Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

TEORI-TEORI HUKUM ISLAM DI INDONESIA

Disusun untuk memenuhi tugas Fiqih dan Ushul Fiqh

yang diampu oleh Bapak Yayan Suryana, M.Ag.

Oleh:

1. Addina Azca Cahyasari (12600008)

2. Umi Istiqomah (12600032)

3. Rodlita Aisyiyatana (12600040)

4. Bayu Okta Rizkyawan (12600042)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA


YOGYAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebebasan beragama merupakan salah satu hak dasar yang dimiliki oleh
setiap manusia di dunia dalam rangka mencari Tuhannya. Kebebasan beragama ini
memiliki empat aspek, yaitu kebebasan nurani , kebebasan mengekspresikan
keyakinan agama, kebebasan melakukan perkumpulan keagamaan, dan
Kebebasan melembagakan keyakinan keagamaan.

Kebebasan dan toleransi merupakan dua hal yang sering kali


dipertentangkan dalam kehidupan manusia, secara khusus dalam komunitas yang
beragam. Persoalan tersebut menjadi lebih pelik ketika dibicarakan dalam wilayah
agama.

Kebebasan beragama dianggap sebagai sesuatu yang menghambat


kerukunan (tidak adanya toleransi), karena dalam pelaksanaan kebebasan,
mustahil seseorang tidak menyentuh kenyamanan orang lain. Akibatnya,
pelaksanaan kebebasan menghambat jalannya kerukunan antarumat beragama.

Demikian juga sebaliknya, upaya untuk merukunkan umat beragama dengan


menekankan toleransi sering kali dicurigai sebagai usaha untuk membatasi hak
kebebasan orang lain. Toleransi dianggap sebagai alat pasung kebebasan
beragama.
Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya
kerukunan antarumat beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada
kerukunan antarumat beragama.

Akan tetapi, toleransi antarumat beragama adalah cara agar kebebasan


beragama dapat terlindungi dengan baik. Keduanya tidak dapat diabaikan.
Namun, yang sering kali terjadi adalah penekanan dari salah satunya, yaitu
penekanan kebebasan yang mengabaikan toleransi dan usaha untuk merukunkan
dengan memaksakan toleransi dengan membelenggu kebebasan. Untuk dapat
mempersandingkan keduanya, pemahaman yang benar mengenai
kebebasan bergama dan toleransi antarumat beragama merupakan sesuatu yang
penting.

Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak yang melekat pada
manusia karena ia adalah manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh
Tuhan, tidak ada seorang pun yang boleh mencabutnya. Negara pun tidak berhak
merampas hak tersebut dari setiap individu.

Dalam hubungannya dengan agama dan kepercayaan, toleransi berarti


menghargai, membiarkan, membolehkan kepercayaan, agama yang berbeda itu
tetap ada, walaupun berbeda dengan agama dan kepercayaan seseorang. Toleransi
tidak berarti bahwa seseorang harus melepaskan kepercayaannya atau ajaran
agamanya karena berbeda dengan yang lain, tetapi mengizinkan perbedaan itu
tetap ada.

Sikap agama yang lebih moderat, tidak hanya dituntut ada dalam agama
Islam, tetapi pada semua agama yang ada di Indonesia. Agama-agama harus
menyadari bahwa dunia semakin heterogen. Jadi tidak mungkin lagi untuk
memimpikan kehidupan beragama yang homogen. Diskriminasi yang dialami
oleh agama-agama tidak perlu menimbulkan semangat balas dendam, karena
biasanya diskriminasi agama tidak berasal dari agama itu sendiri, melainkan
dipengaruhi faktor lain.
Agama dalam pelaksanaan misinya tidak boleh lagi bersikap tidak peduli
dengan agama-agama lain. Kemajauan suatu agama tidak boleh membunuh
kehidupan agama-agama yang ada di Indonesia.

Toleransi dan kerukunan hidup umat beragama antara Islam dan non Islam,
telah diperaktekan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, pada waktu itu
Rasulullah memimpin negara Madinah, beliau sebagai kepala negara dari
komunitas negaranya, terdiri atas penganut Islam, Yahudi dan Nasrani, beliau
memimpin masyarakat majemuk.

Dengan piagam Madinah sebagai konstitusinya. Piagam Madinah memuat


pokok-pokok kesepakatan.

