Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Definisi ................................................................................................ 2
II.2 Epidemiologi ....................................................................................... 2
II.3 Etiopatogenesis .................................................................................... 3
II.4 Gambaran Klinis .................................................................................. 5
II.5 Klasifikasi ............................................................................................ 7
II.6 Derajat dermatitis perioral.................................................................... 9
II.7 Diagnosis Banding .............................................................................. 10
II.8 Tatalaksana .......................................................................................... 11
II.9 Komplikasi ........................................................................................... 13
II.10 Prognosis............................................................................................. 14
BAB III KESIMPULAN ................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 16

BAB I

PENDAHULUAN
Halaman

Dermatitis perioral merupakan bentuk inflamasi kulit yang terlihat sebagai


papuloeritema, vesikel dan pustula yang timbul terlokalisasi disekitar mulut,
hidung ataupun mata.1,2 Penyebab pasti dermatitis perioral belum diketahui dengan
jelas. Penyebab tersering yang sering teridentifikasi adalah penggunaan
kortikosteroid topikal pada wajah. Dermatitis perioral juga bisa disebabkan karena
penggunaan obat kortikosteroid inhalasi dan kortikosteroid sistemik. Penyebab
lain yang memungkinkan dapat menyebabkan dermatitis perioral adalah kulit
kering. Penggunaan kosmetik, moisturizing cream, dan pasta gigi yang
mengandung fluoride.3

Perioral dermatitis pertama kali didefinisikan pada sekitar akhir 1950-


1960. Pada era tersebut penggunaan pasta gigi berfluoride dan kortikosteroid
topical mulai tersedia dan digunakan secara luas. Pada saat itu banyak dokter
meresepkan obat kortikosteroid topical kuat yang digunakan pada kulit wajah
sedangkan efek samping dari obat tersebut belum diketahui. Insidensi dermatitis
perioral terhitung mencapai 0,5 1% di negara industri, tergantung dari faktor
geografis yang ada. Di Jerman didapatkan 6% wanita yang berkunjung untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan kulit mengalami dermatitis perioral, sedangkan
hanya 0,3% laki-laki saja yang mengalami dermatitis perioral. Berdasarkan hasil
penelitian sebelumnya, pada anak-anak yang menderita asma angka kejadian dari
dermatitis perioral ini tercatat sebanyak 3% berasal dari kelompok umur 6 bulan
18 tahun. Selain itu, menurut hasil penelitian terhadap lokasi lesi dermatitis
perioral didapatkan sekitar 20% dari kasus tiak terjadi pada perioral.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi

Dermatitis perioral merupakan bentuk inflamasi kulit yang terlihat sebagai


papuloeritema, vesikel dan pustula yang timbul terlokalisasi disekitar mulut,
hidung ataupun mata. Dermatitis perioral merupakan sinonim dari rosacea like
dermatitis.1,2

2. Epidemiologi

Insidensi dermatitis perioral terhitung mencapai 0,5 1% di negara industri,


tergantung dari faktor geografis yang ada. Di Jerman didapatkan 6% wanita yang
berkunjung untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kulit mengalami dermatitis
perioral, sedangkan hanya 0,3% laki-laki saja yang mengalami dermatitis perioral.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, pada anak-anak yang menderita asma
angka kejadian dari dermatitis perioral ini tercatat sebanyak 3% berasal dari
kelompok umur 6 bulan 18 tahun. Selain itu, menurut hasil penelitian terhadap
lokasi lesi dermatitis perioral didapatkan sekitar 20% dari kasus tiak terjadi pada
perioral (tabel 1).3

4 dan periorbital
Gambar 1. Lokasi dermatitis pada perinasal
Tabel 1. Distribusi lokasi lesi dermatitis perioral3

Perioral 39%
Perinasal 13%
Periokular 1%
Perioral dan perinasal 14%
Perioral dan periokular 6%
Perinasal dan periokular 6%
Perioral, perinasal, dan periokkular 10%

