Anda di halaman 1dari 27

Karya Tulis Ilmiah

2016 Calon Mahasiswa Berprestasi 2016

Fantastic FourS : Upaya Revitalisasi Bahasa


Daerah yang Terancam Punah Akibat
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

HABIB IKHWANUDIN : 130511100137

PRODI SASTRA INGGRIS


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

Bismillah
[Type the company name]
1/1/2016
ii
LEMBAR PENGESAHAN

Karya tulis ini yang berjudul Fantastic FourS: Upaya Revitalisasi Bahasa
Daerah yang Terancam Punah Akibat ASEAN Economic Community yang
disusun oleh Habib Ikhwanudin telah disahkan dan disetujui oleh Dosen
Pembimbing dan Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan.

Bangkalan, 11 April 2016

Disusun Oleh:

Habib Ikhwanudin
NIM.130511100137

Mengesahkan, Disetujui Oleh,


Wakil Rektor III Kemahasiswaaan Dosen Pendamping

H.Boedi Mustiko,SH.,M.Hum Eko Sulistyo Kusumo MC, S.S., M.M., MBA., M.HUM
NIP.195810011988111001 NIDN.

i
LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Habib ikhwanudin
Tempat Tanggal Lahir : Tuban, 01 Juli 1994
Program Studi : Sastra Inggris
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya
Perguruan Tinggi : Universitas Trunojoyo Maduraa
Judul Karya Ilmiah : Fantastic FourS; Upaya Revitalisasi Bahasa Daerah
yang terancam punah akibat ASEAN Economic
Community (MEA)
Dengan ini menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya sampaikan pada
kegiatan Pemilihan Calon Mahasiswa Beprestasi Tingkat Nasional 2016 ini
adalah merupakan karya saya sendiri dan bukan merupakan plagiasi. Apabila
dikemudian hari ditemukan bahwa Karya Tulis ini berupa plagiasi atau bukan
karya saya sendiri, maka saya bersedia menerima sanksi dalam bentuk pembatalan
predikat sebagai Mahasasiwa Beprestasi 2016.
Bangkalan, 11 April 2016
Yang menyatakan,

HABIB IKHWANUDIN
NIM.130511100137

ii
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan yang Maha Esa, karena berkat
rahmat, hidayah, dan maunan-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan karya
tulis ini dengan judul Fantastic FourS: Upaya Revitalisasi Bahasa Daerah yang
Terancam Punah Akibat Mayarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dibuat dalam
rangka pemenuhan syarat untuk ikut serta seleksi calon mahasiswa berprestasi
2016 ini dengan harapan yang terbaik. Sehingga saya ingin berterimahkasi
kepada :

1. Dosen Pembimbing
2. Kedua Orang Tua
3. Pihak yang telah membantu suksesnya pembuatan karya tulis ini.

Sebagai manusia yang tidak luput akan kesalahan dan kekurangan. Begitupun
dengan ide gagasan dan penyelesaian karya tulis ini, yang saya rasa masih banyak
kesalahan dan kekurangan baik dalam bentuk tulisan amapun isi sistematikanya.
Oleh sebab itu, saya berharap saran dan kritik yang lebih baik dan mendukung
pembaca terhadap karya tulis ini. Saya berharap semoga karya tulis ini bisa
bermanfaat dan memberikan ilmu pengetahuan dalam penanggulan masalah
tersebut di Indonesia.

Bankalan, 11 April 2016

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Sampul i
Halaman Pengesahan ii
Halaman Pernyataan iii
Kata Pengantar iv
Daftar Isi v
Ringkasan vi
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Gagasan Penyeselaian Masalah 2
1.4 Tujuan dan Manfaat 3
1.5 Metode 3
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Bahasa Daerah di Indonesia 4
2.2 Kebijakan Pemerintah 5
2.3 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 6
BAB III Analisis dan Sintasis
3.1 Analisis Bahasa Daerah di Indonesia 8
3.2 Faktor-faktor Kepunahan Bahasa Daerah Di Indonesia 10
3.3 Fantastic FourS sebagai Solusi 13
3.4 Implementasi Fantastic FourS 14
BAB IV Simpulan dan Rekomendasi
4.1 Simpulan 19
4.2 Rekomendasi 19
Daftar Pustaka 20

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Bahasa-Bahasa yang Terancam Punah (Endangered Languages)


8
di Tanah Papua.
Tabel 2. Pola kebertahanan dan pergesran beberapa Bahasa Daerah di
11
Indonesia berdasarkan penelitian.

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sistem Language Bank 15

Gambar 2. Sistem Role of Company 16

vi
SUMMARY

The status of vernacular language in Indonesia was properly the caused danger
endured by the ASEAN Economic Community. The goverment policy does not
give a solution for that problem. The results of the study by the Indonesian
Institute of Sciences (LIPI) found, in fact, that the vernacular language in
Indonesia is far from extinction. In their study, there were a hundred vernacular
language has been gone in the surface of culture in Indonesia. On the otherhand,
Indonsia is a multi-cultural country in the world with more than 746 vernacular
languages in the entire islands. (Soure; Daily Journal Asia)

The research of vernacular language by ecologists revealed that Indonesia has


about 707 local languages spoken by approximately 221 million people. The
experts also predict language will be half of the world's languages will be extinct.
In Indonesia, according to language experts Moseley (2010) in his book entitled
"Atlas of the World's Language in Danger", there are 146 languages are
endangered and 12 languages have become extinct.

