Anda di halaman 1dari 36

MINI PROJECT

PENYULUHAN KADER, PKK DAN PERWAKILAN SEKOLAH


DALAM RANGKA MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENTANG
PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI DESA
PANARUKAN KECAMATAN KEPANJEN
MALANG

Disusun oleh:
dr. Ayunda Almiradani
dr. Faradiana Rasyidi
dr. Faradiani Rasyidi
dr. Hartman I. Hardjo
dr. Kadek Ratna Istari Putri

Pembimbing:
dr. Wahyu Widiyanti
NIP. 19780716 200501 2 009

PUSKESMAS KEPANJEN
KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR
PROGRAM DOKTER INTERNSHIP
PERIODE NOVEMBER 2014-NOVEMBER 2015

1
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi petunjuk dan hidayah-
Nya yang memberi setiap anugerah terindah, kemudahan dan pertolongan sehingga penulis
dapat menyelesaikan Tugas Mini Project untuk program Dokter Interenship yang berjudul
Penyuluhan Kader, PKK dan Perwakilan Sekolah Dalam Rangka Meningkatkan
Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Desa Panarukan
Kecamatan Kepanjen Malang
Keberhasilan penulis dalam penulisan makalah mini project ini tentunya tidak lepas
dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Puskesmas Kepanjen, Desa Panarukan dan semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya makalah ini.
Ketertarikan penulis dengan topik ini didasari oleh rendahnya tingkat pengetahuan
masyarakat tentang pencegahan penyakit DBD dan kurangnya pelaksanaan 3M Plus yang
dapat menyebabkan kematian sehingga penulis ingin mengetahui dan memberikan
penyuluhan tentang cara mencegah terjadinya DBD di Balai Desa di Desa Panarukan
Kecamatan Kepanjen.
Penulis menyadari bahwa makalah mini project ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak
dan semoga Tugas mini project ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak lain.

Malang, Maret 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL1
KATA PENGANTAR..2
DAFTAR ISI....3
BAB I PENDAHULUAN.5
1 Latar Belakang.5
2 Rumusan Masalah................6
3 Tujuan..6
4 Manfaat................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.7
2.1 Definisi dan Etiologi7
2.2 Perantara..8
2.3 Cara Penularan...10
2.4 Epidemiologi..11
2.5 Patogenesis.........................................................................................................................12
2.6 Manifestasi Klinis..............................................................................................................12
2.7 Diagnosis14
2.8 Penatalaksanaan.15
2.9 Tindak Lanjut.27
BAB III METODE.29
3.1 Jenis Metode..29
3.2 Sasaran...29
3.3 Media.29
BAB IV HASIL..30
4.1 Kecamatan Kepanjen.30
4.1.1 Profil Komunitas Umum.30
4.1.2 Data Geografis30
4.1.3 Data Demografik.32
4.1.4 Sumber Daya Kesehatan Yang Ada32
4.1.5 Sarana Pelayanan Kesehatan Yang Ada.32
4.1.6 Data Kesehatan Masyarakat33
4.2 Desa Panarukan..34
4.2.1 Data Geografis34

3
4.2.2 Data Demografik.35
4.2.3 Sumber Pelayanan Kesehatan.36
4.2.4 Sumber Daya Kesehatan.36
4.3 Data Primer....36
BAB V PEMBAHASAN...........................................................................................39
BAB VI PENUTUP............41
6.1 Kesimpulan41
6.2 Saran..41
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................42
LAMPIRAN....43

4
BAB I
PENDAHULUAN

1 Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
infeksi virus Dengue dan ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan data
WHO 2009, ada sekitar 2,5 miliar orang atau dua perlima dari populasi dunia sekarang
mempunyai resiko terkena penyakit ini. WHO memperkirakan saat ini mungkin ada 50
juta infeksi demam berdarah di seluruh dunia dalam setiap tahunnya. Sampai sekarang
kasus DBD di tanah air sendiri telah mencapai 19.031 kasus, dan 336 di antara para
korban itu telah meninggal dunia. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat
jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2009 mencapai sekitar 150
ribu. Angka ini cenderung stabil pada tahun 2010, sehingga kasus DBD di Indonesia
belum bisa dikatakan berkurang (Suhendro, 2006)
Berdasarkan data Dinkes Jatim, total kasus tahun 2014 sebanyak 8.906 kasus. Jumlah
ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan tahun 2013 (53% jika dibandingkan dengan
tahun 2013 yang sebanyak 14.936 kasus). Insiden DBD untuk Jawa Timur di tahun 2014
sebesar 23,38/100.000 penduduk. Kasus terbanyak terjadi di Kab. Jember, yaitu sebanyak
901 kasus, sedangkan insiden tertinggi, yaitu 147,88/100.000 peduduk, terjadi di Kota
Probolinggo yang sempat mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB). Jumlah kasus dalam
satu tahun naik turun sesuai dengan pola musim penghujan. Dalam lima tahun terakhir,
peningkatan kasus terjadi mulai bulan Oktober dan puncak kasus terjadi pada bulan
Desember dan Januari (Dinkes, 2015)
Pada bulan Januari 2015, Sutera Emas Puskesmas Kepanjen menunjukkan data bahwa
terdapat total 27 penderita Demam Berdarah, dimana kasus terbanyak didapatkan di
Kelurahan Penarukan yakni sebanyak 9 kasus, diikuti Kepanjen 7 kasus, Cepokomulyo 5
kasus, Ngadilangkung 4 kasus, Tegalsari 1 kasus dan Sukoraharjo 1 kasus (Puskesmas
Kepanjen, 2015). Laporan Puskesmas Kepanjen bulan Januari 2015 juga menunjukkan
bahwa Angka Bebas Jentik di Kelurahan Penarukan masih rendah yakni sekitar 60%
(Puskesmas Kepanjen, 2015)
Masyarakat perlu mewaspadai dan mengantisipasi serangan penyakit DBD dengan
menjaga kebersihan lingkungan di dalam rumah maupun di luar rumah, antara lain
melalui peningkatan Gerakan Jumat Bersih untuk memberantas sarang dan jentik-jentik

5
nyamuk. Saat ini, pencegahan DBD yang paling efektif dan efisien adalah kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus (Menguras, Menutup,
Mengubur) dengan Plus adalah menaburkan bubuk larvasida, menggunakan obat nyamuk,
memakai kelambu, memelihara ikan pemakan jentik nnyamuk dan menghindarikebiasaan
menggantung pakaian di dalam rumah (Depkes, 2015)

2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut:


a Insiden Demam Berdarah di Kelurahan Penarukan bulan Januari 2015 tinggi

dibandingkan kelurahan lainnya di Kepanjen, yakni sebanyak 9 kasus.


b Angka Bebas Jentik Kelurahan Penarukan bulan Januari 2015 masih rendah, yakni

sekitar 60%.
c Rendahnya tingkat pengetahuan warga kelurahan Penarukan mengenai Demam

Berdarah
Tujuan
a Untuk menurunkan Insiden Demam Berdarah di Kelurahan Penarukan pada akhir

bulan Februari 2015, yakni sebanyak 3 kasus.


b Untuk meningkatkan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Penarukan sebesar 5% pada

akhir bulan Februari 2015.


c Untuk meningkatkan tingkat pengetahuan warga Kelurahan Penarukan mengenai

Demam Berdarah melalui acara penyuluhan.

