Anda di halaman 1dari 11

STYLISTIC

Stilistika berasal dari Bahasa Inggris yaitu Style yang berarti gaya dan dari bahasa
serapan linguistiK yang berarti tata bahasa. Stilistika menurut kamus Bahasa
Indonesia yaitu ilmu kebahasaan yang mempelajari gaya bahasa. Sedangkan
menurut C. Bally, Jakobson, Leech, Widdowson, Levin, Ching, Chatman, C Dalan, dan
lain-lain menentukan stilistika sebagai suatu deskripsi linguistik dari bahasa yang
digunakan dalam teks sastra. Bagi Leech, stilistik adalah simple defind as the
(linguistiK) study of style.

Wawasan demikian sejalan dengan pernyataan Cummings dan Simmons bahwa


studi bahasa dalam teks sastra merupakanbranch of linguistiK called stylistic.
Dalam konteks yang lebih luas, bahkan Jakobson beranggapan bahwa poetics
(puitika) sebagai teori tentang sistem dan kaidah teks sastra sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dari LinguistiK. Bagi jakobson Poetics deals with problem of verbal
structure, just as he analysis of painting is concered with pictorial structure since
linguistiKs is the global science of verbal structur, poetics may be regarded as an
integral of linguistiK (Amminuddin, 1995:21).

Berbeda dengan wawasan di atas, Chvatik mengemukakan Stilistika sebagai kajian


yang menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagai kode estetik dengan kajian
stilistik yang menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagaimana bahasa menjadi
objek kajian linguistik (Aminuddin, 1995:22). Sedangkan menurut Rene Wellek dan
Austin Warren, Stilistika perhatian utamanya adalah kontras sistem bahasa pada
zamannya (Wellek dan Warren, 1990:221).

Pada mulanya, stilistika memang lebih terbatas pada persoalan bahasa dalam karya
sastra. Namun dalam perkembangannya, pengertian gaya juga dilihat dalam
hubungannya di luar sastra. Maka dibedakan antara gaya sastra dan gaya
nonsastra. Bernand Asmuth dan Luise Berg-Ehlers menamakan gaya bahasa sastra
dan gaya bahasa nonsastra ke dalam gaya fungsional, yaitu berhubungan dengan
fungsi tertentu dan bersifat sosiologis. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa ciri
gaya fungsional berhubungan dengan pemakaian bahasa, misalnya gaya bahasa
pergaulan resmi berfungsi melaksanakan hubungan resmi antara pegawai
pemerintah dan rakyat; gaya bahasa ilmu berfungsi menyampaikan kebenaran ilmu
dan hukumnya dengan pembuktian logis dan objektif; gaya bahasa surat kabar
berfungsi memberikan informasi atau menjelaskan sehingga orang tahu dengan
jelas tentang peristiwa yang dilaporkan; gaya bahasa sehari-hari digunakan dalam
pergaulan santai yang alamiah; gaya bahasa sastra berfungsi menyampaikan
pikiran melalui bahasa yang bergaya.

Bertolak dari berbagai pengertian di atas, peneliti ingin memperluas kajian stilistika
yang tidak hanya pada ranah dunia sastra, tetapi juga pada ranah nonsastra. Prof.
Dr. Sudiro Satoto (dalam perkuliahan beliau) menyatakan pula bahwa Stilistika
merupakan problematik. Bahwa Stilistika merupakan ilmu tentang gaya, yaitu gaya
penampilan, gaya penyajian, gaya performence, dan sebagainya termasuk juga
gaya bahasa di dalamnya.

Bahasa merupakan sebuah media penting penyampai informasi yang digunakan


manusia. Hal itulah yang menjadikan bahasa sebagai bagian hidup di dalam
bermasyarakat. Penggunaan bahasa sifatnya arbitrer, maksudnya bebas dalam
menggunakannya yang terpenting orang lain dapat menangkap informasi yang
disampaikan (adanya kesepakatan). Berdasarkan penjelasan di atas, dapat
disimpulkan bahwa bahasa ialah suatu hal yang memiliki peranan penting dalam
kelangsungan hidup manusia. Lewat bahasa, informasi untuk orang lain
disampaikan. Maka dari itu dibutuhkan suatu penggayaan didalamnya agar tercipta
suatu estetika di dalam bahasa itu sendiri. Kemudahan pemahaman akan tercapai
jika dalam pemahaman bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi
tersebut telah mengalami keragaman didalamnya.