The factor of influences why vernacular language in Indonesia are being in danger
from extinction are included in the low-user language, new language (i.e
international language), economical factors, and etc. According to the Summer
Institute of Linguistics stated that there are strongly twelev factors whihc cause
language can be lost. Then, only Several factors are more siginificantly
happenened, the following are, the presence of new or certain foreign languages
on a regular basis in a diverse cultural background, lack of government policy,
and the intrusion of economic exploitation, and as well as there was a pressure to
the majority language to the minority language. These factors could be associated
with the presence of the ASEAN Economic Community (AEC) by 2015 become
the most significant factor, because the language of the minority-language area in
quantity will be displaced by the language of the majority of other foreign
languages. Thus, the above factors associated with the implementation of ASEAN
Economic Community (AEC) in 2015 have triggered a catastrophe and signs of
emergency for the languages of ethnic minorities in Indonesia, namely the
regional languages which have become the nation's identity and pride as a nation

vii
multicultural in the world. Therefore, there needs to be a special policy on the
issue.

Efforts establishment of programs and policies implemented by the


Indonesian Institute of Sciences (LIPI) and the Social and Cultural Research
Center (PMB) on the handling of the problem of language extinction proved that
the program has not given a better impact on the tradition of preservation
(protection) is accurate. However, the program will prove if there is an accurate
map of the vitality or life style especially regional languages for revitalization and
preservation of local languages measurable and targeted at giving importance
scale.

Policy response above problems is Fantastic Fours (four fantastic step), which is
an idea solution for the preservation and revitalization of local languages are
threatened with extinction due to the presence of the economics community
ASEAN (MEA). The following four steps: First, the banks of local language
(language bank) is a step to manage, accommodate and collect data of vernacular
language. Second, the role of company to the local language (role of company) is
a step in the company's product branding and promoting by using of regional
languages. Third, the national local language day (national day vernacular
language) is a fundraising day to relive the national vernacular. Fourth, local
language media (language media) is the activation of the role of media in the form
of social media, radio, print or television media in promoting regional languages.

Outcomes of these measures are the implementation of active and continue the
rescue and development of regional languages in Indonesia are carried out by
governments, agencies, companies or institutions, and communities. Institutions
that can take advantage of, included, government institutions such as the Agency
for Improvement and Control Language Language Board Ministry of National
Education, Ministry of Social Affairs, Social and Cultural Research Center
(P2KK) Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Kemendikbud, National
Development Planning Agency; NGOs, and the public.

viii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era globalisasi yang semakin berkembang ini Indonesia dalam wacana


dunia memiliki berbagai macam bahasa daerah yang hadir di tengah-
tengah bahasa Indonesia dan bahasa asing tertentu. Dalam hal ini bahasa
daerah menjadi bahasa yang rentan untuk terkikis oleh bahasa yang lebih
kuat dalam bertahan, sehingga akan ada kemungkinan terjadi gejala
kepunahan akibat penutur bahasa daerah yang semakin menyusut setiap
waktunya oleh bahasa Indonesia dan bahasa internasional. Oleh karena itu
bahasa daerah memerlukan perhatian tertentu untuk tumbuh dan
berkembang.

Dalam pidato pengukuhan guru besar di Universitas Negeri Jakarta


dengan judul Kepunahan Bahasa Daerah karena Kehadiran Bahasa
Indonesia dan Bahasa Inggris serta Upaya Penyelamatannya, 22 Mei
2007, Arief Rachman memetakan kepunahan bahasa daerah di Indonesia
sebagai berikut. Dari lebih 50 bahasa daerah di Kalimantan, satu di
antaranya terancam punah. Di Sumatera, dari 13 bahasa daerah yang ada,
dua di antaranya terancam punah dan satu lainnya sudah punah. Namun, di
Jawa tidak ada bahasa daerah yang terancam punah. Adapun di Sulawesi
dari 110 bahasa yang ada, 36 bahasa terancam punah dan 1 sudah punah,
di Maluku dari 80 bahasa yang ada 22 terancam punah dan 11 sudah
punah, di daerah Timor, Flores, Bima dan Sumba dari 50 bahasa yang ada,
8 bahasa terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271
bahasa, 56 bahasa terancam punah. Dikatakan lebih lanjut bahwa data
yang diberikan oleh Frans Rumbrawer dari Universitas Cendrawasih pada
tahun 2006 lebih mengejutkan lagi, yaitu pada kasus tanah Papua, 9