1.4 Manfaat

a Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan wawasan dan

pengalaman, serta sebagai penerapan ilmu kedokteran tentang penyakit DBD.


b Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti lain

untuk penelitian selanjutnya, khususnya bagi penelitian yang berhubungan dengan

pengetahuan tentang pencegahan penyakit DBD.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia,
ruam, limfadenopati, trombositopenia, diathesis hemoragik dan perembesan plasma. Yang
membedakan demam berdarah dengue dengan demam dengue adalah ada tidaknya

7
perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi atau penumpukan cairan di
rongga tubuh. (Suhendro,2006)

2.2 Epidemiologi
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat, dan
Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran merata di seluruh tanah air.
Insiden DBD di Indonesia antara 6-15 per 100.000 penduduk (pada 1989 hingga 1995) dan
pernah meningkat tajam hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998, sedangkan
mortalitas DBD cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999. Penularan infeksi
virus dengue melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama A. aegypti dan A. albopictus).
Peningkatan kasus tiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan tersedianya
tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana berisi air jernih (bak mandi, kaleng
bekas, dan tempat penampungan air lainnya). (Suhendro,2006)
Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi penularan virus
dengue, yaitu: (1) Vektor: perkembangbiakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor
di lingkungan, transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain; (2) Pejamu: terdapatnya
penderita di lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis
kelamin; (3) Lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.
(Suhendro,2006)

2.3 Etiologi
Demam dengue dan demam berdarah dengue sama-sama disebabkan oleh virus
dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae dengan diameter sekitar
30 nanometer yang terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 10 -6.
Terdapat 4 serotipe virus, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Infeksi salah satu
serotype akan menimbulkan antibody terhadap serotype yang bersangkutan, sedangkan
antibody yang terbentuk terhadap serotype lain sangat kurang, sehingga tidak dapat
memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotype lain tersebut. Keempat serotipe
virus dengue dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia. Di Indonesia, pengamatan
virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa rumah sakit menunjukan bahwa
keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe DEN-3 merupakan
serotipe dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukan gejala klinis (Suhendro,2006).

2.4 Perantara

8
Menurut Kristina dan Wulandari (2004), penularan DBD terjadi dari gigitan nyamuk
Aedes aegypti atau Aedes albopictus betina yang sebelumnya membawa virus dalam
tubuhnya dari penderita demam berdarah lainnya. Nyamuk Aedes aegypti hidup di sekitar
rumah dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan sore hari. (Depkes RI, 1992)
Populasi nyamuk Aedes aegypti biasanya meningkat pada waktu musim penghujan,
karena sarang-sarang nyamuk akan terisi air hujan. Peningkatan populasi ini akan berarti
meningkat kemungkinan bahaya penyakit DBD di daerah endemis.(Depkes RI, 1992)
Nyamuk Aedes agypti betina dewasa memiliki tubuh berwarna hitam kecoklatan.
Ukuran tubuh nyamuk Aedes aegypti betina antara 3-4 cm, dengan mengabaikan panjang
kakinya. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis putih keperakan. Di bagian
punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan
yang menjadi cirri nyamuk spesies ini (Ginanjar, 2008).
Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya mudah rontok atau terlepas sehingga
menyulitkan indentifikasi pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini
sering berbeda antar populasi, bergantung pada kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh
nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki perbedaan nyata
dalam hal ukuran. Biasanya, nyamuk jantan memiliki tubuh lebih kecil daripada betina, dan
terdapat rambut-rambut tebal pada antenna nyamuk jantan (Ginanjar, 2008).
Tempat perkembangan nyamuk Aedes aegypti adalah penampungan air di dalam atau
disekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari
rumah. Tempat perkembangbiakan nyamuk berupa genangan air yang tertampung di suatu
tempat atau bejana. Nyamuk ini tidak berkembangbiak di genangan air yang langsung
berhubungan dengan tanah (Departemen Kesehatan RI, 1995).
Jenis tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti menurut Departemen
Kesehatan RI (1995), dikelompokkan sebagai berikut :
a. Tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari, seperti bak mandi, drum,
tempayan, ember, gentong, dan lain-lain.
b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti tempat minum
burung, vas bunga, kaleng, botol, ban bekas, dan plastic bekas.
c. Tempat penampungan alamiah, seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah daun,
tempurung kelapa, dan pohon bamboo.
Nyamuk aedes aegypti memiliki kemampuan jarak terbang sejauh 40-100 meter dan
tidak dapat hidup diatas ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut dan kurang dapat
berkembang biak dengan baik didaerah bersuhu rendah.

9
Dalam kehidupan di air, perkembangan nyamuk aedes aegypti dari telur sampai
mencapai nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7-14 hari, yaitu 2-3 hari untuk perkembangan
dari telur menjadi jentik, 4-9 hari dari jemtik menjadi pupa, 1-2 hari dari pupa menjadi
nyamuk dewasa. Biasanya nyamuk Aedea Aegypti menggigit manusia pada pukul 09.00-
10.00 pagi dan antara pukul 16.00-17.00 petang.
Penularan DBD kepada manusia menurut Departemen Kesehatan RI (1995) antara
lain dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1) Kepadatan vector, akan memberi peluang yang lebih besar bagi nyamuk untuk
menggigit.
2) Kepadatan penduduk yang lebih padat, lebih mudah untuk terjadi penularan DBD
karena jarak terbang nyamuk diperkirakan 50 meter.
3) Mobilitas penduduk, memudahkan penularan dari suatu tempat ke tempat yang
lain.
4) Jarak antar rumah, pencahayaan (terang atau gelap) dan bahan bangunan akan
mempengaruhi terjadinya penularan.
5) Tingkat penduduk akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan
penyuluhan dan cara pemberantasan yang dilakukan.
6) Sikap hidup dan kebiasaan masyarakat apabila rajin dan senang akan kebersihan
serta tanggap dalam masalah kesehatan maka akan mengurangi resiko tertular
suatu penyakit.

