Anda di halaman 1dari 13

NAMA : AGUS SANTOSO

NIM : 150710101280

[Type the company name]

LEGAL
AUDIT
[Type the document subtitle]

KELAS : Studi Kasus dan Legal Audit ( B )

HP
[Pick the date]
Legal Audit

Pengertian

Yaitu kemampuan intellegensi dalam melakukan tindakan preventif


melalui tata cara dan metode penelusuran dokumen hukum dalam semua
ruang lingkup permasalahan guna menemukan solusi praktis mengenai
penerapan perselisihan(dispute) antara manajerial dengan pihak ketiga
yang melalui jalan membuat daftar pemeriksaan.Ringkasnya Legal Audit
merupakan langkah investigasi terhadap semua peristiwa hukum yang
sudah terjadi dan kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan dokumen
dokumen hukum dalam manajerial suatu perusahaan (privat maupun
badan usaha publik).

Kata kunci dalam Legal Audit ini adalah Investigasi yaitu kegiatan
pengumpulan pengumpulan data yang akan di investigasi oleh Auditor
yang dimana akan melalui hasil akhir Uji Tuntas. Pemeriksaan Uji Tuntas
mengacu kepada berbagai kewajiban mutlak dari prinsip keterbukaan yang
berhubungan dengan sekuritas perusahaan dan merupakan standar untuk
penyelidikan dan penelitian yang merupakan bagian dari proses persiapan
penawaran umum yang akan dilakukan oleh perusahaan (klien),oleh karena
itu sebagian pihak menafsirkan pemeriksan Uji Tuntas dilakukan dengan
penelitian mendalam1. Pemeriksaan Uji Tuntas dilakukan secara hirarkis
yang dimulai dengan tahapan legal audit yaitu kemampuan intelengensi
terkait penelusuran dokumen hukum dalam semua ruang lingkupnya yang
hasil pemeriksaannya menjadi acuan dalam tahapan legal opinion dengan
memanfaatkan referensi sumber hukum melalui teknik dan strategi analisa
untuk memberikan pendapat hukum dan dilanjutkan dengan legal
reasoning, yaitu kemampuan rasio dalam menilai fakta dan peristiwa
hukum terhadap sumber hukumnya guna mencapai pertimbangan hukum.

11 Asril Sitompul, Pasar Modal, Penawaran Umum dan Permasalahannya, (Bandung :


Citra Aditya Bakti, 1996), hlm. 25.
1
Tujuan dilakukannya legal audit yaitu:
1. Agar diperoleh status hukum atau penjelasan hukum terhadap
dokumen yang diaudit atau diperiksa;
2. Untuk memeriksa legalitas suatu badan hukum/badan usaha;
3. Untuk memeriksa tingkat ketaatan suatu badan hukum/badan usaha;
4. Memberikan pandangan hukum atau kepastian hukum dalam suatu
kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan.

Sebagai suatu catatan paling tidak Legal Audit memiliki beberapa


prinsip utama yaitu2:
Kerelaan, yaitu bahwa subjek hukum yang akan diperiksa harus
secara sukarela membuka diri untuk pemeriksaan;
Keterbukaan, yaitu bahwa subjek hukum yang akan diperiksa harus
membuka diri seluas-luasnya agar pemeriksa dapat melakukan
pekerjaanya dengan baik;
Kerahasiaan, yaitu bahwa hasil pemeriksaan merupakan kerahasiaan
yang hanya akan diketahui oleh pihak pemeriksa dan pihak yang
diperiksa sampai pada saat ada kewajiban atau kebutuhan untuk
membuka informasi tersebut;
Tanggung jawab, yaitu bahwa pihak yang diperiksa bertanggung
jawab penuh terhadap hasil legal audit.