1
bahasa inyatakan telah punah,32 bahasa segera punah, dan 208 bahasa
terancam punah (Berita Depkominfo, 22 Mei 2007).1
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah diselenggarakan
pada akhir tahun 2015 lalu akan memberikan efek yang sangat dominan
dan signifikan dalam penyusutan penggunaan bahasa daerah sebab pada
dasarnya bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa daerah tapi bahasa
Indonesia atau bahasa asing lainya. Selain itu, akibat adanya Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) ancaman punahnya bahasa daerah akan semakin
jelas terjadi. Pertama, bahasa formal pelaku MEA akan cenderung
menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing tertentu. Kedua, produk
yang dipromosikan sudah pasti bukanlah berbahasa daerah. Oleh sebab itu
upaya untuk revitalisasi bahasa daerah yang terancam punah oleh berbagai
sektor akan menjadi solusi utama sebagai protektor bahasa daerah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, muncul rumusan masalah berupa bagaimana
penutur bahasa daerah menyusut akibat hadirnya Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) yang lebih banyak menuturkan bahasa nasional dan bahasa
asing tertentu?
1.3 Gagasan Penyelesaian Masalah
Fantastic FourS (empat langkah fantastik) adalah sebuah ide yang valid
dan lengkap dalam upaya revitalisasi bahasa daerah yang terancam punah
akibat hadirnya Masyarakat Ekonomi ASEA (MEA) melalui empat langkah:
Pertama, bank bahasa daerah (language bank) adalah langkah untuk
mengelolah, menampung dan mengumpulkan data-data bahasa daerah. Kedua,
media bahasa daerah (language media) adalah aktifasi peran media yang
berupa media sosial, radio, media cetak atau televisi dalam mempromosikan
bahasa daerah. Ketiga, hari bahasa daerah nasional (national vernacular
language day) adalah penggalangan hari untuk menghidupkan bahasa daerah
secara nasional. Keempat, perusahaan bahasa daerah (role of company)

1
Jurnal Nasib Bahasa Daerah di Era Globalisasi: peluang dan tantangan oleh Prof. Dr. H.
Muhammad Darwis, M.S.

2
adalah langkah perusahaan untuk labeling dan promoting product
menggunakan bahasa daerah. Luaran dari langkah-langkah ini adalah
implementasi aktif dan continue dalam penyelamatan dan pengembangan
bahasa daerah di Indonesia.
1.4 Tujuan dan Maanfaat
A. Tujuan
Mengatasi permasalahan ancaman kepunahan bahasa daerah akibat adanya
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk mempertahankan dan
melestarikan bahasa daerah sebagai identitas bangsa di Indonesia.
B. Manfaat
Manfaat akademis dari gagasan ini adalah sebuah kajian dari berbagai
diisiplin bidang ilmu pengetahuan, baik kajian pelestarian dan pertahanan
bahasa, maupun pembanguan dan pemberdayaan sosial. Maanfaat praktis
dari gagasan ini adalah rekomendasi untuk menjaga dan melestarikan
bahasa daerah oleh berbagai pihak baik masyarakat, pemerintah, dan
bahkan pemuda-pemuda di Indonesia. Sekaligus sebagai daya dongkrak
bagi instansi lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan dan hak
tertentu untuk upaya revitalisasi dan konservasi bahasa daerah tersebut.
1.5 Metode Studi Pustaka
Topik pada gagasan karya tulis ini dipilih berdasarkan hasil telaah riset dan
pencarian data informasi yang telah menyebar dari surat kabar, televisi, radio,
serta media sosial. Data-data pengembangan dan penulisan ide gagasan karya
tulis tentang topik ini diperoleh dengan studi jurnal, laporan hasil penelitian,
serta halaman web resmi baik skala regional, nasional maupun internasional.

BAB 2
TIJAUAN PUSTAKA

3
2.1 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Pemberlakuan kesepakatan oleh negara-negara se-Asia berupa


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015 sudah pasti
akan memberikan dampak yang signifakan. Di saat itu, semua negara yang
termasuk kedalam kawasan Asia Tenggara, tanpa terkecuali negara
Indonesia, akan memberikan akses seluas-luasnya dalam hal ekonomi dan
sumber daya manusia tanpa ada syarat tertentu. Dengan demikian,
berbagai bentuk produk dan jasa bahkan tenaga kerja akan bebas
berimigrasi.

Dengan adanya sistem tersebut, berbagai macam bentuk kerja sama


interaksi antar negara akan tercipta, dan akan memutuskan sebuah
kebijakan dalam penggunaan bahasa internasional yang bisa dipahami
bersama. Akibatnya ancaman terhadap bahasa daerah akan jelas tak
terelakan. Pertama, hadirnya nama-nama produk baru berbahasa nasional
maupun internasional. Kedua, sistem pemasaran yang dilakukan dari
berbagai media informasi akan jelas bukan bahasa daerah. ketiga,
masyarakat akan terpengaruh modernisasi yang berpijak pada bahasa baru.
Oleh sebab itu, pemerintah sebagai pihak tertinggi harus menciptakan
kebijakan baru sebagai pemerhati bahasa daerah dalam upaya menjaga dan
melestarikan bahasa daerah di Indonesia.