Menurut Aminuddin (2004:72) menyatakan bahwa istilah gaya mengandung


pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan
mengunakan media bahasa yang indah yang harmonis serta mampu menuansakan
makna dan suasana yang menyentuh daya inteletual dan emosi pembaca.
Pernyataan tersebut maksudnya ialah penggayaan bahasa merupakan suatu
ekspresi seorang pengarang dalam mengeksploitasi bahasa sebagai bahan
pembangun utama karyanya agar memiliki keindahan dan sarat nuansa makna yan
harmonis sehingga enak saat dibaca. Sedang menurut Stanton (2007:61), gaya
ialah cara pengarang dalam menggunakan bahasa, maksudnya yaitu gaya
pengarang dalam mengolah bahasa yang digunakan untuk membangun karyanya.
Selanjutnya stilistika menurut Sudjiman (1993:13) ialah style, yaitu cara yang
digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan
menggunakan bahasa sebagai sarana. Penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa
stilistika ialah suatu cara yang digunakan seorng pembicara atau penulis untuk
mengungkapkan gagasannya dengan bahasa yang penuh ekspresi. Ketiga pendapa
mengenai stilistika tersebut dapat disimpulkan bahwa stilistika ialah sutu cara yang
digunakan pengarang untuk mengungkapkan idenya dengan bahasa yang indah
sebagai medianya. Gaya bahasa sesungguhnya terdapat dalam segala ragam
bahasa: ragam lisan dan ragam tulis, ragam nonsastra dan ragam sastra, karena
gaya bahasa ialah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang
tertentu dan untuk maksud tertentu (Sobur, 2004:82). Maksud dari pernyataan itu
ialah segala ragam bahasa pasti didalamnya tedapat unsur gaya bahasa.
Berdasarkan cakupannya gaya bahasa memliki bagian yaitu diksi (pilihan kata),
struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang
sastrawan atau yang terdapat dalamsebuah karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14).

Pilihan kata atau diksi menurut Keraf (2006:22-23), bukan saja dipergunakan untuk
menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan ide atau gagasan,
tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. Maksudnya
ialah pilihan kata atau diksi bukan hanya suatu kata-kata yang digunakan
pengarang untuk menyatakan gagasannya, tetapi di dalam itu semua lebih
menyangkut pada fraseologi, gaya bahasa yang digunakan serta ungkapan. Tidak
banyak orang yang menyadari bahwa diksi atau plihan kata sesungguhnya sangat
menentukan dalam penyampaian makna (Sudjiman, 1993:22). Maksudnya
keterkaitan antara makna dan pilihan kata atau diksi sangat erat. Jika pilihan kata
yang digunakn tidak tepat maka makna yang ingin disampaikan akan sulit diterima
karena adanya salah persepsi antara bacaan dan pembacanya. Selanjutnya
sudjiman menuturkan kata, rangkaian kata dan pasangan kata yang dipilih dengan
saksama dapat menimbulkan efek pada diri pembaca sesuai dengan apa yang
dikehendaki pengarang. Tujuan dari adanya pilihan kata ini untuk membuat bahasa
yang digunakan menjadi indah, sebab bahasa ialah sebuah tanda yang digunakan
manuia untuk menyampaikan maksudnya. Pilihan kata yang dimaksud tentunya
bukan hanya mencari kemudian memasangkan kata yang puitis, tetapi pilihan kata
itu meliputi proses pencarian, penyelesaian dan pemanfatan kata-kata tertentu
yang dapat menimbulkan nlai estetika atau keindahan dalam arti luasdan sekaligus
sarat makna serta efisen dan mampu merefleksi tema yang dijabarkan.

Keraf (2006:24), memberikan tiga simpulan berkenaan tentang diksi atau pilihan
kata. Pertama, diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang
dipakai untuk menyampaikn suatu gagasan, bagaimana membentuk
pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang
tepat dan gaya mana yang paling baik sigunakan dalam suatu situasi. Kedua,
pilihan kata atau diksi ialah kemampuan membedakan secara tepa nuansa-nuansa
makna dari gasan yang ingin dsampaikan, dan kemampuan untuk menemukan
bentuk yang ssuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok
masyarakat pendengar. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya
dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata
bahasa itu. Simpulan yang dinyatakan Keraf tersebut telah mewaili semua tentang
seluk beluk pilhan kata atau diksi.
Kriteria pemakaian diksi atau pilihan kata pada dasarnya kata ialah suatu tanda
untuk menyatakan atau mengungkapkan gagasa, konsep, makna. Konsep itu
berupa benda, gerak, sikap, keadaan, citarasa, perasaan dan banyak lagi
(Dewabrata, 155-156). Maksudnya kata merupakan media penyampaian maksud.
Dalam diksi atau pilihan kata, pemakaian kata untuk dirangkai menjadi sebuah
kalimat tidak memiliki aturan khusus, terkecuali jika membuat kalimat gramatikal
yang merupakan aturan paten dalam membuat kalimat. Tujuan dari diksi ialah
memperindah dan memperjelas kalimat yang digunakan sebagai media untuk
menyampaikan informasi. Ketepatan dan kesesuaian diksi atau pilihan kata

