Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PAPER

BASE FLOW

Disusun Oleh

Kelompok : 5

Ketua : Kevin Alvaisha Matondang 2012-21-034

Anggota : Abu Khanifah 2012-21-050

Asep Ferdinand Sihombing 2012-21-041

Ganda Surahman 2012-21-005

M. Yasin 2012-21-035

Nario Richi Lorensio Sipayung 2012-21-015

STT PLN JAKARTA

2013/ 2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari
atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan
transpirasi. Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi
tersebut dapat berjalan secara terus menerus. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai
presipitasi dalam bentuk hujan air ataupun hujan salju. Pada perjalanan menuju bumi
beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang
kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah,
siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda :

Gambar 1.1 Siklus Hidrologi

2
Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb.
kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan.
Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang
selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.

Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-
celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak
akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah
permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.

Air Permukaan - Air bergerak di atas permukaan tanah dekat dengan aliran utama
dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran
permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada
daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai
utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju
laut.

Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan
sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan
berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen
siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Jumlah air di bumi
secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya. Tempat
terbesar terjadi di laut.

B. Rumusan Masalah

Dalam hal ini terdapat beberapa rumusan masalah sebagai batasan batasan dari masalah
yang akan disampaikan, diantaranya :

1. Apakah pengertian dari aliran air bawah tanah atau Base Flow ?
2. Bagaimanakah proses adanya aliran air bawah tanah atau Base Flow ?
3. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi aliran air bawah tanah atau Base Flow ?
4. Apakah pengaruh yang diterima oleh lingkungan sekitar dari adanya aliran air bawah
tanah atau Base Flow

3
BAB II

ISI

A. Pembahasan Teori

Base Flow adalah aliran air yang terjadi di bawah tanah atau keluaran dari equiper
air tanah yang dihasilkan dari air perkolasi vertikal melalui profil tanah ke air tanah, dan
ditopang oleh aliran perlahan- lahan dari zona aerasi (zone of aeration) pada daerah miring.

Gambar 2.1 Aliran Air Bawah Tanah

Dalam hal ini Base Flow merupakan proses penting dalam siklus hidrologi adapun
proses terbentuknya dari Base Flow tersebut dimulai dari air laut, sungai, waduk, dan
danau menguap (evaporasi). Ditambah tumbuh-tumbuhan yang menguap (transpirasi)
naik keatas berkumpul menjadi awan karena adanya perubahan suhu maka air yang sudah
menjadi awan kemudian berubah lagi menjadi titik titik air atau hujan yang kemudian jatuh
ke bumi. Air yang jatuh atau hujan ada yang jatuh langsung ke laut, sungai, waduk, dan
danau, ada juga yang jatuh ke tumbuh-tumbuhan dan ada juga yang jatuh kedalam tanah
yang dimana semua air yang turun atau hujan akan bermuara ke laut, sungai, danau dan

