Anda di halaman 1dari 7

Sumber Historis, Sosiologis, Politis tentang Penegakan Hukum yang

Berkeadilan di Indonesia

Penegakan Hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan


moral. Penegasan ini bukanlah tidak beralasan, selama kurun waktu lebih
dari empat daSAWarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan, ketidakpastian
hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya.
Di sisi lain perjuangan serta kemampuan untuk menciptakan iklim
penegakan hukum yang berkeadilan sering kandas di tangan penguasa.
Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral
bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata
manajemen pemerintahannya yang berlandaskan hukum. Tidak ada
negara di dunia ini yang begitu luas dampak pelanggaran hukumnya
dalam struktur pemerintahannya, mulai dari tingkat pemerintahan pusat
sampai tingkat pemerintahan desa, dan merambah jauh ke dalam sendi-
sendi kehidupan masyarakat lokal yang dikenal taat dalam menegakkan
adat istiadat, etika religius yang ditandai dengan runtuhnya rasa
kebersamaan dan hilangnya rasa saling menghormati dan saling
menghargai antara sesama warga. Keberhasilan dalam hidup tidak lagi
diukur atas dasar seberapa banyak kehadiran dirinya bermanfaat bagi
lingkungan masyarakat di sekitarnya, tetapi diukur seberapa banyak ia
dapat mengumpulkan harta dan seberapa tinggi kedudukan/pangkat
dalam jabatannya. Komunikasi dibangun antara orang-orang yang
berpunya (harta dan kedudukan) dan meninggalkan komunikasi antara
sesama warga miskin dan masyarakat kelas bawah. Penegakan hukum
adalah proses yang tidak sederhana, karena di dalamnya terlibat subyek
hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-
masing, faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum
suatu bangsa. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan
tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. Dalam
kaitan dengan hal tersebut di atas maka permasalahan yang perlu
mendapat perhatian adalah langkah-langkah apa yang harus ditempuh
untuk meletakkan moral keadilan sebagai landasan penegakan hukum
yang responsif.