4
BAB 3
ANALISIS DAN SINTESIS
3.1 Analisis Bahasa Daerah di Indonesia
Pada dasarnya Indonesia secara umum memiliki dua kelompok rumpun
bahasa besar. Pertama, Austronesia adalah kelompok bahasa yang
tergolong ke dalam rumpun Melayu. Kedua, Non-Austronesia adalah
kelompok bahasa yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Trans New
Guinea. Kemudian dari pengelompokan dua tersebut, munculah beragam
bahasa etnik minoritas atau bahasa daerah di Indonesia.

Bahasa Hamap di Kabupaten Alor (Provinsi Nusa Tenggara Timur)


misalnya, yang penuturnya diperkirakan tinggal sekitar 1000 orang, dapat
dimasukkan ke dalam kategori pertama berdasarkan klasifikasi yang
dikemukakan oleh Wurm di atas, yakni sebagai bahasa yang berpotensi

5
terancam punah (potentially endangered language) ( Katubi 2005). Di
Indonesia kasus pada bahasa-bahasa di Tanah Papua sebagaimana yang
dapat diperhatikan dalam tabel berikut :
Tabel 1. Bahasa-Bahasa yang Terancam Punah (Endangered
Languages) di Tanah Papua.

Nama Nama Nama

No Bahasa Daerah No Bahasa Daerah No Bahasa Daerah


1 Biak 71 Kwesten 141 Bonggo
2 Yali 72 Asmat 142 Ndom
3 Sentani 73 Isirawa 143 Sekar
4 Meibrat 74 Pom
Yaosakor 144 Eritai
5 Moni 75 Sobei 145 Tarunggare
6 Awyu 76 Marau 146 Kaure
7 Ngalum 77 Dera 147 Kawerawec
8 Damai 78 Nafri 148 Airoran
9 Hatam 79 Salawati 149 Awyi
10 Mantion 80 Orya 150 Betaf
11 Ketengban 81 Kamberau 151 Fayu
12 Meyakh 82 Nipsan 152 Manem
13 Mandobo 83 Kwerba 153 Papasena
14 Nduga 84 Bauzi 154 Samarokena
15 Yaqay 85 Woriasi 155 Wakde
16 Ambai 86 Yair 156 Yelmek
17 Tehit 87 Kemberano 157 Auye
18 Nalca 88 Woi 158 Kwansu
19 Asmat 89 Mekwei 159 Kimki
20 Casuarina Coast 90 Seget 160 Sko
21 Citak 91 Serui-Laut 161 Tause
22 Kamoro 92 Waina 162 Yaur
23 Muyu, North 93 Baham 163 Doutai
24 Kayagar 94 Emumu 164 Koneraw
25 Asmat, Central 95 Riantana 165 Amber
26 Marind 96 Ron 166 Bagusa
27 Kimyal 97 Gebe 167 Kanum
28 Moskona 98 Turu 168 Kawe
29 Waropen 99 Semimi 169 Keder
30 Yawa 100 Berik 170 Morwap
31 Iha 101 Arandai 171 Sause
32 Mpur 102 Asmat, North 172 Saweru
33 Karondori 103 Atohwaim 173 Warkay-Bipim
34 Silimo 104 Dem 174 Tamnim
35 Wandamen 105 Iwur 175 Kopka
36 Ansus 106 Yey 176 As
37 Moi 107 Moraid 177 Bedoanas
38 Una 108 Sempan 178 Dao
39 Yonggom 109 Suabo 179 Biritai
40 Waris 110 Bian Marind 180 Erokwanas
41 Irarutu 111 Demta 181 Kai

6
42 Kombai 112 Munggui 182 Mombum
43 Muyu, South 113 Sikaritai 183 Uruangnirin
44 Ninggerum 114 Edopi 184 Yamna
45 Tabla 115 Ormu 185 Yeretuar
46 Kokoda 116 Buruwai 186 Kirikiri
47 Nimboran 117 Kais 187 Foau
48 Pisa 118 Mawes 188 Masimasi
49 Sawi 119 Mor 2 189 Podena
50 Tamagario 120 Puragi 190 Yarsun
51 Wano 121 Kaburi 191 Arguni
52 Hupla 122 Kowiai 192 Biksi
53 Kimaghama 123 Busami 193 Duvle
54 Aghu 124 Onin 194 Kapitiauw
55 Eipomek 125 Papuma 195 Karas
56 Nggem 126 Taikat 196 Molof
57 Siagha-Yenimu 127 Warembori 197 Rasawa
58 Wambon 128 Kayupulau 198 Sangke
59 Wolani 129 Tarpia 199 Baso
60 Abun 130 Matbat 200 Yafi

61 Momuna 131 Lepki 201 Burmeso


62 Kemtuk 132 Yetfa 202 Nopuk
63 Mairasi 133 Konda 203 Dubu
64 Tobati 134 Demisa 204 Obokuitai
65 Gresi 135 Kauwol 205 Maklew
66 Yale (Kosarek) 136 Nabi 206 Senggi
67 Kurudu 137 Nisa 207 Towei
68 Kalabra 138 Tanahmerah 208 Mer
69 Barapasi 139 Tsakwambo
70 Korowai 140 Yahadian

Sumber : Index of Irian Jaya Language. Second edition. A special


Publication of Irian Bulletin of Irian Jaya. (Peter J. Dan Helja Hekkinen
Clouse, 1991:19-21) dalam Rumbrawer (2006: 4-5). 2
Pada tabel diatas bisa disimpulkan bahwa terdapat banyak bahasa
daerah yang terancam punah, dan yang baru diteliti di Tanah Papua. Di
daerah lain, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kepunahan bahasa
daerah juga oleh berbagai faktor.

