Anda di halaman 1dari 18

Step 3

1. Mengapa pasien mengeluhkan aliran kencingnya tidak lancar dan suka berhenti
ditengah, serta susah kencing?

Keluhan-keluhan pasien yang didapatkan saat anamnesis, sebenarnya perlu


digali lebih lanjut lagi. Pada keluhan utama pasien yang diikuti keluhan tambahan
lainnya, mengindikasikan bahwa pasien mengalami kelainan pada traktus urinariusnya
namun belum diketahui jenis dan penyebabnya. Untuk itu, perlu diwaspadai apakah
keluhan berkaitan dengan degenerasi, infeksi, tr auma atau yang lainnya yang juga
dapat diarahkan melalui anamnesis.
Aliran urin yang tidak lancar diikuti hesitansi, intermitensi, dan residual urin
merupakan tanda bahwa pasien mengalami obstruksi urin. Obstruksi urin dapat terjadi
diseluruh organ yang berperan dalam sistem urinaria. Untuk itu, perlu dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut berupa pemeriksaan fisik dan lanjutan (Purnomo, 2012).
Secara anatomi, ada beberapa penyempitan yang dapat menyebabkan aanya
obstruksi pada traktus urinarius. Pada laki-laki terdapat 4 penyempitan di ureter yakni
junctura pelvic ureterica, menyilang didepan arteri iliaca, menyilang dibelakan vassa
testikularis, dan pada junctura ureterovesicae. Sedangkan pada wanita juga terdapat 4
penyempitan di ureter yakni junctura pelvic ureterica, menyilang didepan arteri iliaca,
menyilang dibelakan vassa ovarica, dan pada junctura ureterovesicae.
Terdapat juga penyempitan normal secara anatomi pada organ urethra. Pada
laki-laki terdapat penyempitan di musculus phincter urethrae pada urethra internum
pars intramural, musculus phincter urethrae externum pada urethra pars membranacea,
dan pada ostium urethrae externum. Sedangkan pada wanita hanya terdapat pada
ostium urethrae externum saja (Sabotta, 2010).

KEGANASAN TRAKTUS URINARIUS

Tumor traktus urinarius/ tumor traktus urogenitalia merupakan keganasan yang sering
dijumpai di tempat praktek sehari-hari yang mungkin terlewatkan karena kekurangwaspadaan
dokter dalam mengenali penyakit ini. Tumor urogenetalia dapat tumbuh di seluruh organ
urogenetalia mulai dari ginjal beserta salurannya, ureter, buli-buli, prostat, uretra, testis dan
penis.

1
Semua gambaran atau manifestasi klinis tumor urogenital tergantung dari letak tumor,
stadium, dan penyulit yang disebabkan oleh tumor. Metastasis pada paru, otak, tulang dan liver
dapat menyebabkan gangguan organ tersebut dan memberikan manifestasi klinis sesuai dengan
gejala organ yang terkena.Pada keganasan traktus urinariu, keganasan yang tersering adalah
keganasan buli-buli dan tumor ginjal (Purnomo, 2012).

I. GINJAL

Tumor ginjal merupakan tumor urogenitalia nomer 3 terbanyak setelah tumor kandung
kemih dan tumor prostat. Semakin meluasnya penggunaan ultrasonografi abdomen sebagai
salah satu pemeriksaan screening (penyaring) di klinik-klinik rawat jalan, makin banyak
kasus-kasus tumor ginjal yang masih dalam stadium awal (Purnomo, 2012).

Tumor ginjal ganas lebih sering ditemukan dibandingkan dengan tumor ginjal jinak.
Tumor ginjal padat jinak adalah adenoma, onkositoma, leiomioma, lipoma, hemangioma dan
hamartoma. Tumor ginjal ganas biasanya beruba tumor padat yang berasal dari urotelium, yaitu
karsinoma sel transisional, atau yang berasal dari sel epitel ginjal atau adenokarsinoma, yaitu
tumor Grawitz atau dari sel nefroblas yaitu tumor Wilms (Purnomo, 2012).

