Anda di halaman 1dari 175

Makalah Sejarah Peradilan Agama di Indonesia

SEJARAH PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peradilan agama adalah kekuasan negara dalam menerima, memeriksa,


mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara perkawinan,
kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan shodaqah diantara orang-orang islam
untuk menegakkan hukum dan keadilan. Penyelenggaraan Peradilan Agama
dilaksanakan oleh Pengadilan Agama pada Tingkat pertama dan Pengadilan
Tinggi Agama pada Tingkat Banding. Sedangkan pada tingkat kasasi
dilaksanakan oleh Mahkamah Agung. Sebagai pengadilan negara tertinggi.

Pengadilan Agama merupakan salah satu lingkungan peradilan yang diakui


eksistensinya dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang pokok-
pokok kekuasan kehakiman dan yang terakhir telah diganti dengan Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman, merupakan
lembaga peradilan khusus yang ditunjukan kepada umat islam dengan
lingkup kewenangan yang khusus pula,baik perkaranya ataupun para pencari
keadilannya (justiciabel). Disamping peradilan Agama ada juga Peradilan
Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara yang termasuk peradilan khusus.

B. Rumusan Masalah

1. Apa peradilan agama itu?


2. Bagaimana akar historis hukum islam di indonesia ?
3. Bagaimana Eliminasi hukum perdata islam masa penjajah, era
kolonial belanda, awal kemerdekaan sampai dengan pemerintah orde
lama, orde baru, masa reformasi?
4. Bagaimana aplikasi UU nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan
Agama?
5. Bagaimana peradilan agama satu atap dibawah mahkamah agung?

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

A. PENGERTIAN PERADILAN AGAMA

Didalam kamus besar bahasa indonesia Peradilan adalah segala sesuatu


mengenai perkara pengadilan. Dalam ilmu hukum, peradilan dijelaskan oleh
para sarjana hukum indonesia sebagai terjemahan dari rechtspraak dalam
bahasa belanda. Menurut Mahadi, Peradilan adalah suatu proses yang
berakhir dengan memberi keadilan dalam suatu keputusan, proses ini diatur
dalam suatu peraturan hukum acara.jadi peradilan tidak bisa lepas dari
hukum acara.

Menurut abdul gani abdullah menyimpulkan bahwa peradilan adalah


kewenangan suatu lembaga untuk menyelesaikan perkara untuk dan atas
nama hukum demi tegaknya hukum dan keadilan.

B. AKAR HISTORIS HUKUM ISLAM DI INDONESIA

Walaupun merupakan bagian integral syariah Islam dan memiliki


peran signifikan, kompetensi dasar yang dimiliki hukum Islam, tidak
banyak dipahami secara benar dan mendalam oleh masyarakat, bahkan
oleh kalangan ahli hukum itu sendiri. Sebagian besar kalangan
beranggapan, tidak kurang diantaranya kalangan muslim, menancapkan
kesan kejam, incompatible dan of to date dalam konsep hokum
Islam.Ketakutan ini akan semakin jelas adanya apabila mereka
membincangkan hukum pidana Islam, ketentuan pidana potong tangan,
rajam, salab dan qisas telah of to date dan sangat bertentangan dengan
nilai-nilai kemanusian.

Bagaimana dengan perkembangan hukum pidana Islam di Indonesia?


Pertanyaan ini sudah seharusnya diajukan sebab kedudukan hukum perdata
Islam telah terjalin secara luas dalam hukum positif, baik hal itu
sebagai unsur yang mempengaruhi atau sebagai modifikasi norma
agama yang dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan
keperdataan, bahkan tercakup dalam lingkup hokum substansial dari UU
No.7 Tahun 1989 tentang peradilan agama.Sedang hukum Islam dibidang
kepidanaan- untuk menyebut lain dari hukum pidana Islam- belum
mendapat tempat seperti bidang hukum keperdataan Islam.Selain itu,
berbagai kajian akademik yang ada seringkali bersifat politis dan
memperlebar jarak pemahaman hukum pidana positif dengan hukum Islam
bidang kepidanaan.

Dalam perspektif makro-historis, kemajemukan hukum merupakan


realitas sejarah yang tidak dapat dihindarkan.Mazhab Posivisme
berpendapat, bahwa: the development of law formalized for the sake of the
law only. Kalangan ini menolak keras campur tangan politik dalam hukum,
hukum demi hukum, ilmu hukum berbentuk value-free science sedangkan
ilmu politik apalagi jika dikaitkan dengan ilmu sosial berbentuk value-loaded
science.Dalam pandangan kelompok ini prosedur penemuan, pembentukan,
dan pelaksanaan hukum berjalan dalam bingkai aparat hukum an sich,
hukum hanya dapat ditemukan melalui keputusan hakim saja.Adapun
proses pembentukan hokum dibatasi pada produk legitimator yang
disahkan undang-undang . law is a command of the law giver .

Hubungan antara praktek hukum Islam dengan agama Islam dapat


diibaratkan dengan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.Hukum Islam
bersumber dari ajaran Islam, sedangkan ajaran Islam adalah ajaran yang
dipraktekkan pemeluknya . Oleh sebab itu, untuk membicarakan
perkembangan hukum Islam di Indonesia erat hubungannya dengan
penyebaran agama Islam di Indonesia.Oleh karena itu, amat wajar jika kajian
kedudukan hukum Islam pra penjajahan dilakukan dengan asumsi bahwa
tata hukum Islam Indonesia berkembang seiring dengan sampainya dakwah
Islam di Indonesia.

C. PERADILAN AGAMA DI ERA KOLONIAL BELANDA

Dengan masuknya agama islam ke indonesia,maka tata hukum mengalami


perubahan. Hukum islam tidak hanya menggantikan hukum hindu yang
berwujud dalam hukum perdata tetapi juga memasukkan pengaruhnya
kedalam berbagai aspek kehidupan masyarakat pada umumnya. Memasuki
masa penjajahan, pada mulanya pemerintah belanda tidak mau mencampuri
organisasi pengadilan agama. Disamping itu tiap-tiap pengadilan negeri
diadakan pengadilan agama yang mempunyai daerah yang sama walaupun
wewenang pengadilan agama baru yang disebut priesterraad ini dalam
bidang perkawinan dan waris, sesungguhnya staatsblad ini merupakan
pengakuan dan pengukuhan terhadap pengadilan yang telah ada
sebelumnya.

Menurut supomo, pada masa penjajahan belanda terdapat lima tatanan


peradilan:

1. Peradilan gubernemen terbesar diseluruh daerah Hindia-Belanda.


2. Peradilan pribumi terbesar di luar jawa dan madura.
3. Peradilan swapraja,tersebar hampir diseluruh daerah swapraja,
kecuali di pakualaman dan pontianak.
4. Peradilan agama terbesar didaerah-daerah tempat berkedudukan
peradilan gubernemen, dan menjadi bagian dari peradilan pribumi atau
didaerah-daerah swapraja menjadi bagian dari peradilan swapraja.
5. Peradilan desa tersebar didaerah-daerah tempat berkedudukan
peradilan gubernemen. Disamping itu ada juga peradilan desa yag
merupakan bagian dari peradilan pribumi atau peradilan swapraja.

Dengan adanya ketetapan tersebut terdapat perubahan penting dalam


pengadilan agama pada waktu itu yaitu:

Reorganisasi pada dasarnya membentuk pengadilan agama yang baru


disamping landraad (pengadilan negeri) dengan wilayah hukum yang sama,
yaitu rata-rata seluas wilayah kabupaten.
Pengadilan itu menetapkan perkara-perkara yang dipandang masuk dalam
lingkungan kekuasaannya.

Pengadilan agama mendasarkan keputusannya kepada hukum islam


sedangkan landraad mendasarkan keputusannya kepada hukum adat.
Wewenang pengadilan agama dijawa dan madura berdasarkan ketentuan
baru dalam pasal 2a, yang meliputi perkara-perkara sebagai berikut:

1. Perselisihan antara suami istri yang beragama islam.


2. Perkara-perkara tentang, pernikahan, talak, rujuk, dan perceraian
antara orang-orang yang beragama islam yang memerlukan perantara
hakim agama islam.
3. Menyelenggaraka perceraian
4. Menyatakan bahwa syarat untuk jatuhnya talak yang digantungkan
(taliq al-thalaq) telah ada.
5. Perkara mahar atau maskawin.
6. Perkara tentang keperluan kehidupan istri yang wajib diadakanoleh
suami.

Namun perkara tersebut tidak sepenuhnya menjadi wewenang dari


pengadilan agama. Dan dalam perkara-perkara tersebut apabila terdapat
tuntutan untuk pembayaran dengan uang maupun harta benda ataupun
dengan barang tertentu, maka harus diperiksa atau diputus oleh landraad
(pengadilan negeri).

D. ELIMINASI HUKUM PERDATA ISLAM MASA PENJAJAH

Dalam banyak kajian, perkembangan hukum Islam pada masa penjajahan


sangat dipengaruhi oleh politik pemerintahan Belanda.Pada awal
kedatangannya, Belanda telah melihat hukum Islam dipraktekkan
masyarakat nusantara, baik dalam peradilan, praktek harian maupun
keyakinan hukum.Sikap politik VOC terhadap Islam dipengaruhi oleh
kepentingan perdagangan rempah-rempah dan perluasan pasar .

Oleh sebab itu, exsistensi hukum Islam pada awal kedatangan VOC nyaris
tidak berubah seperti masa kerajaan Islam, rakyat berhak mempraktekkan
hukum Islam dan pemerintahan kerajaan Islam masih mempunyai
wewenang legislatif . Selain faktor di atas, penyebab utama kebijakan
toleransi praktek hukum Islam di Indonesia adalah, perhatian utama
kompeni terhadap Islam hanya bersifat temporal dan kasuistik, yaitu
pada saat muncul alasan untuk mencemaskan pengacau ketertiban melalui
peristiwa keagamaan yang menyolok .

Kebijakan hukum Deandles misalnya, sebagaimana yang tertuang dalam


Charter voor de aziastisce bezittingen van de bataafsce republiek, Pasal
86 : De rechtspleging onder den Inlander zal blijven geschieden
volgens hunne eigenne wetten en gewoonten.Het Indische bestuur zal door
gepaste middelijn zoergen dat dezelve in die territoiren, welke onmiddelijk
staan onder de opperheerschappij van den staat, soveel mogelijk worde
gezuiverd van ingenslopen misbruiken, tegen den inlandsche wetten of
gebruiken strijdende, en het bekomen van spoedige en goede justitie,....
Sikap toleransi di atas, pelan tapi pasti kemudian berakhir seiring
dengan diterimanya octrooi oleh VOC dari staten general pada tahun 1602.
Dalam pasal 35 octrooi tersebut, VOC mendapat kekuasaan untuk
mengangkat officieren van justitie. Pada waktu pengangkatan dari
gouverneur general ( wali negeri ) yang pertama serta Dewan Hindia pada
tanggal 27 November 1609.Dewan ini juga diperintahkan menengahi
perkara perdata maupun pidana .

Oleh sebab itu, beberapa wilayah VOC di nusantara memberlakukan


unifikasi hukum walaupun pada perkembangan selanjutnya unifikasihukum
tersebut gagal. Sebagai akibat dari kegegalan tersebut, pada tahun 1642
VOC mengukuhkan statuta Batavia dan memberikan legitimasi juridis
praktek pembagian waris Islam masyarakat Indonesia . Pengakuan tersebut
kemudian diikuti dengan pengakuan praktek hukum Islam di daerah lain,
yaitu praktek hukum Islam masyarakat Bone dan Gowa di Sulawesi Selatan
.

E. PERADILAN AGAMA PADA AWAL KEMERDEKAAN SAMPAI


DENGAN PEMERINTAH ORDE LAMA
Pada awal tahun 1946 dbentuklah kementrian agama. Departemen agama
dimugkinkan melakukan konsolidasin atas seluruh administrasi lembaga-
lembaga islam dalam sebuah badan yang bersifat nasional.

Adapun kekuasaan pengadilan agama / mahkamah syariyah menurut


ketetapan pasal 4 PP adalah sebagai berikut:

Pengadilan agama / mahkamah syariyah memeriksa dan memutuskan


perselisihan antara suami isteri dan semua perkara yang menurut hukum
yang hidup diputus menurut hukum agama islam.
Pengadilan agama / mahkamah syariyah tidak berhak memeriksa
perkara-perkara tersebutdalam ayat 1 jika untuk perkara berlaku lain dari
pada hukum agama islam.

Pada masa kemerdekaan, Pengadilan Agama atau Mahkamah Agung Islam


Tinggi yang telah ada berlaku berdasarkan aturan peralihan. Selang tiga
bulan berdirinya Departemen Agama yang dibentuk melalui keputusan
pemerintah. Setelah Pengadilan Agama diserahkan pada Departemen Agama
masih ada pihak tertentu yang berusaha menghapuskan keberadaan
pengadilan agama. Pengadilan agama selanjutnya ditempatkan dibawah
tanggung jawab jawatan urusan agama.

Dengan demikian secara singkat dapat disebutkan bahwa pada periode 1945
- 1966 terdapat empat lingkungan peradilan yaitu:peradilan umum,
peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usahan negara.
Keempat lingkungan tersebut bukanlah kekuasaan yang merdeka secara
utuh, melainkan masih dapat intervensi dari kekuasan lain.

F. PERADILAN AGAMA PADA MASA ORDE BARU

Pada masa orde baru kekuasaan dari lembaga peradilan (yudikatif)


mengalami perkembangan yang signifikan yaitu dengan diundangkannya
undang-undang nomor 14 tahun 1970 tentang pokok-pokok kekuasaan
kehakiman yang mana dalam undang-undang ini kekuasaan kehakiman
dilaksanakan oleh empat lingkungan peradilan yang ada yaitu peradilan
umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara
yang semuanya berada dibawah Mahkamah Agung.

G. PERADILAN AGAMA PADA MASA REFORMASI

Dalam pasal 1 Undang-Undang menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman


adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila, demi
terselenggaranyanegara hukum indonesia. Penyelenggaraannya
sebagaimana dalam pasal 1 itu dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang dibawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan
Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer dan lingkungan Tata Usaha
Negara oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

Dengan demikian secara tegas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan


independensi kekuasaan kehakiman dengan tuntutan reformasi dibidang
kekuasaan yang menghendaki kekuasaan kehakiman benar-benar merdeka
bebas dari campur tangan kekuasaan lain.

Dengan demikian pada Era Reformasi, khususnya setelah berlangsungnya


proses amandemen terhadap UUD 1945 terdapat dua lembaga yang
memegang kekuasaan kehakiman (yudicial power) yaitu Mahkamah Agung
dan Mahkamah Konstitusi.

H. UU NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

Undang-Undang nomor 7 ini disahkan dan diundangkan tanggal 29


Desember Tahun 1989 ditempatkan dalam lembaran Negara RI nomor 49
tahun 1989 dan tambahan dalam lembaran negara nomor 3400. Isi dari
undang-undang nomor 7 tahun 1989 terdiri atas tujuh Bab, meliputi 108
pasal. Ketujuh Bab tersebut adalah ketentuan umum, susunan pengadilan,
kekuasaan pengadila, hukum acara, ketentuan-ketentuan lain, ketentuan
peralihan dan ketentuan penutup.

Perubahan pertama,tentang dasar hukum penyelenggaraan peradilan,


sebelum UU nomor 7 tahun 1989 berlaku dasar penyelenggaraan peradilan
braneka ragam. Sebagian merupakan produk pemerintahan belanda, dan
sebagian merupakan produk pemerintah republik indonesia. Sejak
berlakunya UU nomor 7 tahun 1989 semua peraturan perundang-undangan
dinyatakan tidak berlaku lagi.
Perubahan kedua, tentang kedudukan pengadilan.. Berdasarkan UU Nomor 7
tahun 1989 kedudukan pengadilan dalam lingkungan peradilan agama
sejajar dengan pengadilan dalam lingkungan peradilan lainnya,khususnya
dengan pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.

Perubahan ketiga, tentang kedudukan hakim. Menurut ketentuan pasal 15


ayat (1), hakim diagkat dan diberhentikan oleh presiden selaku kepala
negara atas usul menteri agama berdasarkan persetujuan mahkamah agung.
Dalam menjalankan tugasnya, hakim memiliki kebebasan untuk membuat
putusan terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh pihak lainnya.

Perubahan keempat, tentang wewenang pengadilan. Menurut ketentuan


pasal 49 ayat (1), pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa,
memutus dan menyelesaikan perkara-perkara untuk orang Islam.

Perubahan kelima, tentang hukum acara. Hukum acara yang berlaku pada
pengadilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada
pengadilan dalam lingkungan peradilan umum, kecuali yang telah diatur
secara khusus dalam undang-undang-undang ini.

Perubahan keenam, tentang penyelenggaraan administrasi peradilan. Di


pengadilan dalam lingkungan peradilan agama ada dua jenis administrasi
yaitu,administrasi peradilan dan administrasi umum.

Perubahan ketujuh, tentang perlindungan terhadap wanita. Ketentuan tidak


berlaku pada pengadilan dalam lingkungan peradilan agama, dan tidak pula
dihapuskan.

I. PERADILAN AGAMA SATU ATAP DIBAWAH MAHKAMAH AGUNG


(ONE ROOF SYSTEM OF JUDICIAL)
Kekuasaan eksekutif salah satu contoh bahwa pembinaan secara
organisatoris, administratif dan finansial berada ditangan eksekutif.
Mahkamah Agung hanya melakukan pembinaan terhadap empat lingkungan
peradilan secara teknis justicial. Masuknya pihak eksekutif dalam kekuasaan
kehakiman disinyalir sebagai salah satu sebab mengapa kekuasaan
kehakiman dinegeri ini tidak independen sebagaimana seharusnya.

Oleh karena itu banyak muncul tuntutan dari berbagai pihak agar kekuasaan
kehakiman harus bersifat independen, salah satunya adalah dalam hal
mekanisme pembinaannya. Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang
Pokok-Pokok kekuasaan kehakiman merupakan undang-undang yang
menganut sistem dua atap (double roof system).

1. Sistem peradilan satu atap adalah suatu kebijakan yang potensial


menimbulkan implikasi, baik yang diharapkan maupun yang tidak
diharapkan. Implikasi yang perlu diantisipasi dengan adanya sistem antara
lain:
2. Ditinjau dari ajaran Trias politica dengan satu atap, pemisahan
kekuasaan kehakiman dari kekuasaan legislatif dan eksekutif menjadi lebih
murni.
3. Satu atap juga dapat menimbulkan konsekuensi pertanggungjawaban
kekuasaan kehakiman, selain harus bertanggungjawab secara teknis
yusticial juga secara administratif.
4. Ada kekhawatiran sistem satu atap justru akan melahirkan
kesewenang-wenangan pengadilan atau hakim, karena dengan satu atap
tidak ada lagi lembaga lain yang mengawasi prilaku hakim.
5. Dalam praktikmya pengawasan terhadap hakim yang nakal menjadi
sulit karena urusan gaji dan administrasi berada didepartemen kehakiman.
Sistem satu atap akan lebih baik ketika diiringi oleh keberadaan komisi
yudisial.Satu atap akan mempersingkat berbagai urusan dan
memudahkan komunikasi.

Sementara terhadap Mahkamah Konstitusi segala hal yang terkait dengan


pelaksanaan tugas dan fungsinya menjadi wewenang secara internal.
Adapun mengenai Mahkamah Konstitusi ini diatur dalam undang- undang
Nomer 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

Selain Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi terdapat lembaga Negara


lain yang berhubungan dengan kekuasan kehakiman yaitu komisi yudisial,
yang mempunyai tugas dan kewenangan antara lain melakukan seleksi calon
Hakim Agung dan menjadi pengawas terhadap kinerja hakim secara
keseluruhan.

Dengan demikian sistem peradilan yang ada di negara kita telah


memadahi,sehingga yang terpenting untuk saat ini adalah membangun
moral dari aparat penegak hukum itu sendiri. Termasuk di dalamnya dapat
ditempuh melalui jalur pendidikan hukum yang menekankan pada aspek
pengetahuan(know ledge),keahlian(skill),dan nilai(values). Sehingga para
calon penegak hukum yang dihasilkan nantinya di samping memiliki keahlian
di bidang hukum juga menjunjung tinggi moral dan etika .

Termasuk dalam hal ini peradilan agama yang telah memiliki komptensi
selain di bidang hukum keluarga juga hukum perdata lain dalam hal ini yang
berkaitan dengan ekonomisyariah.Sehingga dengan sistem satu atap ini
,maka diperlukan SDM hakim pengadilan agama yang benar-benar
menguasai bidang Ekonomi Syariah.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penyelesaian perselisihan dan persengketaan di dalam kehidupan


masyarakat itu sangat dbutuhkan. Adapun peradilan adalah kekuasaan
negara dalam menerima, memeriksa, mengadili, memutus, dan
menyelesaikan perkara untuk menegakkan hukum dan keadilan.

Penyelenggaraan Peradilan Agama dilaksanakan oleh Pengadilan Agama


tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Agama pada tingkat banding.
Sedangkan pada tingkat kasasi dilaksanakan oleh Mahkamah Agung, sebagai
Pengadilan Negara Tertinggi.

Pada masa Kolonial Belanda tidak mau mencampuri organisasi Pengadilan


Agama. Dan terdapat perubahan yang cukup peting yaitu Reorganisasi yang
membentuk Pengadilan Agama yang baru disamping landraad dengan
wilayah hukum yang sama dan Pengadilan yang menetapkan perkara-
perkara yang masuk dalam lingkungan kekuasaannya.

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang


mempunyai beberapa Bab yaitu Ketentuan Umum, Susunan pengadilan,
Kekuasaan Pengadilan, dan Ketentuan Penutup.
Pada masa kolonial Belanda Pengadilan Agama disebut priesterraad.
Sistem Peradilan Agama Satu Atap Dibawah Mahkamah Agung (One Roof
System Of Judicial)

-----------------------------------
DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, Ahmad, Dimensi Hukum Islam dalam sistem Hukum Nasional


Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press , 1996.
Ali, Muhammad Daud, Hukum Islam dan Peradilan Agama, Jakarta: Rajawali
Press, 1997.
Ali, Muhammad Daud, Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum
Indonesia, dalam Taufiq Abdullah dan Syahron Siddiq, Tradisi dan
Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, terj.Rohman Ahwan, Jakarta: LP3ES,
1988.
Anshari, Abdul Ghofur, Peradilan Agama Di Indonesia Pasca UU No. 3 Tahun
2006 (sejarah, kedudukan dan kewenangan), Yogyakarta: UII Press, tt.
Arto, Mukti, Mencari Keadilan, Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantra
Abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan, 1994.
Benda, Harry J., Bulan Sabit dan Matahari Terbit, Islam Indonesia Pada
Masa Pendudukan Jepang, Jakarta: Pustaka Jaya, 1980.
Bisri, Hasan, Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada), tt.
Douwes, Dick dkk, Indonesia dan Haji, Jakarta: INIS, 1997.
Fajar, A. Malik (Menag.RI), Potret Hukum Pidana Islam; Deskripsi, Analisis
Perbandingan dan Kritik Konstruktif dalam Naskah Seminar Nasional, Pidana
Islam di Indonesia, Jakarta ; Pustaka Firdaus, 2001.
Hasyim, A., Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia,
Bandung: Al-Maarif, 1989
Lukito, Ratno, Islamic Law and Adat Encounter, Jakarta: Logos, 2001.
Mertokusumo, Sudikno, Penemuan Hukum : Sebuah Pengantar,
Jogjakarta: Liberty, 1996.
Rahardjo, Satjipto, Hukum dan Masyarakat, Bandung: Angkasa 1988.
Rahardjo, Satjipto, Beberapa pemikiran tentang Ancangan Antar Disiplin
dalam Pembinaan Hukum Nasional, Bandung: BPHN dan Alumni, 1985.
Rasjidi, Lili, Filsafat Hukum, Bandung: Remaja Karya, 1985.
Suminto, Aqib, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: LP3S, 1985.
Supomo, Sejarah Politik Hukum Adat, Jakarta: Pradya Paramita, Vol. I,
1982.

MAKALAH SEJARAH PERADILAN AGAMA DI INDONESIA


SEBELUM MERDEKA SAMAPAI TAHUN 1989
Saturday, 30 May 20152comments
Oleh : Desbayy
PENDAHULUAN
Berbicara sejarah peradilan agama yang ada di Indonesia berarti mengingatkan kita pada
awal mula islam masuk di Indonesia yang untuk pertama kali pada abad pertama hijriah (1 H/ 7
M) yang dibawa langsung dari Arab oleh saudagar saudagar dari Mekkah dan Madinah yang
masyarakat mulai melaksanakan ajaran dan aturan agama Islam dalam kehidupan sehari hari
yang tersumber pada kitab fiqih.
Seperti kita ketahui bersama bahwa Perjalanan kehidupan pengadilan agama mengalami
pasang surut. Adakalanya wewenang dan kekuasaan yang dimilikinya sesuai dengan nilai nilai
Islam dan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Pada kesempatan lain kekuasaan dan
wewenangnya dibatasi dengan berbagai kebijakan dan peraturan perundang undangan, bahkan
sering kali mengalami berbagai rekayasa dari penguasa dan golongan masyarakat tertentu agar
posisi pengadilan agama melemah.
Sebelum Melancarkan politik hukumnya di Indonesia, hukum Islam sebagai hukum yang
berdiri sendiri telah mempunyai kedudukan yang kuat, baik dimasyarakat maupun dalam
peraturan perundang undangan negara.Kekerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia
melakukan hukum Islam dalam wilayah hukumnya masing masing.Kerajaan Islam Pasal yang
berdiri di Aceh Utara pada akhir abad ke 13 M, merupakan kerajaan Islam pertama yang
kemudian diikuti dengan berdirinya kerajaan kerjaan Islam lainnya, misalnya: Demak, Jepara,
Tuban, Gresik, Ngampel dan Banten.Di bagian Timur Indonesia berdiri pula kerajaan Islam,
seperti: Tidore dan Makasar.Pada pertengahan abad ke 16, suatu dinasti baru, yaitu kerjaan
Mataram memerintah Jawa Tengah, dan akhirnya berhasil menaklukan kerajaan kerajaan kecil
di pesisir utara, sangat besar perannya dalam penyebaran Islam di Nusantara.Dengan masuknya
penguasa kerajaan Mataram ke dalam agama Islam, maka pada permulaan abad ke 17 M
penyebaran agama Islam hampir meliputi sebagian besar wilayah Indonesia.
Peradilan Agama di Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang. Jauh sebelum
kemerdekaan, sistem peradilan agama sudah lahir. Oleh karena itu, sebelum membahas tentang
peradilan agama pada masa pra kemerdekaan, selayaknya perlu untuk menarik sejarah ini jauh
kebelakang sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya pada masa
kerajaan dan akan dijbarkan terus oleh penulis sampai pada undang-udang nomor 7 tahun 1989
tentang peradilan agama.

ISI
Sebelum Islam datang ke Indonesia telah ada dua macam peradilan, yaitu Peradilan Pradata
dan Peradilan Padu.Materi hukum Peradilan Pradata bersumber dari ajaran Hindhu dan ditulis
dlam Papakem. Sedangkan Peradilan Padu menggunakan hukum materiil tidak tertulis yang
berasal dari kebiasaan kebiasaan masyarakat. Dalam prateknya, Peradilan Pradata menangani
persoalan persoalan yang berhubungan dengan wewenang raja, sedangkan Peradilan Padu
menangani perosalan persoalan yang tidak berhubungan dengan wewenang raja. Keberadaan
dua sistem peradilan ini berakhir setelah raja Mataram menggantikan dengan sistem Peradilan
Serambi yang berasaskan Islam. Penggantian ini bertujuan untuk menjaga integrasi wilayah
kerajan Mataram.
Peradilan Agama sebagai bagian dari mekanisme penyelenggaraan kenegaraan pernah
mengalami pasang surut ketika Sultan Agung meninggal dan digantikan oleh Amangkurat I.
Amangkurat I pernah menutup Peradilan Agama dan menghidupkan kembali Peradilan Pradata.
Setelah masa ini Peradilan Agama eksis kembali. Hal ini dibuktikan dengan diterbitkannya
sebuah kitab hukum Islam Shirath al Mustaqin yang ditulis Nurudin Ar Raniri. Kitab ini
menjadi rujukan para hakim di Indonesia.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Peradilan Agama mendapat pengakuan secara
resmi. Pada tahun 1882 pemerintah kolonial mengeluarkan Staatsblad No.152 yang merupakan
pengakuan resmi terhadap eksistensi Peradilan Agama dan hukum Islam di Indonesia di wilayah
Jawa dan Madura.
Karena Staatsblad ini tidak berjalan efektif dan karena pengaruh teori reseptie (Prof.
Crhristian Snouck hurgrounye), maka pada tahun 1937 keluarlah staatsblad 1937 No. 116.
Staatsblad ini mencabut wewenang yang dipunyai oleh Peradilan Agama dalam persoalan waris
dan masalah masalah lain yang berhubungan dengan harta benda, terutama tanah. Sejak itulah
kompetensi Peradilan Agama hanya pada masalah perkawinan dan perceraian. Sebagaimana
yang telah dijelaskan diatas, bahwa Peradilan Agama pada masa ini tidak dapat melaksanakan
keputusannya sendiri, melainkan harus dimintakan pegukuhan dari Peradilan Negeri.
Pengurangan terhadap kompetensi Peradilan Agama tersebut tentunya sangat
mengecewakan masyarakat muslim Indonesia karena Peradilan Agama pada waktu itu betul
betul mereka anggap sebagai lembaga peradilan layaknya lembaga peradilan, bukan sebagai
lembaga agama semata. Belum lagi pada masa ini Peradilan Agama hanya dapat menghidupi
dirinya sendiri melalui ongkos perkara yang diterimanya. Hal ini dilakukan karena pemerintah
kolonial tidak pernah mensubsidi Peradilan Agama untuk pengelolah administrasinya, termasuk
tidak menggaji hakim dan pegawainya. Kenyataan bahwa hakim dan pegawai Peradilan Agama
menerima uang dari mereka yang menggunakan jasa peradilan inilah yang belakangan dipakai
sebagai alat oleh Belanda untuk mengatakan bahwa Paradilan Agama adalah sarang korupsi.
Demikian liku liku eksistensi Peradilan Agama pada masa kerajaan serta penjajahan
Belanda. Sedangkan pada masa penjajahan Jepang tidak ada perubahan signifikan tentang
eksistensi Peradilan Agama sampai memasuki kemerdekaan dan terbentuknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

1. Periode 1945 1957


Pada awal tahun 1946, tepatnya tanggal 3 Januari 1946, dibentuklah Kementiran Agama.
Departemen Agama dimungkinkan konsolidasi atas seluruh administrasi lembaga lembaga
Islam dalam sebuah badan yang bersifat nasional. Berlakunya UU No. 22 tahun 1946
menunjukkan dengan jelas maksud maksud untuk mempersatukan administrasi Nikah, Talak
dan Rujuk di seluruh Indonesia di bawah pengawasan Departemen Agama sendiri.
Pada masa ini, Pengadilan Agama dan Mahkamah Islam Tinggi yang telah ada tetap
berlaku berdasarkan Aturan Peralihan. Selang tiga bulan berdirinya Departemen Agama yang
dibentuk melalui Keputusan Pemerintah Nomor 1, Pemerintah menegluarkan penetapan No. 5
tanggal 25 Maret 1946 yang memindahkan semua urusan mengenai Mahkamah Islam Tinggi dari
Departemen Kehakiman kepada Departemen Agama. Sejak saat itulah peradilan agama menjadi
bagian penting dari Departemen Agama.
Setelah Pengadilan Agama diserahkan pada Departemen Agama, masih ada sementara
pihak tertentu yang berusaha menghapuskan keberadaan Peradilan Agama. Usaha pertama
dilakukan melalui Undang Undang Nomor 19 Tahun 1948. Usaha kedua melalui Undang
Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang Susunan Kekuasaan Peradilan Sipil. Usaha
usaha yang mengarah pada penghapusan Peradilan Agama ini menggugah minat untuk lebih
memperhatikan Pengadilan Agama. Pengadilan Agama selanjutnya ditempatkan dibawah
tanggung jawab Jawatan Urusan Agama. Penetapan Pengadilan Agama di bawah Departemen
Agama merupakan langkah yang menguntungkan sekaligus sebagai langkah pengamanan, karena
meskipun Indonesia merdeka, namun pengaruh teori receptie yang berupaya untuk mengeliminir
Peradilan Agama masih tetap hidup. Hal ini terbukti dengan lahirnya Undang Undang Nomor
19 Tahun 1948 yang menyatakan bahwa Peradilan Agama akan dimasukkan secara istimewa
dalam susunan Peradilan Umum, yaitu bahwa perkara perkara antara orang Islam yang
menurut hukum yang hidup (living law) harus dipatuhi menurut hukum Islam, harus diperiksa
oleh badan Peradilan Umum dalam semua tingkatan Peradilan, terdiri dari seorang hakim yang
beragama Islam sebagai ketua dan dua hakim ahli agama Islam sebagai anggota, yang diangkat
oleh presiden atas usul Menteri Agama dengan persetujuan Menteri Kehakiman.
Dalam rentang waktu 12 tahun sejak proklamasi kemerdekaan RI (1945 1957) ada tujuh
hal yang dapat di ungkapkan yang terkait langsung dengan peradilan agama di Indonesia:
a. Berkaitan dengan penyerahan kementrian agama melalui penetapan pemerintah No.5
SD tanggal 25 maret 1946.

b. Lahirnya UU No.22/1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk

c. Lahirnya UU No.19/1948 tentang susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman.

d. Masa Indonesia RIS (Republik Indonesia Serikat) tanggal 27 desember 1946 17 agustus
1950.

e. Lahirnya UU darurat No.1/1951 tantang tindakan-tindakan sementara untuk


menyelenggarakan kesatuan susunan kekuasaan dan acara-acara pengadilan pengadilan
sipil.

f. Lahirnya UU No.32/1954 tentang Nikah, Talak, dan Rujuk diluar Jawa dan Madura.

2. Periode 1957 1974


Peradilan Agama dalam rentang waktu lebih kurang 17 tahun, yakni tahun 1957 1974 ada
4 hal yang perlu kita ketahui dengan kelahiran PP dan UU yakni PP No.29/1957 PP No.45/1957,
UU No.19/1970 dan penambahan kantor dan cabang kantor peradilan agama .(Basiq Djalil,
2006:73)
Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1964 disahkan UU No. 19 Tahun 1964 tentang
Ketentuan Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman. Menurut undang undang ini, Peradilan
Negara Republik Indonesia menjalankan dan melaksanakan hukum yang mempunyai fungsi
pengayoman yang dilaksanakan dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan
Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara. Namun tidak lama kemudian, undang undang ini
diganti dengan UU No. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Pokok
Kehakiman karena sudah dianggap tidak sesuai lagi dengan keadaan. Dalam Undang Undang
baru ini ditegaskan bahwa Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka. Ditegaskan
demikian karena sejak tahun 1945 1966 keempat lingkungan peradilan diatas bukanlah
kekuasaan yang merdeka secara utuh, melainkan disana sini masih mendapatkan intervensi dari
kekuasaan lain.
Undang undang No. 14 tahun 1970 merupakan undang undang organik, sehingga perlu
adanya undang undang lain sebagai peraturan pelaksanaannya, yaitu undang undang yang
berkait dengan Peradilan Umum, Peradilan Militer, Peradilan Tata Usaha Negara, termasuk juga
Peradilan Agama.

3. Periode 1974 1989


Dalam masa kurang lebih 15 tahun yakni menjelang disahkannya UU No.1/1974 tentang
perkawinan sampai menjelang lahirnya UU No.7/1989 tentang peradilan agama. Ada dua hal
yang menonjol dalam perjalanan peradilan agama di Indonesia:

1. Tentang proses lahirnya UU No.1/1974 tentang perkawinan dengan peraturan


pelaksanaannya PP No.9/1974
2. Tentang lahirnya PP No.28/1977 tentang perwakafan tanah milik, sekarang telah
diperbaharui UU No.41/2004 tentang wakaf.

Terlepas dari itu semua, harus diakui bahwa UU No. 1 tahun 1974 ini sangat berarti dalam
perkembangan Peradilan Agama di Indonesia, karena selain menyelamatkan keberadaan
Peradilan Agama sendiri, sejak disahkan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo. PP No. 9
tahun 1975 tentang peraturan Pelaksanaanya, maka terbit pulalah ketentuan Hukum Acara di
Peradilan Agama, biarpun baru sebagian kecil saja. Ketentuan Hukum Acara yang berlaku
dilingkungan Peradilan Agama baru disebutkan secara tegas sejak diterbitkan UU No.7 tahun
1989 tentang Peradilan Agama. Hukum Acara yang dimaksud diletakkan Bab IV yang terdiri dari
37 pasal.
Terlepas dari gencarnya pro dan kontra perihal pengesahan UU No.7 tahun 1989 diatas,
bahkan tak kurang dari empat ratus artikel tentang tanggapan pro dan kontra tersebut dimuat di
media massa, namun akhirnya pada tanggal 27 Desember 1989 UU No.7 tahun 1989 tentang
Peradilan Agama disahkan oleh DPR yang kemudian yang diikuti dengan dikeluarkannya Inpres
No.1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Dengan disahkan UU tersebut bukan saja
menyejajarkan kedudukan Pradilan Agama dengan lembaga peradilan peradilan lain,
melainkan juga mengembangkan kompetensi Peradilan Agama yang dulu pernah dimilikinya
pada zaman kolonial. Pasal 49 UU itu menyatakan bahwa Pradilan Agama bertugas
danberwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di bidang:

a. Perkawinan

b. Kewarisan, wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam

c. Wakaf dan shodaqoh

Dalam pasal 49 ayat 3 dinyatakan bahwa:


Bidang kewarisan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf b ialah penentuan siapa siapa
yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian bagian ahli
waris dan melaksanakan pembagian pada harta peninggalan tersebut.
Dalam ayat 3 diatas terlihat bahwa Pengadilan Agama memiliki kekuatan hukum untuk
melaksanakan keputusannya sendiri, tidak perlu meminta executoir verklaring lagi dari
Pengadilan Umum.

PENUTUP
Secara politis, pengakuan Peradilan Agama oleh negara juga merupakan lompatan seratus
tahun sejak pertama kali peradilan ini di akui oleh pemerintah pada tahun 1882. Peradilan Agama
adalah simbol kekuatan dan politik Islam
Penyelesaian perselisihan dan persengketaan di dalam kehidupan masyarakat itu sangat
dbutuhkan. Adapun peradilan adalah kekuasaan negara dalam menerima, memeriksa, mengadili,
memutus, dan menyelesaikan perkara untuk menegakkan hukum dan keadilan.
Pada masa Kolonial Belanda tidak mau mencampuri organisasi Pengadilan Agama. Dan
terdapat perubahan yang cukup penting yaitu Reorganisasi yang membentuk Pengadilan Agama
yang baru disamping landraad dengan wilayah hukum yang sama dan Pengadilan yang
menetapkan perkara-perkara yang masuk dalam lingkungan kekuasaannya.
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang mempunyai
beberapa Bab yaitu Ketentuan Umum, Susunan pengadilan, Kekuasaan Pengadilan, dan
Ketentuan Penutup.

Daftar Pustaka
http://dangstars.blogspot.com/2013/02/sejarah-peradilan-agama-di-indonesia.html, diunduh pada tanggal
30 Maret 2014, pukul 21.23 WIB
http://gubukhukum.blogspot.com/2012/02/sejarah-peradilan-agama-di-indonesia.html, diunduh pada
tanggal 30 Maret 2014, pukul 21.45 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Peradilan_agama, diunduh pada tanggal 30 Maret 2014, pukul 21.54 WIB
http://www.referensimakalah.com/2012/01/wewenang-pengadilan-agama_1711.html, diunduh pada
tanggal 30 Maret 2014, pukul 21.59 WIB
http://kbpa-uinjkt.blogspot.com/2011/10/peradilan-agama-di-indonesia-lahirnya.html, diunduh pada
tanggal 30 Maret 2014, pukul 22.10 WIB

TUGAS MAKALAH SEJARAH PERADILAN ISLAM SEJARAH


PERADILAN ISLAM MULAI MASA AWAL KEMERDEKAAN
SAMPAI MASA REFORMASI HINGGA SAAT INI

TUGAS MAKALAH SEJARAH PERADILAN ISLAM


SEJARAH PERADILAN ISLAM MULAI MASA AWAL KEMERDEKAAN
SAMPAI MASA REFORMASI HINGGA SAAT INI

Dosen pengampu materi


Drs. Rokhmat M.S.I

Di susun
Oleh:Zainal mustofa
JURUSAN SYARIAH
PROGRAM STUDI AHWAL AL-SYAKHSHIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
TEMANGGUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Bismillahirrokhmanirro khiim.
jika kita bicara sejarah peradilan,maka akan muncul di benak kita tentang bagaimana
peradilan dan sistem hukum yang berlaku dari masa ke masa yang tentu tidak terlepas
dari sejarah sebuah perubahan peradapan manusia di muka bumi ini,mulai dari awal
munculnya permasalahan yang di alami oleh nabiullah Adam AS karena telah
melakukan kesalahan dengan menerjang apa yang menjadi larangan allah swt yang
pada ahirnya allah memberikan sebuah hukuman kepada nabi adam AS dengan
menurunkanya ke muka bumi ini sebagai konskwensi atas apa yang telah di lakukan
oleh nabiullah adam AS,yang pada khaqiqaktnya peristiwa itu adalah sebuah
pembelajaran yang di berikan allah kepada seluruh mahluqnya termasuk manusia agar
tau bahwa setiap perbuatan yang di lakukan pasti akan ada balasanya sebagai
konsekwensinya,artinya memberikan pembelajaran agar kita menjadi mahluq yang
bertanggung jawab.
Artinya. dapat kita fahami bahwa sebuah hukum/kebijakan/aturan yang intinya untuk
menumbuhkan keadilan dan rasa tanggung jawab sudah allah berikan pendidikan
kepada seluruh mahluq di bumi ini mulai dari awalnya allah menciptakan nabi Adam AS
hingga menjadi mata rantai dan rujukan adanya sebuah sistem peradilan yang di
bangun dan di kembangkan sesuai perkembangan zaman hingga sampai saat ini.
Kemudian apabila kita melihat dan membaca ke dalam ruang lingkup yang sempit yaitu
ruang lingkup bangsa dan negara kita sendiri yaitu negara indonesia, maka kita akan
tau bahwa bangsa kita adalah bangsa yang di dapatkan melalui sebuah perjuangan dan
perebutan dari kekuasaan penjajah,mulai dari belanda dan jepang,dapat kita ketahui
bahwa bangsa kita bangsa yang terlahir masih sangat muda dan baru 69 tahun bangsa
ini berdiri dan menyatakan diri atas kemerdekaanya yaitu berawal pada 17
agustus thun 1945 yang di pelopori oleh soekarno hata atas nama bangsa indonesia
yang sekaligus sebagai presiden dan wakil presiden indonesia yang pertama kali.
Dari situlah mulai terlahir juga sebuah hukum di indonesia dan tatanan yang di sebut
dengan undang-undang dasar 1945 yang menjadi raga dari PANCASILA yang di sini
menjadi ruhnya,yang artinya di dalam undang-undang dasar 1945 yang sekarang
sudah di amandeman, terdiri dari 16 bab- 37 pasal-49 ayat dan 4 pasal peralihan dan 2
ayat aturan tambahan yang semua itu harus selaras dan sesuai dengan pancasila
sebagai pondasi dan cita-cita bangsa indonesia.

