Anda di halaman 1dari 91

Makalah Politik Hukum

MAKALAH
POLITIK HUKUM
O
L
E
H

FAHMAN URDAWI NASUTION


NIM. 1420010026

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan bagi para p embaca dan pemakalah
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini

Hormat kami

Penulis,
PENDAHULUAN

Politik dan Hukum merupakan subsistem dalam sistem kemasyarakatan. Masing-masing

melaksanakan fungsi-fungsi tertentu untuk menggerakkan sistem kemasyarakatan secara keseluruhan. Secara

garis besar, hukum juga berfungsi melakukansocial control, dispute settlement and social

engeneering atau inovation. Fungsi politik meliputi pemeliharaan sistem dan adaptasi (socialization dan

recruitment),

konversi (rule making, rule aplication, rule adjudication, interesttarticulation and aggregation) dan fungsi

kapabilitas (regulatif extractif, distributif and responsif). Sedangkan hukum memberikan dasar legalitas bagi

kekuasaan politik dan kekuasaan politik membuat hukum menjadi lebih efektif. Dengan kata lain, hukum

adalah kekuasaan yang diam dan politik adalah hukum yang in action dan kehadirannya dirasakan serta
berpengaruh pada kehidupan kemasyarakatan.

Politik dan Hukum mempunyai kedudukan yang sejajar. Hukum tidak bisa ditafsirkan sebagai bagian

dari sistem politik, demikian juga sebaliknya. Dalam realitas hubungan hukum dan politik tidak sepenuhnya

ditentukan oleh prinsip-prinsip yang diatur dalam sistem konstitusi, tetapi lebih ditentukan pada komitmen

rakyat dan elite politik untuk bersungguh-sungguh melaksanakan konstitus tersebut sesuai dengan semangat

dan jiwanya.

Bagaimana semestinya politik dengan hukum, dan bagaimana pula politik hokum di mata masyarakat

yang super heterogen seperti Indonesia..?

PEMBAHASAN
1. Pengertian Politik Hukum
Politik hukum adalah suatu istilah yang tidak asing dalam pendengaran para praktisi hukum. Politik

hukum memiliki penekanan yang berbeda oleh para pakar hukum dalam mendefinisikannya. Politik hukum

terdiri dari dua kata yaitu politik dan hukum dan masing-masing memiliki teori-teori. Teori politik adalah

suatu bahasan dan generalisasi dari phenomena yang bersifat politik. Dengan perkataan lain teori politik adalah

bahasan dari renungan atas : a) tujuan dari kegiatan politik, b) cara-cara mencapai tujuan itu, c) kemungkinan-

kemungkinan dan kebutuhan-kebutuhan yang ditimbulkan oleh sistuasi politik tertentu dan d) kewajiban-

kewajiban (obligations) yang diakibatkan oleh tujuan politik itu. (Budiardjo, 2007:30)
Menurut Thomas P. Jenkin dalam Budiardjo (2007:30) dibedakan dua macam teori politik walaupun

tidak bersifat mutlak, yaitu :

1). Teori-teori yang mempunyai dasar moril dan yang menentukan norma-norma politik (norma for political

behavior),yang terdiri atas tiga golongan, yaitu a) filsafat politik (political philosophy), b) teori politik

sistematis (systematic political theory), dan c) ideology politik (political ideology)

2). Teori-teori yang menggambarkan dan membahas phenomen dan fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan

norma-norma atau nilai. Teori ini dapat dinamakan non valuational (bebas nilai). Ia biasanya bersifat deskriptif

(menggambarkan) dan komparatif (membandingkan). Teori ini berusaha membahas fakta-fakta kehidupan

politik sedemikian rupa sehingga dapat di sistematisir dan disimpulkan dalam generalisasi-generalisasi.

(Budiardjo, 2007:31)
Selanjutnya perihal hukum. Dalam bahasa Indonesia Peraturan yang memaksa ini disebut hukum,

dalam bahasa Belanda disebut recht, dalam Bahasa Inggris disebut law, dalam Bahasa Prancis disebut loi dan

dalam Bahasa Latin disebut Ius (Wahid dkk. 1960:10). Analisa-analisa mengenai hukum serta hubungannya

dengan politik mulai dikembangkan pada abad ke 19, namun basih sebatas penelitian pada negara-negara

barat. Manusia dalam hal ini dilihat sebagai makhluk yang terpengaruh oleh faktor sosial, psychology dan

kebudayaan, sehingga mengakibatkan kecenderungan pada ilmu hukum untuk meremehkan kekuatan-kekuatan

social dan kekuatan-kekuatan lainnya di luar bidang hukum. Sebagai perbandingan berikut dikemukakan

beberapa pengertian politik hukum.

Hukum tidak boleh dipisahkan dari masyarakat. Hukum bertujuan menjaga ketertiban masayarakat,

dan masyarakat memerlukan hokum untuk ketertiban. Ketertiban dengan masyarakat bagaikan satu mata uang

dengan dua sisinya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cicero ada 2000 tahun yang lalu yaitu : Ubi Societas ibi

ius yang artinya : Apabila ada masyarakat harus ada hokum. (Sundawa,2008:69)

Pengertian Politik Hukum Menurut Para Pakar dapat dikemukakan sebagai berikut :

a. Menurut Mahmud M.D adalah legal policy yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh

pemerintah Indonesia.Legal policy mengenai pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaruan

terhadap materi-materi hukum agar sesuai dengan kebutuhan.

b. Menurut Satjipto Rahardjo, Pengertian Politik Hukum ialah aktivitas yang menentukan pilihan mengenai

tujuan dan cara-cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan hukum dalam masyarakat.
c. Menurut Padmo Wahjono mengenai Pengertian Politik Hukum merupakan kebijaksanaan penyelenggaraan

negara mengenai kriteria menghukumkan sesuatu atau menjadikan sesuatu sebagai hukum. Kebijaksanaan

yang dimaksud dapat berkaitan dengan pembentukan hukum dan penerapannya.

d. Menurut L. J. Van Apeldorn, Pengertian Politik Hukum yaitu Politik hukum sebagai politik perundang-

undangan. Politik hukum berarti menetapkan suatu tujuan dan isi peraturan perundang-undangan hanya

terbatas pada hukum tertulis. Menurut Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Pengertian Politik Hukum adalah

kegiatan memilih nilai-nilai dan menerapkan nilai-nilai.

e. Menurut Teuku Muhammad Radhie mengatakan bahwa Pengertian Politik Hukum ialah sebagai pernyataan

kehendak penguasa negara dan mengenai hukum yang berlaku di wilayah suatu negara dan mengenai arah

pengembangan hukum.
f. Menurut Abdul Hakim yaitu politik hukum sama dengan politik pembangunan hukum.

g. Menurut Satjipto Rahardjo, Politik Hukum adalah aktivitas untuk menentukan suatu pilihan mengenai tujuan

dan cara cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan hukum dalam masyarakat.

h. Menurut Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Politik Hukum sebagai kegiatan kegiatan memilih

nilai- nilai dan menerapkan nilai nilai.

Dari beberapa Pengertian Politik Hukum sebagaimana dipaparkan diatas

dapat disimpulkan bahwa, Pengertian Politik Hukumadalah sarana penguasa dalam mencapai tujuan negara

dalam upaya menjaga ketertiban, keamanan, pembangunan perekonomian dan menciptakan suasana

pemerintahan yang kondusif guna mewujudkan pemerintah yang bersih.

Perlu digaris bawahi bahwa definisi atau pengertian hukum juga bervariasi namun dengan meyakini

adanya persamaan substansif antara berbagai pengertian yang ada atau tidak sesuai dengan kebutuhan

penciptaan hukum yang diperlukan. Bellefroid dalam bukunya Inleinding Tot de Fechts Weten Schap in

Nederland mengutarakan posisi politik hukum dalam pohon ilmu hukum sebagai ilmu.

2. Posisi Politik Hukum Di Indonesia

Politik hukum merupakan salah satu cabang atau bagian dari ilmu hukum, menurutnya ilmu hukum

terbagi atas :

a) Dogmatika Hukum, Memberikan penjelasan mengenai isi ( in houd ) hukum , makna ketentuan ketentuan

hukum , dan menyusunnya sesuai dengan asas asas dalam suatu sistem hukum.
b) Sejarah Hukum, Mempelajari susunan hukum yang lama yang mempunyai pengaruh dan peranan terhadap

pembentukan hukum sekarang. Sejarah Hukum mempunyai arti penting apabila kita ingin memperoleh

pemahaman yang baik tentang hukum yang berlaku sekarang .

c) Ilmu Perbandingan Hukum, Mengadkan perbandingan hukum yang berlaku diberbagai negara , meneliti

kesamaan, dan perbedaanya

d) Politik Hukum, Politik Hukum bertugas untuk meneliti perubahan perubahan mana yang perlu diadakan

terhadap hukum yang ada agar memenuhi kebutuhan kebutuhan baru didalam kehidupan masyarakat.

e) Ilmu Hukum Umum, Tidak mempelajari suatu tertib hukum tertentu , tetapi melihat hukum itu sebagai suatu

hal sendiri, lepas dari kekhususan yang berkaitan dengan waktu dan tempat. Ilmu Hukum umum berusaha

untuk menentukan dasar- dasar pengertian perihal hukum , kewajiban hukum , person atau orang yang mampu
bertindak dalam hukum, objek hukum dan hubungan hukum. Tanpa pengertian dasar ini tidak mungkin ada

hukum dan ilmu hukum.

Berdasarkan atas posisi ilmu politik hukum dalam dunia ilmu pengetahuan seperti yang telah diuraikan ,

maka objek ilmu politik hukum adalah HUKUM . Hukum yang berlaku sekarang , yang berlaku diwaktu

yang lalu, maupun yang seharusnya berlaku diwaktu yang akan datang. Sedangkan Hukum yang dipakai untuk

mendekati / mempelajari objek politik hukum adalah praktis ilmiah bukan teoritis ilmiah.

Penggolongan lapangan Hukum yang klasik/tradisional dianut dalam tata hukum di Eropa dan tata hukum

Hindia Belanda, yang kemudian berlaku di Indonesia (sebagai bekas jajahan Belanda) adalah : Hukum Tata

Negara, Hukum Tata usaha, Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Pidana, dan Hukum Acara,

sedangkan Lapangan Hukum Baru adalah :Hukum Perburuhan,Hukum Agraria, Hukum Ekonomi,

dan Hukum Fiskal

Pembagian Hukum secara tradisional antara lain : Hukum Nasional terbagi mejadi 6 bagian

diantaranya :Hukum Tata Negara,Hukum adminitrasi Negara, Hukum Perdata, Hukum Pidana, Hukum Acara

Perdata, dan Hukum Acara Pidana. Selanjutnya hukum nasional tradisional mengandung Ide , asas

, dan nilai , sumber hukum ketika semua itu dijadikan satu maka disebut kegiatan politik hukum nasional.

3. Ruang Gerak Politik Hukum Suatu Negara

Adanya Politik Hukum menunjukkan eksistensi hukum negara tertentu , bergitu pula sebaliknya,

eksistensi hukum menunjukkan eksistensi Politik Hukum dari negara tertentu. Politik Hukum

mengejawantahkan dalam nuansa kehidupan bersama para warga masyarakat. Di lain pihak Politik Hukum
juga erat bahkan hampir menyatu dengan penggunaan kekuasaaan didalam kenyataan. Untuk mengatur

negara , bangsa dan rakyat. Politik Hukum terwujud dalm seluruh jenis peraturan perundang undangan

negara.

Lembaga Lembaga Yang Berwenang dalam politik hokum suatu Negara

menurut Montesquieu adalah Trias Politica yang membagi kuasaan negara atas 3 (tiga) pusat kekuasaan

dalam lembaga negara, antara lain : Eksekutif sebagai kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan dan

hukum, Legislatif sebagai kekuasaan untuk mengadakan dan membuat aturan/hukum/undang-undang. Khusu

mengenai badan legislative (badan yang berwenang membuat peraturan Negara) yang pernah ada di Indonesia

adalah :

a. Volksraad (1918-1942)
b. Komite Nasional Indonesia (1945-1949)

c. DPR dan Senat Republik Indonesia Serikat (1949-1950)

d. DPR Sementara (1950-1956)

e. DPR hasil Pemilu 1955 (1956-1959)

f. DPR Peralihan (159-1960)

g. DPR Gotong Royong Demokrasi Terpimpin (1960-1966)

h. DPR Gotong Royong Demokrasi Pancasila (1966-1971)

i. DPR hasil Pemilihan Umum 1971 (1971-1977)

j. DPR hasil Pemilihan Umum 1977

k. DPR hasil Pemilihan Umum 1982

Selanjutnya, Yudikatif sebagai kekuasaan untuk mengawasi dan mengadili pelanggaran yang dilakukan

terhadap Undang-Undang/peraturan yang berlaku. Ketiga kekuasaan tersebut berfungsi sebagai centra centra

kekuasaaan negara yang masing masing harus dipisahkan. Dalam kaitanya dengan Poliik Hukum yang tidak

lain tidak bukan adalah penyusunan tertib hukum negara, Sehingga ketiga lembaga tersebut yang berwenang

melakukannya.

Ruang gerak politik hukum suatu negara sering dinamakan dengan Regionalisme Regionalisme

berasal dari kata Regionyang berarti daerah bagian dari suatu wilayah tertentu . Dewasa ini regionalisme

diartikan sebagai bagian dari dunia , yang meliputi beberapa negara yang berdekatan letaknya , yang

mempunyai kepentingan bersama. Dengan kata lain Regionalisme adalah suatu kerjasama secara kontinue

antara negara negara di dunia. Antara Negara-negara barat dengan Negara-negara timur; antara Negara-
negara eropah dengan Negara-negara amerika; antara Negara-negara Asia dengan Negara-negara eropah dan

seterusnya.

Pada dasarnya Regionalisme sudah ada sejak dahulu kala seperti Regionalisme antara negara negara

SKANDINAVIA yang terdiri dari Swedia, Norwegia , dan Denmark. Begitu pula dengan BENELUX yang

terdiri dari Belgia , Nederland dan Luxsemburg. Mereka bekerjasam dalam satu ikatan , namun perlu

diketahui bahwa contoh contoh diatas kurang mempunyai pengaruh terhadap Politik Hukum dunia.

Keduanya tidak dianggap terlalu penting , lain halnya dengan NATO yang terdiri dari batasan negara Eropa

Barat masih ditambah lagi dengan Turki dan Canada. Mereka punya pengaruh besar terhadap Politik Hukum

negara negara didunia dibandingkan dengan BENELUX.

4. Politik Hukum Sebagai Tata Tertib Dunia

Ada pemahaman yang baru mengenai ruang gerak bahwa Politik Hukum itu sendiri itu dinamis. Bersama

dengan laju perkembangan jaman , maka ruang gerak Politik Hukum tidak hanya sebatas negara sendiri saja

melainkan meluas sampai keluar batas negara hingga ke tingkat Internasional. Menurut pendapatnya Sunaryati

Hartono , Politik Hukum tidak terlepas dari realita sosial dan tradisional yang terdapat di negara kita dan di

lain pihak. Sebagai salah satu anggota masyarakat dunia ,maka Politik Hukum Indonesia tidak terlepas pula

dari Realita dan politik Hukum Internasional. Politik hokum Negara kita dibatasi oleh politik hokum Negara

lain. Artinya politik hokum kita dianggap dapat dijalankan ketika tidak berbenturan dengan politik hokum dari

Negara lain.

Jika dikaji antara politik hukum dan asas-asas hukum maka akan terlihat konsep sebagai berikut :

1) Politik Hukum di negara manapun juga termasuk di Indonesia tidak bisa lepas dari asas Hukum.

2) diantara asasitu terhadap asas yang dijadikan sumber tertib hukum bagi suatu negara.

3) Asas hukum yang dijadikan sumber tertib hukum/dasar negara disebut : grund norm

4) Di Indonesia yang dijadikan dasar negara adalah Pancasila

5) Asas hukum yang dijadikan dasar negara ini merupakan hasil proses pemikiran yang digali dari pengalaman

Bangsa Indonesia sendiri; bukan diambil dari hasil perenungan belaka; bukan hal yang sekonyong-konyong

masuk kedalam pemikiran masyarakat Indonesia tetapi memiliki batasan-batasan tertentu, seperti ada yang

bersifat Nasional, ada yang lebih khusus lagi seperti : kehidupan agama, suku, profesi, dll; ada yang

merupakan hasil pengaruh dari sejarah dan lingkungan masyarakat dunia.


5. Kerangka Landasan Politik Hukum Di Indonesia

Negara Republik Indonesia yang lahir dan berdiri tanggal 17 Agustus 1945, yaitu sejak proklamasi

kemerdekaan Indonesiayang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia dari

Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakartatersebut merupakan detik penjebolan tertib hukum kolonial,

pelepasan diri dari genggaman penjajahan, dan sekaligus titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia

melawan penjajahnya, serta merupakan detik pembangunan tertib hukum nasional ( Tatanan Hukum

Nasional ) secara bebas dan bermartabat.

Muncul politik hukum yang bebas dari pengaruh bangsa lain adalah sejak tanggal 17 Agustus 1945, yaitu

sejakdikumandangkannya Proklamasi kemerdekaan RI, bukan tanggal 18 Agustus 1945 saat mulai berlakunya

konstitusi / hukum dasar negara RI.Politik hukum menurut Bagi Manan, seperti yang dikutip oleh Kotan Y.
Stefanus dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Kekuasaan Pemerintahan Negara

menyatakan bahwa Politik Hukum terdiri dari

Politik Hukum yang bersifat tetap ( permanen ), yaitu politik hokum yang berkaitan dengan sikap hukum

yang akan selalu menjadi dasar kebijaksanaan pembentukan dan penegakkan hukum. Bagi bangsa Indonesia ,

Politik Hukum tetap antara lain :Terdapat satu sistem hukum yaitu Sistem Hukum Nasional. Setelah 17

Agustus 1945, maka politik hukum yang berlaku adalah politik hukum nasional , artinya telah terjadi unifikasi

hukum ( berlakunya satu sistem hukum diseluruh wilayah Indonesia ). Sistem Hukum nasional tersebut terdiri

dari:
1. Hukum Islam ( yang dimasukkan adalah asas asasnya)

2. Hukum Adat ( yang dimasukkan adalah asas asasnya )

3. Hukum Barat (yang dimasukkan adalah sistematikanya)

4. Sistem hukum nasional yang dibangun berdasrkan Pancasila dan UUD 1945.

Tidak ada hukum yang memberi hak istimewa pada warga negara tertentu berdasarkan pada suku, ras,

dan agama.Perbedaan yang ada hanya semata mata didasarkan pada kepentingan nasional dalam rangka

kesatuan dan persatuan bangsa, sebab, pembentukan hukum harus memperhatikan kemajemukan masyarakat.

Oleh karenanya, masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan hukum, sehingga

masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam pembentukan hukum .

Hukum adat dan hukum yang tidak tertulis lainnya diakui sebagai subsistem hukum nasional

sepanjang nyata-nyata hidup dan dipertahankan dalam pergaulan masyarakat. Pembentukan hukum

sepenuhnya didasarkan pada partisipasi masyarakat. Artinya, keikutsertaan masyarakat dalam membuat hukum
menentukan keabsahan hokum itu sendiri sebagaipedoman dalam berbuat. Hukum dibentuk dan ditegakkan

demi kesejahteraan umum ( keadilan sosial bagi seluruh rakyat ) terwujudnya masyarakat yang demokratis dan

mandiri serta terlaksananya negara berdasarkan hukum dan konstitusi.

Selain politik hukum permanen, ada juga Politik Hukum yang bersifat temporer, yaitu :. sebagai

kebijaksanaan yang ditetapkan dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan . Politik hukum temporer sangat

dipengaruhi oleh orang-orang yang menkonsumsinya. Di Indonesia misalnya, cara cara yang digunakan

untuk membentuk politik hukumnya tidak sama dengan cara cara yang digunakan oleh negara, asing

seperri : Negara Kapitalis, Negara Komunis, Negara yang fanatik religius. Akan tetapi untuk menghindari

perbedaan perbedaan yang mencolok dan cara cara yang ekstrim untuk mencapai keadilan dan

kemakmuran , menolak cara cara yang dianggap tepat oleh paham: Negara Kapitalis, Negara
Komunis, Negara yang fanatik religius, Ketiga cara ini merupakan cara yang ekstrim. Kapitalis misalnya

menganggap bahwa manusia perorangan yang individualis adalah yang paling penting. Komunisme,

menganggap bahwa masyarakat yang terpenting diatas segalanya, Fanatik religius

Sudah menjadi dan merupakan realita bahwa manusia hidup di dunia ini harus bergulat untuk

mempertahankan hidupnya ( survive ) , maka Politik Hukum kita pasti tidak akan menggunakan cara cara

kapitalis, komunis, dan fanatik religius.

6. Sistem Hukum Nasional di Indonesia

Hukum nasional suatu negara merupakan gambaran dasar mengenai tatanan hukum nasional yang

dianggap sesuai dengan kondisi masyarakat yang bersangkutan. Bagi Indonesia , tatanan hukum nasional yang

sesuai dengan masyarakat Indonesia adalah yang berdasarkan Pancasila dengan pokok pokoknya sebagai

berikut :
1. Sumber dasar Hukum Nasional

Adalah kesadaran atau perasaan hukum masyarakat yang menentukan isi suatu kaedah hukum. Dengan

demikian sumber dasar tatanan hukum Indonesia adalah perasaan hukum masyarakat Indonesia yang terjelma

dalam pandangan hidup Pancasila. Oleh karena itu dalam kerangka sistem hukum Indonesia , Pancasila

menjadi sumber hukum ( Tap MPRS No. XX/ MPRS / 1966 ).

2. Cita cita hukum nasional

Dalam penjelasan UUD 1945 , dinyatakan bahwa pembukaan UUD 1945 memuat pokok pokok pikiran

sebagai berikut : Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dengan berdasar atas persatuan. Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Negara yang berkedaulatan rakyat , berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan. Negara

berdasar atas KeTuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

7. Politik Hukum Nasional

Politik hukum yang dilakukan oleh pemerintah berkaitan erat dengan wawasan nasional bidang hukum

yakni cara pandang bangsa Indonesia mengenai kebijaksanaan politik yang harus ditempuh dalam rangka

pembinaan hukum di Indonesia. Adapun arah kebijaksanaan politik dibidang hukum ditetapkan dalam GBHN.

Dalam TAP MPR dibawah ini terdapat politik hukum Indonesia yang menyangkut GBHN, antara lain:
1. TAP MPR No. 66 / MPRS / 1960

2. TAP MPR No. IV / MPR / 1973

3. TAP MPR No. IV / MPR / 1978

4. TAP MPR No. II / MPR / 1983

5. TAP MPR No. II / MPR / 1988

6. TAP MPR No. II / MPR / 1993

7. TAP MPR No. X / MPR / 1998

Khusus tentang pokokpokok reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan normalisasi

kehidupan nasional sebagai haluan negara .


1. TAP MPR No. VIII / MPR / 1998

2. Mencabut TAP MPR No. II / MPR/ 1998

3. TAP MPR No. X / MPR / 1998, tentang GBHN

4. TAP MPR No. IV / MPR / 1999 tentang GBHN 1999 sampai dengan 2004.

8. Politik Hukum Sebagai Ilmu

1. Pengertian Politik Hukum

Pengertian politik hukum sangat bervariasi. Setiap definisi memiliki penekanan yang berbeda antara

satu dengan lainnya.Sesungguhnya ada banyak definisi yang diberikan oleh para ahli. Pada definisi-definisi

yang diberfikan tersebut ternyata ada perbedaann batasan tentangf politik hukum. Politik Hukum Perundang-

undangan terdiri dari hukum tertulis dan hukum tidak tertulis. Tertulis dimaksudkan adalah Undang-undang

yang bersifat Permanen. Sedangkan tidak tertulis dimaksudkan adalah Kebijakan Publik (bisa berubah setiap
saat sesuai dengan kebutuhan dan keadaan) Sehingga keadaan dan kebutuhan yang berubah-ubah inilah yang

menyebabkan pembicaraan Politik Hukum menjadi sangat kompleks, sebab antara kebutuhan dan keadaan

suatu negara dengan negara lain bisa berbeda, waktu lalu bisa berbeda dengan waktu sekarang.