5
waduk. Dalam hal ini Base Flow adalah air hujan yang jatuh kedalam tanah, dimana air
hujan ini masuk melalui permukaan tanah, karena banyaknya air yang masuk ke tanah
sehingga terjadi aliran dalam tanah atau Base Flow, dari sinilah awal proses aliran bawah
tanah atau Base Flow itu bermula, namun hampir semua air tanah dapat dianggap sebagai
bagian dari siklus hidrologi, termasuk air permukaan dan air atmosfir. Sejumlah kecil air
tanah yang berasal dari sumber lain dapat pula masuk kedalam daur tersebut seperti air
connate, air connate adalah air yang terperangkap dalam rongga batuan sedimen pada saat
diendapkan lalu ada juga yang disebut dengan air juvenil, yaitu air yang berasal dari
magma gunung berapi atau kosmik yang bercampur dengan air terestik dan walau dalam
jumlah sedikit jenis air tersebut masuk kedalam aliran air tanah.
Base Flow memiliki peran penting dalam siklus hidrologi atau proses air, oleh karena
itu objek yang berperan penting adalah air. Air adalah faktor yang utama dalam siklus
hidrologi maupun dalam Base Flow, sehingga jika tidak ada air maka tidak ada siklus
hidrologi dan Base Flow. Dan dikarenakan sumber terbesar dari air tanah ialah air yang
berasal dari siklus hidrologi yaitu air yang berasal dari hujan, sehingga curah hujan yang
menjadi faktor terbesar dari sumber air yang dibutuhkan suatu aliran air bawah tanah.
Tidak hanya air, ada juga yang mempengaruhi aliran air tanah, diantaranya adalah batuan-
batuan yang ada di dalam aliran itu sendiri. Karena air tanah berada dalam formasi batuan
geologi yang tembus air (permeable) yang dinamakan akuifer, yaitu formasi-formasi
batuan yang mempunyai struktur yang memungkinkan adanya gerakan air melaluinya
dalam kondisi medan (field condition) biasa. Sebaliknya formasi batuan yang sama sekali
tidak tertembus oleh air (impermeable) dinamakan aquiclude. Formasi batuan tersebut
mengandung air, teteapi tidak memungkinkan adanya gerakan air yang melaluinya, sebagai
contoh air dalam tanah liat. Ada juga Aquifuge adalah formasi batuan kedap air yang tidak
mengandung atau mengalirkan air, dan batuan yang yang termasuk dalam ini adalah batuan
granit yang keras. Dan juga jika suatu lapisan yang kedap yang mengalasi sebuah
penghantar dan lapisan itu tersingkap di permukaan, maka air tanah dapat muncul di
permukaan pada jalur rembasan atau sebagai mata air.
Bagian batuan yang tidak terisi oleh bagian padatnya (butirnya) akan diisi oleh air
tanah. Ruang tersebut dinamakan rongga-rongga atau juga pori-pori. Karena rongga-
rongga tersebut dapat bekerja sebagai pipa aliran air tanah, maka rongga-rongga tersebut
ditandai oleh besarnya, bentuknya, ketidakaturannya (irregularity) dan distribusinya.

6
Rongga-rongga primer terbentuk selama proses geologi yang didapatkan dalam
pembentukan batuan beku dan batuan sedimen. Rongga-rongga sekunder terjadi setelah
batuan terbentuk ; sebagai contoh joints (kekar pada batuan), fractures (rekahan pada
batuan), lubang-lubang yang dibuat oleh binatang atau tumbuh-tumbuhan. Dilihat dari
besarnya rongga tersebut dapat di klarifikasikan sebagai kapiler, sub kapiler, dan super
kapiler. Tergantung kepada hubungan rongga-rongga tersebut dapat di golongkan dengan
rongga berhubungan dan tertutup.

Gambar 2.2 Joints dan Fractures

Porositas batuan tanah merupakan ukuran rongga-rongga yang terdapat di dalamnya,


yaitu sebagai pembandingan antara ruang kosong suatu bahan dengan volume batuan itu
sendiri, dimana ruang kosong itu akan diisi oleh air. Ini dinyatakan dalam persentasi antara
ruang-ruang kosong terhadap volume massa. Jika n merupakan porositas, maka

Dengan w = volume air yang diperlukan untuk mengisi semua lubang-lubang pori
V = volume total batuan atau tanah

7
Berikut adalah tabel mengenai nilai porositas suatu lapisan yang ada di bawah tanah.

Tabel 2.1 Porositas dan permeabilitas lapisan.

Porositas Porositas Koefisien


(%) efektif permeabilitas
(%)
Lapisan lempung 45-50 5-10
10-4-10-5
Lapisan silt 35-45 5-8
Alluvium Lapisan pasir 30-35 20-25
Lapisan pasir dan 10-1-10-2
25-30 15-20
kerikil
Lapisan lempung 50-60 3-5
10-5-10-6
Lapisan silt 40-50 5-10
Dilluvium Lapisan pasir 35-40 15-20
Lapisan pasir dan 10-2-10-3
30-35 10-20
kerikil
Neo- Lapisan batu lumpur 55-65 3-5 10-5-10-6
tersier Lapisan batu pasir 40-50 5-10 10-3-10-4
Lapisan tufa 30-65 3-10 10-3-10-6