3.2 Faktor-faktor Kepunahan Bahasa Daerah Di Indonesia.

2
Jurnal Kepunahan Bahasa-bahasa Daerah: faktor penyebab Implikasi Etnolinguistis oleh Fanny
Henry Tondo.

7
Penilitian bahasa daerah oleh pakar ekologi mengungkapkan
bahwa Indonesia memiliki sekitar 707 bahasa daerah yang dituturkan
kurang lebih oleh 221 juta penduduk. Para ahli bahasa juga memprediksi
akan setengah dari bahasa di dunia akan punah. Di Indonesia menurut
pakar bahasa Moseley (2010) dalam bukunya yang berjudul Atlas of the
Worlds Language in Danger, terdapat 146 bahasa yang terancam punah
dan 12 bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang terancam punah itu
diidentifikasi berasal dari daerah bagian timur indonesia.Menurut pendapat
Austin dan Sallabank (2011: 5-6) kepunahan bahasa daerah itu disebabkan
oleh bebrapa hal yang terbagi ke dalam empat kategori:

1. Akibat bencana Alam (seperti gempa bumi, longsor,


tsunami,dsb), kelaparan, dan penyakit.
2. Terjadi peperangan antar suku dan genosida
3. Represi terbuka, yang biasanya mengutamakan persatuan
nasional atau asimilasi.
4. Dominasi politik, budaya, dan ekonomi.
Pada umumnya, ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi akan
terjadinya kepunahan bahasa daerah, namun telah dikaji beberapa fakto
yang terdapat keterikatan masalah dengan hadirnya Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) yang diselenggarakn pada akhir tahun 2015. Berikut
identifikasi masalah tentang beberapa faktor yang menyebabkan bahasa
daerah terancampunah akibat hadirnya Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) :
Pertama, pengaruh dominan bahasa yang berstatus mayoritas
dimana posisi bahasa daerah menjadi bahasa minoritas. Seperti pada kasus
bahasa etnik Yaben yang termasuk kedalam kelompok rumpun bahasa
Non-Austronesia dan hanya memiliki jumlah penutur yang diperkirakan
tinggal sekitar 500 orang. Akibat dari bahasa Melayu Papua yang
berpengaruh kuat, sehingga kecenderugan yang kemungkinan akan terjadi
masyarakat yang menggunakan bahasa etnik Yaben akan berpindah
menjadi penutur bahasa Melayu Papua.

8
Tabel 2. Pola kebertahanan dan pergesran beberapa Bahasa Daerah
di Indonesia berdasarkan penelitian.

Bahasa-Bahasa Sedang

Bahasa Mengalami Pergeseran Pemertahanan Tinggi


Lampung X Rendah)
(Pemertahanan
Angkola X
Mandailing X
Melayu (Medan) X
Melayu Loloan X
Karo X
Melayu Banjar X
Tonsea X
Bali X
Mentawai X
Sumber: Bahasa Minoritas, Identitas etnik, dan kebertahanan
Bahasa: Kasus Bahasa Sumbawa di Lombok (Wilian 2005).3
Kedua, faktor imigrasi atau perpindahan penduduk dan urbanisasi
dari daerah satu ke daerah lain dengan berbagai macam keperluan baik
karena pendidikan, pekerjaan, keluarga dan lain sebagainya yang mana itu
memiliki pengaruh terhadap perubahan status bahasa daerah. Pada kasus
masyarakat jawa yang notabenya masyarakat yang suka merantau,
berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain, dari kota ke ibu kota,
artinya secara tidak sadar mereka meniggalkan atau melupakan bahasa
etnisnya kemudian memili bahasa etnis baru dan bahkan memili untuk
berbahasa nasional atau asing dalam berkomunikasi antar etnis.
Ketiga, faktor intermarriage atau perkawinan antar suku etnis dan
bahkan perkawinan yang berbeda negara. Pada faktor ini, orang akan
menggabungkan antara dua etnis atau lebih menjadi satu etnis, akibatnya
salah satu etnis harus ditinggalkan yang akhirnya terjadi pengaruh
kepunahan bahasa. Contohnya jika masyarakat Jawa menikah dengan
Masyarakat Sunda akibatnya pasangan suami-istri tersebut akan sulit
mempertahankan bahasa etnisnya sendiri dan berpindah ke etnis yang lain.
Disisi lain, faktor Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang datang dari