2 Laksanto Utomo, Pemeriksaan dari Segi Hukum atau Due


Diligence, (Bandung : PT. Alumni, 2008) hlm. 6-7
2
Uji Tuntas
I. PENGERTIAN

Uji Tuntas adalah tahapan pemeriksaan yang tersistematisir, serangkaian


analisa terhadap temuan yang berkaitan dengan rincian manajemen
perusahaan,para pemegang saham (stake holders), keuangan, kinerja,
dokumen kontrak, asset-asset yang dimiliki perusahaan, hutang piutang
perusahaan, asset yang dijaminkan maupun sengketa hukum yang sedang
dihadapai perusahaan.
UJI Tuntas/Due Diligence3 sebagai suatu terminologi hukum
merupakan konsep yang pertama kali disebutkan dalam U.S. Securities
Act of 1933 (American Securities Law) yaitu suatu undang-undang yang
diberlakukan di negara Amerika Serikat saat menghadapi kehancuran
pasar saham yang terjadi di New York Stock Exchange pada Oktober
1929 dan dikenal masyarakat dunia sebagai the great depression yang
ditandai dengan meruginya ribuan pemilik saham akibat menurunnya
nilai asset penjualan dan ketidak-sanggupan pihak bank untuk membayar
(insolvensi). The Great Depression menjadi pemicu kemerosotan
ekonomi di seluruh dunia karena diawali oleh adanya gelombang
pengangguran secara massif.
American Securities Law merupakan suatu hukum yang memaksakan
kewa- jiban yang sangat ketat sebelum para emiten yang menjual efek di
dalam suatu penawaran umum4 dan semua pihak yang terlibat di dalamnya
untuk melaksanakan pemeriksaan Uji Tuntas. Menurut James P. Duffy, III
seorang mantan Ketua Bidang Internasional Organisasi Advokat di
NewYork.3

33 Selanjutnya Uji Tuntas sebagaimana yang sudah secara umum diterima pemakaiannya
sebagai istilah hukum di dalam Bahasa Indonesia.4 Penawaran Umum adalah kegiatan penawaran
efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara
yang diatur dalam undang-undang tersebut dan peraturan pelaksanaannya (Ketentuan Umum
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal). Emiten adalah pihak yang
melakukan Penawaran Umum berupa surat berharga yang diterbitkan.

3
Uji Tuntas merupakan suatu permintaan yang dapat berasal dari suatu
lembaga privat (maupun publik) kepada seseorang yang menguasai
keterampilan dan kemahiran terkait dengan suatu aspek hukum dalam
rangka pemenuhan suatu ketentuan hukum atau untuk melepaskan
kewajiban.
Pemahaman khusus tentang substansi pengertian due diligence,
menurut
Henry Campbell Black adalah sebagai5 :
The diligence reasonably expected from, and ordinarily exercised by,
a person
who seeks to satisfy a legal requirement or to discharge an
obligation.

Persyaratan hukum (legal requirement) dalam pengertian diatas tentu harus


dilakukan oleh seseorang yang memang memenuhi kualifikasi untuk itu,
oleh karenanya jika dikaitkan dengan pengertian Advokat sebagai orang
yang berprofesi memberi jasa hukum6, maka profesi Advokat sangat
representatif dan kompeten untuk melakukan Uji Tuntas. Sedangkan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia7 Uji Tuntas berdasarkan arti
katanya masing-masing yaitu Uji adalah cobaan untuk mengetahui kualitas
sesuatu (ketulenan, kecakapan,4 ketahanan, dsb) dan Tuntas sendiri
diartikan sebagai habis (setelah dicurahkan);tidak mengalir lagi; selesai;
menyeluruh; sempurna (sama sekali); singkat dantegas (jelas). Maka
secara harfiah merujuk kepada arti yang diberikan tersebut Uji Tuntas dapat
diartikan sebagai pemeriksaan yang menyeluruh.

45 Henry Campbell Black, Blaks Law Dictionary, Seventh Edition, Editor oleh Bryan A.
Garner, (St. Paul Minnesota : West Group, 1999), hlm. 4686 Ketentuan Umum Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
7 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. 3, (Jakarta : Balai Pustaka , 1990), hlm. 974 dan 983.

4
KORPORASI

B.KORPORASI DAN KEJAHATAN KORPORASI

B. 1. Pengertian Korporasi
5
Secara etimologis, pengertian korporasi yang dalam istilah lain dikenal
dengan corporatie (Belanda), corporation (Inggris), korporation (Jerman),
berasal dari bahasa latin yaitu corporatio. Corporatio sebagai kata
benda (subatantivum) berasal dari kata kerja coporare yang banyak
dipakai orang pada jaman abad pertengahan atau sesudah itu. Corporare
sendiri berasal dari kata corpus (badan), yang berarti memberikan badan
atau membadankan. Dengan demikian, maka akhirnya corporatio itu
berarti hasil dari pekerjaan membadankan, dengan kata lain badan yang
dijadikan orang, badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai
lawan terhadap badan manusia, yang terjadi menurut alam.8Ada beberapa
definisi yang dikemukakan mengenai korporasi. Menurut Sutan Remi
Sjahdeini, korporasi dapat dilihat dari artinya yang sempit, maupun artinya
yang luas. Kemudian Sutan Remi Sjahdeini mengungkapkan bahwa :
Menurut artinya yang sempit, yaitu sebagai badan hukum, korporasi
merupakan figur hukum yang eksistensi dan kewenangannya untuk
dapatatau berwenang melakukan perbuatan hukum diakui oleh hukum
perdata.Artinya, hukum perdatalah yang mengakui eksistensi korporasi
dan memberikannya hidup untuk dapat berwenang melakukan perbuatan
hukum sebagai suatu figur hukum. Demikian juga halnya dengan"matinya
korporasi. Suatu korporasi hanya mati secara hukum apabilamatinya
korporasi itu diakui oleh hukum9.