2
A. Tumor Ganas

1. Adenokarsinoma Renal (RCC)

Adenokarsinoma Renal merupakan 3% dari keganasan pada usia 40-70 tahun


dan 90-95 % dari neoplasma yang mengenai ginjal, ditandai dengan kekurangan tanda-
tanda awal, manifestasi klinik yang bermacam-macam, dan resisten terhadap radiasi
dan kemoterapi dan jarang tetapi memberi respon terhadap imunoterapi, pada jaman
dulu tumor dipercaya berasal dari glandula adrenal, oleh karena itu istilah hipernefroma
lebih sering dipakai. Tumor ini dikenal dengan nama lain sebagai: tumor Grawitz,
Hipernefroma, karsinoma sel ginjal, atau internist tumor.

Adenokarsinoma ginjal merupakan keganasan yang berasal dari epitel tubulus


proksimal ginjal, sebagian besar merupakan clear sel karsinoma, sebagian
chromophilik, chromophobik, oncocytoma, dan sebagian kecil ductus
collectivus.Adenokarsinoma ginjal lebih sering diderita oleh orang eropa utara
(Skandinavia) dan amerika utara daripada orang Asia dan Afrika.Di Amerika insidensi
telah ekuivalen atau sama antara kulit putih dan afrika Amerika, tetapi insidensi orang
Afrika Amerika atau orang Negro meningkat cepat.Adenokarsinoma ginjal
prevalensinya atau angka kejadiannya 2 kali pada pria dibandingwanita.

Sel, lingkungan, genetik dan faktor- faktor hormonal telah dipelajari merupakan
penyebab yang mungkin untuk adenokarsinoma ginjal, seperti 1) Merokok memiliki
faktor resiko ganda dan memberi kontribusi sepertiga dari seluruh kasus, resiko tampak
dari peningkatan jumlah dosis ketergantungan merokok.Semakin lama merokok dan
semakin muda seseorang mulai merokok semakin besar kemungkinan menderita
kanker ginjal. 2) Kegemukan adalah faktor resiko lain, pada wanita peningkatan berat
badan ada hubungan linier dengan peningkatan resiko

Tumor, Nodul, Metastasis ( TNM), Klasifikasi dibuat oleh AJCC, Hal terpenting
dari sistem TNM adalah dapat secara jelas membedakan secara individual dengan
penyakit pada nodus local, dalam AJCC :
3
Adenokarsino

4
Adenokarsinoma ginjal memiliki trias klasik yaitu hematuria makroskopik, nyeri
pinggang, dan massa didaerah ginjal, dan ini merupakan tanda bahwa penyakit telah
berkembang, 25 30 % pasien tanpa gejala, dan adenokarsinoma ginjal ditemukan
pada saat pemeriksaan radiologis secara insidental. Hematuri merupakan gejla yang
paling sering timbul. Nyeri bsa timbul dikarenakan peregangan simpai ginjal,
adanya bekuan darah yang turun melalui ureter yang menimbulkan kolik ureter
(Purnomo, 2012).

Anemia dan tanda metastasis jauh di paru dapat ditemukan pada penyakit yang
sudah lanjut. Metastase pada tulang dapat terjadi dan tidak jarang merupakan
manifestasi yang pertama. Biasanya ditemukan gejala sistemik berupa kehilangan berat
badan, demam, malaise, dan neuromiopati berupa nyeri otot. Kadang ditemukan
sindrom paraneoplastik yaitu Hiperkalsemia, eritrositosis, dan disfungsi hepar non
metastasis.

Diagnosis Adenokarsinoma ginjal dapat kita tegakkan pertama dengan anamnesa


gejala-gejala yang ada.Pada temuan laboratorium abnormal berhubungan dengan jenis
sindrom paraneoplastik RCC, anemia, hematuri dan peningkatan rate sedimentasi yang
secara frekuen diamati.

