Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke khadirat Tuhan Yang MahaEsa, karena atas berkat dan karuniaNyalah
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan
Posisi.

Tugas ini diajukan untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan
Persalinan, Bayi Baru Lahri, dan kegawatdaruratannya. Tak lupa kami mengucapkan terima
kasih kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini, baik secara langsung
maupun tidak langsung.

Kami menyadari bahwa tugas merangkum ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran yang berguna bagi kami untuk kedepannya. Tugas ini dapat
bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan kami selaku penulis pada khususnya.

Bandung, September 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................................i
DAFTAR ISI.ii

BAB I PENDAHULUA

1.1 Latar Belakang......................................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................................1

1.3 Tujuan Makalah....................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................2

2.1 Kelainan Puncak Kepala.......................................................................................................2

2.2 Dahi...6

2.3 Muka.......10

2.4 Persistent Oksipito Posterior.......16

BAB III PENUTUP.....19

Kesimpulan dan Saran19

BAGIAN AKHIR
Daftar Pustaka...20
ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gangguan terhadap jalannya proses persalinan dapat disebabkan oleh berbagai factor,
antara lain dengan adanya kelainan presentasi, posisi dan perkembangan janin intra uterine.
Diagnosa distosia akibat janin bukan hanya disebabkan oleh janin dengan ukuran yang
besar, janin dengan ukuran normal namun dengan kelainan pada presentasi intra uterin juga
tidak jarang menyebabkan gangguan proses persalinan.
Saat ini tidak ada metode yang akurat untuk meramalkan secara pasti tentang adanya.
Disproporsi Fetopelvik baik secara klinis maupun menggunakan alat radiologis oleh sebab
itu tenaga kesehatan sangat perlu mengetahui bagaimana mendeteksi secara dini penyulit-
penyulit yang akan terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin, dan janin. Terutama kasus malposisi
dan malpesentasi, agar tenaga kesehatan khususnya tenaga bidan dapat melakukan
penanganan yang tepat.
Gangguan terhadap jalannya proses persalinan dapat disebabkan oleh berbagai factor,
anatara lain dengan adanya kelainan presentasi, posisi dan perkembangan janin dengan
ukuran normal intrauterine.
Saat ini tidak ada metode yang akurat untuk meramalkan secara pasti tentang adanya
kelainan janin baik secara klinis maupun menggunakan alat radiologis.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja dan definisi dari kelainan-kelainan presentasi dan posisi?
2. Apa Etiologi, Patofisiologi, Diagnosis, dan Penanganan dari kelainan presentasi dan
posisi?
C. Tujuan
Tujuan penulis makalah ini adalah agar lebih memahami penyulit-penyulit yang sering
terjadi di dalam proses persalinan, salah satunya adalah mal presentasi
1.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kelaian Puncak Kepala