3
Jurnal Kepunahan Bahasa-bahasa Daerah: faktor penyebab Implikasi Etnolinguistis oleh
Fanny Henry Tondo

9
berbagai negara mengikat perkawinan dengan pribumi mengakibatkan
pengikisan bahasa daerah yang sangat parah. Pergantian bahasa dari
bahasa daerah diganti dengan bahasa asing tertentu. Sehingga bahasa
daerah menjadi terhapus dan hilang oleh faktor tersebut.
Keempat, faktor ekonomi ini menjadi pengaruh bahasa daerah
mengalami kepunahan. Masyarakat di daerah menganggap bahwa
menggunakan bahasa daerah status level ekonominya lebih rendah
dibandingkan dengan masyarakat yang menuturkan bahasa Indonesia atau
bahkan bahasa Asing tertentu. Pada kasus lain, akibat hadirnya
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mengubah mindset masyarakat
berbahasa daerah bahwa masyarakat yang menuturkan atau memahami
bahasa Indonesia atau Asing akan memperoleh perkonomian yang lebih
bagus, dan menganggap akan mendapatkan status perkerjaan yang lebih
tinggi. Pada dasarnya, Era globalisasi yang menjadi faktor utama terhadap
kepunahan bahasa daerah.
Dengan demikian, faktor-faktor diatas yang terkait dengan
terealasinya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015
telah memicu munculnya petaka dan rambu-rambu darurat bagi bahasa
minoritas etnis di Indonesia, yakni bahasa daerah yang telah menjadi
identitas bangsa dan kebanggaan sebagai negara yang multikultural di
dunia. Oleh sebab itu, perlu adanya kebijakan dan pembangkit semangat
untuk merevitalisasi bahasa daerah di Indonesia.

3.3 Fantastic FourS sebagai Solusi


Respon kebijakan permasalahan di atas, Fantastic FourS (empat
langkah fantastik) yakni sebuah ide solusi untuk preservasi dan revitalisasi
bahasa daerah yang terancam punah akibat hadirnya Masyarkat Eknomi
ASEAN (MEA). Empat langkah berikut: Pertama, bank bahasa daerah
(language bank) adalah langkah untuk mengelolah, menampung dan
mengumpulkan data-data bahasa daerah. Kedua, peran perusahaan
terhadap bahasa daerah (role of company) adalah langkah perusahaan
untuk branding dan promoting product menggunakan bahasa daerah.

10
Ketiga, hari bahasa daerah nasional (national vernacular language day)
adalah penggalangan hari untuk menghidupkan bahasa daerah secara
nasional. Keempat, media bahasa daerah (language media) adalah aktifasi
peran media yang berupa media sosial, radio, media cetak atau televisi
dalam mempromosikan bahasa daerah. Luaran dari langkah-langkah ini
adalah implementasi aktif dan continue dalam penyelamatan dan
pengembangan bahasa daerah di Indonesia yang dilakukan oleh
pemerintah, instansi perusahan atau lembaga, dan masyarakat. Lembaga
yang dapat memanfaatkan antara lain intansi pemerintah seperti Badan
Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian
Pendidikan Nasional, Kemensos, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan
Kebudayaan (P2KK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Kemendikbud, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Lembaga
Swadaya Masyarakat, serta masyarakat.
3.4 Implementasi Fantastic FourS
Proses penyelesaian pada pencegahan dan penghidupan kembali
bahasa daerah yang terancam punah di Indonesia telah mencapai kebijakan
yang belum sesuai dan terukur pada implementasinya. Kebijakan yang
dibuat pemerintah pada otonomi daerah baru berupa kebijakan
pencegahan, belum ke dalam pelestarian atau penghidupan kembali.
Sehigga, pemerintah perlu pemerhati kebijakan baru sebagai tolak ukur
kebijakan yang lama. Kebijakan ini yang dsebut Fantastic FourS dibuat
sebagai solusi dalam preservasi dan revitalisasi bahasa daerah pada
permasalahan tersebut.
Pada penerapan kebijakan ini butuh adanya stickholder (pemegang
kendali) yang khusus selain dari pemerintah, instansi lembaga, dan
masyarakat guna dalam implementasinya bisa berjalan dengan sebaik-
baiknya. Dalam metode penerapan juga mengguanakan analisis SWOT
meliputi apa, mengapa, dimana, kapan, siapa dan bagaimana bahasa
daerah itu akan diimplementasikan ke masyarakat penutur bahasa.
Penerapan kebijakan ini meliputi:
a. Language Bank (bank bahasa daerah)

11
Pada dasarnya sistem pengelolahan bank merupakan lembaga
intermediasi dalam menangani permasalahan keuangan dinilai sangat
valid dan terkendali. Bank didirikan berdasarkan kewenangan untuk
mengelolah keuangan dalam bentuk menerima simpanan uang (saving
money), meminjamkan uang (loaning money), dan menerbitkan uang
(distributing money) atau yang biasa dikenal sebagai banknote.
Konsep bank tersebut, akan dialihkan atau diterapkan ke dalam
konsep language Bank (bank bahasa daerah) yang berproses dan
memiliki sistem yang sama pada pengelolahan bank secara umum.
Akan tetapi perbedaanya terletak pada jenis yang dikelolah, yakni
languauge bank akan menjadi pusat pengelolahan bahasa daerah.
Sistem kelolah bank bahasa daerah terdiri dari beberpa tahap.
Gambar 1. Sistem Language Bank
2. Central
1. Data Base Language
Bahasa Daerah Bank