A. Latar Belakang

Hukum Islam masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam ke nusantara. Sejak agama
Islam dianut oleh penduduk, hukum Islampun mulai diberlakukan dalam tata kehidupan
bermasyarakat.Perkembangan hukum Islam juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintahan
kolonial Belanda, yang berusaha menghambat berlakunya hukum Islam dengan berbagai
cara.Kedudukan hukum Islam dalam tata hukum di Indonesia mengalami pasang surut.

Hukum Islam bukan satu-satunya sistem hukum yang berlaku, tetapi terdapat sistem hukum lain,
yaitu hukum adat dan hukum Barat. Ketiga sistem hukum ini saling pengaruh mempengaruhi
dalam upaya pembentukan sistem hukum nasional di Indonesia. Ketika Indonesia merdeka,
kedudukan hukum Islam mulai diperhitungkan dan diakui keberadaannya sebagai salah satu
sistem hukum yang berlaku.
Pada masa berikutnya hukum Islam mulai mewarnai hukum nasional. Banyak peraturan
perundang-undangan yang disusun berdasarkan ketentuan hukum Islam, baik yang berlaku
nasional maupun khusus bagi umat Islam. Gejala mutakhir perkembangan hukum Islam adalah
munculnya gerakan otonomisasi hukum Islam di sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini ditandai
dengan banyaknya aturan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah terkait dengan
penerapan hukum Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Peradilan Islam Masa Awal Kemerdekaan ?


2. Bagaimana Peradilan Islam Masa Orde Baru ?
3. Bagaiman Peradilan Islam reformasi sampai sekarang ?

C. Tujuan

1. Agar mengetahui peradilan islam masa awal kemerdekaan


2. Agar mengerti peradilan islam pada masa orde baru
3. Agar mengerti peradilan islam masa reformasi sampai sekarang.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Masa Awal Kemerdekaan

Kedudukan hukum Islam pada masa kemerdekaan mengalami kemajuan yang berarti.Lamanya
Belanda menjajah mengakibatkan perubahan struktur politik dan sosial bangsa Indonesia.
Meskipun mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, tetapi bukan hal yang mudah untuk
memberlakukan hukum Islam di Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, atas usul
Menteri Agama yang disetujui Menteri Kehakiman, pemerintah menetapkan bahwa pengadilan
Agama diserahkan dari kekuasaan Kementerian Kehakiman kepada Kementerian Agama dengan
ketetapan pemerintah Nomor 5 tanggal 25 Maret 1946. Pada masa awal kemerdekaan, terjadi
perubahan dalam pemerintahan, tetapi tidak tampak perubahan yang sangat menonjol dalam tata
peradilan, khususnya peradilan Agama di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena bangsa
Indonesia dihadapkan kepada revolusi fisik dalam menghadapi Belanda yang kembali akan
menjajah. Namun pada aspek jasa terdapat sebuah perubahan, yaitu sebelum merdeka pegawai
Pengadilan Agama dan hakim tidak mendapat gaji tetap dari pemerintah, maka setelah merdeka
anggaran belanja Pengadilan Agama disediakan pemerintah.

Segera setelah melalui melalui perdebatan yang sengit dan panjang, akhirnya pada pasca
kemerdekaan ditetapkan dasar Negara Indonesia berdasarkan pancasila tidak berlandaskan atas
asas Negara Islam. Hal itu menyebabkan terjadi perubahan dalam pemerintahan (umum), tetapi
tidak membawa perubahan yang menonjol dalam tata peradilan Islam. Hal itu disebabkan karena
bangsa Indonesia dihadapkan kepada revolusi fisik dalam menghadapi Belanda yang kembali
akan menjajah.

Pada tanggal 3 Januari 1946 dengan Keputusan Pemerintah Nomor 1 dibentuk Kementrian
Agama, kemudian dengan Penetapan Pemerintah tanggal 25 Maret 1946 Nomor 5/SD semua
urusan mengenai Mahkamah Islam Tinggi dipindahkan dari Kementrian Kehakiman ke dalam
Kementrian Agama. Langkah ini memungkinkan konsolidasi bagi seluruh administrasi lembaga-
lembaga Islam dalam sebuah wadah/badan yang besnat nasional.

Dalam kubu Islam sendiri setidaknya ada dua persoalan yang muncul sehubungan didirikannya
Departemen Agama tersebut. Pertama, terjadi persinggungan antara departemen itu sendiri
dengan para pendukungnya, dan kedua, tentang hubungan departemen itu dengan masyarakat
Islam seluruhnya.
Departemen agama yang selama ini adalah hal yang unik dalam islam, usulan adanya
departemen ini pernah di tolak dalam panitia persiapan, hanya enam dari dua puluh tujuh
anggota yang menyetujuinya. Departemen agama ini telah menimbulkan pertentangan-
pertentangan di dalam islam sendiri, ada dua persoalan pokok yang muncul : Pertama, antara
departemen itu sendiri dengan para pendukungnya, sedang yang lain adalah tentang hubungan
departemen itu dengan masyarakat islam seluruhnya.
Berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 menunjukkan dengan jelas maksud-maksud
untuk mempersatukan administrasi nikah, talak dan rujuk di seluruh wilayah Indonesia di bawah
pengawasan Kementrian Agama. Eksistensi dari UU ini memberikan bias yang cukup besar
terhadap perubahan hukum di negara baru, khususnya bagi umat Islam.

Usaha untuk menghapuskan pengadilan agama masih terus berlangsung sampai dengan
keluarnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1948 dan Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun
1951 tentang Tindakan Sementara untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan, Kekuasaan dan
Acara Pengadilan-Pengadilan Sipil, antara lain mengandung ketentuan pokok bahwa peradilan
agama merupakan bagian tersendiri dari peradilan swapraja dan peradilan adat tidak turut
terhapus dan kelanjutannya diatur dengan peraturan pemerintah.

Proses keluarnya peraturan pemerintah inilah yang mengalami banyak hambatan, sehingga dapat
keluar setelah berjalan tujuh tahun dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun
1957 tentang pembentukan peradilan agama/mahkamah syariyyah di Aceh tanggal 6 Agustus
1957. Kemudian dilanjutkan dengan PP No. 45 Tahun 1957 tentang pembentukan pengadilan
agama di luar Jawa dan Madura (kecuali Kalimantan Selatan) tanggal 5 Oktober 1957. Di sini
ada tiga bentuk peradilan agama yang memiliki dasar hukum yang berbeda berdasarkan
daerahnya:

Jawa dan Madura dengan sebutan peradilan agama untuk pengadilan tingkat pertama dan
mahkamah islam tinggi untuk pengadilan tingkat banding (Stb. 1882 No. 152 jo Stb. 1937 No.
116 dan 610).
Sebagian residensi Kalimantan Selatan dan Timur dengan sebutan Kerapatan Qadli untuk
pengadilan tingkat pertama dan Kerapatan Qadli besar untuk pengadilan tingkat banding (Stb.
1937 No. 638 dan 639).

Untuk daerah selain yang tersebut di atas, sebutannya adalah mahkamah syariyyah untuk
pengadilan pertama dan mahkamah syariyyah propinsi untuk pengadilan tingkat banding (PP
No. 45/1957).
Dengan keluarnya Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman, maka kedudukan Peradilan Agama mulai nampak jelas dalam sistem
peradilan di Indonesia. Undang-Undang ini menegaskan prinsip-prinsip sebagai berikut:

Peradilan dilakukan Demi Keadilan Berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa;


Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan
Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara;
Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi.
Badan-badan yang melaksanakan peradilan secara organisatoris, administratif, dan finansial ada
di bawah masing-masing departemen yang bersangkutan.
Susunan kekuasaan serta acara dari badan peradilan itu masing-masing diatur dalam undang-
undang tersendiri.

Hal ini dengan sendirinya memberikan landasan yang kokoh bagi kemandirian peradilan agama,
dan memberikan status yang sama dengan peradilan-peradilan lainnya di Indonesia. Lahirnya
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memperkokoh keberadaan pengadilan
agama. Di dalam undang-undang ini tidak ada ketentuan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Pasal 12 ayat (1) undang-undang ini semakin memperteguh pelaksanaan ajaran Islam (Hukum
Islam).

Suasana cerah kembali mewarnai perkembangan peradilan agama di Indonesia dengan keluarnya
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah memberikan landasan
untuk mewujudkan peradilan agama yang mandiri, sederajat dan memantapkan serta
mensejajarkan kedudukan peradilan agama dengan lingkungan peradilan lainnya.

Dalam sejarah perkembangannya, personil peradilan agama sejak dulu selalu dipegang oleh para
ulama yang disegani yang menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Hal itu sudah dapat dilihat
sejak dari proses pertumbuhan peradilan agama sebagaimana disebut di atas. Pada masa
kerajaan-kerajaan Islam, penghulu keraton sebagai pemimpin keagamaan Islam di lingkungan
keraton yang membantu tugas raja di bidang keagamaan yang bersumber dari ajaran Islam,
berasal dari ulama seperti Kajeng Penghulu Tafsir Anom IV pada Kesunanan Surakarta. Ia
pemah mendapat tugas untuk membuka Madrasah Mambaul Ulum pada tahun 1905.
Demikian pula para personil yang telah banyak berkecimpung dalam penyelenggaraan peradilan
agama adalah ulama-ulama yang disegani, seperti: KH. Abdullah Sirad Penghulu Pakualaman,
KH. Abu Amar Penghulu Purbalingga, K.H. Moh. Saubari Penghulu Tegal, K.H. Mahfudl
Penghulu Kutoarjo, KH. Ichsan Penghulu Temanggung, KH. Moh. Isa Penghulu Serang,
KH.Mustain Penghulu Tuban, dan KH. Moh. Adnan Ketua Mahkamah Islam Tinggi tiga zaman
(Belanda, Jepang dan RI) (Daniel S. Lev: 5-7). Namun sejak tahun 70-an, perekrutan tenaga
personil di lingkungan peradilan agama khususnya untuk tenaga hakim dan kepaniteraan mulai
diambil dati perguruan tinggi agama.

2. Masa Orde Baru

Memasuki masa orde baru, pembangunan nasional dalam berbagai bidang terus diupayakan,
termasuk dalam bidang hukum. Dalam rumusan Garis-Garis Besar Haluan Negara,yang
merupakan haluan pembanguan nasional menghendaki terciptanya hukum baru Indonesia.
Hukum tersebut harus sesuai dengan cita-cita hukum Pancasila dan UUD 1945 serta mengabdi
kepada kepentingan nasional. Hukum baru Indonesia harus memuat ketentuan-ketentuan hukum
yang menampung dan memasukkan hukum agama (termasuk hukum Islam) sebagi umsur
utamanya. Inilah dasar yuridis bagi upaya formatisasi hukum Islam dalam hukum nasional.

Formatisasi hukum Islam dilakukan dengan upaya mentransformasikan hukum Islam ke dalam
aturan perudangan. Dalam peraturan perundang-undangan kedudukan hukum Islam semakin
jelas. Dari sinilah kemudian muncul legislasi hukum Islam yang bersifat nasional, yaitu UU
No.1/1974 tentang Perkawinan dan Peraturan pemerintah No.28/1977 tentang Perwakafan Tanah
Milik. Undang-undang ini berlaku efektif mulai tanggal 1 Oktober 1975. Sebagai produk politik,
undang-undang perkawinan ini merupakan kompromi berbagai kekuatan politik dengan aspirasi
hukumnya masing-masing. Pasal 2 ayat (2) UU no.1/1974 menetapkan bahwa perkawinan adalah
sah apabila dilakukan menurut hukum agama masing-masing. Dengan ketentuan ini berarti
terjadi perubahan hukum dari yang rasial etnis (pada masa kolonial) kepada hukum yang
berdasar keyakinan agama.

Institusi peradilan Islam juga menempati posisi yang kuat berdasarkan Undang-Undang Nomor
14 tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam pasal 10 ayat (1) ditetapkan bahwa
kekuasaan kehakiman di Indonesia dilakukan oleh Pengadilan dalam lingkungan peradilan
umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara. Jenis peradilan
tersebut meliputi peradilan tingkat pertama dan tingkat banding.

Penjelasan pasal 10 UU No. 14 tahun 1970 menetapkan bahwa peradilan agama, peradilan
militer, dan peradilan tata usaha negara merupakan peradilan khusus. Kompetensinya menangani
perkara-perkara tertentu tau mengenai golongan-golongan tertentu. Dengan demikian peradilan
agama merupakan peradilan negara, yaitu peradilan resmi yang dibentuk oleh pemerintah dan
berlaku khusus untuk umat Islam.

Keberadaan Peradilan Agama semakin jelas dengan ditetapkannya Undang-Undang No.7 tahun
1989 tentang kekuasaan Peradilan Agama. Kompetensi Peradilan Agama memiliki dua ukuran,
yaitu asas personalitas dan bidang hukum perkara tertentu.Dalam Bab III pasal 49-53
kewenangan Peradilan Agama meliputi bidang-bidang hukum perdata antara lain: perkawinan,
kewarisan, wasiat, hibah, serta wakaf dan sadakah. Dari bidang-bidang tersebut dapat dikatakan
bahwa jurisdiksi Peradilan Agama adalah bidang hukum keluarga (ahwal al-syakhsiyah).

Berdasarkan kompetensinya, maka diperlukan hukum materiil sebagai pedoman bagi para hakim
Peradilan Agama dalam menjalankan tugasnya. Dalam menangani perkara, hakim Peradilan
Agama menggunakan kitab fikih klasik sebagai dasar putusannya. Kitab fikih yang digunakan
antara satu peradilan agama dengan peradilan agama yang lain tidak sama. Hal ini
mengakibatkan adanya putusan yang berbeda dalam masalah yang sama. Kondisi ini
memunculkan pemikiran untuk menyusun kodifikasi hukum Islam sebagai panduan dalam
menangani perkara.

Berdasarkan pertimbangan di atas, dikeluarkanlah putusan bersama Ketua Mahkamah Agung dan
Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 No.07/KMA/1985 dan No.25 tahun 1985 tentang
Penunjukan Pelaksanaan Pengembangan Hukum Islam. Proyek ini dikenal dengan Kompilasi
hukum Islam di Indonesia. Pelaksanaannya dilakukan melalui empat jalur, yaitu jalur kitab fikih,
wawancara, jurisprudensi dan studi komparatif ke negara-negara yang penduduknya mayoritas
Islam.

Hal ini dimaksudkan untuk mengkaji kitab-kitab fikih yang digunakan sebagai dasar putusan
hakim dan menyesuaikannya dengan perkembangan masyarakat Indonesia menuju hukum
nasional. Setelah draft disetujui, maka dikeluarkanlah Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991
tanggal 10 Juni 1991 sebagai dasar penyebarluasannya. Inpres ini kemudian ditindak lanjuti
dengan Keputusan Menteri Agama nomor 154 tahun 1991 tanggal 22 Juli 1991. Format KHI
teragi ke dalam tiga buku. Buku satu berisi tentang hukum perkawinan, buku dua tentang hukum
kewarisan, dan buku tiga tentang hukum perwakafan.
Keinginan umat Islam untuk memberlakukan hukum Islam semakin menguat dan melebar ke
berbagai bidang. Dalam hal obat dan makanan diwajibkan memiliki sertifikat halal yang
dikeluarkan oleh Lembaga Pengkajian Produk Obat dan Makanan (LPPOM) Majlis Ulama
Indonesia. Di samping itu juga muncul aksi-aksi sosial untuk menegakkan hukum Islam, seperti
pelarangan SDSB, kebebasan berjilbab di sekolah dan kantor dan lain-lain. Disamping itu
muncul perundang-undangan yang mendukung terlaksananya hukum Islam, seperti UU No.17
tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Haji dan UU No. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat.

Berdasarkan deskripsi diatas, formatisasi hukum agama Islam dalam hukum nasional dapat
berupa hukum umum yang berlaku nasional atau menjadi hukum khusus yang berlaku bagi umat
Islam saja. Hukum Islam yang berlaku nasional tercermin dalam UU No. 1 Tahun 1975 tentang
Perkawinan, PP No. 28 Tahun 1977 Tentang Perwakafan, dan UU No. 7 Tahun 1992 Tentang
Perbankan, di mana di dalamnya diakui keberadaan Bank Islam). Formatisasi yang berupa
hukum khusus terlihat dalam Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, UU
No.17 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Haji, dan UU No. 38 tahun 1999 tentang
pengelolaan zakat.

3. Masa Reformasi Sampai Sekarang

Ketika masa reformasi menggantikan orde baru (tahun 1998), keinginan mempositifkan hukum
Islam semakin kuat. Pada awalnya muncul pemikiran untuk menghidupkan lagi Piagam Jakarta.
Hal ini didasarkan kenyataan bahwa umat Islam adalah mayoritas di Indonesia, sehingga wajar
jika hukum agamanya diberlakukan. Kondisi ini terjadi terutama di daerah-daerah yang kuat
Islamnya, seperti Nangroe Aceh Darussalam dan Makassar.

Perkembangan hukum Islam pada masa ini mengalami kemajuan. Secara riil hukum Islam mulai
teraktualisasikan dalam kehidupan sosial. Wilayah cakupannya menjadi sangat luas, tidak hanya
dalam masalah hukum privat atau perdata tetapi masuk dalam ranah hukum publik. Hal ini
dipengaruhi oleh munculnya undang-undang tentang Otonomi daerah. Undang-undang otonomi
daerah di Indonesia pada mulanya adalah UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah,
yang kemudian diamandemen melalui UU No. 31 tahun 2004 tentang otonomi daerah. Menurut
ketentuan Undang-undang ini setiap daerah memiliki kewenangan untuk mengatur wilayahnya
sendiri termasuk dalam bidang hukum.

Akibatnya bagi perkembangan hukum Islam adalah banyak daerah menerapkan hukum Islam.
Secara garis besar, pemberlakuan hukum Islam di berbagai wilayah Indonesia dapat dibedakan
dalam dua kelompok, yaitu penegakan sepenuhnya dan penegakan sebagian. Penegakan hukum
Islam sepenuhya dapat dilihat di provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Provinsi ini memiliki otonomi khusus dalam menyusun dan memberlakukan hukum Islam di
wilayahnya .Penegakan model ini bersifat menyeluruh, karena bukan hanya menetapkan materi
hukumnya, tetapi juga menstruktur lembaga penegak hukumnya. Daerah lain yang sedang
mempersiapkan adalah Sulawesi Selatan (Makassar) yang sudah membentuk Komite Persiapan
Penegakan Syariat Islam (KPPSI), dan Kabupaten Garut yang membentuk Lembaga Pengkajian,
Penegakan, dan Penerapan Syariat Islam (LP3SyI).
Provinsi Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah terdepan dalam pelaksanaan hukum Islam
di Indonesia. Dasar hukumnya adalah Undang-Undang nomor 44 tahun 1999 tentang
Keistimewaan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Keistimewaan tersebut meliputi empat hal,
(1) penerapan syariat Islam di seluruh aspek kehidupan beragama, (2) penggunaan kurikulum
pendidikan berdasarkan syariat Islam tanpa mengabaikan kurikulum umum, (3) pemasukan
unsur adat dalam sistem pemerintahan desa, dan (4) pengakuan peran ulama dalam penetapan
kebijakan daerah.

Tindak lanjut dari undang-undang di atas adalah ditetapkannya Undang-undang Nomor 18/tahun
2001 tentang Otonomi Khusus Nanggroe Aceh Darussalam. Pemerintah Aceh kemudian
menindaklanjuti dengan membuat peraturan daerah guna merinci pelaksanaan dari undang-
undang ini. Maka lahirlah empat perda, yaitu (1) Perda nomor 3 tahun 2000 tentang organisasi
dan tata kerja Majelis Permusyawaratan Ulama, (2) Perda nomor 5 tahun 2000 tentang
Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, (3) Perda nomor 6 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan, dan (4) Perda nomor 7 tahun 2000 tentang penyelenggaraan kehidupan adat.

Fenomena pelaksanaan hukum Islam juga merambah daerah-daerah lain di Indonesia, meskipun
polanya berbeda dengan Aceh. Berdasarkan prinsip otonomi daerah maka muncullah perda-perda
bernuansa syariat Islam di wilayah tingkat I maupun tingkat II. Daerah-daerah tersebut antara
lain: Provinsi Sumatera Barat, Kota Solok, Padang Pariaman, Bengkulu, Riau, Pangkal Pinang,
Banten, Tangerang, Cianjur, Gresik, Jember, Banjarmasin, Gorontalo, Bulukumba, dan masih
banyak lagi.Pada umumnya perda-perda syariah yang ditetapkan oleh pemda mengatur tiga
aspek, yaitu: (1) menghapus kejahatan sosial seperti prostitusi dan perjudian, (2) menegakkan
ibadah ritual di kalangan muslim, seperti membaca Al-Quran, salat jumat, dan puasa Ramadan,
dan (3) mengatur tata cara berpakaian muslim/muslimah, khususnya penggunaan jilbab dalam
wilayah publik.

Materi perda syariat Islam tidak bersifat menyeluruh, tetapi hanya menyangkut masalah-
masalah luar saja. Jika dikelompokkan berdasarkan aturan yang tercantum dalam perda-perda
syariat tersebut, maka isinya mencakup masalah: kesusilaan, pengelolaan Zakat, Infaq dan
Sadaqah, penggunaan busana muslimah, pelarangan peredaran dan penjualan minuman keras,
pelarangan pelacuran, dan sebagainya.
Fenomena munculnya perda-perda syariat di satu sisi menunjukkan arah baru perkembangan
hukum Islam di Indonesia. Namun di sisi lain banyak ekses yang ditimbulkan terkait dengan
munculnya perda-perda ini. Menurut Muhyar Fanani, keberadaan perda-perda syariat ini tidak
akan berlangsung lama.

Hal ini dikarenakan oleh tiga hal, Pertama, perda-perda tersebut tidak menyentuh langsung
kebutuhan mendesak masyarakat seperti pemberantasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja,
dan sebagainya. Kedua, perda-perda tersebut belum tampak efektif terutama menyangkut
perilaku para pengelola pemerintahan. Ketiga, perda-perda tersebut tidak didukung oleh nalar
publik. Aturan dalam perda lebih mengedepankan kulit dan tidak menyentuh substansi syariat.
Karena terjebak pada kulit sehingga menimbulkan polemik, termasuk di kalangan umat Islam
sendiri.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dengan berbagai ragam pengadilan itu menunjukkan posisinya yang sama sebagai salah satu
pelaksana kerajaan atau sultan. Disampin itu pada dasranya batasan wewenang agama meliputi
bidang hukum keluarga, yaitu perkawinan kewarisan. dengan wewenang demikian, proses
petumbuhan dan perkembangan pengadilan pada berbagai kesultanan memiliki keunikan
masing-masing.

Selanjutnya Peradilan Agama pada zaman Belanda yang mana para kolonialisme Belanda yang
membawa misi tertrentu, mulai dari misi dagang, politik bahkan sampai misi kristenisasi.
Awalnya mereka tau bahwa di tengah-tengah masyarakat indonesia itu berlaku hukum adat yang
sudah terpengaruh oleh agama islam dan lebih condong pada unsur keagamaannya dari pada
hukum adat itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA .

Noeh, Zaini Ahmad, Peradilan Agama Islam di Indonesia,1980,Jakarta:PT. Intermasa,cet.Pertama


Santoso,Topo, Membumikan Hukum Pidana Islam Penegakan Syariat dalam Wacana dan
Agenda ,(Jakarta: Gema Insani Press, 2003)
Yusril Ihza Mahendra, Kedaulatan Negara dan Peradilan Agama, dalam Zulfran Sabrie (ed),
Peradilan Agama dalam Wadah Negara Pancasila (Jakarta: Pustaka Antara, 1992).
Fanani, Membumikan Hukum Langit, Nasionalisasi Hukum Islam dan Islamisasi Hukum
Nasional (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009).

PERADILAN AGAMA DI INDONESIA PADA ERA REFORMASI

A. Pendahuluan

Peradilan agama merupakan pranata sosioal hukum Islam. Keberadaannya telah ada
jauh sebelum Negara Republik Indonesia merdeka. Meski dalam bentuk yang sangat
sederhana dan penamaan yang berbeda-beda, namun eksistensinya tetap dibutuhkan
oleh masyarakat muslim Indonesia. Hal ini karena peradilan agama tidak hanya
menjadi jalan terakhir dalam penyelesaian suatu sengketa yang terjadi pada
masyarakat muslim, namun sekaligus juga sebagai penjaga eksistensi dan
keberlangsungan pelaksanaan hukum Islam di Indonesia.

Meskipun secara normatif keberadaannya merupakan sebuah keharusan dalam


komunitas masyarakat muslim Indonesia, akan tetapi mengingat Indonesia bukan
merupakan negara Islam, maka keberadaannya tidak dapat dilepaskan dengan
paradigma sistem dan dinamika hukum yang terjadi serta berkembang di negara
hukum Indonesia.

Meski faktor budaya masyarakat muslim lebih kuat pengaruhnya terhadap keberadaan
peradilan agama, namun tetap saja faktor politik hukum tidak dapat dipisahkan dari
sejarah panjang peradilan agama. Dinamika politik ini juga terjadi pada pertengahan
tahun 1990-an, tepatnya ketika tahun 1998 terjadi reformasi, yakni beralihnya Orde
Baru ke Era Reformasi. Sebagai bagian dari sistem hukum dan salah satu pelaksana
kekuasaan kehakiman, maka peradilan agama sudah barang tentu mendapat pengaruh
dari dinamika politik tersebut.
Peradilan agama telah mengalami pasang surut sejak pembentukannya, yakni baik dari
segi panamaan, status dan kedudukan, maupun kewenangannya. Begiru juga pada Era
Reformasi. Untuk mengkaji peradilan agama pada Era Reformasi, maka dalam makalah
ini akan diuraikan mengenai gambaran sosio-historis peradilan agama pada masa itu,
status dan kedudukan, Serta kewenangannya, sarta isi dari perubahan yang terjadi.

B. Peradilan Agama Era Reformasi

Era reformasi merupakan bentuk kesadaran dari semua elemen masyarakat yang sadar
dan tergugah untuk kembali kepada hakikat sebenarnya dari bangsa/negara Indonesia,
sebagai negara yang berdasarkan atas hukum, yakni dihormatinya supremasi hukum
dalam kehidupan masyarakat.

Reformasi di Indonesia muncul akibat terjadinya krisis multidimensi yang menimpa


sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Tidak segera diselesaikannya krisis
tersebut, muncullah gerakan reformasi tahun 1998. Meskipun awalnya reformasi
terfokus pada tatanan politik, akan tetapi tidak bisa dipisahkan dengan aspek hukum.

Dalam ruang lingkup hukum, sasaran yang tepat dalam menerjemahkan makna
reformasi adalah membentuk dan melakukan pembaruan hukum (legal reform), di
mana hukum dapat memberikan perlindungan yang semestinya terhadap seluruh
masyarakat.

Hukum dan penegakan hukum dalam era reformasi ini tidak dapat dipisahkan dari
perilaku politik elit penguasa. Keterkaitan hukum dan penegak hukum dalam perilaku
politik tersebut hanya dapat terjadi dalam suatu negara yang tidak demokratis dimana
transparasi, supremasi hukum dan promosi, juga perlindungan HAM dikesampingkan.

Sebagaiman diketahui bahwa salah satu agenda reformasi adalah supremasi hukum,
sebab lemahnya penegakan hukum dan ketidak mandirian lembaga peradilan yang
terjadi pada era sebelumnya. Hal ini menghasilkan TAP MPR NOMOR X/MPR/1998 yang
menharuskan Pemerintah untuk segera meninjau ulang ketentuan yang telah membagu
dua penanganan lembaga peradian antara institusi eksekutif di satu bidang dan institusi
yudikatif pada bidang yang lain.

Yang menjadi sasaran utama TAP MPR tersebut adalah Undang-undang Nomor 14
Tahun 1970 tentnag Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakima. Untuk itu, pada
tahun 1999 Pemerintah mengundangkan Undang-undang Nomor 35 tahun 1999
sebagai amandemen tehadap Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970.

Sebagai konsekuensi dari diundangkannya Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999


tersebut, diletakkannya kebijakan bahwa, segala urusan mengenai peradilan baik yang
menyangkut teknis yudisial maupun urusan organisasi, administrasi, dan finansial
berada satu atap di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Kebijakan ini dalam istilah
populernya biasa disebut kebijakan satu atap (one roof sysem).

Namun, seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi yang terjadi di Negara
Indonesia, Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 tersebut kemudian diubah lagi
menjadi Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004. Bahkan untuk mempercepat proses
peralihan lembaga-lembaga peradilan tersebut, dipertegas lagi dalam ketentuan
peralihan pasal 42 Undang-undang ini bahwa pengalihan organisasi, administrasi dan
finansial dalam lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara selesai
dilaksanakan paling lambat tanggal 31 Maret 2004, Peradilan Agama tanggal 30 Juni
2004 dan Peradilan Militer tanggal 30 Juni 2004.

Sedangkan untuk badan peradilan agama yang sejak lama berada di bawah
Departemen Agama, bahkan dalam hal-hal tertentu tidak dapat dipisahkan
hubungannya dengan Departemen Agama secara khusus dan dengan umum termasuk
majelis ulama. Maka, khusus untuk badan peradilan agama mengingat sejarah
peradilan agama yang spesifik dalam sistem peradilan nasional, pembinaan terhadap
badan peradilan agama dilakukan dengan memperhatikan saran dan pendapat Menteri
Agama dan Majelis Ulama Indonesia.
Meskipun demikian, tatap saja sejak dialihkannya organisasi, administrasi, dan finansial
tersebut, semua pegawai Direktorat Badan Pembinaan Peradilan Agama Departemen
Agama menjadi pegawai Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama pada Mahkamah
Agung, serta pegawai Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama. Hal ini juga
berlaku bagi pegawai yang menduduki jabatan structural Direktorat Badan Pembinaan
Peradilan Agama Departemen Agama menjadi pejabat Direktorat Jenderal Badan
Peradilan Agama pada Mahkamah Agung.

Bila dilihat secara komprehensif, perubahan-perubahan yang dilakukan tersebut di atas,


sejalan dengan semangat reformasi nasional yang berpuncak pada perubahan UUD
1945 sebagai sumber hukum tertinggi dalam penyelenggaraan negara Republik
Indonesia, yang bertujuan antara lain menempatkan hukum pada posisi yang paling
tinggi dan yang sering disebut sebagai supremasi hukum.

Tonggak baru bagi badan peradilan agama pasca perubahan UUD 1945, selain sudah
berada satu atap di bawah Mahkamah Agung sesuai perintah Undang-undang Nomor 35
Tahun 1999 jo. Undang-undnag Nomor 4 Tahun 2004, juga diberikan kewenangan baru
bagi peradilan agama setelah dilakukaknnya amandemen terhadap Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, yakni dengan keluarnya Undang-
undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989.

Bagi peradililan agama, amandemen Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tidak


semata-mata berorientasi pada penambahan kewenangan pada bidang Ekonomi
Syariah, akan tetapi, secara makro lebih disebabkan karena implikasi dari berubahnya
sruktur hukum yang terkait dengan kekuasaan yudikatif, termasuk paradilan agama
sebagai akibat dari adanya reformasi hukum di Indonesia.

Karena itu, berubahnya UUD 1945 memberikan implikasi pada perubahan Undang-
undang Nomor 14 Tahun 1970 menjadi Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004. Begitu
pula halnya dengan undang-undang yang mengatur tentang peradilan agama, dengan
adanya Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004, maka secara otomatis meniscayakan
adanya perubahan terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama. Atas dasar inilah, kemudian lahir Undang-undang Nomor 6 Tahun 2006.
C. Isi Perubahan UU Peradilan Agama

Perubahan yang dibawa oleh Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 terhadap Undang-
undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama terdiri dari 42 butir pada batang
tubuh, meliputi 39 perubahan pasal dan penambahan 3 pasal baru. Sedang pada
penjelasan terdapat 3 perubahan, yaitu 1 penghapusan dan 2 penambahan.

Dari perubahan 39 pasal tersebut, terdapat 6 perubahan yang kiranya perlu untuk
digarisbawahi, yaitu:

1. Perubahan Pasal 2 tentang pengahpuan kata perdata


2. Perubahan Pasal 13 tentang persyaratan calon hakim dan persyaratan hakim
3. Perubahan Pasal 18 tentang usia pension hakim
4. Perubahan Pasal 44 tentang panitera tidak merangkap sekretaris
5. Perubahan Pasal 49 tentang kewenangan peradilan agama
6. Perubahan Pasal 50 tentang penyelesaian sengketa milik.
7. Perubahan pada pasal-pasal lainnya pada umumnya perubahan dalam rangka
menyesuaikan dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun
2004 yang berbunyi: Organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan
badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah
Agung.

Selain perubahan karena hal tersebut di atas juga perubahan karena pengurangan
persyaratan masa kerja seperti untuk diangkat sebagai ketua atau wakil ketua
pengadilan tinggi agama, atau peningkatan persyaratan untuk diangkat sebagai
panitera pengadilan agama, ayau perubahan teks redaksi sumpah hakim.
D. Status dan Kedudukan Peradilan Agama
Secara yuridis konstitusional, di Indonesia dikenal adanya 4 lingkungan peradilan, yaitu
lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer,
dan lingkungan Peradila Tata Usaha Negara.

Oleh karena itu, berbicara mengenai peradlan agama berarti berbicara soal hukum,
bukan berbicara soal agama, karena peradilan agama merupakan institusi yudisial,
bukan institusi keagamaan.

Hal ini dikonstruksi dari pemahaman yuridis, di mana peradila agama dalam UUD 1945
didudukkan pada BAB IX, di bawah judul Kekuasaan Kehakiman, bukan pada BAB XI di
bawah judul Agama. Selain itu, dalam konsoderans Undang-undang Nomor 7 Tahun
1989 tentang Peradilan Agama (UUPA) pada bagian mengingat, Pasal UUD 1945 yang
dicantumkan antara lain Pasal 24 dan 25, yang nota bene mengatur mengenai
kekuasaan kehaliman, bukan Pasal 29 yang mengatur mengenai agama.

Status dan kedudukan peradilan agama pada mas areformasi sudah semakin kuat.
Begitu pula halnya dengan kewenangan yang dimilikinya sudah semakin luas. Dari sisi
status dan kedudukan, ia tidak lagi dibedakan dengan badan peradilan lain yang ada di
Indonesia. Dalam hal-hal tertentu, misalnya menyangkut sengketa keperdataan antar
orang Islam, sudah tidak lagi bersinggungan dengan peradilan umum, melainkan sudah
bisa memutuskan secara langsung.

Selain itu, dari segi kewengan yang dimiliki semakin luas, tidak lagi sebatas NTCR,
tatapi sudah menyangkut persoalan sengketa bidang ekonomi syariah, zakat dan infak,
serta memutuskan isbat rukyat hilal. Bahkan peradilan agama era reformasi juga
dimungkinkan menyelesaikan persoalan menyangkut bidang pidana.

Namun demikian, peradilan agama sebagai salah satu institusi peradilan yang juga
berfungsi sebagai instrument untuk mewujudkan supremasi hukum pada masa
reformasi ini, sesungguhnya masih menyisakan berbagai macam persoalan, baik
menyangku tentang optimalisasi peran institusi/kelembagaan maupun menyangkut
sumber daya manusia/hakim.

Sehubungan dengan adanya kompetensi baru di bidang ekonomi syariah, termasuk


masalah belum tersusunnya hukum materiil dalam bentuk undang-undang yang
menyangkut tentang keseluruhan kewenangan peradilan agama, baik untuk ekonomi
syariah maupun untuk bdang kewenangan lainnya.

Oleh karena itu, untuk mengisi kekosongan sumber hukum materiil peradilan agama,
perlu dicari strategi yang teapat agar setiap keputuan hakim / peradilan agama
memiliki dasar hukum dan/atau pertimbangan yang jelas.
Perubahan signifikan yang terjadi atas eksistensi peradilan agama dalam status dan
kedudukannya sebagai bagian utuh pelaksana kekuasaan kehakiman dalam sistem
peradilan nasional ini telah memiliki legitimasi konstitusional dan legal formal. Dengan
artian bahwa eksistensi peradilan agama baik dari segi status dan kedudukan telah
menjadi setara dengan badan peradilan lainnya.

E. Kewenangan Peradilan Agama


Peradilan agama merupakan salah satu dari peradilan negara Indonesia yang sah, yang
bersifat peradilan khusus, yang berwenang dalam jenis perkara perdata Islam tertentu,
bagi orang-orang Islam di Indonesia. Berkaitan dengan Hukum Acara Perdata,
kekuasaan dan kewenangan peradilan agama menyangkut dua hal, yaitu: kekuasaan
relatif dan kekuasaan absolut.

Kekuasaan relatif diartikan sebagai kekuasaan pengadilan yang satu jenis dan satu
tingkatan, dalm perbedaannya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan
sama tingkatan. Mengenai kekuasaan absolut, yakni kekuasaan pengadilan yang
berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan
dalam perbedaannya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan
pengadilan lainnya.

Kata wewenang atau kekuasaan pada umumnya dimaksudkan adalah kekuasaan


absolute. Dalam berbagai peraturan perundang-undangan kekuasaan absolute sering
disingkat dengan kata kekuasaan saja.

Disebutkan Pasal 49 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989, bahwa peradilan agama


bertugas dan berwenang memeriksa, memutuskan, dan memutuskan perkara-perkara
di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan,
kewarisan, wasiat dan hibah yang berdasarkan hukum Islam, serta wakaf, dan sedekah.

Pada Undang-undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-undang Nomor


7 Tahun 1989, terdapat tambahan perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama,
yakni ekonomi syariah.

Sekalipun perkara yang diajukan termasuk kompetisi absolut lingkungan peradialn


agama, belum tentu pengadilan agama yang menrima gugatan kompeten atau
berwenang untuk memeriksa dan mengadili. Faktor yang menjadi pembatasan
kewenangan relatif masing-masing peradilan pada setiap lingkungan peradilan adalah
faktor wilayah hukum.

Setiap pengadilan agama hanya berwnang mengadili perkara yang termasuk ke dalam
kewenangan wilayah hukumnya. Seperti yang yang tercantum dalam Pasal 4 Undang-
undang Nomor 3 Tahun 2006, bahwa daerah hukum pengadilan agama meliputi wilayah
kabupaten/ kota.

F. Kesimpulan

Merujuk dari uraian singkat di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

Lahirnya Udang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang


Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agma adalah dalam rangka memantapkan dan
menegaskan kedudukan peradilan agama

sesuai dengan kebutuhan hukum masyarakat dan perkemabangan hukum nasional.


Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tersebut, kewenangan
Pengadilan Agama diperluas menjadi mempunya kewenangan absolute menyelesaikan
perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: perkawinan,
waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infak, shadaqah, dan ekonomi syariah.

Perubahan yang dibawa oleh Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 terhadap Undang-
undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama terdiri dari 42 butir pada batang
tubuh, meliputi 39 perubahan pasal dan penambahan 3 pasal baru. Sedang pada
penjelasan terdapat 3 perubahan, yaitu 1 penghapusan dan 2 penambahan.

DAFTAR PUSTAKA

Aripin, Jaenal, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia, (Jakarta:
Prenada Media, 2008)

Atmasasmita, Romli, Reformasi Hukum, Hak Asasi Manusia & Penegakan Hukum,
(Bandung: Bandar MAju, 2001)

Djalil, Basiq, Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010),
cet 2

Harahap, Yahya, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Sinar
Grafika, 2007), cet. 4

Hasan, Hasbi, Jurnal Mimbar Hukum dan Peradilan, Edisi No. 73, 2011

Manaf, Abdul, Refleksi Beberapa Materi Cara Berbicara di Lingkungan Peradilan Agama,
(Bandung: CV Mandar Maju, 2008)

Manan, Abdul, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama,


(Jakarta: Prenada Media, 2005), cet. 3

Rosyid, Roihan A., Hukum Acara Peradilan Agama, (Depok: Rajagrafindo Persada,
2013), cet. 15

Zarkasyi, Muchtar, Kumpulan Makalah Ekonomi Syariah, (MA RI; DJBPA, 2007)

MAKALAH HUKUM ISLAM

Sejarah Perkembangan dan Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem


Hukum Nasional di Indonesia

ZHERLY AMALIA NINGZIH


H1 A1 12 022
KELAS A REGULER PAGI

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI
TAHUN 2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala hikmat dan rahmat yang
telah dilimpahkan-Nyalah akhirnya makalah Sejarah Perkembangan dan Kedudukan
Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia ini dapat terselesaikan tepat
pada waktunya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum
Islam di Universitas Haluoleo Kendari. Selain itu penulis mengharapkan agar makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan. Namun,
berkat bimbingan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat diselesaikan walaupun
masih banyak kekurangannya. Karena itu, sepantasnya jika penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun
tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh
karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif agar
makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna dimasa yang akan datang.
Harapan penulis, mudah-mudahan makalah yang sederhana benar-benar
membuktikan bahwa mahasiswa dapat lebih berperan serta dalam pembangunan
masyarakat pada kenyataan sehari-hari dan bermanfaat bagi pembaca umumnya serta
rekan mahasiswa khususnya. Amin.

Kendari, Maret 2013

PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem hukum Indonesia adalah sistem hukum yang berlaku nasional di negara
Republik Indonesia. sistem hukum Indonesia tersebut bersifat majemuk, karena sistem
hukum yang berlaku nasional terdiri dari lebih satu sistem. Sistem sistem tersebut
adalah sistem hukum adat, sistem hukum Islam dan sistem hukum Barat.
Sebagai negara yang penduduknya terdiri dari berbagai macam ras dan suku
bangsa, Indonesia menghormati kebebasan penduduknya memeluk agama masing
masing, sehingga tidaklah mungkin menerapkan hukum Islam secara penuh kepada
setiap warga negara, meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Akan
tetapi, agama Islam bersifat universal. Hukum Islam adalah bagian dari agama Islam,
sehingga juga bersifat universal. pada hakikatnya hukum Islam merupakan keyakinan
yang melekat pada setiap orang yang beragama Islam, tidak peduli kapan dan
dimanapun.
Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat), bukan negara kekuasaan
(machstaats) sebagaimana tertuang dalam bunyi UUD 1945 pasal 1 ayat (3) bahwa
negara Indonesia adalah negara hukum. Sebagai negara hukum, maka menjadi suatu
kewajiban bahwa setiap penyelenggaraan negara dan pemerintahannya selalu
berdasarkan pada peraturan perundang-undangan. Maka negara hukum yang
dimaksud di sini bukan hanya merupakan pengertian umum yang dapat dikaitkan
dengan berbagai konotasi. Maupun hanya rechstaat dan rule of law sebagaimana
dipraktikkan di barat. Tapi juga nomokrasi Islam dan negara hukum Pancasila yang
dipraktikkan di Indonesia.
Namun, Indonesia juga bukan negara yang menganut paham teokrasi berdasarkan

penyelenggaraan negaranya pada agama tertentu saja. Di mana, menurut paham teokrasi, negara

dan agama dipahami sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Yakni dijalankan berdasarkan

firman-firman Tuhan. Sehingga tata kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara dilakukan dengan

titah Tuhan dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, paham ini melahirkan konsep negara

agama atau agama resmi, dan dijadikannya agama resmi tersebut sebagai hukum positif. Konsep
negara teokrasi ini sama dengan paradigma integralistik. Yaitu paham yang beranggapan bahwa

agama dan negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pada tataran lain, negara Indonesia juga tidak menganut negara sekuler yang mendisparitas

agama atas negara dan memisahkan secara diametral antara agama dengan negara. Paham ini

melahirkan konsep agama dan negara yang merupakan dua entitas berbeda, dan satu sama lain

memiliki wilayah garapan masing-masing. Sehingga, keberadaannya harus dipisahkan dan tidak

boleh satu sama lain melakukan intervensi.