alimat bisa amat pendek terdiri dari sebuah kata saja, teapi juga bisa amat panjang
terdiri dari beratus-ratus kata. Kalimat pendek biasanya mudah dipahami. Makin
panjang sebuah kalimat, maka makin banyak umpukan konsepnya, tambah susah
dipahami pesan utuhnya yang terkandung didalanya. Pernyataan tersebut dapat
dijabarkan bahwa kalimat yang panjan akan lebih sulit dipahami maknanya dari
pada kalimat yang pendek. Jika pilihan kata yang digunakan tepat maka kalimat
yang dihasilkan akan pendek dan tentunya juga makna atau maksud yang
disampaikan akan mudah dipahami. Pemakaian kata yang tidak tepat seringkali
menimbulkan distorsi pesan.

Ketepatan pilihan kata menurut Keraf (2006:87), ialah mempersoalkan kesanggupan


sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi
pembaca atau pendengar, seperti apa yang dirasakan oleh penulis atau pembicara.
Maksudnya ialah, dalam pemilihan kata yang akan digunakan sangat menanyakan
apakah nanti kata yang digunakan tersebut dapat menimbukan mana yang sesuai
dengan agasan yang ingin disampaikan. Keraf (2006:88-87), hal-hal yang harus
diperhatikan agar bisa mencapai ketepatan pilihan kata yang akan digunakan,
anara lain: 1) Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi, masudnya kata
mana yang ingin digunakan untuk mencapai tingkat keemosionalan sesuai dengan
gagasan. Jika menginginkan pembaca menebak-nebak makna maka gunakan kata
yang bermana konotasi, dan begitu juga sebaliknya. 2) Membedakan dengan
cermat kata-kata yang hampir bersinonim, maksudnya memilih kata-kata dengan
tepat mana yang memiliki makna hampir sama, dan tentunya sesuai dengan
gagasan yang dimaksud. 3) Membedakan kata-kata yang mirip dengan ejaannya.
Artinya penulis harus bisa membedakan kata-kata yang dalam ejaannya ampir
sama sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman makna. 4) Menghindari kata-
kata ciptaan sendiri, maksudnya jangan menggunakan kata-kata ciptaan sendiri
karena kata-kata tersebut tidak ada yang mengetahi maknanya, terkecuali dalam
kalangan sendiri yang telah mempunyai kesepakatan tentang bahasa tersebut. 5)
Waspada terhadap penggunaan akhiran asing, maksudnya supaya tidak terjadi
interferensi terhadap bahasa Indonesia. 6) Kata kerja yang menggunakan kata
depan harus digunakan secara idiomatis. 7) Membedakan secara cermat kata
umum dan kata khusus, maksudnya supaya pembaca tidak memikir dua kali dalam
memahami makna. Kata khusus lebih tepat mengambarkan sesuatu daripada kata
umum. 8) Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang
khusus. 9) Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang
sudah dikenal. 10) Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

Suatu bahasa akan lebih indah dan menarik jika bahasa tersebut telah mengalami
proses penggayaan didalamnya. Penggayaan bahasa yang dimaksud ialah dimana
bahasa tersebut telah tercampur dengan unsur stilistika didalamnya khususnya
majas atau gaya bahasa. Menurut Keraf (2006:113), majas atau gaya bahasa ialah
cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa supaya bahasa terlihat imajinatif.
Maksudnya ialah majas merupakan salah satu cara pengarang dalam
mengeksploitasi bahsa sehingga bahasa yang digunakan sebagai bahan
pembangun karyanya tersebt menjadi menarik dan terlihat estetika
kebahasaannya. Sedang menurut Aminuddin (2004:76-77), gaya bahasa ialah cara
seorang pengarang menyampaikan gagasannya lewat media bahasa sehingga
mewujudkan bahas yang indah dan harmonis. Maksudnya dengan penggunaan
majas dalam bahas ayang digunakan akan memperindah bahasa tersebut. Kedua
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa majas merupakan salah satu cara
yang digunakan pengarang untuk memperindah bahasa yang digunakan untuk
membangun karyanya.