Sebagian besar pasien dengan kanker ginjal dapat diketahui dengan cara stud
image, dengan meluasnya pemakaian ultrasonografi dan CT Scan, kanker ginjal dapat
ditemukan dalam keadaan stadium yang lebih awal. CT Scan merupakan pemeriksaan
pencitraan yang lebih dipilih pada karsinoma ginjal. Pemeriksaan ini mempunyai
akurasi yang cukup tinggi dalam mengetahui adanya penyebaran.tumor pada vena
renalis, vena cava, ekstensi perirenal, dan metastasis pada kelenjar limfe retroperitoneal.
MRI dapat mengungkapkan adanya invasi tumor pada vena renalis dan vena cava tanpa
membutuhkan kontras, tetapi kelemahannya adalah kurang sensetif mengenali lesi solid
yang berukuran kurang dari 3 cm.

Sebelum pemakai CT Scan dan MRI berkembang luas, arteriografi selektif


merupakan pilihan untuk menegakkan diagnosis karsinoma ginjal. Gambaran klasik
arteriogram pada karsinoma ini adalah: neovaskularisasi, fistulae arteriovenus, pooling
bahan kontras, dan aksentuasi pembuluh darah pada kapsul ginjal. Pemberian infus

5
adrenalin menyebabkan kontriksi pembuluh darah normal tanpa diikuti kontriksi
pembuluh darah tumor (Purnomo, 2012).

6
2.
TUMOR WILMS.

Tumor
Wilms,
yang juga
dikenal
dengan
nama

nefroblastoma, adalah kanker pada ginjal yang terutama menyerang anak-anak,


merupakan jenis kanker ginjal tersering pada anak-anak, dengan angka kejadian
tertinggi pada usia 3 tahun, dan jarang terjadi diatas usia 8 tahun. Tumor Wilms biasanya
menyerang hanya 1 ginjal (unilateral), hanya 5% kasus yang menyerang kedua ginjal
(bilateral)

Penyebab pasti tumor Wilms tidak diketahui, tetapi tampaknya penyakit ini
merupakan akibat dari perubahan-perubahan pada satu atau beberapa gen. Pada sel-sel
dari sekitar 30% kasus tumor Wilms didapatkan delesi yang melibatkan setidaknya dua
loci pada kromosom 11. Delesi-delesi konstitusional hemizigous pada satu dari loci ini,
yaitu 11P13. Kelainan-kelainan herediter yang sering terjadi bersamaan dengan tumor
Wilms Kelainan Uraian Aniridia (Iris gagal terbentuk, kondisi ini jarang terjadi.),
keraguan genitalia, Sindroma Beckwith-Wiedemann Sindroma kongenital yang ditandai
dengan beberapa tipe neoplasma-neoplasma embrional (misalnya omphalocele),
hemihipertrofi, makroglosia, dan visceromegali (pembesaran organ-organ internal).

Tumor wilms berasal dari blastema metanefrik. Oleh karena itu sel ini terdiri dari
unsur blastema, epitel dan stroma. Pada sediaan makroskopik tampak sebagai tumor
yang besar berwarna abuabu dengan fokus perdarahan atau nekrosis. Tumor ini sering
sudah bermatastasis saat ditemukan terutama pada paru-paru (85%) dan hati (10%).

Meskipun sebagian besar pasien dengan diagnosis histologis tumor Wilms


mendapat kesembuhan melalui terapi yang ada saat ini, tetapi sekitar 10% pasien
7
mempunyai gambaran histopatologis yang menghasilkan prognosis yang lebih buruk,
dan pada beberapa tipe dengan insidens kekambuhan dan kematian yang tinggi. Tumor
Wilms dapat dibedakan menjadi dua kelompok prognostik dengan dasar
histopatologinya, yaitu 1.) Histologi baik (favorable histology) Secara histologis, tumor
menyerupai perkembangan ginjal normal dengan tiga tipe sel, yaitu blastemal, epitelial
(tubulus), dan stromal. Tidak semua tumor mengandung ketiga jenis sel secara
bersamaan, dapat pula ditemukan tumor yang hanya mengandung satu jenis sel yang
membuat diagnosis menjadi sulit. 2.) Histologi anaplastik (anaplastic histology)
Terdapat pleomorfisme dan atipia yang hebat pada sel-sel tumor yang dapat fokal
maupun difus. Anaplasia fokal tidak selalu berhubungan dengan prognosis yang buruk,
tetapi anaplasia difus selalu mempunyai prognosis yang buruk (kecuali pada stadium I).
Anaplasia berhubungan pula dengan resistensi terhadap kemoterapi dan masih dapat
terdeteksi setelah kemoterapi preoperatif.