2.5 Patogenesis
Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi, hemodinamika, dan biokimiawi DBD
belum diketahui secara pasti karena kesukaran mendapatkan model binatang percobaan yang
dapat dipergunakan untuk menimbulkan gejala klinis DBD seperti pada manusia. Hingga kini
sebagian besar sarjana masih menganut the secondary heterologous infection hypothesis atau
the sequential infection hypothesis yang menyatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila
seseorang setelah terinfeksi virus dengue pertama kali atau mendapat mendapat infeksi kedua
dengan serotype lain dalam jarak waktu 6 bulan sampai 5 tahun. (Sumarmo,2012)
The Immunological Echancement Hypothesis

10
Antibodi yang terbebntuk pada infeksi dengue terdiri dari IgG yang berfungsi
menghambat peningkatan replikasi virus dalam monosit, yaitu enhancing-antibody dan
neutralizing antibody. Pada saat ini dikenal 2 jenis tipe antibody yaitu (1) Kelompok
monoclonal reaktif yang tidak mempunyai sifat menetralisasi tetapi memacu replikasi virus,
dan (2) Antibodi yang dapat menetralisasi secara spesifik tanpa disertai daya memacu
replikasi virus. Antibody non-neutralisasi yang dibentuk pada infeksi primer akan
menyebabkan terbentuknya kompleks imun pada infeksi sekunder dengan akibat memacu
replikasi virus. Teori ini pula yang mendasari pendapat bahwa infeksi sekunder virus dengue
oleh serotype yang berbeda cenderung menyebabkan manifestasi yang berat. Dasar utama
hipotesis adalah meningkatnya reaksi imunologis (the immunological echancement
hypothesis) yang berlangsung sebagai berikut : (Sumarmo, 2012)
a) Sel fagosit mononuclear yaitu monosit, makrofag, histiosit, dan sel Kupffer
merupakan tempat utama terjadinya infeksi virus dengue primer.
b) Non neutralizing antibody baik yang bebas dalam sirkulasi maupun yang melekat
(sitofilik) pada sel, bertindak sebagai reseptor spesifik untuk melekatnya virus
dengue pada permukaan sel fagosit mononuclear. Mekanisme pertama ini disebut
mekanisme aferen.
c) Virus dengue kemudian akan bereplikasi dalam sel fagosit mononuclear yang
telah terinfeksi.
d) Selanjutnya sel monosit yang mengandung kompleks imun akan menyebarkan ke
usus, hati, limpa dan sumsum tulang. Mekanisme ini disebut sebagai mekanisme
eferen. Parameter terjadinya DBD dengan da tanpa renjatan ialah jumlah sel yang
terkena infeksi.
e) Sel monosit yang telah teraktivasi akan mengadakan interaksi dengan sistem
humoral dan sistem komplemen dengan akibat dilepaskannya mediator yang
mempengaruhi permeabilitas kapiler dan mengaktivasi sistem koagulasi.
Mekanisme ini disebut sebagai mekanisme efektor.
Aktivasi Limfosit
Limfosit T juga memegang peranan penting dalam pathogenesis DBD. Akibat
rangsangan monosit yang terinfeksi virus dengue atau antigen virus dengue, limfosit dapat
mengeluarkan interferon (IFN- dan ). Pada infeksi sekunder oleh virus dengue (serotype
berbeda dengan infeksi pertama), limfosit T CD 4+ berproliferasi dan mengahsilkan IFN-.
IFN- selanjutnya merangsang sel yang terinfesi virus dengue dan mengakibatkan monosit
memproduksi mediator. Oleh limfosit T CD4+ dan CD8+ spesifik virus dengue, monosit akan

11
mengalami lisis dan mengeluarkan mediator yang menyebabkan kebocoran plasma dan
perdrahan.
Hipotesis kedua pathogenesis DBD mempunyai konsep dasar bahwa keempat
serotype virus dengue mempunyai potensi pathogen yang sama dan gejala berat terjadi
sebagai akibat serotype virus dengue yang paling virulen. (Sumarmo, 2012)

2.6 Diagnosis
Diagnosis demam berdarah dengue ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut
WHO tahun 1997, terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris. Penggunaan kriteria ini
dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis). (DEPKES RI,
2001)
Kriteria Klinis
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari,
biasanya bifasik.
2. Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan:
- Uji tourniquet positif
- Petekia, ekimosis, purpura
- Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
- Hematemesis dan atau melena
3. Pembesaran hati
4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab, dan pasien tampak gelisah.

Kriteria Laboratoris :
- Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml)
- Hemokonsentrasi (kenaikan Hematokrit (Htc) > 20%)

Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4 derajat seperti
pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Klasifikasi Infeksi Dengue berdasarkan Derajat Penyakit


Kategori Derajat Gejala Laboratorium
DD Demam diserai 2/lebih tanda: nyeri -leukopenia
kepala, nyeri retro-orbital, nyeri otot -trombositopenia ringan

12
dan nyeri sendi -tidak ada tanda kebocoran plasma
-trombositopenia <100.000 /ml
DBD I Gejala di atas + uji tourniquet positif
-ada kebocoran plasma
-trombositopenia <100.000 /ml
DBD II Gejala di atas + perdarahan spontan
-ada kebocoran plasma
Gejala di atas + tanda-tanda pre-syok
-trombositopenia <100.000 /ml
DBD III (kulit dingin, lembab, dan gelisah,
-ada kebocoran plasma
nadi cepat, tekanan darah turun)
Syok berat (nadi tidak teraba, tekanan -trombositopenia <100.000 /ml
DBD IV
darah tidak terukur) -ada kebocoran plasma