1. Definisi
Presentasi puncak kepala adalah keadaan dimana puncak kepala merupakan
bagian terendah, hal ini terjadi apabila derajat defleksinya ringan. (Wiknjosastro,2002).
Presentasi puncak kepala adalah presentasi kepala dengan defleksi/ekstensi minimal
dengan sinsiput merupakan bagian terendah.
Presentasi puncak kepala adalah bagian terbawah janin yaitu puncak kepala, pada
pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah, dan UUB sudah berputar ke depan
(Muchtar, 2002).
Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara yang
kemudian berubah menjadi presentasi belakang kepala. Mekanisme persalinannya hampir
sama dengan posisi oksipitalis posterior persistens, sehingga keduanya sering kali
dikacaukan satu dengan yang lainnya. Perbedaannya ialah : pada presentasi puncak
kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal, sedangkan lingkaran kepala yang
melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran ()
2. Etiologi
Menurut statistik hal ini terjadi pada 1% dari seluruh persalinan. Letak defleksi
ringan dalam buku synopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi (2002) biasanya disebabkan:
a. Kelainan panggul (panggul picak)
b. Kepala bentuknya bundar
c. Anak kecil atau mati
d. Kerusakan dasar panggul
2.
Sedangkan sebab lainnya yaitu :
Penyebabnya keadaan keadaan yang memaksa terjadi defleksi kepala atau
keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala.
a. Sering ditemukan pada janin besar atau panggul sempit.
b. Multiparitas, perut gantung
c. Anensefalus, tumor leher bagian depan
3. Patofisiologis
Pada kehamilan normal, kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada
dalam keadaan fleksi tetapi pada kasus ini fleksi tidak terjadi sehingga kepala dalam
keadaan defleksi, jadi yang melewati jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis
dengan titik perputaran yang berada di bawah simfisis ialah glabella (Sarwono,2005).
Dengan posisi seperti itu mengakibatkan terjadinya partus lama dan robekan jalan
lahir yang lebih luas selain itu karena partus lama dan moulage yang hebat maka
mortalitas perinatal agak tinggi (9%) (Moctar,2002).
4. Predisposisi/Faktor Resiko
a. Multiparitas
b. Perut Gantung
c. Kelaian anatomi panggul/ panggul ibu yang sempit
d. Sikap janin: tidak fleksi tetapi extensi
5. Diagnosis
Pada pemeriksaan dalam didapati UUB paling rendah dan berputar ke depan atau
sesudah anak lahir caput terdapat di daerah UUB. Diagnosis kedudukan : Presentasi puncak
kepala
a. Pemeriksaan abdominal
- Sumbu panjang lain sejajar dengan sumbu panjang ibu
- Di atas panggul teraba kepala
- Punggung terdapat pada satu sisi, bagian-bagian kecil terdapat pada sisi yang berlawanan
- Di fundus uteri teraba bokong
3.
- Oleh karena tidak ada fleksi maupun ekstensi maka tidak teraba dengan jelas adanya
tonjolan kepala pada sisi yang satu maupun sisi lainnya.
b. Askultasi
- Denyut jantung janin terdengar paling keras di kuadran bawah perut ibu, pada sisi yang
sama dengan punggung janin
c. Pemeriksaan Vaginam
- Sutura sagitalis umumnya teraba pada diameter transversa panggul,
- Kedua ubun-ubun sama-sama dengan mudah dapat diraba dan dikenal. Keduanya sama
tinggi dalam panggul.
d. Pemeriksaan Sinar X
- Pemeriksaan radiologis membantu dalam menegakkan diagnosis kedudukan dan menilai
panggul.
6. Komplikasi
a. Ibu
- Terjadinya partus lama atau robekan jalan lahir yang lebih luas
b. Janin
- Moulage hebat, maka mortalitas anak agak tinggi (9%)
7. Mekanisme Persalinan
Mekanisme persalinan pada presentasi puncak adalah sebagai berikut :
a. Bagian terendah : puncak kepala
b. Putaran paksi dalam UUB berputar ke simfisis
c. Kelahiran kepala : UUB lahir, kemudian dengan glabella (batas rambut dahi) sebagai
hipomoglion, kepala fleksi sehingga lahirlah oksiput melalui perineum.
Lingkaran kepala yang melewati panggul adalah cirkum fronto-occiput sebesar 34
cm, karenanya partus akan berlangsung lebih lamadibanding pada persalinan normal
dimana diameter yang melewati panggul adalah circum suboksipitobregmatikus (32 cm).
4.
Kepala masuk panggul paling sering pada diameter transversa PAP. Kepala turun
perlahan-lahan, dengan ubun-ubun kecil dan dahi sama tingginya (tidak ada fleksi maupun
ekstensi) dan dengan sutura sagitalis pada diameter transversa panggul, sampai puncak
kepala mencapai dasar panggul. Sampai di sini ada beberapa kemungkinan
penyelesaiannya:
i. Paling sering kepala mengadakan fleksi, UUK berputar ke depan, dan
kelahiran terjadi dengan kedudukan occipitoanterior
ii. Kepala mungkin tertahan pada diameter transverse panggul. Diperlukan
pertolongan operatif untuk deep transverse arrest
iii. Kepala mungkin berputar ke belakang dengan atau tanpa fleksi. UUK menuju
ke lengkung sacrum dan dahi ke pubis. Mekanismenya adalah kedudukan
UUK belakang menetap. Kelahiran dapat spontan atau dengan cara operatif.
iv. Kadang-kadang sekali kelahiran dapat terjadi dengan sutura sagitalis pada
diameter transversa
v. Kadang-kadang kepala mengadakan ekstensi, dan mekanismenya menjadi
prsentasi muka atau dahi.
8. Pentalaksanaan
a.Usahakan lahir pervaginam karena kira-kira 75 % bisa lahir spontan
b. Bila ada indikasi ditolong dengan vakum/forsep biasanya anak yang lahir
di dapati caput daerah VVB
c.Episiotomi
d. Tindakan Bidan
Idealnya pada setiap kelainan presentasi dan posisi dari kepala janin,
tindakan bidan adalah merujuk. Kecuali keadaan janin kecil, panggul normal,
jarak rumah dan tempat rujukan yang jauh, maka bidan dapat menolong pasien
dengan melakukan inform concent terlebih dahulu. Pada kasus presentasi puncak
kepala bidan perlu melakukan observasi yang lebih ketat kepada ibu, janin dan
kemajuan persalinan.