Gejala pada tumor Wilms ini jarang timbul. Biasanya tumor mulai diketahui
karena teraba massa di perut. Kadang ditemukan hematuria yang berarti tumor sudah
lanjut. Hipertensi juga sering ditemukan. Pada pemeriksaaan laboratorium biasanya
ditemukan hematuri dan anemia.

Jika secara klinis tumor masih berada dalam stadium dini dan ginjal di sebelah
kontralateral normal, dilakukan nefrektomi radikal. Pembedahan ini kadang kala diawali
dengan pemberian sitostatika atau radiasi:
1. Sitostatika. Pemberian sitostatika dimulai sebelum pembedahan dan dilanjutkan
beberapa seri setelah pembedahan dengan memberikan hasil yang cukup
memuaskan.Sitostatika yang dipergunakan adalah kombinasi dari Actinomisin D
denganVincristine.
2. Radiasi Eksterna. Tumor Wilm memberikan respon yang cukup baik terhadap
radioterapi (bersifat radiosensitif). Radiasi diberikan sebelum atau setelah operasi dan
kadang kala diberikan berselingan dengan sitostatika sebagai terapi sandwich .
3. Nefrektomi radikal merupakan terapi terpilih apabila tumor belum melewati garis
tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran kelenjar limf retroperitoneal
total tidak perlu dilakukan, tetapi biopsi kelenjar di daerah hilus dan paraaorta sebaiknya
dilakukan.Pada pembedahan perlu diperhatikan ginjal kontralateral karena kemungkinan

8
lesi bilateral cukup tinggi (sampai 10%).Apabila ditemukan penjalaran tumor ke v.
Kava, tumor tersebut harus diusahakan diangkat.Pada waktu pembedahan harus
diusahakan agar tidak terjadi penyebaran untuk mencegah kenaikan tingkat keganasan
klinis.Pada awal pembedahan v. Renalis dan v. Kava sebaiknya ditutup dengan klem,
sebelum memanipulasi ginjal yang kena tumor.Pada tumor bilateral harus dilakukan
pemeriksaan patologi dengan biopsi jarum untuk menentukan diagnosa dan perangai
histologik.Apabila termasuk golongan prognosis baik, dapat diberikan kemoterapi
disusul dengan nefrektomi parsial.Kalau termasuk golongan prognosis buruk harus
dilakukan nefrektomi bilateral, kmoterapi dan radiotrapi kemudian dialisis atau
transplantasi ginjal.

Tumor Wilms dikenal sebagai tumor yang radiosensitif.Akan tetapi radioterapi


dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung, paru dan
hati.Oleh karena itu radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang
termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III dan IV.Jika ada sisa tumor
pasca bedah juga diberikan radioterapi.Tumor Wilms merupakan tumor yang
kemosensitif terhadap beberapa obat anti tumor, seperti aktinomisin D, vinkristin,
doksorubisin, siklofosfamid dan sisplatin.Biasanya kemoterapi diberikan prabedah
selama 4 8 minggu.Dengan terapi kombinasi seperti di atas dapat dicapai kelanjutan
hidup lebih dari 90% dan bebas penyakit 85%.Pada tumor bilateral, kelanjutan hidup 3
tahun adalah 80% (Purnomo, 2012).

3. TUMOR PELVIS RENIS

Mukosa pelvis ginjal, ureter dan kandung kemih merupakan epitel transisional
sehingga keganasan hampir selalu berupa kasinoma sel transisional. Tumor pelvis
merupakan tumor urotelial, yaitu karsinoma sel transisional (TCC) yang juga dapat
menyerang ureter dan kandung kemih. Tumor ini sangat jarang ditemukan. Karsinoma
pelvis renis sering menjalar ke kandung kemih.