3. Klasifikasi

Berdasarkan penyebabnya dermatitis perioral secara garis besar dapat


dibedakan menjadi dermatitis perioral yang berhubungan dengan penggunaan
kortikosteroid topikal yang merupakan subtipe dari CIRD (corticosteroid-induced
rosacea-like dermatitis) maupun yang tidak berhubungan dengan penggunaan
kortikosteroid topikal (Idiopathic dermatitis perioral). CIRD mempunya tiga
subtipe yang dibagi berdasarkan lokasi anatomi antara lain perioral, centrofacial,
dan diffuse. Dermatitis perioral yang merupakan subtipe dari CIRD merupakan
subtipe paling sering terjadi pada dewasa dan anak-anak. Pada beberapa kasus juga
terjadi pada perinasal dan periokular. Pada subtipe centrofacial terjadi pada pipi
bagian dalam, kelopak mata bagian dalam, hidung dan dahi. Pada subtipe diffuse
terjadi pada seluruh wajah dan seringkali meluas sampai ke leher.4

a. b.

Gambar 2.Ca. ortikosteroid induced perioral dermatitis


; b. dermatitis perioral

idiopatik4
Dermatitis perioral idiopatik biasanya lebih sering terjadi pada pasien wanita
berusia 20 45 tahun meskipun dapat juga terjadi pada pria. Dermatitis perioral
idiopatik juga terjadi pada anak-anak tanpa adanya dominasi gender. Terdapat
varian lainnya dari dermatitis perioral idiopatik yaitu granulomatous periorificial
dermatitis atau Facial Afro-Caribbean Childhood Eruption (FACE).
Granulomatous periorificial dermatitis paling sering terjadi pada anak-anak ras
Afrika-Amerika dan mungkin juga berhubungan dengan penggunaan
kortikosteroid topikal. Dermatitis perioral idiopatik tidak dipengaruhi oleh
penggunaan pasta gigi berfluoride, pemakaian kosmetik dan pelembab, stress
emosional, dan agen mikrobiologi. Granulomatous periorificial dermatitis lebih
sering terjadi pada anak-anak prepubertas. Pada pasien dengan granulomatous
periorificial dermatitis terdapat lesi erupsi papular yang biasanya berukuran 1 3
mm terdapat di sekitar mulut, hidung dan mata. Pada pemeriksaan histopatologi
menunjukkan pola granulomatus, terdapat infiltrat granulomatosa perifolikular
yang terdiri dari sel makrofag epitel, limfosit dan giant sel. Granulomatous
periorificial dermatitis

merupakan keadaan
self- limited 3,4 khusus.
dan tidak terlalu membutuhkan terapi

Gambar 3 10
Granulomatous periorificial dermatisis

4. Etiopatogenesis

Penyebab pasti dermatitis perioral belum diketahui dengan jelas. Penyebab


tersering yang sering teridentifikasi adalah penggunaan kortikosteroid topikal pada
wajah. Dermatitis perioral juga bisa disebabkan karena penggunaan obat
kortikosteroid inhalasi dan kortikosteroid sistemik. Penyebab lain yang
memungkinkan dapat menyebabkan dermatitis perioral adalah kulit kering.
Penggunaan kosmetik, moisturizing cream, dan pasta gigi yang mengandung
fluoride.3

Dermatitis perioral timbul akibat reaksi penolakan dari kulit wajah terhadap
iritasi. Kelainan yang sama juga dapat timbul pada daerah lain, terutama periokular
(periocular dermatitis). Penggunaan kosmetik wajah seperti pembersih ataupun
krim kulit wajah dapat menyebabkan iritasi kulit wajah. Bersamaan dengan itu,
kebanyakan dari pasien memiliki kelainan atopi.3

Pada fase awal, akibat penggunaan obat topikal pada wajah akan menginduksi
gangguan fungsi lapisan epidermis. Hal ini akan menyebabkan pembengkakan
stratum korneum yang disertai gangguan minimal pada fungsi lapisan kulit dan
meningkatnya kehilangan cairan transepidermal (transepidermal water loss).
Kemudian dapat menyebabkan lapisan kulit menjadi lebih tegang dan kering yang
mendesak jaringan sekitarnya akibat kompensasi penggunaan obat topikal.