5.
Apabila dalam batas normal maka bidan bisa memberikan pertolongan
pada ibu dengan keadaan presentasi puncak kepala, tetapi keadaan panggul ibu
normal, janin tidak besar, alat resusitasi harus siap dan persiapan persalinan yang
lainnya.

B. Presentasi Dahi
1. Definisi
Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi
maksimal dan defleksi maksimal, sehingga dahi merupakan bagian yang terendah. Pada
umumnya presentasi dahi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara, dan sebagian
besar akan berubah menjadi presentasi muka atau presentasi belakang kepala. Angka kejadian
presentasi dahi kurang lebih satu diantara 400 persalinan.
Posisi ini biasanya akan berubah menjadi letak muka/letak belakang kepala.Kepala
memasuki panggul dengan dahi melintang/miring pada waktu putar paksi dalam, dahi
memutar kedepan depan dan berada di bawah arkus pubis, kemudian terjadi flexi sehingga
belakang kepala terlahir melewati perinerum lalu terjadi deflexi sehingga lahirlah dagu.
2. Etiologi
Sebab terjadinya presentasi dahi pada dasarnya sama dengan sebab terjadinya
presentasi muka yaitu keadaan-keadaan yang memaksa terjadinya defleksi kepala atau
keadaan-keadaan yang memaksa terjadinya fleksi kepala. Semua presentasi muka biasanya
melewati fase presentasi dahi lebih dahulu.

6.
3. Patofisiologis
Karena kepala turun melalui pintu atas panggul dengan sirkumferensia
maksilloparietalis (35cm) yang lebih besar daripada lingkar pintu atas panggul maka janin
dengan berat dan besar normal tidak bisa lahir secara pervaginam kecuali janin yang kecil
masih mungkin lahir spontan. Hal itu bisa mengakibatkan persalinan lama, robekan jalan
lahir yang lebih luas dan kematian perinatal.
4. Predisposisi/Faktor Resiko
Panggul sempit
Janin Besar
Multiparitas
Kelainan janin seperti anansefalus
Kematian janin dalam Rahim
5. Tanda dan Gejala
Panggul sempit
Bayi besar
Kelainan janin
Bagian-bagian yang menumbung.
Kematian janin intra uterin
6. Diagnosis
Pada permulaan persalinan diagnosis presentasi dahi sulit ditegakkan.
Pemeriksaan luar memberikan hasil seperti pada presentasi muka, tetapi bagian belakang
kepala tidak seberapa menonjol. Denyut jantung janin jauh lebih jelas terdengar di bagian
dada, yaitu bagian yang sama dengan bagian-bagian kecil.