Namun, relasi antara agama dan negara di Indonesia dikemas secara sinergis,
bukan dikotomis yang memisahkan antara keduanya. Agama dan negara merupakan
entitas yang berbeda. Namun, keduanya dipahami saling membutuhkan secara timbal
balik. Yakni agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan
mengembangkan agama. Sebaliknya negara juga membutuhkan agama. Sebab,
agama pun membantu negara dalam pembinaan moral, etika, dan spiritualiatas.
Pemahaman seperti ini disebut dengan paradigma simbiotik. Maka dalam konteks ke-
Indonesia-an paradigma simbiotik ini, kedudukan hukum Islam menempati posisi
strategis sebagai sumber legitimasi untuk menegakkannya dalam porsi yang
proporsional. Bukan dengan formalisasi-legalistik melalui institusi negara sebagaimana
disampaikan oleh Habib Riziq Shihab, ketua Front Pembela Islam.
Namun sebagaimana dikemukakan oleh Bismar Siregar, yang menyatakan bahwa kewajiban

menjalankan syariat tidak perlu diperintahkan secara formal berdasarkan undang-undang. Karena

sekali orang menyatakan dirinya umat Muhammad, dengan ikrar dua kalimat syahadat, maka
berlakulah menjalankan syariat atas dirinya.

Sistem hukum Indonesia adalah sistem hukum yang bukan berdasar pada agama tertentu.

Tetapi memberi tempat kepada agama-agama yang dianut oleh rakyat untuk menjadi sumber hukum

atau memberi bahan hukum terhadap produk hukum nasional. Hukum agama sebagai sumber

hukum di sini diartikan sebagai sumber hukum materiil (sumber bahan hukum) dan bukan harus

menjadi sumber hukum formal (dalam bentuk tertentu) menurut peraturan perundang-undangan.

Dalam konteks inilah, Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas penduduk Indonesia memiliki

prospek dalam pembangunan hukum nasional. Karena secara kultural, yuridis, filosofis maupun

sosiologis, memiliki argumentasi yang sangat kuat.


Penerapan atau positivisme hukum Islam dalam sistem hukum nasional setidaknya melalui

dua langkah. Yaitu proses demokrasi dan prolegnas (akademisi), bukan indoktrinasi. Dalam proses

demokrasi ada musyawarah mufakat yang kemudian dituangkan dalam prolegnas (progam legislasi

nasional). Yang selanjutnya untuk menjadi hukum positif diperlukan kajian lebih mendalam melalui

naskah akademik karena menyangkut tinjauan dari berbagai macam aspek. Baik sosiologis, politis,

ekonomis, maupun filosofis. Hal ini sebagaimana diatur dalam UU No. 10/2004 sebagaimana sudah

diubah menjadi UU No. 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.


Seiring berjalannya waktu, ada beberapa norma-norma hukum Islam yang sudah
menjadi hukum positif. Adalah, apabila berkaitan dengan akuntabilitas publik atau
tanggung jawab public. Nah, berdasarkan uraian diatas, perlu kiranya membahas
mengenai bagaimana Kedudukan Hukum Islam dalam Hukum Positif di Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, muncul beberapa pertanyaan, antara lain
adalah :
1. Bagaimana sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia?
2. Bagaimana kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum nasional?
3. Apakah peran hukum Islam dalam pembinaan hukum nasional?
4. Apa sajakah kontribusi hukum Islam terhadap perkembangan hukum nasional?
C. TUJUAN
Pembuatan makalah ini diharapkan dapat memberikan tujuan yang bermanfaat.

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dibuatnya makalah ini adalah agar para pembaca pada umumnya
dan penulis khususnya dapat mengetahui bagaimana sejarah perkembangan dan
kedudukan hukum Islam di Indonesia, apakah peran hukum Islam dalam pembinaan
hukum nasional serta apa sajakah kontribusi hukum Islam terhadap perkembangan
hukum nasional.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tuntutan
perkuliahan mata kuliah Hukum Islam yang sedang penulis jalani dalam semester 2 ini.

D. MANFAAT
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini adalah :

a. Bagi Penulis

Dapat mengetahui bagaimana sejarah perkembangan dan kedudukan hukum Islam


dalam sistem hukum positif Indonesia serta berharap agar makalah ini dapat memenuhi
tuntutan perkuliahan yang sedang dijalani.

b. Bagi Pembaca

Dapat memberikan informasi dan penjelasan mengenai bagaimana sejarah


perkembangan dan kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum positif Indonesia.

c. Bagi Masyarakat

Dapat memberikan informasi dan penjelasan mengenai bagaimana sejarah


perkembangan dan kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum positif
Indonesia serta dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan
dengan pelaksanaan hukum Islam di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perkembangan Hukum Islam di Indonesia

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, terjadi perbedaan pendapat para ahli
mengenai kapan pertama kali Islam measuk ke Nusantara. Menurut pendapat yang
disimpulkan oleh Seminar Masuknya Islam ke Indonesia yang diselenggarakan di
Medan 1963, Islam telah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah atau pada
abad ketujuh/kedelapan masehi. Pendapat lain mengatakan bahwa Islam baru sampai
ke Nusantara ini pada abad ke-13 Masehi. Daerah yang pertama didatanginya adalah
pesisir utara pulau Sumatera dengan pembentukan masyarakat Islam pertama di
Pereulak Aceh Timur dan kerajaan Islam pertama di Samudra Pasai, Aceh Utara.
Ketika singgah di Samudera Pasai pada tahun 1345 Masehi, Ibnu Batutah,
seorang pengembara, mengagumi perkembangan Islam di negeri tersebut. ia
mengagumi kemampuan Sultan Al-Malik Al-Zahir dalam berdiskusi tentang berbagai
masalah Islam dan Ilmu Fiqh. Menurut pengembara Arab Islam Maroko itu, selain
sebagai seorang raja, Al-Malik Al-Zahir yang menjadi Sultan Pasai ketika itu adalah juga
seorang fukaha (ahli hukum yang mahir tentang hukum Islam). Yang dianut di kerajaan
Pasai pada waktu itu adalah hukum Islam Mazhab Syafii. Menurutt Hamka, dari
Pasailah disebarkan paham Syafii ke kerajaan kerajaan Islam lainnya di Indonesia.
Bahkan setelah kerajaan Islam Malaka berdiri (1400-1500 M) para ahli hukum Islam
Malaka datang ke Samudra Pasai untuk meminta kata putus mengenai berbagai
masalah hukum yang mereka jumpai dalam masyarakat.
Dalam proses Islamisasi kepulauan Indonesia yang dilakukan oleh para
saudagar melalui perdagangan dan perkawinan, peranan hukum Islam adalah besar.
Kenyataan ini dilihat bahwa bila seorang saudagar Muslim hendak menikah dengan
seorang wanita pribumi, misalnya, wanita itu diislamkan lebih dahulu dan
perkawinannya kemudian dilangsungkan menurut ketentuan Hukum Islam.
Setelah agama Islam berakar pada masyarakat, peranan saudagar dalam
penyebaran Islam digantikan oleh para ulama yang bertindak sebagai guru dan
pengawal Hukum Islam. Salah satu contoh ulama yang terkenal adalah Nuruddin Ar-
Raniri, yang menulis buku hukum Islam dengan judul Siratal Mustaqim pada tahun
1628. menurut Hamka, kitab Hukum Islam yang ditulis oleh Ar-Raniri ini merupakan
kitab hukum Islam pertama yang disebarkan ke seluruh Indonesia. oleh Syaikh
Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang menjadi mufti di Banjarmasin, kitab hukum Siratal
Mustaqim itu diperluas dan diperpanjang uraiannya dan dijadikan pegangan dalam
menyelesaikan sengketa antara umat Islam di daerah kesultanan Banjar. Kitab yang
sudah diuraikan ini kemudian diberi nama Sabilal Muhtadin. Di daerah kesultanan
Palembang dan Banten, terbit pula beberapa kitab Hukum Islam yang dijadikan
pegangan oleh umat Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam hidup dan
kehidupan mereka ditulis oleh Syaikh Abdu Samad dan Syaikh Nawawi Al-Bantani.
Dari uraian singkat di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sebelum
Belanda mengukuhkan kekuasannya di Indonesia, hukum Islam sebagai hukum yang
berdiri sendiri telah ada dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang di samping
kebiasaan atau adat penduduk yang mendiami kepulauan Nusantara ini. Islam berakar
dalam kesadaran penduduk kepulauan Nusantara dan mempunyai pengaruh yang
bersifat normatif dalam kebudayaan Indonesia.
Pada akhir abad keenam belas, VOC merapatkan kapalnya di Pelabuhan
Banten, Jawa Barat. semula maksudnya adalah berdagang, tapi kemudian haluannya
berubah menjadi menguasai kepulauan Indonesia. VOC memiliki dua fungsi, pertama
sebagai pedagang, kedua sebagai badan pemerintahan. Dalam kata lain, Sebagai
badan pemerintahan VOC menggunakan hukum Belanda yang dibawanya. Akan tetapi
hukum Belanda tidak pernah bisa diterapkan seluruhnya, sehingga VOC kemudian
membiarkan lembaga lembaga asli yang ada di dalam masyarakat berjalan terus
seperti keadaan sebelumnya. Pemerintah VOC terpaksa harus memperhatikan hukum
yang hidup dan diikuti oleh rakyat dalam kehidupan mereka sehari hari. Dalam statuta
Jakarta (Batavia) tahun 1642 disebutkan bahwa mengenai soal kewarisan bagi orang
Indonesia yang beragama Islam harus dipergunakan hukum Islam, yakni hukum yang
dipakai oleh rakyat sehari hari.
Berdasarkan pola pemikiran tersebut, pemerintah VOC meminta kepada D.W.
Freijer untuk menyusun suatu compendium (intisari atau ringkasan) yang memuat
hukum perkawinan dan hukum kewarisan Islam. Setelah diperbaiki dan disempurnakan
oleh para penghulu dan ulama Islam, ringkasan kitab hukum tersebut diterima oleh
pemerintah VOC (1760) dan dipergunakan oleh pengadilan dalam menyelesaikan
sengketa yang terjadi di kalangan umat Islam di daerah daerah yang dikuasai VOC.
Selain Compendium Freijer, banyak lagi kitab hukum yang dibuat di zaman VOC, di
antaranya ialah kitab hukum mogharraer untuk Pengadilan Negeri Semarang. Kitab
hukum ini adalah kitab perihal hukum hukum Jawa yang dialirkan dengan teliti dari
kitab hukum Islam Muharrar karangan Ar-Rafii. Mogharraer memuat sebagian besar
hukum pidana Islam. Posisi hukum Islam di zaman VOC ini berlangsung demikian,
selama lebih kurang dua abad.
Waktu pemerintahan VOC berakhir dan pemerintahan kolonial Belanda
menguasai sungguh sungguh kepulauan Indonesia, sikapnya terhadap hukum Islam
mulai berubah. Perubahan ini khususnya tampak pada abad ke 19, dimana ketika itu
banyak orang Belanda sangat berharap dapat segera menghilangkan pengaruh agama
Islam dari sebagian besar orang Indonesia dengan berbagai cara, salah satunya adalah
kristenisasi. Mereka berpendapat bahwa pertukaran agama penduduk menjadi kristen
akan menguntungkan negeri Belanda. Selain itu, pemerintah Belanda memiliki
keinginan yang kuat untuk menata dan mengubah hukum di Indonesia menjadi hukum
Belanda, karena adanya anggapan bahwa hukum Eropa jauh lebih baik daripada
hukum yang telah ada di Indonesia. untuk melaksanakan maksud tersebut pemerintah
Belanda kemudian mengangkat suatu komisi yang diketuai oleh Mr. Scholten van Oud
Haarlem yang bertugas untuk melakukan penyesuaian undang undang Belanda itu
dengan Indonesia.
Mengenai kedudukan hukum Islam dalam usaha pembaharuan tata hukum di
Hindia Belanda, Scholten berpendapat bahwa hukum Islam sebaiknya tetap dibiarkan
ada dalam masyarakat agar tidak terjadi hal hal yang tidak menyenangan. Pendapat
inilah yang mungkin menyebabkan pasal 75 RR menginstruksikan kepada pengadilan
untuk mempergunakan undang undang agama dan lembaga lembaga kebiasaan
mereka bila golongan bumi putera bersengketa, sejauh undang undang dan
kebiasaan tersebut tidak bertentangan dengan hukum Belanda. Pemerintah Hindia
Belanda kemudian mendirikan Pengadilan Agama di Jawa dan Madura untuk
menyelesaikan perkara perdata antara sesama orang bumi putera. Inti wewenang
Pengadilan Agama ini adalah kelanjutan praktik pengadilan dalam masyarakat
bumiputera yang beragama Islam yang telah berlangsung sejak zaman pemerintahan
VOC dan kerajaan kerajaan Islam sebelumnya.
Seorang ahli hukum Belanda bernama van den Berg mengatakan bahwa orang
Islam Indonesia telah melakukan resepsi hukum Islam dalam keseluruhannya dan
sebagai satu kesatuan: receptio in complexu. Pendapat ini kemudian ditentang oleh
Christian Snouck Hurgronje, ia berpendapat bahwa yang berlaku bagi orang Islam di
kedua daerah itu bukanlah hukum Islam, tetapi hukum Adat. Pendapat ini kemudian
terkenal dengan nama receptie theorie. Karena teori inilah pada tahun 1922,
pemerintah Belanda membentuk sebuah komisi untuk meninjau kembali wewenang
Priesterraad atau Raad Agama di Jawa dan Madura yang tahun 1882 secara resmi
berwenang mengadili perkara kewarisan orang orang Islam menurut ketentuan
hukum Islam. Dengan alasan bahwa hukum kewarisan Islam belum diterima
sepenuhnya oleh hukum adat, maka melalui pasal 2a ayat (1) S. 1937 : 116 dicabutlah
wewenang Raad atau Pengadilan Agama di Jawa dan Madura untuk mengadili perkara
warisan. Usaha giat raja raja Islam di Jawa menyebarkan hukum Islam di kalangan
rakyatnya distop oleh pemerintah kolonial sejak 1 April 1937. wewenang untuk
mengadili perkara kewarisan pun dialihkan ke Landraad.
Akan tetapi, Landraad ketika memutuskan perkara warisan dianggap sangat
bertentangan dengan hukum Islam, sehingga menimbulkan reaksi dari berbagai
organisasi Islam. Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI) pun memprotes kehadiran S.
1937 : 116, karena staatsblad tersebut dianggap telah menggoyahkan kedudukan
hukum Islam dalam masyarakat Muslim Indonesia. Meski begitu pemerintah Belanda
tetap tidak menghiraukan protes tersebut.
Usaha untuk mengendalikan dan menempatkan hukum Islam dalam
kedudukannya semula (sebelum dikendalikan oleh Pemerintah Belanda) terus
dilakukan oleh para pemimpin Islam dalam berbagai kesempatan yang terbuka. Salah
satu contohnya adalah ketika sidang BPUPKI berhasil menghasilkan Piagam Jakarta
(22 juni 1945) yang selanjutnya menjadi Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. di
dalam piagam ini, dinyatakan antara lain bahwa negara berdasarkan pada Ketuhanan,
dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk pemeluknya. Tujuh kata
terakhir ini oleh PPKI diganti dengan kata Yang Maha Esa dan ditambahkan pada
Ketuhanan sehingga berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Setelah kemerdekaan Indonesia, adanya UUD 1945 sebagai sumber hukum
tertinggi di Indonesia, maka IS yang menjadi landasan legal teori resepsi sudah tidak
berlaku lagi. Bagaimana posisi hukum Islam? Dapat dilihat pada Pasal 2 ayat (1)
Undang Undang Perkawinan yang mengatakan bahwa perkawinan adalah sah
apabila dilakukan menurut agama, maka jelas hukum Islam telah langsung menjadi
sumber hukum. Pengadilan bagi orang yang beragama Islam adalah Pengadilan
Agama. Pengadilan Agama kembali mempergunakan Hukum Islam, sekurang
kurangnya satu asas dalam menyelesaikan satu sengketa. Pengadilan Agama juga
diperbolehkan menggunakan hukum adat asalkan tidak bertentangan dengan hukum
Islam.

B. Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional


Kini, di Indonesia, hukum Islam yang disebut dan ditentukan oleh peraturan
perundang undangan dapat berlaku langsung tanpa harus melalui hukum Adat.
Republik Indonesia dapat mengatur suatu masalah sesuai dengan hukum Islam,
sepanjang pengaturan itu hanya berlaku bagi pemeluk agama Islam. Kedudukan hukum
Islam dalam sistem hukum Indonesia adalah sama dan sederajat dengan hukum Adat
dan hukum Barat, karena itu hukum Islam juga menjadi sumber pembentukan hukum
nasional yang akan datang di samping hukum adat dan hukum barat yang juga tumbuh
dan berkembang dalam negara Republik Indonesia.
Berlakunya hukum Islam di Indonesia dan telah mendapat tempat
konstitusional menurut Abdul Ghani Abdullah berdasar pada tiga alasan, yaitu: Pertama,
alasan filosofis, ajaran Islam merupakan pandangan hidup, cita moral dan cita hukum
mayoritas muslim di Indonesia, dan ini mempunyai peran penting bagi terciptanya
norma fundamental negara Pancasila; Kedua, alasan Sosiologis. Perkembangan
sejarah masyarakat Islam Indonesia menunjukan bahwa cita hukum dan kesadaran
hukum bersendikan ajaran Islam memiliki tingkat aktualitas yang berkesiambungan;
dan Ketiga, alasan Yuridis yang tertuang dalam pasal 24, 25 dan 29 UUD 1945
memberi tempat bagi keberlakuan hukum Islam secara yuridis formal.
Menurut mantan Menteri Kehakiman Ali Said pada pidatonya di upacara
pembukaan Simposium Pembaruan Hukum Perdata Nasional di Yogyakarta tanggal 21
Desember 1981 hukum Islam terdiri dari dua bidang, bidang ibadah dan bidang
muamalah. Pengaturan hukum yang bertalian dengan ibadah bersifat rinci, sedang
pengaturan mengenai muamalah tidak terlalu rinci. Yang ditentukan dalam bidang
muamalah hanyalah prinsip prinsipnya saja. Pengembangan dan aplikasi prinsip
prinsip tersebut diserahkan sepenuhnya kepada para penyelenggara negara dan
pemerintahan. Oleh karena hukum Islam memegang peranan penting dalam
membentuk serta membina ketertiban sosial umat Islam dan mempengaruhi segala
segi kehidupannya, maka jalan terbaik yang dapat ditempuh ialah mengusahakan
secara ilmiah adanya transformasi norma norma hukum Islam ke dalam hukum
nasional, sepanjang norma tersebut sesuai dengan Pancasila dan Undang Undang
Dasar 1945 serta relevan dengan kebutuhan hukum khusus umat Islam. Menurut Ali
Said, banyak asas yang bersifat universal terkandung dalam hukum Islam yang dapat
digunakan dalam menyusun hukum nasional.
Kutipan ini semakin menegaskan bahwa hukum Islam berkedudukan sebagai
sumber bahan baku penyusunan hukum nasional.

C. Hukum Islam Dalam Pembinaan Hukum Nasional


Pada tahap perkembangan pembinaan hukum nasional sekarang, menurut Daud
Ali, yang diperlukan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional adalah badan yang
berwenang merancang dan menyusun hukum nasional yang akan datang adalah asas
asas dan kaidah kaidah hukum Islam dalam segala bidang, baik yang bersifat
umum maupun khusus. Umum adalah ketentuan ketentuan umum mengenai
peraturan perundang undangan yang akan berlaku di tanah air kita, sedangkan
khusus contohnya adalah asas asas hukum perdata Islam terutama mengenai hukum
kewarisan, asas asas hukum ekonomi terutama mengenai hak milik, perjanjian dan
utang piutang, asas asas hukum pidana Islam, asas asas hukum tata negara dan
administrasi pemerintahan, asas asas hukum acara dalam Islam dan lain lain.
Masalah utama yang dihadapi oleh lembaga pembinaan hukum nasional adalah
merumuskan asas asas dalam hukum Islam tersebut ke dalam kata kata jelas yang
dapat diterima oleh semua golongan di pelosok tanah air, bukan hanya orang Islam
saja. Tim pengkajian Hukum Islam Babinkumnas telah berusaha menemukan asas
asas tersebut dan merumuskannya ke dalam kaidah kaidah untuk dijadikan untuk
dijadikan bahan pembinaan hukum nasional. Berbagai asas dapat dikembangkan
melalui jurisprudensi peradilan agama, karena asas asas ini dirumuskan dari keadaan
konkret di tanah air kita, sehingga dapat lebih mudah diterima.
Konsep pengembangan hukum Islam, secara kuantitatif begitu mempengaruhi
tatanan sosial-budaya serta politik dan hukum dalam masyarakat. Kemudian, konsep
tersebut lalu diubah arahnya yaitu secara kualitatif diakomodasikan dalam berbagai
perundang undangan yang dilegaslasikan oleh lembaga pemerintah dan negara.
Konkretisasi dari pandangan ini selanjutnya disebut sebagai usaha transformasi hukum
Islam ke dalam bentuk perundang undangan.
Transformasi hukum agama menjadi hukum nasional terjadi juga di beberapa
negara muslim seperti Mesir, Syria, Irak, Jordania dan Libya. Yang berbeda adalah
kadar unsur unsur hukum Islam dalam hukum nasional negara negara yang
bersangkutan. Di negara negara tersebut, hukum nasional mereka merupakan
percampuran antara hukum barat dan hukum Islam, sementara di Indonesia, hukum
nasional di masa yang akan datang akan merupakan perpaduan antara hukum adat,
hukum Islam dan hukum eks-Barat.

D. Kontribusi Hukum Islam Terhadap Perkembangan Hukum Nasional


Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa sistem hukum yang mewarnai
hukum nasional kita di Indonesia selama ini pada dasarnya terbentuk atau dipengaruhi
oleh tiga pilar subsistem hukum yaitu sistem hukum barat, hukum adat dan sistem
hukum Islam, yang masing-masing menjadi sub-sistem hukum dalam sistem hukum
Indonesia.
Sistem Hukum Barat merupakan warisan penjajah kolonial Belanda yang selama
350 tahun menjajah Indonesia. Penjajahan tersebut sangat berpengaruh pada sistem
hukum nasional kita. Sementara Sistem Hukum Adat bersendikan atas dasar-dasar
alam pikiran bangsa Indonesia, dan untuk dapat sadar akan sistem hukum adat orang
harus menyelami dasar-dasar alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat Indonesia.
Kemudian sistem Hukum Islam, yang merupakan sistem hukum yang bersumber pada
kitab suci AIquran dan yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad dengan hadis/sunnah-
Nya serta dikonkretkan oleh para mujtahid dengan ijtihadnya. Bustanul Arifin
menyebutnya dengan gejala sosial hukum itu sebagai perbenturan antara tiga sistem
hukum, yang direkayasa oleh politik hukum kolonial Belanda dulu yang hingga kini
masih belum bisa diatasi,[1][48]seperti terlihat dalam sebagian kecil pasal pada UU No.
21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Dari ketiga sistem hukum di atas secara objektif dapat kita nilai bahwa hukum
Islamlah ke depan yang lebih berpeluang memberi masukan bagi pembentukan hukum
nasional. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan adanya
kedekatan emosional dengan hukum Islam juga karena sistem hukum barat/kolonial
sudah tidak berkembang lagi sejak kemerdekaan Indonesia, sementara hukum adat
juga tidak memperlihatkan sumbangsih yang besar bagi pembangunan hukum nasional,
sehingga harapan utama dalam pembentukan hukum nasional adalah sumbangsih
hukurn Islam.

Hukum Islam memiliki prospek dan potensi yang sangat besar dalam
pembangunan hukum nasional. Ada beberapa pertimbangan yang menjadikan hukum
Islam layak menjadi rujukan dalam pembentukan hukum nasional yaitu:

a. Undang-undang yang sudah ada dan berlaku saat ini seperti, UU Perkawinan, UU
Peradilan Agama, UU Penyelenggaraan Ibadah Haji, UU Pengelolaan Zakat dan UU
Otonomi Khusus nanggroe Aceh Darussalam serta beberapa undang-undang lainnya
yang langsung maupun tidak langsung memuat hukum Islam seperti UU Nomor 10
Tahun 1998 tentang perbankan yang mengakui keberadaan Bank Syari'ah dengan
prinsip syari'ahnya., atau UU NO. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama yang
semakin memperluas kewenangannya, dan UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah.

b. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang 90 persen beragama Islam
akan memberikan pertimbangan yang signifikan dalam mengakomodasi
kepentingannya.

c. Kesadaran umat Islam dalam praktek kehidupan sehari-hari. Banyak aktifitas


keagamaan masyarakat yang terjadi selama ini merupakan cerminan kesadaran
mereka menjalankan Syari'at atau hukum Islam, seperti pembagian zakat dan waris.

d. Politik pemerintah atau political will dari pemerintah dalam hal ini sangat menentukan.
Tanpa adanya kemauan politik dari pemerintah maka cukup berat bagi Hukum Islam
untuk menjadi bagian dari tata hukum di Indonesia.

Untuk lebih mempertegas keberadaan hukum Islam dalam konstalasi hukum


nasional dapat dilihat dari Teori eksistensi tentang adanya hukum Islam di dalam hukum
nasional Indonesia. Sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya.

Bila dilihat dari realitas politik dan perundang-undangan di Indonesia nampaknya


eksistensi hukum Islam semakin patut diperhitungkan seperti terlihat dalam beberapa
peraturan perundangan yang kehadirannya semakin memperkokoh Hukum Islam:

a. Undang-Undang Perkawinan

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disahkan dan diundangkan di


Jakarta Pada tanggal 2 Januari 1974 (Lembaran Negara Tahun '1974 No. Tambahan
Lembaran Negara Nomer 3019).

b. Undang-Undang Peradilan Agama

Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama disahkan dan


diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Desember 1989 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1989 No. 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
3400). Kemudian pada tanggal 20 Maret 2006 disahkan UU Nomor 3 tahun 2006.
tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agarna. Yang
melegakan' dari UU ini adalah semakin luasnya kewenangan Pengadilan Agama
khususnya kewenangan dalam menyelesaikan perkara di bidang ekonomi syari'ah.
Untuk menjelaskan berbagai persoalan syari'ah di atas Dewan Syari'ah Nasional
(DSN) telah mengeluarkan sejumlah fatwa yang berkaitan dengan ekonomi syari'ah
yang sampai saat ini jumlahnya sudah mencapai 53 fatwa. Fatwa tersebut dapat
menjadi bahan utama dalam penyusunan kompilasi tersebut. Sehubungan dengan
tambahan kewenangan yang cukup banyak kepada pengadilan agama sebagaimana
pada UU No. 3 tahun 2006 yaitu mengenai ekonomi syari'ah, sementara hukum Islam
mengenai ekonomi syari'ah masih tersebar di dalam kitab-kitab fiqh dan fatwa Dewan
Syari'ah Nasional, kehadiran Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah (KHES) yang
didasarkan pada PERMA Nomor 2 Tahun 2008, tanggal 10 September 2008
tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah, menjadi pedoman dan pegangan kuat bagi
para Hakim Pengadilan Agama khususnya, agar tidak terjadi disparitas putusan Hakim,
dengan tidak mengabaikan penggalian hukum yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat sebagaimana maksud Pasal 28 ayat (1) Undang- Undang Nomor 4 Tahun
2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah terdiri dari 4
Buku, 43 Bab, 796 Pasal.

c. Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji

Undang-Undang No. 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji disahkan


dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 3 Mei 1999 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 No. 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
3832), yang digantikan oleh UU Nomor 13 Tahun 2008. UU pengganti ini memiliki 69
pasal dari sebelumnya 30 pasal. UU ini mentikberatkan pada adanya pengawasarn
dengan dibentuknyaKomisi Pengawasan Haji Indonesia [KPHI]. Demikian juga dalam
UU ini diiatur secara terperinci tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji [BPIH].
Aturan baru tersebut diharapkan dapat menjadikan pelaksanaan ibadah haji lebih tertib
dan lebih baik.

d. Undang-Undang Pengelolaan Zakat

Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat disahkan dan


diundangkan di Jakarta pada tanggaI 23 September 1999 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 No. 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
3885).

e. Undang-Undang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh.

Undang-Undang No. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah


Istimewa Aceh disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 4 Oktober 1999
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1999 No.172, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No.3893).

f. Undang-Undang Otonomi Khusus Aceh

Undang-Undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Daerah Istimewa
Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam disahkan dan diundangkan di
Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2001. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2001 No. 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4134).

g. Kompilasi Hukum Islam

Perwujudan hukum bagi umat Islam di Indonesia terkadang menimbulkan pemahaman


yang berbeda. Akibatnya, hukum yang dijatuhkan sering terjadi perdebatan di kalangan
para ulama. Karena itu diperlukan upaya penyeragaman pemahaman dan kejelasan
bagi kesatuan hukum Islam. Keinginan itu akhirnya memunculkan Kompilasi Hukum
Islam (KHI), yang saat ini telah menjadi salah satu pegangan utama para hakim di
lingkungan Peradilan Agama. Sebab selama ini Peradilan Agama tidak mempunyai
buku standar yang bisa dijadikan pegangan sebagaimana halnya KUH Perdata. Dan
pada tanggal 10 Juni 1991 Presiden menandatangani Inpress No.1 Tahun 1991 yang
merupakan instruksi untuk memasyarakatkan KHI.

h. Undang-undang tentang Wakaf

Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf disahkan dan diundangkan di


Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 No. 159, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4459). Kemudian
pada tanggal 15 Desember 2006 ditetapkanlah peraturan pemerintah Republik.
Indonesia Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41
Tahun 2004 tentang wakaf. Maksud penyusunan peraturan pelaksanaan PP ini adalah
untuk menyederhanakan pengaturan yang mudah dipahami masyarakat, organisasi dan
badan hukum, serta pejabat pemerintahan yang mengurus perwakafan, BWI, dan LKS,
sekaligus menghindari berbagai kemungkinan perbedaan penafsiran terhadap
ketentuan yang berlaku.

i. Undang-Undang Tentang Pemerintahan Aceh

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, semakin


menegaskan legalitas penerapan syariat Islam di Aceh. Syariat Islam yang dimaksud
dalam undang-undang ini meliputi ibadah, al-ahwal alsyakhshiyah (hukum
keluarga), muamalah (hukum perdata),jinayah (hukum
pidana), qadha (peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syi'ar, dan pembelaan Islam.
Di samping itu keberadaan Mahkamah Syar'iyah yang memiliki kewenangan yang
sangat luas semakin memperkuat penerapan hukum Islam di Aceh. Mahkamah
Syar'iyah merupakan pengadilan bagi setiap orang yang beragama Islam dan berada di
Aceh. Mahkamah ini berwenang memeriksa, mengadili, memutus dan menyelesaikan
perkara yang meliputi bidang al-ahwal al-syakhshiyah (hukum
keluarga),muamalah (hukum perdata) tertentu, jinayah (hukum pidana) tertentu, yang
didasarkan atas syari'at Islam.

j. Undang-undang Tentang Perbankan Syari'ah

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang- Undang


Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang diundangkan pada tanggal 10
November 1998, menandai sejarah baru di bidang perbankan yang mulai
memberlakukan sistem ganda duel sistem banking di Indonesia, yaitu sistem perbankan
konvensional dengan piranti bunga, dan sistem perbankan dengan peranti akad-
akad yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Sejarah perbankan secara faktual
telah mencatat bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1992 hingga Mei 2004 telah
berkembang pesat perbankan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008
(selanjutnya disebut UU No. 21 Tahun 2008) tentang Perbankan Syariah menyebutkan
bahwa perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank
Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara
dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Akad-akad dimaksud antara lain
adalah : wadi'ah, mudharabah, musyarakah, ijarah, ijarah muntahiya bit-tamlik,
murabahah, salam, istishna'I, qardh, wakalah, atau akad lain yang sesuai dengan
prinsip syariah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah hukum Islam bersifat universal, berlaku
kepada setiap orang yang beragama Islam, dimanapun dan kapanpun ia berada. Oleh
karena itu, hukum Islam juga berlaku terhadap umat Islam di Indonesia. hanya saja,
tidak semua peraturan dalam hukum Islam menjadi hukum nasional, dikarenakan harus
disesuaikan terlebih dahulu dengan karakter bangsa dan Undang Undang Dasar
1945.
Hukum Islam di Indonesia telah mengalami pasang surut seiring dengan
kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. Pasang surut tersebut adalah
perkembangan yang dinamis dan berkesinambungan bagi upaya transformasi hukum
Islam ke dalam sistem hukum Nasional. Sejarah produk hukum Islam sejak masa
penjajahan hingga masa kemerdekaan dan masa reformasi merupakan fakta yang
menjadi bukti bahwa sejak dahulu kala hukum Islam telah menjadi hukum yang sangat
berpengaruh di Indonesia.
Hukum Islam berkedudukan sebagai salah satu hukum yang mempengaruhi
perkembangan sistem hukum nasional. Beberapa hukum Islam yang telah melekat
pada masyarakat kemudian dijadikan peraturan perundang undangan. Dengan
adanya peraturan peraturan perundang undang yang memiliki muatan hukum Islam
maka umat muslim Indonesia pun memiliki landasan yuridis dalam menyelesaikan
masalah masalah perdata.

Berdasarkan berbagai uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prospek


penerapan hukum Islam di Indonesia cukup cerah.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada berbagai kenyataan positif, antara lain:
1. Berbagai kebijakan dan kebijaksanaan pemerintah selaku penyelenggara Negara yang
memberi peluang bagi berperannya hukum Islam.
2. Telah terwujudnya berbagai peraturan dan perundang-undangan yang membuat hukum
Islam menjadi lebih eksis sebagai sub sistem dalam sistem hukum nasional.
3. Adanya upaya yang cukup maksimal dari kalangan umat Islam dan pakar hukum Islam
melalui dakwah dan pendidikan, sehingga selain dapat lebih meningkatkan kualitas
iman juga kesadaran untuk melaksanakan secara hukum secara maksimal.
Sekian semoga bermanfaat bagi semuanya, jazakumullah khairal jaza.
B. Saran
Sebagai saran, diharapkan untuk perkembangan hukum Islam selanjutnya dapat
dikeluarkan lagi peraturan perundang undangan mengenai apa yang belum ada
sebelumnya. Sebagai contoh, anak adopsi. Islam tidak mengenal adanya anak adopsi,
yang ada hanyalah anak asuh. Yang mengenal soal pengangkatan anak hanyalah
hukum barat dan hukum adat. Bila peraturan mengenai adopsi / asuh dikeluarkan
menurut hukum Islam maka akan menimbulkan kepastian hukum bagi anak anak
asuh / adopsi maupun orangtuanya.
Selanjutnya adalah mengenai perkawinan antar agama yang belum diatur
dengan gamblang di Undang Undang Perkawinan. Seharusnya, dimuat aturan yang
jelas mengenai laki laki muslim yang diperbolehkan menikah dengan perempuan non
muslim, atau perempuan muslim yang diharamkan menikah dengan laki laki non
muslim. Selama ini karena peraturannya tidak ada maka banyak orang memilih untuk
menikah di luar negeri. Bila peraturannya ada, maka batas antara larangan dan bukan
akan terlihat jelas.

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Ali, Muhammad Daud, Penerapan Hukum Islam dalam Negara Republik Indonesia, Makalah
disampaikan pada Pendidikan Kader Ulama di Jakarta, tanggal 17 Mei 1995.
_________________, Kedudukan Hukum Islam dan Sistem Hukum di Indonesia, (Jakarta:
Risalah, 1984).
_________________, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Islam di Indonesia. Edisi Revisi (Jakarta: Rajawali Press, 1998).
_________________, Hukum Islam dan Peradilan Agama. (Jakarta: Rajawali
Press, 1997).
Didi Kusnadi. Hukum Islam di Indonesia (Tradisi, Pemikiran, Politik Hukum dan
Produk Hukum). Kuningan: Ebook, 2010.
Rafiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia (Cet I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995)
Rasdiyanah, Andi, Kontribusi Hukum Islam dalam Mewujudkan Hukum Pidana
Nasional, Makalah Disampaikan pada upacara Pembukaan Seminar Nasional
tentang Kontribusi Hukum Islam Terhadap Terwujudnya Hukum Pidana Nasional yang
Berjiwa Kebangsaan, UII-Yogyakarta, 2 Desember 1995.
Speyoeti, Zarkowi, Kontribusi Hukum Islam Terhadap Hukum Nasional, Makalah disampaikan
pada Seminar Konsep Keadilan dalam Perspektif Hukum, IAIN Sunan Ampel
Gunungjati-Bandung, 16 Mei 1994.
Peraturan PerUndang-Undangan:
UUD 1945.
Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan.
Undang-Undang No. 17 Tahun 1999 Jo UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Ibadah Haji.
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.
Undang-Undang No. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah
Istimewa Aceh.
Undang-Undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Daerah Istimewa
Aceh.
Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.
Kompilasi Hukum Islam.

Makalah Sejarah Peradilan Islam Masa


kolonial Belanda

SEJARAH PERADILAN ISLAM DI INDONESIA


MASA KOLONIAL BELANDA
Makalah
Disusun Sebagai Tugas Pribadi oleh Dosen Pembimbing Mata Kuliah
SejarahPeradilan Islam
WAHIDULLAH, S.H.I., M.H.

Disusunoleh:
Lia Apriliani (1213049)

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM


UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA(UNISNU)
JEPARA 2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Alhamdulillah, Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidahnya Kami diberikan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
Makalah ini. Shalawat beserta salam senantisa tercurah kepada Nabi Muhammad saw beserta
para keluarga dan sohabatnya. Aamiin.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas Individu mata kuliah Sejarah Peradilan Islam
semester gasal, fakultas Syariah dan Hukum prodi Al-Ahwal Al-Syahsiyah Universitas Islam
Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara
Dalam menyusun makalah ini, tentunya tidak mungkin terlaksana apabila tanpa semangat,
dukungan, dari pemakalah dan seluruh elemen yang membantu dalam penyusunan makalah ini.
Oleh karena itu, Kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Wahidullah, S.H.I., M.H. selaku dosen mata kuliah Sosiologi Hukum atas
arahan yang diberikan dalam penyusunan makalah ini.
2. Kedua orang tua kami atas doa serta dukungan moril maupun materiil yang telah diberikan
selama ini.
3. Sahabat-sahabati atas kerjasamanya dalam menyusun makalah ini.
Semoga Allah SWT. Membalas dengan balasan yang setimpal. Saran dan kritik yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi perbaikan substansi makalah ini.
Wassalammualaikum Wr.Wb.
Jepara, 06 Januari 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dari waktu ke waktu lembaga peradilan indonesia mengalami perubahan-perubahan
sejalan dengan perkembangan dan perubahan zaman itu sendiri, baik dalam kelembagaannya
maupun dalam sistem penegakan hukumnya, yang dalam kurun waktu tertentu di tandai dengan
ciri-ciri tertentu pula. Hal ini dilakukan dalam upaya mencari dan menerapkan sistym yang
cocok untuk bangsa Indonesia. Proses mencari bentuk yang tepat ini menurut satjipto Raharjo
harus melalui proses panjang karna menyangkut perubahan perilaku, tatanan sosial, dan kultur.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara Islam dan hukum Islam
selalui berjalan beiringan tidak dapat dipisah-pisahkan. Oleh karena itu pertumbuhan Islam
selalu diikuti oleh pertumbuhan hukum islam itu sendiri. Jabatan hakim dalam Islam merupakan
kelengkapan pelaksanaan syariat Islam. Sedangkan peradilan itu sendiri merupakan kewajiban
kolektif , yakni sesuatu yang dapat ada dan harus dilakukan dalam keadaan bagaimanapun juga.
Peradilan Islam di Indonesia yang di kenal dengan Peradilan Agama keberadaannya jauh
sebelum Indonesia merdeka karena ketika Islam mulai berkembang di Nusantara, Peradilan
Agama juga telah muncul bersamaan dengan perkembangan kelompok di kala itu, kemudian
memperoleh bentuk-bentuk ketatanegaraan yang sempurna dalam kerajaan-kerajaan Islam.
Peradilan yang telah lama ini mengakibatkan banyak mengalami pasang surut hingga
sekarang, pada mulanya sederhana lalu berkembang sesuai dengan kebutuhan hukum yang
berkembang dalam masyarakat. Sehingga dalam makalah ini kami akan membahas tentang
peradilan islam pada saat belanda.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas Maka penulis perlu merumuskan masalah-masalah
yang akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya:
1. Bagaimana peradilan islam pra hindia belanda.
2. Apa yang terjadi pada perkembangan sejarah lembaga peradilan di indonesia era Kolonial
sampai di proklamirkan kemerdekaan.
3. Bagaimana hukum islam pada masa penjajahan belanda.

C. TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas Maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Bagaimana peradilan islam pra hindia belanda.
2. Untuk mengetahui Apa yang terjadi pada perkembangan sejarah lembaga peradilan di indonesia
era Kolonial sampai di proklamirkan kemerdekaan.
3. Untuk mengetahui hukum islam pada masa penjajahan belanda.

BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH PERADILAN AGAMA PADA MASA KOLONIAL


1. Pra Pemerintahan Hindia Belanda
Pada prapemerintahan hindia belanda di kenal dengan 3 (tiga) periode.
Pertama, periode tahkim, dalam masalah pribadi yang mengakibatkan perbenturan antara
hak-hak dan kepentingan-kepentingan dalam tingkah laku mereka. Mereka bertahkim kepada
seorang pemuka agama yang ada di tengah-tengah kelompok masyarakat, misalnya seorang
wanita bertahkim kepada seorang penghulu sebagai wali yang berhak menikahkannya dengan
pria idamannya.
Kedua, periode ahlul hilli wal aqdi. Mereka telah membaiat dan mengangkat seorang
ulama islam dimana mereka yang dapat bertindak sebagai qadhi dapat menyelesaikan setiap
perkara yang terjadi diantara mereka. Jadi, qadhi brtindak sebagai hakim.
Ketiga, dikenal periode thauliyah. Secara filosofis dilihat pada periode ketiga ini telah
mulai tampak pengaruh ajaran Trias Politica dari Montesquieau Prancis dan teori-teori
sebelumnya seperti J.J. Rouseau, Thomas Hobbes, John Lock, dan lain-lain.
Periode thauliyah dapat di identifikasikan sebagai delegation of authority, yaitu
penyerahan kekuasaan (wewenang) mengadili, kepada suatu bahan judicative, tetapi tidak
mutlak. Seperti di Minangkabau ada pucuk nagari yang menyelesaikan sengketa
dan qadhi dalam masalah keagamaan. Kenyataan periodesasi ini dibuktikan dengan kumpulan
hukum perkawinan dan kewarisan islam untuk daerah Cirebon, semarang, bone, dan gowa
(makassar) serta papakem Cirebon.[1]
.kemudian, pada tanggal 4 Maret 1620 dikeluarkan intruksi agar di daerah yang di kuasai
konpeni (VOC) harus diberlakukan Hukum sipil Belanda, antara lain dalam soal kewarisan.
Intruksi tersebut tidak dapat dilksanakan karena mengalami kesulitan akibat perlawanan dari
pihak Islam. Berlakunya Hukum perdata Islam diakui oleh VOC dengan Resolutie der
idndische Regeling tanggal 25 Mei 1760, yaitu, berupa suatu kumpulan aturan Hukum
Perkawinan dan Hukum Kewarisan menurut Hukum Islam, ataucompendium Freijer; untuk
dipergunakan pada pengadilan VOC.[2]
2. Lembaga Peradilan Islam Pada Masa Kolonial Belanda
Peradilan agama sebagai lembaga hukum yang berdiri sendiri dan mempunyai kedudukan
yang kuat dalam masyarakat. Kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri, telah melaksanakan
hukum islam dan melembagakan sistem peradilannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dengan keseluruhan sistem pemerintahan di wilayah kekuasaannya.
Secara yuridis formal, peradilan agama sebagai suatu badan peradilan yang terkait dalam
sistem keNegaraan untuk pertama kali lahir di Indonesia (jawa dan Madura) pada tanggal 1
Agustus 1882. Kelahiran ini berdasarkan keputusan Raja Belanda (Konninkklijk Besluit), yakni
raja Willem III tanggal 19 Januari 1882 No. 24 yang di muat dalam staatsblad 1882 No. 152.
Dimana di tetapkan suatu peraturan tentang peradilan Agama dengan nama piesteraden
untuk Jawa dan Madura. Badan peradilan ini yang kemudian lazim disebut dengan Raad Agama
dan terahir dengan pengadilan Agama. Keputusan Raja Belanda ini dinyatakan mulai berlaku 1
Agustus 1882 yang dimuat dalam staatsblad 1882 No. 153, sehingga dengan demikian dapatlah
dikatakan bahwa tanggal kelahiran badan peradilan Agama di Indonesia adalah 1 agustus 1882.
[3]
Pada tahun 1854 pemerintah belanda mengeluarkan pernyataan politik yang di tuangkan
dalam Reglement op het beleid der rengeerings van Nederlandsch Indie yang disingkat
menjadi Regeering Reglement (RR) dan dimuat di dalam Stbl. Belanda 1854 No. 129 dan
sekaligus dimuat didalam Stbl. Hindia Belanda Tahun 1855 No, 2. Dalam pasal 75, 78, dan 109
Regeerings Reglement (RR) Stbl. 1855: 2 ditegaskan berlakunya undang-undang (Hukum)
Islam bagi orang Islam di Indonesia.
Tokoh yang mendukung kebijakan ini adalah Salomon Keyzer, LWC. Van den berg dan C.
Frederik Winter., LWC. Van den berg mengatakan bahwa, bagi orang Islam berlaku penuh
Hukum Islam sebab ia telah memeluk Agama Islam, walaupun dalam pelaksanaan terdapat
penyimpangan. pendapat atau teori ini disebut Receotio in complexu.[4]
3. Lembaga peradilan Islam Pada Masa Jepang
Pada masa pemerintahan Jepang ini Lembaga Peradilan Agama yang sudah ada pada masa
penjajahan Belanda, tetap berdiri dan dibiarkan dalam bentuknya semula. Perubahan yang
dilakukan terhadap lembaga ini hanyalah dengan memberikan atau merubah nama saja,
yaitu Sooryoo Hooin untuk Pengadilan Agama dan Kaikyoo Kootoo Hooin untuk Mahkamah
Islam Tinggi (Pengadilan Tinggi Agama).
Meninjau secara ringkas tentang keadaan Peradilan di seluruh Indonesia pada zaman Jepang
adalah sukar sekali, oleh karena daerah-daerah Indonesia pada zaman pendudukan Jepang di
bagi-bagi dalam kekuasaan yang berbeda, yakni Sumatra adalah daerah Angkatan Darat yang
berpusat di shonanto (Singapura), Jawa Madura dan Kalimantan adalah daerah Angkatan Darat
yang berpusat di Jakarta. Sedang Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara adalah daerah Angkata
Laut yang berpusat di Makasar.[5]
Pada masa pendudukan Jepang ini, kedudukan Pengadilan Agama pernah terancam yaitu
tatkala pada akhir Januari 1945 pemerintah bala tentara Jepang (Guiseikanbu) mengajukan
pertanyaan pada Dewan Pertimbangan Agung (Sanyo-Aanyo Kaigi Jimushitsu) dalam rangka
maksud Jepang akan memberikan kemerdekaan pada bangsa Indonesia yaitu bagaimana sikap
dewan ini terhadap susunan penghulu dan cara mengurus kas Masjid, dalam hubungannya
dengan kedudukan Agama dalam Negara Indonesia kelak. Pada tanngal 14 April 1945 dewan
memberikan jawaban sebagai berikut: 11 (F) urusan Pengadilan Agama.
Dalam negara baru yang memisahkan urusan negara dengan urusan
agama tidak perlu mengadakan Peradilan Agama sebagai Pengadilan
Istimewa, untuk mengadili urusan seseorang yang bersangkut paut dengan
agamanya cukup segala perkara diserahkan kepada pengadilan biasa yang
dapat minta pertimbangan seorang ahli Agama.
Dengan menyerahnya Jepang dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal
17 Agustus 1945, maka pertimbangan dewan Pertimbangan Agung bikinan Jepang itu mati
sebelum lahir dan Peradilan Agama tetap eksis disamping peradilan-peradilan yang lain.
Dari uraian bab ini dapat disimpulkan bahwa dengan keluarnya Stbl. 1937 No. 116 tentang
perubahan dan penambahan Staatsblad 1882 No. 152 tentang wewenang peradilan Agama di
Jawa dan Madura. Kompetensi Peradilan Agama menjadi sempit yakni hanya dalam bidang-
bidang tertentu saja. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, Kedudukan Peradilan Agama
pernah terancam dengan konsep dimana akan diserahkannya tugas peradilan Agama
pada pengadilan biasa. Tetapi syukur aturan itu didahului oleh proklamasi Kemerdekaan.
Ini yang disebut dengan mati sebelum lahir.[6]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peradilan agama sebagai lembaga hukum yang berdiri sendiri dan mempunyai kedudukan
yang kuat dalam masyarakat. Kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri, telah melaksanakan
hukum islam dan melembagakan sistem peradilannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dengan keseluruhan sistem pemerintahan di wilayah kekuasaannya.
Pada prapemerintahan hindia belanda di kenal dengan 3 (tiga) periode.
Pertama, periode tahkim, dalam masalah pribadi yang mengakibatkan perbenturan antara
hak-hak dan kepentingan-kepentingan dalam tingkah laku mereka. Mereka bertahkim kepada
seorang pemuka agama yang ada di tengah-tengah kelompok masyarakat, misalnya seorang
wanita bertahkim kepada seorang penghulu sebagai wali yang berhak menikahkannya dengan
pria idamannya.
Kedua, periode ahlul hilli wal aqdi. Mereka telah membaiat dan mengangkat seorang
ulama islam dimana mereka yang dapat bertindak sebagai qadhi dapat menyelesaikan setiap
perkara yang terjadi diantara mereka. Jadi, qadhi brtindak sebagai hakim.
Ketiga, dikenal periode thauliyah. Secara filosofis dilihat pada periode ketiga ini telah
mulai tampak pengaruh ajaran Trias Politica dari Montesquieau Prancis dan teori-teori
sebelumnya seperti J.J. Rouseau, Thomas Hobbes, John Lock, dan lain-lain.
Meninjau secara ringkas tentang keadaan Peradilan di seluruh Indonesia pada zaman
Jepang adalah sukar sekali, oleh karena daerah-daerah Indonesia pada zaman pendudukan Jepang
di bagi-bagi dalam kekuasaan yang berbeda, yakni Sumatra adalah daerah Angkatan Darat yang
berpusat di shonanto (Singapura), Jawa Madura dan Kalimantan adalah daerah Angkatan Darat
yang berpusat di Jakarta. Sedang Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara adalah daerah Angkata
Laut yang berpusat di Makasar.[7]
Dengan menyerahnya Jepang dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada
tanggal 17 Agustus 1945, maka pertimbangan dewan Pertimbangan Agung bikinan Jepang itu
mati sebelum lahir dan Peradilan Agama tetap eksis disamping peradilan-peradilan yang lain.
DAFTAR PUSTAKA

Mohd. Idris Ramulyo, Asas-Asas Hukum Islam, Ed. Revisi,(Jakarta: Sinar Grafika, 2004),
cet. 1.,
Sulaikin Lubis dkk, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta:
Prenada Media, 2005), Cet I.
A. Basiq Djalil, Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2006), Cet I.

1 Mohd. Idris Ramulyo, Asas-Asas Hukum Islam, Ed. Revisi,(Jakarta: Sinar Grafika, 2004), cet.
1., hlm. 39.
[2]Sulaikin Lubis dkk, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: Prenada
Media, 2005), Cet I. Hal. 25-26.
[3] A. Basiq Djalil, Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2006), Cet I. Hal 47-48.
[4]opcit, hal. 26-27.
[5]Ibid, hal. 30.
[6]A. Basiq Djalil, Opcit, hal. 59.
[7]Ibid, hal. 30.

HUKUM ISLAM

SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM

ISLAM DI INDONESIA
OLEH :

FIKRI ALMANSUR

ASRI EVANGGELINE SILALAHI

FALDI AHMAD JURIO

DIAN HARTINA

DWIKI WIRANTO

AHMAD DANIEL

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

UNIVERSITAS RIAU

2016

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah pertumbuhan dan perkembangan hukum Islam, sangatlah penting


untuk kita ketahui. Selain untuk memperdalam pengetahuan kita tentang sejarah
hukum Islam, namun yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memahami
sumber dan dasar hukum Islam itu sendiri, karena dengan mempelajari sejarah kita
bisa merasakan betapa dekat dan besar perjuangan para ulama dahulu terhadap
perkembangan hukum Islam sekarang dengan menggali ilmu-ilmu yang terkandung
dalam al-Quran maupun Sunnah. Kita tidak bisa menutup mata terhadap sejarah,
kalau bukan karena ulama-ulama kita terdahulu yang mempelajari, mengajakan
serta menulis buku-buku tentang Islam atau sejarahnya, tidak mustahil kita tidak
pernah merasakan manisnya hukum Islam itu sendiri.

Adapun judul makalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah Sejarah
Hukum Islam. Dimana didalamnya membahas tentang perkembangan hukum Islam
mulai pada zaman pra penjajahan belanda sampai sekarang ini. Dimana setiap
periode mempunyai karakter tersendiri yang berbeda dengan periode-periode
lainnya.

kami sebagai pemakalah mohon maaf, apa bila didalam makalah ini ada
kesalahan baik dalam pengutipan, penulisan dan penyusunannya, kemudian saya
mengharapkan kritik dan saran dari kawan-kawan sekalian terutama bapak
pembimbing mata kuliah ini, demi untuk kesempurnaan makalah ini. Akhirnya
hanya kepada Allah-lah kita mengharap ridho dan hidayahnya, mudah-mudahan
makalah ini memberi manfaat bagi kta semua. Amiin.

B. Rumusan Masalah

Kami mengambil suatu rumusan masalah, sebagai berikut :

1. Bagaimanakah perkembangan hukum islam di masa Prapenjajahan Belanda?

2. Bagaimanakah perkembangan hukum islam pada masa Penjajahan Belanda?

3. Bagaimanakah perkembangan hukum islam di masa Pendudukan Jepang?

4. Bagaimanakah perkembangan hukum islam pada masa Kemerdekaan (1945)?

5. Bagaimanakah perkembangan hukum islam pada masa Era Orde Lama dan Orde
Baru?

6. Bagaimanakah perkembangan hukum islam pada masa Era Reformasi?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui perkembangan hukum islam di masa Prapenjajahan Belanda?

2. Untuk mengetahui perkembangan hukum islam pada masa Penjajahan Belanda?

3. Untuk mengetahui perkembangan hukum islam di masa Pendudukan Jepang?


4. Untuk mengetahui perkembangan hukum islam pada masa Kemerdekaan (1945)?

5. Untuk mengetahui perkembangan hukum islam pada masa Era Orde Lama dan
Orde Baru?

6. Untuk mengetahui perkembangan hukum islam pada masa Era Reformasi?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hukum Islam pada Masa Pra Penjajahan Belanda

Akar sejarah hukum Islam di kawasan nusantara menurut sebagian ahli


sejarah dimulai pada abad pertama hijriyah, atau pada sekitar abad ketujuh dan
kedelapan masehi. Sebagai gerbang masuk ke dalam kawasan nusantara, kawasan
utara pulau Sumatera-lah yang kemudian dijadikan sebagai titik awal gerakan
dakwah para pendatang muslim. Secara perlahan, gerakan dakwah itu kemudian
membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak, Aceh Timur. Berkembangnya
komunitas muslim di wilayah itu kemudian diikuti oleh berdirinya kerajaan Islam
pertama di Tanah air pada abad ketiga belas. Kerajaan ini dikenal dengan nama
Samudera Pasai. Ia terletak di wilayah Aceh Utara.

Pengaruh dakwah Islam yang cepat menyebar hingga ke berbagai wilayah


nusantara kemudian menyebabkan beberapa kerajaan Islam berdiri menyusul
berdirinya Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Tidak jauh dari Aceh berdiri Kesultanan
Malaka, lalu di pulau Jawa berdiri Kesultanan Demak, Mataram dan Cirebon,
kemudian di Sulawesi dan Maluku berdiri Kerajaan Gowa dan Kesultanan Ternate
serta Tidore.

Kesultanan-kesultanan tersebut sebagaimana tercatat dalam sejarah, itu


tentu saja kemudian menetapkan hukum Islam sebagai hukum positif yang berlaku.
Penetapan hukum Islam sebagai hukum positif di setiap kesultanan tersebut tentu
saja menguatkan pengamalannya yang memang telah berkembang di tengah
masyarakat muslim masa itu. Fakta-fakta ini dibuktikan dengan adanya literatur-
literatur fiqh yang ditulis oleh para ulama nusantara pada sekitar abad 16 dan 17.
Dan kondisi terus berlangsung hingga para pedagang Belanda datang ke kawasan
nusantara.
B. Hukum Islam pada Masa Penjajahan Belanda

Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai


dengan kehadiran Organisasi Perdagangan Dagang Belanda di Hindia Timur, atau
yang lebih dikenal dengan VOC. Sebagai sebuah organisasi dagang, VOC dapat
dikatakan memiliki peran yang melebihi fungsinya. Hal ini sangat dimungkinkan
sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang menjadikan VOC sebagai
perpanjangtangannya di kawasan Hindia Timur. Karena itu disamping menjalankan
fungsi perdagangan, VOC juga mewakili Kerajaan Belanda dalam menjalankan
fungsi-fungsi pemerintahan. Tentu saja dengan menggunakan hukum Belanda yang
mereka bawa.

Dalam kenyataannya, penggunaan hukum Belanda itu menemukan


kesulitan. Ini disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum
yang asing bagi mereka. Akibatnya, VOC pun membebaskan penduduk pribumi
untuk menjalankan apa yang selama ini telah mereka jalankan.

Kaitannya dengan hukum Islam, dapat dicatat beberapa kompromi yang


dilakukan oleh pihak VOC, yaitu:

Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC,
dinyatakan bahwa hukum kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam.
Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di
tengah masyarakat. Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. Kompilasi ini
kemudian dikenal dengan Compendium Freijer.
Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain, seperti di
Semarang, Cirebon, Gowa dan Bone.
Di Semarang, misalnya, hasil kompilasi itu dikenal dengan nama Kitab Hukum
Mogharraer (dari al-Muharrar). Namun kompilasi yang satu ini memiliki kelebihan
dibanding Compendium Freijer, dimana ia juga memuat kaidah-kaidah hukum
pidana Islam.
Pengakuan terhadap hukum Islam ini terus berlangsung bahkan hingga
menjelang peralihan kekuasaan dari Kerajaan Inggris kepada Kerajaan Belanda
kembali. Setelah Thomas Stanford Raffles menjabat sebagai gubernur selama 5
tahun (1811-1816) dan Belanda kembali memegang kekuasaan terhadap wilayah
Hindia Belanda, semakin nampak bahwa pihak Belanda berusaha keras
mencengkramkan kuku-kuku kekuasaannya di wilayah ini. Namun upaya itu
menemui kesulitan akibat adanya perbedaan agama antara sang penjajah dengan
rakyat jajahannya, khususnya umat Islam yang mengenal konsep dar al-Islam dan
dar al-harb. Itulah sebabnya, Pemerintah Belanda mengupayakan ragam cara untuk
menyelesaikan masalah itu. Diantaranya dengan (1) menyebarkan agama Kristen
kepada rakyat pribumi, dan (2) membatasi keberlakuan hukum Islam hanya pada
aspek-aspek batiniah (spiritual) saja.

Bila ingin disimpulkan, maka upaya pembatasan keberlakuan hukum Islam oleh
Pemerintah Hindia Belanda secara kronologis adalah sebagai berikut :

Pada pertengahan abad 19, Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan Politik


Hukum yang Sadar; yaitu kebijakan yang secara sadar ingin menata kembali dan
mengubah kehidupan hukum di Indonesia dengan hukum Belanda.

Atas dasar nota disampaikan oleh Mr. Scholten van Oud Haarlem, Pemerintah
Belanda menginstruksikan penggunaan undang-undang agama, lembaga-lembaga
dan kebiasaan pribumi dalam hal persengketaan yang terjadi di antara mereka,
selama tidak bertentangan dengan asas kepatutan dan keadilan yang diakui umum.
Klausa terakhir ini kemudian menempatkan hukum Islam di bawah subordinasi dari
hukum Belanda.

Atas dasar teori resepsi yang dikeluarkan oleh Snouck Hurgronje, Pemerintah
Hindia Belanda pada tahun 1922 kemudian membentuk komisi untuk meninjau
ulang wewenang pengadilan agama di Jawa dalam memeriksa kasus-kasus
kewarisan (dengan alasan, ia belum diterima oleh hukum adat setempat

Pada tahun 1925, dilakukan perubahan terhadap Pasal 134 ayat 2 Indische
Staatsregeling (yang isinya sama dengan Pasal 78 Regerringsreglement), yang
intinya perkara perdata sesama muslim akan diselesaikan dengan hakim agama
Islam jika hal itu telah diterima oleh hukum adat dan tidak ditentukan lain oleh
sesuatu ordonasi.

Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi hingga menjelang berakhirnya
kekuasaan Hindia Belanda di wilayah Indonesia pada tahun 1942.

C. Hukum Islam pada Masa Pendudukan Jepang

Setelah Jendral Ter Poorten menyatakan menyerah tanpa syarat kepada


panglima militer Jepang untuk kawasan Selatan pada tanggal 8 Maret 1942, segera
Pemerintah Jepang mengeluarkan berbagai peraturan. Salah satu diantaranya
adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1942, yang menegaskan bahwa Pemerintah
Jepag meneruskan segala kekuasaan yang sebelumnya dipegang oleh Gubernur
Jendral Hindia Belanda. Ketetapan baru ini tentu saja berimplikasi pada tetapnya
posisi keberlakuan hukum Islam sebagaimana kondisi terakhirnya di masa
pendudukan Belanda.
Meskipun demikian, Pemerintah Pendudukan Jepang tetap melakukan
berbagai kebijakan untuk menarik simpati umat Islam di Indonesia. Diantaranya
adalah:

Janji Panglima Militer Jepang untuk melindungi dan memajukan Islam sebagai
agama mayoritas penduduk pulau Jawa.

Mendirikan Shumubu (Kantor Urusan Agama Islam) yang dipimpin oleh bangsa
Indonesia sendiri.

Mengizinkan berdirinya ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan NU.

Menyetujui berdirinya Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada bulan


oktober 1943.

Menyetujui berdirinya Hizbullah sebagai pasukan cadangan yang mendampingi


berdirinya PETA.

Berupaya memenuhi desakan para tokoh Islam untuk mengembalikan


kewenangan Pengadilan Agama dengan meminta seorang ahli hukum adat,
Soepomo, pada bulan Januari 1944 untuk menyampaikan laporan tentang hal itu.
Namun upaya ini kemudian dimentahkan oleh Soepomo dengan alasan
kompleksitas dan menundanya hingga Indonesia merdeka

Dengan demikian, nyaris tidak ada perubahan berarti bagi posisi hukum Islam
selama masa pendudukan Jepang di Tanah air. Namun bagaimanapun juga, masa
pendudukan Jepang lebih baik daripada Belanda dari sisi adanya pengalaman baru
bagi para pemimpin Islam dalam mengatur masalah-masalah keagamaan. Abikusno
Tjokrosujoso menyatakan bahwa, Kebijakan pemerintah Belanda telah
memperlemah posisi Islam. Islam tidak memiliki para pegawai di bidang agama
yang terlatih di masjid-masjid atau pengadilan-pengadilan Islam. Belanda
menjalankan kebijakan politik yang memperlemah posisi Islam. Ketika pasukan
Jepang datang, mereka menyadari bahwa Islam adalah suatu kekuatan di Indonesia
yang dapat dimanfaatkan.

D. Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan (1945)

Meskipun Pendudukan Jepang memberikan banyak pengalaman baru


kepada para pemuka Islam Indonesia, namun pada akhirnya, seiring dengan
semakin lemahnya langkah strategis Jepang memenangkan perang yang kemudian
membuat mereka membuka lebar jalan untuk kemerdekaan Indonesia, Jepang mulai
mengubah arah kebijakannya. Mereka mulai melirik dan memberi dukungan
kepada para tokoh-tokoh nasionalis Indonesia. Dalam hal ini, nampaknya Jepang
lebih mempercayai kelompok nasionalis untuk memimpin Indonesia masa depan.
Maka tidak mengherankan jika beberapa badan dan komite negara, seperti Dewan
Penasehat (Sanyo Kaigi) dan BPUPKI (Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai) kemudian
diserahkan kepada kubu nasionalis. Hingga Mei 1945, komite yang terdiri dari 62
orang ini, paling hanya 11 diantaranya yang mewakili kelompok Islam. Atas dasar
itulah, Ramly Hutabarat menyatakan bahwa BPUPKI bukanlah badan yang dibentuk
atas dasar pemilihan yang demokratis, meskipun Soekarno dan Mohammad Hatta
berusaha agar aggota badan ini cukup representatif mewakili berbagai golonga
dalam masyarakat Indonesia.

Perdebatan panjang tentang dasar negara di BPUPKI kemudian berakhir


dengan lahirnya apa yang disebut dengan Piagam Jakarta. Kalimat kompromi paling
penting Piagam Jakarta terutama ada pada kalimat Negara berdasar atas
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya. Menurut Muhammad Yamin kalimat ini menjadikan Indonesia
merdeka bukan sebagai negara sekuler dan bukan pula negara Islam.

Dengan rumusan semacam ini sesungguhnya lahir sebuah implikasi yang


mengharuskan adanya pembentukan undang-undang untuk melaksanakan Syariat
Islam bagi para pemeluknya. Tetapi rumusan kompromis Piagam Jakarta itu
akhirnya gagal ditetapkan saat akan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh
PPKI. Ada banyak kabut berkenaan dengan penyebab hal itu. Tapi semua versi
mengarah kepada Mohammad Hatta yang menyampaikan keberatan golongan
Kristen di Indonesia Timur. Hatta mengatakan ia mendapat informasi tersebut dari
seorang opsir angkatan laut Jepang pada sore hari taggal 17 Agustus 1945. Namun
Letkol Shegeta Nishijima satu-satunya opsir AL Jepang yang ditemui Hatta pada saat
itu- menyangkal hal tersebut. Ia bahkan menyebutkan justru Latuharhary yang
menyampaikan keberatan itu. Keseriusan tuntutan itu lalu perlu dipertanyakan
mengingat Latuharhary bersama dengan Maramis, seorang tokoh Kristen dari
Indonesia Timur lainnya- telah menyetujui rumusan kompromi itu saat sidang
BPUPKI.

Pada akhirnya, di periode ini, status hukum Islam tetaplah samar-samar. Isa
Ashary mengatakan, kejadian mencolok mata sejarah ini dirasakan oleh umat Islam
sebagai suatu permainan sulap yang masih diliputi kabut rahasiasuatu politik
pengepungan kepada cita-cita umat Islam.

Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan Periode Revolusi Hingga Keluarnya


Dekrit Presiden 5 Juli 1950. Selama hampir lima tahun setelah proklamasi
kemerdekaan, Indonesia memasuki masa-masa revolusi (1945-1950). Menyusul
kekalahan Jepang oleh tentara-tentara sekutu, Belanda ingin kembali menduduki
kepulauan Nusantara. Dari beberapa pertempuran, Belanda berhasil menguasai
beberapa wilayah Indonesia, dimana ia kemudian mendirikan negara-negara kecil
yang dimaksudkan untuk mengepung Republik Indonesia. Berbagai perundingan
dan perjanjian kemudian dilakukan, hingga akhirnya tidak lama setelah Linggarjati,
lahirlah apa yang disebut dengan Konstitusi Indonesia Serikat pada tanggal 27
Desember 1949.

Dengan berlakunya Konstitusi RIS tersebut, maka UUD 1945 dinyatakan


berlaku sebagai konstitusi Republik Indonesia yang merupakan satu dari 16 bagian
negara Republik Indonesia Serikat.

Konstitusi RIS sendiri jika ditelaah, sangat sulit untuk dikatakan sebagai
konstitusi yang menampung aspirasi hukum Islam. Mukaddimah Konstitusi ini
misalnya, samasekali tidak menegaskan posisi hukum Islam sebagaimana
rancangan UUD 1945 yang disepakati oleh BPUPKI. Demikian pula dengan batang
tubuhnya, yang bahkan dipengaruhi oleh faham liberal yang berkembang di
Amerika dan Eropa Barat, serta rumusan Deklarasi HAM versi PBB.

Namun saat negara bagian RIS pada awal tahun 1950 hanya tersisa tiga
negara saja RI, negara Sumatera Timur, dan negara Indonesia Timur, salah seorang
tokoh umat Islam, Muhammad Natsir, mengajukan apa yang kemudian dikenal
sebagai Mosi Integral Natsir sebagai upaya untuk melebur ketiga negara bagian
tersebut. Akhirnya, pada tanggal 19 Mei 1950, semuanya sepakat membentuk
kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 1945. Dan
dengan demikian, Konstitusi RIS dinyatakan tidak berlaku, digantikan dengan UUD
Sementara 1950. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan hukum Islam, perubahan ini
tidaklah membawa dampak yang signifikan. Sebab ketidakjelasan posisinya masih
ditemukan, baik dalam Mukaddimah maupun batang tubuh UUD Sementara 1950,
kecuali pada pasal 34 yang rumusannya sama dengan pasal 29 UUD 1945, bahwa
Negara berdasar Ketuhanan yang Maha Esa dan jaminan negara terhadap
kebebasan setiap penduduk menjalankan agamanya masing-masing. Juga pada
pasal 43 yang menunjukkan keterlibatan negara dalam urusan-urusan keagamaan.
Kelebihan lain dari UUD Sementara 1950 ini adalah terbukanya peluang untuk
merumuskan hukum Islam dalam wujud peraturan dan undang-undang. Peluang ini
ditemukan dalam ketentuan pasal 102 UUD sementara 1950. Peluang inipun
sempat dimanfaatkan oleh wakil-wakil umat Islam saat mengajukan rancangan
undang-undang tentang Perkawinan Umat Islam pada tahun 1954. Meskipun upaya
ini kemudian gagal akibat hadangan kaum nasionalis yang juga mengajukan
rancangan undang-undang Perkawinan Nasional. Dan setelah itu, semua tokoh
politik kemudian nyaris tidak lagi memikirkan pembuatan materi undang-undang
baru, karena konsentrasi mereka tertuju pada bagaimana mengganti UUD
Sementara 1950 itu dengan undang-undang yang bersifat tetap.
Perjuangan mengganti UUD Sementara itu kemudian diwujudkan dalam
Pemilihan Umum untuk memilih dan membentuk Majlis Konstituante pada akhir
tahun 1955. Majelis yang terdiri dari 514 orang itu kemudian dilantik oleh Presiden
Soekarno pada 10 November 1956.

Namun delapan bulan sebelum batas akhir masa kerjanya, Majlis ini
dibubarkan melalui Dekrit Presiden yang dikeluarkan pada tanggal 5 Juli 1959. Hal
penting terkait dengan hukum Islam dalam peristiwa Dekrit ini adalah
konsiderannya yang menyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni
menjiwai UUD 1945 dan merupakan suatu kesatuan dengan konstitusi tersebut.
Hal ini tentu saja mengangkat dan memperjelas posisi hukum Islam dalam UUD,
bahkan menurut Anwar Harjono lebih dari sekedar sebuah dokumen historis.

Namun bagaiamana dalam tataran aplikasi? Lagi-lagi faktor-faktor politik


adalah penentu utama dalam hal ini. Pengejawantahan kesimpulan akademis ini
hanya sekedar menjadi wacana jika tidak didukung oleh daya tawar politik yang
kuat dan meyakinkan.

Hal lain yang patut dicatat di sini adalah terjadinya beberapa


pemberontakan yang diantaranya bernuansakan Islam dalam fase ini. Yang paling
fenomenal adalah gerakan DI/TII yang dipelopori oleh Kartosuwirjo dari Jawa Barat.
Kartosuwirjo sesungguhnya telah memproklamirkan negara Islamnya pada tanggal
14 Agustus 1945, atau dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada
17 Agustus 1945. Namun ia melepaskan aspirasinya untuk kemudian bergabung
dengan Republik Indonesia. Tetapi ketika kontrol RI terhadap wilayahnya semakin
merosot akibat agresi Belanda, terutama setelah diproklamirkannya Negara boneka
Pasundan di bawah kontrol Belanda, ia pun memproklamirkan berdirinya Negara
Islam Indonesia pada tahun 1948. Namun pemicu konflik yang berakhir di tahun
1962 dan mencatat 25.000 korban tewas itu, menurut sebagian peneliti, lebih
banyak diakibatkan oleh kekecewaan Kartosuwirjo terhadap strategi para pemimpin
pusat dalam mempertahankan diri dari upaya pendudukan Belanda kembali, dan
bukan atas dasar apa yang mereka sebut dengan kesadaran teologis-politisnya.

E. Hukum Islam di Era Orde Lama dan Orde Baru

Orde Lama adalah eranya kaum nasionalis dan komunis. Sementara kaum
muslim di era ini perlu sedikit merunduk dalam memperjuangkan cita-citanya. Salah
satu partai yang mewakili aspirasi umat Islam kala itu, Masyumi harus dibubarkan
pada tanggal 15 Agustus 1960 oleh Soekarno, dengan alasan tokoh-tokohnya
terlibat pemberontakan (PRRI di Sumatera Barat). Sementara NU yang kemudian
menerima Manipol Usdek-nya Soekarno[27]- bersama dengan PKI dan PNI kemudian
menyusun komposisi DPR Gotong Royong yang berjiwa Nasakom. Berdasarkan itu,
terbentuklah MPRS yang kemudian menghasilkan 2 ketetapan, salah satunya adalah
tentang upaya unifikasi hukum yang harus memperhatikan kenyataan-kenyataan
umum yang hidup di Indonesia. Meskipun hukum Islam adalah salah satu kenyataan
umum yang selama ini hidup di Indonesia, dan atas dasar itu Tap MPRS tersebut
membuka peluang untuk memposisikan hukum Islam sebagaimana mestinya,
namun lagi-lagi ketidakjelasan batasan perhatian itu membuat hal ini semakin
kabur. Dan peran hukum Islam di era inipun kembali tidak mendapatkan tempat
yang semestinya.

Menyusul gagalnya kudeta PKI pada 1965 dan berkuasanya Orde Baru,
banyak pemimpin Islam Indonesia yang sempat menaruh harapan besar dalam
upaya politik mereka mendudukkan Islam sebagaimana mestinya dalam tatanan
politik maupun hukum di Indonesia. Apalagi kemudian Orde Baru membebaskan
bekas tokoh-tokoh Masyumi yang sebelumnya dipenjara oleh Soekarno. Namun
segera saja, Orde ini menegaskan perannya sebagai pembela Pancasila dan UUD
1945. Bahkan di awal 1967, Soeharto menegaskan bahwa militer tidak akan
menyetujui upaya rehabilitasi kembali partai Masyumi.

Lalu bagaimana dengan hukum Islam? Meskipun kedudukan hukum Islam


sebagai salah satu sumber hukum nasional tidak begitu tegas di masa awal Orde
ini, namun upaya-upaya untuk mempertegasnya tetap terus dilakukan. Hal ini
ditunjukkan oleh K.H. Mohammad Dahlan, seorang menteri agama dari kalangan
NU, yang mencoba mengajukan Rancangan Undang-undang Perkawinan Umat Islam
dengan dukunagn kuat fraksi-fraksi Islam di DPR-GR. Meskipun gagal, upaya ini
kemudian dilanjutkan dengan mengajukan rancangan hukum formil yang mengatur
lembaga peradilan di Indonesia pada tahun 1970. Upaya ini kemudian membuahkan
hasil dengan lahirnya UU No.14/1970, yang mengakui Pengadilan Agama sebagai
salah satu badan peradilan yang berinduk pada Mahkamah Agung. Dengan UU ini,
dengan sendirinya menurut Hazairin, hukum Islam telah berlaku secara langsung
sebagai hukum yang berdiri sendiri.

Penegasan terhadap berlakunya hukum Islam semakin jelas ketika UU no. 14


Tahun 1989 tentang peradilan agama ditetapkan. Hal ini kemudian disusul dengan
usaha-usaha intensif untuk mengompilasikan hukum Islam di bidang-bidang
tertentu. Dan upaya ini membuahkan hasil saat pada bulan Februari 1988, Soeharto
sebagai presiden menerima hasil kompilasi itu, dan menginstruksikan
penyebarluasannya kepada Menteri Agama.
F. Hukum Islam di Era Reformasi

Soeharto akhirnya jatuh. Gemuruh demokrasi dan kebebasan bergemuruh di


seluruh pelosok Indonesia. Setelah melalui perjalanan yang panjang, di era ini
setidaknya hukum Islam mulai menempati posisinya secara perlahan tapi pasti.
Lahirnya Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan
Peraturan Perundang-undangan semakin membuka peluang lahirnya aturan
undang-undang yang berlandaskan hukum Islam. Terutama pada Pasal 2 ayat 7
yang menegaskan ditampungnya peraturan daerah yang didasarkan pada kondisi
khusus dari suatu daerah di Indonesia, dan bahwa peraturan itu dapat
mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang bersifat umum.

Lebih dari itu, disamping peluang yang semakin jelas, upaya kongkrit
merealisasikan hukum Islam dalam wujud undang-undang dan peraturan telah
membuahkan hasil yang nyata di era ini. Salah satu buktinya adalah Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam
tentang Pelaksanaan Syariat Islam Nomor 11 Tahun 2002.

Dengan demikian, di era reformasi ini, terbuka peluang yang luas bagi
sistem hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Kita
dapat melakukan langkah-langkah pembaruan, dan bahkan pembentukan hukum
baru yang bersumber dan berlandaskan sistem hukum Islam, untuk kemudian
dijadikan sebagai norma hukum positif yang berlaku dalam hukum Nasional kita.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdarasrakan uraian dan penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa para
sahabat dan ulama-ulama terdahulu banyak berperan dalam proses perkembangan
islam di Indonesia ini. Gerakan dakwah yang tak kenal lelah serta sikapnya yang
mampu membaur dengan masyarakat dan mengakulturasikan antara budaya
pribumi dengan ajaran dan Syariat Islam membuat kiprah dakwah mereka berhasil.

Selain itu, sejarah perkembangan hukum islam di Indonesia telah melalui masa
yang tidak sebentar karena telah melalui beberapa priode sejak Pra penjajahan
belanda dan seterusnya hingga sekarang. Oleh karena itu kita harus menjaga hasil
dari pemikiran-pemikiran para pendahulu kita yang mana pemikiran mereka tidak
dilakukan dengan sembarangan melaikan dengan ijtihad yang tidak mudah. Selain
itu sekarang sudah banyak pemikiran-pemikiran yang sangat ekstrim sehingga kita
harus berhati-hati akan pemikiran tersebut agar nanti kita tidak terjerumus ke
dalam pemikiran yang sesat itu.

B. Saran

Demikianlah makalah yang kami buat, mohon maaf apabila ada kesalahan
dalam penulisan dan apabila ada pihak merasa tersinggung kami selaku penulis
mohon maaf yang sebesar-besarnya. Apabila ada kebaikan dan manfaat dalam
tulisan ini maka itu datangnya dari Allah SWT dan apa bila ada salah ketik atau
kekurangan dalam tulisan ini maka itu datangnya dari diri kami sendiri ( Al-insaanu
makanul khoto wa annisyaan ).

DAFTAR PUSTAKA

[1] Ali, Muhammad Daud. 2004. Hukum Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

[2] Dani, Dyla R. 2013. Sejarah Perkembangan dan Pertumbuhan Hukum Islam.
(http://cakupanhukum.blogspot.com/2013/05/sejarah-perkembangan-dan-
pertumbuhan.html) diunduh pada tanggal 28 April 2016 pada pukul 11:00 WIB.

[3] Forus. 2012. Sejarah Perkembangan Hukum Islam. (http://forus-


jaw.blogspot.com/2012/10/sejarah-perkembangan-hukum-islam_30.html) diunduh
pada tanggal 28 April 2016 pada pukul 11:00 WIB.
12
undangan Hindia
Belanda yang
berdasarkan teori
receptie
bertentangan
dengan jiwa UUD
45. Dengan
demikian,
teori receptie itu
harus
exit aliaskeluar
dari tata hukum
Indonesia
merdeka.Teori
Receptie harus
keluar dari teori
hukum nasional
Indonesia
karena
bertentangan
dengan UUD45
dan Pancasila
serta bertentangan
dengan al-
Quran dan
Sunnah. Secara
tegas UUD 45
menyatakan
bahwaNegara
berdasar atas
Ketuhanan Yang
Maha Esa dan
Negara
menjamin
kemerdekaan tiap-
tiap penduduk
untuk memeluk
agamanyamasing-
masing dan untuk
beribadat menurut
agamanya dan
kepercayaannya
itu.
Demikiandinyatak
an dalam pasal 29
(1)
dan (2).5.
Teori Receptie A
ContrarioTeori
Receptie Exit
yang
diperkenalkan
oleh
Hazairindikemban
gkan oleh Sayuti
Thalib, S.H.
dengan
memperkenalkan
TeoriReceptie A
Contrario. Teori
Receptie A
Contrario yang
secara
harfiahberarti
lawan dari Teori
Receptie
menyatakan
bahwa hukum
adat berlakubagi
orang Islam kalau
hukum adat itu
tidak bertentangan
dengan
agamaIslam dan
hukum Islam.
Dengan demikian,
dalam Teori
Receptie
AContrario,
hukum adat itu
baru berlaku kalau
tidak bertentangan
denganhukum
Islam. Teori ini
sejiwa dengan
teori para pakar
hukum islam
(fuqaha) tentang
al urf dan teori al
-adah.Kalau Teori
Receptie
mendahulukan
berlakunya hukum
adatdaripada
hukum Islam,
maka Teori
Receptie A
Contrario
sebaliknya.Dalam
Teori Receptie,
hukum Islam
tidak dapat
diberlakukan
jikabertentangan
dengan hukum
adat. Teori
Receptie A
Contrariomendah
ulukan berlakunya
hukum Islam
daripada hukum
adat,
karenahukum adat
baru dapat
dilaksanakan jika
tidak bertentangan
denganhukum
Islam.6.
Teori Hukum
IslamTeori
penataan kepada
hukum bagi orang
Islam terkandung
dalam
sumber ajaran dan
sumber hukum
islam, yaitu:
Alquran dan
Assunah.
13
BAB IIIPENUTUP
KESIMPULAN
Hukum Islam di
Indonesia,
sesungguhnya
adalah hukum
yang
hidup,berkembang
, dikenal dan
sebagiannya
ditaati oleh
umat Islam di
negara ini.Hukum
Islam masuk ke
Indonesia
bersamaan dengan
masuknya Islam
keIndonesia, yang
menurut sebagian
kalangan, telah
berlangsung sejak
abad VIIatau VIII
M. Sementara itu,
hukum Barat baru
diperkenalkan
oleh VOC pada
awalabad XVII
M.Dengan
demikian, di era
reformasi ini
hingga sekarang,
terbuka
peluangyang luas
bagi sistem
hukum Islam
untuk
memperkaya
khazanah tradisi
hukum
diIndonesia. Kita
dapat melakukan
langkah-langkah
pembaruan, dan
bahkanpembentuk
an hukum
baru yang
bersumber dan
berlandaskan
sistem hukum
Islam,untuk
kemudian
dijadikan sebagai
norma hukum
positif yang
berlaku
dalamhukum
Nasional
kita.Dalam proses
berlakunya hukum
Islam
di Indonesia,
terdapat beberapa
teori
yangmendampingi
nya,
diantaranya :1.
Teori Kredo atau
Syahadat
(teori ajaran
islam)2. Teori
Receptio in
Complexu
atau Penerimaan
Hukum Islam
Sepenuhnya3.
Teori Receptie
atau Penerimaan
Hukum Islam
oleh Hukum
Adat4.
Penerimaan
Hukum
Islam Sebagai
Sumber
Persuasif 5.
Penerimaan
Hukum Islam
Sebagai Sumber
Otoritatif 6. Teori
penerimaan
autoritas hukum
14
DAFTAR
PUSTAKA
Nuruddin, A. dan
Tarigan, A.A.,
2004,
Hukum Perdata
Islam di Indonesia
, edisipertama,
Kencana Prenada
Media Group,
Jakarta.Zein,
S.E.M., 2001,
Problematika
Hukum Keluarga
Islam
Kontemporer,
edisipertama, Ken
cana Prenada
Media Group,
Jakarta.Sjadzali,
M., Djatnika, R.,
Anshari, E.S.,
Suny, I.,
Ichtijanto, 1991,
Hukum Islamdi
Indonesia, Remaja
Rosdakarya,
Jakarta.Wahid, A.,
Siregar, B.,
Djazuli, A., Praja.,
J.S., Ali, M.D.,
Adam, M.,
Manan,
B.,Abubakar A.Y.,
1994,
Hukum Islam di
Indonesia,
Remaja Rosdakar
ya, Jakart

SEJARAH HUKUM ISLAM DI INDONESIA


MATA KULIAH : FIQH & USHUL FIQH
DOSEN PENGAMPU : FATMA AMILIA, S.Ag, M.Si
Disusun Oleh:

Evy Hidayani 15830016

Kustanti Nurul Ulva 15830024

Inas Rifqa N 15830040

Kholifatul Itsna H 15830051

Riska Yanty 15830074

PROGRAM STUDI KEUANGAN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015/2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ajaran islam populer juga disebut dengan dienul-Islam merupakan salah satu
ajaran Agama somawi (langit), jika tidak mau dikatakan sebagai kelanjutan agama
agama samawi sebelumnya. Selain memiliki karakteristik yang berbeda dengan
sejumlah agama yang berkembang di dunia yang biasa dikenal dengan agama
dunia. Karakteristik Islam demikian itu dipertegas dalam Alquran, wama arsalnaka
ila rahmatan lilamin ( tiadalah risallah Islam ini diturunkan melainkan untuk
kepentingan seluru alam semesta).