Adapun yang dimaksud tanda-tanda kebocoran plasma (plasma leakage) antara lain:
- peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis
kelamin
- penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan
nilai hematokrit sebelumnya
- hipoproteinemia
- hiponatremia
- efusi pleura atau asites
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun
deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse Transcriptase
Polymerase Chain Reaction). Namun karena teknik ini masih sulit dilakukan dan biayanya
mahal maka dapat digunakan juga uji serologis yang dapat mendeteksi adanya antibodi
spesifik terhadap virus dengue dengan memeriksa kadar IgM dan IgG.
Parameter-parameter lainnya yang dapat ditemukan dalam pemeriksaan darah adalah:
Leukosit: dapat berupa leukositosis atau leukopenia, mulai hari ke-3 dapat ditemukan
limfositosis relatif (> 45% dari total leukosit) disertai limfosit plasma biru (> 15%
dari total leukosit di mana pada fase syok akan meningkat jumlahnya
Trombosit: terjadi trombositopenia pada hari ke-3 sampai hari ke-8
Hematokrit: terjadi peningkatan hematokrit >20% dari nilai hematokrit awal,
umumnya mulai terlihat padaa hari ke-3 demam
Hemostasis: dilakukan pemeriksaan waktu perdarahan, CT, PPT, aPTT jika dicurigai
adanya perdarahan ataupun kelainan pembekuan darah
Protein/albumin: dapat terjadi hipoproteinemia jika ada kebocoran plasma
Faal hati: dapat terjadi peningkatan enzim hati SGOT/SGPT
Faal ginjal: dapat terjadi peningkatan ureum, kreatinin terutama jika terjadi syok

13
Imunoserologis: dapat terjadi peningkatan IgM antidengue mulai hari ke-3 sampai
dengan minggu ke-3 dan menghilang setelah 60-90 hari, serta terjadi peningkatan IgG
mulai hari ke-14 (infeksi primer) atau hari ke-2 (infeksi sekunder)

2.7 Penatalaksanaan
Tidak ada terapi yang spesifik untuk infeksi dengue, prinsip utama adalah dengan
terapi simtomatis. Dengan terapi simtomatis yang adekuat angka kematian dapat diturunkan
hingga kurang dari 1%. Pemeliharaan volume cairan intravaskular merupakan tindakan yang
paling penting dalam penanganan demam berdarah dengue. Asupan cairan pasien harus
dijaga terutama cairan oral. Apabila asupan secara oral tidak dapat terpenuhi maka
alternatifnya dapat diberikan cairan secara parenteral untuk mencegah terjadinya dehidrasi
dan hemokonsentrasi darah. (Suhendro,2006)
Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bersama Divisi
Tropik Infeksi dan Divisi Hematologi-Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
telah menyusun penatalaksanaan DBD pada pasien dewasa. Protokol ini terbagi dalam 5
kategori. (Suhendro, 2006)

14
Protokol 1: Penanganan Pasien Dewasa Tersangka DBD tanpa Syok
Protokol ini digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama
pada pasien DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat serta digunakan sebagai
petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat. Adapun hal-hal yang harus dilakukan seperti
terlihat pada gambar di bawah ini.

Keluhan mengarah DBD


(Kriteria WHO 1997))

Hb, Hematokrit, dan Trombosit Normal


Hb & Hematokrit Normal
Hb & Hematokrit Normal Hb & Hematokrit Meningkat
Trombosit<100.000Trombosit Normal/Turun
Trombosit 100.000-150.000

RAWAT INAP
Observasi Rawat Jalan
Periksa Hb, Hematokrit, dan Trombosit 24 jam berikutnya

Gambar 1. Protokol I (Penanganan Pasien Tersangka DBD tanpa Syok)

Protokol II: Pemberian Cairan pada Pasien Tersangka DBD di Ruang Rawat
Pasien tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masif dan tanpa syok di ruang
rawat diberikan cairan infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus berikut ini.

1500 + {20 x (Berat Badan dalam Kg


20)}

atau dapat juga dijabarkan dalam Rumus Holiday-Segar yang dapat pula digunakan pada
pasien anak-anak. Adapun perhitungannya seperti pada tabel di bawah ini.

15
Tabel 2. Tabel Perhitungan Kebutuhan Cairan Maintenance menurut Holiday-Segar
Berat Badan (kg) Kebutuhan Cairan
10 kg 100 cc/kgBB/hari
11 20 kg 50 cc/kgBB/hari
> 20 kg 20 cc/kgBB/hari

Misal:
Pasien anak-anak dengan berat badan 15 kg, maka perhitungannya adalah (10 kg x
100 cc/kg/hari) + (5 kg x 50 cc/kg/hari) = 1000 cc/hari + 250 cc/hari = 1250 cc/hari
Pasien dewasa dengan berat badan 50 kg, maka perhitungannya adalah (10 kg x 100
cc/kg/hari) + (10 kg x 50 cc/kg/hari) + (30 kg x 20 cc/kg/hari) = 1000 cc/hari + 500
cc/hari + 600 cc/hari = 2100 cc/hari

Alur penatalaksanaan pasien tersangka DBD tanpa perdarahan dan syok di ruang rawat
dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Suspek DBD
Perdarahan spontan & massif (-)
Tanda-tanda syok (-)

Hb, Hematokrit Normal Hb, Hematokrit 10-20%


Trombosit < 100.000 Trombosit < 100.000 Hb, Hematokrit >20%
Infus Kristaloid Infus Kristaloid Trombosit <100.000
Periksa Hb, Htc, Trombo /24 jam Periksa Hb, Htc, Trombo /24 jam

Penanganan dengan
Protokol III

Gambar 2. Protokol II (Pemberian Cairan Tersangka DBD di Ruang Rawat)

16
Protokol III: Penatalaksanaan DBD dengan Peningkatan Hematokrit >20%
Meningkatnya hematokrit > 20% menunjukkan adanya defisit cairan tubuh sebanyak
kurang lebih 5%. Penatalaksanaannya seperti yang terlihat pada bagan berikut ini.

Gambar 3. Protokol III (Penatalaksanaan DBD dengan Peningkatan Hematokrit >20%)

MEMBAIK

Tam

Penanga
Kur
k
3 cc

Terapi cairan dihentikan dalam 2

17
Protokol IV: Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD
Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dapat berupa epistaksis,
hematemesis, melena, hematokezia, hematuria, perdarahan intraserebral atau perdarahan
tersembunyi lainnya. Pada keadaan seperti ini pemberian cairan tetap sama seperti keadaan
tanpa syok. Observasi tanda vital, Hb, hematokrit, dan trombosit sebaiknya dilakukan setiap
4-6 jam sekali.
Pemberian heparin dilakukan bila secara klinis dan laboratoris ditemukan tanda-tanda
DIC (Disseminata Intravascular Coagulation). Tranfusi komponen darah diberikan sesuai
indikasi. Tranfusi PRC (Pack Red Cells) dilakukan bila Hb < 10 g/dl, tranfusi TC
(Trombocyte Concentrate) dilakukan bila trombosit < 50.000/mm3 disertai perdarahan masif
dengan atau tanpa tanda-tanda DIC. Sedangkan FFP diberikan bila terdapat tanda defisiensi
faktor pembekuan (PT dan aPTT memanjang).

