Anda di halaman 1dari 13

BAB I

DEFINISI

Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang


berarti telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan
consent yang berarti persetujuan atau memberi izin. Jadi informed
consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan
setelah mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat
didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang
akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.

Menurut D. Veronika Komalawati, SH , informed consent


dirumuskan sebagai suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya
medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh
informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan
untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang
mungkin terjadi.

Komponen-komponen Informed Consent


1) Threshold elements

Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen,


oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent
haruslah seseorang yang kompeten (cakap). Kompeten disini diartikan
sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Kompetensi
manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suaut
kontinuum, dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki
kompetensi yang penuh diantaranya terdapat berbagai tingkat
kompetensi membuat keputusan tertentu.

Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila


telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di
bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai
21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental
yang dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit
mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat keputusan
menjadi terganggu.

2) Information elements

1
Terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan
understanding (pemahaman). Elemen ini berdasarkan pemahaman
yang adekuat membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk
memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien
dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, seberapa
baik informasi harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3
standar, yaitu :

Standar Praktik Profesi

Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria keadekuatan


informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam
komunitas tenga medis. Dalam standar ini ada kemungkinan
bakebiasaan tersebut di atas tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial
setempat, misalnya resiko yang tidak bermakna (menurut medis)
tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial
pasien.

Standar Subyektif

Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut


oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan
harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan.
Kesulitannya adalah mustahil (dalam hal waktu/kesempatan) bagi
profesional medis memahami nilai-nilai yang secara individual
dianut oleh pasien.

Standar pada reasonable person

Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar


sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang
diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam.

3) Consent elements

2
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness
(kesukarelaan, kebebasan) dan authorization (persetujuan).
Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi
ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang
dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan
apabila tidak menyetujui tawarannya

BAB II

3
RUANG LINGKUP INFORMED CONSENT

Ruang lingkup dan materi informasi yang diberikan tergantung


pada pengetahuan medis pasien saat itu. Jika memungkinkan, pasien
juga diberitahu mengenai tanggung jawab orang lain yang berperan
serta dalam pengobatan pasien.

Di Florida dinyatakan bahwa setiap orang dewasa yang kompeten


memiliki hak dasar menentukan tindakan medis atas dirinya termasuk
pelaksanaan dan penghentian pengobatan yang bersifat
memperpanjang nyawa. Beberapa pengadilan membolehkan dokter
untuk tidak memberitahukan diagnosis pada beberapa keadaan. Dalam
mempertimbangkan perlu tidaknya mengungkapkan diagnosis penyakit
yang berat, faktor emosional pasien harus dipertimbangkan terutama
kemungkinan bahwa pengungkapan tersebut dapat mengancam
kemungkinan pulihnya pasien.

Pasien memiliki hak atas informasi tentang kecurigaan dokter akan


adanya penyakit tertentu walaupun hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan inkonklusif. Hak-hak pasien dalam pemberian inform consent
adalah:

1 . Hak atas informasi

Informasi yang diberikan meliputi diagnosis penyakit yang diderita,


tindakan medik apa yang hendak dilakukan, kemungkinan penyulit
sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk mengatasinya,
alternatif terapi lainnya, prognosanya, perkiraan biaya pengobatan.

2 . Hak atas persetujuan (Consent)

Consent merupakan suatu tindakan atau aksi beralasan yg diberikan


tanpa paksaan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan cukup
tentang keputusan yang ia berikan ,dimana orang tersebut secara
hukum mampu memberikan consent. Kriteria consent yang syah
yaitu tertulis, ditandatangani oleh klien atau orang yang betanggung
jawab, hanya ada salah satu prosedur yang tepat dilakukan,
memenuhi beberapa elemen penting, penjelasan tentang kondisi,
prosedur dan konsekuensinya. Hak persetujuan atas dasar informasi
(Informed Consent).

4
a) Hak atas rahasia medis

b) Hak atas pendapat kedua (Second opinion)

c) Hak untuk melihat rekam medik

d) Hak perlindungan bagi orang yg tidak berdaya (lansia,


gangguann mental, anak dan remaja di bawah umur)

e) Hak pasien dalam penelitian

Hak pasien membuat keputusan sendiri untuk berpartisipasi,


mendapatkan informasi yang lengkap, menghentikan partisipasi dalam
penelitian tanpa sangsi, bebas bahaya, percakapan tentang sumber
pribadi dan hak terhindar dari pelayanan orang yang tidak kompeten.

1. Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang


berlaku di rumah sakit

2. Hak memperoleh pelayanan yg adil dan manusiawi

3. Hak memperoleh pelayanan keperawatan dan asuhan yang bermutu


sesuai dengan standar profesi keperawatan tanpa diskriminasi

4. Hak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan


keinginannya dan sesuai dengan peraturan yg berlaku di rumah
sakit

5. Hak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan


mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab
sendiri sesudah memperoleh informasi yg jelas tentang penyakitnya

6. Hak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis

7. Hak menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang


dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya

8. Hak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam


perawatan di rumah sakit

9. Hak mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit


terhadap dirinya

10. Hak menerima atau menolak bimbingan moral maupun spiritual

11. Hak didampingi perawat atau keluarga pada saat diperiksa dokter

5
Peran Perawat dalam Pemberian Informed Consent

Peran merupakan sekumpulan harapan yang dikaitkan dengan


suatu posisi dalam masyarakat. Peran adalah seperangkat tingkah laku
yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang, sesuai
kedudukannya dalam suatu sistem. Berhubungan dengan profesi
keperawatan, orang lain dalam definisi ini adalah orang-orang yang
berinteraksi dengan perawat baik interaksi langsung maupun tidak
langsung terutama pasien sebagai konsumen pengguna jasa pelayanan
kesehatan di rumah sakit.

Peran perawat professional dalam pemberian informed consent


adalah dapat sebagai client advocate dan educator. Client advocate
yaitu perawat bertanggung jawab untuk membantu klien dan keluarga
dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan
dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil
persetujuan (informed consent) atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepadanya. A client advocate is an advocate of clients rights.
Sedangkan educator yaitu sebagai pemberi pendidikan kesehatan
bagikliendankeluarga.

Hal hal yang dapat di informasikan


1. Hasil Pemeriksaan
Pasien memiliki hak untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan. Misalnya perubahan keganasan pada hasil Pap smear.
Apabila infomasi sudah diberikan, maka keputusan selanjutnya
berada di tangan pasien.
2. Risiko
Risiko yang mungkin terjadi dalam terapi harus diungkapkan disertai
upaya antisipasi yang dilakukan dokter untuk terjadinya hal tersebut.
Reaksi alergi idiosinkratik dan kematian yang tak terduga akibat
pengobatan selama ini jarang diungkapkan dokter. Sebagian
kalangan berpendapat bahwa kemungkinan tersebut juga harus
diberitahu pada pasien.
Jika seorang dokter mengetahui bahwa tindakan pengobatannya
berisiko dan terdapat alternatif pengobatan lain yang lebih aman, ia
harus memberitahukannya pada pasien. Jika seorang dokter tidak
yakin pada kemampuannya untuk melakukan suatu prosedur terapi

6
dan terdapat dokter lain yang dapat melakukannya, ia wajib
memberitahukan pada pasien.
3. Alternatif
Dokter harus mengungkapkan beberapa alternatif dalam proses
diagnosis dan terapi. Ia harus dapat menjelaskan prosedur, manfaat,
kerugian dan bahaya yang ditimbulkan dari beberapa pilihan
tersebut. Sebagai contoh adalah terapi hipertiroidisme. Terdapat tiga
pilihan terapi yaitu obat, iodium radioaktif, dan subtotal tiroidektomi.
Dokter harus menjelaskan prosedur, keberhasilan dan kerugian
serta komplikasi yang mungkin timbul.
4. Rujukan atau konsultasi
Dokter berkewajiban melakukan rujukan apabila ia menyadari bahwa
kemampuan dan pengetahuan yang ia miliki kurang untuk
melaksanakan terapi pada pasien-pasien tertentu. Pengadilan
menyatakan bahwa dokter harus merujuk saat ia merasa tidak
mampu melaksanakan terapi karena keterbatasan kemampuannya
dan ia mengetahui adanya dokter lain yang dapat menangani pasien
tersebut lebih baik darinya.
5. Prognosis
Pasien berhak mengetahui semua prognosis, komplikasi, sekuele,
ketidaknyamanan, biaya, kesulitan dan risiko dari setiap pilihan
termasuk tidak mendapat pengobatan atau tidak mendapat tindakan
apapun. Pasien juga berhak mengetahui apa yang diharapkan dari
dan apa yang terjadi dengan mereka. Semua ini berdasarkan atas
kejadian-kejadian beralasan yang dapat diduga oleh dokter.
Kejadian yang jarang atau tidak biasa bukan merupakan bagian dari
informed consent.