Tentunya ajaran islam memiliki sumber-sumber atau dari mana asal muasal dari
ajaran islam tersebut. Ajaran islam juga sebagai ajaran penutup dari ajaran
ajaran sebelumnya memiliki berbagai dinamika. Khususnya di Indonesia ajaran
islam memiliki beberapa fase mulai dari masa penjajahan, pasca kemerdekaan dan
juga saat sekarang ini serta peranan Ajaran Islam dalam pembangunan Nasional.

Sehubungan dengan hal tersebut dalam makalah ini akan dibahas tentang
SEJARAH HUKUM ISLAM DI INDONESIA.

B. Batasan dan Perumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas terdapat beberapa masalah yang akan dibahas.
Tapi masalah tersebut harus mempunyai batasan batasan. Adapun batasan
batasan tersebut sebagai berikut :

a. Pengajaran dan Eksistensi Hukum islam di Indonesia

b. Sumber-Sumber Hukum Islam

c. Perkembangan Hukum Islam di Indonesia

d. Hukum islam dan peranannya dalam pembangunan nasional.

2. Perumusan Masalah

Dari Batasan Batasan Masalah tersebut diatas maka perumusan masalah dapat
dirumuskan sebagai berikut :

a. Bagaimana Pengajaran dan Eksistensi Hukum islam di Indonesia?


b. Dari mana Hukum Islam itu ditemukan ?

c. Bagaimana perkembangan hukum islam ?

d. Apa apa saja peranan hukum islam dalam pembangunan nasional ?

C. Tujuan Penulisan Makalah

Penulisan makalah ini bertujuan untuk membahassecara teoritis tentang


perjalanan panjang Rasul dalam menegakkan agama Islamsebagai agama yang
diredhai Allah.Kegunaan makalah ini adalah untuk memberitahukan kepada
semuaorang tentang perjuangan Rasul untuk dapat menegakkan agama Islam,
sehinggasekarang ini kita dapat mereguk nikmatnya beribadah dijalan
yang benar yaitu dalam Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian

[1]Sumber adalah asal sesuatu. Sumber hukum islam adalah asal (tempat
pengambilan) hukum islam. Dalam kepustakaan hukum islam di Indonesia, sumber
hukum islam kadang-kadang disebut dalil hukum islam atau asas hukum islam.
Adapun sumber hukum islam adalah alQuran, Al Hadist dan Ar Royu atau
penalaran.

B. Perkembangan Hukum Islam di Indonesia

[2]Perkembangan/pertumbuhan hukum islam di Indonesia sejak mulai


masuknya agama islam sampai menjadi salah satu sistem hukum yang banyak
penganutnya, dapat dibagi tiga pembahasan.

1. Masa Kedatangan Islam di Indonesia

Berbicara pada pertumbuhan hukum islam di Indonesia, kita tidak dapat


melepaskan diri dari persoalan kapan dan bagaimana masuknya agama Islam di
Indonesia. Hal ini penting dikemukakan agar kita dapat memperoleh gambaran
betapa bangsa kita menyambut agama ini sampai menjadi agama dengan
penganut yang terbesar.

Persoalan kapan dan bagaimana masuknya agama islam di Indonesia ini terdapat
dua pendapat yaitu :

Pendapat Pertama bahwa masuknya agama islam di Indonesia pada permulaan


abad XIII M yang dibawa oleh orang orang Persi ke Gujarat India kemudian
pedagang Gujarat India membawa ke Tanah Air kita. Sebagai buktinya bahwa
bentuk, bahan dan tulisan yang terdapat pada makam Maulana Malik Ibrahim mirip
dengan bentuk, bahan dan galian yang terdapat pada makam raja raja Hindustan.

Pendapat Kedua bahwa agama Islam masuk ke Indonesia dibawa langsung dari
negeri Arab oleh bangsa Arab sendiri pada abad VII masehi.

Sejarah telah membuktikan bahwa mulanya proses pengislaman di Indonesia


berlangsung tanpa disadari, tiba - tiba mengalami perkembangan yang pesat dan
cepat walaupun harus diakui waktu itu memang sudah ada isme-isme yang
menguasai alam pikiran bangsa Indonesia misalnya isme tradisional dan agama
hindu.

[3]Perkembangan yang pesat dan dinamis ini disebabkan oleh beberapa


faktor yang menentukan antara lain :

1. Adanya sifat demokratis agama islam itu sendiri

2. Prosendur untuk menjadi pemeluk agama islam tidak berbelit belit

3. Agama Islam mudah menyesuaikan diri

4. Pribadi dan Akhlak orang islam sangat tinggi.

Penyebaran islam pada mulanya hanya pada dua titik yaitu Sumatra Utara ( Aceh )
dan pesisir pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Timur ( Rembang, Tubanng, dan
Gresik). Dari Sumatra Utara ini Islam menyebar ke Pedalaman Minangkabau
sementara di Sumatra Selatan Agama Islam berkembang melalui Banten.

Di Pulau Jawa, Agama islam berkembang dan menyebar melalui kelompok


orang orang penyebar agama Islam yaitu para wali, yang biasa dikenal dengan
sebutan Walisongo(Wali Sembilan). Dengan perantara mereka inilah Islam di
Demak, Pajang Mataram dan Banten, akhirnya sampai merata di Pulau jawa.
Dengan Masuknya agama Islam di Tanah Air maka hukum- hukumnya juga turut
serta didalamnya.

Hukum Islam terdiri dari tiga aspek yang satu dengan yang lainnya dapat
dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan. Ketiga aspek yang dimaksud adalah, aspek
akidah, aspek syariat, dan aspek filsafat.

Di antara ketiga aspek tersebut yang paling penting adalah aspek syariatnya/ aspek
hukumnya, oleh karena aspek hukum tersebut merupakan jiwa agama islam.

2. Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda mulai berkuasa di Tanah Air kita,
hukun islam telah berkembang sedemikian pesatnya. Hal ini dapat dilihat bahwa di
daerah-daerah yang masyarakatnya mayoritas agama Islam pengaruhnya sangat
menonjol.

Di samping hukum Islam, Hukum adat sebagai suatu sistem hukum juga berlaku
ditengah-tengah masyrakat sebagai hukum yang tumbuh dan berkembang
berdasrkan alam fikiran bangsa Indonesia. Antara kedua sistem hukum itu dalam
perkembangannya saling mempengaruhi, seolah olah diantara keduanya terjadi
singkronisasi.

Dengan berdasarkan pada teori pemerintahan Hindia belanda berhasil


memperkecil peranan Hukum Islam dalam hukum positif, sehingga hanya terbatas
pada hukum perkawinan dan perceraian serta mengenai badan hukum yang
berbentuk wakaf, Hibah, Wasiat dan Shadakah.

Sebagai konsekuensi diakuinya Hukum Islam dalam peraturan peraundang


undangan Hindia Belanda sebagimana tercantum dalam beberapa pasal RR dan IS.

3. Masa Sesudah Kemerdekaan

Sesudah proklamasi kemerdekaan, perkembangan hukum islam lebih maju


lagi dibandingkan dengan keadaannya pada tahun tahun sebelum kemerdekaan.

Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 ditegaskan Bahwa Negara Republik Indonesia menjamin
kemerdekaan tiap tiap penduduk untuk memeluk agama dan kepercayaannya itu.

Sebagai salah satu bentuk dari kemerdekaan beragama sebagai mana terantum
dalam pasal 29 ayat (2) tsb, maka pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuklah
Departemen Agama yang bertugas mengurus berbagai urusan yang menyangkut
masalah masalah keagamaan ( termasuk hukum agama ) di Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya beberapa bidang hukum islam telah


dinyatakan diterima dalam hukum nasional sebagai hukum positif seperti Hukum
Perkawinan dalam UU No 1 Tahun 1874.

Pembentukan berbagai pesantren dan madrasah-madrasah islamiyah bernafaskan


Islam turut menjadi warna tersendiri terhadap perkembangan Hukum Islam di
Indonesia.

4. Hukum Islam di Era Reformasi Hingga Sekarang

Setelah lengsernya pemeritahan Suharto. Gemuruh demokrasi dan


kebebasan semakin meningkat di seluruh pelosok Indonesia. Setelah melalui
perjalanan yang panjang, di era ini setidaknya hukum Islam mulai menempati
posisinya secara perlahan. Lahirnya Ketetapan MPRNo. III/MPR/2000 tentang
Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan semakin membuka
peluang lahirnya aturan undang-undang yang berlandaskan hukum Islam. Terutama
pada Pasal 2 ayat 7 yang menegaskan ditampungnya peraturan daerah yang
didasarkan pada kondisi khusus dari suatu daerah di Indonesia, dan bahwa
peraturan itu dapat mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang bersifat
umum.Lebih dari itu, disamping peluang yang semakin jelas, upaya kongkrit
merealisasikan hukum Islam dalam wujud Undang-Undang dan peraturan telah
membuahkan hasil yang nyata di era ini. Bukti nyata adalah Undang-undang Nomor
32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam tentang Pelaksanaan
Syariat Islam Nomor 11 Tahun 2002. Undang-Undang Republik Indonesia No.3
Tahun 2006 berkaitan dengan perubahan atas undang-undang No.7 tahun 1989.

5. Hukum Islam dalam tata hukum dan Pembinaan Hukum Nasional di


Indonesia

Umat Islam merupakan slah satu keompok masyarakat yang mendapat


legalitas pengayoman seczra hukum ketatanegaraan di Indonesia. Oleh karena itu,
umat Islam tidak dapat dicerai pisahkan dengan hukim islam yang sesuai
keyakinannya. Namun demikian, hukum Islam di Indonesia bila dilihat dari aspek
perumusan dasar negara yang dilakukan oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yaitu para pemimpin Islma berusaha
memulihkan dan mendudukkan hukum Islam dalam negara Indonesia merdeka itu.
Dalam tahap awal, usaha para pemimpin dimaksud tidak sia-sia, yaitu lahirnya
Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945 yang telah disepakati oleh pendiri negara
bahwa negara berdasar kepada Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat-
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun, adanya desakan dari kalangan
Kristen, tujuh kata tersebut dikeluarkan dari Pembukaan UUD 1945, kemudian
diganti dengan kata Yang Maha Esa.

Penggantian kata ini, dimaksudkan menurud Hazairin mengandung norma


garis hukum yang diatur dalam Pasal 29 Ayat (1) UUD 1945 bahwa negara Republik
Indonesia bedasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Islam dan kekuatan hukumnya secara ketatanegaraan di negar Republik


Indonesia adalah Pancasila dan UUD 1945, yang kemudian dijabarkan melalui
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-Undang Nomor
7 Tentang peradilan Agama, Undang-Undang Nomor 38 tentang Pegelolaan Zakat
dan beberapa instruksi pemerintah yang berkaitan dengan Hukum Islam. Demikian
juga munculnya kompilasi hukum Islam yang menjadi pedoman bagi para hakim di
peradilan khusus (peradilan Agama) di Inonesia. Hal dimaksud merupakan pancaran
dari norma hukum Islam secara ketatanegaraan di negara republik Indonesia adalah
Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945.

6. Hukum Islam dalam Pembinaan Hukum Nasional


Pemikiran hukum Islam dalam sejarah perilaku umat islam dalam
melaksanakan hukum Islam di Indonesia yaitu, syariah, fikih, fatwa ulama/hakim,
keputusan pengadilan dan perundang-undangan.

Syariah, jalan hidup yang wajib ditempuh oleh setiap umat Islam. Syariah
memuat ketetapan Allah dan ketentuan Rasul-Nya baik berupa larangan maupun
perintah.

Fikih, hukum Islam yang berdasarkan pemahaman yang diperoleh seseorang


dari suatu dalil, ayat, nash al-Quran dan atau hadits Nabi Muhammad.

Fatwa, hukum Islam yang dijadikan jawaban oleh seseorang dan atau
lembaga atas adanya pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Keputusan pengadilan agama, keputusan yang dikeluarkan oleh Peradilan


Agama atas adanya permohonan penetapan atau gugatan yang diajukan.

Perundang-undangan Indonesia, bersifat mengikat secara hukum


ketatanegaraan, bahkan daya ikatnya lebih luas.

C. Urgensi Sumber Sumber Hukum Islam

[4]Pada semua sistem hukum telah memiliki sarana yang disebut dengan
sumber-sumber hukum yang berperan untuk memberikan solusi untuk menjadikan
sistem tersebut aksereratif dengan segala peristiwa dan pembuat sistem tersebut
semakin berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan dan peradaban
manusia.

Sumber dari sesuatu peraturan hukum adalah sangat penting untuk diketahui
oleh karena dari sumber itu dapat diketahui dari mana asalnya peraturan itu. Dalam
garis besarnya Sumber Hukum Islam dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Sumber Naqly, adalah sumber hukum dimana seorang mujtahid tidak mempunyai
peranan dalam pembentukannya karena memeng sumber hukum tersebut telah
tersedia.

2. Sumber Aqly, adalah sumber hukum dimana seorang mujtahid dapat berperan
dalam pembentukannya. Misalnya : Qias, Istishan, Istislah muslahat-muslahat dan
istishab.
Selain daripada pembagian tersebut di atas, sumber hukum islam secara besar
dapat pula dibagi menjadi: Sumber Hukum Ashliah yang didalamnya adalah Al-
Quran dan Hadis/sunnnah dan sumber hukum Tarbaiyah yang mencakup Ijma,
Qaul, Sahabat, Qias, Istishan, Muslahat-Muslahat, Urf, Syariat Umat Terdaulu dan
Istishab. Berikut ini akan dijelaskan tentang sumber hukum tersebut di atas.

1. Sumber Hukum Ashliyah

[5]Yang dimaksud dengan Sumber Hukum Ashliyah ialah sumber hukum yang
penggunaannya tidak bergantung pada sumber hukum yang lain. Sumber hukum ini
adalah yang paling utama diantara sumber sumber Hukum Islam lainnya, oleh
karena keduanya adalah sumber wahyu.

a) Al-Quran

Al-Quran adalah kumpulan wahyu ilahi yang disampaikan kepada Nabi


Muhammmad s.a.w dengan perantaraan malaikat Jibril untuk mengatur hidup dan
kehidupan umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya.

Al-Quran sebagai wahyu dari Allah pertama kali diturunkan kepada Nabi
Muhammad pada malam Lailatul Qadr, yaitu suatu malam kebesaran yang jatuh
pada malam ke tujuh belas Ramadhan.

Pada malam tujuh belas ramadhan tahun ke 41 dari kelahiran Nabi


Muhammad s.a.w tatkala beliau bersemedi di Gua Hira, turunlah ayat pertama
seperti yang tercantum dalam surat/surah Al-Alaq yang Artinya bacalah ya
muhammad dengan nama Tuhanmu yang maha Budiman yang telah mengajar
manusia dengan qalam, telah mengajar manusia tentang apa-apa yang belum
diketahuinya.

Dari ayat pertama sampai kepada ayat yang terakhir tidaklah diturunkan
seklaigusm melainkan secara berangsur angsur sesuai dengan kebutuhan, misalnya
apabila ada kejadian kejadian yang perlu dipecahkan oleh nabi atau ada
pertanyaan pertanyaan yang diajukan kepada nabi yang perlu segera mendapat
jawaban. Ayat ayat Al-Quran turun dalam kurung waktu 22 tahun, 2 bulan, dan 22
hariyang dibagi atas dua periode yaitu periode Mekah/Makyah dan periode
Madinah/Madaniyah.

Al-Quran terdiri dari 30 Juz,114 surah dengan jumlah ayat seluruhnya


6342,ayat (Hanafi 1984 : 55) atau 6666 ayat (Rasyidi, 1980 :21) atau 6236 ayat
(Ridwan Saleh, Bahan Kuliah). Sebagai pegangan kita ambil jumlah 6236 ayat dan
daripadanya hanyalah terdapat 228 ayatul ahkam/ ayat-ayat hukum dengan rincian
sebagai berikut :

70 ayat mengenai hidup kekeluargaan, perceraian, waris-mewaris dan sebagainya;

70 ayat mengenai perdagangan, perekonomian, seperti jual-beli dan sebagainya

30 ayat mengenai soal soal kriminal;

25 ayat mengenai hubungan antara orang islam dan bukan islam;

10 ayat mengenai hubungan antara orang kaya dan orang miskin;

13 ayat mengenai hukum acara;

10 ayat mengenai soal soal kenegaraan.

Al-Quran hanya memberikan dasar atau patokan yang umum untuk


membimbing manusia kearah kesempurnaan hidup yang selaras antara kehidupan
dunia dengan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat; antara lahir dan batin;
antara individu dengan masyarakat bahkan antara manusia dengan alam
sekitarnya.

Prinsip penetapan hukum yang bersifat perubahan yang tidak mempunyai


daya surut berlakunya ini sangat penting demi menjamin adanya kepastian hukum
dalam hukum islam. Mengenai substansi hukum yang diatur dalam Al-Quran adalah
:

1. Ayat hukum yang mengatur masalah itiqadiyyah ( keyakinan dan keimanan )

2. Ayat hukum mengenai khuluqy, pola perilaku manusia yag berakhlak mulia.

3. Ayat hukum mengenai amaly, yang berkaitan dengan perbuatan manusia baik
ibadah maupun muamalah.

b) Hadis atau Sunnah Rasulullah

Hadis/Sunnah adalah segala apa yang datangnya dari Nabi Muhammad s.a.w,
baik berupa segala perkataan yang telah diucapkan, perbuatan yang perbah
diperbuat dimasa hidupnya ataupun segala yang dibiarkan berlaku.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka Hadis/Sunnah pada


hakekatnya dapat dibedakan atas tiga macam :
1) Hadis/Sunnah Qauliyah yaitu Hadis / Sunnah yang berupa segala apa yang telah
diucapkan oleh Nabi Muhammad sebagai suatu penjelasan terhadap sesuatu.

2) Hadis/Sunnah Fiiliyah yaitu Hadis berupa segala apa yang pernah diperbuat oleh
Nabi Muhammad semasa hidupnya atau tindakan nyata yang telah diperbuat
semasa hidupanya.

3) Hadis/Sunnah Taqiriyah, Yaitu hadis yang berupa apa yang dibiarkan berlaku oleh
Nabi Muhammad baik yang berwujud tindakan atau pembicaraan,dirasakan sendiri
atau berupa berita yang diterima lalu Nabi Muhammad tidak melarangnya dan tidak
pula menyuruh lakukan.

2. Sumber Hukum Tabaiyah

[6]Sumber hukum tabaiyah adalah kebalikan dari sumber ashliyah. Yang


dimaksudkan dengan sumber hukum tabaiyah adalah sumber hukum yang
penggunaanya masih bergantung pada sumber hukum yang lain. Sumber hukum ini
jumlahnya banyak, tapi yang umum digunanakan / banyak digunakan terbatas
padaIjma, Qaul, (Pendapat) sahabat Qias, Istihsan, Istihshalah, dan Urf, disamping
Al-Quran dan hadis.

a) Ijma

Ijma adalah persesuaian paham atau pendapat diantara para ulama mujtahidin
pada suatu masa tertentu setelah wafatnya Nabi Muhammad s.a.w untuk
menentukan hukum suatu masalah yang belum ada ketentuan hukumnya.

b) Qaul

Sahabat adalah mereka yang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dalam
keadaan beriman dan mati dalam keadaan beriman pula. Oleh karena itu orang
yang pernah bertemu Nabi Muhammad tapi belum beriman bukan sahabat nabi.

c) Qias

Qias adalah perbandingan atau mempersamakan atau menerapkn hukum


dari suatu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya terhadap suatu perkara
yang lain yang belum ada ketentuan hukumnya oleh karena keduanya yang
bersangkutan memiliki unsur unsur kesamaan.

d) Istihsan
Istihsan adalah memindahkan atau mengecualikan hukum dari suatu
peristiwa dari hukum peristiwa lain yang sejenis dan memberika kepadanya hukum
yang lain karena ada alasan yang kuat bagi pengecualian itu.

e) Istishlah

Istishlah adalah penetapan hukum dari suatu perkara berdasar pada adanya
kepentingan umum atau kemashlahatan umat

f) Urf

Secara umum Urf adalah kebiasaan umum yang berasal dari kebiasaan
masyarakat Arab pra Islam yang diterima oleh Islam oleh karena tidak bertentangan
dengan ketentuan ketentuannya.

g) Istishab

Istishab adalah memahami atau membarengi apa yang telah terjadi di masa lalu.

D. Peranan Hukum Islam di Indonesia

[7]Hukum Islam sebagai salah satu sistem hukum yang juga berlaku di
Indonesia mempunyai kedudukan dan arti yang sangat penting dalam rangka
pelaksanaan pembangunan manusia seutuhnya yakni baik pembangunan dunia
maupun pembangunan akhirat, dan baik dibidang materil, maupun dibidang
mental-spiritual. Di dalam Al-Quran dan hais, ada beberapa ayat yang memberikan
isyarat untuk melaksanakan pembangunan itu, antara lain :

a. Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 148 yang artinya :

Hendaklah kamu berlomba-lomba dalam kebaikan;

b. Al-Quran, Surat Ar-Radu ayat 11 yang artinya :

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu umat kecuali dirinya sendirilah
yang merubahnya.

c. Al-Quran, Surat Al-Mujadah ayat 11 yang artinya :

Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dari kamu sekalian dan begitu
juga orang-orang yang berilmu pengetahuan.

d. Hadis, riwayat Abu Naim yang artinya :


Kekafiran dapat membawa seseorang kepada kekufuran

e. Hadis, riwayat Imam Buchary yang artinya :

Seseungguhnya dirimu mempunyai hak atasmu, dan badanmu hak atasmu.

f. Hadis, riwayat Abu zakir yang artinya :

Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan


berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati pada hari esok.

Dari beberapa ayat Al-Quran dan Hadis tersebut di tas, kita dapat
maengetahui bahwa agama Islam menghendaki agar pembangunan itu
dilaksanakan, baik pembangunan manusia sebagai individu maupun sebagai
masyarakat, baik dalam bidang materil maupun dalam bidang mental spiritual.

E. Berbagai Sistem Hukum Di Indonesia

[8]Negara Republik Indonesia menganut berbagai sistem hukum yaitu sistem


hukum adat, sistem hukum islam, dan sistem hukum eks Barat. Ketiga sistem
dimaksud, berlaku di negara Republik Indonesa sebelum Indonesia merdeka. Namun
demikian, sesudah Indonesia merdeka ketiga sistem hukum dimaksud, akan
menjadi bahan baku dalam pembentukan sistem hukum nasional di Indonesia.

Didunia ini sekurang-kurangnya ada lima sistem hukum yang besar, yang hidup
dan berkembang, yaitu :

1. Sistem common law yang di anut di Ingggris dan bekas jajahannya yang saat ini
pada umumnya, bergabung dalam negara persemakmuran.

2. Sistem civil law yang berasal dari hukum Romawi, yang dianut di eropa barat
kontinental dan dibawa kenegara jajahan atau bekas jajahannya oleh pemerintah
Kolonial Barat dahulu.

3. Sistem hukum adat di Negara Asia dan Afrika

4. Sistem hukum islam yang dianut oleh orang islam dimana pun mereka berada,
baik di negara islam maupun di negara lain yang penduduknya negara islam: di
Afrika, Timur, di Timur Tengah dan Asia termasuk Indonesia.

5. Sistem hukum komunis/sosialis yang dilaksanakan dinegara negara komunis /


sosialis seperti Uni Soviet dan kroninya atau satelitnya.
Jika membicarakan sistem hukum Indonesia perlu mengetahui dan memahami
bahwa sistem hukum yang dimaksud adalah yang berasaskan Pancasila. Pancasila
sebagai asas yang menjadi pedoman dan bintang pemandu terhadap UUD 1945, UU
dan peraturan lainnya.

F. Pengembangan Teori Berlakunya Hukum Islam di Indonesia

[9]Sejarah Indonesia yang diwarnai penjajahan Belanda mengenal sikap dan


politik hukum penjajahan Belanda di Indonesia. Pada awalnya VOC menganut
paham pernyataan hukum dalam masyarakat bahwa orang Islam menaati hukum
islam, bagi orang islam berlaku hukum islam. Setelah 3 abad lebih berkuasa di
Indonesia, Belanda ingin memantapkan penjajahannnya dan berusaha menjauhkan
hukum islam dari masyarakat islam dengan menimbulkan dan menerapkan
teorireceptie.

Dalam perkembangan pengkajian hukum islam di Indonesia kita lihat ada


teori-teori tentang berlakunya hukum islam di Indonesia. Tergambarkan ada 6 teori
yaitu:

a. Ajaran islam tentang penataan hukum.

b. Teori penerima autoritas hukum. H.A.R. Gibb dalam bukunya, The modern Terns of
Islam menyatakan bahwa kalau orang islam telah menerima islam sebagai
agamanya maka ia menerima autoritas hukum islam terhadap dirinya.

c. Teori receptie incomplectsu, teori yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku
bagi rakyat pribumi adalah hukum agamanya.

d. Teori receptie, teori ini menyatakan bahwa hukum yang berlaku bagi rakyat jajahan
(pribumi) adalah hukum adat. Hukum islam menjadi hukum kalau telah diterima
oleh masyarakat sebagai hukum adat.

e. Teori receptie exit, adalah teori receptie harus keluar dari teori hukum nasional
Indonesia karena bertentangan dengan UUD 1945 serta bertentangan dengan
Alquran dan As Sunnah Rosul.

f. Teori receptie a countrario menyatakan bahwa hukum yang berlaku bagi rakyat
adalah hukum agamanya, hukum adat hanya berlaku kalau tidak bertentangan
dengan hukum agama.
G. Perbandingan Antara Sistem Hukum Islam Dengan Sistem Hukum Lainnya

1. Keadaannya

[10]Ketiga sistem hukum yang berlaku di Indonesia dimaksud, walaupun


keadaan dan saat mulai berlakunya tidak sama baik pendekatan yuridis normatif
maupun pendekatan yuridis empiris.

Hukum adat telah lama berlaku di nusantara ini. Namun keberlakuannya tidak
dapat diketahui secara pasti, melainkan dapat dikatakan bahwa, jika dibandingkan
dengan kedua sistem hukum lainnya, hukum adat-lah yang tertua umurnya.
Sebelum tahun 1927 keadaanya biasa saja, hidup dan berkembang dalam
masyarakat indonesia.

Hukum islam mulai dikenal oleh penduduk yang mendiami nusantara ini
setelah agama islam disebarkan di Indonesia. Namun, belum ada kesepakatan para
ahli sejarah Indonesia mengenai waktu mulainya masuk agama islam ke Indonesia.
Ada yang berpendapat pada abad ke 1 H / 7M, islam baru masuk ke nusantara ini.
Selain itu, ada yang berpendapat abad ke 13 M. Walaupun para ahli berbeda
pendapat mengenai masuknya islam ke Indonesia. Namun dapat dikatakan bahwa
setelah penduduk yang mendiami nusantara ini memeluk agama islam, hukum
islam telah diikuti dan dilaksanakan oleh pemeluknya.

Hukum eksbarat adalah yang berasal dari hukum Romawi yang dianut orang
Eropa Barat kontinental. Hukum dimaksud diperkenalkan oleh pemerintah kolonial
Belanda ketika berdagang di Indonesia. Hukum Barat itu, mula mula hanya di
berlakukan kepada orang Belanda kepada orang Eropa saja, lambat laun melalui
berbagai upaya peraturan perundang-undangan (pernyatraan berlaku, penundukan
dengn sukarela, pemilihan hukum, dsb) hukum Barat itu dinyatakan berlaku juga
bagi mereka yang disamakan dengan Eropa, orang Timur Asing (terutama orang
Cina) dan orang Indonesia.

Hukum adat dan hukum islam adalah hukum bagi orang-orang indonesia asli
(bumi putra) dan mereka yang disamakan dengan penduduk bumi putra. Keadaan
itu di atur oleh pemerintah Hindia Belanda dahulu sejak tahun 1854-mereka
meninggalkan nusantara ini pada tahun 1942.

2. Bentuknya

[11]Pada dasarnya hukum adat adalah hukum yang tidak tertulis. Ia tumbuh
dan berkembang dan / atau hilang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan
masyarakat. Pada zaman itu, sedang diadakan usaha-usaha untuk mengangkat
hukum adat menjadi hukum perundang-undangan dan dengan begitu diusahakan
memperoleh bentuk tertulis. Sebagai contoh Undang-Undang Pokok Agraria tahun
1960. Namun, hukum adat yang telah menjadi hukum tertulis menjadi lain
bentuknya dari hukum adat sebelumnya. Ia menjadi hukum dalam bentuk
perundang-undangan.

Hukum islam dalam bentuknya :

a. Hukum islam dalam hal tertentu dapat bermakna syariat islam

b. Hukum islam dalam hal lain dapat bermakna fiqh yang biasa disebut hukum fiqh.

c. Hukum islam dalam hal yang lain dapat bermakna tidak tertulis, dalam pengertian
tidak tertulis dalam peraturan perundang-undangan seperti halnya hukum adat.

Hukum islam dalam pengertian syariah , fiqh dan tidak tertulis dipatuhi oleh
sebagian besar umat islam Indonesia berdasarkan kesadaran dan keyakinan mereka
bahwa hukum islam itu adalah hukum yang bersumber dari wahyu ilahi dan hadist
Nabi Muhammad Saw sehingga wajib dijadikan pedoman oleh umat islam.

Hukum eks Barat, yang dibandingkan dalam hal ini adalah aspek keperdataan,
hukum tertulis dalam bahasa belanda di dalam perundang-undangan atau kitab UU
seperti misalnya Burgeijk Wetbok (BW). Namun karena bahasa yang dipakai hukum
tersebut telah menjadi rintangan bagi berlakunya hukum itu sebagai hukum yang
tertulis dalam perundang-undangan aslinya, maka hukum eks Barat itu, kini
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, misalnya BW dengan nama Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

1. Alasan Alasan dari pengajaran hukum islam di indonesia :

1. Alasan sosiologis, alasan berdasarkan kemasyarakatan

2. Alasan Historis, alasan berdasarkan sejarah

3. Alasan Yuridis, alasan berdasarkan hukum..

2. Sumber hukum islam secara besar dapat pula dibagi menjadi: Sumber Hukum
Ashliah yang didalamnya adalah Al-Quran dan Hadis/sunnnah dan sumber hukum
Tarbaiyah yang mencakup Ijma, Qaul, Sahabat, Qias, Istishan, Muslahat-Muslahat,
Urf, Syariat Umat Terdaulu dan Istishab.

3. Perkembangan/pertumbuhan hukum islam di Indonesia sejak mulai massuknya


agama islam sampai menjadi salah satu sistem hukum yang banyak penganutnya,
dapat dibagi tiga pembahasan.

1. Masa kedatangan Islam di Indonesia

2. Masa Pemerintahan Hindia Belanda

3. Masa sesudah kemerdekaan

4. Di dalam Al-Quran dan hadis ada beberapa ayat yang memberikan isyarat untuk
melaksanakan pembangunan itu antara lain :

1. Al-Quran, Surah Al Baqarah ayat 148 yang artinya: hendaklah kamu berlomba
lomba dalam kebaikan.

2. Al-Quran, Surah Ar Radu ayat 11 yang artinya : sesungguhnya ALLAH tidak akan
merubah nasib sesuatu umat kecuali dirinya sendiri yang merubahnya.

3. Al-Quran, Surah Al mudjadah ayat 11 yang artinya :Allah mengngkat derajat


orang orang yang beriman dari kamu sekalian dan begitu juga dengan orang yang
berilmu pengetahuan.
4. Hadis Riwayat Abu Naim yang artinya : kekafiran dapat membawa seorang
kepada kekufuran.
DAFTAR PUSTAKA

Hamid, M. Arfin. 2011. Hukum Islam Perspektif Keindonesiaan (Sebuah Pengantar


dalam Memahami Realitasnya di Indonesia). Makassar: PT. UMITOHA.

Ali, Zainuddim. 2006. Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika.

Praja, Juhaya. 1991. Hukum Islam di Indonesia: Pemikiran dan Praktek. Bandung:
Remaja Rosdakarya. Cet. 1.

Praja, Juhaya. 1991. Hukum Islam di Indonesia: Perkembangan dan Pembentukan.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

Peranan Hukum Islam di Indonesia, http://fhiqar.blogspot.co.id/2012/04/peranan-hukum-


islam-di-indonesia.html

Hukum Islam di Indonesia, http://nartohukum.blogspot.co.id/2012/01/hukum-islam-di-


indonesia.html

[1]

[2] Hukum Islam di Indonesia, http://nartohukum.blogspot.co.id/2012/01/hukum-islam-di-


indonesia.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016

[3] Hukum Islam di Indonesia, http://nartohukum.blogspot.co.id/2012/01/hukum-islam-


di-indonesia.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016

[4] Hukum Islam di Indonesia http://nartohukum.blogspot.co.id/2012/01/hukum-islam-di-


indonesia.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016

[5] Hukum Islam di Indonesia http://nartohukum.blogspot.co.id/2012/01/hukum-islam-di-


indonesia.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
[6] Hukum Islam di Indonesia http://nartohukum.blogspot.co.id/2012/01/hukum-islam-di-
indonesia.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016

[7]Peranan Hukum Islam di Indonesia, http://fhiqar.blogspot.co.id/2012/04/peranan-hukum-islam-


di-indonesia.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016

[8]

[9] DR. Juhaya S. Praja, 1991, Hukum Islam di Indonesia: Perkembangan dan
Pembentukan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, hlm. 100.

MAKALAH
SEJARAH PERKEMBANGAAN HUKUM ISLAM
DI INDONESIA PADA MASA KEMERDEKAAN
SAMPAI SEKARANG
DosenPengampu:Ihyak,SHI,MHI
DisusunOleh:Achmad Syarifudin

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


YOGYAKARTA WONOSARI
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT.atas segala rahmat dan hidayah-
Nya,sehigga makalah Sejarah Perkembangan Hukum Isalm di Indonesia Pada Masa
Kemerdekaan Sampai Sekarang dapat terselesaikan sesuai dengan yang diharapkan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pnyusun makalah ini dapat terselesaikan berkat
bantuan dari berbagi pihak yeng terkait secara langsung maupun tidak langsung.Untuk itu
penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada.
1. Ihyak,SHI,MHI Dosen mata kuliah Sejarah Hukum Islam
2. Semua pihak yang terkaitdalam penulisan makalah ini
Penyusun menyadari bahwa makalah ini bukanlah sebuah proses akhir dari
segalanya,melainkan langkah awal yang masih memerlukan banyak koreksi,oleh karena itu kritik
dan saran sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhirya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat kepada semua pihak pada
umumnya dan pada penulis khususnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb
Rongkop,2 April 2016

Penulis

DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkandari sejarah


Islam itu sendiri. Membicarakan hukum Islam sama artinya denganmembicarakan Islam sebagai
sebuah agama. Benarlah apa yang dikatakan olehJoseph Sacht, tidak mungkin mempelajari Islam
tanpa mempelajari hukum Islam.Ini menunjukkan bahwa hukum sebagai sebuah institusi agama
memilikikedudukan yang sangat signifikan.
Islam masuk ke Indonesia pada abad 1 Hijriah atau VII Masehi yangdibawa oleh
pedagang-pedagang Arab. Tidak berlebihan jika era ini adalah eradimana hukum Islam untuk
pertama kalinya masuk ke wilayah Indonesia. Namunpenting untuk dicatat, seperti apa yang
dikatakan oleh Martin van Bruinesen,penekanan pada aspek fiqih sebenarnya adalah fenomena
yang berkembangbelakangan.
Pada masa-masa yang paling awal berkembangnya Islam di Indonesiapenekanannya
tampak pada tasawuf. Kendati demikian hemaat penulis pernyataanini tidaklah berarti fiqih tidak
penting mengingat tasawuf yang berkembang diIndonesia adalah tasawuf sunni yang
menempatkan fiqih pada posisi yangsignifikan dalam struktur bangunan sunni tersebut.
Beberapa ahli menyebut bahwa hukum Islam yang berkembang di Indonesia bercorak syafiiyyah.
Ini ditunjukan dengan bukti-bukti sejarahdiantaranya, Sultan Malikul Zahir dari Samudra pasai
adalah seorang ahli agamadan hukum Islam terkenal pada pertengahan abad ke XIV Masehi
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, muncul beberapa pertanyaan, antara lainadalah:
1. Bagaimana sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia?
2. apakah teori berlakunya hukum islam di Indonesia?

C. Tujuan
1. Agar mampu memahami tentang perkembangan hukum islam pada masa kerajaan Islam di
Indonesia.
2. Agar mampu memahami tentang perkembangan hukum islam pada masa penjajahan Belanda di
Indonesia.
3. Agar mampu memahami tentang perkembangan hukum islam pada masa pendudukan Jepang di
Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM

Hukum Islam berkembang sejalan dengan perkembangan dan perluasanwilayah Islam


serta hubungannya denga budaya dan umat lain.Perkembangan itu tampak sekali pada awal
periode empat khalifah pertamayang disebut al-Khulafaur Rasyidin ( 11-14 H). Pada zaman ini
wahyu telahterhenti semantara berbagai peristiwa hukum bernunculan di sana- sinisehingga
memerlukan penyelesaian hukum.Memasuki era kemapanan, fikih sangat diperlukan bukan
semata-matauntuk mengatur ibadah saja, melainkan juga meliputi bidang-bidangkehidupan
lainnya seperti hubungan antar negara, hukum ketatanegaraan danadministrasi pemerintahan,
hukum pidana, dan peradilan. Terdorong olehkebutuhan akan aturan hukum yang sesuai dengan
perkembangan masyarakatitulah mulai dilakukan kodifikasi hadis yang disusul lahirnya ilmu-
ilmu hadisdan ilmu-ilmu tafsir yang menjadi landasan utama bagi tumbuhnya ilmu fikihsehingga
muncullah imam-imam mazhab besar. Itulah sebabnya Mc Donald menggambarkan hukum islam
itu sebagai pengetahuan tentang semua hal,baik yang bersifat manusiawi maupun ketuhanan.
Kedudukan hukum Islammenjadi amat penting dan menentukan pandangan hidup serta tingkah
lakupara pemeluk agama Islam, bahkan menjadi penentu utama pandanganhidupnya itu.Berikut ini
dijelaskan tentang perkembangan hukum Islam di Indonesiadari masa kemerdekaan hingga
sekarang.[1]
1. Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan (1945)
Pada zaman kemerdekaan, hukum Islam melewati dua periode.Pertama, periode penerimaan
hukum Islam sebagai sumber persuasif.Kedua, periode penerimaan hukum Islam sebagai sumber
autoritatif.Sumber persuasif dalam hukum konstitusi ialah sumber hukum yang baru diterima
orang apabila ia telah diyakini. Dalam konteks hukum Islam,piagam Jakarta sebagai slah satu
hasil sidang BPUPKI merupakan sumberpersuasif dari UUD 1945 selama 14 tahun.[2]
Hukum Islam baru menjadisumber autoritatif (sumber hukum yang telah mempunyai
kekuatanhukum) dalam hukum tata negara ketika ditempatkannya Piagam Jakartadalam Dekrit
Presiden RI tanggal 5 Juli 1959 sebagaimana dapat disimak dalam konsideran Dekrit tersebut
berikut ini: Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22Juni 1945 menjiwai
UUD 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dalam konstitusi tersebut.
Kata menjiwai secara negatif berarti bahwa tidak boleh dibuat aturan perundangan dalam
negara RI yang bertentangan dengan syariat Islambagi pemeluk-pemeluknya. Secara positif beraarti
bahwa pemeluk Islamdiwajibkan menjalankan syariat Islam. Oleh karena itu harusdibuat UU
yang akan memberlakukan hukum Islam dalam hukum nasional.Meskipun Pendudukan Jepang
memberikan banyak pengalamanbaru kepada para pemuka Islam Indonesia, namun pada akhirnya,
seiringdengan semakin lemahnya langkah strategis Jepang memenangkan perangyang kemudian
membuat mereka membuka lebar jalan untuk kemerdekaanIndonesia, Jepang mulai mengubah
arah kebijakannya.[3]
Mereka mulaimenengok dan memberi dukungan kepada para tokoh-tokoh nasionalis
Indonesia. Dalam hal ini, nampaknya Jepang lebih mempercayai kelompok nasionalis untuk
memimpin Indonesia masa depan. Maka tidak mengherankan jika beberapa badan dan komite
negara, seperti DewanPenasehat (Sanyo Kaigi) dan BPUPKI (Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai)
kemudian diserahkan kepada kubu nasionalis. Hingga Mei 1945, komiteyang terdiri dari 62orang
ini, hanya 11 diantaranya yang mewakilikelompok Islam. Atas dasar itulah, Ramly Hutabarat
menyatakan bahwaBPUPKI :Bukan badan yang dibentuk atas dasar pemilihan yang demokratis,
meskipun Soekarno dan Mohammad Hatta berusaha agar aggota badan ini cukup representatif
mewakili berbagai golonga dalam masyarakat Indonesia.
Perdebatan panjang tentang dasar negara di BPUPKI kemudianberakhir dengan lahirnya
apa yang disebut dengan Piagam Jakarta.Kalimat kompromi paling penting Piagam Jakarta
terutama ada pada kalimat Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.[4]
Dengan rumusan semacam ini sesungguhnya lahir sebuah implikasi yangmengharuskan
adanya pembentukan undang-undang untuk melaksanakanSyariat Islam bagi para pemeluknya.
Tetapi rumusan kompromis PiagamJakarta itu akhirnya gagal ditetapkan saat akan disahkan pada
tanggal 18Agustus 1945 oleh PPKI. Ada beberapa faktor berkenaan dengan masalah ini.
Tapi semua versi mengarah kepada Mohammad Hatta yangmenyampaikan keberatan golongan
Kristen di IndonesiaTimur. Hattamengatakan ia mendapat informasi tersebut dari seorang opsir
angkatanlaut Jepang pada sore hari taggal 17 Agustus 1945. Namun Letkol ShegetaNishijima satu-satunya
opsir AL Jepang yang ditemui Hatta pada saat itumenyangkal hal tersebut. Ia bahkan
menyebutkan justru Latuharhary yangmenyampaikan keberatan itu. Keseriusan tuntutan itu lalu
perludipertanyakan mengingat Latuharhary bersama dengan Maramis, seorangtokoh Kristen dari
Indonesia Timur BPUPKI.Pada periode ini, status hukum Islam tetaplah samar-samar.Karena
UmatIslam lainnya- telah menyetujui rumusankompromi itu saat sidang sendiri masih merasakan
adanya suatu permainan politik, yangberpotensi besar pada ketentuan yang dicita-citakan umat
Islam..
2. Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan Periode Revolusi
HinggaKeluarnyaDekrit Presiden 5 Juli 1950Selama hampir lima tahun setelah
proklamasi kemerdekaan,Indonesia memasuki masa-masa revolusi (1945-1950). Menyusul
kekalahan Jepang oleh tentara-tentara sekutu, Belanda ingin kembalimenduduki kepulauan
Nusantara. Dari beberapa pertempuran, Belandaberhasil menguasai beberapa wilayah Indonesia,
dimana ia kemudianmendirikan negara-negara kecil yang dimaksudkan untuk
mengepungRepublik Indonesia. Berbagai perundingan dan perjanjian kemudian dilakukan,
hingga akhirnya tidak lama setelah Linggarjati, lahirlah apayang disebut dengan Konstitusi
Indonesia Serikat pada tanggal 27Desember 1949.Dengan berlakunya Konstitusi RIS tersebut,
maka UUD 1945dinyatakan berlaku sebagai konstitusi Republik Indonesia yangmerupakan satu
dari 16 bagian negara Republik Indonesia Serikat.Konstitusi RIS sendiri jika ditelaah, sangat
sulit untuk dikatakan sebagaikonstitusi yang menampung aspirasi hukum Islam.
MukaddimahKonstitusi ini misalnya, sama sekali tidak menegaskan posisi hukum
Islamsebagaimana rancangan UUD45 yang disepakati oleh BPUPKI. Demikian pula dengan
batang tubuhnya, yang bahkan dipengaruhi oleh faham liberalyang berkembang di Amerika dan
Eropa Barat, serta rumusan DeklarasiHAM versi PBB.Namun saat negara bagian RIS pada awal tahun
1950 hanya tersisatiga negara saja RI, negara Sumatera Timur, dan negara Indonesia Timur,salah
seorang tokoh umat Islam, Muhammad Natsir, mengajukan apa yang kemudian dikenal sebagai
Mosi Integral Natsir sebagai upaya untuk melebur ketiga negara bagian tersebut.[5]
Akhirnya, pada tanggal 19 Mei1950, semuanya sepakat membentuk kembali Negara
Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 1945. Dan dengan demikian,
KonstitusiRIS dinyatakan tidak berlaku, digantikan dengan UUD Sementara 1950.Akan tetapi,
jika dikaitkan dengan hukum Islam, perubahan initidaklah membawa dampak yang signifikan.
Sebab ketidakjelasanposisinya masih ditemukan, baik dalam Mukaddimah maupun batangtubuh
UUD Sementara 1950, kecuali pada pasal 34 yang rumusannyasama dengan pasal29 UUD 1945,
bahwa Negara berdasar Ketuhanan yang Maha Esa dan jaminan negara terhadap kebebasan
setiap penduduk menjalankan agamanya masing-masing. Juga pada pasal 43 yangmenunjukkan
keterlibatan negara dalam urusan-urusan keagamaan.
Kelebihan lain dari UUD Sementara 1950 ini adalah terbukanya peluanguntuk merumuskan
hukum Islam dalam wujud peraturan dan undang-undang. Peluang ini ditemukan dalam
ketentuan pasal 102 UUD sementara1950. Peluang inipun sempat dimanfaatkan oleh wakil-wakil
umat Islamsaat mengajukan rancangan undang-undang tentang Perkawinan UmatIslam pada
tahun 1954. Meskipun upaya ini kemudian gagal akibat hadangan kaum nasionalis yang juga
mengajukan rancangan undang-undang Perkawinan Nasional. Dan setelah itu, semua tokoh
politik kemudian nyaris tidak lagi memikirkan pembuatan materi undang-undangbaru, karena
konsentrasi mereka tertuju pada bagaimana mengganti UUDSementara 1950 itu dengan undang-
undang yang bersifat tetap.Perjuangan mengganti UUD Sementara itu kemudian diwujudkan
dalam Pemilihan Umum untuk memilih dan membentuk MajlisKonstituante pada akhir tahun
1955. Majlis yang terdiri dari 514 orang itukemudian dilantik oleh Presiden Soekarno pada 10
November 1956.[6]
Namun delapan bulan sebelum batas akhir masa kerjanya, Majlis inidibubarkan melalui
Dekrit Presiden yang dikeluarkan pada tanggal 5 Juli1959. Hal penting terkait dengan hukum
Islam dalam peristiwa Dekrit ini adalah konsiderannya yang menyatakan bahwa Piagam Jakarta
tertanggal22 Juni menjiwai UUD 1945 dan merupakan suatu kesatuan dengankonstitusi
tersebut. Hal ini tentu saja mengangkat dan memperjelas posisi hukum Islam dalam UUD. Akan
tetapi dalam tataran aplikasinya faktorpolitik penentu utama dalam hal ini.Hal lain yang patut
dicatat di sini adalah terjadinya beberapa pemberontakan yang diantaranya bernuansakan Islam
dalam fase ini.
Yang paling fenomenal adalah gerakan DI/TII yang dipelopori olehKartosuwirjo dari Jawa
Barat. Kartosuwirjo sesungguhnya telahmemproklamirkan negara Islam-nya pada tanggal 14
Agustus 1945, atau dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus1945.
Namun ia melepaskan aspirasinya untuk kemudian bergabungdengan Republik Indonesia. Tetapi
ketika kontrol RI terhadap wilayahnyasemakin merosot akibat agresi Belanda, terutama
setelahdiproklamirkannya negara-boneka Pasundan di bawah kontrol Belanda, iapun
memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun1948. Namun pemicu konflik
yang berakhir di tahun 1962 dan mencatat25.000 korban tewas itu.3.[7]
Hukum Islam di Era Orde Lama dan Orde BaruMungkin tidak terlalu keliru jika dikatakan
bahwa Orde Lamaadalah era kaum nasionalis dan komunis. Sementara kaum muslim di eraini
perlu sedikit bersabar dalam memperjuangkan cita-citanya. Salah satupartai yang mewakili
aspirasi umat Islam kala itu, Masyumi harusdibubarkan pada tanggal 15 Agustus 1960 oleh
Soekarno, dengan alasantokoh-tokohnya terlibat pemberontakan (PRRI di Sumatera
Barat).Sementara NU yang kemudian menerima Manipol Usdek-nya Soekarnobersama dengan
PKI dan PNI kemudian menyusun komposisi DPRGotong Royong yang berjiwa Nasakom.
Berdasarkan itu, terbentuklah MPRS yang kemudian menghasilkan 2 ketetapan; salah
satunya adalahtentang upaya unifikasi hukum yang harus memperhatikan kenyataan-kenyataan
umum yang hidup di Indonesia.Meskipun hukum Islam adalah salah satu kenyataan umum yangselama ini hidup
di Indonesia, dan atas dasar itu Tap MPRS tersebutmembuka peluang untuk memposisikan
hukum Islam sebagaimanamestinya, namun lagi-lagi ketidakjelasan batasan perhatian itu
membuat hal ini semakin suram. Dan peran hukum Islam di era inipun kembali
tidak mendapatkan tempat yang semestinya.Menyusul gagalnya kudeta PKI pada 1965 dan berkuasanya
OrdeBaru, banyak pemimpin Islam Indonesia yang sempat menaruh harapanbesar dalam upaya
politik mereka mendudukkan Islam sebagaimanamestinya dalam tatanan politik maupun hukum
di Indonesia. Apalagi kemudian Orde Baru membebaskan bekas tokoh-tokoh Masyumi
yangsebelumnya dipenjara oleh Soekarno. Namun segera saja, Orde ini menegaskan perannya sebagai
pembela Pancasila dan UUD 1945. Bahkandi awal 1967, Soeharto menegaskan bahwa militer tidak
akan menyetujuiupaya rehabilitasi kembali partai Masyumi.Meskipun kedudukan hukum Islam
sebagai salah satu sumberhukum nasional tidak begitu tegas di masa awal Orde ini, namun
upaya-upaya untuk mempertegasnya tetap terus dilakukan. Hal ini ditunjukkanoleh K.H.
Mohammad Dahlan, seorang menteri agama dari kalangan NU,yang mencoba mengajukan
Rancangan Undang-undang Perkawinan UmatIslam dengan dukunagn kuat fraksi-fraksi Islam di
DPR-GR.
Meskipun gagal, upaya ini kemudian dilanjutkan dengan mengajukan rancanganhukum
formil yang mengatur lembaga peradilan di Indonesia pada tahun1970. Upaya ini kemudian
membuahkan hasil dengan lahirnya UUNo.14/1970, yang mengakui Pengadilan Agama sebagai salah satu
badanperadilan yang berinduk pada Mahkamah Agung. Dengan UU ini, dengansendirinya hukum Islam telah
berlaku secara langsung sebagai hukumyang berdiri sendiri.Penegasan terhadap berlakunya
hukum Islam semakin jelas ketikaUU No. 14 Tahun 1989 tentang peradilan agama ditetapkan.
Hal inikemudian disusul dengan usaha-usaha intensif untuk mengompilasikanhukum Islam di
bidang-bidang tertentu. Dan upaya ini membuahkan hasilsaat pada bulan Februari 1988,
Soeharto sebagai presiden menerima hasilkompilasi itu, dan menginstruksikan
penyebarluasannya kepada MenteriAgama.[8]
3. Hukum Islam Pada Masa Reformasi
Hukum Islam di Era Reformasi Hingga SekarangSetelah lengsernya pemeritahan
Suharto. Gemuruh demokrasi dankebebasan makin meningkat di seluruh pelosok Indonesia.
Setelah melalui perjalanan yang panjang, di era ini setidaknya hukum Islam mulaimenempati
posisinya secara perlahan tapi pasti. Lahirnya Ketetapan MPRNo. III/MPR/2000 tentang Sumber
Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan semakin membuka peluang lahirnya
aturan undang-undang yang berlandaskan hukum Islam. Terutama pada Pasal 2 ayat 7yang menegaskan
ditampungnya peraturan daerah yang didasarkan padakondisi khusus dari suatu daerah di Indonesia, dan
bahwa peraturan itu dapat mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang bersifat umum.[9]
Lebih dari itu, disamping peluang yang semakin jelas, upayakongkrit merealisasikan
hukum Islam dalam wujud undang-undang danperaturan telah membuahkan hasil yang nyata di
era ini. Bukti nyataadalah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe
Aceh Darussalam tentang Pelaksanaan Syariat Islam Nomor 11 Tahun 2002. Undang-undang
Republik Indonesia No.3 Tahun 2006berkaitan dengan perubahan atas undang-undang No.7
tahun 1989.Sertabeberapa UU lainnya yang seperti sengketa bank syari`ah yang pada kaliini ditangani
langsung oleh Pengadilan Agama itu sendiri.[10]
B. TEORI TENTANG BERLAKUNYA HUKUM ISLAM DI INDONESIA
Hukum Islam mulai memasuki Indonesia ketika Indonesia banyak di datangi oleh para
pedagang yang datang dari berbagai daerah. Dalam proses berlakunya hukum Islam di Indonesia,
terdapat beberapa teori yang mendampinginya, diantaranya :
1.Teori Kredo atau Syahadat
Teori kredo atau syahadat ialah teori yang mengharuskanpelaksanaan hukum Islam oleh mereka
yang telah mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai konsekuensi logis dari pengucapan
kredonya.Teori ini sesungguhnya kelanjutan dari prinsip tauhid dalamfilsafat hukum Islam.
Prinsip tauhid yang menghendaki setiap orang yangmenyatakan dirinya beriman kepada ke-
Maha Esaan Allah swt., maka iaharus tunduk kepada apa yang diperintahkan Allah swt. Dalam
hal ini taat kepada perintah Allah swt. dan sekaligus taat kepada Rasulullah saw. dansunnahnya.
[11]
Teori Kredo ini sama dengan teori otoritas hukum yang dijelaskanoleh H.A.R. Gibb (The
Modern Trends in Islam, The University of Chicago Press, Chicago, Illionis, 1950). Gibb
menyatakan bahwa orangIslam yang telah menerima Islam sebagai agamanya berarti ia
telahmenerima otoritas hukum Islam atas dirinya.Teori Gibb ini sama dengan apa yang telah
diungkapkan oleh imam madzhab seperti Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah ketika mereka
menjelaskan teori mereka tentang Politik Hukum InternasionalIslam (Fiqh Siyasah Dauliyyah)
dan Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah).Mereka mengenal teori teritorialitas dan non
teritorialitas.
Teori teritorialitas dari Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa seorang muslimterikat
untuk melaksanakan hukum Islam sepanjang ia berada di wilayahhukum di mana hukum Islam
diberlakukan. Sementara teori non teritorialitas dari Imam Syafii menyatakan bahwa seorang
muslim selamanya terikat untuk melaksanakan hukum Islam di mana pun iaberada, baik di
wilayah hukum di mana hukum Islam diberlakukan,maupun di wilayah hukum di mana hukum
Islam tidak diberlakukan.Sebagaimana diketahui bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia
adalah penganut madzhab Syafii sehingga berlakunya teori syahadat ini tidak dapat disangsikan
lagi. Teori Kredo atau Syahadat ini berlaku diIndonesia sejak kedatangannya hingga kemudian
lahir Teori Receptio inComplexu di zaman Belanda.[12]
2.Teori Receptio in Complexu
Teori receptio in Complexu menyatakan bahwa bagi orang Islamberlaku penuh hukum
Islam sebab ia telah memeluk agama Islamwalaupun dalam pelaksanaannya terdapat
penyimpangan-penyimpangan.Teori ini berlaku di Indonesia ketika teori ini diperkenalkan oleh
Prof. Mr.Lodewijk Willem Christian van den Berg. Teori Receptio in Complexu initelah
diberlakukan di zaman VOC sebagaimana terbukti dengan dibuatnya berbagai kimpulan hukum
untuk pedoman pejabat dalam menyeleaikanurusan-urusan hukum rakyat pribumi yang tinggal di
dalam wilayahkekuasaan VOC yang kemudian dikenal senagai Nederlandsch Indie.Hukum kekeluargaan
Islam khususnya hukum perkawinan dan waris tetapdiakui oleh Belanda. Bahkan VOC
mengakuinya dalam bentuk peraturanResolutie der Indische Regeering tanggal 25 Mei 1760
yang kemudianoleh Belanda diberi dasar hukum Regeering Reglemen (RR) tahun 1885.[13]
3.Teori Receptie
Teori Receptie menyatakan bahwa bagi rakyat pribumi padadasarnya berlaku hukum
adat. Hukum Islam berlaku bagi rakyat pribumikalau norma hukum Islam itu telah diterima oleh
masyarakat sebagaihukum adat. Teori ini diberi dasar hukum dalam undang-undang dasarhindia
belanda yang menjadi pengganti RR, yaitu Wet op deStaatsinrichting van Nederlands Indie (IS).
Teori Receptie dikemukakanoleh Prof. Christian Snouck Hurgronye dan kemudian
dikembangkan olehvan Vollenhoven dan Ter Haar. Teori ini dijadikan alat oleh
Snouck Hurgronye agar orang-orang pribumi jangan sampai kuat memegangajaran Islam dan
hukum Islam. . Jika mereka berpegang terhadap ajarandan hukum Islam, dikhawatirkan mereka
akan sulit menerima dandipengaruhi dengan mudah oleh budaya barat. Ia pun khawatir
hembusan Pan Islamisme yang ditiupkan oleh Jamaluddin Al-Afgani berpengaruh
diIndonesia.Teori Receptie ini amat berpengaruh bagi perkembangan hukumIslam di Indonesia
serta berkaitan erat dengan pemenggalan wilayahIndonesia ke dalam sembilan belas wilayah
hukum adat. Teori Receptieberlaku hingga tiba di zaman kemerdekaan Indonesia.[14]
4.Teori Receptie Exit
Teori Receptie Exit diperkenalkan oleh Prof. Dr. Hazairin, S.H.Menurutnya setelah
Indonesia merdeka, tepatnya setelah ProklamasiKemerdekaan Indonesia dan Undang-Undang
Dasar 1945 dijadikanUndang-Undang Negara Republik Indonesia, semua peraturan perundang-
undangan Hindia Belanda yang berdasarkan teori receptie bertentangan dengan jiwa UUD45.
Dengan demikian,teori receptie itu harus exit aliaskeluar dari tata hukum Indonesia
merdeka.Teori Receptie harus keluar dari teori hukum nasional Indonesia karena bertentangan
dengan UUD45 dan Pancasila serta bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah. Secara tegas
UUD 45 menyatakan bahwaNegara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanyamasing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Demikiandinyatakan dalam pasal 29 (1)
dan (2).
5.Teori Receptie A Contrario
Teori Receptie Exit yang diperkenalkan oleh Hazairin dikembangkan oleh Sayuti Thalib,
S.H. dengan memperkenalkan Teori Receptie A Contrario. Teori Receptie A Contrario yang
secara harfiahberarti lawan dari Teori Receptie menyatakan bahwa hukum adat berlakubagi
orang Islam kalau hukum adat itu tidak bertentangan dengan agamaIslam dan hukum Islam.
Dengan demikian, dalam Teori Receptie AContrario, hukum adat itu baru berlaku kalau tidak
bertentangan denganhukum Islam. Teori ini sejiwa dengan teori para pakar hukum islam
(fuqaha) tentang al urf dan teori al-adah. Kalau Teori Receptie mendahulukan berlakunya hukum
adatdaripada hukum Islam, maka Teori Receptie A Contrario sebaliknya.Dalam Teori Receptie,
hukum Islam tidak dapat diberlakukan jikabertentangan dengan hukum adat. Teori Receptie A
Contrariomendahulukan berlakunya hukum Islam daripada hukum adat, karenahukum adat baru
dapat dilaksanakan jika tidak bertentangan denganhukum Islam.[15]

6.Teori Hukum Islam


Teori penataan kepada hukum bagi orang Islam terkandung dalam sumber ajaran dan
sumber hukum islam, yaitu: Alquran dan Assunah[16]

BAB III
KESIMPULAN

Hukum Islam di Indonesia, sesungguhnya adalah hukum yang hidup,berkembang, dikenal dan
sebagiannya ditaati oleh umat Islam di negara ini.Hukum Islam masuk ke Indonesia bersamaan dengan
masuknya Islam ke Indonesia, yang menurut sebagian kalangan, telah berlangsung sejak abad
VIIatau VIII M. Sementara itu, hukum Barat baru diperkenalkan oleh VOC pada awalabad XVII
M.Dengan demikian, di era reformasi ini hingga sekarang, terbuka peluangyang luas bagi sistem
hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum diIndonesia. Kita dapat melakukan
langkah-langkah pembaruan, dan bahkanpembentukan hukum baru yang bersumber dan
berlandaskan sistem hukum Islam,untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif yang
berlaku dalamhukum Nasional kita.Dalam proses berlakunya hukum Islam di Indonesia, terdapat
beberapa teori yang mendampinginya, diantaranya :1. Teori Kredo atau Syahadat (teori ajaran
islam)2. Teori Receptio in Complexu atau Penerimaan Hukum Islam Sepenuhnya3. Teori
Receptie atau Penerimaan Hukum Islam oleh Hukum Adat4. Penerimaan Hukum Islam Sebagai
Sumber Persuasif 5. Penerimaan Hukum Islam Sebagai Sumber Otoritatif 6. Teori penerimaan
autoritas hukum

DAFTAR PUSTAKA

Nuruddin, A. dan Tarigan, A.A., 2004,Hukum Perdata Islam di Indonesia, edisipertama. Kencana
Prenada Media Group, Jakarta.
Zein, S.E.M., 2001, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, edisipertama, Kencana
Prenada Media Group, Jakarta.
Sjadzali, M., Djatnika, R., Anshari, E.S., Suny, I., Ichtijanto, 1991, Hukum Islamdi Indonesia,
Remaja Rosdakarya, Jakarta.
Wahid, A., Siregar, B., Djazuli, A., Praja., J.S., Ali, M.D., Adam, M., Manan, B.,Abubakar A.Y.,
1994, Hukum Islam di Indonesia, Remaja Rosdakarya, Jakarta.

[1] Sjadzali, M., Djatnika, R., Anshari, E.S., Suny, I., Ichtijanto, 1991, Hukum Islamdi
Indonesia, Remaja Rosdakarya, Jakarta.
[2] Ibit hal 2
[3] Sjadzali,
M., Djatnika, R., Anshari, E.S., Suny, I., Ichtijanto, 1991, Hukum Islamdi Indonesia,
Remaja Rosdakarya, Jakarta.
[4] Ibit hal.6
[5] Wahid, A., Siregar, B., Djazuli, A., Praja., J.S., Ali, M.D., Adam, M., Manan, B.,Abubakar
A.Y., 1994, Hukum Islam di Indonesia, Remaja Rosdakarya, Jakarta.hal.9

[6] Nuruddin, A. dan Tarigan, A.A., 2004,Hukum Perdata Islam di Indonesia, edisipertama, Kencana
Prenada Media Group, Jakarta.hal.12
[7] Wahid, A., Siregar, B., Djazuli, A., Praja., J.S., Ali, M.D., Adam, M., Manan, B.,Abubakar
A.Y., 1994, Hukum Islam di Indonesia, Remaja Rosdakarya, Jakarta.hal.12
[8] Nuruddin, A. dan Tarigan, A.A., 2004.Hukum Perdata Islam di Indonesia edisipertama, Kencana
Prenada Media Group, Jakarta.hal.20
[9] Zein, S.E.M., 2001, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, edisipertama,
Kencana Prenada Media Group, Jakarta.hal.23
[10] Ibid hal.25
[11] Sjadzali, M.,
Djatnika, R., Anshari, E.S., Suny, I., Ichtijanto, 1991, Hukum Islamdi
Indonesia, Remaja Rosdakarya, Jakarta.hal.30
[12] Ibid hal.34
[13] Ibid hal.36
[14] Ibid hal.37
[15] Ibid hal 37-40
[16] Ibid hal.41

MAKALAH SEJARAH HUKUM ISLAM


sejarah hukum islam
(Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mandiri Pada Mata Kuliah Tarikh Tasyri)
DOSEN PENGAMPU : ABDUL SYAHID

OLEH
IZA ZUZANA
Nim : 12091106302
MAHASISWA SEMESTER V/B PAI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)


AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
T.A 2013

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah ajaran yang menyeluruh dan terperlu, ia mengatur segala aspek
kehidupan manusia, baik dalam urusan-urusan keduniaan maupun yang menyangkut hal-hal
keakhiratan. Pendidikan hal yang tidak terpisahkan dari ajaran islam, ia merupakan bagian
terpadu dari ajaran Islam.
Sejarah pendidikan islam telah menunjukkan kepada kita bahwa sejak perkembangan Islam,
pendidikan mendapat prioritas utama masyarakat muslim Indonesia. Di samping besarnya arti
pendidikan, kepentingan Islamisasi mendorong umat Islam melaksanakan pengajaran Islam
kendati masih dalam sistem yang sederhana, di mana pengajaran diberikan dengan sistem
halaqah yang dilakukan di tempat ibadah semacam mesjid, mushallah bahkan juga di rumah
ulama.
Perkembangan pendidikan memotivasi dan mendorong para cendekiawan muslim (ulama) untuk
membentuk lembaga organisasi keagamaan demi menyelamatkan umat dari ketertindasan dan
kebodohan serta mengantar umat islam ke arah yang lebih layak dengan tatanan nilai-nilai
hukum Islam.

B. Rumusan Masalah
1. Sejarah hukum Islam pada zaman kerajaan
2. Sejarah hukum Islam pada zaman VOC
3. Sejarah hukum Islam pada zaman penjajahan
4. Sejarah hukum Islam pada zaman kemerdekaan

C. Tujuan
1. Mengetahui sejarah hukum Islam pada zaman kerajaan
2. Mengetahui sejarah hukum Islam pada zaman VOC
3. Mengetahui Sejarah hukum Islam pada zaman penjajahan
4. Mengetahui sejarah hukum Islam pada zaman kemerdekaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah hukum Islam pada zaman kerajaan
Perkembangan hukum islam Indonesia sebeluma abad ke 20 M, memang dalam
wacana Syafiiyah, hal ini terjadi karena proses islamisasi di Indonesia sejak abad 12 dan 13
merupakan saat saat dimana perkembangan hukum islam berada pada masa krisis dengan
penutupan pintu ijtihad sebagai titik terendahnya,walaupun pada fase berikutnya banyak tokoh
yang menggugat hal tersebut. Namun pada awal abad ke 20 muncul gerakan pembaharuan islam.
Pemikiran hukum islam di Indonesia dapat terlihat mulai Abad ke 17 M., Pemikiran
ini berada dalam keseimbangan baru tasawuf-fiqh, dan wacana syafiyah, hal ini terjadi karena
pemikiran hukum merupakan perwujudan dari gerakan pemikiran tasawuf yang telah dahulu ada
dan akibat langsung dari keberadaan mazhab syafii yang dianut oleh penyebar islam pertama di
Nusantara abad ke 12 dan 13 M. dua karakteristik espimologi inilah yang menjadi langgam yang
menonjol bagi gerakan pemikiran hukum islam di Indonesia ketika itu. Tidak adanya karya yang
dibilang original dan otentik yang terlahir daripara pemikir disebabkan oleh situasi yang kurang
menguntungkan dari proses, waktu dan karakter islam pertama tersebut.
1. Abad ke 17 M.
Sesuai dengan kebijakan Sultan Iskandar Muda Mahlota Alam Syah dan Sultan
sesudahnya sangat antusias menndatangkan Ulama untuk usaha dakwahnya pada abad ke 17.
Menurut catatan Qurais Shihab, setidaknya terdapat empat ulama besar yang berhasil
memperkaya pemikiran keislaman di Indonesia mereka adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-
Sumatranii, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf as-Sinkili.
Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani
Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani adalah dua orang murid dan guru yang
merupakan pelopor tasawuf Panteisme. Mereka cukup kuat pengaruhnya lewat karya tulisnya
baik dalam bahasa arab maupun bahasa melayu. Dibawah pengaruh dan dominasi intelektual as-
sumatrani sebagai mufti dan penasehat sultan, aliran panteisme tumbuh dan berkembang pesat.
Namun dengan meninggalnya as-sumatrani dan juga sultan maka berakhirlah tasawuf panteisme
(falsafati).
Nuruddin ar-Raniri
Seiring dengan naiknya Sultan iskandar II sebagai penguasa, Nuruddin ar-Raniri yang telah
menjalin hubungan baik dengan sultan akhirnya diangkat menjadi mufti kerajaan, usaha pertama
yang dilakukan adalah melancarkan kampanye pemberantasan terhadap apa yang disebut tasawuf
wujudi. Melalui berbagai sarana baik melalui tulisan maupun diskusi ilmiah, ar-raniri mencoba
berdebat dengan pengikut Hamzah Fansuri dan as-sumatrani. Dari sini kemudian ia
mengeluarkan fatwa akan sesatnya paham panteisme, para pengikutnya murtad dan apabila tidak
segera bertaubat maka menurut hukum, mereka halal di perangi. Fatwa yang dikeluarkan oleh ar-
Raniri ini memiliki implikasi yang luar biasa dahsyatnya karya-karya Fansuri dan as-Sumatrani
di bakar dan para pengikutnya dikejar-kejar dan dibunuh, termasuk saudara sultan sendiri.
Ar-Raniri sendiri sebenarnya lebih dikenal sebagai ahli tasawuf daripada ahli fiqh. Karyanya
kurang lebih berjumlah 30 buku terutama menyangkut polemiknya dengan paham panteisme.
Disamping itu iya juga dikenal sebagai penganut tarekat Qadariyah, Rifaiyah dan al-
audarusiyah. Keadaan ini menjadikan pemikiran hukum islamnya bernuansa sufistik dan
pemikiran tasawufnya bernuansa fiqh. Dalam konteks demikian maka dapat di baca bahwa
kritik-kritik tajamnya terhadap paham panteisme adalah semata mata diorientasikan untuk
mengharmoniskan antara dimensi syariah dan tasawuf dalam ajaran agama.
Karya terbesar ar-Raniri adalah buku yang berjudul Shirath al-Mustaqim yang ditulis pada tahun
1634 M dan selesai pada 1644 M, terdapat beberapa pemikiran hukum yang menunjukkan
adanya: tidak syahnya shalat seseorang jika menjadi makmum penganut paham panteisme, istinja
harus menggunakan barang secara jelas tidak di larang oleh syara.
Abdurrauf as-Sinkili
Abdurrauf as-Sinkili adalah seorang ulama yang berpikir meoderat, kompromis dan akomodatif.
Petualangannya yang cukup lama di timur tengah (menetap di tanah Haramain selama 9 Tahun)
telah membentuk karakter yang membedakan dirinya dengan ar-Raniri di antara 22 karyanya
yang ditulis dalam bahasa arab dan melayu, terdapat sebuah karya penting dalam bidang hukum
islam yaitu: Mirat ath-Thullab Fi Tasyi al-Marifah al-Ahkam asy-Syaryah li al-Malik yang
merupakan karya yang lahir atas permintaan sultan perempuan Aceh, Sayyidat ad-Din. Sikap
moderat as-Sinkili ternyata membuatnya gagap ketika harus menjawab pertanyaan tentang status
hukum perempuan yang menjadi penguasa. Terlepas dari sikap moderat dan akomodatif yang
dimilikinya, kenyataan ini mengundang kontroversi dan kritik tajam dari para pengamat.
Azyumardi Azra misalnya, menuduh as-Singkili telah mengorbankan integritas intelektualnya,
bukan hanya karena iya menerima perintah dari seorang wanita, melainkan karena hal itu
ternyata tidak memecahkan masalah secara iqrar. Walaupun as-Sinkili juga tidak bisa keluar dari
asas epistemology tasawuf sehingga ajarannya masuk katagori neosufisme, namun pemikiran
hukumnya tampak fleksibel, partisipatoris dan jauh dari sifat konfrontatif.

2. Abad ke 18 M.
Memasuki abad ke 18 M, tokoh tokoh yang cukup terkenal adalah:
Muhammad Arsyad al-Banjari
Dengan karyanya yang terkenal adalah Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquh fi Amr ad-Din. Karya
ini merupakan anotasi dari kitab Shirath al-Mustaqim karya ar-Raniri. Kedudukannya sebgai
kitab anotasi (syarah), merupakan satu phenomena tersendiri yang cukup menarik dicermati,
bukan karena anotasinya banyak yang berbeda dengan kitab pertama tetapi didalamnya juga
terdapat beberapa pemikiran yang futuristic, spekulatif dan dalam batas tertentu tidak berangkat
dari realitas masyarakat banjar. Kitab Sabil al-Muhtadin di tulisnya pada tahun 1779 1781 M,
tepatnya ketika kesultanan Banjar diperintah oleh Tahmidullah bin Sultan Tamjidullah. sebagai
tokoh yang bukan saja ahli dalam memberikan fatwa hukum yang humanis, beliau juga seorang
pakar ilmu falak. Al-Banjari telah memperbaiki beberapa arah kiblat masjid, diantaranya adalah
masjid Jembatan Lima Jakarta, yang ia lakukan saat pulang dari mekkah dan singgah di Batavia
pada tahun 1773 M.
Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh
Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh meninggalkan risalah kecil pemikiran hukum
yaituKasyf al-Kiram fi bayan an-Nihayat fi Takbirat al-ihram, Faraid al-Quran dan Takhsish
al-Fallah fi Bayan Ahkam ath-Thalaq wa an Nikah.
Secara umum dapat kita sarikan bahwa dinamika pemikiran hukum islam yang terjadi abad ke 17
dan 18 M disamping bernuansa sufistik, suasana dakwah agama turut mempengaruhi corak
pemikiran hukum islam di Indonesia.

3. Abad ke 19 M.
Pada abad ke 19 M, Indonesia banyak melahirkan pemikir yang diantarnya
mempunyai reputasi dunia, diantanya:
Ahmad Rifai Kalisahak
Ahmad RifaI Kalisahak seorang ulama besar yang pernah tinggal di mekkah sekitar delapan
tahun dan sekaligus pencetus gerakan rifaiyah adalah Ahmad rifaI Kalisahak (1786-1876 M).
Beliau adalah seorang tokoh yang tidak saja mumpuni di bidang keilmuan islam, akan tetapi juga
produktif dalam menuliskan gagasan-gagasannya tentang berbagai persoalan keislaman,
karyanya berjumalh 53 judul, menjangkau hamper semua persoalan agama mulai dari akidah,
syariah hingga tasawuf. Diantara karyanya dalam bidang hukum islam adalah Tarjuman,
Tasyrihat al-Muhtaj, Nazham at Tasfiyah, Ahyan al-Hawaij, Asnhaf al-Miqshad dan Tabyin al-
Islah. Pemikiran hukum islam Ahmad Rifai mempunyai karakter yang tidak jauh berbeda dengan
para pemikir sebelumnya, yakni sekedar menyelaraskan doktrin aturan hukum islam yang
tertuang dalam fiqh mazhab SyafiI dengan realitas kehidupan saat itu. Pola yang digunakan
adalah merekontruksikan doktrin yang ada dalam kitab fiqh mazhab SyafiI dan
membahasakannya dengan bahasa daerah Jawa dan melayu.
Nawawi al-Bantani
cukup produktif menulis yang lahir di Serang Banten pada tahu 1813 M dan meninggal pada
tahun 1898. Salah satu karyana Beliau seorang ulama yang yang terpenting adalah kitab Uqud
al-Lujain.
Muhammad Ibn Umar
Yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Saleh Darat Semarang seorang Ulama besar yang
pernah bermukim di mekkah, komitmen dan kepeduliannya sangat tinggi terhadap problematika
keadaan masyarakat awam diantara 12 karyanya terdapat sebuah kitab yang menggambarkan
komitmen keagamaannya yakni kitab yang berjudul Majmu at-Syariat al-Kafiyah li al-Awam.
Kitab Jawa-Arab Pegon ini membicarakan hal kontekstual masalah hukum.
Dengan mencermati berbagai pemikir abad ke 17 19 M, bisa dikatakan tidak ada
gelombang pemikiran dan tawaran konsep besar yang telah di hasilkan para pemikir tersebut.
Secara metodelogis, mereka bahkan menegaskan pentingnya berpegang pada mazhab hukum
yang telah ada, yang dalam tatataran tertentu bisa di nilai telah mematikan proses kerativitas
seseorang dalam menetapkan hukum.

B. Sejarah hukum Islam pada zaman VOC


Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai dengan
kehadiran Organisasi Perdagangan Dagang Belanda di Hindia Timur, atau yang lebih dikenal
dengan VOC. Sebagai sebuah organisasi dagang, VOC dapat dikatakan memiliki peran yang
melebihi fungsinya. Hal ini sangat dimungkinkan sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang
menjadikan VOC sebagai perpanjangtangannya di kawasan Hindia Timur. Karena itu disamping
menjalankan fungsi perdagangan, VOC juga mewakili Kerajaan Belanda dalam menjalankan
fungsi-fungsi pemerintahan. Tentu saja dengan menggunakan hukum Belanda yang mereka
bawa. Dalam kenyataannya, penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. Ini
disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka.
Akibatnya, VOC pun membebaskan penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini
telah mereka jalankan.Kaitannya dengan hukum Islam, dapat dicatat beberapa kompromiyang
dilakukan oleh pihak VOC, yaitu :
- Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC, dinyatakan bahwa
hukum kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam.
- Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di tengah masyarakat.
Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. Kompilasi ini kemudian dikenal dengan Compendium
Freijer.
- Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain, seperti di Semarang, Cirebon,
Gowa dan Bone.Di Semarang, misalnya, hasil kompilasi itu dikenal dengan nama Kitab Hukum
Mogharraer (dari al-Muharrar). Namun kompilasi yang satu ini memiliki kelebihan dibanding
Compendium Freijer, dimana ia juga memuat kaidah-kaidah hukum pidana Islam. Pengakuan
terhadap hukum Islam ini terus berlangsung bahkan hingga menjelang peralihan kekuasaan dari
Kerajaan Inggris kepada Kerajaan Belanda kembali. Setelah Thomas Stanford Raffles menjabat
sebagai gubernur selama 5 tahun (1811-1816) dan Belanda kembali memegang kekuasaan
terhadap wilayah Hindia Belanda, semakin nampak bahwa pihak Belanda berusaha keras
mencengkramkan kuku-kuku kekuasaannya di wilayah ini. Bila ingin disimpulkan, maka upaya
pembatasan keberlakuan hukum Islam oleh Pemerintah Hindia Belanda secara kronologis adalah
sebagai berikut :
Pada pertengahan abad 19, Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan Politik Hukum yang
Sadar; yaitu kebijakan yang secara sadar ingin menata kembali dan mengubah kehidupan hukum
di Indonesia dengan hukum Belanda. Atas dasar nota disampaikan oleh Mr. Scholten van Oud
Haarlem, Pemerintah Belanda menginstruksikan penggunaan undang-undang agama, lembaga-
lembaga dan kebiasaan pribumi dalam hal persengketaan yang terjadi di antara mereka, selama
tidak bertentangan dengan asas kepatutan dan keadilan yang diakui umum. Klausa terakhir ini
kemudian menempatkan hukum Islam di bawah subordinasi dari hukum Belanda.Atas dasar teori
resepsi yang dikeluarkan oleh Snouck Hurgronje, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922
kemudian membentuk komisi untuk meninjau ulang wewenang pengadilan agama di Jawa dalam
memeriksa kasus-kasus kewarisan (dengan alasan, ia belum diterima oleh hukum adat setempat).
Pada tahun 1925, dilakukan perubahan terhadap Pasal 134 ayat 2 Indische Staatsregeling (yang
isinya sama dengan Pasal 78 Regerringsreglement), yang intinya perkara perdata sesama muslim
akan diselesaikan dengan hakim agama Islam jika hal itu telah diterima oleh hukum adat dan
tidak ditentukan lain oleh sesuatu ordonasi. Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi
hingga menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di wilayah Indonesia pada tahun 1942.
Pengadilan agama dengan segala kekurangan dan kesederhanaan ada sesuatu yang
tidak dapat dipungkiri yaitu berlakunya hukum Islam di Indonesia. Menurut Doktrin hukum
hanya akan berlaku apabila ditopang oleh tiga pilar yaitu aparat hukum yang handal, peraturan
hukum yang jelas, kesadaran hukum masyarakat yang tinggi, dengan tingginya kesadaran hukum
masyarakat ketika itu walaupun dengan agak tersendat, mereka berhasil memancangkan tonggak
sejarah.
Sejarah hukum pada zaman Hindia Belanda mengenai kedudukan hukum Islam dapat
di bagi atas dua periode : pertama, penerimaan hukum Islam, yaitu periode berlakunya hukum
Islam sepenuhnya bagi orang Islam. Apa yang telah berlaku sejak adanya kerajaan Islam di
nusantara hingga zaman VOC, hukum kekeluargaan tetap di akui oleh Belanda. Kedua, periode
penerimaan hukum Islam oleh hukum adat, teori ini menjadi hukum dasar dalam undang-undang
dasar Hindia Belanda, oleh karena itu pada tahun 1929 hukum Islam dicabut dari lingkungan tata
hukum Hindia Belanda. Belanda ingin menguatkan kekuasaannya di bumi Indonesia serta
berusaha menjauhkan hukum Islam dari masyarakat Islam dengan dasar tersebut.
Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau
VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki
monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Disebut Hindia Timur karena ada pula VOC yang
merupakan perserikatan dagang Hindia Barat. Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan
pertama yang mengeluarkan pembagian saham.
Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan
dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang
istimewa. Misalkan VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara
lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.
VOC terdiri 6 Bagian (Kamers) di Amsterdam, Middelburg (untuk Zeeland),
Enkhuizen, Delft, Hoorn dan Rotterdam. Delegasi dari ruang ini berkumpul sebagai Heeren
XVII (XVII Tuan-Tuan). Kamers menyumbangkan delegasi ke dalam tujuh belas sesuai dengan
proporsi modal yang mereka bayarkan delegasi Amsterdam berjumlah delapan.
Pada masa pendudukan VOC, sistem hukum yang diterapkan bertujuan untuk:
1) Kepentingan ekspolitasi ekonomi demi mengatasi krisis ekonomi di negeri Belanda;
2) Pendisiplinan rakyat pribumi dengan cara yang otoriter; dan
3) Perlindungan terhadap pegawai VOC, sanak-kerabatnya, dan para pendatang Eropa.
Hukum Belanda diberlakukan terhadap orang-orang Belanda atau Eropa. Sedangkan
bagi pribumi, yang berlaku adalah hukum-hukum yang dibentuk oleh tiap-tiap komunitas secara
mandiri. Tata pemerintahan dan politik pada zaman itu telah meminggirkan hak-hak dasar rakyat
di nusantara dan menjadikan penderitaan yang mendalam terhadap rakyat pribumi di masa itu. Di
Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni. Istilah ini diambil dari kata
compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam bahasa Belanda.
Kedudukan VOC pada waktu itu :
1. Sebagai pengusaha perniagaan
2. Sebagai penguasa pemerintahan
guna menjaga kepeningan VOC di india belanda, tahun 1609 staten general (perwakilan rakyat),
belanda memberikan kuasa kepada pengurus VOC untuk membentuk sendiri.
Adapun hukum yang ditetapkan pada waktu itu adalah adalah hukum VOC yang terdiri dari
unsur-unsur :
- hukum romawi
- asas-asa hukum belanda kuno
- statuta betawi
Statuta Betawi dibuat oleh Gubernur Jenderal Van Diemen yang berisikan kumpulan plakat-
palakat dan pengumuman yang dikodifikasikan.
Menurut Van Vollenhoven : Kebijakan yang diambil oleh VOC dalam bidang hukum
tersebut disebutnya Cara mempersatukan hukum yang sederhana
Dalam praktek/kenyataannya, peraturan yang diambil oleh VOC dalam bidang
hukum tersebut tidak dapat dijalankan,sebab:
1. Ada hukum yang berlaku di dalam pusat pemerintahan VOC, yaitu dalam kota Betawi/Batavia.
2. Ada hukum yang berlaku di luar pusat pemerintahan VOC, yaitu di luar kota Betawi/Jakarta.
Menurut Utrecht : Hukum yang berlaku untuk penduduk asli adalah hukum adat. kecuali untuk
daerah Betawi/Jakarta Sebab
1.kesulitan sarana transportasi waktu itu.
2.kurangnya alat pemerintah.
Sebagai jalan keluarnya, maka dikeluarkan resolutie 21-12-1708 Sebagian Priangan (barat,
tengah dan timur) diadili oleh Bupati dengan ombol-ombolnya dalam perkaraperdata dan pidana
menurut hukum adat. Perhatian terhadap hukum adat pada masa ini sedikit sekali, tapi ada
beberapa tulisan-tulisan baik perorangan maupun karena tugas pemerintahan, diantaranya :
1. Confendium (karangan singkat) dari D.W. Freijer
Memuat tentang peraturan hukum Islam mengenai waris, nikah dan talak.
2. Pepakem Cirebon.
Dibuat oleh Mr. P.C. Hasselar (residen Cirebon). Membuat suatu kitab hukum yang bernama
pepakem Cirebon yang diterbitkan oleh Hazeu. Isinya merupakan kumpulan dari hukum adat
Jawa yang bersumber dari kitab kuno antara lain : UU Mataram, Kutaramanawa, Jaya
Lengkaran, dan lain-lain.
Dalam Pepakem Cirebon, dimuat gambaran seorang hakim yang dikehendaki oleh hukum adat :
a. Candra : bulan yang menyinari segala tempat yang gelap
b. Tirta : air yang membersihkan segala tempat yang kotor
c. Cakra : dewa yang mengawasi berlakunya keadaan
Sari : bunga yang harum baunya
Penilaian VOC terhadap hukum adat :
1.Hukum adat identik dengan hukum agama
2. Hukum adat terdapat dalam tulisan-tulisan yang berbentuk kitab hukum.
3.Penerapannya bersifat opportunitas (tergantung kebutuhan)
4. Hukum adat kedudukannya lebih rendah dari hukum Eropa.
Berikut ini para Pejuang Penentang VOC pada masa Kerajaan Islam :
1. Sultan Agung
Dari kerajaan Mataram, berjuang melawan VOC dengan me-lakukan serbuan ke Batavia sampai
dua kali, tahun 1628 dan 1629.
2. Hitu Kakiali
Dari Ambonia, bdrjuang melawan Belanda sejak tahun 1635. Beliau tewas dalam pertempuran
yang berlangsung tahun 1637 1638.
3. Telukabesi
Dari Ambonia, yang meneruskan perjuangan Hitukakiali hingga tahun 1646.
4. Saidi
Dari Ternate, yang berjuang melawan VOC selama enam tahun sejak tahun 1650. Akhirnya
beliau tertangkap dan dihukum mati.
5. Pangeran Wijayakrama
Dari Jakarta, yang melawan VOC pada masa dipegang oleh JP. Coen. Pangeran Wijayakrama
kalah sehingga Jakarta di- ubah namanya oleh JP. Coen menjadi Batavia tahun 1619.
6. Sultan Hasanuddin
Dari Makasar, berjuang melawan VOC tahun 1667 1669. Akhirnya beliau kalah dan terpaksa
menandatangani Perjanjian Bongaya.
7. Trunajaya
Bangsawan dari Madura yang berhasil menguasai Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah yang
menjadi wilayah Sunan Amangkurat II dari Mataram. Beliau mengadakan perlawanan terhadap
VOC dari tahun 1674 1679.
8. Sultan Ageng Tirtayasa
Dari Banten, yang berjuang melawan VOC pada tahun 1682 1683. Akhirnya beliau tertangkap
dan wafat tahun 1692.
9. Untung Surapati
Berasal dari Bali dan menjadi militer Kompeni hingga men-dapat pangkat letnan. Perlawanannya
terhadap VOC sam- pai ke Kartasura dan akhirnya membentuk pemerintahan kecil di Pasuruan.
Beliau berjuang mulai tahun 1685 hingga gugur di Bangil tahun 1706.
10. Mangkubumi
Dari Mataram, yang kemudian beliau bergelar Hamengkubua- na I setelah menjadi sultan di
Yogyakarta. Perlawanannya terhadap Belanda dari tahun 1749 1757.
11. Sultan Nuku
Dari Tidore, berjuang melawam Belanda hingga dapat merebut kerajaan Tidore tahun 1779.
Beliau adalah putera Sultan Jamaluddin dari Tidore.
12. Pattimura
Dari Saparua, yang berjuang melawan Pemerintahan Hindia Belanda sejak tahun 1817 bersama-
sama dengan Christina Martha Tiahahu. Akhirnya beliau tertangkap dan dihukum mati di
benteng Victoria.
13. Sultan Badaruddin
Dari Palembang, yang berjuang bersama-sama dengan adiknya yang bernama Nazamuddin
melawan Belanda sejak tahun 1811 1825.
14. Pangeran Diponegoro
Beliau adalah seorang pangeran dari Kerajaan Mataram. Ke-benciannya terhadap Belanda
mengakibatkan meletusnya Pe- rang Diponegoro dari tahun 1825 1830. Karena kelicikan
Belanda akhirnya beliau ditangkap dan dibuang ke Menado lalu dipindahkan ke Makasar sampai
wafat 18 Januari 1855.
15. lmam Bonjol
Dari Bonjol, Sumatera barat. Beliau berjuang melawan Belanda hingga berkobar Perang Padri
tahun 1821 1837.
16. Teuku Umar
Beliau adalah pejuang dari Aceh yang meneruskan perjuangan Sultan Mahmud Syah melawan
Belanda. Bersama- sama dengan Tengku Cik di Tiro, Panglima Polim, Cut Nya Din (isteri Teuku
Umar) dan Cut Mutia, Teuku Umar terus berjuang mengobarkan perang Aceh dari tahun 1873
1904.
17. Pangeran Antasari
Dari Banjarmasin, yang berjuang melawan Belanda mulai tahun 1859. Pada bulan Oktober 1862
beliau wafat di Hulu Ta- weh. Namun perlawanan terhadap Belanda terus berjalan sampai tahun
1865.
18. Si Singamangaraja
Dari Tapanuli, yang berjuang melawan Belanda dari tahun 1878 i 1907. Akhirnya beliau gugur
dalam pertempuran di Pakpak dan dimakamkan di Taruntung.