3. Saving Data

4. Processing Data

5. Distributing Data

1. Database yang diperoleh dari berbagai sumber penelitian tentang


keberadaan bahasa yang masih ada di Indonesia akan dikumpulkan
menjadi satu.
2. Central language Bank adalah sebagai pusat kelolah management
data bahasa daerah yang telah terkumpul dari berbagai sumber.
Selanjutnya akan dibagi dalam tiga tahap.
3. Saving Data adalah tahap pertama untuk menyimpan data-data
sebelum ke tahap kedua, artinya perlu adanya data yang valid dan
terjamin di tahap ini.

12
4. Processing Data adalah tahap kedua dalam pengelolahan dat,
artinya data tersebut akan difungsikan dan dipergunakan dalam
bentuk apa dan seperti apa.
5. Distributing Data adalah tahap terakhir untuk menyebarkan dan
mempromosikan bahasa daerah ke masyarakat setelah semua
proses data bahasa daerah telah dikelolah dari berbagai tahapan.

Penerapan sistem Language Bank tersebut akan dinilai terukur dan


valid jika dikelolah oleh berbagai pihak yang benar dan dapat
bertanggung jawab.

b. Role of Company (peran perusahaan)

Perusahan sebagai tempat pusat produksi barang dan sebagai


tempat kegiatan untuk faktor produksi memiliki peran yang sagat
penting di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti ini.
Pelbagai barang akan diciptakan menuntut kebutuhan masyarakat akan
barang dan jasa yang semakin meningkat sesuai dengan tingkat
mobilitas yang ada. Jumlah barang yang tersedia, baik karya dalam
negeri maupun yang impor akan sulit untuk diperhitungkan. Kebijakan
diselenggarakanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang
memompa hadirnya perusahaan-perusahaan baru menjadi kesempatan
emas bagi perusahaan untuk mempromosikan barang atau jasa baru.
Oleh sebab itu, jika perusahaan meningkatkan barang yang memiliki
nilai bahasa daerah, baik berupa label barang atau bentuk promosi
barang berbahasa daerah disitulah upaya revitalisasi bahasa akan
tercipta.

Penggambaran sistem peran perusahaan akan hidupnya bahasa


daerah akan didemonstrasikan dalam gambar berikut:

Gambar 2. Sistem Role of Company

13
Database bahasa
daerah

Central Company

Promoting
Processing Product Branding Product Product

1. Database : Pusat pengumpulan data-data bahasa daerah.


2. Central Company : Pusat kelolah produk yang mengandung nilai
bahasa daerah meliputi tiga tahap
3. Processing Product : Tahap pertama untuk proses pengelolahan
produk yang akan didesain memiliki peran ke dalam bahasa
daerah.
4. Branding Product : Tahap kedua untuk pemberian label pada
produk berbentuk nama yang mempunyai nilai bahasa daerah atau
dinamai dengan bahasa daerah.
5. Promoting Product : Tahap terakhir digunakan sebagai promosi
produk berbahasa daerah, yakni setelah produk sudah siap akan
dipromosikan atau dipasarkan dengan menggunakan metode
berbahasa daerah.

Aktifasi proses tersebut akan lebih terealisasikan jika berbagai


jenis instansi lembaga dan perusahaan mau diajak kerja sama. Bahasa
daerah sebagai identitas negara akan terjaga dan dapat dilestarikan.

c. National Vernacular Langauage Day (hari bahasa daerah se-nasional)

Hari berbahasa ibu atau bahasa daerah sebenarnya telah


dicetuskan oleh UNESCO sebagai badan PBB yang membidangi
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Unesco telah
mencanangkan tanggal 21 Februari sebagai bahasa ibu internasional.
Hal itu dilakukan karena hampir semua bahasa daerah yang berada di
sejumlah negara didunia telah terancam punah. Di Indonesia, hari
bahasa ibu se-dunia belum menjadi kebijakan yang utuh, artinya

14
masyarakat Indonesia belum begitu mengenal istilah tersebut.
Sehingga, National Vernacular Language Day (hari bahasa daerah se-
nasional) sebagai dongkrak revitalisasi bahasa daerah yang diambang
kepunahan.