LANDASAN PENEGAKAN HUKUM


Kesenjangan sosial yang kian hari kian menyeruak yang muaranya
adalah terbentuknya kelas-kelas sosial (social stratifications) yang
mencabik-cabik rasa kebersamaan (social solidarity). Tidak jarang
puncaknya menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial antara strata atas
dengan strata bawah yang merupakan masalah urgensi etis maupun
praktis yang terbesar dan perlu segera diselesaikan. Sebagai ilustrasi dari
puncak ketegangan itu adalah peristiwa berdarah 2 Mei 1998 di Medan,
pembakaran toko dan rumah, mobil mewah yang diikuti dengan
penjarahan yang lebih banyak memperlihatkan sisi pelampiasan atas
kesenjangan sosial- ekonomi antara para pemodal kuat (yang dilindungi
penguasa) dengan para kaum miskin yang tidak mempunyai akses
permodalan dan akses kekuasaan. Contoh yang sederhana adalah
peristiwa pembakaran pukat harimau oleh nelayan tradisional yang
berpangkal pada ketidakadilan sosial antara nelayan tradisional dengan
pemilik modal. Instrumen hukum Keppres 39/80 telah mamasung hak-hak
nelayan tradisional dan menempatkan nelayan tradisional di bawah garis
kemiskinan yang menuntut belas kasihan antara sesamanya, tetapi kita
tak pernah menyebutnya sebagai perbudakan. Tak pelak lagi peraturan itu
telah menempatkan nelayan tradisional menjadi kriminal dan bukan tidak
mungkin peraturan itu telah menjadikan rakyat menjadi miskin, tertinggal
dalam pendidikan, kekurangan gizi, dan bahkan kematian, tetapi kita tidak
pernah menyebutnya sebagai peristiwa pembunuhan itulah contoh konkret
sebuah peraturan yang tidak menyahuti hati nurani rakyat dan tidak
menyahuti rasa keadilan, jauh dari muatan etis dan moralitas.
Pelanggaran moral, etika, hukum adalah suatu pandangan yang lazim
dan diterima apa adanya oleh warga masyarakat, tanpa mendiskusikannya
lagi dengan sesama warga. Apalagi kalau yang melakukan itu mereka
yang tergolong dalam kategori orang yang sukses dalam mengumpul
harta dan mempunyai kedudukan/pangkat yang tinggi dalam jabatannya.
Begitu jauhnya bangsa ini telah meninggalkan komitmen moral yang
seyogianya orientasi dasar adalah ke arah menciptakan perdamaian dunia
yang abadi, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan
kesejahteraan serta keadilan sosial masyarakatnya. Yang paling tragis
adalah perspektif humanitarianisme dalam gerak langkah perjuangan
ditiadakan sama sekali dan digantikan dengan praktik
dehumanitarianisme. Yang dikejar adalah pertumbuhan ekonomi,
kekuasaan politik, dan stabilitas dalam masyarakat. Padahal, abstraksi
seperti pertumbuhan, stabilitas, kekuasaan politik tidaklah dianggap
sebagai tujuan, melainkan hanya memiliki nilai sebagai sarana ke arah
kesejahteraan manusia yang lebih baik. Begitu pentingnya kita melihat
berdasarkan perspektif kemanusiaan, sampai-sampai ajaran Islam pun
menemukan, kehidupanmu itu tidak berarti apa-apa jika tidak bermanfaat
bagi manusia lain. Keindahan sebuah rumah tergantung pada kehadiran
tamunya, rumah tanpa tamu sama dengan kuburan, demikian Kahlil
Gibran penyair Arab dari Libanon menyentakkan kesadaran kita tentang
pentingnya arti kemanusiaan dan kebersamaan.
Di sana-sini dapat di saksikan pelanggaran hukum yang berskala
besar tanpa ada penyelesaian yang berarti, berita di media massa dan
tayangan di layar kaca setiap harinya menghiasi lembaran-lembaran
sejarah pelanggaran hukum yang tak kunjung dapat diselesaikan. Mulai
dari pelecehan seks, korupsi, kriminal, penggusuran sampai pada
penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran hak asasi manusia. Belum
lagi sederetan pelanggaran terhadap instrumen-instrumen kesepakatan
internasional, seperti dumping, monopoli, diskriminasi pajak impor
sebagaimana disepakati dalam GATT 94/WTO. Padahal syarat untuk
memasuki arena internasional setidak-tidaknya telah menyelesaikan
pekerjaan rumah terlebih dahulu, bila hendak memposisikan diri sebagai
pelaku dalam era kesejagatan dunia. Terdapat banyak ketidakjelasan
dalam format penegakan hukum di Indonesia sejak awal Republik ini
didirikan sampai saat ini. Secara kelembagaan penempatan Departemen
Kehakiman di bawah eksekutif, jelas sangat mengganggu kedudukan
Mahkamah Agung sebagai lembaga yudikatif yang bebas dari pengaruh
kekuasaan eksekutif.
Di sisi lain, muatan (materi hukum) substantive peraturan hukum jauh
dari nuansa moral dan keadilan. Kebijakan yang tidak jelas dalam
penyusunan materi peraturan perundang-undangan, telah mengantarkan
arah penegakan hukum pada situasi yang jauh dari cita-cita keadilan
masyarakat. Betapa tidak, hukum tidak lagi sarat dengan muatan filosofis,
padahal keabsahan dari satu peraturan perundang-undangan haruslah
memuat landasan filosofis sebagai cita-cita masyarakat, kering dari rasa
adil dan tuntutan moralitas masyarakat. Seyogianya, jika peraturan
perundang-undangan tidak menyahuti asas filosofis, Mahkamah Agung
dapat melakukan hak uji materil (judicial review trotsingen rechts), tetapi
itu tidak pernah terjadi dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia.
Selain aspek substantif dan struktural, yang perlu diperhatikan dalam
penegakan hukum ialah aspek budaya hukum. Pengakuan adanya nilai
budaya lokal yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat adalah
merupakan kenyataan yang hidup dalam keseharian masyarakat
Indonesia.Tindakan kekerasan, pelanggaran dalam bentuk kriminal,
sengketa keperdataan, pengelolaan manajemen masyarakat lokal,
sengketa hak ulayat, dan lain sebagainya kerap kali diselesaikan melalui
pola-pola sederhana tanpa harus melalui lembaga peradilan formal.
Keberterimaan masyarakat atas putusan lembaga non-formal itu cukup
memperlihatkan makna yang menggembirakan bagi terwujudnya keadilan
dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Penghormatan terhadap keputusan
bersama itu kerap kali mampu menghindari konflik yang berkepanjangan,
manakala putusan ditempuh melalui lembaga peradilan formal. Namun,
tak jarang pula kasus yang seharusnya ditempuh melalui peradilan formal,
sering kali diselesaikan dengan cara-cara masyarakat lokal tradisional.
Proses peradilan terhadap para koruptor atau seorang yang
menyalahgunakan kekuasaan atau kewenangannya selama berkuasa,
seringkali tertunda proses peradilannya, karena adanya ganjalan budaya
yang sulit untuk diterobos. Akhirnya kasus-kasus semacam itu seringkali
tak terselesaikan menurut jalur hukum formal. Budaya penegakan hukum
semacam ini, tidak saja menumbuhkan rasa kekurangpercayaan
masyarakat terhadap institusi peradilan tetapi lebih jauh telah
menciptakan suasana ketidakpastian hukum. Inilah budaya hukum yang
tidak reformis. Kejahatan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan adalah
kategori kejahatan modern dan haruslah diselesaikan melalui mekanisme
hukum modern, tidak dengan pola penyelesaian tradisional. Kejahatan
yang tergolong white color crime harus ditempuh melalui prosedur
hukum formal demi untuk menciptakan tujuan preventif hukum pidana
yakni melalui publikasi yang luas terhadap masyarakat. Hanya dengan
mekanisme ini kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan
formal dapat segera diyakinkan. Memang sandungan budaya dan
persinggungan politis untuk penegakan hukum merupakan sesuatu yang
tak dapat terelakkan. Namun, kearifan para aparat penegak hukum
senantiasa dituntut agar dapat menyahuti hati nurani rakyat sebagai
pencerminan dari moral bangsa. Ada perubahan yang terjadi dalam
masyarakat sebagai suatu kesadaran baru saat ini yakni: kaum lemah dan
tak berkuasa tidak lagi bersedia menerima kemiskinan dan ketidakadilan
secara pasif, dan suara amarah mereka mengganggu serta mengancam
pihak-pihak yang bermaksud mempertahankan status quo. Pada saat
ketidakadilan menjadi tak tertanggungkan lagi, kekerasan akan
merajalela.