7.
Kelainan presentasi ini harus dicurigai apabila pada persalian kepala janin tidak
dapat turun kedalam rongga panggul pada wanita yang pada persalinan-persalinan
sebelumnya tidak pernah mengalami kesulitan. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba sutura
frontalis, yang bila diikuti pada ujung yang satu diraba ubun-ubun besar dan pada ujung lain
teraba pangkal hidung dan lingkar orbita. Pada presentasi dahi ini mulut dan dagu tidak
dapat diraba.
7. Mekanisme Persalinan
Kepala masuk melalui pintu atas panggul dengan sirkumferensia maksiloparietalis
serta sutura frontalis melintang atau miring. Setelah terjadi moulage, dan ukuran terbesar
kepala telah melalui pintu atas panggul,dagu memutar ke depan. Sesudah dagu berada
didepan, dengan fosa kanina sebagai hipomoklion, terjadi fleksi sehingga ubun-ubun besar
dan belakang kepala lahir melewati perineum. Kemudian terjadi defleksi, sehingga mulut
dan dagu lahir dibawah simfisis. Yang menghalangi presentasi dahi berubah menjadi
presentasi muka biasanya karena terjadi moulage dn kaput seksudanium yang besar pada
dahi waktu kepla memasuki panggul, sehingga sulit terjadi penambahan defleksi.
Karena besarnya ukuran ini, kepala baru dapat masuk kedalam rongga panggul
setelah terjasi molage untuk menyesuaikan diri pada besar dan bentuk pintu atas panggul.
Persalinan membutuhkan waktu lama dan hanya 15% berlangsung spontan. Angka kematian
perinatal lebih dari 20%, sedangkan persalinan pervaginam berakibat perlukaan luas pada
perineum dan jalan lahir lainnya. Pada janin kecil atau panggul luas persalinan pervaginam
biasanya berlangsung dengan mudah.
Pada janin aterm dengan ukuran normal, persalinan pervaginam sulit berlangsung
oleh karena engagemen tidak dapat terjadi sampai adanya molase hebat yang memperpendek
diameter occipitomentalis atau sampai terjadinya fleksi sempurna atau ekstensi menjadi
presentasi muka.

8.
Persalinan pervaginam pada presentasi dahi yang persisten hanya dapat berlangsung
bila terdapat molase berlebihan sehingga bentuk kepala berubah. Molase berlebihan akan
menyebabkan caput didaerah dahi sehingga palpasi dahi menjadi sulit.
Pada presentasi dahi yang bersifat sementara (penempatan dahi) , progonosis
tergantung pada presentasi akhir. Bila presentasi dahi sudah bersifat menetap, prognosis
persalinan pervaginam sangat buruk kecuali bila janin kecil atau jalan lahir sangat luas.

8. Komplikasi
Janin yang kecil masih mungkin lahir spontan, tetapi janin dengan berat dan besar
normal tidak dapat lahir spontan pervaginam. Hal ini disebabkan karena kepala turu melalui
pintu atas panggul dengan sirkumferensia maksiloparietalis(36cm) yang lebih besar daripada
lingkaran pintu atas panggul. Prognosisnya :
a. Ibu
Partus menjadi lebih lama dan lebih sulit
Bisa terjadi robekan yang hebat
Ruptura uteri
b. Janin
Mortalitas lebih tinggi

9. Penatalaksanan
a. Tindakan Bidan
Idealnya pada setiap kelainan presentasi dan posisi dari kepala janin,
tindakan bidan adalah merujuk. Kecuali keadaan janin kecil, panggul normal,
jarak rumah dan tempat rujukan yang jauh, maka bidan dapat menolong pasien
dengan melakukan inform concent terlebih dahulu. Pada Presentasi dahi kepala
berada diantara fleksi maksimal dan defleksi. Bidan tidak memiliki kewenangan
dalam menolong persalinan dengan presentasi dahi, tindakan bidan disini adalah
merujuk ke pelayanan kesehatan.

9.
Bidan di rumah sakit bisa berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya
dalam menolong partus dengan presentasi dahi pada janin yang kecil, panggul
normal, keadaan ibu, janin dan kemajuan persalinan baik maka bidan bisa
melakukan kolaborasi melahirkan janin dengan presentasi dahi seperti melahirkan
janin dengan presentasi muka. Tetapi peralatan untuk resusitasi harus sudah
dipersiapkan terlebih dahulu.
Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal, tidak akan dapat
lahir spontan pervaginam, sehingga harus dilahirkan secara seksio sesaria.
Pada janin yang kecil dan panggul yang luas pada garis besarnya sikap
dalam menghadapi persalinan presentasi dahi sama dengan sikap menghadapi
persalinan presentasi muka. Bila persalinan menunjukkan kemajuan, tidak perlu
dilakukan tindakan.
Demikian pula bila harapan presentasi dahi dapat berubah menjadi
presentasi belakang kepala atau presentasi muka. Jika pada akhir kala I kepala
belum masuk ke dalam rongga panggul, dapat diusahakan dengan mengubah
presentasi dengan perasat Thorn, tetapi jika tidak berhasil, sebaiknya dilakukan
seksio sesaria. Meskipun kepala telah masuk ke rongga panggul, tetapi bila kala II
tidak mengalami kemajuan sebaiknya juga dilakukan seksio sesaria. Bayi yang
lahir dalam presentasi dahi menunjukkan kaput seksudanium yang besar pada
dahi serta moulage kepala yang hebat.