Konsep penerapan kebijakan ini, diambil dari konsep


penerapan hari besar nasional lainya. Akan tetapi dalam
implementasinya masyarakat akan diajak bersama oleh pemerintah
satu hari untuk berbahasa daerah yang dijalankan serentak se-nasional.
Seperti yang pernah diselenggarakan oleh Kemendiknas tentang
revitalisasi bahasa dengan mempromosikan sebuah budaya dan bahasa
Betawi di salah satu event festival. Kebijakan tersebut akan lebih aktif
dan terukur jika jajaran pemerintah, pelajar, dan lain sebagainya ikut
andil dalam proses implementasi kekhalayak masyarakat. Sehingga
upaya preservasi dan revitalisasi bahasa daerah yang terancam punah
bisa teratasi dan bisa hidup kembali.

d. Language Media (media bahasa daerah)


Media massa merupakan sarana penyebarluasan berita dan
informasi kepada khalayak luas, baik secara local, nasional, maupun
internasional. Hal ini selaras dengan fungsi media massa sebagai
lembaga siaran yang berkepentingan dengan penyebaran informasi dan
bisnis serta upaya mempengaruhi opini public internasional (Shoelhi :
2009). Peran media massa tersebut pada akhirnya akan berperan
penting dalam perubahan.
Dalam era globalisasi yang dibarengi dengan hadirnya Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) di Indonesia berfungsi aktif dan semakin
berkembang. Peran-peran media massa tersebut akan lebih bernilai dan
berdaya saing jika digunakan untuk menangani masalah kepunahan
bahasa daerah di Indonesia. Aktifasi berbagai macam media massa
seperti koran, televisi, radio, dan media sosial bisa dijadikan pilar-pilar
dalam penerapan upaya revitalisasi bahasa daerah. Wujud
implementasinya bisa berupa berikut:

15
- Media cetak (koran, majalah,dll)
Terwujudnya koran berbahasa daerah dengan kaidah dan ejaan
yang benar, yakni tidak menyalahi aturan dalam penulisan.
- Media Televisi
Adanya salah satu program televisi yang mengandung unsur
bahasa daerah, baik dalam konteks pendidikan maupun hiburan
- Media Radio
Terdapat satu channel acara yang membahas khusus bahasa
daerah, baik berupa lagu, berita maupun informasi.
- Media sosial (twitter,youtube,dll)
Terciptanya website berbahasa daerah, atau pilihan bahasa
yang bisa tambahi dengan bahasa daerah.

BAB 4

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Kesimpulan
Bahasa daerah di Indonesia posisinya diambang kepunahan, akibat
diselenggarakanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kebijakan
pemerintah mengatasi permasalahan tersebut dinilai belum sempurna karena
berbagai kendala. Mulai dari data yang kurang, dan program implementasi
yang kurang efektif dan tepat sasaran. Fanstastic FourS : upaya revitalisasi
bahasa daerah yang terancam punah akibat Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) hadir sebagai salah satu solusi yang dinilai jitu karena sesuai dengan
harapan pemerintah dalam preservasi dan kelestarian bahasa daerah. Oleh
sebab itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai instansi lembaga pemrintah
dan masyarakat untuk mengaktifkan upaya tersebut.
4.2 Rekomendasi
Rekomendasi untuk merealisasikan ide Fantastic FourS: Upaya Revitalisasi
Bahasa Daerah yang Terancam Punah Akibat Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) ini adalah sebagai berikut:
1. Kerja sama dan konsolidasi peningkatan sinergi pemerintah dan instansi
lembaga yang terkait untuk mengatasi masalah tersebut. Kebijakan yang

16
telah diusulkan perluh ada usaha dan koordinasi yang baik karena akan
melibatkan banyak pihak dan itu perlu menyatuhkan pemahaman dan
kepentingan untuk Indonesia lebih baik. Sehingga akan diperlukan
kontribusi ide dalam penerapan oleh pihak pemangku kebijakan
tersebut.
2. Meperbaiki sistem teknologi dan informasi atau faktor pendukung lainya
untuk implementasi ide gagasan Fantastic FourS: Upaya Revitalisasi
Bahasa Daerah yang Terancam Punah Akibat Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) secara teruji baik dan terukur.
3. Menyusun strategi untuk sosialisasi yang baik agar ide dapat berperan
penting dalam masalh tersebut. Caranya dengan menyusun skema yang
kereatif serta pembaruan data secara berkala dan berjuang bersama.
DAFTAR PUSTAKA

Darwis, Muhammad. 1985. Corak Pertumbuhan Bahasa Indonesia di


Perkampungan PT Arun Aceh Utara. Hasil Penelitian. Banda Aceh: PLPIIS
Universitas Syiah Kuala.

Gordon, Raymond G., Jr. (ed.). 2005. Ethnologue: Language of The World.
Fifteenth Edition. Dallas, Tex.: SIL International, Online Version:
http://www.ethnologue.com/. Diakses 8 Oktober 2008.

Katubi. 2005. Pemilihan Bahasa dan Perubahan Identitas Kultural. Dalam


Katubi (ed.), Identitas Etnolinguistik Orang Hamap:Kode Etnisitas dan Bahasa
Simbol. Jakarta: LIPI Press.

SIL International, Indonesia Branch. 2001. Languages of Indonesia. Jakarta: SIL


International, Indonesia Branch.

Tondo, Fanny Henry. Kepunahan Bahasa-bahasa Daerah: Aktor Penyebab dan


Implikasi Etnolinguistis. Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 11 No. 2 Tahun
2009.

17
18