Peraturan-peraturan hukum, baik yang bersifat publik menyangkut


kepentingan umum maupun yang bersifat privat menyangkut kepentingan
pribadi, harus dilaksanakan dan ditegakkan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apabila segala tindakan
pemerintah atau aparatur berwajib menjalankan tugas sesuai dengan hukum
atau dilandasi oleh hukum yang berlaku, maka negara tersebut disebut
negara hukum. Jadi, negara hukum adalah negara yang setiap kegiatan
penyelenggaraan pemerintahannya didasarkan atas hukum yang berlaku di
negara tersebut.

Hukum bertujuan untuk mengatur kehidupan dan ketertiban


masyarakat. Untuk mewujudkan masyarakat yang tertib, maka hukum harus
dilaksanakan atau ditegakkan secara konsekuen. Apa yang tertera dalam
peraturan hukum seyogianya dapat terwujud dalam pelaksanaannya di
masyarakat. Dalam hal ini, penegakan hukum pada dasarnya bertujuan
untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum dalam masyarakat
sehingga masyarakat merasa memperoleh perlindungan akan hak-haknya.

Gustav Radbruch, seorang ahli filsafat Jerman (dalam Sudikno


Mertokusumo, 1986:130), menyatakan bahwa untuk menegakkan hukum
ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan yaitu : (1) Gerechtigheit, atau
unsur keadilan; (2) Zeckmaessigkeit, atau unsure kemanfaatan; dan (3)
Sicherheit, atau unsur kepastian.

1. Keadilan
Keadilan merupakan unsur yang harus diperhatikan dalam
menegakkan hukum. Artinya bahwa dalam pelaksanaan hukum para
aparat penegak hukum harus bersikap adil. Pelaksanaan hukum yang
tidak adil akan mengakibatkan keresahan masyarakat, sehingga
wibawa hukum dan aparatnya akan luntur di masyarakat. Apabila
masyarakat tidak peduli terhadap hukum, maka ketertiban dan
ketentraman masyarakat akan terancam yang pada akhirnya akan
mengganggu stabilitas nasional.

2. Kemanfaatan
Selain unsur keadilan, para aparatur penegak hukum dalam
menjalankan tugasnya harus mempertimbangkan agar proses
penegakan hukum dan pengambilan keputusan memiliki manfaat bagi
masyarakat. Hukum harus bermanfaat bagi manusia. Oleh karena itu,
pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat
atau kegunaan bagi manusia.

3. Kepastian hokum
Unsur ketiga dari penegakan hukum adalah kepastian hukum,
artinya penegakan hukum pada hakikatnya adalah perlindungan
hukum terhadap tindakan sewenang-wenang. Adanya kepastian hukum
memungkinkan seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang
diharapkan. Misalnya, seseorang yang melanggar hukum akan dituntut
pertanggungjawaban atas perbuatannya itu melalui proses pengadilan,
dan apabila terbukti bersalah akan dihukum. Oleh karena itu, adanya
kepastian hukum sangat penting. Orang tidak akan mengetahui apa
yang harus diperbuat bila tanpa kepastian hukum sehingga akhirnya
akan timbul keresahan.