Sumardjo dan Saini K.M (1986:92), gaya ialah pribadi pengarang itu sendiri.
Maksudnya bentuk gaya bahasa yang digunakan pengarang merupakan bentuk asli
jati dirinya, bagaiman sifat pengarang tersebut dapat diketahui saat dia mengolah
suatu bahasa. Keterkaian pengarang dengan gaya bahasa memang sangat erat,
karena kepribadian pengarang akan mempunyai pengaruh besar tehadap bentuk
gaya bahasa yang akan digunakan nanti. Ada dua aliran yang terkenal berdasarkan
teori gaya tersebut (Keraf, 2006:112). 1) Aliran Platonik, menganggap style sebagai
kualitas suatu ungkapan; menurut mereka ada ungkapan yang memiliki style, ada
juga yang tidak memiliki style. 2) Aliran Aristoteles, menganggap bahwa gaya ialah
suatu kualitas yang inhern, yang ada dalam tiap ungkapan. Dengan demikian, aliran
Plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya dan ada karya yang tidak
memiliki gaya. Sebaiknya, aliran Aristoteles mengatakan bahwa semua karya
memiliki gaya, tetapi ada karya yang memiliki gaya yang tinggi ada yang rendah,
ada yang memiliki gaya yang kuat dan gaya yang lemah.
Jenis-jenis Gaya Bahasa Keraf (2006:115) menjeniskan gaya bahasa berdasarkan
dari berbagai sudut pandang.

1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa
mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu
dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan
pemakaian bahasa dalam masyarakat. Berdasarkan pilihan kata gaya bahasa dibagi
menjadi: 1) Gaya bahasa resmi, ialah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya
yang digunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan
oleh mereka yang yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan
terpelihara. 2) Gaya bahasa tak resmi, ialah yang digunakan dalam cakupan nuansa
tidak resmi, dalam cakupan bahasa nonformal. 3) Gaya bahasa percakapan, ialah
gaya bahasa yang digunakan dalam kata-kata populer dan percakapan.

2. Gaya bahasa berdasarkan nadanya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada


sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah
wacana. 1) Gaya sederhana ialah gaya yang biasanya cocok untuk memberi
instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan dan sejenisnya. 2) Gaya mulia dan
bertenaga ialah gaya yang penuh dengan vitalitas dan enersi dan biasanya
digunakan untuk menggerakkan sesuatu. 3) Gaya menengah ialah gaya yang
diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai.

3. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat Struktur sebuah kalimat dapat


dijadikan landasan untuk meciptakan gaya bahasa. Yang dimaksud dengan struktur
kalimat di sini ialah kalimat bagaimana tempat sebuah unsur kalimat yang
dipentingkan dalam kalimat tersebut.

Ulasan

Stilistika berasal dari Bahasa Inggris yaitu Style yang berarti gaya dan dari bahasa
serapan linguistiK yang berarti tata bahasa. Pada mulanya, stilistika memang
lebih terbatas pada persoalan bahasa dalam karya sastra. Namun dalam
perkembangannya, pengertian gaya juga dilihat dalam hubungannya di luar sastra.
bahasa ialah suatu hal yang memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup
manusia. Lewat bahasa, informasi untuk orang lain disampaikan. Maka dari itu
dibutuhkan suatu penggayaan didalamnya agar tercipta suatu estetika di dalam
bahasa itu sendiri. Kemudahan pemahaman akan tercapai jika dalam pemahaman
bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi tersebut telah mengalami
keragaman didalamnya.

Segala ragam bahasa pasti didalamnya tedapat unsur gaya bahasa. Berdasarkan
cakupannya gaya bahasa memliki bagian yaitu diksi (pilihan kata), struktur kalimat,
majas dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau
yang terdapat dalamsebuah karya sastra.

