Anda di halaman 1dari 13

PENDEKATAN MASALAH KESEHATAN

Dalam menemukan masalah kesehatan diperlukan ukuran-ukuran.


Ukuran-ukuran yang paling lazim dipakai adalah angka kematian
(mortalitas) dan angka kesakitan (morbiditas). Masalah kesehatan harus
diukur karena terbatasnya sumber daya yang tersedia sehingga sumber
daya yang ada betul-betul dipergunakan untuk mengatasi masalah
kesehatan yang penting dan memang bisa diatasi.
Ada 3 cara pendekatan yang dilakukan dalam
mengidentifikasi masalah kesehatan, yakni:
1) Pendekatan Logis
Secara logis, identifikasi masalah kesehatan dilakukan dengan
mengukur mortalitas, morbiditas dan cacat yang timbul dari penyakit-
penyakit yang ada dalam masyarakat.

2) Pendekatan Pragmatis
Pada umumnya setiap orang ingin bebas dari rasa sakit dan rasa tidak
aman yang ditimbulkan penyakit/kecelakaan. Dengan demikian ukuran
pragmatis suatu masalah gangguan kesehatan adalah gambaran upaya
masyarakat untuk memperoleh pengobatan, misalnya jumlah orang
yang datang berobat ke suatu fasilitas kesehatan.

3) Pendekatan Politis
Dalam pendekatan ini, masalah kesehatan diukur atas dasar
pendapat orang-orang penting dalam suatu masyarakat (pemerintah
atau tokoh-tokoh masyarakat).

1. Macam-macam Pendekatan Masalah Kesehatan

1
A. Pendekatan Bloom

Paradigma hidup sehat H. L Bloom menjelaskan 4 faktor utama


yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan individu /masyarakat.
Keempat factor tersebut merupakan factor determinan (penentu)
timbulnya masalah kesehatan pada seorang individu atau kelompok
masyarakat.
Genetik

Masalah kesehatan Perilaku Masyarakat


Lingkungan

Pelayanan Kesehatan

Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku individu atau


kelompok masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, politik,
fisik), faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya) dan
faktor genetic (keturunan). Keempat faktor tersebut berinterakis secara
dinamis yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat
kesehatan kelompok masyarakat. Diantara keempat faktor tersebut,
factor perilaku manusia merupakan factor determinan yang paling
besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor
lingkungan.

Faktor genetik
Faktor ini paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan
atau masyarakat . Pengaruhnya pada status kesehatan perorangan

2
terjadi secara evolutif dan paling sukar dideteksi. Faktor genetic
perlu mendapat perhatian di bidang pencegahan penyakit. Misalnya
: seorang anak lahir dari orang tua penderita DM akan mempunyai
resiko lebih tinggi dibandingkan anak yang lahir bukan dari
penderita DM. Untuk upaya pencegahan , anak yang lahir dari
penderita DM harus diberi tahu dan selalu mewaspadai factor
genetic yang diturunkan dari orangtuanya. Oleh karenanya ia harus
selalu mengatur dietnya, teratur berolah raga dan upaya
pencegahan lainnya sehingga tidak ada peluang factor genetiknya
berkembang menjadi factor resiko terjadinya DM pada dirinya.Jadi
dapat diumpamakan , genetic adalah peluru (bullet) tubuh manusia
adalah pistol (senjata), dan lingkungan/perilaku manusia adalah
pelatuknya (trigger)

Faktor pelayanan kesehatan


Ketersediaannya sarana pelayanan, tenaga kesehatan, dn pelayanan
kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat
kesehatan masyarakat. Pengetahuan dan ketrampilan petugas
kesehatan yang diimbangi dengan kelengkapn saran dan prasarana
serta dana akan menjamin kualitas pelayanan kesehatan. Pelayanan
seperti ini akan mampu mengurangi atau mengatasi masalah
kesehatan yang berkembang di suatu wilayah atau kelompok
masyarakat.

Faktor perilaku masyarakat.


Faktor ini terutama di Negara berkembang paling besar
pengaruhnya terhadap munulnya gangguan kesehatan atau masalah
kesehatan di masyarakat. Tersedianya jasa pelayanan kesehatan
(health service) tanpa disertai perubahan perilaku (peran serta)
masyarakat akan mengakibatkan masalah kesehatan tetap potensial
berkembang di masyarakat.
Faktor lingkungan.

3
Lingkungan yang terkendali, akibat sikap hidup dan perilaku
masyarakat yang baik akan dapat menekan berkembangnya
masalah kesehatan. Untuk menganalisis program kesehatan di
lapangan H.L Blum dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi
dan mengelompokkan masalah sesuai dengan factor-faktor yang
berpengaruh pada status kesehatan masyarakat

B. Pendekatan Wheel

Merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan antara


manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau
manusia) yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar
pejamu terdapat lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam 3
sektor yaitu lingkungan biologi, sosial dan fisik. Besarnya komponen-
kompenen dari roda tergantung kepada masalah penyakit tertentu yang
menjadi perhatian kita. Untuk penyakit-peyakit bawaan (herediter) inti
genetik relatif lebih besar. Untuk kondisi tertentu seperti campak, inti
genetik relatif kurang penting oleh karena keadaan kekebalan dan
sektor biologi lingkungan yang paling berperanan.

