diajukan. Investigator mencatat bahwa dua sindrom
genetik memiliki CRMO sebagai fenotip predominan (sindrom Majeed dan defisiensi
antagonis reseptor IL-1) dan menyarakan bahwa IL-1 mungkin merupakan sitokin kunci dati
patogenesis penyakit. 132
Pemeriksaan histopatologis dari lesi mungkin menunjukkan perubahan sugestif atau
diagnostik dari osteomielitis, dengan banyak neutrofil, nekrosis tulang, granuloma, dan
fibrosus dengan infiltrasi sel bulat. 64 Investigator lain telah menjelaskan inflamasi
nonspesifik, dengan predominan limfosit, sel plasma, histiosit, dan sel raksasa berinti banyak.
362

Gambar 27-22 Progresi dari osteomielitis akut hingga kronik. A, Foto anteroposterior (AP)
femur menunjukkan gambaran lusen halus pada metafisis femoral distal medial (panah). B,
foto lateral dari pasien yang sama, tidak diterapi, 6 minggu kemudian. Perhatikan reaksi
periosteal, dan juga progresi gambaran radiolusen pada metafisis. C, foto AP (kiri) dan lateral
(kanak) yang diperoleh setelah usaha dekompresi bedah tanpa debridemen, perhatikan fraktur
patologis pada tautan metafisis-diafisis. Lubang bor terlihat pada foto lateral merupakan sisa
dari usaha dekompresi infeksi. Debridemen yang adekuat dari jaringan nekrotik tidak dicapai.
D, foto AP yang diperoleh setelah debridemen komplit dan pengaplikasian bingkai Illizarov
untuk transpor tulang. E, foto AP yang diperoleh setelah transpor tulang sukses.
Evaluasi
Diagnosis CRMO utamanya merupakan salah satu eksklusi. Kriteria berikut telah diajukan
untuk menghindari misdiagnosis: (1) perjalanan klinis yang memanjang, durasi lebih dari 3
bulan, (2) biopsi terbuka memberikan hasil konsisten dengan inflamasi kroni, dan (3)
kegagalan untuk mengidentifikasi organisme infeksius dengan kultur. 362
Evaluasi awal CRMO harus menckup pemeriksaan laboratorium dan radiografik yang sama
dengan yang dilakukan pada tiap kasus yang dicurigai infeksi. Tes mikrobiologis dari darah
dan kultur jaringan tidak selamanya dihilangkan karena dicurigai CRMO. Radiografi polos
dari tiap area yang bergejala sebaiknya dilakukan dan ditambahkan dengan skintigrfi tulang
karena lesi asimtomatik adakalanya diidentifikasi dengan cara ini. 64, 168 Area lisis dan
sklerosis periosteal reaktif dapat menyerupai kondisi seperti Ewingsarkoma, neuroblastoma
metastatik, dan histiositosis sel Langerhans. 362- Jika neoplasma ganas dicurigai sebagai
diagnosis banding, prinsip biopsi sebaiknya diikuti secara hati-hati ketika memperoleh
spesimen untuk pemeriksaan histopatologis. 270, 362
Terapi
CRMO tidak memiliki terapi yang pasti, meskipun hampir semua anak-anak diterapi dengan
NSAID dan adakalanya diberi kortikosteroid. Pasien tidak seharusnya berespon dengan
pemberian antibiotik. Terapi efektif dengan interferon- telah dilaporkan pada sebuah kasus,
dan diharapkan bahwa metode ini dapat membantu menanggulangi perjalanan CRMO yang
memanjang, berulang. Seorang perempuan 13 tahun diterapi selama 3 bulan dengan
interferon- tidak memilik episode simtomatik selama 15 bulan segera setelah terapi,
dibandingkan dengan 11 episode simtomatik pada 2 tahun sebelum terapi. 140 Mekanisme
pasti dari efek menguntungkan ini masih belum diketahui, tetapi penggunaan interferon-
pada penyakit kronik granulomatosa (chronic granulomatous disease CDG) dan terapi
patogen intraseluler seperti leprosi, infeksi M. Avium-intraseluler, dan leishmaniasis, yang
biasanya sulit disembuhkan dengan terapi antimikroba standar, memberikan dukungan tidak
langsung terhadap teori patogen yang tidak diketahui sebagai penyebab CRMO.
Kebanyakan anak-anak menunjukkan respon klinis yang menguntungkan terhadap NSAI. 31
Biofosfonat, khususnya pramidonat, telah dilaporkan memiliki pengaruh dramatis yang
menguntungkan terhadap nyeri, remodeling vertebral, dan inflamasi skelet pada MRI pada
kasus yang sulit disembuhkan. 153, 188, 281 Penyakit yang berat dan berlangsung lama dapat
terjadi pada sebagian kecil pasien meskipun diterapi secara intensif. 66
Komplikasi
CRMO sering dideskripsikan sebagai kondisi self-limiting pada masa kanak-kanak yang
mengikuti perjalanan penyakit jinak, berlangsung lama tanpa sekuele. 64, 168, 362 Diagnosis dini
dapat mencegah komplikasi terkait prosedur bedah yang tidak diperlukan atau terapi
antibiotik. Namun, dua penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa perjalanan alamiah
CRMO dapat berlangsung lama dan berkaitan dengan sekuele yang bervariasi (deformitas,
perbedaan panjang tungkai, dan nyeri) pada beberapa individu. 66, 122, 194 Kedua laporan
menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kebanyakan individu baik-baik saja dari aspek fisik
dan emosional meskipun terdapat efek jangka panjang dari penyakit. 122, 194