Dalam rangka menegakkan hukum, aparatur penegak hukum


harus menunaikan tugas sesuai dengan tuntutannya yang ada dalam
hukum material dan hukum formal. Pertama, hukum material adalah
hukum yang memuat peraturan-peraturan yang mengatur
kepentingan-kepentingan dan hubungan-hubungan yang berupa
perintah-perintah dan larangan-larangan. Contohnya: untuk Hukum
Pidana terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP),
untuk Hukum Perdata terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUHPER). Dalam hukum material telah ditentukan aturan atau
ketentuan hukuman bagi orang yang melakukan tindakan hukum.
Dalam hukum material juga dimuat tentang jenis-jenis hukuman dan
ancaman hukuman terhadap tindakan melawan hukum.

Kedua, hukum formal atau disebut juga hukum acara yaitu


peraturan hukum yang mengatur tentang cara bagaimana
mempertahankan dan menjalankan peraturan hokum material.
Contohnya: hukum acara pidana yang diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan hukum acara Perdata.
Melalui hukum acara inilah hokum material dapat dijalankan atau
dimanfaatkan. Tanpa adanya hukum acara, maka hokum material tidak
dapat berfungsi.
Para aparatur penegak hukum dapat memproses siapa pun yang
melakukan perbuatan melawan hukum melalui proses pengadilan serta
memberi putusan (vonis). Dengan kata lain, hukum acara berfungsi
untuk memproses dan menyelesaikan masalah yang memenuhi
norma-norma larangan hukum material melalui suatu proses
pengadilan dengan berpedoman pada peraturan hukum acara. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa hukum acara berfungsi sebagai
sarana untuk menegakkan hukum material. Hukum acara hanya
digunakan dalam keadaan tertentu yaitu dalam hal hukum material
atau kewenangan yang oleh hukum material diberikan kepada yang
berhak dan perlu dipertahankan.

Agar masyarakat patuh dan menghormati hukum, maka aparat


hukum harus menegakkan hukum dengan jujur tanpa pilih kasih dan
demi Keadilan Berdasarkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu,
aparat penegak hukum hendaknya memberikan penyuluhan-
penyuluhan hukum secara intensif dan persuasif sehingga kesadaran
hukum dan kepatuhan masyarakat terhadap hukum semakin
meningkat.

Dalam upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang


bersumber pada Pancasila dan UUD NRI 1945, bukan hanya diperlukan
pembaharuan materi hukum, tetapi yang lebih penting adalah
pembinaan aparatur hukumnya sebagai pelaksana dan penegak
hukum. Di negara Indonesia, pemerintah bukan hanya harus tunduk
dan menjalankan hukum, tetapi juga harus aktif memberikan
penyuluhan hukum kepada segenap masyarakat, agar masyarakat
semakin sadar hukum. Dengan cara demikian, akan terbentuk perilaku
warga negara yang menjunjung tinggi hukum serta taat pada hukum.

Untuk menjalankan hukum sebagaimana mestinya, maka


dibentuk beberapa lembaga aparat penegak hukum, yaitu antara lain:
Kepolisian yang berfungsi utama sebagai lembaga penyidik; Kejaksaan
yang fungsi utamanya sebagai lembaga penuntut; Kehakiman yang
berfungsi sebagai lembaga pemutus/pengadilan; dan lembaga
Penasehat atau member bantuan hukum.

1. Kepolisian
Kepolisian negara ialah alat negara penegak hukum yang
terutama bertugas memelihara keamanan dan ketertiban di dalam
negeri. Dalam kaitannya dengan hukum, khususnya Hukum Acara
Pidana, Kepolisian negara bertindak sebagai penyelidik dan penyidik.
Menurut Pasal 4 UU nomor 8 tahun 1981 tentang Undang-Undang
Hukum Acara Pidana (KUHAP), Penyelidik adalah setiap pejabat polisi
negara RI. Penyelidik mempunyai wewenang:
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak Pidana;
b. mencari keterangan dan barang bukti;
c. menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri;
d. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung
jawab.
Atas perintah penyidik, penyelidik dapat melakukan tindakan
berupa:
a. penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeladahan dan
penyitaan;
b. pemeriksaan dan penyitaan surat;
c. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
d. membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik.
Setelah itu, penyelidik berwewenang membuat dan
menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan tersebut di atas
kepada penyidik. Selain selaku penyelidik, polisi bertindak pula sebagai
penyidik. Menurut Pasal 6 UU No. 8/1981 yang bertindak sebagai
penyidik yaitu :