4
Pada model roda, mendorong pemisahan perincian faktor pejamu
dan lingkungan, yaitu suatu perbedaan yang berguna untuk analisa
epidemiologi.
Unsur Penyebab (agent), terdiri daripada:
Unsur penyebab biologis
Unsur penyebab nutrisi
Unsur penyebab kimiawi
Unsur penyebab fisika
Unsur penyebab psikis
Unsur Pejamu (host)
Manusia sebagai makhluk biologis, mempunyai sifat biologis:
umur, jenis kelamin, ras, keturunan, bentuk anatomis tubuh, fungsi
fisiologis, keadaan imunitas, status gizi, status kesehatan secara umum.
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai: adat, kebiasaan,
agama, hubungan keluarga, hubungan masyarakat, kebiasaan hidup

Unsur Lingkungan (Environment)


Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam
menentukan proses terjadinya interaksi antara pejamu dan agent dlaam
proses terjadinya penyakit, secara garis besar, unsur lingkungan dapat
dibagi 3:
1. Lingkungan Biologis : Segala flora dan fauna yang ada disekitar
manusia, yaitu: microorganisme yang patogen dan yang tidak patogen,
berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan
manusia, fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vektor penyakit
tertentu terutama penyakit menular.
2. Lingkungan Fisik : Udara, keadaan cuaca, geografis dan
geologis, air, unsur kimiawi lainnya, radiasi.
3. Lingkungan Sosial : Semua bentuk kehidupan sosial budaya,
ekonomi, politik, sistem organisasi, serta institusi/ peraturan yang
berlaku, pekerjaan, urbanisasi, bencana alam, perkembangan ekonomi.

Sama seperti model jaring jaring penyebab, model roda


memberikan penekanan akan perlunya mengidentifikasi faktor

5
etiologis multiplle suatu penyakit tanpa menitik beratkan pada agen
penyakit. Contoh : binatang yang menjadi pembawa (reservoir) virus
rabies lebih diperhatikan daripada virus rabies itu sendiri. Model roda
memberikan batasan yang jelas faktor penjamu dengan faktor
lingkungan, batasan ini tidak terlalu jelas dalam model jaring- jaring
penyebab kesehatan lainnya.

C. Pendekatan Segitiga Epidemiologi

Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu


penyakit yang ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan
environment.
Host atau pejamu adalah manusia yang mudah terkena atau
rentan (susceptible) terhadap suatu bibit penyakit (virus, bakteri,
parasit, jamur, dsb) yang dapat menyebabkan ia sakit. Contoh :
Penyakit campak mempunyai kecenderungan untuk menyerang
anak-anak, khususnya anak dibawah umur lima tahun. Kekebalan
terhadap campak memang sudah dibawa sejak lahir, tetapi mulai
menurun sejak usia 9 bulan. Kondisi ini menyababkan bayi
sebelum berumur 9 bulan perlu diberikan imunisasi untuk lebih
meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap virus campak.
Agent adalah faktor yang menjadi bibit penyakit yang menjadi
penyebab suatu penyakit. Penyebab penyakit ada yang bersifat
biologis, fisik, kimia, dan sosiopsikologis.

Contoh :
Yang bersifat biologis : kuman mikrobakterium tuberkulosa
menyebabkan penyakit TBC paru-paru. HIV menjadi penyebab
AIDS.
Yang bersifat fisik : sinar ultra violet dapat meningkatkan
resiko host terkena tumor kulit.
Yang bersifat kimia : nikotin dalam rokok menyebabkan kanker
paru-paru.

6
Yang bersifat sosio-psikologis : suasana kerja sehari-hari yang
selalu menegangkan akan berpengaruh pada kesehatan jiwa
karyawan.

Environment atau lingkungan adalah situasi atau kondisi di luar


host atau agent yang memudahkan interkasi antara keduanya.
Faktor ini juga dapat menjadi resiko timbulnya gangguan penyakit
pada host karena lingkungan memberikan peluang agent untuk
berkembang (breeding). Lingkungan dapat dibedakan menjadi
lingkungan biologis, fisik, kimia, dan sosial ekonomi.

Contoh :
Lingkungan biologi : di suatu wilayah (lagoon) akan
memudahkan nyamuk anopheles berkembang. Lingkungan
seperti ini akan memudahkan terjadinya penularan penyalit
malaria.
Lingkungan kimia : lysol yang dipakai membersihkan kotoran
penderita Cholera akan melemahkan kuman vibrio cholera
sehingga penularannya dapat dibatasi.
Lingkungan sosial : situasi rumah yang padat hunian (banyak
anggota keluarga) akan memudahkan penularan penyakit
scabies di antara penghuninya.
Lingkungan fisik : sinar ultra violet akan memudahkan
timbulnya kanker kulit.

Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor egen, pejamu


dan lingkungan, John Gordon menganalogikan sebagai timbangan
pengumpil (pengungkit) dengan lingkungan sebagai titik tumpunya.
Pada dasarnya selalu terjadi hubungan dan pengaruh timbal balik
antara faktor-faktor pejamu, agen dan lingkungan, yang berusaha
mencapai suatu keadaan keseimbangan. Perubahan dari keseimbangan
dapat dilihat dari contoh-contoh berikut ini.

7
Gambar segitiga epidemologi :

1.

Keterangan :
A: Agent
H: Host
E: Environment

Timbangan tersebut menggambarkan tercapainya keseimbangan,


sehingga baik agent maupun hostEtidak ada yang dirugikan dan pada
keadaan ini tedapat suasana hidup berdampingan secara damai antara
agent dan host.

2.

Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan dari kemampuan


agent untuk menginfeksi serta menimbulkan penyakit pada manusia.

3.

8
Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan peningkatan
proporsi kerentanan dari populasi manusia, misalnya karena
menurunnya imunitas dari host itu sendiri. Misalnnya pada saat musim
pancaroba, seringkali imunitas manusia itu menurun sehingga lebih
rentan terserang berbagai penyakit. Sehingga walaupun jumlah agent
normal namun dapat pula terjadi penyakit bila imunitas host sendiri
mengalami penurunan.

4.

Perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan pergeseran titik


tumpu ke arah host sehingga menggambarkan bahwa perubahan
lingkungan tersebut merangsang penyebaran agen yang menyebabkan
peningkatan kemampuan agen untuk menginfeksi. Misalnya pada
suatu desa tertentu pada awalnya memiliki sumber air yang bersih,
tetapi kemudian terjadi banjir yang membawa berbagai macam
mikroorganisme penyebab penyakit sehingga mengkontaminasi air

9
minum di desa tersebut, maka terjangkitlah wabah penyakit pada desa
tersebut oleh karena air minum yang sudah terkontaminasi.

5.

Disamping itu, perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan


perubahan kerentanan pejamu (host), sehingga terjadi pergeseran titik
tumpu ke arah agent. Keadaan ini terjadi misalnya pada perkembangan
daerah industri yang pesat menyebabkan konsentrasi zat-zat pencemar
di udara meningkatkan kerentanan (memudahkan terserang penyakit)
pada manusia, terutama infeksi saluran pernafasan.

D. Pendekatan Jaring-jaring Sebab Akibat

Merupakan salah satu dari 3 konsep dasar epidemiologi (segitiga


epidemiologi, jaring-jaring sebab akibat, roda) yang memberikan
gambaran tentang hubungan sebab akibat yang berperan dalam
terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya.
Pada model jaring-jaring sebab akibat terdapat berbagai macam
sebab; sesuatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri
sendiri melainkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan
akibat.
Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan
mengubah keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah

10
atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan. Dengan demikian
timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan cara
memotong rantai pada berbagai titik.

Dengan model jaringan sebab akibat hendaknya ditunjukkan


bahwa pengetahuan yang lengkap mengenai mekanisme-mekanisme
terjadinya penyakit tidaklah diperuntukkan bagi usaha-usaha
pemberantasan yang efektif. Oleh karena banyaknya interaksi-interaksi
ekologis maka seringkali kita dapat mengubah penyebaran penyakit
dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari interaksi manusia dengan
lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung pada penyebab
penyakit.

Kekurangan dari model ini, peneliti tidak dapat mengidentifikasi /


sulit menentukan penyebab utama. Namun dapat dilakukan
pencegahan dari berbagai arah. Sedangkan, kelebihan dari model ini,
peneliti dapat mengetahui dan mengidentifikasi faktor-faktor apa saja
yang berperan dalam timbulnya suatu penyakit / masalah kesehatan
lainnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, DR. MPH. 1988. Administrasi Kesehatan. Jakarta : Bina Rupa
Aksara

Heru, Subari, dkk. 2004. Manajemen epidemiologi. Yogyakarta : Media Pressindo

Kusnopranoto, Haryono. 1986. Kesehatan lingkungan. Jakarta: Fakultas


Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Maidin, Alimin, dr.MPH. 2010. Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan Standar


Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kota Padang. Padang : Dinas
Kesehatan Kota Padang

Muninjaya, Gde. 2004. Manajemen Kesehatan : Edisi 2. Jakarta : EGC

12
Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta

Reinke A, William. 1994. Perencanaan Kesehatan Untuk Meningkatkan


Efektifitas Manajemen. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

13