9
Selain karsinoma sel transisional, terdapat pula karsinoma sel skuamosa, namun
karsinoma ini lebih jarang ditemukan. Biasanya ditemukan bersama batu ginjal akibat
rangsangan kronik mukosa.

Makrohematuri merupakan gejala yang paling sering dijumpai. Nyeri pinggang


hanya terjadi bila timbul bendungan oleh tumor. Massa di daerah ginjal juga biasanya
ditemukan bila terjadi hidronefrosis karena pembendungan oleh tumor.

Pada pemeriksaan Pielogravi intravena terdapat filling defect yang nampak seolah-
olah seperti batu radiolusen, tuberkuloma, atau hemangioma pada pielum ginjal.Untuk
itu bantuan ultrasonografi atau CT scan dapat membedakannya.Pemeriksaan sitologi
urin dengan mengambil contoh urin langsung ke dalam pielum melalui kateter
ureter.Melalui alat ureterorenoskopi dapat dilihat langsung keadaan pielum. Jika
dicurigai ada massa pada pielum diambil contoh jaringan untuk pemeriksaan
histopatologi.

Tumor ini kurang memberikan respon pada pemberian sitostatika maupun radiasi
eksterna, jadi diberikan jika sudah terjadi metastase.Terapi yang paling baik untuk tumor
ini pada stadium awal adalah nefroureterektomi dengan mengangkat sebagian dinding
buli-buli sekitar muara ureter yang bersangkutan (Purnomo, 2012).

B. Tumor Jinak

1. Hamartoma Ginjal
Hamartoma atau angiomiolipoma ginjal adalah tumor ginjal yang terdiri atas
komponen lemak, pembuluh darah dan otot polos.Lesi ini bukan merupakan tumor
sejati, tetapi paling cocok disebut sebagai hamartoma.Tumor jinak ini biasanya
bulat atau lonjong dan menyebabkan terangkatnya simpai ginjal.Kadang tumor ini
ditemukan juga pada lokasi ektrarenal karena pertumbuhan yang multisentrik.

Gejala klinis yang mungkin dikeluhkan adalah : nyeri pinggang, hematuria,


gejala obstruksi saluran kemih bagian atas dan kadang kala terdapat gejala
perdarahan rongga retroperitonial.

10
Karena banyak mengandung komponen lemak inilah yang membedakan
hamartoma dengan adenokarsinoma ginjal ; sehingga pada ultasonografi akan
terlihat gambaran hiperekoik dan jika dkonfirmasikan dengan CT scan tampak
area yang menunjukkan densitas negatif. Gambaran ini patognomonis untuk suatu
hamartoma.

Diagnosis ditentukan dengan ditemukannya massa pada ginjal yang pada


pielografi intravena terlihat sebagai massa yang mendesak pada sistem pielum dan
kaliks. Pada pemeriksaan ultrasonografi dapat terlihat massa padat pada ginjal.
Dengan arteriografi sulit membedakan tumor ini dengan tumor ganas karena
keduanya memberi bayangan hipervaskularisasi.

Tumor kecil dan tanpa menimbulkan keluhan tidak perlu diobati, hanya saja
memerlukan evaluasi berkala yang teratur untuk mengetahui perkembangan
besarnya massa tumor. Jika tumor menjadi semakin besar dan sangat mengganggu
perlu dipertimbangkan untuk tindakan nefrektomi (Purnomo, 2012).

2. Fibroma Renalis
Tumor jinak ginjal yang paling sering ditemukan ialah fibroma renalis atau
tumor sel interstisial reno-medulari.Tumor ini biasanya ditemukan secara tidak
sengaja sewaktu melakukan autopsi, tanpa adanya tanda ataupun gejala klinis yang
signifikan. Fibroma renalis berupa benjolan massa yang kenyal keras, dengan
diameter kurang dari 10 mm yang terletak dalam medula atau papilla. Tumor
tersusun atas sel spindel dengan kecenderungan mengelilingi tubulus di dekatnya.