C. Presentasi Muka
1. Definisi
Presentai muka ialah keadaan dimana kepala dalam kedudukan defleksi
maksimal, sehingga oksiput tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian
terendah menghadap kebawah. Presentasi muka dikatakan primer, apabila sudah terjadi
sejak masa kehamilan, dan dikatakan sekunder bila baru terjadi pada waktu persalinan.

10.
2. Etiologi
Sebab-sebab presentasi muka sangat banyak dan pada umumnya berasal dari
setiap factor yang menyebabkan defleksi atau menghalangi fleksi kepala. Karena itu,
posisi ekstensi kepala lebih sering terjadi pada panggul sempit atau pada bayi yang sangat
besar. Insiden penyempitan pintu atas panggul yang tinggi di samping bayi yang besar
harus diingat ketika mempertimbangkan pengelolaan presentasi kepala.
Pada wanita multipara, perut yang menggangtung merupakan factor predisposisi
lain bagi presentasi muka. Keadaan tersebut menyebabkan punggung bayi menggantung
ke depan atau ke arah lateral, sering dengan arah yang sama seperti ditunjukkan oleh
oksiput, sehingga menambah ekstensi vertebra servikalis dan torakalis.
Pada kasus-kasus yang luar biasa, pembesaran leher yang mencolok atau lilitan
tali pusat di leher dapat menyebabkan ekstensi. Janin anenchephalus pada umumnya
mempunyai presentasi muka karena kesalahan perkembangan kranium.
3. Patofisiologis
Pada umumnya persalinan pada presentasi muka berlangsung tanpa kesulitan. Hal
ini dapat dijelaskan karena kepala masuk ke dalam panggul dengan sirkumferensia
trakeloparietal yang sedikit lebih besar dari pada sirkumferensia suboksipitobregmatika.
Tetapi kesulitan dapat terjadi karena adanya kesempitan panggul dan janin besar yang
merupakan penyebab terjadinya presentasi muka karena kepala menagalami defleksi.
4. Predisposisi/Faktor Resiko
Presentasi muka terjadi pabila sikap janin ekstensi maksimal sehingga oksiput
mendekat ke arah punggung janin dan dagu menjadi bagian presentasinya.faktor
predisposisi yang meningkatkan kejadian presentasi muka adalah malformasi janin (0,9
%),berat badan lahir < 1.500 g (0,71%),polihidramnion (0,63%),postmaturitas (0,18
%),dan multiparitas (0,16 %).berbeda dengan presentasi dahi,presentasi muka masih
dapat di lahirkan vaginal apabila posisi dagunya di anterior.

11.
5. Tanda dan Gejala
Penyebab pada presentasi wajah tidak diketahui pasti, akan tetapi ada banyak hal
yang bisa dikaitkan dengan ini. Pada 40% kejadian dikarenakan kurangnya kontraksi
pada uterus. Pada wanita yang multipara, abdomen yang menggantung memungkinkan
menjadi predisposisi presentasi wajah.Pada beberapa keadaan dapat pula disebabkan
karena keadaan berikut:
- Tumor leher janin
- Lilitan talipusat
- Janin anensepalus
- Kesempitan panggul dengan janin yang besar
6. Diagnosis
Meskipun pemeriksaan abdomen dapat memperkirakan kemungkinan presentasi
muka, diagnosa klinisnya harus ditentukan pemeriksaan pervaginam. Melalui
pemeriksaan pervaginam, gambaran muka yang dapat dibedakan adalah mulut serta
hidung, tulang-tulang pipi dan sebagian tulang orbita.
Kita dapat keliru membedakan presentasi bokong dengan presentasi muka. Anus
dapat keliru dengan mulut dan tuberositasiskii keliru dengan prominensia zigomatikus
(tonjolan tulang pipi). Anus bayi harus berada satu garis lurus dengan tuberositas iskii,
anus tidak menghisap dan biasanya keluar mekonium, sedangkan mulut bayi dengan
keduatonjolan pipi membentuk sudut-sudut sebuah segitiga dan mulut bayi bisa
menghisap. Hasil pemeriksaan radiografi menunjukan kepala bayi dalam
posisi hiperektensi dan tulang-tulang muka yang berada pada atau sedikit di bawah pintu
atas panggul merupakan gambaran yang cukup khas.
7. Mekanisme Persalian
Presentasi muka jarang ditemukan di atas pintu atas panggul. Pada umumnya
presentasi dahi dapat berubah menjadi presentasi muka setelah terjadi ekstensi kepala
lebih lanjut pada saat kepala turun melewati panggul.