KASUS DBD:
Perdarahan spontan masif
Tanda-tanda syok (-)

Pemeriksaan Hb, Hematokrit, Trombosit, Leukosit, Hemostasis, Golongan Darah,


Uji Cross-Match

DIC (+): DIC (-):


Tranfusi komponen darah (k/p) Tranfusi komponen darah (k/p)
Observasi tanda vital, Hb,
Heparinisasi 5000-10.000/hari drip Htc, Trombo tiap 4-6 jam, ulang pemeriksaan hemostasis 24 jam ke
vital, Hb, Htc, Trombo tiap 4-6 jam, ulang pemeriksaan hemostasis 24 jam kemudian

Gambar 4. Protokol IV (Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD)

18
Dalam memberikan transfusi komponen darah hendaknya disesuaikan dengan
kebutuhan pasien. Ada rumus yang dapat digunakan dalam menentukan kebutuhan transfusi
komponen darah. Untuk menentukan kebutuhan transfusi PRC dapat digunakan rumus:

(Hb target Hb pasien) x Berat


Badan (kg) x 3
Sedangkan kebutuhan trombosit dapat dihitung dengan perkiraan bahwa 50 cc suspensi
trombosit dapat menaikkan kadar trombosit darah 7500-10.000/mm 3 pada pasien dengan
berat badan minimal 50 kg. Ada beberapa institusi yang menyatakan bahwa untuk membantu
meningkatkan kadar trombosit dapat juga ditambahkan Dexamethason atau Metilprednisolon
(parenteral). Namun pemberian kortikosteroid ini harus lebih hati-hati pada pasien yang
memiliki riwayat diabetes mellitus dan hipertensi, karena steroid akan sangat mudah
menaikkan kadar glukosa darah dan tekanan darah.

19
Protokol V: Tatalaksana Dengue Shock Syndrome
Protokol ini digunakan bila pasien sudah menunjukkan tanda-tanda syok (DBD
Derajat III dan IV) yang merupakan kegawatdaruratan pada penyakit ini. Tatalaksana Dengue
Shock Syndrome (DSS) dapat dilihat seperti pada bagan berikut ini.

Kristaloid 10-20 cc/kgBB/30 menit


O2 2-4 liter/menit
Periksa Analis Gas Darah (AGD), Hb, Htc, Trombosit, Elektrolit, Ureum, Kreatinin, Golongan Darah

MEMBAIK TIDAK MEMBAIK


Kristaloid 7 cc/kgBB/jam Kristaloid 20-30 cc/kgBB/30 menit

MEMBAIK MEMBURUK Hematokrit Hematokrit


Kristaloid 5 cc/kgBB/jam Kembali Ke Awal Koloid tetes cepat Transfusi WB 10 cc/kgBB
10-20 cc/kgBB/10-15 menit Dapat diulang sesuai kebutuhan

MEMBAIK
Kristaloid 3 cc/kgBB/jam MEMBAIK TIDAK MEMBAIK
Menuju ke Koloid 30 cc/kgBB/jam

Evaluasi 24-48 jam, jika tetap stabil berikan cairan maintenance MEMBAIK TIDAK MEMBAIK
Menuju ke Pasang PVC

HIPOVOLEMIK
Kristaloid pantau tiap 10-15 menit NORMOVOLEMIK
Koreksi Gangguan Asam Basa, Elektrolit, Hipoglikemia, Anemia, DIC, Infeksi

- Inotropik
Kombinasi Koloid-Kristaloid
Perbaikan terhadap vasopressor - Vasopressor
- After load

PERBAIKAN

Koreksi Gangguan Asam Basa, Elektrolit, Hipoglikemia, Anemia, DIC, Infeksi sekunder

Gambar 5. Protokol V (Tatalaksana Dengue Shock Syndrome)

20
2.8 Penanggulangan Fokus DBD
1. Penyidikan Epidemiologi (PE)
Penyidikan Epidemiologi (PE) adalah pencarian penderita DBD atau tersangka
infeksi dengue lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal
penderita dan rumah/bangunan sekitar, termasuk tempat-tempat umum dalam radius
sekurang-kurangnya 100meter.
Cara melakukan penyidikan epidemiologi, yaitu dengan cara :
a. Setelah menemukan/menerima laporan adanya penderita petugas
Puskesmas/Koordinator DBD segera mencatat Buku Catatan Harian Penderita
DBD.
b. Menyiapkan peralatan survey, seperti: tersimeter, thermometer, senter, formulir PE,
dan surat tugas.
c. Memberitahukan kepada Kades/Lurah dan Ketua RT/RW setempat bahwa di
wilayahnya ada penderita DBD dan akan dilaksanakan PE.
d. Masyarakat di lokasi tempat tinggal penderita membantu kelancaran pelaksanaan
PE.

21
2. Promotif
Promotif dapat dilakukan oleh petugas kesehatan/ kader/ kelompok kerja
(Pokja) DBD desa/ kelurahan berkoordinasi dengan petugas puskesmas. Kegiatan
promotif untuk mencegah meluasnya kasus DBD di masyarakat adalah melalui
semboyan 3M plus yaitu menguras bak mandi minimal seminggu sekali, menutup
tempat-tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi
tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, pemberian bubuk abate di tempat-
tempat penampungan air atau ikanisasi tempat penampungan air untuk membunuh
jentik-jentik nyamuk, serta melakukan fogging atau pengasapan untuk membunuh
nyamuk dewasa.

3. Preventif
PencegahanpenyakitDBDsangattergantungpadapengendalianvector,yaitunyamuk
Aedes Aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
beberapametodeyangtepatmenurutDepartemenKesehatanRI(1992)yaitu:
a. Lingkungan
Metode mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan
sarang nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
perkembangbiakan nyamuk dari hasil samping kegiatan manusia, dan
perbaikandesainrumah,sebagaicontoh:
1) Mengurasbakmandiataupenampunganairseminggusekali
2) Menggantiairdalamvasbungadanminumburungsekurangkurangnya
seminggusekali
3) Menutupdenganrapattenpatpenampunganair
4) Mengubursampahsampah,plasticplastic,kalengkalengbekas,akibekas,
banbekasdisekitarrumah,dansebagainya
b.Biologi
Pengendalianbiologisantaralaindenganmenggunakanikanpemakanjentik
(ikan adu atau ikan cupang) pada tempat penampungan air yang tidak mungkin
dikuras.
c.Kimiawi
Carapengendalianiniantaralain:
1) Pengasapan atau fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthoin),