Ruang Lingkup artinya situasi/tempat/faktor lain yang berada di sekitar Politik Hukum yang berlaku

sekarang, Hukum yang sudah berlaku dan hukum yang akan berlaku.

9. Obyek Politik Hukum

Obyek yang dipelajari dalam Politik Hukum adalah Hukum-hukum yang bagaimana itu bisa berbeda-

beda atau Hukum ini dihubungkan atau dilawankan dengan Politik. Ilmu Bantu Politik Hukum. Yang dimaksud

Ilmu bantu disini adalah Ilmu yang dipakai dalam mendekati/mempelajari Politik Hukum baik berupa konsep,
teori dan penelitian. Sosiologi hukum dan Sejarah Hukum dalam hal ini sangat membantu dalam

mempelajari Politik Hukum. Mempelajari politik hokum berarti harus menegetahui dan bahkan

memiliki Metode Pendekatan Politik hukum.

Metode adalah cara dalam mempelajari Politik Hukum Empirik adalah kenyataan (secara praktis untuk

mendekati Politik Hukum adalah dengan melihat Konstitusi Negara). Seperti halnya bidang ilmu lainnya,

politik hukum sangat tergantung dengan perairan yang dating kepadanya. Dalam politik hukum dikenal

istilah Politik Hukum Lama dan politik hokum baru. Politik Hukum Lama, di jalankan pada masa

pemerintahan Hindia, Belanda, diawali sejak kedatangan atau zaman pemerintahan Hindia Belanda yang

menerapkan asas Konkosedansi yaitu: menerapakn hubungan yang berlaku di Belanda berlaku juga di Hindia

Belanda. Di Hindia Belanda selain berlaku hukum adat dan Hukum Islam.

Sejak pendudukan penjajahan Belanda sampai dengan Indonesia merdeka tidak ada asvikasi hukum.

Kalau menang Belanda berupaya untuk melakukan asifikasi (memberlakukan satu hukum untuk seluruh

Rakyat di seluruh wilayah negara) tidak berhasil juga. Dalam politik hukum dikenal.

Asas Konkordansi yaitu pemberlakuan hukum Belanda disebuah wilayah Hindia Belanda. Ada juga yang

disebut dengan unufikasi hukum. Unifikasi Hukum adalah berlakunya suatu hukum di suatu wilayah negara

untuk seluruh pasalnya. Sekarang timbul pertanyaan : Kenapa hukum Islam masih berlaku ? Jawabannya

adalah, karena sebagian besar pelakunya adalah beragama Islam.

Hamengku Buwono IX yang tetap mempertahankan Budaya Timur dengan menyatakan: jiwa barat

dan timur dapat dilakukan dan bekerja sama secara ekonomomis tanpa harus kehilangan kepadiannya masing-
masing. Selama tidak menghambat kemajuan, adat akan tetap menduduki tempat yang utama dalam mator

yang kay7a dalam tradisi.

Pandangan politik hukum penjajah Belanda di Hindia Belanda (Indonesia);


1. secara keseluruhan politik hukum Belanda sama isinya dengan politik hwed untuk tanah atau aja

hanya di Hindia Belanda.


2. panangan politik Hukum Belanda sama dengan politik umum dan politik hukum dari hampir smua

orang Eropa dan orang negara baratt trhadap daerah timur yang mereka jajah.
3. umumnya daerah yang dapat mereka kuasai; Daerah di Afrika dan Asia.

4. dikatakan oleh mereka, kebudayaan barat, tinggi, baik, mul;ia,sedangkan kebudayaan timur rendah

terbelakang, primitif, sangat bergantung pada alam.


5. orang yang berpegang pada kebudayaan barat maju sedangkan yang berpegang pada timur ketinggalan

zaman.
6. pendidikan mereka memandang pendidikan asli rendah, pendidikan Islam rendah dapat dilihat pada

daerah jajahan Inggris, perancis, Belanda.


7. Usaha penjajah Belanda memaksakan sistem kebudayaan ke Hindia Belanda berhasil sehingga

pemikiran sebagian bangsa Indonesia berpihak pada penjajah Belanda atau Barat.
8. Jadi terjadi dikotomi timur dan Barat.

10. Unifikasi dan Kodifikasi Hukum di Indonesia

a. Unifikasi Hukum di Indonesia

Unifikasi hukum yang ada di Indonesia jika ditinjau menurut zamannya terdiri dari : Unifikasi Jaman

Penjajahan Di Hindia Belanda dan Unifikasi Masa Indonesia Merdeka. Unifikasi Jaman Penjajahan Di Hindia

Belanda terlihat adanya usaha unifikasi melalui tahap tersebut pada masa penjajahan di Hindia Belanda antara

lain; dalam bidang hukum dagang dan lalu lintas ekonomi, dengan tujuan utamanya adalah keinginan

pemberlakuan hukum Belanda bagi seluruh orang di Hindia Belanda caranya ialah:

1. memulai memberlakukan peraturan-peraturan yang disusun oleh pemerintah Belanda itu untuk orang Belanda

dan Eropa sendiri.

2. Kemudian memberlakukan Hukum Belanda pada orang yang menunjukkan diri dengan sukarela kepada

hukum Belanda.
3. selanjutnya baru memberlakukan Hukum Belanda untuk orang yang dipersamakan oleh pemerintah Hindia

Belanda dengan orang-orang Belanda.

Sedangkan unifikasi masa Indonesia merdeka, dapat dilihat melalui tanda-tanda sebagai berikut :
1. dizaman Indonesia merdeka maka tahap tertentu seperti diatas tak diperlukan memberlakukan suatu

hukum gak tetap untuk yang lain atau menundukkan diri kepada kepada hukum tertentu tidak diperlukan lagi

dalam hukum pemerintahan hukum di Indonesia merdeka, teutama dalam tindak hukum lalu lintas ekonomi

dan keuangan baik untuk semua bangsa Indonesia sediri apalagi dalam hubungan dengan bangsa lain.
2. Khusus untuk sesama bangsa Indonesia terhadap kemungkinan memberlakukan pertahanan hukum

bagi kekhususan orang Indonesia.

Menyangkut bidang yang disebut untuk dewa sesuai dengan bidang yang netral, tidak sulit
mengunifikasikannya misal; KUHAP, tidak sulit dalam hak ;
1. Perasaan dan pemikiran anggota masyarakat untuk menyatukan peraturan-peraturannya.

2. sedangkan mengenai isinya tetap menghadapi kesulitan yang tak terhingga, misal bidang perdagangan

dalam perdata yang berhubungan dengan perjanjian, bidang ini sudut isinya tetap tidak sangat sulit perasaan

anggota masyarakat untuk menyatukannya.


3. mungkin di mintakan masukan yang diperlukan oleh pihak yang merasa bersangkutan dengan

masalahnya, hal yang diangkat tersulit dalam dalam bidang hukum yang berhubungan dengan rasa

kepercayaan keagamaan. Misalnya; bidang kekeluargaan, namun untuk bidang ini ini telah di rumus dengan

suatu idang hukum yang berat.

b. Kodifikasi Hukum di Indonesia.

Kodifikasi adalah pembukuan. Kodifikasi hukum adalah pembuatan hukum menjadi suatu buku. Menurut

teori ada 2 macam kodifikasi hukum, yaitu ;


1. Kodifikasi terbuka

Kodifikasi terbuka adalah kodifikasi yang membuka diri terhadap terdapatnya tambahan tambahan

diluar induk kondifikasi. Pertama atau semula maksudnya induk permasalahannya sejauh yang dapat

dimasukkan ke dalam suatu buku kumpulan peraturan yang sistematis,tetapi diluar kumpulan peraturan itu

isinya menyangkut permasalahan di luar kumpulan peraturan itu isinya menyangkut permasalahan

permasalahan dalam kumpulan peraturan pertama tersebut. Hal ini dilakukan berdasarkan atas kehendak
perkembangan hukum itu sendiri sistem ini mempunyai kebaikan ialah; Hukum dibiarkan berkembang

menurut kebutuhan masyarakat dan hukum tidak lagi disebut sebagai penghambat kemajuan masyarakat

hukum disini diartikan sebagai peraturan .

2. Kodifikasi tertutup

Kodifikasi tertutup adalah semua hal yang menyangkut permasalahannya dimasukan ke dalam

kodifikasi atau buku kumpulan peraturan. Perlu dicatat, dulu kodifikasi tertutup masih bisa dilaksanakan

bahkan tentang bidang suatu hukum lengkap dan perkasanya perubahan kehendak masyarakat mengenai suatu

bidang hukum agak lambat. Sekarang nyatanya kepeningan hukum mendesak agar dimana-mana yang

dilakukan adalah Kodifikasi Terbuka. Isinya; Politik hukum lama,Unifikasi di zaman Hindia Belanda

(Indonesia) gagal, Penduduk terpecah menjadi; penduduk bangsa Eropa, Penduduk bangsa Timur
Asing, Penduduk bangsa pribadi (Indonesia), pemikiran bangsa Indonesia terpecah-pecah pula. Pendidikan

bangsa indonesia, Hasil Pendidikan Barat., dan Hasil Pendidikan Timur.

11. Politik Hukum Baru

Politik hukum baru di Indonesia mulai pada tanggal 17 Agustus 1945 (versi Indonesia). Kemerdekaan

Indonesia Belanda adalah; 19 desember 1949 yaitu sewaktu adanya KMB di Denhaag

(Belanda). Adapun syarat untuk membuat atau membentuk Politik Hukum sendiri bagi suatu negara adalah

sebagai berikat;
1. Negara tersebut negara Merdeka.

2. Negara tersebut yang mempunyai Kedaulatan keluar dan kedalam . Kedaulatan keluar ; Negara lain

mengakui bahwa Negara kita merdeka. Sedangkan kedaulatan kedalam; Kedaulatan Negara diakui oleh

seluruh Warga Negara.

3. Ada keinginann untuk membuat hukum yang tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat.

Sumber-sumber hukum bagi politik antara lain ; Konstitusi, Kebijiakan (tertulis atau undang-

undang), Kebijakan tidak tertulis atau tidak. Kebijakan tidak tertulis dengan hukum adatnya.

Adat kita menyatu dengan sumber politik Hukum, seperti : 1. Hukum perkawinan, UU No. 1 1974

tetapi masih menyelenggarakan pertunangan. 2. Adanya pelarangan menikah antara 2 Agama yang

berbeda. Adapun bahan baku dari politik Hukum (Indonesia hukum nasional yang baru) adalah : Hukum

Islam, hukum Adat, dan Hukum Barat. Selain itu ada juga cara rakyat Indonesia sebagian besar beragama

Islam.; peraturan di Indonesia mengadopsi Asas hukum Islam Bukti: UU No. 1. 1974 ~ asas
monogami; karena hukum aslinya rakyat Indonesia adalah Adat Indonesia dan hukum rakyat yang diambil oleh

hukum Indonesia adalah sistemnya yang baik.

12. Para Pihak Dalam Pembentukan Politik Hukum

Pihak-pihak yang biasanya berperan dalam pembentukan politik hokum di Indonesia antara lain

adalah : Negara, dalam hal ini pemerintah Indonesia; Partai-partai politik; .Para Pakar hukum atau ahli hukum

dengan tulisan dan doktren dan pendapat;.Warga Negara melalui kesadaran Hukumnya. Sebab bila warga

negara memiliki kesadaran hukum tinggi maka politik hukumnyapun akan tinggi begitu juga sebaliknya.

Bagi Indonesia politik Hukum dicantumkan dalam : Konsitusi = garis besar politik Hukum.UU =

ketentuan Incroteto = ketentuan yang berlaku. Kebijaksanaan yang lain = pelengkap untuk pemersatu.Adat =
Berupa Nilai.GBHN = Berupa Program Hukum Islam , yang diambil adalah nilainya. Sedangkan dari sisi

produk Perundang-undangan. Terjadi perubahan Politik Hukum, yakni: dengan dikeluarkannya beberapa UU

yang semula belum ada, yakni :


1. UU No 14 tahun 1970 Tentang ketentuan kekeuasaan kehakiman.

2. UU No 5 Tahun 1960 Tentang ketentuan pokok Agraria.

3. UU lingkungan Hidup.

4. UU Perburuhan.

5. UU Perbankan, Dsb.

Kemudian Prof. Hazairin berpendapat bahwa : dipakainya Hukum Adat sebagai sumber Hukum

Nasional di Republik ini adalah disebakan Hukum Adat sudah dikenal luas dan eksis dalam budaya dan

perasaan Bangsa Indonesia. Hukum adat juga telah diberlakukan secara turun temurun oleh nenek moyang kita

dan terpelihara hingga sekarang. Dipakainya Hukum Islam sebagai sumber Hukum Nasional adalah karena

mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, bahkan data terakhir menunjukkan bahwa umat Islam

sekarang ini adalah 87 % dari penduduk Indonesia. Namun perlu digaris-bawahi bahwa Hukum Adat dan

Hukum Islamdimaksud hanya diambil asas-asasnya saja. Sedangkan Hukum Barat dijadikan sebagai sumber

Hukum Nasional juga karena berkaitan dengan urusan-urusan Internasional atau berkaitan dengan Hukum atau

perdagangan Internasional.

a. Tahun 1979, PURNADI dan SURYONO SUKAMTO menyatakan : Hukum Negara (Tata Negara) adalah

Struktur dan proses perangkat kaedah-kaedah Hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu serta

berbentuk tertulis.
b. Tahun 1986, JOHN BALL menyatakan : Persoalan Hukum di Indonesia adalah persoalan dalam rangka

mewujudkan Hukum Nasional di Indonesia, yaitu persoalan yang terutama bertumpu pada realita alam

Indonesia.

c. Tahun 1966, UTRECHT membuat buku dengan judul Pengantar Dalam Hukum Indonesia.

d. Tahun 1977, AHMAD SANUSI menyatakan PTHI hendaknya dipahami sebagai penguraian Deskritif-

Analistis yang tekanannya lebih dikhususkan bagi Ilmu Hukum Indonesia, menjelaskan sifat-sifat spesifik dari

Hukum Indonesia dengan memeberikan contoh-contohnya sendiri. Persoalan Hukum di Indonesia dan Negara-

negara baru lainnya tidak hanya sekedar penciptaan Hukum baru yang dapat ditujukan pada hubungan Perdata

dan Publik dengan karekteristiknya yang telah cukup diketahui. Harus diusahakan pendobrakan cara berpikir

Hukum kolonial dan penggantinya dengan cara berpikir yang didorong oleh kebutuhan menumbuhkan Hukum
setempat bagi Negara yang telah merdeka.

e. Tahun 1978 , DANIEL S. LEV menulis aspek Politiknya dengan menyatakan dan kedudukan Hukum di

Negara republik indonesia sebaian besar merupakn perjuangan yang hanya dapat dimengerti secara lebih baik

dengan memahami Sosial Poltik daripada kultural. Hukum Indonesia harus memberi tempat kepada Rasa

Hukum, Pengertian Hukum,Paham Hukum yang khas (Indonesia). Hendaknya ada pelajaran Hukum indonesia.

f. Tahun 1952, DORMEIER membuka wacana dengan cara : menulis buku Pengantar Ilmu Hukum (buku PIH

karangannya ini adalah buku PIH pertama dalam Bahasa Indonesia). Menukis bentuk-bentuk khusus Hukum

yang berlaku di Indonesia.

g. Tahun 1955, LEMAIRE Deskripsi Hukum Indonesia.

h. Tahun 1965, DANIEL S.LEV. menyatakan Transformasi yang sesungguhnya terhadap hukum masa Kolonial,

terutama tergantung dari pembentukan Ide-ide baru, yang akan mendorong ke arah bentuk Hukum yang sama

sekali berbeda dengan Hukum Kolonial. Sejak sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan Republik

Indonesia sudah banyak usulan agar Negara Republik indonesia memiliki Hukum Politik dsendiri, bukan

Politik Hukum yang sama dengan Politik Hukum Belanda. Usulan-usulan tersebut. Tahun 1929, KLEINTJES

menulis dalam sebuah buku, yang isinya : pokok-pokok Hukun Tentang Negara dan Hukum Antar Negara

yang berlaku di Hindia Belanda.

i. Tahun 1932, VAN VOLLEN HOVEN dalam pidatonya yang berjudul Romantika Dalam Hukum indonesia

menyatakan : sangat sulit untuk membuat definisi tentang hokum. Definisi hokum dapat berganti setiap waktu

sesuai dengan kemauan yang berkepentingan.


PENUTUP

Hukum Indonesia harusnya menuju Hukum Yang Mandiri dan jangan hanya menjadi tambahan saja

bagi Hukum Belanda di Hindia Belanda. Idealnya, sejak tahun 1945 Indonesia sudah memiliki Politik Hukum
sendiri yang sesuai dengan situasi dan kondisi Bangsa Indonesia. dipakainya Hukum Adat sebagai sumber

Hukum Nasional adalah disebakan Hukum Adat sudah dikenal luas dan eksis dalam budaya dan perasaan

Bangsa Indonesia. Hukum adat juga telah diberlakukan secara turun temurun oleh nenek moyang kita dan

terpelihara hingga sekarang. Dipakainya Hukum Islam sebagai sumber Hukum Nasional adalah karena

mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, bahkan data terakhir menunjukkan bahwa umat Islam adalah

87 % dari penduduk Indonesia. Namun perlu digarisbawahi bahwa Hukum Adat dan Hukum

Islam dimaksud hanya diambil asas-asasnya saja. Sedangkan Hukum Barat dijadikan sebagai sumber Hukum

Nasional juga karena berkaitan dengan urusan-urusan Internasional atau berkaitan dengan Hukum atau

perdagangan Internasional.

DAFTAR BACAAN
Budiardjo, Miriam. 2007 Dasar-Dasar Ilmu Politik Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama

Kusnadi. 1983 Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia Jakarta:Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum

Universitas Indonesia.

Selayan, Abdul Wahid. 1960 Pengertian Umum Bab Pertama Tata Hukum Medan:Bintang

Sundawa, Dadang, dkk 2008 Pendidikan Kewarganegaraan Jakarta:Aneka Ilmu

Wawan Muhwan Hariri 2012 Pengantar ilmu Hukum. Jakarta:CV. Pustaka Setia

Makalah Politik Hukum : Peranan


Politik Hukum dalam Pembangunan
Hukum di Indonesia
Browse Home Makalah Politik Hukum : Peranan Politik Hukum dalam Pembangunan
Hukum di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perlu kita ketahui bahwa pada Masa Orde Baru adalah merupakan masa-

masa yang bersifat memaksakan kehendak serta bermuatan unsur politis semata,

untuk kepentingan Pemerintah pada masa itu. Dan pada masa Orde Baru itu

pulalah, telah terjadinya pembelengguan disegala sektor, dimulai dari sektor

Hukum/undang-undang, perekonomian/Bisnis, Kebebasan Informasi/Pers dan lain-

lain sebagainya.
Dan untuk mengembalikan Citra Bangsa Indonesia yaitu sebagai Negara Hukum

terutama dalam dibidang hukum dan Politik, untuk meyakinkan bahwa revolusi

belum selesai, dan UUD 1945 dijadikan landasan idiil/Konstitusional, dengan

dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret pada Tahun 1967 serta dibentuknya

kabinet baru dengan sebutan Kabinet Pembangunan yang merupakan sebagai titik

awal perubahan kebijakan pemerintah secara menyeluruh. Dengan Ketetapan MPRS

No. XX : menetapkan sumber tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan

Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia, harus melaksanakan UUD 1945

secara murni dan konsekuen yaitu Pancasila.

Pada pembangunan lima tahun yang merupakan sebagai Rule of Law pada

tahun 1969 merujuk kepada paragraf Pendahuluan Bab XIII UUD 1945 bahwa

Indonesia adalah negara yang berazas atas hukum dan bukan negara yang

berdasarkan atas kekuasaan belaka, dimana Hukum di fungsikan sebagai sarana

untuk merekayasa masyarakat proses pembangunan melakukan pendekatan baru

yang dapat dipakai untuk merelevansi permasalahan hukum dan fungsi hukum

dengan permasalahan makro yang tidak hanya terbatas pada persoalan normative

dan ligitigatif (dengan kombinasi melakukan kodifikasi dan unifikasi hukum

nasional). Yang secara Eksplisit dan resmi dalam naskah Rancangan Pembangunan

Lima Tahun Kedua Tahun 1974, Bab 27 Paragraf IV butir I Menguraikan : Hukum dan

Rancangan Perundang-undangan, dengan prioritas untuk meninjau kembali dan

merancang peraturan-peraturan perundang-undangan sesuai dengan

pembangunan sosial-ekonomi (perundangan-undangan disektor social-ekonomi.

Kontinuitas Perkembangan Hukum Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Kolonial

yang dinasionalisasi, adalah pendayagunaan hukum untuk kepentingan

pembangunan Indonesia, adalah dengan hukum yang telah diakui dan berkembang

dikalangan bisnis Internasional (berasal dari hukum dan praktek bisnis Amirika),

Para ahli hukum praktek yang mempelajari hukum eropa (belanda), dalam hal ini,
mochtar berpengalaman luas dalam unsur-unsur hukum dan bisnis Internasional,

telah melakukan pengembangan hukum nasional Indonesia dengan dasar hukum

kolonial yang dikaji ulang berdasarkan Grundnom Pancasila adalah yang dipandang

paling logis.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan deskripsi diatas maka penulis perlu memberikan rumusan

masalah sebagai objek pembahasan dan batasan yang akan dibahas dalam

makalah ini, yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana peranan politik hukum dalam perkembangan hukum di Indonesia?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Peranan politik hukum dalam perkembangan hukum di Indonesia

Sudah banyak pengertian atau definisi tentang politik hukum yang diberikan

oleh para ahli di dalam berbagai literature. Dari berbagai pengertian atau definisi

itu, dengan mengambil substansinya yang ternyata sama, bahwa politik hukum

adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan

diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian

hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan Negara. Dengan demikian, politik

hukum merupakan pilihan tentang hukum-hukum yang akan diberlakukan sekaligus

pilihan tentang hukum-hukum yang akan dicabut atau tidak diberlakukan yang

kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan Negara seperti yang tercantum

di dalam Pembukaan UUD 1945.

Secara lebih spesifik perkembangan karakter produk hukum tentang Pemilu,

Pemda, dan Agraria menurut penggalan waktu (periodisasi) konfigurasi politik

tersebut adalah sebagai berikut.

1) Hukum Pemilu

Setelah proklamasi kemerdekaan (selama periode 1945-1959) berbagai

eksperimen, perundang-undangan tentang Pemilu dikeluarkan, tetapi pada era ini

terjadi Pemilu yang benar-benar fair , yaitu Pemilu untuk anggota DPR dan

konstituante pada tahun 1955 dilaksanakan berdasarkan UU No. 7 Tahun 1953 ini
memuat materi sangat rinci (139 pasal)sehingga tidak memberikan space yang

terlalu besar kepada eksekutif untuk menafsirkannya dengan peraturan pelaksana

menurut visi politiknya sendiri. Organisasi penyelenggara Pemilu adalah

independen dan tidak di intervensi oleh kekuatan politik pemerintah. Pengangkatan

anggota DPR maupun konstituante yang tidak berdasar hasil Pemilu hanya

dimungkinkan bila terjadi situasi memaksa tertentu, yaitu adanya daerah yang

berhalangan menyelenggarakan pemungutan suara (sehingga dimungkinkan

pengangkatan untuk sementara), atau karena kuri-kursi DPR dan konstituante tidak

terbagi habis setelah dibagi-bagi menurut perimbangan perolehan suara, atau

karena tidak terpenuhinya jumlah minimal tertentu untuk golongan minoritas China,

Arab, dan Eropa. Dengan demikian, produk hukum Pemilu pada era ini dikualifikasi

sebagai produk hukum yang lebih berwatak responsive/populistik.