C. Sejarah hukum Islam pada zaman penjajahan


Pada masa penjajahan ini dibagi menjadi 2 masa, yakni masa penjajahan Belanda dan
masa penjajahan Jepang.
1. Masa penjajahan Belanda.
a. Rekayasa Kolonial tentang Berlakunya Hukum Islam di Indonesia.
Dengan bubarnya VOC pada pergantian abad ke-18, kekuasaan Indonesia secara
resmi dipindahkan ke tangan pemerintah kolonial Belanda. Sejak pemerintahan kolonial Belanda
berkuasa di Indonesia, sikapnya terhadap hukum Islam mulai berubah. Sikap yang semula
toleran terhadap hukum Islam bagi pribumi, secara-berangsur-angsur mulai dibatasi. Hal ini
dilakukan oleh pemerintah Belanda karena mereka khawatir hukum Islam ini akan membentuk
kekuatan tersendiri antara kaum pribumi yang akhirnya kekuatan itu dipakai untuk mencapai
kemerdekaan. Oleh karena itu, pemerintah Belanda mulai membentuk berbagai peraturan dengan
tujuan untuk menghilangkan hukum Islam yang berlaku di kalangan masyarakat.
Untuk membatasi ruang gerak ulama dalam mengembangkan hukum Islam,
dikeluarkan Keputusan Raja tanggal 4 Februari 1859 No.78 yang menugaskan Gubernur Jenderal
untuk mencampuri masalah agama. Bahkan harus mengawasi gerak gerik para ulama bila
dipangdang perlu demi kepentingan ketertiban keamanan. Pemerintah Belanda juga
mengeluarkan ordinasi yang mengatur masalah ibadah haji lebih ketat dari sebelumnya. Hal ini
diduga karena kekhawatiran pemerintah Belanda akan timbulnya pemberontakan.
Bersamaan dengan berlakunya ordinasi tersebut, pemrintah Belanda juga tengah
gencar-gencarnya melakukan kristenisasi, dengan tujuan agar para penduduk pribumi akan
menjadi loyal terhadap pemerintahan Belanda. Namun, hal tersebut tidak berjalan dengan lancar.
Yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat pribumi menjadi semakin bertambah tingkat
ketaatannya terhadap hukum Islam.
Sejak tahun 1820 di dunia peradilan pemerintah Belanda sudah ikut campur tangan.
Dalam instruksi bupati-bupati pada pasal 13, antara lain disebutkan bahwa perselisihan mengenai
pembagian waris di kalangan rakyat hendaknya diserahkan pada para alim ulama Islam.
Dalam Stbl 1835 No. 58 ditegaskan tentang wewenang peradilan agama di Jawa dan
Madura yang isinya perselisihan di antara orang Jawa dan Madura tentang p `erkara
perkawinanan dan pembagian harta benda dan sebagainya yang harus diputuskan menurut syariat
Islam harus diselesaikan oleh ahli hukum Islam. Akan tetapi, segala persengketaan tersebut harus
dibawa ke pengadilan biasa. Pengadilan itulah yang akan menyelesaikan perkara itu dengan
mengingat putusan ahli agama dan supaya putusan itu dijalankan. Waktu itu, peradilan agama
belum terbentuk sebagai lembaga institusi, melainkan masih bersifat perorangan, ketika para
hakim dipegang oleh penghulu/ahli agama.
Peradilan agama menjadi suatu institusi setelah diputuskan oleh raja Belanda No. 24
tertanggal 19 Januari 1882 yang dimuat dalam Stbl 1882 No. 152, tentang pembentukan
peradilan agama di Jawa dan Madura.
1. Pengaruh Politik Islam Snouck Hurgronje Terhadap perkembangan Hukum Islam di Tanah Air.
Kedatangan Cristan Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang penasehat pemerintah Hindia
Belanda sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan hukum Islam pada masa-masa
berikutnya. Dia juga membuat tesis yang dikenal dengan teori Receptie yang berisi bahwa
hukum yang berlaku di kedua daerah itu yakni hukum adat, bukan hukum Islaam. Dalam hukum
adat itu memang telah masuk pengaruh hukum Islam.
Di samping menggencarkan teori Receptienya, Snouck juga menerapkan sikap politik Islmnya
yang mempersempit peluang bagi orang Islam untuk bangkit menyingkirkan penjajah. Sikap
politik itu sebagai berikut:
i. Dalam bidang ibadah, pemerintah Hindia Belanda memberikan kebebasan kepada orang Islam
Indonesia untuk meakukannya sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah.
ii. Dalam urusan muamalah, pemerintah Hinida Belanda harus menghormati lembaga-lembaga
yang telah ada sambil memberikan kesempatan kepada orang-orang Islam beralih ke lembaga-
lembaga Belanda secara berangsur-angsur.
iii. Dalam bidang politik, pemerintah Hindia Belanda tidak member peluang kepada orang-orang
Islam untuk melakukan gerakan Islam.
Kebijaksanaan berikutnya, pendidikan Islam di sekolah-sekolah diawasi dengan
ketat, karena pemberontakan para petani di Banten ditengarai sebagai gerakanyang dimotori oleh
para haji dan guru agama. Akhirnya terjadilah pemburuan terhadap guru agama di Pulau Jawa.
Kebijaksanaan pemerintah Belanda di bidang hukum Islam selalu diarahkan pada
upaya pelumpuhan dan penghambatan bagi pelaksanaan hukum Islam di Indonesia antara lain:
1. Tidak memasukkan masalah hudud dan qishas dalam lapangan hukum pidana.
2. Ajaran Islam yang menyangkut hukum tata Negara tidak boleh diajarkan.
3. Mempersempit hukum Muamalah yang menyangkut hukum perkawinan dan hukum kewarisan.
Khusus hukum kewarisan diusahakan tidak berlaku.
Namun, meskipun hal tersebut diberlakukan oleh pemerintah Belanda akan tetapi
masyarakat tetap berbondong-bondong membawa perkaranya kepada keadilan beragama
sehingga keberadaan peradilan agama tersebut tetap terjamin. Begitu juga dengan masalah waris,
meskipun secara resmi pengadilan agama sudah kehilangan wewenangnya sejak tahun 1937.
Mengingat putusan masalah waris ini tidak berada di dalam kewenangan pengadilan
agama, maka jalan keluar yang ditempuh yakni memajukan fatrwa tersebut ke pengadilan negeri
untuk mendapatkan pengukuhan sebagai suatu akta perdamaian. Pelaksana fatwa waris di dalam
masyarakat berjalan cukup efektif.

1. Gerakan Pembaru Islam


Karena penjajahan Belanda tersebut akhirnya muncullah kelompok-kelompok
masyarakat Islam yang berjuang untuk menegakkan hukum Islam dan juga unutk merebut
kembali kemerdekaan Indonesia. Dalam bidang sosial, muncullah gerakan-gerakan sosial dengan
tujuan utama untukmenegakkan hukum Islam yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Di
antara gerakan sosial pembaru Islam adalah sebagai berikut:
a. Sekolah Adabiyah
b. Jamiat Al-Khair
c. Al-Irsyad
d. Muhammadiyah
e. Persatuan Islam (Persis)
f. Nahdlatul Ulama.
Gerakan pembaru Islam bukan hanya dibidang sosial, namun juga ada gerakan
politik yang memiliki tujuan utama disamping untuk menegakkan hukum Islam, tetapi juga
merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia yang sudah direbut oleh para penjajah
(Belanda). Berikut ini adalah beberapa gerakan pembaru Islam di bidang politik antara lain:
1. Serikat Islam
2. Persatuan Muslimin Indonesia
3. Partai Islam Indonesia
4. Majelis Islam Ala Indonesia

2. Masa penjajahan Jepang.


Pada tahun 1942 Belanda meninggalkan bumi Indonesia sebagai akibat dari
pecahnya perang pasifik. Kedatangan Jepang mula-mula disambut dengan senang hati dan penuh
harapan oleh bangsa Indonesia, termasuk sebagian besar umat Islam.
Sebagai aggressor, baik Belanda maupun Jepang sebenarnya memiliki tujuan yang
sama, yaitu ingin mengeksploitasi umat Islam sebagai penduduk mayoritas untuk mempercepat
maksud mereka menguasai bumi nusantara ini. Akan tetapi, keduanya memiliki kebijakan yang
berbeda, terutama dalam menghadapi hukum Islam dan para pelaku hukum Islam.
Berbeda dengan kebijakan Belanda yang tidak memberi peluang terhadap orang-orang Islam
untuk bergerak dalam bidang politik, hukum, dan peradilan dengan berbagai peraturan yang telah
dibuat. Kebijakan Jepang yang ditempuh adalah dengan merangkul pemimpin Islam untuk diajak
bekerjasama. Karena itu, para pemimpin Islam banyak yang dilibatkan dalam penyelenggaraan
pemerintah dan latihan-latihan militer. Hal itu sangat menguntungkan umat Islam dan bangsa
Indonesia. Kebijakan Jepang yang lain adalah mengakui kembali organisasi-organisasi Islam
yang sebelumnya dibekukan.
Kebijakan Jepang untuk merestui dan mengesahkan berdirinya berbagai organisasi
Islam ini memiliki tujuan politik untuk kepentingan jajahannya. Namun, di sisi lain hal ini adalah
peluang bagi organisasi-organisasi Islam untuk menyebarkan hukum Islam kepada para
anggotanya. Yang pada akhirnya terbentuklah pengajian-pengajian baik di langgar, masjid,
maupun lapangan yang biasanya mendatangkan para kiai terkenal.
Kemudian pada masa menjelang kemerdekaan, Jepang membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha Kemerdekaan Indonesia) untung menyusun UUD Negara, para pemimpin Islam menuntut
agar ditegaskan bahwa Negara yang akan dibentuk harus mendukung kedudukan (hukum) Islam.
Namun tuntutan ini ditolak, akhirnya disetujui rumusan kompromi yang dituangkan dalam
Piagam Jakarta.
Dalam piagam Jakarta, wakil dari golongan Islam yang hanya terdiri dari 20% dari keseluruhan
anggota BPUPKI setidaknya berhasil member tambahan rumusan sila pertama yang berbunyi
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun
dalam pembentukan PPKI (Panitia Pesiapan Kemerdekaan Indonesia) rumusan sila tersebut
gagal dipertahankan yang akhirnya berganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun,
golongan Islam menganggap kata tersebut sebagai nama lain dari Tauhid menurut Islam.

D. Sejarah hukum Islam pada zaman kemerdekaan


Perjuangan umat Islam yang amat panjang dan penuh pengorbanan akhirya telah
berhasil membentuk suatu Negara yang merdeka. Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul
10.00 WIB, bertempat di jalan Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta, kemerdekaan Replubik
Indonesia diproklamasikan. Dari rangkaian sejarah perjuangan umat Islam, baik yang dilakukan
secara individu maupun melalui organisasi sosial politik, karena peranan umat Islam sangat besar
dalam mewujudkan kemerdekaan. Karena itu para pemimpin Islam yang ada di lembaga
perwakilan menginginkan agar Negara merdeka yang telah terbentuk memberikan tempat yang
terhormat bagi berlakunya hukum islam. Namun, kelompok umat Islam waktu itu tidak berhasil
mewujudkan keinginannya, bahkan dapat dikatakan mengalami suatu kekalahan.
Kekalahan kelompok umat Islam dalam percaturan politik, khususnya dalam
penentuan dasar Negara, tidak membuat kelompok umat Islam kecil hati dan putus asa untuk
memperjuangkan tegaknya hukum Islam dalam tata hukum di Indonesia. Melalui berbagai
kesempatan, meskipun kadang kala mengalami suasana ketegangan (konflik), kelompok umat
Islam selalu berupaya agar asas-asas Islam tetap menjadi landasan baik bagi kehidupan
kenegaraan maupun kehidupan kenegaraan maupun kehidupan kemasyarakatan.
Dalam waktu kurun waktu tahun 1945-1950 merupakan kesempatan yang sangat
baik bagi umat Islam untung berjuang, karena saat itu dinilai sebagai suatu periode yang secara
relative terdapat persatuan dan perjuangan. Momentum baik itu digunakan oleh kelompok Islam
untuk berjuang menegakkan hukum Islam di dalam tata hukum Indonesia.. langkah konkretnya
yakni pada tanggal 7-8 November 1945 melalui sebuah kongres umat Islam di Yogayakarta
dibentuklah sebuah partai politik Islam dengan nama Masyumi (Majelis Syura Muslimin
Indonesia). Kehadirin Masyumi mendapat dukungan dan sambutan yang luar biasa dari umat
Islam, karena partai tersebut dianggap mewakili aspirasi seluruh umat Islam di berbagai
organisasi dan perorangan.
Dilihat dari segi tujuan dan gerak langkahnya, sebenarnya telah terbukti Masyumi
mengarahkan masyarakat untuk membangun di berbagai sector kehidupan dengan tetap
berlandaskan pada asas-asas agama. Peran Masyumi dalam hukum Islam sangatlah berarti.
Bukan saja mengusahakan berlakunya hukum Islam dalam kehidupan perorangan,
kemasyarakatan, dan kenegaraan tetapi juga melakukan pembaharuan hukum Islam yang ada
disesuaikan dengan konteks kebutuhan zamannya.
Meskipun para tokoh Masyumi telah melakukan pembaharuan di bidang hukum
Islam, namun pada waktu itu belum mampu mempengaruhi legislative untuk membentuk hukum
positif (islam). Di dalam perkembangannya, partai Masyumi yang memiliki peran penting dalam
penegakkan hukum Islam di Indonesia ini mengalami perpecahan. Bulan Juli 1947 PSII
meninggalkan Masyumi kemudian disusul dengan keluarnya NU pada tahun 1952, dan
menyatakan perubahan organisasinyaa dari jamiyyah (gerakan sosial keagamaan) menjadi partai
politik yang berdiri sendiri.
Namun keluarnya NU dari Msyumi dan berubah menjadi partai politik, tidak
mengubah perjuangan keduanya untuk menegakkan hukum Islam di bumi nusantara.
Kemudian periode awal kemerdekaan ini, hukum Islam mendapatkan dukungan dari
struktur pemerintahan, yaitu dengan lahirnya departemen agama pada tahun 1946. Tujuan dan
tugas departemen agama memang tidak hanya menngani masalah-masalah yang menyangkut
ajaran agama Islam. Namun, dari rumusan tujuannya terlihat bahwa selain tugas-tugas yang
bersifat umum (menyangkut semua agama di Indonesia) secara khusus menangani masalah-
masalah keimanan.
Pada waktu itu Hazairin seorang ahli hukum Islam dan hukum adat dari Universitas
Indonesia berpendapat bahwa untuk mengembangkan hukum Islam di Indonesia menjadi hukum
positif melalui undang-undang kemungkinan amat ssulit, karena konstelasi politik yang ada
dalam lembaga pembentuk undang-undang (pada waktu itu) tidak memungkinkan memproduksi
hukum Islam.
Hukum islam merupakan bagian dari agama islam yang pelaksanaanya diatur
berdasarkan syariat islam. Syariat sebagaimana dijelaskan pada lembaran awal, adalah
mengatur mengatur mengenai hubungan manusia dengan tuhan dan manusia dengan sesama.
Oleh karena hukum tidak mengenal pengaturan lahiriyah antara manusia dengan tuhan ( ibadat )
bila dilihat dari ilmu fiqh, maka yang dapat dimasukkan kedalam hokum islam itu adalah bagian
muammalat dari syariat.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan mencermati berbagai pemikir abad ke 17 19 M, bisa dikatakan tidak ada
gelombang pemikiran dan tawaran konsep besar yang telah di hasilkan para pemikir tersebut.
Secara metodelogis, mereka bahkan menegaskan pentingnya berpegang pada mazhab hukum
yang telah ada, yang dalam tatataran tertentu bisa di nilai telah mematikan proses kerativitas
seseorang dalam menetapkan hukum.
Sebagai sebuah organisasi dagang, VOC dapat dikatakan memiliki peran yang
melebihi fungsinya. Hal ini sangat dimungkinkan sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang
menjadikan VOC sebagai perpanjangtangannya di kawasan Hindia Timur. Karena itu disamping
menjalankan fungsi perdagangan, VOC juga mewakili Kerajaan Belanda dalam menjalankan
fungsi-fungsi pemerintahan. Tentu saja dengan menggunakan hukum Belanda yang mereka
bawa.Dalam kenyataannya, penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. Ini
disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka.
Akibatnya, VOC pun membebaskan penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini
telah mereka jalankan.Kaitannya dengan hukum Islam, dapat dicatat beberapa kompromi yang
dilakukan oleh pihak VOC, yaitu:
1. Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC, dinyatakan bahwa hukum
kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam.
2. Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di tengah masyarakat.
Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. Kompilasi ini kemudian dikenal dengan Compendium
Freijer.3. Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain, seperti di Semarang, Cirebon,
Gowa dan Bone.
Pada zaman penjajahan, perkembangan hukum Islam dibagi menjadi dua fase. Fase
penjajahan Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan Belanda, hukum Islam ditekan agar tidak
bisa berkembang di kalangan masyarakat karena pemerintah Belanda takut jika hukum Islam
terus berkembang maka akan menjadi faktor timbulnya pemberontakan. Namun, masyarakat
tetap menggunakan hukum Islam untuk menyelesaikan masalah mereka karena hukum Islam
sudah mempengaruhi kebudayaan penduduk Indonesia. Bahkan pada zaman penjajahan belanda
ini banyak muncul organisasi-organisasi pembaru Islam yang menentang kebijakan Belanda
berbeda lagi pada fase kedua (Masa Penjajahan Jepang), hukum Islam di sini justru berkembang
pesat. Karena pmerintah Belanda ingin mencari bala bantuan untuk mempercepat tujuannya
dengan merangkul para ulama untuk diajak bekerja sama dalam mensukseskan tujuan Jepang.
Perjuangan umat Islam yang amat panjang dan penuh pengorbanan akhirya telah
berhasil membentuk suatu Negara yang merdeka. Dari rangkaian sejarah perjuangan umat Islam,
baik yang dilakukan secara individu maupun melalui organisasi sosial politik, karena peranan
umat Islam sangat besar dalam mewujudkan kemerdekaan. Karena itu para pemimpin Islam yang
ada di lembaga perwakilan menginginkan agar Negara merdeka yang telah terbentuk
memberikan tempat yang terhormat bagi berlakunya hukum islam. Namun, kelompok umat
Islam waktu itu tidak berhasil mewujudkan keinginannya, bahkan dapat dikatakan mengalami
suatu kekalahan. Kekalahan kelompok umat Islam dalam percaturan politik, khususnya dalam
penentuan dasar Negara, tidak membuat kelompok umat Islam kecil hati dan putus asa untuk
memperjuangkan tegaknya hukum Islam dalam tata hukum di Indonesia. Melalui berbagai
kesempatan, meskipun kadang kala mengalami suasana ketegangan (konflik), kelompok umat
Islam selalu berupaya agar asas-asas Islam tetap menjadi landasan baik bagi kehidupan
kenegaraan maupun kehidupan kenegaraan maupun kehidupan kemasyarakatan.

DAFTAR PUSTAKA

http://nawar-paloh-blogspot.com/2011/10/hukum-islam-sesudah-kemerdekaan.html
http://artikelkomplit2011.blogspot.com/2011/11/perkembangan-hukum-islam-di-indonesia.html
Utus Hardiono,2002,sejarah peradaban islam.
Sumitro, S.H., MH., Warkum. 2005. Perkembangan Hukum Islam, Malang: Bayumedia

PublishingMahsun Fuad, Hukum Islam Indonesia, (Jokjakarta: LKIS, 2005.)

http://pusat-hukum.blogspot.com/2011/01/sejarah-perkembangan-hukum-islam-di.html

http://nawar-paloh-blogspot.com/2011/10/hukum-islam-sesudah-kemerdekaan.html

sejarah perkembangan hukum islam


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Periodisasi sejarah hukum islam
Pada dasarnya, sejarah merupakan penafsiran terhadap peristiwa dimasa lampau yang
dipelajari secara kronologis. Ulama berbeda-beda pendapat dalam menentukan periodisasi
sejarah hukum islam diantara muarikh hukum islam yang menentukan periodisasi sejarah
hukum islam adalah Muhammad Aali Al-Sayyis, Muhammad Khudlari Byek, Abd Wahhab
Khallaf, Musthafa Said Al-Khinn,Umar Sulaiman Al-Asyqar, Dan T.M Hasbi As-Shiddiqi.
Muhammad Aali Al-Sayyis berpendapat bahwa periodisasi hukum islam adalah sebagai
berikut:
1. Hukum islam zaman rasul
2. Hukum islam zaman khulafa.
3. Hukum islam zaman pasca-khulafa hingga awal abad II H.
4. Hukum islam zaman awal abad II H. hingga pertengahan abad IV H.
5. Hukum islam zaman pertengaha abad IV H. hingga Baghdad hancur.
6. Hukum islam zaman sejak kehancuran Baghdad hingga kini.
Menurut Muhammad Khudlari Byek , periodisasi sejarah hukum islam adalah sebagai berikut:
1. Hukum islam zaman rasul
2. Hukum islam zaman sahabat besar
3. Hukum islam zaman sahabat kecil.
4. Hukum islam zaman fikih menjadi ilmu yang mandiri.
5. Hukum islam zaman perdebatan untuk membela imam masing-masing.
6. Hukum islam zaman taklid.
Pembagian yang lebih sederhana dikemukakan oleh abd al wahab khallaf. Ia menetapkan bahwa periodisasi
sejarah hukum islam adalah sebagai berikut:
1. Hukum islam zaman rasul
2. Hukum islam zaman sahabat
3. Hukum islam zaman pendiri mazhab
4. Hukum islam zaman statis (jumud)

Mustafa said al-khinn berpendapat bahea periodisasi hukum islam adalah berikut ini:
1. Hukum islam zaman rasul
2. Hukum islam zaman sahabat
3. Hukum islam zaman tabiin
4. Hukum islam zaman taklid
5. Hukum islam zaman sekarang[1]

umar sulaiman al-asqar berpendapat bahwa periodisasi hukum islam adalah sebagai berikut:
1. Hukum islam zaman rasul
2. Hukum islam zaman sahabat
3. Hukum islam zaman tabiin
4. Hukum islam zaman pendiri mazhab
5. Hukum islam zaman statis
6. Hukum islam zaman sekarang
Ulama Indonesia pun ada turut menjelaskan periodisasi sejarah hukum islam, diantaranya T.M hasbi al-
shiddiqi memaparkan periodisasi sejarah hukum islam sebagai berikut:
1. Hukum islam zaman pertumbuhan
2. Hukum islam zaman sahabat dan tabiin
3. Hukum islam zaman kesempurnaan
4. Hukum islam zaman kemunduran
5. Hukum islam zaman kebangkitan

Hukum islam dalam artian fikih,fatwa,atau ketetapan adalah produk pemikiran ulama secara individual.
Oleh karena itu, mempelajari fikih atau fatwa berarti mempelajari pemikiran ulama yang telah melakukan ijtihad
dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Mempelajari pokok pemikiran ulama dan langkah ijtihadnya menjadi penting, karena merupakan upaya
konstruktif dalam memahami produk pemikiran dan pola yang digunakannya. Dalam salah satu kaidah dikatakan
bahwa salah satu tugas kita adalah memelihara produk pemikiran ulama dan langkah-langkah ijtihadnya serta
mengembangkannya sehingga lebih maslahat (al-muhafazhat aala al-qadim al-shlih wa al-ahdz bi al-jadid al-
ashlah). Dengan demikian,mempelajari sejarah hukum islam berarti melakukan langkah awal ijtihadnya untuk
ditransmisikan sehingga kemaslahatan manusia senantiasa terpelihara.
Dengan demikian, di antara kegunaan mempelajari sejarah hukum islam, paling tidak, adalah dapat
melahirkan sikap hidup yang toleran, dan dapat mewarisi pemikiran ulam klasik dan langkah-langkah ijtihadnya
serta dapat mengembangkan gagasannya.[2]
B. Rumusan masalah
1. Untuk megetahui fatwa di zaman rasulullah
2. Untuk mengetahui fatwa di zaman shahabat
3. Untuk mengetahui fatwa di zaman/ dikalangan ulama mazhab
BAB II
PEMBAHASAN
A. Fatwa pada masa rasulullah
Para ulama berikhtilaf tentang ijtihad nabi Muhammad saw. Terhadap sesuatu yang tidak
ada ketentuan nash dari allah. Sebagian ulama asyariah dan kebanyakan ulama mutazilah
berpendapat bahwa nabi Muhammad saw tidak boleh melakukan ijtihad terhadap sesuatu yang
tidak ada ketentuan nash, yang berhubungan dengan amaliah tentang halal dan haram.
Sedangkan ulama ushul, diantaranya abu yusuf al-hanafi dan al-syafiI membolehkannya. [3]
Sebagian sahabat al-syafiI, al-qadli abd al jabar, dan abu hasan al-bashri berpendapat
bahwa nabi Muhammad saw melakukan ijtihad dalam berperang, bukan dalam bidang ilmu
hukum.
Menurut

sebagian ulama, nabi saw tidak berijtihad sebab perkataan, perbuatan, dan ketetapannya adalah
al-sunnah juga berdasarkan firman allah:

Artinya: dan tiadalah yang di ucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya; ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS.Al-najm: 3-4)

Ibnu hazm, ibnu taimiyah, ibnu khaldun, dan kamal ibn al-hamam berpendapat bahwa
nabi Muhammad saw melakukan shalat. Salah satu contoh intihadnya adalah tentang panggilan
dan pemberintahuan untuk melakukan shalat. Sebagian sahabat berpendapat, sebaiknya
menggunakan lonceng (nuqus) seperti lonceng nashara; sebagian menganjurkan untuk
menggunakan terompet (bauq) seperti terompet yahudi. Kemudian umar bertanya kepada nabi
saw:mengapa tuan tidak mengutus seseorang untuk mengajak shalat? nabi Muhammad
bersabda :hai bilal, berdirilah dan ajaklah shalat..
Abd Jalil Isa mengungkapkan beberapa contoh ijtihad Nabi:
1. Cara memperlakukan anak-anak musyrikin yang ikut berperang, Nabi menjawab, seperti
bapak-bapaknya.
2. Qiblat ke Bait al-Maqdis (16-17 bln) sebelum ditetapkan ke arah Kabah
3. Abdullah ibn Ubai (tokoh munafik) yang meminta Nabi memintakan ampun, Nabi
menyanggupi dan memohon agar ia diberi petunjuk, tapi kemudian malah turun at-Tawbah (9):
80[4]
4. Khawalah binti Tsalabah bertanya tentang suaminya (Aus ibn Shamit) yang telah zhihar,
Nabi menjawab: kamu haram bagi suamimu yang telah zhihar, berarti zhihar = cerai.
Kemudian Allah turunkan al-Mujadilah (28): 1-4. Zhihar tidak termasuk talak, tetapi yang
bersangkutan harus melakukan kafarat zhihar, yaitu memerdekakan budak atau berpuasa dua
bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang fakir miskin, sebelum bercampur kembali
dengan isterinya.[5]
Ijtihad Sahabat pada Masa Nabi
Sahabat yang melakukan ijtihad adalah mereka yang diutus menjadi qadli atau hakim,
yaitu Ali ibn Abi Thalib (ke Yaman), Muadz ibn Jabal (Yaman), dan Khudzaifah al-Yamani yang
diutus Nabi untuk menyelesaikan sengketa dinding antara tetangga yang sama-sama mengakui
miliknya. Ijtihad Sahabat pada masa Nabi antara lain:
1. Suatu hari para Sahabat berkunjung ke Bani Quraizhah. Nabi berpesan la yushalliyanna
ahadukum al-ashra illa fi bani quraizhah-jangan sekali-kali kamu melaksanakan shalat Ashar
kecuali di Bani Quraizhah, ternyata belum sampai, waktu ashar hampir habis. Ada yang shalat
di jalan, ada yang tetap dengan pesan Nabi (shalat di Bani Quraizhah). Ketika berita ikhtilaf
tersebut disampaikan kepada Nabi, beliau membenarkan keduanya.
2. Dua orang sahabat melakukan perjalanan. Waktunya shalat tidak ada air.mereka tayamum
dan shalat. Setelah shalat mereka mendapatkan air. Seorang berwudhu dan mengulang shalat,
sedang yang seorang lagi tidak. Mereka lalu menghadap Nabi, Nabi berkata kepada yang tidak
mengulangi shalat Ashabta as-Sunnah, Engkau mengerjakan sesuai sunnah, sedang kepada
yang mengulangi shalat, Nabi bersabda: al-Ajr marratain, Engkau dapat pahala dua kali.[6]
B. fatwa pada masa sahabat (11-40 H/632-661 M)
1. Kedudukan Fatwa Dan Hukum Islam
Perlu diketahui bahwa fatwa berpengaruh besar terhadap perkembangan hukum pada masa
sahabat. beberapa persoalan penting yang dihadapi oleh para sahabat, diantaranya:
a. sahabat khawatir akan kehilangan Al-quran karena banyaknya sahabat yang hapal al-quran
meninggal dunia dalam perang Yamamah .
b. sahabat takut akan terjadi pembohongan terhadap sunnah Rasulullah saw.
c..Sahabat khawatir umat islam akan menyimpang dari hukum islam.
d. Sahabat menghadapi perkembangan kehidupan yang memerlukan ketentuan syariat
islam karena hal tersebut belum ditetapkan ketentuannya dalam Al-quran dan sunnah
Dalam menghadapi kekhawatiran kekhawatiran diatas, Abu Bakar, atas usul umar,
mengumpulkan Al-quran berdasarkan bahan-bahan yang ada, yaitu hapalan dan catatan. Sahabat
yang paling intens keterlibatannya dalam pengumpulan Al-quran adalah Zaid bin Tsabit karena
beliau adalah sekretaris Nabi Muhammad saw.
Disamping berkenaan dengan al-quran, persoalan yang dihadapi saat itu juga berkenaan
dengan sunnah. Persoalaannya muncul dari dua arah, dari umat islam itu sendiri dan dari kaum
munafiq. Umat islam telah melakukan kesalahan dan perubahan dalam sunnah tanpa bermaksud
mengubahnya karena lupa atau keliru dalam menerima atau menyampaikannya. Sedangkan
orang-orang munafiq sengaja melakukan pendustaan dan kebathilan dalam sunnah dengan
maksud merusak agama islam.
Tindakan yang dilakukan para sahabat dalam periwayatan hadis adalah kehati-hatian
dalam meriwayatkannya.Abu Musa pernah dimintai bukti (saksi) dalam meriwayatkan hadis oleh
Umar bin Khattab.Selain hati-hati,sahabat juga melakukan cegahan penulisan hadis kepada
rekan-rekannya,karena dikhawatirkan akan bercampur dengan Al-Quran.
Sahabat,terutama khalifah adalah pengganti Nabi dalam memimpin negara dan
agama.Karena itu,mereka sering dihadapkan pada persoalan-persoalan baru yang dalam Al-
Quran dan Sunnah belum ada ketentuannya.
Di bawah ini adalah salah satu wasiat Umar r.a. kepada seorang qadli (hakim) pada
zamannya,yaitu Syuraih.
a. Berpeganglah kepada Al-Quran dalam menyelesaikan kasus.
b. Apabila tidak ditemukan dalam Al-Quran,hendaklah engkau berpegang kepada Sunnah.
c. Apabila tidak didapatkan ketentuannya dalam Sunnah,berijtihadlah.
Dari beberapa temuan diatas,dapat diketahui bahwa pengaruh fatwa terhadap perkembangan
hukum islam adalah sebagai berikut :
Pertama, sahabat melakukan penelaahan terhadap Al-Quran dan Sunnah dalam menyelesaikan
suatu kasus.Apabila tidak didapatkan dalam Al-Quran dan Sunnah,mereka melakukan ijtihad.
Kedua, sahabat telah menentukan thuruq al-istinbath dalam menyelesaikan kasus yang dihadapi.
[7]
3. Sumber-sumber hukum islam pada zaman sahabat
Sumber atau dalil hukum islam yang digunakan pada zaman sahabat adalah Al-quran, As-
Sunnah dan ijtihad. Ijtihad yang dilakukan ketika itu berbentuk kolektif, disamping individual.
Dalam melakukan ijtihad kolektif, para sahabat berkumpul dan memusyawarahkan suatu kasus
hukum . hasil musyawarah sahabat disebut ijmak.
Mengenai fatwa sahabat pada waktu Rasulullah masih hidup, menurut pengklasifikasian
Hasan Ahmah Mari dalam bukunya yang khusus membahas Al Ijtihad fi syariah al
Islamiah terdapat tidak kurang dari enam pendapat yang berkembang di kalangan
ulama. Keenam pendapat itu ditinjau dari sudut kemungkinannya secara aqli (teoritis). Deskripsi
berikut ini akan memaparkan pendapat pendapat yang berkembang secara ringkas, sehingga
terlihat argumentasi yang bervariasi, dan sebagiannya terasa agak dipaksa paksakan.[8]
1. Pendapat yang didukung oleh sebagian besar ulama dari berbagai mazhab seperti al-Ghazali,
imam al Razi, Ibnu Taimiyah, al-Baidawi, dan al-Qadi Abd Al-Jabbar mengatakan bahwa
fatwa sahabat dimungkinkan (Al Jawas) secara mutlak, baik dihadapan Rasulullah maupun di
belakangnya.
2. Bertolak belakang dengan pendapat pertama ialah pendapat yang didukung oleh sekelompok
kecil ulama, sebagai dikemukakan oleh Hasan Ahmad Mari, yang mengatakan bahwa fatwa
sahabat terhalang (al mana) sama sekali pada waktu hidup Rasulullah. Alasannya ialah bahwa
para sahabat dianggap mampu untuk berhubungan langsung dengan Rasululah untuk
mendapatkan keyakinan dengan ketegasan nash dari Rasulullah. Dan selama ada yang yakin
(mutlak/absolut) tidak boleh berpindah kepada yang zhan (relatif).
3. Sahabat boleh berfatwa mana kala mereka berjauhan dengan Rasulullah, dengan syarat ada
penunjukan atas diri mereka sebagai qadhi atau wali (penguasa). Sahabat sahabat yang ternyata
tidak mendapat mandat untuk jabatan seperti itu tidak boleh berfatwa. Pendapat ini dikemukakan
oleh al Amidi dan dianggap sebagai salah satu pendapat yang berkembang tentang kebolehan
fatwa sahabat. Hadis Muadz Ibn Jabal yang menceritakan penunjukan Rasulullah atau Muadz
ke Yaman sebagai Qadhi dijadikan oleh mereka sebagai alasan.[9]
4. Ibn Subki menukilkan pendapat suatu kaum yang memandang bahwa kebolehan fatwa bagi
sahabat yang berjauhan dengan Rasulullah berlaku secara mutlak, artinya tanpa di batasi oleh
adanya penunjukkan dari Rasulullah. Orang-orang yang berjauhan dengan Rasulullah dianggap
sebagai orang yang tidak bisa sampai ke tingkat yakin, karena sulit untuik berjumpa dengan
Rasulullah.
5. Pendapat yang dipilih oleh Abu al-Husein al-Bashri dan Abu al-Khathib dari Hanabilah ialah
kebolehan fatwa bagi sahabat baik di hadapan Rasulullah atau dibelakang Rasulullah dalam
kondisi-kondisi tertentu. Mereka boleh berfatwa setelah ada permintaan atau izin dari Rasulullah
atau dalam kasus yang memerlukan keputusan hukum sesegera mungkin, sementara waktu yang
tersedia relatif singkat untuk berhubungan dengan Rasulullah.
6. Pendapat yang terakhir ini juga menekankan harus ada keizinan Rasulullah. Bagi mereka yang
telah mendapat izin boleh melakukan fatwa dimana dan kapan saja. Karena fatwa tanpa ada
keizinan khusus dari rasullullah dapat diartikan sebagai pendapat liar yang tidak mempunyai
alasan, yang pada gilirannya akan melahirkan berbagai fatwa atas nama Nabi. Tindakan yang
terakhir ini jelas tidak dapat di tolerir sama sekali.[10]
Dari ke enam pendapat yang berkembang dikalangan ulama itu nampaknya dapat
disederhanakan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama memandang bahwa fatwa sahabat-
sahabat tidak mungkin ada pada waktu hidup Rasulullah dan pendapat semacam ini didukung
oleh sekelompok kecil ulama. Sedang kelompok kedua memandang adanya peluang bagi
sahabat-sahabat untuk berfatwa pada masa Rasulullah, kendatipun dengan berbagai persyaratan
dan pembatasan yang mereka buat, seperti tampak pada lima dari enam pendapat yang telah
disebutkan diatas.
Contoh Fatwa Sahabat Yang Dilakukan Di Hadapan Rasulullah, Antar Lain :
a. Diriwayatkan bahwa rasulullah pada suatu hari berkata kepada Amr Ibn al-Ash, katanya:
berilah hukum terhadap kasus ini. Mendengar perintah rasulullah itu Amr Ibn al-Ash kembali
bertanya: apakah aku akan berfatwa padahal engkau ada hadir (disini)? Lalu rasulullah
menjawab : Ya, jika engkau betul, maka engakau mendapat dua pahala dan jika engkau salah,
engkau mendapat satu pahala.[11]
b. Selain dari peristiwa di atas, Sayyid Musa juga menunjuk berbagai macam pendapat dan fatwa
Umar Ibn al-Khattab, yang menurut perhitungannya mencapai lima belas peristiwa, yang
diantaranya mendapat konfirmasi al-Quran seperti yang telah di kemukakan pada pembicaraan
terdahulu. Oleh karena itulah, menurut Sayyid Musa, Rasulullah mengatakan: bahwa
sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran melalui lidah dan hati Umar. [12]