3. Adenoma Korteks Benigna


Adenoma koreteks benigna merupakan tumor berbentuk nodulus berwarna
kuning kelabu dengan diameter biasanya kurang dari 20 mm, yang terletak dalam
korteks ginjal.Tumor ini jarang ditemukan, pada autopsi didapat sekitar 20% dari
seluruh autopsi yang dilakukan. Secara histologis tidak jelas perbedaannya dengan
karsinoma tubulus renalis ; keduanya tersusun atas sel besar jernih dengan inti
kecil. Perbedaannya ditentukan hanya berdasarkan ukurannya ; tumor yang
11
berdiameter kurang dari 30 mm ditentukan sebagai tumor jinak. Perbedaan ini
sepenuhnya tidak dapat dipegang sebab karsinoma stadium awal juga mempunyai
diameter kurang dari 30 mm. Proses ganas dapat terjadi pada adenoma korteks.

4. Onkositoma
Onkositoma merupakan subtipe dari adenoma yang sitoplasma granulernya
(tanda terhadap adanya mitokondria yang cukup besar dan mengalami distorsi)
banyak ditemukan.Onkositoma kadang-kadang dapat begitu besar sehingga mudah
dikacaukan dengan karsinoma sel renalis (Purnomo, 2012).

II. URETER
Hampir semua tumor ureter adalah karsinoma sel transisional.Kira-kira dua per
tiga terdapat pada bagian distal ureter.Keluhan utamanya adalah hematuri dan nyeri.Pada
pielografi intravena terlihat tanda khas, yakni obstruksi, defek isian, dan dilatasi ureterdi
sebelah proksimal obstruksi.Pada batu ureter didapatkan gambaran yang mirip dengan
tumor ureter.Cara membedakannya berdasarkan penemuan tumor primer atau CT scan.
Pilihan utama untuk penanganan tumor multipel atau tumor yang berderajat tinggi
adalah nefroureterektomi.Pilihan untuk tumor yang terdapat pada bagian distal ureter
adalah reseksi parsial ureter dan muaranya di kandung k emih serta
neouretervesikostomi (Purnomo, 2012).

III. KANDUNG KEMIH

Kanker kandung kemih merupakan kanker kedua terbanyak pada saluran


genitourinaria.Hal ini menyumbang 7% dari kasus kanker baru pada pria dan 2% dari
kasus kanker baru pada wanita.Kejadian lebih tinggi pada orang kulit putih dari pada
orang kulit hitam, dan ada gradien positif kelas sosial untuk kanker kandung kemih pada
kedua jenis kelamin.Tumor ini dua kali lebih sering menyerang pada pria dari pada
wanita. Rata-rata usia saat diagnosis adalah 65 tahun, sekitar 75% kanker kandung kemih
terlokalisasi di kandung kemih, 25% telah menyebar ke kelenjar getah bening regional
atau tempat yang jauh. Didaerah industri kejadian tumor ini meningkat tajam.

12
Merokok menyumbang 50% kasus pada pria dan 31% pada wanita. Secara umum,
perokok memiliki risiko menderita kanker kandung kemih dua kali lipat dari dari pada
bukan perokok, dan berhubungan dengan jumlah rokok yang di konsumsi..Paparan
pekerjaan menyumbang 15-35% kasus pada pria dan 1-6% pada wanita.Pekerja di kimia,
pewarna, karet, minyak bumi, kulit, dan pencetakan industri memiliki resiko yang
meningkat.Karsinogen tertentu termasuk benzidin, betanaphthylamine, dan 4-
aminobiphenyl, dan lamanya periode antara eksposur dan perkembangan tumor dapat
menjadi berkepanjangan.Pasien yang telah menerima cyclophosphamide (Cytoxan) untuk
terapi berbagai penyakit keganasan juga mengalami peningkatan risiko.Konsumsi
pemanis buatan telah dicurigai menjadi faktor risiko, tetapi beberapa studi telah gagal
untuk mengkonfirmasi setiap asosiasi.Trauma fisik pada urothelium disebabkan oleh
infeksi, instrumentasi, dan kalkuli meningkatkan resiko keganasan.