Pada era demokrasi terpimpin (1959-1966) tidak pernah ada Pemilu

maupun UU Pemilu, sesuai dengan konfigurasi politik yang sangat otoriter. Tetapi

lembaga perwakilan rakyat yang ada mengalami emaskulasi untuk akhirnya

dibubarkan oleh presiden. Logika pembangunan ekonomi pada era Orde Baru

(1966-1998) telah menyebabkan pemerintah mengambil sikap tertentu tentang

Pemilu, yakni Pemilu harus diadakan sesuai dengan tuntutan konstitusi, tetapi

kekuatan pemerintah harus menang. Oleh sebab itu, UU Pemilu, yaitu UU No. 15

Tahun 1969, yang kemudian hampir selalu diperbaharui setiap menjelang Pemilu,

lebih cenderung berwatak konservatif/ortodoks/elitis. Artinya lebih banyak memberi

keuntungan kepada kekuatan politik pemerintah. Di dalam UU tersebut dianut

system pengangkatan secara tetap (untuk jumlah tertentu) yang ditentukan oleh

dan untuk visi politik pemerintah. Organisasi penyelenggara Pemilu dinilai tidak

netral dan peraturan-peraturan pelaksanaannya yang merupakan interpretasi resmi

atas UU Pemilu (electoral laws) dinilai tidak fair. UU No. 15 Tahun 1969 yang hanya

memuat 37 pasal memang member space sangat luas kepada pemerintah untuk
memberikan interpretasi, yang dalam banyak hal dinilai tidak sekadar interpretasi

teknis.

2) Hukum Pemda

Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 agustus 1945 membawa semangat

demokrasi yang cenderung liberal sehingga masalah desentralisasi menjadi salah

satu perhatian utama. Pada periode 1945-1959, masalah desentralisasi berjalan

secara eksperimental dalam wujud lahirnya UU Pemerintahan Daerah (Pemda)

sampai tiga kali, yaitu UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan UU No. 1

Tahun 1957. Secara umum hukum Pemda pada era 1945-1959 ini dapat dikualifikasi

sebagai hukum yang berkarakter sangat renponsif/populistik karena luasnya

otonomi yang diberikan kepada daerah. DPRD merupakan penanggung jawab

utama dalam penyelenggaraan desentralisasi, sedangkan tugas pembantuan lebih

banyak ditangani oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pemilihan kepala daerah

otonom juga sangat fair, yakni dilakukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat

yang untuk tahap awal (sebelum ada UU tentan Pemilihan Kepala Daerah) dipilih

oleh DPRD. Begitu juag control pusat terhadap produk Peraturan Daerah (Perda)

hanya dibatasi pada hal-hal tertentu yakni pada masalah-malasah yang

menyangkut kepentingan umum.

Pemerintah pada era demokrasi terpimpin memandang system otonomi

atau desentralisasi yang berlaku sejak zaman demokrasi liberal membahayakan

keutuhan nasional karena tendensi pada timbulnya gerakan-gerakan daerah yang

disintegratif. Presiden Soekarno segera mengeluarkan Penpres No. 6 Tahun 1959

yang merombak secara total dasar-dasar yang dipakai oleh UU No. 1 Tahun 1957.

Penpres No. 6 Tahun 1959 menggeser dominasi asas desentralisasi kea rah

sentralisasi atau pengendalian daerah secara ketat oleh pusat. Meskipun penpres
tersebut secara formal masih menyebut asas otonomi nyata yang seluas-

luasnya, namun asas tersebut tidak dielaborasi sama sekali, malahan penpres itu

memuat ketentuan-ketentuan yang sangat tidak sesuai dengan prinsip

desentralisasi. Kepala daerah diangkat dan ditentukan sepenuhnya oleh pusat

dengan kedudukan sekaligus sebagai pengawas (atas nama pusat) atas jalannya

pemerintahan di daerah yang diberi wewenang untuk menangguhkan keputusan-

keputusan DPRD. Penpres ini kemudian digantikan oleh UU No. 18 Tahun 1965 yang

lebih merupakan penggantian baju hukum karena isinya tidak mengandung

perubahan yang berarti, bahkan dapat dikatakan bahwa UU No. 18 Tahun 1965

mengambil hamper seluruh isi Penpres No. 6 Tahun 1969 sebagai materinya.

Dengan demikian, produk hukum tentang Pemda pada periode ini memiliki karakter

yang sangat konservatif/ortodoks/elitis.

Era Orde Baru (1966-1998) yang berusaha menggalang persatuan dan

kesatuan melakukan perubahan terhadap UU No. 18 Tahun 1965. Meskipun pada

awal Orde Baru, MPRS menetapkan asas otonomi nyata yang seluas-luasnya, tetapi

ketetapan MPRS ini harus diganti sebelum berlaku. Orde Baru memandang

penetapan otonomi yang seluas-luasnya bertentangan dengan prinsip persatuan

dan kesatuan sehingga harus diganti dengan asas otonomi nyata dan bertanggung

jawab yang lebih merupakan kewajiban bagi daerah. Asas otonomi nyata dan

bertanggung jawab ini dituangkan dalam Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 yang

kemudian dijabarkan dengan UU No. 5 Tahun 1974. Meskipun tidak seekstrem UU

No. 18 Tahun 1965, UU No. 6 Tahun 1974 ini dapat dikualifikasi sebagai produk

hukum yang cenderung berkarakter konservatif karena memberikan porsi

kekuasaan kepada pusat secara lebih dominan. Kepala daerah diangkat oleh pusat

dari calon-calon yang diajukan daerah berdasarkan hasil pemilihan DPRD tanpa

terikat pada peringkat hasil pemilihan DPRD itu. Calon-calon yang akan dipilih untuk

diusulkan oleh DPRD itu harus mendapat persetujuan lebih dulu dari pusat. Hal ini
merupakan konsekuensi dari kedudukan kepala daerah sebagai organ daerah

otonom sekaligus alat pusat di daerah. Kepala daerah diletakkan pada posisi

penguasa tunggal dalam bidang pemerintahan di wilayahnya masing-masing yang

menempel di atas daerah otonom. Control pusat atas daerah masih melalui

pengawasan preventif, pengawasan represif, dan pengawasan umum. Dengan

demikian, desentralisasi menurut UU No. 5 Tahun 1974 sebenarnya lebih diwarnai

oleh sentralisasi sehingga produk hukum ini bukan produk yang berwatak renponsif.

3) Hukum Agraria

Setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, hukum-

hukum agraria yang ditinggalkan kolonialisme Belanda mendapat gugatan secara

gencar agar diganti dengan hukum agraria yang lebih renponsif. Pemerintah sendiri

menempuh dua jalur untuk memenuhi gugatan-gugatan itu, yaitu mengeluarkan

peraturan perundang-undangan secara parsial dalam bidang keagrariaan dan

membentuk berbagai Panitia Perancang Hukum Agraria Nasional. Peraturan

perundang-undangan yang sifatnya parsial itu dibuat untuk sementara sambil

menunggu lahirnya hukum agraria nasional yang materi-materinya berisi

pencabutan terhadap bidang-bidang tertentu dalam hukum agraria yang dirasa

sangat tidak adil. Seperti pencabutan hak konversi bagi pengusaha Eropa dengan

UU No. 13 Tahun 1948, penghapusan tanah partikelir dengan UU No. 1 Tahun 1958,

perubahan Peraturan Persewaan Tanah dengan UU Darurat No. 6 Tahun 1951 (yang

kemudian diperbaharui dengan UU No. 6 Tahun 1952) dan sebagainya. Semua

produk hukum dalam bidang agraria yang masih bersifat parsial mempunyai

karakter yang lebih renponsif/populistik.

Sejak awal kemerdekaan pemerintah juga telah mengambil langkah-

langkah untuk membuat hukum agraria nasional yang komprehensif melalui

pembentukkan berbagai Panitia Agraria. Mula-mula dibentuk Panitia Agraria Yogya


(1948), kemudian disusul dengan Panitia Agraria Jakarta (1951), dan Panitia

Soewahjo (1956). Rangkuman hasil-hasil kerja berbagai panitia itu diajukan oleh

Menteri Agraria Soenarjo kepada DPR sebagai RUU. Namun, RUU yang diajukan

pada era demokrasi liberal ini kemudian ditarik oleh pemerintah karena terjadi

perubahan konstitusi berkenaan dengan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. RUU

tersebut setelah diperbaharui atau disesuaikan dengan terma-terma yang ada

dalam UUD 1945 dan konsepsi demokrasi terpimpin diajukan lagi kepada DPR

sebagai RUU pada tahun 1960 oleh Menteri Agraria Sadjarwo untuk kemudian

disahkan menjadi UU No. 5 Tahun 1960 yang lebih dikenal dengan sebutan UUPA

(Undang-Undang Pokok Agraria). UUPA menghapus semua watak yang melekat

pada AW 1870 dan semua produk hukum yang menyertainya, yaitu watak dualistic,

feodalistik, dan ekploitatif. UUPA juga memuat asas fungsi social bagi hak atas

tanah serta prinsip pembatasan luas maksimum dan minimum tanah yang dapat

dimiliki secara adil. Domeinverklaring dinyatakan dicabut dan diganti dengan asas

hak menguasai dari Negara yang berorientasi pada upaya mengusahakan

kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD

1945. Dengan demikian, UUPA berkarakter sangan renponsif/populistik.

Kasus UUPA menjadi satu-satunya produk hukum yang berkarakter

responsive dalam penelitian ini pada era demokrasi terpimpin yang otoriter. Hal ini

bisa dijelaskan dari empat hal, yaitu : Pertama, UUPA berasal dari warisan

(rancangan-rancangan) zaman demokrasi liberal yang pengundangannya tertunda

karena ada Dekrit Presiden 5 Juli 1959.Kedua, UUPA memuat materi yang membalik

dasr-dasar kolonialisme yang sudah pasti sangat ditentang oleh semua pemimpin

Indonesia, baik pemimpin yang demokratis maupun yang otoriter. Ketiga, materi

UUPA tidak menyangkut distribusi kekuasaan sehingga pemberlakuannya tidak akan

mengganggu sebuah rezim otoriter sekalipun. Keempat,UUPA tidak hanya memuat


aspek public (hukum administrasi Negara), tetapi juga memuat masalah-masalah

privat (hukum perdata).

Pada era Orde Baru tidak diperlukan lagi sebuah produk hukum agraria

nasional karena Indonesia sudah meiliki UUPA. Oleh sebab itu, hanya dikeluarkan

beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang keagrariaan yang sifatnya

parsial. Ada tuntutan bagi Orde Baru untuk melakukan pembaharuan terhadap

beberapa masalah (parsial) dalam bidang agraria ini, seperti yang menyangkut UU

Landreform (UU No. 56/PRP//1960).

Dapat juga dicatat bahwa proses pembangunan pada era Orde Baru

telah menyebabkan meningkatnya tuntutan atas penggunaan

lembaga onteigning (pencabutan hak atas tanah), seperti yang diatur dalam UU No.

20 Tahun 1961. Tetapi sikap pragmatis Orde Baru telah melahirkan peraturan

perundang-undangan parsial dalam bidang agrarian ini yang dapat dikualifikasi

cenderung berkarakter konservatif/ortodoks. Peraturan Menteri Dalam Negeri

(PMDN) No. 15 Tahun 1975 tentang Prosedur Pembebasan Tanah untuk Keperluan

Pembangunan, di samping materinya secara hierarkis tidak proporsional karena

memuat materi UU atau mengatur cara lain dari apa yang diatur UU No. 20 Tahun

1961, tidak memberikan alternative jika musyawarah untuk pembebasan tanah

itu gagal, sehingga di dalam praktik banyak menimbulkan masalah yang cenderung

selalu memenangkan pihak yang ingin membebaskan tanah.

Dalam pada itu, Inpres No. 9 Tahun 1973 dapat juga dipandang sebagai

produk peraturan perundang-undangan yang lebih memenuhi keperluan praktis

pemerintah untuk melakukan pengadaan tanah untuk keperluan pembangunan.

Seharusnya materi kedua peraturan perundang-undangan ini dapat dibuat lebih

rinci dan diberi bentuk hukum setingkat UU. Sedikit kemajuan terjadi pada tahun

1993, pemerintah mengeluarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan


Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Kemajuan

tersebut, misalnya terlihat pada prosedur musyawarah yang lebih terbuka untuk

menentukan ganti rugi. Terlihat juga adanya jalan keluar jika penetapan ganti rugi

ditolak pemilik hak atas tanah, yakni dengan mengajukan keberatan dan minta

penyelesaian gubernur. Jika penetapan gubernur itu masih ditolak dapat ditempuh

penyelesaian dengan menggunakan UU No. 20 Tahun 1961, yaitu prosedur

pencabutan hak (onteigning). Namun Karena substansinya sangat penting, materi

Keppres No. 55 Tahun 1993 seharusnya diberi baju hukum dalam bentuk UU yang

sekaligus diintegrasikan dengan UU No. 20 Tahun 1961.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Hasil telaah atas kasus-kasus dalam studi ini menunjukkan bahwa

perkembangan karakter produk hukum senantiasa dipengaruhi atau ditentukan oleh

perkembangan konfigurasi politik. Artinya konfigurasi politik tertentu ternyata selalu

melahirkan karakter produk hukum tertentu pula. Pada saat konfigurasi politik

tampil secara demokratis, maka karakter produk hukum yang dilahirkannya

cenderung responsive/populistik. Sedangkan ketika konfigurasi politik bergeser ke

sisi yang otoriter, maka produk hukum yang lahir lebih berkarakter

konservatif/ortodoks/elitis.

DAFTAR PUSTAKA
M.D., Mahfud, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009.

MAKALAH POLITIK HUKUM DALAM PEMBANGUNAN


HUKUM NASIONAL

MAKALAH POLITIK HUKUM

Dosen: Dr. Muh. Hasrul, S.H., M.H.

POLITIK HUKUM DALAM


PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL
Oleh:

SAFRI AWAL
(P3600215005)

PROGRAM STUDI KENOTARIATAN


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum harus dijadikan dasar
dan pedoman untuk menentukan politik hukum dalam pembangunan hukum
nasional Indonesia. Namun demikian, harus diakui bahwa dari dahulu sampai
sekarang banyak pihak-pihak yang mencoba mempengaruhi dan mengarahkan
kebijakan politik(political will) dan politik hukum pemerintah dalam pembangunan
hukum nasional Indonesia agar tidak lagi menjadikan Pancasila sebagai pedoman.
Berdasarkan kenyataan tersebut, diharapkan agar kerangka pemikiran dalam
makalah ini dapat dijadikan refleksi yang bertujuan untuk mengembalikan
kedudukan dan fungsi Pancasila dalam rangka menyikapi peranan politik hukum
dalam pembangunan hukum nasional Indonesia.

Membahas mengenai politik hukum Indonesia tentu sangat erat kaitannya


dengan realita sosial dan tradisional yang terdapat di dalam negara Indonesia
sebagai faktor internal serta politik hukum internasional sebagai faktor
eksternal. Faktor internal antara lain meliputi latar belakang sejarah, kebudayaan
dan adat-istiadat, serta cita-cita masyarakat bangsa Indonesia. Perkembangan
kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sejak orde lama, orde baru
sampai dengan orde reformasi sekarang ini mengalami perubahan yang sangat
besar terutama dalam rangka mewujudkan tujuan gerakan reformasi di bidang
hukum yang diimplementasikan melalui beberapa kebijakan hukum diantaranya
dengan melakukan perubahan (amandemen) terhadap Undang-Undang Dasar 1945.

Meskipun terhadap Undang-Undang Dasar 1945 telah dilakukan amandemen


beberapa kali, orientasi pembangunan hukum harus tetap mencerminkan kehendak
untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
Indonesia secara adil dan merata, serta mengembangkan kehidupan masyarakat
dan penyelenggaraan negara yang maju dan demokratis berdasarkan Pancasila dan
Undang Undang Dasar 1945. Pancasila merupakan dasar filsafat dan sumber dari
segala sumber hukum negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945 dan
dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945, diundangkan dalam Berita Negara
Republik Indonesia bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945.
Dalam perjalanan sejarah, sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia
mengalami berbagai interpretasi dan manipulasi politik sesuai dengan kepentingan
dan arah politik hukum penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. Dengan
perkataan lain, Pancasila tidak diposisikan sebagai pandangan hidup bangsa dan
negara Indonesia, melainkan dimanipulasi oleh para pemangku jabatan demi
kepentingan politik mereka yang berkuasa.

Saat ini bangsa Indonesia ada di persimpangan jalan (crossroad) yang sangat
menentukan masa depan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Dalam pengertian ini, apakah pemerintah dapat menjalankan peranan
politik hukumnya sebagai suatu political will untuk membangun hukum nasional
yang berwawasan nusantara dan kebangsaan yang dapat dijadikan sebagai perekat
untuk mempertahankan keutuhan rakyat Indonesia. Oleh karena pada masa
sekarang ini, faktanya masih terdapat produk hukum dan peraturan perundang-
undangan yang yang bertolak belakang dengan cita-cita bangsa tetapi sengaja
dipertahankan oleh pemerintah meskipun keberlakuannya bersifat inkonstitusional.
Termasuk adanya pola-pola kebijakan pemerintah dalam melaksanakan peranan
politik hukumnya, yang dianggap mencederai rasa keadilan masyarakat Indonesia
dan bertentangan dengan nilai-nilai hukum.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, adapun pokok permasalahan yang


dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa yang menjadi tujuan politik hukum nasional yang dicita-citakan bangsa
Indonesia?

2. Sejauh mana peranan politik hukum dalam pembangunan hukum nasional?

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Politik Hukum


Secara etimologis, istilah politik hukum merupakan terjemahan bahasa
Indonesia dari istilah hukum Belanda rechtspolitiek, yang merupakan bentukan dari
dua kata recht dan politiek. Istilah ini seyogyanya tidak dirancukan dengan istilah
yang muncul belakang, politiekrecht atau hukum politik, yang dikemukakan Hence
van Maarseveen karena keduanya memiliki konotasi yang berbeda. Istilah yang
disebutkan terakhir berkaitan dengan istilah lain ditawarkan Hence van
Maarseveenuntuk mengganti istilah hukum tata Negara. Untuk kepentingan itu dia
menulis sebuah karangan yang berjudul Politiekrecht, als Opvolger van het
Staatrecht.[1]

Menurut Padmo Wahjono, Pengertian Politik Hukum adalah kebijakan


penyelenggara negara yang bersifat mendasar dalam menentukan arah, bentuk
maupun isi daripada hukum yang akan dibentuk dan tentang apa yang dijadikan
kriteria untuk menghukumkan sesuatu. Dengan demikian, Pengertian Politik Hukum
menurut Padmo Wahjono berkaitan dengan hukum yang berlaku di masa yang akan
datang (ius constituendum).[2]

Pengertian Politik hukum menurut Teuku Mohammad Radhie ialah sebagai


suatu pernyataan kehendak penguasa Negara mengenai hukum yang berlaku di
wilayahnya dan mengenai arah perkembangan hukum yang dibangun.[3]

Adapun pendapat dari Soedarto (Ketua Perancang Kitab Undang-undang


Hukum Pidana), Pengertian politik Hukum adalah kebijakan dari negara melalui
badan-badan negara yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang
dikehendaki dan juga diperkirakan akan digunakan untuk mengekspresikan apa
yang terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Pada bukunya yang lain "Hukum dan Hukum Pidana", Pengertian politik hukum
merupakan usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan
keadaan dan situasi pada suatu waktu.[4]

Satjipto Rahardjo memberikan definisi Politik Hukum sebagai aktivitas


memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dan
hukum tertentu dalam masyarakat.[5]

B. Pengertian Politik Hukum Nasional

Politik hukum nasional diartikan sebagai kebijakan dasar penyelanggara


Negara dalam bidang hukum yang akan , sedang dan telah berlaku, yang
bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan
Negara yang dicita-citakan.

Adapun kata nasional sendiri diartikan sebagai wilayah berlakunya politik


hukum itu. Dalam hal ini yang dimaksud adalah wilayah yang tercakup dalam
kekuasaan Negara Republik Indonesia. Dari pengertian tersebut, yang dimaksud
dengan politik hukum nasional disini adalah kebijakan dasar penyelenggaraan
Negara (Republik Indonesia) dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah
berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai
tujuan Negara (Republik Indonesia) yang dicita-citakan. Dari pengertian tersebut
ada lima agenda yang ditekankan dalam politik hukum nasional, yaitu:

1. Masalah kebijakan dasar yang meliputi konsep dan letak

2. Penyelenggara Negara pembentuk kebijakan dasar tersebut

3. Materi hukum yang meliputi hukum yang akan, sedang dan telah berlaku

4. Proses pembentukan hukum

5. Tujuan politik hukum nasional.[6]

C. Tujuan Politik Hukum Nasional

Bila merujuk pada kalimat terkhir pengertian politik hukum nasional di atas,
jelas bahwa politik hukum nasional dibentuk dalam rangka mewujudkan tujuan cita-
cita ideal Negara Republik Indonesia. Tujuan itu meliputi dua aspek yang saling
berkaitan, yaitu:

1. Sebagai suatu alat (tool) atau sarana dan langkah yang dapat digunakan oleh
pemerintah untuk menciptakan suatu sistem hukum nasional yang dikehendaki

2. Dengan sistem hukum nasional itu akan diwujudkan cita-cita bangsa Indonesia
yang lebih besar.[7]

D. Hubungan Hukum dan Politik

Hubungan antara hukum dan politik tergantung pada persepsi tentang apa
yang kita maksudkan sebagai hukum dan apa yang kita maksudkan dengan politik.
Jika kita berpandangan non-dogmatik dan memandang hukum bukan sekedar
peraturan yang dibuat oleh kekuasaan politik maka tentu saja persoalan lebih lanjut
tentang hubungan kekuasaan hukum dan kekuasaan politik masih bisa
berkepanjangan. Namun jika kita menganut pandangan positif yang memandang
hukum semata-mata hanya produk kekuasaan politik maka rasa tak relevan lagi
pertanyaan tentang hubungan antara kekuasaan hukum dan kekuasaan politik
karena pada akhirnya mereka mengidentikkan antara hukum dan politik tersebut.

Pada prinsipnya hubungan hukum dan politik telah di atur dalam sistem
pemerintahan negara sebagaimana yang telah dicantumkan dalam penjelasan UUD
1945 diantaranya menyatakan prinsip Indonesia adalah negara yang berdasarkan
atas hukum (rechtstaat) dan pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum
dasar) elemen pokok negara hukum adalah pengakuan dan perlindungan
terhadapfundamental rights (tiada negara hukum tanpa pengakuan dan
perlindungan terhadapfundamental rights).

Menurut Moh. Mahfud MD, menyatakan bahwa jika kita berasumsi bahwa
hukum merupakan produk politik, maka dalam menjawab hubungan antara hukum
dan politik, dapat dikatakan bahwa hukum dipandang sebagai dependent
variable(variabel terpengaruh), sedangkan politik diletakan sebagai independent
variable(variabel berpengaruh). Peletakan hukum sebagai variabel yang tergantung
atas politik atau politik yang determinan atas hukum itu mudah dipahami dengan
melihat realitas, bahwa kenyataannya hukum dalam artian sebagai peraturan yang
abstrak (pasal-pasal yang imperatif) merupakan kristalisasi dari kehendak-kehendak
politik yang saling berinteraksi dan bersaingan. Sidang parlemen bersama
pemerintah untuk membuat undang-undang sebagai produk hukum pada
hakikatnya merupakan adegan konstestasi agar kepentingan aspirasi semua
kekuatan politik dapat terakomodasi di dalam keputusan politik dan menjadi
undang-undang.[8]

Demikian pula hukum harus dapat membatasi kekuasaan politik agar tidak
timbul penyalahgunaan kekuasaan dan kesewenang-wenangan, sebaliknya
kekuasaan politik menunjang terwujudnya fungsi hukum dengan menyuntikan
kekuasaan pada hukum yaitu dalam wujud sanksi hukum. Legitimasi hukum melalui
kekuasaan politik salah satunya terwujud dalam pemberian sanksi bagi pelanggar
hukum. Hukum ditegakkan oleh kekuasaan politik melalui alat-alat negara yang
telah diberi kewenangan seperti polisi, penuntut umum dan pengadilan. Setelah
hukum memperoleh kekuasaan dari kekuasaan politik hukum juga menyalurkan
kekuasaan itu pada masyarakatnya. Dalam hal ini, tentu saja sanksi hukum dapat
pula mengganjar aparat kekuasaan politik yang melanggar hukum.