Contoh Fatwa Sahabat Yang Dilakukan Di Belakang Rasulullah, Antar Lain:


a. Di waktu Ali bertugas di yaman, datang kepadanya tiga orang yang bersengketa tentang seorang
anak. Masing-masing mengakui bahwa anak itu adalah anaknya. Untuk menyelesaikan
persengketaan itu, Ali mempergunakan undian. Ali menyerahkan anak itu kepada yang menang
dalam undian serta membebankan 2/3 diyat harus diberikannya kepada dua orang yang lain, yang
ternyata kalah dalam undian. Mendengar keputusan itu, rasulullah tersenyum dan gembira atas
tindakan yang diambil oleh Ali.[13]
b. Dua orang sahabat sedang dalam perjalanan. Ketika waktu sholat datang, keduanya tidak
menjumpai air untuk berwudhu. Namun demikian, keduanya tetap mengerjakan sholat tidak
selama setelah itu, kedua sahabat itu menemukan air. Karena masih dalam waktu, maka seorang
mengulang sholatnya kembali, sementara yang alin tidak mengulangnya.setelah peristiwa itu
diketahui oleh Rasulullah, kedua perbutan itu dibenarkan oleh beliau, sambil berkata kepada
yang tidak mengulang: engkau telah berbuat sesuai dengan sunnah dan sholat mu sudah cukup.
kepada yang mengulang, Rasulullah berkata : untuk mu dua pahala.[14]
C. Fatwa Pada Masa Tabiin / ulama mazhab (Bani Umayyah, 661-750M).
Periode ini berlangsung pembinaan hukum islam dilakukan pada masa pemerintahan khalifah
Umayyah (662-750) dan khalifah Abbasiyah (750-1258). Di masa inilah (1) Lahir para ahli
hukum Islam yang menemukan dan merumuskan garis-garis hukum fikih Islam; (2) muncul
berbagai teori hukum Islam yang masih digunakan sampai sekarang.[15]
Masa tabiin adalah suatu masa setelah masa sahabat dan merupakan kelanjutan dari masa
sahabat tersebut. Mereka sebenarnya telah lahir pada masa sahabat Rasulullah SAW. Para tabiin
telah mewarisi riwayat, hukum, fatwa, ijtihad, dan metode istinbat dari para sahabat. Mereka
telah memahami illat-illat maqashidiyahdan maslahiyah mereka dan sebagainya. Hal itu dapat
membantu mereka untuk mengikuti jejak para sahabat dan memudahkan mereka untuk
menjelaskan beraneka ragam hukum yang berbeda-beda.
Para tabiin telah mendapatkan kekayaan riwayat dan ijtihad dari para sahabat, sehingga
mereka mempunyai dua tugas penting, yaitu[16]:
1. Menggabungkan dua kekayaan itu. Para tabiin harus mengumpulkan riwayat-riwayat dari
hadits-hadits Rasul SAW, lalu mengumpulkan perkataan-perkataan para sahabat dan ijtihad-
ijtihad mereka. Ini tergolong mudah karena setiap tabiin itu merupakan murid dari para sahabat
atau kebanyakan orang itu biasanya mentransfer ilmunya kepada generasi setelahnya. Di antara
para sahabat itu ada yang mempunyai beberapa murid, seperti Abdullah bin Umar yang juga
telah mengeluarkan beberapa murid, diantaranya Said bin Musayyab, Nafi yang merupakan
keluarganya, dan Salim anaknya sendiri, dan seterusnya. Setiap sahabat itu ada orang yang
khusus mempelajari ilmu mereka dan kebanyakan murid-murid mereka itu adalah dari anak
keturunnya mereka sendiri, bukan dari orang-orang Arab. Para tabiin itulah yang menjadi
murid-murid dan menempati posisi para sahabat dalam perjumpaan dengan Rasul SAW. Mereka
menjadikan perkataan-perkataan sahabat itu sebagai hujjah.
2. Mereka harus berijtihad terhadap suatu perkara yang belum diketahui penjelasannya dari para
sahabat, tidak terdapat suatu nash pun dari Al-Quran dan sunnah yang membahas perkara itu.
Maka mereka punya hak untuk berijtihad setelah mempertimbangkan hadits-hadits dan fatwa-
fatwa, serta mereka tidak boleh keluar dari manhaj sahabat yang telah menggambarkannya
kepada mereka dan kepada orang-orang yang datang setelah mereka.
Menurut ahli seorang anggota Majma' Al-Buhust Al-Islamiyah Universitas Al-Azhar,
ijtihad yang terjadi pada masa tabi'in adalah ijtihad mutlak yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa
ikatan seorang mujtahid terlebih dahulu dan yang secara langsung diarahkan untuk membahas,
meneliti, dan memahami yang benar.
Di antara tabiin yang terkenal adalah Said bin Musayyab (15H 94H) di Madinah, Atha
bin Abi Rabah (27H 114H) di Mekah, Ibrahim An-Nakhai (w. 76H) di Kufah, Al-Hasan Al-
Basri (21H/642 M 110H/728 M) di Basrah, Makhul di Syam (Suriah) dan Tawus di Yaman.
Mereka kemudian menjadi guru-guru terkenal di daerah masing-masing dan menjadi panutan
untuk masyarakat setempat.[17]
Para tabiin ini selanjutnya diikuti juga oleh generasi penerusnya yaitu para tabi tabiin.
Para tabi tabiin ini mengambil dan menerima pengetahuan dari para tabiin sebagaimana halnya
yang mereka terima dari para sahabat, yaitu mengenai al-Quran dan tafsirnya, hadits, fiqih, dan
rahasia-rahasia tasyri (hukum Islam) serta metodenya. Kemudian selanjutnya pada generasi tabi
tabiin sebagai tempat belajar dan menerima informasi oleh generasi imam-imam mujtahid yang
empat (Abu Hanifah, Malik, Syafii, dan Ahmad bin Hambal) dan tokoh-tokoh tasyri lainnya
yang hidup sezaman dengan mereka.[18]
Ketika tokoh-tokoh tasyri dari kalangan sahabat telah wafat dan berakhir periodenya,
maka kekuasaan tasyri diwarisi dan dilanjutkan oleh kader dan generasi mereka yaitu para
tabiin. Kemudian setelah periode tabiin juga berakhir, maka pemegang peranan pengembangan
hukum Islam diwarisi dan dilanjutkan oleh kader dan generasi mereka yaitu tabi tabiin.
Selanjutnya, sesudah masa tabi tabiin ini juga berakhir, maka para imam mujtahid yang empat
bersama tokoh-tokoh tasyri lainnya yang memegang kekuasaan peran dalam mengembangkan
hukum Islam.
.
Faktor Yang Mendorong Perkembangan Hukum Islam
Diantara faktor-faktor yang mendorong perkembangan hukum Islam antara lain adalah:
1. Perluasan Wilayah
Sebagaimana diketahui dalam sejarah, ekspansi dunia Islam dilakukan sejak zaman
khalifah. Langkah awal yang dilakukan Muawiyah dalam rangka menjalankan pemerintahan
adalah memindahkan ibu kota negara, dari Madinah ke Damaskus. Muawiyah kemudian
melakukan ekspansi ke barat hingga dapat menguasai Tunisia, Aljazair, dan Maroko sampai ke
pantai samudra Atlantik. Penaklukan ke Spanyol dilakukan pada zaman pemerintahan Walid ibn
Abd al-malik (705-715 M).
Banyaknya daerah baru yang dikuasai berarti banyak pula persoalan yang dihadapi oleh
umat Islam, persoalan tersebut perlu diselesaikan berdasarkan Islam. Karena ini merupakan
petunjuk dari manusia. Dengan demikian, perluasan wilayah dapat mendorong perkembangan
hukum Islam; karena semakin luas wilayah yang dikuasai berarti semakin banyak penduduk di
negeri muslim, dan semakin banyak penduduk, semakin banyak pula persoalan hukum yang
harus diselesaikan.
2. Perbedaan Penggunaan Rayu
Pada zaman ini, fuqaha dapat dibedakan menjadi dua, yaitu mazhab atau aliran hadits dan aliran
rayu.aliran hadits adalah golongan yang lebih banyak menggunakan riwayat dan sangat Hati-
hati dalam penggunaan rayu, sedangkan aliran rayu lebih banyak menggunakan rayu
dibandingkan dengan aliran hadits. Munculnya dua aliran pemikiran hukum Islam itu semakin
mendorong perkembangan iktilaf, dan pada saat yang sama pula semakin mendorong
perkembangan hukum Islam.[19]
4. Telah ada karya-karya tulis tentang hukum yang dapat digunakan sebagai landasan untuk
membangun serta mengembangkan fikih islam.
5. Telah tersedia para ahli hukum yang mampu berijtihad untuk memecahkan berbagai masalah
hukum dalam masyarakat.[20]
Sumber-sumber hukum islam (fatwa) zaman tabiin
Secara umum, tabiin mengikuti langkah-langkah penetapan dan penerapan hukum yang
telah dilakukan sahabat dalam istinbath al-ahkam. Langkah- langkah yang mereka lakukan
adalah sebagai berikut:
a. Mencari ketentuan dalam al-quran
b. Apabila ketentuan itu tidak didapatkan dalam alquran, mereka mencarinya dalam as-sunnahh
c. Apabila tidak didapatakan dalam al-quran dan sunnah, mereka kembali kepada pendapat
sahabat.
d. Apabila pendapat sahabat tidak diperoleh, mereka berijtihad.
Dengan demikian, sumber-sumber atau dasar-dasar hukum islam pada masa periode ini
adalah (1) al-quran, (2) as-sunnah, (3) ijmak dan pendapat sahabat, (4) ijtihad.[21]
Pada periode inilah muncul para mujtahid yang sampai sekarang masih berpengaruh dan
pendapatnya diikuti oleh umat Islam diberbagai belahan dunia. Mereka itu diantaranya adalah:
1. Imam Abu Hanifah (Al-Nukman ibn Tsabit) : 700-767 M
Ia lahir di Kufah pada tahun 80 H dan wafat di Bagdad pada tahun 150 H. Sebagaimana
ulama yang lain, Abu Hanifah memiliki banyak halangan untuk berdiskusi berbagai ilmu agama.
Semula materi yang sering di diskusikan adalah tentang ilmu kalam yang meliputi al-Qada dan
Qadar. Kemudian ia pindah ke materi-materi fiqh Al-Khatib al-Bagdadi menuturkan bahwa Abu
Hanifah tadinya selalu berdiskusi tentang ilmu kalam.
Sebagaimana ulama lain, sumber syariat bagi Abu Hanifah adalah Al-Quran dan Al-
Snnah, akan tetapi ia tidak mudah menerima hadiah yang diterimanya. Lahannya menerima hadis
yang diriwayatkan oleh jamaah dari jamaah, atau hadist yang disepakati oleh fuqaha di suatu
negeri dan diamalkan; atau hadist ahad yang diriwayatkan dari sahabat dalam jumlah yang
banyak (tetapi tidak mutawatir) yang di pertentangkan.
Abu Hanifah dikenal sebagai imam ahlul al-rayu, dalam menghadapi nas al-Quran dan
al-Sunnah. Maka ia dikenal sebagai ahli di bidang talil al-ahkam dan qiyas.
2. Malik Bin Anas: 713-795 M
Ia lahir pada tahun 93 H dan wafat pada tahun 179 H. Malik bin Anas tinggal di Madinah
dan tidak pernah kemana-mana kecuali beribadah Haji ke Mekkah. Imam Malik menempatkan
Al-Quran sebagai sumber hukum pertama, kemudian al hadist sedapat mungkin hadist yang
mutawatir atau masyhur.
3. Muhammad Idris Al-Syafii: 767-820 M
Ia lahir di Ghazah atai Asqalan pada tahun 150 H. Ia berguru kepada Imam Malik di
Madinah. Kesetiannya kepada Imam Malik ditunjukkan dengan nyantri di tempat sang guru
hingga sang guru wafat pada tahun 179 H. Imam Syafii pernah juga berguru kepada murid-
murid Abu Hanifah. Ia tinggal di Bagdad selama dua tahun, kemudian kembali ke Mekkah. Akan
tetapi tidak lama kemudian ia kembali ke Irak pada tahun 198 H, dan berkelana ke Mesir.[22]
Dalam pengembaraannya, ia kemudian memahami corak pemikiran ahl al-rayu dan ahl
al-Hadis. Ia berpendapat bahwa tidak seluruh metode ahl al-rayu baik diambil sama halnya tidak
seluruh metode ahl al-Hadis harus diambil. Akan tetapi menurutnya tidak baik pula
meninggalkan seluruh metode berpikir mereka masing-masing. Dengan demikian Imam Syafii
tidak fanatik terhadap salah satu mazhab, bahkan berusaha menempatkan diri sebagai penegah
antara kedua metode berpikir yang ekstrim. Ia berpendapat bahwa qiyas merupakan metode yang
tepat untuk menjawab masalah yang tidak manshus.
Menurut Imam Syafii tata urutan sumber Hukum Islam adalah:
Al Quran dan Al-Sunnah
Bila tidak ada dalam Al Quran dan Al Sunnah, ia berpindah ke Ijma.
4. Ahmad Bin Hambal (Hanbal): 781-855 M
Ia lahir di Bagdad pada tahun 164 H. Ia tinggal di Bagdad sampai akhir hayatnya yakni
tahun 231 H. Negeri-negeri yang pernah ia kunjungi untuk belajar antara lain adalah Basrah,
Mekkah, Madinah, Syam dan Yaman. Ia pernah berguru kepada Imam Syafii di Bagdad dan
menjadi murid Imam Syafii yang terpenting, bahkan ia menjadi mujtahid sendiri.
Menurut Imam Ahmad, sumber hukum pertama adalah Al-Nushush, yaitu Al Quran dan
Al Hadist yang marfu. Apabila persoalan hukum sudah didapat dalam nas-nas tersebut, ia tidak
beranjak ke sumber lain, tidak pula menggunakan metode ijtihad. Apabila terdapat perbedaan
pendapat di antara para sahabat, maka Imam akan memilih pendapat yang paling dekat dengan
Al Quran dan Al Sunnah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Fatwa pada masa rasulullah
Para ulama berikhtilaf tentang ijtihad nabi Muhammad saw. Terhadap sesuatu yang tidak ada
ketentuan nash dari allah. Sebagian ulama asyariah dan kebanyakan ulama mutazilah
berpendapat bahwa nabi Muhammad saw tidak boleh melakukan ijtihad terhadap sesuatu yang
tidak ada ketentuan nash, yang berhubungan dengan amaliah tentang halal dan haram.
Sedangkan ulama ushul, diantaranya abu yusuf al-hanafi dan al-syafiI membolehkannya
Fatwa pada masa sahabat
Perlu diketahui bahwa fatwa berpengaruh besar terhadap perkembangan hukum pada masa
sahabat. beberapa persoalan penting yang dihadapi oleh para sahabat, diantaranya:
a. sahabat khawatir akan kehilangan Al-quran karena banyaknya sahabat yang hapal al-quran
meninggal dunia dalam perang Yamamah .
b. sahabat takut akan terjadi pembohongan terhadap sunnah Rasulullah saw.
c..Sahabat khawatir umat islam akan menyimpang dari hukum islam.
e. Sahabat menghadapi perkembangan kehidupan yang memerlukan ketentuan syariat
islam karena hal tersebut belum ditetapkan ketentuannya dalam Al-quran dan sunnah
Fatwa masa tabiin/ulama mazhab
Periode ini berlangsung pembinaan hukum islam dilakukan pada masa pemerintahan khalifah
Umayyah (662-750) dan khalifah Abbasiyah (750-1258). Di masa inilah (1) Lahir para ahli
hukum Islam yang menemukan dan merumuskan garis-garis hukum fikih Islam; (2) muncul
berbagai teori hukum Islam yang masih digunakan sampai sekarang.[23]
Masa tabiin adalah suatu masa setelah masa sahabat dan merupakan kelanjutan dari masa
sahabat tersebut. Mereka sebenarnya telah lahir pada masa sahabat Rasulullah SAW. Para tabiin
telah mewarisi riwayat, hukum, fatwa, ijtihad, dan metode istinbat dari para sahabat. Mereka
telah memahami illat-illat maqashidiyahdan maslahiyah mereka dan sebagainya. Hal itu dapat
membantu mereka untuk mengikuti jejak para sahabat dan memudahkan mereka untuk
menjelaskan beraneka ragam hukum yang berbeda-beda.

[1] Jaih mubarok,sejarah dan perkembangan hukum islam, (bandung : PT. remaja rosdakarya .
2000)hal.13
[2] ibid hal.16
[3] Jaih mubarok,sejarah dan perkembangan hukum islam, (bandung : PT. remaja rosdakarya .2000)hal.30
[4] ibid hal.32
[5] Ibid hal.32
[6] Ibid hal 34
[7]Hasby Ash-Shiddiqy, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum islam,(Jakarta : Bulan Bintang,
1971 )hal.83
[8] Amiur nuruddin, ijtihad umar bin khattab, (Yogyakarta: rajawali pers .1991) hal. 85
[9] ibid hal.86
[10] Amiur nuruddin, ijtihad umar bin khattab, (Yogyakarta: rajawali pers .1991) hal. 87
[11] Ibid hal.90
[12] Ibid hal 92
[13] Ibid hal. 94
[14] Ibid hal 95
[15]Mohammad Daud Ali, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di
Indonesia, Cetakan keenam (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007) hal. 182
[16]Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, hal. 29
[17] Dedi Supriyadi, Sejarah Hukum Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 84.
[18] Abdul Wahab Khallaf, Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam, terj. Wajdi Sayadi
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 74-75.

[19] Jaih mubarok hal. 54


[20]Mohammad Daud Ali, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, Cetakan
keenam (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007) hal.165
[21]Jaih mubarok hal.56
[22]Jaih mubarok,sejarah dan perkembangan hukum islam. hal.98
[23]Mohammad Daud Ali, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di
Indonesia, Cetakan keenam (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007) hal. 182

Perkembangan Hukum Islam Dalam Sejarah


Bagian I
PENDAHULUAN
1. A. Latar Belakang Masalah

Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia adalah unsur paling mayoritas. Dalam tataran
dunia Islam internasional, umat Islam Indonesia bahkan dapat disebut sebagai komunitas muslim
paling besar yang berkumpul dalam satu batas teritorial kenegaraan.

Karena itu, menjadi sangat menarik untuk memahami alur perjalanan sejarah hukum Islam di tengah-
tengah komunitas Islam terbesar di dunia itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti seberapa jauh pengaruh
kemayoritasan kaum muslimin Indonesia itu terhadap penerapan hukum Islam di Tanah Air ? Maka
dapat dijawab dengan memaparkan sejarah hukum Islam sejak komunitas muslim hadir di Indonesia.
Di samping itu, kajian tentang sejarah hukum Islam di Indonesia juga dapat dijadikan sebagai salah
satu pijakan bagi umat Islam secara khusus untuk menentukan strategi yang tepat di masa depan
dalam mendekatkan dan mengakrabkan bangsa ini dengan hukum Islam. Proses sejarah hukum
Islam yang diwarnai benturan dengan tradisi yang sebelumnya berlaku dan juga dengan kebijakan-
kebijakan politik-kenegaraan, serta tindakan-tindakan yang diambil oleh para tokoh Islam Indonesia
terdahulu setidaknya dapat menjadi bahan telaah penting di masa datang. Setidaknya, sejarah itu
menunjukkan bahwa proses Islamisasi sebuah masyarakat bukanlah proses yang dapat selesai
seketika.

1. B. Maksud dan Tujuan

Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Islam yang ada di pada Fakultas Hukum Universitas
Langlangbuana, yang kemudian penulisan makalah ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan serta dapat dan bisa memeberikan manfaat baik untuk almamater perguruan tinggi
maupun bagi dunia ilmu pengetahuan pada umumnya. walaupun tulisan ini tidak dapat menguraikan
secara lengkap dan detail setiap rincian sejarah hukum Islam di Tanah air, namun setidaknya apa akan
Penulis paparkan di sini dapat memberikan gambaran tentang perjalanan hukum Islam, sejak awal
kedatangan agama ini ke bumi Indonesia hingga di era reformasi ini.

1. C. Identifikasi Masalah

Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia adalah unsur paling mayoritas. Dalam tataran
dunia Islam internasional, umat Islam Indonesia bahkan dapat disebut sebagai komunitas muslim
paling besar yang berkumpul dalam satu batas teritorial kenegaraan.

Dari hal-hal yang telah diuraikan dalam latar belakang tersebut diatas maka ada beberapa
pengidentifikasian masalah mengenai hal itu yaitu bagaimana perkembangan serta keberadaan
Hukum Islam pada :

1. Masa Prapenjajahan Belanda


2. Masa Penjajahan Belanda
3. Masa Pendudukan Jepang
4. Masa Kemerdekaan (1945)
5. Era Orde Lama dan Orde Baru
6. Era Reformasi
Bagian II
PEMBAHASAN
Hukum Islam pada Masa Pra Penjajahan Belanda

Akar sejarah hukum Islam di kawasan nusantara menurut sebagian ahli sejarah dimulai pada abad
pertama hijriyah, atau pada sekitar abad ketujuh dan kedelapan masehi. Sebagai gerbang masuk ke
dalam kawasan nusantara, kawasan utara pulau Sumatera-lah yang kemudian dijadikan sebagai titik
awal gerakan dakwah para pendatang muslim. Secara perlahan, gerakan dakwah itu kemudian
membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak, Aceh Timur. Berkembangnya komunitas muslim
di wilayah itu kemudian diikuti oleh berdirinya kerajaan Islam pertama di Tanah air pada abad ketiga
belas. Kerajaan ini dikenal dengan nama Samudera Pasai. Ia terletak di wilayah Aceh Utara.
Pengaruh dakwah Islam yang cepat menyebar hingga ke berbagai wilayah nusantara kemudian
menyebabkan beberapa kerajaan Islam berdiri menyusul berdirinya Kerajaan Samudera Pasai di Aceh.
Tidak jauh dari Aceh berdiri Kesultanan Malaka, lalu di pulau Jawa berdiri Kesultanan Demak, Mataram
dan Cirebon, kemudian di Sulawesi dan Maluku berdiri Kerajaan Gowa dan Kesultanan Ternate serta
Tidore.

Kesultanan-kesultanan tersebut sebagaimana tercatat dalam sejarah, itu tentu saja kemudian
menetapkan hukum Islam sebagai hukum positif yang berlaku. Penetapan hukum Islam sebagai
hukum positif di setiap kesultanan tersebut tentu saja menguatkan pengamalannya yang memang
telah berkembang di tengah masyarakat muslim masa itu. Fakta-fakta ini dibuktikan dengan adanya
literatur-literatur fiqh yang ditulis oleh para ulama nusantara pada sekitar abad 16 dan 17. Dan
kondisi terus berlangsung hingga para pedagang Belanda datang ke kawasan nusantara.
Hukum Islam pada Masa Penjajahan Belanda

Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai dengan kehadiran Organisasi
Perdagangan Dagang Belanda di Hindia Timur, atau yang lebih dikenal dengan VOC. Sebagai sebuah
organisasi dagang, VOC dapat dikatakan memiliki peran yang melebihi fungsinya. Hal ini sangat
dimungkinkan sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang menjadikan VOC sebagai
perpanjangtangannya di kawasan Hindia Timur. Karena itu disamping menjalankan fungsi
perdagangan, VOC juga mewakili Kerajaan Belanda dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan.
Tentu saja dengan menggunakan hukum Belanda yang mereka bawa.

Dalam kenyataannya, penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. Ini disebabkan karena
penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka. Akibatnya, VOC pun
membebaskan penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini telah mereka jalankan.

Kaitannya dengan hukum Islam, dapat dicatat beberapa kompromi yang dilakukan oleh pihak VOC,
yaitu:

Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC, dinyatakan bahwa hukum
kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam.

Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di tengah masyarakat.
Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. Kompilasi ini kemudian dikenal dengan Compendium Freijer.

Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain, seperti di Semarang, Cirebon, Gowa
dan Bone.

Di Semarang, misalnya, hasil kompilasi itu dikenal dengan nama Kitab Hukum Mogharraer (dari al-
Muharrar). Namun kompilasi yang satu ini memiliki kelebihan dibanding Compendium Freijer, dimana
ia juga memuat kaidah-kaidah hukum pidana Islam.

Pengakuan terhadap hukum Islam ini terus berlangsung bahkan hingga menjelang peralihan
kekuasaan dari Kerajaan Inggris kepada Kerajaan Belanda kembali. Setelah Thomas Stanford Raffles
menjabat sebagai gubernur selama 5 tahun (1811-1816) dan Belanda kembali memegang kekuasaan
terhadap wilayah Hindia Belanda, semakin nampak bahwa pihak Belanda berusaha keras
mencengkramkan kuku-kuku kekuasaannya di wilayah ini. Namun upaya itu menemui kesulitan akibat
adanya perbedaan agama antara sang penjajah dengan rakyat jajahannya, khususnya umat Islam
yang mengenal konsep dar al-Islam dan dar al-harb. Itulah sebabnya, Pemerintah Belanda
mengupayakan ragam cara untuk menyelesaikan masalah itu. Diantaranya dengan (1) menyebarkan
agama Kristen kepada rakyat pribumi, dan (2) membatasi keberlakuan hukum Islam hanya pada
aspek-aspek batiniah (spiritual) saja.

Bila ingin disimpulkan, maka upaya pembatasan keberlakuan hukum Islam oleh Pemerintah Hindia
Belanda secara kronologis adalah sebagai berikut :

Pada pertengahan abad 19, Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan Politik Hukum yang
Sadar; yaitu kebijakan yang secara sadar ingin menata kembali dan mengubah kehidupan hukum di
Indonesia dengan hukum Belanda.

Atas dasar nota disampaikan oleh Mr. Scholten van Oud Haarlem, Pemerintah Belanda
menginstruksikan penggunaan undang-undang agama, lembaga-lembaga dan kebiasaan pribumi
dalam hal persengketaan yang terjadi di antara mereka, selama tidak bertentangan dengan asas
kepatutan dan keadilan yang diakui umum. Klausa terakhir ini kemudian menempatkan hukum Islam
di bawah subordinasi dari hukum Belanda.

Atas dasar teori resepsi yang dikeluarkan oleh Snouck Hurgronje, Pemerintah Hindia Belanda
pada tahun 1922 kemudian membentuk komisi untuk meninjau ulang wewenang pengadilan agama di
Jawa dalam memeriksa kasus-kasus kewarisan (dengan alasan, ia belum diterima oleh hukum adat
setempat).

Pada tahun 1925, dilakukan perubahan terhadap Pasal 134 ayat 2 Indische Staatsregeling
(yang isinya sama dengan Pasal 78 Regerringsreglement), yang intinya perkara perdata sesama
muslim akan diselesaikan dengan hakim agama Islam jika hal itu telah diterima oleh hukum adat dan
tidak ditentukan lain oleh sesuatu ordonasi.

Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi hingga menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia
Belanda di wilayah Indonesia pada tahun 1942.

Hukum Islam pada Masa Pendudukan Jepang

Setelah Jendral Ter Poorten menyatakan menyerah tanpa syarat kepada panglima militer Jepang untuk
kawasan Selatan pada tanggal 8 Maret 1942, segera Pemerintah Jepang mengeluarkan berbagai
peraturan. Salah satu diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1942, yang menegaskan
bahwa Pemerintah Jepag meneruskan segala kekuasaan yang sebelumnya dipegang oleh Gubernur
Jendral Hindia Belanda. Ketetapan baru ini tentu saja berimplikasi pada tetapnya posisi keberlakuan
hukum Islam sebagaimana kondisi terakhirnya di masa pendudukan Belanda.

Meskipun demikian, Pemerintah Pendudukan Jepang tetap melakukan berbagai kebijakan untuk
menarik simpati umat Islam di Indonesia. Diantaranya adalah:

Janji Panglima Militer Jepang untuk melindungi dan memajukan Islam sebagai agama
mayoritas penduduk pulau Jawa.

Mendirikan Shumubu (Kantor Urusan Agama Islam) yang dipimpin oleh bangsa Indonesia
sendiri.
Mengizinkan berdirinya ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan NU.

Menyetujui berdirinya Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada bulan oktober 1943.

Menyetujui berdirinya Hizbullah sebagai pasukan cadangan yang mendampingi berdirinya


PETA.

Berupaya memenuhi desakan para tokoh Islam untuk mengembalikan kewenangan Pengadilan
Agama dengan meminta seorang ahli hukum adat, Soepomo, pada bulan Januari 1944 untuk
menyampaikan laporan tentang hal itu. Namun upaya ini kemudian dimentahkan oleh Soepomo
dengan alasan kompleksitas dan menundanya hingga Indonesia merdeka

Dengan demikian, nyaris tidak ada perubahan berarti bagi posisi hukum Islam selama masa
pendudukan Jepang di Tanah air. Namun bagaimanapun juga, masa pendudukan Jepang lebih baik
daripada Belanda dari sisi adanya pengalaman baru bagi para pemimpin Islam dalam mengatur
masalah-masalah keagamaan. Abikusno Tjokrosujoso menyatakan bahwa, Kebijakan pemerintah
Belanda telah memperlemah posisi Islam. Islam tidak memiliki para pegawai di bidang agama yang
terlatih di masjid-masjid atau pengadilan-pengadilan Islam. Belanda menjalankan kebijakan politik
yang memperlemah posisi Islam. Ketika pasukan Jepang datang, mereka menyadari bahwa Islam
adalah suatu kekuatan di Indonesia yang dapat dimanfaatkan.

Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan (1945)

Meskipun Pendudukan Jepang memberikan banyak pengalaman baru kepada para pemuka Islam
Indonesia, namun pada akhirnya, seiring dengan semakin lemahnya langkah strategis Jepang
memenangkan perang yang kemudian membuat mereka membuka lebar jalan untuk kemerdekaan
Indonesia, Jepang mulai mengubah arah kebijakannya. Mereka mulai melirik dan memberi dukungan
kepada para tokoh-tokoh nasionalis Indonesia. Dalam hal ini, nampaknya Jepang lebih mempercayai
kelompok nasionalis untuk memimpin Indonesia masa depan. Maka tidak mengherankan jika
beberapa badan dan komite negara, seperti Dewan Penasehat (Sanyo Kaigi) dan BPUPKI (Dokuritsu
Zyunbi Tyoosakai) kemudian diserahkan kepada kubu nasionalis. Hingga Mei 1945, komite yang terdiri
dari 62 orang ini, paling hanya 11 diantaranya yang mewakili kelompok Islam. Atas dasar itulah,
Ramly Hutabarat menyatakan bahwa BPUPKI bukanlah badan yang dibentuk atas dasar pemilihan
yang demokratis, meskipun Soekarno dan Mohammad Hatta berusaha agar aggota badan ini cukup
representatif mewakili berbagai golonga dalam masyarakat Indonesia.

Perdebatan panjang tentang dasar negara di BPUPKI kemudian berakhir dengan lahirnya apa yang
disebut dengan Piagam Jakarta. Kalimat kompromi paling penting Piagam Jakarta terutama ada pada
kalimat Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya. Menurut Muhammad Yamin kalimat ini menjadikan Indonesia merdeka bukan sebagai
negara sekuler dan bukan pula negara Islam.

Dengan rumusan semacam ini sesungguhnya lahir sebuah implikasi yang mengharuskan adanya
pembentukan undang-undang untuk melaksanakan Syariat Islam bagi para pemeluknya. Tetapi
rumusan kompromis Piagam Jakarta itu akhirnya gagal ditetapkan saat akan disahkan pada tanggal
18 Agustus 1945 oleh PPKI. Ada banyak kabut berkenaan dengan penyebab hal itu. Tapi semua versi
mengarah kepada Mohammad Hatta yang menyampaikan keberatan golongan Kristen di Indonesia
Timur. Hatta mengatakan ia mendapat informasi tersebut dari seorang opsir angkatan laut Jepang
pada sore hari taggal 17 Agustus 1945. Namun Letkol Shegeta Nishijima satu-satunya opsir AL Jepang
yang ditemui Hatta pada saat itu- menyangkal hal tersebut. Ia bahkan menyebutkan justru
Latuharhary yang menyampaikan keberatan itu. Keseriusan tuntutan itu lalu perlu dipertanyakan
mengingat Latuharhary bersama dengan Maramis, seorang tokoh Kristen dari Indonesia Timur
lainnya- telah menyetujui rumusan kompromi itu saat sidang BPUPKI.

Pada akhirnya, di periode ini, status hukum Islam tetaplah samar-samar. Isa Ashary mengatakan,
kejadian mencolok mata sejarah ini dirasakan oleh umat Islam sebagai suatu permainan sulap yang
masih diliputi kabut rahasiasuatu politik pengepungan kepada cita-cita umat Islam.

Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan Periode Revolusi Hingga Keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1950.
Selama hampir lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia memasuki masa-masa revolusi
(1945-1950). Menyusul kekalahan Jepang oleh tentara-tentara sekutu, Belanda ingin kembali
menduduki kepulauan Nusantara. Dari beberapa pertempuran, Belanda berhasil menguasai beberapa
wilayah Indonesia, dimana ia kemudian mendirikan negara-negara kecil yang dimaksudkan untuk
mengepung Republik Indonesia. Berbagai perundingan dan perjanjian kemudian dilakukan, hingga
akhirnya tidak lama setelah Linggarjati, lahirlah apa yang disebut dengan Konstitusi Indonesia Serikat
pada tanggal 27 Desember 1949.

Dengan berlakunya Konstitusi RIS tersebut, maka UUD 1945 dinyatakan berlaku sebagai konstitusi
Republik Indonesia yang merupakan satu dari 16 bagian negara Republik Indonesia Serikat.

Konstitusi RIS sendiri jika ditelaah, sangat sulit untuk dikatakan sebagai konstitusi yang menampung
aspirasi hukum Islam. Mukaddimah Konstitusi ini misalnya, samasekali tidak menegaskan posisi
hukum Islam sebagaimana rancangan UUD 1945 yang disepakati oleh BPUPKI. Demikian pula dengan
batang tubuhnya, yang bahkan dipengaruhi oleh faham liberal yang berkembang di Amerika dan Eropa
Barat, serta rumusan Deklarasi HAM versi PBB.

Namun saat negara bagian RIS pada awal tahun 1950 hanya tersisa tiga negara saja RI, negara
Sumatera Timur, dan negara Indonesia Timur, salah seorang tokoh umat Islam, Muhammad Natsir,
mengajukan apa yang kemudian dikenal sebagai Mosi Integral Natsir sebagai upaya untuk melebur
ketiga negara bagian tersebut. Akhirnya, pada tanggal 19 Mei 1950, semuanya sepakat membentuk
kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 1945. Dan dengan demikian,
Konstitusi RIS dinyatakan tidak berlaku, digantikan dengan UUD Sementara 1950. Akan tetapi, jika
dikaitkan dengan hukum Islam, perubahan ini tidaklah membawa dampak yang signifikan. Sebab
ketidakjelasan posisinya masih ditemukan, baik dalam Mukaddimah maupun batang tubuh UUD
Sementara 1950, kecuali pada pasal 34 yang rumusannya sama dengan pasal 29 UUD 1945, bahwa
Negara berdasar Ketuhanan yang Maha Esa dan jaminan negara terhadap kebebasan setiap
penduduk menjalankan agamanya masing-masing. Juga pada pasal 43 yang menunjukkan
keterlibatan negara dalam urusan-urusan keagamaan. Kelebihan lain dari UUD Sementara 1950 ini
adalah terbukanya peluang untuk merumuskan hukum Islam dalam wujud peraturan dan undang-
undang. Peluang ini ditemukan dalam ketentuan pasal 102 UUD sementara 1950. Peluang inipun
sempat dimanfaatkan oleh wakil-wakil umat Islam saat mengajukan rancangan undang-undang
tentang Perkawinan Umat Islam pada tahun 1954. Meskipun upaya ini kemudian gagal akibat
hadangan kaum nasionalis yang juga mengajukan rancangan undang-undang Perkawinan Nasional.
Dan setelah itu, semua tokoh politik kemudian nyaris tidak lagi memikirkan pembuatan materi
undang-undang baru, karena konsentrasi mereka tertuju pada bagaimana mengganti UUD Sementara
1950 itu dengan undang-undang yang bersifat tetap.

Perjuangan mengganti UUD Sementara itu kemudian diwujudkan dalam Pemilihan Umum untuk
memilih dan membentuk Majlis Konstituante pada akhir tahun 1955. Majelis yang terdiri dari 514
orang itu kemudian dilantik oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1956. Namun delapan bulan
sebelum batas akhir masa kerjanya, Majlis ini dibubarkan melalui Dekrit Presiden yang dikeluarkan
pada tanggal 5 Juli 1959. Hal penting terkait dengan hukum Islam dalam peristiwa Dekrit ini adalah
konsiderannya yang menyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni menjiwai UUD 1945 dan
merupakan suatu kesatuan dengan konstitusi tersebut. Hal ini tentu saja mengangkat dan
memperjelas posisi hukum Islam dalam UUD, bahkan menurut Anwar Harjono lebih dari sekedar
sebuah dokumen historis.

Namun bagaiamana dalam tataran aplikasi? Lagi-lagi faktor-faktor politik adalah penentu utama dalam
hal ini. Pengejawantahan kesimpulan akademis ini hanya sekedar menjadi wacana jika tidak didukung
oleh daya tawar politik yang kuat dan meyakinkan.

Hal lain yang patut dicatat di sini adalah terjadinya beberapa pemberontakan yang diantaranya
bernuansakan Islam dalam fase ini. Yang paling fenomenal adalah gerakan DI/TII yang dipelopori
oleh Kartosuwirjo dari Jawa Barat. Kartosuwirjo sesungguhnya telah memproklamirkan negara
Islamnya pada tanggal 14 Agustus 1945, atau dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia
pada 17 Agustus 1945. Namun ia melepaskan aspirasinya untuk kemudian bergabung dengan
Republik Indonesia. Tetapi ketika kontrol RI terhadap wilayahnya semakin merosot akibat agresi
Belanda, terutama setelah diproklamirkannya Negara boneka Pasundan di bawah kontrol Belanda, ia
pun memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun 1948. Namun pemicu konflik
yang berakhir di tahun 1962 dan mencatat 25.000 korban tewas itu, menurut sebagian peneliti, lebih
banyak diakibatkan oleh kekecewaan Kartosuwirjo terhadap strategi para pemimpin pusat dalam
mempertahankan diri dari upaya pendudukan Belanda kembali, dan bukan atas dasar apa yang
mereka sebut dengan kesadaran teologis-politisnya.

Hukum Islam di Era Orde Lama dan Orde Baru

Mungkin tidak terlalu keliru jika dikatakan bahwa Orde Lama adalah eranya kaum nasionalis dan
komunis. Sementara kaum muslim di era ini perlu sedikit merunduk dalam memperjuangkan cita-
citanya. Salah satu partai yang mewakili aspirasi umat Islam kala itu, Masyumi harus dibubarkan pada
tanggal 15 Agustus 1960 oleh Soekarno, dengan alasan tokoh-tokohnya terlibat pemberontakan (PRRI
di Sumatera Barat). Sementara NU yang kemudian menerima Manipol Usdek-nya Soekarno[27]-
bersama dengan PKI dan PNI kemudian menyusun komposisi DPR Gotong Royong yang berjiwa
Nasakom. Berdasarkan itu, terbentuklah MPRS yang kemudian menghasilkan 2 ketetapan, salah
satunya adalah tentang upaya unifikasi hukum yang harus memperhatikan kenyataan-kenyataan
umum yang hidup di Indonesia. Meskipun hukum Islam adalah salah satu kenyataan umum yang
selama ini hidup di Indonesia, dan atas dasar itu Tap MPRS tersebut membuka peluang untuk
memposisikan hukum Islam sebagaimana mestinya, namun lagi-lagi ketidakjelasan batasan
perhatian itu membuat hal ini semakin kabur. Dan peran hukum Islam di era inipun kembali tidak
mendapatkan tempat yang semestinya.
Menyusul gagalnya kudeta PKI pada 1965 dan berkuasanya Orde Baru, banyak pemimpin Islam
Indonesia yang sempat menaruh harapan besar dalam upaya politik mereka mendudukkan Islam
sebagaimana mestinya dalam tatanan politik maupun hukum di Indonesia. Apalagi kemudian Orde
Baru membebaskan bekas tokoh-tokoh Masyumi yang sebelumnya dipenjara oleh Soekarno. Namun
segera saja, Orde ini menegaskan perannya sebagai pembela Pancasila dan UUD 1945. Bahkan di awal
1967, Soeharto menegaskan bahwa militer tidak akan menyetujui upaya rehabilitasi kembali partai
Masyumi.

Lalu bagaimana dengan hukum Islam?


Meskipun kedudukan hukum Islam sebagai salah satu sumber hukum nasional tidak begitu tegas di
masa awal Orde ini, namun upaya-upaya untuk mempertegasnya tetap terus dilakukan. Hal ini
ditunjukkan oleh K.H. Mohammad Dahlan, seorang menteri agama dari kalangan NU, yang mencoba
mengajukan Rancangan Undang-undang Perkawinan Umat Islam dengan dukungan kuat fraksi-fraksi
Islam di DPR-GR. Meskipun gagal, upaya ini kemudian dilanjutkan dengan mengajukan rancangan
hukum formil yang mengatur lembaga peradilan di Indonesia pada tahun 1970. Upaya ini kemudian
membuahkan hasil dengan lahirnya UU No.14/1970, yang mengakui Pengadilan Agama sebagai salah
satu badan peradilan yang berinduk pada Mahkamah Agung. Dengan UU ini, dengan sendirinya
menurut Hazairin, hukum Islam telah berlaku secara langsung sebagai hukum yang berdiri sendiri.

Penegasan terhadap berlakunya hukum Islam semakin jelas ketika UU no. 14 Tahun 1989 tentang
peradilan agama ditetapkan. Hal ini kemudian disusul dengan usaha-usaha intensif untuk
mengompilasikan hukum Islam di bidang-bidang tertentu. Dan upaya ini membuahkan hasil saat pada
bulan Februari 1988, Soeharto sebagai presiden menerima hasil kompilasi itu, dan menginstruksikan
penyebarluasannya kepada Menteri Agama.

Hukum Islam di Era Reformasi

Soeharto akhirnya jatuh. Gemuruh demokrasi dan kebebasan bergemuruh di seluruh pelosok
Indonesia. Setelah melalui perjalanan yang panjang, di era ini setidaknya hukum Islam mulai
menempati posisinya secara perlahan tapi pasti. Lahirnya Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang
Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan semakin membuka peluang lahirnya
aturan undang-undang yang berlandaskan hukum Islam. Terutama pada Pasal 2 ayat 7 yang
menegaskan ditampungnya peraturan daerah yang didasarkan pada kondisi khusus dari suatu daerah
di Indonesia, dan bahwa peraturan itu dapat mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang
bersifat umum.

Lebih dari itu, disamping peluang yang semakin jelas, upaya kongkrit merealisasikan hukum Islam
dalam wujud undang-undang dan peraturan telah membuahkan hasil yang nyata di era ini. Salah satu
buktinya adalah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam
tentang Pelaksanaan Syariat Islam Nomor 11 Tahun 2002.

Dengan demikian, di era reformasi ini, terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk
memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Kita dapat melakukan langkah-langkah
pembaruan, dan bahkan pembentukan hukum baru yang bersumber dan berlandaskan sistem hukum
Islam, untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif yang berlaku dalam hukum Nasional
kita.
Bagian III
PENUTUP

Era reformasi yang penuh keterbukaan tidak pelak lagi turut diwarnai oleh tuntutan-tuntutan umat
Islam yang ingin menegakkan Syariat Islam. Bagi penulis, ide ini tentu patut didukung. Namun
sembari memberikan dukungan, perlu pula kiranya upaya-upaya semacam ini dijalankan secara
cerdas dan bijaksana.

Karena menegakkan yang maruf haruslah juga dengan menggunakan langkah yang maruf.
Disamping itu, kesadaran bahwa perjuangan penegakan Syariat Islam sendiri adalah jalan yang
panjang dan berliku, sesuai dengan sunnatullah-nya. Karena itu dibutuhkan kesabaran dalam
menjalankannya. Sebab tanpa kesabaran yang cukup, upaya penegakan itu hanya akan menjelma
menjadi tindakan-tindakan anarkis yang justru tidak sejalan dengan kemarufan Islam.

Proses pengakraban bangsa ini dengan hukum Islam yang selama ini telah dilakukan, harus terus
dijalani dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Disamping tentu saja upaya-upaya penguatan terhadap
kekuatan dan daya tawar politis umat ini. Sebab tidak dapat dipungkiri, dalam sistem demokrasi, daya
tawar politis menjadi sangat menentukan sukses-tidaknya suatu tujuan dan cita-cita.

Referensi
Bahtiar Effendy, Islam dan Negara (Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia), Paramadina, Jakarta, Oktober 1998.
Jimly Ashshiddiqie, Hukum Islam dan Reformasi Hukum Nasional, Seminar Penelitian Hukum
tentang Eksistensi Hukum Islam dalam Reformasi Sistem Nasional, Jakarta, September 2000.
Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia dan
Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional, Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas
Indonesia, Jakarta, Mei 2005.