22
dosisyangdipakaiadalah1litermalathion95%EC+3litersolar,pengasapan
dilakukanpadapagiantarajam07001000dansoreantarajam15.0017.00
secaraserempak.Biasdilakukanpengasapanulangsetelah1mingguuntuk
mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu, sehingga
perludilanjutkanlangkahlangkahataukegiatanPSNsecarateratur.
2) Memberikanbubukabate(temephose)dengancaramenaburkanpadatempat
penampunganairyangdiulang23bulansekalidengantakaran1gramabate
untuk1literair(1sendokmakanberisi10gramuntuk100literair)pada
tempattempatpenampunganairsepertigentongair,vasbunga,kolam,dan
lainlain.
Untuk membasmi nyamuk Aedes Aegypti, peranan masyarakat sangat diperlukan
dalampelaksanaanpemberantasansarangnyamuk.Untukitudiperlukanusahapenyuluhan
dan motivasi kepada masyarakat secara terus menerus dalam jangka waktu lama, karena
keberadaanjentiknyamuktersebutberkaitaneratdenganperilakumasyarakat(Departemen
KesehatanRI,1992).
Partisipasimasyarakatdapatdiwujudkandenganmelaksanakangerakankebersihan
dan kesehatan lingkungan secara serentak dan gotong royong, semakin besar komitmen
pemerintah dan partisipasi masyarakat, maka semakin besar pula keberhasilan program
pemberantasanDBD(DepartemenKesehatanRI,1992).
Gerakan kebersihandan kesehatan lingkungan tersebutmeliputikebersihanrumah
danlingkungannyaagartidakterdapatsampahyangmenjadisarangtikus,kecoak,cacing,
lalat,dannyamukpenularpenyakit,perbaikandanpemeliharaansaluranairlimbah,sehingga
tidakterjadigenangandihalamanrumahdansekitarnya,pembuatan,perbaikan,penggunaan,
danpemeliharaanjambankeluarga,danpenempatankandangdiluarrumahdanpemeliharaan
kebersihannya, pembuatan dan pemeliharaan sarana persediaan air bersih (Departemen
KesehatanRI,1992).

23
BAB III
METODE

3.1 Jenis Metode


3.1.1 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada kegiatan mini project ini dilakukan dengan cara
mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer didapatkan melalui kuisioner yang
dibagikan beberapa hari sebelum intervensi. Pembagian kuesioner kepada masyarakat desa
Penarukan berdasarkan simple random sampling. Pembagian kuesioner dilakukan dua kali
yaitu di Posyandu RW 5 dan Posyandu RW 3 di Desa Penarukan. Kuisioner berisi tentang
pertanyaan-pertanyaan mengenai Pengetahuan, Pelaksanaan, dan Kontinyuitas Periode
Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Penular Penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) Dalam Aktivitas Kehidupan Sehari-hari. Sedangkan data sekunder didapatkan
dari laporan dan catatan mengenai data kesehatan Desa Penarukan selama periode bulan
Januari tahun 2015 yang terdapat di Puskesmas Kepanjen.

3.1.2 Metode Intervensi


Kegiatan ini menggunakan metode penyuluhan langsung dengan pendekatan
kelompok. Dalam hal ini penyuluhan ditujukan untuk memberikan edukasi kesehatan pada
Ibu-ibu kader, PKK dan perwakilan sekolah mengenai penyakit Demam Berdarah Dengue.
Materi penyuluhan yang disajikan adalah mengenai segala hal yang berhubungan dengan
penyakit Demam Berdarah Dengue termasuk gejala dan tanda, pencegahan dan tindak lanjut
dalam mengatasi DBD.

3.2 Sasaran
Sasaran pada mini project penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan untuk
pencegahan DBD ini adalah ibu-ibu kader, PKK dan perwakilan sekolah di Desa Penarukan
Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.

3.3 Media

24
Media penyuluhan yang digunakan adalah menggunakan slide power point yang
disampaikan menggunakan laptop. Selain itu ditunjang alat peraga seperti baju lengan
panjang, obat gosok (repellent), obat nyamuk bakar, obat nyamuk listrik, bubuk abate dan
ikan pemakan jentik nyamuk. Di akhir sesi penyuluhan akan dibagikan leaflet.
BAB IV
HASIL
4.1 Kecamatan Kepanjen
Luas Wilayah Kecamatan Kepanjen 46,25 Km. Kepanjen memiliki 4 kelurahan dan 14 desa.

Data Kesehatan Masyarakat :


Data Sekunder :
1.Angka Bebas Jentik (ABJ)
Data angka bebas jentik (ABJ) di kelurahan Penarukan sebesar 60 %. Penarukan merupakan
urutan pertama dengan angka bebas jentik nyamuk terendah setelah Kemiri dengan ABJ
sebesar 46,4 % , lalu Mangunrejo dengan ABJ 31,4 %. (Puskesmas Kepanjen, 2015)

2.Penemuan tersangka DB :

25
Sampai tanggal 29 Januari 2015, data dari SUTERA EMAS puskesmas Kepanjen,
total penderita demam berdarah yaitu 27 orang, dengan rincian :
-Kedung Pedaringan: 0
-Talangagung : 0
-Sukoraharjo : 1
-Kemiri : 0
-Ardirejo : 0
-Jenggolo : 0
- Sengguruh : 0
-Cepokomulyo : 5
-Mangunrejo : 0
-Panggungrejo : 0
-Mojosari : 0
-Penarukan : 9
-Curungrejo : 0
-Jatirejoyoso : 0
-Ngadilangkung : 4
- Kepanjen : 7
-Tegalsari : 1
-Dilem : 3
Kelurahan dengan orang yang tersangka demam berdarah terbanyak adalah Penarukan
dengan 9 orang.