Aspek Hukum Informed Consent

Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan


medis (dokter, dan pasien) bertindak sebagai subyek hukum yakni
orang yang mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan jasa tindakan
medis sebagai obyek hukum yakni sesuatu yang bernilai dan
bermanfaat bagi orang sebagai subyek hukum, dan akan terjadi
perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum,
baik yang dilakukan satu pihak saja maupun oleh dua pihak.

7
Dalam masalah informed consent dokter sebagai pelaksana jasa
tindakan medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran
Indonesia) bagi dokter, juga tetap tidak dapat melepaskan diri dari
ketentuan-ketentuan hukun perdata, hukum pidana maupun hukum
administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan.

Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum


perdata, tolok ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil (culpa
levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang
merugikan pasien, maka sudah dapat dimintakan
pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada hukum
perdata secara umum berlaku adagium barang siapa merugikan orang
lain harus memberikan ganti rugi.
Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan
adalah kesalahan berat (culpa lata). Oleh karena itu adanya kesalahan
kecil (ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai
sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan sanksi pidana.

Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh


pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari
pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien), sedangkan pasien dalam
keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka
dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan
digugat telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum
(onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-undang
Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas
tubuhnya, sehingga dokter dan harus menghormatinya;

Aspek Hukum Pidana, informed consent mutlak harus dipenuhi


dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP) tentang penganiayaan. Suatu tindakan invasive (misalnya
pembedahan, tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana
jasa tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien, maka
pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak
pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap
Pasal 351 KUHP.

8
Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus
menyadari bahwa informed consent benar-benar dapat menjamin
terlaksananya hubungan hukum antara pihak pasien dengan dokter,
atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak
yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.

Masih banyak seluk beluk dari informed consent ini sifatnya


relative, misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu
inforamsi sudah atau belum cukup diberikan oleh dokter. Hal tersebut
sulit untuk ditetapkan secara pasti dan dasar teoritis-yuridisnya juga
belum mantap, sehingga diperlukan pengkajian yang lebih mendalam
lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan dengan informed
consent ini.

Hal-hal yang Mempengaruhi Proses Informed Consent


1. Bagi pasien
a) Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis
b) Perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian,
atau tidak ada waktu untuk tanya jawab
c) Pasien sedang dalam keadaan stress emosional sehingga tidak
mampu mencerna informasi
d) Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk.
2. Bagi petugas kesehatan
e) Pasien tidak mau diberitahu.
f) Pasien tak mampu memahami.
g) Resiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi.
h) Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit.
Kualitas Informasi yang di berikan

Kualitas informasi sangat ditentukan oleh pengetahuan,


pengalaman, selera, dan iman seseorang mengolah stimulus menjadi
informasi. Burch (1986:5) mengatakan bahwa sebuah informasi yang
berkualitas sangat ditentukan oleh kecermatan (accuracy), tepat waktu
(timeliness) dan relevansinya (relevancy). Keakuratan informasi adalah
bila informasi tersebut terbebas dari bias. Informasi dikatakan tepat
waktu bila dihasilkan pada saat diperlukan. Adapun relevansi suatu
informasi berhubungan dengan kepentingan pengambilan keputusan
yang telah direncanakan.

Informasi yang tidak adekuat sering menimbulkan masalah dalam


menginterpretasikan perawatan klien di Rumah Sakit seperti

9
kecemasan pada keluarga menolak dilakukan tindakan medik atau
tindakan keperawatan invasif.

Adekuatnya informasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan


perawat dalam menyampaikan pesan melalui komunikasi terapeutik,
pengetahuan dan pemahaman dasar tentang penyakit. Dalam
melaksanakan tindakan invasif hal-hal yang perlu diinformasikan
adalah:

1. Alasan dilakukan tindakan tersebut.

2. Manfaat atau kegunaannya.

3. Langkah-langkah yang akan dilakukan.

4. Persiapan yang akan dibutuhkan.

5. Cara perawatan setelah pemasangan alat tersebut.

Dengan telah dijelaskannya kegunaan dari pemasangan alat


tersebut oleh perawat diharapkan akan meningkatkan kerja sama
perawat dan orang tua yang pada gilirannya diharapkan akan
menurunkan tingkat kecemasan orang tua(Setiawan,1992,Sachari,
1996, Whaley and Wongs, 1999).