Penggunaan kortikosteroid, terutama topikal kortikosteroid, sangat berkaitan


erat dengan perubahan pada struktur epidermis dan permeabilitas membran
epidermis, termasuk juga berefek pada penurunan densitas dan maturasi
pembentukan badan lamellar, efek lain yang terjadi adalah penurunan sintesis
enzim oleh lapisan epidermal, penurunan keratinosit dan penipisan lapisan
epidermal.4

Perubahan pada epidermal dan dermal termasuk penipisan stratum korneum


ditandai dengan hilangnya matriks pada lapisan epidermal, pengecilan granular,
peningkatan TEWL, penurunan kolagen dermal, penipisan bagian atas serat elastin
dermal, penguraian lemak epidermal termasuk ceramid dan adanya respon

hipersensitivitas tipe IV.4

Pada pasien dengan kasus dermatitis perioral dan riwayat dermatitis atopik,
memiliki tanda abnormalitas pada stratum korneum yang berhubungan dengan
dermatitis atopik dan kulit atopik yang berefek terjadinya penurunan subfraksi
ceramid spesifik dan lemak lainnya dan dalam beberapa kasus, terjadi mutasi pada
gen fillagrin menyebabkan terjadinya penurunan faktor pelembab alami,
peningkatan TEWL wajah yang merupakan karaktristik utama dari dermatitis
perioral dengan atopik diatesis yang diyakini sebagai faktor resiko yang mungkin
pada perkembangan dermatitis perioral. tanda dan gejala dari akibat sensititivitas
dari kulit wajah yang ada termasuk kulit kering, skuama, edema, priritus, sensasi
panas, rasa terbakar dan nyeri.3,4

Penggunaan topikal kortikosteroid berkepanjangan menyebabkan beberapa


perubahan fungsional dan biologi pada kulit, hal ini dapat menyebabkan respon
pada kulit sehingga menimbulkan penurunan sintesis kolagen dan elastin serta
menyebabkan degradasi matriks dermal dengan penurunan struktur pendukung
pembuluh darah superfisial yang menyebabkan vasodilatasi pada kulit, gambaran
ini dapat dilihat secara klinis sebagai telangietaksis dan eritema diffusa.
Penggunaan topikal kortikosteroid juga dapat mengganggu keseimbangan
homeostasis dari mediator kimiawi yang merubah aliran darah kutaneus yang
merupakan faktor patogenesis utama dari dermatitis perioral.3,4

Hal utama yang menyebabkan eksaserbasi dermatitis perioral yang diikuti


diskontinuitas dari pemakaian topikal kortikosteroid secara tidak teratur yang
tampak terlihat pada akumulasi oksida nitrat endotel (eNO) kulit yang
mengakibatkan dilatasi berlebihan dari pembuluh darah kulit selain itu eNO juga
disebut sebagai faktor relaksasi endotel bawaan yang merupakan vasodilator
endogen yang dihambat oleh glukokortikosteroid termasuk juga penggunaan
topikal kortikosteroid. Selama penggunaan topikal kortikosteroid, timbul
vasokontriksi dan menghambat pelepasan eNO yang menyebabkan dilatasi
berlebih pada vaskular, sebagai hasilnya timbulah gejala klinis seperti eritem,
edema, dan gejala lainya. Hal itu nantinya dapat menyebabkan vasodiltasi yang
menetap sehingga timbul "Trampoline Effect atau "Neon sign".4