5 8. Soetan. K. Malikoel Adil dalam Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban


KorporasiDalam Hukum Pidana, STHB, Bandung, 1991, hal. 83 9 . Sutan Remi Sjahdeini, Op.
cit., hal. 43

5
B. 2. Pengertian dan Ruang Lingkup Kejahatan Korporasi

Ruang lingkup kejahatan korporasi juga dijelaskan oleh Steven Box,


dimana ruang
lingkup kejahatan korporasi meliputi :10

1. Crimes for corporation, adalah pelanggaran hukum dilakukan oleh


korporasi dalam usaha untuk mencapai tujuan korporasi untuk
memperoleh profit;
2. Criminal corporation, yaitu korporasi yang bertujuan semata-mata
untuk melakukan kejahatan;
3. Crime against corporations, yaitu kejahatan-kejahatan terhadap
korporasi seperti pencurian atau penggelapan milik korporasi, yang
dalam hal ini yang menjadi korban adalah korporasi.

Berdasarkan ruang lingkup yang diberikan oleh Steven Box di atas dapat
ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan kejahatan korporasi adalah
kejahatan korporasi yang berupa crimes for corporation, yaitu kejahatan
yang dilakukan korporasi dalam rangka mencari keuntungan.
Clinard dan Yeager yang melakukan studi terhadap kejahatan korporasi
mengemukakan jenis-jenis kejahatan yang sering dilakukan korporasi, yaitu
kejahatan korporasi yang berkaitan dengan administrasif, lingkungan,
keuangan, tenaga kerja, produk barang, dan praktek-praktek perdagangan
tidak jujur.
6

6 10. Steven Box dalam Hamzah Hatrik, Asas Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum
Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious Liability), Rajagrafindo Persada, Jakarta, 1995, hal.
41
6
Kejahatan-kejahatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :11

Pelanggaran di bidang administratif meliputi tidak memenuhi


persyaratan suatu badan pemerintahan atau pengadilan, seperti tidak
mematuhi perintah pejabat pemerintah, sebagai contohnya
membangun fasilitas pengendalian pencemaran lingkungan.
Pelanggaran di bidang lingkungan hidup meliputi pencemaran udara
dan air berupa penumpahan minyak dan kimia, yaitu seperti
pelanggaran terhadap surat izin yang mensyaratkan kewajiban
penyediaan oleh korporasi untuk pembangunan perlengkapan
pengendalian polusi, baik polusi udara maupun air.
Pelanggaran di bidang keuangan meliputi pembayaran secara tidak
sah atau mengabaikan untuk menyingkap pelanggaran tersebut,
seperti penyuapan di bidang bisnis, sumbangan poltik secara tidak
sah, dan pembayaran (suap) untuk pejabat-pejabat asing, pemberian
persenan,dan manfaat atau keuntungan secara ilegal. Contohnya
pelanggaran yang berkaitan dengan surat-surat berharga yakni
memberikan informasi yang salah atas wali utama, mengeluarkan
pernyataan salah.Pelanggaran transaksi meliputi syarat-syarat
penjualan (penjualan yang terlalu mahal terhadap langganan),
penghindaran pajak, dan lainlain.
Pelanggaran perburuhan dapat dibagi menjadi empat tipe utama,
yaitu diskriminasi tenaga kerja (ras, jenis kelamin, atau agama),
keselamatan pekerja, praktik perburuhan yang tidak sehat, upah dan
pelanggaran jam kerja. 7
Pelanggaran ketentuan pabrik melibatkan tiga badan pemerintah,
yaitu: the Consumer Product Safety Comission bertanggung jawab
atas pelanggaran terhadap the Poison Prevention Packaging Act, the
Flamable Fabrics Act, dan the Consumer Product Safety Act; the
National Highway Traffic Administration mensyaratkan pembuatan
kendaran bermotor atau memberitahukan agen dan pemilik,
pembeli,dan kecacatan dari pedagang sehingga mempengaruhi
keselamatan kendaraan bermotor, disamping itu juga mensyaratkan
pembuat (pabrik) untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Kecacatan