26
4.2 Kelurahan Penarukan
4.2.1 Data Geografis
4.2.1.1 Luas Wilayah Kelurahan Penarukan : (Puskesmas Kepanjen,2015)
a. Tanah Sawah : 98,00 Ha
b. Tanah Pekarangan : 34,00 Ha
c. Tanah Tegal : 53,00 Ha
d. Tanah Sekolahan : 2,00 Ha
e. Tanah Makam : 1,50 Ha
f. Lapangan Olahraga : 0,50 Ha
g. Lain lain : 1,00
Luas Keseluruhan : 190,00 Ha

4.2.1.2 Batas-Batas Kelurahan Penarukan:


a. Sebelah Utara : Kelurahan Ardirejo
b. Sebelah Timur : Kecamatan Gondanglegi
c. Sebelah Selatan : Desa Kedungpedaringan
d. Sebelah Barat : Kelurahan Kepanjen

4.2.1.3 Kondisi Geografis :


a. Ketinggian Tanah dari Permukaan Laut : 335 meter
b. Banyaknya Curah Hujan : 2000 mm/tahun
c. Topografi (dataran rendah, dataran
Tinggi, dan Pantai) : Dataran Rendah
d. Suhu Udara Rata-rata : 26 C

27
4.2.1.4 Orbitasi (Jarak dari Pusat Pemerintahan Kelurahan) ke:
a. Ibu Kota Kecamatan : 1 Km
b. Ibu Kota Kabupaten Malang : 1 Km
c. Ibu Kota Provinsi Jawa Timur : 84 Km

4.2.2 Data Demografik


4.2.2.1 Jumlah Penduduk:
a. Laki-laki : 2.528 Orang
b. Perempuan : 2.763 Orang
Jumlah Keseluruhan : 5.391 Orang

4.2.2.2 Jumlah Penduduk Menurut Status Kewarganegaraan:


a. Warga Negara Indonesia (WNI) : 5.391 Orang
b. Warga Negara Asing (WNA) : - Orang
Jumlah Keseluruhan : 5.391 Orang

4.2.2.3 Jumlah Penduduk Menurut Agama/Kepercayaan terhadap Tuhan YME :


a. Islam : 5.351 Orang
b. Kristen : 17 Orang
c. Katholik : 23 Orang
d. Hindu : - Orang
e. Budha : - Orang
f. Penganut/Penghayat Kepercayaan
terhadap Tuhan YME. : - Orang
Jumlah Keseluruhan : 5.391 Orang

4.2.2.4 Jumlah Penduduk Menurut Usia:


a. 0 4 tahun : 363 Orang
b. 5 14 tahun : 837 Orang
c. 15 24 tahun : 907 Orang
d. 25 40 tahun : 796 Orang
e. 41 tahun ke atas : 2.488 Orang
Jumlah Keseluruhan : 5.391 Orang

4.2.2.5 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian:


a. Pegawai Negeri Sipil (PNS) : 53 Orang
b. TNI/POLRI : 13 Orang
c. Lain-lain (Swasta dan Pensiunan) : 1.423 Orang
Jumlah Keseluruhan : 1.489 Orang

4.2.2.6 Data Jumlah Mobilitas Penduduk/Mutasi (Rata-Rata/Bulan) :

28
a. Lahir a.1. Laki-laki : 3 Orang
a.2. Perempuan : 4 Orang
b. Mati b.1. Laki-laki : 2 Orang
b.2. Perempuan : 2 Orang
c. Datang c.1. Laki-laki : 3 Orang
c.2. Perempuan : 3 Orang
d. Pindah d.1. Laki-laki : 2 Orang
d.2. Perempuan : 4 Orang

4.2.3 Sumber Pelayanan Kesehatan


-Puskesmas : -
-Posyandu : 5 pos

4.2.4 Sumber Daya Kesehatan


Tenaga Petugas Kesehatan yang dimliki adalah :
-Dokter umum : 2 orang
-Dokter spesialis : -
-Bidan : 2 orang
-Dukun bayi : 1 orang
-Petugas medis lainnya : 6 orang

4.3 Data Primer


Dari pengumpulan data primer yang dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner
kepada Posyandu RW 5 pada tanggal 9 Februari 2015 dan Posyandu RW 3 pada tanggal 11
Februari 2015 yang berjumlah 95 orang sebelum kegiatan berlangsung didapatkan data
sebagai berikut :

29
Pengetahuan

Kurang
Baik

Diagram 4.1 : Pengetahuan Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Penular Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Berdasarkan diagram di atas didapatkan data bahwa sebanyak 79 responden (83.2%)


memiliki pengetahuan yang baik tentang pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah
(3M Plus). Sedangkan sisanya sebanyak 16 responden (16.8%) masih kurang pengetahuannya
mengenai pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah (3M Plus).

Pelaksanaan
Belum
melaksanaka
n
Sudah
melaksanaka
n

30
Diagram 4.2 : Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk Penular Penyakit Demam
Berdarah (DBD) Dalam Kehidupan Sehari-hari

Berdasarkan diagram di atas didapatkan data bahwa sebanyak 63 responden (66.3%)


belum melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah (3M Plus)
dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan sisanya sebanyak 32 responden (33.7%) sudah
melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah (3M Plus) dalam
kehidupan sehari-hari. Pemberantasan sarang nyamuk meliputi 3M Plus yakni menguras,
menutup, mengubur tempat penampungan air, memakai obat nyamuk, memasang kelambu
atau kawat kassa, memakai pakaian lengan panjang, larvasida, dan menaruh ikan pemakan
jentik di tempat penampungan air. Dari kuesioner juga didapatkan data bahwa responden
yang sudah melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, sebagian besar memakai
obat semprot dan obat nyamuk listrik. Beberapa juga masih memakai obat nyamuk bakar.
Dari kuesioner juga didapatkan data bahwa sebagian besar responden menutup tempat
penampungan air di dalam rumah menggunakan tutup plastik. Sebagian responden
menggunakan tampon sebagai tempat penampungan air di luar rumah. Dari kuesioner
didapatkan data bahwa sebagian besar responden menaburkan larvasida (abate) ke dalam bak
mandi.

Kontinyuitas
Belum
melaksanaka
n
Sudah
melaksanaka
n

31
Diagram 4.3 : Kontinyuitas Periode Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Dalam Kehidupan Sehari-hari

Berdasarkan diagram di atas didapatkan data bahwa sebanyak 55 responden (57.9 %)


belum melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah (3M Plus)
dalam kehidupan sehari-hari secara kontinyu. Sedangkan sisanya sebanyak 40 responden
(42.1%) sudah melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah (3M
Plus) dalam kehidupan sehari-hari secara kontinyu.
Kesmimpulan dari semua diagram diatas adalah sebagian besar responden memiliki
pengetahuan yang baik mengenai pemberantasan sarang nyamuk penular demam berdarah
dengue (DBD) namun pelaksanaan dan kontinyuitasnya dalam kehidupan sehari-hari masih
kurang.