Etiologi yang paling mungkin menyebabkan dermatitis perioral idiopatik


termasuk pasta gigi berfluoride, penggunaan krim pelembab dan kosmetik
berlebih, stress emosional dan faktor mikrobiologi. Bagaimanapun etiologi yang
disebutkan diatas masih sebagai spekulasi, dan tidak ada faktor diatas yang pernah
terbukti berhubungan4

Pada akhirnya menjadi lingkaran setan, menyebabkan iritasi dan kulit semakin
kering bila dengan penggunaan obat topikal lebih lanjut. Reaksi inflamasi yang
ditimbulkan pada akhirnya dapat mengarah ke fase klinis dermatitis perioral. Oleh
karena itu penggunaan kortikosteroid topikal menjadi kontraindikasi pada
dermatitis perioral karena dapat meningkatkan gangguan pada lapisan epitel.4

5. Gambaran klinis

Karakteristiknya adalah keterlibatan daerah sekitar mulut dengan lesi kecil.


Sering juga melibatkan lipatan nasolabial, pipi serta kedua kelopak mata yang
terlihat simetris. Tergantung pada derajat klinis, dermatitis perioral dapat meluas
hingga ke dagu, glabela, bagian lateral kelopak mata bawah, kelopak mata atas,
pipi dan dahi. Diagnosis dibuat secara klinis, akan terlihat eritema dengan tepi
tidak rata disertai papula vesikel yang berbentuk seperti kerucut, kadang disertai
pustula dengan diameter 1 2 mm serta pada daerah kulit yang tidak terkena dapat
terlihat

5
kering.

Gambar 4 Dermatitis perioral7,8


Gejala khas yang sering terlihat adalah sensasi nyeri atau terbakar. Kadang
pasien juga merasakan sensasi tegang pada kulit. Pada dermatitis perioral yang
lama dapat terjadi kolonisasi bakteri yang ditandai adanya papulopustul.6

Faktor yang dapat memperberat dermatitis perioral adalah paparan sina


matahari, sering mencuci wajah dengan sabun pembersih atau penggunaan
kosmetika secara berlebihan serta pemakaian kortikosteroid dengan potensi
menengah dan tinggi.6

Suatu bentuk khusus dari dermatitis perioral adalah lupoid dermatitis perioral
dimana papul terlihat lebih padat dan besar berwarna merah kecoklatan disertai
dengan skuama dan infiltrat. Bentuk granuloma dari lupoid dermatitis perioral
pada anak-anak dinamakan sebagai Facial Afro-Caribbean Childhood Eruption
(FACE).

6,7 lesi tersebut.


Bila keadaan ini sembuh tidak akan menyisakan bekas akibat

11 anak
Gambar 5 Dermatitis perioral pada

Gambar 6 Granulomatous periorificial 4,5


dermatitis

6. Derajat dermatitis perioral


Untuk mengklasifikasikan derajat dermatitis perioral digunakan skor evaluasi
klinis yaitu PODSI (Perioral dermatitis severity index) pada tahun 2005. Nilai
diambil berdasarkan lesi pada kulit seperti eritema, papula, dan skuama kemudian
dihitung dengan skala perhitungan (0 3), dengan sub-gradasi (0,5; 1,5; dan 2,5)
dengan nilai maksimal adalah 9.3

Dermatitis perioral derajat ringan terhitung dengan skor 0,5 2,5; derajat
sedang 3,0 5,5; dan derajat berat 6,0 9,0. PODSI biasanya digunakan untuk
evaluasi objektif dari hasil pengobatan ataupun menentukan terapi, tapi dapat juga
digunakan untuk pemeriksaan rutin.3
Penilaian derajat dermatitis perioral dengan menggunakan perioral dermatitis
severity index (PODSI) serta contoh perhitungannya dapat dilihat pada tabel dan
gambar.