12.
Mekanisme persalinan pada kasus ini terdiri dari beberapa gerakan utama, yaitu :
penurunan kepala, putar paksi dalam, fleksi, serta gerakan tambahan seperti ekstensi dan
putar paksi luar.Penurunan disebabkan oleh faktor-faktor yang sama seperti presentasi
verteks. Ekstensi terjadi akibat hubungan badan bayi dengan defleksi kepala, yang
berubah menjadi poros dua lengan dimana lengan yang lebih panjang menjulur dari
kondilus oksipitalis ke oksiput. Bila dijumpai ada hambatan, oksiput harus didorong ke
arah punggung bayi sementara dagu turun.
Tujuan putar paksi dalam pada presentasi muka adalah membuat dagu berada di
bawah symphisis pubis. Persalinan normal tak dapat diselesaikan dengan cara lain kecuali
bila kepala bayi kecil. Hanya dengan cara ini, leher cenderung berada di permukaan
posterior symphisis pubis. Jika dagu langsung memutar ke arah posterior, leher yang
relatif pendek tak dapat terentang pada permukaan anterior sakrum yang panjangnya
sekitar 12 cm.
Oleh sebab itu, kelahiran kepala jelas tidak mungkin terjadi, kecuali bila bahu
telah masuk panggul pada saat yang sama, yaitu suatu kejadian yang baru bisa terjadi
kalau bayi sangat kecil atau sudah mengalami maserasi. Putar paksi dalam pada
presentasi muka merupakan akibat faktor-faktor yang saam seperti pada presentasi
verteks.
Setelah rotasi anterior dan penurunan, bagian dagu dan mulut akan terlihat pada
vulva, permukaan bawah dagu menekan symphisis dan kepala dapat dilahirkan dengan
fleksi kepala. Hidung, mata, dahi, dan oksiput secara berturut-tururt tampak di atas margo
anterior perineum. Setelah kepala lahir, oksiput menggantung ke belakang ke arah anus.
Dalam waktu singkat, dagu mengadakan putar paksi luar ke arah sisi di mana bagian
dagu mula-mula menghadap, dan kemudian kedua belah bahu dilahirkan seperti pada
presentasi verteks.
Sering oedema mengubah bentuk muka sehingga dapat mengacaukan gambaran
bayi dan menyebabkan kesalahan diagnosis presentasi bokong. Pada saat yang sama,
kepala mengadakan moulage yang ditandai oleh bertambah pajangnya diameter mento
oksipitalis kepala.

13.
8. Komplikasi
1) Persalinan Macet
Wajah tidak seperti vertex, tidak mengalami moulage.Oleh karena itu, kontraksi
minor pelvis sudah dapat menyebabkan persalinan macet.Pada posisi mentoposterior
persisten, wajah terjepit dan diperlukan tindakan seksio sesaria.
2) Prolaps Tali Pusat
Prolapse tali pusat lebih sering terjasi jika ketuban pecah karena wajah
merupakan bagian presentasi janin yang tidak sesuai. Pemeriksaan vagina harus
dilakukan untuk mencegah terjadinya hal tersebut.
c. Memar Pada Wajah
Wajah bayi selalu memar dan bengkak pada saat lahir, dengan edema pada
kelopak mata dan bibir. Kepala memanjang dan bayi akan berbaring denga posisi kepala
ekstensi. Edema akan hilang dalam 1-2 hari dan memar biasanya akan sembuh dalam
seminggu.
d. Perdarahan Serebral
Tidak adanya moulage pada tulang wajah dapat menyebabkan perdarahan
intracranial akibat kompresi berlebihan tengkorak wajah atau kompresi ke arah
belakang pada moulage.
e. Trauma Maternal
Laserasi perineum yang luas dapat terjadi pada pelahiran karena besarnya
diameter submentovertikal dan biparietal yang mendistensi vagina dan
perineum.Terdapat peningkatan insiden pelahiran denganoperasi, baik dengan forcep
maupun seksio sesaria dan keduanya meningkatkan morbiditas maternal (Fraser, Diane
M., 2009).
9. Penatalaksanan
Sering terjadi partus lama. Pada dagu anterior kemungkinan persalinan dengan
terjadinya fleksi. Pada presentasi muka dengan dagu posterior akan terjadi kesulitan
penurunan karena kepala dalam keadaan defleksi maksimal.