E. Hubungan Kausalitas Antara Politik dan Hukum

Hukum adalah sebuah entitas yang sangat kompleks, meliputi kenyataan


kemasyarakatan yang majemuk, mempunyai banyak aspek, dimensi, dan fase. Bila
diibaratkan benda ia bagaikan permata, yang tiap irisan dan sudutnya akan
memberikan kesan berbeda bagi setiap orang yang melihat atau memandangnya.
Bernard Arief Sidharta menyebutkan bahwa, hukum berakar dan terbentuk dalam
proses interaksi berbagai aspek kemasyarakatan (politik, ekonomi, sosial, budaya,
teknologi, keagamaan, dan sebagainya) dibentuk dan ikut membentuk tatanan
masyarakat, bentuknya ditentukan oleh masyarakat dengan berbagai sifatnya,
namun sekaligus ikut menentukan sifat masyarakat itu sendiri.[9]

Hukum merupakan produk politik sehingga karakter setiap produk hukum


akan sangat ditentukan atau diwarnai oleh pertimbangan kekuatan atau konfigurasi
politik yang melahirkannya. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa setiap produk
hukum merupakan keputusan politik sehingga hukum dapat dilihat sebagai
kristalisasi dari pemikiran politik yang saling berinteraksi dikalangan para politisi.
Meskipun dari sudut das sollen ada pandangan bahwa politik harus tunduk pada
ketentuan hukum, namun dari sudut das sein bahwa hukumlah yang dalam
kenyataannya ditentukan oleh konfigurasi politik yang melahirkannya.

Pada era Soekarno, politik adalah panglima, kemudian jargon ini digantikan
dengan ekonomi dan pembangunan adalah panglima pada zaman Soeharto.
Pembangunanisme (developmentalism) telah menjadikan rakyat sebagai obyek.
Semua perbuatan negara selalu mengatasnamakan rakyat. Dan yang lebih
memprihatinkan, hukum telah dijadikan alat dari negara untuk membenarkan setiap
tindakan dari penguasa. Pada sisi lain, hukum diproduk dalam rangka memfasilitasi
dan mendukung politik. Akibatnya, segala peraturan dan produk hukum yang dinilai
tidak dapat mewujudkan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi harus diubah
atau dihapuskan. Dikalangan ahli hukum, minimal ada dua pendapat mengenai
hubungan kausalitas antara politik dan hukum.

F. Pengaruh Politik Dalam Pembentukan Hukum Nasional


Dalam paradigma baru, hukum tidak lagi dilihat sebagai entitas yang berdiri
sendiri, melainkan harus mampu berinteraksi dengan entitas lain dengan tujuan
pokok untuk mengadopsi kepentingan-kepentingan yang ada di dalam masyarakat.
Untuk itu, tidaklah heran jika hukum bisa berinteraksi dengan politik. Hukum yang
demikian ini akan lebih mampu memahami atau menginterpretasi ketidaktaatan
dan ketidakteraturan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, didalam hukum
yang responsif terbuka lebar ruang dialog untuk memberikan wacana dan adanya
pluralistik gagasan sebagai sebuah realitas.

Moh. Mahfud dalam disertasinya yang berjudul Perkembangan Politik Studi


tentang Pengaruh Politik terhadap Produk Hukum di Indonesia, menunjukkan bahwa
ada pengaruh cukup signifikan antara konfigurasi politik terhadap produk hukum di
Indonesia. Karena itu, kata Mahfud, kebanyakan produk hukum sudah terkooptasi
kekuasaan.

Pengaruh politik dalam pembentukan hukum tampak jelas dalam


pembentukan peraturan perundang-undangan. Tiap tahapan pembentukan
peraturan perundang-undangan tidak dapat terelakkan dari pengaruh politik, yang
akhirnya berdampak pada substansi peraturan perundang-undangan yang dibentuk
oleh pemerintah. Menurut Pasal 1 Angka 1 UU No.12 Tahun 2011, pembentukan
peraturan perundang-undangan adalah Pembuatan peraturan perundang-undangan
yang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan
atau penetapan dan pengundangan.

Peraturan Perundang-undangan merupakan bagian dari hukum dan memiliki


nilai yang urgen bagi perkembangan sistem hukum Indonesia kedepannya. Adapun
yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis
yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau
ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur
yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

G. Pengaruh Politik Dalam Penegakan Hukum

Penegakan hukum di Indonesia dinilai masih belum lepas dari intervensi


politik. Intervensi tersebut tidak hanya pada proses pembentukan produk hukum,
namun juga pada proses-proses pelaksanaannya di lembaga peradilan. Menurut
Ikrar Nusa Bakti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Todung Mulya
Lubis, Ketua Dewan Pengurus Transparency International Indonesia, diungkapkan
dalam Diskusi Intervensi Politik Terhadap Penegakan Hukum dan HAM di Kantor
Komisi Yudisial, Jakarta, Rabu (25/2).

Menurut Ikrar, meski Indonesia sudah lepas dari era pemerintahan otoriter,
namun adanya intervensi poiltik masih belum dapat dilepaskan. Hal ini
bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat. Sementara Todung menjelaskan,
Indepedensi peradilan itu hanya mitos yang tidak pernah ada dalam kenyataan.
Todung mencontohkan, dalam pemilihan hakim agung. Calon hakim yang diseleksi
Komisi Yudisial pada akhirnya diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat. "Di sinilah
transaksi politik terjadi. orang-orang yang dikirimkan ke Mahkamah Agung
merupakan hasil kompromi politik. Memang ada hakim karir, tapi bahkan mereka
pun tidak bebas dari transaksi politik. Menurut Todung, indepedensi peradilan ini
akhirnya akan bermuara pada lembaga-lembaga peradilan. Kata dia, lembaga-
lembaga tersebut perlu ditata ulang lagi. Selain lembaga peradilan, reposisi
terhadap Dewan Perwakilan Rakyat juga harus dilakukan.

Produk hukum yang dihasilkan masih lebih mementingkan kepentingan dan


kompromi politik dibandingkan rakyat. Hal ini dapat terlihat banyak produk hukum
yang dihasilkan di DPR justru kemudian diujikan ke Mahkamah Konstitusi.
Sementara itu, menurut Wahyudi Jafar dari Konsorsium Reformasi Hukum Nasional
(KRHN), proses pembentukan UU memang tidak dapat dilepaskan dari adanya
transaksi poltik. Namun yang terpenting juga adalah bagaimana agar proses
pelaksaan penegakan hukum oleh lembaga peradilan menjadi mandiri.

Adanya diskriminasi penegakan hukum. Harus diakui bahwa proses hukum


kasus korupsi, khususnya yang berhubungan dengan korupsi DPRD dan Kepala
Daerah kental dengan nuansa diskriminasi. Namun diskriminasi ini harus dipandang
dalam konteks keadilan masyarakat, yakni ketika para koruptor diberikan
kekhususan penanganan dibandingkan dengan kejahatan lainnya. Tidak
mengeksekusi anggota DPRD yang telah dinyatakan bersalah dan mendapatkan
putusan tetap (in krahct) merupakan kebijakan diskriminatif. Tidak memproses
secara adil semua pelaku korupsi APBD juga diskriminatif.

Akan tetapi, penyikapan politik dengan meminta pembersihan nama baik


anggota DPRD/Kepala Daerah akibat dari perlakuan diskriminatif aparat penegak
hukum merupakan agenda yang telah keluar dari visi pemberantasan korupsi.
Sebaliknya, penyikapan politik demikian tak lebih dari upaya untuk melindungi
politisi daerah dari jangkauan hukum, dengan berlindung dibalik kewenangan
mengawasi penegakan hukum yang dimiliki anggota DPR RI. Seharusnya ketika
praktek diskriminasi terjadi, DPR RI secara konsisten mendesak aparat penegak
hukum untuk menjerat semua pelaku yang terlibat. Tidak justru sebaliknya,
meneriakkan adanya diskriminasi, akan tetapi membuat rekomendasi yang
diskriminatif pula.

Menurut Soerjono Soekanto, ada lima faktor yang memberikan kontribusi


pengaruh pada mekanisme penegakan hukum, yaitu pertama, faktor hukum
(subtance) atau peraturan perundang-undangan. Kedua, faktor aparat penegak
hukumnya, yakni pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembuatan dan penerapan
hukumnya, yang berkaitan dengan masalah mentalitas. Ketiga, faktor sarana atau
fasilitas yang mendukung proses penegakan hukum. Keempat, faktor masyarakat,
yakni lingkungan sosial di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan, yang
merefleksi dalam perilaku masyarakat. Kelima, faktor kebudayaan, yakni hasil
karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan
hidup.

Sementara itu Satjipto Rahardjo, membedakan berbagai unsur yang


berpengaruh dalam proses penegakan hukum berdasarkan derajat kedekatannya
pada proses, yakni yang agak jauh dan yang agak dekat. Berdasarkan kriteria
kedekatan tersebut, maka Satjipto Rahardjo membedakan tiga unsur utama yang
terlibat dalam proses penegakan hukum. Pertama, unsur pembuatan undang-
undang cq. lembaga legislatif. Kedua, unsur penegakan hukum cq. polisi, jaksa dan
hakim. Dan ketiga, unsur lingkungan yang meliputi pribadi warga negara dan sosial.

Kedua pandangan di atas tampaknya saling berkesesuaian. Kelima unsur


sebagaimana disebutkan oleh Soerjono Soekanto dapat direduksikan menjadi tiga
unsur sebagaimana disebutkan oleh Satjipto Rahardjo. Sebaliknya ketiga unsur
yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo dapat pula dirinci lebih lanjut menjadi
lima unsur seperti dikemukakan oleh Soerjono Soekanto.

Telah lazim diungkapkan bahwa hukum khususnya dalam bentuknya sebagai


undang-undang merupakan produk politik, artinya ialah bahwa undang-undang
dibentuk sebagai hasil kompromi dari berbagai kekuatan sosial dan kemudian
diberlakukan dan ditegakkan sebagai sarana untuk merealisasikan kepentingan dan
tujuan serta untuk melindungi kepentingan-kepentingan yang ada. Secara ideal
kepentingan-kepentingan yang dilindungi tersebut meliputi kepentingan individu,
masyarakat, serta bangsa dan negara.
Moh. Mahfud MD mengatakan dalam bukunya yang berjudul Politik Hukum,
bahwa dalam kenyataannya produk hukum itu selalu lahir sebagai refleksi dari
konfigurasi politik yang melatarbelakanginya. Dengan kata lain kalimat-kalimat
yang ada di dalam hukum itu tidak lain merupakan kristalisasi dari kehendak-
kehendak yang saling bersaingan. Satjipto Rahardjo menyatakan bahwa dalam
hubungan antara subsistem hukum dan subsistem politik hukum, politik ternyata
memiliki konsentrasi energi yang lebih besar sehingga hukum selalu berada pada
posisi yang lemah.[10]

H. Hukum dan Kekuasaan

Menurut John Austin, seperti dikutip oleh Lili Rasyidi mengemukakan


bahwaLaw is a command of the lawgiver (hukum adalah perintah dari penguasa),
dalam arti perintah dari mereka yang memiliki kekuasaan tertinggi atau yang
memegang kedaulatan. Perdebatan mengenai hubungan hukum dan politik memiliki
akar sejarah panjang dalam ilmu hukum. Bagi kalangan penganut aliran positivisme
hukum seperti John Austin, hukum adalah tidak lain dari produk politik atau
kekuasaan.[11]

Dengan demikian kita dapat mengatakan negara adalah ekspresi atau


merupakan forum kekuatan-kekuatan politik yang ada di dalam masyarakat, maka
hukum adalah hasil sebagian pembentukan keputusan yang di ambil dengan cara
yang tidak langsung oleh penguasa. Penguasa mempunyai tugas untuk mengatur
dengan cara-cara umum untuk mengatasi problema-problema kemasyarakatan
yang serba luas dan rumit. Pengaturan ini merupakan obyek proses pengambilan
keputusan politik yang dituangkan ke dalam aturan-aturan yang secara formal di
undangkan. sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum adalah hasil
resmi pembentukan keputusan politik penguasa.[12]

Pemerintah pada intinya merupakan pelaksana kehendak negara yang tidak


lain merupakan manifestasi dari sistem politik. Pemerintah merupakan sebagian
kecil dari keseluruhan anggota masyarakat dalam suatu negara yang diberi tugas
untuk menyelenggarakan kekuasaan negara. Hukum itu merupakan satu sistem
yang tetap, logis dan tertutup, oleh karena itu hukum dibedakan dalam dua jenis
yaitu hukum dari tuhan untuk manusia (the divine law) dan hukum yang dibuat oleh
manusia. Dalam diri hukum itu sendiri sebenarnya terdapat empat unsur yaitu
perintah (command), sanksi(sanction), kewajiban (duty), dan
kedaulatan (sovereignty).

Pandangan realisme hukum, menjelaskan bahwa hukum itu tidak selalu


sebagai perintah dari penguasa negara, sebab hukum dalam perkembangannya
selalu dipengaruhi oleh berbagai hal. Hukum adalah hasil dari kekuatan sosial dan
alat kontrol sosial dalam kehidupan bersama dalam suatu negara. Hukum pada
dasarnya tidak steril dari subsistem kemasyarakatannya. Politk sering kali
melakukan intervensi atas perbuatan dan pelaksanaan hukum sehingga muncul
pertanyaan tentang subsistem mana antara hukum dan politk yang lebih
suprematif. Pertanyaan ini muncul disebabkan karena banyaknya peraturan hukum
yang tumpul dalam memotong kesewenang-wenangan, hukum tak mampu
menegakkan keadilan dan tidak dapat menampilkan dirinya sebagai masalah yang
seharusnya menjadi tugas hukum untuk menyelesaikannya. Bahkan dewasa ini
banyak produk hukum lebih banyak diwarnai dengan kepentingan-kepentingan
politik pemegang kekuasaan.

Masalah kekuasaan (authority) merupakan unsur penting dalam kehidupan


manusia, bahkan sering dijadikan ajang konflik untuk mendapatkannya. Dalam
kaitan ini Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahwa hukum tanpa kekuasaan
adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kezaliman. Lili
Rasjidi menjelaskan bahwa hukum dalam pelaksanaannya memerlukan kekuasaan
untuk mendukungnnya. Kekuasaan itu diperlukan karena hukum itu bersifat
memaksa, tanpa adanya kekuasaan, pelaksanaan hukum akan menjadi terhambat.
Semakin tertib dan teratur masyarakat, semakin berkurang pula dukungan
kekuasaan yang diperlukan.

Jika hal yang terakhir ini ada dalam masyarakat, berarti dalam masyarakat itu
sudah ada kesadaran hukum masyarakat untuk taat dan patuh pada hukum tanpa
ada paksaan dari pemegang kekuasaan. Unsur pemegang kekuasaan merupakan
suatu hal yang penting digunakannya kekuasaan yang dimilikinya sesuai dengan
kehendak rakyat. Oleh karena itu disamping keharusan adanya hukum sebagai
pembatas, juga diperlukan unsur lain yang harus dimiliki oleh pemegang kekuasaan
seperti watak yang jujur dan rasa pengabdian terhadap kepentingan masyarakat
yang tinggi.

Dalam pandangan Van Apeldoorn hukum itu sendiri sebenarnya merupakan


kekuasaan. Hukum juga merupakan salah satu sumber daripada kekuasaan,
disamping sumber-sumber lainnya seperti kekuatan (fisik dan ekonomi),
kewibawaan (rohaniah, inteligensia, dan moral). Selain itu hukum juga merupakan
pembatas bagi kekuasaan, oleh karena biasanya kekuasaan itu mempunyai sifat
yang buruk yaitu selalu merangsang pemegangnya untuk ingin memiliki kekuasaan
yang melebihi apa yang dimilikinya.

Sehubungan dengan hal ini Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa baik


buruknya sesuatu kekuasaan sangat tergantung dan bagaimana kekuasaan
tersebut digunakan. Artinya baik buruknya kekuasaan senantiasa harus diukur
dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau
disadari oleh masyarakat lebih dahulu. Hal ini merupakan suatu unsur yang mutlak
bagi kehidupan masyarakat yang tertib dan bahkan bagi setiap bentuk organisasi
yang teratur.

Moh. Mahfud MD dengan mengutip pendapat Dahrendorf mencatat ada enam


ciri kelompok dominan atau kelompok pemegang kekuasaan politik yaitu pertama
jumlahnya selalu lebih kecil dari jumlah kelompok yang dikuasai, kedua memiliki
kelebihan kekayaan khusus untuk tetap memelihara dominasinya berupa kekayaan
material, intelektual, dan kehormatan moral, ketiga dalam pertentangan selalu
terorganisir lebih baik daripada kelompok yang ditundukkan, keempat kelas
penguasa hanya terdiri dari orang-orang yang memegang posisi dominan dalam
bidang politik sehingga elite penguasa diartikan sebagai elite penguasa dalam
bidang politik, kelima kelas penguasa selalu berupaya monopoli dan mewariskan
kekuasaan politiknya kepada kelas / kelompoknya sendiri, keenam ada reduksi
perubahasan sosial terhadap perubahan komposisi kelas penguasa.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa konfigurasi politik suatu negara
akan melahirkan karatkter produk hukum tertentu di negara tersebut. Di dalam
negara yang konfigurasi politik berciri demokratis maka produk politiknya
berkarakter responsif (populistik), sedangkan di negara yang konfigurasi politiknya
bercorak ortoriter, maka produk hukumnya berkarakter ortodoks (konservatif /
elitis). Perubahan konfigurasi politik dari ortoriter akan melahirkan produk hukum.
Konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan produk hukum yang responsif,
sedangkan konfigurasi politik yang ortoriter akan melahirkan produk hukum yang
konservatif.

Dalam era reformasi saat ini, konfigurasi politik demokratis, dengan ditandai
banyaknya produk-produk politik penguasa melibatkan berbagai elemen
masyarakat dalam mengambil keputusan. Dalam pelaksanaan konfigurasi politik
demokratis yang sedang maraknya saat ini, agar tidak kebablasan maka perlu di
ingat tentang tujuan politik nasional Indonesia yang di dasarkan pada perjuangan
bangsa Indonesia yang telah berhasil merebut kemerdekaannya, berlandaskan
Pancasila dan UUD 1945 untuk mengisi kemerdekaan tersebut guna mencapai
masyarakat adil dan makmur.

I. Pengaruh Partai Politik

Menurut Daniel S. Lev, yang paling menentukan dalam proses hukum adalah
konsepsi dan struktur kekuasaan politik yaitu bahwa hukum sedikit banyak selalu
merupakan alat politik dan bahwa tempat hukum dalam negara, tergantung pada
keseimbangan politik, defenisi kekuasaan, evolusi idiologi politik. Walaupun
kemudian proses hukum tidak di identikan dengan maksud pembentukan hukum,
namun dalam prateknya seringkali proses dan dinamika pembentukan hukum
mengalami hal yang sama, yakni konsepsi dan struktur kekuasaan politiklah yang
berlaku di tengah masyarakat yang sangat menentukan terbentuknya suatu produk
hukum. Dari kenyataan ini disadari, adanya suatu ruang yang absah bagi masuknya
suatu proses politik melalui wadah institusi politik untuk terbentuknya suatu produk
hukum.[13]

Pengaruh kekuasaan dalam hukum yakni mencakup kata process dan kata
institutions, dalam mewujudkan suatu peraturan perundang-undangan sebagai
produk politik. Pengaruh itu akan semakin nampak pada produk peraturan
perundang-undang oleh suatu institusi politik yang sangat dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan politik yang besar dalam institusi politik. Sehubungan dengan
masalah ini, Miriam Budiarjo berpendapat bahwa kekuasaan politik diartikan
sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (pemerintah) baik
terbentuknya maupun akibat-akibatnya sesuai dengan pemegang kekuasaan.[14]

Dalam proses pembentukan peraturan hukum oleh institusi politik peranan


kekuatan politik yang duduk dalam institusi politik itu adalah sangat menentukan.
Institusi politik secara resmi diberikan otoritas untuk membentuk hukum hanyalah
sebuah institusi yang vacum tanpa di isi oleh mereka diberikan kewenangan untuk
itu. karena itu institusi politik hanya alat belaka dari kelompok pemegang
kekuasaan politik. Kekuatan-kekuatan politik dapat dilihat dari dua sisi yakni sisi
kekuasaan yang dimiliki oleh kekuatan politik formal (institusi politik) dalam hal ini
yang tercermin dalam struktur kekuasaan lembaga negara seperti Presiden, DPR
dan lembaga-lembaga negara lainnya dan sisi kekuatan politik dari infrastruktur
politik adalah seperti partai politik, tokoh-tokoh masyarakat, organisasi
kemasyarakatan, LSM, organisasi profesi dan lain-lain. Dengan demikian dapatlah
disimpulkan bahwa pembentukan produk hukum adalah lahir dari pengaruh
kekuatan politik melalui proses politik dalam institusi negara yang diberikan otoritas
untuk itu.

Pengaruh kekuatan-kekuatan politik dalam membentuk hukum dibatasi ruang


geraknya dengan berlakunya sistem konstitusional berdasarkan checks and
balances, seperti yang dianut Undang-Undang dasar 1945 (UUD 1945) setelah
perubahan. Jika diteliti lebih dalam materi perubahan UUD 1945 mengenai
penyelenggaraan kekuasaan negara adalah mempertegas kekuasaan dan
wewenang masing-masing lembaga-lembaga negara, mempertegas batas-batas
kekuasaan setiap lembaga negara dan menempatkannya berdasarkan fungsi-fungsi
penyelenggaraan negara bagi setiap lembaga negara. Sistem yang demikian
disebut sistem checks and balances, yaitu pembatasan kekuasaan setiap lembaga
negara oleh Undang-Undang Dasar, tidak ada yang tertinggi dan tidak ada yang
rendah, semuanya sama di atur berdasarkan fungsi-fungsi masing-masing

Dalam Negara demokrasi, partai politik merupakan hal yang sangat penting
dalam penyelenggaraan negara, sebab melalui partai politik inilah rakyat
menentukan kebijakan untuk memilih presiden dan wakil presiden dan pejabat
negara lainnya. Partai politik merupakan alat yang pernah didesain oleh kelompok
masyarakat dalam suatu negara untuk mencapai tujuan politiknya, dan partai
politik ini merupakan senjata yang paling ampuh dalam menekan kesewenangan
pihak penyelenggara negara. Sedemikian pentingnya keberadaan partai politik
dalam sebuah negara, sampai pada munculnya pemeo dalam masyarakat yaitu
negara modern tanpa partai politik, sama saja dengan kolam yang tidak ada
ikannya.

Partai politik sebagai institusi mempunyai hubungan yang sangat erat


dengan masyarakat dalam mengendalikan kekuasaan pihak yang berkuasa.
Hubungan ini sangat dipengaruhi oleh masyarakat yang melahirkan partai politik
itu. Partai politik selalu dianggap sebagai salah satu atribut dari negara moderen,
sebab partai politik itu sangat diperlukan kehadirannya bagi negara yang berdaulat.
Bagi negara yang berdaulat eksistensi partai politik merupakan prasyarat baik
sebagai sarana penyalur aspirasi rakyat, juga merupakan penentu dalam proses
penyelenggaraan negara melalui wakil-wakilnya yang duduk dalam badan
perwakilan rakyat.
Partai politik sering kali di asosiasikan orang sebagai organisasi perjuangan
yaitu tempatnya seseorang atau sekelompok orang memperjuangkan hak-hak
politik dalam sebuah negara. Menurut Huzhuszar dan Stevensoon dalam bukunya
political science, sebagaimana yang dikutip oleh Bakti Ritonga mengatakan bahwa
partai politik adalah sekelompok orang yang terorganisir dan berusaha untuk
mengendalikan pemerintahan agar dapat melaksanakan program-program dan
menempatkan anggota-anggotanya dalam jabatan pemerintah.