Secara sosiologis, hukum merupakan refleksi tata nilai yang diyakini oleh
masyarakat sebagai suatu pranata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Hal ini berarti, hukum seharusnya menangkap aspirasi masyrakat yang
tumbuh dan berkembang, bukan hanya soal kekinian tetapi juga menjadi acuan
dalam mengantisipasi perkambangan social, ekonomi, politik dimasa depan.

Dalam prespektif Islam, hukum akan mengarahkan ke berbagai perubahan


sosial masyarakat. Hal ini mengingat bahwa hukum Islam mengandung dua
dimensi, yaitu:

1. Hukum Islam dalam kaitannya dengan syari'at yang berakar pada nash qath'i
berlaku universal dan menjadi asas pemersatu serta mempolakan arus utama
aktivitas umat Islam sedunia.

2. Hukum Islam yang berakar pada nas zhanni yang merupakan wilayah
ijtihadi yang produk-produknya kemudian disebut dengan fiqhi.

Di Indonesia, sebagaimana negeri-negeri lain yang mayoritas penduduknya


beragama Islam, keberdayaannya telah sejak lama memperoleh tempat yang layak
dalam kehidupan masyarakat seiring dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam,
dan bahkan pernah sempat menjadi hukum resmi Negara.
Setelah kedatangan bangsa penjajah (Belanda) yang kemudian berhasil
mengambil alih seluruh kekuasaan kerajaan Islam tersebut, maka sedikit demi
sedikit hukum Islam mulai dipangkas. Sampai akhirnya yang tertinggal-selain
ibadah-hanya sebagian saja dari hukum keluarga (nikah, talak, rujuk, waris)
dengan Pengadilan Agama sebagai pelaksananya.

Meskipun demikian, hukum Islam masih tetap eksis, sekalipun sudah tidak
seutuhnya. Secara sosiologis dan kultural, hukum Islam tidak pernah mati dan
bahkan selalu hadir dalam kehidupan umat Islam dalam sistem politik apapun,
baik masa kolonialisme maupun masa kemerdekaan serta sampai masa kini.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian hukum Islam?

2. Bagaimana latar belakang munculnya teori-teori hukum Islam di


Indonesia?

3. Apa saja teori teori hukum Islam yang berlaku di Indonesia?

4. Apa pengaruh teori teori hukum Islam terhadap Indonesia?

C. Tujuan

1. Mengetahui pengertian hukum Islam.

2. Mengetahui latar belakang munculnya teori-teori hukum Islam di


Indonesia.

3. Mengetahui teori-teori hukum yang berlaku di Indonesia.

4. Menjelaskan pengaruh teori-teori tersebut terhadap hukum Islam di


Indonesia.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hukum Islam

Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan menjadi bagian dari agama Islam.
Dasar hukum Islam adalah Al-Quran, Al-Hadist, Ijma, Qiyas, dan Ijtihad.
Hukum ini mengatur berbagai hubungan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan,
hubungan manusia dengan dirinya sendiri,hubungan manusia dengan manusia lain dan
hubungan manusia dengan benda dalam masyarakat serta alam sekitarnya (Mohammad
Daud Ali, 1996: 39).

1. Al-Quran

Al-Quran selain sebagai kitab suci umat Islam, juga dijadikan sebagai
sumber hukum utama dalam ajaran Islam. Kitab suci yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril ini berisi berbagai
kandungan mulai dari perintah, anjuran, larangan, ketentuan, dan lain-lain.

2. Al-Hadist

Al-Hadist merupakan segala sesuatu yang berlandaskan pada ajaran


Rasulullah SAW baik perkataan, perilaku, persetujuan, dan sifat yang beliau
contohkan. Hadis juga merupakan sumber acuan hukum Islam terkuat kedua
setelah Al-Quran.

3. Ijma Ulama

Ijma ulama adalah kesepakatan dari para ulama yang mengambil


kesimpulan berdasarkan dalil-dalil yang terdapat pada Al-Quran dan Al-Hadist.
Para ulama mengambil langkah ini karena perkara atau kasus yang ada tidak
dijelaskan secara terperinci baik di dalam Al-Quran maupun Al-Hadist. Yang
menjadi penting adalah hasil Ijma yang dilakukan oleh para ulama tidak boleh
bertentangan dengan nilai-nilai Al-Quran dan Al-Hadist.