Penerimaan informasi bagi seseorang dipengaruhi oleh:

1) Tingkat pendidikan
Semakin tinggi pendidikan orang tua akan semakin luas wawasan
pengetahuan dan akan semakin mudah untuk menerima dan
mengangkat informasi yang disampaikan. Tingkat pendidikan ini
akan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi, penerimaan
informasi oleh petugas kesehatan serta menentukan penilaian
objektif dan kognitif terhadap pengalaman prioritas yang lain
(Andrew, MC. Ghie, 1999).
2) Pengalaman
Pengalaman adalah sesuatu yang telah dihayati (Purwardaminta,
1991). Pengalama baik bersifat efektif dan kognitif akan
mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan terhadap

10
kehidupannya, pengalaman juga dapat terjadi setelah melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba, sebagian besar pengethuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga (Andrew, MC. Ghie, 1999).
3) Nilai sosial dan budaya
Nilai sosial adalah segala sesuatu yang mendasari perilaku
seseorang yang ditinjau dari segi nilai-nilai, kemanusiaan
pengaruh dari individu lain dan sebagainya. Sistem nilai yang
dianut oleh sesorang akan dapat mempengaruhi pola pikir, sikap,
dan tindakan yang diambil untuk mencapai tujuan. Dalam
pembangunan kesehatan, aspek tingkah laku yang didasari oleh
faktor sosial budaya perlu mendapat perhatian, karena umumnya
program kesehatan lebih berhasil apabila intensitas tingkah laku
sosial budaya individu ataupun masyarakat tidak begitu kuat
(Azwar, 1996).

BAB III
TATALAKSANA INFORMED CONSENT

a. Setelah pasien diperiksa status kesehatannya oleh dokter, bila


diperlukan suatu tindakan medis maka dokter yang memeriksa
harus memberikan informasi selengkap lengkapnya kecuali bila
dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan
kepentingan kesehatan pasien.
b. Pada saat dokter memberikan penjelasan kepada pasien maka
dokter harus menjelaskan mengenai :
- Diagnosis penyakitnya
- Sifat dan luasnya tindakan medis yang akan dilakukan
- Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan medis tersebut
- Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
- Alternatif prosedur atau cara lain tindakan medis yang
dilakukan

11
- Konsekuensinya apabila tidak dilakukan tindakan medis
tersebut.
- Prognosis penyakit apabila tindakan medis tersebut dilakukan
atau tidak dilakukan.
- Hari depan dari akibat penyakit tindakan medis tersebut.
- Keberhasilan/ketidak berhasilan tindakan medis tersebut.
c. Pelaksanaan Informed Consent dianggap benar bila persetujuan
atau penolakan indakan medis:
Diberi tanpa paksaan
Diberikan setelah mendapat informasi dan penjelasan yang
diperlukan.
Dilakukan oleh pasien dewasa yang sehat mental (lebih dari
21 tahun)
Bagi pasien dibawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai
orang tua/wali atau orang tua/wali berhalangan hadir, maka
perseujuan diberikan oleh keluarga terdekat atau induk
semang dengan menandatangani format yang disediakan.
Persetujuan tindakan medis ini diperlukan untuk tindakan
medis bedah yang menggunakan narkose umum, tindakan
medis yang beresiko tinggi, tindakan medis pada pasien
gawat darurat yang tidak sadar.
d. Penjelasan diberikan oleh dokter yang merawat pasien tersebut
atau perawat yang sudah mendapat limpahan dari dokter yang
merawat.
e. Yang berhak menandatangani persetujuan tindakan adalah :
- Pasien itu sendiri dan dalam kondisi penuh dengan usia > 18
tahun
- Pasangan hidup pasien ( suami atau isteri)
- Orang tua/wali
- Pasien yang berumur < 18 tahun , wali atau orang tua keluarga
terdekat menjadi penanggung jawab.
f. Setelah pasien dan keluarga paham tentang tindakan yang akan
dilakukan , kemudian menandatangain surat persetujuan yang
telah tersedia dengan disertai saksi sesuai dengan format surat
pernyataan.

12
BAB IV

DOKUMENTASI

1. Formulir Informed Consent


2. Formulir Penolakan Tindakan Medis
3. Berkas Rekam Medis Pasien

13