Partai politik berusaha untuk memperoleh kekuasaan dengan dua cara, yaitu
pertama ikut serta dalam pelaksanaan pemerintaahn secara sah melalui pemilihan
umum dengan merebut suara terbanyak (mayoritas), kedua dengan cara tidak sah
(subversive) untuk memperoleh kekuasaan tertinggi dalam negara itu dengan cara
revolusi. Lebih lanjut dikatakan bahwa persaingan antar partai politik merupakan
bagian integral dalam proses guna memperoleh kemenangan dalam proses
pemilihan umum. Partai politik yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan
umum, akan memperkuat posisi elite dalam menjalankan kekuasaan dan merealisir
tujuan lebih lanjut yakni mengawasi kebijakan umum pemerintah.

Dalam konteks Indonesia, peran partai politik sebagai aspek pengubah


hukum terlebih dahulu harus merujuk kepada ketentuan yang terdapat dalam Pasal
5 (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa Presiden memegang
kekuasaan membentuk undang-undang bersama DPR. Hal ini sejalan dengan
ketentuan Pasal 20 Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi tiap-tiap undang-undang
menghendaki persetujuan DPR. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui
bahwa peran Presiden sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dan DPR sebagai
pemegang kekuasaan legislatif mempunyai peran seimbang dalam membuat dan
mengadakan perubahan undang-undang. Berdasarkan ketentuan itu pula
ditentukan bahwa anggota DPR adalah orang-orang yang mewakili atau diusulkan
oleh Partai Politik yang ada.

Dalam UUD 1945 dijelaskan bahwa tugas dan wewenang DPR yaitu bersama-
sama dengan Presiden membentuk undang-undang, bersama-sama Presiden
menetapkan APBN, melaksanakan pengawasan dalam pelaksanaan undang-undang
yang berhubungan dengan pelaksanaan APBN dan Pengelolaan Keuangan Negara
serta kebijaksaan Negara dan pengelolaan keuangan negara serta kebijaksanaan
pemerintah, membahas untuk meratifikasi dan atau memberikan persetujuan atas
pernyataan perang/damai dan hasil pemeriksaan atas pertanggungjawaban
keuangan negara yang diberitahukan oleh BPK dan melaksanakan hal-hal yang
ditugaskan oleh ketetapan-ketetapan MPR kepada DPR.

Dari tugas dan wewenang DPR sebagaimana tersebut diatas, maka dapat
diketahui bahwa tugas dan wewenang itu seimbang dengan tugas dan wewenang
Presiden sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dalam penyelenggaraan tugas-
tugas negara. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa partai politik mempunyai
peran yang sangat penting dalam melakukan perubahan hukum. Selain itu, di luar
DPR, anggota partai politik juga berperan dalam mengubah hukum dengan
memberikan masukan (kalau perlu dengan tekanan) kepada DPR terhadap sesuatu
hal yang merugikan rakyat.[15]

BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif Pendekatan yuri


dis normatif dilakukan dengan cara menelaah dan meng-interpretasikan ha
l-hal yang bersifat teoritis yang menyangkut asas, konsepsi,
doktrin dan norma hukum.
Pendekatan yuridis normatif adalah pendekatan yang dilakukan
berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori,
konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang
berhubungan dengan penelitian ini. Pendekatan ini dikenal pula
dengan pendekatan kepustakaan, yakni dengan mempelajari buku-buku,
peraturan perundang-undangan dan dokumen lain yang berhubungan
dengan penelitian ini.

B. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam makalah ini adalah data
sekunder yakni data yang diambil berdasarkan keterangan-keterangan atau
pengetahuan-pengetahuan yang secara tidak langsung , diperoleh melalui studi
kepustakaan, bahan-bahan documenter, buku, tulisan-tulisan ilmiah dan sumber-
sumber tertulis lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Manan, 2005, Aspek-aspek Pengubah Hukum, Kencana, Jakarta.

Achamad Ali, 2002, Menguak Tabir Hukum, Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis, Gunung
Agung, Jakarta.

Daniel S. Lev, 1990, Hukum Dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan Perubahan, Cet I,
LP3S, Jakarta.

Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, 2015, Dasar-Dasar Politik Hukum, RajaGrafindo
Persada, Jakarta.

Moh. Mahfud MD, 2009, Politik Hukum di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta.

Padmo Wahjono, 1986, Indonesia Berdasarkan Atas Hukum, Gahlia Indonesia, Jakarta.

Satjipto Rahardjo,1985, Beberapa Pemikiran tentang Ancaman Antar Disiplin dalam


Pembinaan Hukum Nasional. Sinar Baru, Bandung.

_______, 1991, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung.

[1] Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Dasar-Dasar Politik Hukum, Jakarta,
Rajagrafindo Persada, 2015, Halaman 19

[2] Padmo Wahjono, Indonesia Berdasarkan Atas Hukum, Jakarta, Gahlia Indonesia, 1986,
Halaman 160

[3] Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Op.cit, Halaman 27

[4] Loc.cit.

[5] Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1991, Halaman 191
[6] Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari. 2010. Dasar-Dasar Politik Hukum. Jakarta:
RajaGrafindo Persada, halaman 58

[7] Ibid, halaman 59

[8] Moh. Mahfud MD, Politik Hukum Indonesia, Jakarta, Rajawali Pers, 2009, halaman 10

[9] Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari. 2010. Dasar-Dasar Politik Hukum. Jakarta:
RajaGrafindo Persada, halaman 2.

[10] Satjipto Rahardjo, Beberapa Pemikiran tentang Ancaman Antar Disiplin dalam
Pembinaan Hukum Nasional. Bandung: Sinar Baru, 1985, halaman 71.

[11] Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum, Suatu Kajian Filosofis dan
Sosiologis, Gunung Agung, Jakarta, 2002, halaman 56

[12] Achmad Ali, Op.cit, Halaman 57

[13] Daniel S. Lev, Hukum Dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan


Perubahan, LP3S, Jakarta, 1990. halaman 18.

[14] Ibid, Halaman 19

[15] Abdul Manan, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, Jakarta, Kencana, 2005, Halaman 25

February 6, 2015

MAKALAH POLITIK HUKUM DALAM


PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Gerakan Reformasi yang gencar dan luas merupakan akumulasi dari carut-
marut pemerintahan yang sudah Tiga tahun sebelum menginjak abad XXI,
terjadi peristiwa besar di Indonesia mengawali abad yang dinantikan oleh
seluruh masyarakat dunia. Gerakan Reformasi yang terjadi pada
pertengahan tahun 1997 demikian dasyat sehingga mampu menggulingkan
pemerintahan Orde Baru, yang dianggap sudah tidak populer untuk
memjalankan pemerintahan Indoesia. Sejalan dengan terjadinya gerakan
Reformasi marak pula isu-isu heroik yang berkaitan dengan penegakan
demokrasi, upaya menghindari disintegrasi, upaya pembentukan
pemerintahan yang baik dan bersih, kredibilitas pemimpin, pemberantasan
KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), pemberdayaan masyarakat,
pembangunan berkelanjutan, pembentukan otonomi daerah , dan masih
banyak isu-isu lainnya.

Tidak sesuai dengan harapan masyarakat, ditambah dengan krisis ekonomi


yang parah. Akar kekacauan tersebut di atas adalah pemerintah Orde Baru
yang dianggap melaksanakan pemerintahan sentralistik, otoriter dan korup.
Dengan jatuhnya pemerintahan Orde Baru semakin gencar pula tuntutan
masyarakat, baik di tingkat elite pusat maupun daerah untuk
memberlakukan otonomi daerah secara lebih luas .
Otonomi daerah sebagai suatu sistim pemerintahan di Indonesia yang
desentralistis bukan merupakan hal yang baru. Penyelenggaraan otonomi
daerah sebenarnya sudah diatur dalam UUD 1945. Walaupun demikian
dalam perkembangannya selama ini pelaksanaan otonomi daerah belum
menampakkan hasil yang optimal. Setelah gerakan Reformasi berlangsung
dan pemerintahan Suharto jatuh, wacana untuk mengoptimalkan
pelaksanaan otonomi daerah terdengar kembali gaungnya, bahkan lebih
keras dan mendesak untuk segera dilaksanakan. Tuntutan masyarakat untuk
mengoptimalkan pelaksanaan otonomi daerah disambut oleh presiden
Habibie sehingga kemudian ditetapkan Undang-undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun
1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Dengan disahkannya kedua undang-undang tersebut, maka terjadi
perubahan paradigma, yaitu dari pemerintahan sentralistis ke pemerintahan
desentralistis. Berdasarkan undang-undang otonomi daerah tersebut,
pemberlakuan undang-undang tersebut efektif dilaksanakan setelah dua
tahun sejak ditetapkannya. Pada masa pemerintahan presiden Abdurachman
Wachid Undang-undang Otonomi Daerah mulai diterapkan pada tanggal 1
Januari 2001. [1]
1. Rumusan Masalah
Dari berbagai persoalan yang di jelaskan di latar belakang masalah diatas
penulis merumuskan kedalam beberapa rumusan masalah diantaranya
yaitu :

1. Bagaimana penerapan otonomi daerah di Indonesia ?


2. Apakah dampak dari otonomi daerah bagi perkembang daerah di
Indonesia ?
3. Bagaimana perubahan budaya masyarakat dalam penerapan otonomi
daerah di Indonesia ?

BAB II
KERANGKA TEORI
1. Pengertian Otonomi Daerah
Otonomi Daerah adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya
sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka
negara kesatuan Republik Indonesia. dengan adanya desentralisasi maka
muncullan otonomi bagi suatu pemerintahan daerah. Desentralisasi
sebenarnya adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana di
definisikan sebagai penyerahan kewenangan. Dalam kaitannya dengan
sistem pemerintahan Indonesia, desentralisasi akhir-akhir ini seringkali
dikaitkan dengan sistem pemerintahan karena dengan adanya desentralisasi
sekarang menyebabkan perubahan pemerintahan di Indonesia.
Desentralisasi juga dapat diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab,
kewenangan, dan sumber-sumber daya (dana, manusia dll) dari pemerintah
pusat ke pemerintah daerah. Dasar pemikiran yang melatarbelakanginya
adalah keinginan untuk memindahkan pengambilan keputusan untuk lebih
dekat dengan mereka yang merasakan langsung pengaruh program dan
pelayanan yang dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah.

Ada pula yang dilakukan pemerintah yaitu desentralisasi yang merupakan


transfer (perpindahan) kewenangan dan tanggungjawab fungsi-fungsi publik.
Transfer ini dilakukan dari pemerintah pusat ke pihak lain, baik kepada
daerah bawahan, organisasi pemerintah yang semi bebas ataupun kepada
sektor swasta. Selanjutnya desentralisasi dibagi menjadi empat tipe, yaitu :
1. Desentralisasi politik, yang bertujuan menyalurkan semangat
demokrasi secara positif di masyarakat
2. Desentralisasi administrasi, yang memiliki tiga bentuk utama, yaitu :
dekonsentrasi, delegasi dan devolusi, bertujuan agar penyelenggaraan
pemerintahan dapat berjalan secara efektif dan efisien
3. Desentralisasi fiskal, bertujuan memberikan kesempatan kepada
daerah untuk menggali berbagai sumber dana
4. Desentralisasi ekonomi atau pasar, bertujuan untuk lebih memberikan
tanggungjawab yang berkaitan sektor publik ke sektor privat.
Pelaksanaan otonomi daerah, juga sebagai penerapan (implementasi)
tuntutan globalisasi yang sudah seharusnya lebih memberdayakan daerah
dengan cara diberikan kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan
bertanggung jawab. Terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan
menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing.[2]
1. Tujuan Otonomi Daerah
Otonomi daerah tidak semerta-merta di terapkan di Indonesia, melainkan
sudah tentu terdapat alasan dan tujuan yang jelas. Tujuan dari otonomi
daerah di Indonesia adalah sebagai berikut ini:

1. Meningkatkan Pelayanan Umum


Dengan otonomi daerah diharapkan pelayanan umum lembaga pemerintah
di masing-masing daerah dapat ditekankan kemaksimalan pelayanannya.
Dengan pelayanan yang maksimal diharapkan masyarakat merasakan
secara langsung manfaat otonomi daerah.

2. Meningkatkan kesejahteraan Masyarakat


Dengan pelayanan yang memadai diharapkan kesejahteraan masyarakat
pada daerah otonom bisa dipercepat. Tingkat kesejahteraan masyarakat
menunjukkan bagaimana daerah otonom bisa menggunakan hak dan
wewenangnya secara bijak dan tepat sasaran.

3. Meningkatkan daya saing daerah


Dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing daerah diharapkan dapat
dilaksanakan dengan maksimal. Meningkatkan daya saing daerah harus
memperhatikan bentuk keanekaragaman dan kekhususan daerah tertentu
dan tetap mengacu pada kebinekaan Bineka Tunggal Ika walaupun
berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Dalam undang-undang dasar 1945 terdapat 2 nilai dasar mengenai


pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi, dua nilai dasar tersebut
yaitu:

1. Nilai dasar Desentratilasi teritorial


Pemerintah diwajibkan untuk melaksanakan politik dekonsentrasi dan
desentralisasi dalam bidang ketata negaraan.

1. Nilai dasar Unitaris


Indonesia tidak memiliki kesatuan pemerintah lain yang memiliki sifat
negara, maksudnya kedaulatan berada di tangan rakyat, negara Kesatuan
republik Indonesia tidak akan terbagi dengan kesatuan-kesatuan
pemerintahan.[
BAB III
PEMBAHASAN
1. Penerapan Otonomi Daerah Di Indonesia
Otonomi yang berasal dari kata autonomos (bahasa Yunani)
mempunyai pengertian mengatur diri sendiri. Pada hakekatnya otonomi
daerah adalah upaya untuk mensejahterakan masayarakat melalui
pemberdayaan potensi daerah secara optimal. Makna otonomi daerah
adalah daerah mempunyai hak , wewenang dan kewajiban untuk mengurus
rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan peundang-undangan
yang berlaku (Pusat Bahasa , 2001 : 805). Undang-undang Nomor 22 tahun
1999 pasal 14 menyebutkan bahwa kewenangan daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan . Aspek prakarsa sendiri dalam otonomi daerah
memberikan roh pada penyelenggaraan pembangunan daerah yang
lebih participatory. Tanpa upaya untuk menumbuh-kembangkan prakarsa
setempat, otonomi daerah yang diharapkan dapat memberikan nuansa
demokratisasi pembangunan daerah, akan kehilangan makna terpentingnya.
Otonomi yang luas sebenarnya merupakan penjabaran dari
desentralisasi secara utuh. Idealnya pelaksanaan otonomi yang luas harus
disertai pula dengan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, pemerataan,
pemberdayaan dan partisipasi masyarakat, penggalian potensi dan
keanekaragaman daerah yang difokuskan pada peningkatan ekonomi di
tingkat kabupaten dan kotamadia
Implementasi otonomi daerah dapat dilihat dari bebagai segi yaitu pertama,
dilihat dari segi wilayah (teritorial) harus berorientasi pada pemberdayaan
dan penggalian potensi daerah. Kedua, dari segi struktur tata pemerintahan
berorientasi pada pemberdayaan pemerintah daerah dalam mengelola
sumber-sumber daya yang dimilikinya secara bertanggung jawab dan
memegang prinsip-prinsip kesatuan negara dan bangsa. Ketiga, dari segi
kemasyarakatan berorientasi pada pemberdayaan dan pelibatan
masyarakat dalam pembangunan di berbagai daerah sesuai dengan
kemampuan masing-masing.
Undang-undang dan peraturan tentang otonomi daerah sudah
disusun sejak Indonesia merdeka .Hal ini menunjukkan bahwa para
pemimpin negara dari jaman Orde Lama, Orde Baru sampai pemimpin
negara saat ini sudah memikirkan betapa penting otonomi daerah
mengingat wilayah Indonesia yang demikian luas yang menjadi tanggung
jawab pemerintah. Pemberian otonomi kepada daerah pada dasarnya
merupakan upaya pemberdayaan dalam rangka mengelola pembangunan di
daerahnya. Daerah diharapkan sedikit demi sedikit mampu melepaskan
ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah pusat dengan cara
meningkatkan kreativitas, meningkatkan inovasi dan meningkatkan
kemandiriannya. Bila pelaksaan otonomi daerah sesuai dengan peraturan
dan perundang-undangan yang telah disusun, maka harapan indah untuk
mewujudkan daerah membangun (bukan membangun daerah), dapat
segera tercapai. Otonomi daerah memberikan harapan cerah kepada daerah
untuk lebih meningkatkan dayaguna dan hasilguna penyelenggaraan
pemerintahan dalam rangka memberikan efektifitas pelayanan kepada
masyarakat .Hal lain yang tidak kalah penting adalah daerah dapat
melaksnakan fungsi-fungsi pembangunan serta mengembangkan prakarsa
masyarakat secara demokratis , sehingga sasaran pembangunan diarahkan
dan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang ada di daerah.
Pada kenyataannya sangat ironis bila pelaksanaan dan penerapan
otonomi daerah sejak Orde Lama, Orde Baru dan sampai saat ini tidak
pernah tuntas. Berbagai faktor penyebab pelaksanaan otonomi daerah yang
tidak mulus adalah karena distorsi kepentngan-kepentingan politik penguasa
yang menyertai penerapan otonomi daerah sehingga penguasa cenderung
tetap melaksanakan pemerintahan secara sentralistik dan otoriter. Selain itu
kepentingan-kepentingan politik para pemimpin negara untuk memerintah
dan berkuasa secara absolut dengan mempolitisir otonomi daerah
mengakibatkan otonomi daerah semakin tidak jelas tujuannya. Suatu contoh
yaitu pada masa pemerintahan presiden Suharto telah ditetapkan proyek
percontohan untuk menerapkan otonomi daerah di 26 daerah tingkat II
berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, tetapi tidak ada hasilnya.
Penerapan otonomi daerah melalui Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999
saat ini masih mencari bentuk, karena sikap pemerintah yang masih
mendua . Di satu pihak pemerintah sadar bahwa otonomi daerah sudah
sangat mendesak untuk segera dilaksanakan secara tuntas, tetapi di lain
pihak pemerintah juga berusaha tetap mengendalikan daerah secara kuat
pula. Hal ini terlihat pada kewenangan-kewenangan yang cukup luas yang
masih ditangani pemerintah terutama yang sangat potensial sebagai
sumber keuangan. Selain itu kewenangan pemerintah yang lain , yang juga
dapat mengancam pelaksanaan otonomi daerah adalah otoritas pemerintah
untuk mencabut otonomi yang telah diberikan kepada daerah. Selama
kurang lebih empat tahun sejak dicanangkannya otonomi daerah di
Indonesia, pemberdayaan daerah yang gencar diperjuangkan pada
kenyataannya belum dilaksanakan secara optimal. Pembangunan di daerah
kurang memperhatikan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Keputusan-
keputusan pemerintah serta program-program pembangunan tidak
menyertakan masyarakat, sehingga program-program pembangunan di
daerah cenderung masih bersifat top down daripada bottom up planning .
[4]
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar otonomi daerah dapat
terwujud. Pertama, harus disadari bahwa otonomi daerah harus selalu
diletakkan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi
daerah merupakan suatu subsistem dalam satu sistem pemerintahan yang
utuh. Kedua, perlu kemauan politik (political will) dari semua pihak seperti
pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat. Kemauan politik dari
semua pihak dapat memperkuat tujuan untuk membangun masyarakat
Indonesia secara keseluruhan melalui pembangunan-pembangunan daerah.
Kemauan politik ini diharapkan dapat membendung pemikiran primordial,
parsial, etnosentris dan sebagainya. Ketiga, komitmen yang tinggi dari
berbagai pihak yang berkepentingan sangat dibutuhkan agar pelaksanaan
otonomi daerah dapat tercapai tujuannya .[5]
Dampak Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Indonesia
Selama kurang lebih 60 tahun Indonesia medeka, otonomi daerah
turut mengiringi pula perjalanan bangsa Indonesia. Pada masa Orde Lama
otonomi daerah belum sepenuhnya dilaksanakan, karena pimpinan negara
yang menerapkan demokrasi terpimpin cenderung bersikap otoriter dan
sentralistis dalam melaksanakan pemerintahannya. Demikian pula pada
masa pemerintahan Orde Baru dengan demokrasi Pancasilanya, pelaksanaan
pemerintahan masih cenderung bersifat sentralistis dan otoriter . Selain itu
pada kedua masa tersebut banyak terjadi distorsi kebijakan yang terkait
dengan otonomi daerah. Tentu saja kita belum dapat melihat dampak dan
pengaruh dari pelaksanaan otonomi daerah pada kedua masa itu, karena
pada kenyataannya otonomi daerah belum dilaksanakan sepenuhnya,
walaupun sudah banyak Undang-undang dan peraturan yang dibuat untuk
melaksanakan otonomi daerah tersebut.
Pada masa Reformasi tuntutan untuk melaksanakan otonomi daerah sangat
gencar sehingga pemerintah secara serius pula menyusun kembali Undang-
undang yang mengatur otonom daerah yaitu Undang-undang Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Setelah 2 tahun memalui masa
transisi dan sosialisasi untuk melaksanakan kebijakan otonomi daerah
tersebut,maka otonomi daerah secara resmi berlaku sejak tanggal 1 Januari
2001, pada masa pemerintahan presiden Abdurachaman Wachid. Setelah
kurang lebih 4 tahun otonomi daerah diberlakukan, dampak yang terlihat
adalah muncul dua kelompok masyarakat yang berbeda pandangan tentang
otonomi daerah. Di satu sisi ada masyarakat yang pasif dan pesimis
terhadap keberhasilan kebijakan otonomi daerah, mengingat pengalaman-
pengalaman pelaksanaan otonomi daerah pada masa lalu. Kelompok
masyarakat ini tidak terlalu antusias memberikan dukungan ataupun
menuntut program-program yang telah ditetapkan dalam otonomi daerah.
Di sisi yang lain ada kelompok masyarakat yang sangat optimis terhadap
keberhasilan kebijakan otonomi daerah karena kebijakan ini cukup aspiratif
dan didukung oleh hampir seluruh daerah dan seluruh komponen.[6]
Antusiasme dan tuntutan untuk segera melaksanakan otonomi daerah
juga berdatangan dari kelompok-kelompok yang secara ekonomis dan politis
mempunyai kepentingan dengan pelaksanaan otonomi daerah. Selain itu
masyarakat yang masih dipengaruhi oleh euforia reformasi menganggap
otonomi daerah adalah kebebasan tanpa batas untuk melaksanakan
pemerintahan sesuai dengan harapan dan dambaan mereka. Masyarakat
dari daerah yang kaya sumberdaya alamnya, tetapi tidak menikmati hasil-
hasil pembangunan selama ini, menganggap otonomi daerah memberikan
harapan cerah untuk meningkatkan kehidupan mereka. Harapan yang besar
dalam melaksanakan otonomi daerah telah mengakibatkan daerah-daerah
saling berlomba untuk menaikan pendapatan asli daerah (PAD). Berbagai
contoh upaya gencar daerah-daerah untuk meningkatkan PAD dengan cara
yang paling mudah yaitu dengan penarikan pajak dan retrebusi secara
intensif. Contoh lain, tidak jarang terjadi sengketa antar daerah yang
memperebutkan batas wilayah yang mempunyai potensi ekonomi yang
tinggi. Perebutan sumber pendapatan daerah sering juga terjadi antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemikiran yang bersifat regional,
parsial, etnosentris, primordial , seringkali mewarnai pelaksanaan otonomi
daerah sehingga dikhawatirkan dapat menjadi benih disintegrasi bangsa.
Selain dampak negatif dari pelaksanaan otonomi daerah seperti
tersebut di atas, juga ada dampak positif yang memberikaan harapan
keberhasilan otonomi daerah. Suasana di daerah-daerah dewasa ini
cenderung saling berpacu untuk meningkatkan potensi daerah dengan
berbagai macam cara. Seluruh komponen masyarakat mulai dari pemerintah
daerah dan anggota masyarakat umumnya diharapkan dapat
mengembangkan kreativitasnya dan dapat melakukan inovasi diberbagai
bidang . Pengembangan dan inovsi bidang-bidang dan sumberdaya yang
dahulu kurang menarik perhatian untuk dikembangkan, sekarang dapat
menjadi potensi andalan dari daerah. Selain itu otonomi daerah memacu
menumbuhkan demokratisasi dalam kehidupan masyarakat, memacu
kompetisi yang sehat, pendstribusian kekuasaan sesuai dengan kompetensi.
1. Perubahan Budaya Sebagai Akibat Pelaksanaan Otonomi
Daerah Di Indonesia
Pelaksanaan otonomi daerah di berbagai daerah di Indonesia telah
menimbulkan dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif seperti
beberapa contoh yang telah penulis sebutkan di atas. Selain itu otonomi
daerah juga telah membawa perubahan-perubahan budaya dalam
masyarakat Indonesia.
Pengertian budaya atau kebudayaan dalam arti luas menurut E.B.Tylor
adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum,
adat-istiadat dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan
yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat melalui proses
belajar (Tylor dalam Soekanto , 1969 : 55). Dalam pengertian sempit,
kebudayaan diartikan sebagai hasil cipta, karya dan karsa manusia untuk
mengungkapkan hasratnya akan keindahan . Jadi pengertian kebudayaan
dalam arti sempit adalah berupa hasil-hasil kesenian.