4. Qiyas

Qiyas adalah menjelaskan sesuatu yang tidak mempunyai dalil nashnya


dalam Al-Quran maupun Al-Hadist yang dilakukan dengan cara membandingkan
sesuatu yang serupa atau hampir sama dengan sesuatu yang hendak diketahui
hukumnya tersebut dan sudah jelas hukumnya di Al-Quran maupun Al-hadist.
Misalnya, dalam Al-Quran dijelaskan bahwa segala sesuatu yang dapat
memabukkan adalah haram hukumnya.

5. Ijtihad

usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa


saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang
tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang

B. Latar Belakang Munculnya Teori Hukum Islam

Islam telah diterima oleh bangsa Indonesia jauh sebelum penjajah datang ke
Indonesia. Waktu penjajah Belanda datang ke Indonesia (Hindia Belanda), bangsa
Indonesia telah menyaksikan kenyataan bahwa di Hindia Belanda telah menganut
sistem hukum, yaitu agama yang dianut di Hindia Belanda, seperti Hukum Islam,
Hindu Budha, dan Nasrani serta hukum adat bangsa Indonesia.

Berlakunya hukum Islam bagi sebagian besar penduduk Hindia Belanda,


berkaitan dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam setelah runtuhnya Majapahit
pada sekitar tahun 1581. Walaupun pada mulanya kedatangan Belanda yang
notabene beragama Kristen Protestan ke Indonesia tidak ada kaitannya dengan
masalah hukum (agama), namun pada perkembangan selanjutnya, berkaitan
dengan kepentingan penjajah, akhirnya mereka tidak bisa menghindari
persentuhan masalah hukum dengan penduduk pribumi.
Berhubungan dengan masalah hukum adat di Indonesia dan hukum agama
bagi masing-masing pemeluknya, munculah beberapa teori-teori hukum
diantaranya adalah teori Receptio In Complexu dan teori Receptie yang muncul
sebelum kemerdekaan Indonesia. Tiga teori lainnya, yaitu teori Receptie Exit,
Receptie A Contrario, dan teori Eksistensi muncul setelah Indonesia merdeka.

C. Teori-Teori Hukum Islam

1. Teori Reception In Complexu

Teori Receptio in Complexu ini, dipelopori oleh Lodewijk Willem Christian


van den Berg tahun 1845-1925. Teori Receptio In Complexu menyatakan bahwa
bagi setiap penduduk berlaku hukum agamanya masing-masing. Bagi orang Islam
berlaku penuh hukum Islam sebab ia telah memeluk agama Islam. Teori Receptio
In Complexu ini telah diberlakukan di zaman VOC sebagaimana terbukti dengan
dibuatnya berbagai kumpulan hukum untuk pedoman pejabat dalam menyeleaikan
urusan-urusan hukum rakyat pribumi yang tinggal di dalam wilayah kekuasaan
VOC yang kemudian dikenal sebagai Nederlandsch Indie. Contohnya, Statuta
Batavia yang saat ini desebut Jakarta 1642 pada menyebutkan bahwa sengketa
warisan antara pribumi yang beragama Islam harus diselesaikan dengan
mempergunakan hukum Islam, yakni hukum yang dipergunakan oleh rakyat
sehari-hari. Untuk keperluan ini, D.W Freijer menyusun buku yang memuat
hukum perkawinan dan hukum kewarisan Islam.

2. Teori Receptie

Teori Receptie dipelopori oleh Christian Snouck Hurgronje dan Cornelis van
Volenhoven pada tahun 1857-1936. Teori ini dijadikan alat oleh Snouck
Hurgronye agar orang-orang pribumi jangan sampai kuat memegang ajaran Islam
dan hukum Islam. Jika mereka berpegang terhadap ajaran dan hukum Islam,
dikhawatirkan mereka akan sulit menerima dan dipengaruhi dengan mudah oleh
budaya barat. Teori ini bertentangan dengan Teori Reception In Complexu.
Menurut teori Receptie, hukum Islam tidak secara otomatis berlaku bagi orang
Islam. Hukum Islam berlaku bagi orang Islam jika sudah diterima atau diresepsi
oleh hukum adat mereka. Oleh karena itu, hukum adatlah yang menentukan
berlaku tidaknya hukum Islam. Sebagai contoh teori Receptie saat ini di Indonesia
diungkapkan sebagai berikut.

Hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits hanya sebagian
kecil yang mmpu dilaksanakan oleh orang Islam di Indonesia. Hukum pidana
Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits tidak mempunyai tempat
eksekusi bila hukum yang dimaksud tidak diundangkan di Indonesia. Oleh karena
itu, hukum pidana Islam belum pernah berlaku kepada pemeluknya secara hukum
ketatanegaraan di Indonesia sejak merdeka sampai saat ini. Selain itu, hukum
Islam baru dapat berlaku bagi pemeluknya secara yuridis formal bila telah
diundangkan di Indonesia. Teori ini berlaku hingga tiba di zaman kemerdekaan
Indonesia.

3. Teori Receptie Exit

Teori Receptie Exit diperkenalkan oleh Prof. Dr. Hazairin, S.H. Menurutnya
setelah Indonesia merdeka, tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
dan Undang-Undang Dasar 1945 dijadikan Undang-Undang Negara Republik
Indonesia, semua peraturan perundang-undangan Hindia Belanda yang
berdasarkan teori Receptie bertentangan dengan jiwa UUD 1945. Dengan
demikian, teori Receptie itu harus exit alias keluar dari tata hukum Indonesia
merdeka.

Teori Receptie bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Secara tegas


UUD 1945 menyatakan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa
dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu. Demikian dinyatakan dalam pasal 29 (1) dan (2). Menurut
teori Receptie Exit, pemberlakuan hukum islam tidak harus didasarkan pada
hukum adat. Pemahaman demikian kebih dipertegas lagi, antara lain dengan
berlakunya UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, yang memberlakukan
hukum Islam bagi orang Islam (pasal 2 ayat 1), UU No. 7 tahun 1989 tentang
Peradilan Agama, Instruksi presiden No. 1 tahun 1991 tentang Kompulasi Hukum
Islam di Indonesia (KHI).

4. Teori Receptie A Contrario

Teori Receptie Exit yang diperkenalkan oleh Hazairin dikembangkan oleh


Sayuti Thalib, S.H. dengan memperkenalkan Teori Receptie A Contrario. Teori
Receptie A Contrario yang secara harfiah berarti lawan dari Teori Receptie
menyatakan bahwa hukum adat berlaku bagi orang Islam kalau hukum adat itu
tidak bertentangan dengan agama Islam dan hukum Islam. Sebagai contoh,
umpamanya di Aceh, masyarakatnya menghendaki agar soal-soal perkawinan dan
soal warisan diatur berdasarkan hukum Islam. Apabila ada ketentuan adat boleh
saja dipakai selama itu tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dengan
demikian, dalam Teori Receptie A Contrario, hukum adat itu baru berlaku kalau
tidak bertentangan dengan hukum Islam. Inilah Sayuti Thalib dengan teori
Reception A Contrario.

5. Teori Eksistensi

Sebagai kelanjutan dari teori Receptie Exit dan teori Reception A Contrario,
menurut Ichtijanto S.A, muncullah teori Eksistensi. Teori Eksistensi adalah teori
yang menerangkan adanya hukum Islam dan hukum Nasional Indonesia. Menurut
teori ini, eksistensi atau keberadaan hukum Islam dan hukum nasional itu ialah:

a. Ada, dalam arti hukum Islam berada dalam hukum nasional sebagai
bagian yang integral darinya.

b. Ada, dalam arti adanya kemandiriannya yang diakui berkekuatan hukum


nasional dan sebagai hukum nasional.

c. Ada, dalam hukum nasional, dalam arti norma hukum Islam sebagai
penyaring bahan-bahan hukum nasional Indonesia.
Berdasarkan teori Eksistensi diatas, maka keberadaan hukum Islam dalam
tata hukum nasional merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah
adanya. Bahkan lebih dari itu, hukum Islam merupakan bahan utama dari hukum
nasional.

D. Pengauh Teori- Teori Hukum Islam Terhadap Tata Hukum di Indonesia

Menurut Ismail Suny, kedudukan hukum Islam pada masa Hindia Belanda
dibagi menjadi dua periode yaitu: Periode penerimaan hukum Islam sepenuhnya
dan Periode penerimaan hukum Islam dan hukum adat.