Dan berikut adalah contoh porositas pada suatu lapisan batuan

Gambar 2.3 Porositas pada batuan

8
B. Studi Kasus

Dalam hal ini Base Flow sangat andil melakukan peran sebagai perantara air yang
akan bermuara ke laut, sungai, danau, dan waduk. Kondisi hidrologis daerah pengaliran
sungai yang mengalami perubahan (menjadi kritis) berpengaruh terhadap keseimbangan
antara besarnya curah hujan dengan peresapan air kedalam tanah. Limpasan air permukaan
(surface runoff) bertambah besar sehingga memperbesar debit di sungai dan intensitas
banjir bertambah pula. Berkurangnya air hujan yang meresap ke dalam tanah menyebabkan
air tanah yang membentuk aliran dasar (base flow) pada sungai berkurang pula. Peristiwa
ini terjadi pada musim kemarau dimana jumlah air sungai yang tersedia tersebut lebih kecil
dari jumlah yang dibutuhkan oleh manusia, dan timbulah kekeringan (drought). Masalah
ini menjadi semakin berat berkembang seiring jumlah air yang dibutuhkan cenderung
meningkat dan dilain pihak kondisi hulu daerah pengaliran sungai cenderung semakin
rusak.
Oleh karena itu Base Flow juga memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitar
misalnya pada daerah rawan kekeringan di Kabupaten Kendal, dimana pada daerah
tersebut memiliki masalah terhadap Base Flow atau aliran air dalam tanah yang
kekurangan air sehingga berdampak langsung kepada tanah yang menjadi kering. Berikut
adalah data beberapa daerah yang mengalami kekeringan akibat dari menipisnya air yang
berada di aliran bawah tanah atau Base Flow di Kabupaten Kendal.

Tabel 2.2 Daerah rawan kekeringan di Kabupaten Kendal (www.kendalkab.go.id, 2010)

9
Berdasarkan data daerah yang mengalami masalah kekeringan pada dasarnya
disebabkan oleh iklim, dimana iklim sangat mempengaruhi siklus hidrologi, sehingga pada
musim kemarau terjadi penurunan intensitas air, maka terjadi gangguan pada siklus
hidrologi. Pada musim kemarau intensitas curah hujan juga berkurang dan hal ini juga
menyebabkan berkurangnya jumlah intensitas air pada daerah tersebut baik itu air di
permukaan tanah, maupun aliran di bawah tanah atau Base Flow. Hal ini yang
menyebabkan daerah tersebut kekeringan karena tidak adanya air yang masuk atau
melewati daerah tersebut yang seharusnya dialiri air permukaan tanah, dan juga aliran air
yang berada di bawah tanah di daerah atau Base Flow.
Dan menurut data yang ada bahwa Kondisi hidrogeologis di daerah tersebut berupa
daerah Bukan CAT (Cekungan Air Tanah) yang menyebabkan semua air hujan akan
menjadi air permukaan dan aliran antara, dengan tidak adanya bangunan air yang
menampung limpasan air permukaan maupun aliran antara dari infiltrasi air hujan, maka
besar kemungkinan dimusim penghujan akan terjadi banjir dan ketika musim kemarau
terjadi kekeringan.

Gambar 2.4 Salah Satu Contoh Kekeringan Tanah

10
Berdasarkan identifikasi masalah sebagaimana yang telah dikemukakan, maka
perumusan masalah yang diteliti dalam studi ini adalah bagaimana cara mengoptimalkan
potensi sumber daya air yang ada untuk menanggulangi masalah potensi kekeringan dan
banjir, sehingga dengan kondisi tersebut baik secara teoritis maupun fakta penunjang di
lapangan, maka perlu dipertimbangkan adanya konstruksi bendungan sebagai salah satu
solusi bangunan air yang dapat menampung air limpasan ketika musim hujan dan
menjadikannya sebagai cadangan air ketika musim kemarau. Selain untuk mengatasi
masalah kekeringan, bendungan tersebut juga diharapkan mampu menjadi salah satu
bangunan yang berfungsi sebagai pengendali banjir.

Gambar 2.4 Peta CAT daerah Kabupaten Kendal

11
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari pembahasan tentang diatas dapat disimpulkan bahwa :

Dalam siklus hidrologi masing masing memiliki tugas yang penting dan saling
berhubungan.
Siklus Hidrologi memiliki peran yang sangat penting bagi lingkungan.
Base Flow merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam siklus hidrologi.
Batu- batuan dan tanah sangat mempengaruhi sistem kerja Base Flow, dimana itu meliputi
jenis dan susunan geologisnya.

12