Tabel 2 Perioral dermatitis severity index12

Derajat 1 Derajat 2 Derajat 3


Kemerahan Ringan, merah jambu, Sedang, Berat, merah gelap,
pucar, diskret merah tersebar, konfluen

jelas, belang
Papula sedikit, kecil Sedang, beberapa, Berat, sangat
sekali, berwarna diseminata banyak,
seperti kemerahan,
berkumpul
daging
Skuama Ringan, halus, Sedang, jelas Berat, besar, luas
sulit

dilihat
a. Eritema 0,5; papul 1,0; skuama 0;
SI ringan)
b. Eritema 1,5; papul 1,5; skuama 0;
SI sedang)
c. Eritema 1,5; papul 2,0; skuama 0,5;
PODSI 4,0 (= PODSI sedang)
d. Eritema 2,0; papul 1,5; skuama 2,0;
PODSI 5,5 (= PODSI sedang)
e. Eritema 2,5; papul 3,0; skuama 1,5;
PODSI 7,0 (= PODSI berat)
f. Eritema 3,0; papul 3,0; skuama 3,0;
PODSI 9,0 (=PODSI berat)

Gambar 7 contoh skoring PODSI12

7. Diagnosis banding

Secara klinis, dermatitis perioral harus dipisahkan dari berbagai kemungkinan


diagnosis yang ada. Termasuk rosacea, acne, dermatitis seboroik dan dermatitis
kontak. Gambaran khas dermatitiss perioral biasanya dapat dibedakan dengan lesi
inflamasi pada wajah lainnya. Pasien dengan rosacea biasanya memiliki gambaran
telangiektasis dan kemerah-merahan pada muka dengan penyebaran yang lebih
luas mengenai kedua pipi, hidung dan dahi. Dermatitis kontak tampak sebagai lesi
kemerahan, berskuama dan krusta yang timbul di sekitar mulut akibat alergi
terhadap kosmetik lipstik, makanan, kawat gigi dan alat kosmetik lainnya. Lesi
terlihat seperti papula dengan batas yang tidak tegas. Ermatitis kontak juga
seringkali mengenai area kulit lainnya dan dapat didiagnosis dengan patch test.
Akne vulgaris dan dermatitis seboroik tidak mempunyai lokasi dan pola yang sama
dengan dermatitis perioral. Keduanya tersebar lebih luas dan dapat mengenai
badan termasuk muka. Akne vulgaris tampak sebagai komedo dan dermatitis
seboroik tampak skuama.9

Berdasarkan kepustakaan lain, diagnosis banding dari dermatitis perioral


dibagi menjadi non-granuloma dermatitis perioral dan granuloma dermatitis
perioral seperti pada tabel.
Tabel 3 Diagnosis banding dermatitis perioral1

Gangguan Gambaran klinis


Dermatitis perioral non-granuloma
Tersering
Rosacea Terdapat pada hidung, wajah;
persisten eritema dan telangiektasis
Dermatitis seboroik Sering pada lipatan nasolabial;
skuama
Dermatitis kontak alergi instrumen musik, pasta gigi
mengandung tar, latex, kawat gigi,
lipstik
Dermatitis kontak iritan Sering pada anak-anak
Lip-licking cheilitis Sering pada anak-anak; skuama; batas
tegas
Diagnosis banding lain
Akne vulgaris Bisa pada tubuh; komedo
Gram-negatif folikulitis Lebih banyak pustula
Demodex foliculorum infestation Pustula tidak khas; pruritus;
immunocompromised
Acrodermatitis enterohepatica Infant dengan akral dan/atau
dermatitis popok
Granuloma dermatitis perioral
Tersering
Granulomatous rosacea Flushing telangiektasis, pustula dan
edema; jelas pada pemeriksaan
histopatologi
Diagnosis banding lain
Blau syndrome Kista sinovial, uveitis, arthritis
granuloma, camptodactyl, papula
Benign cephalic histiocytosis Distribusi diffus pada wajah

8. Tatalaksana

Jika pasien menggunakan steroidm maka langkah pertama pengobatan adalah


segera hentikan pemakaian steroid. Pasien harus diperingatkan untuk tidak
menggunakan steroid karena akan menyebabkan dermatitis perioral. Edukasi
pasien untuk menghentikan pemakaian krim pelembab, krim malam, make-up serta
pasta gigi berfluoride.3

Berdasarkan guideline3 mengenai dermatitis perioral, terapi yang diberikan


menurut perhitungan PODSI, yang bisa dilihat pada algoritma terapi dermatitis
perioral.