Periode penerimaan hukum Islam sepenuhnya, berlangsung pada masa


dianutnya teori Receptio In Complexu, dengan memberlakukan hukum Islam
secara penuh terhadap orang Islam, karena mereka telah memeluk agama Islam.
Sedangkan periode penerimaan hukum Islam oleh hukum adat berlangsung pada
masa dianutnya teori Receptie yang memberlakukan hukum Islam terhadap orang
Islam, apabila hukum Islam itu telah dikehendaki dan diterima serta menjadi
hukum adat mereka. Selanjutnya setelah Indonesia merdeka, kedudukan hukum
Islam dalam ketatanegaraan Indonesia dibagi menjadi dua periode, yaitu
penerimaan hukum Islam sebagai sumber persuasif atau Persuasive Source dan
penerimaan hukum Islam sebagai sumber otoritatif atau Authoritative Source.

Hukum Islam sebagai sumber persuasif yang dalam hukum konstitusi


disebut dengan persuasive source. Yakni bahwa suatu sumber hukum baru dapat
diterima hanya setelah diyakini. Hukum Islam sebagai sumber otoritatif, yang
dalam hukum konstitusi dikenal dengan Authoritative Source, yakni sebagai
sumber hukum yang langsung memiliki kekuatan hukum.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Teori-teori Hukum Islam di Indonesia terdiri dari :

1. Teori Reception In Complexu

Teori Receptio in Complexu ini, dipelopori oleh Lodewijk Willem Christian


van den Berg tahun 1845-1925. Teori Receptio In Complexu menyatakan bahwa
bagi setiap penduduk berlaku hukum agamanya masing-masing.

2. Teori Receptie

Teori Receptie dipelopori oleh Christian Snouck Hurgronje dan Cornelis van
Volenhoven pada tahun 1857-1936. Teori ini dijadikan alat oleh Snouck
Hurgronye agar orang-orang pribumi jangan sampai kuat memegang ajaran Islam
dan hukum Islam.

3. Teori Receptie Exit

Teori Receptie Exit diperkenalkan oleh Prof. Dr. Hazairin, S.H. Menurutnya
setelah Indonesia merdeka, tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
dan Undang-Undang Dasar 1945 dijadikan Undang-Undang Negara Republik
Indonesia, semua peraturan perundang-undangan Hindia Belanda yang
berdasarkan teori Receptie bertentangan dengan jiwa UUD 1945. Dengan
demikian, teori Receptie itu harus exit alias keluar dari tata hukum Indonesia
merdeka.

4. Teori Receptie A Contrario

Teori Receptie Exit yang diperkenalkan oleh Hazairin dikembangkan oleh


Sayuti Thalib, S.H. dengan memperkenalkan Teori Receptie A Contrario. Teori
Receptie A Contrario yang secara harfiah berarti lawan dari Teori Receptie
menyatakan bahwa hukum adat berlaku bagi orang Islam kalau hukum adat itu
tidak bertentangan dengan agama Islam dan hukum Islam.

5. Teori Eksistensi

Menurut Ichtijanto S.A, muncullah teori Eksistensi. Teori Eksistensi adalah


teori yang menerangkan adanya hukum Islam dan hukum Nasional Indonesia.

Pengaruh Hukum Islam terhadap hukum di Indonesia: Periode penerimaan


hukum Islam sepenuhnya, berlangsung pada masa dianutnya teori Receptio In
Complexu, dengan memberlakukan hukum Islam secara penuh terhadap orang
Islam, karena mereka telah memeluk agama Islam. Sedangkan periode
penerimaan hukum Islam oleh hukum adat berlangsung pada masa dianutnya teori
Receptie yang memberlakukan hukum Islam terhadap orang Islam, apabila hukum
Islam itu telah dikehendaki dan diterima serta menjadi hukum adat mereka.
Selanjutnya setelah Indonesia merdeka, kedudukan hukum Islam dalam
ketatanegaraan Indonesia dibagi menjadi dua periode, yaitu penerimaan hukum
Islam sebagai sumber persuasif atau Persuasive Source dan penerimaan hukum
Islam sebagai sumber otoritatif atau Authoritative Source.