Sembilan puluh delapan persen dari semua kanker kandung kemih adalah
keganasan epitel, dengan sebagian besar adalah karsinoma sel transisional (TCCs).
Secara histopatologi karker buli dibagi menjadi: A. Karsinoma sel transisional B.
Papiloma C. Karsinoma non-sel transisional (adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa,
undiferentiated carcinoma, karsinoma campuran) D. Epitelial jarang dan non-epitelial.

Hematuria merupakan gejala yang muncul pada 85-90% pada pasien dengan
kanker kandung kemih, bisa berupa gross hematuri atau hematuri mikroskopik, sering
intermiten dari pada konstan. Dalam persentase yang lebih kecil pada beberapa pasien,
disertai dengan gejala iritabilitas vesika: frekuensi, urgensi, dan disuria. Gejala penyakit
lanjut termasuk nyeri tulangpada metastasis tulang atau nyeri panggul pada metastasis
retroperitoneal atau obstruksi saluran kemih.

Pasien dengan volume tumor besar atau invasif mungkin ditemukan penebalan
dinding visika atau teraba massa yang dapat dideteksi pada pemeriksaan bimanual di
13
bawah anestesi. Jika kandung kemih tidak mobile, menunjukkan fiksasi tumor pada
struktur yang berdekatan oleh invasi langsung.Hepatomegali dan limfadenopati
supraklavikula merupakan tanda-tanda metastasis.Lymphedema dari oklusif limfadenopati
pelvik dapat terlihat sesekali.

Pada pemeriksaan penunjang kelainan yang paling umum didapat adalah


hematuria. Ini dapat disertai dengan piuria, mungkin akibat bersamaan infeksi saluran
kemih.Anemia mungkin karena kehilangan darah kronis, atau penggantian sumsum tulang
oleh metastasis tumor.

Ada pula beberapa tes baru telah dikembangkan untuk mengatasi kekurangan dari
sitologi urin seperti sensitivitas yang rendah untuk low grade supeficial tumor dan
variabilitas antar pengamat, yaitu pemeriksaan antigen permukaan sel (cell surface
antigen) dan flow cytometri untuk mendeteksi adanya kelainan kromosom sel-sel
urotelium (Purnomo, 2012).

IV. PROSTAT

Kanker prostat adalah keganasan pada prostat yang diderita pria berusia
lanjut dengan kejadian puncak pada usai 65 - 75 tahun. Penyebab kanker prostat
tidak diketahui secara tepat, meskipun beberapa penelitian telah menunjukkan
adanya hubungan antara diet tinggi lemak dan peningkatan kadar hormon
testosteron. Pada bagian lain, Rindiastuti (2007) menyimpulkan bahwa usia lanjut
mengalami penurunan beberapa unsur esensial tubuh seperti kalsium dan vitamin D.
Penurunan kandungan kalsium tubuh mengakibatkan berbagai penyakit, diantaranya
adalah osteoporosis, sehingga timbul paradigma bahwa pada usia lanjut untuk
mengkonsumsi kalsium dalam jumlah banyak. Tetapi pola makan dengan kalsium

tinggi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker prostat pada usia lanjut

14
Lebih.dari 95 % kanker prostat bersifat adenokarsinoma. Selebihnya

didominasi transisional sel karsinoma (Presti, J. C, 2008).

15
Penelitian menunjukkan bahwa 60 - 70% kasus kanker prostat terjadi pada
zona perifersehingga dapat diraba sebagai nodul nodul keras irregular. Fenomena
ini nyata pada saat pemeriksaan rectum dengan jari (Digital Rectal Examination).
Nodul nodul ini memperkecil kemungkinan terjadinya obstruksi saluran kemih
atau uretra yang berjalan tepat di tengah prostat. Sebanyak 10 20 % kanker prostat
terjadi pada zona transisional, dan 5 10 % terjadi pada zona sentral
(Purnomo, 2012).