14.
Posisi dagu anterior:
a. Bila pebukaan lengkap:
1. Lahirkan dengan peralinan spontan pervaginam
2. Bila kemajuan persalinan lambat lakukan oksitosin drip
3. Bila penurunan kurang lancar, lakukan forceps
b. Bila pembukaan belum lengkap:
1. Tidak didapatkan tanda obstruksi, lakukan oksitosin drip. Lakukan
evaluasi persalinan sama dengan presentasi vertex
Posisi dagu posterior:
a. Bila pembukaan lengkap atau belum lengkap, lakukan seksio sesarea
b. Bila janin mati lakukan kraniotomi
10. Tindakan Bidan
Idealnya pada setiap kelainan presentasi dan posisi dari kepala janin, tindakan
bidan adalah merujuk. Kecuali keadaan janin kecil, panggul normal, jarak rumah dan
tempat rujukan yang jauh, maka bidan dapat menolong pasien dengan melakukan inform
concent terlebih dahulu. Bidan praktek mandiri tidak memiliki kewenangan dalam
menolong persalinan dengan presentasi muka, maka tindakan bidan disini adalah merujuk
pasien. Dirumah sakit bidan bisa melakukan tugasnya dengan kolaborasi bersama tenaga
kesehatan lain, tetapi apabila tafsiran berat janin kecil, panggul normal atau luas, kondisi
ibu, janin dan kemajuan persalinan normal, maka bidan tetap melakukan pemantauan
yang lebih ketat dan biasanya bisa lahir per-vaginam. Bidan harus mempersiapkan alat
resusitasi. Tetapi secsio cesaria merupakan pilihan yang terbaik untuk presentasi muka
ini.

15.
D. Persistent Oksipito Posterior
1. Definisi
Pada persalinan presentasi belakang kepala, kepala janin turun melalui pintu atas
panggul dengan sutura sagitalis melintang atau miring, sehingga UUK dapat berada di
kiri melintang, kiri depan, kanan depan, dan di depan. Dalam keadaan fleksi, bagian
kepala yang pertama mencapai dasar panggul adalah oksiput. Oksiput akan memutar ke
depan ke dasar panggul dengan muskulus levator ani membentuk ruang yang lebih luas di
depan sehingga member tempat yang lebih sesuai bagi oksiput. Pada kurang dari 10 %
keadaan,kadang-kadang ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan sehingga tetap di
belakang. Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persistens. (Sarwono, 2008)
2. Patofisiologis
Salah satu penyebab terjadinya POPP adalah kesulitan dalam penyesuain kepala
dalam usaha penysuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul, misalnya pada
panggul dengan diameter anteroposterior lebih panjang daripada diameter transversal
seperti pada panggul Anthropoid, atau segmen depan yang menyempit seperti pada
panggul Android.
Maka UUK akan mengalami kesulitan memutar ke depan. Sebab-sebab lain
seperti otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau kepala janin yang
kecil dan bulat sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin untuk memutar ke
depan. (Sarwono, 2008)
3. Predisposisi/Faktor Resiko
- Multiparitas
- Perut Gantung
- Kelaian anatomi panggul/ panggul ibu yang sempit