Terapi
Algoritma
Ringan Sedang Berat

Terapi Zero Terapi antiinflamasi Terapi antiinflamasi


topikal topikal

Cream Indiff* Tidak respon Antibiotik sistemik


dalam 3
Tidak respon
dalam 3 minggu minggu
Terapisistemikmaksimal
8
minggu

Antibiotik sistemik

Sembuh

Jika diperlukan, langkah langkah


demi bisa diulang kembali

Gambar 8 Algoritma terapi dermatitis perioral3

1. Terapi zero

Terapi zero adalah dengan menghentikan semua penggunaan obat


topikal, terutama kortikosteroid topikal dan kosmetik yang menjadi
faktor penyebab utama. Dalam beberapa studi pada pasien dengan
ermatitis perioral dihentiken pengggunaan obat topikal disertai
pemberian antibiotik sistemik dengan pemberian plasebo memiliki
tingkat kesembuhan yang sama pada kedua pasien tersebut.3

2. Terapi topikal
Berbeda dengan rosacea, tidak ada gold standard dalam pemberian
terapi topikal, namun berdasarkan beberapa hasil penelitian ada terapi
topikal yang apat memberikan perbaikan klinis selain dengan
pemberian zero terapi yaitu, adapalene, asam azelaic, eritromisin
topikal, ichthyol, metronidazole, pimecrolimus, takrolimus, terapi
fotodinamik.3

3. Terapi sistemik

Dermatitis perioral jarang membutuhkan terapi sistemik. Tetrasiklin


dan makrolida telah digunakan untuk terapi sementara dari dermatitis
perioral. Terapi sistemik pada dermatitis perioral yang
direkomendasikan adalah tetrasiklin, makrolida, dan isotretinoin.3

Pada kepustakaan lain dinyatakan terapi pada dermatitis perioral dapat


diberikan tetrasiklin, doxysiklin, dan minosiklin oral dalam 8 hingga 10 minggu
kemudian tappering off pada 2 hingga 4 minggu setelahnya. Pada kasus berat lebih
baik diberikan minosiklin atau doksisiklin atau tetrasiklin dosis tinggi. Pada anak
dibawah 8 tahun eritromisin oral direkomendasikan. Terapi antibiotik topikal yang
paling sering diberikan adalah metronidazole. Pilihan lain termasuk klindamisin
atau eritromisin, sulfur topikal, dan asam azelaik serta foto terapi dengan asam
5aminolevulinic. Pemberian dan dosis dapat dilihat pada tabel.

Tabel 4 Terapi farmakologis dermatitis perioral1

Topikal Dosis Sistemik Dosis dewasa


Lini pertama Metronidazole Apply bid Tetrasiklin 200 500
mg
Doksisiklin
50 100 mg
Minosiklin
50 100 mg
Lini kedua Eritromisin Apply bid Eritromisin 400 mg

Sulfur topikal Apply bid 30 50 mg


Asam azelin Apply bid

9. Komplikasi
Kebanyakan dari kasus dermatitis perioral, non-granuloma ataupun
granuloma, dapat sembuh tanpa ada gejala sisa ataupun kambuh. Meskipun, ada
juga laporan mengenai komplikasi luka akibat garukan yang jarang dilaporkan.1