Sejalan dengan tekat pemerintah untuk melaksanakan otonomi daerah,


maka telah terjadi perubahan-perubahan paradigma (Warseno dalam
Ambardi dan Prihawantoro, 2002 : 181), yaitu antara lain :

Paradigma dari sentralisasi ke desentralisasi


Paradigma kebijakan tertutup ke kebijakan terbuka (transparan)
Paradigma yang menjadikan masyarakat sebagai obyek pembangunan
ke masyarakat yang menjadi subyek pembangunan.
Paradigma dari otonomi yang nyata dan bertanggungjawab ke otonomi
yang luas, nyata dan bertanggung jawab.
Paradikma dari organisasi yang tidak efisien ke organisasi yang
efisien .
Paradigma dari perencanaan dan pelaksanaan program yang
bersifat top down ke paradigma sistem perencanaan campuran top
down dan bottom- up
Perubahan paradigma ini juga merubah budaya masyarakat dalam
melaksanakan kegiatannya dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
Perubahan paradigma pemerintahan sentralisasi ke pemerintahan
desentralisasi telah menyebabkan kebingungan pada aparat pemerintah
daerah yang sudah terbiasa menerima program-program yang telah
dirancang oleh pemerintah pusat. Sekarang mereka dituntut untuk
melaksanakan pemerintahan yang efisien dan berorientasi pada kualitas
pelayanan serta melibatkan partisipasi masyarakat. Pemerintah Daerah
dituntut untuk secara mandiri melaksanakan aktivitas perencanaan,
pelaksanaan sampai pada pengawasan program pembanguan yang
dilaksanakan di daerahnya. Selain itu daerah dituntut kemampuannya
untuk membiayai sebagian besar kegiatan pembangunannya sehingga
diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas, kreatif, inovatif , yang
diharapkan dapat menghasilkan pemikiran , konsep dan kebijakan dalam
rangka mencari sumber pembiayaan pembangunan tersebut. Perubahan
paradigma dalam waktu yang relatif singkat, tentu saja belum membuat
para aparat pemerintah daerah dan masyarakat memahami sepenuhnya
hakekat dan aturan-aturan pelaksanaan otonomi daerah. Walaupun demikian
sedikit demi sedikit aparat pemerintah daerah dan masyarakat mulai belajar
menyesuaikan diri dengan iklim otonomi daerah. Aktivitas yang mengarah
pada efisiensi dan upaya peningkatan kualitas pelayanan, inovasi dan
kreativitas dalam penggalian potensi daerah mulai digiatkan. Beberapa
contoh dapat disebutkan yaitu bahwa instansi-instansi pemerintah di daerah
giat mendorong para pegawainya untuk meningkatkan dan mengembangkan
ketrampilan dan keahliannya melalui peningkatan pendidikan, baik formal
maupun non formal. Contoh yang lain adalah pemangkasan prosedur
birokrasi yang bertele-tele, dengan tujuan untuk efisiensi .

Iklim keterbukaan yang mewarnai otonomi daerah telah membawa


perubahan pada perilaku masyarakat yang semula tidak diberi kesempatan
untuk mengetahui dan berperan dalam perencanaan, pelaksanaan dan
pengawasan pembangunan kemudian diberi kesempatan untuk terlibat
dalam program-program pembangunan. Keadaan ini kemudian melahirkan
sikap-sikap yang kadang-kadang sangat berlebihan. Masyarakat yang masih
awam dengan penerapan sistim demokrasi menganggap bahwa semua
masalah pemerintahan juga harus dipertanggungjawabkan secara langsung
kepada mereka. Pada awal masa reformasi kita dapat melihat maraknya
demonstrasi masyarakat yang kadang-kadang sangat brutal dan kasar
menuntut agar pejabat-pejabat pemerintahan yang dianggap telah
menyimpang dalam melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan
kepadanya diadili atau mengundurkan diri. Masyarakat seolah-olah sudah
tidak mempunyai kepercayaan kepada lembaga yang dapat menyalurkan
aspirasi mereka, sehingga tindakan main hakim sendiiri menjadi
pemandangan yang sangat umum. Sebagai contoh kita dapat melihat pada
peristiwa yang menimpa Bupati Temanggung yang baru-baru ini diminta oleh
hampir seluruh masyarakat Temanggung untuk mengundurkan diri, karena
dianggap telah melakukan korupsi. Bahkan para pegawai negeri di
Temanggung melakukan demonstrasi dan mogok kerja sebagai protes
terhadap Bupati. Tentu saja kalau kita melihat secara proporsional pada
tindakan masyarakat terutama para pegawai negeri, tindakan mogok kerja
tersebut merupakan tindakan yang menyalahi aturan dan dapat dikenakan
sanksi karena para pegawai negeri tersebut mengemban tugas pelayanan
kepada masyarakat.[7]
Daerah lain yang juga mulai menerapkan aturan berdasarkan syariat Islam
adalah Cianjur. Di sana telah disusun aturan yang menghimbau wanita
muslim mengenakan jilbab serta himbauan kepada suluruh muslim
meninggalkan pekerjaannya untuk segera menunaikan sholat ketika adhan
berkumandang. Pelangaran pada peraturan ini sementara berupa sanksi
moral dan sanksi sosial.

Perilaku masyarakat yang terkait dengan penggalian dan pengembangan


potensi ekonomi juga melahirkan sikap dan kultur berkreasi dan berinovasi
untuk menciptakan hal-hal baru. Dalam upaya meningkatkan daya saing ini
beberapa daerah harus memperhatikan potensi sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, kultur dan pimpinan/pemegang kebijakan. Kalau tidak,
maka akan terjadi persaingan yang tidak sehat antara kelompok masyarakat
di daerah tersebut, persaingan antar daerah dan lain sebagainya. Bahkan
tidak jarang antar daerah saling berebut lahan atau sumber daya alam yang
menjadi sumber ekonomi . Kadang-kadang ambisi untuk meningkatkan PAD
melahirkan sikap rakus pada daerah-daerah. Daerah-daerah yang sangat
minim sumberdaya alamnya dipacu untuk melihat lebih jeli peluang-peluang
di sektor ekonomi berskala kecil atau yang sering disebut sebagai ekonomi
kerakyatan (usaha kecil dan menengah). Dari pengalaman krisis ekonomi
yang dialami Indonesia pada tahun 1997, ekonomi rakyat dan sektor informal
mampu bertahan dan bahkan mampu menjadi penyangga
(buffer) perekonomian daerah , sehingga mampu menyelamatkan kehidupan
rakyat ( Mubyarto, 2001 : 196). Beberapa contoh daerah yang dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan setelah krisis ekonomi dan tetap dapat
bertahan dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya adalah
Kabupaten Sukoharjo dan Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping,
Kabupaten Sleman. Kabupaten Sukoharjo selama krisis ekonomi tidak
terkena dampak yang berarti karena industri kecil dan sektor informal yang
dikembangkan di daerah tersebut tidak tergantung pada bahan baku import
dan melayani pasar lokal yang cukup luas. Berbeda dengan Kabupaten
Sukoharjo, Desa Banyuraden Kabupaten Sleman berhasil memberdayakan
ekonomi masyarakat melalui pengelolaan dan pengolahan sampah, yang
semula menjadi sumber masalah lingkungan di desa tersebut. Desa
Banyuraden berhasil memanfaatkan sampah menjadi sumber ekonomi
masyarakat dengan cara mengolah sampah menjadi kompos atau pupuk
organik dan dan barang kerajinan. Kita tidak dapat memungkiri bahwa tidak
semua daerah berhasil mengatasi krisis ekonomi melalui pemberdayaan
ekonomi rakyat. Banyak daerah terutama di luar Jawa yang tidak memiliki
sumberdaya ekonomi dan sumberdaya manusia yang memadai patut
mendapatkan perhatian yang lebih besar dari Pemerintah Pusat maupun
Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

BAB IV
PENUTUP
Menginjak abad XXI ada kebutuhan yang sangat mendesak untuk
melaksanakan otonomi daerah. Pengalaman masa lalu yang kurang
menggembirakan dalam pelaksanaan otonomi daerah diharapkan menjadi
pegangan kuat untuk mewujudkan otonomi daerah sesuai dengan hakekat
dan tujuannya yang mulia. Pelaksanaan otonomi daerah bukan hal yang
menakutkan bila difahami dengan benar dan proporsional. Banyak daerah
yang telah menunjukkan prospek yang menggembirakan.

Modal utama untuk mewujudkan terlaksananya otonomi daerah secara baik


dan benar adalah rasa percaya diri yang besar dan komitmen yang tinggi
dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk tetap
konsisten melaksanakan otonomi daerah sebab otonomi daerah diharapkan
dapat membawa pemerataan dan keadilan. Sistim desentralisasi dan
otonomi daerah menjamin terbukanya partisipasi masyarakat dalam
pembangunan daerahnya.

Melalui otonomi daerah peluang untuk melaksanakan demokrasi ekonomi


terbuka lebar, sehingga ekonomi kerakyatan yang selama ini tiak mendapat
perhatian, akan mendapat perlindungan. Pertumbuhan dan perkembangan
ekonomi kerakyatan harus memotivasi masyarakat untuk berkreasi dan
berinovasi agar daerah mempunyai daya tahan dan daya saing di era
globalisasi ini.
Budaya dan perilaku yang muncul sebagai akibat euforia reformasi yang
dapat menimbulkan kontra produktif harus diarahkan menjadi kultur dan
perilaku yang produktif dan konstruktif untuk mewujudkan otonomi daerah
yang sehat dan seimbang.

DAFTAR PUSTAKA
Kartasasmita, Ginanjar, 1996, Pembangunan Untuk Rakyat : Memadukan
Pertumbuhan dan Pemerataan, Jakarta : CIDES
Mokodompit, Agussalim, Eddy, 1994, Dimensi Kemasyarakatan Dalam
Pelaksanaan Otonomi Daerah , Majalah Manajemen Pembangunan , Nomor
6/II, Januari
Mubyarto, 1988, Sistim dan Moral Ekonomi Indonesia, Jakarta : LP3ES
Mubyarto, 2000, Pemulihan Ekonomi Rakyat Menuju Kemandirian
Masyarakat Desa, Yogyakarta : Aditya Media.
Mubyarto, 2001, Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia
Pasca Krisis, Yogyakarta : BPFE.
Nugroho D., Riant, 2000, Otonomi Daerah Desentralisasi Tanpa Revolusi :
Kajian dan Kritik atas Kebijakan Desentralisasi di Indonesia.Jakarta : PT Elex
Media Kompetindo
Soekanto, Soerjono, 1970, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : yayasan
Penerbit Universitas Indonesia.
Soemardjan, Selo (Ed.),2000, Menuju Tata Indonesia Baru, Jakarta : PT
Gramedia

[1] Riyadi dan Bratakusumah,pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia :


pustaka setia jakarta 2003 hal 343.
[2] http://makalahdaze.blogspot.com/ diunduh 25 Desember 2014
[3] http://www.miung.com/2013/11/pengertian-otonomi-daerah-di-
indonesia.html diunduh 25 Desember 2014
[4] Mubyarto, 1988, Sistim dan Moral Ekonomi Indonesia, Jakarta : LP3ES hlm
20
[5] Ginanjar Kartasasmita, , 1996, Pembangunan Untuk Rakyat : Memadukan
Pertumbuhan dan Pemerataan, Jakarta : CIDES hal 201
[6] Soekanto, Soerjono, 1970, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : yayasan
Penerbit Universitas Indonesia. Hlm 35
[7] Soemardjan, Selo (Ed.),2000, Menuju Tata Indonesia Baru, Jakarta : PT
Gramedia hlm 39.

Sabtu, 16 Februari 2013

Makalah Politik Hukum Pengadilan Agama


Dalam Prosedur Penyelesaian Sengketa
Ekonomi Syariah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia memiliki kebutuhan dasar yang berupa kebutuhan fisiologis, rasa


aman, rasa memilki dan dimiliki, rasa kasih sayang, penghargaan dan aktualisasi
diri serta kebutuhan akan pertumbuhan. Setiap orang akan merasa senang apabila
mendapat penghargaan atas sesuatu yang dilakukannya. Sebalikanya dia akan
merasa kecewa, marah apabila harga dirinya tersinggung atau diremehkan. Apalagi
jika ia merasa mendapat perlakuan yang tidak wajar. Dengan demikian sudah
menjadi kodrat bahwa setiap orang ingin mendapat perlakuan dan penghargaan
dari pihak lain terutama perlakuan adil dan manusiawi. Terlebih jika menghadapi
masalah atau kesulitan sosial dalam bentuk sengketa. Oleh karena itu ia
membutuhkan bantuan dan pelayan dari suatu pihak yang dapat menyelesaikan
sengketanya yakni salah satunya pengadilan.

Pengadilan merupakan tumpuan harapan terakhir pencari keadilan atau para


pihak yang bersengketa. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,
pengadilan mempunyai tugas utama, yaitu memberikan perlakuan yang adil dan
manusiawi kepada pencari keadilan, dan memberi pelayanan yang simpatik dan
bantuan yang diperlukan, serta memberikan penyelesaian perkara secara efektif,
efisien, tuntas dan final sehingga memuaskan kepada pihak-pihak yang
bersengketa dan masyarakat. Untuk mewujudkan tugas utama pengadilan tersebut,
maka Negara Indonesia melakukan reformasi di bidang hukum melalui amandemen
Pasal 24 UUD 1945 yang menyatakan bahwa :

Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Makhamah Agung dan badan


peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan
Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha
Negara dan oleh sebuah Makhamah Konstitusi.

Makhamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk


menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Peradilan
Agama merupakan salah satu dari 4 (empat) lingkungan peradilan tersebut diatas
yang keberadaan diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970
tentang Pokok-Pokok Kekuasaan kehakiman dan yang terakhir telah diganti dengan
Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan kehakiman. Undang-
undang tersebut merupakan suatu undang-undang yang bersifat organik, sehingga
perlu adanya peraturan pelaksanannya. Khususnya untuk pengadilan agama
dilakukan pengaturan lebih lanjut dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989
tentang Peradilan Agama.

Di dalamnya memuat hukum materiil sekaligus hukum formiilnya. Peradilan


agama sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman mempunyai kompetensi
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara terkait keperdataan Islam.
Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang
memberi kewenangan lebih luas dari kewenangan yang diwariskan kolonial
Belanda, dengan menambahkan kewenangan menangani sengketa kewarisan,
wasiat, hibah, wakaf dan shadaqah. Sejalan dengan itu disahkan pula Kompilasi
Hukum Islam melalui Inpres Nomor 1 Tahun 1991 sebagai hukum materiil/hukum
terapan berkenaan kewenangan baru Pengadilan Agama tersebut.

Di era reformasi kesadaran dan semangat untuk menerapkan lebih banyak


lagi norma ajaran Islam melalui kekuasaan (legislasi) semakin tumbuh. Sementara
semangat reformasi di dunia peradilan menumbuhkan tekad agar semua lembaga
peradilan berada dalam satu wadah penyelenggara kekuasaan kehakiman di bawah
Mahkamah Agung (one roof sistem). Konsekuensinya Undang-undang mengenai
lembaga peradilan harus direvisi sesuai dengan semangat satu atap dunia peradilan
di Indonesia tersebut.
Ketika Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 direvisi, legislator memanfaatkan
bukan hanya merubah status organisasi, administrasi dan finansial yang semula
berada di bawah Departemen Agama menjadi di bawah Mahkamah Agung, namun
juga dilakukan perluasan wewenang, sejalan dengan semangat untuk menerapkan
lebih banyak lagi ajaran Islam melalui hukum nasional. Kewenangan baru meliputi
bidang : zakat, infaq dan ekonomi syariah.Bidang perkawinan kendati telah dan
selalu menjadi wewenang Pengadilan Agama, namun dengan berdasarkan Pasal 49
huruf (i) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama ditegaskan bahwa Peradilan Agama
bertugas dan berwenang memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara
termasuk ekonomi syariah.

Yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan


usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syariah yang meliputi ; a) bank syariah,
b) lembaga keuangan mikro syariah, c) asuransi syariah, d) reasuransi syariah, e)
reksadana syariah, f) obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah
syariah, g) sekuritas syariah, h) pembiayaan syariah, i) pegadaian syariah, j)
dana pensiun lembaga keuangan syariah dan k) bisnis syariah. (www.badilag.net).
Wewenang Pengadilan Agama menurut UU Nomor 7/1989 :

a. Perkawinan,

b. Kewarisan, wasiat dan hibah,

c. Wakaf dan shadaqah..

Sementara menurut UU Nomor 3/2006 : a. perkawinan, b. waris, c.wasiat, d.


hibah, e. wakaf, f. zakat, g. infaq, h. shadaqah dan i. ekonomi syariah. Dengan
penerapan prinsip syariah dalam kegiatan usaha tersebut, maka harus diikuti
dengan oleh perkembangan lembaga penyelesaian sengketa (dispute resolution)
yang ada. Khususnya lembaga peradilan sebagai the last resort bagi pihak-pihak
yang bersengketa untuk menyelesaikan sengketa yang dihadapinya. (Abdul Ghofur
Anshori, 2007 : 4-5)

Dengan sebutan perbuatan atau kegiatan usaha maka yang menjadi


kewenangan pengadilan agama adalah transaksi yang menggunakan akad syariah,
walau pelakunya bukan muslim. Ukuran Personalitas ke Islaman dalam sengketa
ekonomi syariah adalah akad yang mendasari sebuah transaksi, apabila
menggunakan akad syariah, maka menjadi kewenangan peradilan agama. Dalam
konteks ini pelaku non muslim yang menggunakan akad syariah berarti
menundukkan diri kepada hukum Islam, sehingga oleh karenanya UU Nomor 3
Tahun 2006 menentukan bahwa sengketanya harus diselesaikan di Pengadilan
Agama.

Perkembangan baru dalam ranah dunia peradilan adalah diberikannya


kompetensi penyelesaian sengketa ekonomi syariah kepada peradilan agama. Hal
ini tentunya merupakan salah satu bentuk politik hukum pemerintah Indonesia
dalam menangani sengketa tersebut. Kompetensi ini merupakan suatu tantangan
baru bagi aparat hukum di lingkungan peradilan agama, sehingga dibutuhkan
kesiapan dalam menangani kasus-kasus tersebut.

Dalam Undang-undang Perbankan Syariah diberikan kompetensi mengadili


secara litigasi kepada pengadilan dalam lingkungan peradilan agama dan peradilan
umum. Padahal dalam revisi Undang-undang Peradilan Agama yang baru, sengketa
ekonomi syariah menjadi kompetensi absolut peradilan agama (www.badilag.net ).

Secara yuridis, baru di era reformasi dengan UU Nomor 10 tahun 1998


sebagai revisi dari UU Nomor 7 Tahun 1992, istilah pembiayaan berdasarkan syariat
dan prinsip syariat, disebut secara tegas (H. Abdurrahman). Dalam konsep Bank
Syariah yang merupakan bagian kegiatan ekonomi syariah diwajibkan adanya
Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang dibentuk oleh Bank yang bersangkutan
dengan berkonsultasi dengan lembaga yang menjadi wadah ulama. DPS bersifat
independen yang tidak boleh mencampuri operasional bank. DPS bertugas
menentukan boleh tidaknya suatu produk/jasa dipasarkan (Peraturan Pemerintah
Nomor 72 tahun 1992 Pasal 5).

Penyelesaian sengketa perbankan syariah masih termasuk kewenangan


peradilan umum, sebagaimana sengketa perbankan pada umumnya. Persoalan
hukum berkenaan Bank Syariah menyangkut prinsip dan ketentuan hukum
syariah, karenanya jajaran pengadilan (negeri) yang akan menangani sengketa
perbankan syariah perlu menyiapkan tenaga ahli dalam bidang hukum syariah.

Pengadilan Negeri akan menggunakan syariah sebagai landasan hukum bagi


penyelesaian perkara sengketa perbankkan syariah. Menurut UU No 21 tahun 2008,
Pasal 55 penyelesaian sengketa ekonomi syariah diselesaikan dengan cara ;
1. Penyelesaian sengketa Perbankan Syariah dilakukan oleh pengadilan dalam
lingkungan Peradilan Agama.

2. Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa dilakukan sesuai
dengan isi Akad.

3. Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh


bertentangan dengan Prinsip Syariah.

Perubahan UU Nomor 7 Tahun 1989 dengan UU Nomor 3 Tahun 2006


menentukan bahwa sengketa ekonomi syariah menjadi wewenang peradilan
agama.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, dapat dirumuskan pokok-pokok


masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana dimensi politik hukum pengadilan agama dalam prosedur penyelesaian


sengketa ekonomi syariah ?

2. Apa yang menjadi sumber hukum yang digunakan sebagai dasar hukum untuk
menyelesaikan sengketa ekonomi Syariah ?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Beberapa Alternatif Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah


Berdasarkan Hukum Positif Indonesia

1. Perdamaian dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR)

Pemikiran kebutuhan akan lembaga sulh (perdamaian) pada zaman modern


ini tentunya bukanlah suatu wacana dan cita-cita yang masih utopis, melainkan
sudah masuk ke wilayah praktis. Hal ini dapat dilihat dengan marak dan populernya
Alternative Dispute Resolution (ADR). Untuk kontek Indonesia, perdamaian telah
didukung keberadaannya dalam hukum positif yakni Undang-Undang Nomor 30
Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. (IKAHI, 2008 :
60)

Dengan adanya pengaturan secara positif mengenai perdamaian, maka


segala hal yang berkaitan dengan perdamaian baik yang masih dalam bentuk
upaya, proses teknis pelaksanaan hingga pelaksanaan putusan dengan sendirinya
telah sepenuhnya didukung oleh negara. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dapat dikatakan sebagai
wujud yang paling riil dan lebih spesifik dalam upaya negara mengaplikasikan dan
mensosialisasikan institusi perdamaian dalam sengketa bisnis. Dalam undang-
undang ini pula dikemukakan bahwa negara memberi kebebasan kepada
masyarakat untuk menyelesaikan masalah sengketa bisnisnya di luar Pengadilan,
baik melalui konsultasi, mediasi, negosiasi, konsiliasi atau penilaian para
ahli. (Munir Fuady, 2000 : 122)

Menurut Suyud Margono (2000 : 82) kecenderungan memilih Alternatif


Dispute Resolution (ADR) oleh masyarakat dewasa ini didasarkan atas
pertimbangan pertama : kurang percaya pada sistem pengadilan dan pada saat
yang sama sudah dipahaminya keuntungan mempergunakan sistem arbitrase
dibanding dengan Pengadilan, sehingga masyarakat pelaku bisnis lebih suka
mencari alternatif lain dalam upaya menyelesaikan berbagai sengketa bisnisnya
yakni dengan jalan Arbitrase, kedua : kepercayaan masyarakat terhadap lembaga
arbitrase khususnya BANI mulai menurun yang disebabkan banyaknya klausul-
klausul arbitrase yang tidak berdiri sendiri sendiri, melainkan mengikuti dengan
klausul kemungkinan pengajuan sengketa ke Pengadilan jika putusan arbitrasenya
tidak berhasil diselesaikan. Dengan kata lain, tidak sedikit kasus-kasus sengketa
yang diterima oleh Pengadilan merupakan kasus-kasus yang sudah diputus oleh
arbitrase BANI.