16.
4. Diagnosis
Diagnosa posisi oksiput posterior persistens dapat ditegakkan dengan penemuan
hasil pemeriksaan :
a. Pada pemeriksaan abdomen yaitu :
o Bagian bawah perut mendatar
o Ekstremitas janin teraba anterior
o DJJ terdengar di samping
b. Pada pemeriksaan vagina yaitu :
o Presentasi kepala
o Sutura sagitalis berada pada diameter antero posterior rongga pelvis
o UUK dekat sacrum
o UUB mudah teraba di anterior jika kepala dalam keadaa defleksi
5. Komplikasi
a.Ibu
o Partus lama
o Robekan Jalan Lahir
b. Janin
o Mortalitas pada perinatal Meningkat
6. Mekanisme Persalian
Bila hubungan antara panggul dan janin cukup longgar,persalinan dengan POPP
dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama. Kepala janin akan
lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai berikut :
Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar (UUB) berada di bawah
simpisis maka UUB tersebut menjadi hipomoklion sehingga lahirlah oksiput melalui
perineum yang diikuti oleh bagian kepala lainnya.
Kelahiran bayi dengan UUK di belakang menyebabkan regangan yang besar pada
vagina dan perineum. Hal ini disebabkan kepala yang sudah dalam keadaan fleksi
maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi.

17.
Sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia
frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia suboksipito
bregmatika. Keadaan ini dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan perineum yang
luas.
7. Penatalaksanan
Pada persalinan dapat terjadi robekan perineum yang tidak teratur atau ekstensi
dari episiotomi. Bila persalinan memanjang:
Periksa ketuban. Bila ketuan intak, pecahka ketuban
Bila penurunan kepala lebih dari 3/5 diatas pintu atas panggul (PAP) atau diatas
-2, lakukan seksio sesarea
Bila pebukaan serviks belum lengkap dan tidak ada tanda obstruksi, berikan
rangsangan dengan oksitosin drip
Bila pembukaan serviks lengkap dan tidak ada kemajuan pada fase pengeluaran,
ulangi apakah terdapat suatu kemungkinan adanya obstruksi. Bila tidak ada tanda
obstruksi, berikan oksitosin drip
Bila pembukaan lengkap dan kepala masuk sampai tidak kurang dari 1/5 atau (0),
lakukan ekstraksi vakum atau forceps
Bila ada tanda obstruksi atau gawat janin lakukan operasi seksio sesarea
8. Tindakan Bidan
Idealnya pada setiap kelainan presentasi dan posisi dari kepala janin, tindakan bidan
adalah merujuk. Kecuali keadaan janin kecil, panggul normal, jarak rumah dan tempat
rujukan yang jauh, maka bidan dapat menolong pasien dengan melakukan inform concent
terlebih dahulu. Tetapi apabila bidan praktek mandiri, menemukan kasus ini maka tindkan
bidan adalah merujuk pasien.

18.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bersadarkan pemaparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa adanya kelaianan
Malposisi dan Malpresentasi dapat mengganggu terjadi persalinan, yaitu dapat
mengakibatkan partus macet, dan kematian perinatal. Oleh sebab itu tenaga kesehatan
terkhusus bidan sangat penting mengetahui bagaimana itu Malposisi dan Malpresentasi,
termasuk Etiologi, patofisiolog, diagnosis, dan penanganannya. Agar supaya penanganan
yang tepat dapat diberikan dengan baik dan hal-hal yang buruk yang merugikan kedua
belah pihak dapat diatasi.

B. Saran
Sekiranya para pembaca makalah ini dapat mengerti tentang apa yang telah
dipaparkan penulis khususnya tenaga bidan dan mengaplikasikannya.

19.
DAFTAR PUSTAKA

- Winkjosastro, Hanifa, 2006. Ilmu kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo: Jakarta.
- Rukiyah Ai Yeyeh. 2010.Asuhan Kebidanan 4 Patologi Kebidanan. Jakarta:Trans Info
media
- Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.2009.Jakarta:
PT.Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
- Martohoesodo, Seto. 1971. Kompedium. Bandung: Ricopy.

20.
Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II
Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi

Disusun Oleh:

Astri Oktafiani (DK 15001)

Dedek Sintia Sipayung (DK 15003)

Diah Rodiah (Dk 15004 )

Dyah Mayuni (DK 15005)

Erna Oktafiani Marbun (DK 15006)

Firly Pratiwi (DK 15008)

Ghea Alviolita K (DK 15009)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMMANUEL BANDUNG


2015-2015