10. Prognosis

Tanpa pengobatan, dermatitis perioral dapat berlangsung lama hingga


menahun. Pengobatan dengan antibiotik topikal maupun oral yang tepat dapat
memberikan hasil dalam 6 sampai 10 minggu. Dermatitis perioral dapat sembuh
tanpa pengobatan dengan menghindari penggunaan kortikosteroid, pelembab,
make-up dan pasta gigi berfluoride.1,2,3
BAB III

KESIMPULAN

Dermatitis perioral merupakan bentuk inflamasi kulit yang terlihat sebagai


papuloeritema, vesikel dan pustula yang timbul terlokalisasi disekitar mulut,
hidung ataupun mata. Dermatitis perioral merupakan sinonim dari rosacea like
dermatitis.1,2 Diagnosis perioral dermatitis dapat dipertimbangkan pada pasien
seperti wanita muda dan anak-anak yang tidak berespon terhadap terapi untuk
rosacea, dermatitis seboroik ataupun akne vulgaris yang telah diduga sebelumnya.5

Penyebab perioral dermatitis hingga kini masih belum diketahui dengan


jelas, namun terdapat beberapa faktor penting yang telah diketahui berhubungan
erat dengan timbulnya perioral dermatitis antara lain organisme patogenik
infeksius, faktor hormonal, penggunaan obat-obatan steroid topikal dan paparan
zat kimia seperti pasta gigi yang mengandung fluor.3

Oleh karena itu penting sekali bagi pasien untuk menghentikan penggunaan
kortikosteroid topical, kosmetika wajah maupun pasta gigi berfluoride. Tetracyclin
oral dan eritromisin merupakan terapi yang paling efektif untuk perioral
dermatitis.1
DAFTAR PUSTAKA

1. GOLDSMITH ag, Stephen IK, Barbara AG, Ami SP, David JL. Fitzpatricks

Dermatology in General Medicine. McGraw Hill. New York; 2008. P. 709


12

2. James WG, Berger TG, Elston DM. Andrews Diseases of The Skin Clinical
Dermatology 11th Edition. Elsevier. New York; 2012. P. 245 6

3. Wollen A, Bibier T, Dirschka T, et al. Guideline of Perioral Dermatitis. Journal of


the German Society of Dermatology 2011; 5: 422 9

4. Rosso JD. Management of papulopustular rosacea and perioral dermatitis with


emphasis on iatrogenic causation or exacerbation of inflammatory facial
dermatoses. Journal of Clinical Aesthetic and Dermatology 2011; 4: 20 30.

5. Leung A and Barankin B. Whats your diagnosis? Multiple erythematous papules


on a 6 year olds face. Consultant for pediatrician 2013

6. Kihiczak G, Cruz M, Schwarts R. Case report: periorificial dermatitis in children:


an update and description of a child with striking features. International journal of
Dermatology 2009; 48: 304 6

7. Kim YJ, Shin JW, Lee JS, et al. Case report: childhhood granulomatous
periorificial dermatitis. Ann Dermatol 2011; 23: 386 8
8. Buimir V, Brailo V, Alajbeg I, et al. Case report: allergic contact cheilitis and
perioral dermatitis cause by propolis. Acta dermatovenerol croatica 2012; 20 (3):
187 90

9. Abeck D, Geisenfelder B, Nramdt O. Physical sunscreens with high sun protection


factor may cause perioral dermatitis in children. Journal of the German Society of
Dermatology 2009; 8: 701 3

10. Yu Y, Scheinman PL. Lip and perioral dermatitis caused by propyl gallate.
Amerocan contact dermatitis society 2010; 21 (2): 118 22

11. Clementson B, Smidt A. Case report: periorificial dermatitis due to systemic


corticosteroid in children. Pediatric dermatology 2012; 29 (3): 331 2

12. Wollenberg A and Oppel T. Scoring of lesions with the perioral dermatitis
secverity index (PODSI). Acta dermato-venereologica 2006; 86: 251 3