V. PENIS

Karsinoma penis

Karsinoma penis merupakan karsinoma sel skuamosa dari epitel glans penis atau
permukaan dalam prepusium.Faktor penyebab utama ialah rangsangan lama seperti
prostitis kronik pada fimosis.Insiden karsinoma ini lebih sering pada orang yang tidak
disunat.Insidennya tinggi pada fimosis, termasuk mereka yang disunat secara tidak
sempurna sehingga terjadi fimosis.Karsinoma skuamosa penis yang umumnya
berdiferensiasi baik, merupakan kanker dengan tingkat keganasan rendah tetapi
mempunyai daya destruksi setempat yang kuat.

Karsinoma penis mulai dari kelainan kecil di permukaan dalam preputium atau
glans penis, termasuk korona glans.Karsinoma ini berangsung-angsur membesar sampai
meliputi seluruh penis hingga sebagian besar atau seluruhnya hilang dan meluas lagi ke
regio pubis, skrotum dan bagian bawah dinding perut.Kelemjar limfa yang pertama kali
terkena adalah kelenjar inguinal superfisial, kemudian dapat meluar ke kelenjar iliaka
eksterna, interna dan obturator.Kelenjar inguinal maligna yang membesar dapat dapat
membentuk paket besar.Gumpalan ini mungkin mengalami nekrosis yang meluas ke kulit
di atasnya sampai terbentuk tukak yang kotor dan berbau karena radang sekunder.Erosi ke
dalam pembuluh darah femoral dapat menyebabkan perdarahan.

16
Keluhan dari pasien kebanyakan karena ada benjolan, biasanya tidak nyeri.Dapat
disertai kesulitan miksi dan/atau benjolan di lipat paha.Benjolan walaupun kecil dapat
mudah teraba.Biasanya didapatkan adanya fimosis.Preputium ini dapat menampung urin
sewaktu miksi, dan dapat dikeluarkan dengan pengurutan.

Pada tempat karsinoma dapat terdapat kutil atau tukak.Dasar tukak ganas
berkonsistensi keras.Kadang tumor atau tukak tidak tampak karena pembengkakan dan
sekret yang berbau dan banyak smegma.

Diagnosis karsinoma penis dapat ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan


biopsi.Sebaiknya dilakukan biopsi juga pada kelenjar inguinal.Bila tidak ada kelenjar
yang dicurigai pada pemeriksaan palpasi, dianjurkan biopsi di kelenjar limf dari fosa
ovalis yang terletak paling proksimo-medial.

Tatalaksana karsinoma penis dengan tindakan bedah bertujuan untuk penyembuhan


dengan mengeluarkan karsinoma secara total. Pengeluaran karsinoma akan dilakukan
sehemat mungkin. Untuk tumor yang kecil dapat dilakukam bedah laser. Setiap langkan
akan dikontrol dengan biopsiuntuk menentukan apakah bataas jaringan sehat sudah
dicapai. Tumor yang berada pada preputium dapat diatasi dengan sirkumsisi, sedangkan
tuor di glans penis dengan eksisi atau amputasi terbatas.Jika ada destruksi batang penis,
amputasi tidak dapat dihindarkan.Pada regio inguinal dilakukan disesksi kelenjar
inguinalis jika didapatkan jaringan ganas dari hasil biopsi.Diseksi diperluas dengan
kelenjar inguinal dalam dan pelvik bila perlu.

Radiasi dapat dilakukan untuk kelainan kecil atau jika pasien menolak
operasi.Radiasi digunakan pula sebagai terapi paliatif.Dengan dosis 6.000 rad selama 3-6
minggu (Purnomo, 2012).

17
Purnomo BB. 2012. Buku kuliah dasardasar urologi. Jakarta: CV Infomedika

Sabotta. 2010. Sobotta Atlas Anatomi Manusia. Edisi 21. EEG Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta.

Rindiastuti,Y .2007. Mekanisme Kalsium Dalam Meningkatkan Resiko Kanker


Prostat pada Usia Lanjut. Solo : Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas
Maret : 24

Presti, J. C., et al. 2008. Neoplasm of The Prostate Gland. In : Tanagho, Emil A.,
Jack W. McAnich, ed. Smiths General Urology 17th Ed. USA : The McGrawHill
Companies Inc

18