7 11. Clinard dan Yeager dalam Arief Amrullah, Op. cit., hal. 81
7
itu meliputi mesin sebagai akibat dari kesalahan pada bagian 8
pemasangan, pemasangan bagian yang tidak benar, kerusakan
sistem,dan desain yang tidak baik.
Praktek perdagangan yang tidak jujur meliputi bermacam-macam
penyalahgunaan persaingan (antara lain monopolisasi, informasi
yang tidak benar, diskriminasi harga), iklan yang salah dan menyesatkan
merupakan hal penting dalam praktek perdagangan yang tidak jujur.

Berdasarkan ruang lingkup yang diberikan oleh Steven Box di atas dapat
ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan kejahatan korporasi dalam penelitian ini
adalah kejahatan korporasi yang berupa crimes for corporation, yaitu kejahatan
yang dilakukan korporasi dalam rangka mencari keuntungan.
Clinard dan Yeager yang melakukan studi terhadap kejahatan korporasi
mengemukakan jenis-jenis kejahatan yang sering dilakukan korporasi, yaitu
kejahatan korporasi yang berkaitan dengan administrasif, lingkungan, keuangan,
tenaga kerja, produk barang, dan praktek-praktek perdagangan tidak jujur.
Kejahatan-kejahatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :12

Pelanggaran di bidang administratif meliputi tidak memenuhi persyaratan


suatu badan pemerintahan atau pengadilan, seperti tidak mematuhi
perintah pejabat pemerintah, sebagai contohnya membangun fasilitas
pengendalian pencemaran lingkungan.
Pelanggaran di bidang lingkungan hidup meliputi pencemaran udara dan
air berupa penumpahan minyak dan kimia, yaitu seperti pelanggaran
terhadap surat izin yang mensyaratkan kewajiban penyediaan oleh
korporasi untuk pembangunan perlengkapan pengendalian polusi, baik
polusi udara maupun air.
Pelanggaran di bidang keuangan meliputi pembayaran secara tidak sah
atau mengabaikan untuk menyingkap pelanggaran tersebut, seperti
penyuapan di bidang bisnis, sumbangan poltik secara tidak sah, dan
pembayaran (suap) untuk pejabat-pejabat asing, pemberian persenan, dan
manfaat atau keuntungan secara ilegal. Contohnya pelanggaran yang
berkaitan dengan surat-surat berharga yakni memberikan informasi yang
salah atas wali utama, mengeluarkan pernyataan salah.Pelanggaran
transaksi meliputi syarat-syarat penjualan (penjualan yang terlalu mahal
terhadap langganan), penghindaran pajak, dan lainlain.

8 12. Clinard dan Yeager dalam Arief Amrullah, Op. cit., hal. 82
8
Pelanggaran perburuhan dapat dibagi menjadi empat tipe utama, yaitu
diskriminasi tenaga kerja (ras, jenis kelamin, atau agama), keselamatan
pekerja, praktik perburuhan yang tidak sehat, upah dan pelanggaran jam
kerja.
Pelanggaran ketentuan pabrik melibatkan tiga badan pemerintah, yaitu:
the Consumer Product Safety Comission bertanggung jawab atas
pelanggaran terhadap the Poison Prevention Packaging Act, the Flamable
Fabrics Act, dan the Consumer Product Safety Act; the National Highway
Traffic Administration mensyaratkan pembuatan kendaran bermotor atau
memberitahukan agen dan pemilik, pembeli,dan kecacatan dari pedagang
sehingga mempengaruhi keselamatan kendaraan bermotor, disamping itu
juga mensyaratkan pembuat (pabrik) untuk memperbaiki kerusakan
tersebut. Kecacatan itu meliputi mesin sebagai akibat dari kesalahan pada
bagian pemasangan, pemasangan bagian yang tidak benar, kerusakan
sistem,dan desain yang tidak baik.
Praktek perdagangan yang tidak jujur meliputi bermacam-macam
penyalahgunaan persaingan (antara lain monopolisasi, informasi yang
tidak benar, diskriminasi harga), iklan yang salah dan menyesatkan
merupakan hal penting dalam praktek perdagangan yang tidak jujur.