Gaya bahasa banyak memanfaatkan diksi atau pilihan kata untuk mencapai
keindahannya. Pemakaian kata untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat tidak
memiliki aturan khusus, terkecuali jika membuat kalimat gramatikal yang
merupakan aturan paten dalam membuat kalimat. Tujuan dari diksi ialah
memperindah dan memperjelas kalimat yang digunakan sebagai media untuk
menyampaikan informasi. Ketepatan dan kesesuaian diksi atau pilihan kata.

http://en.wikipedia.org/wiki/Stylistics_%28literature%29

Stylistics (literature)

Stylistics is the study and interpretation of texts from a linguistic perspective. As a


discipline it links literary criticism and linguistics, but has no autonomous domain of
its own. The preferred object of stylistic studies is literature, but not exlucively high
literature but also other forms of written texts such as text from the domains of
advertising, pop culture, politics or religion

Stylistics also attempts to establish principles capable of explaining the particular


choices made by individuals and social groups in their use of language, such as
socialisation, the production and reception of meaning, critical discourse analysis
and literary criticism.

Other features of stylistics include the use of dialogue, including regional accents
and peoples dialects, descriptive language, the use of grammar, such as the active
voice or passive voice, the distribution of sentence lengths, the use of particular
language registers, etc. In addition, stylistics is a distinctive term that may be used
to determine the connections between the form and effects within a particular
variety of language. Therefore, stylistics looks at what is going on within the
language; what the linguistic associations are that the style of language reveals.

Overview

The situation in which a type of language is found can usually be seen as


appropriate or inappropriate to the style of language used. A personal love letter
would probably not be a suitable location for the language of this article. However,
within the language of a romantic correspondence there may be a relationship
between the letters style and its context. It may be the authors intention to include
a particular word, phrase or sentence that not only conveys their sentiments of
affection, but also reflects the unique environment of a lovers romantic
composition. Even so, by using so-called conventional and seemingly appropriate
language within a specific context (apparently fitting words that correspond to the
situation in which they appear) there exists the possibility that this language may
lack exact meaning and fail to accurately convey the intended message from author
to reader, thereby rendering such language obsolete precisely because of its
conventionality. In addition, any writer wishing to convey their opinion in a variety of
language that they feel is proper to its context could find themselves unwittingly
conforming to a particular style, which then overshadows the content of their
writing.

Ulasan

Stilistik (sastra)

Stilistik adalah studi dan interpretasi teks dari perspektif linguistik. Sebagai suatu
disiplin itu cabang kritik sastra dan linguistik, namun tidak memiliki karakterisitk
sendiri. Objek yang dirujuk stilistik adalah sastra, tetapi tidak khusus sastra tinggi,
tetapi juga bentuk lain dari teks tertulis seperti teks dari domain iklan, budaya pop,
politik atau agama.
Stilistik juga berusaha untuk menetapkan prinsip-prinsip yang mampu menjelaskan
pilihan tertentu yang dibuat oleh individu dan kelompok sosial dalam penggunaan
bahasa, seperti sosialisasi, produksi dan penerimaan makna, analisis wacana kritis
dan kritik sastra.

Fitur lain dari stilistik termasuk penggunaan dialog, termasuk aksen regional dan
dialek masyarakat, bahasa deskriptif, penggunaan tata bahasa, seperti suara aktif
atau suara pasif, distribusi panjang kalimat, penggunaan register bahasa tertentu,
dll. Selain itu, stilistik adalah istilah khas yang dapat digunakan untuk menentukan
hubungan antara bentuk dan efek tertentu dalam berbagai bahasa. Oleh karena itu,
stilistik terlihat pada apa yang terjadi dalam bahasa, dimana asosiasi linguistik
adalah bahwa stilistik bahasa yang mengungkapkan.

Ikhtisar

Situasi di mana suatu jenis bahasa yang ditemukan biasanya dapat dilihat cocok
atau tidak dengan stilistik bahasa yang digunakan. Sebuah surat cinta pribadi
mungkin tidak akan menjadi tempat yang cocok untuk bahasa artikel ini. Namun,
dalam bahasa korespondensi romantis mungkin ada hubungan antara stilistik huruf
dan konteksnya. Ini mungkin maksud penulis untuk menyertakan kata frase, atau
kalimat tertentu yang tidak hanya menyampaikan perasaan kasih sayang mereka,
tetapi juga menunjukkan lingkungan yang spesial komposisi romantis seorang
kekasih. Meskipun demikian, dengan menggunakan bahasa konvensional dan
tampaknya tepat apa yang disebut dalam konteks tertentu (kata-kata ternyata pas
yang sesuai dengan situasi dimana mereka muncul) terdapat kemungkinan bahwa
bahasa ini mungkin kurang tepat makna dan gagal menyampaikan pesan dimaksud
dari penulis kepada pembaca, sehingga bahasa seperti usang justru karena
konvensionalitasnya. Selain itu, setiap penulis ingin menyampaikan pendapat
mereka dalam berbagai bahasa yang mereka merasa tepat konteks sehingga bisa
menemukan diri mereka tanpa disadari sesuai dengan stilistik tertentu, yang
kemudian membayangi isi tulisan mereka.

http://www.textetc.com/criticism/stylistics.html

Overview
Stylistics is a valuable if long-winded approach to criticism, and compels attention
to the poems details. Two of the three simple exercises performed here show that
the poem is deficient in structure, and needs to be radically recast. The third sheds
light on its content.