Dengan demikian penyelesaian sengketa dengan cara ADR merupakan


alternatif yang menguntungkan. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Perkara mengatur tentang penyelesaian
sengketa di luar Pengadilan, yakni melalui konsultasi, mediasi, negosiasi, konsiliasi
dan penilaian ahli. Undang-Undang ini tidak seluruhnya memberikan pengertian
atau batasan-batasan secara rinci dan jelas. (H. Abdul Manan, : 14-16)

2. Arbitrase (Tahkim)

Biasanya dalam kontrak bisnis sudah disepakati dalam kontrak yang


dibuatnya untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi dikemudian hari di antara
mereka. Usaha penyelesaian sengketa dapat diserahkan kepada forum-forum
tertentu sesuai dengan kesepakatan. Ada yang langsung ke lembaga Pengadilan
atau ada juga melalui lembaga di luar Pengadilan yaitu arbitrase (choice of
forum/choice of jurisdiction). Di samping itu, dalam klausul yang dibuat oleh para
pihak ditentukan pula hukum mana yang disepakati untuk dipergunakan apabila
dikemudian hari terjadi sengketa di antara mereka (choice of law). (Karnaen
Perwaatmaja, 2005 : 288).
Dasar hukum pemberlakuan arbitrase dalam penyelesaian sengketa dalam
bidang bisnis adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa yang mulai diberlakukan pada tanggal 12 Agustus
1999. adapun ketentuan-ketentuan mengenai syarat-syarat perjanjian atau klausul
arbitrase mengikuti ketentuan syarat sebagaimana umumnya perjanjian yaitu
syarat subyektif dan syarat-syarat obyektif yang dipahami dalam Pasal 1320 KUH
Perdata, maupun syarat subyektif dan syarat obyektif yang tersebut dalam Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 1999. Hal ini didasarkan bahwa arbitrase itu merupakan
kesepakatan yang diperjanjikan dalam suatu kontrak bisnis dan sekaligus menjadi
bagian dari seluruh topic yang diperjanjikan oleh para pihak tersebut.

Di Indonesia terdapat beberapa lembaga arbitrase untuk menyelesaikan


berbagai sengketa bisnis yang terjadi dalam lalu lintas perdagangan, antara lain
BAMUI (Badan Arbitrase Muamalat Indonesia) yang khusus menangani masalah
persengketaan dalam bisnis Islam, BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional)
yang menangani masalah-masalah yang terjadi dalam pelaksanaan Bank Syariah,
dan BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) yang khusus menyelesaikan
sengketa bisnis non Islam.

Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) adalah lembaga arbitrase


sebagimana dimaksud Undang-Undang No. 30 Tahun 1999. Sebelum Undang-
Undang No. 30 Tahun 1999 diundangkan, maka dasar hukum berlakunya arbitrase
adalah :

a. Reglemen Acara Perdata (Rv.S,1847 : 52) Pasal 615 sampai dengan 651, Reglemen
Indonesia yang Diperbaharui (HIR S.1941 : 44) Pasal 377 dan Reglemen Acara untuk
Daerah Luar Jawa dan Madura (RBg 3.1927 : 227) Pasal 705.

b. Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung RI. 2). SK MUI (MajelisUlama Indonesia) SK.
Dewan Pimpinan MUI No. Kep-09/MUI/XII/2003 tanggal 24 Desember 2003 tentang
Badan Arbitrase Syariah Nasional.

c. Undang-Undang No. 4 Tahun 2000 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan


Kehakiman.

Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) adalah lembaga hakam


(arbitrase syariah) satu-satunya di Indonesia yang berwenang memeriksa dan
memutus sengketa muamalah yang timbul dalam bidang perdagangan, keuangan,
industri, jasa dan lain-lain. Semua fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia (DSN-MUI) perihal hubungan muamalah (perdata) senantiasa diakhiri
dengan ketentuan : "Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika
terjadi perselisihan diantara keduabelah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan
melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui
musyawarah". (Lihat Fatwa No. 05 tentang Jual Beli Saham, Fatwa No. 06 tentang
Jual Beli Istishna', Fatwa No. 07 tentang Pembiayaan Mudharabah, Fatwa No. 08
tentang Pembiayaan Musyarakah, dan seterusnya).

3. Proses Litigasi Pengadilan

Dalam konteks ekonomi syariah, sengketa yang tidak dapat diselesaikan baik
melalui sulh (perdamaian) maupun secara tahkim (arbitrase) dapat diselesaikan
melalui lembaga Pengadilan. Menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2004 tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman, secara eksplisit menyebutkan
bahwa di Indonesia ada 4 lingkungan lembaga peradilan yaitu Peradilan Umum,
Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara.

Lembaga Peradilan Agama melalui Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun


1989 yang telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Peradilan Agama telah menetapkan hal-hal yang menjadi kewenangan lembaga
Peradilan Agama. Adapun tugas dan wewenang memeriksa, memutus dan
menyelesaikan perkara tertentu bagi yang beragama Islam dalam bidang
perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi
syariah. Dalam penjelasan Undang-undang ini disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan
menurut prinsip syariah yang meliputi bank syariah, asuransi syariah, reasuransi
syariah, reksadana syariah, obligasi syariah dan surat-surat berharga berjangka
menengah syariah, sekuritas syariah, pembiayaan syariah, pergadaian syariah,
dan dana pensiun, lembaga keuangan syariah, dan lembaga keuangan mikro
syariah yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Dalam hal penyelesaian sengketa bisnis yang dilaksanakan atas prinsip-


prinsip syariah melalui mekanisme litigasi Pengadilan Agama terdapat beberapa
kendala, antara lain belum tersedianya hukum materil baik yang berupa Undang-
undang maupun Kompilasi sebagai pegangan para hakim dalam memutus perkara.
Di samping itu, masih banyak para aparat hukum yang belum mengerti tentang
ekonomi syariah atau hukum bisnis Islam. Dalam hal yang menyangkut bidang
sengketa, belum tersedianya lembaga penyidik khusus yang berkompeten dan
menguasai hukum syariah. Pemilihan lembaga Peradilan Agama dalam
menyelesaikan sengketa bisnis (ekonomi) syariah merupakan pilihan yang tepat
dan bijaksana. Hal ini akan dicapai keselarasan antara hukum materiel yang
berlandaskan prinsip-prinsip Islam dengan lembaga peradilan Agama yang
merupakan representasi lembaga Peradilan Islam, dan juga selaras dengan para
aparat hukumnya yang beragama Islam serta telah menguasai hukum Islam.

B. Sumber Hukum Yang Digunakan Sebagai Dasar Hukum Untuk


Menyelesaikan Sengketa Ekonomi Syariah

Sumber hukum yang dapat digunakan dasar hukum untuk menyelesaikan


sengketa ekonomi syariah : (H. Abdul Manam, : 27)

1. Sumber Hukum Acara (Hukum Formil)

Hukum Acara yang berlaku di Pengadilan Agama untuk mengadili sengketa


ekonomi syariah adalah Hukum Acara yang berlaku dan dipergunakan pada
lingkungan Peradilan Umum. Ketentuan ini sesuai dengan ketentuan Pasal 54
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006.
Sementara ini Hukum Acara yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum adalah
Herziene Inlandsch Reglement (HIR) untuk Jawa dan Madura, Rechtreglement Voor
De Buittengewesten (R.Bg) untuk luar Jawa Madura. Kedua aturan Hukum Acara ini
diberlakukan di lingkungan Peradilan Agama, kecuali hal-hal yang telah diatur
secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo. Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2006. Tentang Peradilan Agama. Di samping dua peraturan
sebagaimana tersebut di atas, diberlakukan juga Bugerlijke Wetbook Voor Indonesia
(BW) atau yang disebut dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, khususnya
buku ke IV tentang Pembuktian yang termuat dalam Pasal 1865 sampai dengan
Pasal 1993. Juga diberlakukan Wetbook Van Koophandel (Wv.K) yang diberlakukan
berdasarkan Stb 1847 Nomor 23, khususnya dalam Pasal 7, 8, 9, 22, 23, 32, 225,
258, 272, 273, 274 dan 275. Dalam kaitan dengan peraturan ini terdapat juga
Hukum Acara yang diatur dalam Failissements Verordering (Aturan
Kepailitan)sebagaimana yang diatur dalam Stb 1906 Nomor 348, dan juga terdapat
dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan
dijadikan pedoman dalam praktek Peradilan Indonesia.
2. Sumber Hukum Materiil

Seperti dikemukakan di atas, setelah seluruh tahap pemeriksan selesai lalu


hakim melanjutkan kerjanya untuk mengambil putusan dalam rangka mengadili
perkara tersebut. Untuk itu hakim mencari hukumnya dari sumber-sumber yang sah
dan menafsirkannya, untuk kemudian diterapkan pada fakta atau peristiwa konkret
yang ditemukan dalam perkara tersebut. Sumber-sumber hukum yang sah dan
diakui secara umum, khususnya di bidang bisnis adalah isi perjanjian, undang-
undang, yudisprudensi, kebiasaan, perjanjian internasional, dan ilmu pengetahuan.
Adapun bagi lingkungan pengadilan agama, sumber-sumber hukum yang terpenting
untuk dijadikan dasar dalam mengadili perkara-perkara perbankan syariah setelah
Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber utama, antara lain adalah :

a. Peraturan Perundang-Undangan

Banyak sekali aturan hukum yang terdapat dalam berbagai peraturan


perundang-undangan yang mempunyai titik singgung dengan Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2006 ini. Oleh karena itu Hakim Peradilan Agama harus mempelajari
dan memahaminya untuk dijadikan pedoman dalam memutuskan perkara ekonomi
syariah.

b. Fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN)

Dewan syariah Nasional (DSN) berada dibawah MUI, dibentuk pada tahun
1999. Lembaga ini mempunyai kewenangan untuk menetapkan fatwa tentang
produk dan jasa dalam kegiatan usaha Bank yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah

c. Aqad Perjanjian (Kontrak)

Menurut Taufiq (2006 : 6-7) dalam mengadili perkara sengketa ekonomi


syariah, sumber hukum utama adalah perjanjian, sedangkan yang lain merupakan
pelengkap saja. Oleh karena itu, hakim harus memahami jika suatu aqad perjanjian
itu sudah memenuhi syarat dan rukun sahnya suatu perjanjian. Syarat suatu aqad
perjanjian itu sudah memenuhi azas kebebasan berkontrak, azas persamaan dan
kesetaraan, azas keadilan, azas kejujuran jika aqad perjanjian itu mengandung hal-
hal yang dilarang oleh Syariat Islam, seperti mengandung unsur riba dengan segala
bentuknya, ada unsur gharar atau tipu daya, unsur maisir atau spekulatif dan unsur
dhulm atau ketidakadilan.
Ketentuan tersebut tentu saja dapat diterapkan seluruhnya dalam hukum
keperdataan Islam, karena dalam aqad perjanjian Islam tidak dikenal adanya bunga
yang menjadi bagian dari tuntutan ganti rugi. Oleh karena itu, ketentuan ganti rugi
harus sesuai dengan prinsip Syariat Islam. Jika salah satu pihak tidak melakukan
prestasi, dan itu dilakukan bukan karena terpaksa (overmach), maka ia dipandang
ingkar janji (wanprestasi) yang dapat merugikan pihak lain. Penetapan wanprestasi
ini bisa berbentuk putusan hakim atau atas dasar kesepakatan bersama atau
berdasarkan ketentuan aturan hukum Islam yang berlaku.

Sehubungan dengan hal di atas, bagi pihak yang wanprestasi dapat


dikenakan ganti rugi atau denda dalam ukuran yang wajar dan seimbang dengan
kerugian yang ditimbulkannya serta tidak mengandung unsur ribawi.

Perbuatan melawan hukum oleh CST Kansil (1986 : 254) diartikan bahwa
berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang melanggar hak orang lain, atau
berlawanan dengan kewajiban hak orang yang berbuat atau tidak berbuat itu
sendiri atau bertentangan dengan tata susila, maupun berlawanan dengan sikap
hati-hati sebagaimana patutnya dalam pergaulan masyarakat, terhadap diri sendiri
dan terhadap orang lain.

d. Fiqih dan Ushul Fiqih

Fiqih merupakan sumber hukum yang dapat dipergunakan dalam


menyelesaikan sengketa ekonomi syariah. Sebagian besar kitab-kitab fiqih yang
muktabar berisi berbagai masalah muamalah yang dapat dijadikan acuan dalam
menyelesaikan masalah ekonomi syariah.

e. Adat Kebiasaan

Untuk dapat dijadikan sebagai sumber hukum guna dijadikan dasar dalam
mengadili perkara perbankan syariah, kebiasaan di bidang ekonomi syariah itu
haruslah mempunyai paling tidak tiga syarat yaitu (Sudikno Mertokusumo, 1999 :
99) :

1. Perbuatan itu dilakukan oleh masyarakat tertentu secara berulangulang dalam


waktu yang lama (longaet inveterate consuetindo) ;

2. Kebiasaan itu sudah merupakan keyakinan hukum masyarakat (opinion


necessitates) dan
3. Adanya akibat hukum apabila kebiasaan itu dilanggar Apabila kebiasaan di bidang
ekonomi syariah mempunyai ketiga syarat tersebut, maka dapat dijadikan sumber
hukum sebagai dasar dalam mengadili perkara ekonomi syariah.

f. Yurisprudensi

Yurisprudensi yang dapat dijadikan sumber hukum sebagai dasar dalam


mengadili perkara ekonomi syariah dalam hal ini adalah yurisprudensi dalam arti
putusan hakim tingkat pertama dan tingkat banding yang telah berkekuatan hukum
tetap dan dibenarkan oleh Mahkamah Agung, atau putusan Mahkamah Agung itu
sendiri yang telah dikekuatan hukum tetap, khususnya di bidang ekonomi syariah.

Dengan perkataan lain yurisprudensi yang dapat dijadikan sumber hukum


dalam hal ini adalah putusan hakim yang benar-benar sudah melalui proses
eksaminasi dan notasi dari Mahkamah Agung dengan rekomendasi sebagai
putusan yang telah memenuhi standar hukum yurisprudensi. (Ahmad Kamil dan M.
Fauzan, 2004 : 10-11).

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka yang menjadi kesimpulan pada


tulisan ini adalah :

1. Beberapa alternatif penyelesaian sengketa ekonomi Syariah berdasarkan hukum


positif Indonesia yakni :

a. Perdamaian dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR), dimana pemikiran


kebutuhan akan lembaga sulh (perdamaian) pada zaman modern ini tentunya
bukanlah suatu wacana dan cita-cita yang masih utopis, melainkan sudah masuk ke
wilayah praktis. Hal ini dapat dilihat dengan marak dan populernya Alternative
Dispute Resolution (ADR). Untuk kontek Indonesia, perdamaian telah didukung
keberadaannya dalam hukum positif yakni Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. (IKAHI, 2008 : 60)
b. Arbitrase (Tahkim), dimana dasar hukum pemberlakuan arbitrase dalam
penyelesaian sengketa dalam bidang bisnis adalah Undang-Undang Nomor 30
Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang mulai
diberlakukan pada tanggal 12 Agustus 1999.

c. Proses Litigasi Pengadilan, dimana dalam konteks ekonomi syariah, sengketa yang
tidak dapat diselesaikan baik melalui sulh (perdamaian) maupun secara tahkim
(arbitrase) dapat diselesaikan melalui lembaga Pengadilan. Lembaga Peradilan
Agama melalui Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah dirubah
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama telah
menetapkan hal-hal yang menjadi kewenangan lembaga Peradilan Agama. Adapun
tugas dan wewenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara tertentu
bagi yang beragama Islam dalam bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf,
zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi syariah.

2. Sumber hukum yang dapat digunakan dasar hukum untuk menyelesaikan sengketa
ekonomi syariah : (H. Abdul Manam, : 27)

a. Sumber Hukum Acara (Hukum Formil)

b. Sumber hukum materiil, yang terdiri dari :

1. Peraturan Perundang-Undangan

2. Fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN)

3. Aqad Perjanjian (Kontrak)

4. Fiqih dan Ushul Fiqih

5. Adat Kebiasaan

6. Yurisprudensi

B. Saran

Adapun yang menjadi saran dalam penyusunan makalah ini adalah :

1. Dalam upaya politik hukum yang dijalankan pengadilan Agama dalam


menyelesaikan sengketa ekonomi Syariah, agar diperhatikan yang menjadi fungsi
ideal dari lembaga tersebut sehingga memang secara tegas menjalankan fungsi
latennya.

2. Pemerintah sebagai aparatur Negara diharapkan dapat bekerja sama dan sekaligus
mengayomi Pengadilan Agama dalam menjalankan perannya dalam menyelesaikan
setiap sengketa ekonomi Syariah yang ditanganinya.

DAFTAR PUSTAKA

Kamil dan M. Fauzan, 2004, Kaidah-Kaidah Hukum Yurisprudensi, Khairul Bayan, Jakarta

Ghofur Anshori, 2007, Peradilan Agama di Indonesia Pasca UU No. 3 Tahun 2006 (Sejarah,
Kedudukan & Kewenangan), UII Press, Yogyakarta.

nsil, 1986, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Idonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Munir, 2000, Arbitrase Nasional, alternative penyelesaian sengketa bisnis, Citra Aditya Bakti,
Bandung.

Majalah IKAHI

Sudikno Mertokusumo, 1999, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty,Yogyakarta.

argono, 2000, ADR dan Arbitrase,Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, Ghalia Indonesia,
Jakarta.

________________, 2005, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan kehakiman.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989
tentang Peradilan Agama

Undang-Undang Nomor 21Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

www.badilag.net

MAKALAH POLITIK HUKUM ISLAM DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum Islam dan politik adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dalam suatu
masyarakat Islam. Hukum Islam tanpa dukungan politik sulit digali dan diterapkan.
Politik yang mengabaikan hukum Islam akan mengakibatkan kekacauan dalam
masyarakat. Semakin baik hubungan Islam dan politik semakin besar peluang hukum
Islam diaktualisasikan, dan semakin renggang hubungan Islam dan politik, semakin
kecil peluang hukum Islam diterapkan.[1]
Berlakunya hukum Islam di Indonesia telah mengalami pasang surut seiring
dengan politik hukum yang diterapkan oleh kekuasaan negara. Bahkan di balik semua
itu, berakar pada kekuatan sosial budaya yang berinteraksi dalam proses pengambilan
keputusan politik. Namun demikian, hukum Islam telah mengalami perkembangan
secara berkesinambungan, baik melalui jalur infrastruktur politik maupun suprastruktur
politik dengan dukungan kekuatan sosial budaya.
Cara pandang dan interpretasi yang berbeda dalam keanekaragaman
pemahaman orang Islam terhadap hakikat hukum Islam telah berimplikasi dalam sudut
aplikasinya. M. Atho Mudzhar misalnya menjelaskan cara pandang yang berbeda dalam
bidang pemikiran hukum Islam menurutnya dibagi menjadi empat jenis, yakni kitab-kitab
fiqh, keputusan-keputusan Pengadilan agama, peraturan Perundang-undangan di
negeri-negeri muslim dan fatwa-fatwa ulama.[2]
Keempat faktor tersebut diyakini memberi pengaruh cukup besar dalam proses
transformasi hukum Islam di Indonesia. Terlebih lagi hukum Islam sesungguhnya telah
berlaku sejak kedatangan pertama Islam di Indonesia, di mana stigma hukum yang
berlaku dikategorikan menjadi hukum adat, hukum Islam dan hukum Barat. Sedangkan
hukum Islam dilihat dari dua segi. Pertama, hukum Islam yang berlaku secara yuridis
formal, artinya telah dikodifikasikan dalam struktur hukum nasional. Kedua, hukum
Islam yang berlaku secara normatif yakni hukum Islam yang diyakini memiliki sanksi
atau padanan hukum bagi masyarakat muslim untuk melaksanakannya.
Dalam perkembangan hukum di Indonesia, terutama yang menyangkut
perkembangan penerapan hukum Islam, hukum Islam mengalami pasang surut
mengikuti arah politik yang ada pada waktu itu. Apa sesungguhnya yang menjadi
keinginan dan tujuan para pemegang kekuasaan, baik kekuasaan pemerintah maupun
kekuasaan pejabat politik, maka penerapan hukum Islam itu diarahkan kepada
kebijakan tersebut. Pada masa pemerintahan Belanda misalnya, ada sebuah teori yang
sangat berpengaruh bagi Pemerintah Kolonial Belanda didalam pembentukan hukum di
Indonesia yang dikenal dengan teori resepsi.[3] Pengaruh teori resepsi ini masih
melekat pada masa awal kemerdekaan atau pada masa pemerintahan orde lama, dan
bahkan sampai pada masa pemerintahan Orde Baru (1967-1998).
Pada masa Orde Baru ini konsep pembangunan hukum diarahkan pada konsep
kesatuan hukum nasional, di mana hukum agama (Islam) yang dianut mayoritas rakyat
Indonesia tidak dengan serta merta dapat dijadikan sebagai hukum yang berlaku.
Beberapa hukum Islam untuk diangkat menjadi materi hukum membutuhkan kerja keras
dari umat Islam, meskipun sebenarnya hukum itu hanya diberlakukan bagi pemeluknya.
Hukum Islam sekalipun merupakan the living law yang secara konsep ilmu hukum
seharusnya diterapkan, namun oleh Pemerintah Orde Baru, hukum Islam dilihat
sebagai ajaran agama yang tidak mengakar ke bumi, karena cukup dipahami bukan
untuk diterapkan.[4]
Kedudukan hukum Islam dalam tata hukum di Indonesia yang mengalami
pasang surut tersebut juga dikarenakan hukum Islam bukanlah satu-satunya sistem
hukum yang berlaku pada saat itu, tetapi terdapat sistem hukum lain, yaitu hukum adat
dan hukum Barat. Ketiga sistem hukum ini saling pengaruh-mempengaruhi dalam
upaya pembentukan sistem hukum nasional di Indonesia. Hal ini terlihat ketika
menjelang kemerdekaan, para founding fathers berbeda pendapat tentang bentuk dan
dasar negara serta hukum yang akan berlaku di Indonesia.[5]
Ketika Indonesia merdeka, kedudukan hukum Islam mulai diperhitungkan dan
diakui keberadaannya sebagai salah satu sistem hukum yang berlaku. Pada masa
berikutnya hukum Islam mulai mewarnai hukum nasional. Banyak peraturan perundang-
undangan yang disusun berdasarkan ketentuan hukum Islam, baik yang berlaku
nasional maupun khusus bagi umat Islam. Gejala mutakhir perkembangan hukum Islam
adalah munculnya gerakan otonomisasi hukum Islam di sejumlah daerah di Indonesia.
Hal ini ditandai dengan banyaknya aturan perundangan yang ditetapkan oleh
pemerintah daerah terkait dengan penerapan hukum Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan yang tertuang dalam latar belakang penulisan makalah ini,
dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas yaitu:
1) Bagaimana perkembangan pemikiran politik hukum Islam di Indonesia?
2) Bagaimana dinamika politik hukum Islam di Indonesia?
3) Apa saja produk hukum Islam di Indonesia?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Pemikiran Politik Hukum Islam di Indonesia