9
C. KORBAN KEJAHATAN KORPORASI

C. 1. Pengertian Korban dan Peranan Viktimologi dalam Perkembangan


Perhatian Terhadap Korban

Pengertian korban yang lebih spesifik dikemukakan oleh Muladi, yang


menjelaskan korban kejahatan sebagai :

seseorang yang telah menderita kerugian sebagai akibat suatu kejahatan


dan atau yang rasa keadilannya secara langsung telah terganggu sebagai
akibat pengalamannya sebagai target (sasaran kejahatan). (A victim is a
person who has suffered damage as a result of a crime and/or whose sense
of justice has been directly disturbed by the experience of having been
target of a crime).13

Garis besar mengenai definisi korban kejahatan, yaitu orang perorangan


maupun kelompok orang yang menderita kerugian baik itu berupa kerugian
fisik, mental, ekonomi, bahkan nyawanya sendiri, sebagai akibat dari
kejahatan yang dilakukan oleh orang lain baik langsung maupun tidak
langsung, termasuk juga keluarga korban yang ikut mengalami penderitaan
atau kerugian.9

9 13. Muladi dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Hukum Pidana,
Alumni,Bandung, 2007, hal. 84

10
D. TEORI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI

Mengenai pembebanan pertanggungjawaban pidana terhadap


kejahatan yang dilakukan oleh korporasi itu sendiri ada beberapa teori atau
ajaran yang dapat dijadikan dasar dalam pembebanan pertanggungjawaban
pidana tersebut. Teori atau ajaran tersebut adalah Teori Identifikasi
(Identification Theory), Teori Pertanggungjawaban Pidana Mutlak (Strict
Liability), dan Teori Pertanggungjawaban Pidana Pengganti (Vicarious
Liability).

D.1. KEBIJAKAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI


TERHADAP KORBAN KEJAHATAN KORPORASI DALAM BEBERAPA
PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA INDONESIA

Pada bagian awal dari tulisan ini telah dikemukakan bahwa KUHP yang ada
sekarang ini tidak menganut atau mengakui korporasi sebagai subjek tindak
pidana, namun perkembangan hukum di luar KUHP berupa undang-undang
tindak pidana khusus telah menganut prinsip korporasi sebagai subjek
tindak pidana. Perkembangan tersebut juga berpengaruh terhadap
perkembangan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam hal kejahatan
korporasi. Hal ini tentu saja membawa konsekuensi dapat dibebankan
pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi.
Kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban
kejahatan korporasi dalam beberapa peraturan perundang-undangan pidana
Indonesia dapat ditemukan antara lain pada : Undang-Undang No. 7/Drt.
1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi, Undang-Undang No. 5 Tahun 1984
tentang Perindustrian, Undang-Undang No. 6 Tahun 1984 tentang Pos,
Undang-Undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan sebagaimana yang
telah diubah dengan Undang-Undang No. 31 Tahun 2004, Undang-Undang
No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah diubah
dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, Undang-Undang No. 8 Tahun
1995 tentang Pasar Modal, Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan, Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika,
Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, Undang-Undang
No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-
Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat, Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
11
Perlindungan Konsumen, Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001, Undang-Undang No. 15 Tahun 2002
tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang No. 25 Tahun 2003.

D.2. Sanksi Pidana Bagi Korporasi di Beberapa Negara

Kebanyakan hukum pidana diberbagai negara tidak memberikan


pembedaan antara mana jenis pidana yang dapat diterapkan kepada orang,
dan mana jenis pidana yang dapat dikenakan kepada korporasi. Akan tetapi
ada juga negara yang membedakan antara jenis pidana yang dapat
dikenakan kepada orang dan kepada korporasi, misalnya Perancis dan
Norwegia.
Konsep pembayaran ganti kerugian berupa kompensasi maupun
restitusi yang dituangkan dalam bentuk suatu aturan perundang-undangan
sebenarnya sudah berkembang lama di negara-negara maju. Restitusi pada
hakikatnya merupakan bentuk tanggungjawab dari pelaku kejahatan dalam
hal ini korporasi, atas keuntungan yang diperolehnya dengan cara yang
melanggar hukum dan merugikan pihak lain (korban). Dasar bagi
penerapan restitusi adalah bahwa restitusi itu sendiri memang dikhususkan
bagi korban kejahatan atau pengembalian atau pemulihan kerugian yang
timbul setelah terjadinya kejahatan (korban nyata atau aktual).

12