BAB V
PEMBAHASAN

Dari data yang dipaparkan pada BAB IV, berdasarkan data desa Penarukan selama
bulan Januari tahun 2015 terdapat 9 kasus DBD. Kasus DBD di desa Penarukan merupakan
kasus terbanyak dibandingkan dengan desa lain di Kepanjen. Hal ini disebabkan karena
masyarakat desa Penarukan masih banyak yang belum melaksanakan kegiatan pemberantasan
sarang nyamuk (3M Plus) dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini didukung juga oleh hasil dari
penelitian yang dilakukan oleh penulis pada masyarakat desa Penarukan dengan cara
membagikan kuesioner di Posyandu RW 5 pada tanggal 9 Februari 2015 dan di Posyandu
RW 3 pada tanggal 11 Februari 2015. Dari hasil kuesioner didapatkan data bahwa sebagian
besar masyarakat belum melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (3M Plus)
dalam kehidupan sehari-hari.

32
Untuk membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dan kesadaran untuk
melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (3M Plus) dalam mencegah penyakit
DBD, penulis telah melakukan penyuluhan kepada ibu-ibu kader, PKK dan perwakilan
sekolah desa Penarukan pada tanggal 14 Februari 2015, di Balai Desa Penarukan. Penyuluhan
ini dihadiri oleh 33 orang.
Rangkaian kegiatan penyuluhan meliputi pre tes, penyuluhan, tanya jawab, post tes
dan pembagian door prize . Pre test bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat
pengetahuan peserta tentang penyakit DBD sedangkan post test bertujuan untuk menilai
peningkatan pengetahuan peserta setelah pemberian materi penyuluhan tentang DBD. Setelah
itu, hasil pre test dan post test akan dibandingkan untuk menilai apakah intervensi dengan
cara penyuluhan tersebut berhasil atau tidak. Jika didapat peningkatan yang signifikan antara
pre test dan post test, maka dapat disimpulkan bahwa intervensi tersebut telah berhasil.
Persentase skor akhir keseluruhan
Kategori responden
Pre Test Post Test
Baik (8-10) 15.4% 68.8%
Cukup (6-7) 48.7% 28.1%
Kurang (1-5) 35.9% 3.1%

Berdasarkan angka pada tabel di atas, dapat terlihat adanya perubahan yang signifikan
antara presentase rerata antara pre test dan post test. Awalnya, hanya terdapat 15.4% peserta
dengan pengetahuan yang baik mengenai DBD, kemudian setelah dilakukan intervensi
penyuluhan, didapatkan peningkatan menjadi 68.8% peserta dengan pengetahuan yang baik
mengenai DBD (terdapat peningkatan sebesar 53.4%). Hal sebaliknya terjadi pada peserta
dengan pengetahuan cukup dan kurang. Pada saat pre test presentasenya 48.7%, kemudian
pada saat post test turun menjadi 28.1%. Begitu pula dengan peserta dengan pengetahuan
kurang. Awalnya pada saat pre test presentasenya 35.9%, kemudian setelah post test
presentasenya turun menjadi 3.1%.
Pada saat penyuluhan, peserta sangat memperhatikan materi yang diberikan oleh
penyuluh. Pada saat sesi tanya jawab, peserta sangat antusias untuk bertanya kepada peyuluh
sehingga dibuka tiga kali sesi tanya jawab. Pada akhir sesi penyuluhan diadakan pembagian
tiga buah door prize. Pemberian door prize pertama berdasarkan nilai pre test tertinggi
sedangkan pemberian door prize yang kedua dan ketiga berdasarkan jawaban yang cepat dan
benar dari peserta setelah mendengar pertanyaan dari moderator. Sebelum peserta
meninggalkan tempat penyuluhan, peserta diberi leaflet dengan tujuan agar peserta bisa

33
membaca dan mengingat kembali materi yang berhubungan dengan Demam Berdarah Degue
(DBD).
Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan para kader, ibu-ibu PKK dan perwakilan
sekolah yang menghadiri penyuluhan ini lebih memahami mengenai pentingnya untuk
mencegah terjadinya penyakit menular DBD melalui program PSN sehingga nantinya dapat
menyebarkan informasi tersebut kepada masyarakat desa Penarukan lainnya. Dengan begitu
diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang terkena DBD.

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
a. Terdapat penurunan Insiden Demam Berdarah di Kelurahan Penarukan pada akhir

bulan Februari 2015, yakni sebanyak . kasus.


b. Terdapat Peningkatan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Penarukan sebesar 11,4 %

pada akhir bulan Februari 2015, yakni menjadi 71,4%


c. Terdapat peningkatan tingkat pengetahuan warga Kelurahan Penarukan mengenai

Demam Berdarah melalui acara penyuluhan, terlihat dari adanya peningkatan yang

signifikan antara pre test dan post test yang telah dilakukan, yakni sebesar 53,4% pada

katagori baik.

34
6.2 Saran
a) Bagi Puskesmas Kepanjen agar secara rutin melaksanakan kegiatan sosialisasi
mengenai pencegahan DBD.
b) Bagi Puskesmas Kepanjen agar dapat bekerjasama lintas sektor (Perangkat Desa,
Bappenas) untuk melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Terpadu.
c) Bagi Kader agar lebih aktif dalam melaporkan setiap suspek kasus baru Demam
Berdarah kepada Puskesmas.
d) Bagi Petugas Kesehatan (Program Kesehatan / Kesehatan Lingkungan) untuk lebih
mensosialisasikan mengenai pencegahan sarang nyamuk menggunakan bahan-bahan
alami.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995. Menggerakkan Masyarakat Dalam


Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD). Ditjen PPM &
PLP.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2001. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue


di Indonesia. Ditjen PPM & PLP.

Depkes. 2015. Demam Berdarah Biasanya Mulai Meningkat Di Januari


http://www.depkes.go.id/article/view/15011700003/dengue-fever-usually-rises-in-
january.html. Diakses pada tanggal 2 Maret 2015.

Dinkes Provinsi Jatim, Seksi P2. 2015. Waspada Penyakit DBD Di Bulan Januari.
http://dinkes.jatimprov.go.id/userimage/waspada%20DBD.pdf. Diakses pada tanggal 2
Maret 2015.

35
Ginanjar, 2008. Demam Berdarah, a survival quide, Cet. I., Yogyakarta, B. First (PT
Benteng Pustaka)

Hadinegoro, Sri Rezeki H, et al. 1999. Demam Berdarah Dengue Naskah Lengkap.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

Puskesmas Kepanjen. 2015. Data Sutera Emas Puskesmas Kepanjen Bulan Januari 2015.

Suhendro, Nainggolan, Chen, Pohan. 2006. Demam Berdarah Dengue. Disunting oleh
Sudoyo, Setyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid
III. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sumarmo, Herry, et al. 2012. Infeksi Virus Dengue. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis.
Edisi Kedua. Jakarta: Badan Penerbit IDAI

36