Politik Hukum Indonesia yang berdasarkan Pancasila menghendaki


berkembangnya kehidupan beragama dan hukum agama dalam kehidupan hukum
nasional. Garis-garis Besar Haluan Negara di bidang hukum menghendaki terciptanya
hukum baru di Indonesia yang sesuai dengan cita-cita hukum Pancasila dan UUD 1945,
serta yang mengabdi pada kepentingan nasional. Hukum nasional yang dikehendaki
oleh negara adalah hukum yang menampung dan memasukkan hukum agama, dan
tidak memuat norma hukum yang bertentangan dengan hukum agama.[6]
Dalam melihat peranan hukum Islam dalam pembangunan hukum nasional, ada
beberapa fenomena yang bisa dijumpai dalam praktek. Pertama, hukum Islam berperan
dalam mengisi kekosongan hukum dalam hukum positif. Dalam hal ini hukum Islam
diberlakukan oleh negara sebagai hukum positif bagi umat Islam. Kedua, hukum Islam
berperan sebagai sumber nilai yang memberikan kontribusi terhadap aturan hukum
yang dibuat. Oleh karena aturan hukum tersebut bersifat umum, tidak memandang
perbedaan agama, maka nilai-nilai hukum Islam dapat berlaku pula bagi seluruh warga
negara.[7]
Ismail Sunny, mengilustrasikan politik hukum sebagai suatu proses penerimaan
hukum Islam digambarkan kedudukannya menjadi dua periode yakni pertama, periode
persuasive source di mana setiap orang Islam diyakini mau menerima keberlakuan
hukum Islam itu; dan kedua, periode authority source di mana setiap orang Islam
menyakini bahwa hukum Islam memiliki kekuatan yang harus dilaksanakan. Dengan
kata lain, hukum Islam dapat berlaku secara yuridis formal apabila dikodifikasikan
dalam perundang-undangan nasional.[8]
Politik hukum masa Orde Baru seperti termaktub dalam Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR) yaitu Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
sejak 1973, 1978, 1983, 1988 dan 1993. Kurun waktu 1973-1988 pengembangan
hukum nasional diarahkan bagi kodifikasi dan unifikasi hukum sesuai kepentingan
masyarakat. Bentuk hukum tertulis tertentu dikodifikasikan dan diunifikasikan, terutama
hukum yang bersifat netral yang berfungsi bagi rekayasa sosial. Demikian halnya bagi
orang Islam, unifikasi hukum Islam memperoleh pengakuan dalam sistem hukum
nasional.[9]
Transformasi hukum Islam dalam bentuk perundang-undangan (Takhrij al-Ahkm f
al-Nash al-Qnun) merupakan produk interaksi antar elite politik Islam (para ulama,
tokoh ormas, pejabat agama dan cendekiawan muslim) dengan elite kekuasaan (the
rulling elite) yakni kalangan politisi dan pejabat negara. Sebagai contoh,
diundangkannya UU Perkawinan No.1/1974 peranan elite Islam cukup dominan di
dalam melakukan pendekatan dengan kalangan elite di tingkat legislatif, sehingga RUU
Perkawinan No.1/1974 dapat dikodifikasikan.[10]
Pendekatan konsepsional prosedur legislasi hukum Islam sebagaimana
dikemukakan oleh A. Hamid S. Attamimi adalah bahwa pemerintah dan DPR
memegang kekuasaan di dalam pembentukan undang-undang. Disebutkan dalam
pasal 5 ayat (1) UUD 1945 bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk
undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Sedangkan dalam
penjelasan mengenai pasal 5 ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa kecuali executive
power, Presiden bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat menjalankan
legislatif power dalam negara.[11]
Berdasarkan pandangan tersebut, maka DPR hendaknya memberi persetujuan
kepada tiap-tiap Rancangan Undang-undang yang diajukan oleh Pemerintah. Hal ini
senada dengan penjelasan pasal 20 ayat (1) UUD 1945, kendati DPR tidak harus selalu
meyatakan setuju terhadap semua rancangan Undang-undang dari pemerintah.
Keberadaan DPR sesungguhnya harus memberikan suatu consent atau kesepakatan
dalam arti menerima atau menolak rancangan undang-undang.
B. Dinamika Politik Hukum Islam di Indonesia
Peralihan kekuasaan dari pemerintahan Orde Lama kepada Orde Baru ditandai
dengan turunnya Soekarno dari kursi kepresidenan pasca kudeta G30/S/PKI pada
tahun 1965.[17] Peristiwa politik tersebut telah berimplikasi kepada munculnya krisis
politik yang cukup menegangkan berupa gerakan massa yang menuntut pembubaran
PKI serta tuntutan pembenahan sistem politik dan pemulihan keamanan negara.[12]
Ketetapan MPRS No, TX/MPRS/1966 rnenjadi landasan konstitusinal bagi
Supersemar dan sekaligus digelarnya Sidang Umum MPRS tahun 1967 berhasil
menggusur Soekarno dari kursi kepresidenan berupa pencabutan mandat presiden oleh
MPRS dalam Tap MPRS No. XXXIII/MPRS/1967. Hal ini telah memuluskan jalan bagi
Soeharto untuk naik ke puncak kekuasaan yakni diangkat menjadi presiden kedua yang
ditetapkan dalam ketetapan MPRS No.XLITI/MPRS/1968.[13]
Lahirnya Orde Baru yang didukung oleh kalangan pelajar dan mahasiswa yang
tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi
Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI) yang para anggotanya mayoritas beragama
Islam. Dapat dikatakan, mereka menjadi ujung tombak runtuhnya pemerintahan Orde
Lama. Pada awal Orde Baru banyak dilakukan perubahan terhadap kecenderungan
birokrasi yang tidak bertanggungjawab yang warisan Orde Lama. Dengan memakai
format politik yang berporos pada eratnya hubungan militer dan teknokrat untuk tujuan
melaksanakan pembangunan dan mewujudkan pemerintah yang stabil dan kuat.
Kekuatan militer dan birokrasi merupakan mesin politik untuk menata kehidupan sosial
dan politik masyarakat, sehingga Orde Baru melalui dua komponen tersebut menjadi
kekuatan politik tunggal di Indonesia.
Adapun format politik yang tercipta antara lain:[14] Pertama, peranan birokrasi
sangat kuat karena dijalankan oleh militer setelah ambruknya demokrasi terpimpin,
sehingga ia menjadi satu-satunya pemain utama di pentas politik nasional. Kedua,
upaya membangun sebuah kekuatan organisasi sosial politik sebagai perpanjangan
tangan ABRI dan pemerintah dalam wujud lahirnya Golkar sebagai mayoritas tunggal
organisasi politik di masa Orde Baru. Ketiga, penjinakan radikalisme dalam politik
melalui proses depolitisasi massa, seperti menerapkan konsep floating mass dan
NKK/BKK di lingkungan pendidikan tinggi. Keempat, lebih menekankan pendekatan
keamanan (Security Approach) dan pendekatan kesejahteraan (Welfare Approuch)
dalam pembagunan sosial politik; kelima, menggalang dukungan masyarakat melalui
organisasi-organisasi sosial dan kemasyarakatan yang berbasis korporatis.
Persentuhan Islam dan politik pada masa Orde Baru sesungguhnya telah diawali
sejak Orde Baru menerapkan kebijakan modernisasi, di mana stigma perkembangan
pola pikir dan cara pandang bangsa Indonesia serta proses transformasi kultural dan
perubahan sosial lebih banyak mengadopsi apa yang pernah terjadi di negara-negara
Barat. Kiblat pembangunan di Indonesia yang sebelumnya mengarah ke Eropa Timur
berbalik arah ke Eropa Barat dan Amerika. Banyak didapatkan kalangan cendekiawan
dan kalangan intelektual mulai akrab dengan pemikiran-pemikiran Barat.
Sementara itu, bagi kalangan Islam modernisasi ibarat dilema karena dihadapkan
kepada dua pilihan, yakni apabila mendukung modernisasi ala Orde Baru berarti sama
saja mendukung Barat, sedangkan pada sisi lain, apabila menolak berarti umat Islam
akan kehilangan kesempatan untuk berperan aktif dalam program pembangunan
nasional.[15]
Pola pertautan politik yang serba provokatif dianggap bukan jalan terbaik bagi
islamisasi di Indonesia, mengingat penduduk Indonesia tidak seluruhnya umat Islam
yang dapat disatukan dalam bingkai sistem politik keormasan. Pada gilirannya, lahirlah
gagasan Islam kultural sebagai jalan tengah bagi urnat Islam untuk tetap memainkan
perannya dalam pentas politik nasional. Paling tidak kebenaran akan pendekatan ini
mulai membuahkan hasil berupa terbukanya jalan bagi umat Islam menuju islamisasi
politik Orde Baru di penghujung tahun 1970-an.[16]
Kebijakan-kebijakan politik Orde Baru yang menempatkan Islam dalam posisi
marjinal di pentas politik nasional pada gilirannya telah melahirkan berbagai
ketegangan antara Islam dan negara. Sejarah telah mencatat hahwa dinamika
hubungan Islam dan negara pada masa Orde Baru mengalami pergeseran yang
bersifat antagonistik, resiprokal kritis sampai akomodatif. Hubungan antagonistik (1966-
1981) mencerminkan pola hubungan yang hegemonik antara Islam dengan pemerintah
Orde Baru. Keadaan negara yang kuat memainkan pengaruh ideologi politik sampai ke
tingkat masyarakat bawah telah berlawanan dengan sikap reaktif kalangan Islam
sehingga melahirkan konflik ideologi dan sekaligus menempatkan Islam sebagai
oposisi.[17]
Kemudian pada tahap hubungan resiprokal kritis (1982- 1985) kaum santri
berupaya merefleksikan kembali cara pandang mereka dan merubah dirinya untuk
menampilkan sisi intelektualitas dalam percaturan politik Indonesia. Pada tahap ini
pilihan-pilihan rasional-pragmatis telah melahirkan saling pengertian akan kepentingan
Islam dan pemerintahan Orde Baru. Dalam kurun waktu 1982-1985 sebagian kalangan
Islam mulai menerima asas tunggal dalam landasan ideologi negara serta ormas dan
orpol. Sedangkan hubungan akomodatif (1985-2000) hubungan Islam dan negara
terasa lebih harmonis di mana umat Islam telah masuk sebagai bagian dari sistem
politik elit dan birokrasi. Pola hubungan akomodatif ini sangat terasa berupa
tersalurkannya aspirasi umat Islam untuk membangun tatanan sosial, politik, ekonomi
dan budaya yang berakar pada nilai-nilai luhur agama (Islam) serta budaya bangsa
yang dibingkai dalam falsafah integralistik Pancasila dan UUD 1945.[18]
Namun demikian, khusus dalam sudut pandang perkembangan hukum Islam di
Indonesia kesempatan umat Islam untuk mendapatkan hak-haknya pada pola
hubungan antagonistik lebih tampak. Posisi umat Islam yang begitu lemah, seperti
ketika merumuskan UU Perkawinan No.1 tahun 1974, aliran kepercayaan dalam
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), isu ekstrim kanan, isu suku,
agama dan ras (SARA), isu kristenisasi dan kebijakan ekonomi kapitalistik. Protes umat
Islam atas UU Perkawinan No.1/1974 yang disusul dengan PP No.9/1975, dianggap
sebagai usaha Orde Baru untuk menggeser Hukum Islam dari akar tatanan sosial
masyarakat Islam di Indonesia.
Dapat dikatakan bahwa hubungan Islam dan negara pada tahap antagonistik lebih
banyak peristiwa yang memunculkan pola hubungan yang tidak harmonis berupa
konflik ideologis. Jika sebelumnya pada masa Orde Lama Islam lebih nampak
mengkristal dalam bingkai organisasi politik Masyumi, tegas berhadapan dengan
ideologi nasionalis sekuler (PNI Soekarnois) dan ekstrim kiri PKI, selanjutnya pada
masa Orde Baru Islam terbelah dan terpecah-pecah dari bingkai Masyumi. Hal ini
terjadi karena kebijakan ketat pemerintah Orde Baru dalam merespon munculnya
kembali kuatnya ideologi Islam politik.
Tersendat-sendatnya aspirasi umat Islam di dalam mendapatkan hak-hak
perundang-undangan dan hukum tampak ketika dilegislasikannya UU Perkawinan
No.1/1974 yang kemudian disusul dengan PP No.9/1975. Selanjutnya ditetapkan pula
ketentuan tentang Wakaf dalam PP No.28/1977. Tidak berhenti sampai di situ, umat
Islam di tingkat legislatif kembali mempersoalkan faham/aliran kepercayaan dalam UUD
1945 sebagai agama resmi yang diakui negara. Dan yang paling krusial adalah
kehendak umat Islam untuk dilegislasikannya Rancangan Undang-undang Peradilan
Agama (RUUPA) bagi penyelenggaraan peradilan Islam di Indonesia.[19]
Kemudian pada pola hubungan resiprokal kritis, umat Islam menyadari perlunya
strategi untuk menempuh jalur struktural-birokrat pada sistem kenegaraan. Pada
tahapan ini, kalangan cendekiawan dan politisi Islam harus berani bersentuhan
langsung dengan pemerintahan Orde Baru. Melalui pendekatan struktural-fungsional,
umat Islam relatif mengalami kemajuan pesat berupa masuknya kalangan Islam dalam
segala sistem pemerintahan sipil mulai dari pusat hingga daerah, dan sekaligus
memperkokoh kekuasaan Orde Baru dalam bingkai akumulasi sipil Islam dan militer.
Pada pola akomodatif, sebagai antitesa dari pola hubungan sebelumnya Islam
hampir menguasai seluruh sendi-sendi pemerintahan dan negara. Tercatat realitas
sosial politik umat Islam demikian penting memainkan peranannya di pentas nasional.
Kehadiran ICMI, 8 Desember 1990, diyakini sebagai tonggak baru menguatnya
islamisasi politik di Indonesia, dan semakin tampak ketika diakomodirnya kepentingan
syariat Islam melalui UUPA No.7/1989 sekaligus menempatkan Peradilan Agama
sebagai lembaga peradilan negara yang diatur dalarn UU Pokok Kekuasaan
Kehakiman No.14/1970, disusul dengan UU Perbankan No.10/1998 (pengganti UU
No.7/1992), UU Zakat No.38/ 1999, Inpres No.1/1991tentang Kompilasi Hukum Islam
(KHI).
Artikulasi dan partisipasi politik kalangan umat Islam demikian tampak mulai dari
pendekatan konflik, pendekatan resiprokal kritis sampai pendekatan akomodatif. Maka
dapat diasumsikan untuk menjadikan Islam sebagai kakuatan politik hanya dapat
ditempuh dengan dua cara yakni secara represif (konflik) dan akomodatif (struktural-
fungsional). Paling tidak ini merupakan sebuah gambaran terhadap model paradigma
hubungan antara Islam dan negara di Indonesia.
C. Produk Hukum Islam di Indonesia
Terhitung sejak tahun 1970-an sampai sekarang arah dinamika hukum Islam
dan proses transformasi hukum Islam telah berjalan sinergis searah dengan dinamika
politik di Indonesia. Tiga fase hubungan antara Islam dan negara pada masa Orde Baru
yakni fase antagonistik yang bernuansa konflik, fase resiprokal kritis yang bernuansa
strukturalisasi Islam, dan fase akomodatif yang bernuansa harmonisasi Islam dan
negara, telah membuka pintu lebar bagi islamisasi pranata sosial, budaya, politik dan
hukum Islam di Indonesia.
Sampai saat ini, kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum di Indonesia
semakin memperoleh pengakuan yuridis. Pengakuan berlakunya hukum Islam dalam
bentuk peraturan dan perundang-undangan yang berimplikasi kepada adanya pranata-
pranata sosial, budaya, politik dan hukum. Salah satunya adalah diundangkannya
Hukum Perkawinan No. 1/1974.
Abdul Ghani Abdullah mengemukakan bahwa berlakunya hukum Islam di
Indonesia telah mendapat tempat konstitusional yang berdasar pada tiga alasan, yaitu:
Pertama, alasan filosofis, ajaran Islam rnerupakan pandangan hidup, cita moral dan cita
hukum mayoritas muslim di Indonesia, dan ini mempunyai peran penting bagi
terciptanya norma fundamental negara Pancasila; Kedua, alasan Sosiologis.
Perkembangan sejarah masyarakat Islam Indonesia menunjukan bahwa cita hukum
dan kesadaran hukum bersendikan ajaran Islam memiliki tingkat aktualitas yang
berkesiambungan; dan Ketiga, alasan Yuridis yang tertuang dalam pasal 24, 25 dan 29
UUD 1945 memberi tempat bagi keberlakuan hukum Islam secara yuridis formal.
Implementasi dan tiga alasan di atas, sebagai contoh adalah ditetapkannya
UUPA No.7/1989 yang secara yuridis terkait dengan peraturan dan perundang-
undangan lainnya, seperti UU No.2/1946 Jo UU No.32/1954, UU Darurat No.1/1951,
UU Pokok Agraria No.5/1960, UU No.14/1970, UU No.1/1974, UU No.14/1985, Perpu
Nol/SD 1946 dan No.5/SD 1946, PP. No.10/1947 Jo. PP. No.19/1947, PP. No.9/1975,
PP. No.28/1977, PP. No.10/1983 Jo, PP. No.45/1990 dan PP. No. 33/1994. Penataan
Peradilan Agama terkait pula dengan UU No.2/1986 tentang Peradilan Umum, UU
No.5/1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dan UU No.7/1989 tantang Peradilan
Agama.[20]
Dalam kenyataan lebih konkret, terdapat beberapa produk peraturan
perundang-undangan yang secara formil maupun material tegas memiliki muatan
yuridis hukum Islam, antara lain:
a. UU No. 1/1974 tentang Hukum Perkawinan;
b. UU No. 7/1989 tentang Peradilan Agarna (Kini UU No. 3/2006);
c. UU No. 7/1992 tentang Perbankan Syariah (Kini UU No. 21/2008);
d. UU No. 17/1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji;
e. UU No. 38/1999 tentang Pangelolaan Zakat, Infak dan Shadaqah (ZTS);
f. UU No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Khusus Nangroe Aceh Darussalam;
g. UU Politik Tahun 1999 yang mengatur ketentuan partai Islam;
h. UU No. 41/2004 tentang Wakaf; dan
i. UU No. 19/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
Di samping tingkatannya yang berupa Undang-undang, juga terdapat peraturan-
peraturan lain yang berada di bawah Undang-undang, antara lain:
1) PP No.9/1975 tentang Petunjuk Pelaksanaan UU Hukum Perkawinan;
2) PP No.28/1977 tentang Perwakafan Tanah Milik;
3) PP No.72/1992 tentang Penyelenggaraan Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil;
4) Inpres No.1/ 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam; dan
5) Inpres No.4/2000 tentang Penanganan Masalah Otonomi Khusus di NAD.
Dari sekian banyak produk perundang-undangan yang memuat materi hukum
Islam, peristiwa paling fenomenal adalah disahkannya UU No.7/1989 tentang Peradilan
Agama. Betapa tidak, Peradilan Agama sesungguhnya telah lama dikenal sejak masa
penjajahan (Mahkamah Syariah) hingga masa kemerdekaan, mulai Orde Lama hingga
Orde Baru, baru dalam kurun waktu akhir 1980-an UUPA No.7/1980 dapat disahkan
sehagai undang-undang. Padahal UU No.14/1970 dalam pasal 10-12 dengan tegas
mengakui kedudukan Peradilan Agama berikut eksistensi dan kewenangannya.
iran ICMI pada awal tahun 1990-an sesungguhnya merupakan realitas sosial dan
politik yang tidak dapat dihindari. Di mana peran besar yang ditampilkan oleh elite
politik Islam di lingkungan birokrasi, serta peran tokoh-tokoh Islam yang aktif dalam
berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, dipandang sangat penting terutama dalam
merespon kehendak umat Islam secara kolektif. Dengan kata lain, adanya berbagai
produk perundang-undangan dan peraturan berdasarkan hukum Islam, bukan perkara
yang mudah, seperti membalikkan kedua telapak tangan, tetapi semua itu telah
dilakukan melalui proses politik dalam rentang sejarah yang cukup lama.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menyimak perjalanan sejarah transformasi hukurn Islam, sarat dengan berbagai
dimensi historis, filosofis, politik, sosiologis dan yuridis. Dalam kenyataan hukum Islam
di Indonesia telah mengalami pasang surut seiring degan politik hukum yang diterapkan
oleh kekuasaan negara. Ini semua, berakar pada kekuatan sosial budaya mayoritas
umat Islam di Indonesia telah berinteraksi dalam proses pengambilan keputusan politik,
sehingga melahirkan berbagai kebijakan politik bagi kepentingan masyarakat Islam
tersebut.
Oleh karena itu, pada bagian akhir makalah ini dapat dikatakan bahwa hukum
Islam di Indonesia telah mengalami perkembangan yang dinamis dan
berkesinambungan, baik itu melalui saluran infrastruktur politik maupun suprastruktur
seiring dengan realitas, tuntutan dan dukungan, serta kehendak bagi upaya
transformasi hukum Islam ke dalam sistem hukum Nasional. Bukti sejarah produk
hukum Islam sejak masa penjajahan hingga masa kemerdekaan dan masa reformasi
merupakan fakta yang tidak pernah dapat digugat kebenarannya. Semoga hukum Islam
tetap eksis beriringan dengan tegaknya Islam itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim, Peradilan Agama dalam Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2000),
Muhsin Hariyanto, dalam http://pai-umy.blogspot.com/2012/02/politik-hukum-indonesia-
kaitannya.html,
Ismail Sunny, Tradisi dan Inovasi Keislaman di IndonesIa dalam Bidang Hukum Islam,
dikutip dari Bunga Rampai Peradilan Islam di Indonesia, Jilid I, (Bandung: Ulul Albab
Press, 1997), hlm. 40-43.
Joeniarto, Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990),
Ke-3, hlm. 140.
Affan Gaffar, Politik Indonesia: Tradisi Menuju Demokrasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1999), hlm. 37.

[1] Abdul Halim, Peradilan Agama dalam Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada,2000), hlm. XII-XIV
[2] http://yusril.ihzamahendra.com/2007/12/05/hukum-islam-dan-pengaruhnya-terhadap-
hukum-nasional-indonesia/, diakses pada tanggal 15 November 2014)

[4] Muhsin Hariyanto, dalam http://pai-umy.blogspot.com/2012/02/politik-hukum-indonesia-


kaitannya.html, diakses pada tanggal 15 November 2014
[5]http://www.armhando.com/2012/02/periode-sejarah-hukum-islam-di.html, dikases pada tanggal
15 November 2014
[6] Prof. Dr. H. Busthanul Arifin, S.H.,Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional:
Mengenang 65 Th. Cet. 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 178-179.
[7] Lihat, Padmo Wahjono, Budaya Hukum Islam dalam Perspektif Pembentukan Hukum di
Masa Datang, dalam Amrullah Ahmad, et. al. (Ed.), Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum
Nasional: Mengenang 65 Th. Prof. Dr. H. Busthanul Arifin, S.H., Cet. 1, (Jakarta: Gema Insani Press,
1996), hlm. 167.
[8] Ismail Sunny, Tradisi dan Inovasi Keislaman di IndonesIa dalam Bidang Hukum Islam,
dikutip dari Bunga Rampai Peradilan Islam di Indonesia, Jilid I, (Bandung: Ulul Albab Press, 1997),
hlm. 40-43.
[9] Didi Kusnadi, Op.cit., hlm. 2
[10] Ibid., hlm. 3
[11] Ibid.
[12] Joeniarto, Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990),
Ke-3, hlm. 140

[14] Affan Gaffar, Politik Indonesia: Tradisi Menuju Demokrasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1999), hlm. 37.
[15] M. Dawam Rahardjo, Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa, (Bandung:
Mizan, 1993), hlm. 38 1-382.
[16] M. Syafii Anwar, Politik Akomodasi Negara dan Cendekiawan Muslim Orde Baru:
Sebuah Retrospeksi dan Refleksi, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 32-35
[17] M. Syafii Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang
Cendekiawan Muslim Orde Baru, (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 9.
[18] Ibid.
[19] Ahmad Sukarja, Keberiakuan Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, dalam Cik
Hasan Bisri (ed.), Bunga Rampai Peradilan Islam I, (Bandung: Ulul Albab Press, 1997), hlm. 24-25.
[20] Abdul Ghani Abdullah, Peradilan Agama Pasca UU No.7/1989 dan Perkembangan
Studi Hukum Islam di Indonesia, dalam Mimbar Hukum No. 1 tahun V (Jakarta: al-Hikmah &
Ditbinpera Islam Depag RI, 1994), hlm. 106.