Introduction

Stylistics applies linguistics to literature in the hope of arriving at analyses which are
more broadly based, rigorous and objective. {1} The pioneers were the Prague and
Russian schools, but their approaches have been appropriated and extended in
recent years by radical theory. Stylistics can be evaluative (i.e. judge the literary
worth on stylistic criteria), but more commonly attempts to simply analyze and
describe the workings of texts which have already been selected as noteworthy on
other grounds.

Analyses can appear objective, detailed and technical, even requiring computer
assistance, but some caution is needed. Linguistics is currently a battlefield of
contending theories, with no settlement in sight. Many critics have no formal
training in linguistics, or even proper reading, and are apt to build on theories
(commonly those of Saussure or Jacobson) that are inappropriate and/or no longer
accepted. Some of the commonest terms, e.g. deep structure, foregrounding, have
little or no experimental support. {2} Linguistics has rather different objectives,
moreover: to study languages in their entirety and generality, not their use in art
forms. Stylistic excellence intelligence, originality, density and variety of verbal
devices play their part in literature, but aesthetics has long recognized that other
aspects are equally important: fidelity to experience, emotional shaping, significant
content. Stylistics may well be popular because it regards literature as simply part
of language and therefore (neglecting the aesthetic dimension) without a privileged
status, which allows the literary canon to be replaced by one more politically or
sociologically acceptable. {3}

Why then employ stylistics at all? Because form is important in poetry, and stylistics
has the largest armoury of analytical weapons. Moreover, stylistics need not be
reductive and simplistic. There is no need to embrace Jacobsons theory that poetry
is characterized by the projection of the paradigmatic axis onto the syntagmatic
one. {4} Nor accept Bradfords theory of a double spiral: {5} literature has too
richly varied a history to be fitted into such a straitjacket. Stylistics suggests why
certain devices are effective, but does not offer recipes, any more than theories of
musical harmony explains away the gifts of individual composers.

Some stylistic analysis is to be found in most types of literary criticism, and


differences between the traditional, New Criticism and Stylistics approaches are
often matters of emphasis. Style is a term of approbation in everyday use (that
woman has style, etc.), and may be so for traditional and New Criticism. But where
the first would judge a poem by reference to typical work of the period (Jacobean,
Romantic, Modernist, etc.), or according to genre, the New Criticism would probably
simply note the conventions, explain what was unclear to a modern audience, and
then pass on to a detailed analysis in terms of verbal density, complexity,
ambiguity, etc. To the Stylistic critic, however, style means simply how something is
expressed, which can be studied in all language, aesthetic and non-aesthetic. {6}

Stylistics is a very technical subject, which hardly makes for engrossing, or indeed
uncontentious, {7} reading. The treatment here is very simple: just the bare bones,
with some references cited. Under various categories the poem is analyzed in a dry
manner, the more salient indications noted, and some recommendations made in
Conclusions.

Ulasan

Ikhtisar

Stilistik adalah berharga jika pendekatan bertele-tele terhadap kritik, dan memaksa
memperhatikan detil puisi itu. Dua dari tiga latihan sederhana dilakukan di sini
menunjukkan bahwa puisi kekurangan dalam struktur, dan perlu perombakan
secara radikal.

Stilistik linguistik berlaku pada sastra dengan harapan mendapatkan analisis yang
lebih luas, cermat dan objektif. Para pelopor adalah Praha dan sekolah Rusia, tetapi
pendekatan mereka telah disesuaikan dan dikembangkan dalam beberapa tahun
terakhir oleh teori radikal. Stilistik dapat evaluatif (penilai yaitu nilai sastra kriteria
stilistik), tetapi lebih sering mencoba untuk hanya menganalisis dan
menggambarkan kerja teks-teks yang telah dipilih sebagai yang patut dicatat
dengan alasan lain.